Muslim Nuu Waar: (un)Common Identity Reconstruction in Papua, Indonesia
Baiq L.S.W.Wardhani
Department of International Relations Faculty of Social and Political Science
Universitas Airlangga, Surabaya (email: [email protected])
Abstract
Islam is well known as an important unifying as well as separating factor in Southeast Asia as can be seen in various discourse about state and society. Diferent from generally termed as Asian ethnicity, Papua is predominatly Melanesian, and yet, Papuan plural society has been unknown. Papuan identity has been reconstructed for years for political purposes. As a result, within the context of Indonesian identity, many Papuans regard themselves as ‘others’ vis a vis the rest of Indonesians. Having a sense of separate identity is one of big challenges for creating Indonesian civic nationalism for more than ffty years as many Papuans believe they have no commonality with fellow Indonesians and Asians. It is true that, as Melanesian stock, Papuans are physically look difer from fellow Indonesian Muslims. Muslim Nuu Waar in Papua, is a minority of minority who struggle for recognition of their identity. This paper examines how their struggle to achieve recognition by observing their attitude over the issue of separatism, a longstanding unpopular issue in the relationship between Jakarta and Papua.
Pendahuluan
Tulisan ini merupakan studi awal untuk memuaskan keingintahuan penulis mengenai rekonstruksi identitas Papua, khususnya yang berkaitan dengan Islam. Tujuan awal penulisan ini adalah untuk mengemukakan beberapa fakta mengenai identitas ke-Papua-an orang Papua melalui dimensi agama, khususnya Islam dan bagaimana penggunaan agama sebagai simbolisasi identitas. Dimensi Islam menjadi penting dalam rangka pencarian identitas dan pengakuan orang Papua dalam konstruksi identitas mereka dalam ke-Indonesiaan dan persoalan global. Data-data yang dikemukakan di tulisan ini seluruhnya diperoleh dari bahan-bahan pustaka. Tidak terdapat data primer karena belum dilakukan studi lapangan (field reesearehd) oleh penulis. Sekalipun tidak seluruhnya, tulisan yang memuat tentang Islam di Papua sebagian besar adalah tulisan non-akademis, seperti laporan perjalanan, blog, majalah online maupun laman-laman lain yang memuat hal tersebut. Banyaknya tulisan yang mengulas tentang Islam di Papua menjadi salah satu bukti bahwa Islam bukanlah agama baru di sana, sekali pun Islam merupakan agama minoritas.
Papua merupakan bagian paling timur dari Indonesia, kadang-kadang disebut sebagai Papua Barat atau Irian Jaya.1 Daerah ini memiliki
sejarah panjang yang menyangkut konfik antara Jakarta dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kekayaan alamnya menarik minat industri tambang asal Amerika Serikat, Freeport McMoran membuka operasi di Papua sejak tahun 1960-an. Cara-cara Freeport menambang sumber daya di tanah Papua menimbulkan banyak masalah, mulai dari kerusakan alam, pelanggaran hak asasi manusia, dan meningkatnya tuntutan kemerdekaan dari kelompok separatis. Berbagai masalah di Papua, terutama yang berkaitan dengan konfik berkepanjangan yang terjadi antara Jakarta, OPM dan faksi-faksinya dan konfik horisontal lainnya memperlambat pengembangan sumber daya manusia di Papua.
Siapakah yang dimaksud orang Papua?
Fakta bahwa Islam bukanlah merupakan agama yang baru hadir di Papua hampir tidak pernah diungkap secara terbuka. Identitas Papua pada umumnya didefnisikan dalam kaitannya dengan agama dan ciri-ciri fsik. Namun pada dasarnya pembentukan identitas Papua dikonstruksikan melalui beberapa cara. Pertama, identitas Papua
1 Setelah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia,
dibangun melalui kaca mata politis. Sejak Papua diintegrasikan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Act of Free Choice tahun 1969, secara absah Papua memasuki kontrak sosialnya dengan Indonesia dan dengan sendirinya menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia, penggabungan Papua dilakukan melalui proses ‘voting’ yang rawan gugatan karena beberapa fhak masih mempermasalahkan hasil dari Act of Free Choice.
Kedua, identitas Papua dibangun melalui pendekatan sosio-kultural. Secara rasial, masyarakat Papua tidak berasal dari ras yang sama dengan masyarakat Indonesia lainnya yang mayoritas Melayu karena mereka termasuk dalam ras Melanesia, yang menempati sebuah pulau di bagian paling timur dari wilayah geografs Indonesia. Secara ideologi, sebagian besar orang Papua beragama Nasrani. Identitas sosio-kultural ini menjadi stigma yang melekat sebagai pembeda antara orang-orang Papua dengan orang-orang Indonesia lainnya. Identitas sosio-kultural lain yang melekat pada rakyat Papua adalah pemakaian koteka dan kehidupan yang masih dianggap primitif. Kondisi ini lebih disebabkan karena faktor isolasi geografs beberapa wilayah pedalaman Papua sehingga masih terdapat rakyat dengan penampilan demikian. Sulitnya akses/keterjangkauan masuk ke wilayah-wilayah tersebut juga berpengaruh pada tidak berubahnya cara hidup dan berbusana rakyat setempat.
Konstruksi identitas yang demikian berimplikasi pada stigmatisasi bahwa orang Papua adalah mereka yang berasal dari pulau Papua, berpenampilan fsik Melanesia, beragama Nasrani, bergaya hidup ‘terbelakang’, dan masih mempermasalahkan keberadaannya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rekonstruksi identitas Papua yang demikian mengalami beberapa perkembangan penting yang merupakan proses panjang politik identitas Papua.
Islam di Papua
Islam adalah agama yang tidak lazim dianut oleh penduduk asli Papua. Sebagai agama minoritas, perkembangan Islam di Papua tidaklah sepesat perkembangan Nasrani, terutama dalam hal jumlah penganutnya. Tidak mudah diperoleh data untuk mengetahui berapa jumlah pemeluk Islam di Papua. Sebagian besar data diberikan oleh sejumlah media massa. Contohnya, tulisan Mohammad Ali Athwa di majalah Hidayatullah (2012) mengemukakan bahwa terdapat sekitar 900 penganut Islam dari 2,5 juta penduduk Papua dan terdapat dua kabupaten yang dipimpin oleh pejabat Muslim yakni di Fak-Fak dan di Kaimana. Menurut catatan sejarah, Islam lebih dahulu hadir daripada Nasrani di bumi Papua. Islam telah dikenal pada tahun 1520 di tempat yang kemudian dikenal dengan sebutan Pulau Raja Ampat; sementara Kristen baru masuk pada tahun 1855 di Pulau Mansinam, Manokwari
http://kristolog.blogspot.com/2009/05/islam-di-papua-fenomena-mempesona.html)
Salah satu penyebab tidak pesatnya perkembangan Islam di Papua karena Belanda menggunakan isu Islamisasi untuk mencegah orang Papua bersimpati pada Indonesia dengan menakut-nakuti rakyat “Kristenisasi” secara masif di tanah yang pada mulanya berpenduduk Islam. Kristenisasi Papua, sebenarnya merupakan buah dari politik anti-komunis dan proses modernisasi Rezim Orde Baru yang berjalan simultan. Politik anti-komunis mengharuskan warga negara Indonesia memeluk satu agama tertentu. (Warta 2010). Pada saat yang bersamaan, ideologi developmentalisme mengharuskan Presiden Suharto menghilangkan kesan ‘primitif’ dan ‘terbelakang’ yang sebagian besar masih menjadi stigma di Papua (Timmer 2000, 33). Karenanya, Presiden Suharto menyambut baik uluran tangan para misionaris yang bersedia membangun infrastruktur di Papua. Kedua, bertolak belakang dengan isu Kristenisasi, terdapat anggapan akan adanya isu Islamisasi secara sistematis di Papua. Upaya ini dilakukan bersamaan dengan misi modernisasi dan menguatnya orientasi keislaman Suharto pada beberapa dekade berikutnya. Dengan demikian faktor Islamisasi turut memperkuat bahasan penting tentang rekonstruksi identitas Papua.
“Irian Jawa”. Tidak dapat dipungkiri bahwa transmigrasi membawa dampak penting bagi berkembangpesatnya Islam di Papua, sekali pun transmigrasi tidaklah semata-mata merupakan proyek Islamisasi yang di-skenario-kan. Wilayah-wilayah seperti Entrop dan Sentani yang sebelumnya tidak terjamah oleh Islam menjadi tempat penting bagi perkembangan Islam di Papua.
Beberapa tempat di Papua yang biasanya dihuni muslim di antaranya adalah Pulau Biak dan Fak Fak, yang pada masa pendudukan Belanda dikenal sebagai pusat perdagangan penting dan memiliki hubungan erat dengan kesultanan Islam di Ternate, Kepulauan Maluku. Sekalipun populasinya sudah berkurang, Fak Fak merupakan satu-satunya kota yang terdapat penduduk keturunan Arab dan India Muslim, keturunan dari para pedagang yang membawa Islam ke Papua pada pertengahan abad 19 yang lalu (Noor 2010, 6).
Pada perkembangan berikutnya, Islam merupakan salah satu agama yang mulai banyak dianut oleh masyarakat Papua. Sebagian muslim merupakan mereka yang secara turun temurun memeluk Islam, sebagian lagi merupakan kelompok yang beralih agama menjadi Islam. Tidak dapat disangkal bahwa salah satu efek transmigrasi adalah bertambahnya jumlah penduduk muslim di Papua, yang sebagian darinya merupakan mereka yang melakukan konversi menjadi pemeluk Islam. Bertambahnya jumlah penduduk Islam diikuti oleh bertambahnya jumlah sekolah dan pusat-pusat pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pendatang. Sekali pun demikian, perkembangan kegiatan sosial-kemasyarakatan ini tidak disertai dengan pesatnya jumlah pemilih Islam maupun simpatisan partai-partai Islam (Noor 2012, 8).
Berkembangnya Islam di Papua ditunjukkan dengan sejumlah organisasi keagamaan dan sosial yang bernafaskan Islam. Salah satu organisasi yang aktif dalam mengembangkan dakwah di Papua adalah Al-Fatih Kaafah Nusantara (AFKN) yang dipimpin oleh Ustadz Fadzlan Garamatan2. Tidak mengherankan jika banyak organisasi
massa Islam dan lembaga dakwah seperti NU, Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Hidayatullah, Al-Khairat, Jamaah Tabligh, HTI, dan Salaf dapat ditemui di tanah di Papua (Athwa, Hidayatullah.com, 2012). Lembaga lain yang bergerak dengan warna Islam adalah Yapis (Yayasan Pendidikan Islam), dan Islamic Centre. Secara simbolis masyarakat muslim Papua diwakili oleh Majelis Muslim Papua (MMP). Di tengah-tengah panduduk mayoritas
2 Ustadz Fadzlan Garamatan menyebut tanah Papua dengan sebutan Jazirah Nuu
Waar. Ustadz Garamatan mendapatkan anugerah penghargaan Tokoh Perubahan Versi Republika 2010. Ustadz Fadzlan dinilai sebagai tokoh penggerak yang berhasil melakukan perubahan masyarakat Nuuwar
(http://www.voa-islam.com/news/upclose/2011/04/02/13982/,
yang non-Islam, kegiatan dakwah di Papua nampak sangat mencolok. Gerakan Jamaah Tabligh (Tabligdi Jama’at), misalnya, mulai mengunjungi Jayapura untuk pertama kalinya pada tahun 1988 melalui Ternate. Cara-cara damai yang dilakukan oleh Jamaah Tabligh menuai simpati dari penduduk lokal, bahkan telah memiliki markas di lima tempat, yaitu di Entrop, Jayapura, Manokwari, Sorong dan Merauke. Simpati yang ditunjukkan oleh penduduk lokal ternyata tidak berbanding lurus dengan upaya para relawan Jamaah Tabligh untuk membuat banyak penduduk lokal Papua untuk melakukan konversi ke Islam. Terdapat faktor-faktor sosial, kultural dan topograf yang membuat perjuangan Jamaah Tabligh tidak terlalu berhasil (Noor 2012). Namun kisah tidak terlalu sukses Jamaah Tabligh tidak bisa dijadikan ukuran bagi berhentinya kegiatan Islam di Papua.
Konstruksi Identitas dan Pengakuan
Tidak seperti para pendakwah Jamaah Tabligh, misionaris Kristen berhasil dengan gemilang mengkonversi penduduk Papua menjadi pemeluk Nasrani. Warta (2010,1) menjelaskan, “Due to their longer presence in West Papua, Protestant missionaries turned out to be the most successful in terms of conversion rates”. Pada dasarnya, keberhasilan dan ketidakberuntungan dalam penyebaran agama berjalan bersamaan dengan konstruksi identitas di Papua. Hal ini telah lama berlangsung, yakni sejak masa pendudukan Belanda hingga masa Orde Baru, bahkan hingga kini. Seperti telah dikemukana sebelumnya, kerapkali Islam dijadikan sebagai cara untuk menakut-nakuti oleh Belanda untuk menanamkan perasaan pro-Belanda dan anti-merdeka pada masa tahun 1950-1960an di kalangan penduduk lokal. Dalam perkembangan selanjutnya, agama menjadi isu sentral dalam perkembangan politik di Papua.
Signifkansi agama sebagai sebagai simbolisasi pengukuhan identitas semakin nampak dalam beberapa peristiwa beberapa dekade terakhir. Bukan saja ketegangan agama antara Kristen dan Islam yang menjadi lebih nyata, namun juga beberapa perkembangan seperti peningkatan pemukim Muslim, munculnya penginjil radikal, pemanfaatan agama oleh mendukung pemisahan diri dan isu masuknya jaringan terorisme menekankan pentingnya lanskap keagamaan di Papua.
pertama, yaitu Papua Muslim yang berasal dari masyarakat adat inilah yang disebut Muslim Nuu Ware.3 Batasan masyarakat adat didasarkan
pada Undang-Undang Otonomi Khusus no. 21 tahun 2001, yang menyatakan bahwa “Masyarakat Adat adalah warga masyarakat asli Papua yang hidup dalam wilayah dan terikat serta tunduk kepada adat tertentu dengan rasa solidaritas yang tinggi di antara para anggotanya” (Undang-undang Republik Indonesia nomor 21 tahun 2001 mengenai Otonomi Khusus Provinsi Papua, bab I butir p, 2001). Dalam kaitan ini masyarakat adat adalah mereka yang biasa disebut dengan indigenous people. Merujuk istilah ini, muslim pendatang tidak termasuk dalam kategori muslim Nuu War.
Terdapat beberapa catatan penting berkaitan dengan konstruksi identitas yang menyangkut polarisasi Islam-Kristen. Pertama, terdapat stigma bahwa polarisasi keagamaan berdampak pada polarisasi identitas politik dan dukungan pada isu pemisahan diri Papua dari Indonesia. Anggapan yang kuat selama ini adalah, mereka yang beragama Nasrani cenderung berfhak, atau bersimpati pada kelompok yang menginginkan pemisahan diri, sekali pun mereka tidak selalu berafliasi pada Gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai motor penggerak separasi. Sebaliknya, masyarakat penganut Islam cenderung memberi dukungan kepada keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Artinya, formasi identitas nasionalisme berkaitan langsung dengan identitas religi. Pernyataan ini masih merupakan asumsi yang perlu dibuktikan melalui penelitian lebih mendalam. Terdapat hasil penelitian yang menyatakan bahwa pada dasarnya masyarakat adat yang memeluk Islam dan Nasrani tidak mempersoalkan batas-batas agama karena mereka lebih mementingkan ikatan kultural dan kinsdip sebagai sesama keturunan Melanesia (Pamungkas 2011, 138). Seperti yang terjadi di hampir semua masyarakar Melanesia, ikatan kinship sangat berpengaruh pada cara berfkir dan bertindak mereka dan keterikatan dalam kinship dapat menjadi penentu dalam mengambil keputusan. Laporan ICG (2008, 17) menyebutkan bahwa sikap transmigran muslim lebih jelas terhadap gerakan pro-kemerdekaan, yaitu dengan tidak mendukungnya. Bagi para pendatang, mendukung gerakan pro-kemerdekaan merupakan awal penderitaan mereka. Wawancara yang dilakukan oleh ICG melaporkan bahwa,
3 Istilah Nuu War merupakan nama yang diberikan oleh Ustadz Fadzlan Garamatan
Banyak pendatang Muslim yang melihat pisah dari Indonesia sebagai aspirasi warga Papua Kristen, terlebih karena atribut Kristen seperti salib, kutipan Injil dan lagu-lagu rohani sering dipakai dalam demonstrasi pro-independen. Muslim semakin yakin bahwa jika Papua memperoleh kemerdekaannya, maka mereka akan menderita.
Lebih jauh, laporan ICG (2008, 17) menyebutkan bahwa penduduk muslim Papua, baik pendatang maupun penduduk asli, seperti persepsi muslim di Kaimana dan Fak Fak yang merupakan penduduk muslim terbanyak di Papua, meyakini bahwa gerakan pro-independen dimotori oleh orang orang Nasrani. Terdapat fenomena yang menarik pula bahwa, muslim Nuu War Papua dalam beberapa hal ingin diakui cara mereka berfkir sama dengan orang Indonesia pada umumnya (ICG 2008, 20). Keinginan untuk diakui ini merupakan refeksi dari perasaan ter-alienasi, atau setidaknya, perasaan sebagai minoritas di Papua. Kuatnya peran gereja sebagai lembaga yang berperan sentral dan dihormati, menumbuhkan kekhawatiran bahwa gereja berfhak kepada gerakan pro-independen. Belajar dari kasus berhasilnya Timor Timur berpisah dari Indonesia karena gereja terlibat dalam secara intensif dalam menentang peristiwa-peristiwa pelanggaran hak azasi manusia, gereja di Papua juga menjalankan fungsi serupa. Tidak saja berperan sebagai lembaga agama, gereja juga menjadi simbol kehesi sosial dan afliasi kultural dan reperesentasi identitas politik. Kuatnya peran gereja semakin memperkuat polarisasi antara pemeluk Nasrani dan Islam sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa pemeluk Nasrani identik dengan gerakan pro-independen yang memiliki pendirian politik yang bertolak belakang dengan pemeluk Islam (Stott, 2011).
Ketiga, jika ikatan kultural dan kinsdip lebih penting dan ikatan kinship berada di atas identitas agama, maka identitas agama seharusnya dapat berperan sebagai jembatan/mediasi bagi konfik pemisahan diri. Peran mediasi ini menjadi penting untuk mengaburkan stigmatisasi bahwa orang Papua adalah separatis, stigmatisasi sebagai akibat politisasi agama/rasial dan sisa-sisa politik adu domba di masa kolonial yang berdampak negatif bagi hubungan antaragama-antarras antara Muslim Nuu War dengan kelompok-kelompok lain di bumi Papua. Dengan kata lain, ke-Papua-an orang Papua tidak tergantung dari agama yang dianutnya, dan nasionalisme Papua juga tidak selalu relevan dikaitkan dengan agama mereka. Konfik dan ketegangan antaragama seperti pada thun 2007 dengan kasus konser penggalangan dana dan pendirian menara pohon natal yang penuh kontroversi, merupakan dinamika yang pengelolaan konfiknya dapat menghasilkan rasa saling menghormati dalam hubungan antaragama.
Dalam konteks yang lebih luas, dikotomi Islam-Nasrani di Papua dapat terjebak ke dalam isu radikalisme, ekstremisme dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. Tidak menutup kemungkinan terjadi transformasi isu dari identitas menjadi isu keamanan. Kecenderungan ini dapat terjadi jika perdebatan tentang hubungan antaragama berkembang menjadi konfik yang tidak terkendali sehingga konfik komunal dan konfik pemisahan diri yang masih berlangsung tidak dengan mudah dapat ditunggangi oleh isu ekstremisme agama dan terorisme. Jika hal ini benar, dapat terjadi komplikasi antara isu identitas-nasionalisme dengan isu ekstremisme-terorisme yang beradan di ranah kemananan non-tradisional. Singkat kata, telah terjadi transformasi dan perluasan isu identitas menjadi isu kemanan dalam membincangkan persoalan konstruksi identitas Papua.
Kesimpulan
Tulisan ini merupakan studi awal untuk mengetahui Muslim Nuu War di Papua yang merupakan minoritas di bumi Papua, dikaitkan dengan sikap mereka terhadap penerimaan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Di satu fhak, berkembangnya Islam di “tanah perdamaian” mendapat simpati dari masyarakat lokal. Konfik dan ketegangan antarpemeluk agama yang terjadi di beberapa tempat menggambarkan dinamika hubungan antaragama dan antarras yang sejauh ini dapat dikelola. Di fhak lain, konstruksi identitas terjadi antara muslim Nuu War dengan Nasrani Papua mencerminkan sikap penerimaan dan penolakan atas nilai-nilai ke-Indonesiaan.
lebih luas, yaitu keamanan. Identitas Nuu War seolah-olah menjadi identitas pembatas yang memisahkan mereka dari masyarakat Papua pada umumnya. Dengan kata lain, kohesivitas Papua yang didasari pada ikatan kekerabatan tidak lagi menjadi perekat akibat kuatnya konstruksi identitas berbasis agama. Konstruksi demikian secara sistematis menajamkan garis-garis etnis yang rawan diintervensi oleh isu-isu identitas lain yang berdimensi keamanan, seperti radikalisme, ekstremisme dan terorisme berbasis agama.
Bahan bacaan
Athwa, Mohammad Ali. 2012. Eksotisme dan Geliat Dakwah di Papua. http://www.hidayatullah.com/read/23148/15/06/2012/eksotisme-dan-geliat-dakwah-di-papua-.html. akses 17/2/2013
Desastian. 2012. Jangan Sebut Lagi Kuslim Papua tapi Muslim Nuu Waar.
http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/11/12/21621/j
angan-sebut-lagi-muslim-papua-tapi-nuu-waar/. Diakses
19/2/2013;
Internatonal Crisis Group (ICG). 2008. Ketegangan Antaragama di Papua. Asia Report no. 154, Juni 2008.
Islam di Papua, Fenomena Mempesona. 12 Mei 2009.
http://kristolog.blogspot.com/2009/05/islam-di-papua-fenomena-mempesona.html. Akses 15/8/2013
Malam Ini, Tokoh Perubahan Republika 2010 Dinobatkan, 31 Maret 2011.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/03/31/lixhtp-malam-ini-tokoh-perubahan-republika-2010-dinobatkan
McGibbon, Rodd. 2004. Plureal Sohiety in Pereil: Migreation, Ehonomih Cdange, and tde Papua Confiht. Washington DC, East West Centre Washington.
Noor, Farish A. 2010. Tde Arereival and Spreead of tde Tabligdi Jama’at in West Papua (Ireian Jaya), Indonesia. RSIS Working Paper no. 191. Singapore, RSIS.
Pamungkas, Cahyo. 2011. Muslim Papua and Special Autonomy: Research Summary. Jourenal of Indonesian Sohial Shienhes and Humanities , Vol. 4, 2011, pp. 133-155.
Stott, David Adam. 2011. Would An Independent West Papua Be A Failing State? The Asia-Pacifc Journal Vol 9, Issue 37 No 1,
Septembere 12, 2011.
http://www.japanfocus.org/-David_Adam-Stott/3597. Diakses 17/2/2013
Timmer, J. 2000. The Return of the Kingdom: Agama and the
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 21 tahun 2001 mengenai otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, 2001.
Ustadz Sabun Mandi Itu Raih Anugerah Tokoh Perubahan Republika, 2 April 2011
http://www.voa-islam.com/news/upclose/2011/04/02/13982/