BAB II
TELAAH TENTANG ETIKA POLITIK
A. Pengertian Etika Politik
Dalam memahami pengertian ‘Etika Politik’, perlu dijelaskan lebih dahulu pengertian ‘etika’ dan pengertian ‘politik’. Untuk memahami lebih dalam mengenai etika, perlu pula disinggung secara singkat ‘aliran-aliran pemikiran’ yang terdapat dalam etika. Pada bagian berikutnya akan dijelaskan pengertian ‘politik’. Berdasarkan hasil telaah terhadap istilah-istilah itu akan dilakukan telaah konvergensi, yaitu menggabungkan istilah-istilah tersebut untuk memperoleh pengertian ‘Etika Politik’ secara utuh, sebagaimana yang dimaksudkan dalam Skripsi ini.
1. Pengertian Etika
Etika merupakan filsafat18 moral atau filsafat tingkah laku (Poedjawijatna, 1997: 13-14) atau filsafat tindakan (Asmoro Akhmadi, 2001: 12), yang membahas ukuran baik buruknya tingkah laku manusia, yang 18 Secara etimologis, filsafat berasal dari kata Arab falsafah dan kata Yunani philosophia,
filosofia atau philosophis. Falsafah berarti pengetahuan tentang asas-asas pikiran dan perilaku (Mahmud Yunus, 1989: 323). Philosophia, yang terdiri dari kata philos (cinta) dan Sophia
(pengetahuan dan kebijakan atau wisdom/hikmah) berarti “cinta kepada pengetahuan” (Ahmad Hanafi, 1990: 3). Sedangkan filosofia, juga merupakan kata Yunani, diturunkan dari kata kerja filosofein, yang berarti “mencintai kebijaksanaan” (Harun Hadiwijono, 1980: 7). Versi lain, berasal dari kata Yunani
diupayakan sejauh mungkin bersifat umum dan oleh karena itu berlaku untuk semua manusia, bukan hanya sebagian manusia19.
Secara etimologis, etika berasal dari bahasa Yunani Kuno ethos, atau bahasa Inggris ethic. Ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, yaitu kebiasaan, adat, watak, akhlak, perasaan, sikap dan cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) berarti adat kebiasaan. Arti inilah yang melatarbelakangi terbentuknya istilah etika yang oleh filsuf Yunani Aristoteles (384-322 SM) dipakai untuk menunjukkan filsafat moral.
Secara terminologis, etika didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kesusilaan (moral). Sedangkan ethic, dalam bahasa Inggris berarti
system of moral principles. Istilah moral itu sendiri berasal dari bahasa latin
mos (jamak: mores), yang berarti juga kebiasaan, adat. Tentang universal. Sedangkan Bertand Russel menyebut perbuatan etis bersifat rasional, pragmatis atau utiliristik. Namun pada perkembangan kini disebut era postmodernisme etika yang berlaku umum ditolak, karena pada dasarnya kebenaran bersifat relatif terhadap waktu, tempat, budaya dan sebagainya (Amin Abdullah, 2002: 17-18).
Akhlak, sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, adalah bentuk jamak dari kata al khuluq atau al khulq yang secara etimologis berarti (1) tabiat, 19Mengenai ukuran yang bersifat dan berlaku umum ini, menurut Rene Descartes filosuf
budi pekerti, (2) kebiasaan atau adat, (3) keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, (4) agama, dan (5) kemarahan (alghadab).20
Meskipun dinilai bermakna sama, namun sesungguhnya dalam posisi tertentu secara terminologis etika berbeda dengan moral. Menurut M. Amin Abdullah (2002: 15), moral (akhlaq) lebih condong kepada pengertian “nilai baik dan buruk dari setiap perbuatan manusia itu sendiri”, sedangkan etika berarti “ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk” (‘ilm al Akhlaq).
Dari hasil analisis K Bertens (2004: 6) disimpulkan bahwa etika memiliki tiga posisi, yaitu sebagai (1) sistem nilai, yakni nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya, (2) kode etik, yakni kumpulan asas atau nilai moral, dan (3) filsafat moral, yakni ilmu tentang yang baik atau buruk.
Dalam tesis ini, etika dipahami dalam posisi yang pertama, yaitu sebagai sistem nilai.
2. Aliran -Aliran Etika
Filsafat etika yang berkembang di dunia Barat, pada umumnya dikelompokkan menjadi tiga aliran, yaitu etika hedonistik, utilitarian dan
deontologis(Amin Abdullah, 2002: 15). Hedonisme21 mengarahkan etika untuk menghasilkan sebanyak mungkin kesenangan bagi manusia.
20EnsiklopediIslam (Cet.4, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997, hlm. 102)
21Berasal dari kata Yunani, hedone, yang berarti kesenangan. Istilah ini mula-mula digunakan
Utilitaristik22 mengoreksinya dengan menambahkan bahwa kesenangan atau kebahagiaan yang dihasilkan etika yang baik adalah kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang. Sedangkan deontologis23 memandang bahwa sumber bagi perbuatan etis adalah rasa kewajiban.
Menurut Burhanuddin Salam (1997: 67-83), teori-teori etika dapat digolongkan menjadi dua teori, yaitu deontologis dan teleologis. Etika deontologis menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik yang tidak dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, tetapi berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri. Oleh karena itu sebuah tindakan bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban. Terdapat dua teori deontologis, yaitu
deontologis tindakan dan deontologis peraturan
(Bertens, 1993: 67-68).
Dalam perspektif linear dengan etika deontologis, etika teleologis justru menitikberatkan pada tujuan atau akibat suatu tindakan. Sehingga suatu tindakan dinilai baik, apabila bertujuan mencapai sesuatu yang baik atau menimbulkan akibat yang baik.
Sebaliknya, suatu tindakan dinilai buruk, apabila bertujuan mencapai sesuatu yang buruk atau menimbulkan akibat yang buruk24. Oleh karena itu, 22 Berasal dari kata Latin, utilitas, yang berarti useful, berguna, berfaedah (Burhanuddin
Salam, 1997: 76).
23 Berasal dari kata Yunani, deon, berarti kewajiban (Burhanuddin Salam, 1997: 68).
24 Tujuan dan akibat bisa dibedakan. Tujuan adalah sesuatu yang secara sadar ingin dicapai,
etika ini cenderung merupakan etika situasional atau etika situasi, karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa bersifat sangat situasional dan karena itu setiap norma dan kewajiban moral tidak bisa berlaku begitu saja dalam setiap situasi.
Terdapat dua aliran etika teleologis, yaitu egoisme dan utilitarianisme. Menurut etika egoisme, suatu perbuatan dinilai baik apabila memberikan manfaat, kebahagiaan atau kepentingan bagi dirinya sendiri (‘aku’) di atas kepentingan orang lain. Aliran ini mengalami perkembangan menjadi egoisme etis dan egoisme psikologis. Dalam egoisme etis, tindakan apapun termasuk mengorbankan diri untuk orang lain adalah untuk kepentingan pemuasan diri sendiri. Sedangkan egoisme psikologis berdasarkan pandangan bahwa semua orang selalu dimotivasi oleh tindakan demi kepentingan dirinya. Aliran Utilitarianisme (utilisme) menilai bahwa baik-buruk suatu tindakan ditinjau dari segi kegunaan atau faedah yang didatangkannya.
Terdapat dua jenis utilitarianisme, yaitu utilisme individual, yang berorientasi pada keuntungan dirinya, dan utilisme soaial yang beroeientasi kepada kepentingan orang banyak. Utilisme sosial banyak dipraktikkan oleh kalangan politisi.
Mengutip pendapat John Stuart Mill (1806-1873) dalam bukunya
semua tindakan berorientasi pada keharmonisan dengan sesama manusia. Secara keseluruhan etika utilitarianism dinilai positif karena dua hal, yaitu
rasionalitasnya yang memungkinkan akibat baik yang lebih banyak dan
universalitasnya yang memungkinkan akibat yang dicapai diukur dari banyaknya orang yang memperoleh manfaat.
Terdapat pula aliran etika intuisionisme, universalisme, hedonisme, eudemonisme, altruisme dan tradisionalisme. Selain intuisionisme, kelima aliran etika yang lain menilai baik-buruknya tindakan dinilai dari tujuan perbuatan (Burhanuddin Salam, 1997: 79-83). Intuisionisme merupakan aliran etika yang berpendapat bahwa penilaian atas baik-buruk tindakan manusia dapat diketahui dengan cara intuisi. Universalisme menilai suatu tindakan adalah baik apabila memberikan kebaikan bagi banyak orang. Hedonisme menilai suatu tindakan adalah baik bila mendatangkan kesenangan (hedone, dari kata Grik) secara fisik.
Eudemonisme menilai suatu tindakan adalah baik apabila mendatangkan kebahagiaan (eudaemonismos, dari kata Grik) secara psikologis (rasa).
Altruisme menilai suatu tindakan adalah baik apabila mengutamakan kepentingan orang lain (alteri, dari kata latin; others, kata Inggris).
Terakhir adalah tradisionalisme, yang menilai suatu tindakan sebagai baik apabila sesuai dengan kebiasaan atau adat-istiadat (tradition, kata Inggris) yang berlaku dalam masyarakat.
Berdasarkan analisis tentang pengertian etika dan pengertian Politik (dan berpolitik) di atas, secara konvergensi dapat ditarik kesimpulan bahwa yang disebut sebagai ‘Etika Politik’, secara kontekstual dapat dimaknai sebagai “suatu sistem nilai, yakni nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan dalam mengatur tingkah laku yang berkaitan dengan penyelenggaraan sebuah negara”.
Oleh karena itu, pelaku Etika Politik meliputi individu, kelompok maupun bangsa yang menempati sebuah negara. Dalam perspektif individual, seorang kepala negara dengan berbagai istilah padanya adalah Warga negara yang menjadi pemimpin dan oleh karena itu memiliki peranan paling menonjol dan paling berpengaruh bagi setiap negara dalam rangka mencapai tujuan dan melaksanakan fungsi-fungsinya.
Dalam perspektif kelompok, para birokrat25 (yang terdiri dari para pejabat negara baik sipil maupun militer) merupakan alat negara yang menentukan pencapaian tujuan dan fungsi negara. Menurut Yahya Muhaimin (1980), sebagaimana dikutip oleh Budi setiono (2002: 22), birokrasi adalah keseluruhan aparat pemerintah, sipil maupun militer yang melakukan tugas membantu pemerintah dan menerima gaji dari pemerintah karena statusnya itu. Dalam perspektif birokrasi sebagai alat kekuasaan, maka keberadaannya merupakan sarana bagi penguasa untuk mengimplementasikan kekuasaan dan 25 Istilah ini untuk menyebut orang-orang yang bekerja dalam birokrasi. Istilah birokrasi itu
kepentingan mereka dalam mengatur kehidupan negara. Namun dalam perspektif kebutuhan masyarakat yang harus dilayani, maka keberadaan birokrasi membantu masyarakat mencapai tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetapkan bersama (Budi Setiono, 2002: 23-24).
Sedangkan dalam perspektif bangsa, sudah tentu adalah semua Warga negara. Menurut UU RI No. 12/2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa “Warga negara adalah warga suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan”.
Dengan demikian, baik kepala negara, pejabat negara maupun Warga negara merupakan komponen manusia atau pelaku yang terikat secara sukarela oleh komitmen terhadap suatu corak tertentu Etika Politik. Oleh karena itu, mempersoalkan Etika Politik berarti mempersoalkan etika kepala negara, etika pejabat negara dan etika Warga negara.
B. Perkembangan Pemikiran tentang Etika Politik
Berbeda dengan pengertian negara sebagaimana kita pahami dewasa ini, pada masa awal munculnya pemikiran tentang negara, negara diartikan sama dengan masyarakat yang menempati polis (kota dan sekitarnya), sehingga memunculkan penilaian bahwa polis adalah negara kota. Sebaliknya, sementara kalangan berpendapat bahwa polis bukan negara kota (city-state, Staadstaat) melainkan negara-suku (tribal state, stammstaat) (Deliar Noer, 1997: 2-5). Namun bagi Hannah Arendt, filsuf politik abad 20, sebagaimana dikutip oleh Maurizio Passerin d’Enteves (2003: 129), polis secara kiasan juga berarti “organisasi orang-orang yang bersatu didorong oleh tindakan dan ucapan bersama, dan ruang publiknya muncul di tengah-tengah kehidupan bersama orang-orang yang hendak mencapai tujuan-tujuannya, dimana mereka berada”.
Pemikiran filosof Yunani Kuno Plato (429-347) yang sangat dipengaruhi gurunya, Socrates (469-399) tentang negara dan Etika Politik terdapat dalam. bukunya berjudul Politea (Republik), yang arti sesungguhnya adalah Konstitusi, dalam pengertian suatu jalan atau cara bagi individu dalam berhubungan dengan sesamanya dalam pergaulan hidup atau masyarakat. Politea juga disebut sebagai
Tentang Keadilan, yang artinya lebih dekat dengan kata kejujuran, moral dan sifat-sifat baik seseorang (Deliar Noor, 1997: 2-5).
penguasa. Namun dalam kitab berikutnya Nomoi (kitab hukum), pendirian ini dikoreksi, bahwa penguasa bukanlah kelas tersendiri, karena tergantung pada pilihan rakyat, dan ia berhak milik dan berkeluarga (Deliar Noor, 1997: 11-15).
Aristoteles (384-322), murid Plato, melanjutkan tradisi pemikiran tentang negara meliputi bidang yang luas. Dalam bidang politik, Aristoteles menulis kitab berjudul Politik (Politica). Negara menurutnya adalah gabungan dari bagian-bagian, yang menurut urutan besarnya adalah kampung, famili dan individu. Setiap individu memiliki hak milik yang berfungsi sosial, tapi tidak boleh berlebihan agar tidak merusak dirinya. Keadilan bagi Aristoteles adalah mengambil apa yang menjadi haknya. Dan bentuk terbaik dari masyarakat politik ialah bila kekuasaan berada di tangan kelas menengah (Deliar Noor, 1997: 27-39).
Pada abad-abad akhir sebelum dan abad-abad awal sesudah masehi, kandungan Etika Politik tampak dari perdebatan di dalam masyarakat Kristen, antara siapa sesungguhnya yang paling berkuasa di dunia, apakah kepala negara atau kepala agama (Deliar Noor, 1997: 47-49). Beberapa abad berikutnya tidak terdeteksi adanya perkembangan pemikiran yang berarti26, hingga kelahiran Piagam Madinah pada masa kenabian Muhammad SAW (570-632).
Piagam Madinah berisi 52 pasal atau seksi yang merupakan teks konstitusi tertulis pertama di dunia yang paling lengkap dan orisinil, 26 Dalam perspektif Sejarah Arab pra-Islam, masa ini dikenal sebagai jahiliyah atau
kebodohan (ignorance) yang diwarnai oleh paganisme, ketidaksukaan hingga pembunuhan terhadap anak perempuan, pelembagaan perbudakan dan perilaku sosial menyimpang lainnya, Fuad Hashem,
dibandingkan dengan berbagai jenis aturan dan pengaturan mengenai Negara pada zamannya (Muhammad Hamidullah, 1968: 2-11). Piagam ini juga memosisikan dunia Islam jauh mendahului dunia Barat dalam meletakkan prinsip-prinsip dasar mengenai persamaan, kemerdekaan dan penghormatan terhadap sesama manusia.27 Piagam Madinah secara eksplisit merupakan Etika Politik di negara Madinah.28
Pada masa Khulafaurrasyidin terdapat pula naskah-naskah yang mengandung Etika Politik, misalnya surat-surat Ali bin Abi Thalib kepada Gubernur Mesir dan Gubernur Basrah yang mengandung nasehat dan pandangan Imam Ali tentang akhlak seorang pemimpin (Sayyid Husain Muhammad Jafri, 2003). Pasca Khulafaurrasyidin, kajian tentang Etika Politik banyak dilakukan oleh fuqaha. Abu Nasr al Farabi (wafat 950) menulis kitab
Mabadi’ Ara’ ahl al Madinah al Fadhilah Prinsip-prinsip dari Pandangan tentang Penduduk Negara Utama) dan al Siyasah al Madaniyyah (Risalah tentang politik Kenegaraan) (Din Samsuddin, 2001: 108). Kitab al Ahkam al Sulthaniyyah karya Abu al Hasan al Mawardi (wafat 1058) menjadikannya diakui sebagai pemikir pertama yang melakukan deduksi komprehensif prinsip-prinsip syariah yang berkaitan dengan pemerintahan.
27 Ini adalah tesis penulis Barat Jean Claude Vatin, yang kebenarannya diperkuat oleh kajian
dalam desertasi Suyuthi Pulungan. Lihat Suyuthi Pulungan, Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah ditinjau dari Pandangan Al Quran, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1996).
28 Istilah “negara Madinah” hingga saat ini masih debatable, namun jika merunut definisi
Mawardi banyak dipengaruhi oleh pemikiran al Baghdadi (wafat 1037) dalam salah satu bagian karyanya berjudul Kitab Ushul al Din. Baghdadi sendiri adalah pengikut Asy’ari (wafat 937).
Kemudian muncul beberapa pemikir Islam lainnya seperti Imam Al Ghazali (1058-1111) dengan kitabnya Al Tibr al Masbuk fi Nasaih al Muluk29.
Kitab-kitab al Ghazali dikaji sebagai tesis di IAIN Walisongo Semarang oleh Zaenul Arifin (2000) dengan judul tesis Etika Politik dalam perspektif Al Ghazali.
Berikutnya Ibn Taymiyah (wafat 1327) dengan kitabnya Majmu’ Fatawa Shaikh al Islam, Ibn Qayyim al Jawziyyah (wafat 1356) dengan kitabnya Al Turuq al Hukmiyyah fi al Siyasah al Shar’iyyah (Din Samsudin, 2001: 99-100). Ibnu Taba dengan kitabnya Al Fakri fi Adab al Sultaniyah wa al Dua al Islamiyah, dan Abd Al Rahman dengan kitabnya Al Manhaj alMasluk fi Siyasah Al Muluk (Zainul, 2000: 6).
Di dunia Barat, muncul Thomas Aquinas (1225-1274) dalam Summa Theologica yang meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat Katolik. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh kitab-kitab yang ditulis Ibn Rusyd (Averroes; 1126-1198), dan Al Farabi. Etika Politik terutama terkandung dalam dua bagian dari kitabnya, yakni “Tentang Kerajaan: Apa yang Dimaksud
29 Aslinya ditulis dalam bahasa Parsi, berisi sejumlah nasehat kepada Sultan Muhammad ibn
dengan Kata Raja” dan “Kemungkinan Persyaratan agar Raja tidak Menjadi Tiran” (Deliar Noor, 1997: 57-63).
Pemikiran tentang Etika Politik terdapat pula dalam kitab yang tersohor hingga saat ini, yakni Al ‘Ibar (Ibarat-Ibarat) karya Ibnu Khaldun (1332-1406) yang bagian terpentingnya adalah Muqaddimah. Pembahasan tentang Etika Politik tergambar misalnya dalam “syarat-syarat kepala negara”, “Ashabiyah sebagai dasar kekuasaan wibawa”, “kemewahan dan kekuasaan”, dan “kemewahan pertanda kehancuran negara” (Osman Raliby, 1963).
Niccolo Machiavelli (1469-1527), dalam tulisannya berjudul Discorsi
(Uraian)30 mengatakan bahwa pengangkatan penguasa harus berdasarkan pilihan rakyat, karena suara rakyat adalah suara Tuhan. Dalam republik, kepatuhan terhadap hukum merupakan kebebasan yang sesungguhnya, yang bisa membawa ketenangan dan kedamaian.31
Pada masa berikutnya muncul pemikiran yang sedikit banyak juga mengandung unsur Etika Politik, diantaranya adalah yang ditulis Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), Montesquieu (1689-1755), Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), John Stuart Mill (1806-1873), dan pelopor-pelopor sosialisme seperti Karl Marx (1818-1883), Vladimir Ilyich Lenin (1870-1924), dan Josep Stalin (1879-1953).
30 Judul lengkapnya adalah Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Uraian tentang
Sepuluh Tahun Permulaan dari Titus Livius) (Deliar Noer, 1997) hlm. 88.
Dalam abad 20, muncul beberapa pemikiran yang berkaitan dengan Etika Politik. Salah satu yang dinilai kontroversial adalah pemikiran Hannah Arendt (1906-1975). Menurutnya, dalam politik tidak perlu pelibatan moralitas absolut yakni tipe moralitas yang diidentifikasi sebagai moralitas nurani Sokratik atau kebaikan moralitas kristen. Karena moralitas pada esensinya bersifat pribadi dan cenderung terdistorsi atau destruktif jika dilibatkan ke dalam ruang publik. Politik, tulisnya, seharusnya cukup dibimbing oleh moral biasa (Maurizio Passerin d’Entevez,2003: 155-157).
Bermunculan pula kemudian pemikiran-pemikiran yang lain, sebagian diantaranya berbasis liberalisme. Ideologi ini sedikit banyak juga berimplikasi unsur Etika Politik. Secara substantif, liberalisme memosisikan individu sebagai unsur yang utama dalam masyarakat. Berangkat dari kultur liberalisme dan individualisme, sejauh yang diketahui penulis, buku berjudul Etika Politik Pejabat Negara yang ditulis oleh Dennis F Thompson (terj, Ed.2, 2002), bisa dibilang relatif baru.
Tafsir dkk. (2002) dalam bukunya yang berjudul membangun Negara Bermoral, Etika Politik dalam Naskah Klasik Jawa-Islam sejauh yang diketahui penulis secara eksplisit menggunakan istilah “Etika Politik”.
Buku ini mengulas dan merumuskan implikasi Etika Politik dalam naskah-naskah klasik Jawa-Islam, yang merupakan cermin kearifan lokal tentang bagaimana pemimpin mengurus negara dan mampu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.
C. Etika Politik dalam Konsep Islam
Dalam mendeskripsikan Etika Politik dalam konsep Islam, dapat ditempuh beberapa pendekatan, yaitu pertama, pendekatan nilai; yakni nilai-nilai yang terkandung dalam Islam yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat atau bernegara; kedua, pendekatan sejarah, khususnya pada zaman nabi Muhammad SAW dan para Sahabat; dan ketiga, pendekatan pemikiran ulama berkaitan dengan Etika Politik. Uraian secara akumulatif dari hasil ketiga pendekatan ini akan berujung pada perumusan Etika Politik dalam konsep Islam.
sumber ajaran pokok agama Islam yakni Al Quran32, Hadits atau Sunnah Rasul33
dan Ijtihad.34, harus dilakukan pencermatan terhadap sejarah Islam periode klasik. Periode klasik dimulai sejak turunnya Al Quran pada awal abad ke-7 hingga abad ke-13 (Siti Maryam, dkk., 2003:12)35. Diantara rentang waktu 6 abad itu, secara lebih khusus pencermatan dilakukan terhadap periode Rasulullah dan para sahabat (Khulafaurrasyidin, artinya para pengganti yang mendapatkan bimbingan ke jalan yang lurus).
Pada masa awal pertumbuhan Islam (sekitar 20 tahun, terhitung sejak diterimanya wahyu yang pertama tahun 610 M, saat Nabi berusia 41 tahun, hingga wafatnya beliau), semua masalah yang muncul menyangkut urusan agama dan dunia ditanyakan langsung kepada nabi Muhammad SAW. Berdasarkan wahyu, Rasulullah menerangkan ajaran-ajarannya dengan ucapan-ucapan, perbuatan dan seruan. Pada saat itu tidak ada perselisihan atau khilaf
32 Istilah ini disebutkan dalam Al Quran sebanyak 70 kali. Antara lain lihat QS Yusuf (12:2),
An Nahl (16:97), AthThaha (20:2) Al Muzzamil (73:4 dan 20). Istilah lain adalah Al Kitab artinya tulisan, QS Al Baqarah (2:2); Al Furqon, artinya pembeda, QS Ali Imran (3:4), Al Furqon (25:1); Adz Dzikr, artinya peringatan, QS Al Hijr (15:9); Dan Annur, artinya cahaya, QS An Nisa’ (4:174).
33 Istilah Hadits dan Sunnah Rasul kadang diartikan sama, kadang berbeda. Hadits adalah
cerita tentang perilaku nabi Muhammad, sedangkan Sunnah adalah hokum yang disimpulkan dari cerita itu (Syed Mahmudunnasir, 1994:148-149).
34 Ijtihad merupakan penggunaan akal seoptimal mungkin dalam mencapai keputusan
terhadap kasus-kasus yang tidak ada petunjuk yang jelas dalam Al Quran dan Hadits. Uraian mendalam mengenai Ijtihad, termasuk Ijmak, lihat Ensiklopedi Islam (Jil. 2, Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1997:181 dan 183-186).
35 Menurut Siti Maryam dkk., dalam karya-karya mutakhir tentang sejarah peradaban Islam,
karena wewenang tasyri’ langsung berada pada Rasul. Sehingga apapun yang terefleksikan dari sosok Muhammad SAW dipastikan sesuai dengan Al Quran.
Setelah Rasulullah wafat, selama sekitar 30 tahun berikutnya kepemimpinan ummat ada pada sahabat Nabi yakni Abu Bakar As Shiddiq (2 tahun), Umar ibn Al Khaththab (10 tahun), Utsman ibn ‘Affan (12 tahun), dan Ali ibn Abi Thalib (5 tahun). Pada masa sahabat, meskipun Islam mengalami kemajuan pesat dengan wilayah yang meluas, namun banyak terjadi perselisihan36 di bidang amaliah, yaitu masalah khilafah37.
Pasca Sahabat Nabi hingga berakhirnya periode klasik (abad XIII M), perselisihan masalah khilafah ini timbul tenggelam mewarnai dinamika Dalam perspektifpolitik sunni, khilafah didasarkan pada dua rukun, yaitu konsensus elite politik (‘ijma) danpemberian legitimasi (bay’ah). Dalam perspektif sejarah Islam, istilah ini pertama kali digunakan oleh Abu Bakar dalam pidato inaugurasinya, yang menyebut dirinya sebagai “khalifah Rasul Allah”. sejarah Islam. Sebagian bahkan penuh intrik, manipulasi, konspirasi hingga saling bunuh yang sangat bertentangan dengan fitrah manusia dan nilai-nilai qurani. Inilah sebabnya, bagian terpanjang dari periode klasik tidak dapat dijadikan
36 Perselisihan pada dasarnya disebabkan oleh perbedaan paham dan nash, perbedaan
pengetahuan tentang hadits, perbedaan pandangan tentang mashlahah yang menjadi dasar penetapan hukum dan perbedaan lingkungan. Hal ini menimbulkan perselisihan fatwa dan hokum atau dalam hal
furu’, walaupun mereka sepakat dalam hal ushul. Perselisihan ini menjadi awal lahirnya berbagai madzhab di kemudian hari (Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, 1999:66), yang mewarnai dinamika sejarah Islam hingga kini.
37 Berangkat dari beberapa sumber, Kamaruzzaman (2001:30) menyimpulkan bahwa khilafah
contoh yang akurat dalam konteks penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dengan demikian, contoh akurat dan ideal menyangkut implementasi Etika Politik dalam konsep Islam adalah pada masa Nabi, baik ketika masih berada di Mekah maupun setelah hijrah di Madinah. Kepemimpinan Nabi di dua tempat ini disebut oleh berbagai kalangan sebagai periode atau fase kepemimpinan Mekah dan fase kepemimpinan Madinah. Kedua fase ini berlangsung masing-masing 13 tahun dan 10 tahun (KH Muhadi Zainuddin dan Abd Mustaqim, 2005: 61-65).
Fase kepemimpinan Nabi di Mekah atau fase Mekah, diawali sejak Muhammad diangkat menjadi Rasul. Pada fase Mekah ini Rasulullah masih merupakan pemimpin spiritual dengan tujuan pembangunan umat yang dititikberatkan pada penanaman aqidah, iman dan tauhid. Ibarat sebuah bangunan, aqidah, iman dan tauhid merupakan pondasi yang memungkinkan di atasnya dibangun masyarakat yang baik yang kokoh.
Mengawali keberadaannya di Madinah, Rasulullah melakukan beberapa langkah strategis, yaitu (1) mendirikan masjid Quba’, (2) mempersaudarakan kaum muslimin (antara Anshar dan Muhajirin) berdasarkan tali ikatan agama dan aqidah tanpa membedakan status social apapun, (3) membuat piagam perjanjian (Piagam Madinah) antara kaum muslimin dengan non-muslim (KH Muhadi Zainuddin dan Abd Mustaqim, 2005: 63). Ketiga langkah strategis ini sekaligus merupakan implementasi Etika Politik islami yang diterapkan Rasulullah khususnya menyangkut kepemimpinan dan bentuk masyarakat yang hendak dibangun.
Secara komprehensif, nilai-nilai yang terkandung dalam ketiga langkah strategis tersebut adalah sebagai berikut. Pendirian masjid Quba’ melambangkan bahwa sebelum dilakukan pembangunan di berbagai aspek kehidupan lainnya, maka yang terlebih dahulu harus dibangun adalah moral (akhlak) umat. Sebab aspek moralitas merupakan pondasi sekaligus ramburambu yang mengarahkan pembangunan berlangsung sesuai dengan nilainilai kemanusiaan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan umat di dunia dan akhirat.
Langkah mempersaudarakan Anshar dan Muhajirin menegaskan bahwa persaudaraan merupakan dasar penggalangan persatuan dalam perspektif
mungkin saja terjadi mengingat usia kaum muslimin yang relatif masih muda. Minimalisasi konflik internal ini memberikan peluang bagi alokasi energi dan konsentrasi yang lebih besar kepada upaya meningkatkan daya tawar politik (political bargaining) menghadapi kelompok-kelompok non muslim.
Daya tawar politik itulah yang tampaknya menjadi salah satu kondisi yang memperkuat peluang dimunculkannya Piagam Madinah. Sebagai langkah strategis ketiga, Piagam Madinah merupakan perjanjian yang mengatur pola hubungan antarsuku atau klan dan khususnya antara kaum muslimin dengan non muslim (Yahudi, Kristen dan Pagan). Menurut Suyuthi Pulungan (1996: v), Piagam Madinah berfungsi sebagai konstitusi dalam pemerintahan Nabi, yang mengatur kehidupan sosial politik masyarakat Madinah yang bercorak heterogen.
terhadap kerugian jiwa dan harta benda yang diderita pengungsi akibat perlakuan suku Quraish Mekkah.
Menurut Nourouzzaman ash-Shidiqi (1996: 85-86), Piagam Madinah berisi butir-butir yang mengandung beberapa prinsip, yakni (1) kebebasan beragama, (2) persamaan, (3) kebersamaan, (4) keadilan, (5) perdamaian yang berkeadilan, dan (6) musyawarah.
Piagam Madinah juga mencerminkan karakter ummat dan negara pada masa masa awal kelahirannya. Disimpulkan Nourouzzaman (1996: 93-94) bahwa watak masyarakat yang dibina Nabi adalah (1) masyarakat yang berpegang pada prinsip kemerdekaan berpendapat, dan (2) menyerahkan urusan kemasyarakatan dan rincian pelaksanaan pengaturan kehidupan masyarakat kepada ummat, kecuali masalah ‘ubudiyah.
Sedangkan menurut Siti Maryam, dkk. (2005: 51-52), beberapa nilai yang dicerminkan masyarakat pada waktu itu adalah al Ikha (persaudaraan), al Musawah (persamaan), al Tasamuh (toleransi), al Tasyawur (musayawarah), al Ta’awun (tolong menolong), dan al Adalah (keadilan).
1. Etika Kepala Negara
Etika Politik kepala negara yang diimplementasikan Nabi saat memimpin negara Madinah pada dasarnya berprinsip kuat pada factor keteladanan atau uswatun hasanah. Hal ini dimungkinkan, karena kepribadian Nabi yang agung, yang dijamin dalam al Quran, yang diantaranya berbunyi : “dan sesungguhnya engkau Muhammad benarbenar berada dalam akhlak yang sangat agung” (QS al Quran: 4). Sebagai waliyyul amri was syaukah (pemegang kekuasaan politik dan agama), rasulullah sebagai seorang kepala negara menerapkan beberapa etika, antara lain kearifan, keadilan, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan demokratis. Semua etika ini sangat penting dalam meraih tujuan untuk menyejahterakan Warga negara.
Setali tiga uang dari tujuan dibentuknya negara atau pemerintahan, kepala negara harus membuat dan merealisasikan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Ini adalah kewajiban kepala negara, sebagaimana sebuah pernyataan kaidah fiqih:
ةةححلحصصمحلصابة ططوصننمح ةةييحعةريحلا ىحلعح مةامحلةاص فنرينصحتح
["Kebijakan seorang pemimpin harus berkaitan dengan kemaslahatan rakyat"].
(As-Suyuthi, tt: 113).
dibuatnya. Hal ini karena rakyat cenderung tidak akan taat kepada pemimpin dan peraturan yang dinilai tidak absah. (Nurcholis Madjid, 2004: 61).
Tapi harus diingat bahwa penciptaan legitimasi dan politik pencitraan harus dilakukan secara proporsional, bukan hanya pencitraan tanpa bukti. Legitimasi dan pencitraan ini penting agar pemerintahan dapat berjalan efektif. Rakyat hanya akan displin dan taat pada pemerintah yang mempunyai legitimasi kuat, diakui rakyat (absah), dan berwibawa.
Karenanya seorang pemimpin harus menjaga dan menciptakan legitimasi kekuasaannya di mata rakyat. Secara alamiah, legitimasi dan kewibawaan akan terbentuk bila disertai kebijakan-kebijakan yang populis dengan disertai keteladanan dan politik pencitraan. Pendek kata, legitimasi dan kewibawaan membutuhkan substansi kebijakan populis dengan kemasan yang menarik dan elegan.
a. Kesadaran Sebagai khalifah Tuhan
mengajaknya taat kepada Allah. Namun sayang, kesadaran ini pada konteks itu justru mengakibatkan otorianisme yang salah satu penyebabnya adalah pengaruh ajaran wahdatul wujud. Raja adalah wakil Tuhan yang sudah mendapat ‘wahyu keprabon’. (Muhsin Jamil, 2004: 215).
Kesadaran tersebut akan berimplikasi pada sifat-sifat pemimpin sebagai berikut: pertama, presiden senantiasa meniru sifat-sifat Allah, misalnya sifat bijaksana, pemurah, penyantun, pelindung, adil, pemelihara, dan sebagainya. Dengan meniru sifat Tuhan, Presiden benar-benar menjadi wakil-Nya dalam lingkup daerah kekuasaannya.
Kedua, Presiden akan memerintah sesuai dengan syari’at Islam dan tidak akan melanggarnya. Secara mendasar tujuan syari’at Islam (maqashidus syari’ah) adalah untuk merealisir mashalih al-‘ammah (kemaslahatan umum). (Imam as-Syatibi, tt: 6). Karenanya, presiden akan senantiasa merealisir kemaslahatan umum di daerah kekuasaannya agar sejalan dengan maqashisus syari’ah tersebut.
b. Menerapkan Pola hubungan amanah
Presiden yang menjadi penguasa hendaknya sadar bahwa hubungannya dengan rakyat bukanlah antara yang menguasai dan yang dikuasai, melainkan hubungan amanah antara yang diberi amanah (presiden) dan yang memberi amanah (rakyat). (Ahmad Jalaludin, 2007: 223).
mengayomi, dan menjamin hak-hak rakyat. Sebaliknya pola hubungan penguasa dan yang dikuasasi akan cenderung otoriter, sewenangwenang, dzalim, dan kepentingan rakyat sering diabaikan. Karenanya meskipun presiden adalah khalifah Allah, ia tidak otoriter karena memahami pola hubungan amanah ini. c. Memilih Pembantu Yang Baik
Presiden harus memilih para pembantunya dari orang-orang yang baik dan pilihan, baik dari segi integritas personal, akhlak, kompetensi, ketrampilan, wawasan dan loyalitasnya. Hal ini penting karena para pembantu presiden adalah ujung tombak dalam menerjemahkan visi dan misi, program maupun arahannya.
2. Etika Pejabat negara
Seorang pejabat negara hendaknya bijaksana, arif, bersikap mulia, ahli kepamongprajaan, dan cakap mengelola pemerintahan (Moh. Ardani, 1998: 239). Karenanya, ia hendaknya mengedepankan sikap profesional. Sikap profesional ini membutuhkan kinerja positif yang cermat, hati-hati, dan tepat guna. Rasulullah sangat menganjurkan kehati-hatian dan kecermatan dalam melaksanakan tugas, sebagaimana sabda beliau:
هننحقةتصين نصاح مصآندنححاح لحمةعح اذحاة بينحةين هحللا نيحاة
Agar dapat bekerja sebaik mungkin, maka perlu sikap disiplin yang tinggi. Pengertian disiplin adalah sikap taat dan patuh terhadap peraturan dan tata tertib. (Moh. Ardani, 1998: 180). Kedisiplinan adalah kunci dari keteraturan birokrasi dan profesionalisme. Kedisplinan secara normatif tersirat dalam Firman Allah dalam surat An-Nisa' ayat 103 yang mengatur waktu shalat.
(
َىلةع
ة
ت
ت نةَاك
ة
ةةل
ة ص
ن لا
ن
ن إإ
(ا ءاسسنيل :١٠٣ن
ة ِينإمإؤتمملتا
َاابَاتةكإ
َااتُوقمُوتمن
…
["…Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orangorang yang beriman".] (QS. AN-Nisa': 103).
golongan yang beruntung dan bukannya golongan yang rugi, sebagaimana firman Allah:
(
او
رإص
ت عةلت
ەە
(
١
)
رصسﺨ ﻲﻔل ﻥاسنﻼﺍ ﱠﻥإ
(
٢
(
ق ح
ق
ة لتَابإ
اُوتص
ة اُوةتةوة
ت
إ َاح
ة لإَاص
ن لا
اُولممإع
ة وة
اُونممةآة
ن
ة ِيذإلنا
لنإإ
(
٣
اُوتص
ة اُوةتةوة
رإبتص
ن لَابإ
["Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”]. (QS. Al-Ashr: 1-3).
seorang penipu yang dinilai tidak termasuk dalam golongan umat Muhammad yang dirahmati. Sabda Nabi saw:
انيحمة سحيصلحفح انحسيحغح نصمح
["Barangsiapa yang menipu bukanlah golongan kami".] (HR. Imam Tirmidzi). Seorang pejabat negara harus trampil dan kreatif, di mana keduanya. menjadi sarana penunjang. (Moh. Ardani, 1998: 187). Dalam konteks ini birokrat tidak hanya terpola pada sistem dan stagnan terhadap apa yang ada saja, tapi perlu kreatifitas. Kreatifitas ini sangat penting dan perlu diupayakan dalam kerangka melaksanakan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan rakyat. Hanya, perlu diingat seorang birokrat hendaknya tidak bertindak sendiri dan mengacuhkan pimpinan. Tidak koordinasi dan bersikap 'berani' buta. Kreatifitas dan keberanian harus dalam koridor aturan dan selalu koordinasi dengan pimpinan. Di samping itu, birokrat hendaknya menjalankan atau mengamankan kebijakan pimpinan sekaligus menjaga martabatnya.
memikul tangung jawab untuk melindungi rakyat kecil, menjamin keamanaan dan ketentraman mereka, mengajak dan membimbing mereka mematuhi peraturan demi kesejahteraan bersama,dan mengajar mereka cara-cara mencari nafkah dan memperoleh kesejahteraan yang merupakan hak Warga negara. (Moh. Ardani, 1998: 197). Mengenai tanggung jawab ini terdapat landasan normatif yang sangat tegas, yakni sabda Nabi saw:
هةتةييحعةرح نصعح لطوصئنسصمح ععارحلينآنوح ععارحمصكنلينآن
["Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya".]
Seorang birokrat yang membimbing masyarakatnya untuk melakukan kebaikan, maka ia akan senantiasa mendapat pahala kebaikan yang dilaksanakan oleh rakyatnya tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Nabi:
هةلةعةافح رةجصاح لنثصمة هنلحفح رعيصخح ىحلعح ليحدح نصمح
["Barangsiapa yang menunjukkan jalan kebaikan, maka iaberpahala sama dengan pelaku yang ia tunjuki".] (HR. Imam Muslim).
pemerintah dapat diketahui rakyat, serta mau melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai Warga negara yang muaranya pada kesejahteraan rakyat.
Seorang pejabat negara wajib memberantas setiap kejahatan dan penyakit masyarakat, segala ancaman gangguan terhadap negara, serta rela berkorban untuk kejayaan negara. (Moh. Ardani, 1998: 186).
Hendaknya bersyukur pada Tuhan atas ramatnya menjadi birokrat/pejabat. Bersyukur mempunyai implikasi transendent untuk senantiasa memelihara niat awal yang mulia, yakni melindungi rakyat, menjaga keselamatan, ketentraman, dan ketertiban. (Moh. Ardani, 1998: 197). Birokrat hendaklah bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada orang tua atas pangkat dan jabatan yang ia sandang. Di samping itu, seorang birokrat harus senantiasa berdo'a kepada Allah agar selalu diberi taufik dalam melaksanakan tugas dan diberi pertolongan untuk menghindari kejahatan birokrasi dan perilaku negatif (korupsi, penyalahgunaan wewenang [abuse of power], sogok [risywah], dan sebagainya). Do'a ini sangat penting mengingat sabda Nabi:
ةةدحابحعةلصا حينمن ءناعحدينلاح
["Do'a adalah inti ibadah"’] (HR. Imam Tirmidzi).
dalamnya. Demi amar ma'ruf nahi munkar, seorang birokrat harus paham situasi politik dan menggunakannya demi kemaslahatan rakyat. Bahkan dalam situasi tertentu, birokrat diperkenankan melakukan trik atau tipu daya. Harus diakui dalam pemerintahan (politik) tidak lepas dari trik dan tipu daya. Tanpa mengetahui dan melakukan tipu daya, seorang birokrat akan terancam gagal menegakkan kadilan, kebenaran dan memberantas kejahatan. 'Perang' melawan kejahatan, penjegal kebijakan, pemerkosa hak, dan pihak-pihak yang dzalim adalah sebuah kewajiban. Dan semua ini dalam taraf tertentu membutuhkan trik dan tipu daya. Karenanya Nabi saw bersabda:
ةطعحدصخة بنرصححلصاح
["Perang itu tipu daya".] (HR. Imam Bukhari dan Muslim). 3. Etika Warga negara
a. Ta'at kepada kepala negara dan apparatur state di semua tingkatan Ketaatan kepada pemimpin adalah sebuah kewajiban. Hal ini karena pemimpin adalah pemegang kekuasaan yang diberi wewenang rakyat untuk mengurus dan memerintah mereka. Pada pemimpin yang dipilih secara demokratis, ketaatan masyarakat warga terhadap pemimpin adalah sebuah keniscayaan. Dalam konteks ini, ketaatan kepada pemimpin menjadi sebuah kewajiban keagamaan yang mempunyai posisi ketiga setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (Nurcholis Madjid, 2004: 62). Allah secara indah mewajibkan ketaatan rakyat kepada pemimpin dengan menyandingkannya dengan ketaatan Allah dan rasul-Nya. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surat an-Nisa' ayat 59:
(
اتُونممةآ
ن
ة ِيذإلنا
َاهةِييأة
َاِية
.…
(ا ءاسسنيل :٥٩اتُوعمِيط
إ أة
هةلللا
اتُوعمِيط
إ أةوة
ل
ة ُوس
م رنلا
ِيلإوتأموة
["Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul , dan ulil amri di antara kamu,…".] (Qs. An-Nisa': 59).
Namun demikian, ketaatan ini harus dalam hal-hal yang tidak melanggar aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya. Ketika seorang pemimpin sudah menyimpang dari ketentuan Allah dan RasulNya (maksiat), maka tidak ada keharusan rakyat untuk taat kepada pemimpin. Hal ini sebagaimana sabda Nabi:
قةلةاﺨحلصا ةةيحصةعصمح ىفة قةوصلنﺨصمحلصلة ةحعحاطح
ل
["Tidak ada ketaatan kepada (sesama) makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq (Allah)".]
b. Mencintai Negara dan Kepala Negara.
yang berkeadaban dan sejahtera. Karena itu, setiap Warga negara harus mempunyai sikap khusnudzdzan kepada pemerintah.
c. Berani mengkritik Pemerintah
Sebagai konsekuensi negara demokrasi, dalam rangka kecintaan kepada negara dan kepala negara, masyarakat harus berani mengkritik dan memberikan saran kepada pemerintah. Dalam konteks ini para ulama, cendekiawan, akademisi, praktisi, dan bahkan rakyat biasa harus mampu dan berani menyuarakan kebenaran. Mereka harus berani memberikan peringatan bila kepala negara dan aparat birokrasi melanggar rambu-rambu dan aturan agama. Pembiaran terhadap kedzaliman dan pelanggaran adalah tindakan berbahaya yang dicela agama. Sabda Nabi:
Artinya: ["Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ia harus mengubahnya dengan kekuasannya, apabila tidak mampu maka dengan lisannnya, dan apabila tidak mampu dengan hatinya. (yang terkahir) ini merupakan selemah-lemah iman".]