• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERENCANAAN DRAINASE YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN PADA JALAN TOL SEMARANG SOLO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERENCANAAN DRAINASE YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN PADA JALAN TOL SEMARANG SOLO"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 PERENCANAAN DRAINASE YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN

PADA JALAN TOL SEMARANG – SOLO

Andhika Rhama Mahardika, Fahmi Anggriawan Yulianto Andhika.rhama@yahoo.com, fahmi.a.yulianto@gmail.com

Suripin, Hary Budieny

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH., Tembalang, Semarang 50239,

Telp.: (024) 7474770, Fax.: (024) 7460060 ABSTRAK

Jalan tol Semarang – Solo merupakan akses penghubung tercepat antara Kota Semarang dengan Kota Solo. Jalan tol ini mulai dioperasikan secara bertahap pada tahap I (melewati wilayah Penggaron, Gedawang dan Bergas sepanjang 24,75 km) sejak tahun 2011 yang lalu. Pembangunan jalan tol ini mengakibatkan perubahan tata guna lahan dan bertambahnya luasan permukaan impermeable sehingga air hujan tidak dapat diserapkan ke dalam tanah dan berakibat naiknya debit dan volume limpasan.

Kenaikan debit dan volume limpasan yang terjadi apabila tidak segera ditangani dapat mengakibatkan banjir. Untuk menanggulanginya, maka debit limpasan yang terjadi saat ini harus dikembalikan ke kondisi sebelum pembangunan jalan tol Semarang – Solo. Perencanaan drainase yang berwawasan lingkungan digunakan untuk menurunkan debit limpasan yang meningkat akibat dari pembangunan jalan tol.

Perencanaan drainase yang berwawasan lingkungan ini direncanakan sepanjang 8,475 km dari tahap I. Drainase yang berwawasan lingkungan dapat didefinisikan sebagai upaya mengelola kelebihan air dengan cara diresapkan ke dalam tanah secara artifisial atau mengalirkan ke sungai tanpa melampaui kapasitas sungai sebelumnya. Fasilitas yang ditawarkan dalam Tugas Akhir ini adalah dengan membangun sumur resapan pada saluran drainase. Untuk mengembalikan debit dan volume limpasan ke kondisi sebelum pembangunan, maka dibutuhkan sebanyak 5.682 buah.

Dari hasil analisa dan perhitungan, jumlah fasilitas sumur resapan yang bisa dipasang sebanyak 2.581 buah. Yaitu sebesar 45,42 % dari yang dibutuhkan untuk menanggulangi debit limpasan akibat dari pembangunan jalan tol.

(2)

2 ABSTRACK

Semarang – Solo Toll Road is the fastest access between Semarang and Solo. This toll road have been operated gradually in phase I (passing through Penggaron, Gedawang, and Bergas region along 24,75 km) since 2011. The construction of this toll road lead to the change of land use and increased impermeable surface area so that rainfall can’t be absorbed into the soil and resulting in increased runoff flow and volume.

Increment of the runoff flow and volume if not handled immediately will cause flood. To overcome this, the runoff flow that occurs at this time should be returned to the state before the Semarang – Solo toll road was made. Design of sustainable drainage system is used to decrease runoff flow that increased due to the development of the toll roads.

The design of this sustainable drainage system is planned along the 8,475 km from phase I. Sustainable drainage system can be defined as an effort to manage the excess water by artificially percolate it into the ground or flow it into the river without exceeding the capacity of the river. The facilities that offered in this final task is to build infiltration wells in the drainage channels. To restore the flow and runoff volume to pre-construction conditions, it takes 5.682 pieces of infiltration wells.

From the analysis and calculation result, the number of infiltration wells that can be installed are 2.581 pieces. That is equal to 45,42 % of the overall that required to overcome the effect of runoff flow of Semarang – Solo toll road development. Keywords: drainage, runoff, infiltration wells

(3)

3

1. PENDAHULUAN

Pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang begitu cepat telah menyebabkan perubahan tataguna lahan. Banyak lahan yang semula berupa lahan terbuka hijau, persawahan dan taman kini berubah menjadi areal pemukiman, industri dan bahkan pembebasan untuk pembuatan akses jalan baru maupun akses jalan tol baru.

Dalam perspektif hidrologi, dampak dari perubahan tataguna lahan tersebut adalah meningkatnya aliran permukaan langsung sekaligus menurunnya air yang meresap kedalam tanah. Akibat selanjutnya adalah distribusi air yang semakin timpang antara musim penghujan dan musim kemarau, debit banjir meningkat dan ancaman kekeringan semakin nyata. Baik bencana banjir maupun kekeringan telah menimbulkan kerugian yang sangat besar, bahkan tidak hanya kerugian harta benda (material), tetapi juga kerugian jiwa. (Suripin,2004)

2. TINJAUAN PUSTAKA

Setelah menentukan permasalahan yang akan diselesaikan dengan solusi terbaik. Tinjauan pustaka dilakukan dengan mencari sumber-sumber tertulis, baik yang tersaji secara digital atau buku. Untuk analisis curah hujan yang terjadi diperhitungkan dengan analisis distribusi frekuensi, dengan metode Distribusi Normal, Pearson, Log Normal dan Log Pearson III serta disesuaikan dengan syarat masing-masing distribusi yang disajikan pada Tabel berikut :

Tabel 1 : Tabel Distribusi No Distribusi Persyaratan 1 Normal Cs = 0 Ck = 3 2 Log Normal Cs = Cv3 + 3Cv Ck = Cv8 + 6Cv6 + 15Cv4 + 16Cv2 + 3 3 Gumbel Cs = 1,14 Ck = 5,4

(4)

4 Untuk analisis intensitas hujan digunakan Formula Mononobe,

keterangan: I = intensitas hujan (mm/jam) t = lama curah hujan (jam)

R24 = Curah hujan maksimum harian (selama 24 jam) (mm) Sebelum dilakukan perhitungan analisis debit, dilakukan perhitungan mengenai hujan efektif yang terjadi,

keterangan: Pe = kedalaman hujan efektif (mm) P = kedalaman hujan (mm)

S = retensi potensial maksimum air oleh tanah yang sebagian besar dikarenakan infiltrasi (mm).

Untuk analisis debit menggunakan hidrograf banjir hujan yang dihitung menggunakan metode Nakayasu dengan menggunakan formula berikut:

(5)

5

3. METODOLOGI PERENCANAAN

Metodologi pelaksanaan dalam Tugas Akhir ini meliputi: 1. Identifikasi masalah dan survei lapangan

2. Pengumpulan referensi dan literatur

3. Pengumpulan data: data curah hujan, peta topografi lahan, data penurunan tanah data eksisting.

4. Analisis data hidologi: a. Penentuan catchment area.

b. Penentuan curah hujan maksimum dalam satu hari.

c. Perhitungan penyebaran distribusi hujan berdasarkan periode ulang. d. Uji kecocokkan.

e. Perhitungan intensitas hujan. f. Perhitungan banjir debit rencana. g. Pembuatan Hidrograf.

5. Analisis data hirolika:

a. Perhitungan kapasitas saluran. 6. Perencanaan teknis:

a. Perhitungan Jumlah Sumur 7. Pembuatan gambar rencana 8. Perhitungan RAB

9. Pembuatan time schedule

10. Pembuatan Rencana Kerja dan Persyaratan Teknis 4. ANALISIS DATA HIDROLOGI

Analisis data hidrologi dibutuhkan sebagai dasar perhitungan untuk menentukan curah hujan yang terjadi di suatu wilayah berdasarkan kala ulang yang diinginkan. Analisis ini didasarkan pada beberapa tahapan, diantaranya: analisis curah hujan, analisis intensitas hujan, dan perhitungan debit rencana dengan memperhitungkan hujan efektif berdasarkan curah hujan dominan yang terjadi.

(6)

6 Langkah analisis hidrologi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Tabel 3 : Koreksi Data Hujan Tiap – Tiap Stasiun

Tahun

Hujan Tahunan (mm) Rerata Stasiun GP & BM Kumul GP&BM Kumul KR Koreksi Kum KR Koreksi KR Gunung

Pati Banyumeneng Karangroto

1991 49,81 98,81 83,41 66,61 66,61 98,81 116,1413 98,04 1992 33,52 125,06 59,40 46,46 113,07 132,33 155,5407 69,82 1993 95,37 192,70 126,50 110,94 224,01 227,70 267,6386 148,69 1994 65,62 84,22 47,96 56,79 280,80 293,32 344,7684 56,37 1995 65,21 91,10 87,16 76,19 356,98 358,53 421,4162 102,45 1996 39,07 63,11 50,85 44,96 401,94 397,60 467,3391 59,77 1997 50,89 61,74 78,38 64,64 466,58 448,49 527,1552 92,13 1998 49,76 100,00 59,08 54,42 521,00 498,25 585,6431 69,44 1999 109,71 81,00 87,95 98,83 619,83 607,96 714,5963 103,38 2000 114,72 78,00 118,67 116,70 736,52 722,68 849,4382 139,48 2001 58,91 100,00 80,93 69,92 806,44 781,59 918,681 95,13 2002 57,86 96,00 47,11 52,49 858,93 839,45 839,45 47,11 2003 147,00 94,48 80,00 113,50 972,43 986,45 986,45 80,00 2004 143,35 143,78 142,20 142,78 1115,20 1129,80 1129,80 142,20 2005 85,36 87,93 56,21 70,79 1185,99 1215,16 1215,16 56,21

Perhitungan dispersi curah hujan maksimum secara normal dan logaritmik disajikan

Tabel 4 : Hasil Distibusi

No Distribusi Persyaratan Hasil Perhitungan Kesimpulan 1 Normal Cs = 0 Cs = 1,47 Tidak Memenuhi Ck = 3 Ck = 4,89

2 Log Normal Cs = Cv3 + 3Cv Cs = 0,86 Tidak Memenuhi Ck = Cv8 + 6Cv6 + 15Cv4 + 16Cv2 + 3 Ck = 3,98

3 Gumbel Cs = 1,14 Cs = 0,86 Tidak

Memenuhi

Ck = 5,4 Ck = 3,98

(7)

7 Tabel 5 : Metode Log Pearson III dengan Berbagai Kala Ulang

Periode Ulang Cs G Log X X (mm) 2 0,865 -0,142 1,842 69,456 5 0,865 0,773 1,973 94,021 10 0,865 1,338 2,054 113,350 20 0,865 1,899 2,135 136,461 25 0,865 2,011 2,151 141,621 50 0,865 2,482 2,219 165,514 100 0,865 2,934 2,284 192,189

Tabel 6 : Uji Smirnov-Kolmogorof untuk Distribusi Log Pearson III

X Log X G m Sn (X) Pr Px (X) D max 43,75 1,641 -1,539 1,00 0,063 0,972 0,028 0,034 50,27 1,701 -1,119 2,00 0,125 0,896 0,104 0,021 55,78 1,746 -0,805 3,00 0,188 0,779 0,221 -0,033 61,19 1,787 -0,525 4,00 0,250 0,661 0,339 -0,089 61,36 1,788 -0,517 5,00 0,313 0,658 0,342 -0,030 65,66 1,817 -0,3123 6,00 0,375 0,572 0,428 -0,053 67,99 1,832 -0,207 7,00 0,438 0,527 0,473 -0,035 69,81 1,844 -0,127 8,00 0,500 0,495 0,505 -0,005 70,03 1,845 -0,118 9,00 0,563 0,492 0,508 0,054 70,79 1,850 -0,085 10,00 0,625 0,481 0,519 0,106 72,61 1,861 -0,008 11,00 0,688 0,456 0,544 0,144 81,22 1,910 0,331 12,00 0,750 0,345 0,655 0,095 106,07 2,026 1,137 13,00 0,813 0,136 0,864 -0,052 134,30 2,128 1,851 14,00 0,875 0,054 0,946 -0,071 143,21 2,156 2,045 15,00 0,938 0,037 0,963 -0,026 D Max 0,144

Dari hasil uji konsitensi Smirnov-Kolmogorov dipilih metode Log Pearson III karena memenuhi syarat yaitu Dmaks < DCr = 0,144 < 0,340.

(8)

8

5. PERENCANAAN TEKNIS

5.1. Volume Banjir Akibat Rigid Pavement Jalan Tol

Menghitung volume banjir yang diakibatkan oleh lahan yang telah diubah menjadi akses jalan tol dengan kriteria perkerasan kaku sepanjang 8.475 m. Perhitungan volume banjir yang diakibatkan oleh perkerasan kaku mengacu pada Hidrograf Metode Rasional.

Gambar 1. Hidrograf Metode Rasional Rumus : Qp = 0,278 C I A

Keterangan : koefisen limpasan : C pasca : 0,95 C pra : 0,42 I : Intensitas hujan (mm/jam)

A : Luas lahan (km2)

 Menghitung Intensitas (Metode Mononobe)

mm/jam

 Menghitung Debit Puncak (Qp)

Qp O tc D - tc R u n o ff r a te (c fs ) Losses, (1-C)iDA R a in fa ll (i n ./ h r) O D

Rainfall excess, V1 =CiDA

Volume of runoff V2 = QpD Runoff hydrograph

(duration of rainfall excess, D > the time of concentration, tc)

tb D

(9)

9 Qp = 0,278 * (Cpasca - Cpra) * I * A

Qp = 0,278 * (0,95 – 0,42) * 12,94 * 0,122 Qp = 0,232 m3/dt

 Menghitung Tc ( Metode Kirpich) Tc = 0,0195 * L0,77 / S0,385 Tc = 0,0195 * 84750,77 / 0,01080,385 Tc = 117,9 min = 1,96 jam  Menghitung D – Tc ( karena D > Tc) D – Tc = 4 – 1,96 = 2,04 jam  Menghitung Tb Tb = D + Tc = 4 + 1,96 = 5,96 jam

 Menghitung Volume Limpasan

Volume = ((Qp*Tc) + (Qp*(D-Tc)))*3600 Volume = ((0,232*1,96) + (0,232*2,04))*3600 Volume = 3.340,8 m3

5.2. Volume Sumur Resapan Rencana

Sumur resapan yang direncanakan berdiameter 0,46 m dengan kedalaman lubang 3 m. Menghitung kapasitas sumur resapan menggunakan rumus SNI 03-2453-2002.

Keterangan :

Tc : durasi hujan efektif (jam)

Atot : luas dinding sumur + luas alas sumur (m2) K : koefisien permeabilitas (m/hari)

(10)

10 Menghitung luas total sumur resapan :

Karena di dalam pasaran tidak ada ukuran buis beton D = 0,46 m maka digunakan ukuran D = 0,5 m.

Atotal = Aalas + Adinding * H

Waktu pengaliran direncanakan 24 jam dan laju permeabilitas sebesar 4,25 cm/jam atau 1,02 m/hari maka dapat dihitung kapasitas sumur resapan sebagai berikut :

5.3 Checking Perbandingan Kapasitas Penampang Desain Dengan Beban Untuk mengetahui apakah saluran drainase yang sudah terpasang (hidrolis) masih mencukupi untuk dibebani debit dengan hujan rencana (beban) maka perlu dilakukan pengecekan. Saluran drainase dinyatakan masih mencukupi apabila Q beban (Qb) < Q hidrolis (Qh).

Contoh perhitungan : Sal K1 Ki

 ∆H = |El awal – El akhir| = |214,412 – 212,06| = 2,355 m  S = ∆H/ L saluran = 2,355/ 148,22 = 0,016

 n = 0,013 (pasangan batu)

 A = h(b+(mh)) = 0,75(0,75+(1*0,75)) = 1,125 m2

(11)

11  R = A/P = 1,125/ 2,871 = 0,392

 Vh = 1/n*R0,67*S0,5 = 1/0,013 * 0,3920,67 * 0,0160,5 = 5,176 m/dt = jika Vh > Vmax, gunakan Vmax = 3,0 m/dt

= jika Vh < Vmin, gunakan Vmin = 0,6 m/dt

 Tc = L limpasan/ Vh = 169,81 / 5,176 = 32,81 dt (min. 15 menit) = jika Tc < Tc min, gunakan Tcmin = 15 menit

 I = = = 83,39 mm/jam  Qh = A x Vh = 1,125 * 3,0 = 3,375 m3/dt  Qb = 0,278 CIA

= 0,278 * (0,95-0,42) * 83,39 * 0,00367 = 0,045 m3/dt  Qh > Qb, OK.

5.4. Perhitungan Sumur Resapan Yang Terpasang Data Saluran :

Nama Saluran = S1 Ki Panjang Saluran = 148,22 m Luas Lahan = 0,0037 km2 Jarak Min antar Sumur = 4,00 m R24 periode 5 th = 94,02 mm  Perhitungan Tc

Tc = (0,9 * R0,92) / 60 Tc = (0,9 * 94,020,92) / 60 Tc = 0,981 jam

 Perhitungan Volume Sumur Resapan

Vsumur = D2xH 4 1 = 0,5 3 4 1 2 x  = 0,588 m3

(12)

12 Vsrp = 0,981/24 * 4,906 *1,02

Vsrp = 0,204 m3

Karena Vsrp < Vsumur yaitu 0,204 < 0,588 maka digunakan Vsumur = 0,588 m3 5.5. Jumlah Kebutuhan Sumur Resapan

Menghitung jumlah kebutuhan sumur resapan yaitu :

5.6. Rekapitulasi Jumlah Kebutuhan Sumur Resapan

Akibat perubahan tata guna lahan yang telah berubah menjadi jalan tol Semarang – Solo sehingga menimbulkan volume limpasan yang harus ditanggulangi sebesar 3.340,8 m3 dengan jumlah akan kebutuhan sumur resapan sebesar 5.682 buah. Lahan yang ada sangat kurang untuk kebutuhan sumur resapan sehingga menurut SNI 03-2453-2002 sumur resapan yang bisa dipasang sebanyak 2.581 buah dengan volume sebesar 1.517,6 m3 dari kebutuhan total, yaitu sama dengan 45,42 % dari yang dibutuhkan untuk menanggulangi debit banjir akibat pembangunan jalan tol.

6. PENUTUP Kesimpulan

Drainase yang berwawasan lingkungan yang dicoba direncanakan pada proyek pembangunan jalan tol Semarang – Solo ini bertujuan untuk menganalisa dampak pembangunan akibat kawasan yang terbangun khususnya pembangunan jalan tol Semarang – Solo.

Drainase yang berwawasan lingkungan ini bertujuan untuk mengembalikan parameter limpasan air seperti sebelum adanya pembangunan tol Semarang – Solo. Untuk mengetahui perubahan tersebut maka perencanaan

(13)

13 wilayah dimodelkan dalam dua kondisi yang berbeda, yaitu kondisi dimana sebelum adanya pembangunan jalan tol Semarang – Solo dan kondisi kedua dimana sesudah adanya pembangunan jalan tol Semarang – Solo tersebut. Hasil analisa pada pembangunan jalan tol Semarang – Solo mengakibatkan bertambahnya volume limpasan sebesar 3.340,8 m3 dan debit puncak limpasan sebesar 0,232 m3/detik.

Metode yang direncanakan adalah dengan pembuatan drainase yang berwawasan lingkungan dengan cara pembuatan sumur resapan yang merupakan fasilitas eko-drainase. Dari hasil analisa, pembangunan sumur resapan sebanyak 2.581 buah dengan volume resapan sebesar 1.517,628 m3 dapat mengurangi dampak dari pembangunan jalan tol Semarang – Solo sebesar 45,42 % dari yang dibutuhkan untuk menanggulangi debit banjir akibat pembangunan jalan tol. 8.2 Saran

Saran untuk perencanaan drainase yang berwawasan lingkungan antara lain : 1. Dalam teknis pelaksanaannya, sumur resapan direncanakan agar mampu

menampung dan meresapkan debit air hujan yang diperhitungkan. Oleh sebab itu, sekeliling dinding sumur dapat diberi pelindung yang berupa plesteran, pasangan batu bata, batu kosong atau tanpa diberi pelindung. Untuk penutup sumur diberi plastik atau plat beton agar aman.

2. Mengingat kondisi muka air tanah yang menurun dari tahun ke tahun, maka penggunaan sumur resapan ini adalah salah satu solusi yang paling memungkinkan untuk konservasi air tanah, sehingga kepada para pemerhati lingkungan, penulis menyarankan untuk mempertimbangkan penggunaan sumur resapan ini pada kawasan terbangun.

DAFTAR PUSTAKA

Harto, Sri Br. 1993. Analisis Hidrologi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Suripin, 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi Triatmojo, Bambang.2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset

(14)

14 Hinman, Curtis. 2005. Low Impact Development – Technical Guidance Manual for Puget Sound. Olimpya (USA) : PSAT

Montarcih, Lily. 2010. Hidrologi Praktis. Bandung : Lubuk Agung SNI 03-2453-2002

Marpaung, Raymond. 2012. Model Pengelolaan Air Baku Air Minum Berbasis Daerah Aliran Sungai (Studi Kasus : DAS Babon Semarang). Bogor: IPB (Bogor Agricultural University)

Gambar

Tabel 1 : Tabel Distribusi
Tabel 2 : Formula Nakayasu
Tabel 3 : Koreksi Data Hujan Tiap – Tiap Stasiun
Tabel 6 : Uji Smirnov-Kolmogorof untuk Distribusi Log Pearson III
+2

Referensi

Dokumen terkait

Untuk seleksi mikrob pelarut fosfat dilakukan kegiatan sebagai berikut a pembuatan ekstrak tanah, ekstrak suspensi tanah dibuat dan diencerkan dengan konsentrasi mencapai 106

Pengambilan contoh lambung ikan bandeng, contoh plankton, pengukuran panjang serta pengukuran parameter kualitas air dilakukan satu kali pada empat stasiun

Pada umumnya banyak karyawan yang memiliki komitmen rendah pada tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi serta kurang patuh terhadap kebijaksanaan pemimpin,

Hasil uji BNJ pada perbedaan jenis ikan diperoleh kesimpulan bahwa antara dendeng asap ikan bandeng dan tenggiri tidak memiliki perbedaan yang nyata terhadap nilai kadar

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan keterpaparan informasi wanita usia subur (WUS) dengan motivasi melakukan imunisasi HPV (human papiloma virus) di

Kegiatan tatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan perkuliahan yang dilakukan dengan mengembangkan bentuk-bentuk interaksi langsung antara dosen dengan mahasiswa, seperti :

Membangun suatu web tidaklah sukar, namun untuk menyajikan suatu tampilan desain yang menarik, komunikatif dan user friendly, sehingga dapat menarik pengunjung

Hal ini disebabkan tanaman dapat tumbuh dengan baik apabila hara yang diperlukan dalam proses metabolisme tersedia dalam jumlah yang cukup dan diserap dengan