“ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN TAHUN 2015”
TRI ENDAR SUSIANTO, SEI., M.Ak.
PROGRAM STUDI AKUNTANSI SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PASIM SUKABUMI
Abstrak
Berdasarkan analisa dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
1. Hasil analisa rasio lancar (likuiditas), diperoleh nilai 2,967. Artinya setiap Rp. 1 kewajiban jangka pendek dijamin pembayarannya dengan Rp. 2,967 aset lancar. Ini
berarti keuangan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 dikatakan aman atau likuid.
2. Hasil analisa rasio solvabilitas, diperoleh nilai 32,893. Ini berarti untuk setiap Rp. 1 utang, dijamin dengan Rp. 32,893. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 sangat solvable.
3. Hasil analisa rasio efektivitas pendapatan tidak dapat dihitung atau ditentukan. Karena kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 tidak menetapkan estimasi
pendapatan.
4. Hasil analisa rasio efesiensi belanja, diperoleh nilai 0,7063 atau 70,63%. Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 690.900-327 tahun 1996 tentang kriteria
penilaian dan kinerja keuangan, nilai 70,63% termasuk ke dalam kriteria efisien. Ini berarti bahwa belanja kegiatan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun
5. Hasil analisa pertumbuhan pendapatan, diperoleh nilai -0,221. Ini berarti bahwa kinerja kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 mengalami pertumbuhan pendapatan negatif. Hal ini menunjukan adanya penurunan pendapatan dari tahun
sebelumnya.
6. Hasil analisa pertumbuhan belanja, nilai yang diperoleh adalah 0,137. Ini berarti
kinerja kementerian koordinator bidang ekonomi tahun 2015 mengalami pertumbuhan belanja. Kondisi ini biasanya dikaitkan dengan penyesuaian terhadap inflasi, perubahan nilai mata uang, dan penyesuaian sektor makro ekonomi.
Kata kunci :
Abstract
Keyword :
A. PENDAHULUAN
Dewasa ini, dunia teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet berkembang sangat pesat. Hal ini terlihat dari banyaknya gadget yang kita pakai sehari-hari dapat mengakses internet di manapun dan kapanpun. Dengan adanya internet, para penggunanya dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang bermanfaat, cepat, dan juga akurat.
Internet pula menjadi alat komunikasi yang penting, tidak terkecuali bagi perusahaan. Sudah banyak perusahaan yang memanfaatkan internet sebagai media pelaporan keuangan. Penggunaan internet sebagai media pelaporan keuangan ini disebut dengan Internet Financial Reporting (IFR). IFR merupakan revolusi dari sistem informasi akuntansi karena internet memungkinkan pengungkapan informasi dengan biaya lebih murah dan dapat diakses oleh semua stakeholders tanpa kecuali.
Selain perusahaan, penggunaan internet sebagai media pelaporan keuangan telah dimanfaatkan oleh instansi pemerintah. Hal tersebut dilakukan pemerintah sebagai upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara agar terwujudnya tata kelola yang baik (good governance).
Semakin mudahnya masyarakat mendapatkan informasi keuangan pemerintah dan semakin kritisnya masyarakat dalam menilai kinerja pemerintah, membuat setiap organisasi pemerintah untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya agar lebih berorientasi pada terciptanya good public dan good governance1.
Menurut Jumingan (2006:239) pengukuran kinerja keuangan memiliki dua tujuan yaitu pengukuran kinerja keuangan digunakan untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan dan untuk mengetahui kemampuan dalam mendayagunakan semua aset. Pengukuran kinerja keuangan sangat penting untuk menilai akuntabilitas pemerintah dalam melakukan pengelolaan keuangannya.
Akuntabilitas bukan sekedar kemampuan bagaimana uang publik dibelanjakan, akan tetapi meliputi kemampuan bahwa uang publik tersebut telah dibelanjakan secara efisien, efektif, dan ekonomis. Efisien berarti penggunaan dana masyarakat tersebut harus menghasilkan output yang maksimal, efektif berarti penggunaan anggaran tersebut harus mencapai target-target atau tujuan
1
kepentingan publik, dan ekonomis berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan sumber daya dalam jumlah dan kualitas tertentu pada tingkat harga yang paling murah2.
Untuk mengetahui kinerja keuangan pemerintah, kementerian, atau lembaga maka perlu dilakukan suatu analisis terhadap kinerja keuangan pemerintah dalam pengelolaannya. Salah satu teknik yang paling banyak digunakan untuk menganalisis laporan keuangan adalah Analisis Rasio Keuangan. Ada beberapa cara untuk menghitung kinerja keuangan pemerintah diantaranya adalah menghitung Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Efektivitas, Rasio Efesiensi, Pertumbuhan Pendapatan, dan Pertumbuhan Belanja.
Berdasarkan uraian diatas, saya tertarik untuk menganalisa laporan keuangan kementerian
koordinator bidang perekonomian dengan mengambil judul
B. TELAAH TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
1. Laporan Keuangan Pemerintah
1.1 Pengertian Laporan Keuangan Pemerintah
Laporan keuangan menurut Munawir (2007:2) adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat bantu berkomunikasi antara data keuangan dan aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Menurut Kasmir (2008:7) Laporan Keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.
Dalam konteks pemerintahan, yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara/daerah selama suatu periode3. Sedangkan laporan keuangan pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) menjelaskan bahwa laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan.
Entitas pelaporan yang dimaksud adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyajikan laporan atas pertanggungjawaban, berupa laporan keuangan yang bertujuan umum, yang terdiri dari4:
a. Pemerintah pusat; b. Pemerintah daerah;
2
Mardiasmo, Akuntansi Sektor Publik, Andi, Yogyakarta, 2004, hlm. 182
3
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, pasal 1.
4
c. Masing-masing kementerian negara atau lembaga di lingkungan pemerintah pusat; d. Satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat/daerah atau organisasi lainnya, jika
menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib menyajikan
laporan keuangan.
1.2Peranan Pelaporan Keuangan
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), laporan keuangan disusun untuk memberikan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan transaksi selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi entitas pelaporan, dan membantu menentukan ketaatan terhadap perundang-undangan.
Setiap entitas pelaporan wajib melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang telah dicapai pada suatu periode pelaporan untuk kepentingan:
a. Akuntabilitas
Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
secara periodik. b. Manajemen
Membantu mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan.
c. Transparansi
Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat. d. Keseimbangan Antargenerasi (intergenerational equity)
Membantu mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan
e. Evaluasi kerja
Mengevaluasi kinerja entitas pelaporan dalam penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola pemerintah untuk mencapai kinerja yang direncanakan.
1.3Tujuan Pelaporan Keuangan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) menjelaskan bahwa pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akutabilitas dan membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan:
a. Menyediakan informasi tentang sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya keuangan;
b. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk
membiayai seluruh pengeluaran;
c. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam
kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai;
d. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya;
e. Menyediakan informasi mengenai keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya;
f. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama
periode pelaporan.
1.4Komponen-Konponen Laporan Keuangan
a. Laporan Realisasi Anggaran;
Komponen-komponen laporan keuangan tersebut disajikan oleh setiap entitas pelaporan, kecuali:
a. Laporan Arus Kas yang hanya disajikan oleh entitas yang mempunyai fungsi
pembendaharaan umum;
b. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih yang hanya disajikan oleh Bendahara Umum Negara dan entitas pelaporan yang menyusun laporan keuangan
konsolidasiannya.
Unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum adalah unit yang ditetapkan sebagai bendahara umum negara/daerah dan/atau sebagai kuasa bendahara umum negara/daerah.
2. KINERJA LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, menyebutkan bahwa kinerja adalah keluaran atau hasil dari kegiatan atau program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur.
Jumingan (2006:239) mejelaskan bahwa kinerja keuangan adalah gambaran kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan mengandung beberapa tujuan, yaitu5:
5
a. Mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan perusahaan terutama kondisi likuidasi, kecukupan modal dan profitabilitas yang dicapai dalam tahun berjalan maupun tahun sebelumnya.
b. Mengetahui kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan semua aset yang dimiliki dalam menghasilkan profit secara efisien.
Berdasarkan tujuan yang dipaparkan diatas, dapat dilihat bahwa pengukuran kinerja keuangan sangat penting dalam menilai efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan dan pendayagunaan aset yang dimiliki. Pengukuran kinerja keuangan juga mampu mengetahui kekuatan dan kelemahan kinerja suatu instansi, serta mengevaluasi kinerja keuangan dan menetapkan tujuan untuk kinerja masa mendatang6.
3. ANALISA LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH
3.1 Pengertian Analisa Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan Dalam melakukan analisis, setiap pengguna laporan harus mengidentifikasi informasi yang harus dipilih untuk dianalisis, teknik analisis yang tepat, ruang lingkup, kedalaman analisis dengan menggunakan pertimbangan yang cermat agar dapat memperoleh informasi yang diinginkan untuk mendukung keputusan-keputusan yang diambilnya.
3.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Tujuan dilakukannya analisis terhadap laporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Meyakini bahwa pemerintah telah melaksanakan anggaran sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;
b. Mengukur dan mengevaluasi kinerja pemerintah; c. Mengukur potensi pendapatan atau sumber ekonomi; d. Mengetahui kondisi keuangan;
e. Mengetahui kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajibannya.
6
3.3 Rasio-Rasio dalam Analisis Laporan Keuangan
Analisis rasio menunjukkan hubungan di antara pos-pos yang terpilih dari data laporan keuangan. Hubungan ini dinyatakan dalam persentase, tingkat, maupun proporsi tunggal. Ediningsih (2004) menjelaskan bahwa rasio keuangan adalah perbandingan antara dua elemen laporan keuangan yang menunjukkan suatu indikator kesehatan keuangan pada waktu tertentu.
Ada beberapa jenis rasio yang dapat dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dari Laporan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tahun 2015 antara lain:
a. Rasio Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi atau membayar
kewajiban keuangan jangka pendek yang harus segera dipenuhi. Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
keuangan pada saat ditagih7.
Rasio likuiditas menunjukan kemampuan pemerintah untuk memenuhi kewajiban
jangka pendeknya atau untuk melihat kemampuan pemerintah untuk mendanai kebutuhan. Walau pemerintah sudah menyusun anggaran kas, tetapi analisis likuiditas akan lebih bermanfaat bagi manajemen dibandingkan jika hanya mendasarkan pada
anggaran kas (Mahmudi, 2006).
Analisis likuiditas dapat dilihat dari rasio lancar. Rasio lancar merupakan ukuran
standar untuk menilai kesehatan keuangan organisasi. Rasio lancar menggambarkan apakah pemerintah memiliki aset yang mencukupi untuk melunasi utangnya.
b. Rasio Solvabilitas
7
Kasmir (2008) mendefinisikan bahwa rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Rasio solvabilitas digunakan untuk melihat kemampuan pemerintah dalam memenuhi
seluruh kewajiban yang dimiliki pemerintah, baik kewajiban jangka panjang ataupun jangka pendek.
c. Rasio Efektivitas Pendapatan Negara
Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah dalam merealisasikan pendapatan negara selain pendapatan hibah dengan target yang ditetapkan berdasarkan
potensi riil.
Rasio efektivitas berkaitan dengan keberhasilan suatu kegiatan operasi atau
program pemerintah. Suatu kegiatan dinilai efektif apabila kegiatan atau program tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap pelayanan kepada masyarakat yang merupakan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Rasio efektivitas memberi
gambaran tentang kontribusi pendapatan negara (pendapatan pajak dan pendapatan negara bukan pajak) selain hibah terhadap jumlah total pendapatan pemerintah pusat
(Mahmudi, 2006). d. Rasio Efisiensi Belanja
Rasio efisiensi belanja digunakan untuk mengukur tingkat penghematan anggaran yang dilakukan oleh pemerintah. Angka yang dihasilkan dari rasio efisiensi belanja bersifat absolut, artinya tidak ada standar baku yang dianggap baik untuk rasio efisiensi
belanja (Mahmudi, 2006).
Tingkat efisiensi kegiatan pemerintah dapat mempengaruhi kinerja keuangan
produksinya dengan efektif dan efisien. Jika tingkat efisiensi rendah, berarti belanja negara semakin kecil sehingga kinerja pemerintah semakin membaik.
e. Pertumbuhan Pendapatan
Analisis pertumbuhan bermanfaat untuk mengetahui apakah pemerintah dalam tahun anggaran yang bersangkutan atau selama beberapa periode anggaran, kinerja
anggarannya mengalami per-tumbuhan pendapatan secara positif atau negatif (Mahmudi, 2006).
Jika kinerja anggarannya mengalami pertumbuhan pendapatan secara negatif
maka menunjukkan adanya penurunan kinerja pendapatan. Sebaliknya, jika kinerja anggarannya mengalami pertumbuhan secara positif maka menunjukkan adanya
peningkatan kinerja pendapatan. f. Pertumbuhan Belanja
Analisis pertumbuhan belanja bermanfaat untuk mengetahui perkembangan
belanja dari tahun ke tahun. Pada umumnya pertumbuhan belanja memiliki kecenderungan untuk naik. Kenaikan belanja tersebut biasanya dikaitkan dengan
penyesuaian terhadap inflasi, perubahan nilai mata uang, dan penyesuaian faktor makro ekonomi (Mahmudi, 2006).
C. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi dalam penelitian ini menggunakan metode Analisis Deskriptif.
Metode analisis Deskriptif merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis data data yang tersedia dan di olah sehingga diperoleh gambaran yang jelas mengenai fakta-fakta dan
D. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN
1. Analisa Rasio Likuiditas
Rasio lancar (likuiditas) merupakan ukuran standar untuk menilai kesehatan keuangan organisasi. Nilai standar rasio lancar dianggap aman adalah 2:1 dan nilai minimalnya adalah 1:1. Jika nilai rasio lancar kurang dari 1:1 maka keuangan organisasi tidak lancar (Mahmudi, 2006).
Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio lancar menurut Mahsun (2009) dalam Mirza (2012) adalah:
Berdasarkan data yang didapatkan di dalam laporan keuangan kementerian koordinator bidang perkonomian maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Dari perhitungan diatas, diperoleh nilai 2,967. Artinya setiap Rp. 1 kewajiban jangka pendek dijamin pembayarannya dengan Rp. 2,967 aset lancar. Ini berarti keuangan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 dikatakan aman atau likuid karena berada diatas nilai standar rasio lancar.
2. Analisa Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas merupakan perbandingan antara jumlah aset terhadap jumlah kewajiban. Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan pemerintah untuk membayar seluruh kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Mahmudi (2006) menyatakan bahwa nilai nominal rasio solvabilitas dianggap aman adalah 1:1.
Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio solvabilitas adalah:
Data yang diperoleh dari laporan keuangan kementerian koordinator bidang perekonomian untuk menghitung rasio solvabilitas adalah sebagai berikut:
3. Analisa Rasio Efektivitas Pendapatan Negara
Rasio efektivitas pendapatan dihitung dengan cara membandingkan realisasi penerimaan pendapatan pajak dan penerimaan negara bukan pajak dengan anggaran yang ditetapkan.
Rumus yang digunakan untuk menghitung efektivitas pendapatan negara yaitu:
Kriteria tingkat efektivitas menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 690.900-327 tahun 1996 tentang kriteria penilaian dan kinerja keuangan adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Kriteria Efektivitas Kinerja Keuangan
Karena kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 tidak menetapkan estimasi pendapatan, maka rasio efektivitas pendapatan kementerian koordinator bidang perekonomian tidak dapat dihitung.
4. Analisa Rasio Efisiensi Belanja Negara
Rasio efisiensi belanja merupakan perbandingan antara realisasi belanja dengan anggaran belanja. Rumus untuk menghitung efisiensi belanja yaitu:
Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 690.900-327 tahun 1996 tentang kriteria penilaian dan kinerja keuangan, kriteria tingkat efisiensi kinerja keuangan adalah:
Dari data yang diperoleh dari laporan keuangan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh nilai 0,7063 atau 70,63%. Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 690.900-327 tahun 1996 tentang kriteria penilaian dan kinerja keuangan, nilai 70,63% termasuk ke dalam kriteria efisien. Ini berarti bahwa kegiatan belanja kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 dikatakan efisien.
5. Analisa Pertunbuhan Pendapatan
Analisis pertumbuhan pendapatan bermanfaat untuk mengetahui perkembangan pendapatan negara dari tahun ke tahun. Jika kinerja anggarannya mengalami pertumbuhan pendapatan secara negatif maka menunjukan adanya penurunan kinerja pendapatan.
Mahmudi (2006) dalam Mirza (2012) menyebutkan rumus untuk menghitung pertumbuhan pendapatan yaitu:
Berdasarkan dari laporan keuangan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 diperoleh data untuk menghitung pertumbuhan pendapatan, yaitu:
Dari perhitungan diatas, nilai yang diperoleh adalah -0,221. Ini berarti bahwa kinerja kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 mengalami pertumbuhan pendapatan negatif. Hal ini menunjukan adanya penurunan pendapatan dari tahun sebelumnya.
6. Analisa Pertumbuhan Belanja
Analisis pertumbuhan belanja bertujuan untuk mengetahui perkembangan belanja negara dari tahun ke tahun. Rumus yang digunakan untuk menghitung pertumbuhan belanja yaitu:
H. SIMPULAN
Berdasarkan analisa dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
7. Hasil analisa rasio lancar (likuiditas), diperoleh nilai 2,967. Artinya setiap Rp. 1
kewajiban jangka pendek dijamin pembayarannya dengan Rp. 2,967 aset lancar. Ini berarti keuangan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 dikatakan
aman atau likuid.
8. Hasil analisa rasio solvabilitas, diperoleh nilai 32,893. Ini berarti untuk setiap Rp. 1
utang, dijamin dengan Rp. 32,893. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 sangat solvable.
9. Hasil analisa rasio efektivitas pendapatan tidak dapat dihitung atau ditentukan. Karena
kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 tidak menetapkan estimasi pendapatan.
10.Hasil analisa rasio efesiensi belanja, diperoleh nilai 0,7063 atau 70,63%. Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 690.900-327 tahun 1996 tentang kriteria penilaian dan kinerja keuangan, nilai 70,63% termasuk ke dalam kriteria efisien. Ini
berarti bahwa belanja kegiatan kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 dikatakan efisien.
11.Hasil analisa pertumbuhan pendapatan, diperoleh nilai -0,221. Ini berarti bahwa kinerja kementerian koordinator bidang perekonomian tahun 2015 mengalami pertumbuhan pendapatan negatif. Hal ini menunjukan adanya penurunan pendapatan dari tahun
sebelumnya.
12.Hasil analisa pertumbuhan belanja, nilai yang diperoleh adalah 0,137. Ini berarti
belanja. Kondisi ini biasanya dikaitkan dengan penyesuaian terhadap inflasi, perubahan nilai mata uang, dan penyesuaian sektor makro ekonomi.
I. SARAN
Secara umum, kinerja keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tahun 2015 dapat dikatakan baik, yang perlu diperhatikan adalah pendapatan yang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal tersebut harus diperhatikan agar pemerintah khususnya Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terus berupaya untuk meningkatkan pendapatan pada tahun berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Assidiqi, Bahrun. 2014. Analisis Kinerja Keuangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Klaten Tahun 2008-2012 (Skripsi). Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.
Jumingan. 2006. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kasmir. 2008. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajawali Pers.
Mahmudi. 2006. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Yogyakarta: UPP STIM YPKN.
Mardiasmo. 2004. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.
Mirza, Rifka A. 2012. Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2005 sampai Tahun 2010 (Skripsi). Semarang: Universitas Diponegoro.
Munawir, S. 2007. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pmerintah.
www.djpk.depkeu.go.id (diakses 10 September 2016)