Daftar Isi
BAB I
Fitoplankton 1
BAB II
Zooplankton 20
BAB III
Benthos 28
BAB IV
Nekton 32
BAB V
Morfometri Ikan 41
BAB VI
Non Ikan 46
BAB VII
Fisika, Kimia Perairan 53
BAB 1 Plankton
1.1 DESKRIPSI GENUS FITOPLANKTON MINGGU 1 Nitzschia
Adalah genus diatom tunggal terbesar dan satu dari yang paling umum, dengan spesies yang hidup di lingkungan ekstrim seperti air yang memiliki polutan organic tinggi. Strain Nitzschia sigma hidup di perairan dengan salinitas tinggi di Laut Aral. Nitzschia fonticola menunjukkan adanya reduksi seksualitas dengan produksi “pedogamous” auxospora di gametangia yang tidak berpasangan. Nitzschia longissima memiliki system perkembangbiakan yang heterothallic
Nitzschia sigma Nitzschia fonticola Nitzschia longissima http://www.diatomloir.eu/
Site%20Diatom/ Nitriceratmart.html
http://
westerndiatoms.colorado .edu/taxa/genus/
Nitzschia
http://
www.marinespecies.org/ photogallery.php?
album=4394&pic=39695
Noctiluca sp.
Dinofagellata Noctiluca scintillans secara umum disebut “sea sparkle”, yang mampu “blooming” dan terkadang memproduksi substansi yang berpotensi toksik untuk kehidupan di laut. Noctiluca scintillans memiliki ukuran dapat > 1200µm, dan dapat bercahaya (heterotropic dinofagellataa, dan biasanya berasosiasi dengan “blooming”. Spesies ini dianggap non-toksik, tetapi terkadang memberikan respon terhadap mortalitas ikan dan fauna bentik, berasosiasi dengan anoxia. Memiliki vector fototoksin hingga tingkat tropic yang lebih tinggi dengan memakan mikroalga yang toksigenik
http://www.imas.utas.edu.au/zooplankton/image-key/noctiluca-ukuran sekitar 10 hingga 100 mikrometer panjangnya. Selnya memiliki sel pelindung yang menyolok (disebut thecaa yang mengandung sekitar 20 “plat” yang timbul. Karena adanya plat, Peridinium dapat dikatakan dinofagellata yang berpelindung
www.rbgsyd.nsw.gov.au
Planktoniella sp.
Sel-selnya memiliki bentuk seperti disk dengan struktur organic yang menonjol keluar dari bentukan disk-nya. Ekstruksi organic ini membentuk seperti lingkaran yang memiliki bentuk seperti jarum-jarum yang terhubung pada bagian distal akhir. Memiliki habitat dengan kedalaman 0-470m, rentan temperature 4-29°C, salinitas 32-36 PPS, oksigen 4-7ml/l
Pleurosigma sp.
Berbentuk sigmoid memiliki katup lemah, berbentuk linier-lanceolate, dan bulat. Dengan panjang 170µm, dengan lebar 22µm. bagian axialnya sangat rapat, sigmoid dngan bagian tengah yang elips dan kecil. Bagian axial dan “raphe” berada di tengah bagian katup. Raphe berbentuk fliform, sigmoid dengan bagian akhir proximal luar. Striae melintang memiliki ukuran 23-26 per 10µm.
Pleurosigma.htm
Pyrocystis sp.
Adalah alga bioluminescent besar. Saat malam, sel-selnya memproduksi cahya biru saat digoyangkan atau diganggu (jika diletakkan dalam gelas Erlenmeyera
Rhizosolenia sp.
Bentuk umumnya tubular, dengan panjang dan lebar memiliki perbandingan 20 : 1. Tiap katupnya membentuk jarum dengan berbagai macam panjang dan bentuk. Setiap sel mengandung kloroplas elips yang tidak teratur yang tersebar secara terpisah didalam sel.nukleus terletak biasanya di bagian tengah. Selnya berbentuk panjang atau melengkung dan berdiri sendiri kecuali tumbuh cepat di populasi dimana beberapa sel mungkin terkumpul dalam bentuk paralel.
Skeletonema sp.
termasuk kolam, danau, dan sungai. Dapat beradaptasi dengan baik, mempu bertahan hidup dikondisi ekstrim. Spiruliina ini juga memiliki suplai tinggi karotenoid seperti beta karoten dan xantofl kuning yang termasuk antioksidan. Kaya akan klorofl, asam lemak dan asam nukleat dan juga lemak.
Thalassionema sp.
Memiliki sel yang menempel dengan menggunakan “mucilage” pada akhir dari “stellate” dan atau zig-zag seperti koloni. Memiliki panjang 10-80µm dengan lebar 2-4µm.
http://oceandatacenter.ucsc.edu/PhytoGallery/Diatoms/ thalassionema.html
Thalassiosira sp.
http://westerndiatoms.colorado.edu/taxa/genus/ Thalassiosira
1.2 DESKRIPSI SPESIES MINGGU KE 2 Thalassiothrix sp.
Memiliki sel-sel panjang yang mampu menjadi soliter atau membentuk koloni melingkar. Sel dapat berbentuk lurus, melengkung atau sigmoid dan biasanya secara kuat berpilin. Biasanya sering salah dengan Thalassionema.
Melosira sp
Reproduksi Chaetoceros secara seksual dan aseksual. Sel terhubung dengan rantai pendek terdiri dari duri yang saling menyilang, biasanya terdiri dari 8 duri. Berbentuk silinder, berwarna kuning kecoklatan. Tiap sel terdiri dari 2, ketika dalam fase istirahat muncul spora, spora berbentuk globular.
Gonyaulax sp.
Coscinodiscus sp.
Reproduksi secara seksual dengan spora melalui proses spermatogenesis dan aseksual melalui pembelahan mitosis. sel berbentuk silinder atau datar sedikit cekung. Terdapat banyak kloroplas disekitar katup, biasanya bewarna hijau kekuningan
Ankistrodesmus sp.
1.3 Deskripsi Spesies minggu ke-3 1.Ceratium sp.
2.Peridinium sp.
Peridinium adalah genus besar dari dinofagellata yang berukuran besar hingga berukuran sedang, beberapa memiliki kemampuan fotosintesis, namun tidak semua spesies memiliki kemampuan tersebut. Spesies yang nonphotosyntesis antara lain phagotrofk dan osmotrofk. Spesies terdapat di habitat air tawar maupun air asin diseluruh dunia. Setidaknya beberapa spesies fotosintetik dapat membentuk bloom atau red tide. Beberapa fenomena bloom ini dibarengi dengan bau yang menyengat dan kematian ikan, meskipun blooming yang terparah dihasilkan oleh dinofagellata dari genus lain (Sachlan, 1982a.Spesies fotosintetik dalam genus Peridinium, dan spesies yang masih berkerabat secara genera masih tetap dianggap sebagai spesies peridinium bagi banyak ilmuwan, dan sering digunakan sebagai organisme eksperimental dalam penelitian sel biologis, terutama di bidang memiliki struktur dan fungsi nuklir, ritme circadian, dan endosimbyosis (Sachlan, 1982a Sachlan, M. 1982. Planktonologi. UNDIP: Semarang.
3.Pleurosigma sp.
Nontji, Anugerah. 2008. Plankton Laut. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI a : Jakarta.
4.Skeletonema sp.
Skeletonema merupakan diatom dari golongan centrales, yaitu plankton yang mempunyai bentuk silinder dan sebagian besar hidup di air laut. Diatom sering juga disebut ganggang kersik, karena mempunyai sel yang mengandung silikat. (Djarijah, 1995aDjarijah, Abbas Siregar, (1995a, "Teknologi Tepat Guna : lkan Asin", Kanisius,
Y ogyakarta.
Phytoplankton ini merupakan alga bersel tunggal, dengan ukuran sel berkisar antara 4-15 mikron. Akan tetapi alga ini dapat membentuk untaian rantai yang terdiri dari beberapa sel. Sel yang berbentuk kotak yang terdiri atas epiteka pada bagian atas dan hipoteka pada bagian bawah. Bagian hipoteka mempunyai lubang-lubang yang berpola khas dan indah yang terbuat dari silikon oksida. Pada setiap sel dipenuhi oleh sitoplasma.(Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995a. Isnansetyo Alim dan Kurniastuty (1995a, Teknik Kultur Phytoplankton
Zooplankton. Pakan Alam untuk pembenihan organism laut, Kanisius, Yokyakarta.
Kamat dalam Anonimus (2002a menyatakan Skeletonema memiliki dinding sel yang mengandung frustula yang bisa menghasilkan skeletal external yang berbentuk cembung serta mempunyai duri-duri yang berfungsi untuk menghubungkan antara frustula yang satu dengan yang lainnya sehingga terbentuk famen-flamen yang panjang. Dinding selnya terdiri dari pectin dan silikat sehingga membentuk pigmen yang terdiri dari klorofl, karotein dan frukosantin. Karotein inilah yang menyebabkan dinding sel S. costatum berwarna coklat keemasan.
Skeletonema bereproduksi dengan pembelahan sel, yaitu protoplasma terbagi menjadi dua bagian yang disebut epiteka dan hipoteka, masing-masing dari bagian ini akan membentuk epiteka dan hipoteka baru yang ukurannya lebih kecil dari ukuran induknya (Semeru dan Ana, 1992aSumeru, S.U., dan S. Anna, 1992. Pakan Udang Windu Penaeus monodon. Kanisius. Jakarta. . Lebih lanjut ditambahkan oleh Isnansetyo dan kurniastuty (1995a, pembelahan sel yang berulang-ulang mengakibatkan ukuran sel S. costatum semakin mengecil.
pembentukan autospora. Autospora akan membentuk epiteka dan hipoteka baru yang tumbuh menjadi sel yang ukurannya semakin membesar. Dan setelah itu akan terjadi pembelahan sel sehingga membentuk seperti rantai. Diatomae, Skeletonema sp. merupakan satu jenis yang banyak mendapat perhatian, karena peranannya sebagai makanan beberapa macam biota laut (Praseno & Adnan, 1980; Sutomo, 2002a.
5.Coscinodiscus sp.
Sel Coscinodiscus berbentuk simetri radial(bulata berukuran 100 µ.sel coscinodiscus ini merupakan kels dari Bacillariophyceae.hidup diperairan laut secara soliter.Coscinodiscus theca(epyteca dan hypothecaa. Antara epyheca dan hypoteca dihubungkan oleh pectin,dinding selnya tersusun atas silikal ya ng merupakan pembatas antara kerangka luar bagi sitoplasma,vakoula dan nucleus,Coscinodiscus, sel yang soliter ,cangkang berbentuk segi delapan,memiliki banyak kloroplas,permukaan sel berbentu fat/datar,hidup pada temperature optimum 250C dan salinitas maksimal 36 ‰,mempunyai pola areal berbentuk radial. (Thomas,1997a. Thomas, Angela M. 1997 coaching for staf development. jogjakarta : kanisius
Sujiharno (2002aSudjiharno, 2002. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Departemen kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Budidaya Laut Lampung., diatom memiliki beberapa pigmen warna yakni chlorophyl a, chlorophyl c, karoten diatomin dan fukosantin. Pigmen chlorophyl memiliki peran sebagai katalisator dalam proses fotosintesis sedangkan adanya pigmen karoten dan diatomin menyebabkan dinding sel dari Chaetoceros sp. berwarna cokelat keemasan. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995a bahwa Chaetoceros sp. merupakan diatom yang bersifat eurythermal dan euryhaline.
7. Nitzschia
Adalah genus diatom tunggal terbesar dan satu dari yang paling umum, dengan spesies yang hidup di lingkungan ekstrim seperti air yang memiliki polutan organic tinggi. Strain Nitzschia sigma hidup di perairan dengan salinitas tinggi di Laut Aral. Nitzschia fonticola menunjukkan adanya reduksi seksualitas dengan produksi “pedogamous” auxospora di gametangia yang tidak berpasangan (Trobajo, R., Mann, D.G., Chepurnov, V.A., Clavero, E., Cox, E.J. 2007. Taxonomy, life cycle, and auxosporulation of Nitzschia fonticola (Bacillariophytaa. Journal of Phycology 42: 1353-1372.a. Nitzschia longissima memiliki system perkembangbiakan yang heterothallic (Chepurnov, V.A., Mann, D.G., Sabbe, K., and W. Vyverman. 2004. Experimental studies on sexual reproduction in diatoms. International Review of Cytology 237: 91-154.a
8.Planktoniella sp.
9. Thalassionema sp.
Memiliki sel yang menempel dengan menggunakan “mucilage” pada akhir dari “stellate” dan atau zig-zag seperti koloni. Memiliki panjang 10-80µm dengan lebar 2-4µm (Anonim.____. Thalassionema. Online : http://oceandatacenter.ucsc.edua.
10. Melosira sp.
11. Biddulphia sp.
12. Coscinodiscus radiatus
13. Coscinodiscus lineatus
14. Nitzschia closterium
15. Gonyaulax sp.
1.Ceratium (a
Ocean data Center.2010. Phytoplankton Identifcation Genus Ceratium. diambil dari (online
a:http://oceandatacenter.ucsc.edu/PhytoGallery/Dinofagellates/ceratium.html pada tanggal 5 Juni 2014 pukul 13.05
(Ocean Data Center,2010a
Berbentuk baju zirah (armoreda Sel kecil sampai besar lebih dari 1mm.Tubuh gonyaulacoid dengan 2 sampa 4 tanduk berongga,tanduk terbuka atau tertutup.Tubh bagian tengah agak pipih dorsoventral pipih .Permukaan halus dengan pori sangat berbentuk anyaman.Memiliki kloroplas.Ukuran tubuh lebar = 5-50um, panjang =70-500um. Distribusi Ceratium yaitu Cosmopolitan, neritic, cold and warm waters. Tomas,Carmelo R..1997.Identifying Marine Phytoplankton.Academic Press.California
Tomas,Carmelo R..1997.Identifying Marine Phytoplankton.Academic Press.California Tabel 1.1
1 Ankistrodesmus sp. Ankistrodesmaceae 207 8398056.24 0.20
2 Biddulphia sp. Biddulphiaceae 2 81140.64 0.00
3 Ceratium sp. Ceratiaceae 16 649125.12 0.02
4 Chaetoceros sp1 Chaetocerotaceae 13139 533053434.48 12.69 5 Coscinodiscus sp. Coscinodiscaceae 281 11400259.92 0.27
6 Gonyaulax sp. Gonyaulacaceae 19 770836.08 0.02
Description
Gonyaulax merupakan ftoplankton dengan sel berbentuk baju zirah (armoreda yang dilingkupi in thecal plates. Genus ini memiliki dua alur yang berbeda ketika Gonyaulax hidup yaitu letak fagella . Cingulum berjalan sekitar sel tubuh, dengan sulkus mengalir vertikal dari cingulum bawah hypotheca tersebut. Beberapa spesies mengerluarkan toksin. (SAHFOS,2010a
Sir Alister Hardy Foundation For Ocean Science.2010. Chaetoceros(Phaeceros)
diambil dari (Online a:
http://www.sahfos.ac.uk/taxonomy/phytoplankton/dinofagellates/gonyaulax-.aspx pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014 pukul 14.00
(Ocean Data Center2010,a
Ocean data Center. 2010.Phytoplankton Identifcation Genus Ceratium. diambil dari (online
a:http://oceandatacenter.ucsc.edu/PhytoGallery/Dinofagellates/ceratium.html pada tanggal 5 Juni 2014 pukul 13.05
Chaetoceros
Sir Alister Hardy Foundation For Ocean Science(SAHFOSa.2010. Chaetoceros(Phaeceros) diambil dari (Online a: http: //www.sahfos.ac.uk/taxonomy/ phytoplankton/dinofagellates/ceratium-tripos.aspx pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014 pukul 14.00
(Ocean Data Center,2010a
1.4 Deskripsi tiap genus ftoplankton MINGGU KE 4 1. Anabaena
Bersel satu, berbentuk benang(flamena, pada umumnya tidak bergerak,berbentuk koloni bola lendir yang salingmenempel sehingga membentuk flamenlingkaran tunggal seperti rantai kalung (Edmonson, 1959a.
2. Asterionella
Memiliki cangkang berbentuksegitiga dan terkadang segi empat, dengan tepi rata atauagak cekung.Ujungnya sedikitlancip,bulat,dipisahkandari bagian tengaholehcostaeatau tulang rusuk(Guiry, 2014a.
4. Ceratium
Spesies ini memilikibentuk sel yang lurusdengan70-200pMpanjang dan30-50pMlebar, denganepithecameruncingpada bagian anterior. Ceratiumini memilikiduriyang panjangdenganselulosatebal. Sel-selnyahampirdatar, dengan sisicekungventraldan sisidorsalcembung (Hansen, 1992a.
5. Chaetoceros
Memiliki bentuk tubuh bulat dengan ukuran tubuh yang sangat kecil yakni berkisar antara 4 – 6 mikron, ada yang berbentuk segi empat dengan ukuran 8-12 x 7-18 mikron. Sama seperti diatom pada umumnya, Chaetoceros sp. memiliki dinding sel yang dibentuk dari silica. Bahwa pada setiap sel Chaetoceros sp. dipenuhi oleh cytoplasma. Menurut stransky (1970a dalam Haryati (1980a dan Sujiharno (2002a, diatom memiliki beberapa pigmen warna yakni chlorophyl a, chlorophyl c, karoten diatomin dan fukosantin. Pigmen chlorophyl memiliki peran sebagai katalisator dalam proses fotosintesis sedangkan adanya pigmen karoten dan diatomin menyebabkan dinding sel dari Chaetoceros sp. berwarna cokelat keemasan. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995a bahwa Chaetoceros sp. merupakan diatom yang bersifat eurythermal dan euryhaline.
Habitat
Daerah penyebarannya meliputi muara sungai, pantai dan laut pada daerah tropis dan subtropis. Diatom ini dapat hidup pada kisaran suhu yang tinggi, pada suhu air 400˚C ftoplankton ini masih dapat bertahan hidup namun tidak berkembang. Pertumbuhan optimumnya memerlukan suhu pada kisaran antara 25 - 300C.salinitas optimal untuk pertumbuhan optimal dariChaetoceros sp. adalah 17 - 25 ‰.
6. Coscodinoscus
panjang.Memiliki kloroplasyang kecilnamun jumlahnya sangatbanyak (Gran, 1931a.
7. Melosira
Genusini memilikistrukturloculatekhas denganpori-porikecil. Memiliki mantelyang menonjoldancincinmarjinalrimorportulaedi tepi.Selnyajugaberkoloni membentuk rantaiyangberlendiratau struktursilicousterletakdekat pusatkatup(Crawford, 1979a
8. Nitzschia
Nitzschia kebanyakan ditemukan di perairan dingin. Nitzschia mencakup beberapaspesiesdiatom yang diketahui menghasilkan neurotoxin dikenal sebagai asam domoic, racunyang bertanggung jawab untuk penyakit manusia yang disebut keracunan kerangamnesia. Spesies N.frigida ditemukan tumbuh dengan pesat bahkan pada suhu antara-4dan-6 derajat Celcius. Beberapa spesies Nitzchi ajuga extremophiles yakni toleransi terhadap salinitas tinggi; misalnya, beberapa spesies halophile dari Nitzchia ditemukan diMakga dikga diPans diBotswana (Aletsee, 1992a.
9. Merismopedia
10.Peridinium
Peridinium adalah genusdinofagellatayang motil dan hidup di laut serta air tawar.Morfologimerekadianggapkhas daridinofagellatesyang memiliki lapis baja. UkuranPeridiniumdapat berkisar30-70pM diameter, danmemilikitechae yang sangat tebal (Lee, 2008a.
11.Pinnularia
Pinnularia merupakan kelompok diatom yang hidup di laut dan air tawar, yang ditemukan melimpah di perairan yang sedikit asam dan sedikit nutrien. Pinnulariamemiliki pennatekhas, yaitumemanjang danbilateralsimetrisbila dilihat dari atas(Spaulding, 2009a.
12.Rhizosolenia
Hidup dalam laut, merupakan salah satu penyusun plankton. Memiliki alur yang memusat (centrala pada permukaan cawannya. Hal ini berkaitan dengan cara hidupnya yakni supaya memudahkan untuk melayang di dalam air, terdapat alat-alat melayang yang berupa duri atau sayap, atau dengan perantaraan lender. Perkembangbiakannya dapat membelah diri, oogami, serta pembentukan auksospora.
13.Stephanodiscus
14.Thalassionema
BAB 2
ZOOPLANKTON
Zooplankton merupakan konsumen pertama dalam sistem rantai
makanan perairan dan bersama dengan ftoplankton, zooplankton juga
merupakan salah satu organisme perairan yang dapat dijadikan sebagai
bioindikator mengenai kualitas perairan pada suatu kawasan tertantu. Selain
sebagai konsumen, sebagian besar zooplankton juga menjadi makanan bagi
konsumen ditingkat trofk yang lebih tinggi. Zooplankton merupakan hewan
yang sangat berperan penting dalam ekosistem lautan dan merupakan kunci
utama dalam transver energi dari produsen utama ke konsumen pada
tingkat pertama dalam tropik ekologi. Zooplankton berguna dalam
regenerasi nitrogen di lautan dengan proses penguraiannya sehingga
berguna bagi bakteri dan ftoplankton dilaut. Peranannya yang tidak kalah
penting adalah memfasilitasi penyerapan karbon dioksida disuatu perairan.
Oleh karena itu zooplankton memegang peranan dalam pendistribusian CO
2pada saat ftoplankton melakukan fotosintesis. Zooplankton memegang
peranan penting dalam jaring jaring makanan di perairan yaitu dengan
memanfaatkan nutrient melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh
ftoplankton. Hal ini juga berpengaruh terhadap komposisi jenis zooplankton
yang dimana apabila tingkat melimpahnya ftoplankton disuatu perairan
maka dapat disimpulkan bahwa daerah perairan tersebut terdapat
zooplanktonnya (Ernawati, 2008a.
Zooplankton ini mendiami seluruh lapisan perairan sampai yang
terlihat, dimana alat pengambil sampel plankton dapat mengambilnya.
Mereka tersebar luas mulai dari sungai sapai kelaut terbuka. Namun pola
sebaran dan komposisi zooplankton berbeda beda menurut lingkungan
perairan tempat hidup mereka. Diperairan yang mempunyai salinitas rendah
terdapat beranekaragam meroplankton atau plankton larva terdapat dalam
air tersebut Bahkan mendominasi perairan zooplankton (Raymon,1983a.
yang terdapat pada parairan air tawar tidak jauh berbeda dengan perairan
air asin. Zooplankton yang terdapat pada air tawar sangatlah bervariasi
mulai dari kelas arthropoda dan rotifera. Yang paling banyak ditemui
diperairan air tawar yaitu kelas rotifera hal ini dikarenakan rotifera
merupakan konsumer, ada yang merupakan herbivora maupun
karnivora ,distribusinyapun meluas secara kosmopolit. Hal ini yang menjadi
acuan untuk mengetahui apa penyebab kelimpahan serta komposisi dari
zooplankton pada perairan air tawar (Raymon,1983a.
Zooplankton memiliki kisaran toleransi terhadap lingkungan
berbeda-beda. Menurut (Fachrul, 2007a komponen lingkungan, baik yang hidup atau
biotik maupun yang mati atau abiotik mempengaruhi kelimpahan dan
keanekaragaman biota air yang ada pada suatu perairan, sehingga tingginya
kelimpahan individu tiap jenis dapat dipakai untuk menilai kualitas suatu
perairan. Perairan yang berkualitas baik biasanya memiliki keanekaragaman
jenis yang tinggi dan sebaliknya pada perairan yang buruk atau tercemar.
Menurut Fachrul (2007a, Indeks keanekaragaman (H’a menggambarkan
keadaaan populasi organisme secara matematis agar mempermudah dalam
menganalisis informasi jumlah individu masing-masing jenis pada suatu
komunitas. Menghitung nilai keanekaragaman jenis digunakan Indeks
Shannon-Wiener sebagai berikut:
H
'=−
∑ pi
ln
pi
Keterangan :
H’ = Indeks Shannon Wiener
ni = Jumlah Individu untuk setiap jenis
N = Jumlah total individu
Dimana
pi
=
N
¿
(pi = perbandingan antara jumlah jenis ke-i dengan
jumlah total individua
Kategori penilaian tingkat keanekaragaman jenis berdasarkan Indeks
Keanekaragaman Shanon Wiener (Fachrul, 2007a adalah sebagai berikut:
- H’ < 1,0
= Keanekaragaman sangat rendah(tercemar berata
- 1,0 ≤ H’ ≤ 1,59
= Keanekaragaman rendah(tercemar sedanga
- 1,6 ≤ H’ ≤ 2,0
= Keanekaragaman sedang(tercemar ringana
- H’ > 2,0
= Keanekaragaman tinggi (tidak tercemara.
Menurut sumber lainnya, keanekaragaman jenis berdasarkan Indeks
Keanekaragaman Shanon Wiener dapat dikategorikan sebagai berikut:
Peng
amatan
zooplankton dilakukan selama 4 minggu dengan 1 kali pengamatan setiap
minggunya. Adapun data yang diperoleh antara lain jumlah spesies, jumlah
individu, dan tingkat keanekaragaman. Berikut tabel yang menunjukan data
kelimpahan dan keanekaragaman zooplankton menurut Indeks
Shannon-Wiener.
Tabel 2.2. Data zooplankton pada lokasi sampling selama 4 minggu
Spesies
I
II
III
IV Ordo
Jumlah
Individ
Branchinecta
sp.
11
Anostraca
1
1
Calanoid
sp
1.
33
34
Calanoida
857
16
Calanoid
sp
2.
22
1
65
Calanoida
Calanoid
sp 3.
52
19
Calanoida
Calanoid
sp 4.
3
Calanoida
Calanus simillimus
29
Calanoida
Copepod Calanoida
21 8
Calanoida
Nilai tolak ukur
Keterangan
H' < 1,0
Keanekaragaman
rendah,
miskin, produktivitas sangat
rendah sebagai indikasi
adanya tekanan yang berat
dan ekosistem tidak stabil.
1,0 < H' < 3,32
Keanekaragaman
sedang,
produktivitas cukup, kondisi
ekosistem cukup seimbang,
tekanan ekologis sedang.
H' > 3,22
Keankaragaman
tinggi,
Larva
Aurelia
21
Semaeostomeae
21
1
Larva ikan
1
79 8
ichthyoplankton
88
1
Larva
Polychaeta
4
33
Polychaeta
Larva Ubur-ubur
61
Cnidaria (fluma
61
1
Lucifer
sp.
30
5
3
8
Decapoda
316
1
Larva
Bivalvia
61 29 13
4
2
Bivalvia (kelasa
145
1
Larva
Gastropoda
14 2
2
Gastropoda
(kelasa
18
1
Nebalia
sp.
2
Nebalicea
2
1
Nematoda
41
Nematoda (fluma 41
1
Tintinnopsis
sp 1.
6
Choreotrichida
6
1
unknown
sp 1.
36
Unknown
36
1
Larva bivalvia ditemukan
disetiap minggu pengambilan
sampling yakni minggu
pertama, kedua, ketiga dan
keempat. Bivalvia penyusun
sejumlah
besar
larva
planktotrophic
Grafik 2.1. Dinamika nilai H’ pada lokasi sampling
pelagis yang menghabiskan beberapa minggu di kolong air sebelum
menetap. Ketersediaan pangan merupakan salah satu faktor utama yang
dapat mempengaruhi perkembangan larva dan selanjutnya akan menjadi
juvenile
. Bahkan, meskipun larva bivalvia mampu bertahan beberapa hari
tanpa makanan (Bayne 1965a, mereka masih perlu makan cukup untuk
mengakumulasi lipid cadangan energi yang diperlukan untuk metamorfosis.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Gallagher et al. (1986a, kelangsungan
hidup larva yang tinggi selalu dikaitkan dengan kadar lemak tinggi. Tingkat
pertumbuhan larva berhubungan dengan konsentrasi alga. Dimana larva
tergantung pada kualitas nutrisi dari sel-sel alga (Bayne 1965, Pechenick et
al. 1990a. Larva bivalvia mampu menyesuaikan posisi vertical dalam kolom
air dengan berenang (Bayne 1976a.
coregoni Diplostraca 0 5.33 0 0 0 0.16 0 0
Cyclops
abyssorum Cyclopoida 0
10.8
5 0 0 0 0.24 0 0
Cyclops
strennus Cyclopoida 0 0.59 0 0 0 0.03 0 0
Daphnia
hyalina Diplostraca 0 0.20 0 0 0 0.01 0 0
Daphnia
sp.
Diplostraca 0 0 7.91 0 0 0 0.20siciloides Calanoida 0 3.16 0 0 0 0.11 0 0
Ephischurala
gibberum Diplostraca 0 0.20 0 0 0 0.01 0 0
Larva
Arthropoda Arthropoda 0 0 0 0.79 0 0 0 0.04
Larva Aurelia Semaeostom
eae 2.89 0 0 0 0.10 0 0 0
Larva Bivalvia Bivalvia
(fluma
Oithonidae Cyclopoida 0 0 0 1.58 0 0 0 0.07
Paracalanos
pediculus Cladocera 0 2.37 0 0 0 0.09 0 0
Pseudocalano s sp.
Pseudocalani
dae (familia 0 1.38 0 0 0 0.06 0 0
Senecella
calanides Calanoida 0 1.97 0 0 0 0.08 0 0
Udang kecil
Crustaceae
0 0 12.9yang paling mendominasi yaitu Lucifer sp. Pada
Lucifer
sp ini memiliki data
kelimpahannya sebanyak 42%. Untuk nilai kelimpahan, minggu pertama
didapatkan nilai 1,56 yang dapat dikategorikan keanekaragaman
zooplankton pada minggu pertama adalah sedang menurut Restu (2002a,
dengan spesies mendominasi adalah
Lucifer
sp. sebesar 0,36.
Lucifer
satu jam. Hal ini dapat mempengaruhi jumlah plankton yang terbawa oleh
air laut. Gelombang pasang surut yang singkat hanya membawa sedikit
organisme plankton. Salinitas berkisar 27-31‰, dimana masih dalam batas
normal untuk kadar salinitas perairan laut. Kecerahan sekitar 20-47 cm,
sehingga ftoplankton sebagai produsen utama perairan masih dapat
melakukan fotosintesis dengan baik. Ini berdampak pada rantai makanan
selanjutnya, dimana zooplankton merupakan salah satu konsumen pertama
dari rantai tersebut. Nilai pH tergolong netral, 7-8, organisme dapat
melakukan metabolisme optimal pada nilai pH tersebut. Keanekaragaman
sedang dapat menunjukkan bahwa produktivitas cukup, kondisi ekosistem
cukup seimbang, tekanan ekologis sedang (Restu, 2002a.
Pada minggu kedua, nilai indeks keanekaragaman sebesar 2,47
sedangkan minggu ketiga memiliki nilai indeks keanekaragaman sebesar
1,85, dan pada minggu keempat sebesar 2,30. Pada minggu kedua, ketiga
maupun keempat berada kriteria sama seperti minggu kesatu, yaitu kisaran
1,0 < H' < 3,32. Hal ini berarti nilai dari keempat minggu adalah sama
dimana memiliki tingkat keankaragaman yang sedang, dan memiliki
produktivitas yang cukup, kondisi ekosistemnya cukup seimbang serta
tekanan ekologisnya juga sedang. Keanekaragaman rendah merupakan
kondisi dengan lingkungan habitat yang miskin nutrisi, produktivitas sangat
rendah sebagai indikasi adanya tekanan yang berat dan ekosistem tidak
stabil. Sedangkan untuk kriteria lingkungan dengan keanekaragaman tinggi
yaitu, stabilitas ekosistem mantap, produktivitas tinggi, tahan terhadap
tekanan ekologis (Restu, 2002a.
Komunitas biotik merupakan kumpulan dari populasi yang hidup dalam
daerah tertentu serta mempunyai hubungan timbal balik. Di dalam
komunitas jenis-jenis yang mengendalikan komunitas merupakan jenis yang
dominan. Hilangnya jenis -jenis dominan akan menimbulkan
perubahan-perubahan penting (Odum,1992a.
Pada minggu kedua diketahui bahwa spesies
Diaptomus gracilis
mendominasi dengan nilai dominansi sebesar 24,46%,
Diaptomus gracilis
ter
masuk kedalam taksa Copepoda. Menurut Meadows and Campbell (1993a;
Sachlan (1982a, bahwa dalam ekosistem perairan,
Copepoda
merupakan
zooplankton yang dominan, dengan populasi dapat mencapai 70 – 90%.
Pada penelitian ini, kehadiran tertinggi species dari ordo Copepoda
mencapai 34,83% pada pengamatan minggu ketiga. Sementara pada
minggu keempat
Brachionus
sp.2 mendominasi dengan persentase sebesar
29,64%,
Brachionus
merupakan salah satu Rotifers. Rotifers merupkan salah
satu petunjuk adanya eutrophikasi yang terjadi pada lingkungan perairan.
Tabel 2.3 Nilai indeks keanekaragaman zooplankton di perairan tercemar
(Lee et al, 1978a.
H
Kriteria
H >
2,0
Tidak tercemar
1,5-2,0
Tercemar ringan
1,0-1,5
Tercemar sedang
H <
1,0
Tercemar berat
Pencemaran air dapat dikorelasikan dengan rendah atau tingginya
indeks kenaekaragaman zooplankton. Berdasarkan Klasifkasi derajat
pencemaran air berdasarkan indeks diversitas komunitas zooplankton. Pada
minggu pertama nilai indeks keanekaragaman adalah 1,56. Nilai 1,56 masuk
pada kriteria 1,5-2,0, sehingga dapat dikatakan bahwa pada minggu
pertama termasuk kriteria pencemaran tercemar ringan. Pada minggu kedua
nilai indeks keanekaragaman adalah 2,47. Nilai 2,47 masuk pada kriteria H >
2,0, sehingga dapat dikatakan bahwa pada minggu kedua termasuk kriteria
tidak tercemar. Pada minggu keempat, nilai indeks keanekaragaman adalah
1,57. Nilai 1,57 masuk pada kriteria 1,5-2,0, sehingga dapat dikatakan
bahwa minggu ketiga termasuk kriteria tercemar ringan. Pada minggu
keempat nilai indeks keanekaragaman adalah 2,30. Nilai 2,30 masuk pada
kriteria H > 2,0, sehingga dapat dikatakan bahwa pada minggu kedua
termasuk kriteria tidak tercemar. Dari keempat data di atas dapat
disimpulkan bahwa kondisi pencemaran air pada perairan tersebut adalah
ringan karena karena nilai keanekargamannya sedang (Lee et al, 1978a.
BAB III MAKROBENTIK
tergantung kepada kepekaan/ toleransinya terhadap perubahan lingkungan. Setiap komunitas memberikan respon terhadap perubahan kualitas habitat dengan cara penyesuaian diri pada struktur komunitas. Dalam lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan kemelimpahan makroinvertebrata air relatif tetap (Apha, 1992a.
Bentos sering digunakan sebagai indikator atau petunjuk kualitas air. Suatu perairan yang sehat (belum tercemara akan menunjukkan jumlah individu yang seimbang dari hampir semua spesies yang ada. Sebaliknya suatu perairan tercemar, penyebaran jumlah individu tidak merata dan cenderung ada spesies yang mendominasi (Odum, 1994a. Dalam penilaian kualitas perairan, pengukuran keanekaragaman jenis organisme sering lebih baik daripada pengukuran bahan-bahan organik secara langsung. Odum (1994a menjelaskan bahwa komponen biotik dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fsik, kimia dan biologi suatu perairan. Salah satu biota yang dapat digunakan sebagai parameter biologi dalam menentukan kondisi suatu perairan adalah makrozoobentos.
Makrozoobentos sering dipakai untuk menduga ketidakseimbangan lingkungan fsik, kimia dan biologi perairan. Perairan yang tercemar akan mempengaruhi kelangsungan hidup organisme makrozoobentos karena makrozoobentos merupakan biota air yang mudah terpengaruh oleh adanya bahan pencemar, baik bahan pencemar kimia maupun fsik (Odum, 1994a. Hal ini disebabkan makrozoobentos pada umumnya tidak dapat bergerak dengan cepat dan habitatnya di dasar yang umumnya adalah tempat bahan tercemar. Menurut Marsaulina (1994a, perubahan sifat substrat dan penambahan pencemaran akan berpengaruh terhadap kemelimpahan dan keanekaragamannya.
Makrozoobentos umumnya sangat peka terhadap perubahan lingkungan perairan yang ditempatinya, karena itulah makroinvertebrata ini sering dijadikan sebagai indikator ekologi di suatu perairan dikarenakan cara hidup, ukuran tubuh, dan perbedaan kisaran toleransi di antara spesies di dalam lingkungan perairan. Kelimpahan dan keanekaragaman ini sangat bergantung pada toleransi dan sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan (Sinaga, 2009a.
Alasan pemilihan makrozoobentos sebagai indikator ekologi menurut Wargadinata (1995a adalah sebagai berikut:
a. Mobilitas terbatas sehingga memudahkan dalam pengambilan sampel. b. Ukuran tubuh relatif besar sehingga memudahkan untuk identifkasi.
c. Hidup di dasar perairan, relatif diam sehingga secara terus menerus terdedah (exposeda oleh air sekitarnya.
d. Pendedahan yang terus menerus mengakibatkan makrozoobentos dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.
Kisaran toleransi dari makrozoobentos terhadap lingkungan berbeda-beda (Marsaulina, 1994a. Komponen lingkungan, baik yang hidup (biotika maupun yang mati (abiotika mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman biota air yang ada pada suatu perairan, sehingga tingginya kelimpahan individu tiap jenis dapat dipakai untuk menilai kualitas suatu perairan. Perairan yang berkualitas baik biasanya memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi dan sebaliknya pada perairan yang buruk atau tercemar (Fachrul, 2007a.
memberikan tanggapan yang berbeda terhadap berbagai kandungan bahan organik, sedangkan kelemahannya adalah karena penyebarannya mengelompok dipengaruhi oleh faktor hidrologis seperti arus dan kondisi substrat dasar.
Menurut Fachrul (2007a, Indeks keanekaragaman (H’a menggambarkan keadaaan populasi organisme secara matematis agar mempermudah dalam menganalisis informasi jumlah individu masing-masing jenis pada suatu komunitas. Menghitung nilai keanekaragaman jenis digunakan Indeks Shannon-Wiener sebagai berikut:
H
'=−
∑ pi
ln
pi
Keterangan : H’ = Indeks Shannon Wiener ni = Jumlah Individu untuk setiap jenis N = Jumlah total individu
Dimana
pi
=
N
¿
(pi = perbandingan antara jumlah jenis ke-i dengan jumlah total individuaKategori penilaian tingkat keanekaragaman jenis berdasarkan Indeks Keanekaragaman Shanon Wiener (Fachrul, 2007a adalah sebagai berikut:
-
H’ < 1,0 = Keanekaragaman sangat rendah (tercemar berata-
1,0 ≤ H’ ≤ 1,59 = Keanekaragaman rendah (tercemar sedanga-
1,6 ≤ H’ ≤ 2,0 = Keanekaragaman sedang (tercemar ringana-
H’ > 2,0 = Keanekaragaman tinggi (tidak tercemara.Pengamatan makrobentik dilakukan selama 4 minggu dengan 1 kali
makrobenthos berkisar antara 25-31oC (Sukarno, 1981a. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5 (Efendi, 2000a, sedangkan nilai pH <5 dan >9 dapat menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi kebanyakan organisme makrobenthos (Hynes, 1978a. Penurunan signifkan jumlah individu yang pada minggu keempat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang optimum. Adapun kondisi lingkungan pada minggu keempat memiliki suhu sekitar 30,7-34,4oC, pH 7-8, dan kecerahan sekitar 40-50. Rata-rata jumlah individu yang ditemukan selama 4 minggu adalah 22 individu. Rendahnya jumlah individu yang ditemukan dapat dikarenakan kondisi lingkungan yang kurang optimum dan telah tercemar. Hal ini dikarenakan daerah pesisir atau daerah pantai tempat tinggal makrobhentos dijadikan tempat rekreasi yang menjadikan mudah terkena pencemaran akibat aktivitas manusia sehingga dapat mengancam kelestarian dan jumlah penurunan makrobentos (putri,2012a. selain itu tempat tinggal makrobhentos tercemar oleh logam berat jenis Cadmium lebih dari ambang batas (wijayanti,2010a. Banyaknya bahan pencemar dapat memberikan dua pengaruh terhadap organisme perairan, terutama terhadap makrozoobenthos, yaitu membunuh spesies tertentu dan sebaliknya dapat mendukung perkembangan spesies lain. Jadi, jika air tercemar ada kemungkinan terjadi pergeseran dari jumlah yang banyak dengan populasi yang sedang menjadi populasi yang sedikit tetapi populasinya tinggi. Oleh karena itu, penurunan dalam keanekaragaman spesies dapat juga dianggap sebagai suatu pencemaran (Sastrawijaya, 1991a. Menurut Wardhana (2004a, indicator lain bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati antaralain: adanya perubahan suhu air, adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen,adanya perubahan warna, bau dan rasa air,timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut,adanya mikroorganisme dan meningkatnya radioaktivitas air lingkungan.
Tabel 3.1 Nilai total indeks Keanekaragaman H’
Minggu ke- H
1 0,896541
2 1,24
3 2,05
4 1,14
Tabel 3.2 Nilai tolak ukur indeks keanekaragaman (Restu, 2002a Nilai tolak ukur Keterangan
1,0 < H' < 3,322 Keanekaragaman sedang, produktivitas cukup, kondisi ekosistem cukup seimbang,
H' > 3,22 Keankaragaman tinggi, stabilitas ekosistem mantap, produktivitas tinggi, tahan terhadap tekanan
ekologis
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa, pada minggu ke satu nilai indeks keankeragaman di Pantai Kenjeran adalah 0,896541 dengan ditemukannya empat spesies yaitu, Charybdis annulata, Penaeus sp, Oratosquilla oratoria, dan Portunus pelagicus. Nilai indeks keanekaragaman pada minggu kesatu adalah 0,896541 sehingga masuk pada kriteria < 1,0. Menurut Restu (2002a nilai indeks keanekaragaman < 1,0 artinya tngkat Keanekaragaman rendah, miskn, produktivitas sangat rendah sebagai indikasi adanya tekanan yang berat dan ekosistem tidak stabil. Pada mnggu kedua nila indeks keanekaragaman nya adalah 1,24 dengan ditemukannya spesies Murex sp, Lophiotoma sp, Dosia insularum, dan Paphia undulata sehingga tergolong dalam kriteria 1,0 < H' < 3,322, begitu juga pada minggu ketiga yang nilai keanekaragamannya adalah 2,05 dengan macam macam spesies yang ditemukan adalah Murex sp, Charybdis afnis, Charybdis feriatus, Lophiotoma acuta, Penaeus vannamei, Penaeus sp, Oratosquilla oratoria, dan Portunus pelagicus dan pada minggu ketiga nilai indeks keanekaragamannya adalah 1,14 dengan ditemukannya spesies Murex sp, Charybdis afnis, Charybdis feriatus, Lophiotoma acuta. Dari nilai indeks keanekaragamn tersebut dapat dinyatakan bahwa pada minggu kedua, minggu ketiga, dan minggu keempat nilai keanekaragamannya tergolong dalam kritria 1,0 < H' < 3,322. Menurut Restu (2002a menyatakan bahwa nilai indeks keanekaragaman 1,0 < H' < 3,322 menyatakan bahwa Keanekaragaman sedang, produktivitas cukup, kondisi ekosistem cukup seimbang, tekanan ekologis sedang.
Tabel 3.3 Nilai indeks keanekaragaman benthos di perairan tercemar (Sastrawijaya, 1991a.
H Kriteria
> 2,0 Tidak tercemar 1,6-2,0 Tercemar ringan 1,0-2,0 Tercemar sedang
< 1,0 Tercemar berat
Gambar 4.1 Diagram Jumlah ikan (%a berdasarkan Famili
adalah 1,24 dan pada minggu ketiga nilai indeks keanekaragaman nya adalah 1,14 sehingga masuk dalam kriteria 1,0-2,0, sehingga minggu kedua dan keempat tergolong tercemar sedang, dan pada minggu kedua nilai indeks keanekaragam nya adalah 2,05 yang tergolong kriteria > 2,0, sehingga tergolong tidak tercemar. Dari keempat data di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi Pencemaran air di Pantai Kenjeran tergolong tercemar sedang karna nilai keanekaragamannya rendah (Sastrawijaya, 1991a.
BAB IV NEKTON 4.1 Komposisi Jenis Nekton
Hasil pengamatan yang dilakukan selama 4 minggu ditemukan 18 jenis ikan dari 13 famili. Jenis-jenis tersebut antara lain Arothron stellatus dan Lagocephalus lunaris dari famili Tetraodontidae, Johnius vogleri dan Johnius sp. (famili Sciaenidaea, Eleutheronema rhadinum, Polynemus heptadactyllus, dan Eleutheronema sp. (famili Polynemidaea, Drepane longimana (famili Drepanidaea, Paraplagusia bilineata (Cygnoglossidae), Scatophagus argus (Schatopagidaea, Secutor ruconius dan Leiognathus sp. (Leiognathidaea, Seripinna melanochir (famili Engraulidaea, Terapon jarbua (Terapontidaea, Triacanthus nieuhof (Triacanthidaea, Lutjanus russeli (Lutjanidaea, Ambassis sp. (famili Ambassidaea, dan jenis Channa
Secara keseluruhan, Triacanthidae merupakan famili dengan jumlah ikan yang terbanyak yaitu sebesar 44 % atau 195 ekor dari 1 spesies yang ditemukan yaitu Triacanthus nieuhofi yang ditemukan sebanyak 195 ekor dalam 4 kali pengamatan sehingga dapat dikatakan bahwa jenis ikan ini merupakan jenis ikan yang kosmopolit. Ikan ini banyak ditemukan karena pantai Kenjeran merupakan pantai yang memiliki jenis substrat berlumpur. Menurut Matsuura (2008a, jenis Triacanthus nieuhofi banyak ditemukan di perairan Indonesia hingga ke wilayah barat laut Australia. Panjang total tubuh dapat mencapai 28 cm dan memiliki habitat pantai yang bersubstrat pasir hingga berlumpur. Kebanyakan memakan invertebrata bentik. Ikan ini merupakan jenis ikan yang umum diperjualbelikan atau bernilai ekonomi. Famili yang ditemukan terbanyak kedua adalah Famili Leiognathidae yaitu total sebanyak 14% atau 62 ekor yang didominasi oleh spesies Leiognathus sp. yang diperoleh sebanyak 60 ekor. Namun, spesies ini hanya ditemukan pada minggu ke-1 dan ke-2. Spesies ini hidup di dasar perairan dalam jumlah besar dan biasanya membentuk gerombolan. Kebiasannya mencari makan di dasar perairan berupa detritus atau berbagai hewan dan tumbuhan kecil (Nontji, 1987 dalam Allo, 1998a. Tidak dijumpainya spesies ini pada minggu k-3 dan ke-4 kemungkinan dikarenakan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan. Mengingat ikan ini hidupnya menggerombol, jadi mudah untuk tertangkap dalam jumlah banyak. Menurut Nugroho (2006a, operasi penangkapan ikan dengan kapal pukat (trawla, trammel net ataupun bagan bisa memperoleh ikan pepetek (Leioghnatus sp.a dalam jumlah yang besar.
Jumlah famili terbanyak yang ditemukan selanjutnya adalah Drepanidae, yaitu sebanyak 13% dengan total sebanyak 56 spesies dimana semuanya adalah Drepane longimana. Spesies ini ditemukan pada minggu ke-3 dan ke-4. Spesies ini dapat hidup pada berbagai habitat perairan pantai, seperti dasar yang berlumpur atau berpasir, terumbu, dan muara. Oleh karena itu, ikan ini juga banyak terdapat di pantai Kenjeran. Famili selanjutnya yaitu Sciaenidae sebanyak 10%. Famili ini didominasi oleh Johnius sp. yang ditemukan pada minggu ke-1 dan 2 dengan jumlah total sebanyak 37 spesies. Johnius sp. dikelompokkan dalam sumberdaya ikan demersal. Ikan ini bukan merupakan sasaran penangkapan utama dari alat tangkap trammel net, gill net dan arad (by catch). Ikan ini tidak ditemukan pada minggu ke-3 dan ke-4. Menurut Saputra, dkk (2008a, penurunan stok Johnius sp. di alam dapat disebabkan oleh jumlah ikan yang ditangkap melebihi potensi lestarinya atau karena ikan yang tertangkap didominasi oleh ikan yang matang gonad sehingga dapat mengakibatkan recruitment fshing. Apabila ikan yang tertangkap didominasi oleh ikan yang berukuran kecil, maka dapat terjadi growth overfshing.
Channa striata hidup pada perairan tawar. Menurut Muthmainnah dkk (2012a, Ikan gabus (Channa striataa adalah salah satu ikan asli yang hidup di perairan tawar di Indonesia, seperti daerah aliran sungai di Sumatera, Kalimantan dan Jawa.
No. Spesies ni (%)Di H'
1 Polynemus heptadactylus 16 21.62 0.33
2 Johnius sp. 15 20.27 0.32
3 Leiognathus sp. 25 33.78 0.37
4 Ambassis sp. 13 17.57 0.31
3 Channa striata 2 2.47 0.09
4 Triacanthus nieuhof 1 1.23 0.05 5 Paraplagusia bilineata 2 2.47 0.09
6 Leiognathus sp. 35 43.21 0.36
No Spesies Ni Di H' 1 Arothron stellatus 5 2.86 0.06 2 Drepane longimana 40 22.86 0.25
3 Johnius vogleri 4 2.29 0.10
4 Lagocephalus lunaris 1 0.57 0.04 5 Paraplagusia bilineata 1 0.57 0.04
6 Secutor ruconius 1 0.57 0.04
7 Setipinna melanochir 1 0.57 0.04
8 Terapon jarbua 11 6.29 0.18
9 Triacanthus nieuhof 111 63.43 0.22
Total 175 100.00 0.97
Nilai indeks keanekaragaman (H’a ikan pada tiap minggu pengamatan berkisar antara 0,97-1,59. Menurut Shannon-Weaver dalam Odum (1983a, nilai indeks keanekaragaman Shannon dikategorikan atas nilai-nilai sebagai berikut, yaitu apabila nilai H’≤2 maka keanekaragaman rendah, nilai 2<H≤3 maka tingkat keanekaragaman sedang, dan apabila nilai H’>3 maka tingkat keanekaragaman tinggi. Berdasarkan kriteria, maka dalam empat kali pengamatan yang dilakukan di Pantai Kenjeran, keanekaragaman spesies berada pada kondisi rendah. Hal ini dapat terjadi karena terdapat dominansi dari beberapa spesies karena menurut Masrizal dan Azhar dalam Satrioadjie (2012a, apabila nilai H’ rendah, maka nilai D nya tinggi, menunjukkan ada dominasi suatu spesies terhadap spesies lain.
Pada minggu pertama didapatkan 8 spesies yang berbeda. Berdasarkan nilai indeks dominansi yang tertera pada minggu 1 terlihat bahwa nilai dominansi tertinggi terdapat pada spesies Leiognathus sp yaitu dengan persentase 34% dengan ini dapat dinyatakan bahwa nilai dominansinya termasuk dalam kategori rendah karena kurang dari 0,5. Sedangkan untuk persentase terendah yaitu 1% atau 0,01 yaitu dapat dinyatakan bahwa nilai dominansinya termasuk dalam kategori rendah juga. Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk minggu 1 rata-rata nilai dominansi dari spesies rendah yang artinya tidak ada spesies yang sangat mendominasi dalam lingkungan dan waktu tersebut. Meskipun spesies Leiognathus sp paling mendominasi pada wilayah ini tetapi keberadaannya tidak terlalu signifkan tinggi karena nilai dominansinya berada pada skala rendah. Rendah atau tidaknya nilai dominansi dapat dilihat berdasarkan parameter skala dari nilai indeks dominansi berdasarkan (Indarmawan, 2011a yang menyatakan bahwa apabila nilai indeks dominansi 0 < C ≤ 0,5 maka nilai dominansinya dalam kategori rendah, apabila 0,5 ≤ C ≤ 0,75 maka nilai dominansinya dalam kategori sedang dan apabila 0,75 ≤ C ≤ 1,00 maka nilai dominansinya dalam kategori rendah.
Pada minggu kedua didapatkan 9 spesies yang berbeda. Berdasarkan nilai indeks dominansi yang tertera pada minggu 2 terlihat bahwa nilai dominansi
Pada minggu ketiga didapatkan 8 spesies yang berbeda. Berdasarkan nilai indeks dominansi yang tertera pada minggu 3 terlihat bahwa nilai dominansi tertinggi terdapat pada spesies Johnius sp yaitu dengan persentase 70%. Kemudian diikuti dengan spesies Drepane longimana dengan persentase sebesar 14%. Selanjutnya diikuti dengan spesies Terapon jarbua yaitu sebesar 7%. Lalu spesies Johnius vogleri sebesar 3% dan Arothron stellatus sebesar 2%. Untuk persentase dominansi terendah yaitu sebesar 1% diperoleh pada 4 spesies yaitu Langocephalus lunaris, Paraplagusia bilineata, Secutor ruconius dan Setipinna melanochir.
Dominansi tertinggi diperoleh sebesar 70% atau 0,7 yaitu dapat dinyatakan bahwa nilai dominansinya termasuk dalam kategori sedang karena nilainya lebih dari 0,5 kurang dari 0,75. Sedangkan untuk persentase terendah yaitu 1% atau 0,01 yaitu dapat dinyatakan bahwa nilai dominansinya termasuk dalam kategori rendah. Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk minggu 3 rata-rata nilai dominansi dari spesies yang paling mendominasi yaitu berkategori sedang yang artinya spesies tersebut tidak begitu mendominasi dan juga tidak begitu rendah keberadaannya dalam lingkungan dan waktu tersebut. Rendah atau tidaknya nilai dominansi dapat dilihat berdasarkan parameter skala dari nilai indeks dominansi berdasarkan (Indarmawan, 2011a yang menyatakan bahwa apabila nilai indeks dominansi 0 < C ≤ 0,5 maka nilai dominansinya dalam kategori rendah, apabila 0,5 ≤ C ≤ 0,75 maka nilai
dominansinya dalam kategori sedang dan apabila 0,75 ≤ C ≤ 1,00 maka nilai dominansinya dalam kategori rendah
Pada minggu keempat didapatkan 8 spesies yang berbeda. Berdasarkan nilai indeks dominansi yang tertera pada minggu 4 terlihat bahwa nilai dominansi tertinggi terdapat pada spesies Triacanthus nieuhof yaitu dengan persentase 63%. Kemudian diikuti dengan spesies Drepane longimana dengan persentase sebesar 23%. Selanjutnya diikuti dengan spesies Terapon jarbua yaitu sebesar 6%. Lalu dalam kategori rendah. Sedangkan pada minggu ke 3 dan ke 4 mempunyai nilai indeks dominansi sedang. Rendahnya nilai dominansi pada minggu ke 1 dan ke 2 menunjukkan bahwa struktur komunitas pada lokasi dan waktu tersebut dalam keadaan stabil. Sedangkan pada minggu ke 3 dan ke 4 yaitu dalam keadaan kurang stabil. Hal ini sesuai dengan pendapat Krebs (1985a, yang menjelaskan bahwa apabila dominansi rendah artinya tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam keadaan stabil. Kemudian (Insaftri, 2010a menyatakan bahwa semakin besar nilai indeks dominansi maka semakin besar pula kecenderungan adanya jenis tertentu yang mendominasi.
4.2 Hubungan antara Nekton dan Kondisi Fisika Kimia Lingkungan
Keberadaan nekton di perairan sangat dipengaruhi oleh berbagai parameter fsik dan kimia dari lingkungan itu sendiri. Setiap ikan memiliki kondisi optimum dimana ikan tersebut dapat bertahan hidup dengan baik. Beberapa parameter fsik dan kimia yang diukur dalam pengamaatan ini antara lain pasang surut, pH, suhu, kecerahan, dan salinitas.
4.2.1 Pasang Surut
Pasang surut adalah fuktuasi (gerakan naik turunnyaa muka air laut secara berirama karena adanya gaya tarik benda-benda di lagit, terutama bulan dan matahari terhadap massa air laut di bumi. Bulan dan matahari memberikan gaya gravitasi terhadap bumi yang besarnya tergantung pada besar massa benda yang saling tarik-menarik tersebut. Massa bulan jauh lebih kecil dari massa matahari, tetapi karena jaraknya terhadap bumi jauh lebih dekat, maka pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar dari pada pengaruh gaya tarik matahari. Gaya tarik bulan yang mempengaruhi pasang surut adalah 2,2 kali lebih besar dari pada gaya tarik matahari (Mahatmawati et al, 2009a.
surut ini dibedakan menjadi tiga yaitu komponen tengah harian, komponen harian dan komponen periode panjang.a (Mahatmawati et al, 2009a.
Menurut data pasang surut, pada pengambilan sampel minggu pertama tanggal 20 April menunjukkan bahwa pasang laut pertama terjadi pada pukul 08.00 WIB dengan kenaikan 1,7 dan akan surut pada pukul 09.50 WIB menjadi 1,2 m dan akan pasang kembali pada pukul 18.15 WIB. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa pengambilan sampel yang dilakukan pada pukul 08.00-13.00 akan memiliki waktu pasang yang cenderung singkat sehingga mempengaruhi jumlah ikan yang didapat, pada minggu 1 jumlah sampel yang didapat berjumlah 74 ekor. Hasil ini menunjukkan hasil paling rendah jika dibandingkan dengan hasil pengambilan sampel pada tanggal 27 April dimana pada tanggal ini air pasang pada pukul 11.05 WIB dengan rentan waktu pasang berkisar 2 jam dan dengan ketinggian air mencapai 2,7 m. Hasil ikan yang didapat pada minggu 2 ini berjumlah 81 ekor, jumlah yang lebih banyak jika dibandingkan dengan minggu 1 yang memiliki waktu pengambilan sampel dengan pasang berkisar 1 jam. Selain itu pada pengambilan sampel minggu 3 pada tanggal 4 Mei terjadi pasang pada pukul 07.45 WIB dengan kenaikan 1,8 m dan pasang mulai menurun pada pukul 12.15 WIB menjadi 1,2 m. Pada tanggal ini rentan waktu pasang yang dimiliki saat pengambilan sampel berkisar 4 jam, sehingga hasil ikan yang diperoleh cenderung lebih banyak yakni berkisar 117 ekor. Pada pengambilan sampel minggu 4 tanggal 11 Mei, surut terjadi mulai pukul 04.50 WIB dengan ketinggian 0,9 m dan selanjutnya pasang terjadi pada pukul 11.05 WIB dengan kenaikan mencapai 2,6 m. Jumlah ikan yang diperoleh pada minggu ini berkisar 175 ekor ikan, pada minggu 2 dan 4 yang memiliki waktu pasang yang hampir sama yakni berkisar pukul 11 terjadi perbedaan jumlah ikan yang didapat dikarenakan adanya aktivitas solunar pada tanggal tersebut. Pada minggu 2 pengambilan sampel kondisi solunar tejadi pada posisi bulan purnama sehingga jumlah aktivitas ikan cenderung menurun, sementara pada tanggal 11 kondisi solunar pada posisi bulan mati atau tidak ada pengaruh bulan sehingga jumlah aktivitas solunar ikan sangat tinggi. Hasil ini berkebalikan dengan pendapat Dewar (2008a tingginya jumlah ikan yang muncul pada fase bulan penuh diduga berkaitan dengan ketersediaan makanan khususnya plankton, dimana pada fase bulan penuh tersebut kelimpahan ftoplankton tinggi, karena adanya hubungan antara fase bulan dengan kelimpahan plankton. Berdasarkan data pasang surut menunjukkan bahwa jumlah ikan yang ditemukan pada minggu ke 1,2 dan 3 cenderung lebih sedikit jika dibandingkan dengan hasil yang didapat pada minggu 4. Perbedaan jumlah ikan yang didapat dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang memiliki waktu pasang dan surut yang berbeda dan adanya pengaruh solunar.
4.2.2 Salinitas
laut, meskipun ada yang bersifat eurihaline namun sebagian besar bersifat stenohalin. Hewan stenohaline ialah hewan yang terbatas kemampuannya dalam mentolerir perubahan salinitas yaitu hanya mampu mentolerir sampai 30 0/
00, sedangkan hewan eurihaline ialah hewan khas laut yang mampu mentolelir perubahan salinitas hingga dibawah 30/
00 (Nyabakken, 1988a. Literatur lain menyatakan bahwa hewan eurihaline ialah hewan yang dapat mentolerir rentang salinitas air yang luas (lebara. Sedangkan hewan stenohaline ialah hewan yang dapat mentolerir rentang salinitas air lebih sempit (Khanna dan Yadav, 2011a.
Rentang data salinitas yang didapatkan selama 4 minggu pada minggu ke-1, ke-2, dan ke-4 ialah sama yakni antara 27-310/
00. Sedangkan pada minggu ke-3, rentang data salinitas yang didapatkan ialah antara 20,5-240/
00. Salinitas biasanya bersifat lebih stabil di lautan terbuka. Perubahan salinitas pada minggu ke-3 ini kemungkinan disebabkan adanya fuktuasi perubahan yang disebabkan besarnya curah hujan. Sebagai contoh, salinitas permukaan di perairan laut mediterania dan laut merah kadang-kadang bisa mencapai 390/
00 dan 410/00 yang disebabkan karena banyaknya air yang hilang akibat dari besarnya curah hujan (Sahala Hutabarat, 2008a.
Data pada minggu ke-3, dimana tingkat salinitas paling rendah, menunjukkan tingkat diversitas organisme paling tinggi di perairan Kenjeran dibandingkan minggu yang lain yakni sebanyak 18 spesies. Sedangkan pada minggu ke-1, ke-2, dan ke-4, tingkat diversitas organisme cukup rendah yakni secara berurutan sebanyak 8, 8, dan 9 spesies. Literatur menyatakan salinitas air berpengaruh terhadap tekanan osmotik air, dan semakin tinggi salinitas akan semakin besar tekanan osmotiknya yang berpengaruh terhadap biota perairan (Kordi dan Tancung, 2007a. Data yang menunjukkan salinitas tinggi (27-310/
00a dimana tingkat diversitas mampu mentolerir perubahan salinitas yang sempit. Afandi (2001a berpendapat bahwa organisme akuatik mempunyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya. Oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air agar proses-proses fsiologis di dalam tubuhnya berlangsung normal. Kelebihan dan kekurangan air diatur dengan mekanisme osmoregulasi. 4.2.3 Kecerahan
Air yang terlalu keruh dapat menyebabkan ikan mengalami gangguan pernafasan karena insangnya terganggu oleh kotoran. Selain itu dapat menurunkan atau melenyapkan selera makan karena daya penglihatan ikan terganggu. Menurut Berwick (1993a dalam Dahuri et al, (2001a, meningkatnya kekeruhan air akan mengurangi intensitas cahaya matahari sehingga menghambat proses fotosintesis biota primer laut.
antara 40 – 50 cm dengan ditemukannya ikan sebanyak 117. Dan untuk minggu yang terakhir yaitu minggu keempat juga memilki range kecerahan berkisar antara 40 – 50 dengan ditemukan ikan sebanyak 175. Secara keseluruhan kecerahan pada minggu 2,3,4 memiliki range kecerahan yang sama dan ketiganya memilki kecerahan yang lebih tinggi daripada minggu pertama. Ini berpengaruh juga terhadap jumlah ikan yang ditemukan pada minggu 1 jumlah ikan yang ditemukan adalah sebanyak 74 merupakan jumlah ikan yang paling sedikit ditemukan jika dibandingkan dengan minggu ke 2 yaitu sebanyak 81 minggu ke- 3 sebanyak 117 dan minggu ke-4 yaitu sebanyak 175.
Secara umum kecerahan perairan ini tergolong relatif rendah, jika dibandingkan dengan baku mutu air laut yang diperuntukkan bagi biota laut (Kep NO.51/MENLH/Tahun 2004a yakni lebih dari 5 meter atau 500 cm. Rendahnya kecerahan di setiap stasiun disebabkan oleh adanya tipe sedimen perairan dan kandungan bahan organik yang tinggi, di mana sedimen yang halus akan larut dalam perairan dan menyebabkan kecerahan berkurang.
4.2.4 pH
Menurut Kordi dan Tancung (2007a nilai pH 6,5-9,0 merupakan kisaran pH optimal bagi pertumbuhan ikan. Ph air akan mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan yang asam akan kurang produktif karena kandungan oksigen terlarutnya rendah, yang berakibat aktivitas pernafasan ikan meningkat dan nafsu makan menurun.
7.0-8.2, hal ini sesuai dengan kondisi pH dari lokasi sampling dari minggu pertama sampai minggu keempat diantara range pH 7-8.
Ikan dari famili Cygnoglossidae, Sciaenidae dan Tetradontidae menunjukkan bahwa masing-masing famili memiliki jumlah ikan sebesar 11% dari keseluruhan famili yang lain. Hal ini dapat terjadi karena ketiga famili tersebut kurang toleran terhadap pH yang terdapat pada lingkungan. Bila di lihat prosentasenya dibandingkan dengan famili Polynemidae mengindikasikan bahwa famili Triachanthidae, Tetraodontidae dan Leiognathidae kurang toleran dibandingkan dengan famili Polynemidae. Sehingga famili Triachanthidae, Tetraodontidae dan Leiognathidae nafsu makan berkurang yang menyebabkan pertumbuhannya kurang baik. Karena kondisi lingkungan yang kurang baik inilah maka jumlah ikan tidak sebanyak pada family Polynemidae.
Ikan dari famili Channidae, Ambassidae, Leiognathidae, Triachantidae dan Terapontidae menunjukkan bahwa masing-masing famili memiliki jumlah ikan sebesar 6% dari keseluruhan famili yang lain. Hal ini dapat terjadi karena ketiga famili tersebut kurang toleran terhadap pH yang terdapat pada lingkungan. Hal ini menyebabkan famili Channidae, Ambassidae, Leiognathidae, Triachantidae dan Terapontidae nafsu makan berkurang yang menyebabkan pertumbuhannya tidakbaik. Karena kondisi lingkungan yang tidak baik inilah maka jumlah ikan sedikit.
Dari grafk di atas menunjukkan bahwa masing-masing dari famili Drepanidae, Engraulidae, Ambassidae, Lutjanidae jumlah ikan paling sedikit yaitu 5 % . Hal ini menunjukkan bahwa family tersebut tidak toleran terhadap pH yang ada di lingkungannya. Dimana ketika Ikan kurang sesuai dengan kondisi lingkungan tinggi, dimana proses photosinthesis membutuhkan banyak CO2. Hal ini juga dapat dihubungkan dengan jumlah dari ftoplankton, karena ftoplankton juga melakukan fotosintesis. Ketika kondisi CO2 sedikit di lingkungan maka pHnya semakin tinggi. Secara umum air laut relatif lebih alkalin (basaa sekitar 8.0 dan air payau relatif kurang dari 8.0. Akan tetapi organisme air laut relatif mampu beradaptasi dengan range pH yang lebar.
BAB 5
MORFOMETRI IKAN
Morfometrik adalah ukuran bagian-bagian tertentu dari struktur tubuh ikan (measuring methodsa. Ukuran ikan adalah jarak antara satu bagian tubuh kebagian tubuh yang lain. Karakter morfometrik yang sering digunakan untuk diukur antara lain panjang total, panjang baku, panjang cagak, tinggi dan lebar badan, tinggi dan panjang sirip, dan diameter mata (Hubbs dan Lagler, 1958a.
Telah dilakukan pengambilan data mengenai morfometri ikan selama empat minggu berturut-turut. Diambil data panjang total ikan, panjang baku, dan berat ikan. Dari pengambilan data tersebut, didapatkan 17 spesies ikan, antara lain Polynemus heptadactylus, Johnius sp., Leiognathus sp., Ambassis sp., Lagocephalus lunaris, Lutjanus russeli, Triacanthus neiuhofi, Scatophagus argus, Eleutheronema sp., Channa striata, Paraplagusia bilineata, Eleutheronema rhadinum, Arothron stellatus, Drepane longimana, Johnius vogleri, Secutor ruconius, Setipinna melanochir, dan Terapon jarbua.
Dilihat dari panjang ikan, dapat diketahui jumlah ikan juvenil dan dewasa pada tiap minggunya. Berikut grafk yang menggambarkan jumlah juvenil dan dewasa masing-masing spesies pada tiap minggu.
Grafk 5.1. Jumlah ikan juvenil dan dewasa masing-masing spesies minggu pertama
Pada minggu pertama jumlah ikan juvenil tertinggi terdapat pada spesies Leiognatus sp. Yaitu sebanyak 10 ekor sedangkan jumlah juvenil terendah terdapat pada spesies Ambassius sp.yang berjumlah 1 ekor. Jumlah ikan dewasa tertinggi terdapat pada spesies Polynemus sp. yang berjumlah 16 ekor dan spesies terendah terdapat pada spesies Lutjanus russeli, Triacanthus nieuhof dan Scatophagus ratus yang berjumlah satu ekor.
Grafk 5.3. Jumlah ikan juvenil dan dewasa masing-masing spesies minggu ketiga Pada minggu ketiga jumlah ikan juvenil tertinggi terdapat pada spesies Triacanthus niehuf sedangkan jumlah ikan juvenil terendah terdapat pada spesies Arothron stellatus, Paraplagusia bilineata dan Lagocephalus lunaris. Jumlah ikan dewasa tertinggi terdapat pada ikan Drepane longimana dan jumlah ikan dewasa terdapat pada ikan Triacanthus nieuhuf, Arothron stellatus.
Grafk 5.4. Jumlah ikan juvenil dan dewasa masing-masing spesies minggu keempat
Perbedaan jumlah ikan juvenil dan ikan dewasa pada perairan mulai dari minggu pertama sampai minggu keempat dapat disebabkan oleh bebagai faktor seperti faktor lingkungan. Salah satu contoh ikan yang selalu hadir pada tiap minggu pengamatan adalah Lagocephalus lunaris dengan jumlah juvenil yang mengalami peningkatan pada minggu kedua dan mengalami penurunan pada minggu kedua dan minggu ketiga. Sedangkan jumlah ikan dewasa dari Lagocephalus lunaris mengalami penurunan dari minggu kedua sampai minggu keempat. Hal ini dapat dipengaruhi karena faktor lingkungan seperti kondisi perairan. Kondisi perairan yang tidak tercemar merupakan habitat yang menyenangkan bagi ikan. Thompson dan Larsen (1994a menyatakan bahwa ikan akan mencari tempat yang sesuai sebagai habitatnya dimana sangat tergantung pada kondisi air sebagai media tempat hidupnya. Apabila habitatnya sudah tidak sesuai maka ikan akan pindah ke perairan lain. Apabila kondisi tersebut tidak ditemukan, maka ikan akan beradaptasi dengan lingkungan perairan sekitarnya. Ikan yang tidak bisa beradaptasi akan mati. Kemungkinan hal ini terlihat dengan semakin kecilnya jumlah ikan hasil tangkapan. Selain itu, jumlah juvenil ikan yang melimpah dapat dikarenakan masa pemijahan dari ikan Lagocephalus lunaris sehingga ikan yang ditangkap dari tiap minggu merupakan ikan juvenil.
Untuk mengetahui perbedaan panjang tubuh dan berat ikan tiap minggunya maka dilakukan uji statistik deskriptif menggunakan ANOVA One-Way. Hasil pengujiannya adalah sebagai berikut:
Grafk 5.5 Grafk hasil pengujian panjang tubuh dengan ANOVA
Grafk 5.6 Grafk hasil pengujian berat tubuh dengan ANOVA
Pada pengujian ANOVA berat tubuh ikan didapatkan hasil yang sama dengan panjang tubuh ika. Nilai P = 0,000 yang menunjukkan terjadi terima H0 sehingga dikatakan tidak terjadi perbedaan yang signifkan pada pengambilan sampel ikan minggu ke-1 hingga minggu ke-4. Data berat tubuh ikan juga homogen. Data panjang tubuh dan berat tubuh ikan akan saling mempengaruhi sehingga saat dilakukan pengujian menggunakan ANOVA maka hasil yang didapatkan tidak akan berbeda jauh..