• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka dan Metode Analisa Budaya Strat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kerangka dan Metode Analisa Budaya Strat"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

071311233075 – Studi Perbandingan Budaya Stratejik – Week 3

Kerangka dan Metode Analisa Budaya Stratejik: dari Analisa Sejarah hingga Studi Perbandingan

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, salah satu tantangan utama dari penggunaan tingkatan budaya di dalam analisa sebuah kebijakan luar negeri adalah sifat dari konsep budaya yang partikular dan intangible. Ini menciptakan inkongruensi terhadap metode – metode penelitian analisa kebijakan luar negeri yang menggunakan pendekatan kulturalis. Miskinnya wacana yang berkaitan dengan operasionalisasi konsep budaya, serta metode – metode yang secara spesifik ditujukan untuk penelitian kulturalis membuat Jeannie Johnson (2006) mengemukakan pendapat yakni “The primary problem faced by strategic culture analysts is honing down the wide range of variables that may be termed "cultural" and presenting strategic culture analysis as a usable model.” Hal tersebut menggambarkan bahwa ada problematika tersendiri dalam menyusun penelitian studi budaya stratejik yang komprehensif. Berangkat dari hal tersebut, maka dalam tulisan kali ini akan dijabarkan metode - metode analisa budaya stratejik di dalam sebuah penelitian.

Di dalam sebuah penelitian, budaya stratejik digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam menganalisa kebijakan keamanan luar negeri suatu negara dan menekankan postulat bahwa ada pengaruh budaya –dalam wujud budaya nasional, nilai, norma, sejarah, simbol, kepercayaan, persepsi– di dalam pembentukan kebijakan dan tingkah laku suatu negara yang berkaitan dengan keamanan dan ancaman. Berbeda dengan pendekatan materalisme, budaya stratejik sebagai pendekatan menekankan pada analisa konsep ideasional yang seringkali intangible secara empirik. Colin Gray (1984) misalnya, menjabarkan bahwa budaya stratejik suatu negara berkaitan erat dengan variabel pengalaman sejarah mereka yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam hal keamanan. Dalam hal ini, pengalaman sejarah akan menciptakan trajektori dan batas – batas tak terlihat daripada tingkah laku dan pola pikir pengambil keputusan dalam menciptakan kebijakan keamanan negara mereka. Dengan kata lain, ada kongruensi yang konstan daripada bentuk dan pola pengambilan keputusan terkait isu keamanan negara, yang mana didasarkan oleh faktor sejarah dan pengalaman yang pernah dialami oleh suatu negara. Dalam penelitiannya pun, penekanan terhadap analisa faktor sejarah, pengalaman, dan kongruensi antar kebijakan dan keputusan yang diambil oleh negara merupakan yang utama.

Di sini, penulis memosisikan diri bahwa kadang faktor sejarah, sebagaimana dijabarkan oleh Colin Gray, kurang bisa menjelaskan dinamika budaya stratejik suatu negara. Penulis di sisi lain melihat bahwa ada faktor ideasional lain yang turut berperan penting. Hal ini senada dengan analisa konsep ideasional oleh Farrell (2002) yang melihat bahwa ranah ideasional memainkan peran yang vital di dalam pendekatan budaya stratejik. Dalam perbandingannya dengan pendekatan konstruktivisme, peneliti budaya stratejik lebih berfokus pada dampak dari norma-norma domestik pada bentuk dan tindakan negara, beranggapan bahwa norma memproduksi perbedaan dalam apa yang negara lakukan. Dengan demikian, norma khas yang dimiliki masyarakat dan organisasi di suatu negara dianggap yang membentuk gaya militer nasional dan kebijakan perang yang unik. Sedangkan konstruktivisme melihat norma-norma internasional membentuk kesamaan dalam bentuk negara dan tindakan, terlepas dari keadaan material negara.

(2)

071311233075 – Studi Perbandingan Budaya Stratejik – Week 3

keamanan nasional; desain dan persebaran senjata; rencana perang; penggambaran perang dan perdamaian di berbagai media; upacara militer; dan juga sastra perang. Johnston (1995) kemudian menggambarkan cara untuk menggunakan pendekatan budaya stratejik dengan menganalisis variabel yang digunakan dengan didasarkan oleh periode tertentu, dan kemudian membandingkannya dengan variabel yang sama dari periode masa lalu, dan melihat kesesuaian diantara keduanya, budaya stratejik dianggap ada dan telah bertahan sepanjang waktu jika keselarasannya membentang dalam periode yang lama.

Berkaitan dengan budaya stratejik di dalam penelitian, beberapa peneliti menggunakan metode analisa yang bervariasi. Johnson (2006) menyadari adanya pengaruh dari disiplin lain, seperti etnografi dan sosiologi, di dalam menggunakan pendekatan budaya stratejik di dalam sebuah penelitian. Dengan kata lain, cara – cara yang digunakan lebih bersifat interdisipliner. Selain itu, Johnson (2006) juga mengajukan beberapa metode, yaitu mengajukan pertanyaan yang spesifik. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Willis Stanley (dalam Johnson, 2006) yang mengatakan bahwa analisa budaya stratejik akan berguna jika diarahkan dengan seperangkat pertanyaan penelitian yang spesifik. Metode lainnya adalah melakukan investigasi yang menyeluruh dengan tujuan mendalami sejarah negara, geografi, kode sosial internal, pola dan cara interaksi umum dengan negara-negara lain. Colin Gray (1984) menekankan penggunaan bentuk studi perbandingan budaya stratejik dari dua negara untuk menciptakan analisa yang komprehensif. Menurutnya, budaya mrupakan konsep yang bersifat partikular dan relatif, sehingga Sementara Lantis (2009) mengedepankan beberapa tahap dalam melakukan penelitian budaya stratejik. Yang pertama adalah menciptakaan definisi umum. Hal ini dikarenakan budaya stratejik belum dianggap sebagai satu variabel independen yang umum, sehingga definisi menjadi penting sebagai dasar dan batasan penelitian. Tahap selanjutnya adalah meneliti asal muasal dari budaya stratejik yang dianalisa. Budaya Stratejik yang telah dipilih perlu untuk dianalisa lebih lanjut dengan observasi aktor dominan, relevansi, dan urgensinya terhadap sejarah kebijakan keamanan di negara rersebut. Selanjutnya adalah menganalisa kondisi dan konteks yang mendasari adanya kebijakan keamanan tersebut. Hal ini dianggap penting karena pada konteks tertentu budaya stratejik dapat berdampak lebih terhadap suatu kebijakan keamanan (Lantis, 2009).

Selain itu, Salah satu bentuk khas dari metode analisa studi budaya stratejik ini adalah pendekatannya yang berbasis perbandingan. Mengapa perbandingan? Gray (1984) melihat fakta bahwa budaya stratejik antar negara bersifat unik. Sehingga, melalui studi perbandingan lah keunikan budaya stratejik dari negara – negara tersebut dapat secara mencolok terlihat. Studi perbandingan dapat memperlihatkan bagaimana dua negara dapat bertindak berbeda di dalam satu isu yang sama. Hal ini juga diamini oleh Yitzhak Klein (dalam Lantis, 2014) yang mengemukakan bahwa studi komparatif yang mendalam tentang pembentukan, pengaruh, dan proses perubahan dalam budaya strategis negara-negara besar di era modern dapat berkontribusi secara signifikan untuk studi perang dan perdamaian. Studi budaya stratejik sendiri dalam pandangan Farrell (2002) berorientasi kepada apa yang terjadi di dalam negara, dan bukan di antara negara. Dengan demikian, pendekatan budaya stratejik cenderung berkonsentrasi pada menjelaskan keunikan dalam bentuk dan perilaku negara, dan mereka tertarik dalam aplikasi praktis dari variabel ideasional yang mendasari hal tersebut. Keunikan tersebut baru dapat ditemukan dengan melakukan studi perbandingan yang bertujuan untuk mengontraskan variabel budaya di antara kedua negara dengan budaya stratejik yang berbeda.

(3)

071311233075 – Studi Perbandingan Budaya Stratejik – Week 3

stratejik modern Jepang, dan memunculkan imperialisme Jepang di wilayah tersebut. budaya strategis Jepang yang kedua ini –imperalisme- banyak dipengaruhi oleh teknologi canggih, dan kekuatan militer, dan juga nilai-nilai samurai dari inkarnasi sebelumnya. kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II menurut Oros (2014) menyebabkan pergeseran budaya stratejik, dan kali ini berdasarkan prinsip antimiliter dan didukung oleh aliansi militer sepihak dengan Amerika Serikat yang disediakan untuk keamanan Jepang tanpa memerlukan pasukan militer Jepang. Pada periode ketiga ini, perencana Jepang mengembangkan pendekatan pasifis untuk keamanan yang terkait akses ke sumber daya dan pasar untuk kebutuhan keamanan. Salah satunya melalui promosi visi Self Defense Forces Jepang sebagai penyedia bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana. Hal ini kemudian terbukti dari Jepang yang meraih peringkat tertinggi di antara negara-negara yang disurvei sebagai kontributor positif kepada masyarakat internasional pada tahun 2012 (Oros, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa faktor budaya, persepsi, dan penciptaan nilai tertentu di tingkat domestik akan memunculkan pola pikir dan tingkah laku yang berbeda dari suatu negara.

Dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam penelitian budaya stratejik, ada berbagai pendekatan dan metode yang dapat digunakan. Tetapi, menjadi penting terlebih dahulu untuk membangun pondasi yang kuat dibawah penelitian tersebut dengan menggunakan definisi dan variabel yang empiris, sehingga penelitian dapat dilakukan secara komprehensif. Hal tersebut tidak lepas dari fakta bahwa penelitian budaya stratejik yang berorientasi pada faktor ideasional memiliki variabel yang abstrak, sehingga pemilihan variabel yang sesuai dan melakukan operasionalisasi yang tepat merupakan kunci dalam penelitian tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, metode analisa dari penelitian budaya stratejik ini sendiri bervariasi dan terbentang dari studi sejarah, analisa budaya, hingga interpretasi simbol dan kode budaya yang berkaitan dengan budaya nasional suatu negara. Tetapi, kesamaan dari metode – metode yang berbeda tersebut adalah seluruh metode tersebut harus dijalankan dibawah payung studi perbandingan. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa budaya bersifat unik, dan keunikan tersebut baru akan dapat diamati dengan melakukan perbandingan.

Referensi:

Farrell, Theo (2002). “Constructivist Security Studies: Portrait of a Research Program”, International Studies Review, 4 (1): 49-72.

Gray, Colin S. (1984). “Comparative Strategic Culture”, Parameters, 14 (4): 26-33.

Johnson, Jeannie (2006). “Strategic Culture: Refining the Theoretical Construct”, prepared for the Defense Threat Reduction Agency Advanced Systems and Concepts Office.

Johnston, Alastair Iain (1995). “Thinking about Strategic Culture”, International Security, 19 (4): 32-64.

Lantis, Jeffrey S. (2009). “Strategic Culture: From Clausewitz to Constructivism”, in Jeannie Johnson et al. (eds.), Strategic Culture and Weapons of Mass Destruction: Culturally Based Insights into Comparative National Security Policymaking. New York: Palgrave Macmillan. Ch. 3.

Lantis, Jeffrey S. (2014) Strategic Cultures and Security Policies in the Asia-Pacific, Contemporary Security Policy, 35 (2): 166-186

(4)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menegetahui perubahan garis pantai yang terjadi di kawasan kepesisiran Kabupaten Tuban bagian barat, yaitu Kecamatan Bancar, Tambakboyo, dan

Jika terdapat sejumlah muatan, maka gaya total yang bekerja pada muatan merupakan jumlahan vektor gaya yang dilakukan oleh sejumlah muatan lainnya... Penjumlahan vektor gaya

surat Alquran, Beberapa kata yang mempunyai hubungan dalam pemaknaan Bani Israel dalam Alquran secara sintagmatik di antaranya adalah Q.S. Al-Baqarah : 40, dalam

Program Desa Mandiri Pangan adalah salah satu program yang dibuat oleh Pemerintah dalam upaya untuk mengatasi kerawanan pangan dan kemiskinan di pedesaan dengan melibatkan

Seminar ini diselenggarakan oleh Program Studi Magister dan Doktor, Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara dan Badan

Berdasarkan hal tersebut, praktikan menyusun refleksi diri yang berisi catatan singkat secara global terkait dengan pelaksanaan pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa serta

Perkalian merupakan rancangan tampilan soal perkalian yang muncul setelah menekan icon perkalian pada menu berhitung. Pada tampilan ini terdapat menu soal perkalian

In accordance with the steps set forth in the AHP method, hence in this study used seven criteria to determine the winner of the tender procurement project.. Meanwhile,