Dudutan saking hasil panalitèn puniki sagêd dipunmangêrtosi minangka SBUP anggadhahi unsur-unsur pembangun kadosta lapis bunyi, lapis arti ing antawisipun dasanama, têmbung garba, têmbung wancahan, pepindan, citra
dengaran, citra lihat, allegori, sêngkalan, lapis norma: objek, latar, tokoh, lapis
dunia, lan lapis metafisis. Aspek-aspek semiotik ingkang wontên SBUP
antawisipun index awujud: suwantên gamêlan atêgês sambutan lan hiburan, suwantên genderang lan gong atêgês kagêm nyambut raja, suwantên meriyam
atêgês wontênipun prêkawis penting, saha suwantên slompret kangge nyambut raja ingkang sampun kundur dhatêng istana; simbol awujud: lengkungan dengan
commit to user xvii
dados hambatan, arca atêgês dados pênjaga, jambangan atêgês papan, kêmbang mlathi atêgês sêdaya prêkawis kêdah kanthining tyas, kêmbang kênanga atêgês kêdah pêpengêt marang kang sampun diparingakên tiyang sêpuh, kêmbang kantil atêgês kêdah èngêt, kolam atêgês pasiraman raja, saha jaran atêgês sarana nggayuh cita-cita; sêngkalan rupa gapura sapta iku, sêngkalan rupa gapura sabdeng jati, saha sêngkalan rupa gapura sabdaning srinarendra. Inggih wontên
simbol kedermawanan ingkang awujud nyêbar dhuwit ingkang atêgês supados
kathah tiyang sami ngraosakên bungah lan simbol pantangan awujud larangan
commit to user xviii
Adisti Tunjungsari. 2012. Simbol dan Makna Umbul Pengging dalam Serat
Babad Umbul Pengging. Skripsi: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni
Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
This study focuses on the issues (1) How is the structure Serat Babad Umbul Pengging which includes lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia and lapis metafisis? (2) how the semiotic in Serat Babad Umbul Pengging? (3) how the semiotic means of people Java?
The purpose of this study was to: (1) describe the structure Serat Babad Umbul Pengging which includes lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia and lapis metafisis, (2) statement describing the semiotic in Serat Babad Umbul Pengging, (3) statement describing the semiotic means of people Java.
Theoretical benefits of this research are expected to broaden the structural theory and the theory of semiotics and can add to and enrich the study of literature in particular semiotic. Practical benefits of the research is expected to become the next writing guidelines and in particular to agriculture can make a good irrigation system around the pennant. With the flow of irrigation systems to make Pengging pennant to the surrounding community.
Study is a form of literary study deskriptif kualitatif. The primary data source in this study is the text edition Serat Babad Umbul Pengging that has been done by the philological Prasetyo Adi Wisnu Wibowo in 1999. And has been translated into Javanese and Indonesian languages by Prasetyo Adi Wisnu Wibowo.
Data collection technièues used content analysis is a strategy to capture the message of literature, and technical literature is a technièue that uses written sources to obtain data. Data analysis technièues aimed at simplifying the data into a form that is easier to read and interpret. For èualitative research, There are three things to note in the process of data analysis, that is reduksi data, sajian data, and
verifikasi and simpulan.
The conclusion from the results of this study can be seen that SBUP have elements such as building lapis bunyi, lapis arti consisting of sinonim, tembung garba, tembung wancahan, perbandingan, citra dengaran/ citra pendengaran, citra lihatan/ penglihatan, allegori, sengkalan, lapis norma: objek, latar, tokoh, lapis dunia, dan lapis metafisis. The semiotic of SBUP consisting of index a: gamelan sound means of welcome and entertainment, the sound of drums and gong means the welcome presence of the king, cannon sound means of key events, as well as welcoming the king trumpet sound that has been returned to the palace; symbol of: arches with tassels means of celebration, means the beauty of the park, house on stilts means the king's house, netting means of protection as well as barriers, means as guardian statues, vases means a place, jasmine means everything must be with hearts, flowers, ylang means recall what has been given ancestor, magnolia flower mean always remember, swimming baths means king, and the horse means a means of achieving goals; sengkalan rupa gapura sapta iku, sengkalan rupa gapura sabdeng jati, serta sengkalan rupa gapura sabdaning
commit to user xix
money, which means that people feel the same happiness and the symbol of a ban on bathing restrictions which means it will pollute the holy water.
commit to user
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian sastra memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, di samping juga berpengaruh positif terhadap pembinaan dan pengembangan sastra itu sendiri (Tutoli dalam Endraswara, 2011: 10). Sastra mempunyai kekhasan dan perkembangannya masing-masing pada setiap kelompoknya. Begitupun dengan sastra Jawa, mempunyai kekhasan dan arah perkembangan sendiri. Seperti kelompok sastra lain, dalam dunia sastra Jawa mengenal dua bentuk sastra, yakni prosa dan puisi. Prosa ialah bentuk karangan bebas, sedangkan puisi ialah bentuk karangan yang terikat. Ada beberapa jenis puisi yang kita kenal dalam tradisi sastra Jawa, yakni kakawin, kidung, guritan, geguritan (puisi bebas), dan macapat.
Macapat merupakan karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai komponen utama di samping pola persajakan. Di dalam macapat yang mengandung seni dalam tradisi Jawa, senantiasa mengandung lambang atau sandi mau tidak mau pralambang (simbolisme) juga terdapat dalam bahasa macapat. Bahasa yang mengandung lambang ataau sandi itu adalah sasmitaning tembang
(isyarat pola persajakan), sandi asma (isyarat pemakaian suatu pola persajakan),
kata-commit to user
kata). Macapat memiliki pola persajakan yang meliputi guru gatra, guru
wilangan, dan guru lagu. Setiap jenis tembang macapat berbeda pola persajakan
dan sifat-sifatnya. Tembang merupakan komponen utama karena sekar macapat mempunyai aturan khas dalam membacanya, yakni dengan ditembangkan / dinyanyikan (Karsono, 1993: 2-3). Macapat merupakan puisi yang berbahasa Jawa dan memiliki ketentuan yang sifatnya mengikat.
Naskah asli Serat Babad Umbul Pengging dalam bentuk tembang macapat atau puisi Jawa ditulis dalam huruf Jawa Carik menggunakan bahasa Jawa ragam Ngoko dan Krama, serta ada sedikit istilah dari bahasa Belanda. Serat Babad Umbul Pengging merupakan naskah tunggal yang dikarang oleh Raden Atmadikara dengan nomor katalog Ks 84 167 Ra SMP 104/8 tersimpan di perpustakaan Sasanapustaka Keraton Surakarta. Keadaan fisiknya sudah agak rusak. Jilidannya banyak yang sudah lepas. Kertas sudah rapuh, tetapi tidak ada halaman yang hilang atau sobek sebagian yang mengakibatkan teks hilang. Sampulnya berwarna hijau tua, terbuat dari kertas yang tebal, dan jilidannya terbalut kulit hewan. Warna kertas putih, terdapat garis-garis tipis yang dibuat dengan pensil berwarna hitam agar tampak rapi. Naskah Serat Babad Umbul Pengging terdiri dari 14 pupuh, yaitu: Pupuh 1 Dhandhanggula 22 bait; Pupuh 2 Kinanthi 37 bait; Pupuh 3 Asmaradana 32 bait; Pupuh 4 Kinanthi 60 bait; Pupuh 5 Sinom 36 bait; Pupuh 6 Pangkur 15 bait; Pupuh 7 Kinanthi 37 bait; Pupuh 8 Pocung 35 bait; Pupuh 9 Gambuh 27 bait; Pupuh 10 Sinom 38 bait; Pupuh 11 Balabak 21 bait; Pupuh 12 Mijil 22 bait; Pupuh 13 Megatruh 10 bait; Pupuh 14 Asmaradana 14 bait. Naskah Serat Babad Umbul Pengging ditulis untuk
commit to user
mengenang pada waktu Pakubuwana VII pergi bertamasya ke pesanggrahan Umbul Pengging bersama dengan keluarganya (Prasetyo, 1999: 34-40).
Penelitian ini diambil dari skripsi Prasetyo Adi Wisnu Wibowo. Dan telah diteliti secara filologis pada tahun 1999. Antara lain transliterasi dan terjemahan serta unsur sastra berupa ajaran moral. Adapun ajaran moral yang terdapat di dalam naskah Serat Babad Umbul Pengging intinya dibagi menjadi 3 macam. Pertama, ajaran moral bagi seorang raja atau pemimpin, antara lain: raja harus selalu memperhatikan dan memberi anugerah terhadap bawahan (rakyat), pemimpin atau raja harus sabar dan pemaaf, raja harus pandai dalam memilih pembantu (bawahan). Kedua, ajaran moral bagi seorang bawahan, antara lain: rakyat harus cinta kepada pemimpin, rakyat harus patuh dan tunduk pada pemimpin, rakyat harus selalu rajin bekerja dengan penuh keikhlasan. Ketiga, ajaran moral bagi sesama, yaitu sopan santun dalam pergaulan, etika menyambut tamu, dan sikap dermawan. Penelitian Prasetyo Adi Wisnu Wibowo tersebut sangat membantu bagi peneliti, khususnya hasil transliterasi dan terjemahan. Penelitian Prasetyo Adi Wisnu Wibowo sudah sampai penyajian suntingan teks Serat Babad Umbul Pengging
Serat Babad Umbul Pengging bercerita tentang seorang raja yang pergi bertamasya ke Umbul Pengging beserta seluruh keluarganya. Penataan dan pembangunan pemandian yang diminta Pakubuwana VII dalam Serat Babad Umbul Pengging saat akan mengunjungi pengging. Mengandung unsur struktural dan unsur semiotik. Struktur dan aspek semiotik pada Serat Babad Umbul Pengging ini belum pernah diteliti sebelumnya. Teks Serat Babad Umbul
commit to user
Penging dilihat dari isinya mengenai unsur struktural dan semiotik yang kompleks. Maka peneliti bermaksud mengkaji dan meneliti lebih jauh mengenai struktur teks Serat Babad Umbul Pengging ini dengan analisis struktur dari Roman Ingarden yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma: latar dan pelaku, lapis dunia dan lapis metafisis serta analisis semiotik dari C.S Pierce untuk mengkaji lebih lanjut mengenai ikon, indek, dan juga simbol.
B. Batasan Masalah
Pembatasan masalah dilakukan agar tujuan penelitian jelas dan terarah. Penelitian ini dititikberatkan pada analisis struktur Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma: latar dan pelaku, lapis dunia dan lapis metafisis, juga pada analisis semiotik yang terdiri atas ikon, indek, serta simbol dari SBUP.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah struktur Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia dan lapis metafisis?
2. Bagaimanakah aspek-aspek semiotik dari Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi ikon, indek, dan simbol?
commit to user
3. Bagaimanakah makna semiotik Serat Babad Umbul Pengging bagi masyarakat dan kebudayaan Jawa?
D.Tujuan Penelitian
Sejalan dengan perumusan masalah yang ada dapat dijelaskan tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan struktur Serat Babad Umbul Pengging yang meliputi lapis bunyi, lapis arti, lapis norma, lapis dunia dan lapis metafisis.
2. Memberikan keterangan mengenai aspek-aspek semiotik yang meliputi ikon, indek, dan simbol dalam Serat Babad Umbul Pengging.
3. Memberikan keterangan mengenai makna semiotik Serat Babad Umbul Pengging bagi masyarakat dan kebudayaan Jawa.
D. Manfaat Penelitian
Karya sastra diciptakan pasti akan membawa manfaat kepada pembaca. Seperti halnya dalam naskah Serat Babad Umbul Pengging ini, dari situ dapat diambil kesimpulan tentang sikap seorang pemimpin yang baik dalam mengatur sebuah negara. Sebuah penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Demikian dalam penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat teoretis dari penelitian ini diharapkan menambah wawasan teori struktural dan teori karya sastra Jawa dari perspektif semiotik.
commit to user
2. Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan penelitian penulisan selanjutnya dan khususnya untuk bidang pertanian dapat meningkatkan pertanian di sekitar Umbul Pengging dengan system irigasi yang baik serta aliran air yang melimpah serta sebagai acuan pemugaran dan pembangunan pemandian umbul pengging selanjutnya.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
BAB I: PENDAHULUAN
Pendahuluan meliputi latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian.
BAB II: LANDASAN TEORI
Landasan teori meliputi pengertian pengertian puisi, pengertian tembang macapat, struktur tembang / puisi , serta pendekatan semiotik.
BAB III: METODE PENELITIAN
Metode penelitian meliputi bentuk penelitian, sumber data dan data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
BAB IV: PEMBAHASAN
Pembahasan meliputi struktur Serat Babad Umbul Pengging, aspek-aspek semiotik Serat Babad Umbul Pengging.
BAB V: PENUTUP
commit to user
7
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Puisi
Puisi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti ‘membuat’ atau poeisis yang berarti ‘pembuatan’. Dalam bahasa Inggris disebut
poem / poetry. Puisi berarti pembuatan, karena dengan menulis puisi, puisi berarti
telah menciptakan sebuah dunia (Kasnadi, 2008: 1-2).
Menurut Pradopo (2005: 7) puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan member kesan. Pradopo menyimpulkan bahwa puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.
Kesimpulannya, puisi merupakan ekspresi dari pemikiran yang penting dan digubah dalam bentuk yang indah, dengan membuat puisi penulis menciptakan dunia sendiri
commit to user
B. Pengertian Tembang Macapat
Macapat adalah puisi yang terikat pada pola persajakan dan mengandung unsur titi laras (nada). Baik pola persajakan maupun pola titi laras tergantung pada jenis pola persajakan yang digunakan. Dengan demikian jenis pola persajakan sangat menentukan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu
macapat.
Guru gatra : aturan jumlah larik tiap-tiap larik. Guru wilangan: aturan jumlah suku kata tiap-tiap larik. Guru lagu : jatuhnya bunyi vokal pada tiap-tiap larik. Jenis tembang macapat dan tengahan, yaitu
1. Dandanggula
Makna kata dhandhang adalah mengharap (ngajab), sedang gula berarti gula. Kata gula mengisyaratkan makna manis, menyenangkan (ngresepake) atau baik. Dengan demikian dandang gula berarti mengharap supaya baik atau menyenangkan. Sekar dandanggula mempunyai sifat manis, lembut, dan menyenangkan. Oleh karena itu dandanggula sangat tepat untuk melahirkan perasaan yang menyenangkan, untuk melahirkan ajaran-ajaran yang baik, serta melahirkan rasa kasih.
2. Sinom
Sinom secara harfiah berarti (1) pucuk daun muda dan (2) daun muda asam. Kedua makna ini sama-sama mengisyaratkan suatu keadaan usia muda.pemakaian nama sinom mengisyaratkan bahwa pola persajakan ini mempunyai sifat ceria, ramah, dan menyenangkan. Pola persajakan sinom
commit to user
tepat untuk berdialog secara sahabat, untuk melahirkan cinta kasih, dan untuk menyampaikan amanat dan nasihat.
3. Asmaradana
Kata asmaradana merupakan paduan kata asmara dan dana. Kata dana sendiri merupakan kependekan dari danaha yang berarti api. Jadi, kata asmaradana berarti api asmara. Asmaradana mempunyai pola persajakan sedih, suatu kesedihan akibat dirundung api asmaa, sehingga jenis pola persajakan ini sesuai untuk mengungkapkan isi wacana yang bermakna rindu dendam asmara atau merayu.
4. Durma
Pola persajakan durma, memiliki sifat keras, bengis, dan kasar sehingga tembang ini lebih tepat untuk wacana yang sifatnya mengunkapkan kemarahan, suatu peperangan, atau nasihat yang keras.
5. Pangkur
Hardjowirogo memberi arti kata pangkur dengan ekor (buntut) (Karsono, 1993: 19). Ekor adalah bagian belakang binatang atau ujung tulang belakang. Ujung dapat dikatakan sebagai suatu puncak. Dengan analog antara ekor dan puncak, maka dapat dipahami jika kata pangkur digunakan untuk member nama suatu pola persajakan yang mempunyai sifat memuncak. Demikianlah sekar pangkur digunakan untuk mewadahi wacana yang mengandung perasaan hatti yang sungguh-sungguh, nasihat yang sungguh-sungguh, atau puncak rindu dendam asmara.
commit to user
Kata mijil merupakan sinonim dari kata metu (keluar). Dengan arti ini,pola persajakan mijilmempunyai sifat lancer, sehingga sesuai untukmemingkai wacana yang mengandung nasihat, melahirkan perasaan sedih, atau pun perasaan kasih yang sendu.
7. Kinanti
Kata kinanthi berasal dari kata dasar kanthi (gandeng) dan memperoleh seselan (infik) in. Seselan in berfungsi menjadikan kata dasar pasif. Arti sisipan in sama dengan awalan di atau awalan di dalam bahasa Indonesia, hanya saja sselan in jarang dipakai dalam wacana lisan dan hanya dipakai dalam wacana sastra. Dengan demikian kata kinanthi berarti digandheng
(diganteng). Pola persajakan kinanti mempunyai sifat kemesraan. Sekar kinanti sesuai untuk membingkai wacana yang mengandung makna mncumbu rayu, member nansihat ringan, dan membeberkan perasaan hati yang riang. 8. Maskumambang
Kata maskumambang berarti emas yang terapung (mas: emas,
kumambang: terapung). Keadaan setiap benda yang terapung pasti
terombang-ambing oleh arus atau gerak barang cair yang mengapungkannya, sekalipun benda yang terapung itu adalah emas. Nama maskumambang ini menandai suatu pola persajakan sekar macapat yang bersifat lara, prihatin, dan mengiba. Pola persajakan ini digunakan untuk memingkai wacana yang mengandung makna melahirkan perasaan hati lara nan duka, melahirkan tangisan hati atau keprihatinan.
commit to user
Pola sekar macapat ini mempunyai sifat santai, kendur dalam artian tidak tegang. Pola persajakn pucung biasanya digunakan untuk pupuh yang bersifat santai, jenaka tetapi berisi, atau untuk mengungkapkan nasihat yang ringan.
10.Gambuh
Sekar gambuh mempunyai sifat keakraban. Biasanya jenis pola persajakan ini digunakan untuk melahirkan nasihat yang sungguh-sungguh, dalam artian nasihatyang disampaikan kepada keluarga yang memang sudah dikenal dengan akrab sehingga tidak ada rasa sungkan atau keragu-raguan. Meskipun demikian, karena sifat keakrabannya, kadang-kadang sekar gambuh juga digunakan untuk melahirkan perasaan apa adanya dengan nada agak santai.
11.Megatruh
Sekar megatruh biasanya digunakan untuk mengungkapkan sedih atau duka yang dalam, penyesalan yang dalam, atau kepedihan hati nan merana. 12.Balabak
Sekar balabak senantiasa digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang sifatnya jenaka (Karsono, 1993: 19-43).
Serat Babad Umbul Pengging menggunakan 14 pupuh yang terdiri 10 metrum tembang sebagai berikut:
1. Dhandhanggula, yang mempunyai aturan yaitu sebagai berikut:
a. Guru lagu : i, a, e, u, i, a, u, a, i, a b. Guru wilangan : 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7
commit to user
2. Kinanthi, yang mempunyai aturan sebagai berikut:
a. Guru lagu : u, i, a, i, a, i b. Guru wilangan: 8, 8, 8, 8, 8, 8 3. Asmaradana a. Guru lagu : i, a, e, a, a, u, a b. Guru wilangan: 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 4. Sinom a. Guru lagu : a, i, a, i, i, u, a, i, a b. Guru wilangan: 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 5. Pangkur a. Guru lagu : a, i, u, a, u, a, i b. Guru wilangan: 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8 6. Pocung a. Guru lagu : u, a, i, a b. Guru wilangan: 12, 6, 8, 12 7. Gambuh a. Guru lagu : u, u, i, i, o b. Guru wilangan: 7, 10, 12, 8, 8 8. Balabak a. Guru lagu : a, e, a, e, a, e b. Guru wilangan: 12, 3, 12, 3, 12 9. Mijil a. Guru lagu : i, o, e, i, i, u
commit to user
b. Guru wilangan: 10, 6, 10, 10, 6, 6 10.Megatruh
a. Guru lagu : u, u, i, i, o b. Guru wilangan: 12, 8, 8, 8, 8
C. Struktur Tembang / Puisi
Pendekatan struktural hendaknya dilakukan ketika akan menganalisis sebuah karya sastra. Analisis struktur, untuk mengetahui inti dan jalinan yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Hal ini membuat jalan masuk ke dalam pengkajian isi karya sastra menjadi lebih mudah.
Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams dalam Nurgiantoro, 2007: 35-36). Struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antar unsur-unsur (intrinsik) yang bersifat timbale balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh. Analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan.
Analisis struktural karya sastra dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar-unsur intrinsik karya sastra yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 1995: 37). Roman Ingarden (dalam
commit to user
Rachmat Djoko Pradopo, 2007: 15) menganalisis norman-norma puisi sebagai berikut:
1. Lapis bunyi (sound stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Tetapi, suara itu bukan hanya suara tak berarti. Suara sesuai dengan konvensi bahasa, disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara itu orang menangkap artinya.
2. Lapis arti (unit of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi alinea, bab, dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak.
3. Lapis norma yang meliputi objek, latar dan pelaku yang dikemukakan dan dunia pengarang yang berupa cerita / lukisan.
4. Lapis dunia yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya (implied).
5. Lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis (yang sublime, yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. Akan tetapi, tidak setiap karya sastra dalamnya terdapat lapis metafisis seperti itu.
C.Pendekatan Semiotik
Semiotik berasal dari kata Yunani: semeion yang berarti tanda. Peirce mengusulkan kata semiotika (yang sebenarnya telah digunakan oleh ahli filsafat
commit to user
Jerman Lmbert pada abad XVIII) sebagai sinonim kata logika. Menurut Peirce dalam Panuti Sudjiman dan Aart van Zoest, logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran itu, dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Semiotika bagi Pirce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerja sama tiga subjek, yaitu tanda (sign), objek (object), dan interpretan (interpretant). Tanda adalah sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas (1992: 1 dan 43-44).
Semiotik (semiotika) adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini