DINAMIKA PERAN SOSIAL MUSLIMAH DALAM PEMBANGUNAN DI ACEH
Aceh merupakan daerah yang telah menjadi komunitas Islam sejak abad ke sembilan Masehi, atau bisa jadi jauh sebelumnya. Setidaknya dapat diketahui dari keberadaan Kerajaan Islam tertua di Indonesia, Kerajaan Perlak yang berdiri tahun 225H atau 840 M di wilayah Perlak (Aceh Timur sekarang). Selanjutnya, beberapa catatan sejarah menyebutkan kerajaan Islam lain yang eksis di Aceh seperti Samudera Pasai, Benoa, Kerajaan Aceh Darussalam, dan lainnya. Islam terus berkembang dan meluas hingga menjadi falsafah hidup yang mengakar dalam setiap sendi kehidupan. Saat ini Aceh dikonotasikan dengan Islam. Salah satu falsafah hidup (hadih maja) yang populer adalah “adat ngon hukom lagei zat ngon sifeut” (adat kebiasaan dan syariat Islam sangat erat kaitanya dan tidak terpisah seumpama zat dan sifatnya). Dalam bingkai Islam inilah tatanan nilai tentang peran sosial perempuan dikonstruksi. Seperti apa dinamika peran sosial perempuan dalam masyarakat Aceh yang notabenenya Islam?. Hal inilah yang akan diuraikan dalam tulisan ini. Kata muslimah dalam judul tulisan ini memberi penekanan konteks bahwa perempuan ynag dimaksud adalah perempuan Islam, dan kiprahnya juga dikembangkan pada masyarakat Aceh yang identik dengan nilai Islam.
Keberadaan ratu-ratu yang telah berkiprah luas dalam membangun masyarakat Aceh ini, tidak terlepas dari dukungan ulama, meski pro kontra juga ada. Syeikh Nuruddin Ar-Raniry merupakan ulama yang sangat berperan dalam pengangkatan Ratu Safiatuddin dan senantiasa mendukung kebijakan ratu. Syeikh Ar-Raniry merupakan ulama terpelajar dari Ranir India yang lama bermukim di Aceh (1636-1644), menjabat Qadli Malik al-‘Adil pada periode Sultan Iskandar Tsani dan berlanjut pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin. Selain Ar-Raniry, terdapat juga dukungan Abdur Rauf As-Singkili pada empat ratu di Kerajaan Aceh Darussalam. Abdur Rauf As-Singkili (lahir 1615 di Singkil) menuntut ilmu di Timur Tengah dan kembali ke Aceh pada tahun 1661, yaitu masa pemerintahan ratu Safiatuddin. Selanjutnya Abdur Rauf As-Singkili menjabat sebagai Qadli Malik al-‘Adil menggantikan Syeikh Ar-Raniry. (dikutip dari beberapa sumber oleh Amirul Hadi;2010, 139)
Syeikh Nuruddin Ar-Raniry menggambarkan tentang Ratu Safiatuddin dalam salah satu karyanya Bustān al-Salāthīn. Ar-Raniry menyebut Ratu ini sebagai penguasa yang taat dan senantiasa berupaya dengan serius untuk mengimplementasikan syariat Islam di kerajaan. Ia adalah seorang penguasa yang adil, lemah lembut, dermawan, penyayang dan mengayomi rakyat. Penghargaan tinggi pada ulama dan para pengunjung kerajaan merupakan salah satu karakternya yang khas. Pada masa pemerintahannya menurut Ar-Raniry, Aceh muncul sebagai sebuah kerajaan yang makmur. (Amirul Hadi:2010, 138).
perempuan. Baik di bidang pendidikan, politik pemerintahan, hukum, protokoler, administrasi, pertahanan dan keamanan, agama, seni dan lainnya.
Pada masa Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh Darussalam (1607-1636), sangat dikenal kiprah Putroe Phang (istri Sultan Iskandar Muda) sebagai penasehat. Putroe Phang menyarankan pembentukan Balai Majelis Mahkamah Rakyat (seperti DPR) yang beranggotakan 73 orang, mewakili penduduk kerajaan. Sehingga untuk mengabdikan karyanya ini, semua produk Balai majelis Mahkamah Rakyat disebut sebagai produk Putroe Phang. 1
Pada bidang pertahanan dan keamanan terdapat Laksamana Malahayati yang memimpin armada laut kerajaan Aceh Darussalam masa Sultan Alaidin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604), dan memimpin 2000 pasukan dengan 100 buah kapal perang. Masa Sultan Ali Mughayat Syah (1604-1607) telah dibentuk Sukey Inong kaway Istana (Resimen Perempuan Pengawal Istana) yang dipimpin oleh Laksamana Muda Cut Meurah Inseun yang bertanggung jawab pada pemeliharaan tata tertib di istana. Pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), angkatan perang Aceh diperluas dengan membentuk Divisi Kemala Cahaya yang dijadikan Bataliyon kawal kehormatan. Pasukan ini dipimpin oleh Jenderal Keumala Cahaya yang bertugas menjaga keamanan istana dan mengatur tata tertib dan protocol (Farid Wajdi;2008). Pada masa penjajahan Belanda juga terkenal pejuang perempuan asal Aceh yang menjadi Pahlawan nasional; Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia. Keduanya memimpin pasukan melawan penjajahan di Aceh. Selain itu terdapat Tgk Fakinah, perempuan yang menjadi panglima, juga pendidik dan ulama. Terdapat juga banyak perempuan yang mengembangkan karir senimannya sebagai penari, sebagai pendidik dan lainnya.
Luasnya bidang yang digeluti perempuan sejak masa kerajaan hingga masa penjajahan sebagaimana yang dijelaskan di atas menjadi dasar yang kuat untuk menyimpulkan bahwa kiprah sosial perempuan Aceh telah terkonstruk sejak lama. Bahkan dapat disebutkan, telah sejak lama perempuan Aceh bergerak sejajar
membangun Aceh. Jika hari ini kiprah sosial perempuan dipertanyakan dan diarahkan untuk dirumahkan, maka pastinya akan menjadi sangat sulit, layaknya menutup sejarah yang telah tertumpah ruah. Karena sosial budaya yang telah mebentuk karakter perempuan Aceh sejak lama, adalah situasi sosial yang terbuka terhadap kiprah perempuan.
Pertanyaan mendasar dapat dimunculkan tentang tinggi dan luasnya kiprah perempuan di masa lalu, apakah tidak dianggap bertentangan dengan Islam. Jika kita merujuk kiprah perempuan masa Rasulullah dan masa para sahabat, maka tidak ada yang perlu diherankan. Di era Rasul terdapat Asma’ binti Zaid, tokoh perempuan yang aktif dimasyarakat, dengan membantu mendampingi penyelesaian masalah kelompok perempuan setelah mendapat penjelasan dari Rasul. Begitu pula profesi Khadijah isteri Rasulullah sendiri di bidang ekonomi dan perdagangan level internasional. Aisyah r.a adalah guru yang cerdas dan menjadi tempat bertanya umat Islam. Rasul juga mendorong kemandirian ekonomi perempuan. Dalam salah satu hadist disebutkan “Jabir ibn ‘Abdillah berkata: Bibiku diceraikan suaminya, ketika ia hendak keluar rumah untuk memetik buah kurma. Kemudian ia menemui Nabi SAW menanyakan hal itu. Nabi SAW menjawab: Ya (pergilah) dan petik buah kurma kamu agar kamu bisa bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain.” (H. R. Muslim).
Secara tegas disebutkan juga dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an :
1. ”Maka Tuhan mereka mengabulkan permintaan mereka dengan berfirman, ”sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan...” (Ali ’Imran: 195). Disebutkan senada dalam surat an-Nahl:97, al-Mukmin:40
2. ”Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia beriman, maka mereka masuk kedalam surga dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikitpun. (an-Nisa’: 124).
kerjakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (an-Nisa’: 32).
4. ”Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh menjalankan kebaikan dan melarang dari kejahatan, mendirikan salat, menunaikan zakat, mereka taat dan patuh kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah: 71).
5.
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (al-Hujurat: 13)Diantara beberapa ayat yang diketengahkan di atas dapat diuraikan beberapa pelajaran.
1. Perempuan dan laki-laki sama sama akan mendapat pahala, perlindungan dan apresiasi dari Allah jika melakukan amal shaleh.
2. Diantara laki-laki dan perempuan ada yang menjadi pelindung dan penolong (auliya) bagi yang lainnya.
3. Perempuan dan laki yang paling mulia di sisi Allah adalah perempuan dan laki-laki yang paling bertaqwa.