• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup

Kajian Eko-Kristologi Terhadap Pemahaman Jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kab. Semarang Tentang Kristus Sang Pemelihara Lingkungan

Hidup Oleh

Rani Natalia Br Sitorus 712014033

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada Program Studi Teologi, Fakultas Teologi

disusun sebagai salah satu persyaratan mencapai gelar Sarjana Sains Teologi (S.Si, Teol)

Program Studi Teologi

Fakultas Teologi

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2020

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

1. Pendahuluan 1.1 Latar belakang

Dalam tradisi Kristen Protestan, Allah diyakini sebagai pencipta langit dan bumi. Allah menciptakan langit dan bumi berlangsung enam hari lamanya dan pada hari yang ketujuh Allah beristirahat. Serupa dengan itu, teologi penciptaan juga menyakini bahwa seluruh alam semesta ini diciptakan oleh Allah seperti tertera dalam kitab suci Kristen. Seperti dalam kitab Kejadian 1:1-31 – 2:1-4a dan kejadian 2:4b-25 diceritakan bahwa alam semesta ini tidak terjadi begitu saja,

tetapi diciptakan oleh Allah.1

Allah tidak hanya dikenal sebagai pencipta alam semesta tetapi juga dikenal sebagai pemelihara alam semesta. Dalam proses pemeliharaan alam semesta, Allah bekerja sama dengan ciptaan lainnya yaitu manusia. Manusia adalah makhluk yang dirancang secara khusus oleh Allah untuk menjaga dan memelihara ciptaan-Nya, meskipun manusia tidak lebih tinggi atau memiliki

otoritas dari ciptaan lainnya.2 Manusia diberi tanggung jawab oleh Allah dengan

keutamaan mengurus bumi dan ciptaan lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh

Allah sendiri.3 Dalam mengurus dan memelihara lingkungan hidup, manusia

harus memiliki kepekaan dan rasa tanggung jawab yang penuh terhadap

lingkungan hidup.4 Kepekaan yang dimulai dari rasa keperihatinan terhadap

kerusakan alam lalu berusaha untuk mencegah kerusakan alam tersebut dengan cara melestarikan dan memelihara lingkungan hidup.

Namun pada kenyataannya manusia yang diberi tanggung jawab untuk memelihara lingkungan hidup tersebut malah menjadi akar kerusakan lingkungan hidup. Menurut data yang diperoleh penulis, sebagian besar kerusakan lingkungan hidup terjadi karena kepentingan ekonomi manusia. Sebagian manusia mengeksploitasi kawasan-kawasan produktif, seperti hutan-hutan dibabat,

1 Kasumbogo Untung dan Dwi Warsito Nugroho, Gereja & Kelestarian Lingkungan Hidup

(Yogyakarta: Kanisius, 2015), 84.

2 Ebenhaizer I Nuban Timo, Polifonik Bukan Monofonik (Salatiga: Satya Wacana

University Press, 2015), 105.

3 Louis Leahy, Horizon Manusia dan Pengetahuan ke Kebijaksanaan (Yogyakarta:

Kanisius, 2002), 80.

(7)

membuang limbah pabrik dengan sembarangan, membuka pertambangan dengan

menyingkirkan aspek keamanan ekologi dan lain-lain.5 Hal tersebut terjadi karena

cara pandang beberapa manusia yang cenderung bersifat anroposentris, dimana beberapa manusia menganggap makhluk hidup selain manusia hanyalah sekedar

alat dan tidak mempunyai nilai.6 Jadi, dapat dikatakan salah satu kerusakan

lingkungan hidup akibat pola pikir antroposentrisme.

Antroposentrisme yang menjadi pola pikir mendasar perlu diubah untuk mengatasi persoalan lingkungan hidup. Untuk mengubah pola pikir tentang alam semesta tidak lain adalah cara pandang yang memahami alam semesta sebagai

sebuah sistem yang holistik atau sebagai sistem yang saling terhubung.7 Menurut

Sudhiarsa, antroposentrisme adalah wujud atau bentuk penolakan terhadap

keberadaan Allah.8 Secara langsung pernyataan dari Sudhiarsa ini menegaskan

pentingnya peranan keagamaan untuk mengingatkan kembali posisi manusia sebagai bagian ciptaan. Jadi perubahan pola pikir antroposentrisme dapat dilihat dari pemahaman terhadap semesta secara menyeluruh dan mengembalikan kesadaran manusia sebagai ciptaan Allah.

Kehadiran gereja di tengah-tengah dunia ini tentunya memiliki peran untuk terlibat dalam setiap pemecahan masalah-masalah yang ada dan salah satunya masalah lingkungan hidup yang tak lepas dari Allah sebagai pencipta dan

pemelihara dunia.9 Selaras dengan itu, Kwok Pui-lan juga berpendapat bahwa

gereja merupakan tempat untuk belajar arti perjanjian penyelamatan Allah yang meluas ke seluruh ciptaan dan gereja haruslah menjadi wadah pembawa damai bagi seluruh ciptaan karena janji Allah untuk menyelamatkan semua ciptaan, salah satunya lingkungan hidup dengan dimensi eco-sentris yang terdapat dalam

Alkitab.10

5 Lukas Awi Tristanto, Panggilan Melestarikan Alam Ciptaan (Yogyakarta: Kanisius,

2015), 43.

6 Sonny Keraf, Etika Lingkungan Hidup (Jakarta: Kompas, 2010), 55. 7 Keraf, Filsafat Lingkungan Hidup, 70.

8 Raymundus Sudhiarsa, Menyapa Bumi menyembah Hyang Ilahi: Tinjauan teologis atas

Lingkungan Hidup (Yogyakarta: kanisius 2008), 184.

9 Presbyterian Eco-Justice Task Force, Keeping and Healing the Creation (U. S. A:

Louisville, 1990), 43.

(8)

Pada penelitian ini penulis melihat salah satu gereja yang menjadi wadah untuk belajar menjaga dan memelihara lingkugan hidup yaitu GKJTU Sumunar Krangkeng Kab. Semarang. Gereja tersebut memiliki visi “Menjadi Komunitas Penyembuh, Pembaharu dan Pelestari kehidupan”. Melalui visi tersebut GKJTU Sumunar Batur-Krangkeng, bercita-cita ingin membangun lingkungan desa mereka menjadi Desa Eden yang mana seluruh ciptaan dapat hidup dengan nyaman dan tentram. Dalam mencapai visi tersebut, gereja melakukan beberapa program: pertama, mengajak seluruh jemaat untuk mengumpulkan dan memisahkan sampah organik dan an-organik. Kedua, mengajarkan dan mengajak jemaat untuk membuat tempat sampah dari barang bekas. Ketiga, mengajarkan dan mengajak jemaat untuk membuat pupuk organik. Keempat, mengajak jemaat untuk menggunakan pupuk organik dalam bertani. Kelima, mengajarkan dan membuat kerajinan tangan dari sampah an-organik. Keenam, pada minggu kedua mewajibkan seluruh jemaat untuk tidak menggunakan kendaraan baik mobil maupun sepeda motor untuk pergi ke gereja. Ketujuh, menanam seribu pohon disekitar pemukiman desa. Kedelapan, setiap sebulan sekali remaja gereja bergotong royong mengumpulkan sampah-sampah yang dibuang di sekitaran lingkungan desa.

Melalui visi dan misi GKJTU Sumunar Krangkeng Kab. Semarang menjadikan alasan utama penulis menjadikan tempat ini sebagai unit amatan. Karena GKJTU Sumunar Krangkeng Kab. Semarang mampu membuktikan sebagai umat Kristen yang menjadi gambaran Kristus sebagai pemelihara lingkungan hidup, serta dapat mempertanggung jawabkan tugas tanggung jawab yang diterima dari Allah.

1.2 Rumusan Masalah dan Tujuan

Adapun yang menjadi titik fokus permasalahan yang dapat dirumuskan adalah apa pemahaman-pemahaman jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kab. Semarang tentang Kristus pemelihara lingkungan hidup dan bagaimana kajian Eko-Kristologi tentang Kristus Sang pemelihara lingkungan hidup menurut jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kab. Semarang Kec. Getasan. Berdasarkan rumusan masalah tersebut yang menjadi tujuan penelitian adalah melakukan analisis

(9)

terhadap pemahaman-pemahaman jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kab. Semarang tentang Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup dan melakukan kajian Eko-Kristologi tentang Kristus Sang pemelihara lingkungan hidup menurut jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kab. Semarang.

1.3 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini ialah yang pertama untuk memberikan sumbangan pemikiran ilmiah bagi para pembaca khususnya dibidang Kristologi dan Eko-Kristologi. Kedua, memberikan pemahaman yang baru bahwa Kristus bukan saja bagian dari terciptanya lingkungan hidup melainkan juga turut dalam memelihara lingkungan hidup. Ketiga, implikasi dari penelitan adalah mendorong setiap gereja untuk peduli lingkungan hidup.

1.4 Metode Penelitian

Metode yang akan digunakan dalam penulisan ini ialah penelitian kualitatif yang pada dasarnya menggunakan data verbal dan kualifikasinya bersifat teoritis. Metode penelitian kualitatif adalah sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari para

informan dan perilaku yang dapat diamati.11 Adapun teknik pengambilan atau

pengumpulan data yang penulis gunakan ialah wawancara terbuka menggunakan jenis pertanyaan terencana dan menggunakan rekaman audio. Penulis memakai teknik wawancara untuk menganalisis pokok-pokok bahasan melalui jawaban atau informasi yang tidak terbatas dan mendalam dari berbagai perspektif yang diberikan oleh informan. Bersamaan dengan melakukan wawancara, informasi yang didapat dari responden dimuat dan disimpan dalam bentuk rekaman audio. Rekaman audio dilakukan agar penulis dapat menangkap keseluruhan inti pembicaraan dan informasi yang diberikan oleh informan.

Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian sebanyak 2 kali, karena pada penelitian pertama jumlah informan belum memadai kebutuhan penulis sehingga dilakukan kembali penelitian yang kedua. Pada penelitian yang pertama penulis melakukan penelitian kepada 8 informan dan pada penelitian yang kedua

11 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakaria,

(10)

penulis juga meneliti informan sebanyak 7 orang sehingga jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 15 orang. Alasan penulis memilih 15 informan adalah, dari ke 15 informan tersebut penulis sudah mendapatkan perwakilan dari setiap kategorial persekutuan jemaat (Pendeta jemaat, majelis jemaat, kaum lansia, kaum bapak, kaum ibu, kaum remaja, kaum anak dan jemaat berpendidikan sarjana). Penelitian pertama penulis melakukan wawancara selama lima hari yakni pada tanggal 14,15, 19, 20 dan 21 Oktober 2018. Hari pertama bersama dua informan, hari kedua satu informan, hari ketiga dua informan, hari keempat satu informan dan hari kelima dua informan di kediamannya masing-masing. Kemudian pada penelitian yang kedua penulis melakukan penelitian kepada 8 orang informan selama tiga hari yaitu pada tanggal 15, 21 dan 22 April 2019, hari pertama bersama satu informan, hari kedua tiga orang informan dan hari ketiga 3 orang informan di kediaman masing-masing.

Dalam penelitian ini penulis hanya menfokuskan kepada 15 Informan dari 153 Jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng yang terdiri dari, 1 orang Pendeta, 3 orang Majelis, 2 orang Kaum Lansia, 2 orang Kaum Bapa, 2 orang Kaum Ibu, 2 orang Pemuda/i, 1 orang kaum remaja dan 2 orang jemaat yang berpendidikan sarjana. Data yang terkumpul akan digunakan sebagai bukti dalam menguji kebenaran atau hipotesis, dalam pengolahan data tidak menggunakan perhitungan matematik dengan berbagai macam rumus statistik. Pengolahan data dilakukan secara rasional dengan menggunakan pola berpikir tertentu menurut hukum

logika.12 Selain itu dalam penelitian ini juga digunakan metode penelitian

deskriptif guna untuk mendeskripsikan pandangan jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng terhadap Kristus sebagai Sang Pemelihara Lingkungan Hidup dengan

menggunakan teknik pengumpulan data wawancara terhadap jemaat.13

1.5 Sistematika penulisan

Penulisan penelitian ini dideskripsikan dalam lima bagian. Pada bagian yang pertama penulis memaparkan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi (manfaat) penelitian dan sistematika

12 Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial (Yogyakarta: Gadjah Mada University

Press, 1983), 32.

(11)

penulisan yang menjadi kerangka umum penulisan penelitian ini. Bagian kedua memuat ajaran Kristen tentang Kristus sebagai pemelihara lingkungan hidup. Bagian ketiga, memaparkan hasil penelitian berkaitan dengan tema Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup menurut jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng. Bagian keempat, berisi kajian Eko-Kristologi tentang pandangan jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng mengenai Kristus sebagai pemelihara lingkungan hidup dan Bagian kelima berisikan kesimpulan dan saran.

2. Eko-Kristologi: Kristus sebagai Sang Pemelihara Lingkungan Hidup dalam Ajaran Kristen

Dalam studi teologi, kesadaran lingkungan hidup membuat para teolog berdialog tentang studi-studi lingkungan hidup. Para teolog sadar pada keadaan serta problematika yang menjadi tantangan di Abab 21 ini. Maka tak heran akhir-akhir ini makin beragamnya konstruksi-kontruksi teologis yang berakar dari kesadaran problematika di Abad 21 dan satu di antaranya adalah lahirnya Eko-Kristologi.

Eko-Kristologi yang lahir dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan hidup makin marak dibicarakan di masa kini. Eko-kristologi lahir dari kesadaran adanya keterhubungan antara Kristus dan lingkungan hidup. Untuk itu dalam uraian ini penulis akan menguraikan apa itu Eko-kristologi, apa unsur-unsur di dalamnya, dan terakhir penulis akan menutup bagian ini dengan tawaran sebuah makna eko-kristologi, yakni Kristus sang pemelihara lingkungan hidup.

2.1 Eko-Kristologi

Istilah eko-Kristologi merupakan hal yang belum begitu populer di kalangan umat kristiani. Secara umum eko-kristologi dipahami sebagai cabang ilmu dari kristologi dan eko-Teologi yang mengajarkan tentang Kristus dan lingkungan hidup. Langkah awal untuk memahami eko-Kristologi pembaca terlebih dahulu harus memahami apa itu kristologi dan eko-Teologi. Kristologi

adalah ilmu pengetahuan tentang siapa Kristus14 sedangkan eko-Teologi adalah

(12)

epistemologi lingkungan yang mengkaji hubungan antara agama dan lingkungan

hidup.15

Eko-kristologi juga merupakan bentuk dari upaya komunitas Kristiani yang peduli terhadap lingkungan hidup. Upaya tersebut terlihat dari adanya penafsiran kembali sosok Yesus berkaitan dengan lingkungan hidup. Eko-Kristologi memiliki potensi untuk memengaruhi cara berteologi, bergereja dan bermasyarakat. Artinya eko-kristologi sangat dibutuhkan dalam perkembangan kehidupan berteologi, bergereja dan bermasyarakat.

Dalam cabang ilmu kristologi dan eko-Teologi sangat dibutuhkan gambaran yang utuh tentang hubungan antara Kristus dan lingkungan hidup. Kristus digambarkan sebagai Pencipta yang melawat dan mencintai ciptaan-Nya, jadi setelah Kristus menciptakan segala sesuatu Kristus juga turut dalam

memelihara dan merawat ciptaan-nya.16 Secara garis besar mau dikatakan bahwa

Kristus memiliki kaitan yang erat dengan lingkungan hidup bukan hanya sebatas Pencipta dengan ciptaan melainkan juga sebagai pemelihara ciptaan. Eko-Kristologi membantu lingkungan hidup untuk mempertahankan kehidupannya dan mengajak umat untuk memandang lingkungan hidup sebagai ciptaan yang harus dipelihara selayaknya Kristus yang turut dalam memelihara lingkungan hidup.

Eko-Kristologi merupakan bentuk perjuangan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Perjuangan yang bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan hidup, dengan memahami pribadi Yesus Kristus, membentuk dan merekontruksi, serta mentransformasikan pemahamannya tentang manusia dan Tuhan dari perspektif eko-Kristologi.

15 Fikri Mahzumi, Renungan Ekoteologi (ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman Vol. 12, No

2) (2018): 333.

(13)

2.2 Unsur-unsur Eko-Kristologi

Pada bagian ini penulis akan memaparkan unsur-unsur dari eko-Kristologi. Unsur-unsur tersebut dapat terlihat dalam cakupan eko-Kristologi yang di antaranya Kristologi, Ekologi dan eko-Teologi. Dalam ketiga cakupan ini penulis akan membatasinya dalam dua aspek yakni Kristologi dan eko-Teologi. Kesimpulan dari bagian penulis ini menunjukan hubungan antara kristologi dan eko-Teologi dalam satu disiplin ilmu yakni eko-Kristologi.

2.2.1 Kristologi

Kristologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu

Χριστός dan λόγος. Χριστός berarti "yang diurapi", kata ini digunakan sebagai

gelar untuk nama Yesus di dalam Perjanjian Baru.17Λόγος berarti ilmu

pengetahuan. Jadi kristologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang Kristus atau Yesus. Kristologi sendiri bukanlah ilmu yang berdiri sendiri tetapi merupakan bagian bahkan sub-bagian dari Teologi khusunya di bidang Teologi Sistematika. Pada umumnya Kristologi bertugas untuk merenungkan, menyelidiki dan mengutarakan keyakinan beriman manusia bahwa Yesus dari Nazaret adalah

Kristus dan Tuhan.18 Selain itu, Kristologi tidak hanya membicarakan Yesus

Kristus melainkan juga pikiran umat tentang Yesus Kristus. Untuk itu Kristologi dilihat sebagai refleksi sekunder dari refleksi umat beriman. Karena dengan iman manusia dapat mencapai sasarannya untuk mengetahui dan memahami siapa

Yesus Kristus.19

2.2.2 Eko-Teologi

Eko-Teologi merupakan salah satu bidang studi teologi yang berkembang saat ini. Eko-Teologi terdiri dari dua kata yaitu ekologi dan teologi. Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme-organisme dan hubungan antara organisme-organisme dengan

17 Gelar ini dirujuk dalam arti bahwa Yesus memiliki tiga bentuk ketuhanan, yaitu sebagai

Pencipta-Pemelihara dunia, sebagai Tuhan-Penebus gereja, dan sebagai raja atas seluruh dunia pada akhir sejarah dunia. lihat Yusak B. Setyawan, Kristologi: Perkenalan, Pendalaman,

Pergumulan, (Bahan Kuliah Dalam Progres) (Salatiga: Fakultas Teologi UKSW, 2013), 62.

18 Dr. Nico Syukur Dister OFM, Kristologi Sebuah Sketsa (Yogyakarta: Kanusius, 1987),

23.

19 Gerald O‟Collins dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 2006),

(14)

lingkungannya.20 Teologi merupakan studi mengenai Allah.21 Secara harafiah Eko-Teologi dapat diartikan sebagai epistemologi lingkungan yang berbasis pada ilmu teologi. Eko-Teologi memberikan perhatian kepada persoalan lingkungan

hidup atau kepada bumi sebagai rumah bagi semua makhluk.22 Eko-Teologi juga

tidak berhenti pada persoalan epistemologi melainkan aksiologi yang menuntut sebuah etika. Pada titik ini dapat dinyatakan bahwa eko-Teologi sebagai bagian dari etika Kristen. Jadi secara keseluruhan eko-Teologi adalah sebuah bidang ilmu yang membahas tentang bentuk epistemologi dan bentuk etika dari teologi Kristen.

2.3 Eko-Kristologi: Hubungan antara Kristologi dan Eko-Teologi

Penjelasan kedua unsur-unsur di atas telah menggambarkan bahwa kristologi dan Teologi memiliki korelasi. Pertama dilihat dari orientasi eko-Teologi untuk membentuk sebuah etika Kristen. Hal ini akan lebih dipertajam apabila kajian terhadap Kristus menjadi inspirasi bangunan etika bagi komunitas Kristen. Kedua kajian eko-Teologi yang juga berbicara pada aspek epistemologi pada konteks Kristen pasti akan memiliki keterhubungan dengan pembicaraan mengenai sosok Kristus sebagai bagian dari kajian. Hal ini serupa dengan pernyataan Nuban Timo bahwa Eko-Teologi adalah percakapan mengenai hubungan timbal-balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya yang

dihubungkan dengan iman kepada Allah di dalam Kristus.23

Kedua hal di atas yang menunjukkan korelasi antara Kristologi dan eko-Teologi telah menunjukan sasaran dari eko-kristologi. Sasaran pertama dapat dilihat dengan upaya dari eko-kristologi tentang bagaimana relasi Kristus dengan lingkungan hidup. Hal ini sebagai catatan pencarian terhadap tawaran-tawaran atau inspirasi etika lingkungan dari perenungan akan Kristus. Sasaran kedua dari

20 Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 2005), 182.

21 Teologi berasal dari dua kata “Teos berarti Allah/Tuhan/ Dewa & Logos berarti

Percakapan/Ilmu Pengetahuan/Studi. Ebenhaizer I Nuban Timo, Seribu Wajah Mengcengangkan

Bagi Allah (Menyelam ke Samudera God-Talk Kristen (Hand Out dan Bahan Ajar Pengantar Ilmu Teologi (Salatiga: Fakultas Teologi UKSW)), 177.

22 Fikri Mahzumi, Renungan Ekoteologi (ISLAMICA: Jurna Studi Keislaman Vol. 12, No

2. 2018), 333.

23 Ebenhaizer I Nuban Timo, Polifonik Bukan Monofonik (Salatiga: Satya Wacana

(15)

eko-kristologi dapat dilihat dari kajian terhadap sosok Kristus dengan tiga bentuk ketuhanan (Pencipta-Pemelihara dunia, Tuhan-Penebus gereja, dan raja atas seluruh dunia) yang berkaitan dengan bentuk relasi-Nya dengan lingkungan hidup.

2.4 Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup

Sasaran Eko-Kristologi di atas akan diuraikan lebih jauh dalam bagian ini. Untuk itu penulis akan menguraikan mulai dari pertama tentang hubungan Kristus dan alam, kedua tentang Yesus sebagai pencipta lingkungan hidup dan yang ketiga lebih spesifik menunjukan Kristus sebagai pemelihara lingkungan hidup. 2.4.1 Hubungan Kristus dan Alam

Hubungan Kristus dan alam yang digambarkan dalam Perjanjian Baru bersifat paradoks. Pada satu sisi Yesus digambarkan lebih mementingkan manusia dari pada lingkungan. Hal ini terlihat dari cerita Yesus yang mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Mrk 12:12-14, 20-26) dan pengusiran setan dari manusia kepada babi-babi (Mrk 5:1-20). Kedua hal ini dilihat sebagai bentuk

antroposentisme dari Yesus.24 Pada sisi lain Yesus juga memiliki relasi yang baik

dengan lingkungan hidup. Hal ini terlihat dari kehadiran binatang-binatang liar

selama pencobaan Yesus di Gunung Sinai (Mrk 1:13).25

Hubungan Yesus dan alam dalam konteks Kristus sebagai penebus dimaknai sebagai otoritas Kristus terhadap alam. Menurut Louis Bouyer,

kekuasaan itu bermula dari kemenangan salib dan kebangkitan Kristus.26 Pada sisi

lain Kristus sebagai penebus dipahami oleh Thomas Berry sebagai nilai pengorbanan. Hal itu terdapat dalam dimensi Kristus dan alam yang memiliki nilai

pengorbanan yang adalah bagian dari realitas kehidupan.27 Jadi dapat dikatakan

bahwa otoritas Kristus bukan semata-mata bersifat menguasai alam melainkan terdapat unsur pengorbanan.

24 Celia Deane Drummond, Teologi & Ekologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 32. 25 Drummond, Teologi & Ekologi, 32.

26 Thomas Hidya Tjaya, Kosmos Tanda Keagungan Allah (Yogyakarta: Kanisius, 2002),

67.

(16)

Berkaitan dengan otoritas pengorbanan tampak juga dalam bentuk-bentuk pengajaran Yesus Kristus. Ajaran yang paling umum dalam Perjanjian Baru adalah mengasihi. Menurut H. Richard Niebuhr, salah satu pengajaran tentang kasih yang diajarkan oleh Kristus ialah, tanggung jawab terhadap sesama. Tanggung jawab tersebut tidak hanya dilihat terhadap sesama manusia melainkan kata sesama di sini berarti dipercaya dengan kesejahteraan alam dan harta

kekayaan masyarakat demi kehidupan tanaman, manusia dan juga binatang.28

2.4.2 Kristus sebagai Pencipta Lingkungan Hidup

Ketika Allah menciptakan alam semesta Allah tidak dalam keadaan marah, sombong dan serakah, tetapi dalam suasana hati damai dan penuh kasih sayang

sehingga terciptalah suatu karya yang sungguh amat baik.29 Hal tersebut terjadi

karena semua ciptaan-Nya menempati posisi yang sangat penting bagi Allah. Hubungan Allah dengan bumi adalah Pencipta dan ciptaan yang Ia dandani dan rawat dengan saksama (Maz 104). Alkitab dengan eksplisit menegaskan bahwa cinta kasih Allah terhadap bumi sangatlah besar. Allah tidak mau membiarkan bumi binasa, melainkan bertindak untuk menyelamatkan dan memelihara

lingkungan hidup (Yoh 3:16-17).30

Selama ini sering dipahami bahwa Allah menciptakan langit dan bumi berlangsung selama 6 hari dan pada hari yang ke- 7 Allah beristirahat. Allah berhenti menciptakan namun ayat itu tidak dapat diartikan setelah hari ke-7, Tuhan tidur dan bersikap tidak perduli. Dalam kitab kejadian 2:8 “... Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah Timur, di situlah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-ditempatkan-Nya itu.”, terdapat kata “selanjutnya”. Kata “selanjutnya” menunjukkan adanya keaktifan dan dinamika yang progresif dalam proses penciptaan yang dilakukan oleh Allah. Proses penciptaan yang dilakukan oleh Allah tidak berhenti pada hari ke-6 saja namun berkelanjutan. Setelah hari

28 Larry L. Rasmussen, Komunitas Bumi Etika Bumi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010),

455.

29 Kasumbogo Untung dan Dwi Warsito Nugroho, Gereja & Kelestarian Lingkungan

Hidup (Yogyakarta: Kanisius, 2015), 95.

30 Ebenhaizer I Nuban Timo, Polifonik Bukan Monofonik (Salatiga: Satya Wacana

(17)

ke-7, Allah terus berkarya agar seluruh ciptaan-Nya tetap dalam keadaan yang baik.

Dalam konteks penciptaan yang berkelanjutan, seharusnya manusia ikut mendukung proses tersebut dengan ikut memelihara dan menjaga bumi. Karya yang berkelanjutan merupakan cara Allah untuk menjaga dan memelihara ciptaan-Nya. Keberlangsungan hidup ciptaan berada dibawah penguasaan Allah baik yang ada di darat, laut dan udara. Semuanya dalam keberlanjutan karya Allah karena Allah tidak ingin ciptaan-Nya musnah begitu saja. Yesus Kristus yang dikenal sebagai Sang Pencipta itu juga hadir bagi semua ciptaan-Nya. kehadiran-Nya melalui kekuatan dan potensi Roh alam semesta yang dimiliki. Kehadiran Allah menjadi bukti bahwa Ia tidak hanya menciptakan melainkan menjadi bagian dalam pemeliharaan semua yang telah diciptakan. Pemeliharaan yang dilakukan oleh Allah dapat dilihat dari tindakan Allah yang mau memberkati dan

menguduskan ciptaan-Nya di hari Sabat.31

2.4.3 Kristus sebagai Pemelihara Lingkungan Hidup

Pembicaraan mengenai hubungan Kristus dan alam sampai pada predikat Kristus sang pemelihara lingkungan hidup. Hal ini bisa dilihat dalam beberapa kategori yang berkaitan dengan tindakan Yesus apakah sebagai manusia, pengajar dan Tuhan penebus. Kategori pertama dari bentuk-bentuk tindakan Yesus yang peduli terhadap semua ciptaan-Nya baik terhadap manusia, hewan dan tumbuhan.

Apalagi dalam bentuk tindakan radikal Yesus sendiri yang menunjukkan sikap pengorbanan-Nya terhadap keseluruhan ciptaan di dunia melalui jalan salib. Bahkan bentuk tindakan radikal dari Yesus dianggap Drumond sebagai karya

perdamaian.32 Terlebih dari itu tindakan radikal Yesus dipahami oleh Thomas

Berry sebagai wujud pengorbanan yang kreatif dalam artian pengorbanan itu terjadi demi sebuah kehidupan yang lain.

Selain dari tindakan radikal Yesus dapat dilihat juga dari sisi Ilahi Yesus Kristus. Sisi ilahi tersebut dibuktikan dengan doktrin bahwa karena “Dia telah

31 A. Sunarko, OFM & A. Eddy Kristiyanto, OFM, Menyapa BUMI menyembah Hyang

Ilahi (Tinjaun Teologis atas Lingkungan Hidup) (Yogyakarta: Kanisius, 2012), 36-38.

(18)

menciptakan segala sesuatu” dan segala sesuatu yang telah diciptakan memiliki tempat tersendirinya dalam Kristus. hal ini menunjukkan bahwa Kristus adalah

dasar dari segala sesuatu atau dasar dari keseluruhan ciptaan.33 Sebagai dasar dari

segala ciptaan dapat diandaikan bahwa keberadaan Yesus terus ada sampai saat ini, selagi keberadaan ciptaan-Nya ada di dunia. Dari hal ini menegaskan juga bahwa kerjaan Allah ada di dunia.

Kristus sebagai pemelihara juga tidak terlepas dalam bentuk konseptual semata melainkan sebagai sebuah dorongan terhadap yang percaya kepada-Nya Karena, sosok Yesus Kristus meninggalkan sebuah ajaran tentang sebuah pengorbanan demi yang lain. Jadi bentuk pemeliharaan Yesus menuntut orang percaya atau pengikutnya untuk melakukan pemeliharaan terhadap seluruh ciptaan dengan mendasarkan pada sifat pengorbanan yang kreatif. Dari ulasan ini dapat ditemukannya sebuah etika Kristen yakni pemeliharaan kepada seluruh ciptaan adalah sebuah bentuk atau wujud pengorbanan yang kreatif.

3. Analisis Deskriptif Hasil Penelitian mengenai Kristus Pemelihara Lingkungan Hidup Menurut Jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kec. Getasan.

GKJTU Sumunar Krangkeng merupakan salah satu gereja suku Jawa yang berdomisili di Jawa Tengah. Secara geografis, GKJTU Sumunar Krangkeng berada di desa Batur-Krangkeng Kecamatan Getasan. GKJTU Sumunar Krangkeng berdiri pada tanggal 27 Agustus 1967 hingga saat ini. Pada saat ini Gereja tersebut memiliki 2 orang pendeta (Pdt. Paini dan Pdt. Cladius) dan 153 orang jemaat. Sebagian besar jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng berprofesi sebagai petani. Profesi ini menunjukkan hubungan GKJTU Sumunar krangkeng memiliki hubungan yang erat dengan tumbuhan dan hewan. Hubungan ini juga terjadi karena lingkungan gereja dan rumah jemaat yang dikelilingi oleh tumbuhan dan juga hewan.

Kondisi di atas mendorong GKJTU Sumunar Krangkeng memiliki program kegiatan pelestarian lingkungan hidup. Adapun kegiatan tersebut ialah

(19)

pertama membuat tempat sampah dari barang bekas. Kedua, memisahkan sampah organik dan an-organik. Ketiga, membuat pupuk organik dari sampah organik. Keempat, membuat kerajinan tangan dari sampah an-organik. Kelima, pada minggu kedua tidak menggunakan kendaraan untuk pergi ke gereja. Keenam, pada tahun 2013, jemaat menanam seribu pohon disekitar lingkungan desa dan membuat pakan untuk ternak dari bahan-bahan organik. Ketujuh, setiap sebulan sekali remaja gereja bergotong royong mengumpulkan sampah-sampah yang dibuang sekitaran lingkungan desa.

3.1 Hasil Penelitian

Pada bagian ini penulis hendak menyajikan analisis deskriptif terhadap hasil penelitian yang telah penulis lakukan untuk melihat padangan jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng mengenai Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup. Dari pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan oleh penulis kepada ke-15 informan, penulis menemukan empat poin penting yang berkaitan dengan Kristus Pemelihara Lingkungan Hidup di Jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng. Inti dari pemahaman dan refleksi dari ke-15 informan, dan penulis merangkumnya kedalam empat bentuk reflektif, pertama, Kristus sang maha hadir yang dikemukakan oleh Bapak S1, Bapak S2 dan Ibu S. Kedua, Kristus adalah petani yang dikemukakan oleh Ibu D, Ibu T, Mba E dan Mbah Y. Ketiga, Kristus adalah tanah yang subur yang dikemukakan oleh Bapak M, Bapak S, Ibu E dan Bapak Pdt. C. Keempat, Kristus sang pemelihara yang dikemukakan oleh Mbah S, Bapak S, Bapak M, Mba M dan Mba N.

3.2.1 Kristus Sang Maha Hadir

Kristus yang dikenal dan disembah oleh umat Kristen adalah Kristus yang maha hadir, Maha hadir merupakan cara Kristus untuk tinggal bersama seluruh ciptaan-Nya. Kehadiran-Nya tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu dan kehadiran-Nya ditujukan kepada seluruh ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Meskipun terkadang kehadiran-Nya tidak terlalu dirasakan oleh ciptaan-Nya tetapi perlu

(20)

disadari bahwa Kristus selalu hadir bagi seluruh ciptaan-Nya.34 Kehadiran Kristus di bumi membawa keselamatan bagi seluruh ciptaan baik manusia, hewan dan

tumbuhan.35 Kehadiran-Nya merupakan bukti cinta kasih Kristus kepada

ciptaan-nya. Karena melalui kehadiran-Nya, Kristus menyelamatkan seluruh ciptaan-Nya

yang diwujudkan dalam kehidupan yang nyata.36

Hal ini dapat dibuktikan melalui keselamatan hidup yang diberikan Kristus kepada ciptaan-Nya. Menyelamatkan ciptaan adalah cinta. Cinta itu bersumber

pada cinta Sang Pencipta yang menciptakan alam ini, dari tiada menjadi ada.37

Maka dari itu penyelamatan ciptaan seharusnya dilakukan dengan penuh kelembutan. Kristus Maha hadir adalah Kristus yang tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya. Dimana pun ciptaan-Nya berada di situ Kristus pun ada, tanpa

kehadiran Kristus seluruh kehidupan ciptaan-Nya akan punah dan sia-sia.38

Kehadiran Kristus bagi ciptaan bukan hanya sekadar hadir, diam dan tinggal, namun Kristus turut berkarya dalam seluruh kehidupan ciptaan-Nya untuk menyelamatkan kehidupan yang semakin hari semakin punah. Kristus sungguh mencintai ciptaan-Nya dan tidak akan pernah meninggalkan ciptaan-Nya.

3.2.2 Kristus adalah Petani

Seorang petani akan selalu berjuang untuk menghidupkan pertaniannya. Hal yang biasa dilakukan oleh seorang petani ialah menyirami tanamannya setiap hari, memberikan pupuk, membersihkan lingkungan, melindungi tanaman dari hama dan lain-lain. Tujuan dari seorang petani memperjuangkan tanamannya ialah agar petani dapat melangsungkan kehidupannya dan dapat menopang kehidupan makhluk yang lainnya. Petani merupakan pengelola bagi tumbuhan, tanpa seorang petani tumbuhan mungkin tidak akan bisa berkembang biak dengan baik.

34 Perry Noble, “Tuhan Yang Maha Hadir” dalam buku What is God Really Like, ed. Craig

Groeschel (Jakarta: Benaiah Books, 2011), 103.

35 Bedasarkan hasil wawancara dengan Bapak S1, pada tanggal 14 Oktober 2018 pukul

19,20 WIB

36 Bedasarkan hasil wawancara dengan Ibu S, pada tanggal 15 Oktober 2018 pukul 19.45

WIB

37 Lukas Awi Tristanto, Hidup Dalam Realitas Alam (Sketsa-sketsa Ekoinspirasi),

(Yogyakarta: Kanisius, 2016), 16.

38 Bedasarkan hasil wawancara dengan Bapak S2, pada tanggal 22 April 2019 pukul 20.30

(21)

Kristus seorang Petani adalah Kristus yang menjaga alam semesta. Salah satu cara Kristus menjaga alam semesta ialah dengan memberikan pertumbuhan kepada pertanian. Hal tersebut dilakukan oleh Kristus dengan tujuan untuk menghidupi semua ciptaan-Nya. Kristus mengetahui bahwa pertanian memiliki manfaat yang banyak baik untuk hewan, manusia dan tumbuhan. Dalam memberikan pertumbuhan bagi pertanian, Kristus juga bekerja sama dengan manusia. Sebelum bekerja sama dengan manusia, Kristus terlebih dahulu memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengelola, menjaga dan

melindungi pertanian.39 Setelah memberikan kemampuan tersebut, barulah

Kristus bekerja sama dengan manusia. Manusia yang menanam, menyirami dan

Kristus yang memberikan pertumbuhan.40 Jauh sebelum Kristus bekerjasama

dengan manusia untuk menjaga pertanian. Kristus sudah terlebih dahulu melakukannya, Kristus menciptakan, menjaga dan mengelola ciptaan-Nya. Kristus merupakan sosok panutan bagi beberapa orang petani hingga masa kini.

Pengalaman hidup sebagai pemimpin jemaat sekaligus petani membuat seorang informan percaya bahwa dalam kemampuannya bertani tidak lepas dari

campur tangan Kristus.41 Sehingga informan dapat mengelola, merawat dan

melindungi pertaniannya dengan baik. Dengan menjadi seorang petani, Kristus dapat membuktikan bahwa Ia bukanlah pencipta yang tidak mengelola, menjaga dan melindungi ciptaan-Nya melainkan pencipta yang mau mengelola, menjaga dan melindungi ciptaan-Nya. Menjadi seorang petani juga merupakan cara Kristus

untuk berkarya atas ciptaan-Nya.42

3.2.3 Kristus adalah Tanah yang Subur

Tanah subur adalah salah satu unsur yang sangat vital bagi semua ciptaan, karena jika di bumi tidak terdapat tanah yang subur maka tanaman tidak akan bisa bertumbuh. Tanah yang subur dapat menghasilkan tumbuhan yang subur,

39 Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak M dan Bapak S1, pada tanggal 20 Oktober

2018 Pukul 18.00 WIB & 19 Oktober 2018 Pukul 13.00 WIB.

40 Bedasarkan hasil wawancara dengan Ibu E, pada tanggal 21 April 2019 pukul 17.45

WIB.

41 Bedasarkan hasil wawancara dengan Bapak C, pada tanggal 22 April 2019 pukul 17.00

WIB.

42 Bedasarkan hasil wawancara dengan Bapak C, pada tanggal 22 April 2019 pukul 17.00

(22)

tumbuhan yang subur akan menghasilkan oksigen, jika di bumi tidak terdapat tumbuhan secara otomatis juga tidak akan ada oksigen. Ketika oksigen tidak dihasilkan maka seluruh kehidupan ciptaan akan punah. Selain itu tumbuhan juga menghasilkan air bagi bumi, ketika tumbuhan tidak ada maka air di bumi pun tidak akan ada. Hal ini membuktikan bahwa tanah merupakan sumber kehidupan,

terlebih pada tanah yang memang subur dan kaya akan unsur hara dan air.43

Menurut beberapa informan Kristus adalah tanah yang subur. Tanah yang subur digambarkan sebagai Kristus yang mampu menopang pertumbuhan

pertanian.44 Kristus menolong pertanian dengan cara menjadi tanah yang subur.

Melalui tanah yang subur, Kristus membuat tanaman menjadi sehat, terhindar dari hama, menyimpan cadangan air lebih banyak, membantu proses pertumbuhan

tanaman menjadi lebih subur dan lain-lain.45 Informan menyakini bahwa tanpa

pertolongan Kristus para petani tidak akan mendapatkan hasil pertanian yang baik, sekali pun dengan pupuk yang berkualitas tinggi karena pertanian tanpa tanah yang subur tidak akan bisa hidup dan berkembang dengan baik.

Kristus adalah tanah yang subur merupakan gambaran bahwa Kristus memberikan kehidupan kepada ciptaan-Nya. Kristus sebagai tanah yang subur

adalah Kristus yang senantiasa menunjang kehidupan ciptaan-Nya.46 Kristus tidak

hanya menciptakan ciptaan-Nya melainkan turut dalam menolong dan menunjang kehidupan-Nya. Dalam menolong dan menunjang kehidupan ciptaan-Nya, Kristus sangat serius melakukannya Ia rela menjadi sama seperti ciptaan-Nya demi

keberlangsungan seluruh ciptaan-Nya termaksud menjadi tanah yang subur.47

3.2.4 Kristus Sang Pemelihara

Pemeliharaan artinya tidak ada satupun yang terlepas dari perhatian Kristus sehingga segala kebutuhan ciptaan-Nya selalu dipenuhi. Pemeliharaan

43 Lukas Awi Tristanto, Hidup Dalam Realitas Alam (Yogyakarta: Kanisius, 2016), 111. 44 Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu D, pada tanggal 14 Oktober 2018 pukul 18.00

WIB.

45 Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu T, pada tanggal 21 Oktober 2018 pukul 14.30

WIB.

46 Bedasarkan hasil wawancara dengan Mbah Y, pada tanggal 22 April 2019 pukul 19.00

WIB.

47 Bedasarkan hasil wawancara dengan Mba E, pada tanggal 21 April 2019 pukul 18.30

(23)

yang dilakukan oleh Kristus merupakan bukti dari cinta kasih Kristus kepada

ciptaan-Nya.48 Pemeliharaan Kristus terhadap ciptaan-Nya dapat dilihat dari

kelebihan yang dimiliki oleh semua ciptaan-Nya, melalui kelebihan tersebut Kristus menghendaki ciptaannya untuk saling menolong satu dengan yang

lainnya.49 Karena pada dasarnya seluruh ciptaan Kristus saling membutuhkan satu

dengan yang lain, jika satu ciptaan punah maka ciptaan lainnya pun akan punah.50

Namun banyak orang yang belum paham dengan pemeliharaan Kristus melalui kehadiran ciptaan lainnya, sehingga banyak orang yang tidak peduli dengan ciptaan lainnya. Contohnya membuang sampah sembarangan, bertani dengan menggunakan pupuk an-organik, memburu hewan liar secara brutal dan

lain-lain.51 Pemeliharaan Kristus bagi dunia merupakan hal yang sangat luar biasa

dimana Kristus memelihara ciptaan-Nya dengan begitu adil dan bijaksana. Cara Kristus memelihara ciptaan-Nya bukan saja dengan memberikan kelebihan kepada setiap ciptaan tetapi juga dengan memenuhi segala kebutuhan ciptaan

tanpa ada pengecualian.52

Beberapa informan percaya bahwa setelah Allah menciptakan ciptaan-Nya, Allah juga memelihara ciptaan-nya. Kristus memelihara ciptaan-Nya dengan cara memenuhi seluruh kebutuhan ciptaan dan menghadirkan ciptaan lainnya

sebagai pelengkap kebutuhan.53 Pemeliharaan Kristus terhadap ciptaan-Nya tidak

akan pernah berhenti karena Kristus sungguh mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Kristus memelihara seluruh ciptaan dengan cara memenuhi seluruh kebutuhan

ciptaan.54

3.3 Kesimpulan

48 Robert P. Borrong, Etika Bumi Baru (Jakarta: Gunung Mulia, 2000), 201.

49 Bedasarkan hasil wawancara dengan Mbah S, pada tanggal 21 Oktober 2018 pukul 13.30

WIB.

50 Bedasarkan hasil wawancara dengan Bapak S2, pada tanggal 15 Oktober 2018 pukul

18.00 WIB.

51 Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak M pada tanggal 20 Oktober 2018 Pukul

18.00 WIB.

52 Sunarko, OFM & Kristiyanto, OFM, Menyapa BUMI menyembah HYANG ILAHI

(Tinjaun Teologis atas Lingkungan Hidup) (Yogyakarta: Kanisius, 2012), 57.

53 Berdasarkan hasil wawancara dengan Mba M pada tanggal 16 April 2019 Pukul 08.00

WIB

54 Bedasarkan hasil wawancara dengan Mba N, pada tanggal 21 April 2019 pukul 19.30

(24)

Melalui pengalaman iman dan refleksi masing-masing informan, terdapat gambaran Kristus yang baru. Informan menyakini bahwa Kristus bukan saja menciptakan lingkungan hidup melainkan juga memelihara dan menghidupkan, memberikan perlindungan serta menyediakan keselamatan bagi lingkungan hidup. Berkaitan dengan hasil analisa yang ada, gambaran Kristus sebagai pemelihara lingkungan hidup dari para informan sangat dipengaruhi oleh pengalaman iman dan pengalaman hidup sehari-hari. Sehingga muncul berbagai macam gambaran Kristus yang memelihara lingkungan hidup yaitu: Kristus sang maha hadir, Kristus adalah petani dan Kristus adalah tanah yang subur dan kristus sang pemelihara. Gambaran Allah dalam Yesus Kristus tidak bisa dipahami lagi, hanya sebagai pencipta lingkungan hidup. Sebab Kristus juga memelihara lingkungan hidup. Kristus Pemelihara bukanlah Kristus yang “deisme” dimana setelah Kristus menciptakan ciptaan-Nya, Ia lalu pergi dan tidak campur tangan lagi.

4. Kajian Eko-Kristologi tentang Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup menurut Jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kec. Getasan.

Pada bagian ini penulis akan melakukan kajian Eko-Kristologi tentang pandangan jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng mengenai Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup.

4.1 Kristologi Umum dan Eko-Kristologi

Kristologi secara umum adalah ilmu pengetahuan tentang Kristus, yang secara sistematis menyelidiki siapa Kristus di dalam diri-Nya sendiri dan di dalam diri orang-orang yang percaya kepada-Nya. Menyelidiki Kristus dalam kehidupan setiap orang percaya adalah bentuk perenungan iman yang didorong oleh keingintahuan untuk mengenal Allah. Dengan demikian Kristologi bukanlah sekedar perbincangan tentang Yesus Kristus, tetapi penghayatan serta pengalaman orang kristen dalam berbagai perjumpaan dengan-Nya khususnya pergumulan iman umat tentang diri-Nya. Gronen menjelaskan bahwa Kristologi merupakan buah pikiran umat tentang Kristus berdasarkan hubungan pribadi, serta pengalaman umat dalam perbagai perjumpaan dengan-Nya. Melalui pengertian tersebut lahirlah berbagai pandangan tentang sosok Kristus.

(25)

Eko-Kristologi merupakan salah satu hasil refleksi umat beriman terhadap Kristus. Bermula dari keprihatinan umat kristen terhadap lingkungan hidup yang semakin hari semakin punah. Eko-Kristologi merupakan bentuk perjuangan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen untuk menggambarkan hubungan antara Kristus dan lingkungan hidup. Dimana secara garis besar mau dikatakan bahwa Kristus memiliki kaitan yang sangat erat dengan lingkungan hidup. Perjuangan ini bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan hidup dan memahami pribadi Yesus Kristus yang turut dalam menjaga dan memelihara lingkungan hidup.

4.2 Kajian Eko-Kristologi: Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup di mata Jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kec. Getasan.

4.2.1 Kristus yang “Bertanggung jawab” Hadir di Dalam Ciptaan.

Saat Kristus dikenal hanya sebagai pencipta, disitulah Kristus terlihat tidak bertanggung jawab terhadap ciptaan-Nya. Ciptaan-Nya berkembang biak dengan sendirinya tanpa pertolongan tangan Kristus. Namun hal ini tidaklah demikian, setelah Kristus di dalam Allah menciptakan semua ciptaan-Nya, Allah berhenti dengan pekerjaan-Nya itu lalu pada hari yang ketujuh Kristus hadir dan tinggal di dalam ciptaan-Nya. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian kedua tulisan ini. Kristus tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya, Ia selalu bersama-sama dengan

ciptaan-Nya.55

Kehadiran Kristus di dalam ciptaan-Nya merupakan bentuk tanggung jawab Kristus dalam memelihara ciptaan-Nya. Kristus tidak menghendaki Nya punah begitu saja sehingga Kristus turut dalam memelihara Nya. Kristus merupakan sang pencipta yang bertanggung jawab terhadap ciptaan-Nya, Ia rela hadir dan tinggal bersama ciptaan-Nya agar ciptaan dapat berkembang biak dengan baik. Kehadiran Kristus untuk memelihara ciptaan tertuju kepada seluruh ciptaan tanpa terkecuali.

4.2.2 Kristus Sang Guru dan Teladan juga Pemelihara Lingkungan Hidup

55 A. Sunarko & A. Eddy Kristiyanto, Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi (Tinjaun

(26)

Seseorang dapat dikatakan sebagai guru jika ia memiliki kemampuan tertentu, memiliki murid, bisa mengajar dan lain-lain. Yesus Kristus merupakan guru yang memiliki kemampuan lebih dan memiliki murid yang banyak. Ia selalu memberikan pengajaran kepada murid-muridnya baik secara langsung maupun melalui simbol-simbol. Yesus Kristus bukan saja seorang guru tetapi juga seorang teladan bagi para muridnya, Ia tidak hanya mengajar tetapi mempraktekan pengajaran yang diberikan. Kristus memberikan pengajaran kepada setiap orang yang ditemuinya baik secara langsung maupun tidak.

Di dalam keseharian-Nya Kristus sering disebut Rabi oleh para murid-Nya, Rabi artinya “guru”, guru yang memberikan teladan bagi para murid. Keteladanan Kristus dapat dilihat dari sikap hidup Kristus setiap hari, seperti tidak terobsesi untuk memiliki harta duniawi, rendah hati untuk bergaul dengan siapa saja, berlaku adil, berkarakter baik dan meninggalkan kehormatan diri demi mewartakan kerajaan Allah.

Keteladanan Kristus juga dapat dilihat dari sikap Kristus yang mau memelihara ciptaan-Nya. Sebelum Kristus memberikan tugas kepada manusia untuk mengurus bumi agar alam semesta tetap subur dan indah, Kristus terlebih

dahulu telah melakukan tugas yang diberikan kepada manusia itu.56 Kristus adalah

guru dan teladan bagi semua murid-Nya, dalam pengajaran-Nya Ia bukan saja berteori melainkan juga mempraktekkan pengajaran-Nya itu.

4.3 Kristus Sang Pemelihara bagi kehidupan Jemaat GKJTU Sumunar Krangkeng Kec. Getasan.

Kristus Sang Mahahadir: artinya di mana pun ciptaan berada di situ

Kristus berada, Kristus tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya. Ia selalu berada di dalam diri ciptaan, mulai dari diciptakannya ciptaan sampai dengan saat ini dan berlaku bagi seluruh ciptaan. Kristus adalah Tanah yang Subur: Kristus tanah yang subur merupakan gambaran Kristus yang menunjang kehidupan lingkungan hidup khususnya dalam pertanian karena dengan menjadi tanah yang subur Kristus dapat membantu pertumbuhan pertanian dari dalam. Kristus adalah

56 Ebenhaizer I Nuban Timo, Polifonik Bukan Monofonik (Salatiga: Satya Wacana

(27)

Petani: Kristus menjadi panutan dan rekan sekerja manusia dalam mengelola

pertanian. Kristus memberikan kemampuan kepada manusia untuk bertani dan mengajak manusia untuk berkerja sama. Manusia yang menanam, menyirami lalu Kristuslah yang mmberikan pertumbuhan bagi pertanian. Kristus Sang

Pemelihara: lahir di dalam lingkungan yang beragam membuat beberapa

informan percaya bahwa semua ciptaan tidak dapat hidup seorang diri saja tanpa pertolongan ciptaan lainnya. Setiap ciptaan memiliki kekurangan dan kelebihan, melalui kekurangan tersebut ciptaan dituntut untuk meminta pertolongan dari ciptaan lainnya. Sehingga tidak ada satu pun ciptaan yang dapat hidup seorang diri saja. Kelebihan dan kehadiran ciptaan lainnya merupakan bukti pemeliharaan Kristus bagi ciptaan, Kristus memenuhi kebutuhan ciptaan dengan cara menghadirkan ciptaan lainnya.

Pemahaman para responden mengenai sosok Kristus sang pemelihara lingkungan hidup dapat dibenarkan mengingat pandangan mereka lahir atas refleksi iman dan pengalaman hidup mereka. Hal ini dapat dibuktikan melalui paparan pada bagian sebelumnya bahwa Kristologi adalah usaha yang dilakukan oleh informan dalam merefleksikan iman kepercayaannya kepada Kristus sang pemelihara lingkungan hidup maka pemahaman mereka dibenarkan.

4.4 Kesimpulan

Melalui pekerjaan dan tempat tinggal yang dikelilingi oleh pertanian, mampu membuat responden merefleksikan Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup sesuai pengalaman iman dan tentu saja kontekstual. Awalnya memang sedikit sulit bagi informan memahami Kristus Sang pemelihara lingkungan hidup namun setelah diberikan penjelasan tentang Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup, informan dengan mudahnya menceritakan pengalaman imannya tentang Kristus Sang Pemelihara Lingkungan Hidup. Para informan kini telah memahami bahwa Kristus di dalam Allah bukan saja menciptakan lingkungan hidup melainkan juga turut dalam memelihara lingkungan hidup.

5. Penutup 5.1 Kesimpulan

(28)

Kristologi merupakan buah penghayatan serta pengalaman iman orang Kristen dalam berbagai perjumpaan dengan Kristus. Eko-Kristologi sendiri adalah penghayatan iman jemaat yang mencintai lingkungan hidup dan yang peduli terhadap lingkungan hidup kepada Kristus sang pemelihara lingkungan hidup. Para teolog ekologi memahami Kristus adalah pencipta yang tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya, Ia sungguh mencintai dan memelihara lingkungan hidup. Sama halnya dengan ciptaan lainnya, yang juga diciptakan dan dipelihara-Nya dengan cinta kasih. Kristus tidak dipandang hanya sebagai pencipta alam semesta saja namun juga dipandang sebagai Tuhan yang memelihara ciptaan-Nya. Kristus tidak menghendaki ciptaan-Nya punah begitu saja sehingga Ia juga turut dalam pemeliharaan ciptaan-Nya termasuk lingkungan hidup.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Gereja

Dalam kehidupan sosial khususnya di dalam komunitas bergereja saat ini, masih banyak gereja yang terlalu fokus terhadap pembangunan gedung gereja dan administrasi gereja ketimbang fokus pada lingkungan hidup. Gereja sebagai lembaga perpanjangan tangan Tuhan dalam memberitakan dan mengajarkan kasih harusnya mampu menjadi komunitas yang juga mengasihi lingkungan hidup. Lingkungan hidup merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan bergereja karena lingkungan hidup merupakan sumber kehidupan.

5.2.2 Bagi Masyarakat

Hidup dalam lingkungan hidup, seharusnya membuat masyarakat lebih menghargai lingkungan hidup, menghargai lingkungan hidup dengan cara menjaga dan memeliharanya. Masyarakat harus sadar bahwa hidupnya tergantung dengan lingkungan hidup. Jika masyarakat ingin hidupnya sehat dan baik maka lingkungan hidupnya juga harus sehat dan baik. Keberadaan lingkungan hidup berada di tangan masyarakat, jika masyarakat tidak perduli dengan lingkungan hidup maka semakin lama lingkungan hidup pun akan punah. Punahnya lingkungan hidup akan mengancam kehidupan masyarakat, jadi perlu bagi masyarakat untuk menjaga dan memelihara lingkungan.

(29)

Daftar Pustaka

A. Buku

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2005. Berry, Thomas. Kosmologi Kristen, Maumere: Ledalero, 2013. Borrong, Robert P. Etika Bumi Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2000.

Drummond, Celia Deane. Teologi & Ekologi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012. Keraf, Sonny. Etika Lingkungan Hidup, Jakarta: Kompas, 2010.

___________. Filsafat Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2014.

Leahy, Louis. Horizon Manusia Dan Pengetahuan ke Kebijaksanaan, Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif , Bandung: Remaja Rosdakaria, 1998.

Nawawi, Hadari. Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983.

Noble, Perry. “Tuhan Yang Maha Hadir” dalam buku What is God Really Like,

ed. Craig Groeschel, Jakarta: Benaiah Books, 2011.

O‟Collins, Gerald dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2006.

OFM, Nico Syukur Dister. Kristologi Sebuah Sketsa, Yogyakarta: Kanusius, 1987.

OFM, Sunarko & Kristiyanto, OFM, Menyapa BUMI menyembah HYANG ILAHI

(Tinjaun Teologis atas Lingkungan Hidup), Yogyakarta: Kanisius, 2012.

Rasmussen, Larry L. Komunitas Bumi Etika Bumi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.

Sudhiarsa, Raymundus. Menyapa Bumi menyembah Hyang Ilahi: Tinjauan

teologis atas Lingkungan Hidup, Yogyakarta: kanisius 2008.

Sunarko A & Kristiyanto A. Eddy. Menyapa BUMI Menyembah Hyang Ilahi

(Tinjaun Teologis atas Lingkungan Hidup), Yogyakarta: Kanisius, 2012.

_______.

Gereja & Kelestarian Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius,

2015,

Suryabarata, Sumardi. Metodologi Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998.

(30)

Timo, Ebenhaizer I Nuban. Polifonik Bukan Monofonik, Salatiga: Satya Wacana University Press, 2015.

Tristanto, Lukas Awi. Panggilan Melestarikan Alam Ciptaan, Yogyakarta: Kanisius, 2015,

Tristanto, Lukas Awi. Hidup dalam Realitas Alam (Sketsa-sketsa Ekoinspirasi), Yogyakarta: Kanisius, 2016.

Tjaya, Thomas Hidya. Kosmos Tanda Keangungan Allah, Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Tong, Stephen. Yesus Kristus Juruselamat Dunia, Surabaya: Momentum, 2004. Untung, Kasumbogo dan Dwi Warsito Nugroho, Gereja & Kelestarian

Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2015.

B. Jurmal

Mahzumi, Fikri. Renungan Ekoteologi (ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman Vol.

12, No 2, 2018).

Presbyterian Eco-Justice Task Force, Keeping and Healing the Creation (U. S. A: Louisville, 1990).

Pui-Lan, Kwok. Ecology and Christology (Los Angeles: Sage Publication, 2018).

Referensi

Dokumen terkait

Pada keadaan normal rongga pleura di penuhi oleh paru – paru yang mengembang pada saat inspirasi disebabkan karena adanya tegangan permukaaan ( tekanan negatif )

Dalam senyawa organologam dengan ikatan nonklasik ini terdapat jenis ikatan antara logam dengan karbon yang tidak dapat dijelaskan secara... ikatan ionik atau

Jika anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif di tempat kerja, sesuai

Hal ini sesuai dengan pendapat (Johnson & Fritz,1989 dalam Andarini, 2012) surfaktan adalah senyawa aktif permukaan yang dapat menurunkan tegangan permukaan yang

Yang dimaksud dengan “tidak dapat diberikan kepada Pimpinan dan Anggota DPRD secara bersamaan” adalah bahwa jika telah disediakan dan telah ditempati, dihuni, atau

Dalam konteks inilah pendidikan terasa semakin dituntut peranannya, khususnya untuk dapat menghasilkan manusia Indonesia berkualitas yang dapat memainkan peranannya sesuai

Staf sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Minahasa Utara, mempunyai tugas dan peran yang sangat penting dalam membantu dan melaksanakan tugas dan fungsi DPRD

Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal, yaitu hanya mengukur tingkat kepuasan pasien rawat jalan terhadap pelayanan kefarmasian di Instalasi Farmasi RSIA D,