REVOLUSI INDUSTRI GENERASI 4.0, PELUANG ATAU ANCAMAN?.
Di kalangan pemerintah, pengusaha, dan akademisi, tentang Revolusi Industri Generasi ke-4 atau RIG. 4.0 telah menjadi topik diskursus yang sangat menarik. Tema tentang RIG 4.0 bahkan telah menggeser tema tema yang lain, seperti tentang ledakan jumlah penduduk, perdagangan bebas, pemanasan global, pembangunan berkelanjutan, dan lain sebagainya.
Faktor utama yang membuat tema tentang RIG 4.0 menjadi hal yang menarik berbagai kalangan untuk mendiskusikannya adalah kekhawatiran bahwa RIG 4.0 akan menyebabkan terjadinya proses substitusi tenaga kerja manusia (manpower) oleh tenaga kerja robotik (robotic power) atau tenaga kerja kecerdasan buatan (artifisial inteligent power).
Kekhawatiran bahwa robotic power (RP) atau artifisial intelligent power (AIP) akan mensubstitusi manpower (MP), pada RIG 4.0 memang cukup beralasan. Karena RIG 4.0 memang sangat mungkin menciptakan persaingan hyper-asimetrical memperebutkan lapangan kerja antara MP versus RP/AIP.
Perebutan lapangan kerja antara MP versus RP/AIP dikatakan sebagai persaingan yang hyper asymmetrical karena MP dibandingkan dengan RP/AIP merupakan production resource yang inferior. Karena RP/AIP unggul secara berkali kali lipat dibandingkan dengan MP. Ada beberapa faktor yang menyebabkan keunggulan RP/AIP jika dibandingkan dengan MP, antara lain:
1. RP/AIP tidak memiliki May Day, karena RP/AIP tidak memiliki naluri berdemostrasi dan menuntut peningkatan kesejahteraan kepada pengusaha yang mempekerjakannya. Karena tidak memiliki naluri berdemonstrasi, maka pengusaha jika dihadapkan pada dua pilihan, apakah memilih MP atau RP/AIP, maka dapat dipastikan akan memilih RP/AIP.
2. RP/AIP tidak memiliki asosiasi sebagai mana yang dimiliki oleh MP, seperti berbagai serikat buruh atau pekerja. Karena RP/AIP tidak memiliki asosiasi, maka RP/AIP tidak memiliki daya untuk menekan pengusaha agar meningkatkan upah atau tingkat kesejahteraannya.
3. RP/AIP tidak memiliki jenis kelamin. Sehingga RP/AIP tidak mengalami menstruasi dan melahirkan. Dengan demikian, pengusaha tidak direpotkan dengan cuti menstruasi atau cuti melahirkan.
4. RP/AIP memiliki daya fisik yang berkali kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan MP. 5. RP/AIP memiliki produktifitas dan efisiensi berkali-kali lipat dibandingkan dengan MP. 6. RP/AIP tidak mempan terhadap sogokan atau suap dan perilaku korup lainnya.
Dengan berbagai keunggulan RP/AIP dibandingkan dengan MP tersebut, maka wajar muncul kekhawatiran bahwa akan terjadi proses substitusi besar-besaran terhadap MP oleh RP/AIP. Dan akibatnya akan terjadi PHK besar-besaran dan pengangguran yang luar biasa besar. Berdasarkan hasil penelitiannya, McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa sekitar 30 persen tugas dari dua pertiga jenis pekerjaan akan digantikan oleh RP/AIP. Dan McKinsey Global Institute juga memprediksi bahwa pada tahun 2030, sekitar 3 hingga 14 persen profesi akan hilang dan sekitar 75 juta hingga 375 juta orang harus berganti bidang mata pencaharian.
manusia?. Atau dalam ungkapan yang lain, apakah RIG 4.0 akan memicu great depression sebagaimana yang terjadi pada Revolusi Industri Generasi 1.0 (RIG 1.0) di Inggris dan Revolusi Industri Generasi 2.0 (RIG 2.0)?.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka ada beberapa aspek yang mesti dicermati dan dipahami, yaitu:
1. Kesiapan pemerintah dalam menyusun langkah-langkah antisipatif untuk mengurangi dampak destruktif potensial yang dihadirkan oleh RIG 4.0.
2. Karakteristik masyarakat versus karakteristik lompatan inovasi yang dihasilkan pada RIG 4.0 3. Kecepatan proses digitalisasi di Indonesia dan di tingkat global
4. Kemampuan inovasi baru menghasilkan kesempatan/jenis pekerjaan baru.
Kesiapan Pemerintah Menghadapi RIG 4.0
Terkait dengan bagaimana menghadapi RIG 4.0 dan berbagai dampak ikutan yang dibawanya, pemerintah Republik Indonesia telah mempersiapkan roadmap atau peta jalan yang diberi nama “Making Indonesia 4.0”. Di dalam Making Indonesia 4.0 tersebut, telah ditetapkan 5 sektor manufaktur yakni :
1. Industri makanan/minuman (food and beverage) 2. Industri Tekstil dan pakaian (textile and apparel) 3. Industri otomotif (automotive)
4. Industri elektronik (electronics) 5. Industri kimia (chemical).
Dalam rangka untuk mengoptimalkan dan mencapai tujuan terhadap 5 sektor industri manufaktur tersebut, pemerintah telah juga menyusun strategi. Untuk sektor Industri makanan/minuman pemerintah akan mecapainya dengan 4 strategi, yakni : 1). Mendorong sektor hulu, yakni pertanian, peternakan, dan perikanan, melalui penerapan dan investasi teknologi canggih seperti monitoring otomatis dan autopilot drones, 2). Membantu UMKM yang terlibat di dalam sektor makanan dan minuman untuk mengadopsi teknologi yang dapat meningkatkan hasil produksi dan pangsa pasarnya, 3). Mendorong investasi pada produk makanan kemasan untuk menangkap seluruh permintaan domestik, 4). Meningkatkan ekspor dengan memanfaatkan akses terhadap sumber daya pertanian dan skala ekonomi domestik.
Pada sektor industri tekstil dan pakaian, pemerintah akan mencapainya dengan 4 strategi, yaitu : 1). Meningkatkan daya dukung di sektor hulu, khususnya pada produksi serat kimiawi dan bahan pakaian berbiaya murah dan berkualitas tinggi, 2). Mendorong peningkatan produktifitas manufaktur dengan penerapan tekonologi, optimalisasi lokasi pabrik, dan peningkatan keterampilan. 3). Mendorong peningkatan fungsional clothing, 4). Meningkatkan skala ekonomi untuk memenuhi permintaan functional clothing.
adopsi teknologi dan pengembangan infrastruktur, 3) Bekerjasama dengan OEM dunia untuk meningkatkan ekspor, 4). Membangun ekosistem untuk industri elecric vehicles (EV).
Strategi pemerintah pada sektor industri kimia terdiri dari : 1). Mendorong kapasitas suplai petro-kimia domestik untuk substitusi impor, 2). Membangun industri kimia berbiaya kompetitif dengan sumberdaya migas dan optimalisasi zona industri, 3). Mendorong peningkatan produktifitas, 4). Mengembangkan kemampuan produksi kimia generasi berikutnya seperti biofuel dan bioplastik.
Terakhir, untuk sektor industri elektronik, strategi yang akan pemerintah lakukan terdiri dari: 1). Menarik investor global terkemuka dengan paket insentif yang menarik, 2). Mengembangkan kemampuan dalam memproduksi komponen elektronik yang memiliki added value, 3). Melakukan pelatihan intensif terhadap tenaga kerja dalam negeri, 4). Mengembangkan pelaku industri unggulan dalam negeri.
Selain kebijakan yang sifatnya sektoral, pemerintah juga telah menyusun strategi yang lintas sektoral, yang meliputi:
1. Perbaikkan alur aliran barang dan material 2. Desain ulang zona industri
3. Mengakomodasi standar-standar keberlanjutan (sustainability) 4. Memberdayakan UMKM
5. Membangun infrastruktur digital nasional 6. Menarik minat investasi asing
7. Meningkatkan kualitas SDM 8. Pembangunan ekosistem inovasi 9. Insentif untuk investasi tekonologi 10. Harmonisasi aturan dan kebijakan
Dengan seperangkat kebijakan antisipatif menghadapi RIG 4.0 sebagaimana di atas, Indonesia optimis bahwa pertumbuhan ekonomi akan mengalami kenaikkan sebesar 1 hingga 2 persen pertahun sehingga naik dari 5 persen menjadi 6-7 persen pada periode 2018-2030. Dan sektor industri pengolahan (manufaktur) diharapkan menyumbang sebesar 21-26 persen terhadap GDP Indonesia pada 2030. Pada akhirnya, juga diharapkan Indonesia menjelma menjadi satu dari 10 negara di tingkat global dengan perekonomian terbesar.
Karakteristik masyarakat versus karakteristik lompatan inovasi yang dihasilkan pada RIG 4.0
orang. Berikutnya dari sisi kehidupan, mayoritas rakyat Indonesia tidak hidup dalam kondisi kemiskinan yang terlalu parah, masyarakat yg mengalami malnutrisi hanya segelintir penduduk, pertanian sudah tidak bersifat subsisten, berbagai kegiatan produksi cukup termekanisasi, dsb.
Dengan demikian, antara karakteristik masyarakat Indonesia dengan lompatan inovasi teknologi digital yang ditawarkan oleh RIG 4.0, tidak terdapat gap yang terlalu lebar. Sedangkan yang terjadi di Inggris pada RIG 1.0, terdapat gap yang teramat lebar. Misalnya, pada masa tersebut, masyarakat Inggris mayoritas merupakan rural society, pertanian dalam makna luas masih bersifat subsisten, kegiatan produksi 100 persen masih menggunakan tenaga manusia atau hewan, rata-rata penduduknya hidup dalam kesulitan, mengalami malnutrisi, dan sakit penyakit masih sangat umum terjadi.
Kecepatan proses digitalisasi di Indonesia dan di tingkat global
Belajar dari fenomena transisi mekanisasi produksi dan pertanian yang telah terjadi sebelumnya, dapat diduga bahwa proses digitalisasi atau robotisasi di Indonesia tidak secepat yang terjadi pada negara-negara maju. Hal ini sejalan dengan dengan hasil riset dari McKinsey Global Institute yang menemukan fakta bahwa di Indonesia, transisi lapangan kerja, baru terjadi pada 2007, atau terlambat tujuh tahun dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah-atas.
Relatif rendahnya proses digitalisasi/robotisasi di Indonesia disebabkan oleh rendahnya kemampuan dan komitmen berbagai elemen perekonomian (masyarakat, pemerintah, dan perusahaan/private) dalam mewujudkan era yang serba digital/robotik. Lemahnya kemampuan, terkait erat dengan masalah kapasitas fiskal pemerintah dan keuangan swasta yang terbatas. Mengingat bahwa digitalisasi/robotisasi proses produksi dan distribusi merupakan proses yang high investment dan high skill.
Oleh karena itu patut diduga bahwa proses digitalisasi/robotisasi di Indonesia akan bersifat gradual bukan bersifat drastis dan melompat jauh ke depan. Dengan demikian, masyarakat Indonesia memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Dan digital shocks dapat dihindari.
Kemampuan inovasi baru menghasilkan kesempatan/jenis pekerjaan baru
lipat luasnya dibandingkan dengan usaha wartel. Saat ini usaha penjualan handphone dan pulsa merambah hingga ke pelosok pelosok desa. Hal yang tidak terjadi pada usaha wartel yang hanya terkonsentrasi di daerah perkotaan.
Oleh karena itu, jika dulu para ekonom klasik menyikapi secara optimis pelipatgandaan suplai barang dan jasa yang dihasilkan dengan jargon “Supply creates it’s own demand”, maka RIG 4.0 harus kita hadapi secara optimis pula dengan jargon “Innovation creates its own employment”.