1
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARAIMPLIKASI UKURAN PERUSAHAAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP MANAJEMEN LABA
Gayatri1Prasetya Pria J2
(Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implikasi ukuran perusahaan dan pengungkapan corporate social responsibility terhadap manajemen laba. Peru-sahaan besar wajib melakukan pengungkapan corporate social responsibility dalam laporan keuangan untuk mendapatkan legitimasi dan nilai positif dari masyarakat.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaft-ar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014. Sampel dalam penelitian ini dipilih melalui teknik purposive sampling. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan merupa-kan variabel independen, manajemen laba merupamerupa-kan variabel dependen, dan pe-ngungkapan corporate social responsibility merupakan variabel intervening. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis).
Penelitian ini menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif pada pengungkapan corporate social responsibility. Hal ini menggambarkan bahwa peningkatan ukuran perusahaan akan meningkatkan pengungkapan corporate social
responsibility. Ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manajemen laba. Hal
ini menunjukkan bahwa peningkatan ukuran perusahaan akan menyebabkan ter-jadinya penurunan manajemen laba. Pengungkapan corporate social responsibility berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Kondisi ini menggambarkan bahwa peningkatan pengungkapan corporate social responsibility akan menyebabkan ter-jadinya penurunan manajemen laba. Pengungkapan corporate social responsibility mampu memediasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manjemen laba melalui pengungkapan corporate social responsibility.
Kata kunci: ukuran perusahaan, manajemen laba.
I. PENDAHULUAN
Laporan keuangan merupakan sarana dalam mengkomunikasikan in-formasi keuangan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengam-bil keputusan. Informasi yang terdapat dalam laporan keuangan diharapkan dapat membantu kreditor dan investor dalam mengambil keputusan yang ber-hubungan dengan dana yang mereka in-vestasikan. Laba merupakan salah satu parameter penting dalam laporan keuan-gan yang digunakan untuk menaksir
ki-nerja manajer. Kecenderungan untuk lebih memperhatikan laba disadari oleh pihak manajemen, khususnya manajer yang kinerjanya dinilai berdasarkan in-formasi laba. Hal tersebut dapat menim-bulkan perilaku menyimpang, salah satu bentuknya adalah manajemen laba.
Manajemen laba berada di daerah abu-abu antara aktivitas yang diijinkan oleh prinsip akuntansi atau merupakan sebuah kecurangan. Laporan keuangan dapat disebut sebagai cerminan perilaku etis dan tanggung jawab sosial pribadi
orang yang membuat laporan keuan-gan (Sulistyanto, 2008). Banyak ma-najer menganggap praktik manajemen laba sebagai tindakan wajar dan etis serta merupakan alat sah bagi manajer dalam melaksanakan tanggung jawab-nya untuk mendapatkan keuntungan atau return perusahaan (Fischer dan Rosenzweigh, 1995). Manajemen laba di-anggap perbuatan yang legal dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (Mer-chant dan Rockness, 1994).
Para pihak yang kontra terhadap manajemen laba mengungkapkan bah-wa manajemen laba merupakan tinda-kan yang kontroversial di dalam dunia akuntansi dan bisnis. Manajemen laba membawa pengaruh negatif dan cend-erung menyesatkan bagi pengguna infor-masi dalam pelaporan keuangan. Mana-jemen laba merupakan campur tangan manajer dalam proses penyusunan laporan keuangan yang bertujuan un-tuk memaksimalkan keuntungan priba-di (Schipper, 1989:92). Manajemen laba dilakukan dengan memilih metode atau kebijakan akuntansi untuk menaikkan laba atau menurunkan laba. Manajemen akan menggeser laba periode yang akan datang ke periode sekarang untuk me-naikkan laba dan menggeser laba peri-ode masa sekarang ke periperi-ode berikutn-ya untuk menurunkan laba. Manajemen laba merupakan manipulasi akuntansi dengan tujuan menciptakan kinerja pe-rusahaan agar terkesan lebih baik dari yang sebenarnya (Mulford dan Comis-key, 2010).
Manajemen laba timbul sebagai dampak dari masalah keagenan yang terjadi karena adanya ketidakselarasan kepentingan antara pemilik perusa-haan (prinsipal) dan manajemen (agen). Asumsi dalam teori keagenan yaitu mas-ing-masing individu termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga me-nimbulkan konflik kepentingan antara prinsipal dan agen. Pemilik perusahaan
sebagai prinsipal mengadakan kontrak untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Manajer sebagai agen termo-tivasi untuk memaksimalkan pemenu-han kebutupemenu-han ekonomi dan psikolo-gisnya dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi.
Konflik kepentingan antara ma-najemen dan pemilik perusahaan juga terjadi karena pemilik perusahaan tidak selalu dapat mengawasi aktivitas yang dilakukan manajer sehari-hari dan me-mastikan bahwa manajer bekerja sesuai dengan keinginan pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai kinerja perusahaan, sedangkan manajer memi-liki lebih banyak informasi mengenai perusahaan secara keseluruhan. Perbe-daan informasi yang dimiliki dapat mem-berikan peluang bagi manajer untuk melakukan manajemen laba.
Manajemen laba dilakukan melalui manipulasi laporan keuangan dengan memanfaatkan kebijakan akun-tansi. Manajemen laba yang dilakukan manajer dengan mengendalikan tran-saksi akrual, yaitu trantran-saksi yang ti-dak mempengaruhi aliran kas (Fried-lan, 1994). Transaksi akrual merupakan transaksi yang tidak mempengaruhi ran kas masuk (cash inflow) maupun ali-ran kas keluar (cash outflow). Akuntansi akrual terdiri dari discretionary accruals dan non discretionary accruals. Discre-tionary accruals merupakan akrual yang ditentukan manajemen. Manajer dapat memilih kebijakan dalam hal metode dan estimasi akuntansi. Non discretionary
ac-cruals merupakan akrual yang
ditentu-kan atas kondisi ekonomi (Xiong, 2006). Salah satu faktor yang mempen-garuhi praktik manajemen laba adalah ukuran perusahaan. Ukuran perusa-haan merupakan tingkat identifikasi be-sar atau kecilnya suatu perusahaan. Be-sar kecilnya ukuran perusahaan dapat didasarkan pada total nilai aktiva, total
3
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARApenjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya (Hilmi dan Ali, 2008). Semakin besar nilai aktiva mengindikasikan semakin banyak modal yang ditanam, semakin banyak penjua-lan mengindikasikan semakin banyak perputaran uang dan semakin besar ka-pitalisasi pasar mengindikasikan sema-kin dikenal masyarakat. Penelitian ini menggunakan total aset sebagai proksi ukuran perusahaan, karena total aset relatif lebih stabil dibandingkan dengan ukuran lain dalam mengukur ukuran perusahaan (Sudarmadji dkk., 2007).
Penelitian Muliati (2011) serta Jao dan Pagalung (2011) menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Perusahaan yang lebih besar kurang memiliki doron-gan untuk melakukan manajemen laba dibandingkan dengan perusahaan kecil, karena perusahaan besar dipandang leb-ih kritis oleh pemegang saham dan pleb-ihak luar. Namun, penelitian Rahmani dan Mir (2013) menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terha-dap manajemen laba. Perusahaan sar mempunyai insentif yang cukup be-sar untuk melakukan manajemen laba, karena perusahaan besar harus mampu memenuhi ekspektasi investor atau pe-megang sahamnya.
Perusahaan dalam menjalankan kegiatan usaha tidak hanya beropera-si untuk kepentingannya sendiri, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi
stakeholder seperti: pemegang saham,
kreditor, konsumen, supplier, pemerin-tah, masyarakat, analis dan pihak lain. Tanggung jawab sosial perusahaan atau
Corporate Social Responsibility (CSR)
merupakan suatu bentuk komitmen pe-rusahaan terhadap para stakeholder da-lam mempertanggungjawabkan dampak dari aktivitas operasi yang telah dilaku-kan perusahaan. CSR merupadilaku-kan pros-es pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan kegiatan ekonomi organ-isasi terhadap kelompok khusus yang
berkepentingan dan masyarakat secara keseluruhan (Hackston dan Milne, 1996). Perusahaan menjadi bagian dari suatu komunitas dan lingkungannya sendiri. Dampak yang ditimbulkan dari aktivi-tas perusahaan, akan sangat berpen-garuh terhadap masyarakat sekitarnya, sehingga apa yang dilakukan oleh pihak perusahaan akan kembali lagi kepada masyarakat tersebut. Oleh karena itu, manajemen perusahaan membutuhkan dukungan dari lingkungan masyarakat yang kondusif agar perusahaan dapat beroperasi dengan tenang.
Dalam pasal 74 dan pasal 66 ayat 1 Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 menyebutkan perusahaan yang kegiatan operasinya berhubungan dengan peng-gunaan sumber daya alam diwajibkan untuk melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan serta harus dimuat da-lam laporan tahunan perusahaan. Wa-laupun pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan bersifat wajib, namun item-item tanggung jawab sosial yang diungkapkan perusahaan masih mer-upakan informasi yang bersifat sukarela (Putra, 2013).
Ukuran perusahaan juga mer-upakan salah satu faktor yang mem-pengaruhi pengungkapan CSR. Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan ter-hadap pengungkapan CSR (Purwanto, 2011). Tanggung jawab sosial dipen-garuhi oleh ukuran perusahaan. Peru-sahaan besar cenderung mengungkap-kan pertanggungjawaban sosial yang lebih luas. Perusahaan besar akan me-ngungkapkan lebih banyak informasi dari pada perusahaan kecil, karena pe-rusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil (Kusumastuti, 2014). Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dilakukan untuk mendapat-kan nilai positif dan legitimasi dari mas-yarakat (Junitasari, 2015)
Di sisi lain, pengungkapan akti-vitas CSR dapat membatasi terjadinya
tindakan manajemen laba. Tujuan pe-rusahaan mengungkapkan banyak in-formasi tentang aktivitas CSR untuk membentuk profil organisasi yang lebih baik (Lanis dan Richardson, 2012). Seh-ingga perusahaan lebih berhati-hati da-lam melakukan praktik manipulasi laba karena tidak konsisten dengan tujuan pembentukan profil perusahaan. Prak-tek kecurangan seperti manajemen laba dapat menghapus pengaruh positif dari melakukan aktivitas CSR.
Berdasarkan penjelasan sebelum-nya, maka yang menjadi rumusan mas-alah dalam penelitian ini admas-alah sebagai berikut:
1) Apakah ukuran perusahaan berpen-garuh pada pengungkapan corporate
social responsibility?
2) Apakah ukuran perusahaan berpen-garuh pada manajemen laba?
3) Apakah pengungkapan corporate
so-cial responsibility berpengaruh pada
manajemen laba?
4) Apakah ukuran perusahaan berpen-garuh pada manajemen laba melalui pengungkapan corporate social
re-sponsibility?
II. LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Teori Keagenan
Hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (prinsipal) pekerjakan orang lain (agen) untuk mem-berikan suatu jasa dan mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan ke-pada agen tersebut. Jika agen tidak berbuat sesuai kepentingan prinsipal mengakibatkan terjadi konflik keagenan sehingga memicu biaya keagenan (Jen-sen dan Meckling, 1976).
Perusahaan mempunyai banyak kontrak seperti: kontrak kerja dengan para manajer dan kontrak pinjaman den-gan kreditur. Agen dan prinsipal ingin memaksimumkan utilitas masing-mas-ing melalui informasi yang dimiliki. Agen memiliki informasi lebih banyak (full
in-formation) dibandingkan dengan
prinsi-pal sehingga menimbulkan asimetry in-formation. Informasi yang lebih banyak dimiliki oleh manajer dapat memicu ma-najer melakukan tindakan yang sesuai dengan keinginan dan kepentingannya. Bagi pemilik modal atau investor akan sulit untuk mengontrol secara efektif tindakan yang dilakukan oleh manajer karena hanya memiliki sedikit informa-si. Kadangkala kebijakan tertentu yang dilakukan oleh manajer tanpa sepen-getahuan pemilik modal atau investor (Scott, 2000).
Asumsi teori agensi adalah mas-ing-masing individu termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan an-tara prinsipal dengan agen. Pemegang saham sebagai pihak prinsipal akan mengadakan kontrak untuk memaksi-mumkan kesejahteraan dirinya melalui peningkatan profitabilitas. Manajer se-bagai agen termotivasi untuk memaksi-malkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya dalam hal memper-oleh investasi, pinjaman, maupun kon-trak kompensasi. Perilaku oportunistik dari agen menyebabkan timbulnya ma-salah keagenan. Manajer akan memiliki dorongan untuk memilih dan menerap-kan metode akuntansi yang dapat mem-perlihatkan kinerja yang baik dengan tujuan mendapatkan bonus (Muliati, 2011).
2.2. Teori Legitimasi
Legitimasi organisasi merupakan sesuatu yang diberikan oleh masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat. Legitimasi memiliki man-faat untuk mendukung keberlangsun-gan hidup suatu perusahaan (O’Dono-van, 2002). Legitimasi dianggap sebagai penyamaan persepsi bahwa tindakan yang dilakukan oleh suatu entitas mer-upakan tindakan yang diinginkan, pan-tas ataupun sesuai dengan sistem
nor-5
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARAma, nilai, kepercayaan dan definisi yang dikembangkan secara sosial (Suchman, 1995). Legitimasi dianggap penting bagi perusahaan karena menjadi faktor strat-egis bagi perkembangan perusahaan ke depan.
Teori legitimasi dapat diterapkan pada perusahaan yang melakukan ke-giatan tanggung jawab sosial. Perusa-haan menjadi bagian dari suatu komuni-tas dan lingkungannya sendiri. Dampak yang ditimbulkan dari aktivitas perusa-haan akan sangat berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya, sehingga apa yang dilakukan oleh pihak perusahaan akan kembali lagi kepada masyarakat tersebut. Oleh karena itu, manajemen membutuhkan dukungan dari lingkun-gan masyarakat yang kondusif agar peru-sahaan dapat beroperasi dengan tenang. Perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatan berdasarkan nilai-nilai keadilan, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentingan un-tuk melegitimasi tindakan perusahaan (Haniffa dan Cooke, 2005). Perusahaan juga harus memperhatikan kepentingan berbagai pihak. Semakin banyak peru-sahaan melakukan kegiatan sosial yang memberikan dampak positif bagi pihak lain maka akan memberikan manfaat dan kemajuan tersendiri bagi perusa-haan. Untuk itu, sebagai suatu sistem yang mengedepankan keberpihakan ke-pada society, operasi perusahaan harus kongruen dengan harapan masyarakat (Retno dan Priantinah, 2012).
2.3 Teori Stakeholder
Stakeholders merupakan
indi-vidu, sekelompok manusia, komunitas atau masyarakat baik secara keseluru-han maupun secara parsial yang memili-ki hubungan serta kepentingan terhadap perusahaan (Kusumastuti, 2014). Peru-sahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendi-ri, namun harus memberikan manfaat
bagi stakeholder-nya seperti: pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pe-merintah, masyarakat, analis dan pihak lain (Ghozali dan Chariri, 2007). Pen-gungkapan corporate social responsibility menjadi penting karena para stakeholder perlu mengetahui dan mengevaluasi se-jauh mana perusahaan melaksanakan peranannya sesuai dengan keinginan
stakeholder, sehingga menuntut adanya
akuntabilitas perusahaan atas kegiatan
corporate social responsibility yang telah
dilakukan (Riswari, 2012).
2.4 Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan in-tervensi atau campur tangan mana-jer dalam proses penyusunan laporan keuangan dengan tujuan untuk memak-simalkan keuntungan pribadi (Schipper, 1989: 92). Manajer melakukan manaje-men laba dengan memilih metode atau kebijakan akuntansi untuk menaikkan atau menurunkan laba. Pada saat mana-jer menaikkan laba, maka manamana-jer meng-geser laba periode yang akan datang ke periode sekarang dan pada saat mana-jer menurunkan laba dengan menggeser laba periode masa sekarang ke periode berikutnya. Manajemen laba merupakan manipulasi akuntansi dengan tujuan menciptakan kinerja perusahaan agar terkesan lebih baik dari yang sebenarn-ya (Mulford dan Comiskey, 2010). Ban-yak manajer menganggap praktik mana-jemen laba sebagai tindakan wajar dan etis serta merupakan alat sah manajer dalam melaksanakan tanggung jawab-nya untuk mendapatkan keuntungan atau return perusahaan (Fischer dan Rosenzweigh, 1995). Manajemen laba yang banyak dilakukan selama ini diang-gap perbuatan yang legal atau tidak ber-tentangan dengan prinsip-prinsip akun-tansi yang berlaku umum (Merchant dan Rockness, 1994).
Pola yang dilakukan manajer da-lam melakukan manajemen laba(Scott, 2000), yaitu: pertama, taking a bath.
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru den-gan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa mendatang; kedua, income minimization. Dilakukan pada saat perusahaan mengalami ting-kat probabilitas yang tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkira-kan turun drastis dapat diatasi dengan laba periode sebelumnya; ketiga, income
maximization. Dilakukan pada saat laba
menurun. Tindakan atas Income
Maximi-zation bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus
yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelangga-ran perjanjian hutang; keempat, income
smoothing. Dilakukan perusahaan
den-gan cara meratakan laba yang dilapor-kan sehingga dapat mengurangi fluktu-asi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.
2.5 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan tingkat identifikasi besar atau kecilnya suatu perusahaan. Besar kecilnya uku-ran perusahaan dapat didasarkan pada total nilai aktiva, total penjualan, kapi-talisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Semakin besar nilai tersebut maka semakin besar pula ukuran peru-sahaan (Hilmi dan Ali, 2008). Ukuran perusahaan yang dipakai untuk menen-tukan tingkat perusahaan (Restuwu-lan, 2013) terdiri dari: pertama, tenaga kerja, merupakan jumlah pegawai tetap dan kontrak yang terdaftar atau bekerja di perusahaan pada suatu saat tertentu; kedua, tingkat penjualan, merupakan volume penjualan suatu perusahaan pada suatu periode tertentu; ketiga, to-tal utang ditambah dengan nilai pasar saham biasa, merupakan jumlah utang dan nilai pasar saham biasa perusa-haan pada tanggal tertentu; keempat, to-tal aset merupakan keseluruhan aktiva
yang dimiliki perusahaan pada saat ter-tentu.
2.6 Corporate Social Responsibility Corporate Social Responsibility
(CSR) merupakan proses pengkomuni-kasian dampak sosial dan lingkungan kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan masyarakat secara keseluruhan (Hackston dan Milne, 1996). CSR mer-upakan suatu sikap yang ditunjukkan perusahaan atas komitmennya terhadap para pemangku kepentingan perusa-haan atau stakeholders dalam memper-tanggungjawabkan dampak dari operasi atau aktivitas yang dilakukan perusa-haan tersebut baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan, serta menjaga agar dampak tersebut member-ikan manfaat kepada masyarakat dan lingkungannya (Arief dan Didik, 2014) .
Gagasan yang terkandung dalam CSR adalah menjadikan perusahaan ti-dak hanya dihadapkan pada tanggung jawab pada nilai perusahaan semata dalam hal ini adalah laporan keuangan-nya tetapi juga kewajiban terhadap
stakeholder. Tanggung jawab
perusa-haan yang ditunjukkan dalam CSR ha-rus berpijak pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Sehingga perusahaan dapat menggunakan informasi CSR se-bagai salah satu keunggulan kompeti-tif (Budi, 2013). Tanggung jawab sosial perusahaan memberikan keuntungan bersama bagi semua pihak, baik peru-sahaan, karyawan, masyarakat, pemer-intah maupun lingkungan. Manfaat CSR yang didapat oleh perusahaan (Sayidati-na, 2011) yaitu: pertama, Brand differ-entiation. Dalam persaingan pasar yang kian kompetitif, CSR bisa memberikan citra perusahaan yang khas, baik, dan etis di mata publik yang pada gilirann-ya menciptakan customer logilirann-yalty; kedua,
human resources. Program CSR dapat
membantu dalam perekrutan karyawan baru, terutama yang memiliki
kualifi-7
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARAkasi tinggi. Bagi staff lama, CSR dapat meningkatkan persepsi, reputasi dan dedikasi dalam bekerja; ketiga, license
to operate. Perusahaan yang
menjalank-an CSR akmenjalank-an mendorong pemerintah dan publik untuk memberi izin bisnis, karena dianggap memenuhi standar op-erasi dan kepedulian terhadap lingkun-gan dan masyarakat luas; keempat, risk management. Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh skandal korupsi, kecelakaan karyawan, atau kerusakan lingkungan. Membangun budaya “doing
the right thing” berguna bagi perusahaan
dalam mengelola risiko bisnis.
Pengungkapan CSR oleh perusa-haan di Indonesia adalah wajib dilaku-kan (mandatory disclosure). Pengung-kapan ini didukung oleh regulasi yaitu Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 pasal 74 menyatakan bahwa perusahaan yang kegiatan operasinya berhubun-gan denberhubun-gan penggunaan sumber daya alam diwajibkan melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan (Ghozali dan Chariri, 2007). Sedangkan pasal 66 ayat 1 menyatakan bahwa hal-hal yang harus dimuat dalam laporan tahunan perusahaan adalah pelaporan pelaksa-naan tanggung jawab sosial perusahaan. Walaupun demikian item-item tanggung jawab sosial yang diungkapkan perusa-haan masih merupakan informasi yang bersifat sukarela (Putra, 2013).
2.7 Pengembangan Hipotesis
Ukuran perusahaan adalah ting-kat identifikasi besar atau kecilnya suatu perusahaan. Ukuran perusahaan merupakan variabel penduga yang ban-yak digunakan untuk menjelaskan va-riasi pengungkapan dalam laporan ta-hunan perusahaan. Perusahaan besar mengungkapkan informasi yang lebih banyak dari pada perusahaan kecil. Ini terjadi karena perusahaan besar akan menghadapi resiko politis lebih besar dibanding perusahaan kecil
(Kusumas-tuti, 2014). Tekanan politis yang diha-dapi perusahaan besar adalah melaku-kan pertanggungjawaban di bidang CSR. CSR merupakan proses pengkomunika-sian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan masyarakat secara keseluruhan (Hackston dan Milne, 1996). Pengkomu-nikasian dilakukan melalui pengungka-pan dalam laporan keuangan tahunan sehingga dalam jangka panjang dapat terhindar dari biaya besar akibat tun-tutan dari masyarakat. Pengungkapan CSR ini dilakukan perusahaan untuk mendapatkan legitimasi dari
stakehold-ers (Nurkhin, 2009).
Hasil penelitian Kusumastuti (2014) menemukan bahwa ukuran pe-rusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan pertanggung jawaban sosial (CSR). Hasil penelitian Purwanto (2011) menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh sig-nifikan terhadap pengungkapan CSR. Primadewi dan Mertha (2014) juga mene-mukan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR. Hal ini menunjukkan bahwa pertanggu-ngjawaban sosial (CSR) dipengaruhi oleh ukuran perusahaan, dan perusahaan be-sar cenderung mengungkapkan pertang-gungjawaban sosial lebih luas diband-ingkan perusahaan kecil. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: H1: Ukuran perusahaan berpengaruh positif pada pengungkapan corporate
so-cial responsibility.
Ukuran perusahaan merupakan suatu skala untuk mengklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut be-berapa cara yaitu: total nilai aktiva, to-tal penjualan, kapito-talisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Semakin besar nilai item tersebut maka sema-kin besar pula ukuran perusahaan itu. Ukuran perusahaan digunakan sebagai proksi dari political cost, yang dianggap
sangat sensitif terhadap perilaku pelapo-ran laba (Watt and Zimmerman, 1978).
Pandangan terhadap hubungan ukuran perusahaan terhadap manaje-men laba ada dua yaitu: pertama, uku-ran perusahaan memiliki hubungan positif dengan manajemen laba, karena perusahaan besar memiliki aktivitas op-erasional lebih kompleks dibandingkan perusahaan kecil sehingga lebih memu-ngkinkan untuk melakukan manajemen laba; kedua, ukuran perusahaan memili-ki hubungan negatif dengan manajemen laba. Perusahaan besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba dibandingkan perusahaan kecil karena perusahaan besar dipandang leb-ih kritis oleh pemegang saham dan pleb-ihak luar. Perusahaan besar memiliki basis investor lebih besar, sehingga mendapat tekanan yang lebih kuat untuk menya-jikan pelaporan keuangan yang kredibel (Marihot dan Setyawan, 2007).
Hasil penelitian Muliati (2011) terhadap perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2001 sampai 2008 menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Pene-litian Jao dan Pagalung (2011) menya-takan ukuran perusahaan mempunyai hubungan negatif signifikan terhadap manajemen laba pada perusahaan man-ufaktur yang terdaftar di Bursa Efek In-donesia. Didukung juga oleh penelitian Nariastiti dan Dwi Ratnadi (2014) mene-mukan bahwa ukuran perusahaan ber-pengaruh negatif terhadap manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis dalam penelitian ini adalah se-bagai berikut:
H2 : Ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manajemen laba.
Corporate social responsibility
(CSR) merupakan suatu sikap yang di-tunjukkan perusahaan atas komitmenn-ya terhadap para pemangku kepentingan perusahaan atau stakeholders dalam
mempertanggungjawabkan dampak dari operasi atau aktivitas yang dilakukan pe-rusahaan tersebut baik dalam aspek so-sial, ekonomi, maupun lingkungan, serta menjaga agar dampak tersebut member-ikan manfaat kepada masyarakat dan lingkungannya (Arief, 2014). Pengungka-pan tanggung jawab sosial perusahaan dilakukan untuk mendapatkan nilai positif dan legitimasi dari masyarakat. (Junitasari, 2015)
Hubungan antara corporate social
responsibility dengan manajemen laba
dapat dijelaskan melalui teori legitima-si. Organisasi secara kontinyu akan me-mastikan bahwa perusahaan beropera-si dalam batasan dan norma yang ada pada masyarakat. Legitimasi mendasar-kan diri pada norma dan batasan yang ada di dalam masyarakat. Perusahaan yang memiliki komitmen kuat atas tang-gung jawab sosial untuk mendapatkan legitimasi masyarakat akan membata-si praktik manajemen laba. Manipula-si yang secara etika tidak bisa diterima kebanyakan orang akan lebih sedikit terjadi pada perusahaan yang memili-ki komitmen kuat atas tanggung jawab sosial (Shleifer, 2004). Perusahaan yang melakukan pengungkapan corporate
so-cial responsibility lebih banyak akan
ber-dampak pada kecilnya manajemen laba yang dilakukan.
Penelitian Putri (2012) menemu-kan bahwa pengungkapan corporate
so-cial responsibility berpengaruh negatif
pada manajemen laba. Penelitian Yip et
al. (2011) juga menemukan hubungan
negatif antara manajemen laba dengan corporate social responsbilty. Diperkuat dengan penelitian Kim et al. (2011) yai-tu corporate social responsbilty berpen-garuh negatif pada manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut maka hi-potesis dalam penelitian ini adalah:
H3: Pengungkapan corporate social
responsibility berpengaruh negatif pada
9
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARAPengungkapan informasi pada pe-rusahaan besar lebih banyak dibanding-kan perusahaan kecil. Perusahaan besar menghadapi resiko politis lebih besar dibandingkan perusahaan kecil (Kusu-mastuti, 2014). Perusahaan besar me-ngungkapkan aktivitas tanggung jawab sosialnya untuk mendapatkan nilai posi-tif dan legitimasi dari masyarakat. Legit-imasi dianggap penting bagi perusahaan karena akan menjadi faktor strategis bagi perkembangan perusahaan ke depan (Suchman, 1995). Legitimasi yang diper-oleh perusahaan tidak terlepas dari etika perusahaan dalam menjalankan aktivitas usahanya. Manipulasi yang secara etika tidak bisa diterima kebanyakan orang terjadi lebih sedikit pada perusahaan yang memiliki komitment kuat atas tang-gung jawab sosial (Shleifer, 2004). Peru-sahaan yang mempunyai tanggung jawab sosial cenderung membatasi penggunaan manajemen laba untuk memberikan in-formasi keuangan kepada investor yang lebih transparan dan dapat diandalkan (Kim et al. 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Ku-sumastuti (2014), Purwanto (2011), serta Primadewi dan Mertha (2014) menemu-kan bahwa ukuran perusahaan bergaruh positif signifikan terhadap pen-gungkapan corporate social responsibility. Sedangkan penelitian Putri (2012), Yip et
al. (2011), serta Kim et al. (2011)
mene-mukan bahwa terdapat pengaruh negatif antara manajemen laba dengan pengung-kapan corporate social responsibility. Ber-dasarkan uraian tersebut maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H4 : Ukuran perusahan berpengaruh negatif pada manajaemen laba melalui pengungkapan corporate social
responsi-bility.
III. METODE PENELITIAN
Kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini tampak dalam gambar 3.1.
Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memberikan informasi laporan tahunan pada situs www.idx.co.id. Objek penelitian ini ada-lah: ukuran perusahaan (X1), pengung-kapan Corporate Social Responsibility (X2), dan manajemen laba (Y). Objek penelitian ini adalah perusahaan manu-faktur yang terdaftar di Bursa Efek In-donesia periode 2012-2014. Perusahaan manufaktur dipilih sebagai sampel da-lam penelitian ini karena: pertama, in-dustri manufaktur merupakan jenis pe-rusahaan yang paling banyak terdaftar di Bursa Efek Indonesia sehingga variasi data untuk sampel akan semakin ban-yak; kedua, untuk menghindari adanya risiko industri yang berbeda antara sek-tor industri yang satu dengan yang lain
(industrial effect); ketiga, sektor
man-ufaktur memiliki kegiatan operasion-al yang kompleks dimulai dari kegiatan mengolah bahan baku hingga menjadi barang jadi, sehingga dapat dicurigai selama proses yang kompleks tersebut dapat terjadi praktik manajemen laba.
Sampel dalam penelitian ini dip-ilih secara purposive sampling. Data sekunder yang diperoleh kemudian diseleksi sesuai dengan kriteria yang sudah di tentukan. Variabel dalam pe-nelitian ini adalah ukuran perusahaan sebagai variabel independen, manaje-men laba sebagai variabel dependen dan
pengungkapan corporate social
responsi-bility sebagai variabel intervening.
Peng-gunaan pendekatan akrual untuk meng-hitung manajemen laba didasari alasan dalam perkembangan praktik manaje-men laba lebih banyak terjadi melalui rekayasa akrual. Karena akrual merupa-kan produk utama dari prinsip akuntan-si yang diterima umum dan manajemen laba lebih mudah terjadi pada laporan yang berbasis akrual dari pada berbasis kas. Pendekatan akrual lebih berpotensi untuk mengungkap praktik manajemen laba (Beneish, 2001). Manajemen laba dalam penelitian ini diproksikan den-gan discretionary accruals dan dihitung dengan menggunakan The Modified
Jones Model (Dechow et al., 1995).
Lang-kah-langkah dalam menghitung
discre-tionary accruals adalah:
Menghitung nilai total akrual dengan menggunakan pendekatan arus kas
(cash flow approach)
Dengan menggunakan koefisien regresi pada rumus sebelumnya nilai non dis-cretionary accruals (NDA) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Variabel independen dalam pe-nelitian ini adalah ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan merupakan tingkat identifikasi besar atau kecilnya suatu perusahaan yang dapat dinilai dari total nilai aktiva, total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagain-ya. Dalam penelitian ini digunakan total asset sebagai proksi ukuran perusahaan karena total aset merupakan ukuran yang relatif lebih stabil dibandingkan dengan ukuran lain (Sudarmadji dan Sularto, 2007). Ukuran perusahaan yang diukur dengan total aset akan ditrans-formasikan dalam logaritma untuk men-yamakan dengan variabel lain yaitu:
Variabel Intervening dalam pe-nelitian ini adalah pengungkapan
Cor-porate Social Responsibility (CSR). CSR
dalam penelitian ini diukur dengan in-deks pengungkapan sosial yang merupa-kan indeks dummy. Indeks perusahaan sampel diberi kode 1 jika perusahaan mengungkapkan item pada daftar per-tanyaan (checklist) dan diberi kode 0 jika perusahaan tidak mengungkapkan item tersebut yang sesuai dengan daftar per-tanyaan. Kemudian skor dari setiap item dijumlahkan untuk memperoleh total skor setiap perusahaan. Total skor diberi bobot dengan skor yang seharusnya ada dalam pertanyaan.
Instrumen pengukuran Corporate
Social Responsibility Index (CSRI) dalam
penelitian ini mengacu pada instrumen yang digunakan oleh Sembiring (2005) yang diadopsi dari penelitian Hackston dan Milne (1996) dengan mengelom-pokkan informasi CSR ke dalam tujuh kategori yaitu: lingkungan, energi, kes-ehatan dan keselamatan tenaga kerja, lain-lain tenaga kerja, produk, keterli-batan masyarakat, dan umum. Ketujuh kategori tersebut terbagi dalam 90 item pengungkapan. Berdasarkan peraturan Bapepam No. VIII.G.2 tentang laporan
...2
11
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARAtahunan dan kesesuaian item tersebut untuk diaplikasikan di Indonesia, maka dilakukan penyesuaian sehingga tersisa 78 item pengungkapan. 78 item tersebut kemudian disesuaikan kembali dengan masing–masing sektor industri sehing-ga item pengungkapan yang diharapkan dari setiap sektor berbeda–beda. Total
item CSR berkisar antara 63 sampai 78,
tergantung dari tipe industri perusa-haan. Total item pengungkapan yang ter-dapat dalam sektor manufaktur berjum-lah 78 item. Rumus perhitungan CSRI didasarkan pada penelitian Hannifa dan Cooke (2005) adalah:
Data sekunder diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaft-ar di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2012-2014. Populasi dalam pe-nelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2014. Pen-gambilan sampel dilakukan secara non
probability sampling dengan
menggu-nakan pendekatan purposive sampling (Sugiyono, 2013:122). Kriteria sampel yang akan digunakan yaitu: pertama, perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama tahun 2012-2014; kedua, perusahaan menerbitkan laporan tahu-nan selama tahun 2012-2014; ketiga, perusahaan tersebut mencantumkan pe-ngungkapan corporate social
responsibil-ity; keempat, perusahaan menggunakan
mata uang rupiah dalam laporan keuan-gannya.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode observasi non partisipan (Indriantoro dan
Supor-no, 2009: 159) dengan melakukan pen-gamatan, mencatat, serta mempelajari laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan manufaktur yang dipub-likasikan oleh PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui www.idx.co.id.
Penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur (path analysis) untuk pen-golahan data. Untuk menguji hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik yaitu: pertama, uji nor-malitas, untuk mengetahui model regresi yang dibuat berdistribusi normal atau ti-dak. Model regresi yang baik adalah data yang terdistribusi normal. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov. Jika As-ymp. Sig (2-tailed) lebih besar dari level of significant yang dipakai, maka dapat disimpulkan bahwa residual yang dia-nalisis berdistribusi normal; kedua, uji multikolinearitas, untuk mengetahui ada tidaknya variabel independen yang memiliki kemiripan dengan variabel in-dependen lain dalam satu model. Kemiri-pan antar variabel independen dalam suatu model akan menyebabkan terjad-inya korelasi yang sangat kuat antara suatu variabel independen dengan varia-bel independen yang lain. Multikolineari-tas dapat dilihat dari nilai tolerance atau
variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance lebih dari 10% atau VIF kurang
dari 10, maka dikatakan tidak ada multi-kolinearitas; ketiga, uji heteroskedastisi-tas, untuk menguji apakah dalam mod-el regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pen-gamatan lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedas-tisitas. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas atau tidak terjadi het-eroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala heteroskedastisitas digunakan metode Glejser, yaitu den-gan meregresi nilai absolut residual dari
model yang diestimasi terhadap variabel independen. Jika tidak ada satupun vari-abel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat, maka tidak ada gejala heteroskedastisitas; keempat, uji autokorelasi, untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada peri-ode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (Ghozali, 2013:110). Jika suatu model regresi mengandung gejala autoko-relasi, maka prediksi yang dilakukan den-gan model tersebut akan tidak baik atau dapat memberikan hasil prediksi yang menyimpang. Uji autokolerasi dalam pene-litian ini menggunakan Uji Lagrange
Multi-plier (LM test). Uji autokolerasi dengan LM
test digunakan untuk sample besar diatas 100 observasi. Uji ini memang lebih tepat digunakan dibandingkan uji DW teruta-ma bila sample yang digunakan relatif be-sar dan derajat autokolerasinya lebih dari satu. Uji LM akan menghasilkan statistik Breusch-Godfrey. Pengujian Breusch-God-frey (BG test) dilakukan dengan meregress variabel pengganggu (residual) ut menggu-nakan autogresive model dengan orde p: Apabila tampilan ouput menunjukkan bahwa koefisien parameter residual lag memberikan probabilitas signifikan di-atas 0,05 menunjukkan bahwa model uji tidak ditemukan kasus autokolerasi (Ghozali, 2013:118).
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jal-ur (path analysis). Analisis jaljal-ur (path
analysis) dikembangkan sebagai model
untuk mempelajari pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Langkah yang dilakukan dalam analisis jalur yaitu (Arief, 2005): pertama, mer-ancang model berdasarkan konsep teori-tis yakni: i) Variabel ukuran Perusahaan (X1) berpengaruh positif pada pengung-kapan corporate social responsibility (X2); ii) Variabel ukuran Perusahaan (X1)
ber-2) Meregresikan antara variabel ek-sogen terhadap variabel endogen un-tuk setiap persamaan struktural.
3) Mengkorelasikan antar variabel eksogen bila terdapat hubungan ko-relasional.
4) Menghitung koefisien jalur. Untuk menghitung varian variabel yang tidak diteliti dalam model (e1 dan e2) dapat ditunjukan persamaan sebagai beri-kut:
Keterangan:
e1,e2 = jumlah varian yang tidak diteliti dalam varian
R2 = nilai R square
5) Menghitung pengaruh langsung, tidak langsung, dan pengaruh total. a) Pengaruh langsung ukuran peru
sahaan ke pengungkapan corporate
social responsibility = P1
pegaruh negatif pada manajemen laba (Y); iii) Variabel pengungkapan corporate
social responsibility (X2) berpengaruh
negatif pada manajemen laba (Y); iv) Uku-ran Perusahaan (X1) berpegaruh negatif pada manajemen laba (Y) melalui pen-gungkapan corporate social responsibility (X2). Berdasarkan hubungan-hubungan variabel secara teoritis tersebut, dapat dibuat model dalam bentuk diagram jal-ur (path) yaitu:
1) Menentukan persamaan struk-tural dari model analisis.
13
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARAb) Pengaruh langsung ukuran perusa-haan ke manajemen laba = P2 c) Pengaruh langsung pengungkapan
corporate social responsibility ke
manajemen laba = P3
d) Pengaruh tidak langsung ukuran perusahaan ke manajemen laba melalui pengungkapan corporate
social responsibility = (P1 x P3)
e) Pengaruh total = P2 + (P1 x P3) Pengujian ini dilakukan untuk menge-tahui seberapa besar variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel indepen-den. Valid tidaknya suatu hasil penelitian tergantung dari terpenuhi atau tidaknya asumsi yang melandasinya. Terdapat in-dikator validitas di dalam analsis jalur, yaitu koefisien determinasi total. Total keragaman data dapat dijelaskan oleh model diukur dengan:
Untuk menguji signifikansi pen-garuh mediasi maka digunakan uji sobel (Ghozali, 2013: 255). Uji Sobel diformu-lasikan dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
a = Koefisien regresi dari variabel inde-penden (X) terhadap variabel moderator (M)
b = Koefisien regresi dari variabel mod-erator (M) terhadap variabel
dependen (Y)
sa= Standar eror dari a sb= Standar eror dari b
Tujuan dilakukan uji F adalah untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai sig-nifikansi ANOVA dapat dikatakan layak
uji apabila a α ≤ 0,05. Uji t dilakukan un-tuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen berpengaruh secara individual terhadap variabel dependen. Apabila P-value pada kolom Sig. kurang dari atau sama dengan 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak, begitu pula se-baliknya.
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Statistik
Dari 141 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2014 terdapat 78 pe-rusahaan yang memenuhi kriteria pur-posive sampling untuk dijadikan sampel penelitian yang ditampilkan pada tabel 4.1.
Hasil analisis statistik deskriptif nampak dalam table 4.2.
Berdasarkan tabel 4.2 dapat dili-hat nilai minimum untuk ukuran peru-sahaan adalah 11,1091 dan nilai mak-simumnya adalah 14,3730. Mean dari ukuran perusahaan adalah 12,294358. Hal ini berarti rata-rata ukuran peru-sahaan pada 78 peruperu-sahaan manufak-tur yang terdaftar di Bursa Efek Indo-nesia pada tahun 2012–2014 sebesar 12,294358. Standar deviasi untuk uku-ran perusahaan adalah 0,5948509. Art-inya terjadi penyimpangan nilai ukuran perusahaan terhadap nilai rata-ratanya
sebesar 0,5948509.
Nilai minimum untuk pengungka-pan CSR adalah 0,1026 dan nilai mak-simumnya adalah 0,5385. Mean dari pengungkapan CSR adalah 0,238179, artinya bahwa rata-rata pengungka-pan CSR pada 78 perusahaan manu-faktur yang terdaftar di Bursa Efek In-donesia pada tahun 2012-2014 sebesar 0,238179. Standar deviasi untuk pe-ngungkapan CSR adalah 0,0918800. Artinya terjadi penyimpangan nilai pe-ngungkapan CSR terhadap nilai ra-ta-ratanya sebesar 0,0918800.
Nilai minimum untuk manajemen laba adalah -0,4189 dan nilai maksim-umnya adalah 0,4589. Mean dari ma-najemen laba adalah 0,049636, hal ini berarti rata-rata manajemen laba pada 78 perusahaan manufaktur yang ter-daftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012–2014 sebesar 0,049636. Standar deviasi untuk manajemen laba adalah 0,1045967. Artinya terjadi penyimpan-gan nilai manajemen laba terhadap nilai rata-ratanya sebesar 0,1045967.
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel residualnya memiliki distribusi normal atau tidak normal. Model regresi yang baik adalah data yang terdistribu-si normal. Penelitian ini menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov untuk men-getahui data terdistribusi normal atau ti-dak. Jika Asymp. Sig (2 tailed) lebih be-sar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa residual yang dianalisis berdistri-busi normal. Hasil uji normalitas untuk regresi sub struktur 1 dan sub struktur 2 sebagai Nampak dalam tabel.
Berdasarkan tabel 4.3. dapat di-lihat bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,113. Nilai tersebut
menunjuk-kan bahwa secara statistik nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 seh-ingga residual model regresi yang dianal-isis terdistribusi normal.
Berdasarkan tabel 4.4. dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,057. Nilai tersebut menunjukkan bahwa secara statistik nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 sehingga residual model regresi yang dianalisis terdistribusi normal.
Pengujian multikolinearitas dilaku-kan untuk mengetahui apakah pada sebuah model regresi ditemukan adanya korelasi an-tar variabel independen. Uji multikoliniear-itas dilakukan dengan melihat Varians In-flation Factor (VIF). Model regresi dikatakan bebas dari masalah multikolinearitas, apabi-la niapabi-lai tolerance lebih besar dari 10 persen dan VIF kurang dari 10. Tabel 4.5. menyajik-an hasil uji multikolinearitas penelitimenyajik-an pada substruktur 2.
Tabel 4.5. menunjukkan bahwa nilai tolerance pada masing-masing vari-abel lebih besar dari 10 persen (0,1) dan VIF kurang dari 10. Hal ini berarti model regresi bebas dari masalah multikolin-earitas.
Uji heterokedastisitas dilakukan untuk mengetahui bahwa pada model regresi terjadi ketidaksamaan varian. Pada pe-nelitian ini, uji yang digunakan untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas dalam model regresi adalah metode Gle-jser, yaitu dengan meregresikan nilai dari seluruh variabel independen dengan nilai mutlak (absolute) dari nilai residu-al sehingga dihasilkan probability vresidu-alue. Kriteria pengujiannya adalah jika
prob-ability value <0,05 maka terjadi
15
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARA>0,05 maka tidak terjadi heterokedastis-itas. Hasil uji heterokedastisitas disajik-an pada tabel 4.6.
Berdasarkan tabel 4.6. dapat dili-hat bahwa tidak terdapat pengaruh an-tara variabel bebas terhadap absolute residual baik secara serempak maupun secara parsial karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, model yang dibuat dalam penelitian ini tidak mengandung heterokedastisitas, sehingga layak untuk diprediksi.
Uji autokorelasi bertujuan un-tuk menguji apakah dalam model re-gresi linier ada korelasi antara kesala-han pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Uji autokolerasi dalam pe-nelitian ini menggunakan Uji Lagrange
Multiplier (LM test). Apabila tampilan
ou-put menunjukkan bahwa koefisien pa-rameter untuk residual lag 2 dan 4 (RES 2 dan RES 4) memberikan probabilitas signifikan > 0,05 hal ini menunjukkan bahwa model uji tidak ditemukan kasus autokolerasi. Hasil uji autokorelasi un-tuk regresi substruktur 1 dan substruk-tur 2 disajikan pada tabel 4.7.
Berdasarkan tabel 4.7. dapat dili-hat bahwa nilai signifikansi residual lag 2 (RES2) dan residual lag 4 (RES4) lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, mod-el yang dibuat dalam penmod-elitian ini tidak mengandung autokolerasi, sehingga lay-ak untuk diprediksi.
Penelitian hipotesis pada peneli-tian ini menggunakan analisis jalur (path
analysis) yang dibantu dengan program Statistic Package for the Social Sciences
(SPSS). Hasil analisis jalur (path
analy-sis) tabel 4.8. menunjukkan sub
struk-tur 1 dan pada tabel 4.9. menunjukkan sub struktur 2.
Berdasarkan tabel 4.8. dan tabel 4.9. diketahui persamaan sub struktur sebagai berikut:
Berdasarkan model sub struk-tur 1 dan sub strukstruk-tur 2, selanjutnya menghitung standar error model sehing-ga dapat dibentuk model diagram jalur akhir.
Berdasarkan analisa jalur dapat dihitung besarnya pengaruh langsung (direct effect), Pengaruh tidak langsung (indirect effect) serta pengaruh total (to-tal effect) antar variabel seperti nampak dalam tabel 4.10
Pemeriksaan validitas model dilakukan dengan menghitung koefisien determinasi total sebagai berikut:
Berdasarkan perhitungan diatas, nilai koefisien determinasi total sebesar 0,346 berarti variasi data yang dapat dipengaruhi model sebesar 34,6 persen, sedangkan sisanya 65,4 persen dijelas-kan oleh variabel lain diluar model dan error.
Pengaruh mediasi ditunjukkan oleh perkalian koefisien (P1 x P3), nilai pekalian koefisien tersebut signifikan atau tidak diuji dengan sobel test se-bagai berikut :
Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat dihitung nilai t hitung pengaruh mediasi sebagai berikut :
Pengujian kelayakan model dilaku-kan sebelum menguji hipotesis. Jika hasil dari uji F signifikan, maka kedua variabel bebas memengaruhi secara simultan vari-abel terikat dan model yang digunakan di-anggap layak uji. Berdasarkan Tabel 4.8. dan Tabel 4.9. dapat dilihat nilai signifikan uji F sebesar 0,000 lebih kecil dari 5 pers-en. Hal ini mengindikasikan bahwa variabel bebas berpengaruh secara serempak pada variabel terikat dengan tingkat signifikansi 5 persen, sehingga model ini dianggap layak
uji dan pembuktian hipotesis dapat dilaku-kan.
4.2. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan un-tuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas secara individual terhadap variabel terikat. Berdasarkan tabel 4.8. dan tabel 4.9. maka hasil uji signifikansi sebagai berikut.
4.2.1 Pengaruh ukuran perusahaan (X1) pada pengungkapan corpo
rate social responsibility (X2)
1) Formulasi hipotesis
Ho : β1=0, artinya variabel uku ran perusahaan tidak berpen garuh positif pada pengungka pan corporate social responsi
bility.
H1 : β1>0, artinya variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif pada pengungkapan
cor-porate social responsibility
2) Taraf nyata : α = 5 persen = 0,05 3) Menetapkan kriteria keputusan:
H1 diterima jika tingkat signifikansi t ≤ α = 0,05
H1 ditolak jika tingkat signifikan si t > α = 0,05
4) Simpulan
Hasil Tabel 4.8. menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (0,000<0,05), yang artinya H1 diterima. Hal ini menun-jukkan bahwa ukuran perusahaan berpen-garuh positif pada pengungkapan corporate
social responsibility dengan nilai P1 (stan-dardized coefficients) adalah 0,531.
4.2.2 Pengaruh ukuran perusahaan (X1) pada manajemen laba (Y) 1) Formulasi hipotesis
Ho :β1=0, artinya variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh negatif pada manajemen laba. H1 : β1>0, artinya variabel ukuran
perusahaan berpengaruh nega-tif pada manajemen laba.
2) Taraf nyata :α = 5 persen = 0,05 3) Menetapkan kriteria keputusan:
17
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARAH2 diterima jika tingkat sig nifikansi t ≤ α = 0,05
H2 ditolak jika tingkat signifikansi t > α = 0,05 4) Simpulan
Hasil Tabel 4.9. menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,047 (0,047<0,05), yang artinya H2 diterima. Hal ini menun-jukkan bahwa ukuran perusahaan berpen-garuh negatif pada manajemen laba dengan nilai P2 (standardized coefficients) -0,148. 4.2.3 Pengaruh pengungkapan corpo
rate social responsibility
(X2) pada manajemen laba (Y) 1) Formulasi hipotesis
Ho:β1=0, artinya variabel pengung-kapan corporate social
responsi-bility tidak berpengaruh negatif
pada manajemen laba.
H1:β1>0, artinya variabel pengung-kapan corporate social
responsi-bility berpengaruh negatif pada
manajemen laba.
2) Taraf nyata :α = 5 persen = 0,05 3) Menetapkan kriteria keputusan:
H3 diterima jika tingkat signifikansi t ≤ α = 0,05 H3 ditolak jika tingkat signifikansi t > α = 0,05 4) Simpulan
Hasil Tabel 4.9. menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,011 (0,011<0,05), yang artinya H3 diterima. Hal ini menun-jukkan bahwa pengungkapan corporate
so-cial responsibility berpengaruh negatif pada
manajemen laba dengan nilai P3
(standard-ized coefficients) sebesar -0,148.
4.2.4 Pengaruh ukuran perusahaan (X1) pada manajemen laba (Y) melalui pengungkapan
corporate social responsibility (X2)
1) Formulasi Hipotesis
Ho : β1=0, artinya variabel pengung-kapan corporate social
respon-sibility tidak dapat memediasi
pengaruh ukuran perusahaan pada manajemen laba.
H1 : β1>0, artinya variabel
pen-gungkapan corporate social
re-sponsibility dapat memediasi
pengaruh ukuran perusahaan pada manajemen laba.
2) Taraf nyata :α = 5 persen = 0,05 3) Menetapkan kriteria keputusan:
H4 diterima jika nilai thitung < -ttabel = -1,96 H4 ditolak jika nilai thitung >- ttabel = -1,96 4) Simpulan
Hasil uji sobel menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar -2,260 lebih kecil dari -ttabel dengan tingkat signifikansi 0.05 yai-tu sebesar -1.96 (-2,260<-1.96) dapat disi-mpulkan bahwa koefisien mediasi sebesar -101 signifikan, berarti terdapat pengaruh mediasi, sehingga H4 diterima.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Pengungkapan Corporate
Social Responsibility
Hasil penelitian memerlihatkan bahwa nilai β1=0,531 dengan tingkat sig-nifikansi sebesar 0,000 yang mana nilai signifikansi lebih kecil dari taraf nyata yai-tu 0,05 sehingga hipotesis pertama (H1) dapat diterima menunjukkan bahwa vari-abel ukuran perusahaan berpengaruh positif pada pengungkapan corporate social
responsibility. Peningkatan ukuran
perusa-haan akan mengakibatkan pengungkapan
corporate social responsibility meningkat.
Pengukuran ukuran perusahaan yang diproksikan dengan log total aset menunjukkan perusahaan besar yang memiliki aset tinggi lebih menjadi sorotan publik. Pengungkapan yang lebih besar merupakan pengurangan biaya politis se-bagai bentuk tanggung jawab sosial pe-rusahaan (Sembiring, 2005). Pepe-rusahaan besar dengan kegiatan usaha yang lebih kompleks serta memiliki berpengaruh be-sar terhadap masyarakat menyebabkan pemegang saham memperhatikan program sosial perusahaan, sehingga pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan akan
semakin luas (Cowen et al., 1987). Selain itu, untuk mendapatkan legitimasi dari
stakeholders perusahaan besar akan
men-gungkapkan tanggung jawab sosial perusa-haannya (Nurkhin, 2009). Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kusumastuti (2014), Purwanto (2011), serta Primadewi dan Mertha (2014) yang menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif pada pengungkapan
corporate social responsibility.
4.3.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Manajemen Laba
Hasil penelitian memerlihatkan bahwa nilai β2=-0,148 dengan tingkat sig-nifikansi sebesar 0,047 dan nilai signifikan-si lebih kecil dari 0,05. Artinya hipotesignifikan-sis kedua (H2) diterima. Hal ini menunjukkan variabel ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Pening-katan ukuran perusahaan akan menye-babkan terjadinya penurunan manajemen laba. Perusahaan besar memiliki basis pe-megang kepentingan yang lebih luas, seh-ingga berbagai kebijakan perusahaan besar akan memiliki dampak yang lebih besar terhadap kepentingan publik dibandingkan dengan perusahaan kecil. Bagi investor, kebijakan perusahaan berimplikasi terha-dap prospek cash flow dimasa yang akan datang. Sedangkan bagi regulator (pemer-intah) akan berdampak terhadap besarnya pajak yang akan diterima, serta efektifitas peran pemberian perlindungan terhadap masyarakat secara umum.
Perusahaan besar memiliki kecend-erungan melakukan tindakan manajemen laba yang lebih kecil dibanding perusahaan kecil. Hal ini dikarenakan perusahaan be-sar dipandang lebih kritis oleh pemegang saham dan pihak luar sehingga perusahaan besar mendapatkan tekanan yang lebih kuat untuk menyajikan laporan keuangan yang lebih terpercaya. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Muliati (2011), Jao dan Pagalung (2011), serta Nariastiti dan Dwi Ratnadi (2014)
yang menemukan bahwa ukuran perusa-haan berpengaruh negatif pada manajemen laba.
4.3.3 Pengaruh Pengungkapan
Corporate Social Responsibility
pada Manajemen Laba
Hasil penelitian menunjukkan bah-wa nilai β3= -0,190 dengan tingkat sig-nifikansi sebesar 0,011 yang lebih kecil dari 0,05. Artinya bahwa hipotesis ketiga (H3) diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel pengungkapan corporate social
re-sponsibility berpengaruh negatif terhadap
manajemen laba. Kondisi ini menggambar-kan bahwa peningkatan pengungkapan
corporate social responsibility akan
menye-babkan terjadinya penurunan manajemen laba. Perusahaan yang memiliki komit-men kuat atas tanggung jawab sosial un-tuk mendapatkan legitimasi di lingkungan sekitarnya akan beroperasi sesuai dengan etika dan norma yang belaku dan akan meminimalisir praktik manajemen laba. Organisasi yang memiliki etika akan memi-liki integritas dengan berbuat jujur, tulus, bertanggung jawab secara sosial, dan dapat dipercaya (Chun, 2005). Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kim et al. (2011), Putri (2012), dan Yip et al. (2011) yang menemukan bahwa pengung-kapan corporate social responsibility berpen-garuh negatif pada manajemen laba. 4.3.4 Pengaruh Ukuran Perusahaan
pada Manajemen Laba melalui Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Hasil penelitian menunjukkan bah-wa nilai thitung sebesar -2,261 yang mana thitung lebih kecil dari -ttabel dengan taraf nyata 0,05, yaitu -1,96. Artinya hipotesis keempat (H4) dapat diterima, yang menun-jukkan bahwa variabel pengungkapan
cor-porate social responsibility mampu
memedi-asi pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Nilai koefisien beta negatif sebesar -1,101 menunjukkan bahwa
uku-19
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARAran perusahaan berpengaruh negatif pada manjemen laba melalui pengungkapan
cor-porate social responsibility.
Informasi yang diungkapkan peru-sahaan besar akan lebih banyak dari pada perusahaan kecil (Kusumastuti, 2014). Hal ini terjadi karena perusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar dibanding perusahaan kecil. Perusahaan besar mengungkapkan aktivitas tanggu-ng jawab sosialnya untuk mendapatkan nilai positif dan legitimasi dari masyarakat karena akan menjadi faktor strategis bagi perkembangan perusahaan ke depan (Suchman,1995). Legitimasi yang diper-oleh perusahaan tidak terlepas dari etika perusahaan dalam menjalankan aktivitas usahanya. Manajemen laba merupakan sebuah manipulasi dan secara etika tidak bisa diterima kebanyakan orang. Perusa-haan yang memiliki komitmen kuat atas tanggung jawab sosialnya akan lebih mem-batasi melakukan praktik manajemen laba. Tujuan perusahaan mengungkapkan ban-yak informasi tentang aktivitas corporate
social responsibility adalah untuk
memben-tuk profil organisasi yang baik (Lanis dan Richardson (2012). Praktek manajemen laba dapat menghapus pengaruh positif dari aktivitas corporate social
responsibil-ity. Hasil penelitian ini mengembangkan
penelitian yang telah dilakukan oleh Kusu-mastuti (2014) serta Purwanto (2011) yang menemukan ukuran perusahaan berpen-garuh signifikan terhadap pengungkapan pertanggung jawaban sosial. Penelitian Kim
et al. (2011) dan Yip et al. (2011)
menemu-kan pengungkapan corporate social
respon-sibility dan manajemen laba mempunyai
hubungan negatif.
V. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN KETERBATASAN PENELITIAN
Berdasarkan pada data dan pem-bahasan sebelumnya, dapat ditarik kesi-mpulan sebagai berikut: pertama, ukuran perusahaan secara signifikan berpengaruh positif pada pengungkapan corporate
so-cial responsibility. Perusahaan besar lebih
banyak mengungkapkan corporate social
responsibility dari pada perusahaan
ke-cil. Disebabkan karena perusahaan besar menghadapi tekanan politis yang lebih be-sar dibandingkan dengan perusahaan kecil. Semakin luas perusahaan mengungkapkan
corporate social responsibility, maka dalam
jangka panjang perusahaan dapat terhindar dari biaya yang besar akibat tuntutan mas-yarakat. Perusahaan juga memerlukan le-gitimasi dari masyarakat sekitarnya; kedua, ukuran perusahaan secara signifikan ber-pengaruh negatif pada manajemen laba. Hal ini menunjukkan perusahaan besar akan lebih membatasi praktik manajemen laba dibandingkan dengan perusahaan kecil. Perusahaan besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba, karena perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pemegang saham dan pi-hak luar. Perusahaan besar memiliki basis investor yang lebih besar dan mendapat tekanan yang lebih kuat untuk menyajikan pelaporan keuangan yang kredibel; ketiga, pengungkapan corporate social
responsibil-ity secara signifikan berpengaruh negatif
pada manajemen laba. Pengungkapan
cor-porate social responsibility yang lebih
ban-yak akan membatasi terjadinya praktik ma-najemen laba. Perusahaan yang memiliki komitmen yang kuat atas tanggung jawab sosial untuk mendapatkan legitimasi di lingkungan sekitarnya, akan beroperasi se-suai dengan etika dan norma yang berlaku sehingga akan membatasi praktik manaje-men laba yang secara etika tidak bisa diter-ima kebanyakan orang; keempat, ukuran perusahaan secara signifikan berpengaruh negatif pada manajemen laba melalui pen-gungkapan corporate social responsibility. Pengungkapan corporate social
responsibil-ity mampu memediasi hubungan antara
ukuran perusahaan dengan manajemen laba. Perusahaan besar yang mengungkap-kan lebih banyak corporate social
respon-sibility akan membatasi terjadinya praktik
manajemen laba. Perusahaan besar akan mengungkapkan corporate social
legitimasi dari masyarakat.
Implikasi dalam penelitian ini ada-lah: pertama, bagi pihak stakeholder yaitu investor dan kreditor yang berhubungan langsung dengan perusahaan agar mem-perhatikan pengungkapan corporate social
responsibility oleh manajemen
perusa-haan. Terutama perusahaan manufaktur lebih cermat dalam mengambil keputu-san investasi; kedua, bagi pihak manaje-men, diharapkan berkomitmen untuk me-ngungkapkan aktivitas corporate social
responsibility secara lebih transparan,
teru-tama yang berdampak positif bagi lingkun-gan sekitarnya. Sehingga denlingkun-gan pengung-kapan corporate social responsibility akan membantu perusahaan mendapat dukun-gan dari lingkundukun-gan sekitar maupun orang yang berkepentingan pada perusahaan.
Penelitian selanjutnya dapat meng-gunakan proksi selain total aset untuk mengukur ukuran perusahaan seperti total penjualan dan kapitalisasi pasar. Selain itu penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan variabel lain baik sebagai variabel bebas maupun variabel intervening yang dapat memengaruhi manajemen laba agar mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. dan Moh. Didik Ardiyanto. 2014. Pengaruh Pengungkapan Corporate
Social Responsibility terhadap
Mana-jemen Laba (Studi Kasus Pada Peru-sahaan Non Keuangan dan Jasa yang Terdaftar di BEI tahun 2010-2012).
Diponegoro Journal of Accounting, 3(3):
h: 2.
Arief, Wibowo. 2005. Pengantar Analysis Jalur (Path Analysis). Surabaya: Lem-baga Penelitian Universitas Airlangga. Beneish, M.D. 2001. Earnings Manage-ment: A Perspective. Managerial
Fi-nance 27 (12): 3-17.
Budi, T. S. W. 2013. Pengaruh Pengung-kapan Corporate Social Responsibility dan Kinerja Keuangan Perusahaan Terhadap Return Saham Perusahaan
di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2010. Skripsi, Fakul-tas Ekonomi dan Bisnis UniversiFakul-tas Brawijaya, Malang.
Chun, R. 2005. Ethical character and vir-tue of organizations: an empirical as-sessment and strategic implications.
Journal of Business Ethics. Vol. 57. pp.
269-284.
Cowen, S., Ferrari, L. and L. Parker. 1987. The Impact of Corporate Characteris-tics on Social Accounting Disclosure: A Topology and Frequency Based Analysis. Accounting, Organisations
and Society. 12(2): 111-122.
Dechow, P. M., Sloan, R.G., dan Sweeney, A.P. 1995. Detecting Earnings Man-agement. The Accounting Review 70: 193-225.
Fischer, M. dan Kenneth Rosenzweig. 1995. Attitude of Students and Accounting Practitioners Concerning the Ethical Acceptability of Earnings Manage-ment. Journal of Business Ethics, Vol. 14. pp. 433-444.
Friedlan, John M. 1994. Accounting
Choic-es of Issuers of Initial Publik Offerings.
Contemporary Accounting Research, 11:1-31.
Ghozali, I. dan Anis Chariri. 2007. Teori Akuntansi. Edisi 3. Semarang: Badan Penerbitan Undip.
Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis
Mul-tivariate Dengan Program IBM SPSS
21. Semarang: Badan Penerbit Uni-versitas Diponegoro.
Hackston, D. dan Markus J. Milne. 1996. Some Determinants of Social and En-vironmental Disclosure in New Zea-land Companies. Accounting, Auditing
and Accountability Journal, 9(1): h:
77-100.
Haniffa, R. M., dan Terry E. Cooke. 2005. The Impact of Culture and Governence on Corporate Social Reporting. Jour-nal of Accounting and Public Policy 24, pp. 391-430.
Hasibuan, R. 2001. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Pengungkapan
21
Vol.06 No.4,September 2016 Jurnal Riset Akuntansi JUARASosial. Tesis Universitas Dipenogoro, Semarang.
Hilmi, U. dan Syaiful Ali. 2008. Analisis Fak-tor-Faktor yang Mempengaruhi Kete-patan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan (Studi Empiris pada Peru-sahaan-perusahaan yang Terdaftar di BEJ Periode 2004-2006). Simposium
Nasional Akuntansi 8.
Indriantoro dan Supomo. 2009. Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta: BPFE. Jao, R. dan Pagalung, G. 2011. Corporate
Governance, Ukuran Perusahaan, dan Leverage terhadap Manajemen Laba Perusahaan Manufaktur Indo-nesia. Jurnal Akuntansi & Auditing, 8(1): h: 1-94.
Jensen, M. C. dan William H. Meckling. 1976. Theory of the Firm: Manageri-al Behavior, Agency Cost, and Own-ership Structure. Journal of Financial
Economics, 3(4): h: 305-360.
Junitasari, Putu Diah Krisna. 2015. Pen-garuh Pengungkapan Corporate Social
Responsibility dan Good Corporate
Governance pada Nilai Perusahaan.
Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana.
Kim, Y., M.S. Park, and B. Wier. 2012. Is Earning Quality Associated with
Cor-porate Social Responsibility? The Ac-counting Review, Forthcoming. 87 (3):
h: 761-796.
Kusumastuti, I. P. 2014. Pengaruh Profit-abilitas, Leverage, Ukuran, Umur dan Komposisi Dewan Direksi terhadap Pengungkapan CSR. Skripsi. Fakul-tas Ekonomi dan Bisnis UniversiFakul-tas Udayana.
Lanis, R., dan Richardson, G. 2012.
Cor-porate Social Responsibility and Tax
Aggresiveness: an Empirical Analysis.
Journal of Accounting and Public Poli-cy. 31, 86-108.
Marihot, Nasution M dan Setyawan, Dod-dy. 2007. Pengaruh Corporate Gover-nance terhadap Manajemen Laba di Industri Perbankan Indonesia. Simpo-sium Nasional Akuntansi X. Makasar.
Merchant, K. dan J. Rockness. 1994. The Ethics of Managing Earnings: An Em-pirical Investigation. Journal of
Ac-counting and Public Policy. 13: 79-94.
Mulford, C. dan Eugene Comiskey. 2010.
The Financial Numbers Game Detect-ing Creative AccountDetect-ing Theory. New
York: John Wiley and Sons, Inc.
Muliati, Ni Ketut. 2011. Pengaruh Asimetri Informasi dan Ukuran Perusahaan pada Praktik Manajemen Laba di Pe-rusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Tesis, Pro-gram Magister ProPro-gram Studi Akun-tansi Program Pascasarjana Universi-tas Udayana, Denpasar.
Nariastiti, Ni W. dan Ni Made Dwi Ratnadi. 2014. Pengaruh Asimetri Informa-si, Corporate Governance dan Uku-ran Perusahaan pada Manajemen Laba. E-Jurnal Akuntansi Universitas
Udayana, 9(3): h: 717-727.
Nurkhin, Ahmad. 2009. Corporate Gover-nance dan Profitabilitas; Pengaruhn-ya terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Studi Em-piris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Tesis. Uni-versitas Dipernogoro, Semarang O’Donovan, G. 2002. Environmental
Disclo-sure in the Annual Report: Extending them Aplicability and Predictive Power of Legitimacy Theory. Accounting, Au-diting & Accountability Journal, 15(3): h: 344-371.
Putra, I G. B. Alit Wahyu Palguna. 2013. Pengaruh Tingkat Pengungkapan Item
Corporate Social Responsibility
terh-adap Manajemen Laba (Studi pada Perusahaan yang Terdaftar di Indeks SRI – KEHATI Selama Tahun 2009 – 2011). Skripsi, Pogram Sarjana Uni-versitas Atma Jaya, Yogyakarta.
Primadewi, P.S. dan I Made Mertha. 2014. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Tanggung Jawab So-sial pada Laporan Keuangan Peru-sahaan LQ 45 di Bursa Efek Indone-sia. E-Jurnal Akuntansi Universitas