• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 STUDI LITERATUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 STUDI LITERATUR"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

STUDI LITERATUR

2.1. JEMBATAN PENYEBERANGAN PEJALAN KAKI

Jembatan penyeberangan merupakan fasilitas penyeberangan pejalan kaki tak sebidang. Fasilitas ini memisahkan arus penyeberang jalan dengan arus kendaraan sehingga konflik antara kedua unsur tersebut tidak terjadi. Fasilitas ini merupakan bentuk fasilitas penyeberangan pejalan kaki yang paling aman dibandingkan dengan fasilitas penyeberangan lainnya.

Jembatan penyeberangan termasuk unsur jaringan tranportasi perkotaan. Sesuai dengan definisi yang tercantum dalam Tata Cara Perencanaan

Jembatan Penyeberangan Untuk Pejalan Kaki Di Perkotaan, Departemen PU, jembatan penyeberangan pejalan kaki adalah jembatan yang hanya

diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki yang melintas di atas jalan raya atau jalan kereta api [2].

Sesuai dengan pengertian tersebut maka jembatan penyeberangan harus memberikan manfaat yang maksimal, baik dari segi keamanan, kenyamanan ataupun kelancaran perjalanan bagi pejalan kaki. Beberapa faktor yang dipertimbangkan agar jembatan penyeberangan memberikan manfaat maksimal terhadap pejalan kaki adalah [3] :

- kebebasan berjalan untuk mendahului serta kebebasan waktu berpapasan dengan pejalan kaki lainnya tanpa bersinggungan.

- kemampuan untuk mendahului pejalan kaki lainnya.

- memberikan tingkat kenyamanan pejalan kaki yang optimal seperti jarak tempuh, faktor kelandaian dan serta rambu – rambu petunjuk pejalan kaki sehingga memudahkan pejalan kaki untuk melintas di jembatan penyeberangan.

(2)

- memberikan tingkat keamanan bagi pejalan kaki seperti adanya lampu penerangan, adanya pembatas dengan lalu lintas kendaraan.

2.2. PRINSIP ARUS PEJALAN KAKI

Agar jembatan penyeberangan memberikan manfaat maksimal terhadap pejalan kaki maka harus tercapainya faktor – faktor yang menjadi pertimbangan seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

Salah satu faktor utama dalam perancangan, perencanaan maupun pengoperasian dari unsur jaringan transportasi perkotaan adalah karakteristik pejalan kaki. Oleh karena itu perlu adanya analisa pejalan kaki yang hampir sama dengan menganalisa lalu lintas kendaraan. Pejalan kaki sebagai unsur lalu lintas dapat ditinjau dari beberapa parameter definisi, antara lain [3] :

a. kecepatan pejalan kaki, yaitu kecepatan rata – rata berjalan pejalan kaki, dinyatakan dalam satuan m/detik.

b. jumlah arus pejalan kaki, yaitu jumlah pejalan kaki yang melintasi suatu titik dalam satu satuan waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam pejalan kaki/menit atau pejalan kaki/15 menit.

c. arus per satuan lebar adalah rata – rata arus pejalan kaki per satuan lebar efektif jalur jalan, dinyatakan dalam satuan pejalan kaki/menit/meter. d. platoon, menggambarkan sejumlah pejalan kaki berjalan berjajar atau

berkelompok, biasanya tanpa disengaja dan disebabkan antara lain oleh faktor lampu lalu lintas atau faktor lain.

e. kepadatan pejalan kaki adalah jumlah rata – rata pejalan kaki per satuan luas di dalam jalur berjalan kaki atau daerah antrian yang dinyatakan dalam pejalan kaki/meter2.

f. ruang pejalan kaki adalah rata – rata ruang yang tersedia untuk setiap pejalan kaki dalam daerah jalur berjalan kaki atau antrian, dinyatakan dalam meter2/pejalan kaki.

Pada umumnya, arus pejalan kaki dianalisa berdasarkan nilai tengah atau nilai rata – rata kecepatan berjalan pejalan kaki dalam sebuah kumpulan.

(3)

Antara satu kumpulan pejalan kaki dengan kumpulan pejalan kaki lainnya akan berbeda kecepatan berjalannya. Hal ini disebabkan oleh faktor – faktor seperti karakteristik pejalan kaki, tujuan daripada pejalan kaki itu sendiri, tipe kumpulan pejalan kaki, umur pejalan kaki dan faktor lainnya.

Pejalan kaki yang pergi dan pulang bekerja dengan menggunakan fasilitas jembatan penyeberangan setiap hari akan berjalan lebih cepat daripada pejalan kaki yang hanya sekadar melintas di jembatan penyeberangan. Pejalan kaki yang berusia tua atau muda akan berjalan lebih lambat daripada yang lainnya. Untuk itu, dalam menganalisa pejalan kaki haruslah mempertimbangkan faktor – faktor yang telah diuraikan di atas.

Arus pejalan kaki dianalisa hampir sama dengan menganalisa arus kendaraan, yaitu kebebasan dalam berjalan maupun untuk mendahului [3].

2.2.1. Hubungan Kecepatan – Kepadatan Pejalan Kaki

Seperti halnya pada arus kendaraan, jika volume dan kepadatan bertambah maka kecepatan pejalan kaki akan berkurang. Jika kepadatan bertambah dan ruang pejalan kaki akan berkurang maka tingkat pergerakan pejalan kaki akan berkurang, sehingga didapat kecepatan rata – rata daripada arus pejalan kaki. Hal ini dapat tergambar pada kurva di bawah [4].

Gambar 2.1. Hubungan kecepatan – kepadatan pejalan kaki

2.2.2. Hubungan Arus – Kepadatan Pejalan Kaki Sama seperti arus lalu lintas kendaraan bahwa [4] :

Arus pejalan kaki = kecepatan × kepadatan

q = u × k …..……….………...….. (2.1)

dimana ;

kecepatan

(4)

q : jumlah pejalan kaki/menit/m u : m/menit

k : jumlah pejalan kaki/m2

Selain seperti yang tertera di atas dapat menggunakan :

Arus pejalan kaki = kecepatan / ruang bebas berjalan

q = u / M ……..………….……… (2.2)

Pada kondisi arus pejalan kaki maksimum menggambarkan kapasitas pejalan kaki di sebuah fasilitas. Dan pada saat ruang bebas berjalan minimum maka pergerakan pejalan kaki akan berhenti. Secara umum, hubungan antara arus dan kepadatan pejalan kaki terlihat seperti kurva yang tertera di bawah ini [4].

Gambar 2.2. Hubungan arus – kepadatan pejalan kaki

2.2.3. Hubungan Kecepatan – Arus Pejalan Kaki

Hal ini menggambarkan jika jumlah pejalan kaki sedikit maka terdapat ruang bebas yang digunakan untuk berjalan dengan kecepatan lebih tinggi. Tetapi pada saat arus pejalan kaki bertambah maka kecepatan akan berkurang dikarenakan akibat interaksi sesama pejalan kaki. Kondisi ini seperti pejalan kaki di saat berdesakan, pergerakan menjadi sulit dan arus maupun kecepatan pejalan kaki akan berkurang. Hal ini dapat dilihat dari gambar kurva di bawah [4].

Gambar 2.3. Hubungan kecepatan – arus pejalan kaki kepadatan

aru

s

arus

(5)

2.3. TINGKAT PELAYANAN PEJALAN KAKI

Penentuan tingkat pelayanan pejalan kaki dibutuhkan perhitungan parameter – parameter pejalan kaki yang akurat dan teliti. Oleh karena itu, perlu perhitungan ruang bebas pejalan kaki, arus rata – rata, kecepatan pejalan kaki dan kepadatan pejalan kaki.

2.3.1. Ruang Bebas Pejalan Kaki

Perhitungan ruang bebas pejalan kaki adalah tujuan utama dalam menentukan tingkat pelayanan pejalan kaki, dimana ruang bebas pejalan kaki merupakan perbandingan terbalik dengan kepadatan pejalan kaki [3]. Ruang bebas pejalan kaki merupakan suatu ruang pengamatan pejalan kaki berdasarkan perbandingan luas daerah pengamatan pejalan kaki dengan jumlah pejalan kaki yang melintasi daerah pengamatan tersebut. Dimana untuk ruang bebas pejalan kaki mempunyai satuan m2/pejalan kaki.

2.3.2. Kecepatan Pejalan Kaki

Kecepatan pejalan kaki merupakan kriteria yang penting dalam menentukan tingkat pelayanan pejalan kaki, dikarenakan kecepatan pejalan kaki dapat diamati secara langsung dan dihitung dengan mudah, sehingga dapat menggambarkan tingkat pelayanan pejalan kaki.

1. Kecepatan Berjalan

Kecepatan berjalan atau kecepatan individual pejalan kaki yaitu panjang perjalanan pejalan kaki dalam daerah pengamatan dibagi dengan waktu perjalanan yang diperlukan, dengan satuan m/menit.

2. Time Mean Speed (TMS)

Yang dimaksud dengan time mean speed adalah kecepatan berjalan rata – rata dari sejumlah pejalan kaki [5] :

1 n i i u TMS N = ∑ = ……….. (2.3)

(6)

dimana : ui = kecepatan berjalan pejalan kaki, m/detik

N = jumlah pejalan kaki 3. Space Mean Speed (SMS)

Space mean speed adalah kecepatan rata – rata dari panjang perjalanan

pejalan kaki dalam waktu rata – rata yang dibutuhkan pejalan kaki melintasi daerah pengamatan, atau total panjang perjalanan sejumlah pejalan kaki dibagi dengan total waktu berjalan dari sejumlah pejalan kaki [5]. 1 1 1 n n i i L Lk SMS T T N = = = = ∑ ∑ ………...………...… (2.4)

dimana : L = panjang perjalanan pejalan kaki, m

Lk = total panjang perjalanan sejumlah pejalan kaki, m

T = waktu berjalan pejalan kaki, detik

N = jumlah pejalan kaki

2.3.3. Kepadatan dan Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki

Tingkat pelayanan pejalan kaki atau Level Of Service (LOS) menggambarkan kepadatan suatu fasilitas pejalan kaki. Secara umum, tingkat pelayanan A merupakan kondisi yang ideal, dimana pejalan kaki bergerak bebas dengan menentukan kecepatannya sendiri, dapat mendahului pejalan kaki lainnya dan tidak bersinggungan [3]. Tingkat pelayanan lainnya, hingga tingkat pelayanan F menunjukkan kondisi yang semakin padat, dengan kecepatan berjalan yang terbatas dan memungkinkan untuk terjadinya konflik atau bersinggungan antara pejalan kaki. Berikut ini adalah kriteri tingkat pelayanan pejalan kaki, berdasarkan Highway Capacity

Manual dan Fruin. Dan sebagai ilustrasi, berikut ini disertakan gambar

tingkat pelayanan pejalan kaki. a. Highway Capacity Manual

Pada tabel berikut adalah kriteria tingkat pelayanan pejalan kaki. Perhitungan yang paling utama dalam menentukan tingkat pelayanan ini

(7)

adalah ruang bebas, kebalikan dari kepadatan. Kecepatan rata – rata dan arus rata – rata merupakan kriteria berikutnya. Kapasitas pejalan kaki diambil 25 pejalan kaki/menit/ft atau 82 pejalan kaki/menit/m.

Tabel 2.1. Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki (HCM)

Sumber : Highway Capacity Manual

b. Fruin

Berikut ini adalah kategori tingkat pelayanan pejalan kaki berdasarkan

Fruin.

Tabel 2.2. Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki (Fruin)

Level Of Service

Density

(m2/ped.) Flow Volume (ped./m/min.)

Average Speed

(m/min) Description

A >3.25 <23.0 >79.2 Free circulation

B 3.25-2.30 23.0-32.8 79.2-75.4 Free circulation for one directional flow; minor conflicts for reverse and crossing flows C 2.30-1.39 32.8-49.2 75.4-68.4 Some restriction in the selection

of walking speed and the ability to pass others; high probability of conflict

D 1.39-0.93 49.2-65.6 68.4-61.0 Restricted and reduced walking speed for most pedestrians; multiple conflicts with momentary stoppages of flow E 0.93-0.46 65.6-82.0 61.0-37.7 Restricted and reduced walking

speed for all pedestrians; shuffling progress at higher densities; extreme difficulties in reverse or cross flows

F <0.46 82.0+ 0-37.7 Circulation reuced to shuffling; reverse and cross flows almost impossible; frequent contact; aporadic forward flow

Sumber : Traffic Engineering + Control, Vol35 No.6

EXPECTED FLOWS AND SPEEDS FLOW RATE, v LEVEL

OF SERVICE

SPACE

(SQ FT/PED) AVE. SPEED, S (FT/MIN) (PED/MIN/FT) (PED/MIN/M) VOL/CAP RATIO v/c A ≥ 130 ≥ 260 ≤ 2 ≤ 6,6 ≤ 0.08 B ≥ 40 ≥ 250 ≤ 7 ≤ 22,97 ≤ 0.28 C ≥ 24 ≥ 240 ≤ 10 ≤ 32,81 ≤ 0.40 D ≥ 15 ≥ 225 ≤ 15 ≤ 49,21 ≤ 0.60 E ≥ 6 ≥ 150 ≤ 25 ≤ 82,02 ≤ 1.00 F < 6 < 150 Variable

(8)

Gambar 2.4. Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki

Sumber : Highway Capacity Manual

2.4. PROSEDUR ANALISA PEJALAN KAKI

Perhitungan untuk jumlah pejalan kaki berdasarkan waktu puncak dengan interval 15 menit. Menganalisa pejalan kaki guna mendapatkan tingkat pelayanan pejalan kaki terangkum seperti contoh yang terdapat di Lampiran 2, atau dengan langkah – langkah sebagai berikut [3] :

(9)

1. mempersiapkan data – data penunjang yang diperlukan, dalam hal ini adalah data – data yang didapat dari survei lapangan.

• menghitung jumlah pejalan kaki pada waktu puncak, yang biasanya dilakukan dengan interval 15 menit, VP15 dengan satuan pejalan

kaki/15 menit.

• total lebar jalur pejalan kaki, WT dengan satuan meter.

• mengidentifikasi halangan yang terdapat di jalur pejalan kaki.

2. menentukan lebar efektif jalur pejalan kaki, WE, dengan mengurangi

lebar pejalan kaki yang tidak terpakai dari total lebar pejalan kaki, WT.

Sebagai ilustrasi, di bawah ini disertakan gambar mengenai lebar efektif. 3. menghitung rata – rata arus pejalan kaki, dengan satuan pejalan

kaki/menit/m :

v = VP15/ 15 WE ... (2.5)

4. tingkat pelayanan rata – rata disesuaikan dengan yang terdapat dalam Tabel 2.1. Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki.

Gambar 2.5. Lebar Efektif Jalur Pejalan Kaki

Gambar

Gambar 2.2. Hubungan arus – kepadatan pejalan kaki
Tabel 2.1. Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki (HCM)
Gambar 2.4. Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki  Sumber : Highway Capacity Manual
Tabel 2.1. Tingkat Pelayanan Pejalan Kaki.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak terdapat Perbedaan yang signifikan kebugaran jasmani antara siswa yang bertempat tinggal di daerah persisir yakni Sekolah Dasar Negeri Kertasada dengan siswa

Berdasarkan hasil analisis dan pengolah- an data yang telah dilakukan, maka diambil kesimpulan bahwa percepatan durasi proyek optimum pada proyek pembangunan Dermaga

Pada menu Laporan terdapat submenu laporan absensi karyawan, penjualan, transaksi masuk, transaksi keluar, buku besar, grafik penjualan menu dan grafik

Halfway house dalam koreksi, yang sering menggunakan pekerja sosial sebagai administrator atau sebagai staf pegawai, digunakan dalam dua cara :

Dari dasar inilah mengapa penelitian ini akan dilakukan, menggunakan tanaman air untuk mengolah limbah cair industri tahu, yaitu menggunakan tanaman teratai dan eceng gondok

Penulis melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir Ny.S. sesuai dari kebijakan teknis (kunjungan neonatus umur 6

Sukuk Negara Ritel adalah Sukuk Negara (SBSN) yang dijual kepada individu atau orang perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Agen Penjual. 10  Diversifikasi

• Sistem informasi operasional dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional (teknis) yang bersifat rutin (day-to-day activities) dari suatu enterprise atau organisasi