PENERAPAN DAN TANTANGAN DALAM PENERAPAN
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI TINGKAT
PEMERINTAHAN DESA
Anjar Muhammad Ridwan1, Rizcky Nur Hakim2, Esa Firmansyah3 Jurusan Teknik Informatika, STMIK Sumedang
Jl. Angkrek Situ No.19, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang
Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
ABSTRAK
Desa Akhir-akhir ini cukup menjadi perhatian dikarnakan menjadi program pemerintah untuk pembangunan desa, karna desa adalah pondasi-pondasi untuk melakukan sistem kenegaran, hal ini juga tidak luput dari perhatian dalam perkembangan TIK dalam setiap desa-desa di daerah. Dalam penulisan kali ini penulis mencoba menganalisa dengan fungsi e-government dan harapan terakhirnya menjadi e-governance. Walaupun hal tersebut tidak dapat di bangun dalam waktu yang singkat.
Kata kunci: Desa, e- government, Teknologi Informasi dan komunikasi, TIK
I.
PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi informasi saat ini memberikan manfaat yang sangat besar dalam kelangsungan hidup manusia. Teknologi yang mampu mengirimkan informasi ini dapat memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu bidang kehidupan yang memiliki hubungan yang mulai terbawa oleh pemanfaatan teknologi ini dalam menyampaikan informasi adalah dunia pemerintahan.
Semenjak indonesia memberlakukan otonomi daerah maka peran daerah cukup penting dalam pembangunan nasional, terlebih lagi yang lebih mendalam yaitu peran desa terhadap pembangunan daerah dan nasional merupakan fondasi agar dapat menciptakan sistem-sistem/aturan-aturan yang sesuai dengan masyarakat itu sendiri agar dapat berkembang dengan potensi yang mereka miliki.
Dalam hal ini desa sering dikaitkan dengan kurangnya sistem tata kelola yang baik, baik dalam publikasi kegiatan-kegiatan yang telah masuk kedalam agenda kerja tahunan dan informasi-informasi mengenai layanan-layanan apa saja yang dikelola oleh desa atau dengan istilah good governance. Adapun desa dapat mengangkat potensi-potensi di lingkungannya agar terpromosikan ke masyarakat luar, hal ini dapat mengangkat nilai jual yang ada di desa tersebut.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
TIK (Teknologi Informasi dan
Komunikasi)
Teknologi adalah metode ilmiah
untuk mencapai tujuan praktis; ilmu
pengetahuan terapan.[1] dan Informasi
adalah penerangan; pemberitahuan; kabar
atau berita tentang sesuatu.[2] sedangkan
kata Komunikasi adalah pengiriman dan
penerimaan pesan atau berita antara dua
orang atau lebih sehingga pesan yang
dimaksud dapat dipahami; hubungan;
kontak.[3] Jadi Teknologi Informasi dan
Komunikasi adalah suatu sarana untuk
menyediakan kabar atau berita tentang
sesuatu berupa simbol-simbol atau
data-data (informasi) dan dapat digunakan
sebagai alat penyampaian pesan antara dua
belah pihak atau lebih.
2.2.
Desa
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) versi daring, Desa adalah
kesatuan
wilayah
yang
dihuni
oleh
sejumlah keluarga yang mempunyai sistem
pemerintahan
sendiri
(dikepalai
oleh
seorang kepala desa).[4]
disebut dengan nama lain, selanjutnya
disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus
urusan
pemerintahan,
kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan prakarsa
masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak
tradisional yang diakui dan dihormati
dalam
sistem
pemerintahan
Negara
Kesatuan Republik Indonesia.[5]
Dapat disimpulkan bahwa Desa
adalah Suatu pemerintahan yang memiliki
kesatuan
wilayah
yang
dihuni
oleh
sejumlah keluarga yang memiliki
batas-batas wilayah dan berwenang untuk
mengatur
dan
mengurus
kepentingan
masyarakat setempat.
2.3.
E-Government
E-Government adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan kegiatan organisasi sektor publik.[6]
E-Government adalah himpunan semua layanan administrasi publik elektronik yang tersedia untuk semua orang di negara ini. Ini juga merupakan sinonim untuk lahan modern dan inovatif, di mana kualitas, kepercayaan dan kecepatan memainkan peran sentral. Otoritas publik menggunakan teknologi seperti Internet atau layanan seluler untuk berhubungan dengan warga dan bisnis. Mereka juga menggunakan teknologi ini untuk melakukan proses kerja internal. eGovernment berdampak pada setiap warga negara, bisnis, dan otoritas publik.[7]
Bisa disimpulkan bahwa E-Government merupakan bagian dua kata yaitu Electronics sering disingkat dengan E dalam bahasa indonesia Elektonik dan Government yaitu Pemerintahan, e-government merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk memanfaatkan teknologi informasi, baik seperti komputer, internet ataupun perangkat digital lainnya dalam menjalankan dan mengelola pemerintahan dan pelayanan masyarakat publik.
2.4.
E-Governance
E-Governance adalah penggunaan
internet oleh pihak pemerintah untuk
memungkinkan orang-orang atau
masyarakat dapat menggunakan layanan
yanf disediakan pemerintah dan terlibat
dalam pengambilan keputusan.[8]
III.
PEMBAHASAN
3.1.Jenis-Jenis E-Government
Ada 4 jenis layanan e-government menurut Anil Saldhana :[9]
• Government to Citizen (G2C) adalah teknologi informasi yang mempunyai tujuan untuk memperbaiki hubungan interaksi antara pemerintah dengan publik dan memperoleh kemudahan bagi masyarakat dalam mendapatkan layanan pemerintahan yang diperlukan.
• Government to Business (G2B) adalah jenis dari hubungan pemerintahan dengan bisnis yang terjadi, karena butuhnya relasi yang baik antara pemerintah dengan kalangan pelaku bisnis untuk tujuan kemudahan berbisnis oleh masyarakat kalangan pebisnis itu sendiri.
• Government to Government (G2G) adalah teknologi sebuah website atau perangkat digital milik pemerintah yang dibuat untuk memenuhi berbagai pencarian informasi yang dibutuhkan pemerintah satu dengan pemerintah lainnya serta untuk melancarkan serta memudahkan kerja sama antara pemerintahan yang bersangkutan.
• Government to Employees (G2E) adalah jenis hubungan yang diperuntukan bagi pegawai pemerintahan atau pegawai negeri untuk lebih meningkatkan kinerja serta kesejahteraan pegawai yang bekerja di institusi pemerintahan.
3.2.Faktor-faktor Kesuksesan
Gambar. Success Factor
Visi, objektif, strategi
Rencana jangka panjang dengan visi dan strategi yang jelas adalah sangat penting dalam implementasi e-government. Pendekatan tambal sulam dan setengah-setengah tidak akan berhasil. Pendekatan yang efektif adalah dengan berpikir dan berpandangan yang luas (rancangan top-down), namun memulai dengan tugas-tugas yang kecil dan berprioritas (bottom-up) selama proses implementasi.
Singkatnya, keberhasilan e-government membutuhkan:
• Visi yang jelas dari pemimpin
• Dukungan yang kuat dari masyarakat
• Penetapan agenda
Hukum dan Peraturan
Adalah penting untuk merencanakan waktu dan usaha yang cukup untuk perubahan legislatif yang mungkin diperlukan untuk mendukung implementasi proses yang baru. Aturan hukum berikut perlu dicanangkan demi keberhasilan e-government:
• Hukum privasi dan isu terkait
• Hukum terkait perubahan proses bisnis dan sistem informasi
• Hukum terkait arsitektur teknologi
informasi pemerintah dan pendirian sebuah pusat komputer terintegrasi.
Struktur organisasi
Usaha yang dibutuhkan dalam bidang ini tidak boleh dianggap enteng. Restrukturisasi organisasi mempengaruhi sekitar 30 sampai 50 persen dari keseluruhan usaha. Perubahan dalam struktur organisasi harus direncanakan dengan matang dan diimplementasikan dengan sistematis.
Hal-hal penting yang mempengaruhi perubahan organisasi adalah sebagai berikut:
• Kepemimpinan yang kuat dengan komitmen
• Perencanaan - manajemen TI dan manajemen perubahan
• Persiapan anggaran dan pelaksanaan anggaran
• Koordinasi dan kolaborasi
• Pemantauan dan pengukuran kinerja
• Kemitraan pemerintah-sektor swasta-masyarakat
Proses Bisnis
Cara mengerjakan bisnis yang sedang berlangsung saat ini bisa jadi bukanlah langkah yang paling tepat atau efektif. Salah satu alat untuk melakukan inovasi proses bisnis adalah Business Process Reengineering (BPR). BPR meliputi perancangan ulang alur kerja dalam/antar level departemen untuk meningkatkan efisiensi proses (misal, untuk menghapuskan inefisiensi dalam proses kerja)
Teknologi informasi
Teknologi informasi berubah dengan cepat. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih teknologi dan vendor adalah:
• Tingkatan dari teknologi aplikasi yang dibutuhkan
• Infrastruktur jaringan
• Interoperabilitas
• Standarisasi
• Kemampuan teknis dan SDM
3.3.Faktor Resiko dalam E-Governement
Telah banyak diketahui bahwa implementasi e-government di banyak negara tidak menemui harapan. Salah satu studi menunjukkan bahwa 35 persen dari program-program e-government di dunia mengalami kegagalan, 50 persen adalah kegagalan parsial, dan hanya 15 persen yang dianggap berhasil.[10]
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kegagalan penerapan e-government di negara berkembang meliputi:
• Kurangnya kesepakatan dalam sistem administrasi publik: penolakan internal oleh pemerintah
• Kurangnya SDM: kurangnya pengembangan kapasitas institusi dan personel
• Tidak adanya rencana investasi
• Kurangnya vendor sistem dan TI
• Ketidakmatangan teknologi: terlalu menekankan teknologi atau penerapan yang berorientasi teknologi
• Implementasi yang terburu-buru tanpa persiapan dan pengujian yang cukup. Tantangan yang paling penting ialah menyadari bahwa tidak ada solusi tunggal yang cocok untuk semua situasi. Asia dan Pasifik dikenal dengan konteks politik, ekonomi, sosial, dan pemerintahan yang sangat beragam, yang masing-masing memerlukan pendekatan yang berbeda-beda.
IV.
HASIL
4.1.Kesiapan Penerapan TIK Pada Administrasi Desa[11]
4.1.1. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sampai Saat ini kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk layanan TI di Desa masih jadi kendala dan mengalami beberapa masalah. Kurangnya keahlian di bidang TI pada aparat/pegawai desa dan kurang sesuai dengan lulusan yang bekerja dibidang tesebut atu bisa dibilang lulusan non-IT. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan kemampuan dibidang perencanaan pembangunan dan pemberian pelayanan yang baik dan berkualitas oleh para aparatur desa kepada masyarakat.
4.1.2. Sarana dan Prasarana
Dalam kesiapan sarana dan prasarana untuk layanan IT lebih bisa dibilang sudah cukup memadai dengan pemerintah menganggarkan ± 1 (satu) miliar untuk mengembangkan potensi daerahnya dalam UU RI No. 8 2017 Pasal 9 Ayat (3).[12] padahal dengan mengaggarkan 10% dari total anggar sudah cukup bisa untuk membangun infrasturktur IT yang lebih baik. Tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi
telekomunikasi dan informatika (telematika).
4.1.3. Kelembagaan (Peran, Fungsi, Struktur, Praktek)
Dengan kelembagaan yang baik, akan menciptakan sistem layanan yang baik pula. Sejumlah faktor yang mendorong kepuasan pelanggan atau pengguna jasa di seluruh pelayanan publik dapat diidentifikasi: pengiriman, ketepatan waktu, penyediaan informasi, profesionalisme dan sikap staf. Namun, pentingnya faktor yang berbeda juga dapat bervariasi untuk berbagai jenis layanan, di bidang kesehatan, misalnya, diperlakukan dengan bermartabat dan hormat dipandang sangat penting oleh masyarakat.[11]
4.1.4. Anggaran
Alokasi Anggaran untuk layanan IT lebih bisa dibilang sudah cukup memadai dengan pemerintah pusat menganggarkan ± 1 (satu) miliar untuk mengembangkan potensi daerahnya dalam UU RI No. 8 2017 Pasal 9 Ayat (3).[12] Anggara tersebut akan menunjukkan keseriusan dari pemegang otoritas untuk penerapan E-Government. Urusan penganggaran merupakan urusan yang sangat penting, karena dibutuhkan pertanggungjawaban yang serius.
4.1.5. Pelayanan IT
4.1.6. Standar Pelayanan Administrasi Desa/Kelurahan
Tujuan penerapan IT ini adalah untuk memecahkan kekurangan organisasi dan mempermudah pekerjaan pemerintah. Dengan diadakannya standarisasi maka akan anda kesamaan pelayanan yang sama dan tidak bedakan satu dengan yang lainnya. Hal lain yang perlu ditambahkan yaitu dengan diadakan Standar Pelayanan Minimum (SPM) agar menjadi acuan untuk pemerintah desa yang belum bisa berkembang secara cepat untuk pelayanan IT-nya, dengan hal ini desa tersebut wajib mengadakan/melaksanakan Standar Pelayan Minimum.
V.
PENUTUP
Pemanfaat TIK dalam lingkup pemerintahan tingkat desa sebenarnya masih perlu banyak pihak yang terlibat, seperti contoh: pemerintah pusat yang terus memfollow-up anggaran yang telah diberikan ke tingkat desa, dan tidak lupa dibentuknya relawan-relawan IT dari pihak institusi akademik untuk percepatan informasi/ilmu agar dapat mengatasi perkembangan zaman & teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
E. Setiawan,
“
Arti kata teknologi - Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online,
”
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan)
. .
[2]
E. Setiawan,
“
Arti kata informasi - Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online,
”
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan)
. [Online]. Available:
https://kbbi.web.id/informasi. [Accessed:
03-Jun-2018].
[3]
E. Setiawan,
“
Arti kata komunikasi - Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online,
”
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan)