• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

9

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Manajemen Waktu

Waktu merupakan sumber daya yang paling langka, bila tidak dioptimalkan penataan terhadapnya maka tidak akan mampu menata apapun, karena waktu merupakan modal paling unik yang tidak mungkin dapat diganti dan tidak mungkin dapat disimpan tanpa digunakan (Jawwad 2006).

Menurut Forsyth (2009) manajemen waktu adalah kemampuan dalam menentukan dan melaksanakan seluruh pekerjaan dengan tujuan dan batasan waktu yang jelas, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi. Pendapat senada disampaikan oleh Mancini (2004) yang menjelaskan bahwa manajemen waktu sebagai kemampuan untuk memprioritaskan, menjadwalkan, melaksanakan tanggung jawab individu demi kepuasan individu tersebut.

Selanjutnya Macan (1994) mengemukakan bahwa manajemen waktu merupakan pengaturan diri dalam menggunakan waktu secara efektif dan efisien dengan melakukan perencanaan, penjadwalan, mempunyai kontrol atas waktu, selalu membuat prioritas dan tidak menunda pekerjaan yang harus diselesaikan.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Forsyth (2009) mengatakan bahwa manajemen waktu adalah cara bagaimana membuat waktu menjadi terkendali sehingga menjamin terciptanya sebuah efektifitas dan efisiensi juga produktifitas.

Dalam manajemen waktu individu mampu memilah-milah kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan dan keinginan. Individu yang dapat

(2)

mengelola waktu dengan baik akan berguna bagi individu untuk dapat menjalankan rutinitas dengan baik pula. Hal ini dikarenakan individu tersebut akan membuat langkah untuk mengatur dan mengelola waktu dengan sebaik- baiknya, sehingga membuat individu menjadi produktif dan mampu mencapai tujuan hidup yang telah ditetapkan oleh individu tersebut (Gie 1996).

Dari berbagai pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa manajemen waktu merupakan ketrampilan dalam memilah-milah pekerjaan yang menjadi prioritas melalui perencanaan, penjadwalan dan melaksanakan tanggung jawab demi mencapai hasil yang diharapkan.

2.2 Aspek – Aspek Manajemen Waktu

Menurut Macan (1994) mengemukakan aspek-aspek dalam manajemen waktu sebagai berikut:

1. Penetapan tujuan dan prioritas

Penetapan tujuan dan prioritas berkaitan dengan apa yang ingin dicapai atau dibutuhkan untuk memperoleh dan membuat prioritas dari tugas yang penting dalam mencapai tujuan tersebut.

2. Mekanisme dari manajemen waktu

Aspek ini meliputi proses dari rencana yang akan dilakukan, seperti mengatur jadwal dengan menyusun perencanaan setiap kegiatan yang dilakukan.

3. Pengorganisasian Tugas

Aspek manajemen waktu ini terletak pada kebiasaan individu yang melakukan pencatatan dan pemeriksaan dalam kegiatan sehingga dapat

(3)

terorganisir dengan baik dalam menyelesaikan tugasnya. Pencatatan dan pemeriksaan ini penting untuk mengevaluasi beberapa banyak waktu yang telah dihabiskan untuk aktivitas yang berorientasi pada tujuan ataupun prioritas.

Adapun Srijanti (2007) mengemukakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi manajemen waktu yaitu :

a. Adanya Target Yang Jelas

Dengan adanya target pencapaian maka hidup akan lebih terarah dan waktupun dapat diatu dengan sebaik-baiknya.

b. Adanya Prioritas Kerja

Individu yang dapat menjalankan manajemen waktu dengan baik akan mencurahkan seluruh konsentrasi dan energinya untuk mencapai prioritas yang telah ditetapkannya. Adanya prioritas dalam bekerja merupakan salah satu faktor utama yang membuat individu berhasil melakukan pekerjaan dengan baik.

c. Penundaan Pekerjaan

Kebiasaan menunda pekerjaan seringkali menyebabkan kehabisan waktu dan tenaga saat akan mengerjakannya. Sehingga bila dipaksakan melaksanakannya maka hasilnya bukanlah yang terbaik karena dilakukan dengan sia-sia.

d. Pendelegasian Tugas

Sifat kurang percaya pada orang lain dan ingin semua pekerjaan selesai dengan sempurna seringkali membuat tersitanya waktu yang kita miliki.

(4)

Perlu kiranya di ingat bahwa pekerjaan yang dilakukan orang lain mungkin tidak sebaik jika dilakukan sendiri, akan tetapi jika pekerjaan tersebut tidak yang utama kenapa tidak didelegasikan saja pada orang lain dengan tetap diawasi. Hal itu dapat lebih meringankan pekerjaan, waktu yang ada dapat dipergunakan untuk melakukan pekerjaan lain yang lebih berkualitas disamping dapat meningkatkan rasa percaya diri, kebahagiaan dan rasa hormat dari orang yang kita beri tugas.

e. Penataan Ruang Kerja

Ruang kerja yang membosankan dapat membuat pekerja kurang merasa nyaman dalam melakukan suatu pekerjaannya sehingga dapat mengakibatkan sulitnya mendapat hasil kerja yang baik.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen waktu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain penetapan tujuan dan prioritas, mekanisme dari manajemen waktu, pengorganisasian tugas, adanya target yang jelas, penundaan pekerjaan, pendelegasian tugas dan penataan ruang kerja. Oleh karenanya manajemen waktu dibutuhkan didalam kehidupan sehari-hari.

2.1.1 Menetapkan Tujuan dan Prioritas

Leman (2007) berpendapat bahwa dengan manajemen waktu seseorang dapat merencanakan dan menggunakan waktu secara efisien dan efektif sehingga tidak menyia-nyiakan waktu dalam kehidupannya. Perencanaan ini bisa berupa jangka panjang, menengah dan pendek.

Suatu teknik manajemen waktu yang perlu dijalankan ialah pengadaan prioritas. Tugas-tugas memiliki ciri penting atau sifat mendesak yang berbeda-

(5)

beda. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya harus ditentukan prioritas diantara berbagai pekerjaan (Gie 1987).

Selanjutnya menurut Lakein (1992) terdapat langkah-langkah dalam melakukan pengendalian waktu, yakni dengan pembuatan suatu daftar perincian tugas-tugas dan dilengkapi dengan penyusunan prioritas. Langkahnya ialah dengan membubuhkan huruf-huruf A, B, atau C di tepi kiri masing masing- masing tugas yang terperinci pada suatu daftar. Dengan keterangan sebagai berikut:

A : untuk urusan-urusan yang mempunyai nilai tinggi.

B : untuk urusan-urusan yang mempunyai nilai sedang.

C: untuk urusan-urusan yang mempunyai nilai rendah.

Lebih lanjut Lakein (1992) menjelaskan tentang langkah-langkah dalam menentukan kegiatan-kegiatan yang tepat untuk mencapai tujuan dari skala prioritas dengan cara:

1. Mendaftarkan semua kemungkinan kegiatan untuk tiap tujuan dari skala A, dan

2. Menentukan susunan prioritas untuk memberi kesempatan pada diri sendiri, supaya dapat memilih kegiatan paling efektif yang harus dilakukan sekarang.

Dalam menentukan skala prioritas hendaknya memilih satu kegiatan prioritas A yang dikerjakan sekarang dan benar-benar dilaksanakan. Jika memilih satu kegiatan skala A untuk dikerjakan setiap hari, maka buat catatan tersebut

(6)

sesingkat dan selayak mungkin. Lakein (1992) menyebutkan terdapat pokok- pokok yang mendasar dalam membuat skala prioritas:

1. Mendaftar tujuan-tujuan jangka panjang yang mungkin akan dicapai.

2. Menentukan skala prioritas untuk sekarang dan mengenali tujuan-tujuan skala A tersebut.

3. Mendaftar kegiatan yang mungkin dilakukan demi tujuan-tujuan skala A.

4. Menentukan prioritas dan mengenali kegiatan skala A 5. Memasukkan kegiatan skala A ke dalam skedul 6. Lakukan menurut skedulnya.

Pendapat lain dikemukakan oleh Waluyo (2008) yang mengatakan bahwa terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan prioritas:

a) Tuliskan seluruh kegiatan dan tugas-tugas pada hari ini. Caranya buatlah daftar segala sesuatu yang ingin dilakukan hari ini, bersama dengan batas waktu yang dimiliki, jangan hanya mengandalkan ingatan maka tulislah diatas kertas.

b) Berikan nilai “PENGARUH” untuk setiap tugas atau kegiatan yang ditulis diatas. Gunakan skala 1-10 dimana nilai 1 artinya kegiatan tersebut “tidak penting” dan10 artinya “sangat penting”.

c) Kelompokkan menurut urutan “kepentingannya”. Tentukan prioritas “A”

untuk tugas-tugas dengan nilai diatas 7, prioritas “B” untuk nilai diantara 4-6, dan prioritas “C” untuk nilai dibawah 3.

(7)

2.1.2 Mekanisme Dari Manajemen Waktu

Menurut Lakein (1992) salah satu alat utama untuk membuat rencana yang ingin dikerjakan ialah dengan menyusun schedule. Akan tetapi menyusun schedule berarti lebih daripada memasukkan segala macam hal yang harus

dilakukan ke dalam jam-jam yang tersedia, misalnya: rapat, janji-janji, dan batas- batas waktu. Menyusun schedule juga berarti menyediakan waktu khusus untuk apa yang ingin dilakukan, yakni hal-hal yang termasuk dalam kelompok skala prioritas.

Satu aspek penting dalam acara pembuatan skedul ialah menentukan waktu yang diutamakan. Lakein (1992) juga menjelaskan mengenai waktu yang terbaik untuk membuat rencana ialah pada pagi hari atau pada akhir setiap hari.

Terdapat banyak faktor-faktor kelebihan pada pembuatan rencana yang dilakukan pagi hari ketika kondisi masih segar. Pokok kegiatan pembuatan rencana di malam hari ialah karena seseorang sudah tahu sampai dimana hari itu dan perspektif tersebut akan menolong untuk memilih kegiatan pada esok harinya.

Dalam pembuatan skedul yang efektif dapat dilakukan dengan cara membebaskan diri dari suatu beban tugas dan tanggungjawab yang berlebihan.

Luangkan waktu satu jam setiap hari di dalam perencanaan harian demi pemulihan kesegaran, misalnya setelah terjadi satu wawancara yang panjang, sisihkan waktu untuk membaca surat-surat dan mengejar tugas-tugas administratip (Lakein 1992).

(8)

Berdasarkan riset yang dilakukan Timpe (2002) menyimpulkan ada lima bidang utama yang tidak boleh ditinggalkan dalam pengelolaan waktu atau manajemen waktu :

1. Kesadaran bahwa sebagian besar waktu yang dihabiskan bersifat kebiasaan.

2. Bahwa penentuan sasaran pribadi sangat penting bagi manajemen yang benar.

3. Prioritas harus dikategorikan dan dikaji.

4. Bahwa komunikasi yang baik dan benar sangat esensial.

5. Bahwa penangguhan mungkin merupakan halangan terbesar bagi pengelolaan waktu.

Selanjutnya Dale (2003) menyatakan bahwa tingkat efektifitas seseorang individu dalam melakukan manajemen terhadap dirinya dipengaruhi oleh beberapa aspek diantaranya:

a) Kesehatan (Health). Kondisi fisik maupun psikis mempengaruhi seseorang dalam mengarahkan aktifitas kehidupan. Di satu sisi, kesehatan fisik menjadi modal utama bagi seseorang individu untuk melakukan aktivitas dan di sisi lain kesehatan psikis menciptakan kondisi mental yang stabil.

Kondisi kesehatan yang baik akan mewujudkan keseimbangan pada diri individu sehingga akan mempermudah ia dalam melakukan penyesuaian diri dalam memanajemen waktu

b) Keterampilan atau keahlian (Skill). Menggambarkan kualitas individu tersebut. Ada beberapa keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan.

(9)

Seberapa jauh kesadaran individu akan hal ini menetukan seberapa jauh ia menyusun rencana untuk kehidupannya. Individu tersebut dapat memutuskan untuk menjadi orang yang memiliki berbagai keahlian sekaligus atau menjadi orang yang melakukan suatu keahlian tertentu.

Pilihan tersebut yang dilakukan oleh individu selanjutnya akan mempengaruhi cara ia mawujudkan tujuannya, mulai dari menentukan tingkatan keahlian, menentukan model atau contoh yang tepat sehingga mencari kesempatan untuk melatih keahliaan tersebut.

c) Aktivitas (Action). Seberapa jauh seorang individu mampu menyelesaikan aktivitas hidup yang baik, misalnya seberapa jauh kemampuannya untuk membuat keputusan dan mengambil inisiatif. Individu yang mampu mengembangkan aktivitas hidupnya dengan baik adalah individu yang memiliki kepekaan terhadap berbagai alternatif atau cara pandang dan memiliki imajinasi moral yang tinggi sehingga keputusan-keputusan aktivitas mempertimbangkan dua hal sekaligus, yaitu yang memberi manfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.

2.1.3 Pengorganisasian Tugas

Mengatur atau mengelola waktu merupakan upaya untuk memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Menurut Lakein (1992) Terdapat Beberapa hal yang penting dalam mengelola waktu yaitu sebagai berikut :

a. Mempelajari tujuan, rencana dan prioritas

b. Membuat rencana kerja periodik, dapat berupa rencana harian c. Menentukan tingkat urgensinya

(10)

d. Menentukan hal-hal yang dapat didelegasikan pada orang lain

e. Melakukan prioritas ( yang terpenting ) dan yang paling dekat batas waktunya.

f. Memberi tanda pada hal-hal yang telah selesai

g. Memindahkan hal-hal yang belum tuntas pada rencana hari berikutnya.

Yager (2007) mengemukakan terdapat tujuh prinsip manajemen waktu yang kreatif bahwa selalu aktif (bukan reaktif), tentukan sasaran, tentukan prioritas dalam bertindak, pertahankan fokus, ciptakan tenggat waktu yang realistis, dan lakukan sekarang juga (DO IT NOW) : D = Divide (bagi-bagilah tugas), O = Organize (atur bagaimana melaksanakannya), I = Ignore (abaikan gangguan), T = Take (ambil kesempatan), N = Now (Sekarang harus dijalankan), O = Opportunity (ambil kesempatan), W = Watch out (waspada dengan waktu).

Selanjutnya Timpe (2002) mengemukakan orang-orang yang menerapkan prinsip-prinsip manajemen waktu, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a) Mengetahui tujuan hidup: membuat prioritas berdasarkan tujuan.

b) Menghindari melakukan hal-hal yang mendesak: dengan mengidentifikas halhal yang lebih penting.

c) Membuat jadwal untuk mencapai hasil: dengan membuat perencanaan dan penjadwalan agar dapat diselesaikan tepat waktu.

d) Mampu melakukan pekerjaan dengan terorganisir: dengan mengatur segala sesuatu sehingga memudahkan dalam bekerja.

e) Mampu menyaring informasi dari luar: dengan mengambil informasi yang dibutuhkan.

(11)

f) Menguasai teknologi: mengetahui cara menggunakan teknologi sehingga dapat menghemat waktu.

g) Mampu meminimalkan interupsi: gangguan dari pihak luar dan diri sendiri sehingga dapat meningkatkan konsentrasi pada pekerjaan.

h) Mampu bersikap asertif: mampu menolak ajakan orang lain tanpa rasa takut, mengelola amarah dan menghindari melakukan aktifitas-aktifitas yang tidak penting.

i) Mampu mengelola stres: mengetahui cara mengantisipasi situasi yang dapat menimbulkan stres.

j) Dapat menggunakan waktu secara efisien: memulai pertemuan tepat waktu, tetap pada pokok pembicaraan dan tidak menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak penting.

k) Mampu mengelola waktu dalam perjalanan: tetap produktif pada saat dalam perjalanan.

2.1.4 Proporsi Alokasi Waktu

Hasil penelitian Forsyth (2009) menyebutkan bahwa terdapat hambatan- hambatan dalam melakukan manajemen waktu yaitu sebagai berikut :

a. Mendahulukan pekerjaan yang dicintai, baru kemudian mengerjakan pekerjaan yang kurang diminati.

b. Mendahulukan pekerjaan yang mudah sebelum menyelesaikan pekerjaan yang sulit.

c. Mendahulukan pekerjaan yang cepat penyelesaiannya, sebelum menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan waktu yang lama.

(12)

d. Mendahulukan pekerjaan darurat / mendesak, sebelum meyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang penting.

e. Melakukan aktivitas yang dapat mendekatkan mereka pada tujuan atau mendatangkan kemaslahatan bagi diri mereka.

f. Menunggu batas waktu ( mepet ) untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.

g. Skala prioritas disusun tidak berdasarkan kepentingannya, tetapi berdasarkan urutannya.

h. Terperangkap pada tuntutan yang mendesak dan memaksa.

Menurut Treacy (1993) ada hal-hal yang umum menyebabkan pemborosan waktu yakni: tidak menemukan apa yang dicari, pertemuan, telepon, interupsi, penangguhan, kertas kerja yang kecil-kecil, kemelut, urutan pelimpahan yang terbalik, ingin segalanya sempurna dari gangguan.

Gambaran dari pemborosan waktu tersebut adalah:

1. Tidak menemukan apa yang dicari

Beberapa orang mungkin jengkel ketika harus menghabiskan waktu untuk mencari kertas catatan atau dokumen yang salah taruh. Apalagi jika sedang dikejar-kejar target waktu. Apabila setiap kali hal ini terjadi dan menghabiskan waktu 1 menit atau bahkan lebih, maka bisa dibayangkan berapa lama waktu yang terbuang untuk melakukan sesuatu yang tidak produktif seperti ini.

2. Pertemuan

(13)

Dalam pekerjaan seringkali diminta untuk menghadiri rapat, namun seringgkali rapat yang diadakan tersebut tidak relevan dengan pekerjaan kita, memakan waktu yang lama, bahkan ketika rapat mulai terlambat.

3. Telepon

Berkaitan dengan penanganan telepon, seringkali kebanyakan orang melakukan suatu pemborosan waktu tanpa disadari. Beberapa hal misalnya banyaknya telepon berdering setiap hari, pembicaraan telepon yang bertele-tele, mengulang telepon karena ada sesuatu yang terlupakan dan sebagainya.

4. Interupsi

Interupsi oleh orang lain ke meja kerja seringkali tidak dapat dihindari.

Interupsi ini kadang tanpa disadari memang didukung oleh perilaku kita yang menghentikan apa yang dikerjakan ketika ada interupsi. Hal ini dilakukan salah satunya karena ada perasaan tidak enak terhadap orang lain.

5. Penangguhan

Tugas yang menumpuk cenderung ditangguhkan, beberapa orang membuat alasan-alasan untuk melakukan penundaan. Padahal dengan penundaan-penundaan justru tugas semakin menumpuk.

6. Kertas kerja yang kecil-kecil

Kertas kerja seringkali menjadi sumber pemborosan waktu. Hal itu terjadi karena cara kerja yang tidak efektif. Suatu data yang perlu direkam harus

(14)

melalui proses pencatatan ulang (pemindahan data) dalam beberapa kertas atau buku.

7. Kemelut

Ada mungkin dari waktu yang dimiliki, dihabiskan hanya karena terjebak pada suatu kemelut. Bahkan seringkali seseorang tergopoh-gopoh dari suatu kemelut ke kemelut lain. Namun perlu dipertanyakan apakan kemelut yang ditangani betul-betul masalah yang perlu dihadapi saat ini.

8. Urutan pelimpahan yang terbalik

Ada sebagian orang yang memboroskan waktu dengan membiarkan bawahannya meninggalkan pekerjaan di atas meja mereka hanya untuk mendapatkan masukan. Misalnya dengan ungkapan “taruh disitu, biar saya periksa dulu”.

9. Ingin segalanya sempurna

Keinginan agar segalanya sempurna, seringkali membuat sesuatu yang penting menjadi tidak tergarap. Hal ini sebenarnya sesuatu yang kita kerjakan cukup hanya dengan 90% keberhasilan, tetapi kita mentargetkan harus berhasil 100%.

2.3 Pengertian Kinerja

Secara etimologi kinerja berasal dari kata prestasi kerja (performance).

Sebagaimana dikemukakan oleh Mangkunegara (2007) bahwa istilah kinerja dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang) yaitu hasil kerja secara kualitas dan

(15)

kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Dilihat dari sudut pandang ahli yang lain, kinerja adalah banyaknya upaya yang dikeluarkan individu pada pekerjaannya (Nawawi 2004). Sementara menurut Soeprihanto (2001) kinerja atau performance merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi. Sedangkan Miner (1988) mendifinisikan kinerja pegawai sebagai kemampuan pegawai dalam melakukan sesuatu keahlian tertentu.

Menurut Hasibuan (2006) menjelaskan bahwa Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu”.

Sedangkan menurut Marwansyah (2012) Kinerja atau performance, yaitu:

"Hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing- masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika”.

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja karyawan merupakan suatu kemampuan dalam mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan, dimana suatu target kerja dapat diselesaikan pada waktu yang tepat atau tidak melampaui batas waktu yang disediakan sehingga tujuannya akan sesuai dengan moral maupun etika perusahaan.

(16)

2.4 Indikator Kinerja

Menurut Miner (1988) kinerja pegawai adalah mempengaruhi seberapa banyak kontribusi kepada organisasi antara lain termasuk:

1. Kuantitas Kerja

Standar ini dilakukan dengan cara membandingkan antara besarnya volume kerja yang seharusnya (standar kerja normal) dengan kemampuan sebenarnya.

2. Kualitas Kerja

Standar ini menekankan pada mutu kerja yang dihasilkan dibandingkan volume kerja.

3. Pemanfaatan Waktu

Yaitu penggunaan masa kerja yang disesuaikan dengan kebijaksanaan perusahaan.

4. Tingkat Kehadiran

Asumsi yang digunakan dalam standar ini adalah jika kehadiran pegawai di bawah standar kerja yang ditetapkan maka pegawai tersebut tidak akan mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi perusahaan.

5. Kerjasama

Keterlibatan seluruh pegawai dalam mencapai target yang ditetapkan akan mempengaruhi keberhasilan bagian yang diawasi. Kerjasama antara pegawai dapat ditingkatkan apabila pimpinan mampu memotivasi pegawai dengan baik.

(17)

Adapun indikator kinerja karyawan menurut Sedarmayanti (2007) adalah sebagai berikut :

1. Mampu meningkatkan target pekerjaan.

2. Mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

3. Mampu menciptakan inovasi dalam menyelesaikan pekerjaan.

4. Mampu menciptakan kreativitas dalam menyelesaikan pekerjaan.

5. Mampu meminimalkan kesalahan pekerjaan.

2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

Menurut Simanjutak (2005) kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni :

1. Kualitas dan kemampuan pegawai. Yaitu hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan/ pelatihan, etos kerja, motivasi kerja, sikap mental, dan kondisi fisik pegawai.

2. Sarana pendukung, yaitu hal yang berhubungan dengan lingkungan kerja (keselamatan kerja, kesehatan kerja, sarana produksi, teknologi) dan hal- hal yang berhubungan dengan kesejahteraan pegawai (upah/ gaji, jaminan sosial, keamanan kerja)

3. Supra sarana, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kebijaksanaan pemerintah dan hubungan industrial manajemen.

Menurut Sedarmayanti (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain :1) Sikap dan mental (motivasi kerja, disiplin kerja, dan etika kerja), 2) Pendidikan, 3) Keterampilan, 4) Manajemen kepemimpinan, 5) Tingkat

(18)

penghasilan, 6) Gaji dan kesehatan, 7) Jaminan sosial, 8) Iklim kerja, 9) Sarana dan prasarana, 10) Teknologi, dan 11) Kesempatan berprestasi.

2.6 Penilaian Kinerja

Dessler (2007) berpendapat bahwa penilaian kinerja (performance appraisal) pada dasarnya merupakan faktor kunci guna mengembangkan suatu

organisasi yang efektif dan efisien. Pegawai menginginkan dan memerlukan umpan balik berkenaan dengan prestasi karyawan tersebut dan penilaian menyediakan kesempatan untuk memberikan kesempatan untuk meninjau kemajuan pegawai, dan untuk menyusun rencana peningkatan kinerja.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dessler (2007) menyembutkan terdapat lima faktor dalam penilaian kinerja yang popular, yaitu :

1. Prestasi pekerjaan, meliputi: akurasi, ketelitian, keterampilan, dan penerimaan keluaran.

2. Kuantitas pekerjaan, meliput: volume keluaran dan kontribusi.

3. Kepemimpinan yang diperlukan, meliputi: membutuhkan saran, arahan atau perbaikan.

4. Kedisplinan, meliputi: kehadiran, sanksi, warkat, regulasi, dapat dipercaya/ diandalkan dan ketepatan waktu.

5. Komunikasi, meliputi: hubungan antar pegawai maupun dengan pimpinan, media komunikasi.

Sedangkan Prawirosentono (2008) menyampaikan bahwa kinerja dapat dinilai atau diukur dengan beberapa indikator yaitu:

a. Efektifitas

(19)

Efektifitas yaitu bila tujuan kelompok dapat dicapai dengan kebutuhan yang direncanakan.

b. Tanggung jawab

Merupakan bagian yang tak terpisahkan atau sebagai akibat kepemilikan wewenang.

c. Disiplin

Yaitu taat pada hukum dan aturan yang belaku. Disiplin karyawan adalah ketaatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan perusahaan dimana dia bekerja.

d. Inisiatif

Berkaitan dengan daya pikir, kreatifitas dalam bentuk suatu ide yang berkaitan tujuan perusahaan. Sifat inisiatif sebaiknya mendapat perhatian atau tanggapan perusahaan dan atasan yang baik. Dengan perkataan lain inisiatif karyawan merupakan daya dorong kemajuan yang akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan.

Pernyataan Miner (1988) menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai kinerja karyawan adalah sebagai berikut:

1. Quantity of Work (kuantitas kerja): jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode yang ditentukan.

2. Quality of Work (kualitas kerja): kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan ditentukan.

3. Job Knowledge (pengetahuan pekerjaan): luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilannya.

(20)

4. Creativeness (kreativitas): keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.

5. Cooperation (kerja sama): kesedian untuk bekerjasama dengan orang lain atau sesama anggota organisasi.

6. Dependability (ketergantungan): kesadaran untuk mendapatkan kepercayaan dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja.

7. Initiative (inisiatif): semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya.

8. Personal Qualities (kualitas personal): menyangkut kepribadian,

kepemimpinan, keramah-tamahan dan integritas pribadi.

Sedangkan George dan Jones (2002) menyatakan bahwa kinerja dapat dinilai dari kuantitas, kuantitas kerja yang dihasilkan dari sumber daya manusia dan level dari pelayanan pelanggan. Kuantitas kerja yang dimaksud adalah jumlah pekerjaan yang terselesaikan, sedangkan kualitas kerja yang dimaksud adalah mutu dari pekerjaan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian kinerja dapat membantu sebuah organisasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam tercapainya tujuan sebuah perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam tugas akhir ini adalah bagaimanakah merancang, membuat, dan menguji sistem pendukung keputusan penerimaan

Rekomendasi pengembangan zona lindung diperuntukkan sebagai lokasi wisata, jenis wisata minat khusus, yaitu penelusuran lorong Gua Urang.. Ornamen gua pada daerah mulut

Pada konteks tindakan berdasarkan Hermeneutik Kritis Jurgen Habermas dalam buku The Theory of Communication Action, ada empat tindakan yang dibagi oleh Habermas

 Megaphyllus, yaitu paku yang mempunyai daun besar sehingga mudah dibedakan atas batang dan daun , misalnya pada Asplenium.  Macrophyllus, yaitu paku yang memiliki

Bapak Yaya Sudarya,M.Kom.,Ph.D, selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhir pada Jurusan Sistem Informasi, Universitas Mercu Buana, yang telah banyak memberikan bimbingan, saran,

Pembandingan antara kedua data dari sensor tunggal dan sensor ganda pada setiap langkah pemrosesan dilakukan dengan kedua proses analisis kualitatif dan kuantatif

Littlejohn dan Domenici (2007), membagi dua kondisi konflik yaitu perilaku konflik yang bersifat langsung dan tidak langsung serta bentuk perilaku yang dapat bekerjasama

Dilihat dari semua hasil rata-rata pada setiap kelompok, perolehan nilai bobot badan tidak berbeda jauh antara kelompok yang diberi tanaman obat maupun kelompok kontrol, hal