• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIMENSI DAN NILAI TURUNAN SERTA KUALITAS SERAT KAYU KELAPA (Cocos nucifera) Oleh : ANI LESTARI NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DIMENSI DAN NILAI TURUNAN SERTA KUALITAS SERAT KAYU KELAPA (Cocos nucifera) Oleh : ANI LESTARI NIM"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

KAYU KELAPA (Cocos nucifera)

Oleh :

ANI LESTARI

NIM. 100500050

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

2013

(2)

KAYU KELAPA (Cocos nucifera)

Oleh :

ANI LESTARI

NIM.100500050

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

S A M A R I N D A

2013

(3)

KAYU KELAPA (Cocos nucifera)

Oleh

ANI LESTARI

NIM. 100500050

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

S A M A R I N D A

2013

(4)

Judul Karya Ilmiah

: Dimensi Dan

Nilai Turunan Serta

KualitasSerat Kayu kelapa (Cocos nucifera)

N a m a

: Ani Lestari

N I M

: 100 500 050

Program Studi

: Teknologi Hasil Hutan

Jurusan

: Teknologi Pertanian

? ? ?? ?? ??? ?

Lulus Ujian Pada Tanggal : Pembimbing,

M. Fikri Hernandi, S. Hut, MP NIP. 19701127 199802 1 001

Penguji I,

Ir. Iskandar, MP NIP. 19591119 198710 1 001

Menyetujui,

Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan,

Ir. H. Syafii, MP. NIP. 19680610 199512 1 001

Mengesahkan,

Ketua Jurusan Teknologi Pertanian

Heriad Daud Salusu, S.Hut, MP. NIP. 19700830 199703 1 001

Penguji II,

Ir. H. Saini, MP

(5)

ANI LESTARI. Dimensi dan Nilai Turunan Serta Kualitas Serat Kayu Kelapa

(Cocos nucifera) (di bawah bimbinganM. FIKRI HERNANDI).

Kayu Kelapa (Cocos nucifera)merupakan tumbuhan yang kayunya dapat dimanfaatkan sebagai industri perkayuan,industri kerajinan,industri mebel,dan ada juga yang memanfaatkannya untuk membuat lantai,selain itu kemungkinan juga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pulp dan kertas.Sehubungan dengan kebutuhan akan bahan baku pulp dan kertas maka apakah jenis kayu Kelapa (Cocos nucifera) baik atau tidaknya untuk digunakan, salah satu hal yang terpenting yang harus diketahui dari serat kayu kelapa digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas adalah dengan mengetahui dimensi dan nilai turunan seratnya

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dimensi, nilai turunandan kualitas serat kayu kelapasebagai dasar pemanfaatannya untuk bahan baku pulp dan kertas.

Contoh uji diambil dari tiga buah lempengan dari batang pohon kayu kelapa, kemudian dibagi menjadi tiga bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Selanjutnya dilakukan pemisahan serat (proses maserasi) dengan menggunakan metode SHULTZE pengamatan dan pengukuran meliputi dimensi dan nilai turunan serta kualitas seratnya.

Hasil pengukuran dimensi serat menunjukan bahwa panjang serat kayu kelapa1221,27 µm, diameter serat 35,27 µm, diameter lumen 30,95µm dan tebal dinding serat 2,15 µm. Hasil perhitungan nilai turunan seratnya meliputi runkel ratio (0,13),felting power (32,99),flexibility ratio(0,87),coefficient of regidity (0,25), sedangkan mulhstep ratio (22,58%). Ukuran serat kayu kelapa termasuk dalam klasifikasi serat pendek, diameter serat dan lumen sangat besar serta berdinding tipis. Serat kayu kelapa secara keseluruhanmemiliki nilai 500 dan termasuk dalam kelas kualita I, dengan nilai antara 451 sampai 600

Kata Kunci :Dimensi, dan Nilai Turunan Serta kualitasserat kayu kelapa (Cocos

(6)

ANI LESTARI,lahir pada tanggal 02 Januari 1992 di Kutai, Kabupaten Kutai Kartanegara. Merupakan anak ke 2 (dua)dari 4 (empat) bersaudara dari pasangan Bapak Jumani dan Ibunda Sunarti.

Tahun 1998 memulai pendidikan formal pada SD Negeri 014Bukit Pariaman, dan lulus tahun 2004. kemudian melanjutkan ke SMP YPMTenggarong Seberang, lulus tahun 2007, kemudian melanjutkan ke SMA YPM Tenggarong Seberang,lulus tahun 2010, dan pada tahun 2010 melanjutkan Pendidikan perguruan tinggi pada Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Pada tanggal 13Maret 2013 sampai 13Mei 2013 mengikuti program Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. ITCI Hutani Manunggal di Senoni.

(7)

Puji dan syukur kehadirat AllahSubhanahu Wata’ala,Karena atas berkat Rahmat-Nya Penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini di susun sebagai syarat untuk menyelesaikan tugas akhir di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan mendapat sebutan Ahli madya.

Pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada :

1. Dosen pembimbing, yaitu Bapak M. Fikri Hernandi, S. Hut. MP

2. Kepala Laboraturium Sifat Kayu dan Analisa Produk, IbuEva Numarini, S.Hut. MP

3. Dosen penguji yaitu, BapakIr. Iskandar, MPdan BapakIr. H. Saini, MP 4. Ketua Program studi Teknologi Hasil Hutan, yaitu Bapak Ir, H. Syafii, MP. 5. Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, yaitu Bapak Heriad Daud Salusu, S. Hut,

MP.

6. Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Yaitu Bapak Ir. Wartomo, MP.

7. Para Staff pengajar, administrasi dan PLP di ProgramStudi Teknologi Hasil Hutan.

8. Ayah dan Ibunda tercinta yang telah memberikan dukungan baik secara Materi maupun doa.

9. Dan Saya mengucapkan Banyak terima kasih kepada Juliana Baweq, Yusra Aswandira Sahrirserta rekan-rekan angkatan 2010 tanpa terkecuali yang telahbanyak mendukung dan terus memberikan semangat hingga penulisan karya ilmiah ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan, untuk itu diharapkan saran dan kritiknya. Namun demikian penulis berharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya.

Amin.

Penulis Kampus Sei. Keledang, Juli 2013

(8)

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN ...

i

ABSTRAK ...

ii

RIWAYAT HIDUP... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

I. PENDAHULUAN ...

1

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Serat... 4

2. Dimensi Serat ... 4

3. Klasifikasi Dimensi Serat... 5

4. Turunan Dimensi Serat ... 6

5. Kualitas Serat Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas ... 7

6. Klasifikasi Kayu Kelapa... 8

III. METODE PENELITIAN

1. Lokasi dan Waktu Penelitian... 10

2. Bahan dan Alat Penelitian ... 10

3. Prosedur Penelitian ... 11

4. Proses Maserasi... 12

5. Perhitungan Nilai Data ... ... 14

6. Pengolahan Data ... 16

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian ... 17

2. Pembahasan ... 20

V . KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan ... 29

2. Saran ... 30

DAFTAR PUSTAKA

(9)

Nomor

Tubuh Utama

Halaman

1. Persyaratan Dan Nilai Turunan Serat Sebagai Bahan

Baku Pulp Dan Kertas...

7

2. Rata-rata Dimensi Serat Kayu Kelapa...

17

3. Rata-rata Nilai Turunan Serat Kayu Kelapa...

18

4. Nilai Kualitas Serat Kayu Kelapa...

19

Lampiran

5. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Batang Pohon Kelapa(Cocos nucifera)...

33

6. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (2) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)...

34

7. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (3) Batang Pohon Kelapa (Cocos nucifera)...

35

8. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (4) Batang Pohon Kelapa (Cocos nucifera)...

36

9. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Tengah (1) Batang Pohon Kelapa (Cocos nucifera)...

37

10. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Tengah (2) Batang pPhon Kelapa (Cocos nucifera)...

38

11. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Tengah (3) Batang Pohon Kelapa (Cocos nucifera)...

39

12. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Tengah (4) Batang Pohon Kelapa (Cocos nucifera)...

40

13. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Ujung (1) Batang Pohon Kelapa (Cocos nucifera)...

41

14. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Ujung (2) Batang Pohon Kelapa (cocos nucifera)...

42

15. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Ujung (3) Batang Pohon Kelapa (Cocos nucifera) ...

43

16. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Ujung (4) Batang Pohon Kelapa (Cocos nucifera)...

44

(10)

Nomor

Tubuh Utama

Halaman

1. Cara Pengambilan Contoh Uji... 12

2. Cara Pengukuran Dimensi Serat... 14

3. Grafik Panjang Serat... 20

4. Grafik Diameter Serat... 21

5. Grafik Diameter Lumen... 21

6. Grafik Tebal Dinding Serat... 22

7. Grafik Runkel Ratio... 23

8. Grafik Felting Power... 24

9. Grafik Flexibility Ratio... 25

10. Grafik Coefition Of Regidity... 26

11. Grafik Mulhstep Ratio... 27

Lampiran

12. Pohon Yang Akan Ditebang... 45

13. Pengambilan Contoh Uji... 45

14. Lempengan kayu Pangkal,Tengah,dan Ujung... 46

15. Sampel Yang Berbentuk Splinter... 46

16. Memasukkan Kalium Chlorat... 47

17. Maserasi... 47

18. Contoh Gambar Serat Pengambilan Diameter Serat... 48

(11)
(12)

BAB I

PENDAHULUAN

Kayu merupakan sumber daya hutan yang sangat besar manfaatnya bagi kehidupan manusia. Kayu dapat digunakan sebagai bahan bangunan (balok, papan,reng,dansebagainya), bantalan kereta api, jembatan dan lain-lain. Bahkan dengan kemajuan teknologi kayu dapat lebih dimanfaatkan lagi, misalnya untuk pembuatan kayu lapis, papan blok, papan partikel, papan serat dan kertas. Anonim (1977).

Dengan berkembangnya jumlah penduduk mengakibatkan terus bertambahnya pula kebutuhan hidup dari berbagai sisi. Demikian pula halnya dengan keperluan akan kertas, jelas semakin dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Seperti diketahui bahwa kertas selama ini menggunakan kayu sebagai bahan utama, dengan semakin bertambahnya konsumsi akan kertas berarti semakin banyak kayu yang digunakan sebagai bahan baku. Sementara hutan sebagai pemasok bahan baku semakin terbatas jumlahnya.

Hal inilah yang mendorong dan melatarbelakangi adanya upaya-upaya untuk terus berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada guna mencari penyelesaian atas dilema pemenuhan kebutuhan dan upaya pelestarian sumber daya hutan.

Dewasa ini telah didirikan beberapa industri pengolahan kertas (pabrik kertas). Hal ini disebabkan oleh keperluan akan kertas untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang makin meningkat. Dengan demikian bahan baku untuk pembuatan kertas juga akan semakin meningkat.

(13)

Umumnya hampir semua jenis tumbuhan mengandung selulosa yang bersama-sama dengan hemiselulosa, lignin dan zat ekstraktif dapat digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas baik tumbuhan berkayu dan non kayu.Namun pada hakekatnya tidak semua jenis tumbuhan dapat menghasilkan pulp dan kertas dengan kualitas yang diharapkan. Dengan demikian ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh jenis tumbuhan tersebut apakah baik atau tidak dijadikan bahan baku pulp dan kertas.

Tanaman kelapa dikenal sebagai pohon yang mempunyai banyak kegunaan, mulai dari akar sampai pada ujungnya (daun), dari produk non-kuliner maupun kuliner/makanan, dan juga produk industri sampai produk obat-obatan. Bagi banyak negara di dunia,tanaman ini disebut sebagai "Pohon Kehidupan". Nama Botani “Cocos nucifera”.Keluarga palmae,keluarga palmae (juga dikenal dengan “Arecaceae”).

Tanaman Kelapa (pohon) dapat mencapai 15 sampai 30 meter di daerah perkebunan.Batang pohon di lingkari dengan paretan/goretan bekas daun-daun tua yang sudah rontok.Bagian paling atas dari batang di mahkotai dengan daun-daun berbentuk bunga mawar.

Kayu Kelapa (Cocos nucifera)merupakan tumbuhan yang kayunya dapat dimanfaatkan sebagai industri perkayuan,industri kerajinan,industri mebel,dan ada juga yang memanfaatkannya untuk membuat lantai,selain itu kemungkinan juga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pulp dan kertas. aSehubungan dengan kebutuhan akan bahan baku pulp dan kertas maka apakah jenis kayu Kelapa (Cocos nucifera) baik atau tidaknya untuk digunakan, salah satu hal yang terpenting yang harus diketahui dari serat kayu kelapa digunakan sebagai bahan

(14)

baku pulp dan kertas adalah dengan mengetahui dimensi dan nilai turunan seratnya.

Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui dimensi, nilai turunandan kualitas serat kayu kelapa sebagai dasar pemanfaatannya untuk bahan baku pulp dan kertas.

Diharapkan dari hasil pengamatan ini dapat memberikan infomasi dan gambaran mengenai dimensi, nilai turunan dan kualitas serat kayu kelapa sehingga dapat ditentukan peruntukannya di masa mendatang.

(15)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Serat

Menurut Brown, et al, (1949) dalam Sumiati (2001), Serat merupakan sel-sel yang memanjang kearah aksial, umumnya berdiameter kecil yang berangsur-angsur berkurang dan meruncing tiap ujungnya.

Haygreen dan Bowyer (1989), mengemukakan bahwa secara umum istilah serat sering digunakan untuk menyatakan semua sel-sel kayu yang terpisahkan dalam proses pembuatan pulp, sedangkan konteks morfologi kayu, istilah serat menyatakan semua sel-sel yang spesifik. Serat adalah xylem kayu khas yang panjang, meruncing dan biasanya berdinding tebal.

Selanjutnya Haroen (1989), mengemukakan bahwa serat berbentuk seperti tabung, yang kedua ujungnya meruncing. Setiap serat dikelilingi oleh suatu lapisan yang kaku dan banyak mengandung lignin yang disebut lamella tengah, kemudian bila serat dipotong secara melintang maka terlihat lubang dibagian tengah yang disebut lumen.

B. Dimensi Serat

Casey (1960) menjelaskan, bahwa panjang serat, diameter serat dan tebal dinding serat sangatlah bervariasi, tergantung dari jenis dan posisi serat dalam batang maupun tempat tumbuh.

MenurutLibby (1962) dalamSumiati (2001), disebabkan oleh adanya perbedaan dari jenis tumbuhan itu sendiri sebagai faktor yang mempengaruhi. Seperti persaingan sinar matahari dan ruangan yang berpengaruh terhadap

(16)

panjang serat.Untuk menyatakan dimensi serat kayu yang pada umumnya bervariasi, biasanya digunakan ukuran panjang serat, diameter serat dan diameter lumen sebagaimana yang dinyatakan olehHendayani (1988) dalam Sumiati (2001).

C.

Klasifikasi Dimensi serat

Wegenfeur (1984) yang dikutip oleh Hernandi (1996), mengklasifikasikan panjang serat, diameter lumen , tebal dinding serat dalam lima kelas :

1. Panjang serat :

a. Serat sangat pendek : < 1000 µm b. Serat pendek : 1000 – 1500 µm c. Serat sedang : 1500 – 2000 µm d. Serat panjang : 2000 – 2500 µm e. Serat sangat panjang : > 2500 µm 2. Diameter lumen :

a. Diameter sangat kecil : < 5 µm b. Diameter kecil : 5 – 10 µm c. Diameter sedang : 10 – 15 µm d. Diameter besar : 15 – 20 µm e. Diameter sangat besar : > 20 µm 3. Tebal dinding serat :

a. Berdinding sangat tipis : < 4 µm b. Berdinding tipis : 4 – 6 µm c. Berdinding sedang : 6 – 8 µm d. Berdinding tebal : 8 – 10 µm e. Berdinding sangat tebal : > 10 µm

(17)

D. Turunan dimensi serat

Adapun turunan dimensi serat diantaranya adalah :

1. Runkel Ratio, adalah perbandingan antara dua kali tebal dinding serat dengan diameter lumen. Perbandingan Runkel Ratio (bilang runkel) rendah, berarti memiliki dinding sel tipis dan lumen lebar, pada waktu pembentukan lembaran serat akan membentuk pita akan memperluas permukaan kontak serat memungkinkan terjadinya ikatan antar serat yang tinggi melalui gugus hidroksilnya.

2. Felting Power Slederness (daya tenun), adalah perbandingan antara panjang serat dengan diameter serat. Daya tenun serat sangat berpengaruh terhadap kekuatan sobek kertas, sedangkan bilangan flesibilitas mempunyai hubungan parabolis terhadap kekuatan panjang putus, tetapi berkorelasi negatif dengan koefisien kekakuan serat.

3. Muhlstep Ratio, adalah perbandingan antara luas penampang tebal dinding serat dengan luas penampang lintang serat. Muhlstep Ratio akan memberikan sifat kekuatan ledak dan kekuatan tarik yang tinggi.

4. Coefficient of Rigidity, adalah perbandingan antara tebal dinding serat dengan diameter serat.

5. Flexibility Ratio, adalah perbandingan antara diameter lumen dengan diameter serat. Serat dengan flexibility ratio tinggi berarti serat tersebut mempunyai tebal dinding yang tipis dan mudah berubah bentuk (Casey, 1960).

(18)

E.

Kualitas Serat

Anonim (1976), menuliskan persyaratan dan nilai serat bahan baku pulp dan kertas seperti tercantum pada tabel berikut ini:

Tabel 1. Persyaratan Dan Nilai Turunan Serat Sebagai Bahan Baku Pulp Dan Kertas

Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Syarat Nilai Syarat Nilai Syarat Nilai Syarat Nilai Panjang Serat > 2200 100 1600-2200 75 900 – 1600 50 < 900 25 Runkel Ratio < 0,25 100 0,25 - 0,50 75 0,50 - 0,1 50 > 1,0 25 Felting Power > 90 100 70 - 90 75 40 – 70 50 < 40 25 Mulhstep Ratio < 30 100 30 - 60 75 60 – 80 50 > 80 25 Flexibility Ratio > 0,80 100 0,60 - 0,80 75 0,40 - 0,6 50 < 0,40 25 Coeff of Rigidity < 0,10 100 0,10 - 0,15 75 0,15 - 0,2 50 > 0,20 25 Jumlah Nilai (451 - 600) (301 - 450) (151 - 300) 150 Sumber : Anonim (1976)

Berdasarkan ukuran dimensi dan nilai turunan seratnya maka dibuat klasifikasi kelas kualita serat untuk pulp dan kertas dengan ciri sebagai berikut :

1.

Kualita satu

Serat panjang sampai panjang sekali, dinding serat tipis sekali dan lumen lebar. Serat akan mudah menggepeng waktu digiling dan ikatan seratnya baik. Serat jenis ini diduga menghasilkan lembaran dengan kekuatan sobek dan retak serta kekuatan tariknya tinggi.

2. Kualita dua

Serat sedang sampai panjang, mempunyai dinding tipis dan lumen agak lebar. Serat akan mudah menggepeng waktu digiling dan ikatan seratnya baik. Serat jenis ini dapat menghasilkan lembaran kertas dengan kekuatan sobek, retak, dan tarik sedang.

(19)

3. Kualita tiga

Serat berukuran pendek sampai sedang, dinding serat dan lumen sedang. Dalam lembaran pulp dan kertas, serat agak pipih dan ikatan antar seratnnya masih baik. Diduga serat ini menghasilkan lembaran kertas dengan kekuatan sobek, retak, dan tarik sedang.

4. Kualita empat

Serat pendek, dinding serat tebal dan lumen sempit. Serat ini akan menggepeng waktu digiling, jenis ini diduga menghasilkan lembaran kertas dengan kekuatan sobek, retak dan tarik yang rendah.

F. Klasifikasi Kayu Kelapa (Cocos Nucifera)

Klasifikasi pohon kelapa adalah (menurut Sukamto) : Indonesia : Kelapa,nyiur,kelapa (Snd),krambi (JW ) Inggris : Coconut Melayu : Kelapa,Nyiur Vietnam : Dua Thailand : Maphrao Pilipina : Niyoq,Lobi,Inniung,Ongot,Gira Cina : Ye zi

Jepang : Yashi no mi,kokonattsu Kingdom : Plantea (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan Biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

(20)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu / Monokotil) Sub kelas : Arecidae

Ordo : Arecales

Famili : Arecaceae (Suku pinang-pinangan)

Genus : Cocos

(21)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Sifat Kayu dan Analisis Produk,Program Studi Teknologi Hasil Hutan Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Waktu penelitian dilakukan selama ±1bulan mulai dari tanggal 10 Juni sampai 10 Juli 2013,meliputi persiapan bahan baku, pengambilan bahan,proses maserasi,pengukuran serat,pengolahan data dan penulisan laporan.

B. Bahan dan Alat Penelitian

1. Bahan

a) Lempengan kayu pohon kelapa sebanyak tiga buah (pangkal, tengah, dan ujung )

b) Larutan asam nitrat (HNO3), 65 % c) Kalium chlorat (KCLO3)

d) Zat pewarna (Safranin) e) Alkohol 50 % f) Aquadest 2. Alat a) Parang b) Cain Saw c) Cutter

d) Alat tulis menulis e) Tabung reaksi

(22)

f) Tabung film g) Kompor listrik h) Pinset

i) Klem untuk tabung reaksi j) Corong kaca

k) Erlenmeyer l) Kertas saring m) Pipet

n) Objek dan cover glass o) Mikroskop

C. Prosedur Penelitian

1. Persiapan Contoh Uji

Contoh uji yang akan digunakan adalah kayu kelapa yang mempunyai diameter sekitar 20 cm dan tingginya sekitar 10 m, dari pohon yang tumbuh di sekitar Tenggarong Seberang (Separi 1).

Contoh uji diambil berdasarkan letak pada batang yang bebas cabang dengan tebalnya 5 cm yaitu mulai dari bagian pangkal, tengah dan ujung, kemudian masing-masing dibuat bentuk splinter.

Untuk lebih jelasnya, pengambilan dan pembuatan contoh uji dapat dilihat pada gambar berikut ini :

(23)

Gambar 1. Cara Pengambilan Contoh Uji

D. Proses Maserasi

Proses pemisahan serat dalam penelitian yang akan dilaksakan ini digunakan metode Schlutze, dimana urutan-urutan kerjanya sebagai berikut :

1. Contoh uji yang dibuat berbentuk splinter dari tiap-tiap bagian contoh uji. Kemudian dari tiap-tiap bagian tersebut diambil masing-masing 5 buah dan dimasukan kedalam tabung reaksi secara terpisah

(24)

2. Selanjutnya memasukkan pula asam nitrat (HNO3) dengan konsentrasi 65 % hingga kayu terendam.

3. Memasukkan kalium chlorat (KClO3)kedalam tabung,yang tujuannya adalah untuk mempercepat reaksi.

4. Tabung reaksi beserta isinya dipanaskan di atas kompor listrik hingga terdapat gelembung udara berwarna putih kekuning-kuningan yang cukup banyak sebagai tanda proses maserasi telah berlangsung dan serat mulai terpisah.

5. Setelah serat terlihat terpisah seluruhnya tabung reaksi beserta isinya tadi segera didinginkan dan serat dituang kedalam kertas saring yang berada pada corong kaca. Selanjutnya serat dicuci dengan aquadest sampai bahan kimia (zat asamnya) hilang.

6. Kemudian setelah bersih serat disimpan pada tabung film serta direndam dengan alkohol 50 % dan diberi zat pewarna (safranin) agar memudahkan pada saat pengukuran.

7. Pada pelaksanaan pengukuran serat, serat diambil dengan menggunakan pipet lalu di teteskan diatas gelas obyek dan ditutup dengan cover glass. Kemudian diperiksa dan dilakukan pengukuran di bawah mikroscop.

8. Cara Pengukuran Dimensi Serat.

Dimensi serat diukur menggunakan perbesaran 40 kali untuk pengukuran panjang dan 400 kali untuk pengukuran diameter serat dan diameter lumen. Hasil dikonversikan kedalam satuan micron (µ).

(25)

Bagian-bagian serat yang diukur, dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar2. Cara Pengukuran dimensi Serat

Keterangan :

W : Tebal dinding serat L : Panjang serat D : Diameter serat l : Diameter lumen

Dalam mengukur dimensi serat,diambil dari serat yang utuh. Pengukuran dilakukan sebanyak 300 serat pada masing-masing bagian dari mulai dari ujung, tengah hingga pangkal.

E. Perhitungan Nilai Data

Perhitungan panjang serat, diameter serat, diameter lumen dan tebal dinding serat nilai turunan serat untuk mengetahui kualitas serat menggunakan rumus sebagai berikut :

1. Panjang Serat

Menghitung panjang serat yang dikonversikan kedalam micron :

2. Diameter Serat dan Diameter Lumen

(26)

3. Tebal Dinding Serat

Untuk menghitung tebal dinding serat digunakan rumus :

4. Runkel ratio : 5. Felting power : 6. Flexibility ratio : 7. Coeficient of rigidity : 8. Mulhstep ratio : Dimana : D : diameter serat l : diameter lumen L : Panjang Serat W : tebal dinding serat

Obyek : saat pengukuran di mikroskop

40 : perbesaran pada lensa obyek mikroskop 1000 : perkalian ke satuan micron

(27)

F. Pengolahan Data

Untuk menghitung rata-rata dimensi dan nilai turunan serat kayu, menggunakan rumus sebagai berikut

(Sudjaya dalam Yusnandar, 1996):

Dimana : Keterangan :

= nilai rata-rata = jumlah nilai serat

n = jumlah serat yang diukur

n

x

x

?

?

x

(28)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Dimensi Serat

Dari hasil penelitian dan pengukuran terhadap dimensi serat kayu kelapa pada bagian pangkal, tengah dan ujung tercantum pada table berikut: Tabel 2. Rata-rata Dimensi Serat Kayu Kelapa

Bagian Panjang (µm) Ø serat (µm) Ø lumen (µm) Tebal Dinding Serat (µm) Pangkal 1 1255 40 35,5 2,25 Pangkal 2 1283 35,9 33 1,45 Pangkal 3 1141 40,2 36,7 1,75 Pangkal 4 1266 47,5 37 5,25 Total 4945 163,6 142,2 10,7 Rata-rata 1236,25 40,9 35,55 2,675 Tengah 1 1062 30,88 27,1 1,89 Tengah 2 1111 33,6 29,1 2,25 Tengah 3 1320 33,1 29,8 1,65 Tengah 4 1212 33,6 30,1 1,75 Total 4705 131,18 1161,1 7,54 Rata-rata 1176,25 32,79 29,02 1,885 Ujung 1 1162 32,4 28,9 1,75 Ujung 2 1253 30,3 26,3 2 Ujung 3 1364 32,4 28,82 1,79 Ujung 4 1226,24 33,4 29,2 2,1 Total 5005,24 128,5 113,22 7,64 Rata-rata 1251,31 32,125 28,305 1,91 Total Keseluruhan 4885,08 141,09 123,84 8,62 Rata-rata Keseluruhan 1221,27 35,27 30,95 2,15

(29)

2. Nilai Turunan Serat

Perhitungan terhadap nilai turunan serat berguna untuk menentukan kemungkinan batang kayu tersebut baik atau tidak bila digunakan sebagai alternatif bahan baku penghasil pulp.

Tabel 3. Rata-rata Nilai Turunan Serat Kayu Kelapa Bagian Runkel Ratio Felting Power Flexibility Ratio Coefition of Regidity Mulhstep Ratio (%) Pangkal 1 0,12 31,37 0,88 0,05 23,43 Pangkal 2 0,08 35,73 0,91 0,04 15,50 Pangkal 3 0,09 2,87 0,91 0,04 16,65 Pangkal 4 0,28 26,65 0,77 0,11 39,32 Total 0,57 96,62 3,47 0,24 94,9 Rata-rata 0,14 24,15 0,86 0,66 23,72 Tengah 1 0,13 34,39 0,87 0,06 22,98 Tengah 2 0,15 33,06 0,86 0,06 24,99 Tengah 3 0,11 39,87 0,90 0,04 18,94 Tengah 4 0,11 36,07 0,89 0,05 19,74 Total 0,5 143,39 3,52 0,21 86,65 Rata-rata 0,125 35,84 0,88 0,05 21,66 Ujung 1 0,12 35,86 0,89 0,05 20,43 Ujung 2 0,15 41,35 0,86 0,06 24,65 Ujung 3 0,12 42,09 0,88 0,05 20,87 Ujung 4 0,14 36,71 0,87 0,06 23,56 Total 0,53 156,01 3,5 0,22 89,51 Rata-rata 0,13 39,00 0,87 0,05 22,37 Total Keseluruhan 0,53 132 3,49 0,22 90,35 Rata-rata Keseluruhan 0,13 32,99 0,87 0,25 22,58

(30)

3. Nilai Kualitas Serat

Agar diperoleh gambaran mengenai kemungkinan penggunaan kayu kelapa pada bagian batang sebagai bahan baku pulp dan kertas dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 4. Nilai Kualitas Serat Kayu kelapa

Dimensi dan Nilai Turunan Serat

Pangkal Tengah Ujung

Rata-Rata Nilai Rata-Rata Nilai Rata-Rata Nilai

Panjang Serat (µm) 1236,25 50 1176,25 50 1251,31 50 Runkel Ratio 0,14 75 0,125 75 0,13 75 Felting Power 24,15 100 35,84 75 39 75 Flexibility Ratio 0,86 100 0,88 100 0,87 100 Coeficient of Rigidity 0,66 75 0,05 100 0,05 100 Muhlsteph Ratio 23,72 100 21,66 100 22,37 100

(31)

B. Pembahasan

1. Dimensi Serat

Hasil pengukuran dimensi serat meliputi panjang serat, tebal dinding diameter serat, diameter lumen dan nilai turunannya disajikan pada tabel 2 diatas, maka diperoleh panjang serat rata-rata pada kayu kelapa bagian pangkal 1236,25µm, bagian tengah 1176,25µm, dan ujung 1251,31µm dengan rata-rata keseluruhan 1221,27 µm. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik di bawah ini.

Gambar 3. Grafik Panjang Serat

Menurut Wegenfeur (1984) yang dikutip oleh Hernandi (1996), ukuran panjang serat kayu kelapa termasuk dalam kelas serat pendek karena panjangnnya lebih dari 1000 - 1500µm.

Berdasarkan hasil pengukuran rata-rata diameter serat seperti yang terlihat pada Tabel 2, diperoleh diameter serat rata-rata kayu kelapa pada pangkal 40,9µm, tengah 32,79µm dan ujung 32,12µm dengan rata-rata keseluruhan 35,27 µm. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik di bawah ini,

1120 1140 1160 1180 1200 1220 1240 1260

pangkal tengah ujung

(32)

Gambar 4. Grafik Diameter Serat

Berdasarkan klasifikasi klemm (1928) yang dikutip oleh Sumiati (2001)bahwa diameter serat kayu kelapa termasuk kategori serat yang berdiameter sangat besar karena berkisar >20 µm.

Selanjutnya dari pengukuran rata diameter lumen, diperoleh rata-rata diameter lumen pada bagian pangkal, tengah dan ujung berturut-turut : 35,55 µm, 29,02µm dan 28,30µm dengan rata keseluruhan 30,95µm.Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik di bawah ini,

Gambar 5. Grafik Dimeter Lumen 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

pangkal tengah ujung

Diameter Serat 0 5 10 15 20 25 30 35 40

pangkal tengah ujung

(33)

Dalam klasifikasiWagenfuer (1984) dikutip oleh Hernandi (1996)bahwa diameter lumen kayu kelapa termasuk kategori serat yang

berdiameter sangat besar karena berkisar > 20 µm

Untuk tebal dinding serat bagian, pangkal, tengah dan ujung pada kayu kelapa berturut-turut2,67µm,1,88 µm dan1,91 µm. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik di bawah ini,

Gambar 6. Grafik Tebal Dinding Serat

Dalam klasifikasiWagenfuer (1984) dikutip oleh Hernandi (1996), serat pada kayu kelapa termasuk dalam klasifikasi serat berdindingsangat tipis,karena tebal serat dinding berukuran Lebih kecil dari 4 µm. serat yang berdinding sangat tipis inimudah mengalami perubahan bentuk menjadi pipih, sehingga memberikan permukaan yang luas bagi ikatan antar seratnya. Selain itu serat yang berdinding sangat tipis ini akan menghasilkan kertas dengan kekuatan jebol, lipat, dan sobek sedang. MenurutSoenardi (1974) dalam Sumiati (2001), 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3

Pangkal tengah ujung

(34)

2. Nilai Turunan Serat

Dari hasil perhitungan nilai turunan serat kayu kelapaseperti tercantum pada tabel 3, nilai rata-rata runkel ratiopada bagian pangkal (0,14), tengah (0,12) dan ujung (0,13)dengan rata-rata keseluruhan 0,13. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik di bawah ini,

Gambar 7. Grafik Runkel Ratio

Melihat dari data dan grafik tersebut maka jika mengacu pada tabel klasifikasi persyaratan dan nilai serat sebagai bahan baku pulp dan kertas (Anonim, 1976), termasuk dalam kelas satu karena masuk dalam syarat < 0,25.

Jika serat ini di proses menjadi pulp dan kertas, maka akan mempunyai kelenturan yang sangat baik.

Kemudian dari hasil nilai perhitungan felting powerpada kayu kelapa bagian pangkal (24,15), tengah (35,84) dan ujung (39,0)dengan rata-rata keseluruhan 32,99. yang berarti termasuk kelas IV karena dari < 40(Anonim, 1978).Untuk lebih jelanya perhatikan grafik di bawah ini,

0,115 0,12 0,125 0,13 0,135 0,14 0,145

Pangkal Tengah Ujung

(35)

Gambar 8. Grafik Felting Power

Menurut Wasrin dan Iskandar (2006) yang dikutip Ingeten (2009) menyatakan, semakin rendah nilai felting power (daya tenun) maka sifat serat cenderung semakin tidak lentur. Daya tenun serat ini berpengaruh terhadap kekuatan sobek, artinya semakin rendah daya tenun maka semakin rendah pula kekuatan sobek dari kertas tersebut. Dalam menjalin ikatan antar serat, panjang serat merupakan faktor yang lebih penting karena panjang serat akan berperan dalam meningkatkan kekuatan sobek jika serat ini dijadikan kertas.

Rata-rata nilai flexibility ratio pada kayu kelapa bagianpangkal (0,86), tengah (0,88) dan ujung (0,87) dengan rata-rata keseluruhan 0,87. Untuk lebih jelasnya perhatiakan grafik di bawah ini,

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

Pangkal Tengah Ujung

(36)

Gambar 9. Grafik Flexibility Ratio

Dalam Anonim (1976), nilai ini termasuk kelas I, karena berada >0.80. Artinya serat tersebut mempunyaidinding serat yang mudah berubah bentuk, hal ini menyebabkan serat yang akan dihasilkan lembaran pulp dengan kekuatan cukup baik.

Nilai rata - rata coefficient of rigidity(koefisien kekakuan) serat dari kayu kelapa bagian pangkal (0,66), tengah (0,05) dan ujung (0,05)dengan rata-rata keseluruhan 0,25. Untuk lebih jelasnya perhatiakan grafik di bawah ini, 0,85 0,855 0,86 0,865 0,87 0,875 0,88 0,885

Pangkal Tengah Ujung

(37)

Gambar 10. Grafik Coefition Of Regidity

Berdasarkan Anonim (1976) termasuk kelas IV karena berada pada nilai > 0,20. Artinya serat tersebut mempunyai dinding serat tipis dan lumen lebar dalam pembentukan lembaran pulp, serat digepengkan dengan ikatan antar serat dan tenunan baik, menghasilkan lembaran dengan kekuatan sobek, letup dan tarik yang tinggi. Nilai coofficient of rigiditymerupakan perbandingan antara tebal dinding serat dengan diameter serat.

Nilai rata-rata muhlsteph ratio serat dari kayu kelapa bagian pangkal (23,72%), tengah (21,66%) dan ujung (22,37%)dengan rata-rata keseluruhan 22,58%. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik di bawah ini,

0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7

Pangkal Tengah Ujung

(38)

Gambar 11. Grafik Mulhstep Ratio

Berdasarkan klasifikasi Anonim (1976) dalam hubungannya dengan kualitas pulp maka serat dari kayu kelapa dapat digolongkan dalam kelas satu, yakni serat yang mempunyai nilai < 20%. Berdasarkan penilaian serat kayu Indonesia untuk bahan baku untuk bahan baku pulp dan kertas ternyata sama, termasuk dalam kelas satu, seratnya bersifat plastis dan memberikan lembaran yang lebih halus, mempunyai dinding serat tipis dan lumen lebar. Dalam pembentukan lembaran pulp, serat mudah digepengkan dengan ikatan antar serat dan tenunan yang baik, menghasilkan lembaran dengan keteguhan sobek, letup dan tarik yang sedang.

3. Kualita Serat Kayu kelapa

Dalam menentukan kualita serat sebagai bahan baku pulp dan kertas tidak hanya menentukan dari nilai dimensi dan nilai turunannya saja secara sendiri sendiri, tetapi berdasarkan kelenturan persyaratan dan nilai seratnya.

20,5 21 21,5 22 22,5 23 23,5 24

Pangkal Tengah Ujung

(39)

Dari Tabel 4 dapat diketahui perhitungan nilai kualita serat kayu kelapa yang diteliti. Berdasarkan persyaratan nilai kualita serat kayu kelapa secara keseluruhan termasuk dalam kelas kualita I, dengan nilai masing-masing pada ketiga bagian pangkal, tengah dan ujung dengan nilai yang sama yakni 500.

Dalam Anonim (1976), nilai yang berada di antara nilai 451 sampai 600 termasuk dalam kelas kualita I biasanya mempunyai dinding serat tipis sekali dan lumen lebar.Serat akan mudah menggepeng waktu digiling dan ikatan seratnya baik.Serat jenis ini diduga menghasilkan lembaran dengan kekuatan sobek dan retak serta kekuatan tariknya tinggi.

(40)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Hasil pengukuran dimensi serat menunjukan bahwa panjang serat kayu kelapa1221,27µm, diameter serat 35,27 µm, diameter lumen 30,95µm dan tebal dinding serat 2,15 µm.

2. Ukuran serat kayu termasuk kelapa dalam klasifikasi serat pendek, diameter serat dan lumen sangat besar serta berdinding tipis.

3. Hasil perhitungan nilai turunan seratnya meliputi runkel ratio(0,13),felting power(32,99),flexibility ratio(0,87),coefficient of rigidity(0,25), sedangkan mulhstep ratio(22,58%).

4. Serat kayu kelapa secara keseluruhanmemiliki nilai 500 dan termasuk dalam kelas kualita I, dengan nilai antara 451 sampai 600.

5. Pemanfaatan serat kayu kelapa sebagai bahan baku pulp dan kertas didugaseratnya akan mudah menggepeng waktu digiling dan ikatan seratnya baik, sehingga serat jenis ini diduga menghasilkan lembaran dengan kekuatan sobek dan retak serta kekuatan tariknya tinggi.

(41)

B. Saran

1. Disarankan pada penelitian selanjutnya untuk mencoba meneliti tentang proses pulping dari kayu kelapa ini, dengan harapan dapat diketahui dari hasil pemasakan yaitu rendemen dan kekuatan dari pulp bahan baku itu sendiri seperti kekuatan retak, tarik, jebol, lipat dan lain-lain.

(42)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1976. Vademicum Kehutanan Indonesia. Direktorat Jendral Kehutanan Departemen Pertanian . Jakarta

Anonim, 1977. Jenis-Jenis Kayu Indonesia. Balai Pustaka 1980.

Casey, 1960. Pulp and Paper. Volume II Second Edition. Interscience Publisher Inc. New York

Gledhiil.2008. The Names Of Plants. Cambrigde University Press.p.357.

Haroen. 1989. Pengetahuan Bahan Baku. Yayasan Pendidikan Bakti Industri. Sekolah Pulp dan Kertas. Bandung

Haygreen dan Bowyer. 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Hernandi. 1996. Variasi Serat Arah Radial, Longitudinal, dan Umur Pohon Serta Penentuan Kualitas Pulp Pada Kayu Leda. Fakultas Kehutanan UNMUL. Samarinda.

Ingeten. 2009. Dimensi Serat Sludge Primer Industri Pulp Dan Kertas. Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara.

Iskandar. 1997. Dimensi dan Nilai Serat Pulp Kraft Dari Jenis Kayu Mahang Damar, Merkubung, dan Karet , Fakultas Kehutanan UNMUL. Samarinda Sumiati. 2001. Dimensi dan Nilai Turunan Serat Cabang Pohon Sengon

Sebagai Alternatif Bahan Baku Pulp dan Kertas

Wasrin dan Iskandar, 2006. Sifat Kimia dan Serat Kayu Dari Tiga Provenances. Departemen hasil hutan. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan Bogor. Bogor.

(43)
(44)

Lampiran 1

Tabel5. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal ( 1 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1625 40 37,5 2 1550 52,5 50 3 1250 32,5 30 4 1800 30 27,5 5 1000 30 27,5 6 1475 32,5 30 7 850 52,5 47,5 8 1550 32,5 30 9 1250 50 45 10 1075 30 27,5 11 1250 37,5 35 12 925 37,5 35 13 1650 45 42,5 14 1250 40 37,5 15 1300 57,5 55 16 1175 40 37,5 17 1050 32,5 27,5 18 1275 30 27,5 19 1475 27,5 25 20 1375 45 42,5 21 1000 50 47,5 22 1250 42,5 37,5 23 750 32,5 30 24 1225 30 27,5 25 1000 30 27,5

(45)

Lampiran 2

Tabel6. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal ( 2 ) BatangPohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1250 37,5 35 2 1250 50 45 3 1225 40 37,5 4 950 25 22,5 5 650 35 32,5 6 1000 42,5 40 7 1350 15 12,5 8 1475 40 37,5 9 875 27,5 25 10 1250 27,5 25 11 1600 30 27,5 12 1550 35 32,5 13 1400 32,5 30 14 1375 55 52,5 15 1575 35 32,5 16 1375 37,5 35 17 1400 35 32,5 18 1425 50 47,5 19 1500 47,5 45 20 1450 35 32,5 21 825 37,5 35 22 1250 27,5 25 23 1325 32,5 30 24 1250 27,5 25 25 1500 40 30

(46)

Lampiran 3

Tabel7. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal ( 3 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1275 32,5 27,5 2 950 32,5 30 3 1250 27,5 25 4 800 32,5 30 5 1175 40 37,5 6 1025 45 40 7 1375 35 32,5 8 1525 30 27,5 9 925 30 25 10 1125 35 25 11 850 32,5 30 12 750 35 30 13 1200 30 27,5 14 850 27,5 25 15 1250 35 32,5 16 925 37,5 35 17 1375 40 37,5 18 750 35 32,5 19 1200 42,5 40 20 1250 40 37,5 21 1425 57,5 50 22 1000 50 47,5 23 1475 62,5 60 24 1450 67,5 62,5 25 1350 72,5 70

(47)

Lampiran 4

Tabel8. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal ( 4 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1000 55 50 2 1700 37,5 35 3 1500 45 42,5 4 1000 35 32,5 5 1700 30 27,5 6 1250 42,5 40 7 925 40 37,5 8 1125 42,5 40 9 1050 45 40 10 1875 37,5 35 11 950 30 47,5 12 1175 37,5 35 13 1275 32,5 30 14 1325 42,5 40 15 1400 40 37,5 16 775 42,5 40 17 1125 57,5 30 18 1175 55 30 19 1250 52,5 30 20 1750 55 52,5 21 1275 45 40 22 1500 40 37,5 23 1000 32,5 30 24 1300 65 60 25 1250 67,5 65

(48)

Lampiran 5

Tabel9. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Tengah ( 1 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1250 30 27,5 2 1000 25 22,5 3 625 32,5 27,5 4 1325 32,5 30 5 1250 37,5 32,5 6 1000 27,5 25 7 1000 25 20 8 750 25 22,5 9 625 27,5 25 10 1050 27,5 25 11 1250 35 30 12 1000 37,5 35 13 1150 30 25 14 1250 27,5 25 15 750 25 20 16 1325 37,5 35 17 1250 27,5 22,5 18 1300 35 30 19 1000 42,5 37,5 20 750 25 27,5 21 900 27,5 22,5 22 1250 37,5 32,5 23 1150 27,5 22,5 24 1325 37,5 32,5 25 1025 25 22,5

(49)

Lampiran 6

TabeL 10. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Tengah ( 2 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1250 37,5 35 2 900 35 32,5 3 925 37,5 35 4 1125 32,5 30 5 1550 32,5 30 6 625 30 27,5 7 1000 25 20 8 875 27,5 25 9 1000 30 25 10 825 32,5 30 11 1250 40 37,5 12 975 27,5 25 13 675 27,5 25 14 1075 42,5 37,5 15 750 37,5 35 16 925 32,5 30 17 1750 37,5 32,5 18 875 25 20 19 1250 32,5 30 20 750 37,5 32,5 21 1000 40 37,5

22

775

27,5

25

23 900 27,5 25 24 1375 27,5 25 25 1250 25 20

(50)

Lampiran 7

Tabel 11. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Tengah ( 3 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) I (µ) 1 750 37,5 35 2 825 40 35 3 2075 37,5 30 4 1500 37,5 32,5 5 875 27,5 25 6 1300 27,5 20 7 900 32,5 30 8 1500 40 37,5 9 1500 27,5 25 10 1475 32,5 30 11 1825 37,5 37,5 12 1250 37,5 37,5 13 1750 30 25 14 1300 27,5 20 15 1375 32,5 30 16 1800 27,5 22,5 17 725 37,5 35 18 1150 27,5 25 19 1000 27,5 25 20 1125 35 32,5 21 1300 40 37,5 22 1425 32,5 27,5 23 1800 32,5 30 24 1850 37,5 32,5 25 625 30 27,5

(51)

Lampiran 8

Tabel12. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Tengah ( 4 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1050 30 27,5 2 825 37,5 35 3 950 42,5 37,5 4 1750 32,5 30 5 850 32,5 30 6 750 40 32,5 7 1025 25 20 8 1125 37,5 32,5 9 1000 30 27,5 10 1000 35 30 11 1375 25 22,5 12 1000 37,5 35 13 1350 25 20 14 1250 30 27,5 15 1025 37,5 35 16 1800 32,5 30 17 1550 37,5 35 18 1125 30 27,5 19 2500 45 40 20 750 37,5 37,5 21 2000 40 37,5 22 750 37,5 32,5 23 1250 27,5 25 24 1000 30 25 25 1250 25 20

(52)

Lampiran 9

Tabel 13. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Ujung ( 1 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 900 30 27,5 2 1000 30 27,5 3 1625 27,5 25 4 675 27,5 25 5 1150 27,5 22,5 6 975 32,5 30 7 1550 35 32,5 8 1000 37,5 35 9 1450 40 35 10 1250 37,5 32,5 11 1025 30 25 12 1575 42,5 37,5 13 1500 45 40 14 1250 45 42,5 15 1000 35 30 16 1625 27,5 25 17 1200 25 20 18 1275 40 37,5 19 1275 37,5 32,5 20 1500 25 22,5 21 1000 27,5 25 22 1250 25 22,5 23 750 30 25 24 750 25 22,5 25 1250 25 22,5

(53)

Lampiran 10

Tabel14. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Ujung ( 2 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1000 32,5 25 2 1250 25 17,5 3 1250 25 17,5 4 1150 32,5 30 5 1000 30 25 6 1075 32,5 27,5 7 1375 35 32,5 8 1325 37,5 35 9 1125 25 22,5 10 1250 30 27,5 11 1000 30 27,5 12 1150 25 22,5 13 1250 32,5 25 14 750 37,5 35 15 1150 27,5 25 16 900 27,5 25 17 1450 25 22,5 18 1250 30 27,5 19 1250 35 32,5 20 2250 37,5 32,5 21 1475 25 20 22 1150 30 25 23 1500 32,5 27,5 24 1500 25 22,5 25 1500 32,5 27,5

(54)

Lampiran 11

Tabel15. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Ujung ( 3 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nucifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 1675 30 27,5 2 1500 35 30 3 1125 30 25 4 1750 32,5 27,5 5 1125 25 22,5 6 1175 32,5 27,5 7 1325 37,5 32,5 8 1125 40 37,5 9 1500 27,5 23 10 1000 32,5 30 11 875 37,5 32,5 12 1550 42,5 40 13 1525 40 37,5 14 1800 37,5 32,5 15 1325 27,5 25 16 1075 32,5 27,5 17 1250 30 27,5 18 2150 27,5 25 19 1375 32,5 25 20 1300 25 22,5 21 1250 27,5 25 22 1500 35 30 23 800 30 27,5 24 1275 37,5 32,5 25 1750 25 27,5

(55)

Lampiran 12

Tabel16. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Ujung ( 4 ) Batang Pohon kelapa (Cocos nicifera)

No L (µ) D (µ) l (µ) 1 956 30 25 2 1475 32,5 27,5 3 1250 32,5 30 4 1250 37,5 32,5 5 875 32,5 30 6 1500 25 22,5 7 675 32,5 30 8 1300 35 32,5 9 825 35 30 10 1125 42,5 37,5 11 950 37,5 35 12 1250 40 32,5 13 1000 27,5 25 14 2000 25 20 15 1125 37,5 32,5 16 1075 37,5 35 17 875 32,5 30 18 1750 37,5 32,5 19 950 27,5 25 20 1625 35 32,5 21 1375 37,5 30 22 1625 32,5 30 23 1500 35 32,5 24 950 30 25 25 1375 27,5 25

(56)

Lampiran 13

Gambar 12.Pohon yang akan di tebang

(57)

Lampiran 14

Gambar 14. Lempengan Kayu Pangkal,Tengah,dan Ujung

(58)

Lampiran 15

Gambar 16. Memasukkan kalium chlorat (KClO3)

(59)

Lampiran 16

Gambar 18. Contoh gambar Serat pengambilan Diameter Serat

Gambar

Tabel 1.  Persyaratan Dan Nilai Turunan Serat Sebagai Bahan  Baku Pulp Dan       Kertas
Gambar 1. Cara Pengambilan Contoh Uji
Tabel 2.  Rata-rata Dimensi Serat Kayu Kelapa Bagian Panjang  (µm) Ø serat(µm) Ø lumen (µm) Tebal Dinding Serat (µm) Pangkal 1 1255 40 35,5 2,25 Pangkal 2 1283 35,9 33 1,45 Pangkal 3 1141 40,2 36,7 1,75 Pangkal 4 1266 47,5 37 5,25 Total 4945 163,6 142,2 10
Tabel 3. Rata-rata Nilai Turunan Serat Kayu Kelapa Bagian Runkel  Ratio Felting Power Flexibility Ratio Coefition  of Regidity  Mulhstep Ratio (%) Pangkal 1 0,12 31,37 0,88 0,05 23,43 Pangkal 2 0,08 35,73 0,91 0,04 15,50 Pangkal 3 0,09 2,87 0,91 0,04 16,65
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui pengaruh komposisi bahan baku terhadap kualitas biobriket dari pelepah kelapa ( Cocos nucifera ) bagian pangkal

Adapun tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui pengaruh rasio biobriket pelepah kelapa ( Cocos nucifera ) bagian pangkal dengan perekat daun kembang sepatu