BAB VI FAUNA NON IKAN
DATA FISIKA KIMIA PERAIRAN 7.1 Kecerahan
7.5. Hubungan Antara Suhu – pH – Salinitas – Kecerahan
Fisika perairan memainkan peranan penting dalam bentuk dan keberlangsungan komunitas tumbuhan laut. Beberapa dari banyak hal yang penting yaitu cahaya, temperatur, gelombang, dan arus. Dari semua faktor fsika, suhu merupakan salah satu faktor dominan dalam distribusi geograf tumbuhan laut (Dawes,1981a.
Dalam rangka pengelolaan sumber daya hayati perairan laut, pemahaman terhadap faktor-faktor fsik laut dan pengaruhnya terhadap perkembangan biota laut merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. Faktor fsika-kimia laut seperti cahaya, suhu, salinitas, arus, pasang surut semenjak semula dipandang sebagai faktor abiotik pada ekosistem laut yang memiliki banyak kegunaan dalam proses kelangsungan hidup ikan seperti pertumbuhan dan distribusinya (Anwar, 2008a.
Tingkat keasinan (salinity/salinitasa di suatu perairan laut dapat diketahui dengan cara pengukuran. Salinitas dapat di defnisikan sebagai jumlah total (gra
struktur geograf, aliran air sungai, sirkulasi air, dan juga musim (curah hujan serta penguapana (Arinardi,1997a.
Suhu air permukaan di perairan indonesia menunjukkan ciri khas perairan tropis yaitu umumnya relatif tinggi dengan perbedaan sebaran horizontal yang kecil (28-30°Ca. Perubahan suhu sepanjang tahun tergantung pada intensitas radiasi matahari, kecepatan angin, musim (curah hujan dan penguapana serta asal massa air. Di perairan yang terjadi upwelling (penaikan aira, suhu air permukaan dapat turun sampai 25 °C. Namun di perairan pantai yang relatif dangkal, suhu air biasanya relatif lebih tinggi daripada di lepas pantai (Arinardi, 1997a.
Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa di mana habitat akuatik di batasi oleh kedalaman, kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap, sering kali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya, bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktivitas. Kejernihan dapat di ukur dengan alat yang sangat sderhana yang disebut cakram secchi disc berupa cakram putih dengan garis tengah kira- kira 20cm dan di masukkan ke dalam air sampai tidak terlihat dari permukaan. Kedalaman itu di sebut kejernihan cakram secchi, yang dapat berkisar antara beberapa cm pada air yang amat keruh sampai 40 m pada air yang amat jernih (Odum,1993a.
Air laut merupakan produk yang terakumulasi dari air hujan, erosi batu dan tanah, yang terkondensasi selama bermilyar milyar tahun. Sekitar 3,5 % air laut mengandung senyawa terlarut dari sumber tersebut. Selebihnya 96.5 % merupakan air murni. Semua zat tersebut secara alami terjadi di lautan dan dapat di bagi menjadi tiga golongan yaitu: (1a zat inorganik, yang biasanya berupa garam kecuali nutrisi penting bagi pertumbuhan tanaman. (2a disusun dari beberapa gas seperti N2, CO2, dan O2. (3a Komponen organik yang berasal dari makhluk hidup. Komponen organik terlarut di air laut kecuali lemak, minyak, karbohidrat, asam amino,protein dan subtr ansi lain. Garam merupakan subtansi terlarut terbesar di air laut. Jumlah total garam terlarut dalam air laut di namakan juga salinitas. Dan di hitung dengan satuan per mil (‰a dan lebih besar dari persen (%a (Sumich,2009a.
Gambar7.5.1. Gambar relasi antara tingkat kecerahan Secchi Disc dan konsentrasi klorofl (Barnabe, 2000a.
Kecerahan air sangat tergantung pada relasi partikel dalam suspensi (termasuk planktona. Kecerahan relatif dapat dihitung menggunakan secchi disc. Sampai kedalaman dimana tidak dapat terlihat lagi warnanya. Di virgo ria, Fraga
(1979a menunjukkan 26 % penurunan produktivitas yang dinilai dari konsentrasi plankton. Hal ini berkaitkan dengan penurunan transparansi yang dihasilkan dari bahan partikel dalam suspensi yang dibuat oleh aktivitas manusia (partikel-partikel ini menyerap atau memantulkan cahaya, yang merupakan sebuah flter yang efektif. Air laut memiliki tingkat kecerahan lebih besar dan dapat dideskripsikan sebagai air biru (Barnabe,2000a.
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor fsika perairan laut yang berpengaruh terhadap kehidupan biota laut. Perubahan sifat fsika air laut seperti suhu dan salinitas akan mempengaruhi biota laut (kerang hijaua dalam mengakumulasi kadmium dari lingkungannya. Dari berbagai penelitian (Morton 1987, Blackmore & Wang. 2002a dinyatakan bahwa kenaikan suhu, penurunan pH dan salinitas perairan dapat menyebabkan tingkat bioakumulasi logam berat semakin besar.
Pada umumnya, organisme yang tidak dapat mengatur suhu tubuhnya, proses metabolisme tubuhnya meningkat dua kali untuk setiap kenaikan suhu 10oC. Organisme laut, termasuk organisme meiofauna bersifat poikilotermik. Kebanyakan organisme laut telah mengalami adaptasi untuk hidup dan berkembangbiak dalam kisaran suhu yang lebih sempit daripada kisaran total 0-40oC. Karena sebagian besar organisme laut bersifat poikilotermik dan suhu air laut bervariasi menurut garis lintang, maka penyebaran organisme laut sangat mengikuti perubahan suhu lautan secara geografk. Pada dasarnya, suhu juga berpengaruh terhadap kerapatan air laut. Air laut yang hangat kerapatannya lebih rendah dibandingkan dengan air laut yang dingin pada salinitas yang sama. Kerapatan juga merupakan suatu fungsi dari salinitas, kenaikan salinitas juga mengakibatkan kenaikan kerapatan (Poppo, 2008a.
Perbedaan salinitas terjadi karena perbedaan dalam penguapan dan presipitasi. Di daerah beriklim sedang salinitasnya rendah karena evaporasi lebih rendah, berbeda dengan di daerah tropik (salinitas tinggia karena evaporasi yang lebih tinggi pula. Salinitas di daerah pantai dan laut yang tertutup sebagian akan lebih bervariasi karena sungai-sungai di sekitarnya mengalirkan air tawar (Poppo, 2008a.
Menurut Poppo (2008a, faktor salinitas umum beraksi terhadap organisme intertidal. Penurunan salinitas mungkin terjadi karena limpahan air tawar ke pantai saat pasang-turun atau karena turunnya hujan lebat. Penurunan salinitas ini biasanya terbatas pada lapisan atas pantai karena lapisan bawah pantai melalui daya kapiler mampu mempertahankan tingkat air asin yang lebih tinggi. Karena air tawar lebih ringan dari air asin, air tawar tak dapat menembus ke bawah titik dimana air laut ditahan oleh daya kapiler. Ini berarti bahwa hanya lapisan paling atas yang mengalami perubahan salinitas. Organisme yang mendiami lapisan ini biasanya memiliki adaptasi untuk mentolerir perubahan salinitas yang cukup tinggi (dalam hal ini sampai kira-kira 15‰a.
Van’t Hofs bahwa kenaikan tempreatur sebesar 10°C (hanya pada kisaran tempreatur yang masih dapat ditolerira dapat meningkatkan aktiftas fsiologis (misalnya respirasia dari organisme sebesar 2-3 kali lipat. Pola tempreatur ekosistem akuatik juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intnsitas cahaya mata hari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasia dari pepohonan yang tumbuh di tepi badan perairandalam ekosistem akuatik sangat dipengaruhi oleh tempreatur. Menurut Nybakken (1988a, sifat fsik-kimia perairan sangat penting dalam ekologi. Bermacam-macam faktor fsik dan kimia dapat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan produktivitas tumbuhan teresterial maupun perairan. Faktor– faktor yang sangat penting bagi tumbuhan tersebut ialah cahaya, suhu, kadar zat-zat hara. Menurut (Michael, 1984a, penelitian-penelitian badan air tawar mencakup kajian sifat-sifat kimia dan fsika dari air, tumbuhan dan hewan yang hidup di dalam perairan tersebut, serta tata cara mereka berinteraksi. Kehidupan organisme air termasuk organisme plankton sangat tergantung pada faktor fsik dan kimia air. Faktor fsik kimia perairan sangat berpengaruh pada kehidupan biota didalamnya, mempengaruhi kehidupan rantai makanan dalam ekosistem tersebut. Produsen utama dalam perairan adalah plankton sedangkan nekton merupakan organism di tingkat 1 yang mengkonsumsi plankton secara langsung, walaupun beberapa nekton berada pada tingkat 2 dan 3, namun perubahan yang dialami produsen tentu akan mempengaruhi konsumen diatasnya.
Pada minggu ke 2 ditemukan 8 spesies diantaranya Johnius sp., Eleutheronema sp., Channa striata, Triacanthus niehof, Paraplagusia bilineata, Leiognathus sp., Polynemus heptadactylus, dan Lagocephalus lunarius. Pengukuran fsika kimia pada minggu kedua meliputi kecerahan, suhu, pH dan salinitas. Kecerahan pada pengukuran mggu kedua adalah 0,45 m, hal ini termasuk dalam kondisi yang tidak baik karena menurut standart, kondisi perairan yang baik adalah memiliki kecerahan 5 m. Menurut Barus (2004a, bahwa kedalaman penetrasi cahaya akan berbeda pada setiap ekosistem air yang berbeda. Bagi organisme air, intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidpan organisme tersebut dalam habitatnya. Bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruham merupakan indikasi produktiftas. Mahida (1993a, Davis dan Cornwell, (1991a mendefnisikan kekeruhan sebagai intensitas kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan perairan umumnya disebabkan oleh adanya partikel-partikel suspensi seperti tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik terlarut. pengaruh kekeruhan yang utama adalah penurunan penetrasi cahaya secara mencolok, sehingga aktivitas fotosintesis ftoplankton dan alga menurun, akibatnya produktivitas perairan menjadi turun. Disamping itu Efendi (2003a, menyatakan bahwa tingginya nilai kekeruhan juga dapat menyulitkan usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air. Pengaruh kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran sungai dapat mengakibatkan tingkat kecerahan air danau menjadi rendah, sehingga dapat menurunkan nilai produktivitas perairan Suhu pada pengukuran minggu kedua mencapai 32,70 C yang merupakan suhu paling tinggi diantara 4 minggu pengukuran. Suhu normal suatu perairan berada dalam ambang 28-300 C, pengukuran pH menunjukkan dalam ambang normal yaitu 7. pH merupakan suatu
ekspresi dari konsentarsi ion hidrogen (H+a didalam air. Biasanya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentasi ion H, pH sangat penting sebagai parameter kualitas air, karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan makhluk-makhluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu. Sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan organisme air (Rifai et.al., 1993 a. Organisme dapat hidup dalam suatu perairan yang mempuyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup oraganisme, karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi begitu pula salinitasnya yaitu sebesar 28.3. spesies Johnius sp. merupakan jenis spesies yang hidup di demersal sehingga kondisi kecerahan, suhu, pH dan salinitas mempengaruhi ikan tersebut.
Di alam, naik turunnya suhu air sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan. Perubahan suhu air yang terlalu ekstrim akan berdapat buruk terhadap ikan yang dipelihara. Akibatnya ikan menjadi stres, dan apabila ikan sudah stress maka ikan tersebut akan rentan terhadap penyakit dan mati. Suhu akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan bila suhu terlalu rendah maka pertumbuhan ikan yang dipelihara akan lambat tumbuh, karena bila suhu rendah maka proses metabolisme ikan akan menjadi lambat dan nafsu ikan akan menurun. Namun jika suhu terlalu tinggi juga tidak baik untuk pertumbuhan ikan sebab jika suhu tinggi maka tingkat metabolisme tinggi, jika metabolisme tinggi maka kadar oksigen terlarut menjadi turun sehingga ikan kesulitan untuk bernafas, dan yang lebih buruk lagi kadar amoniak dalam air menjadi naik dan akhirnya ikan menjadi keracunan oleh fesesnya sendiri. Suhu harus tepat yaitu kisaran optimum 25 - 30 derajat celcius.
7.7. Hubungan Fisika Kimia dengan Fitoplankton