Pengaruh Pacaran Terhadap Perilaku
Menyimpang Remaja Khususnya Perilaku Seksual
Proposal Penelitian
Diajukan dalam rangka melengkapi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan
Disusunoleh:
Nama : Dwi Armiyati
NIM : 1507016067
Fakultas Psikologi dan Kesehatan
Universitas Islam Negeri Walisongo
Semarang
Proposal Penelitian Skripsi
Judul : “Pengaruh Pacaran terhadap Perilaku Menyimpang Remaja Khususnya Perilaku Seksual ”
Nama : Dwi Armiyati
NIM : 1507016067
Jurusan : Psikologi
A. Latar Belakang Masalah
Pada sebagian masyarakat kita adanya budaya yang menganggap pacaran sebagai sesuatu yang biasa sebelum memasuki jenjang pernikahan.Mulai banyak terjadi hal-hal negatif di kalangan remaja akibat menganut budaya pacaran. Perubahan zaman kemudian dijadikan kambing hitam, kebobrokan moral dianggap zamannya, zina itu modern dan pacaran itu trend. Banyak orang tua masa kini membukakan pintu selebar-lebarnya bagi anak-anak mereka untuk berbuat maksiat. Akibatnya tak sedikit muda-mudi mereka melakukan zina justru dirumah orang tuanya sendiri. Remaja di dunia termasuk Indonesia mempunyai suatu budaya untuk mengekspresikan percintaan remaja itu sendiri yang biasa kita sebut sebagai “Pacaran”. Di zaman modern seperti sekarang ini pacaran sudah merupakan tren dan kebutuhan dikalangan remaja. Jika tidak punya pacar akan merasa sedih, malu, tidak percaya diri, merasa tidak laku, dan lain-lain.
Perkembangan baru pada usia remaja yang perlu diperhatikan adalah mulai timbulnya rasa senang atau ketertarikan pada lawan jenis. Bahkan rasa ketertarikan itu tidak sebatas senang memandang atau senang bercengkerama dengan lawan jenis, melainkan juga, seiring dengan pertumbuhan fisik yang mulai sempurna dan organ-organ seks mulai berfungsi, timbul keinginan pada remaja untuk melepaskan hasrat seksual.
Selain itu dengan adanya pengaruh globalisasi sekarang ini lunturnya budaya kita sehingga tersebarlah budaya barat yang bebas tersebut di kalangan remaja. Remaja sekarang melakukan kebebasan dalam berpacaran sehingga moralitasnya menjadi rusak. Dari pengaruh kebudayaan barat tersebutlah , sekarang perilaku seks bebas dikalangan remaja sudah sangat umum untuk dilakukan tanpa rasa malu sama sekali. krisis akhlak yang melanda sebagian remaja saat ini merupakan salah satu akibat dari perkembangan global dan kemajuan IPTEK yang tidak diimbangi dengan kemajuan moral akhlak. Prilaku remaja yang cenderung lekas marah, kurang hormat tehadap orang tua, kurang disiplin dalam beribadah, menjadi pemakai obat-obatan, terjerumus dalam prilaku seks bebas serta prilaku yang menyimpang lainnya telah melanda sebagian besar kalangan remaja.
Berbicara masalah remaja, maka tidak akan terlepas dari hubungan romantis yang lebih dikenal dengan istilah pacaran. Terdapat berbagai macam bentuk pengekspresian cinta dalam hubungan romantis yang dilakukan remaja dengan pacarnya. Perbuatan yang dilakukan dimulai dari yang biasa sampai dengan perbuatan yang melanggar norma kesusilaan, agama serta hukum. Bentuk pengekspresian cinta yang melanggar norma tersebut yaitu perilaku seksual pranikah. Hurlock (2000) menambahkan bahwa pacaran dimulai saat remaja mulai tertarik dengan lawan jenisnya yang diakibatkan oleh perkembangan hormon.
Dalam penelitian ini penulis lebih fokus dalam pengaruh pacaran terhadap perilaku menyimpang remaja. Adapun perilaku menyimpang remaja yang akan diteliti adalah perilaku seksual pada remaja. Dan nantinya ketika penelitian ini sudah mendapatkan hasil dapat dijadikan sebagai referensi bagi masyarakat dalam memperlakukan ramaja yang rentan pacaran untuk diberikan pengawasan dan pengertian tentang nilai moral.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dimunculkan beberapa poin rumusan masalah :
1. Bagaimanakah pengaruh pacaran terhadap perilaku seksual remaja ? 2. Apa bentuk perilaku seksual remaja ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh pacaran terhadap perilaku seksual remaja 2. Untuk mengetahui bentuk perilaku seksual remaja
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab masalah seksualitas pada remaja 4. Untuk mengetahui penanganan terhadapa perilaku menyimpang remaja
2. Manfaat
Dalam penelitian ini, setidaknya ada beberapa manfaat yang akan diperoleh. Adapun manfaat yang akan didapat yaitu:
a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan keilmuan baru. Sehingga dapat memperbaiki pengetahuan dari dampak pacaran
b. Manfaat praktis 1. Bagi Remaja
a) Dapat dijadikan pengetahuan tentang berpacaran dapat menjaga perilakunya agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama dan norma-norma yang ada dimasyarakat.
2. Bagi Masyarakat
a) Dapat memberikan sumbangan positif dalam usaha mencegah reamaja untuk pacaran dan mengawasinya supaya tidak terjadi perilaku seksual
b) Dapat memberikan pengetahuan untuk menangani perilaku menyimpang pada remaja khususnya dalam perilaku seksual remaja
3. Bagi Peneliti
D. Kajian Pustaka
E. Kerangka Teoritik
1. Pacaran
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan batin berdasarkan cintakasih. Berpacaran adalah bercintaan; berkasih-kasihan. Memacarai adalah mengencani; menjadikan dia sebagai pacar. 1
Dalam berpacaran laki-laki dan perempuan saling mencintai. Kata cinta tersebut menurut Drs. Abdul Mujib merupakan padanan kata dari bahasa inggris love atau dari bahasa arab al-hubb atau al-mahabbah. Cinta sebenarnya sulit diungkapkan apalagi didefinisikan, sebab jika didefinisikan maka semakin membatas ruang lingkupnya. Cinta dapat dirasakan oleh setiap individu, tetapi tidak menjamin masing-masing individu tersebut mampu mengungkapannya dalam bahasa verbal.2
2. Perilaku seksual pranikah
Perilaku seksual pranikah merupakan segala bentuk perilaku yang didasari oleh dorongan seksual dan berhubungan dengan fungsi reproduktif atau yang merangsang sensasi pada reseptor-reseptor yang terletak pada atau di sekitar organorgan reproduktif dan daerah-daerah erogen untuk mendapatkan kenikmatan atau kesenangan seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan sebelum adanya ikatan atau perjanjian sebagai suami istri secara resmi.3
Menurut Prawiratirta (dalam Gunarsa 1986) pada masa pacaran, remaja akan mencapai suatu perasaan aman (feelings of security) dengan pasangannya. Feelings of security inidapat menimbulkan suatu keintiman seksual pada diri mereka.Di samping itu sejumlah pengalaman yang terjadi pada masa berpacaran juga dapat memberikan perangsangan bagi remaja untuk mengadakan hubungan seksual pranikah (Prawiratirta dalam Gunarsa, 1986). Pengalaman tersebut diperoleh remaja karena aktivitas yang mereka lakukan selama pacaran, seperti: berpegangan/bergandengan tangan, memeluk, membelai, mencium dan seterusnya.Menurut Hurlock (1999) perilaku seksual terdiri dari beberapa tahapan yaitu berciuman, bercumbu ringan, bercumbu berat dan bersenggama.
1Frista Artmanda W, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (PT. Lintas Media Jombang). hal 863 2Abdul Mujib, Risalah Cinta, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2004), hal. 1
3Setiawan, Rony,Nurhidayah, Siti.2008. PENGARUH PACARAN TERHADAP PERILAKU SEKS
Survei yang dilakukan oleh Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada tahun 2012 menyatakan bahwa 8,3% remaja pria dan 0,9% remaja wanita mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah. Beberapa alasan yang menyebabkan remaja ini melakukan hal tersebut, yaitu (a) Terjadi begitu saja; (b) rasa penasaran atau ingin tahu; (c) dipaksa pasangannya; (d) ingin menikah, serta (e) pengaruh teman (Pramudiarja, 2013 )
Aktifitas yang dilakukan pelaku seks pranikah pada saat berpacaran adalah mulai dari cerita-cerita, berpegangan tanagan, merayu-rayu, manja-manjaan, mesra-mesraan, sayang-sayangan, ciuman, pelukan, cium pipi kiri cium pipi kana, hingga berhubungan seks. Informan dalam penelitian ini sering melakukan hubungan seks pranikah sejak pertama kali mencoba untuk melakukan sampe saat ini perilaku seks ini sudah menjadi kebiasaan dari semua informan dan yang pertama kali mengajak untuk melakukan hubungan seks pranikah yaitu laki-laki, setelah melakukan hubungan seks yang di rasakan informan merasa terhibur, tidak bisa dilupakan, luar biasa, tidak terukur, asik, wowww.4
Akibat kematangan yang menyimpang ( matang lebih awal vs matang terlambat)
Bagi anak laki-laki matang lebih awal menguntungkan terutama di bidang olahraga dimana anak memperoleh status dan martabat dalam kelompok teman-temanya. Sebaliknya anak laki-laki yang matang terlambat cendrung gelisah, tegang, memberontak dan menarik perhatian. Karena kurang popoler diantara teman-temanya. Sedangkan matang lebih awal kurang menguntungkan bagi anak perempuan yang matang lebih awal berperilaku lebih dewasa dan lebih berpengalaman, namun penampilan dan tindakanya dapat menimbulkan reputasi “kegenitan seksual”. Disamping itu anak perempuan yang matang lebih awal banyak mengalami salah langkah dengan teman-temanya dibangdingkan dengan anak laki-laki. Anak perempuan yang matang terlambat tidak mengalami gangguan psikologis sebanyak anak laki-laki yang matang terlambat.5
4Israwati,Watief A.rahman,Indra Fajarwati Ibnu,PERILAKU SEKS PRA-NIKAH MAHASISWA PADA
SEKOLAH TINGGIMANAJEMEN DAN ILMU KOMPUTER BINA BANGSAKENDARI (STUDI KASUS). Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar.
5Hurlock,Elizabeth, psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan,
Bentuk dan Dampak Kekerasan dalam Berpacaran
Bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi pada kekerasan dalam berpacaranyaitu antara lain sebagai berikut:6
a) Kekerasan fisik: seperti memukul, menampar,menendang, mendorong, mencengkeram dengan keras tubuh pasangan, serta tindakan fisik lainnya.
b) Kekerasan psikologis: seperti mengancam, memanggil dengan sebutan buruk, memperlakukan,mencaci maki, menjelek-jelekan, berteriak, menyumpah, dan lain sebagainya.
b) Kekerasan seksual: seperti memaksa pacarnya untuk melakukan perilaku seksual tertentu seperti meraba, memeluk, mencium, hubungan seksual padahal pasangannya tidak.
Dampak Negatif dari Terjadinya Kekerasan dalam Berpacaran
A. Dampak Psikologis
Perempuan menjadi trauma atau benci kepada lakilaki. Akibatnya, ia takut menjalin hubungan dengan laki-laki Korban bisa mengalami depresi, stres dan kecemasan, memiliki waktu yang sangat sulit berkonsentrasi, menunjukkan perilaku bunuh diri, memiliki masalah tidur dan merasa harga dirinya rendah.
B. Dampak Seksual
Pelecehan seksual yang dihadapi dari perempuan dalam berbagaibentuknya, mulai dari komentar yang berkonotasi seksual dan kontak fisik secara tersembunyi (memegang, sentuhan kebagian tubuh tertentu) hingga ajakan yang dilakukan secara terangterangan meskipun pasangannya merasa sangat keberatan. Dampak dari kekerasan seksual yaitu mengalami sebuah traumatik bagi para korban dan menunjukkan stres yang dirasakannya dalam bentuk kata-kata dan tanggisan, yang lain menginternalisasi penderitaan yang dialami itu.
6 Windha Ayu Safitri, Sama'i.Dampak kekerasan dalam berpacaran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
C. Dampak Fisik
Pelecehan yang sering dan parah bisa mengakibatkan cedera yang lebih parah seperti: lebam, memar, luka, lecet, ginekologi dan patah tulang dapat terjadi. Penyebab kekerasan fisik pada remaja diantaranya adalah kecemburuan, sifat posesif, dan tempramen dari pasangan si anak remaja.
D. Dampak Sosial
Posisi perempuan menjadi lemah dalam hubungannya dengan laki-laki. Apabila perempuan yang merasa telah menyerahkan keperawanannya pada pacarnya, biasanya merasa minder untuk menjalin hubungan lagi.
3. Faktor penyebab masalah seksualitas pada remaja
Dari berbagai hasil studi dapatlah kiranya disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja timbul karena faktor-faktor berikut :7
1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasat seksual (libido seksualitas) remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu.
2. Akan tetapi penyaluran itu tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia nikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria) , maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan(pendidikan,pekerjaan,mempersiapan mental dll).
3. Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan larangan berkembang lebih jauh kepada tingkah-tingkah laku yang lain seperti berciuman dan masturbasi. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri akan terdapat kecenderungan untuk melanggar saja larangan-larangan tersebut.
4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih (video casette,tv,vidio porno, foto copy,satelit,vcd,hp,internet,laptop,dll) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa khususnya karena mereka
7Sarwono, sarlito wirawan,Piskologi Remaja, ( Jakarta : PT Raja Grafnno Persana,
pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.
5. Orang tuanya sendiri, baik karena ketidaktahuanya mapun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak, malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini. 6. Di pihak lain tidak dapat diingkari adanya kecnderungan pergaulan yang semakin
bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat ,sebagai akibat bekembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria.
4. Penanganan terhadap perilaku menyimpang remaja
Menurut rogers (Adam & gullotta, 11983 : 56-57) ada 5 ketentuan yang harus dipenuhi untuk membantu remaja :8
1. Kepercayaan : remaja itu harus percaya kepada orang yang mau membantunya. Ia harus yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan bahwa kata-kata penolong ini memang benar adanya.
2. Kemurnian hati. Remaja harus merasa bahwa penolong itu sungguh sungguh mau membantunya tanpa syarat.
3. Kemampuan mengerti dan menghayati perasaan remaja. Jadi jangan berdasarkan pandangan salah satu saja. Disinilah diperlukan lagi bantuan tenaga professional untuk membangun empati terhadap klien-klien yang dihadapinya.
4. Kejujuran. Remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja termasuk hal-hal yang kurang menyenagkan,
5. Mengutamakan persepsi remaja sendiri.
F. Rumusan Hipotesis
Untuk mengarahkan agar penelitian ini dapat mencapai target, sasaran, dan sekaligus menghindari data yang kurang relevan. Maka peneliti akan mengemukakan hipotesis. Di mana, dalam Kamus Ilmiah dituliskan, hipotesis merupakan dugaan bersifat sementara; pegangan dasar; atau dasar pendapat.9 Sedangkan menurut Sugiyono, hipotesis merupakan
jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik dengan data.10 Selanjutnya, dalam proposal penelitian ini digunakan hipotesis:
“Pacaran berpengaruh terhadap perilaku penyimpangan remaja khususnya perilaku seksual .”
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dengan tujuan yang ingin diperoleh dalam penelitian ini, maka jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif atau penelitian dengan menggunakan metode kualitatif. Menurut Sugiyono, metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada sifat postpositivisme, digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan trianggulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualtatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.11
2. Waktu dan tempat penelitian
Waktu penelitian ini rencanaakan dijadwalkan pada november 2016. Sedangkan untuk tempat penelitian di smp atau sma ngaliyan semarang.
9 Pius A. Partantodan M. Dahlan Al Barry, KamusIlmiahPopuler, Surabaya: PenerbitArkola, 2001,
hlm. 227.
10Sugiyono,MetodePenelitianPendidikan, hlm. 96.
3. Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini, sampel yang dipilih adalah siswa yang sudah pernah berpacaran dan melakukan perilaku seksual kepada pacarnya. Narasumber ditargetkan sebanyak 50 siswa. Pengambilan sampel secara random yang selanjutnya di generalisasikan ke populasi dimana sampel tersebut diambil.
4. Variabel Penelitian Variabel bebas : Pacaran
Variabel terikat : Perilaku menyimpang remaja (perilaku seksual)
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data.Tanpa mengetahui tekhnik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standart data yang ditetapkan. Tekhnik pengumpulan data merupakan cara atau metode yang digunakan untuk mengumpulkan data sedangkan instrument pengumpulan data berkaitan dengan yang digunakan untuk mengumpulkan data. 12
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari settingnya dapat dikumpulkan pada setting alamiah seperti di sekolahan dengan tenaga pendidikan dan kependidikan. Dilihat dari sumber datanya , maka pengumpulan data menggunakan sumber primer yaitu langsung kepada siswa dan sumber sekunder yaitu lewat guru,teman, masyarakat sekitar dan yang lainya. Selanjutnya dilihat dari segi cara/teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi berperanserta, wawancara mendalam dan dokumentasi.
a. Observasi
Dalam rangka melakukan aktivitas penelitian, maka dilakukan observasi terlebih dahulu yang bertujuan sebagai sumber untuk menyusun sebuah penelitian. Menurut Sutrisno Hadi (1986) dalam Sugiyono, observasi merupakan suatu proses yang kompleks yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.13Teknik ini sengaja digunakan untuk memperoleh
data seperti kondisi umum para siswa
b. Wawancara(Interview)
Teknik interview, menurut Sugiyono, digunakan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari informan yang lebih mendalam.14
Pada penelitian ini akan digunakan wawancara semiterstruktur karena sudah termasuk kedalam kategori in-depth interview dimana dalam pelaksanaanya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara ini untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, ide-ide. Dalam melakukan wawancara ini peneliti perlu mencatat dan mendengarkan dengan baik oleh informan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar, maupun elektronik. Dokumen yang dipilih dan dihimpun pun harus sesuai dengan tujuan dan fokus masalah.15 Di
mana salah satu manfaat dari teknik ini, nantinya dapat dijadikan sebagai bukti nyata bahwa peneliti benar-benar telah melakukan penelitian.
6. Teknik Analisis Data
Analisi data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengoorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Analisi data kualiitatif adalah bersifat induktif yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut selanjutnya dicarikan lagi data-data secara berulang-ulang sehingga dapat disimpulkan apakah hipotesis diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Bila berdasarkan data yang dapat terkumpul secara berulang-ulang dengan teknik triangulasi ternyata hipotesis diterima maka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori.16
14Sugiyono,Metode Penelitian Pendidikan, hlm. 194.
15 Nana Syaodih S, MetodePenelitianPendidikan, Bandung: PT. RemajaRosdakarya, 2010, hlm. 221-
222.
7. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan pada proposal penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan. Di mana dalam pendahuluan akan dibahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian.
Bab II : Landasan teori. Di mana dalam landasan teori ini dibahas tentang kajian pustaka, kerangka teoritik, dan rumusan hipotesis.
Bab III : Metodologi Penelitian. Di mana dalam bab ini berisi tentang jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, variable penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bab IV :Hasil Penelitian dan Pembahasan.Di mana dalam bab ini dibahas tentang deskripsi data hasil penelitian, pengujian hipotesis, pembahasan hasil penelitian, dan keterbatasan penelitian.
Bab V : Penutup. Dalam bab ini berisi kesimpulan dan saran.
8. Analisis Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan survei terhadap sampel dominan mengatakan bahwa mereka pernah melakukan perilaku seksual seperti berciuman,berpegang tangan,berpelukan bahkan ada yang sampai hubungan intim demi membuktikan cinta mereka sehingga mengorbankan keperawanan wanita kepada kekasihnya, hamil tidak diinginkan bahkan sampai ada yang melakukan tindakan kekerasan dalam jalinan hubungan asmara para remaja seperti memukul, mencaci, hiperprotektif dan mengancam, Oleh karena itu jawaban hipotesa ini dinyatakan valid.
Daftar Pustaka
Frista Artmanda W.2011, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jombang : PT. Lintas Media Jombang
Abdul Mujib.2004.Risalah Cinta.Jakarta: Raja Grafindo Persada
Setiawan, Rony,Nurhidayah, Siti.2008. PENGARUH PACARAN TERHADAP PERILAKU SEKS
PRANIKAH. Jurnal Soul, vol 1 (2)
Israwati,Watief A.rahman,Indra Fajarwati Ibnu.2011.PERILAKU SEKS PRA-NIKAH MAHASISWA PADA SEKOLAH TINGGIMANAJEMEN DAN ILMU KOMPUTER BINA BANGSAKENDARI (STUDI KASUS) . Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar.
Hurlock,Elizabeth.1980.psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.Jakarta : Erlangga
Sarwono, sarlito wirawan.2004.Piskologi Remaja.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry.2001.Kamus Ilmiah Populer.Surabaya: Penerbit Arkola
Sugiyono,MetodePenelitianPendidikan,
Sugiyono.2015.Metode Penelitian Pendidikan.Bandung : Alfabeta
Metodologi penelitian kesehatan kedokteran
Nana Syaodih S.2010.MetodePenelitianPendidikan. Bandung: PT. RemajaRosdakarya,
Windha Ayu Safitri, Sama'i.2013.Dampak kekerasan dalam berpacaran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember, I (1): 1-6