Analisis Keseimbangan Line Assembly Refrigerator Dengan Metode
Ranked Positional Weight (RPW) Pada PT. XYZ
Erlangga Hartono, Rindra Yusianto, Tita Talitha
Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Dian Nuswantoro Semarang
Jl. Nakula I No. 5-11, Semarang, Jawa Tengah,50131
Email :
[email protected]
,
[email protected]
,
[email protected]
Abstrak
PT. XYZ merupakan salah satu perusahaan besar terletak di Jawa Tengah yang bergerak dalam bidang elektronik. Dari data output actual final assembly refrigerator dari tanggal 1 Desember 2016 sampai 24 Desember 2016 memiliki rataan 105 unit/jam, dimana target planning yaitu 120 unit/jam. Untuk memenuhi planning produksi yang telah disesuaikan dengan permintaan pasar, diperlukan keseimbangan lini lintasan agar tidak terjadi penumpukan material di salah satu stasiun kerja (bottleneck). Improvement dan investasi alat dilakukan perusahaan guna mempercepat waktu proses produksi. Dimana waktu yang digunakan dalam perakitan satu unit reffrigerator sebelum improvement yaitu 1209,47 detik
dan sesudah improvement 1146,07 detik. Dengan menggunakan metode Ranked Positional Weight
(RPW), perusahaan dapat mengurangi nilai balance loss dari 17% menjadi 15% dimana nilai tersebut merupakan nilai maksimal balance loss yang dikehendaki perusahaan.
Kata Kunci : bottleneck; keseimbangan lini lintasan; planning produksi.
Abstract
PT. XYZ is one of the big companies located in Central Java which is engaged in electronics. From the actual output data of the final assembly of refrigerator from December 1, 2016 to December 24, 2016 has an average of 105 units / hour, where the planning target is 120 units / hour. To fulfill the production planning that has been adjusted to market demand, it has been required balance of line trajectory to avoid the accumulation of material in one workstation (bottleneck). Improvement and investment of tools made by the company in order to speed up production process time. Where the time used in assembly of a reffrigerator unit before repair is 1209.47 seconds and after repair 1146.07 seconds. Using the Ranked Positional Weight method (RPW), the company can reduce the loss of 17% to 15% which is the maximum loss desired by the company.
1. Pendahuluan
Perkembangan industri manufaktur di
Indonesia sangat pesat hal ini didukung oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih. Setiap
perusahaan berlomba-lomba untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan yang bervariasi agar mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Perusahaan juga dituntut untuk bisa memenuhi permintaan pelanggan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Perusahaan elektronik memiliki persaingan tinggi hal ini dibuktikan dengan data penjualan eletronik di Indonesia yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hingga September 2013 total penjualan elektronik dari brand
member Electronic Marketer Club (EMC) Indonesia
mencapai Rp 38,5 triliun. Kenaikan penjualan industri elektronik Indonesia meliputi 25 brand EMC, meliputi produk electronic home appliances dan home audio (Majalah Marketing, Desember 2013).
Guna memproduksi barang dalam kuantitas yang tepat , biaya yang tepat dan diterima pada saat yang tepat oleh pelanggan line assembly suatu produk harus didesain dengan baik. Keseimbangan lini lintasan (line of balancing) produksi merupakan salah satu elemen penting dari upaya memproduksi barang dalam kuantitas yang tepat.
Berdasarkan data output actual final assembly
refrigerator dari tanggal 1 Desember 2016 sampai 24
Desember 2016 memiliki rataan 105 unit/jam, capaian ini masih dibawah target planning yaitu 120 unit/jam. Hal tersebut terjadi karena pembagian job line assembly
refrigerator yang tidak seimbang, dan masih ada
beberapa proses yang dilakukan secara manual (tanpa
bantuan mesin). Akibatnya perusahaan harus
memberikan waktu lembur kepada para operator untuk dapat menyelesaikan target planning pada hari itu, hal ini tentu menambah beban biaya produksi yang ditanggung perusahaan. Berdasarkan hasil pengamatan, ada 6 stasiun kerja yang melebihi dari standar tack time yang telah ditetapkan perusahaan yaitu 27 detik. Selain itu, dalam proses assembly produk terdapat perbedaan antara cycle time stasiun kerja satu dengan lainnya. Hal ini mengindikasikan adanya pembagian kerja yang tidak merata. Oleh sebab itu lintasan produksi yang ada saat ini perlu diseimbangkan supaya dapat mengurangi atau menghilangkan delay dan line menjadi lebih efektif dan efisien. Pada saat ini, perusahaan melakukan
improvement guna mempercepat cycle time satu unit refrigerator. Namun perusahaan belum melakukan
analisa terkait keseimbangan line assembly pasca adanya improvement.
Dengan adanya masalah tersebut, peneliti akan melakukan analisa keseimbangan line assembly
refrigerator dengan menggunakan metode Ranked Positional Weight (RPW). Metode ini digunakan
sebagai pendekatan untuk membantu perusahaan dalam mengetahui seberapa efektif line assembly setelah adanya improvement. Penulis ingin membuat tugas akhir yang membahas tentang perbaikan kualitas dengan judul “Analisis Keseimbangan Line Assembly
Refrigerator Dengan Metode Ranked Positional Weight (RPW) Pada PT. XYZ.”
2. Tinjauan Pustaka
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengetahui cycle time proses perakitan satu
unit refrigerator pada line assembly
refrigerator PT. XYZ dengan metode RPW
dan sesudah improvement.
2. Merancang pembagian job kerja yang
seimbang setelah adanya improvement
menggunakan metode RPW.
3. Mengetahui nilai balance loss setelah
dilakukan perhitungan menggunakan metode RPW.
3. Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. XYZ dibagian keseimbangan lintasan dengan menggunakan metode
RPW. Berikut adalah Flow Chart metodogi
penelitiannya:
4. Metode RPW
Metode RPW digunakan untuk
menyeimbangkan lintasan pada proses produksi dengan diketahui terlebih dahulu waktu-waktu yang ada dalam proses perakitan dengan tujuan agar proses produksi berjalan dengan baik.
Precedence Diagram dan Penentuan Bobot
Presendence diagram dibuat dengan memperlihatkan ketergantungan suatu operasi dengan operasi pendahulunya dan tidak boleh dilanggar. Sedangkan penentuan bobot diperoleh dari data
average unit setelah improvement. Berikut presendence
diagram beserta bobot produk double door line
assembly refrigerator.
Gambar Precedence Diagram dan Penentuan Bobot
Penjumlahan Jalur
Penjumlahan jalur dilakukan untuk mencari bobot terbesar dari masing-masing stasiun kerja.
TabelPenjumlahan Jalur
Pengurutan Sesuai Bobot Terbesar Dan Pemberian Ranking
Pengurutan berdasarkan dari data bobot penjumlahan jalur terbesar.
Tabel Pengurutan Sesuai Bobot Terbesar Dan Pemberian Ranking
Alokasi Operasi
Pengalokasian operasi yang menjadi ranking awal ke stasiun kerja awal dengan melihat presedence diagram.
Tabel Alokasi Operasi
Elemen KerjaBobot Elemen KerjaBobot Elemen KerjaBobot Elemen KerjaBobot Elemen KerjaBobot Elemen KerjaBobot 1 334,55 28 269,00 55 344,15 82 277,67 109 291,93 136 229,01 2 330,89 29 256,59 56 337,55 83 267,19 110 262,15 137 222,39 3 326,56 30 281,67 57 331,95 84 254,93 111 255,70 138 215,41 4 323,48 31 274,60 58 340,67 85 254,10 112 263,71 139 211,01 5 320,91 32 260,00 59 351,36 86 297,19 113 292,63 140 207,81 6 315,53 33 299,76 60 320,21 87 293,04 114 254,28 141 205,67 7 313,57 34 294,27 61 280,20 88 284,18 115 274,86 142 186,98 8 282,08 35 279,42 62 277,14 89 279,52 116 269,41 143 180,75 9 275,99 36 270,81 63 345,76 90 274,18 117 263,95 144 166,30 10 310,16 37 272,19 64 332,58 91 267,54 118 275,56 145 152,16 11 274,61 38 271,62 65 337,15 92 256,23 119 269,40 146 146,66 12 310,87 39 263,14 66 331,90 93 254,18 120 264,20 147 132,03 13 308,04 40 255,88 67 331,95 94 255,49 121 252,42 148 124,81 14 306,00 41 259,30 68 328,76 95 260,40 122 252,50 149 118,07 15 293,74 42 297,59 69 314,46 96 271,81 123 249,97 150 114,02 16 253,02 43 289,35 70 328,53 97 266,81 124 198,36 151 104,96 17 297,34 44 283,85 71 321,56 98 263,68 125 195,19 152 52,81 18 274,14 45 253,35 72 314,75 99 258,40 126 192,23 153 5,24 19 282,03 46 299,53 73 336,29 100 255,14 127 100,74 154 42,34 20 293,40 47 285,32 74 307,40 101 272,82 128 85,30 155 29,95 21 287,03 48 281,65 75 332,18 102 258,52 129 80,07 156 24,07 22 275,46 49 274,71 76 328,88 103 257,03 130 76,90 157 17,81
RangkingElemen KerjaBobotRangkingElemen KerjaBobotRangkingElemen KerjaBobotRangkingElemen KerjaBobotRangkingElemen KerjaBobotRangkingElemen KerjaBobot 1 59 351,36 28 7 313,57 55 8 282,08 82 38 271,62 109 40 255,88 136 142 186,98 2 63 345,76 29 12 310,87 56 19 282,03 83 36 270,81 110 111 255,70 137 143 180,75 3 55 344,15 30 10 310,16 57 30 281,67 84 53 270,42 111 94 255,49 138 144 166,30 4 58 340,67 31 13 308,04 58 48 281,65 85 50 269,57 112 105 255,43 139 145 152,16 5 56 337,55 32 74 307,40 59 107 280,40 86 116 269,41 113 100 255,14 140 146 146,66 6 65 337,15 33 14 306,00 60 61 280,20 87 119 269,40 114 84 254,93 141 147 132,03 7 73 336,29 34 79 301,90 61 89 279,52 88 28 269,00 115 114 254,28 142 148 124,81 8 1 334,55 35 33 299,76 62 35 279,42 89 91 267,54 116 93 254,18 143 149 118,07 9 64 332,58 36 46 299,53 63 82 277,67 90 83 267,19 117 85 254,10 144 150 114,02 10 75 332,18 37 42 297,59 64 62 277,14 91 97 266,81 118 45 253,35 145 151 104,96 11 57 331,95 38 17 297,34 65 26 276,42 92 120 264,20 119 16 253,02 146 127 100,74 12 67 331,95 39 86 297,19 66 9 275,99 93 117 263,95 120 104 252,94 147 128 85,30 13 66 331,90 40 34 294,27 67 118 275,56 94 112 263,71 121 122 252,50 148 129 80,07 14 2 330,89 41 15 293,74 68 52 275,50 95 98 263,68 122 121 252,42 149 130 76,90 15 76 328,88 42 20 293,40 69 22 275,46 96 39 263,14 123 123 249,97 150 131 69,10 16 68 328,76 43 87 293,04 70 115 274,86 97 110 262,15 124 133 244,67 151 132 60,80 17 70 328,53 44 113 292,63 71 49 274,71 98 95 260,40 125 134 237,75 152 152 52,81 18 3 326,56 45 109 291,93 72 11 274,61 99 106 260,33 126 135 232,25 153 154 42,34 19 77 325,17 46 23 290,83 73 31 274,60 100 32 260,00 127 136 229,01 154 155 29,95 20 4 323,48 47 80 289,49 74 27 274,50 101 41 259,30 128 137 222,39 155 156 24,07 21 71 321,56 48 43 289,35 75 90 274,18 102 102 258,52 129 138 215,41 156 162 18,73 22 5 320,91 49 21 287,03 76 18 274,14 103 99 258,40 130 139 211,01 157 157 17,81 23 60 320,21 50 25 286,81 77 108 273,58 104 103 257,03 131 140 207,81 158 158 12,79
SK Elemen KerjaJumlah CT SK Elemen KerjaJumlah CT SK Elemen KerjaJumlah CT SK Elemen KerjaJumlah CT SK Elemen KerjaJumlah CT SK Elemen KerjaJumlah CT
1 1 23,68 44 18 97 20,94 25 138 17,05 33 68 23,43 112 2 8 98 139 70 44 110 25,59 3 9 19 21,54 39 140 77 111 4 30 95 141 34 60 19,77 84 5 48 19 106 24,20 26 142 20,68 78 114 6 10 89 21,37 32 143 35 69 21,21 85 7 35 41 27 144 19,65 71 45 122 21,66 2 12 23,19 26 20 102 22,85 145 72 121 10 11 9 23,67 99 28 146 21,84 36 74 14,77 123 13 52 103 147 79 124 14 22 51 29 148 24,07 37 21,70 125 33 49 21 54 19,80 149 113 126 3 46 22,46 12 11 25,70 29 150 109 46 127 23,84 42 31 92 151 38 80 21,70 128 4 17 22,11 27 22 40 22,07 30 59 26,41 81 129 86 13 90 26,08 94 63 107 47 130 24,08 34 18 105 55 61 131 5 25,57 101 100 58 39 82 23,57 132 15 14 37 17,23 23 93 20,53 56 40 62 21,56 48 152 22,87 20 24 45 31 65 23,27 118 154 87 96 16 73 115 49 155 24,21 6 23 24,14 15 38 23,83 104 64 41 108 22,09 156 43 36 133 75 116 162 7 21 21,95 16 53 26,21 24 134 22,34 57 119 50 157 16,18
Efisiensi Lintasan (LE)
Dalam Efisiensi Lintasan sendiri, perhitungan dilakukan dengan rumus :
∑
Dimana :
∑ = Waktu stasiun kerja dari ke-i
k = Jumlah stasiun kerja
CT = Waktu siklus
Dari hasil penelitian, didapat nilai Efisiensi Lintasan yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel Efisiensi Lintasan
5. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan
Setelah melaksanakan pengumpulan data baik dengan metode RPW maupun sesudah improvement dan perhitungan dengan metode RPW sesudah
improvement pada produk double door line assembly refrigerator PT. XYZ dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Cycle time proses perakitan satu unit
refrigerator pada line assembly refrigerator
PT. XYZ dengan metode RPW yaitu 1209,47 detik dan sesudah improvement yaitu 1146,07
detik. Hal ini menandakan bahwa
improvement yang dilakukan oleh perusahaan
berfungsi dengan baik.
2. Rancangan pembagian job kerja yang
seimbang setelah adanya improvement
menggunakan metode. Hasil dari rancangan
pembagian job kerja tersebut yaitu
berkurangnya jumlah stasiun kerja yang awalnya berjumlah 54 stasiun kerja menjadi 51 stasiun kerja. Hal tersebut menandakan bahwa adanya pengurangan operator dalam proses assembly refrigerator pada line
assembly refrigerator, dimana hal tersebut
juga akan berdampak berkurangnya biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam menggaji operator.
3. Nilai balance loss sesudah improvement setelah dilakukan perhitungan menggunakan metode RPW yaitu 15%, artinya nilai tersebut
tidak melebihi standar loss perusahaan maksimal 15%.
Saran
1. Untuk operator baru sebaiknya diberikan pelatihan lebih banyak dan selalu diawasi, karena tidak menutup kemungkinan operator baru akan mengalami beberapa kesulitan dalam bekerja dimana hal tersebut akan berdampak pada rekan yang berada di stasiun kerja setelahnya dan akan memperbesar waktu
cycle time assembly produk refrigerator.
2. Dalam melakukan improvement sebaiknya tidak hanya melihat dari cycle time stasiun kerja yang melebihi standar takt time saja. Melainkan melihat dari stasiun mana saja yang
dapat di improvement dan berakibat
mempercepatnya cycle time dari stasiun kerja tersebut.
6. Daftar Pustaka
Adiaksa, R. G. (2010, April 17). Sang Penyampai. Dipetik Maret 6, 2017, dari Line Balancing
Metode RPW dan KIllbridge:
http://sangpenyampai.blogspot.co.id/2010/04/l ine-balancing-metode-rpw-dan.html
Award, T. b. (2017, Februari 22). Top Brand Award. Dipetik Februari 22, 2017, dari Top Brand Index fase 1 2017: http://www.topbrand-
award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2017_fase_1
Baroto, T. (2006). Simulasi Perbandingan Algoritma
Regionapproach, Positional Weight, Dan Modie-Young Dalam Efisiensi Dan Keseimbangan Lini Produksi. GAMMA,
Volume II Nomor 1 Semptember 2006: 49 -54. Universitas Muhammadiyah Malang. DetikInet. (2014, Januari 11). detikInet. Dipetik
Februari 22, 2017, dari Penjualan Elektronik di Indonesia Tembus Rp 38,5 Triliun:
http://inet.detik.com/business/d- 2464841/penjualan-elektronik-di-indonesia-tembus-rp-385-triliun
Hartini, S. (2009). Teknik Mencapai Produksi Optimal. Lubuk Agung.
Metode RPW Sesudah Improvement
Metode RPW Sesudah Improvement Jumlah Waktu Kerja (detik) 1209,47 1146,07 1146,07
Jumlah Stasiun Kerja 54 54 51
CT Max (detik) 33,40 25,54 26,41
LE (%) 67 83 85
Balance Loss (%) 33 17 15
Kelompok 22. (2014). Perancangan Keseimbangan
Lintasan pada Lantai Produksi. Universitas
Diponegoro Semarang.
Muhammad K., Rudini M. (2014). Implementasi Line
Balancing Proses Produksi Refrigerator Unit Factory Nrf-2 Menggunakan Metode Heuristik Di Pt. Lg Electronics Indonesia. Jurnal Ilmiah
Pasti. Universitas Mercubuana Jakarta. Pratanto, C. (2015). Hristopel Pratanto Blog. Dipetik
Maret 1, 2017, dari Line Balancing
(Manajemen Oprasional):
http://cpratanto.blogspot.co.id/2011/11/line-balancing-manajemen-oprasional.html
Prihati, Yani. (2012). Simulasi Dan Permodelan
Sistem Antrian Pelanggan di Loket
Pembayaran Rekening XYZ Semarang.
Majalah Ilmiah INFORMATIKA Vol. 3 No. 3, Sept. 2012. Universitas AKI.
Purnamasari I,, Atikha S. C. (2015). Line Balancing
Dengan Metode Ranked Position Weight ( RPW). Spektrum Industri, 2015, Vol. 13, No.
2, 115 – 228. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Saiful, Mulyadi, Tri Muhadi R. (2014). Penyeimbangan
Lintasan Produksi Dengan Metode Heuristik (Studi Kasus Pt Xyz Makassar). Jurnal Teknik
Industri, Vol. 15, No. 2, Agustus 2014: 183– 190. Universitas Hasanuddin.
Wink. (2016, September 15). Penemu Kulkas (Lemari
Es). Dipetik Februari 22, 2017, dari daftar
penemu dan ilmuan terkenal di dunia: http://www.penemu.co/penemu-kulkas-lemari-es-william-cullen/
Yayan I, Ni Luh P. H. (2013). Minimalisasi Bottleneck
Proses Produksi Dengan Menggunakan Metode Line Balancing. Institut Teknologi
Adhi Tama Surabaya.
Yowono, Gangsar Cahyo. (2015). Analisis Sistem Antrian Service Mobil di PT. Tunas Mobilindo
Perkasa Dengan Menggunakan Simulasi