• Tidak ada hasil yang ditemukan

perang petani TIGA novel CINA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "perang petani TIGA novel CINA"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

TIGA: CINA

T’i t’ien hsing hao!

Mempersiapkan Jalan ke Surga!

Slogan pemberontakan dari Semua Orang Bersaudara, Novel populer abad tiga belas dan merupakan

Favorit Mao Tse-tung

Meksiko pada tahun 1910 memiliki pupulasi 16,5 juta, Rusia di sekitar pergantian abad terhitung 129 juta. Cina – masyarakat yang akan kita diskusikan berikutnya – bagaimanapun, haruslah digambarkan pada suatu skala yang sangat besar. Dari Peking ke perbatasan barat Cina kira-kira sejauh dari New York ke Oregon. Bahkan pada tahun 1725 terhitung sekitar 265 juta orang; 430 juta di tahun 1850; sekitar 600 juta di tahun 1950. Lebih jauh, ini merupakan peradaban utama tertua: hanya satu dari masyarakat-masyarakat besar yang masih ada melintasi permulaan antara adat-istiadat neolitik dan peradaban. Metode budidayanya yang intensif, aliran air irigasinya yang besar dan kontrol banjirnya, birokrasi terdidiknya dipilih oleh suatu rangkaian ujian terbuka, keadaan kemajuan teknologinya, tradisi filsafatnya, dan kesenian bersarnya mengundang kekaguman banyak pengunjung yang datang ke sana sari mana-mana. Bagi orang-orang Cina sendiri, adalah Kerajaan Tengah, pusat alam semesta, pemerintahannya ditopang oleh Amanat Surga. Diserbu berulangkali oleh para barbarian di utara, menahan mereka selalu dan mengembalikan mereka ke orang-orang Cina.

Sebuan besar terakhir ke Cina dari utara datang dari Manchu, anggota suku Sinified Tungus dari perbatasan timur laut.

(2)

mengatur Cina sejak masa yang tak lagi diingat. Kelompok administratur sekolahan ini merupakan pusat yang sangat diperlukan dari roda administrasi. Mereka terdidik karena mereka memperoleh posisinya melalui partisipasi dalam ujian-ujian yang berhasil dan mencapai derajat akademik. Mereka kaum gentry

(golongan kelas baik-baik) karena – seperti golongan sejenis di Inggris – mereka merupakan suatu kelas sekitar satu juta orang yang dilengkapi kepemilikan kantor-kantor politik formal dan banyak yang merupakan pemilik kekuasaan sosial informal atas tanah. Negara Cina perlu mengisi sekitar 40.000 posisi perkantoran, dari poros pusat negara sampai tingkat hakim distrik, dalam sekali. Penghuni 40.000 posisi ini diambil dari sekelompok 125.000 orang yang sungguh-sungguh tersedia atau yang masih calon pegawai kantoran. Namun jelas bahwa suatu negeri yang sangat besar seperti Cina tak dapat diperintah dengan jumlah pegawai yang sangat kecil: seorang hakim distrik melayani rata-rata sejumlah 200.000 orang. Di antara masa petani dan pegawai kantoran formal ada kelompok

(3)

pertanian, kelompok gentry ini juga menarik pemasukannya dari perdagangan dan bisnis. Di atas semuanya, strata orang berstatus tinggi ini berjumlah, ada awal abad kesembilan belas, sekitar satu juta individu; pada akhir abad mereka berjumlah 1,5 juta. Bersama-sama dengan keluarganya, mereka barangkali terdiri dari 7,5 juta atau 2 persen dari penduduk negeri (Michael, 194, 60).

Meskipun kepentingan gentry terdidik ini secara tegas dihubungkan pada keberadaan negara, dan negara bersandar padanya untuk menyediakan anggota-anggota suatu birokrasi yang dapat dipercaya, pertarungan kekuasaan dan posisi di antara beberapa segmen gentry dapat memancing pertikaian atau ketidakpuasan individu atau wilayah setempat dari kekuasaan yang ada. Anggota-anggota gentry

yang lebih rendah tentu dalam suatu keadaan yang dirugikan dalam perebutan kantor-kantor dan keuntungan jabatan. Banyak di antara mereka tak pernah memperoleh akses ke dana negara yang dapat dipergunakan untuk menambah penghasilan mereka. Yang lainnya tak pernah menerima kemewahan khusus dan

privilege legal. Beberapa bagian gentry terdidik ini melayani dinasti sebelumnya dan juga tak akan atau tak dapat melayani tuan-tuan baru mereka.Pertambahan populasi juga secara cepat memunculkan sejumlah calon, diambil dari keluarga-keluarga golongan gentry yang tumbuh cepat, sementara jumlah perkantoran tetap tak berubah. Akhirnya, di akhir abad kedelapan belas, negara ternyata secara bertambah mau menjual gelar sekolahan pada orang-orang yang ingin membuat suatu kontribusi pada peti simpanan negara; suatu gentry terdidik yang berbudi tinggi yang telah memperoleh gelarnya melalui keberhasilan ujian yang bisa mendapatkan diri sendiri melesat sebagai orang kaya baru. Dengan demikian di sana ada, di bawah banyak dinasti, suatu populasi yang sangat besar gentry

(4)

oleh negara dan merupakan suatu potensi kuat untuk ketidakpuasan dan kegelisahan. Pada saat yang sama, potensi ketidakpuasan demikian selalu lebih memperhatikan distribusi tanah di dalam sistem negara, daripada ke arah usaha merestrukturisasi negara yang demikian. Hanya ketika keadaan orang Cina menjadi lemah secara serius oleh gangguan luar negeri di sebagian abad kesembilan belas ketidaksepakatan mulai disebut dalam pertanyaan yang sangat alami mengenai negara dan masyarakat Cina.

Seluruh jalan hidupnya, harapan dan sikapnya, ideologinya menempatkan

gentry dari sisa populasi yang lain, banyak merupakan kaum petani. Para petani Cina, bagaimanapun, dibedakan secara signifikan dari para petani lain di dunia. Pertama, aksesnya pada tanah diatur secara luas melalui konsep-konsep hak pribadi atas kekayaan tanah yang dinyatakan dalam ungkapan moneter. Kedua, ia secara potensial bergerak: memperoleh akses pada latihan menulis yang tepat, ia atau anak laki-lakinya dapat terangkat ke dalam strata gentry terdidik melalui sistem ujian. Ketiga, gentry dan petani secara terus-menerus terhubunga melalui persaudaraan yang disebut klan atau tsu.

(5)

dan sewa yang kompleks. Para tuan tanah dan pengelola dihubungkan, tidak melalui serangkaian privilege dan ketidakmampuan turun-temurun, tetapi sebagai “pesta-pesta untuk suatu kontrak bisnis” (Tawney, 1932, 63). Akhirnya, seorang petani dapat, ditopang keuntungan finansial dan keadaan birokratik, memasukkan anak-anak laki-lakinya ke dalam ujian-ujian kerajaan dan melihat mereka masuk ke tingkat gentry terdidik.

Ketika seorang petani naik ke dalam gentry, bagaimanapun, ia telah meninggalkan di belakangnya cara-cara petani dan mengambil gaya kehidupan kelompok berstatus lebih tinggi. Di mana petani buta huruf dan bicara dalam dialek lokal atau regional, gentry melek huruf, dihargai atau latihannya dalam kaligrafi dan gara klasik (wen-hua) pengungkapan sastranya. Di mana petani melihat nasi dan daging dengan jarang, dan menjalani kehidupan dalam gaya diet jagung manis di selatan serta padi kasar di uatara, gentry makan nasi, ikan dan unggas, sering dilayani menurut cara-cara makanan yang berpangalaman. Kaum

(6)

diperlihatkan oleh para wanita yang menundukkan kecacatan khusus, seperti mengikat kaki, yang membatasi gerakan mereka diluar rumah. Perkawinan petani untuk memperoleh pekerja yang kuat dan berkeinginan. Perkawinan ulang petani mudah; gentry menghormati kesucian janda. Gentry terdidik memandang rendah pada pengejaran status militer sebagai inferior bagi aktivitas mereka sendiri sebagai orang yang bisa menulis. Kaum petani menyembah banyak dewa dengan gelar militer dan tampak senang pada orang-orang keras, dengan pengetahuan bahwa aktivitas militer eringkali merupakan kunci keberhasilan. Kenyataannya bahwa petani Cina, jauh dari keberadaan anak pasifik Timur yang biasanya digambarkan, memiliki suatu ketertarikan pada pahlawan-pahlawan militer, khususnya yang berasal dari strata sosialnya sendiri. Pusat perhatian petani adalah bandit sosial yang mengambil dari orang kaya untuk diberikan pada orang miskin. Kecenderungan ini telah menemukan ekspresi sastranya dalam sebuah novel populer yang secara luas dikenal di seluruh Cina, Shui Hu Chuan, atau Tepi Air, yang diterjemahkan Pearl S. Buck ke dalam bahasa Inggris di bawah judul All Men Are Brothers dan yang berisi 108 pahlawan buronan hukum yang dipegang oleh pejabat-pejabat tak adil. Peristiwa perbanditan dan kekerasan petani secara erat dihubungkan ke dalam keadaan masyarakat secara menyeluruh. Mereka biasanya terjadi selama masa perpecahan ketika suatu dinasti kuat melemah dan tak mampu mengatur urusan negara, dan rakyat mencari jalan keluar alternatif pada kerusuhan umum. Selama periode disintegrasi demikian, seorang bandit yang berhasil mengkonsolidasi kekuatannya mungkin menjadi seorang pesaing bagi kekuasaan dinasti, kadang-kadang bahkan mendirikan suatu dinasti baru. Raja Han pertama dan pendiri dinasti Han yang besar (202 SM-221 M) sendiri merupakan seorang bandit demikian yang menjadi, dalam suatu peristiwa, kaisar Cina dan memperoleh Amanat Surga.

(7)

wanita-wanita yang menikah menjadi anggota klan suami mereka. Di mana suatu klan atau suatu bagian klan menjadi makmur, ia akan merayakan garis keturunan dan keanggotaan umumnya dengan mendirikan sebuah kuil klan, di mana silsilah klan disiman dan tablet-tablet nenek moyang dijaga. Di mana sebuah klan menjadi besar, ia mungkin dipecah dalam bagian-bagian, masing-masing dengan kuil dan perlengkapan keagamaannya sendiri. Bagaimanapun, ritual-ritual klan yang diperlukan hanya dapat diadakan oleh seorang anggota gentry terdidik, dan kuil-kuil demikian seringkali berlokasi di kota-kota di mana gentry yang lebih tinggi menempati tempat tinggalnya. Banyak desa, didiami oleh bagian-bagian yang lebih miskin dari klan demikian, kekurangan kuil-kuil klan mereka sendiri. Klan-klan dapat juga sangat besar dalam ukuran. Beberapa mungkin terdiri hanya empat keluarga, yang lain lebih dari seribu; kebanyakan terdiri dari dari empat puluh dan tujuh puluh keluarga. Klan-klan di Cina selatan lebih besar dan lebih penting dari wilayah utara, dan memenuhi fungsi-fungsi ekonomi penting, untuk melayani tujuan seremonial dan sosial; mereka sering memiliki tanah dan kekayaan lain serta satu desa keseluruhan mungkin masuk dalam satu klan. Di utara, sebuah desa mungkin berisi beberapa klan yang lebih kecil, dan fungsi mereka terutama lebih sosial dan seremonial daripada ke arah ekonomi. Kita akan segera melihat beberapa alasan keragaman ini.

(8)
(9)

dipaksa untuk mendorong pembatasan jumlah keluarga mereka di waktu yang dibutuhkan.

(10)

konflik internal di dalam klan antara yang kaya dan yang miskin. Demikianlah, pada tahun 1924 sampai 1927, Kwangtung,

provinsi di mana sistem klan sangat lengkap, merupakan tempat pemberontakan petani paling keras dan tempat persatuan-persatuan petani terkuat, di mana penyatuan petani miskin dan menengak sebaik buruh-buruh perkebunan klan yang berbeda dalam pertempuran umum melawan saudara klan mereka dan musuh-musuh klan – tuan tanah kaya dan para pedagang (Lang, 1946, 178).

(11)

pemerintah pusat, terutama ketika pemerintahan di tangan penyerbu asing, sebagaimana terjadi pada dinasti Mongol (1280-1368) dan terjadi lagi dengan Manchu yang menggoyang dari tahun 1644 sampai 1712. Secara ideologis, mereka cenderung anti-Konfusian dan mempergunakan elemen-elemen Taois dan Budhis dalam simbol-simbol mereka. Beberapa kelompol, misalnya, menjalankan suatu kepercayaan pada seorang Ibu Tua atau Bapak-Ibu Tua Yang Tak Pernah Diciptakan, suatu supernatural penyatuan, menurut konsep Taois mengenai suatu Langit Terdahulu, dalam eksistensi sebelum dunia menjadi terbagi ke dalam elemen-elemen berlawanan yin dan yang. Orientasi Taois menganut bahwa suatu masa keemasan di masa lalu memberi jalan kekacauan di masa sekarang.

Orientasi Budhis meramalkan kedatangan Budha-Budha mesianis. Apa yang kedua orientasi ini miliki dalam wilayah umum adalah pertemuan tendensi mereka untuk menganggap masa sekarang adalah suatu periode kerusuhan yang harus dilalui. Ini membawa kelompok rahasia ke dalam oposisi langsung dengan Konfusianisme yang disokong oleh negara yang berusaha menciptakan suatu tatanan hirarki dunia hubungan sosial yang patut, dibangun di sekeliling poros kesalehan anak. Banyak kelompok rahasia lebih lanjut merunjukkan tendensi-tendensi murtadz. Banyak dari mereka lebih kuat feminis-nya, berbeda dengan pemikiran Konfusian yang menegaskan dominasi laki-laki yang di atas wanita yin: kelompok rahasia cenderung setuju penyamaan status wanita. Mereka juga mempergunakan bahawa percakapan, pai-hua, sebagai perlawanan pada bentuk-bentuk bahasa klasik wen-yen kaum gentry Konfusian. Banyak dari mereka juga secara kuat, berpegang teguh pada tata susila; Lotus Putih, sebagai contoh, melarang penggunaan alkohol, tembakau, dan opium. Kontribusi khusus kelompok rahasia pada kehidupan politik di Cina, dikatakan Franz Michael,

(12)

membantu dalam kesusahan, memberi perlindungan pada para anggota yang bersembunyi dari para pejabat, dan saling mendukung dalam konflik dengan orang asing sebaik dengan pemerintah. Loyal terhadap persaudaraan kelompok merupakan kewajiban pertama, tetapi di atas persaudaraan anggota yang sama ada suatu hirarki pejabat kelompok yang akan menjalankan otoritas dan disiplin mutlak. Kelompok-kelompok ini merupakan perangkat rahasia dari semua cara untuk mempertahankan diri mereka melawan tekanan negara dan pemimpin-pemimpin sosial yang memiliki privilege. Mereka berkibar khususnya di desa-desa pedalaman dan di antara petani tetapi seringkali termasuk di dalam keanggotaan mereka juga gentry terdidik kelas rendah (1966, 13).

Kelompok-kelompok ini “oleh karena itu memberi suatu model di belakang suatu organisasi pemberontakan yang akan disusun”. Dari sudut pandang ini, partai Komunis dari abad kedua puluh tidak melanggar perngharapan tradisional, tetapi tersambung rapi dengan suatu pola pendirian tuntutan ekonomi dan penyungkilan politik. Lebih jauh, beberapa pemimpin Komunis – seperti Chu Teh, Ho Lung, Liu Chih-tan –merupakan anggota kelompok rahasia demikian seperti Ko-lao dan mempergunakan koneksi-koneksi kelompok rahasia dalam memajukan kaum Komunis.

(13)

Selama tahap kedua, kelompok ini akan memperpanjang radius kegiatannya, dengan demikian melanggar batas wilayah operasi kelompok-kelompok lain. Hasil konflik akan mengarah pada penghapusan unit-unit yang kurang terlihat, dan mendirikan dominasi kelompok yang lebih kuat dan terorganisir lebih baik. Ketika ini terjadi, para saingan tak akan lagi mengancam basis desa kelompok bandit; ini membebaskan kelompok untuk aktivitas yang lebih lanjut.

Selama tahap ketiga, kelompok ini mulai menghadapi perlawanan dari para tuan tanah yang dipaksa membayar tambahan upeti. Berusaha melawan, para tuan tanah memanggil pemerintah dari kota terdekat. Para bandit karena itu menyerang kota, mencoba memotong sumber bantuan kelompok tuan tanah. Jika pasukan pemerintah berhasil mengendalikan para penyerang, kelompok bandit melarikan diri ke daerah pedalaman, hanya untuk memecah di bawah pengaruh kekalahan. Kemudian lingkaran akan mulai diperbaharui. Bagaimanapun pasukan pemerintah dapat mencari alasan umum untuk menghadapi pemberontakan, sementara gentry

lokal yang tidak puas akan mencari kerjasama dengan pemberontak dalam kepentingan terbaiknya sendiri melawan kekuasaan pusat negara. Sebagai sebuah hasil, kota dikelilingi tekanan bandit, memberi para bandit suatu poros urban untuk aktivitas-aktivitas lebih lanjut.

Selama tahap keempat, kelompok pemenang memperluas goncangannya atas kota-kota, dan bersiap mempertahankan barang rampasan mereka melawan pasukan pemerintah. Mencapai sukses selanjutnya, mereka memasuki aliansi-aliansi yang lebih erat dengan gentry terdidik daerah, karena ia memiliki monopoli birokrasi dan kemampuan sosial yang diperlukan untuk adminstrasi yang efisien. Para bandit pertama-tama mengambil bagi diri mereka sendiri norma-norma gentry; kemudian mereka mengambil gentry sebagai diri mereka sendiri. Dengan demikian pemimpin bandit pemenang menjadi seorang jenderal, seorang adipati, atau seorang kaisar. Menyandarkan diri pada gentry terdidik untuk dukungan berkelanjutan, ia menjadi, sebaliknya, sebuah pilar pemerintah yang kokoh.

(14)

saat itu di tangan suatu dinasti Mongol, Yüan. Di akhir pertengahan abad empat belas serangkaian bencana alam dan kegagalan politik menyebabkan kerusakan irigasi dan fasilitas transportasi; pajak naik dengan cepat, sementara cadangan makanan menjadi habis. Sederet kelompok dibentuk terutama di wilayah-wilayah Honan, Anhwei utara, Kiangsu utara; mereka terasosiasi dengan kelompok Lotus Putih, suatu organisasi rahasia yang mengumumkan bahwa “kekaisaran dalam pemberontakan, Budha-Matreya dilahirkan kembali, suatu pemerintahan pencerahan akan muncul.” Kelompok-kelompok ini memperbesar goyangan mereka melawan suatu pemerintahan yang tak menyatu, yang tak sanggup membawa semua kekuasaannya untuk bertahan pada titik yang menentukan. Salah satu dari rekruit bandit ini merupakan seorang anak yatim dari satu keluarga petani yang menghabiskan sebagian hidupnya sebagai seorang biarawan pengemis. Ia membawa sebuah kelomok pendukung daridesa tempat tinggalnya; banyak dari mereka sanak famili atau anak adopsi (i-erh). Secara perlahan-lahan ia menyisihkan kompetisi kelompok saingan: satu sumber kekuatannya terletak dalam kemampuannya untuk mengkombinasi suatu seruan kuat anti-asing, ditujukan melawan pemerintahan Mongol, dengan keluhan sosial dan motivasi-motivasi religius yang telah mengembangkan pemberontakan. Ketika ia menambah kekuasaannya melewati Anhwei dan Kiangsu, dengan Nankin sebagai pusat kekuasaannya, ia secara terus bertambah menggunakan para penulis yang diambil dari gentry terdidik wilayah. Pada tahun 1367, ia mengendalikan pewaris terakhir dinasti Mongol kembali ke padang rumput utara dan menjadi kaisar Cina. Keluarga-keluarga gentry yang mendukung dalam perjuangannya memperoleh posisi gentry sebelumnya yang melayani penyerbu asing. Personel elit pemerintah dengan demikian menjalani perubahan menyeluruh, sementara struktur sistem sebagian besar tetap sama.

(15)

posisi-posisi pejabat, sementara itu mencabut gentry oposisi dari jabatan dan kepemilikan tanah. Seringkali suatu periode penggulingan demikian disertai oleh distibusi tanah yang luas diambil dari musuh-musuh rejim – distibursi mengumpulkan kemenangan dukungan segmen luas para petani dan gentry lokal untuk pemerintah baru. Dengan sntralisasi baru birokrasi pemerintah dan efisiensi yang lebih besar dalam perpajakan, juga menjadi mungkin untuk mengkonsolidasi dan memerluas sistem hidrolis besar di mana pertanian Cina menggantungkan diri untuk pasokannya, dngan demikian juga menambah kualitas produksi dan produktivitas tanah teririgasi. Namun ekspansi sistem cenderung menghasilkan kekuatan berlawanan. Pemilik kekuasaan lokal bertambah dan memperbesar kekuasaan mereka: pajak yang membiayai pemerinthan pusat dialihkan sekali lagi ke dalam tangan-tangan perorangan; sistem hidrolis menderita dan jatuh ke dalam keruntuhan yang terus bertambah, pemilikan tanah menjadi semakin memusat. Pemerasan semakin berat pada petani lokal. Gentry yang tak puas dan tak lagi dipercaya menjadi lebih vokal dalam ketidakpuasan mereka. Pemberontakan sporadis akan menjadi endemis sampai sebuah pemberontak utama menghasilkan seorang pemimpin baru yang akan muncul di atas dukungan petani untuk memimpin suatu pengembalian pemerintahan dan sentralisasi. Dalam sejarah Cina sejumlah dinasti muncul dan jatuh, di mana kemunculan dan kejatuhan mereka didorong oleh penyebab internal. Pada abad kesembilan belas, bagaimanapun, ada dutambahkan penyebab internal ini dengan tekanan berat pengaruh luar negeri yang secara serempak melemahkan kemampuan dinasti terakhir untuk melawan disintegrasi dan membuatnya lebih sulit bagi negara untuk berhasil mengembalikan kekuasaan sosial dan kepaduan pernyataan-pernyataannya sendiri.

(16)

bagaimanapun, perdagangan Inggris berkeentingan untuk mulai menggunakan desakan yang lebih besar pada pemerintah Cina untuk melepaskan monopolinya atas perdagangan dan mengijinkan impor opium serta tekstil secara bebas. Demikianlah yang disebut Perang Candu (1839-1842) pecah di mana Cina melawan impor luar negeri. Perjanjian yang berhasil menurunkan rintangan pengenalan opium dalam skala yang luas, mengurangi tarif impor barang-barang, dan membuka sejumlah perjanjian pelabuhan-pelabuhan untuk orang asing. Ini juga mendesak pemerintah untuk membayar kerugian pada Inggris karena peperangan, yang pertama dari serangkaian pembayaran demikian akhirnya menjatuhkan kekayaan Cina. Suatu konsekuensi terdekat pembukaan Cina pada perdagangan asing adalah aliran yang sangat deras dari perak Cina yang dibutuhkan untuk membayar impor. Sebagai suatu hasil pengeluaran perak, keseimbangan internal perak atas tembaga – mata uang yang dipergunakan untuk transaksi lokal – berubah dari 1:2 menjadi 1:3. Ini merugikan petani yang pembayaran pajak dan sewanya dilakukan dengan perak, tetapi hanya menerima tembaga untuk produk mereka yang laku.

(17)

luar negeri, tetapi cukup kuat menerima perintah dan menjalankan kontrol secara domestik” (Lattimore dan Lattimore, 1944, 104).

(18)

Pendirian misi Kristen yang luas di Cina merupakan satu usaha yang sangat berhasil di mana satu budaya mempengaruhi budaya lainnya. Jika beberapa misionaris menghasilkan beberapa orang Kristen, mereka memberi harapan banyak orang skeptis; jika mereka tidak menegakkan moralitas Kristen, menimbulkan ketidakpuasan; jika mereka tidak mengubah pikiran orang berkontemplasi mengenai kekekalan atau membangunkan hasrat pencerahan spiritual, mereka menciptakan pengetahuan tentang keuntungan material yang dinikmati bangsa-bangsa Kristen.

Struktur masyarakat Cina terus diperlemah oleh serangkaian perang yang dibawa oleh kekuatan besar: perang Anglo-Prancis melawan Cina pada tahun 1860-1861; aneksasi daerah yang sekarang disebut Vietnam oleh Prancis; perang Jepang melawan Cina tahun 1894-1895; dan perang Rusia-Jepang tahun 1904-1905 yang berperang di atas bumi Cina. Tetapi juga ada dua pemberontakan internal utama – di antara sejumlah pemberontakan yang lebih kecil – yang merusak dan mengkoyak struktur dari dalam: Pemberontakan Taiping (1850-1865) dan Pemberontakan Nien (1852-1868). Pemberontakan-pemberontakan ini penting tak hanya di dalam konteks sejarah mereka, tetapi karena mereka ternyata menjadi pengulangan-pengulangan peristiwa yang lebih besar, revolusi Komunis berbasis petani di abad kedua puluh. Mereka memperlihatkan beberapa tema organisasional dan ideologikal yang datang pada diri mereka satu abad kemudian. Bagaimanapun, banyak pemimpin Komunis muncul di waktu ketika kenangan atas gerakan-gerakan ini masih hijau. Chu Teh, misalnya, di masa mudanya mendengar cerita mengenai Taiping dari seorang penenun pengembara yang ambil bagian dalam gerakan (Smedley, 1956, 22-29).

(19)
(20)

1964; Laai Yi-faai, Franz Michael dan John Sherman, 1962). Sebelum akhirnya ia dilumpuhkan oleh pasukan pemerintah dengan kekalahan diperkirakan mencapai dua puluh juta orang, membentuk gerakan dalam tatanan yang menyeluruh yang terus berproses membentuk disintegrasi negara Cina dari dalam, sebagaimana pelanggaran negeri asing menyebabkan disintegrasi negara dari luar.

Pemberontakan Taiping berakhir dalam kekalahan, namun ia menciptakan suatu kesan kuat di benak rakyat Cina. Tujuan gerakan yang diumumkan memiliki suatu lingkaran modern yang kuat sampai seratus tahun setelah peristiwa berdarah pemberontakan. Mereka yang pertama, sejak pembukaan Cina oleh Barat, yang mengumumkan beberapa tema yang kemudian diambil dan dikembangkan oleh para Komunis Cina. Ini seharusnya tidak mengejutkan, karena itu, para Komunis yang sekarang menulis Taiping nampak sebagai nenek moyang dan pelopor gerakan sekarang.

(21)

untuk jawaban penyelesaian di tingkat yang lebih tinggi. Hasil yang baik akan dibalas dengan promosi, hasil yang buruk dibalas oleh demosi atau hukuman kapital. Lebih jauh, para Taiping mengarahkan serangan mereka tak hanya melawan gentry terdidik tetapi juga pada ideologi mereka, Konfusianisme, sebagai agama suatu kelas para musuh; di tempatnya mereka akan melembagakan visi mereka sendiri mengenai Kerajaan Langit sebagai agama seluruh Cina. Untuk monisme yang mengilhami visi mereka mengenai suatu masyarakat politik bari, mereka bersekutu dengan monisme ideologikal. “Hal ini membuat para Taiping tak hanya melawan pemerintah tetapi melawan pembela keberadaan tatanan sosial itu sendiri, gentry, dan semua yang percaya pada sistem Konfusian” (Michael, 1966, 7).

Ini sangat mirip bahwa Taiping tak menciptakan suatu masyarakat monis ideal dan kebijakan seluruh cita-cita, tetapi membawa dari sumber inspirasi lama untuk konsep-konsep mereka apa yang merupakan tatanan sosial yang disukai. Ini sepenuhnya disepakati (Shih, 1967, 253-268) bahwa mereka menggunakan Chou-li, suatu dokumen kuno yang diakui ditulis oleh Pangeran Chou, perdana menteri Wu Wang, yang menaklukan dinasti Shang pada abad kedua belas SM. Pangeran Chou menggambarkan suatu negara feodal yang terorganisir ketat di mana para baron akan bersetia pada para viscount, para viscount bersetia pada para earl, para

earl bersetia pada para marquis, para marquis bersetia pada para pangeran, dan para pangeran bersetia pada Anak Langit. Lima kelas pengikut ini berhubungan dengan lima kelas pejabat yang diimpikan Taiping. Di dasar piramida ini adalah kaum petani, mengorganisir di sekitar unit-unit pertanian sebanyak sembilan perkebunan, salah satunya merupakan milik umum, sementara delapan sekelilingnya milik pribadi. Para petani mengerjakan kebun umum tersebut, sebaik di tanah mereka sendiri. Kemiripan rencana Taiping menggugah rasa ingin tahu. Meskipun begitu, harus diperhatikan bahwa Pangeran Chou juga mengakui bahwa lima macam kelas ini masing-masing akan dilayani oleh lima macam

(22)

mungkin diduga bahwa ada suatu tradisi emikiran politik yang mengambil kebiasaannya dari prinsip-prinsip dasar, prinsip-prinsip yang dengan jelas berbeda dan berlawanan dengan konsep-konsep kemudian dari suatu masyarakat Oriental yang diatur oleh suatu gentry terdidik yang tidak turun-temurun. Tentunya benar bahwa dalam suatu tradisi sastra yang bersandar dengan berat pada naskah-naskah klasik, setiap orang berharap mencapai suatu titik intelektual yang harus memperkuatnya dengan naskah-naskah demikian. Juga mengangumkan sebagaimana ditulis bahwa Chou-li juga dibantu oleh Wang An-Shih (1021-1086 SM), pembentuk “Perjanjian Baru” dinasti Sing. Wang An-Shih seorang yang percaya pada sistem ladang delapan perkebunan pribadi dan satu perkebunan umum. Namun ketika ia menghadapi oposisi restorasinya, ia kurang memfokuskan diri pada reformasi agraria lebih daripada suatu pengembangan institusi lumbung umum yang akan disuplai dari kaum petani dan, sebaliknya, memberi pinjaman pasokan pada mereka di saat yang dibutuhkan. Pada saat yang sama, ia juga memprakarsai rencana-rencana militer yang membuat setiap petani secara berkesinambungan menjadi seorang prajurit. Dalam perlawanan pengunaan prajurit bayaran, ang An-Shih “akan mencoba melatih prajurit sipil demikian, secara perlahan-lahan menempatkan tentara kerajaan dengan mereka, dan mengembalikan cara lama suatu pasukan petani” (Miyazaki, 1963, 87). Ia lebih lanjut menyerang tradisi-tradisi sastra gentry, dan membela suatu sitem spesialisasi teknik, dan dengan demikian menyelrang justifikasi ideologikal

gentru terdidik itu sendiri. Reformasi ini gagal, tetapi tak tampak berbeda bahwa konsep-konsep sistem perladangan, lumbung umum, petani-prajurit, dan hirarki kelas-kelas para pemimpin yang secara berkelanjutan mengisi fungsi-fungsi yang tetap hidup dalam tradisi ideologikal Cina secara lebih luas.

(23)

ikatan jadi monogami. Semua ukuran ini diarahkan melawan gentry dengan aturan perkawinan sebagai tujuan mobilitas sosial, menggunakan ikatan kaki wanita sebagai sebuah tanda status sosial, penjualan gundik, pernyataan tegas dominasi laki-laki atas wanita. Taiping juga mendukung penggunaan bahasa populer sebagai perlawanan bentuk bahasa sastra. Mereka membela pengenalan suatu kalender bergaya Barat modern. Opium, tembakau, dan alkohol dilarang. Akhirnya, gerakan merupakan ikonoklastik yang teguh, tak hanya menghancurkan tablet-tablet leluhur – yang membentur kelanjutan garis keturunan dan klan-klan, salah satu mekanisme dominasi gentry – tetapi juga bermaksud mengeliminasi citra-citra Budhis, Taois dan Konfusian.

Banyak dari program hanya khayalan kosong dan tidak dilaksanakan dalam praksis; seorang penulis Komunis, Fei Min, mengatakan program Taiping sebagai suatu “sosialisme utopian” (dikutip dari Levenson, 1964, 181, catatan kaki 14). Namun ada beberapa kerguan jika hal itu gigambarkan sebagai “sosialisme”. Cita-cita Taiping tak banyak menguntungkan kaum petani dan hanya mengorganisirnya menurut suatu rencana sosial baru, di mana kakuatan politik akan dialokasikan secara berbeda, tetapi petani akan tetap menjadi penangging-beban masyarakt baru. Visi reformasi agraria yang dirancang, dalam kenyataannya, tak terealisasi; bahkan penambahan pajak di akhir waktu membalikkan petani melawan Taiping. Keadaan yang terbalik ini dengan cerdik dimanfaatkan oleh pasukan pemerintah untuk melawan mereka. Taiping di akhir waktu tak dapat mengikutkan kaum petani karena mereka telah gagal menggenggam loyalitas mereka (Michael, 1966, 195).

(24)

dengan cara menjadi anggota seluruh komunitas dan mengorganisir mereka ke dalam kesatuan pertahanan sendiri di belakang dinding tanah besar yang dikelilingi oleh suatu zona tanah yang membakar untuk memfasilitasi serangan dan pertahanan. Mereka mengorganisir produksi dan membawa distribusi padi. Mereka secara luas mempergunakan kavaleri, memakai ribuan kuda. Pola organisasi mereka, bagaimanapun, memperlihatkan tiga kelemahan yang mencolok, secara cerdik dimanfaatkan pasukan pemerintah yang melawannya. Mereka secara utama berada di pedalaman, tak ingin dan tak dapat menguasai serta meramas kota-kota. Usaha-usaha mereka secara luas desentralisasi, setiap komunitas secara luas memperhatikan keuntungan segera dan pertahanan diri sendiri; dan akhirnya mereka mengasingkan petani bertanah sedikit dengan kebijakan tanah dibakar mereka. Pemimpin pemerintah yang cakap Tseng Kuo-Fan memandaatkan kelemahan ini dengan mengisolasi satu komunitas dengan komuntas lainnya, memotong pengendara kavaleri dari basis tempat tinggal mereka, dan menarik banyak petani yang dirugikan oleh kebijakan pertahanan Nien ke sisi pemerintah.

(25)

melawan pengaruh pertumbuhan luar negeri. Namun sebagai anggota gentry

terdidik tradisional mereka juga terus melihat instrumen-instrumen ini terutama sebagai cara memelihara esensi (t’i), Konfusian, Cina pertanian tradisional (Feuerwerker, 1958, 245). Mereka kekurangan pengalaman teknik dalam manajemen usaha modern, dan visi sosial yang akan membolehkan mereka mengerjakan tanah sebagai sebuah tambahan untuk industri dan perdagangan, lebih dari sekedar membuat industri dan perdagangan tunduk patuh pada tanah tradisional. Dengan demikian, bahkan sementara mereka bergerak ke arah keterlibatan dengan kapitalisme Barat, mereka juga tetap pertama sebagai gentry

dan kedua sebagai pengusaha.

Sementara para pejabat besar ini tetap bertahan dalam dilema antara nilai-nilai Konfusian dan usaha mandiri modern, mereka segera dilewati oleh sekelompok besar pengusaha yang kurang tergantung pada tatanan lama dan lebih menjalankan cara baru menjalankan bisnis. Mereka ini adalah para pedagang perjanjian-pelabuhan atau compradores, sebagaimana mereka disebut di Portugis, agen-agen perusahaan bisnis asing di Cina. Menurut nilai-nilai Kondusian tradisional aktivitas komersial mereka dipandang rendah; para edagang memiliki status rendah dalam masyarakat Cina, yang memberi prioritas sosial pada petani dan kaum terdidik. Para pedagang,

mengalirkan hasil lebih di atas kebutuhan minimum untuk hidup dari petani. Pada saat yang sama, para pedagnag berlomba untuk hasil lebih itu dengan tuan-tuan gentry, dan dengan seluruh struktur birokratik perkantoran yang pada akhirnya didukung oleh pajak dan pemerasan berlipat yang biasa pada produk agrikultural keseluruhan. Mengikuti hal tersebut dalam ideologi dominan pedagang dilihat secara esensial sebagai parasit di atas dua kelas yang diakui posisi-posisi tertinggi dalam tatanan derajat tradisional gentry – prajurit, petani, pengrajin, pedangan (Feuerwerker, 1958, 50).

(26)
(27)

untuk menegaskan kemandirian mereka dalam berhadapan dengan kekuatan di mana mereka berhutang budi pada status baru mereka.

(28)

militer. Garis antara aktivitas militer yang diakui dan perbanditan yang sesungguhnya merupakan suatu hal yang sama, dan dengan mudah dihapus dalam proses.

(29)

membantu di waktu yang diperlukan. Sisa-sisa persediaan yang ada dijual pada tahun 1912 untuk membiayai Revolusi dan tak pernah dikembalikan.

Kelima, hasil lebih yang dihasilkan oleh pola sewa-menyewa dan riba masa lalu terus dirubah ke dalam instrumen-instrumen ekspansi komersial. Untuk beberapa tingkat, semua faktor yang disebut terdahulu – tekanan populasi, kegagalan kontrol air, fragmentasi politik, penipisan cadangan makanan – telah terlihat sebelum bagian sejarah Cina yang ini. Abad kedua puluh, bagaimanapun, ternyata berbeda dalam memfasilitasi penyebaran kapitalisme wirausaha pribadi ke dalam wilayah pedalaman Cina dan dalam membangkitkan reaksi orang Cina secara spesifik untuk penyebaran ini.

(30)

tanah dan dari kepemilikan gelar pendidikan; jika mereka berharap memperoleh hal lainnya, karena itu, para pedagang mengeruk kembali keuntungan mereka ke dalam pembelian tanah dan ke dalam karir pendidikan anak-anak mereka (Balazs, 1964; Murphey, 1962; Wittfogel, 1957).

Tetapi gangguan kekuatan luar negeri atas Cina dan hasil kombinasi kebijakan “buka pintu” secara serempak menghasilkan disintegrasi negara dan liberasi komrsial serta aktivitas industri dari politik tradisional dan kontrol sosial. Industri tumbuh, meskipun dalam semua kemungkinan tak cukup cepat memberi suatu sumber investasi alternatif yang dapat dipercaya untuk mayoritas di mana memiliki modal untuk diinvestasikan. Ada suatu penambahan besar dalam produksi hasil panen bernilai pasar tinggi, seperti tembakau dan opium. Hasil panen bahan makanan, bagaimanapun, juga meliputi perkembangan ini. Di Chu Hsien, di provinsi Anhwei, sebagai contoh,

perkiraan informal mengindikasikan bahwa dalam panen setahun yang baik lebih dari dua puluh persen padi yang dipanen di Ch’uhsien ditujukan untuk suatu pasar luar ... Dengan demikian nilai padi sebagai suatu cara untuk memperoleh uang tunai, di mana banyak petani memakan padi mereka hanya pada waktu-waktu khusus tahun tersebut. Mereka lebih suka di dalam banyak kasus untuk menjual seluruh hasil panen mereka dengan perkecualian bagian bibit dan penanaman untuk ditukar dengan bahak makanan yang lebih murah untuk konsumsi mereka sendiri. Dengan demikian banyak penanam padi Ch’uhsien makan kanji sebagai bahan makanan pokok mereka ... seringkali petani penggarap tak punya kebun sendiri. Karena sayur-sayuran segar merupakan suatu unsur penting dalam makanan orang Cina, para petani yang kekurangan bahan tersebut harus memperolehnya melalui perdagangan atau pembelian. Di bawah kondisi normal produksi, karena itu, sungguh-sungguh jelas bahwa keluarga petani Cina jauh dari mencukupi diri sendiri (Fried, 1953, 129).

(31)

kemunculan tuan-tuan tanah kecil yang tinggal di desa-desa di mana-mana dan para partner dengan penyewa mereka di dalam bisnis pertanian dari suatu kelas para pemilik yang tak tampak yang terhubung dengan pertanian hanya secara finansial. Perkembangan biasanya diteruskan dengan sangat cepat di sekeliling kota-kota besar, di distrik-distrik di mana kondisi statis kehidupan pedalaman dipecahkan oleh ekspansi komersial dan industrial, dan di wilayah-wilayah seperti bagian Manchuria, yang sekarang ini telah ditata oleh suatu populasi imigran. Gejala ini disertai spekulasi tanah, dan gangguan antara tuan tanah dan penyewa serta kelas menengah. Di Kwangtung, hal ini menjadi praktek terus-menerus untuk blok-blok tanah yang luas disewakan pada para pedagang, atau bahkan oleh perusahaan-perusahaan khususnya yang dibentuk untuk maksud itu, dan kemudian disewakan kembali sedikit demi sedikit pada suatu penyewaan yang menyiksa terhadap petani penggarap. Di mana-mana, hasil pertumbuhan pemilik yang tak tampak ini mempekerjakan agen-agen, yang menggantikan tuan tanah dengan bisnis dirinya sendiri untuk memeras para penyewa, menakut-nakuti para petani melalui ancaman pengusiran dengan membayar lebih banyak sebagai hutang budi mereka, serta mengeluarkan uang dengan pertama-tama tipuan dan intimidasi kemudian (Tawney, 1932, 68).

Pengenalan panen komersial dan komersialisasi tanah mempengaruhi harga tanah, kondisi-kondisi dan harga sewa. Harga tanah berlipat dua dan tiga di beberapa wilayah, dan jaminan kepemilikan diganti dengan kontrak-kontrak jangka pendek. Pada saat yang sama sewa-menyewa bertambah sekaligus atau timbul melalui penggunaan mekanisme demikian sebagai pertumbuhan pungutan atau pembayaran setoran sewa untuk menjamin hak kepemilikan permanen.

(32)

pabrik pakaian bahkan dihasilkan dari pengenalan benang buatan mesin. Pertumbuhan dikonversi ke penggunaan produk-produk buatan mesin, bagaimanapun, sungguh-sungguh merupakan ancaman untuk banyak kepala rumah tangga petani yang menambah pemasukan kecil mereka dari pertanian dengan produksi kerajinan marjinal. Untuk alasan ini antropologis Cina Fei Hsiao-Thung dan Chang Chih-I menyimpulkan studi mereka mengenai tiga komunitas di Yunnan dengan menyimpulkan bahwa pertanian sendiri tak lagi dapat memenuhi kebutuhan penduduk Cina.

Revolusi industri di Barat akhirnya mengancam para petani di desa-desa Cina dalam kapasitas mereka sebagai industrialis. Bagaimanapun, seberbakat apapun mereka, mereka berperang untuk kalah melawan mesin. Tetapi mereka harus tetap berjuang, karena jika tidak mereka tak dapat hidup. Hasilnya adalah bahwa Cina perlahan-lahan menjadi berkurang sebagai negara agraris, jelas dan sederhana; dan suatu Cina agraris merupakan suatu Cina yang kelaparan tanpa bisa dielakkan (1945, 305).

(33)

pertanggungan hubungan sosial yang berbeda di satu lokalitas ketika berhadapan dengan lokalitas lainnya, di satu wilayah ketika menghadapi wilayah lain. Hubungan kekuasaan juga secara bersamaan berbeda. Namun dinamika yang sama di mana-mana nampak, mengambil sumber penghasilan struktur mikro yang berbeda k dalam suatu pusaran yang semakin membesar. Kontrol-kontrol struktural dilatih oleh disintegrasi negara; prestise dihubungkan dengan keemilikan tanah dan pemilikan gelar pendidikan dikurangi. Membicarakan mengenai kemungkinan baru untuk investasi kekayaan di dalam perdagangan dan industri tumbuh dengan cepat dan memberikan kesempatan baru untuk para pedagang sebagai jabatan dan panglima-panglima perang yang mewarisi fragmen-fragmen aparatur negara yang dihancurkan. Hal ini melalui suatu sinbiosis baru di antara tuan tanah, pejabat-pejabat, prajurit, dan para pedagang – mencapai level lokal atau regional dalam kelompok dua puluh atau tiga puluh – yang berpotensi mengkapitalisasi kekayaan yang digerakkan di seluruh negeri dan dikombinasi dengan modal yang diimpor dari perbatasan laut timur. Di dalam simbiosis ini muncul apa yang disebut Chen Han-seng sebagai “sesuatu yang berisi empat”:

(34)

Namun tanah dan penyewaan tanah tetap merupakan suatu perhatian utama meskipun aktivitas formal utama dikerjakan dengan cara-cara lain dalam memperoleh penghidupan. Bahkan ketika orang pindah ke kota-kota, investasi atas tanah tetap merupakan suatu sumber pemasukan yang penting.

Dari 391 orang kelas menengah di Peiping, dari informasi yang terpercaya [pada tahun 1936-1937], 191 atau 48 persen memiliki tanah; dari 21 informan kami (juru tulis, pedagang dan pemilik bengkel kerja) di Shanghai, 11 atau 52 persen memiliki tanah ...

Sember penghasilan tambahan telah dimainkan bahkan dalam suatu kegiatan yang besar dalam kehidupan ekonomi kelas atas daripada di kelas menengah. Seorang pejabat dengan gaji $200 sebulan dan pemasukan $100-150 sebulan dari tanah bukan merupakan hal yang tidak biasa. Para informan di antara pedagang sering tak dapat mengatakan apakah sumber pemasukan utama mereka bisnis atau tanah ... Dari 231 keluarga kelas atas di Cina utara yang memberi informasi, 126 atau 54 persen (tidak termasuk tuan tanah) memiliki tanah; banyak yang memiliki rumah. Investasi di toko-toko, pabrik, dan pinjaman memainkan suatu bagian yang penting (Lang, 1946, 94, 98).

(35)

barang paling menguntungkan adalah menjual heroin secara kredit, dengan tanah sebagai jaminan, dan meminjami kembali uang, yang dipinjamkan dari tuan tanah terdekat (Crook dan Crook, 1959, 18-20).

Demikianlah gambaran menyeluruh merupakan satu piramida di dalam piramida, satu dalam piramida yang lebih kecil terdiri dari tuan tanah-tuan tanah yang lebih kecil itu sendiri. Dengan demikian tuan tanah besar adalah bekas tuan tanah yang lebih kecil, dan tuan tanah yang lebih kecil bekas tuan tanah yang lebih kecil lagi – atau mereka bekas petani kaya. Sebaliknya bekas kelas menengah atau bahkan petani miskin sebagai agen mereka. Uang dipinjamkan oleh Hsin Hsung Shop di Ten Mile Inn, sebagai contoh, pada tingkat bunga 100 persen setiap dua puluh hari pinjaman biasanya – tak berarti bebas bunga – dari tuan tanah Chang “Lao-wantze” West Harmony (Crook dan Crook, 1959, 28).

Tuan Chang, yang nama kecilnya berarti Bola Daging Tua, menggantikan pata tuan tanah yang lebih kuat dari dirinya. Pada puncak piramida di Wu An County ada Chang Hsin-hai. Ia memiliki empat puluh ribu mou tanah garapan, empat ratus kali banyaknya tuan tanah terkaya di Ten Mile Inn, sebagai tambahan ia mengontrol penyewaan dari delapan puluh desa dan memiliki empat puluh taman di kota (Crook dan Crook, 1959, 11).

(36)

sampai 30 persen tanah. Di bagian selatan, sebagaimana digambarkan oleh empat

hsien selatan, para tuan tanah yang terdiri dari 2 sampai 4 persen populasi memiliki 30 sampai 50 persen tanah (Institute of Pacific Relations, 1939, 3). Tawney memperkirakan pada tahun 1932 bahwa “antara 40 dan 50 persen keluarga petani tak cukup memiliki tanah untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka” (Tawney, 1932, 71). Perkiraan-perkiraan orang tak bertanah secara keseluruhan sangatlah sulit dilakukan. Sebuah penelitian atas 3.552 keluarga di tahun 1920-an (Tayler, 1028, 106) hanya memperlihatkan 16 persen dari tanah keseluruhan. Mao Tse-tung memberi sebuah gambaran 20 persen populasi petani Changsha County, Hunan, pada tahun 1927 sebagai “miskin sama sekali”:

bahwa rakyat yang tak memiliki tanah atau uang, tanpa cara lain untuk mencari penghidupan, dan dipaksa meninggalkan rumah dan menjadi prajurit atau pekerja upahan atau pengemis pengembara (Mao, 1965, 32).

Banyak pekerjaan pertanian tetap dikerjakan petani sendiri atau oleh keluarga mereka, hanya sekitar satu per lima pekerjaan pertanian dikerjakan oleh buruh sewaan (Buck, 1930, 231-237). Suatu diskusi mengenai bentuk-bentuk pekerjaan pertanian di Cina menghasilkan derajat di mana pekerja pertanian tidak ditetapkan sebagai satu kelas tersendiri.

Dalam studi bentuk pekerjaan pertanian di Cina, hal itu sangat

(37)

yang lainnya. Satu hari mereka mengerjakan lahan di tanah mereka sendiri atau di tanah yang mereka sewa; hari berikutnya mereka bekerja sebagai buruh upahan di lahan orang lain; dan hari berikutnya lagi mereka bekerja sebagai kuli yang mengangkut barang dari toko-toko ke kota. Buruh upahan tanggung ini di Honan jauh melebihi jumlah buruh upah penuh waktu, dan situasi yang sama juga ditemukan di provinsi-provinsi yang lain (Indtitute of Pacific Relations, 1936, 71).

Profil sosial yang dihasilkan adalah suatu masyarakat pedesaan yang tidak dinominasi “oleh buruh upahan, tetapi petani bertanah” (Tawney, 1932, 34). Namun petani bertanah ini pada saat yang sama bertarung dengan ganas mempertahankan diri di atas tanah, diancam ganda oleh tekanan komersialisasi dari atas dan praktek kemiskinan dari bawah.

Semua perkembangan ini – gangguan luar negeri yang berkelanjutan, pertarungan pasukan-pasukan para panglima perang, meluasnya industri dan perdagangan, serta ketidakpuasan pertanian yang mendalam – tak dapat dicegah menciptakan suatu kemunculan keadaan meragi di antara suatu populasi yang dilempar terus ke dalam kerusuhan dan semakin putus asa pada harapan untuk dapat diperbaiki dalam Kerajaan Surga. Ragi ini secara khusus ditandai dari tiga segmen baru populasi, di antara perkembangan kelas pekerja Cina, dihasilkan oleh pertumbuhan industri dan perdagangan; di antara mahasiswa, yang menangkap kontradiksi-kontradiksi di antara pertentangan norma-norma masa lalu dan sekarang; dan di antara petani, dipengaruhi secara mendalam oleh perubahan pertanian. Ketika abad kedua puluh datang, juga muncul suatu bentuk politik baru, kelompok-kelompok baru, dan tipe-tipe baru institusi politik, yang akan mencoba menggabungkan dan mengarahkan unsur-unsur baru ini pada tingkat politis.

(38)
(39)

mogok mendukung maksud-maksud politik. Pada tahun 1927 keanggotaan persatuan berjumlah tiga juta, dan suatu usaha pada pemberontakan urban dengan berat mengandalkan dukungan pekerja yang erat untuk berhasil dalam perebutan kekuasaan pada bulan Mei tahun tersebut.

Satu unsur kedua adalah gerakan mahasiswa nasionalis. Sistem ujian Konfusian masa lalu telah dihapus pada tahun 1905: pendidikan Konfusian tradisional telah dengan cepat kehilangan prestise tradisionalnya. Sebaliknya, suatu populasi mahasiswa baru dengan tak sabar mencoba memperoleh penguasaan teknik dan adat istiadat baru dalam karir pendidikan berorientasi Barat. pada tahun 1915 telah ada empat juta mahasiswa Cina mengikuti studi di atas level sekolah dasar, diajar oleh lebih dari 200.000 guru. Lebih dari seratus ribu pergi belajar ke luar negeri antara tahun 1872 dan 1949.

mereka diambail dari suatu elit ekonomi. Meskipun secara relatif uang kuliah, kamar dan perjalanan tahunan universitas pemerintah rendah atau barangkali sama dengan lima bulan upah seorang pekerja tekstil Shanghai. Pekerja yang sama akan menghabiskan lima setengah tahun penghasilan untuk memasukkan anaknya melalui empat tahun di sekolah nasionalis. Pendeknya, sebuah keluarga telah memiliki pemasukan kelas-menengah-atas untuk mengirim anak mereka ke sebuah college umum dan pemasukan kelas-atas untuk mebirimnya ke institusi misionaris (Israel, 1966, 5).

(40)

Mandirilah, jangan memperbudak diri! Progresiflah, jangan konservatif! Agresiflah, jangan segan!

Kosmopolitanlah, jangan mengisolasi! Bermanfaatlah, jangan formalistik! Ilmiahlah, jangan mengkhayal!

Terperangkap di antara pertentangan norma lama dan baru; di antara Timur dan Barat; antara dunia orang tua mereka dengan loyalitas mereka yang lebih utama, dan keterlibatan mereka sendiri dengan teman-teman mahasiswa yang datang dari seluruh Cina; berhadapan dengan kondisi ekonomi yang tak menentu dan diancam oleh ketiadaan pekerjaan; dan lebih sadar mengenai pentingnya Cina dalam menghadapi ancaman asing yang terus tumbuh, para mahasiswa bereaksi pada situasi mereka dengan menonjolkan suatu nasionalisme. Mereka muncul pertama kali pada 4 Mei 1919, ketika mahasiswa-mahasiswa di Peking memprotes pelanggaran batas oleh Jepang dan ketiadaan harapan politikus Cina menanggapi tuntutan Jepang. Protes meluas dengan cepat ke kota-kota dengan populasi mahasiswa, dan pekerja mulai mendukung gerakan mahasiswa dengan pemogokan. Memenangkan dukungan publik yang luas untuk aksi mereka, usaha 4 Mei membentuk pola keterlibatan mahasiswa masa depan dalam politik.

Dengan berlalunya waktu, generasi tua mahasiswa, terutama yang belajar di luar negeri, terus mengakomodasi diri dengan keadaan ini, banyak dari mereka memasuki pekerjaan dengan perusahaan Barat dan yang di-Barat-kan. Namun sebuah minoritas aktif dari generasi lama dan sejumlah mahasiswa baru yang tumbuh akan memainkan suatu bagian penting dalam perang anti-Jepang dan beralih ke Kiri yang diakhiri dengan mendirikan partai Komunis pada tahun 1949.

(41)

P’eng Pai, anak seorang tuan tanah kaya yang menjadi guru sekolah di desa kelahirannya Haifeng dan satu dari para pendiri partai Komunis di Canton, mengorganisir Asosiasi Petani Haifeng. Haifeng berlokasi di distrik-distrik Sungai Timur Provinsi Kwangtung: sekali lagi Cina selatan mulai memainkan peranan strategisnya dalam mengangkat bendera pemberontakan di Cina. Di sinilah di mana Taiping dilahirkan, dan dari selatanlah mereka melancarkan usaha untuk merebut kontrol Cina dari dinasti Manchu. Dari selatanlah, Sun Yat-sen menantang pemerintahan kerajaan di Peking untuk mendirikan republik pada tahun 1911, dan adalah di Canton di wilayah selatan di mana ia telah mundur mempertahankan konstitusi republik melawan para panglima perang. Di sinilah ia dan pengikutnya memperoleh dukungan ribuan orang Cina perantauan yang mencoba kesempatan baru di luar negeri dan telah datang mewujudkan alternatif atas pemerintahan masa lalu. Sekarang selatan sekali lagi menetaskan suatu gerakan petani yang selama tiga puluh tahun menghabiskan energinya dalam suatu usaha merubah masyarakat Cina sepanjang garis baru. Pada bulan Mei 1925 asosiasi-asosiasi petani di Kwangtung berjumlah sekitar 180.000 unit petani (Isaacs, 1906, 69).

Namun tugas mengorganisir petani tidak berhasil secara keseluruhan, dan beberapa masalah selama usaha organisasional berulang – dalam satu dan lain bentuk – dalam semua usaha kemudian untuk mengorganisasi petani Cina. Roy M. Hofheinz, yang telah mendiskusikan proses organisasi Kwangtung secara detil, mencatat dua sumber utama kesulitan. Pertama, tidak semua petani meluangkan diri mereka secara sama untuk tugas organisasi. Berbeda dengan kepercayaan umum bahwa,

(42)

Di sini pertaniannya produktif, dan di sekitar Canton – dengan tuntutan produksinya yang luas – membuatnya menguntungkan. Para penyewa dapat berpartisipasi dalam keuntungan yang tak terduga selama tahun-tahun yang baik atau ketika tingkat air adekuat. Sebagai tambahan, meratanya perbanditan di wilayah ini sering membuat para tuan tanah enggan mengumpulkan uang sewa. Karena itu, mereka melihat sedikit alasan untuk membahayakan posisi mereka untuk bergabung dengan gerakan petani. Tetapi ada satu aspek kedua keengganan mereka. Revolusi republik tahun 1911 tak banyak mengubah struktur kekuasaan lokal. Kontrol secara kuat di tangan-tangan gentry lokal, seringkali disokong pasukan pribadi (min t’ran). Banyak anggota gentry bekerja diam-diam dengan para bandit lokal – “ini sering terjadi di mana seluruh desa menjadi dunia penjahat” (Hofheinz, 1966, 199). Ikatan klan juga kuat; sering seluruh desa masuk ke dalam klan yang sama. Pada saat yang sama, desa-desa dihubungkan satu sama lain melalui kelompok rahasia triad. Di sini para pembaharu menghadapi seluruh kekuatan lokal di mana mereka harus menembusnya dulu sebelum para petani dapat memainkan suatu tatanan politik yang independen. Hofheinz mengatakan bahwa asosiasi-asosiasi petani:

berusaha tumbuh di suatu rimba kelompok sosial lain yang sesungguhnya. Begitu lama ketika struktur-struktur tradisional tetap lengkap di mana mereka telah bersaing dengannya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa di banyak kasus pertumbuhan gerakan petani dengan berat dibatasi oleh kompetisi demikian (1966, 220).

Di mana mereka lebih berhasil adalah di Haifeng batas laut timur dan di distrik Kwangning di wilayah Sungai Barat di mana tanah bergunung dan kurang produktif; di sini lebih dari 20 persen populasi petani menjawab panggilan mereka untuk pengurangan harga sewa.

(43)

(1966, 209), ia tak dapat melebihi rintangan politik yang muncul melawannya. Sedikit keberhasilan hanya datang ketika gerakan petani bersekutu dengan kekuatan militer Kuo Min Tang yang beroperasi dari Canton, dan mampu tumbuh memperoleh dukungan militer dalam melaksanakan reformasi dan mengurangi kekuasaan gentry. Pada tahun 1925 gerakan demikian mulai memperluas, menciptakan “transisi dan reformasi moderat ke subversi lokal yang independen menjepit menyerang mengkombinasikan kekuatan internal dan eksternal” (1966, 211). Mobilisasi dekimian ternyata mungkin tanpa pengaruh politik dan militer.

(44)

ke dalam suatu jiplakan kasar Partai Bolshevik Rusia. Metode-metode agitasi dan propaganda Bolshevik diperkenalkan. Menciptakan dasar-dasar suatu pasukan yang diilhami gagasan-gagasan Kuomintang dan mengakhiri kemerdekaan sebelumnya di atas militaris gaya lama, orang-orang Rusia pada bulan Mei 1924 mendirikan Akademi Militer Whampoa. Akademi ini dipasok dan dioperasikan dengan dana Rusia, staffnya oleh penasihat-penasihat Rusia. Di belakang muatan panjang pasukan Rusia yang datang ke pelabuhan Canton untuk memasok pasukan di mana dengan segera dikerahkan satu bendera baru, Kuomintang mulai memperlihatkan kekuatan baru dengan seluruh aktivitasnya yang diberkahi itu. Partai Komunis Cina, pemimpin organisasi gerakan baru, menahan diri dengan setia membangun Kuomintang dan mempropagandakan programnya. Anggotanya merupakan pekerja-pekerja partai yang tak kenal lelah, namun mereka tak pernah muncul sebagai komunis atau juga memperkenalkan program mereka sendiri. Partai Komunis, kenyataannya dan secara esensial, dalam kerja dan caranya mendidik anggota-anggotanya, sebagai anggota Sayap-Kiri Kuomintang (Isaacs, 1966, 64).

(45)

Institut Pelatihan Petani juga didirikan tahun 1924, dan beroperasi dari 1924 sampai 1926. Tujuannya adalah melatih pemimpin-pemimpin pedesaan yang akan kembali ke wilayah tempat tinggalnya dan mengorganisir petani lokal. Banyak dari wilayah-wilayah ini berlokasi di dekat pusat-pusat ekonomi dan transportasi, khususnya sepanjang jalan raya utama yang dipakai serangan yang membawa ekspedisi-ekspedisi ke utara dari selatan di Lembah Yangtze pada tahun 1926-1927. Organisasi politik para petani di wilayah ini dan pemberontakan bersenjata oleh petani terorganisir menyediakan basis logistik perjalanan ke utara (McColl, 1967, 41-44).

(46)

selatan digambarkan secara lokal oleh Divisi Independen Pasukan Keempat, di bawah arahan kepeminpinan Komunis. Berbeda dengan Kwangtung di wilayah komersialisasi dekat canton yang memberi banyak penghalang untuk mengorganisir petani, di Hunan kaum Komunis mencatat keberhasilan besar mereka di wilayah-wilayah komersialisasi, khusunya timur Changsha. Di sini kontrol gentry tampak melemah, dan tuan tanah lebih baik tinggal di kota daripada di tanahnya sendiri. Tak ada bandit-bandit, dan organisasi pertahanan gentry juga lemah. Kaum Komunis, di sisi lain, mendirikan hubungan-hubungan yang baik engan kelompok-kelompok rahasia yang dominan secara lokal, dalam kasus ini Ko-lao-hui. Slogan utama yang dipergunakan bukan pengurangan harga sewa, sebagaimana di selatan, tetapi usaha menjamin “pangan rakyat” melalui perampasan gudang dan penurunan harga (Hofjeinz, 1966, 242-257). Kontrol keseluruhan tampak lemah, memberi ruang gerak yang lebih besar untuk gerakan mobilisasi petani.

(47)

pekerja terlibat dalam pemogokan, sementara tugas merebut kota didelegasikan pada milisi pekerja berjumlah lima ribu orang. Pada tanggal 26 Maret, Chiang memasuki kota. Menulis dari Moskow, Leon Trotsky – kemudian berlawanan dengan garis utama Komunis – dengan tepat meramalkan tahapan peristiwa-peristiwa yang datang ketika ia menulis bahwa:

kebijakan suatu Partai Komunis yang dijalankan secaramembelenggu sebagai suatu agen perekrutan untuk membawa para pekerja ke dalam Kuomintang merupakan persiapan untuk keberhasilan pendirian suatu kediktatoran Fasis di Cina.

Pemogokan baru saja menempatkan Chiang sebagai komandan kota ketika ia memperoleh kerja sama elit finansial dan organisasi gangster bernama Gang Hijau untuk menjadikan perebutan kekuasaan sebagai keuntungannya sendiri. Pada tanggal 2 April 1927, pukulan jatuh. Hasil pembunuhan besar-besaran lima ribu Komunis kehilangan nyawa, dan Kuo Min Tang di bawah Chiang mencapai dominasi yang kokoh.

Perampasan Shanghai menandai akhir partisipasi pekerja dalam gerakan politik dan kaum Komunis berharap bahwa revolusi dapat dimenangkan oleh kelas pekerja Cina yang mulai muncul. harapan tersebut timbul-tenggelam sampai tahun 1930 ketika kaum Komunis berusaha tetap melakukan pemberontakan lain, didasari pemberontakan urban yang dirangkai dengan dukungan pedesaan, hanya untuk turun dalam suatu kekalahan akhir di kota-kota. Sejak saat itu partai kemudian berganti dengan tegas menjadi gerakan petani sebagai dasar terakhir serta satu-satunya untuk meraih kemenangan.

(48)

kemudian menjadi seorang mahasiswa dan salah satu pendiri partai Komunis. Seawal tanggal 20 Desember 1926, Mao menyatakan bahwa masalah petani merupakan isu sentral revolusi di Cina dan memulai penyitaan dan redistribusi tanah oleh asosiasi-asosiasi petani di Hunan (Rue, 1966, 53). Ia muncul dari penghancuran partai Komunis di Shanghai untuk menjadi pembicara utama bagi suatu kebijakan aksi Komunis yang independen, lebih ditopang oleh dukungan petani daripada bergantung pada para pekerja di kota-kota. Pada tahun 1938, ia menulis bahwa negeri-negeri kapitalis, dikarakterisasi oleh rejim demokratik borjuis, ini tepat untuk mempergunakan suatu perjuangan lehal yang panjang untuk mobilisasi proletariat. Pemberontakan tak seharusnya dimulai sampai kemungkinan-kemungkinan perjuangan legal kehabisan tenaga. Karena itu, bagaimanapun, waktu untuk pemberontakan telah datang, “kota-kota seharusnya diambil lebih dulu, dan kemudian desa-desa, bukan sebaliknya.” Tetapi,

di Cina, itu berbeda. Cina bukan sebuah negara demokratik independen, tetapi sebuah negeri semi kolonial dan semi feodal ... tak ada majelis legislatif diciptakan, tak ada hak legal untuk mengorganisir para buruh mogok. Di sini tugas fundamental Partai Komunis tidak untuk bekerja melalui suatu periode lama perjuangan legal sebelum melancarkan suatu pemberontakan atau perang saudara. Tugas ini bukan untuk merebut kota-kota besar pertama kali dan kemudian pedesaan, tetapi untuk mengambil cara yang sebaliknya (Rue, 1966, 283).

(49)

perekrutan pasukan baru, Sovyetisasi wilayah-wilayah pedesaan baru dan di atas semuanya, konsolidasi di bawah kekuasaan Sovyet yang tak sama atas wilayah-wilayah demikian siap jatuh ke Tentara Merah (Snow, 1938, 180).

Setting geografis untuk strategi baru ini pertama kali di Cina tengah-selatan, khususnya wilayah-wilayah Kiangsi-Fukien dan Oyüwan (Hupeh-Honan-Anhwei). Dikendalikan dari wilayah-wilayah ini pada tahun 1934, pasukan Merah berbaris ke arah utara melintas sejauh enam ribu mil untuk menjejakkan diri mereka pertama kali di Shensi, dan kemudian meluas ke Shansi dan Hopeh di mana kedatangan mereka di Shensi telah disiapkan oleh para komandan tentara dengan simpati Komunis yang kuat di mana mendukung pemberontakan besar di bukit-bukit pemberontakan tradisional wilayah utara Shensei sejak tahun 1925.

Dengan memenangkan dukungan petani, strategi Komunis berjalan melalui beberapa tahap yang berbeda. Selama enam bulan pertama mundur ke wilayah pedalaman banyak diungkapkan dan beberapa aksi dimaksudkan pada reformasi tanah radikal yang akan menyita seluruh tanah dan menyatukannya dalam kolektivitas yang didirikan baru. Tahap awal ini, bagaimanapun, segera memberi jalan untuk suatu strategi yang sudah matang dipertimbangkan, mengharapkan memperoleh simpati petani menengah dan kaya di sisi para revolusioner. Mao percaya bahwa partai telah

membuat suatu perkiraan tepat mengenai karakter kelas-kelas menengah yang terombang-ambing, dan ... merencanakan kebijakan-kebijakan mengambil keuntungan penuh kontradiksi-kontradiksi yang ada di kelompok reaksioner (Rue, 1966, 105).

(50)

kebijakan-kebijakan agrarian pada tahun pertama terlalu radikal. Karena partai menyerang para tuan tanah kecil dan petani-petani kaya tanpa berkurang, kelas-kelas ini “menghasut pasukan-pasukan reaksioner membakar sejumlah besar rumah-rumah para petani revolusioner.” Dalam pendapat Mao para petani miskin diisolasi di wilayah Merah oleh kebijakan CCP (Komite Sentral Partai). Mao percaya jalan keluar dari masalah ini terdapat pada suatu kebijakan yang lebih toleran terhadap kelas-kelas menengah, yang di desa-desa ia dikenali sebagai tuan tanah kecil dan para petani kaya. Tugas politik partai yang utama, sepanjang ia hanya mengontrol suatu dasar yang kecil dan lemah, adalah memenangkan dukungan kelas-kelas ini. Di sini kita memiliki kemunculan “garis petani kaya” Mao (1966, 110).

“Garis petani kaya” ini, jika tidak sama sekali, terlalu sukses. Pada tahun 1933 Lo Fu, sekretaris Komite Sentral Partai, menulis dari Juichin, kota besar Sovyet, bahwa

tanah dibagi-bagikan, tetapi tuan tanah dan petani kaya juga menerima tanah dan tanah yang lebih baik. Sejumlah unsur-unsur tuan tanah dan petani kaya tetap menguasai otoritas dan posisi di desa-desa ... Beberapa dari mereka tidak di bawah kontrol partai dan institusi-institusi pemerintah dan menggunakan diri mereka untuk menanggung kepentingan-kepentingan kelas mereka sendiri ... di banyak tempat masalah tanah tampak terpecahkan, tetapi jika dilihat dari dekat tampak bahwa para tuan tanah ditemukan menerima tanah dan petani-petani kaya tetap memiliki tanah mereka yang luas (Isaacs, 1966, 344).

Mao Tse-tung sendiri menulis dalam nada yang sama bahwa

(51)

bersenjata, mengontrol organisasi-organisasi revolusioner, dan menerima tanah lebih banyak dan lebih baik daripada petani-petani miskin (ibid.).

Ini membawa kaum Komunis untuk menyadari bahwa distribusi tanah, sebagaimana terjadi, tidak cukup untuk membangun dukungan kokoh di antara petani. Dalam rangka memenangkan dukungan petani yang memadai untuk cita-citanya, mereka mulai memperoleh suatu tumpuan di dalam unit sosial di mana perjuangan untuk sumber penghasilan menjadi perang pertama. Unit sosial ini adalah desa. Pada tahun 1930-an mereka bereksperimen dengan koperasi-koperasi desa sebagai satu cara menembus desa tetapi menemukan bahwa organisasi “dari atas ke bawah” yang demikian tidak memberi suatu jawaban atas masalah-masalah mereka. Jawaban ini mereka temukan setelah Long March mereka ke barat laut. Jawaban itu bukan di dalam redistribusi tanah, tetapi dalam pendirian kontrol politik di desa-desa. Tugas ini difasilitasi dalam rumah baru mereka oleh kenyataan bahwa banjir dan bencana alam biasanya sering menghasilkan dislokasi dan relokasi penduduk dalam skala besar, maka hubungan desa-desa memiliki kekuatan dan resistensi yang lebih kurang dari tempat lainnya. Memberontak melawan para tuan tanah dan pergolakan lainnya telah menyebabkan banyak tuan tanah pergi, bahkan sebelum kedatangan kaum Komunis. Yang lainnya segera pergi sebelum ancaman invasi Jepang. Kepergian mereka meninggalkan suatu kekosongan politik di desa-desa di mana kamu Komunis dapat dan berharap mengisinya.

Di wilayah barat laut, kenyataannya, mereka menjadi lebih liberal dalam menangani reformasi tanah daripada pada masa awal pada garis petani kaya-nya Mao. Mereka mengambil alih beberapa lahan tuan tanah, khususnya para tuan tanah yang tetap dalam oposisi politik, sebaik tanah yang dimiliki para pejabat. Dengan tanah ini serta tanah yang diperoleh kembali dari tanah tak bertuan mereka membalas para petani miskin, hal ini menciptakan

(52)

tanah dan suatu kekuatan di desanya. Mereka dikenali sebagai “petani menengah baru” (Crook dan Crook, 1959, 73).

Namun mereka tidak menghapus semua tuan tanah, dan mereka dengan hati-hati menjaga tanah para petani kaya yang bekerja di tanah mereka sendiri, meskipun dengan buruh-buruh pertanian. Malahan, mereka mengandalkan suatu pajak tanah yang progresif untuk memperkenalkan persamaan sosial yang lebih besar, dan mereka dengan tajam membatasi kemampuan lapisan atas desa untuk memeras hasil lebih petani melalui pinjaman dan hutang. Mereka membatalkan semua hutang petanis elama satu tahun dan kemudian mulai memberikan pinjaman pemerintah pada bunga 5 persen, sementara pinjaman pribadi dibuat pada tingkat bunga 10 persen. Program reformasi yang relatif ringan ini mungkin terfasilitasi karena banyak tuan tanah telah pergi, dan juga oleh fakta bahwa kekuasaan tuan tanah di wilayah utara secara umum telah lemah daripada di wilayah selatan. Sementara jumlah tanah yang disewakan pada para penyewa di selatan berjumlah antara 42 dan 47 persen area di tanah pertanian, di utara area pertumbuhan gandum pesentasenya jatuh antara 12 dan 17 (Buck, 1937, 195). Empat puluh enam persen dari seluruh petani adalah penyewa di wilayah padi selatan; di utara wilayah gandum hanya 17 persen merupakan penyewa (1937, 196). Reformasi di sini dapat juga menguntungkan para petani menengah dan mengangkat banyak petani miskin ke petani menengah (misalnya, Crook dan Crook, 1959, 121).

(53)

bebas dari dominasi kekuasaan superior para pemilik tanah. Reformasi mereka tetap terus kehilangan pegangan beberapa tuan tanah yang tersisa.

Reformasi juga memperkenalkan bentuk-bentuk organisasi baru – dewan-dewan desa, tim-tim kerja, persatuan-persatuan petani – yang memberi petani yang lebih miskin dan tak bertanah pengaruh politik dalam pengambilan keputusan desa. Kedua Crook, menggambarkan proses ini untuk desa Ten Mile Inn di pegunungan T’aihang, memperlihatkan bagaimana organisasi-organisasi ini menjadi

suatu dasar pelatihan untuk pengembangan suatu kapasitas kepemimpinan dan untuk aksi terorganisir yang independen di dalam bagian massa sendiri. Sedikit demi sedikit suatu kekuatan ganda berdiri di desa. Dan meskipun pada permulaan persatuan petani hanya menjadi bayangan atau organisasi sekunder, secara objektif menghasilkan para pemimpin yang akan mengambil alih pemerintah desa (1959, 52).

Organisasi-organisasi baru sering menggunakan mekanisme-mekanisme yang sungguh tradisional untuk saling membantu dan bekerja sama, biasanya didasarkan pada kerja sama kekeluargaan atau persahabatan; tetapi mereka membantu tujuan baru organisasi desa dan bertahan di bawah kepemimpinan petani. Ketika para pemimpin muda yang baru membuktikan keberaniannya, mereka dimasukkan ke dalam partai atau ke dalam organisasi-organisasi massa yang dikontrol partai.

(54)

Dengan demikian, jika organisasi-organisasi desa memberikan suatu dasar dukungan di antara petani, cara lain memperoleh dukungan adalah menjadi partai Komunis itu sendiri. Orientasi pertama-tama diarahkan pada pekerjaan di kota-kota, memperoleh dukungan petani kaya dengan perlahan-lahan. Keanggotaannya mulai dari 57 di tahun 1921 sampai mendekati 58.000 di tahun 1927; telah berkurang menjadi 10.000 di akhir tahun 1927 – setelah perpecahan dengan Kuo Min Tang. Beberapa seumber mengklaim bahwa ia telah mencapai 300.000 di tahun 193-1934, tetapi setelah Long March ke barat laut kembali hanya berjumlah 40.000. Ketika perang berakhir dan kaum Komunis berdiri seimbang di seluruh Cina, keanggotaannya telah mencapai lebih dari 1.000.000 anggota (Schurmann, 1966, 129). Secara sosial, puncak kepemimpinan komunis menyerupai kepemimpinan Kuo Min Tang.

(55)

Bagaimanapun, ada juga perbedaan karakteristik:

Pemimpin Komunis karakteristik adalah anak seorang tuan tanah atau petani kaya, sementara pemimpin Kuomintang yang karakteristik adalah anak dari seorang pedagang atau kaum urban lainnya (1965, 395) ...

Elit Kuomintang lebih banyak dari wilayah pesisir, biasanya di sekitar Shanghai dan Hongkong, sementara konsentrasi terbesar para pemimpin Komunis dari Cina Tengah – lembah Yangtze (1965, 402).

Lebih jauh, pertarungan antara Kiri dan Kanan menonjolkan profil ini: “kemunduran Kiri dan kenaikan Kanan merupakan salah satu faktor yang membuat Kuo Min Tang semakin menjadi partai pedagang dan kurang berorientasi pada tuan tanah atau pedesaan” (1965, 409). Sebaliknya, mirgrasi partai Kimunis ke daerah pedalaman untuk terus menempatkan personil intelektual kelas menengah dan kelas tinggi partai dilatarbelakangi oleh anak-anak petani. Tentara Merah khususnya menjadi satu saluran untuk mobilisasi petani. Dengan demikian tidak mengejutkan bahwa pada tahun 1949, ketika kaum Komunis tetap siap mengambil seluruh Cina, sekitar 80 persen anggota partai adalah petani. Pada tahun 1956 para petani tetap terhitung mendekari 70 persen keanggotaan; tiga perempatnya petani-petani miskin, seperempat petani menengah (Lindbeck, 1967, 89; Schirmann, 1966, 132).

Referensi

Dokumen terkait