• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN NILAI PERSONAL EFIKASI DIRI DAN (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN NILAI PERSONAL EFIKASI DIRI DAN (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN NILAI PERSONAL, EFIKASI DIRI, DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA PRE-SERVICE GURU

FISIKA

Oleh

Putu Eka Dharma Putra, NIM. 0913021035

Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Ganesha, Jln. Udayana no 11 Singaraja

Email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan profil Personal-value (PV), Self-efficacy (SE), Achievement Motivation (AM), dan Critical Thinking Skills (CTS) pada Pre-service Guru Fisika di Undiksha; (2) menentukan hubungan antara Personal-value (PV) terhadap Critical Thinking Skills (CTS), (3) menentukan hubungan antara Self-efficacy (SE) terhadap Critical Thinking Skills (CTS), (4) menentukan hubungan antara Achievement Motivation (AM) terhadap Critical Thinking Skills (CTS), serta (5) menentukan hubungan antara Personal-value (PV), Self-efficacy (SE), dan Achievement Motivation (AM) secara bersama-sama terhadap Critical Thinking Skills (CTS) pada Pre-service Guru Fisika di Undiksha. Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan desain ex post facto. Populasi penelitian adalah seluruh Pre-service Guru Fisika di Undiksha tahun akademik 2012/2013. Sampel penelitian terdiri dari 4 strata dengan jumlah 169 responden yang diambil dengan teknik stratified proportional random sampling. Data PV, SE, dan AM dikoleksi menggunakan kuesioner sedangkan data CTS dikoleksi dengan tes keterampilan berpikir kritis yang diadaptasi dari Californian Critical Thinking Skills (CCTST). Data dianalisis dengan teknik statistika deskriptif dan Regresi Linear Berganda 3 Prediktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) PV yang ditunjukkan oleh Pre-service Guru Fisika di Undiksha dikategorikan sangat tinggi, SE dikategorikan sangat tinggi, AM dikategorikan sangat tinggi, dan CTS dikategorikan sangat rendah; (2) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PV terhadap CTS (F=0,520, r = 0,056, r2= 0,003, p > 0,05); (3) terdapat hubungan yang signifikan antara SE terhadap CTS (F=9220, r = 0,229, r2 = 0,053, p<0,05); (4) tidak terdapat hubungan yang signifikan antara AM terhadap CTS (F=2,703 r = 0,127, r2 = 0,016, p>0,05); dan (5) terdapat hubungan antara PV, SE, CTS secara bersama-sama terhadap CTS pada Pre-service Guru Fisika di Undiksha (F=3,463, r = 0,244, r2 = 0,060, p>0,05).

(2)

Abstract

The purpose of this research were (1) to described personal-value (PV), self-efficacy (SE), achievement motivation (AM), and critical thinking skills (CTS) profile of pre-service teacher on Undiksha; (2) to find out the relation between PV toward CTS, (3) to find out the relation between SE toward CTS, (4) to find out the relation between AM toward CTS, and (5) to find out the relation between between PV, SE, AM as together toward CTS of pre-service teacher on Undiksha. This study were ex-post facto research. Population in this research were entire of pre-service teacher of undiksha on 2012/2013 academic year. Research sample consisted of 4 strata which have total 169 respondent that has been selected by stratified proportional random sampling technique. PV, SE, dan AM data were collected by quetionare while CTS recorded by critical thinking skills test that has been adapted from

Californian Critical Thinking Skills (CCTST). The data were analyzed by descriptive statistics and multiple linear regression with 3 predictor technique. The result of this study indicated (1) PV that showed by pre-service teacher of undiksha were categorized to very high, SE were categorized to very high, AM were categorized to very high, and CTS were categorized to very low; (2) there were no significant relationship between PV toward CTS CTS (F=0,520, r = 0,056, r2= 0,003, p > 0,05); (3) there were a significant relationship between SE toward CTS (F=9220, r = 0,229, r2 = 0,053, p<0,05); (4) there were no significant relationship between AM toward CTS (F=2,703 r = 0,127, r2 = 0,016, p>0,05); (5) there were a significant relationship between PV, SE, CTS as together toward CTS of Pre-service

teacher on Undiksha (F=3,463, r = 0,244, r2 = 0,060, p>0,05). PENDAHULUAN

Kualitas seorang Guru memang dipengaruhi oleh banyak faktor, namun kontribusi faktor-faktor tersebut selayaknya harus terakomodasi secara maksimum agar kualitas seorang calon Guru dapat dipertanggungjawabkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang calon Guru harus berproses di lingkungan belajar yang mapan. Komunitas belajar atau learning community

yang mapan merupakan wadah untuk mengaktualisasi, mengimprovisasi strategi, memediasi konstruksi kompetensi-kompetensi keguruan untuk membentuk Guru seutuhnya (Turkovich & Harty, 2012). Revitalisasi lingkungan belajar yang menyertakan komunitas belajar dan proses kondusif didalamnya, mampu membentuk calon tenaga kependidikan yang berkualitas

dan profesional. Lebih lanjut disampaikan oleh Brandenburg (2006) bahwa kualitas Guru adalah indikator tunggal paling akurat yang mampu mempengaruhi kemampuan (performance) peserta didik di Sekolah. Dengan kata lain, kualitas Guru menjadi tanggungan terbesar yang mampu menjebatani konstruksi pengetahuan pada peserta didik.

(3)

(PLPG); (3) Pengembangan Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ) di Asia Tenggara; (4) Menyediakan Buku Sekolah Elektronik (BSE) sebagai referensi publik; (5) Pengadaan Portal Garuda sebagai referensi ilmiah jurnal digital dan basis pengembangan ilmu. Fakta empiris di lapangan sangat bertentangan dengan program preparasi tersebut.

Berdasarkan data PISA tahun 2009 dari organisasi survey, pengembangan, dan kerja sama Dunia yaitu Organisation For Economic Co-operation And Development

atau OECD, Indonesia menduduki peringkat ke-61 dari sejumlah 65 peserta PISA untuk bidang matematika dan peringkat ke-60 untuk bidang sains. Hal ini menunjukkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih rendah, sehingga perlu mendapat kajian lebih lanjut.

Hal ini diperkuat oleh laporan

Education for All (EFA) Global Monitoring

Report 2011 dari Organisasi Dunia

UNESCO yang menyatakan bahwa indeks pembangunan pendidikan atau Education Development Index (EDI) di Indonesia adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia turun dari posisi 65 ke posisi ke-69 dari 127 Negara di Dunia. Indeks pembangunan ini tidak terlepas dari kualitas tenaga pengajar atau pendidik di Indonesia.

Menurut laporan United Nations

Development Programme’s Human

Development Report 2010 (Poluakan, 2012),

indeks pengembangan manusia Indonesia berada pada ranking 108 dari 169 Negara dan pada tahun 2011 berada pada ranking 124 dari 187 Negara yang disurvey di seluruh dunia dengan nilai HDI 0,617.

Kesenjangan antara program preparasi dan hasil yang dicapai merupakan imbas balik dari penyelenggaraan dan pembentukan tenaga pendidik yang belum kompeten. Tindak lanjut atas kenyataan ini harus diakomodasi dari masa pre-service

Guru itu sendiri, karena kuantitas dan kualitas pengajaran dari seorang Guru dilapangan dimulai dari periode pre-service -nya.

Kuantitas dan kualitas pre-service

berkaitan dengan tingkat keterampilan berpikir yang lebih baik, karena selama proses kognisi selalu melibatkan proses berpikir orde tinggi. Kuantitas dan kualitas tersebut juga berkaitan dengan inernalisasi nilai-nilai personal dalam dirinya. Nilai pada dasarnya dapat bertindak sebagai kontrol tingkah laku manusia (Nalcaci, 2012). Ada banyak faktor yang mampu mempengaruhi kualitas dan kuantitas pre-service guru.

(4)

mengungkapkan bahwa Nilai Personal (PV) mampu memprediksi keterampilan berpikir kritis pre-service; (2) Yüksel dan Alci (2012) mengungkap hubungan positif self-efficacy (SE) antara dan critical thinking

(CT); (3) Mojavezi dan Tamiz (2012) mengungkap hubungan positif antara SE dan motivasi.

Menurut Lovat et al (2011) Nilai Personal (Personal Value) mengacu pada internalisasi nilai-nilai yang dibuktikan oleh perilaku siswa atas kemauannya sendiri. Hal senada juga disampaikan oleh Coaley (2010)

bahwa Nilai Personal (Personal Value) merupakan nilai yang berfokus pada keadaan batin (inner state) seperti perdamaian dan ketenangan. Keberadaan Nilai Personal (Personal Value) memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar Pre-service Guru. Hal ini dipertegas oleh pendapat dari Bektas dan Nalcaci (2012) bahwa Nilai Personal (Personal Value) merupakan faktor penting dalam memprediksi sikap terhadap profesi guru.

Manusia secara individual memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Setiap individu yang berbeda memiliki taraf atau level efficacy yang berbeda-beda. Menurut Jain dan Dowson (Dehghani et al,

2011) Efikasi Diri (Self-efficacy) didefinisikan sebagai level kepercayaan diri individu yang bersifat spesifik.

Menurut Bandura (1995) keyakinan seseorang mengenai efikasi dirinya dapat

dipengaruhi oleh 4 sumber utama, yaitu (1)

mastery experience: Pengalaman ahli; (2)

vicarious experience: Pengalaman perilaku dan pengalaman seseorang sebagai sebuah proses pembelajaran individual. (3) social persuasive: Persuasif sosial; dan (4)

physiological and emotional states; Sumber efikasi ini berfokus pada tingkatan afektif (level of arousal) dari individu. Sumber-sumber informasi ini berdiri secara mandiri dalam memberikan dampak langsung terhadap taraf efikasi diri seseorang

Individu dengan self-efficacy yang mantap, memiliki aspirasi yang lebih tinggi dan ketekunan yang lebih besar dalam bekerja untuk mencapai tujuan dan mencapai kesuksesan dibandingkan individu dengan Self-efficacy yang lebih rendah (Bandura & Locke, 2003; Glickler, 2006; Betz, 2007; Feldman, 2011).

(5)

individu terkait dalam menyikapi permasalahannya.

Motivasi berprestasi juga bisa dilihat dari sudut pandang kebutuhan dan ekspektansi terhadap sesuatu. Konteks kebutuhan dalam hal ini bisa berorientasi pada segala hal yang dirasa perlu untuk dilengkapi, dicari, didapatkan, dimiliki dan dinikmati. Hal ini didukung oleh pernyataan McClelland et al (Sansone & Harackiewicz, 2000) bahwa seseorang mencari prestasi karena mereka memiliki sebuah hasrat yang cenderung diperlukan untuk itu. Sementara dalam konteks ekspektansi, motivasi berpestasi dipandang sebagai suatu nilai harap yang diinginkan untuk dicapai dan dimiliki.

Proses kognisi dalam belajar selalu menyertakan keterampilan untuk berpikir. Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu elemen yang menentukan tingkah laku seseorang saat berinteraksi, menganalisis anomali, dan merespon perubahan sosial. Menurut Cottrell (2005) berpikir kritis adalah aktivitas kognitif yang melibatkan pengunaan proses berpikir. Berpikir kritis juga bisa diartikan sebagai kemampuan untuk mempertimbangkan, menganalisis berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, untuk kemudian memproses informasi ini dengan cara yang kreatif dan logis dalam rangka mebentuk suatu kesimpulan yang dapat

dipertahankan dan dibenarkan (Moon, 2008).

Akomodasi dan pengendalian kontribusi faktor-faktor dalam masa pre-service menentukan mutu dan kualitas calon guru. Program pendidikan Guru perlu mempersiapkan Guru untuk siap berkonfrontasi dengan perbedaan dan menegakkan praktek aplikasi pedagogik dunia pendidikan (OECD, 2010). Program pendidikan Guru juga perlu menawarkan lingkungan belajar yang penuh dengan pandangan isu diversity. Artinya, calon Guru mengalami proses pembelajaran dan pengajaran dengan pemikiran yang terintegrasi dalam kondisi yang disversif atau berbeda-beda. Segala kompleksitas faktor yang mungkin mempengaruhi preparasi Guru perlu dikaji untuk memperoleh onformasi yang lebih akurat. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada preparasi Pre-service Guru dan menelaah hubungan PV terhadap CTS, SE terhadap CTS, AM, terhadap CTS, serta PV, SE, dan AM secara bersama-sama terhadap CTS

Pre-service Guru.

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan profil Personal

-value (PV), Self-efficacy (SE), Achievement Motivation (AM), dan Critical Thinking Skills (CTS) pada Pre-service Guru Fisika di Undiksha; (2) menentukan hubungan antara

(6)

Thinking Skills (CTS), (3) menentukan hubungan antara Self-efficacy (SE) terhadap

Critical Thinking Skills (CTS), (4)

menentukan hubungan antara Achievement Motivation (AM) terhadap Critical Thinking

Skills (CTS), serta (5) menentukan

hubungan antara Personal-value (PV), Self-efficacy (SE), dan Achievement Motivation

(AM) secara bersama-sama terhadap

Critical Thinking Skills (CTS) pada Pre-service Guru Fisika di Undiksha.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yaitu ex-post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pre-service Guru fisika semester genap (II s.d VIII) pada tahun akademik 2012/2013. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 196 yang dipilih dengan teknik stratified proportional random sampling.

Variabel penelitian dalam hal ini melibatkan 3 variabel bebas yaitu Nilai Personal (Personal Value), Efikasi Diri (Self-efficacy), dan Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation), dan 1 variabel terikat yaitu Keterampilan Berpikir Kritis

(Critical Thinking Skills). Oleh karena itu, penelitian ini melibatkan 3 instrumen berupa kuesioner dan satu instrumen berupa tes yang diadaptasi dari Californian Critical Thinking Skills (CCTST).

Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif, teknik analisis korelasi, dan teknik analisis regresi linear dengan 3 prediktor.

HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN Hasil Penelitian

1) Deskripsi Umum Hasil Penelitian

Deskripsi profil variabel penelitian yaitu, nilai personal, efikasi diri, motivasi berprestasi, dan keterampilan berpikir kritis dari Pre-service Guru Fisika di Undiksha disajikan pada Tabel 1. Deskripsi profil pada Tabel 1 dibandingkan dengan panduan konversi nilai absolut skala lima untuk memperoleh kategori pencapaian yang ditunjukkan responden penelitian.

Tabel 1 Deskripsi Profile Variabel Penelitian

Variabel Mean Modus Standar Deviasi

Maks. Min. Kategori

(7)

Variabel Mean Modus Standar Deviasi

Maks. Min. Kategori

4. Profesional 85,44 80,00 12,86 100,00 40,00 Sangat Tinggi 5. Prestasi 86,20 80,00 8,68 100,00 48,57 Sangat Tinggi Efikasi Diri 79,15 77,00 8,30 98,00 54,00 Sangat Tinggi

1. Level 76,79 82,50 9,63 100,00 47,50 Sangat Tinggi

2. Generality 74,64 75,00 12,25 100,00 40,00 Tinggi

3. Strength 83,76 90,00 8,84 100,00 47,50 Sangat Tinggi

Motivasi Berprestasi 78,53 76,36 8,85 100,00 49,09 Sangat Tinggi

1. Hope for success 80,24 80,00 9,63 100,00 40,00 Sangat Tinggi

2. Fear of failure 76,33 80,00 10,50 100,00 48,00 Sangat Tinggi

Keterampilan Berpikir Kritis

33,23 34,38 10,46 56,25 12,50

Sangat Rendah 1. Analisis 28,33 25,00 17,01 75,00 0,00 Rendah 2. Evaluasi 29,44 25,00 14,77 75,00 0,00 Sedang 3. Inferensi 37,43 41,67 18,00 83,33 8,33 Tinggi 4. Deduksi 26,04 25,00 12,61 75,00 0,00 Sangat Tinggi 5. Induksi 41,42 25,00 23,15 100,00 25,00 Sangat Tinggi

Tabel 2 Panduan Konversi Nilai Absolut Skala Lima

Variabel CTS Variabel PV, SE, dan AM Kategori

x

≥ 62,50

x

≥ 75,25 Sangat tinggi 54,17 ≤

x

< 62,50 58,75 ≤

x

< 75,25 Tinggi 45,83 ≤

x

< 54,17 42,25 ≤

x

< 58,75 Sedang 37,50 ≤

x

< 45,83 25,75 ≤

x

< 42,25 Rendah

x

< 37,50

x

< 25,75 Sangat rendah

Berdasarkan Tabel 1 dan Tabel 2, Variabel nilai personal yang memiliki nilai rata-rata sebesar 83,42 sehingga dikategorikan sangat tinggi. Variabel Efikasi Diri (Self-efficacy) memiliki nilai rata-rata sebesar 79,15 sehingga dikategorikan sangat tinggi.Variabel Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation) dari Pre-service

Guru Fisika memiliki nilai rata-rata sebesar 78,53 sehingga dikategorikan sangat tinggi. Variabel Keterampilan Berpikir Kritis

(Critical Thinking Skills) dengan nilai rata-rata 33,23 dikategorikan sangat rendah. Panduan yang sama juga digunakan untuk setiap dimensi variabel penelitian, sehinga diperoleh kategori seperti yang tersaji pada Tabel 1.

2) Pengujian Hipotesis

(8)

hipotesis keempat menggunakan uji Regresi Linear berganda. Karena uji asumsi sudah terpenuhi, maka penggunakan uji Regresi Linear dalam pengujian hipotesis dapat

dilanjutkan. Setelah Uji Regresi Linear diberlakukan, maka akan dilakukan uji keberartian koefisien Regresi.

Tabel 3 Ringkasan Hasil Analisis Regresi Linear

Pasangan

Regresi antara variabel prediktor X1 (PV) terhadap Y (CTS) diperoleh nilai F-hitung sebesar 0,361. Dengan Derajat kebebasan (numerator) 1 dan derajat kebebasan (denumerator) 166 maka diperoleh nilai F-tabel sebesar 3,898. Karena Fhitung < Ft(0,05), maka Ho diterima. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara personal value terhadap keterampilan berpikir kritis pada Pre-service Guru Fisika.

Regresi antara X2 (SE) terhadap Y (CTS) diperoleh nilai F-hitung sebesar 11,152. Dengan DF yang sama, diperoleh nilai F-tabel sebesar 3,898. Fhitung > Ft(0,05), maka Ho ditolak. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara efikasi diri terhadap

keterampilan berpikir kritis pada Pre-service Guru Fisika.

Regresi antara X3 (AM) terhadap Y (CTS) diperoleh nilai F-hitung sebesar 2,490. Dengan DF yang sama, diperoleh nilai F-tabel sebesar 3,898. Karena Fhitung <

Ft(0,05), maka Ho diterima. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara motivasi berprestasi terhadap keterampilan berpikir kritis pada Pre-service Guru Fisika.

Regresi antara X1 (PV), X2 (SE), X3 (AM) terhadap Y (CTS) diperoleh nilai F-hitung sebesar 3,463. Dengan DF

(9)

bersama-sama antara nilai personal, efikasi diri, dan motivasi berprestasi

terhadap keterampilan berpikir kritis pada Pre-service Guru Fisika.

Tabel 4 Ringkasan Hasil Uji Keberartian Koefisien Regresi

Uji keberartian koefisien Regresi yang bersesuaian dengan variabel X1 (PV) memperoleh t-hitung sebesar -1,079. Dengan DF 166, maka diperoleh t-tabel sebesar 1,654. Karena t-hitung lebih kecil dari t-tabelnya maka dapat disimpulkan koefisien Regresi yang bersesuaian dengan variabel X1 (PV) adalah tidak berarti.

Uji keberartian koefisien Regresi yang bersesuaian dengan variabel X2 (SE) memperoleh t-hitung sebesar 2,735. Dengan DF 166, maka diperoleh t-tabel sebesar 1,654. Karena t-hitung lebih besar dari t-tabelnya maka dapat disimpulkan koefisien Regresi yang bersesuaian dengan variabel X2 (SE) adalah berbarti.

Uji keberartian koefisien Regresi yang bersesuaian dengan variabel X3 (AM) memperoleh t-hitung sebesar 0,240. Dengan DF 167, maka diperoleh t-tabel sebesar 1,654. Karena t-hitung lebih kecil dari t-tabelnya maka dapat disimpulkan koefisien Regresi yang bersesuaian dengan variabel X3 (AM) adalah tidak berbarti.

Pembahasan

(1) Deskripsi Profil Efikasi Diri Pre-service Guru Fisika

Hasil analisis terhadap skor Efikasi Diri (Self-efficacy) pada Pre-service Guru Fisika di Undiksha menunjukkan deskripsi skor rata-rata sebesar 79,15. Berdasarkan kriteria mengenai konversi nilai absolut skala lima, maka efikasi diri yang ditunjukan oleh Pre-service Guru Fisika di Undiksha dikategorikan sangat tinggi. Berdasarkan analisa deskriptif tersebut, hanya dimensi Strength of Self-efficacy

yang memiliki nilai rata-rata tertinggi dan dikategorikan sangat tinggi. Dimensi

Strength of Self-efficacy menunjukkan tingkat kemampuan individu terhadap dimensi yang terkait dengan kekuatan/kemantapan individu terhadap keyakinannya.

(2) Deskripsi Profil Motivasi Beprestasi

Pre-service Guru Fisika

Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation) yang ditunjukkan oleh

Pre-service Guru Fisika di Undiksha

Pasangan Variabel Statistik Uji-t

Koef. β1 yang bersesuaian dengan X1 -1,079

Koef. β2 yang bersesuaian dengan X2 2,735

(10)

dikategorikan sangat tinggi. Secara umum, motivasi berprestasi dicapai dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 78,53. Nilai ini berada 3,28 lebih tinggi dari skor batas krieria yang menyatakan kategori sangat tinggi. Berdasarkan panduan konversi nilai absolut skala lima, maka dimensi Hope for success dan dimensi

Fear of Failure dikategorikan sangat tinggi. Perolehan nilai dimensi Hope for success berada 4,99 diatas batas krieria yang menyetakan kategori sangat tinggi. Sementara untuk dimensi Fear of Failure

berada 1,08 diatas batas kriteria yang menyatakan kategori sangat tinggi. Dimensi Hope for success menjadi satu-satunya dimensi yang memiliki nilai rata-rata tertinggi.

(3) Deskripsi Profil Keterampilan Berpikir Kritis Pre-service Guru Fisika

Hasil analisis terhadap Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) yang ditunjukkkan oleh Pre-service Guru Fisika di Undiksha memperoleh nilai rata-rata sebesar 33,23. Nilai ini dinilai sangat rendah daripada pencapaian variabel lain walaupun dalam skala pengukuran yang berbeda. Berdasarkan panduan konversi nilai absolut skala lima, Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) yang ditunjukkkan oleh Pre-service Guru Fisika di Undiksha dikategorikan sangat rendah. Nilai rata-rata ini berada dibawah

batas kriteria sebesar 37,50 yang menyatakan kategori sangat rendah.

(4) Hubungan antara Nilai Personal terhadap Keterampilan Berpikir Kritis

Pre-service Guru Fisika

Hasil analisa Regresi hubungan Nilai Personal (Personal Value) terhadap Keterampilan Berpikir Kritis (Critical

Thinking Skills) belum mampu

memprediksi hubungan yang signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh diterimanya

Hipotesis Null yang menyatakan, “tidak

terdapat hubungan antara Nilai Personal (Personal Value) terhadap Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) pada Pre-service Guru Fisika di Undiksha(F=0,520, r = 0,056, r2= 0,003, p > 0,05). Hasl ini menerangkan bahwa hanya 0,3% variasi pada Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) yang dapat diprediksi oleh variabel Nilai Personal (Personal Value) melalui persamaan Regresi Yˆ6,8730,025X1. (5) Hubungan Efikasi Diri terhadap

Keterampilan Berpikir Kritis Pre-service Guru Fisika

Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh bahwa Hipotesis Null yang

menyatakan, “tidak terdapat hubungan

antara Efikasi Diri (Self-efficacy) terhadap Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) pada Pre-service Guru

(11)

0,229, r2 = 0,053, p<0,05). Informasi ini juga menergaskan bahwa hanya sebesar 5,3% variasi dalam kriterium Y (CTS) yang mampu diprediksi oleh prediktor X2 (SE).

(6) Hubungan Motivasi Berprestasi terhadap Keterampilan Berpikir Kritis

Pre-service Guru Fisika

Hasil penelitian ini mengungkap bahwa tidak terdapat hubungan antara Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation) terhadap Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation). Dalam hal ini Hipotesis Null diterima (F=2,703 r = 0,127, r2 = 0,016, p>0,05). Hasil ini semakin diperjelas dari persamaan Regresi

3 yaitu sebesar 0,084. Koefisien determinasi (r2) dalam model hubungan prediktif X3 terhadap Y ini adalah sebesar 1,6%. Hal ini sekaligus menegaskan informasi bahwa hanya terdapat 1,6% variasi pada kriterikum Y(CTS) yang mampu diprediksi oleh prediktor X3 (AM).

(7) Hubungan Nilai Personal, Efikasi diri dan Motivasi berprestasi secara bersama-sama terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Pre-service Guru Fisika

Hasil temuan dalam penelitian ini mengungkap bahwa Hipotesis Null ditolak. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang signifikan antara Nilai Personal (Personal

Value), Efikasi Diri (Self-efficacy), Motivasi Beprestasi (Achievement Motivation) secara bersama-sama terhadap Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) pada Pre-service Guru

 yang memperlihatkan koefisien arah regresi bertanda negatif pada variabel yang bersesuaian dengan X1 dan X2. Disamping itu koefisien tersebut bernilai sangat kecil, yaitu -0,048 untuk Nilai Personal (Personal Value), 0,108 untuk Efikasi Diri (Self-efficacy), dan 0,017 untuk Motivasi Beprestasi (Achievement Motivation) dalam memprediksi hubungan secara bersama-sama terhadap Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills). Koefisien determinasi yang ditunjukkan oleh model hubungan prediktof ini adalah sebesar 6,0%. Nilai ini memberikan arti bahwa, terdapat 6,0% variasi pada kriterium Y(CTS) yang mampu diprediksi oleh prediktor X1(PV), X2(SE), dan X3(AM).

PENUTUP

(12)

genap tahun akademik 2012/2013 di Undiksha, dikategorikan sangat tinggi; (2) Efikasi Diri (Self-efficacy) dikategorikan sangat tinggi; (3) Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation dikategorikan sangat tinggi; (4) Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) dikategorikan sangat rendah; (5) Tidak terdapat hubungan yang positif antara Nilai Personal (Personal Value) terhadap Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) pada Pre-service Guru Fisika; (6) Terdapat hubungan yang positif antara Efikasi Diri (Self-efficacy) terhadap Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) pada Pre-service Guru Fisika; (7)Tidak terdapat hubungan yang positif antara Motivasi Berprestasi

(Achievement Motivation) terhadap

Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) pada Pre-service Guru Fisika; dan (8) Terdapat hubungan yang positif secara bersama-sama antara Nilai Personal (Personal Value), Efikasi Diri (Self-efficacy), dan Motivasi Berprestasi

(Achievement Motivation) terhadap

Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) pada Pre-service Guru Fisika.

Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, maka (1) bagi Pre-service

Guru Fisika yang hendak mengembangkan keterampilan dalam berpikir selama masa

Pre-service Guru perlu melibatkan secara

mandiri dan optimal Efikasi Diri ( Self-efficacy) dalam dirinya sebagai bentuk perluasan kazanah ilmu pengetahuan. (2) bagi Guru, Deskripsi dan temuan relasi yang signifikan dalam penelitian ini, tidak serta merta menyatakan bahwa Efikasi Diri ( Self-efficacy) bukanlah satu-satunya faktor yang mampu mempengaruhi kualitas Pre-service

Guru, sehinnga perlu dikaji lebih lanjut. (3) Bagi Institusi yang dalam hal ini adalah Undiksha, temuan dan deskripsi hubungan dalam penelitian ini dapat dijadikan suatu kebijakan yang melibatkan Nilai Personal (Personal Value), Efikasi Diri (

Self-efficacy), dan Motivasi Berprestasi

(Achievement Motivation) secara kolektif dalam meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills) Pre-service

Guru menuju pembenahan mutu dan profesionalisme keguruan.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, A. 1995. Self-efficacy in Changing Societies. New York: Cambridge University Press.

Bektas, F. & Nalcaci, A. 2012. The Relationship between Personal Values and Attitude towards Teaching Profession. Educational and Research Center. Special Issue. Tersedia pada http://www.edam. com.tr. Diakses pada Kamis 24 Januari 2013.

Brandenburg, R. 2006. Powerfull Pedagogy :Self Study of a Teacher Educator’s

Practice. Australia: Springer Press. Busari, A. O. 2011. The relationship

between self-eficacy, motivation and critical thinking disposition to achievement of sandwich degree students. International Journal of Asian Social Science. 1(1). 1-9. Tersedia pada http://www.aessweb .com. Diakses pada Senin 12 Agustus 2012.

Coaley, K. 2010. An Introduction to

Psychological Assessment and

Psychometrics. London: Sage

Publisher.

Cottrell, S. 2005. Critical Thinking Skills; Develoving Effective Analysis and

Argument. USA: Palgrave Mc

Milan.

Dehghani, M., Sani, H. J., Pakmehr, H., & Malekzadeh, A. 2011. Relationship between students critical thinking and self-efficacy beliefs in ferdowsi university of mashhad iran. Procedia Social and Behavioral Sciences. Special Issue. 2952–2955. Tersedia pada http://www.sciencedirect.com. Diakses pada Senin 1 Oktober 2012. Feldman, R. S. 2011. Essentials of

Understanding Psychology 9th

Edition. New York: Mc Graw Hill. Fu, J. 2011. The relationships among

self-efficacy achievement motivation, and work values for regular four-year university students and community college students in China. Disertasi. Tersedia pada Tersedia pada https://www.ideals. illinois.edu.Diakses pada Kamis 1 November 2012.

Ginsberg, M. B. & Wlodkowski, R. J. 2009.

Diversity & Motivation: Culturally

Responsive Teaching in College. San Fransisco: Jossey-Bass.

Heckhausen, J. & Heckhausen, H. 2008.

Motivation and Action. New York: Cambridge Press.

(14)

Lovat, T., Dally, K., Clement, N., & Toomey, R. 2011. Values Pedagogy

and Student Achievement.

Conterporary Research Evidance. London: Springer Press.

Mojavezi, A. & Tamiz, M.P. 2012. The impact of teacher self-efficacy on

the students’ motivation and

achievement. Theory and Practice in Language Studies. 3(2). 483-491. Tersedia pada http://ojs.academy publisher.com. Diakses pada Selasa 6 November 2012.

Moon, J. 2008. Critical Thinking: An Exploration of Theory and Practice. USA: Routledge.

Nalcaci, A. 2012. The relationship between the individual values and critical thiking skills of prospective social sciences teachers. International Journal of Progressive Education. 8(1). 22-34. Tersedia pada http://www.inased. org. Diakses pada Senin 26 Maret 2012.

OECD. 2010. Educating teacher for diversity: meeting the challenge.

Artikel. Tersedia Pada http://www. oecd.org. Diakses pada Rabu 1 Juni 2011.

OECD. 2011. Againts the odds disadvantaged student who succeed in school. Artikel. Tersedia Pada http://www.oecd.org. Diakses pada Kamis 1 November 2012.

Roberts, T. G., & Dyer, J. E. 2005. The relationship of self-efficacy, motivation, and critical thinking disposition to achievement and attitudes when an illustrated web lecture is used in an online Learning environment. Journal of Agricultural Education. 46(2). 12-13. Tersedia pada http://www.jae-online.org. Diakses pada Diakses pada Sabtu 1 Desember 2012.

Sansone, C. & Harackiewicz, J. M. 2000.

Instrinsic and Exstrisic Motivation;

The Search for Optimal Motivation

and Performance. California:

Academic Press.

Turkovich, D. M. & Harty, K. R. 2012. Exploring pre-service elementary

teachers’ efficacy beliefs associated

with a learning community created by linked courses. International Academic Conference. Special Issue. 101-106. Tersedia pada http//:www. conferences.cluteonline.com.

Diakses pada Senin 26 Juni 2012. UNESCO. 2011. Regional report on

progress towards education for all (efa) in asia and the pacific. Artikel.

Tersedia pada http://unesdoc.unesco. org. Diakses pada Rabu 5 September 2012.

Wigfield, A. & Eccles, J. S. 2002. The

(15)

Gambar

Tabel 1   Deskripsi Profile Variabel Penelitian
Tabel 2   Panduan Konversi Nilai Absolut Skala Lima
Tabel 3   Ringkasan Hasil Analisis Regresi Linear

Referensi

Dokumen terkait

File yang harus diunggah yaitu ijasah SD tidak perlu legalisir, halaman depan dan belakang, dijadikan 1 format .pdf, dengan ukuran file tidak lebih dari

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fibrianti dan Wisada (2015) menyatakan bahwa tanggung jawab lingkungan tidak

Hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa variabel kualitas produk, kemasan dan harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian dengan

Saran Berdasarkan hasil “Analisis Kepuasan Mahasiswa Pada Kualitas Pelayanan Sekretariat Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta” maka penulis memberikan saran

Jadi yang membuat penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu dengan menambahkan variabel baru tax authorities services dan system performance

Dari permasalahan di atas, aplikasi messenger berbasis Android ini dibuat tidak hanya dapat melakukan pertukaran pesan singkat berbasis teks antar pengguna

Pilihan – pilihan yang ada pada menu edit terutama digunakan untuk meng – copy dan menghapus teks yang ada pada sebuah jendela dan dapat juga digunakan untuk meng – copy teks dari

Apabila unit pemotongan perlu dijongketkan untuk mendedahkan bilah dasar/gelendong, angkat bahagian belakang unit pemotongan menggunakan tongkat (dibekalkan bersama unit