KEABSAHAN TANDA TANGAN ELEKTRONIK PADA PERJANJIAN KONTRAK BISNIS DI INDONESIA

Download (0)

Full text

(1)

KEABSAHAN TANDA TANGAN ELEKTRONIK PADA PERJANJIAN KONTRAK BISNIS DI INDONESIA

OLEH : DIYON P. KENCANA SUWARNO NPM : 13 10 122 100

I Nyoman Putu Budiartha A. A. Sg. Laksmi Dewi

ABSTRACT

Till today positive law of Indonesia determine that only one way of to give legal force and legal consequences to a[n act, that is with manuscript signature. But, in commerce praktik specially, manuscript signature have is becoming shifted with usage of coherent electronic signature at act of terdematerialisasi or equally " electronic act", so that arise debate about confession, legal force and legal consequences from a electronic signature. Its problems is: how arrangement of usage of electronic signature in agreement of business contract according to legislation in Indonesia? And How authenticity of electronic signature from a business contract or agreement in law of evidence?. Research type which is used in writing of this skripsi is type research of law of normatif. While approach of problem him with approach of legislation and is conceptual.

Arrangement of usage of electronic signature in agreement of business contract according to legislation in Indonesia, is under colour of law of UU ITE and Regulation Of Government (PP) Number 82 Year 2012 about Transaction Electronic and related to agreement grounds in KUH Civil. This legal fundament become important as reference and base that electronic document of is including agreement of business contract which sign digitally is validity judicially, is same as conventional signature at paper document.

Authenticity of electronic signature from a business contract or agreement in law of evidence is if contract that happened effect of transaction contract electronic business told is lawful of civil of Indonesia, hence the contract also have to fulfill conditions of its validity of agreement according to Section 1320 KUH Civil. Suggestion : Suggested to Government to be able to form special code regarding agreement in general which have accomodated commercial transaction of electronic ( e-commerce) representing specialist lex of KUH Civil and also of KUHAP to anticipate progressively expanding electronic area it in order to rule of law him in commercial transaction of electronic (e-commerce) in Indonesia. And to related partiess to do socialization concerning commercial transaction of electronic (e-commerce) of is including in it electronic signature to society and all enforcer of law to be able to comprehend problems and mechanism related to commercial transaction of electronic ( e-commerce)

Keyword : Signature Electronic, Agreement contract business

PENDAHULUAN

Hingga hari ini hukum positif Indonesia menentukan bahwa hanya satu

cara untuk memberikan kekuatan hukum dan akibat hukum terhadap suatu akta,

yaitu dengan tanda tangan manuskrip. Namun, dalam praktik perdagangan

(2)

khususnya, tanda tangan manuskrip sudah kian tergeser dengan penggunaan tanda tangan elektronik yang melekat pada akta terdematerialisasi atau dengan kata lain “akta elektronik”, Pengertian tanda tangan elektronik, berdasarkan pada Pasal 1 ayat (12) UU ITE adalah sebagai berikut : “Tanda tangan yang terdiri atas informasi elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan informasi elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi”. sehingga timbul perdebatan tentang pengakuan, kekuatan hukum dan akibat hukum dari sebuah tanda tangan elektronik. Permasalahannya adalah: bagaimana pengaturan penggunaan tanda tangan elektronik dalam perjanjian kontrak bisnis menurut perundang-undangan di Indonesia? Dan Bagaimana keabsahan tanda tangan elektronik dari suatu perjanjian atau kontrak bisnis dalam hukum pembuktian?.

METODE PENELITIAN

Tipe penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah tipe penelitian hukum normatif. Sedangkan pendekatan masalahnya dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Sumber bahan hukum adalah bahan hukum primer, seperti Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). dan sekunder , dan bahan hukum sekunder seperti pendapat ahli hukum, hasil penelitian hukum, hasil karya ilmiah dari kalangan sarjana hukum. Jurnal-jurnal ilmiah hukum, Internet dan lain-lain.

Bahan hukum tersier seperti kamus dan ensiklopedia. Teknik pengumpulan

bahan hukum dilakukan dengan metode pencatatan. Analisis Bahan Hukum yaitu

Bahan hukum yang sudah terkumpul dan telah dikelompokkan diolah dan

dianalisis dengan metode interpretasi hukum dimana bahan-bahan hukum

secara sistematis selanjutnya dikaji dan dirangkai secara sistematis, diberikan

penafsiran dan argumentasi. Penyajiannya dilakukan secara deskriptif analisis.

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Masalah yang mengemuka dan diatur dalam UU ITE adalah hal yang berkaitan dengan masalah kekuatan dalam sistem pembuktian dari informasi, dokumen, dan tanda tangan elektronik. Menurut Julius Indra Dwiparyo, (2005) tanda tangan elektronik, adalah “sebuah identitas elektronik yang berfungsi sebagai tanda persetujuan terhadap kewajiban-kewajiban yang melekat pada sebuah akta elektronik”.

Pengaturan informasi, dokumen, dan tanda tangan elektronik, dituangkan dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang-Undang ITE. Secara umum dikatakan bahwa informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah, yang merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia.

Demikian halnya dengan tanda tangan elektronik, memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah. Namun pembuatan tanda tangan elektronik tersebut harus memenuhi persyaratan-persyaratan seperti yang telah ditentukan.

Pasal (5) Ayat (1) sampai dengan Ayat (3) UU ITE, secara tegas menyebutkan:

Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah dan merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang.

Pasal 11 ayat (1) menyebutkan:

Tanda Tangan Elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah selama memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik terkait hanya kepada Penanda Tangan;

b. Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada saat proses penandatanganan elektronik hanya berada dalam kuasa Penanda Tangan;

c. Segala perubahan terhadap Tanda Tangan Elektronik yang terjadi

setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;

(4)

d. segala perubahan terhadap Informasi Elektronik yang terkait dengan Tanda Tangan Elektronik tersebut setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;

e. Terdapat cara tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa Penandatangannya; dan

f. terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa Penanda Tangan telah memberikan persetujuan terhadap Informasi Elektronik yang terkait

Pelaku bisnis mayoritas lebih memilih upaya hukum Non Litigasi yaitu penyelesaian sengketa alternatif (Alternative Dispute Resolution) untuk menyelesaikan setiap persoalan yang timbul dalam aktivitas bisnis karena sistem penyelesaiannya lebih efektif, adil, tidak menyita waktu, serta biaya relatif lebih murah. Sebaliknya jalur litigasi, penyelesaian sengketa lambat, biaya mahal.

Hal tersebut jika dihubungkan dengan transaksi elektronik yang dituangkan dalam perjanjian/kontrak elektronik menurut Pasal 18 juncto pasal 7 juncto pasal 11 UU 11/2008 ttg ITE telah menegaskan transaksi elektronik yang dituangkan dalam kontrak elektronik mengikat para pihak yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak, asalkan ditanda tangani secara elektronik oleh para pihak sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Dari sini dapat dikatakan bahwa seluruh transaksi elektronik dengan tanda tangan elektronik dapat dianggap sebagai akta, bahkan kekuatan pembuktiannya sama seperti akta otentik

SIMPULAN DAN SARAN 1. Simpulan

Dari hasil penelitian dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

1. Pengaturan penggunaan tanda tangan elektronik dalam perjanjian kontrak

bisnis menurut perundang-undangan di Indonesia, adalah dengan dasar

hukum UU ITE dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012 tentang

Transaksi Elektronik dan dikaitkan dengan asas-asas perjanjian dalam KUH

(5)

bahwa dokumen elektronik termasuk perjanjian kontrak bisnis yang ditanda tangani secara digital adalah sah secara hukum, sama seperti tanda tangan konvensional pada dokumen kertas.

2. Keabsahan tanda tangan elektronik dari suatu perjanjian atau kontrak bisnis dalam hukum pembuktian adalah jika kontrak yang terjadi akibat transaksi kontrak bisnis elektronik dikatakan sah menurut hukum perdata Indonesia, maka kontrak tersebut juga harus memenuhi persyaratan sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 KUH Perdata tersebut.

2. Saran

1. Disarankan kepada Pemerintah untuk dapat membentuk undang-undang yang khusus mengenai perjanjian secara umum yang sudah mengakomodir transaksi komersial elektronik (e-commerce) yang merupakan lex specialist dari KUH Perdata maupun KUHAP untuk mengantisipasi semakin berkembangnya dibidang elektronik agar adanya kepastian hukum dalam transaksi komersial elektronik (e-commerce) di Indonesia.

3. Bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan sosialisasi mengenai transaksi komersial elektronik (e-commerce) termasuk didalamnya tanda tangan elektronik kepada masyarakat dan para penegak hukum untuk dapat memahami mekanisme dan permasalahan yang berkaitan dengan transaksi komersial elektronik (e-commerce).

DAFTAR PUSTAKA

Julius Indra Dwipayono, 2005, Pengakuan Tanda Tangan Elektronik Dalam Hukum Pembuktian Indonesia, www.legalitas.org.

Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung..

Adi Nugroho, 2006, E-commerce memahami perdagangan modern di dunia

maya, Informatika, Bandung.

(6)

Agus Raharjo, 2002, Cybercrime: Pemahaman dan Upaya Pencegahan Kejahatan Berteknologi, Cetakan I, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Asril Sitompul, 2004, Hukum Internet (Pengenal Mengenai Masalah Hukum di Cyberspace), Cetakan II, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, 2005, Cyber law: Aspek Hukum Teknologi Informasi, Cetakan I, PT. Refika Aditama, Bandung.

Farizal F. Kamal, 1999, Cyberbusiness, Cetakan ke-3, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Herlien Budiono, 2007, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata Di Bidang Kenotariatan, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung.

Man Suparman Sastrawidjaja, 2002, Perjanjian Baku Dalam Aktivitas Dunia Maya, Cyber law: Suatu Pengantar, Cetakan I, Elips II, Jakarta.

Satrio, J. 1993, Hukum Perikatan (Perikatan Pada Umumnya), Penerbit Alumni, Bandung.

Sitompul, Josua. 2012. Cyberspace, Cybercrimes, Cyberlaw : Tinjauan Aspek Hukum Pidana, Tatanusa, Jakarta. .

Tan Thong Kie, 2007, Studi Notariat dan Serba-Serbi Praktek Notaris, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta.

Yahya Harahap, M. 2005, Segi-Segi Hukum perjanjian, Alumni, Bandung.

Perundang-undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan;

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;

Denpasar, Agustus 2017 Telah disetujui oleh:

Pembimbing I

Dr. I Nyoman Putu Budiartha, S.H.,M.H.

Pembimbing II

A. A. Sg. Laksmi Dewi, S.H,,M.H.

Figure

Updating...

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in