• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal PendarPena Vol. 2 Nomor 6 Mei 200

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal PendarPena Vol. 2 Nomor 6 Mei 200"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Kolom Kami

Pembuka Kalam Sebelum Pluit Itu Ditiupkan Kolom Kami

Kata Pembaca

Tulisan Utama Waktu Luang dan Keterjagaan-akan: Prasyarat Kebebasana (Ber)Identitas

Tulisan Utama Antara Waktu Luang, Permainan, dan Nilai-Nilai Pendidikan

Artikel Antara Waktu Luang dan Waktu Yang [Di]Luangkan Omongomong Kembali ke Alam: Memaknai Ulang Makna Waktu Senggang Kosmopolitan

Artikel The History of Java, Waktu Senggang Raffles di Jawa

Warta Zaman Edan: Sebuah Catatan Jurnalisme Richard L. Perry Karya Dialog di Suatu Senja

Bukubuku Homo Ludens: Main-Main Ala Filsafat Barat

Coratcoret Tertawa Dalam Waktu

Kulit Muka

Judul: Gila Lantai Dansa Ilustrator: THS

PendarPena adalah media populer alternatif yang diterbitkan Kelompok Belajar Pendar Pena. Media ini mengangkat masalah-masalah budaya kontemporer dilengkapi pembahasan seputar filsafat, sejarah, kajian budaya, dan sastra.

PendarPena berusaha memajukan kehidupan budaya dan intelektual di negeri ini. Maka, sumbangan tulisan, pemikiran, ilustrasi, puisi dan foto sangat diharapkan demi keberlangsungan terbitan ini. Tanpa peran aktif pembaca, terbitan ini pun tak mungkin berjalan se-bagaimana mestinya. Kami menanti kritik dan saran anda.

Redaksi PendarPena berhak merubah judul dan me-nyunting setiap tulisan yang masuk, tanpa merubah esensi isinya.

PendarPena

Penanggung Jawab

Pemimpin Redaksi

Redaksi

Penata Grafis

Alamat

Telepon

E-mail

Nomor Rekening Berto Tukan Rapat Dewan Redaksi

Sulaiman Harahap Mufti-Ali-Sholih

Hendra Kaprisma Oscar Ferry Tia Septian

Tri Haptiko Sukarso

Jln. M. Kahfi 2 No.20, Kelurahan Jagakarsa, Kecamatan Jakakarsa, Jakarta 12620

021-97139795, 0856 111 2954

[email protected]

BNI KCU-UI Depok 0006197716 BCA KCU-Tanjung Priok: 007 283 3595

3

4

5

6

8

10

12

14

16

18

19

22

Kontributor

JC Pramudia Natal, Rahman C. Mukhlas, Dwi Woro R. Astuti, Dhany Trihatmodjo, Ibnu Rizal. A

(4)

Pembuka Kalam

Segalanya ada waktunya. Begitu kita sering mendengar orang berbicara tentang sebuah takdir. Ada awal dan ada akhir. Segalanya yang dimulai pasti akan berakhir, segala yang dilahirkan pasti punya mati. Begitulah seperti mitologi Yunani ketika Dewa Kronos (waktu) menelan semua yang pernah dilahirkannya; segala yang dilahirkan oleh waktu pasti akan dimakan oleh waktu pula, dan selanjutnya sang waktu akan memuntahkan sesuatu yang baru. Maka, datang dan pergi, menyingkap dan menghilang adalah hal yang lumrah dalam waktu.

PendarPena adalah juga sesuatu yang berwaktu; sebuah terbitan berkala yang mengikuti sebuah perhitungan waktu tertentu. PendarPena pun sebenarnya adalah sesuatu yang muncul dari sebuah permainan yang bisa dipahami seperti kutipan dari roman Milan Kundera di atas. Ia adalah sebuah permainan untuk menyikapi dunia kami yang sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi, namanya sebuah permainan tentu tidak enak rasanya kalau tidak disikapi dengan serius sebagai sebuah permainan. Ini adalah sebuah permainan, Bung. Sebuah permainan yang berusaha kami mainkan sedemikian rupa untuk mewarnai dunia kami yang tidak penting dan sebenarnya enggan untuk disikapi. Tapi toh, jika engkau menertawakan duniamu (tentu saja dengan sebelumnya menertawakan diri sendiri) dan terus menertawakannya, kejemuanlah sebenarnya yang menunggumu di ujung jalan. Maka benar kata Kundera, jadikanlah ia sebuah permainan. Setidak-tidaknya, ada sesuatu yang kau anggap penting dalam keisenganmu; yakni permainan itu.

Permainan ini adalah permainan untuk menyikapi dunia. Ada peraturan-peraturan tertentu dan koridor-koridor tertentu yang patut diciptakan sedemikan rupa demi sebuah permainan yang bisa terlihat penting. Menyikapi peraturan dan koridor, engkau butuh strategi. Walau pun toh strategi dan peraturan tak penting juga. Tinggal bermain saja, ada teguran berarti kau keluar sedikit dari jalan permainan, ada hukuman berarti kau sudah ekstrim melanggar aturan permainan.

Sudahlah. Permainan ini semakin tak lucu tampaknya. Strategi perlu kami pikirkan lagi demi permainan yang tentunya lebih menyenangkan lagi buat kami. PendarPena kali ini menghadirkan tema Waktu Senggang yang dipilih semata-mata karena keisengan saja. Tak perlu dipertanyakan apa isi PendarPena kali ini, dan untuk apa tema ini dikumandangkan. Anggap saja ini adalah injuri time babak pertama sebuah pertandingan sepak bola dan kita adalah para penonton dan pemain yang berpikir tentang; masih ada waktu di babak kedua. Tabik, kita bertemu lagi di babak kedua nanti.

Berto Tukan

Sebelum Pluit Itu Ditiupkan

… Jika kita menolak untuk menyepakati pentingnya sesuatu di dunia yang kita tidak anggap penting, dan andaikata dalam dunia itu kita tidak menemukan satu pun gema dari tawa kita, hanya ada satu solusi yang tersisa buat kita: menjadikannya sebagai sebuah permainan. Avenarius bermain-main dan permainan adalah satu-satunya hal yang penting dalam dunia yang tidak penting. Tapi permainan itu tidak membuat seorang pun tertawa dan dia tahu itu….

(5)

Kata Pembaca

Pena yang memendar itu kini hadir lebih berwarna. Memancar

nakal di setiap kata dan parasnya. Lama tak terdengar kabar

karena keberadaannya yang nun jauh di sana. Namun seorang

kawan mengirimkannya kembali lewat dunia maya. Takjub!

Hanya kata itu dapat terucap. Progresnya sungguh luar bi

-asa. Masih teringat jelas di masa-masa awal. Ia tersendat,

namun enggan mengendap. Bernapas pelan, meski tertahan.

Mencoba terus hidup dalam sebuah idealisme.

Salut untuk semua tim dan narasumber yang turut berpar

-tisipasi. Mudah-mudahan apa yang dihadirkan dapat selalu

menggelitik logika. Setiap kolom menghadirkan nuansa

ber-beda di tengah kabar yang semakin menggila. Dan tetuntunya

tetap menjadi pena yang tak berhenti menitikkan karya.

Kolay Gelsin!

Putri Dwina Juniandri (Poe)

Mahasiswi S2 Cultural Studies

Universitas Istanbul-Turki

PendarPena, menurut saya sudah bagus, tapi ada

bebera-pa hal yang kurang. Pertama, visi dan misi PendarPena itu

tak jelas karena tak ada visi dan misi yang tertera. Kedua,

arah tulisannya akan berkonsentrasi pada masalah apa?

Science, Humaniora, atau politik. Ketiga, segmentasinya

di mana? Tiga hal ini saya pikir harus ada pada PendarPe

-na. Terima Kasih.

Johny Wahyuadi Soedarsono

Pengajar pada Dept. Metalurgi dan Material FTUI

Direktur PNJ

PendarPena dapat diperoleh (terbatas) di Perpustakaan FIB UI, Perpustakaan UI, TB. Cak Tarno, TB. Kalam (TUK). TB. Bengkel Deklamasi (TIM), Universitas Paramadina, UIN Syarif Hidayatullah, STF Driyarkara, dan Perpustakaan Freedom Institute.

Pemberitahuan untuk Pembaca: media populer alternatifPendarPena akan vakum selama tiga bulan, terhitung dari Juni-Agustus. Kami akan hadir lagi pada bulan September. Hal ini kami lakukan demi penampilan dan isi PendarPena

(6)

Tulisan Utama

A: ”Waduh! Siang ini kayanya musti bo-los, gua lagi ada jadwal manggung nih” B: ”Sama nih. Gua juga gak bakal bisa ikut kelas, ada jadwal latihan tambahan”. A: ”Yasuda, paling besok kita minjam cata-tan temen lagi”

Percakapan di atas tentu sudah tak asing di kalangan mahasiswa-mahasiswi. Bahkan mungkin juga buat para pelajar SLTA atau SLTP. Kegiatan studi tidak lengkap tanpa adanya kegiatan-kegiatan sosial, baik yang bersifat akademik ataupun non-akademik. Melalui kegiatan-kegiatan ini, peserta didik memperoleh identitas-identitasnya yang lain. Si A mungkin seorang pencinta alam, B adalah seorang penari paruh-wak-tu, dan C adalah seorang penyanyi yang kerap harus bernyanyi di luar kota atau bahkan ke mancanegara. Namun tetap A, B, dan C memiliki identitas yang sama, yaitu sebagai peserta didik yang wajib me-nyelesaikan studi. Kewajiban ini mengaki-batkan peserta didik yang bersangkutan

mengalami konflik antara prioritas dan

tuntutan multi-identitas yang diembannya (Sen, 2007, 40).

Melalui tulisan ini, penulis men-coba memaparkan bahwa waktu luang dan keterjagaan (di dalam menjalani-nya) menjadi pra-syarat identitas. Berdasarkan penjelasan Pieper yang dikutip Simon, maka waktu luang dapat dimaknai seba-gai: Ada-an Diri yang sepenuhnya terjaga. Yang dimaksud dengan terjaga adalah proses akal budi dan intuisi yang lebih da-lam daripada kesadaran dan keterbukaan. Diri bertindak dengan berbagai pengaruh lingkungan namun tanpa tekanan dari lu-ar-Diri, Diri menjadi subyek atas keadaan sekeliling tanpa jatuh ke dalam praktik

sub-ordinasi Sang-Liyan, dan akhirnya Diri tetap mampu menjaga keaktifan akal budi dan intuisi di dalam

kepasi-fan fisik (Simon, 2008, 64-65). Dalam

rangka menjelaskan Ada-an Diri yang

terjaga, penulis mengembangkan teori kesadaran fenomena dan kesadaran ak-tif yang dikemukakan oleh Bagus Tak-win.

Waktu Luang Sebagai Locus Ke-terjagaan-Akan

Pieper, dalam bahasa Simon, menjelas-kan bahwa, ”waktu senggang berpijak

pada pemujaan” (Simon, 2008, 68). Da -lam kaitannya dengan pemujaan, waktu senggang memiliki kesamaan dengan praktik pembebasan tanah untuk di-jadikan tempat beribadah, yaitu ked-uanya: ”merupakan penyediaan waktu tertentu dalam ruang yang tak digu-nakan” (ibid, 68). Kalimat di atas dapat dimaknai baik secara fisik atau tak-ben -da, baik secara pragmatis atau idealis. Berikut pasangan-pasangan pemaknaan kalimat di atas.

Pertama, Fisik-Pragmatis.

Makna ini memiliki referensi kepada

keadaan fisik yang dialami secara langsung oleh Diri-Tubuh pada saat ini.Ruang yang tak digunakan adalah ruang yang tidak digunakan/diubah/ dimanipulasi oleh tubuh dalam rangka memuaskan kebutuhan indra. Dalam hal ini dapat dibandingkan antara keg-iatan ”mengisi IRS” dan ”duduk tenang mendengarkan kuliah”. Diri-Tubuh yang ”mengisi IRS” bertujuan untuk mencari dan mendaftar mata kuliah (objek). Dengan demikian ia harus mengubah

berbagai hal, mulai dari menghitamkan

bulatan di kertas formulir, bahkan sampai negosiasi dengan dosen mata kuliah yang bersangkutan. Sementara itu Diri-Tubuh yang ”duduk tenang di dalam ruang kuliah” hanya melewati waktu dengan menerima berbagai bentuk persepsi indra, seperti warna ruang kelas, penjelasan dosen, bisik-bisik teman di belakang, bahkan deng-kuran teman di sebelahnya.

Kedua, Tak-Benda-Pragma-tis. Makna ini memiliki referensi ke-pada proses akal budi dan intuisi

yang dialami subyek Diri bersamaan dengan saat tubuhnya mengalami poin 1. Dengan demikian, poin ke-2 ini ada-lah abstraksi terhadap poin pertama. Ketika Diri-Tubuh ”mengisi IRS”, di dalam Diri-Subyek terdapat abstraksi

dari berbagai realitas fisik faktual yang

baru dialami. Hal yang sama juga ber-laku untuk contoh yang lain. Abstraksi ini dapat berbentuk gambaran atau-pun proposisi.

Ketiga, Tak-Benda-Idealis. Makna ini masih bereferensi kepada

proses akal budi dan intuisi. Na-mun proses ini tak hanya terbuka

terhadap realitas fisik faktual yang

baru saja dialami tubuh, tetapi juga

terjaga terhadap berbagai abstraksi

(kemungkinan) realitas fisik yang

akan dialami sebagai akibat dari

reali-tas fisik yang baru dialami. Misalnya,

ketika Diri-Tubuh melakukan keg-iatan ”mengisi IRS” maka pada saat yang bersamaan Diri-Subyek memiliki harapan untuk memperoleh sesuatu (konsumsi) dari mata kuliah (objek) tersebut, misal nilai bagus, pengeta-huan baru, dan kebahagiaan keluarga.

JC Pramudia Natal, Alumnus Sastra Daerah untuk Sastra Jawa, UI.

Pengajar Piano Klasik, Vokal, dan Electone di Sekolah Musik Yamaha.

Waktu Luang dan

Akan:

Pra-Syarat

(7)

Penjelasan yang lebih kompleks berlaku untuk contoh Diri-Tubuh yang ”duduk tenang di dalam ruang kuliah”. Walau ia juga mengalami proses yang sama namun berbeda dari contoh ”mengisi IRS”, proses abstraksinya tidak terkonsen-trasi pada satu hal. Bisa saja Diri-Subyek dari Diri-Tubuh yang duduk ini sedang membayangkan bahwa ia akan menentang pendapat dosennya di dalam ruang kelas yang warnanya berbeda dengan yang Diri-Tubuh sedang alami. Di dalam bayangan ini, Diri-Subyek juga memprediksi berba-gai pendapat yang mungkin akan dilontar-kan teman-temannya.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa waktu luang adalah keadaan di mana Diri-Sub-yek dapat melakukan proses abstraksi ter-hadap lebih dari satu hal. Memang menjadi prasyarat bagi seseorang untuk

mempertimbangkan dan memutuskan

tindakan yang akan menentukan identi-tasnya. Namun waktu luang tidak berdiri sendiri, karena di dalam ruang dan waktu harus ada suatu proses akal budi dan in-tuisi yang tak hanya terbuka pada suatu realitas faktual namun juga dapat

mem-prediksi dan terjaga-akan realitas fisik

yang mungkin akan dihadapi.

Keterjagaan: Proses Akal Budi dan Intuisi Menuju Kebebasan

Bagus Takwin di dalam Kesadaran Plural memaparkan 5 tahap proses akal budi manusia (Takwin, 2005, 216-226), yaitu identifikasi, encoding, menemukan implikasi, menemukan cara penyelesa-ian perbedaan implikasi, dan menetap-kan keputusan. Dalam kaitannya dengan pembahasan waktu luang dan pemilihan identitas penulis akan memfokuskan diri pada poin identifikasi dan encoding, dan

pengembangan kedua poin tersebut seba-gai pra-syarat untuk melangkah ke dalam 3 proses yang lain.

Proses identifikasi dijelaskan se -bagai proses ketika ”manusia

menemuke-nali atau mengidentifikasi benda-benda yang ada di lingkungan” (Takwin, 2005, 216). Dengan demikian sesungguhnya proses identifikasi adalah ketika Diri sa -dar akan dunianya, yang berarti lahirnya Diri-Subyek. Hal ini karena Diri telah

melakukan klasifikasi antara Diri-Tubuh,

Sang-Liyan-Tubuh, dan Diri-Subyek. Me-langkah lebih jauh pada tahap encoding, maka Diri-Subyek mulai ”... menerima informasi tentang objek tertentu dan men-gartikan informasi itu” (ibid, 217). Pada tahap ini, Diri-Subyek mulai mengetahui bahwa ia tak sendiri sebagai

yang-terk-lasifikasi-di-dalam-diri. Melangkah lebih

jauh dari objektifikasi yang liyan sebagai

Diri-Tubuh, Diri-Subyek mulai terbuka

akan kehadiran Subyek dari yang liyan. Di

dalam keterbukaan ini diperoleh juga berbagai informasi faktual dan aktual mengenai Sang-Liyan.

Pengembangan lebih lanjut yang dimaksud penulis dan tidak

di-masukkan ke dalam 5 tahap itu oleh

Takwin, adalah tahap prediksi. Di da-lam tahap ini, Diri-Subyek tak hanya

sadar akan yang liyan sebagai

Diri-Tubuh (identifikasi) dan kemudian ter-buka akan Sang-Liyan-Subyek ( encod-ing). Lebih lanjut, Diri-Subyek secara aktif mencoba mengabstraksikan atau

terjaga-akan berbagai kemungkinan

realitas fisik yang akan dialami

Sang-Liyan berdasarkan realitas faktual dan aktual yang sedang dialami Sang-Liyan tersebut. Pada saat ini, Diri-Subyek

sedangmenyadari akan Sang-Li-yan sebagai Tubuh dan Diri-Subyek, terbuka terhadap semua keadaan yang sedang dibawa dan

telah dialami Sang-Liyan, dan ter-jaga akan semua kemungkinan realitas yang akan dialami Sang-Liyan di masa mendatang.

Dengan memiliki keterjagaan-akan kemungkinan realitas yang keterjagaan-akan dialami pada masa mendatang oleh Sang-Liyan, maka dengan demikian Diri-Subyek sekaligus memiliki keter-jagaan-akan kemungkinan realitas yang akan dialami Diri. Hal ini dikarenakan Sang-Liyan dan Diri-Subyek bersifat saling meniscayakan, saling

mengada-kan, saling meniadakan (Hassan, 2005, 43-45). Semakin banyaknya kemung -kinan realitas yang akan dialami maka semakin banyak pilihan yang dapat di-ambil Diri-Subyek. Apabila kebebasan meniscayakan adanya pilihan-pilihan, maka keterjagaan-akan yang dialami Diri-Subyek menegaskan hal tersebut.

(Ber)Identitas: Waktu Luang Da -lam Keterjagaan

Berdasarkan pembahasan di atas maka penulis menarik kesimpulan bahwa

manusia sebagai Diri-Subyek hanya mampu memilih identitasnya secara bebas apabila mengalami proses abstraksi terhadap lebih-dari-satu realitas Sang-Liyan di dalam

tahap keterjagaan-akan dari ruang proses akal budi dan intuisi. Kebebasan yang dialami oleh Diri-Subyek ditandai oleh semakin banyaknya pilihan iden-titas yang didasari pada keterjagaan-akan realitas yang kemungkinan keterjagaan-akan dijalani.

Walau demikian dapat terjadi beberapa keadaan yang mengurangi ke-bebasan Diri-Subyek dalam menentu-kan identitas. Keadaan tersebut adalah

pertama Diri-Subyek berada di dalam tahap keterjagaan-akan, namun

sedang/hanya terfokus kepada satu jenis realitas Sang-Liyan. Hal ini dicer-minkan oleh manusia yang tertutup akan adanya manusia atau realitas yang berbeda dari yang ia yakini. Ia hanya peduli akan tujuannya dan bahkan rela

mengobjektifikasi sekelilingnya untuk

mencapai tujuan. Kedua, Diri-Subyek mampu mempersepsi dan mengabs-traksikan lingkungannya, namun ia hanya mencapai tahap encoding (ket-erbukaan). Hal ini dicerminkan oleh manusia pragmatis yang keberadaan-nya sangat ditentukan oleh bagaimana keadaan faktual lingkungannya. Ia

di-objektifikasi oleh lingkungan dan keg -iatannya sendiri.

Apabila manusia dapat secara bebas memilih identitasnya, maka ia tak akan terjebak hanya menjalani atau mengulang-ulang suatu kultus. Ia akan mampu mengembangkan kul-tus yang sedang dijalaninya, yang be-rarti melakukan suatu inovasi. Apabila suatu kultus berhasil diinovasi maka kebudayaan dan masyarakat pun akan dapat berkembang. Itulah yang dimak-sud oleh Pieper sebagai kebudayaan hanya mungkin apabila ada waktu

lu-ang (Simon, 2006, 63), dan Diri-Subyek

yang terjaga-akan waktu luang yang ia jalani.

Daftar Pustaka:

Cassirer, Ernst. 1970. An Essay on Man. New Haven: Yale University Press

Hardiman, F Budi. 2005. Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma. Jakarta: Kompas

Hassan, Fuad. 2005. Kita and Kami: The Basic Modes of Togetherness. De-pok: Winoka

Sen, Amartya. 2006. Kekerasan dan Ilusi Tentang Identitas. Diterjemah-kan oleh Arif Susanto. Serpong: Marjin Kiri.

Simon, Fransiskus. 2008. Kebudayaan dan Waktu Senggang. Yogyakarta: Jalasutra.

(8)

Tulisan Utama

Manusia bukan robot. Begitupun kaum urban yang sibuk dengan segala aktivitas dan rutinitasnya. Apalagi di jaman yang serba mementingkan kecepatan dan keinstanan ini, mereka selalu bergelut dengan kerja, kerja, dan kerja. Maka menjadi pantas jika mereka membutuhkan seluang waktu dari kubangan orientasinya tersebut. Namun sayang, waktu luang buat mereka telah terjadwal dan terbatas di kalender. Sehingga tak jarang waktu luang yang sedikit tersebut digunakan untuk “benar-benar istirahat”, atau sekedar rekreasi untuk menyegarkan kepenatan otak. Inilah keterjebakan kaum urban dalam memaknai waktu luang.

Tulisan ini bukan bertujuan untuk menggambarkan manusia, terutama kaum urban, menggunakan lalu memaknai waktu luangnya untuk “benar-benar istirahat” atau ber-backpacker-an; melainkan untuk mencandrakan bagaimana waktu luang digunakan untuk membiarkan imajinasi yang ada terus merenang secara kreatif, berkembang secara mendidik dan tentunya digunakan untuk terus belajar. Salah satunya permainan tradisional anak-anak.

Jauh dari arus cepat rutinitas dan hingar-bingar gemerlap modern ibukota, di sudut kampung pedesaan masih terlihat sekelompok anak-anak (kecil) bermain dengan riang. Bukan bermain Guitar Hero di

Play Station maupun Counter Strike secara online di komputer atau laptop, akan tetapi mereka memainkan permainan tradisional

Cublak-Cublak Suweng. Sebuah permainan tradisional yang lahir dari kebudayaan Jawa dan diwariskan secara turun-temurun. Sebuah permainan yang sejatinya masih dikenal dan perlahan mulai “dimusnahkan” masyarakat kota yang mendewakan modernitas. Sebuah permainan yang dilakukan tanpa biaya sepeser pun, dilakukan dengan ikhlas, dengan spontanitas, dan jauh dari sisi modernitas. Namun, senyum mereka tetap merekah, seakan-akan tidak ada beban di bahu mereka. Mata mereka tetap bersinar, seolah-olah tak ada kepenatan akan kewajiban mengerjakan PR sekolah.

Ya, tanpa sadar anak-anak kecil tersebut telah menggunakan kesenggangan waktunya secara efektif. Selepas rutinitas hariannya seperti sekolah, belajar, membantu

orang tuanya, mengaji, dll, mereka memanfaatkan senggangnya waktu (yang mungkin terbatas) untuk bermain. Permainan mereka itu tidak direncanakan, apalagi dijadwalkan. Mereka tak menjadwalkan kapan akan memulai dan kapan harus mengakhiri permainan. Spontanitaslah yang tercuat dalam permainan tersebut. Bahkan tidak ada batasan berapa jumlah pemainnya, dalam arti siapa pun boleh bermain, baik anak dari kalangan priyayi maupun dari keluarga petani.

Mengapa kesenggangan waktu anak-anak kecil yang bermain

Cublak-Cublak Suweng tersebut penulis katakan efektif? Karena menurut Ki Hajar Dewantara dalam bukunya Transformasi Nilai Melalui Permainan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta

(Depdikbud: 1992/1993) bahwa semua permainan (tradisionil) anak-anak memiliki fungsi pendidikan, ketertiban, dan keteraturan. Masih menurut Ki Hajar, ada beberapa nilai yang terkandung dalam permainan tradisionil anak-anak, diantaranya dapat menimbulkan rasa senang, rasa bebas, rasa berteman, rasa demokrasi, melatih untuk Bawang

Oscar Ferry

Antara

Waktu Luang,

Permainan,

Nilai-Nilai

(9)

Kothong (anak bawang), melatih jiwa kepemimpinan, melatih agar patuh terhadap peraturan, mendidik dalam keterampilan berpikir, melatih dalam pengendalian emosi, dan melatih keberanian. Nilai-nilai tersebutlah yang membuat efektifnya waktu senggang yang digunakan anak-anak dalam bermain. Efektif, karena dengan memainkan permainan tersebut dapat melatih, mendidik, dan menjadi arena belajar bagi anak-anak. Terlebih bila ditilik lebih dalam lagi, permainan tersebut jauh dari kesan “benar-benar istirahat” atau bermalas-malasan, tanpa mengeluarkan biaya, tidak berbatas, dan tidak terjadwal, serta jauh dari sisi permainan modern berteknologi tinggi yang hanya membuat imajinasi anak-anak sebatas khayalan.

Pada permainan tradisional anak-anak, tak hanya Cublak-Cublak Suweng, tetapi juga ada permainan lainnya yang dikenal masyarakat Jawa, seperti Jamuran, Lepetan, Gajah Talena, dan

Tumbaran (Ki Hajar Dewantara.

Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Melalui Permainan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Depdikbud: 1997/1998). Permainan-permainan tradisional tersebut masih dapat kita temui di pelosok-pelosok daerah yang masih kental corak budaya Jawanya. Permainan-permainan tersebut memang belum diketahui secara pasti kapan, di mana dan oleh siapa mulai dimainkan. Satu hal yang pasti bahwa permainan-permainan semacam Cublak-cublak Suweng, Jamuran, Lepetan

mampu eksis karena adanya proses pewarisan, baik oleh orang tua, saudara-saudara, maupun teman-teman mereka; dan merupakan salah satu produk asli peninggalan kebudayaan Nusantara lama.

Permainan-permainan yang diiringi dengan nyanyian tersebut dimainkan tanpa dijadwalkan. Artinya mereka bermain jika mereka ingin bermain. Mereka memainkan di sela rutinitas hariannya sebagai anak-anak. Biasanya dilakukan di malam hari

saat purnama, atau bagda (sehabis) Isya maupun setelah mengerjakan semua kewajibannya sebagai anak-anak. Mereka bermain dengan spontan, tanpa ada paksaan dari siapapun. Mereka tidak pernah mempedulikan siapa yang menang dan kalah. Bahkan tidak memikirkan pula strategi khusus untuk menuju kemenangan atau bertahan agar tidak kalah. Yang ada hanyalah keceriaan, canda, tawa, senyuman, dan tentunya kebersamaan.

Jaman boleh berubah, waktu terus berputar, umur pun ikut bertambah. Di tengah gilasan putaran roda globalisasi yang selalu menamengkan modernitas dan kemajuan teknologi, mungkin kita memang sudah tidak mendengar lagi ada sekelompok anak-anak kecil yang bermain sambil menyanyikan “cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter, mambu ketudhung gudel, pak empong lera-lere, sapa ngguyu ndhelikake -sir, sir pong dhele kopong-…”. Nyanyian anak-anak kecil yang sedang memainkan permainan tradisionil tersebut hanya dapat kita jumpai bila berkunjung ke perkampungan di pedesaan, bukan di perkotaan macam Jakarta.

Yang jelas menampak adalah dengan bermain permainan tradisional, imajinasi anak-anak berkembang secara kreatif. Mereka juga bisa mendapatkan pelajaran baru di luar kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Pelajaran baru yang dipetik diantaranya, seperti jiwa kepemimpinan, mengendalikan emosi, melatih keberanian, kebebasan berekspresi dan berpendapat, serta yang terpenting adalah bagaimana mereka melatih diri bersosialisasi. Hal-hal tersebut memang mereka dapatkan tanpa disadari, akan tetapi tertanam dalam diri masing-masing yang mungkin dapat mereka aplikasikan di masa depan, ketika mereka dewasa kelak.

Terlebih bila

(10)

Omongomong

Rekreasi, melarikan diri dari rutinitas yang memenjara seakan-akan sudah menjadi sebuah kebutuhan yang amat mendesak untuk masyarakat urban. Kita sering menyebutnya sebagai kegiatan-kegiatan di kala liburan atau di kala waktu senggang. Nyatanya, waktu senggang ini adalah suatu term yang lebih dari sekadar melarikan diri dari rutinitas semata. Waktu senggang sejak jaman dahulu sudah dimaknai beragam oleh masyarakat; ada yang menyejajarkannya dengan hubungan manusia de-ngan Yang Lain. Untuk lebih memperjelas hal ini, Pen-darPena (PP) yang diwakili Mufti-Ali-S dan Oscar Fer-ry menemui Dwi Woro R. Astuti (DWA), pengajar di Program Studi Jawa, FIB UI. Hasil dari pembicaraan itu, sebagiannya kami sarikan pada anda di bawah ini.

PP: Menurut orang-orang di wilayah budaya bahwa apapun bisa menjadi area yang kreatif, baik adanya wak-tu senggang maupun tidak. Kami sedikit akan menelisik tentang konsepsi waktu senggang itu dalam kaitannya dengan kebudayaan.

DWA: Menurut saya, biasanya waktu luang (bagi kaum urban) itu biasanya sudah terprogram. Atau misalnya mereka sudah merencanakan untuk menyenggangkan waktu dengan keluarga. Seperti saya bersama keluarga juga sudah menjadwalkan jauh-jauh hari untuk waktu senggang bersama. Biasanya saya menghabiskan waktu senggang bersama keluarga untuk terus belajar, mi-salnya ikut seminar kebudayaan atau acara-acara kebu-dayaan di luar kota. Dengan begitu, saya bersama kelu-arga juga bisa ikut mengapresiasikan kebudayaan di kala senggang.

PP: Oke itu persepsi kaum urban dalam memaknai wak-tu luang. Lalu, jika kita tarik ke masyarakat tradisional yang biasanya mengisi waktu luang secara efeketif dan kreatif, seperti mengadakan upacara atau ritual kea-gamaan.

DWA: Ya, mungkin jika dulu itu memang lebih ke arah upacara atau ritual. Sekarang itu bedanya adalah ada perubahaan dalam unsur upacara atau ritual, namun

secara kreatifitas tetap ada, misalnya dengan memasuk -kan unsur ke-modern-an tanpa menghilang-kan esensi makna ritualnya.

PP: Menurut anda, apakah upacara-upacara tradisional

yang masih dilakukan di beberapa daerah merupakan waktu luang yang efektif bagi mereka dan kebudayaan-nya?

DWA: Ya jelas efektif. Meski pun menurut kaca mata orang-orang kota bahwa mengadakan upacara-upacara tradisional hanya buang-buang waktu saja. Tapi untuk saya, mengadakan upacara tradisional adalah bagian dari siklus kehidupan, karena masyarakat tradisional juga menganggap itu sebagai penyatuan dengan alam. Tidak ada istilah buang-buang waktu bagi mereka. Lihat saja jaman sekarang di masyarakat kota jika mengada-kan upacara pernikahan. Malah ada beberapa unsur (penting) justru dihilangkan, misalnya menginjak telor dalam upacara pernikahan adat Jawa. Ada beberapa pendapat yang mengatakan unsur itu dihilangkan ka-rena alasan gender. Jadi meskipun ada upacara-upac-ara tradisional yang dilakukan oleh masyupacara-upac-arakat kota sekarang, tetapi tidak sedetail aslinya.

PP: Berarti apakah menurut anda waktu senggang bagi masyarakat tradisional bagian dari fondasi kebu-dayaan?

DWA: Ya benar. Meskipun kita sering melihat dari lu-arnya saja, misalnya waktu senggang yang digunakan oleh masyarakat Jawa tradisional untuk duduk bersama sambil mengobrol. Akan tetapi dalam obrolan tersebut mereka membicarakan tentang kematangan jiwa atau tentang hidup (kemanunggalan). Bisa dibilang mereka

juga berfilosofi. Menurut saya hal tersebut merupakan

hal positif dan efektif.

PP: Seperti apakah konsep waktu senggang dalam pan-dangan masyarakat tradisional tersebut?

DWA: Menurut saya, mereka tetap berkolaborasi den-gan alam. Secara implisit denden-gan ritual, sedangkan secara eksplisit dengan menembang atau duduk ber-sama membicarakan makna hidup. Mereka tak hanya merenung saja, tetapi pembicaraannya malah menjadi sebuah falsafah hidup jika ditelisik lebih dalam. Bahwa manusia juga berhubungan dengan alam dan perlu ada pemahaman terhadap kosmos yang lebih besar lagi.

PP: Apakah waktu senggang itu dihadirkan tak hanya untuk sekedar istirahat saja? Apakah hanya sedetail itu saja?

DWA: Ya itu bukan sekedar istirahat saja, tetapi juga bagian dari transendensi. Bahwa mereka dengan

Kembali ke Alam:

Memaknai Ulang

(11)

berisitirahat, tidak berarti mereka memutuskan jarak den-gan jagad gede. Bahwa lingkaran antara jagad cilik denden-gan jagad gede merupakan garis yang tidak putus-putus, atau bisa dikatakan menyatu. Jika mereka tidak rasakan “kon-tak” (garis) dengan kosmos (alam semesta), tentu mereka tidak bisa mewujudkan yang implisit (upacara tradision-al) dan yang eksplisiti itu. Meskipun mereka (masyarakat tradisional) pada akhirnya menjadi kaum urban, mereka tetap harus melakukan kontak, karena tujuan mereka pun tidak berubah, yaitu manunggaling kawula Gusti. Pada intinya manusia juga tidak boleh mengambil jarak dengan alam (kosmos), karena memang itu merupakan bagian dari siklus kehidupan. Contohnya adalah sesaji untuk leluhur. Sesaji menurut saya merupakan salah satu wujud waktu senggang masyarakat tradisional.

PP: Akan tetapi hal tersebut merupakan kesadaran dari masyarakatnya sendiri, atau ada rancangan dari pengua-sa?

DWA: Kalau menurut saya penguasa tidak sampai ke situ. Malah yang ada penguasa memutus garis transen-densi tersebut. Misalnya penebangan pohon atau pemus-nahan areal hutan dilakukan demi nama pembangunan. Bagi masyarakat tradisional Jawa, pohon merupakan salah satu tempat untuk melakukan kontak dengan roh leluhur. Jadi menurut saya penguasa malah memutuskan garis antara jagad cilik dengan jagad gede yang telah ada sejak dulu. Menurut saya waktu senggang memang harus diisi dengan kegiatan yang bersifat kontemplasi. Bahwa manusia harus punya tingkat perenungan yang tinggi da-lam artian harus bisa memahami yang tradisional untuk ke depannya. Harus tetap ada komunikasi dengan cara yang tradisional. Jadi waktu senggang digunakan sebagai bentuk komunikasi dengan alam lain, bukan SMS atau Facebook.

PP: Oke, SMS atau Facebook merupakan dilema masyarakat urban, lantas dalam pandangan anda apakah itu berguna di kala senggang?

DWA: Tetap ada gunanya. Akan tetapi di sinilah kon-trol diri yang memegang peranan. Manusia harus bisa mengontrol diri dengan segala yang berlebihan di jaman sekarang. Maka pengontrolan diri harus dilakukan den-gan kontemplasi, perenunden-gan ketika di waktu sengden-gang. Harus ada titik balik yang dikontrol antara yang duniawi

dengan diri sendiri.

PP: Berarti terjadi sebuah perubahan. Dalam arti sekarang banyak orang yang mentransendesikan yang imanen, seperti Facebook. Lantas perubahan para-digma tersebut apakah disebabkan karena ada modus ekonomi?

DWA: Menurut saya bukan karena faktor ekonomi, tetapi lebih disebabkan karena adanya arus baru. Di mana sekarang orang mungkin sudah jenuh dengan segala yang hardware. Seperti Facebook yang seka-rang banyak digemari, saya pikir lagi-lagi kita harus bisa mengontrol diri. Menurut saya, salah satu bentuk waktu senggang di jaman modern yang efektif adalah Yoga. Karena dalam Yoga kita bisa melatih pengaturan dalam diri sendiri.

PP: Apakah ada kemungkinan bahwa Yoga di jaman sekarang ini dapat direduksi oleh masyarakat mo-dern untuk kembali menjadi sebuah mitos (bahwa memaknai waktu senggang adalah salah satunya den-gan beryoga)?

DWA: Itu siklus. Seperti kehidupan manusia yang be-rawal dari “tidak ada” ke “ada” kembali lagi ke “tidak ada”. Memang ada masanya. Tetapi kalau Yoga menu-rut saya akan terus ada. Hal-hal tradisional menumenu-rut saya tidak berubah, hanya manusianya saja yang men-gapresiasikannya berbeda sesuai dengan kemajuan ja-man. Karena sesuatu yang tradisional akan jauh lebih awet keberadaannya.

PP: Kesimpulannya, apakah bisa dikatakan bahwa kebudayaan yang sekarang ada ini tercipta dari pere-nungan-perenungan yang dilakukan di kala senggang dulu?

DWA: Ya. Untuk bisa menciptakan budaya yang memiliki nilai-nilai tinggi memang hasil dari sebuah pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya diwujudkan ke dalam bentuk yang lebih hardware lagi, semisal upa-cara-upacara atau ritual. Kemudian di situ ada pemak-naan secara mendalam lagi terhadap yang hardware tersebut. Mungkin ada baiknya kita tetap memelihara budaya yang tradisional itu untuk pengendalian diri di jaman sekarang ini. Ternyata memang kita harus kem-bali lagi ke alam. Bahwa manusia tidak bisa lepas dari hal-hal yang berhubungan dengan alam (kosmos).

Manusia harus bisa

mengontrol diri

dengan segala yang

over

di jaman

sekarang ini. Maka

pengontrolan diri

harus dilakukan

dengan kontemplasi,

perenungan ketika di

(12)

Artikel

Heidegger, seorang filsuf Jer -man menekankan -manusia se-bagai yang menyejarah. Manu-sia yang mempertanyakan “ada” adalah manusia yang belum se-lesai, belum digarap. Manusia yang menurut Heidegger adalah

Dasein (ada di sana) harus me-nguasai waktu. Ia berbeda de-ngan benda-benda atau makhluk lainnya yang berada di dalam waktu dan dikendalikan oleh waktu. Manusia sebagai yang menyadari keterlemparannya di dunia mempunyai sebuah ke-mampuan reflektif untuk menilik kembali Lebenswelt-nya. Untuk menyingkapkan “ada” ini, ma-nusia butuh berefleksi diri dan menemukan sebuah pemahaman yang tanpa representatif, sebuah ketercerahan yang mistik. Di titik ini, kita mengandaikan sebuah waktu luang sebagai keterlepasan keberadaan kita dari ruang, Leb-enswelt yang mengungkung kita. Manusia reflektif yang menguasai waktu, menciptakan waktu luang demi sebuah aktifitas pemaha -man diri, memahami potensiali-tasnya demi menemukan dirinya di masa depan. Dengan waktu lu-ang sebagai kesempatan reflektif, masa lampau dan kekinian

ma-nusia dilebur untuk memperdiksi kemungkinannya di masa depan. Refleksi adalah sebuah aktifitas pribadi. Jadi, boleh dikatakan di sini, waktu luang adalah sebuah keniscayaan untuk mencapai ma-nusia historis a la Heidegger.

Dalam perjalanannya dan perkembangannya terkini, waktu luang mengalami banyak peruba-han dan pengertian. Charles K. Brightbill dalam bukunya Man and Leisure (1961) mengung -kapkan bahwa pada awalnya bu-daya dipengarhui oleh (aktivitas) waktu senggang, namun pada perkembangan terkini (aktivitas) waktu senggang itu pun dipe-ngaruhi oleh budaya. Ini tentu saja inheren dengan perkem-bangan dunia pasca Aufklärung

dan revolusi industri. Keduanya membawa manusia pada zaman baru yakni zaman modern. Apala-gi ketika pasar semakin mewarnai keseharian hidup manusia, waktu luang pun mengalami perubahan-nya. Waktu luang bukan saja ha-nya sebagai suatu kesempatan bagi manusia merefleksikan diri-nya, melainkan juga kini menjadi sesuatu yang dikonsumsi. Waktu luang dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah

komoditas. Maka muncullah pula kemudian apa yang disebut seba-gai “bisnis waktu luang”. Dan bagi manusia modern, terlebih kaum urban, bisnis waktu luang inilah yang menjadi sesuatu yang seksi dan sangat digandrungi. Di sini kita punya dua waktu luang yakni waktu luang sebagai sebuah

kes-empatan berefleksi diri manusia

secara pribadi dan waktu luang sebagai sebuah komoditas. Tentu saja, waktu luang ini pun kerap dipergunakan secara bersama-sama, sebagai sebuah kegiatan reflektif komunal.

Ketika waktu luang dipa-hami sebagai sebuah refleksi diri Heideggerian, maka waktu lu-ang tersebut tak membutuhkan sebuah “tabungan” tertentu atas waktu; waktu secara sengaja di-siapkan untuk berwaktu luang. Sebab, sebuah ketersadaran akan “ada” bukanlah sebuah hasil dari penyingkapan oleh subjek, me-lainkan “ada” itu menyingkapkan dirinya sendiri terhadap subyek (manusia). Obyek yang meny-ingkapkan diri terhadap subyek ini kami artikan sebagai sebuah “ketersadaran akan” yang tiba-tiba atas sesuatu hal yang datang tanpa diduga, tanpa dicari, dan

Antara

Waktu

Waktu Luang

(yang [Di]) Luangkan

Berto Tukan dan Mufti-Ali-Sholih

(13)

tanpa dipersiapkan. Bisa kapan saja itu terjadi; semacam sebuah pengalaman mistik yang bisa datang kapan saja dan di mana saja. Ia menjadi sebuah pengalaman pribadi yang tidak bisa dibagikan dengan orang lain. Ketika pen-galaman itu dinarasikan, ia bukan lagi menjadi sebuah ketersadaran akan. Ini mungkin terdengar seperti sebuah pengalaman pribadi akan sesuatu.

Ketika waktu luang itu dipahami sebagai sebuah komoditas, maka (aktifitas) berwaktu luang itu pun bu -kanlah lagi sesuatu yang niscaya. Waktu luang pada pe-mahaman ini adalah sebuah waktu yang disiapkan, bisa dibilang dimanipulasi untuk suatu tujuan tertentu yakni berwaktu luang. Maka, ketika waktu luang adalah sesuatu yang diciptakan dari waktu yang tidak luang, waktu luang menjadi semacam pelengkap penggembira saja dari ber-waktu itu. Apalagi ketika ber-waktu luang yang ini dipahami sebagai bagian dari manusia sebagai makhluk bekerja; kerja menjadi titik pangkal kemanusiaan, terlebih kerja ini dipandang sebagaimana yang terjadi dalam ranah kapi-talis ini. Manusia menjadi semacam alat produksi untuk menghasilkan sesuatu yang sungguh tidak punya sangkut pautnya dengan dirinya. Maka, waktu luang adalah sebuah kesempatan kosong untuk beristirahat dari kerutinintasan itu.

Lantas, waktu luang ini pun dipergunakan sebagai sebuah komoditas jual beli pula. Munculnya bisnis-bisnis waktu luang adalah salah satu contohnya. Waktu luang bukanlah sesuatu yang akan mengada dengan sendirin-ya, melainkan diciptakan dan dipersiapkan sebagaimana mungkin untuk diterima sebagai sebuah keniscayaan. Pada masyarakat modern, waktu luang ini pun tetap di-manfaatkan sebagai sebuah kesempatan untuk mengiden-tifikasikan dirinya. Waktu luang sebagai komoditas ini pun membentuk komunitas sendiri. Dibantu oleh bisnis-bisnis waktu luang terciptalah komunitas baru seperti; mereka yang ke mall, mereka yang ke café, mereka yang ke perpus-takaan, dan lain sebagainya.

Waktu luang sebagai sebuah komoditas lantas menjadi milik kolektif secara bersama-sama, di suatu tem-pat yang sama dan pada suatu saat yang sama pula. Waktu luang lantas menjadi pengalaman bersama dan ketersa-darannya pun adalah ketersadaran komunal.

Di sini kita melihat ada dua jenis waktu luang yang muncul; waktu luang untuk diri sendiri dan waktu luang untuk kebersamaan. Maka, tentu ada baiknya kita men-jalankan kedua-duanya. Yang pertama kita butuh ketersa-daran diri dan kesiapsediaan diri untuk menemukan “ada” yang menyingkapkan diri dalam waktu luang sebagai sebuah refleksi diri akan “ada disananya” manusia. Waktu yang tak membutuhkan sebuah perencanaan dan sebuah penyediaan tertentu. Sedangkan yang kedua, kita pun tak bisa menutup mata atas adanya sebuah waktu (yang di-) luangkan demi sebuah penemuhan dan sebuah istirahat fisik.

Nah, mana yang anda prioritaskan? Itu tergantung pilihan anda sendiri.

Waktu luang

bukanlah sesuatu yang

akan mengada dengan

sendirinya, melainkan

diciptakan dan

dipersiapkan

sebagaimana

mungkin untuk

diterima sebagai

sebuah keniscayaan.

Pada masyarakat

modern, waktu luang

ini pun tetap

dimanfaatkan sebagai

sebuah kesempatan

untuk

mengidentifikasikan

dirinya. Waktu luang

sebagai komoditas ini

pun membentuk

komunitas sendiri.

Dibantu oleh

bisnis-bisnis waktu

luang terciptalah

komunitas baru

seperti; mereka yang

ke mall, mereka yang

ke café, mereka yang

ke perpustakaan, dan

(14)

Artikel

Jawa yang mempesona nan meng-gairahkan itu, bagi jiwa yang penuh warna dan semangat belajar yang tinggi, seperti Thomas Stamford

Raffles, adalah ladang kehidupan

dan ladang ilmu. Sungguh ia telah tertambat hatinya dengan apa yang tersaji di tanah yang kaya akan si-lang budaya itu. Pantaslah ia bersedih tatkala masa baktinya sebagai Letnan Gubernur di Jawa berakhir dan mesti meninggalkan pulau penuh “kejutan” itu. Kala sendu itu terjadi pada Maret

1816—empat setengah tahun sejak ke -datangannya pada September 1811.

Tak hanya soal sejarah, baha-sa, sosial-politik, kesenian, dan religi yang ditelusurinya, aneka tetumbu-han (botani) dan hewani (zoologi) pun ia jejaki, bahkan dikoleksinya. Demi

memperlancar studi-studinya, Raffles

sampai membentuk staf asisten pe-nelitian yang ditugaskan melaporkan hasil survey dan apa-apa saja yang ditemukan selama meneliti Jawa. Salah satu asisten andalannya

ada-lah Dr. Horsfield, seorang naturalis,

ahli benda kuno, dan seniman asal Amerika yang sudah tinggal 11 tahun

lebih lama di Jawa dibanding Raffles. Bersamanyalah, Raffles menemukan candi Penataran pada 1815 di utara Blitar, Jawa Timur. Bahkan Raffles

mengarahkan agar para sultan Jawa menuliskan sejarah negara mereka. Ia pun menyimpan segala jenis hewan dan aneka tumbuhan yang ditelitinya. Beberapa dari objek penelitiannya itu ia layangkan untuk disimpan di Mu-seum Oriental milik Rumah Perusa-haan India Timur di Inggris.

Salah satu dedikasi besarnya terhadap budaya kebendaan Jawa

adalah ditemukannya candi raksasa, Borobudur, yang dibangun Dinasti Syailendra, Raja Samaratungga, pada sekitar 824 M. Sejak merosotnya aja-ran Buddha Mahayana di Jawa, eksis-tensi candi ini menyusut, tenggelam, hingga dirumputi, ditimbun pepo-honan, ilalang, dan diselimuti bekas debu letusan Gunung Merapi. Barulah

pada 1814, Raffles memerintahkan,

segera setelah ia mendapat perkaba-ran akan adanya candi raksasa yang terbenam tersebut, untuk dibersih-kan. Beliau pun memerintahkan H. C. Cornelius untuk menyelidiki dan membersihkan kawasan bersejarah tersebut. Alhasil, kembali bangkitlah Borobudur dari persemayaman pan-jangnya itu.

Dalam penelitiannya di Jawa,

Raffles bersama dua asistennya,

James Crawfurd dan Colin Mackenzie, berhasil merekam apa yang mereka

saksikan, seperti: keadaan geografi,

kepadatan penduduk, sistem perda-gangan, pertanian, sosial-budaya, dll. Segala penelitian tersebut ia jalan-kan dengan pendanaan pribadi. Tak peduli telah berapa banyak uang dan kesehatan yang berkurang. Semua itu dilakukan demi keterpukauannya ter-hadap peradaban Jawa yang

menam-bat hatinya. Salah satu bangunan

peninggalan Raffles dan jua meru -pakan salah satu aplikasi dari kecin-taanya terhadap budaya dan sastra Jawa adalah dibangunnya Museum

Etnografi Batavia, yang hingga kini

masih berdiri kokoh.

Tak banyak orang tahu sisi

ilmuwan seorang Raffles. Orang

lebih sering mengenalnya sebagai penakluk Jawa dari tangan kekua-saan Perancis dan juga penakluk keraton-keraton di Jawa (Banten, Cirebon, dan Yogyakarta). Selain itu, ia juga diketahui sebagai sosok pembaru dalam sistem pertanahan

dan pembagian 16 distrik di Jawa.

Mungkinkah ini adalah dampak dari karakternya yang tak suka unjuk gigi. Hal ini sejalan dengan berita yang diutarakan seorang Melayu bernama Abdullah, juru tulis di kantor

Raf-fles di Malaka, yang menulis dalam

Memoirnya: “Jika pengalamanku ini tidak salah, tidak ada yang menya-mai kemampuan dan kebesaran hati

Raffles di dunia ini”.

Raffles, Sang Letnan Gubernur cum Orientalis.

“Raffles bersedih, ketika awal

jejaknya di Jawa ditandai dengan

Sulaiman Harahap

The History of Java

,

Waktu Senggang

(15)

kematian Dr. John Leyden, seorang orientalis hebat, dokter handal,

saha-bat, dan pembimbing studi Raffles di

Timur”.

Petualangan orientalisme

Raf-fles banyak diperoleh dari Dr. Leyden.

Pasalnya, selama ekspedisi ke Timur menjadi seorang Asisten Sekretaris

di Perusahaan India Timur—berawal di Penang, Malaysia—Raffles banyak

berdiskusi dan akrab dengan Leyden. Ia

adalah sosok hangat dan cerdas. Raffles

menilai sosok Leyden adalah seorang yang fenomenal dengan memorinya yang luar biasa, serta alur bicaranya yang mengalir dan penuh wawasan.

Lord Minto—Gubernur Jenderal peru

-sahaan dagang India Timur—menilai

kemempelaian intelektual

Leyden-Ra-ffles adalah serasi dan komplementer.

Di Penang-lah mereka berke-nalan lalu akrab, hingga nanti pada hari

pertama Raffles dan pasukan ekspedisi

penaklukan Jawa sampai ke Batavia, maut memisahkan kolaborasi intelek-tual ini. Leyden wafat dalam pengem-baraan ilmu pengetahuan. Walau ma-laria tengah mencekamnya, ia tetap sibuk membongkar arsip-arsip sekre-tariat Belanda di ruang bawah tanah di Batavia. Ia tak lelah walau perjalanan

selama 6 minggu di atas kapal perang

Modeste dari Malaka menuju Batavia baru saja dia tempuh. Panas tubuhnya pun memuncak pada kematian.

Kema-tian Leyden sungguh membuat Raffles

terpukul. Ia telah kehilangan pemandu studinya yang sangat ia andalkan.

Raf-fles pun lalu menuliskan surat kepada William Marsden—ilmuwan orientalis

Inggris, penulis buku History of Suma-tra (terbit tujuh tahun lebih awal dari

The History of Java), dan lama tinggal

di Bengkulu—dalam satu kalimat da -lam suratnya bertulis: “kita telah kehi-langan seorang ahli di bidang literatur ketimuran”.

Kesedihan Raffles tidak lan -tas membuatnya berhenti bergairah terhadap ilmu pengetahuan, terutama soal sejarah, budaya, bahasa, zoologi, dan botani di Jawa dan Sumatra. Bah-kan tatkala ia diangkat menjadi Let-nan Gubernur di kawasan yang pada masa sebelumnya dikuasai Belanda,

yakni Hindia Belanda, Raffles tetap

bersuka cita menjalankan kecintaan-nya terhadap studi-studikecintaan-nya itu.

Bah-kan hingga kondisi fisiknya melemah

karena penyakit, kesedihan, hingga kelelahan kerja, ia tetap

memperlihat-kan sosoknya yang optimis, gigih, dan penuh percaya diri menjalankan kerja intelektual. Tak dibiarkannya waktu luang untuk hal yang tak berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Sungguh pribadi yang enerjik dan berkuali-tas. Maka tak heran, G. M. Trevelyan, dalam buku British History in Nine-teenth Century (1922) menuliskan

Raffles sebagai “Salah satu orang he -bat dan pegawai terbaik Kerajaan In-ggris yang pernah dimiliki. Mungkin dia adalah orang Eropa pertama yang membawa metode humanitarian dan ilmiah modern untuk mengembang-kan begitu banyaknya ras-ras asli di Asia”.

Dalam banyak guratan

se-jarah, kala Raffles menjabat Letnan

Gubernur di Jawa, ia dituliskan se-bagai sosok pembaru bagi sistem ko-lonial konservatif yang ditanamkan

pemerintah sebelumnya. Ia hadir dengan ide-ide liberal dan kebijakan-kebijakannya yang berpihak pada kemanusiaan. Dari semua kebijakan-nya di Jawa, yang terpenting adalah soal pertanahan, karena berkaitan langsung dengan penghidupan rakyat

Jawa. Pada masanya, Raffles melaku -kan reformasi peraturan pertanahan. Ia memberlakukan sistem pajak ta-nah (landrente). Dalam buku Seja-rah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi karya bersama Sar-tono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, gagasannya itu timbul dari upayanya untuk memperbaiki sistem paksa dari Kumpeni (VOC), yang dianggap mem-beratkan dan merugikan penduduk.

Maka dari itu, Raffles menghendaki

perubahan sistem penyerahan paksa dengan sistem penyerahan pajak ta-nah, yang dianggap akan mengun-tungkan kedua belah pihak baik ne-gara maupun penduduk.

Di tengah hiruk-pikuk suasana perang Napoleon di Eropa, perseteru-an dengperseteru-an pihak Keraton Yogyakarta, dan setumpuk permasalahan admin-istrasi dan birokrasi di Tanah Jawa,

Raffles sungguh tepat memilih Buit -enzorg (Bogor), tepatnya di Cisarua kira-kira berjarak 40 mil dari Bata-via, sebagai tempat tinggal. Di sana ia tinggal bersama istrinya Olive Mari-anne Devenish, yang cerdas, hangat, dan sungguh dicintainya (makamnya dapat kita jumpai di Kebun Raya Bo-gor). Ia memilih kawasan indah nan sejuk ini sebagai tempat kerjanya dan jua untuk menghindari bahaya yang disebar oleh nyamuk-nyamuk dari rawa-rawa di Batavia yang mengun-dang Malaria dan merenggut nyawa. Disanalah The History of Java mulai digurat penuh seksama berdasarkan bahan-bahan yang diperoleh dari para

staf riset dan observasi pribadi Raffles

di Tanah Jawa.

Namun ketika masa jabat-nya sebagai Letnan Gubernur di Jawa berakhir, otomatis proyek penelitian pun terhenti. Ia pun pulang ke London memboyong segala koleksi manuskrip, ukiran, tekstil, tanaman, substansi he-wan, serangga, buah, dan seni kuno miliknya yang mencapai berat 30 ton dan dibungkus dalam 200 peti. Segera sesampainya di London, ia melanjut-kan proyek penulisan The History of Java. Buku ini pun berhasil dirang-kumkannya, lalu diterbitkan dalam dua jilid pada 1817 dan didedikasikan untuk Pangeran Yang Mulia Kerajaan Inggris. Berkat sumbangan informasi dan ilmu pengetahuan akan dunia Timur yang berharga, sebagimana ter-maktub dalam The History of Java, gelar Sir pun disandangnya.

Sungguh mengharukan dan menggetarkan hati bahwa seorang anak dari kalangan rendahan, telah menjadi Tuan/bangsawan Kerajaan Inggris. Keharuan tersebut tak kalah hebat dengan apa yang diceritakan

dalam sebuah biografi yang dituliskan

Thomas Jefferson, Hidup, Cinta, dan

Tragedi. Raffles Sang Pejuang.

Da-lam beberapa frase biografi tersebut,

Travers, pencatat perjalanan dan

te-man baik Raffles, menuliskan: ”Tuan Raffles ditemani pergi ke

pantai oleh semua penduduk Batavia yang menangisi kepergiannya. Kepala

penduduk Cina dan penduduk asli tidak mau meninggalkannya hingga

mereka melihatnya berlayar”.

Maka tak heran, G. M. Trevelyan, dalam buku British History in Nineteenth Century (1922) menuliskan

Raffles sebagai “Salah satu orang hebat dan pegawai terbaik Kerajaan Inggris yang pernah dimiliki. Mungkin dia adalah orang Eropa pertama

yang membawa metode humanitarian dan ilmiah

modern untuk mengembangkan begitu

(16)

Karya

Tuan-tuan dan Puan-Puan. Di manakah saya berada kini? Ada kah yang lebih baik dari dunia? Jawablah segera! on Thursday

Clear Chat History

5:14pm Hendra

di pojok dengan setumpuk buku..

5:14pm Mariana

hihihihi

5:14pm Hendra

itulah yg kunamakan surga.. kebebasan..

ekspresi..

5:15pm Mariana

pojokannya banyak nyamuk ga?

5:15pm Hendra

sudah disemprot pake larutan anti-kemapanan..

dan sekelilingnya sudah kututup dengan kelambu kritisisme.. agar panopticon kekuasaan tak melihatnya..

Depok, 17 April 2009

Dialog di Suatu Senja

Hendra Kaprisma

Lelah hari terbayarkan oleh moleknya alam

Deru ombak mendayu-dayu memanggil jiwa-jiwa yang haus akan dekapan cinta

Angan menerawang memecah kehampaan

Biar nelangsa ini tertegun kagum menatap nyiur yang melirik mesra

Oh Baliku

Jangan kau rusak ini surga wahai manusia robot globalisasi

Biarkan firdaus ini damai tak tersentuh pembaharuan gombalisasi

Kuingin terus mendekapmu lewat kata yang terurai

Tenang damai bersama saujana indahnya alam Baliku

Denpasar, 7 Januari 2008

(17)

Bukubuku

Homo Ludens:

Main-Main a la Filsafat Barat

oleh: Rachman C. Muchlas

Alumni Filsafat FIB UI 2002

Judul : Homo Ludens: a study of play-element in culture Penulis : Johan Huizinga

Penerbit : Routledge and Keagan Paul Tahun Terbit : 1949

(18)

Bukubuku

Sore mendung. Devi dan Arya se-dang berbaring bersama di tempat tidur, keduanya baru saja selesai melumuri waktu luang mereka. Seperti hari-hari yang sudah-sudah, kedua orang ini gemar mengisi sela waktu senggang

mer-eka dengan diskusi filsafat yang

hangat. kali ini, Arya baru saja membaca buku yang menggelitik nalarnya. Ia pun membulatkan ke-inginannya untuk membagi buah pikirannya dengan Devi; sebab ia tahu, Devi berbakat dalam men-gajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengena; sebab ia tahu, diskusi itu akan mengalir ke arah yang ia tak bisa duga. Demikian-lah sore itu, dua orang, berselimut,

membahas filsafat.

Arya: Kau pasti tahu, bahwa selepas abad ke-18, manusia di dunia Ba-rat tak lagi menganggap dirinya se-penuhnya rasional. Yah, kau pasti

tahu kalau kau belajar sejarah fil -safat.

Devi: Hendak kau arahkan ke mana pembicaraan ini? Yah, aku tahu. Nihilisme mulai menebar penga-ruhnya di masa itu. Lebih kepada reaksi terhadap arah perkemba-ngan teknologi, menurutku. Bah-wa revolusi industri berdampak pada kekecewaan atas eksploitasi sesama manusia dan alam; bahwa

bangunan filosofis yang ada tak

dapat memfasilitasi wilayah pera-saan manusia; menyebabkan budayaan menjadi serius dan ke-ring. Corak kebudayaan itu kan, yang di kritik oleh Nietzsche dalam bukunya Beyond Good and Evil. Arya: Nah, mari berangkat dari pendapatmu yang terakhir.

Me-mang benar, sejarah filsafat men -catat pada abad tersebut keke-cewaan atas pengagungan akal manusia mencuat; kehilangan pijakan dapat membuat manusia berhenti menjadi. Golongan pe-mikir seperti Marx dan Nietzsche jelas tidak suka dengan status quo. Setelah menyadari bahwa tak lagi Animal Rationale mantap

kepenu-han maknanya, mereka pun

beru-saha membangun atmosfir baru

bagi si tua peradaban Eropa. Niet-zsche dengan palu godamnya yang menghantam privilege akal atas ke-gilaan; Marx dengan formulasi yang ia coba sesuaikan dengan semangat zaman waktu itu, ketika manusia sudah mahir mencipta dan akrab dengan kegiatan berkarya; Homo Faber, demikianlah jalan kelu-arnya. Begitu pula upaya yang di-lakukan oleh penulis yang hendak kita bahas sekarang, J. Huizinga. Devi: Apa yang hendak Huizinga promosikan sebagai penentu arah peradaban Eropa selanjutnya? Ni-etzsche kini berjaya sebab ia ber-andil besar dalam membangun bahtera bagi era baru yang kita se-mua sebut posmodernisme. Marx juga demikian. Pemikirannya di-apresiasi bukan hanya oleh golong-an berhalugolong-an sosialis-komunis, bahkan golongan liberal dan lib-ertarian pun mengambil manfaat dari kritiknya. Aku belum pernah mendengar nama Huizinga. Tolong ceritakan padaku.

Arya: Baiklah. Sebagaimana Nietz-sche dan Marx, Huizinga mengang-gap bahwa masa depan perada-ban Eropa tak lagi dapat ditopang hanya dengan akal semata. Akan tetapi ia juga menilai Homo Faber

masih belum mencukupi kualitas-nya untuk menjadi titik berangkat baru kebudayaan. Ia menilai bahwa keseriusan-lah yang harus diper-tanyakan lagi. Keseriusan yang menyelimuti seluruh bangunan

filosofis dunia Barat. Sebab itulah

ia mempromosikan visinya tentang kemanusiaan: Homo Ludens.

Devi: Homo Ludens? Makhluk yang bermain?

Arya: Tepat, sayangku. Huizinga ber-pikir bahwa kebudayaan Barat telah mengabaikan hal yang penting, se-hingga tereduksi menjadi kebu-dayaan dengan keseriusan seba-gai corak yang dominan. Manusia yang tak sepenuhnya rasional tak lagi nyaman dengan kerangka kaku

yang hanya didasari atas akal dan keseriusan. Sifat irasional yang melekat pada manusia mendo-rong manusia untuk membangun suatu strategi kebudayaan baru. Huizinga menganggap bahwa main-main, juga kesenangan yang menyertainya, adalah hal yang tak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, ia merupakan represen-tasi dari irasionalitas itu sendiri. Ingat, manusia rasional sekaligus irasional; sebuah kontradiksi, dan perlu dibangun struktur yang pas untuk memfasilitasi kemanusiaan yang sedemikian.

Devi: Tunggu dulu, bukankah bi-natang juga bermain? Di rumahku ada tiga anak kucing, mereka sering bermain dengan sesamanya. Sa-ling menggigit satu sama lain untuk bersenang-senang. Ada pula anjing, mereka gemar bermain-main de-ngan tuannya. Kurasa ada masalah dengan distingsi Homo Ludens

yang sedang kita bahas saat ini. Arya: Ada perbedaan antara main-main pada hewan dan manusia. Devi: Yaitu?

Arya: Huizinga berpendapat bahwa pada manusia, permainan adalah elemen yang meresap ke seluruh sendi-sendi kebudayaannya. Bahwa seluruh struktur yang manusia ba-ngun sejak dulu kala selalu menyer-takan unsur-unsur permainan, di-antaranya: Aturan main, imajinasi, durasi, ruang lingkup permainan

dan konflik. Terlebih lagi, Manu -sia bermain dan menyadari bahwa ia sedang bermain. Hal yang tidak dimiliki oleh hewan; makhluk yang sepenuhnya instingtif.

Devi: Kau tidak bisa membuat defi -nisi dengan cara begitu. Jika kau bilang bahwa donat bukanlah jenis roti, akan muncul kebingungan di benak orang. Begitu pula jika kau bilang bahwa binatang bukanlah

(19)

Bukubuku

Arya: Hehehe, belum cukup kau minum punyaku?

Devi: Justru itu, milikmu bikin tenggorokanku tercekat. Lagipula, berkeringat banyak bikin aku de-hidrasi. Mau minum juga? Mari kutuangkan.

Arya: Nanti saja, terima kasih. Ngomong-ngomong, aku tak i-ngin berkutat di seputar persoalan distingsi saja. Sebab, ada hal yang lebih menyita perhatianku. Mari kita kesampingkan terlebih dahu-lu persoalan itu dan pindah ke soal permainan sebagai hal yang berse-berangan dengan keseriusan. Ba-gaimanapun, menarik permainan ke kutub yang berlawanan menim-bulkan masalah. Sebab, faktanya, dalam permainan sekalipun selalu terdapat pula unsur keseriusan. Kita bisa melihatnya dalam perta-rungan sepak bola, di mana para pemainnya berani mempertaruh-kan kehormatan dan kesehatannya di arena. Bahwa permainan juga bisa berdarah, bahwa ada orang-orang yang memainkan permainan dengan sepenuh hati, mencuatkan persoalan tentang stabilitas dua kutub tersebut. Faktanya, seserius apapun permainan, ia tetaplah main-main. Hal itulah yang me-nyita perhatianku. Seserius apa-pun, seberdarah apaapa-pun, ia tetap berada dalam ruang lingkup main-main; bukan hal yang serius seperti saat kita tenggelam dalam rutini-tas dunia nyata. Sebab, permainan berada di ranah imajinasi. Kita mengandaikan ada aturan main tertentu; bahwa aturan-aturan main tersebut mutlak berlaku bagi semua orang yang ikut main; bah-wa yang menyeleweng dari aturan kita sebut sebagai orang yang curang; bahwa orang yang meno-lak ikut dalam aturan kita sebut sebagai perusak kesenangan. Se-mua dilakukan demi menjaga ilusi yang menghidupkan permainan. Akhirnya, aku sampai pada kesim-pulan bahwa yang dimaksud de-ngan main-main berseberade-ngan

dengan keseriusan adalah, dalam kondisi main-main terdapat ranah imajinasi yang berperan penting, sedangkan di dalam ranah kese -riusan, kebenaran logis-lah yang berjaya.

Devi: Mendengar penjelasanmu barusan, aku jadi berpikir, bu-kankah dengan mengasosiasikan main-main dengan irasionalitas, lalu melawankannya dengan kese-riusan, kita akan sampai pada per-soalan yang mirip dengan perso-alan Being dan Nothingness? Arya: Maksudmu?

Devi: Maksudku, apabila per-mainan selalu merupakan kegia-tan yang tidak sepenuhnya serius, maka ia sama saja dengan Not-ingness yang bukan merupakan kutub yang berlawanan dari Be-ing; bahwa No-thing-ness adalah kondisi ketidak-penuhan; kondisi cacat pada Being; kondisi yang

melahirkan kontradiksi pada diri manusia, juga menghidupkan im-ajinasi. Pada persoalan Being dan

Nothingness, kedua hal itu tidak diperlakukan sebagai dua kutub. Kurasa, hal itu juga berlaku pada dualisme yang Huizinga usung. Aku punya pendapat bahwa den-gan mempertahankan permainan, kita juga membertahankan ambi-guitas yang menyertainya. Deng-an demikiDeng-an kita tak akDeng-an sampai pada kondisi di mana semuanya

stabil dan murni.

Arya: Aku mau bilang bahwa ma-nusia tidak dapat masuk pada struktur yang ketat sebagaima-na dibangun oleh para pemikir pencerahan sebab pada dasarnya manusia memiliki unsur irasional; bahwa Huizinga hendak mene-kankan kesadaran pentingnya main-main pada kebudayaan. Lagipula, permainan sudah lama lahir sebe-lum kebudayaan ada; bahwa ia turut pula masuk ke dalam setiap aspek kebudayaan manusia, bahkan cara berpikir punya aturan main juga, kan? Demikianlah.

Devi: Hei. Arya: Ya?

Devi: Badanmu sudah siap? Ayo kita lanjutkan ke permainan kita se-lanjutnya.

Arya: Hehehe, tak puas-puas kau. Baiklah, kemari kau! Hup!

Mereka berdua meneruskan kem-bali pergumulan mereka dalam se-limut, meninggalkan beberapa per-tanyaan tak terjawab. Demikianlah diskusi sore itu menjadi sekedar main-main saja, membiarkan ru-ang kosong pada kepenuhan makna yang mungkin masih tersembunyi dalam baris-baris kata.

Huizinga berpendapat bahwa pada manusia,

permainan adalah elemen yang meresap ke

seluruh sendi-sendi kebudayaannya. Bahwa

seluruh struktur yang manusia bangun sejak

dulu kala selalu menyertakan unsur-unsur

permainan, diantaranya: Aturan main,

imajinasi, durasi, ruang lingkup permainan

dan konflik. Terlebih lagi, Manusia bermain

dan menyadari bahwa ia sedang bermain. Hal

yang tidak dimiliki oleh hewan; makhluk yang

(20)

Warta

Bad news is a good news, anekdot itu sepertinya masih tetap dipegang oleh banyak jurnalis. Selain karena punya

nilai komersil—salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari industri jurnalisme—“berita buruk” biasanya akan

lebih mendapatkan respon yang berkelanjutan dari para pembaca. Tak mengherankan jadinya apabila berita-berita bersentimen negatif atau kontroversiallah yang menghiasi tajuk utama media-media cetak maupun elektronik lokal dan internasional.

Peristiwa konflik adalah salah satu contoh sumber

“berita buruk” menjadi langganan para jurnalis. Adalah Richard Lloyd Parry, seorang jurnalis berkebangsaan Inggris, yang mengakumulasikan reportase-reportasenya

di Indonesia dari tahun 1996 sampai tahun 1999

dalam sebuah buku bertajuk Zaman Edan: Indonesia di Ambang Kehancuran. Dalam buku ini Pary fokus

pada reportasenya dalam tiga peristiwa konflik besar

yang terjadi di Indonesia, Kanibalisme di Kalimantan, Kejatuhan Soeharto dan Disintegrasi Timor-timor.

Yang menarik dalam buku ini, Parry tidak menggunakan gaya reportase berita yang konvensional. Parry memilih menulis reportasenya dalam bentuk catatan perjalanan, sebuah gaya jurnalisme sastrawi. Dengan gaya seperti itu reportase yang dihasilkan lebih kentara

subjektifitasnya, tapi hal tersebut tidak mengurangi

fakta-fakta yang memang harus ia cantumkan juga sebagai syarat sebuah tulisan jurnalistik. Dalam tulisan-tulisan reportasenya, Parry lebih mengedepankan opini-opini di masyarakat mengenai suatu peristiwa untuk membangun opininya sendiri terhadap peristiwa tersebut.

Buku itulah yang kemudian menjadi titik keberangkatan diskusi Zaman Edan yang diadakan di Newseum Kafe, Selasa 19 Mei 2008. Diskusi yang dimulai jam delapan malam ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Mei di Newseum yang juga diadakan untuk memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun Reformasi. Sebagai pembicara untuk mengomentari buku tersebut dipilihlah 3 orang pelaku salah satu peristiwa yang ditulis dalam buku Zaman Edan dan dimoderatori (bisa juga disebut pembicara keempat)

Taufik Rahzen. Aksan, Dadang, dan Dinaldo, yang

ketiganya terlibat dalam peristiwa Mei 1998 kemudian secara bergantian mengomentari isi dari buku ini. Aksan membuka komentarnya dengan pernyataan ketertarikan terhadap gaya menulis reportase Parry yang unik. Menurutnya, gaya penulisan Parry yang lebih seperti catatan pribadi membuka ruang terhadap masuknya sentimen pribadi penulis terhadap peristiwa yang dituangkan dalam catatan reportasenya. Ia juga salut

kepada Parry yang begitu dalam masuk ke dalam peristiwa demi mendapatkan sentimen pribadi terhadap peristiwa. Terutama sekali ia salut akan keberanian Parry meliput peristiwa

kanibalisme dan konflik etnik Dayak-Madura hingga ke

pedalaman Kalimantan. Sementara, Dadang menggarisbawahi kemampuan Parry untuk menghubungan peristiwa yang ia liput dengan mitologi yang dipegang oleh masyarakat, semisal bagaimana ia menghubungan peristiwa Mei 98 dengan mitologi pewayangan Jawa. Lain dengan dua pembicara sebelumnya, Dinaldo lebih mengubar cerita mengenai Mei 98 untuk mengetes sejauh mana kefaktualan peristiwa yang

diceritakan Parry, karena dia sendiri ikut terlibat sebagai aktifis dari peristiwa yang di ceritakan Parry. Sebagai penutup Taufik

Razen memberikan sedikit pengalamannya ketika ia juga

bertugas untuk membuat liputan mengenai peristiwa konflik

di luar negeri. Menurut Razen, membaca buku Zaman Edan seperti bernostalgia karena ia juga pernah mencoba menulis dengan gaya seperti Parry, namun menurutnya gaya seperti Parry belum banyak diterima penikmat berita di Indonesia.

Diskusi ini sendiri kemudian lebih bergulir pada pembahasan peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya. Audiens lebih banyak berkomentar mengenai bagaimana pola pikir dari masyarakat Indonesia. Menjadi pertanyaan besar dalam diskusi tersebut adalah apakah peristiwa-peristiwa

konflik dalam buku tersebut lahir karena pola pikir masyarakat Indonesia yang mencintai konflik dan kekerasan ataukah ada faktor lain yang menjadi dasar terciptanya konflik-konflik

tersebut. Hingga akhir diskusi memang tidak ada kesepakatan yang tercipta mengenai jawaban dari permasalahan itu.

Pada akhir diskusi ini, Taufik Razen teringat pada sebuah film yang baru saja ia tonton, Vantage Point, film

ini menceritakan usaha pembunuhan President Amerika Serikat dari banyak sudut-pandang dan dari masing-masing sudut pandang, cerita dan kesimpulan yang dihasilkan akan

berbeda-beda. Ia menghubungan film itu dengan buku Zaman

Edan. Film itu menggambarkan bagaimana sebuah peristiwa menghasilkan penceritaan berbeda jika dilihat dari orang yang berbeda. Buku Zaman Edan hanyalah satu perpektif penceritaan mengenai suatu peristiwa, perspektif Richard Lyod Parry, mungkin akan lain ceritanya jika orang lain yang berbicara. Maka menurutnya akan lebih baik jika kesimpulan

peristiwa-peristiwa konflik dilihat secara bersama-sama

dari berbagai perpektif. Daripada berkutat pada nostalgia peristiwa-peristiwa itu, lebih baik berusaha agar tidak ada lagi

konflik baru yang menjadi “berita buruk” baru bagi bangsa

Indonesia.

Zaman Edan :

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan yang terjadi pada kemampuan kedua subyek penerapan setelah dilakukan penerapan terapi psikoreligius dzikir adalah 60% artinya setelah subyek dilatih,

Elektroda fuel cell yang dibuat dengan metode elektrodeposisi ini terdiri atas dua je- nis, yaitu elektroda yang mengandung katalis Pt/C sebagai hasil elektrodeposisi Pt pada

Intisari: Dalam suatu benda yang memiliki gradien temperatur maka akan terjadi perpindahan energi atau peram- batan panas dari bagian yang bertemperatur tinggi ke bagian

Nilai sensitivitas saham terhadap pasar yang tertinggi dimiliki oleh saham TINS yaitu sebe- sar 2,012526522, yang berarti bahwa saham TINS lebih sensitif dan agresif dari pasar

Gambar perubahan suhu udara terhadap pertumbuhan awan Cb pada bulan Oktober tahun 2012 di Stasiun Meteorologi SSK II Pekanbaru dapat dilihat pada Gambar 1.. Perubahan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari keterlibatan ayah dan harga diri terhadap kesejahteraan psikologis, baik secara parsial maupun

Pegawai TIKI AMBON memberikan pelayanan yang baik dengan dengan jumlah seratus satu (101) orang pelanggan yang sudah didapatkan memberikan respon atau pendapat yang sangat

Hasil pengambilan data dari pemanasan bahan bakar bensin pada suzuki katana, dengan variabel bebas panjang kawat tembaga dengan diameter 6 mm, sedang variabel