DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR...

Teks penuh

(1)

1 DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 2 1.3 Batasan Masalah ... ... 2 1.4 Tujuan Penelitian ... ... 3 1.5 Manfaat Penelitian ... 3

BAB III METODE PENELITIAN ... 4

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 4

3.2 Sistematika Penelitian ... 4

3.2.1 Alat penelitian ... 4

3.2.2 Data ... 4

3.3 Metode Penelitian ... 5

3.3.1 Diagram penelitian ... 6

3.3.2 Pembuatan peta kluster 200 x 200 grid ... 7

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 8

4.1 Hasil penelitian pemetaan kerapatan petir tipe CG+ ... 8

4.1.1 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Januari tahun 2009-2015... ... 8

4.1.2 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Februari tahun 2009-2015... ... 9

(2)

4.1.3 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Maret tahun

2009-2015... ... 10 4.1.4 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan April tahun

2009-2015... ... 12 4.1.5 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Mei tahun

2009-2015... ... 13 4.1.6 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Juni tahun

2009-2015... ... 14 4.1.7 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Juli tahun

2009-2015... ... 15 4.1.8 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Agustus tahun

2009-2015... ... 15 4.1.9 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan September tahun

2009-2015... ... 16 4.1.10 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Oktober tahun

2009-2015... ... 17 4.1.11 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan November tahun

2009-2015... ... 18 4.1.12 Pemetaan kerapatan petir tipe CG+ bulan Desember tahun

2009-2015... ... 19 4.2 Hasil penelitian pemetaan kerapatan petir tipe CG- ... 20

4.2.1 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Januari tahun

2009-2015 ... 20 4.2.2 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Februari tahun

2009-2015 ... 21 4.2.3 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Maret tahun

2009-2015 ... 22 4.2.4 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan April tahun

2009-2015 ... 23 4.2.5 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Mei tahun

(3)

4.2.6 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Juni tahun

2009-2015 ... 25 4.2.7 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Juli tahun

2009-2015 ... 26 4.2.8 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Agustus tahun

2009-2015 ... 27 4.2.9 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan September tahun

2009-2015 ... 28 4.2.10 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Oktober tahun

2009-2015 ... 29 4.2.11 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan November tahun 2009-2015 ... 30

4.2.12 Pemetaan kerapatan petir tipe CG- bulan Desember tahun

2009-2015 ... 31 4.3 Hasil penelitian pemetaan kerapatan petir tipe CG Gabungan ... 32

4.3.1 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Januari

tahun 2009-2015 ... 32 4.3.2 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Februari

tahun 2009-2015 ... 33 4.3.3 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Maret

tahun 2009-2015 ... 34 4.3.4 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan April

tahun 2009-2015 ... 35 4.3.5 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Mei

tahun 2009-2015 ... 36 4.3.6 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Juni

tahun 2009-2015 ... 37 4.3.7 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Juli

tahun 2009-2015 ... 38 4.3.8 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Agustus

tahun 2009-2015 ... 39 4.3.9 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan September

(4)

tahun 2009-2015 ... 40 4.3.10 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Oktober

tahun 2009-2015 ... 41 4.3.11 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan November

tahun 2009-2015 ... 42 4.3.12 Pemetaan kerapatan petir tipe CG gabungan bulan Desember

tahun 2009-2015 ... 43 4.4 Jumlah sambaran petir tertinggi CG+, CG-, dan tipe CG Gabungan

bulan Januari sampai Desember 2009-2015 ... 44 DAFTAR PUSTAKA

(5)

PEMETAAN DAN ANALISIS KERAPATAN PETIR TIPE CLOUD TO GROUND (CG) DI WILAYAH BALI TAHUN 2009-2015

Satrio Adi Pambudi ABSTRAK

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat rawan dengan bencana alam. Wilayah Kepulauan Indonesia secara geografis terletak di garis khatulistiwa yang panas dan lembab, sehingga mengakibatkan terjadinya hari guruh yang sangat tinggi dibanding daerah lainnya (100 – 260 hari per tahun). Salah satu bencana alam tersebut yaitu petir. Petir merupakan sebuah fenomena alam berupa kilatan cahaya disertai suara menggelegar yang sering dijumpai menjelang atau ketika hujan. Cloud to Ground (CG) merupakan salah satu jenis petir yang langsung menyambar ke tanah, paling berbahaya dan merusak. Beberapa wilayah di Indonesia sering mengalami kejadian sambaran petir, termasuk wilayah Bali. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat di wilayah Bali sejak awal tahun 2015 telah terjadi delapan kasus sambaran petir tipe CG. Guna mengetahui tingkat potensi petir di wilayah Bali dilakukan suatu analisis dengan menggunakan Sensor Boltek Stormtracker PCI,

software LD-2000 serta software Surfer 10. Hasil pemetaan berupa peta kontur dengan

metode Kriging tersaji wilayah-wilayah yang rawan terkena sambaran petir. Pemetaan petir dibagi menjadi tiga jenis antara lain CG+, CG- dan CG Gabungan. Hasil lain yaitu untuk daerah lautan lebih banyak terkena sambaran petir karena penguapan yang tinggi, sedangkan daratan terjadi hujan orografis sehingga banyak tumbuhnya awan kumulonimbus. Untuk wilayah Bali dan sekitarnya petir jenis CG- lebih banyak memiliki jumlah sambaran ketimbang CG+.

Kata Kunci: Petir, Cloud to Ground (CG), metode Kriging, Surfer 10

ABSTRACT

Indonesia is the islands very likely to natural disasters. An island Indonesia geographically located in the heat and humid equator, resulting in the day and the very high compared other region (100-260 day per years). One of natural disasters is the lightning. Lightning is a natural phenomena of flashes of light accompanied the thunderous often found prior to or while raining. Cloud to Ground (CG) is one type of lightnings that striking directly to the ground, most dangerous, and destructive. Several areas in Indonesia often find the thunderbolt attack, including Bali. BMKG noted that there has been eight cases thunderbolt type CG in Bali since the beginning of 2015. To investigate the potential of lightning in Bali, we had done an analysis by using Boltek Stormtracker PCI sensor, Software LD-2000, and Software 10. The results of the mapping is the contours maps by with the Kriging method presenting in areas where potentially hit by bolt of lightning. Mapping lightning divide into three types including CG+, CG-, All of CG. Another result which is to sea regions are more much affected by thunderbolt due to the high evaporation, while in land occuring orografis rain so that the number of cumulonimbus cloud growing a lot. In Bali and surrounding lightning type CG- are having more the number of strike rather than CG+.

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat rawan dengan bencana alam. Wilayah Kepulauan Indonesia secara geografis terletak di garis khatulistiwa yang panas dan lembab, sehingga mengakibatkan terjadinya hari guruh yang sangat tinggi dibanding daerah lainnya (100 – 260 hari per tahun). Kerapatan petir di Indonesia juga sangat tinggi yaitu 12 sambaran petir/km2 per tahun yang berarti setiap luas area 1 km2 berpotensi menerima sambaran petir sebanyak 12 kali setiap tahunnya (Aryanto, 2012). Petir merupakan kejadian alami atau loncatan listrik yang sangat besar di atmosfer bumi. Loncatan listrik dapat terjadi antara awan dengan udara, awan dengan awan, maupun awan dengan tanah (Jihad, 2014).

Beberapa wilayah di Indonesia sering mengalami kejadian sambaran petir, termasuk wilayah Bali. Daerah ini mempunyai topografi yang memungkinkan tumbuhnya awan-awan konvektif (awan yang dihasilkan oleh proses konveksi akibat pemanasan radiasi surya) dan di sekitar lereng pegunungan dengan bentuk geomorfologi yang landai dan curam selain itu perairan selatan Bali juga menyuplai uap air yang tinggi memungkinkan pertumbuhan awan konvektif dan arus konveksi (Pratama, 2013). Dari empat jenis petir yaitu petir awan ke tanah/ Cloud to Ground (CG), petir awan dalam awan/ Intercloud (IC), petir awan ke awan/ Cloud to Cloud (CC), dan petir awan ke udara/ Cloud to Air (CA), petir jenis Cloud to Ground (CG) inilah yang paling berbahaya karena memberikan efek langsung terhadap kehidupan makhluk hidup.

Cloud to Ground (CG) merupakan salah satu jenis petir yang langsung

menyambar ke tanah, paling berbahaya dan merusak ( Aryanto, 2012). Sambaran petir CG dapat langsung mengenai manusia, hewan maupun tumbuhan di permukaan bumi, selain itu juga dapat mengenai saluran-saluran listrik, tower, dan dapat menggangu langsung pada barang-barang elektronik (Jihad, 2014). Sambaran petir ke bumi menurut ion yang dilepaskan dibedakan menjadi sambaran CG positif dan CG negatif. Dimana CG positif berarti terjadi pelepasan kelebihan ion positif awan ke bumi dan CG negatif berarti terjadi pelepasan kelebihan ion negatif awan ke bumi (Fansury, 2012).

(7)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat di wilayah Bali sejak awal tahun 2015 telah terjadi delapan kasus sambaran petir tipe CG. Dari jumlah tersebut, enam kasus diantaranya menyambar orang hingga tewas dan dua kasus lainnya menghanguskan kandang ternak dan rumah warga. Setelah itu, tanggal 29 November 2015 dua petani di Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana tewas di areal persawahan setelah terjadi hujan lebat yang mengguyur daerah tersebut (www.nusabali.com).

Salah satu usaha awal untuk meminimalkan kerugian akibat petir adalah mengidentifikasi potensi kejadian petir di suatu daerah. Setiap daerah mempunyai potensi yang berbeda karena selain berhubungan dengan keadaan udara, potensi petir juga berhubungan dengan topografi daerah tersebut (Herlina, 2011). Guna mengetahui tingkat potensi petir di wilayah Bali dilakukan suatu analisis dengan menggunakan Sensor Boltek Stormtracker PCI, software LD-2000 serta software Surfer 10. Hasil analisis guna memberikan suatu informasi mengenai potensi petir di wilayah Bali tersaji dalam pemetaan kerapatan petir. Dengan informasi tersebut, dapat diketahui wilayah-wilayah khususnya di Bali yang berpotensi terjadi sambaran petir. Dalam penelitian tugas akhir yang akan dilakukan ini adalah “Pemetaan dan Analisis Kerapatan Petir Tipe Cloud to Ground (CG) di Wilayah Bali Tahun 2009-2015”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pemetaan petir tipe CG+ dan CG- terhadap ketinggian di wilayah Bali ?

2. Bagaimana analisis kerapatan sambaran petir tipe CG terhadap ketinggian di wilayah Bali ?

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah dari penelitian ini adalah :

1. Data sambaran petir tipe CG+ dan CG- di wilayah Bali tahun 2009-2015. 2. Pemetaan dan analisis kerapatan sambaran petir tipe CG terhadap ketinggian

(8)

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Membuat pemetaan sambaran petir tipe CG+ dan CG- di wilayah Bali tahun 2009-2015.

2. Menganalisis pemetaan kerapatan sambaran petir tipe CG terhadap ketinggian di wilayah Bali.

1.5 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, maka manfaatnya adalah dapat mengetahui sambaran petir tipe CG+ dan CG- di wilayah Bali dengan menggunakan Sensor Boltek

Stormtracker PCI dan memberi informasi berdasarkan analisis yang telah dihitung

melalui software LD-2000. Dengan adanya pemetaan kerapatan sambaran petir terhadapa ketinggian di wilayah Bali menggunakan software Surfer 10 akan tersaji informasi mengenai wilayah-wilayah rawan petir.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :