• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN PERJALANAN UMROH perjalanan perjalanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "CATATAN PERJALANAN UMROH perjalanan perjalanan"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

CATATAN PERJALANAN UMROH (Bagian 1 : Madinah) Posted on 30/01/2014by Nurbaiti-Hikaru

Sebelum keberangkatan

Semakin dekat hari keberangkatan, perasaan saya semakin campur aduk. Saya masih tidak percaya bahwa saya akan berangkat ke tanah suci, saya merasa cemas apakah bisa menjaga diri saya di sana. Tapi hal utama yang saya takutkan adalah : saya takut mati. Sungguh. Saya takut saya tidak jadi berangkat ke tanah suci karena ajal telah lebih dulu datang memanggil. Saya jadi lebih hati-hati bersikap. Saya berdoa kepada Allah agar diizinkan menginjakkan kaki di tanah suci. Saya menghibur diri bahwa –seandainya- saya benar-benar lebih dulu meninggal dunia sebelum berangkat, semoga niat saya telah tercatat dan saya termasuk husnul khotimah.

Ketakutan akan hal ini pulalah yang membuat saya ingin segera membereskan semua hal penting sebelum keberangkatan. Saya tidak ingin pergi ke Tanah Haram sambil memikirkan pekerjaan atau hal lain. Janji adalah hutang yang harus dibayar dengan segera. Maka minggu-minggu terakhir benar-benar saya pergunakan untuk menyelesaikan semuanya. Saya memenuhi jadwal mengisi beberapa training di kantor dan di luar kota, serta mengatur ulang jadwal mengisi training berikutnya. Saya meminta seorang rekan untuk bertukar jadwal sampai saya kembali dari tanah suci. Saya membayar tagihan-tagihan bulanan seperti premi asuransi, pulsa bulanan sampai gaji sekretaris untuk bulan depan. Saya membereskan beberapa hal dengan para klien, dan meminta kerelaan mereka untuk menyelesaikan hal-hal yang tidak mendesak setelah saya pulang. Saya juga memberikan beberapa nomer telepon yang bisa dihubungi seandainya ada hal mendesak sementara saya belum kembali.

Saya tidak memberitahukan rencana keberangkatan saya ke banyak orang. Saya hanya

berpamitan dengan saudara-saudara dan teman dekat tapi saya memberitahukannya ke seluruh klien. Saya baru berpamitan dengan tetangga terdekat, malam sebelum keberangkatan serta pagi harinya saat akan keluar rumah menuju bandara.

Saya mendapat tiga buah tas dari pihak travel. Sebuah tas pinggang, tas tenteng kecil serta sebuah koper standar untuk ukuran bepergian beberapa hari. Saya juga menerima satu stel perlengkapan umroh, mukena, ID serta buku panduan. Saat membuka-buka lemari, saya tidak tahu harus membawa baju yang mana. Bukan karena banyak pilihan, karena sejak kuliah dulu, saya lebih rela tidak makan daripada tidak membeli bisa buku. Pakaian saya lebih banyak didominasi pakaian kerja yang jumlahnya pun tak seberapa. Blazer, jas, kemeja dan sejenisnya. Selebihnya adalah kaos lengan pendek dan celana panjang untuk santai di rumah. Saya tidak punya banyak pilihan. Saya mulai menulis daftar isi koper dan barang bawaan serta menandai yang sudah ada sebelum kemudian mengepaknya. Ini adalah kebiasaan saya untuk menghindari benda-benda penting yang tercecer. Bagaimana pun, saya penulis. Dan di mana pun, saya rasa para penulis selalu punya pedoman : “Lebih baik sebuah pena yang tumpul dari pada ingatan yang tajam.”

Ketakutan saya pada kematian sepertinya terbawa dalam tidur. Dua atau tiga hari sebelum keberangkatan, saya bangun pagi dan termenung di tempat tidur. Masih berbaring, saya mengingat mimpi semalam bahwa gigi saya tanggal. Ada mitos yang menyatakan katanya itu pertanda akan ada yang meninggal. Tapi tentu saja saya tidak mau percaya. Saya takut terjebak pada syirik karena mempercayai mimpi yang tak berdasar. Tapi sejujurnya saya sempat berpikir, bagaimana jika saya benar-benar tidak jadi ke tanah suci? Perasaan saya mendadak langsung tidak enak. Saya meraih HP, membuka isi pesan yang baru masuk, dan agak shock, karena isinya berita duka bahwa seorang teman lama saya meninggal dunia.

(2)

hubungannya dengan mimpi saya sama sekali. Ini ujian keimanan. Rasul pernah kehilangan ibrahim, putra beliau yang masih kecil, dan saat tiba-tiba ada gerhana, orang-orang menyangka itu ada kaitannya dengan berpulangnya Ibrahim. Tapi Rasul jelas-jelas menegaskan bahwa kematian seseorang tidak ada kaitannya dengan fenomena alam tertentu. Saya beristigfar dan segera menyiapkan diri untuk bertakziah.

Malam sebelum berangkat, atas saran seorang sahabat, saya menunaikan salat taubat. Saya berdoa semoga umur saya sampai dan saya diizinkan ke tanah suci. Saya juga berdoa memohon kelancaran dalam ibadah, dilindungi dan memohon ampun atas semua dosa-dosa yang telah saya lakukan.

Proposal Hidup

Saya telah menyiapkan proposal hidup saya berbulan-bulan sebelum hari H keberangkatan. Ini adalah bukti keseriusan hidup saya. Maksud saya, jika saya seorang CEO perusahaan besar dan ada seorang anak muda yang mengajukan permohonan dana 100 milyar, saya perlu tahu siapa, untuk apa dan bagaimana orang tersebut akan mengelola uang saya. Jika sebuah event seminar sehari saja butuh proposal kegiatan dan persiapan berminggu-minggu atau berbulan-bulan, apalagi keseluruhan hidup saya dengan aset berupa waktu yang menjadi amanah. Hidup saya terlalu berharga untuk dianggap sebagai main-main dan diurus seadanya. Maka, proposal hidup adalah grand design hidup sayahingga akhir nanti. Ingin jadi apa, dan kenapa saya ‘berhak’ menginginkannya. Apa keuntungan yang bisa saya berikan pada orang lain jika hal itu tercapai. Proposal hidup adalah rancangan doa-doa yang rencananya akan saya panjatkan nanti di

Multazam.

Proposal hidup saya sebenarnya belum benar-benar selesai. Saya sengaja menuliskannya dengan tulisan tangan agar emosi saya juga turut bermain. All out. Saya tuliskan semuanya dalam buku folio yang menyatu dengan dream book saya sebelumnya. Saya kesulitan menuliskan empat puluh hal yang saya inginkan dalam hidup berbulan-bulan lalu. Lalu di tahap selanjutnya, saya kesulitan meningkatkan doa saya menjadi 101 permohonan. Tapi dua hari sebelum berangkat, setelah menuliskan bagian pembukaan berupa surat kecil kepada Tuhan, saya berhasil

menyelesaikan 129 doa dalam waktu sekitar empat jam. Memang proposal ini tetap perlu

direvisi, karena nyatanya, doa-doa yang saya tuliskan kebanyakan adalah doa-doa untuk keluarga besar saya sehingga bisa dibilang isinya bukan lagi proposal hidup secara pribadi. Itu pun, masih ditambah dengan tiga puluhan doa tambahan keesokan harinya, berupa ‘titipan’ doa teman-teman dan kerabat. Proposal hidup saya terhenti sampai di situ, belum direvisi, belum diberi ilustrasi dan diberikan kata penutup.

Saya ingat seorang ustadz pernah berkata : “Minta banyak ke Allah, minta sedikit pun ke Allah. Jadi, minta banyak saja sekalian. Tapi jangan lupa, minta juga agar semua yang kita miliki bermanfaat dan berkah.“ Saya ingat seorang sahabat Nabi yang berdoa, agar Allah meletakkan seluruh dunia di tangannya, dan bukan di hatinya.

(3)

pikir…, mengapa tidak? Bukannya saya tidak bersyukur, tapi saya pikir, akan lebih indah rasanya bersyukur di atas ranch milik pribadi sambil selonjoran di atas rumah pohon menikmati pemandangan dari pada di atas rumah kontrakan sempit dan pengap. Toh, Rasul pernah bersabda bahwa sebaik-baik harta adalah harta yang ada di tangan seorang mukmin.

Semoga saya bisa seperti itu. Hari -H

This is it! Inilah saatnya.

Ahad, 31 Juli 2011 pukul delapan pagi saat aku tiba di terminal 2, pintu D2 Bandara Soekarno Hatta. Pesawat kami dijadwalkan take off pukul dua siang, tapi kami diminta sudah ada di bandara pukul sembilan pagi untuk pengaturan bagasi, check in, pengaturan mahram, dll. Jumlah rombongan kami hampir mencapai 100 orang, dan hanya beberapa orang saja yang berusia di bawah 30 tahun termasuk diri saya. Saya mendapatkan diri saya di tengah para orang tua yang kebanyakan sudah berkali-kali ke tanah suci.

Bandara penuh dengan beragam manusia. Seorang wanita cantik berambut pirang menyandang ransel besar bersama pria asing lainnya. Dari postur dan barang bawaan mereka saya menduga mereka para backpacker yang sedang berencana liburan. Saya menemukan sedikit kesamaan. Dibandingkan seluruh anggota rombongan, saya mungkin termasuk salah kostum. Sementara yang lain mengenakan batik halus buatan tangan yang mengkilap, kemeja, dan para ibu di sekeliling saya mengenakan jubah putih serupa seragam ibu-ibu majlis taklim, saya sendiri hanya mengenakan rok, kaos panjang, jilbab kaos lebar dengan ransel di punggung. Untungnya saya masih cukup sopan untuk tidak mengenakan sandal jepit walaupun sebenarnya sempat

terpikirkan juga oleh saya ketika akan berangkat tadi pagi, hehehe.

Bukan apa-apa, kami akan menghabiskan sekitar sembilan jam berada di atas pesawat dan akan tiba di Jeddah pukul sepuluh malam waktu setempat atau pukul dua pagi waktu Indonesia barat. Jadi menurut sebagian sisi otak saya yang biasa berpikir praktis, buat apa berpakaian sangat bagus kalau hanya untuk numpang tidur di pesawat?

Saya berkenalan dengan beberapa orang, tapi lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dan melewatkannya dengan agenda pribadi saya. Teringat pesan teman dan ibu saya untuk

mendahulukan para orang tua, saya menuntun seorang wanita yang paling sepuh berusia 87 tahun yang saya pikir paling membutuhkan bantuan.

Saya cukup sering bepergian dan kebiasaan backpacker saya rupanya sudah cukup mendarah daging. Sementara yang lain membawa perbekalan lengkap nasi dan lauk pauk untuk sarapan dan saat menunggu keberangkatan, saya hanya membawa beberapa potong makanan kecil berupa kue, coklat serta permen. Pesawat terlambat dua jam dan saya tidak tertarik untuk mengambil roti yang disediakan maskapai penerbangan. Kami sudah berada di ruang tunggu dan saya tidak tahu dimana bisa membeli nasi dan lauk. Jadi sampai pukul empat sore, saya menghabiskan dua batang coklat terakhir saya sebagai menu makan siang, sedikit menyesal dan mengakui

kebenaran orang-orang mau merepotkan diri menyiapkan perbekalan memadai.

Untungnya dalam pesawat makanan cukup berlimpah. Tak lama kami naik, dihidangkan sari jeruk dalam kemasan kecil. Selang beberapa waktu, dihidangkan snack berupa cake, pudding, dan kue. Teh, kopi susu, jus jeruk, sari buah apel serta minuman bersoda pilihan minuman yang ditawarkan pramugari.

(4)

disajikan pukul sebelas malam mengikuti waktu makan malam di kota tujuan. Meskipun seharian mengharapkan nasi, sejak makan malam pertama saya sudah merasa cukup dan tidak lagi

berselera untuk makan. Snack pertamaku pun masih tersisa. Saya pernah dengar dalam sebuah penerbangan jarak jauh, salah satu alasan kita sering dibangunkan hanya untuk makan katanya untuk mencegah jet lag. Saya tidak tahu apakah info itu valid atau hanya isapan jempol belaka. Saya mengobrol dengan kawan duduk di kanan dan kiri saya, sebelum kami kehabisan bahan pembicaraan dan bersiap untuk tidur.

Pesawat ini lebih besar dari pada pesawat yang biasa saya naiki untuk penerbangan lokal. Dua baris di sisi kiri, empat baris di tengah dan dua baris lagi di sisi kanan. Saya kehilangan kesenangan saya karena berada di barisan tengah sehingga tidak bisa melihat ke jendela saat pesawat take off. Peragaan keselamatan dalam pesawat yang biasanya diperagakan pramugari sekarang sudah terekam dalam sebuah layar berbentuk televisi yang otomatis masuk ke dalam kabin sesaat sebelum pesawat tinggal landas. Monitor ini juga menampilkan peta dunia yang menunjukkan posisi pesawat, kecepatannya, suhu udara, waktu tempuh menuju kota tujuan, serta waktu setempat dibandingkan waktu tempat asal pemberangkatan.

Kami berada di atas wilayah Srilanka saat saya memperhatikan kembali layar monitor di depan kami. Suhu di luar menunjukkan sekitar minus 35 derajat celcius, kecepatan pesawat 920 km/jam, dan kami masih berada beberapa jam dari tempat tujuan.

Saya mendapatkan penemuan baru dalam hal tidur. Biasanya, para penumpang akan mengatur sandaran kursi ke belakang untuk tidur, dan itu membuat leher sakit. Lagipula, cara itu terlalu ‘konvensional’, jadi saya duduk bersila, membiarkan meja lipat di depan saya tetap terbuka, menaruh ransel saya ke atasnya seperti menaruh menu makanan, memakai jaket dan selimut kemudian melipat tangan ke atas ransel dan mencoba tidur. Gaya saya persis anak sekolahan yang tidur di kelas pada jam-jam pelajaran terakhir. Cara ini juga beresiko membuat pegal leher sehingga saya harus berubah posisi beberapa kali, tapi sebagai variasi, cara ini lumayan juga. lagipula, ini penemuan baru. Saya harus menghargainya. *Apaan sih?

Saya tidak bisa tidur satu jam sebelum mendarat. Arloji di tangan saya masih belum diubah dan layar monitor juga menunjukkan informasi yang sama. Waktu di Indonesia bagian barat adalah empat jam lebih awal dibanding Saudi. Saat ini, pukul satu dinihari waktu Jakarta atau pukul sembilan malam waktu Jeddah. Saya terpikir tentang keluarga saya. Malam ini seharusnya malam pertama ramadhan, malam tarawih pertama di masjid yang biasanya tidak akan saya lewatkan. Saat kuliah dulu, entah kenapa acara pulang munggahan menjadi penting artinya. Saya sudah membahas hal itu tadi pada teman duduk saya. Pengalaman masa kecil ‘mengetek’ tempat dengan menggelar sajadah di masjid sejak magrib, dan keharusan mencatat ceramah dan

meminta tanda tangan pengurus masjid untuk tugas sekolah.

Tapi saat ini, saya berada puluhan ribu kaki di atas tanah, melewatkan ‘seremoni’ tarawih pertama yang pesertanya biasanya membludak sampai ke halaman masjid. Saya sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat di mana selama ini wajah saya menghadap saat sujud. Mengalami semua hal ini, tidak bisa tidak, membuat air mata saya mengalir tanpa bisa saya cegah. Saya menganggap diri saya amat beruntung.

(5)

Hari pertama di Madinah

Dari tempat pendaratan, kami dibawa dengan bus menuju ruang tunggu bandara. Bandara King Abdul Aziz berupa bangunan-bangunan putih dengan atap yang seperti kanopi berderet. Saya memandangi bangunannya, lampu-lampu tinggi yang menerangi bandara dari balik jendela besar di pintu bus. Kami melewati sebuah ruangan di mana saya melihat para laki-laki di sana sudah berpakaian ihram. Saya semakin merasakan keberadaan saya di tempat asing.

Tadinya saya pikir, bandara akan ramai dengan orang, tapi ternyata tidak. Pemerintah Arab Saudi membuat aturan baru untuk mengantisipasi jamaah umroh yang membludak di bulan ramadhan sehingga kami mendarat di terminal haji, bukan di terminal internasional seperti biasanya. Jadi bisa dipastikan, selain petugas bandara, semua orang yang berada di sini memang datang untuk melakukan umroh. Itulah sebabnya sejak tadi yang saya lihat hanya orang-orang yang berpakaian ihram. Makin lama semakin penuh.

Untuk wanita yang bepergian sendiri dan berusia di bawah empat puluh lima tahun, wajib didampingi mahramnya. Pihak travel telah menitipkan saya pada seorang bapak sebagai mahram hanya untuk melewati proses imigrasi. Setelah selesai, kami menunggu di sudut sementara petugas dari travel mengurus bagasi dan koper. Rombongan demi rombongan orang datang dan mulai memenuhi bandara. Seorang pria yang saya duga muthawif dari Negara Turki berteriak-teriak mengkoordinir jamaahnya. Saya duduk di troli, menyaksikan semua itu dengan takjub. Tua muda, bahkan anak-anak, dari berbagai bangsa dan bahasa, bercampur baur dalam pakaian ihram. Ukhuwah islamiyah, esensi yang menyatakan bahwa kami sama.

Ternyata di dalam bandara, ada juga yang berdagang. Dan para pedagang, banyak yang bisa berbahasa Indonesia dengan cukup lancar. Kenyataan itu baru saya ketahui saat seseorang mendekati rombongan kami dan menawarkan voucher pulsa dengan nomer Saudi, sehingga kami tidak dikenakan tarif international roaming jika harus menelepon lokal. Saya pribadi tidak bermaksud mengganti nomer. Bukan apa-apa. Mengganti SIM Card berarti harus merestart ulang ponselku. Saya termasuk gaptek dan toh, saya hanya mengambil program 11 hari. Saya tidak mau ketika kembali ke Indonesia tiba-tiba saya tidak bisa menerima e-mail atau messenger karena setting ponsel saya berubah. Tapi memang, tarif SMS pun tetap terhitung mahal jika masih menggunakan nomer Indonesia. Sekitar lima sampai delapan ribu rupiah untuk satu kali SMS standar, bahkan ada yang mengatakan sepuluh ribu rupiah tergantung masing-masing operator. Untuk saya yang biasa menerima 150 SMS gratis setiap bulan karena pemakaian pulsa di atas rata-rata, tarif ini tentu mengejutkan.

Tenda-tenda besar terpasang di luar bandara. Kami keluar dari ruang tunggu dan udara panas bercampur dengan suara blower menggaung menemani kami naik menuju bus yang akan membawa kami ke hotel.

Bus-bus di Saudi tidak sebagus bus-bus AC eksekutif di Indonesia. Meskipun keluaran

Mercedes, dari luar, bus ini tampak seperti bus zaman perang dengan dua pintu masuk di depan dan tengah, serta sedikit pembatas yang sepertinya dimaksudkan untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Tapi di dalamnya cukup nyaman, meskipun tanpa toilet, tapi AC-nya cukup dingin dan ada speaker yang diatur oleh supir untuk berbicara mutawif atau ketua rombongan. Setir di bus ini berada di sebelah kiri dengan tangga untuk naik ke dalam bus yang lebih tinggi daripada tangga bus PPD.

(6)

besar.

Rata-rata, kami semua sudah lelah akibat perjalanan. Pemandangan gelap di luar sehingga tidur adalah pilihan yang paling masuk akal. Saya tidak terbiasa makan sahur, apalagi dalam porsi sangat besar seperti ini. Potongan ayamnya rasanya cukup untuk dua atau tiga orang. Saya ingin mencukupkan diri mengambil berkah sahur hanya dengan minum air, tapi berhubung saya tidak tahu medan seperti apa yang akan saya hadapi nanti, saya memaksakan diri membuka tutup aluminium foil dan menyuap makanan selagi masih hangat. Meskipun saya meminta bantuan yang lain untuk mengambil makanan saya sebelum sempat saya sentuh, tetap saja, porsinya terlalu banyak. Jadi saya hanya memakan beberapa suap, berjuang memasukkan potongan ayam ke dalam mulut, dan meniatkan sisanya untuk disedekahkan kepada para semut yang entah bisa hidup di tempat ini atau tidak.

Kami salat subuh di sebuah masjid di pinggir jalan yang terpencil dari sekitarnya. Mungkin karena letaknya yang kurang strategis dan hanya sekedar dijadikan persinggahan orang dalam perjalanan jauh, sehingga kurang terawat. Masjidnya lumayan rapi tapi toiletnya kotor dan bau. Saya baru tahu bahwa di luar negeri ada juga fasilitas umum yang seperti ini.

Kami tiba di Madinah saat hari mulai terang. Walaupun waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, tidak tampak kesibukan berarti yang tampak di jalan. Toko-toko tutup, suasana lenggang tanpa pejalan kaki. Kendaraan hanya satu atau dua yang lewat. Pemandu kami memberi info bahwa kami akan segera melewati masjid Nabawi. Masjid kebanggaan penduduk Madinah yang dinyatakan sebagai masjid paling indah di dunia. Di dalam masjid tersebut, ditandai dengan kubah hijau, terdapat makam Rasulullah SAW beserta dua sahabat beliau, Abu Bakar ash-shidiq RA dan Al-Faruq, Umar bin Khattab RA.

Di dalam kompleks masjid terdapat kuburan Baqi, tempat dimakamkannya para istri Rasul, sahabat-sahabat beliau termasuk orang-orang yang wafat ketika melaksanakan ibadah haji/umroh.

Hotel tempat kami menginap hanya berjarak sekitar seratus meter dari masjid Nabawi. Terletak di pinggir jalan yang strategis di arah selatan masjid. Di depannya terdapat lapangan kecil di mana puluhan burung dara yang jinak sedang sibuk mencari makan. Sebentar mereka terbang ke jalan, lalu ke atap dan jendela gedung, lalu kembali ke lapangan di depan saya. Saya naik sedikit ke pagar pembatas yang tidak begitu tinggi, terpesona saat melihat kawanan burung itu terbang ke sana ke mari. Beberapa anak kecil mengejarnya, sebagian lagi melemparkan makanan, tapi sebagian besar hanya menontonnya seperti saya.

Ini Tanah Haram, burung-burung itu akan dengan tenang mencari makan karena dilarang untuk dibunuh. Konon, burung-burung dara di Mekah dan Madinah adalah keturunan burung dara yang turut berjasa dalam perjalanan hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah. Saat Rasulullah dan Abu bakar bersembunyi dalam gua, Allah memberikan pertolongan-Nya dengan membuat pohon rimbun dengan akar-akarnya yang kuat tumbuh di mulut gua, seekor burung dara mengerami telurnya dalam sarang dan seekor laba-laba membuat sarang di mulut gua. Orang-orang quraisy yang mengejar Nabi tidak memeriksa gua Tsur karena mereka beranggapan, tidak mungkin Nabi berada di sana karena akar-akar pohon yang menutupi mulut gua sehingga tidak memungkinkan seseorang untuk masuk, burung dara yang sedang mengeram pasti akan pergi dan sarang laba-laba di mulut gua pasti akan hancur. Burung-burung dara di Tanah Haram diyakini sebagai keturunan burung dara di mulut gua tadi.

(7)

Berada di sebuah tempat asing jelas membutuhkan penyesuaian tersendiri. Bagi orang yang pernah belajar beberapa bahasa asing seperti saya, kata-kata di dalam otak selalu lebih cepat daripada yang terucap di mulut, tapi seringkali dalam berbagai bahasa campuran sekaligus. Bahasa Arab saya menghilang entah ke mana. Saya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dan pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada petugas hotel adalah : “Where is the nearest toilet?”

Dalam beberapa kesempatan berikutnya, saya hampir kelepasan bicara dalam bahasa Jepang. Para penduduk di sini rata-rata bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Jika sedang tawar menawar dengan pedagang, saya hanya mengikuti kebanyakan orang lain dengan berpatokan pada dua kata saja : halal dan haram. Halal untuk menunjukkan persetujuan harga atau ‘ya’, dan haram sebaliknya. Jadi setelah bertanya “How much it cost?” atau “berapa?” dalam bahasa Indonesia, saya akan melanjutkan dengan tawaran seperti : “Twenty riyal for one dozen, halal?” Saya beruntung selalu mendapat teman sekamar yang baik dan lebih berpengalaman dibanding diri saya. Baik ketika di Madinah, Mekah maupun Jeddah, teman-teman sekamar saya

kebanyakan sudah berkali-kali ke tanah suci sehingga saya bisa mendapat banyak pelajaran serta pengalaman. Secara karakter pun, meski usia kami terpaut jauh, tapi selalu ‘nyambung’ dan bisa saling menggingatkan. Tiga belas hari perjalanan umroh dan tiba-tiba saya punya banyak ibu, nenek, dan saudara sepupu.

Setelah pembagian kamar dan merapikan barang-barang. Saya naik ke tempat tidur. Sedikit bingung dan disorientasi waktu. Hari senin seperti ini, biasanya saya sedang meeting di kantor, jadwal saya untuk sepekan sudah akan fiks dan biasanya padat. Tapi sekarang, saya malah berada di kamar, kelelahan sehabis perjalanan tapi merasa aneh untuk tidur di jam-jam yang biasanya saya anggap waktu produktif.

Kami ditempatkan sekamar berempat. Empat bed besar dengan meja, kulkas, telepon, AC dan kamar mandi di dalam. Teman sekamar saya adalah bu Nur asal Jakarta, bu Suminten asal Kalsel yang biasa kupanggil bu Sum serta bu Haklimah asal Bengkulu. Bu Sum dan Bu Haklimah berangkat umroh bersama para suami masing-masing, sedang bu Nur berangkat sendiri karena suami beliau telah lama meninggal dunia.

Saya memutuskan untuk mandi sekaligus mencuci pakaian. Merasa bingung karena hotel ini tidak memiliki beranda untuk bisa menjemur. Bahkan, baru kali ini saya pergi dengan membawa hanger karena ada dalam daftar barang yang perlu dibawa dalam buku yang diberikan pihak travel.

Saya menggantung pakaian di hanger dan menjepitkannya di jendela agar udara panas membuatnya kering. Seseorang di kamar depan saya bertanya berapa nomer ekstension hotel karena ia ingin menanyakan jasa laundry. Dengan sedikit malu saya menjawab tidak tahu, dan memang, menggunakan jasa laundry hotel benar-benar tidak terpikir oleh saya saat itu.

Kebiasaan saya untuk mandiri dan pengalaman backpacker yang singkat selama ini tidak mencatat perlunya menggunakan jasa orang lain sehingga saya malah bersusah payah mencuci pakaian saya sendiri, dengan tangan pula. Sejujurnya saya merasa sedikit kampungan. Ndeso. Kampring, kalau menurut bahasa anak ‘gaul’ yang tidak jelas gaul di mana.

Saya mengikuti ajakan para ibu teman sekamar saya untuk lebih dulu ke masjid Nabawi menunggu waktu dzuhur. Udara panas menyergap begitu kami berempat keluar hotel. Saat ini musim panas dan suhu udara di Tanah Haram berkisar antara 50-60 derajat celsius pada siang hari. Ini hari pertama saya di negeri asing bertepatan dengan hari pertama di bulan ramadhan pada puncak musim panas. Benar-benar ujian yang sempurna.

(8)

bisa dibuka-tutup. Saat pertama kali saya datang, saya belum tahu banyak hal. Tapi saya pernah menonton tayangan Discovery channel dan mendapatkan info bahwa payung-payung indah dan atap masjid Nabawi didesain oleh seorang arsitek dari Jerman sedang ratusan lampu kristal berlapis emas dalam masjid dipesan khusus dari Italia.

Kami masuk melalui pintu Ali bin Abi Thalib. Saya sebenarnya ingin masuk melalui pintu Umar bin Khattab yang menjadi pahlawan favorit saya. Tapi sepertinya gerbang Abu Bakar dan Umar RA adalah gerbang untuk para laki-laki. Pintu masuk menuju masjid Nabawi terpisah sejak dari halaman. Seorang askar di pos memperingati kami karena salah mengambil arah jalan dan menunjukkan arah jalan masuk untuk wanita.

Tiap pintu gerbang berwarna kuning dan tampak megah. Mungkin terbuat dari emas, entahlah, saya tidak begitu tahu. Bagian dalam masjid berbentuk seperti terowongan besar dengan lengkungan-lengkungan berlapis berwarna abu-abu dan putih. interiornya mengingatkan saya dengan istana Al-Hambra yang pernah saya lihat gambarnya karena cukup mirip. Tiang-tiang masjidnya besar, terbuat dari marmer, dengan lampu-lampu gantung dan lampu dinding yang cahaya dan warnanya bisa disesuaikan.

Atap masjid dihiasi kaligrafi, dengan beberapa kubah yang ternyata bisa digeser sehingga langit akan terlihat. Bagian lain berbentuk ukiran berwarna abu-abu. Ada sekitar sembilan ukiran yang masing-masing coraknya berbeda. Di bawah tiang masjid diletakkan rak sepatu kecil, dan tempat menyimpan kursi lipat untuk para lansia yang salat sambil duduk. Di atasnya, terdapat rak kecil tempat menaruh quran berwarna hijau dalam berbagai ukuran. Termos-termos besar berwarna coklat berderet di banyak tempat. Karena ini bulan ramadhan, termos-termos air itu kosong. Tapi menjelang asar, termos-termos itu akan diisi dengan air zam-zam dingin yang menyegarkan. Saat masjid makin penuh, askar-askar wanita berpakaian serba hitam dan bercadar menyuruh orang-orang masuk ke dalam dan merapatkan saf. Mereka memberi komando dalam campuran bahasa yang paling mungkin adalah bahasa mayoritas para jamaah yang datang. Mengingat Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, banyak tempat di sini juga diberikan

keterangan dalam bahasa Indonesia selain dalam bahasa Arab dan Inggris. Semua jamaah di sini dipanggil dengan sebutan hajjah. Sehingga seringkali terdengar para askar menyuruh kami masuk ke dalam sambil berteriak : “Ya Hajjah, thoriq, thoriq.” Disusul dengan bahasa Indonesia dalam logat khas Arab yang terdengar asing di telinga saya. “Ibu, jalan ibu.”

Kami menunggu waktu dzuhur dengan tilawah al-quran. Mata saya terasa pedih dan berair. Efek dari tidak nyenyaknya tidur dan mungkin debu. Saya menatap langit-langit berbentuk ukiran bunga, mengamati kaligrafi, lampu-lampu, mengagumi keseluruhan ornamen masjid yang indah, seolah berusaha menyakinkan diriku sendiri bahwa saya benar-benar berada di tempat ini dan bukan sekedar mimpi.

Masjid Nabawi memiliki sistem udara yang baik. Mesin-mesin pendingin berukuran raksasa mengalirkan udara sejuk yang berlawanan dengan udara luar. Bahkan di tengah penuhnya jamaah dalam masjid, saya dan teman-teman sekamar saya bisa merasa kedinginan karena besarnya AC yang diatur untuk tempat ini.

Waktu subuh di Madinah saat saya di sana adalah pukul setengah lima, dzuhur setengah satu siang, Asar pukul empat sore, magrib pukul tujuh, dan isya pukul sembilan malam. Jarak adzan dengan iqomat adalah lima belas menit tiap waktu salat.

(9)

depan Ka’bah dan imam masjidil haram memimpin salat jenazahnya. Saya pikir bisa disalatkan di masjid Nabawi atau di masjidil Haram, disalatkan oleh ribuan orang dan dimakamkan di Baqi bersama para sahabat dan keluarga Rasul adalah salah satu cara berpulang yang indah dan bisa jadi pilihan.

Um…, tapi saya tidak menuliskannya dalam proposal hidup saya.

Kami pulang ke hotel setelah salat dzuhur dan udara panas langsung menyeruak saat kami keluar dari masjid. Suhu udara sekitar lima puluh tiga derajat Celsius, tapi ada juga yang mengatakan suhunya sekitar lima puluh enam derajat Celsius. Kulit saya rasanya kering oleh teriknya matahari. Panasnya seperti kita dimasukkan dalam tong dan ditutup rapat-rapat sehingga kita harus megap-megap untuk mencari napas. Begitu keringnya udara Madinah sehingga saat kita menelan ludah pun, sepertinya tidak ada lagi air liur yang tersisa. Tenggorokan terasa sakit oleh udara panas yang kita hirup. Dan aspal jalanan memantulkan panas yang membakar wajah dan menyakitkan mata. Bahkan walaupun jarak hotel hanya sekitar seratus meter, perjalanan ke dan dari masjid Nabawi sudah merupakan perjalanan berat. Tapi siapa yang tidak tergoda dengan pahala seribu kali salat di tempat lain di muka bumi?

Bu Nur memberikan saya masker yang sangat membantu dan saya mengenakan kaca mata gelap saat kembali ke masjid untuk salat Asar. Tetapi rupanya udara panas tetap menembus masuk dan seolah menyerap habis setiap energi saya yang tersisa. Ini adalah puasa yang paling berat yang pernah saya alami. Kelelahan, panas, dan adaptasi yang lambat. Hari-hari selanjutnya, saya akan mencelupkan masker saya dalam air, memerasnya sebelum saya pakai, dan membiarkan kaos kaki saya dipakai dalam keadaan setengah kering untuk sedikit mengurangi hawa panas. Hanya perlu satu kali perjalanan, atau mungkin satu kali bolak-balik ke masjid untuk membuat masker dan kaos kaki saya kering sempurna.

Saya masuk ke dalam area salat “woman without children” dengan keterangan dalam bahasa Arab, Inggris, Perancis, Urdu dan Melayu. Hanya saja terjemahan bahasa melayunya sepertinya salah ketik sehingga tulisan besar-besar itu berbunyi : wanita tanap anak-anak. ‘Tanap’, bukan tanpa. Toilet pun diterjemahkan sebagai WC. Padahal dalam gedung-gedung di Jakarta, istilah WC sangat jarang ditemui karena terkesan kasar, sama seperti istilah benjou dalam bahasa Jepang.

Pukul setengah tujuh malam, saya dan bu Nur menuju masjid Nabawi untuk menunggu adzan magrib. Dua teman sekamar saya yang lain sudah lebih dulu pamit ke masjid bersama suami mereka. Masjid sudah penuh sehingga kami hanya mendapat tempat di halaman. Ini memberi saya satu pengalaman baru lagi dalam perjalanan kali ini. Terpal-terpal digelar untuk tempat makanan. Para petugas membagikan makanan ta’jil berupa roti-roti besar dan tebal, susu, dan kurma. Banyak yang membagikan makanan lain seperti jus jeruk dalam kemasan, nasi biryani dalam kotak tertutup alumunium foil, yoghurt, daging, dan lain-lain. Ada yang menerima dengan tertib, tapi ada juga yang berebut menerima apa pun dan menyimpannya. Dilihat dari ukuran roti dan makanan lain yang dibagikan, sepertinya porsi makan rata-rata orang di sini memang besar. Saya sendiri hanya menerima sebuah roti bulat serupa martabak di Indonesia. Rotinya masih hangat, tadinya saya pikir kebab, tapi ternyata bukan. Bentuknya lebih pipih dari pada martabak Indonesia, tapi lebih lebar, dan ada bekas bakaran di kedua sisinya. Saat saya pulang ke

(10)

membiarkannya mubazir. Lagipula, rasanya bagi saya cukup lezat. Hangat, empuk dan gurih. Kran air zam zam sudah dibuka sejak Asar tadi dan saya ikut mengantri untuk mengisi tempat air minum saya. Saya menekan kran dan air zam zam dingin mengalir. Sebagian orang

menggunakannya untuk mencuci muka dan menyiramkan ke kepala untuk mengurangi panas. Adzan magrib berkumandang sekitar pukul tujuh malam. Air zam zam di masjid Nabawi sudah didinginkan sehingga seperti air es yang segar. Setiap hari lebih dari satu juta gelas plastik sekali pakai disediakan untuk memberi minum para jamaah di masjid Nabawi. Pada saat ramadhan seperti ini jumlahnya bisa meningkat hingga tiga kali lipatnya. Sekitar lima puluh juta liter air zam zam didistribusikan pada musim haji setiap tahun, dan sumur zam-zam tetap tidak pernah kering. Subhanallah.

Sebelumnya, saat di Indonesia, bila ada yang memberi saya air zam zam, saya meminumnya sedikit-sedikit karena rasanya agak aneh. Barangkali karena kandungan mineralnya paling tinggi dan lengkap sehingga terasa agak pahit di lidah. Tapi di sini, setelah seharian terbakar terik matahari, tenaga saya langsung terasa pulih setelah mengunyah beberapa sobekan roti dan meminum beberapa teguk zam zam. Saya baru benar-benar merasakan keberkahan zam-zam saat air dingin itu menyentuh kerongkongan saya yang kering seharian. Itu adalah air zam-zam paling menyegarkan, paling nikmat seumur hidup saya.

Lima belas menit kemudian, terpal-terpal diangkut bersama sisa-sisa makanan dan sampah. Para petugas cleaning service berseragam coklat beserta para askar membereskan sisa-sisa ta’jil dengan cepat sehingga seluruh lokasi masjid dan halaman kembali bersih dalam sekejap dan siap untuk dipakai salat kembali.

Saat pulang kembali ke hotel, seorang pemuda dengan satu dus besar kurma mempersilakan kami mengambil kurmanya. Saya dan bu Nur mengambil beberapa buah. Saya sedikit heran karena kurma ini hanya setengah matang. Setengah bagiannya manis, tapi setengah bagian lainnya lagi masih keras dan berasa pahit, mungkin lebih tepatnya sepat seperti rasa buah salak. Bu Nur menjelaskan bahwa ini adalah kurma ruthob, kurma setengah matang yang dimakan Maryam saat baru melahirkan Nabi Isa. Rupanya setiap jenis dan kematangan kurma memiliki khasiat tersendiri. Kurma mentah dipercaya mengobati ketidaksuburan kandungan dan

infertilitas, kurma ruthob mengembalikan stamina dan kurma Ajwa atau kurma Rasul mencegah racun dan sihir.

Saya melihat deretan mobil petugas kebersihan siap bertugas. Mereka menaiki semacam traktor kecil yang berfungsi menyapu dan mengepel halaman masjid sekaligus. Seperti alat kebersihan yang biasa dipakai di gedung-gedung di Jakarta, hanya saja, ini lebih besar dan dijalankan dengan mobil. Truk-truk sampah mengangkut sisa-sisa makanan dalam terpal dan langsung mengolahnya. Kerja mereka begitu cepat dan efisien. Di dalam masjid juga ada alat pel manual, tapi alat pemerasnya serupa mesin staples besar yang memeras air zam-zam yang tumpah agar tidak licin. Ini menjawab pertanyaan saya bagaimana membersihkan masjid besar ini setiap hari. Episode buka puasa dan sahur

Buka puasa di hotel biasanya menyajikan aneka makanan dalam bentuk buffee. Makanan Indonesia yang dimasak orang Arab biasanya rasanya tidak jelas. Bukan taste Arab dan juga bukan cita rasa Indonesia. Nanggung, menurut istilah teman saya. Saya rasa itu sebabnya travel ini mempekerjakan orang Indonesia asli sebagai kokinya. Baik saat di Mekah maupun di Madinah, sesuai cabang terdekat travel ini.

(11)

semacam pir, jeruk sunkist, apel atau pisang import yang besar. Itu belum ditambah dengan ta’jil berupa kurma, es campur atau kolak, teh, kopi, susu, serta jus jeruk dingin yang segar. Kadang-kadang ada juga makanan khas Arab sebagai perkenalan seperti nasi biryani, semacam nasi kebuli yang bentuk nasinya lebih panjang dan berbumbu serta sambosa, gorengan semacam risol berbentuk segitiga yang berisi daging dan sayuran.

Bisa dibilang, makanan berlimpah sehingga saya tidak pernah merasa khawatir walaupun hanya berbuka dengan segelas air zam zam di masjid. Roti-roti besar dan yoghurt biasanya saya berikan pada orang lain atau saya tolak saat askar membagikan makanan tersebut menjelang berbuka puasa. Saya hanya menerima makanan yang memang akan saya makan agar tidak mubazir. Beberapa butir kurma, segelas kecil qahwa, kopi khas Arab yang rasanya aneh karena merupakan racikan berbagai rempah, atau air mineral dalam kemasan.

Saya pecinta buah dan biasanya tidak suka sayuran. Tapi makanan catering ini memang lezat sehingga saya bahkan jadi menyukai beberapa sayur di antaranya.

Sama seperti di Indonesia, favorit saya sendiri adalah sea food, cumi atau udang besar kemerahan dengan saus padang serta dua potong daging kecil goreng yang gurih. “Ini apa?” tanyaku.

“Itu daging burung.”

“Ini bukan burung dara yang banyak di halaman itu kan?” saya memastikan. Urung mengambil makanan sebelum benar-benar yakin santapan saya kali ini bukan burung-burung dara di jalanan yang menjadi korban.

Petugas catering itu tertawa. “Itu burung puyuh.”

“Oooo….h,” saya terperangah. Pantas saja dagingnya begitu kecil. Tapi baki ini penuh. Jika setiap orang mengambil dua potong seperti saya, dan kami nyaris seratus orang, entah berapa ekor burung puyuh yang dibutuhkan untuk mengisi baki ini sampai penuh. Inilah akibatnya jika kita terbiasa membaca dan menulis novel detektif. Dengan lebay-nya saya membayangkan pembantaian besar-besaran burung puyuh mungil bermata sayu yang seketika bergelimpangan. Namun bayangan itu segera hilang saat saya mencicipi rasanya. Rasanya begitu lezat dan gurih, bahkan lebih gurih daripada burung dara. Enuaa…k.

Tiba-tiba saja saya menyesal tidak mengambil tiga potong. Nabawi malam hari.

Di langit Madinah tidak ada bintang sama sekali. Mungkin karena ‘bintangnya’ sudah ada di sini. Nabawi berwarna kehijauan di malam hari, dengan payung-payung yang terkembang.

Keseluruhan masjid tampak dilingkupi cahaya kehijauan yang sangat indah.

Salat tarawih di masjid Nabawi dimulai sekitar pukul setengah sepuluh malam dan berakhir sekitar tengah malam. Setiap hari, imam akan menghabiskan satu juz dalam dua puluh tiga rakaat tarawih dan witir sehingga tiap rakaat tarawih tidak sepanjang yang saya perkirakan sebelumnya. Meski begitu, saya hanya mengikuti tarawih sampai delapan rakaat dan melanjutkan tilawah dan witir sendirian di masjid atau di hotel. Saat saya di Madinah, imam masih membacakan juz-juz awal dalam Al-quran, surat Al-Baqarah yang banyak menceritakan tentang baitullah,

pemindahan kiblat, dan hal-hal yang sangat pas dengan keberadaan saya di tempat ini. Suara imamnya terdengar familiar, tapi kali ini saya tidak mendengarnya dari kaset murattal, saya mendengarnya secara live. Ini salah satu pengalaman yang menakjubkan.

(12)

kali saya perhatikan, anak-anak kecil yang berdagang di dekat lokasi masjid. Quran, tasbih dan segala pernak pernik. Sepertinya mereka berdagang bersama orang tuanya atau bergantian, karena ada kalanya mereka beristirahat dan bermain sepeda, tersenyum ramah pada saya sambil berucap : ”Hello.”

Saat ini pukul sebelas malam atau pukul dua pagi waktu Jakarta. Berbeda dengan pagi dan siang hari, lokasi sekitar masjid Nabawi pada malam hari justru ramai. Para pedagang digiring oleh petugas polisi patroli agar berdagang di area yang telah ditentukan.

Saya tertarik dengan kerumunan orang di dekat hotel yang sepertinya sedang membagikan sesuatu. Seorang membagikan gelas kertas dan seorang lagi menuangkan minuman. Bagi saya yang senang dengan berbagai pengalaman baru ala backpacker, ini adalah kesempatan mencicipi kuliner khas dari penduduk setempat. Saya ikut mengantri dan mendapatkan segelas minuman hangat berwarna pink. Saya sudah sering mencoba teh susu Arab, tapi yang ini berbeda. Saya membawanya ke hotel dan meminumnya di kamar. Rasanya agak mirip sekoteng Indonesia, ada rasa susu hangat, rempah dengan butiran serupa kacang mede yang gurih.

Saya membuka tirai dan menikmati pemandangan dari balik jendela kamar. Madinah masih ramai sampai sekitar pukul satu pagi. Di luar hanya tampak orang-orang yang pulang ke hotel dari masjid, beberapa toko yang masih buka serta proyek pembangunan yang belum selesai. Di kejauhan hanya ada bayangan bukit-bukit hitam tandus, dan lampu-lampu jalanan yang

menerangi kota. Mobil-mobil hilir mudik tanpa satu pun sepeda motor. Saya bersyukur untuk hari ini.

Tiba-tiba aku teringat syair nasyid favoritku saat masih kuliah di Bandung. Nasyid yang menyentuh sehingga sering dipakai sebagai musik latar cara muhasabah.

Tuhan, kusebut nama-Mu. Di setiap waktu… Di kala suka dan duka, Engkau Maha Besar. Tuhan, kupanggil nama-Mu. Di setiap waktu.. u.. Di kala suka dan duka, Engkau Maha Penolong

Saya menyanyikan syair nasyid itu sambil memandang ke luar jendela. Mengenang perjalanan mimpi saya hingga bisa sampai ke tempat ini. Menyadari berbagai pertolongan Allah yang membuat lidah saya kelu.

Saya menghentikan syair saya dan terisak. Lagi-lagi saya menangis.

Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-rahmaan : 13)

Episode Raudhoh

Hari kedua, selasa, 2 Juli 2011.

Saya mendapat cerita dari seorang teman yang melihat sendiri seseorang di masjid mengambil gambar dengan HP-nya di dalam masjid. Kami sama-sama berkesimpulan bahwa membawa HP dan memotret sepanjang tidak mengganggu orang lain dapat dibenarkan. Namun ternyata, itu hanya kebetulan saja, barangkali orang yang dilihat temanku bisa lolos karena kamera HP-nya tidak kentara?

Nyatanya, saat subuh itu saya ke masjid, dua orang askar bercadar menjaga pintu masuk dan menggeledah setiap tas, membolehkan ibu di depan saya membawa HP-nya yang aktif dan menyuruh saya ke tempat penitipan dan tidak boleh masuk karena membawa smartphone. Saya sampai bingung, menunjukkan batere ponsel saya yang tercabut dan berkata : “But, my

cellphone was off.” Tapi askar tersebut tetap menahan langkah saya.

(13)

terlambat salat subuh berjamaah. Sementara salat di halaman membuat saya khawatir tidak mendapat keutamaan salat di masjid Nabawi.

Seorang berseragam coklat, petugas cleaning service masjid mendekati saya. Melihat saya kebingungan, wanita Indonesia itu menarik saya ke pojok dan melindungi saya dari penglihatan para askar. “Masukkan ke kaus kaki mbak, tapi di pojok sana,” ujarnya membeli solusi. Saya menurut, memandang penuh rasa terima kasih pada kawan sebangsa yang telah menyelamatkan saya sehingga tidak terlambat salat subuh. Saya mendekati pintu masuk yang berbeda dan masuk ke dalam masjid dengan penuh syukur.

Saya benar-benar baru tahu kalau hanya HP biasa saja yang diperbolehkan untuk dibawa. Saya menduga HP biasa diperbolehkan karena dalam suasana masjid yang penuh, bisa saja kita ditelepon keluarga atau rombongan berkumpul di tempat tertentu di luar masjid, sehingga jika ada yang nyasar bisa menghubungi hotel atau travelnya. Tapi HP berkamera, wajib dititipkan, walaupun sudah dalam keadaan tidak aktif. Apalagi kamera digital. Dititipkan pun tidak diterima. Saya melihat sendiri seorang wanita disuruh kembali ke hotel untuk menaruh dulu kameranya atau salat di halaman karena membawa kamera digital ke masjid.

Saya masih berada di masjid Nabawi usai salat subuh, menyelesaikan jatah tilawah saya dan mengamati interior masjid kembali untuk kesekian kalinya. Setiap melihatnya, saya selalu diliputi kekaguman akan keindahan dan suasana masjid ini. Baik bagian dalam maupun luar masjid begitu indah. Bagian dalamnya berupa pilar-pilar berukir yang penuh dengan karya kaligrafi. Setiap tiang, setiap atap jelas dibuat secara khusus dari bahan terpilih.

Lampu-lampunya bisa diatur sedemikian rupa sehingga Nabawi bisa terlihat berubah warna. Ada enam kotak di atap yang masing-masing dipahat tersendiri. Ada kubah-kubah yang bisa dibuka untuk melihat langit. Saat pertama kali melihat kubah itu terbuka, saya sampai terperangah, terpesona oleh keindahannya. Amazing! Rasanya lebih menakjubkan daripada saat melihat animasi atap terbuka di planetarium Jakarta atau meneropong bintang di langit Boscha.

Sekitar pukul setengah tujuh pagi, saya keluar dari masjid dan kembali mendapatkan

pemandangan langka. Saat udara mulai hangat, payung-payung indah di halaman masjid Nabawi sudah waktunya dibuka. Menurut info, selain sebagai peneduh, payung-payung ini juga

mengalirkan hawa dingin. Saya sibuk jeprat jepret, mengabadikannya dalam video kamera ponsel saya saat payung putih kehijauan itu sedikit demi sedikit mulai mengembang serentak. Bagi saya, itu seperti melihat proses bunga bermekaran yang sangat langka. Indah dan

mengundang decak kagum. Oh ya, memotret halaman masjid sepanjang yang saya tahu tidak dilarang.

(14)

Pantas saja kami mendapat pemandu akhwat.

Untungnya mbak Yuni, pemandu kami yang telah lama bermukim di Madinah bersama suaminya memberikan penjelasan sebelum kami memasuki masjid. Raudhah, adalah sebuah tempat di dalam masjid Nabawi, tempat terbaik untuk melakukan ibadah sunah dan salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Dalam sebuah hadits Bukhari Rasulullah SAW bersabda : “Di antara rumahku dan mimbarku terdapat satu taman dari taman-taman surga.”

Para ulama berbeda pendapat tentang tafsir hadits ini. Ada yang berpendapat, pada hari akhir, Raudhah benar-benar akan diangkat sebagai bagian dari taman surga sedang pendapat kedua meyakini hadits ini berarti bahwa bila kita beribadah di situ akan membawa kita ke surga. Selain berdoa dan salat sunah, kami juga meniatkan untuk berziarah. Dipandu mbak Yuni, kami menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW lalu berturut-turut kepada Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA di halaman masjid Nabawi. Kami mengucapkan salam dengan lirih agar tidak mengganggu orang lain. Saya benar-benar merasa tidak enak karena gaya backpacker yang menurut saya tidak sopan untuk mengunjungi (makam) Nabi. Seandainya saya tahu raudhah ada di dalam masjid dekat makam Rasul, saya pakai saja baju ihram saya. Toh saya punya dua stel dan masih baru. Saya juga akan memilih tas yang lebih feminin daripada ransel satu-satunya ini. Kami sudah berwudhu di hotel. Karena Raudhah berada di dalam masjid, kami harus dalam keadaan suci dan tidak diperkenankan membawa kamera. Raudhah hanya dibuka pada jam-jam tertentu. Pada ramadhan ini, pintu raudhah dibuka bakda subuh sekitar pukul enam sampai pukul delapan, pukul delapan sampai pukul sepuluh, bakda dzuhur sampai menjelang asar sekitar pukul dua siang sampai pukul setengah empat serta bakda tarawih, sekitar pukul sebelas malam sampai pukul satu pagi.

Raudhah ditandai dengan karpet hijau yang berbeda dengan karpet masjid Nabawi yang berwarna merah. Kami mengikuti mbak Yuni, saling berpegangan tangan agar tidak terpencar dan berusaha setertib mungkin. Mbak Yuni tampaknya kenal baik dengan para askar di masjid karena beliau sempat saling tegur sapa dengan akrab. Beliau juga membantu para askar

menertibkan jamaah lain dengan mengambil alih serombongan jamaah asal Malaysia tanpa muthawif yang tampak kebingungan dan kocar-kacir. Kami lebih dulu menunaikan salat tahiyatul masjid dan salat dhuha, kemudian menunggu giliran dengan memperbanyak dzikir, tilawah dan doa.

Sekitar setengah jam kemudian, kami diminta berdiri dan berjalan ke koridor tertentu. Saya pikir semuanya sudah selesai. Tapi ternyata tidak. Kami hanya berpindah tempat beberapa puluh meter, untuk kemudian duduk lagi dan menunggu, begitu berulang-ulang. Semakin dekat ke Raudhah, jantung saya berdebar semakin keras. Berbagai perasaan berkecamuk seiring langkah kami mendekati raudhah. Sampai di tempat penantian terakhir, raudhah sudah berada di depan mata. Area ini merupakan area terbuka. Saya baru menyadari sekarang kalau kemungkinan itu karena atap berkubah yang sudah dibuka tadi pagi. Saya menengadah, menatap burung-burung yang beterbangan dan langit yang biru. What a wonderful world.

Di depan Raudhah, terdapat peringatan dalam beberapa bahasa, Arab, Inggris, Perancis, Melayu dan dua bahasa lain yang tidak kutahu, mungkin Turki atau Urdu. Bunyi peringatan itu kurang lebih seperti ini : “Saudara-saudari muslimah, harap tidak memaksakan diri jika keadaan penuh. Mohon tidak berdesak-desakan dan menyakiti saudara-saudari yang lain. Insya Allah, akan ada kesempatan lain, untuk anda berdoa dan salat di Raudhah”

(15)

lain yang bertubuh lebih besar saya pikir cukup berbahaya. Apalagi, ada orang-orang sepuh, bahkan ada yang di atas kursi roda.

Saya menahan keharuan yang sangat. Di depan saya, terdapat raudhah –taman surga-. Di sebelah kirinya, terdapat rumah Rasulullah. Di dalam rumah tersebut, terdapat kamar Aisyah RA, dan di kamar itulah, terdapat makam Rasulullah beserta para sahabat beliau, Abu Bakar dan Umar RA, tertutup dalam pagar hijau berlapis emas. Mendadak lagu “Rindu Rasul’ yang pernah dibawakan penuh penghayatan oleh Kang Irfan saat beliau masih menjadi ketua FLP dulu bergulir dalam layar ingatan saya. Lagu yang dibawakan diiringi harmonika bernada syahdu itu membuat kami yang mendengarnya menangis, dan kini, puncak kerinduan itu, berlabuh di sini, di depan makam Rasul di antara taman surga. Saya nyaris tidak percaya bisa berada di sini.

Akhirnya, setelah menunggu sekitar dua jam, kami mendapat giliran untuk masuk ke Raudhah. Saya memperhatikan tiang-tiang di depanku dan atap masjid yang berbeda warna dan coraknya. Jika atap masjid Nabawi dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat Allah, di raudhah, kaligrafinya membentuk seperti tumbuh-tumbuhan, dan warnanya lebih mencolok, merah, hijau, biru, ungu, dan emas. Mirip hiasan tepi Al-quran di lembar Al-fatihah. Lima tiang yang berbeda corak inilah yang membedakan area Raudhah dari tempat penantian tadi.

“Mbak, ini masjid Nabawi yang asli ya?” tanya saya pada mbak Yuni. Beliau mengangguk mengiyakan.

Seorang jamaah menyikut lengan saya. “Memang ada Nabawi yang tidak asli?” tanyanya heran. “Bukan begitu. Saat pertama dibangun dulu, Masjid Nabawi ini kecil. Hanya sampai di sini, dan itu mimbar Rasulullah. Tapi kemudian masjid ini diperluas hingga seperti sekarang,” saya menjelaskan.

Kami maju lagi, dan ketika saya menunduk, saya baru menyadari bahwa saya sudah berada di atas karpet hijau yang menandakan area raudhah. Duh, Ya Allah, inilah taman itu. Inilah bagian dari surga itu. Di akhirat nanti, bagaimanakah rasanya berjalan-jalan di taman-Mu? Saya

memandang makam Rasul dan kedua sahabat beliau. Saya benar-benar kehilangan kata-kata, hampir-hampir shock saya rasa. Speechless. Dada saya bergolak. Rabb…, ini taman surga-Mu. Duh, Rindu kami padamu Ya Rasul…

Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan saya saat berada di Raudhah. Semakin dekat, debaran jantung saya juga semakin keras. Pandangan saya tidak lepas dari makam

Rasulullah dan kedua sahabat beliau. Sekali lagi, lagu ‘Rindu Rasul-nya’ Bimbo bermain dalam benak. Untuk sesaat, jarak belasan abad itu terasa begitu singkat. Semua kisah perjalanan beliau dan para sahabat yang pernah saya baca, tokoh utama dalam sejarah yang mengubah dunia, ada di sini. Perasaan saya meluap-meluap oleh kegembiraan dan keharuan sekaligus.

Mbak Yuni dengan tegas membagi giliran salat sunah dua rakaat. Yang belum salat melindungi yang salat sehingga kami bisa dengan khuyuk berdoa dan salat. Yang sudah selesai segera menyingkir dan memberi kesempatan pada yang berikutnya. Saya tidak tahu harus berdoa apa. Saya benar-benar kehilangan kesadaran penuh. Rasanya masih seperti mimpi. Bisa berkunjung ke makam Rasul yang selama ini kisahnya saya baca, bisa bersimpuh di sini. Saya kehilangan memori tentang doa apa saja yang ingin saya panjatkan. Jadi dalam waktu yang sangat singkat itu, dalam sujud, saya hanya terpikir untuk mengucapkan doa syukur nikmat, dan sebuah doa pendek, agar Allah mengabulkan proposal hidup saya.

(16)

bahwa saya ingin meminta kantong ajaibnya.

Tiba di luar raudhah, kami masih menunggu jamaah lain yang belum selesai mendapat giliran salat. Baru pada saat itulah, air mata saya mengalir deras tanpa bisa saya cegah. Saya terduduk dan melakukan sujud syukur berkali-kali. Saya lafadzkan doa syukur nikmat karena saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Saya masih tidak percaya dengan segala keberuntungan saya. Saya menapaktilasi perjuangan panjang saya untuk sampai ke sini sejak saya canangkan untuk umroh beberapa tahun lalu, dan semuanya itu, terbayar lunas, bahkan sungguh jauh di atas perkiraan. Ini adalah salah satu moment paling mendebarkan, paling nikmat tapi juga paling menguras air mata. Saya benar-benar shock sampai rasanya tidak sanggup berdiri.

Saya berulang-ulang mengucapkan terima kasih kepada Allah karena diizinkan berada di sini dan mengalami semua pengalaman hebat ini. Saya merasa Allah amat baik, teramat baik hingga rasanya hampir-hampir saya merasa tidak pantas menerima semua ini. Bagi orang yang bersusah payah menabung dan melalui liku-liku untuk sampai pada perjalanan umroh atau haji, moment ini adalah salah satu moment terbaik, terindah, yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Semua muslim harus merasakannya.

Wajib. City Tour

Rabu, 3 Juli 2011. Hari ini kami dijadwalkan city tour ke beberapa tempat. Kami terbagi dalam dua rombongan bus. Saya dan bu Nur terdaftar di bus satu, sedang bu Haklimah dan Bu

Suminten berada di bus dua. Pak Imran dan Mas Razaq menjadi pemandu kami secara

bergantian. Beliau berdua menceritakan sejarah Madinah dan tempat-tempat yang kami datangi. Ketika Nabi hijrah, daerah ini masih berupa daerah tandus dan kering bernama Yatsrib.

Penduduknya menyambut kedatangan Rasulullah dengan puji-pujian yang sekarang lebih dikenal dengan salawat ‘thola’al badru’. Meninggalkan tanah kelahiran ke sebuah tempat asing,

Rasulullah pun berdoa agar Allah menganugerahkan rasa cinta kepada kota yang baru ini dan keberkahan dua kali lipat daripada Mekah. Allah mengabulkan doa beliau. kota ini kini dikenal sebagai daerah perkebunan kurma terbaik. Rasulullah juga mengganti nama “Yatsrib” yang berarti “memaki” atau “kotor menjadi “Madinah al-munawarah” yang berarti “Kota yang bercahaya.” Bagi yang pernah melihat langsung masjid Nabawi, nama ini begitu pas, karena seolah ada aura cahaya hijau yang menaungi seluruh area masjid.

Setelah peristiwa Fathu Mekah, orang-orang Muhajirin membujuk Rasulullah SAW untuk kembali ke Mekah, tanah kelahiran yang tentu punya tempat tersendiri di hati beliau. Tidak terbayangkan bagaimana sedihnya para sahabat Anshar di Madinah membayangkan

kemungkinan itu. Mereka pun meminta Rasulullah tetap tinggal di Madinah. Antara Muhajirin dan Anshar, Mekah dan Madinah, tanah kelahiran dan tempat hijrah yang diperintahkan Allah, mana yang beliau pilih?

Orang-orang Anshar-lah yang beruntung. Mereka boleh berbangga karena Rasulullah SAW memilih tetap berada di Madinah bahkan setelah Mekah dapat dikuasai dengan damai dan mudah. Rasulullah tetap berada di Madinah sampai akhir hayat beliau. Dari Madinah-lah Islam berkembang sampai Romawi, Persia, Spanyol, Eropa dan ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Sampainya Islam ke Nusantara adalah buah dakwah panjang yang penuh perjuangan orang-orang terdahulu.

(17)

ramadhan yang setara dengan haji bersama Rasul tidak menggugurkan kewajiban berhaji. Bu Nur, teman sekamar yang menjadi kawan duduk saya menjelaskan ini adalah salah satu bentuk ke-Maha Adilan Allah yang memberkahi Madinah serta orang-orang Anshar yang telah menolong kaum muhajirin. Jika Mekah memiliki Masjidil Haram dan Multazam, Madinah memiliki Masjid Nabawi, makam Rasul dan Raudhah. Jika orang-orang Mekah bisa berumroh setiap saat, maka orang-orang Madinah yang berjarak hampir 500 kilo dari Mekah, bisa mendapat pahala yang sama dengan salat di masjid Quba.

Seorang jamaah mengabadikan kami dengan berfoto bersama di depan masjid Quba. Kami menuruni tangga dan kembali ke bus. Di halaman saya lihat seorang bapak menjual aneka tasbih, rumput fatimah, dan kopiah. “Murah, murah, bu, beli bu…,” teriaknya menarik perhatian

pembeli.

Karena saya pikir tempat-tempat yang akan kami datangi adalah tempat-tempat bersejarah, sama sekali tidak terpikir oleh saya untuk membeli oleh-oleh sehingga saya bahkan dengan sengaja tidak membawa dompet. Believe or not, saudara-saudara, perjalanan umroh kali ini, saya

terbilang paling nekad karena hanya membawa uang tunai 250 ribu rupiah. Benar, rupiah, bukan riyal karena saya tidak sempat menukarkannya di bandara Soekarno-Hatta sebelum

keberangkatan. Dan uang itu pun ada dalam dompet yang saya tinggalkan dalam koper di hotel. Jadi saat ini, saya benar-benar tidak membawa uang sama sekali!

Seorang anak berusia sekitar 12 tahun naik ke bus menawarkan aneka tasbih dari batu-batu berwarna yang berat serta tasbih mutiara imitasi yang berkilau. Ia menawarkan dagangannya dalam bahasa Indonesia dengan harga 20 riyal atau 50 ribu rupiah selusin. Saat di Jakarta, kurs untuk satu riyal adalah 2500 rupiah, tapi saat di Madinah, kurs yang berlaku adalah 2360-2400 rupiah yang artinya, kami malah membayar lebih mahal jika membayar dalam rupiah. Para pedagang di Tanah Haram memang menerima mata uang lain selain riyal. Umumnya hanya tiga mata uang yaitu rupiah, ringgit dan dolar Amerika. Sejujurnya saya sedikit bangga mata uang rupiah diterima di negara lain sebagai alat pembayaran. Mungkin ini bagian dari nasionalisme. Bu Nur yang tahu saya tidak membawa dompet, segera meminjamkan saya uang lima puluh ribu rupiah untuk membeli selusin tasbih. Dua lembar dua puluh ribuan dan selembar sepuluh ribuan segera berpindah tangan. Namun baru beberapa menit, pedagang kecil tadi protes karena katanya jumlah uang saya kurang. Teman-teman di dalam mobil segera membantu menjelaskan bahwa itu adalah pecahan uang yang berbeda. Saya menunjuk dua lembar dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan itu, berusaha menjelaskan. “Ini, dua puluh, tambah dua puluh, tambah sepuluh, pas, lima puluh ribu rupiah.” Tapi si anak tetap bersikeras. Akhirnya, seorang rekan jamaah menukarkan uang tadi dan memberikan selembar lima puluh ribuan kepada saya untuk membayarnya. Rupanya para pedagang di sini hanya mengenal lembar lima puluh ribu dan seratus ribu rupiah karena itulah yang paling sering mereka terima. Pecahan uang lain meragukan dan mungkin dianggap tidak laku atau menipu.

Perjalanan dilanjutkan ke perkebunan kurma. Begitu disebut perkebunan, otak saya dipenuhi bayangan suatu tempat hijau yang subur. Tapi ternyata tempat ‘subur dan hijau’ versi penduduk Arab hanyalah deretan pohon kurma jarang-jarang serupa palem hias di kompleks perumahan. Artinya, tetap saja saja tidak rimbun, panas menyengat dan tidak bisa untuk berteduh.

Kami dipersilakan masuk ke sentra oleh-oleh yang menjual aneka makanan khas seperti aneka kurma, manisan buah tin, kurma coklat dan lain-lain. Begitu masuk, para pedagang saling berteriak menjajakan dagangannya dalam bahasa Indonesia.

(18)

“Kurma coklat, campur-campur, tiga puluh riyal…, campur-campur tiga puluh riyal saja…,” “Pak, ini kurma yang dalam hadits mencegah sihir dan racun ya?” saya bertanya pada Pak Iwan, salah satu Muthawif.

Beliau membenarkan sambil tersenyum.

Saya memotret kurma Ajwa, dan menyimpan gambarnya dalam ponsel. Kurma Ajwa bentuknya lebih kecil dan warnanya lebih hitam. Harganya berkisar antara 70-150 riyal sekilo. Jauh lebih mahal dibanding kurma biasa yang harganya sekitar 10-30 riyal sekilo. Saya tertarik dengan kurma coklat seharga tiga puluh riyal sekilo. Sebenarnya, rasa coklat dan kurma digabung tidak begitu istimewa. Tapi kemasan warna warni tiap jenisnyalah yang membuatnya menarik. Ada yang berisi coklat, kurma dan kacang, ada yang hanya paduan coklat dan kurma, dan beberapa variasi lainya.

Seorang jamaah memprotes karena ketika ia ingin membayar dengan rupiah, harganya kelewat tinggi karena para kasir memberlakukan kurs tiga ribu untuk satu riyal. Ia bergerak mundur dari kasir dan terpaksa mencari teman yang mau menukar rupiahnya dengan kurs normal.

“Ini, pakai ini,” bu Suminten mengangsurkan lembar lima puluh riyal untuk membeli oleh-oleh. “Saya cuma perlu tiga puluh riyal bu,” jawab saya.

“Gak papa, bawa saja dulu, untuk jaga-jaga.”

Saya menerima uang tersebut dan membeli sekilo coklat kurma untuk para keponakan saya nanti. Setelah itu, saya bergantian berfoto di depan kedai oleh-oleh beratap seng itu.

Kami kembali ke mobil dan Mas Razaq, muthawif muda yang menjadi pemandu bus kami menyambut. “Alhamdulillah, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, barusan kita telah melakukan jumroh riyal…,” selorohnya disambut cekikikan para jamaah termasuk diri saya.

Jumroh Riyal. ‘Ada-ada aja nih orang,’ saya geli mendengar istilah baru tersebut. ‘Bisa kupakai untuk tulisanku nanti,’ pikir saya.

Perjalanan berikutnya dilanjutkan ke Jabal Magnit atau Mantiqa Baidha menurut istilah

penduduk setempat. Mantiqa Baidha artinya perkampungan putih karena sepanjang jalan, hanya terlihat bentangan padang pasir berwarna putih dengan gunung-gunung batu granit kehitaman yang kokoh dan terlihat garang.

Tempat ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Badui yang sedang berkemah. Saat itu, ia lupa tidak mengunci mobilnya, dan tiba-tiba mobil tersebut berjalan sendiri. Si orang badui tersebut mengejar mobilnya dan merasa heran karena mobil tersebut berjalan ke arah yang menanjak. Ia melaporkan fenomena ini kepada pemerintah setempat dan dibangunlah jalan menuju ke tempat ini. Jalan ini nantinya hanya jalan buntu dan mobil akan memutar haluan untuk kembali ke jalan utama.

Atraksi pun di mulai. Pak sopir berdiri dan mematikan mesin mobil. Lalu bus mulai berjalan mundur meskipun jalan tersebut menanjak. Kami mengucap tasbih pertanda kekaguman. Rombongan bus dua juga melakukan atraksi yang sama. Konon, para ahli sendiri tidak menemukan lokasi persis letak medan magnet yang dimaksud. Sebuah logam dibawa para peneliti itu tapi tidak tertarik ke bawah. Kami menyimpulkan ini benar-benar kuasa Allah semata.

(19)

menggumamkan “Ahad, ahad.’

Gunung-gunung granit dan padang pasir hanya menyisakan ketandusan yang mengeringkan tenggorokan. Namun, ada satu jenis pohon yang tumbuh di tempat sepanas ini tanpa ditanam. Pohonnya berupa duri-duri tajam tanpa daun yang kering. Itulah pohon Zaqqum yang dalam surat Al-Quran sebagai makanan ahli neraka.

Dalam Quran surat Ash-shaffat ayat 62-68 dijelaskan tentang pohon zaqqum di neraka yang bahkan lebih mengerikan lagi. Bentuk mayangnya seperti kepala setan, terbuat dari api dan tumbuh di dasar neraka jahim. Setiap yang memakannya maka ususnya akan terburai. Saya baru tahu bahwa pohon zaqqum benar-benar ada di dunia. Mendekatinya membuat saya takut serta teringat akan dosa-dosa, dan sepertinya, memang itulah tujuan city tour ini. Seorang teman saya yang berani mendekat mengatakan buahnya pun berupa duri-duri tajam yang pasti akan

menyakitkan kerongkongan. Saya berdoa semoga tidak akan pernah merasakan buahnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya dan menyelamatkan saya di hari akhir nanti. Kami melanjutkan perjalanan ke percetakan Al-quran terbesar di dunia. Sayang sekali hanya para jamaah laki-laki yang boleh masuk ke dalam sementara kami hanya boleh menunggu di toko di mana kami bisa membeli Al-quran berbagai versi. Saya sempat terpikir untuk mencari terjemahan Al-quran berbahasa Jepang dan Inggris, tapi akhirnya mengurungkan niat karena khawatir hanya sekedar menjadi pajangan. Lagipula, sudah hampir waktu istirahat. Pintu toko sudah tertutup separuhnya.

Teman-teman saya memborong kurma ruthob yang bagus di pedagang yang menggelar

dagangannya di depan gedung. Mungkin karena dekat perkebunan, kurma-kurma yang bagus itu dijual hanya lima riyal sekotak, yang beratnya sekitar satu kilo lebih. Di dekat hotel, harga kurma yang sama akan dijual dua sampai tiga kali lipatnya. Dagangan penjual tadi langsung ludes sehingga sisa uang riyal saya masih utuh.

Para bapak dengan senang hati kembali ke bus setelah masing-masing mendapat satu buah Al-quran gratis. Bus bergerak kembali ke lokasi perang Uhud, makam para syuhada Uhud, lokasi perang Khandaq, tujuh masjid dan masjid kiblatain. Karena kami mengejar keutamaan salat dzuhur di masjid Nabawi, semua sepakat untuk tidak berhenti dan hanya melihat sekilas dari atas bus. Pak Imran, muthawif yang sejak awal mendampingi dari Indonesia, menjelaskan sejarah tempat-tempat yang kami datangi dan hikmah semua perjalanan ini.

Menapaktilasi perjalanan dakwah Rasul, semakin menyadarkan saya, bahwa semua kisah perjuangan beliau dan para sahabat benar-benar terjadi. Begitu jauh jarak yang ditempuh, begitu panjang waktu yang dibutuhkan, begitu beratnya perjuangan Rasul dan para sahabat, begitu berlikunya hingga islam sampai ke Indonesia, dan akhirnya sampai pada kami. Saya merasa amat beruntung.

(20)

wudhu mengangkat tangannya sambil berseru. “Ok, thank you.”

Saya tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup cadar. Tapi dari sedikit gerak matanya yang terlihat saya tahu ia tersenyum. Saya membalas senyumnya sambil tak habis pikir apakah wajah saya tidak cukup melayu sehingga ia berucap dalam bahasa Inggris? Jangan-jangan askar ini mengenali diri saya yang lebih sering memakai blus dan rok lebar, sehingga gaya berpakaian saya sedikit mirip orang Turki? Atau jangan-jangan ia askar yang sama yang menjaga pintu masuk masjid dan mengingat protes saya dalam bahasa Inggris?

Bagaimana pun, saya memang beberapa kali merasakan keramahan para askar di masjid ini. Mungkin karena rata-rata orang Indonesia mudah diatur, tidak berebut saat pembagian ta’jil dan dengan gaya ‘permisi’ yang khas saat melewati orang-orang serta tidak asal sradak sruduk berjalan hingga menabrak jamaah lainnya. Seorang askar berkebangsaan Arab pernah

memperhatikan diri saya setelah tilawah kemudian bertanya. “Indonesian?” tanyanya ramah. Saya mengiyakan dan ia mengacungkan jempolnya.

Magrib itu, entah kenapa saya teringat roti khubus yang saya simpan dua hari lalu. Roti itu saya bawa pulang ke hotel karena saya memang hanya menerima ta’jil yang saya niatkan untuk dimakan agar tidak mubazir dan menolak yang lainnya. Saya ingat janji saya untuk

menghabiskannya, dan entah kenapa sekarang tiba-tiba saja saya ingin memakannya. Jadi sampai di kamar hotel, saya membuka setengah bagian roti khubus dalam tissue dan berusaha

menghabiskannya. Rotinya kini sudah dingin dan keras. Tapi saya tetap menggigit dan mengunyah roti alot berasa asin itu, menikmatinya dengan tenang sendirian di atas kasur. Nyam nyam.

Anggap saja kripik kentang. Raudhah Kedua

Saya dan bu Nur kembali mengunjungi Raudhah hari kamis pagi. Usai salat subuh, kami sengaja tidak pulang ke hotel dan mencari tempat sedekat mungkin dengan pintu menuju Raudhah. Sebenarnya, saya mengantuk sekali. Semalaman saya hanya tidur sekitar satu jam, dan itu pun tidak nyenyak. Rasa lelah setelah aktivitas seharian kemarin rasanya belum terbayar, tapi ini kesempatan langka. Kapan lagi bisa mengulang kembali moment indah di Raudhah?

Sekitar pukul enam lewat seperempat, pintu Raudhah dibuka. Kali ini, antrian tidak begitu ramai. Hanya sekitar satu jam, kami sudah sampai di ruang terbuka dekat Raudhah. Tapi satu hal yang menjadi masalah adalah, para jamaah lain saling dorong. Kebanyakan dari Mesir dan lainnya yang bertubuh tinggi besar.

Saya duduk di dekat Raudhah dan berdoa banyak-banyak. Saya yakin Allah Maha Adil, Allah tidak hanya akan mengabulkan doa orang yang sudah berada di Raudhah. Allah tahu, saya sangat ingin masuk, tapi saya tidak sampai hati mendorong saudara sesama muslim dan menyakitkan orang lain. Raudhah adalah sunah, tapi menyakiti muslim itu haram, menghormati saudara seiman itu wajib. Saya tidak mau mendahulukan sunah dengan melalaikan yang wajib.

Kali ini suasana cukup kacau. Para jamaah tidak tertib dan saling dorong. Saya tidak bisa dengan khusyuk salat dan berdoa di Raudhah. Tapi setidaknya saya cukup puas. Saya sudah berdoa banyak-banyak saat menunggu tadi. Proposal hidup yang saya ingat serta pengaduan-pengaduan saya atas beberapa hal yang saya mintakan jalan keluar dan jawabannya.

Kunjungan ini tidak selama dua hari lalu. Antriannya tidak cukup panjang sehingga sekitar pukul setengah delapan pagi, kami sudah bisa meninggalkan masjid dan kembali ke hotel.

Saudara sebangsa

(21)

bisa berwakaf Quran untuk masjid Nabawi. Uang di dompet saya sangat terbatas dan sudah saya tukar dengan riyal lewat petugas catering yang memberikan kurs sedikit lebih murah dibanding money changer di sini.

Saya memiliki tiga kartu debit tapi hanya satu yang berlaku internasional dan bisa melakukan penarikan di luar negeri. Keberangkatan saya yang delapan hari lebih awal daripada jadwal semula membuat saya tidak sempat memindahkan saldo dari rekening yang isinya lebih banyak. Tapi sebenarnya, itu disengaja. Rekening yang terpisah dan tidak bisa dengan mudah melakukan penarikan setidaknya mengerem tingkat konsumtif saya. Saya tidak punya kartu kredit dan memang tidak berminat memilikinya sampai saat ini.

Seakan menjawab keinginan saya berwakaf, sebuah sms banking masuk ketika saya pulang dari city tour kemarin, sejumlah uang masuk ke rekening saya sebagai transferan gaji dwi mingguan dari kantor. Jumlahnya lumayan. Dua pekan lagi, gaji saya akan kembali ditransfer dan insya Allah bisa memenuhi kebutuhan saya yang lain. Saya mengucap hamdalah. Saldo saya kini lebih dari cukup untuk memenuhi keperluan selama umroh.

Saya belum pernah berjalan-jalan sendirian sebelumnya. Sekali pun saya terbilang mandiri dan cukup sering backpacker sendirian, saya tidak mau kelewat PD dan berkeliaran sendirian di luar negeri. Ini tanah Haram. Kesombongan sedikit saja bisa berbuah teguran langsung. Kontan saat itu juga. Banyak sudah cerita yang saya dengar tentang kesombongan orang yang sudah sering bolak balik ke tanah suci dan merasa menghapal jalan dan Allah malah membuatnya tersesat atau dibutakan sesaat dari masjid yang sebenarnya ada di depannya.

Usai salat dzuhur, dengan berucap bismillah saya memberanikan diri mengambil jalan

menyimpang dari arah hotel dan terus lurus melewati pintu keluar yang langsung berhubungan dengan pelataran Oberoi Hotel. Sambil sesekali menoleh ke arah Nabawi sebagai patokan jalan. Saya bertanya kepada beberapa petugas hotel dan polisi yang saya temui di jalan. Tapi

kebanyakan mengira saya mencari money changer sehingga menujukkan arah yang salah. “No, not money changer. Do you know, where is the ATM lies? ATM…, uum, automatic teller machine?” saya hampir keceplosan menyebut ‘kasyuu ka-do’, bahasa serapan dari cash card, sebutan ATM dalam bahasa Jepang.

“Oh, card?” tangan polisi itu memperagakan memasukkan kartu ke mesin ATM. “Yes, card.” Saya senang karena kali ini ada yang mengerti maksud saya.

Polisi itu menunjuk ke hotel di seberangnya. Saya segera berlalu setelah mengucapkan terima kasih.

Saya bertanya kembali pada petugas hotel yang sedang membersihkan lobi. Bapak separuh baya itu mendengarkan pertanyaan saya. “Pakai bahasa Indonesia saja, mbak,” jawabnya sambil tersenyum lebar.

“Oh, bapak orang Indonesia?” saya tidak bisa menyembunyikan kekagetan bercampur rasa lega. Bapak berwajah ramah itu mengangguk. Sepertinya beliau juga senang bertemu saudara

sebangsa. Ia bertanya kapan saya check in, saya menjawab bahwa saya tidak menginap di hotel tersebut. Berdasarkan infonya, ATM di hotel itu hanya untuk bank lokal Saudi, ATM

internasional terdekat hanya ada di hotel Oberoi dan Hilton, tapi hingga kemarin, uang dalam ATM di Oberoi habis sehingga beliau menunjukkanku jalan ke arah Hilton. Saya meneruskan pencarian setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali.

(22)

Arab kepada petugas penjaga pintu, sebelum menunjukkan saya lokasi ATM di lantai dua. Saya naik elevator sambil senyum-senyum. Lagi-lagi merasa terselamatkan oleh saudara sebangsa. Selama lima hari saya di Madinah, setiap hari, ada saja saudara sebangsa yang tidak saya kenal yang menolong. Mulai dari petugas masjid Nabawi yang memberi saya ide menyelundupkan HP di kaos kaki asal tidak menggunakannya sehingga saya tidak terlambat salat subuh di masjid, petugas cleaning service yang menyelamatkan tempat minum saya dari wanita asing yang berpura-pura menolong mengambil zam-zam kemarin, dan dua orang yang barusan saya temui yang menunjukkan saya lokasi ATM ini. Ini belum termasuk ibu dari Makasar, seorang ibu serta wanita asal Jakarta yang dengan senang hati berbagi tempat dengan saya serta dua orang TKW yang memberi saya banyak info.

Saya menarik napas lega ketika layar ATM menyajikan pilihan bahasa Inggris selain bahasa Arab. Saya tidak mu mengambil uang banyak-banyak. Dengan agak takut-takut, saya pilih pecahan paling kecil sejumlah lima ratus riyal, tidak sampai satu setengah juta dalam kurs rupiah. Saya merasa lega karena kartu saya berfungsi. Saya sempat khawatir kartu saya tertelan yang pasti akan sulit mengurusnya. Tapi nyatanya, kartu berlogo empat enam itu bahkan memberikan kurs yang lebih murah. Saya belum pernah mengambil uang di luar negeri

sebelumnya. Saya bahkan sempat berpikir uangnya akan keluar dalam mata uang rupiah. Ketika selembar uang lima ratus riyal keluar dengan mulus, sekali lagi saya merasa ndeso dan

kampungan. Kampring.

Saya mengucapkan terima kasih sekali lagi pada bapak di lobi sebelum kemudian kembali ke masjid Nabawi. Seorang anak kecil berusia sekitar 12 tahun yang melayani pembelian Quran saya segera mengecap quran-quran tersebut. Saya melihat cap bahasa Arab tersebut dan menerka-nerka artinya sebagai “wakaf kepada Allah.”

Sore itu setelah salat Asar kami berkumpul di ruang makan untuk memantapkan kembali persiapan umroh besok. Kebanyakan jamaah mendengarkan dengan tekun. Seorang anak muda sebaya saya baru datang setelah pertemuan berlangsung sekitar satu setengah jam. Saya tahu dirinya baru selesai belanja –untuk kesekian kali- karena dia sempat mengajak saya ke mall terdekat yang saya tolak dengan halus. Ia duduk di dekat saya, dan mengajak teman sebelahnya mengobrol. Ini memang bukan acara formal, tapi sejujurnya saya agak terganggu. Saya telah terbiasa dengan peraturan tidak tertulis dalam sebuah pertemuan : “Tidak ada meeting di dalam meeting.”

Pak Iwan dan Pak Imran selaku muthawif menjelaskan kembali segala hal penting dan menjawab berbagai pertanyaan dari jamaah. Sebuah kursi dan meja di tengah digunakan sebagai peraga di saat terakhir melakukan simulasi thawaf. Meja di tengah sebagai Ka’bah, dan dua kursi yang berbeda sebagai hijr ismail, dan maqom ibrahim, juga dijelaskan posisi hajar aswad serta rukun yamani.

Sebelumnya, pak Iwan mengingatkan kembali kilas balik perjalanan kami di Madinah. Ketika sampai pada bagian Raudhah, kawan sebaya saya ini menarik perhatian karena menjadi orang satu-satunya, -belakangan saya tahu ternyata bersama pasangan- yang belum menyempatkan ke Raudhah. Pak Imran mempersilakan mengatur jadwal seandainya pasangan muda ini ingin diantar bersama guide besok selepas subuh. Tapi membaca keseluruhan ekspresinya, saya tidak melihat sebuah niat di sana.

“Memangnya kemarin ga ikut, mbak?” tanya saya.

“Nggak. Kemarin diajak jalan sama suami,” jawabnya enteng.

Referensi

Dokumen terkait