• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN SODIUM LAURYL SULFATE (SLS) DAN TERJADINYA DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PEKERJA LAUNDRY KILOAN KELURAHAN PADANG BULAN MEDAN TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PAPARAN SODIUM LAURYL SULFATE (SLS) DAN TERJADINYA DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PEKERJA LAUNDRY KILOAN KELURAHAN PADANG BULAN MEDAN TAHUN 2020"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

PAPARAN SODIUM LAURYL SULFATE (SLS) DAN TERJADINYA DERMATITIS KONTAK IRITAN

PADA PEKERJA LAUNDRY KILOAN KELURAHAN PADANG BULAN

MEDAN TAHUN 2020

SKRIPSI

Oleh

KHENNY HONESTY SAGALA NIM. 161000162

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(2)

MEDAN TAHUN 2020

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

KHENNY HONESTY SAGALA NIM. 161000162

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020

(3)

i

(4)

Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal : 22 Oktober 2020

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Dra. Lina Tarigan, Apt., M.S.

Anggota : 1. dr. Muhammad Makmur Sinaga, M.S.

2. Umi Salmah, S.K.M., M.Kes.

ii

(5)

Pernyataan Keaslian Skripsi

Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul “Paparan Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan Terjadinya Dermatitis Kontak Iritan pada

Pekerja Laundry Kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudianditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Oktober 2020

Khenny Honesty Sagala

iii

(6)

kontak, baik dermatitis kontak iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergik (DKA).

Prevalensi dermatitis kontak iritan akibat kerja adalah sebanyak 80%. Dermatitis kontak iritan terjadi oleh karena adanya paparan bahan kimia Bahan kimia yang sering digunakan sebagai bahan baku deterjen adalah sodium lauryl sulfate (SLS) yang memiliki daya pembusa baik, harganya yang terjangkau, dan dapat mengiritasi kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran paparan sodium lauryl sulfate (SLS) dan terjadinya dermatitis kontak iritan pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Penelitian ini dilakukan kepada pekerja laundry kiloan pada proses pencucian di Kelurahan Padang Bulan dengan subjek penelitian sebanyak sepuluh orang. Hasil penelitian pada pekerja laundry kiloan pada proses pencucian diketahui bahwa tujuh pekerja menggunakan deterjen yang di dalamnya terkandung SLS dimana enam pekerja didapati konsentrasi SLS berada di atas konsentrasi normal yaitu 10%, enam pekerja mengalami dermatitis kontak iritan dimana lima pekerja diantaranya terpapar SLS, enam pekerja berada pada kelompok usia ≤ 37 tahun, tujuh pekerja berjenis kelamin wanita, lima pekerja memiliki lama kontak selama

≤ 8 jam per hari, tujuh pekerja memiliki masa kerja ≥ 1 tahun, dua pekerja memiliki riwayat penyakit kulit, delapan pekerja memiliki personal hygiene yang tidak baik, dan seluruh pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri. Pekerja laundry kiloan diharapkan dapat menggunakan alat pelindung diri berupa sarung tangan berbahan karet sintetis.

Kata Kunci : SLS, DKI, pekerja laundry

iv

(7)

Abstract

Occupational skin diseases in Indonesia known that 90% are contact dermatitis, both irritant contact dermatitis (ICD) and allergic contact dermatitis (ACD). The prevalence of occupational irritant contact dermatitis is as much as 80%. Irritant contact dermatitis occurs due to exposure to chemicals. Chemicals that are often used as raw material for detergents are sodium lauryl sulfate (SLS) which has good foaming power, is affordable, and can irritate the skin. The purpose of this research is to know the description of the exposure sodium lauryl sulfate (SLS) and the occurrence of irritant contact dermatitis in workers kilos laundry Kelurahan Padang Bulan. The method used in this research is descriptive research method with a qualitative approach. This research was conducted on workers kilos laundry washing stage in Kelurahan Padang Bulan with ten research subjects. The results of research on kilos laundry workers in the washing process found that seven workers used detergents which contained SLS with six workers found their SLS content was above the normal content of 10%, six workers had irritan contact dermatitis of which five where exposed to SLS, six workers were in the age group ≤ 37 years, seven The workers are female, five workers have contact duration of ≤ 8 hours for a day, seven workers have a work period of ≥ 1 year, two workers have a history of skin diseases, eight workers have poor personal hygiene, and all workers do not use personal protective equipment.

Laundry workers are expected to able to use personal protective equipment in the form of gloves made from synthetic rubber.

Keywords: SLS, ICD, laundry workers.

V

(8)

rahmat dan nikmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Paparan Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan Terjadinya Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja Laundry Kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020”, guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Selama penyusunan skripsi mulai dari awal hingga akhir selesainya skripsi ini penulis banyak mendapat bimbingan, dukungan, serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes., selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Dra. Lina Tarigan, Apt., M.S., selaku Dosen Pembimbing dan Ketua Penguji saya yang telah banyak membimbing dan meluangkan waktu, memberikan saran, dukungan, nasihat, serta arahan dalam penyelesaian skripsi ini.

vi

(9)

5. dr. Mhd. Makmur Sinaga, M.S., selaku dosen penguji 1 saya yang telah memberikan masukan kepada penulis dalam mempebaiki skripsi ini serta memberikan dukungan dan bimbingan selama masa pendidikan penulis.

6. Umi Salmah, S.K.M., M.Kes., selaku dosen penguji 2 penulis yang telah memberikan masukan kepada penulis dalam memperbaiki skripsi ini serta memberikan dukungan dan bimbingan selama masa pendidikan penulis.

7. dr. Fazidah Aguslina Siregar, M.Kes., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan nasehat dan masukan kepada penulis selama berkuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

8. Seluruh dosen dan staf Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bekal ilmu selama penulis menjadi mahasiswa di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

9. dr. Kristo A. Nababan, Sp.KK(K), M.Ked(DV), FAADV, FINSDV selaku dokter pendamping yang telah bersedia membantu penulis dalam memeriksa subjek penelitian dan telah banyak memberikan masukan kepada penulis.

10. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Medan dan Lurah Kelurahan Padang Bulan yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian dan membantu peneliti dalam mengurus administrasi.

11. Seluruh pekerja laundry kiloan yang telah memberikan waktunya untuk penulis dapat melaksanakan penelitian.

vii

(10)

12. Teristimewa untuk kedua orang tua penulis, Junson Sagala dan Sukmawati Ginting yang senantiasa memberikan doa, dukungan kepada penulis, memberikan kasih sayang serta kesabaran dan pengertian yang luar biasa selama ini. Saudara – saudara tersayang yang sangat luar biasa Kakak penulis Gembira, Adik penulis Gabriellita Sagala dan Johnston Barnes Sagala serta seluruh keluarga besar Op. Rumondang Sagala dan keluarga besar Cucu Biring yang telah memberikan dukungan selama ini.

13. Teruntuk Tommy Hasiholan Silaen, S.Hut., yang sudah banyak memberi masukan, dukungan doa, dukungan moral, dukungan makanan dan minuman, dan meluangkan waktu untuk mendengar segala keluh kesah penulis selama masa perkuliahan terkhusus selama menyelesaikan skripsi.

14. Pemuda Advent Maranatha Cijantung, Pemuda Advent Pd. Bulan, Barbar Squad, KKN Pencitraan, PBL Desa Pantai Cermin, dan LKP PT. BSP atas bantuan dan dukungan selama penulis menyelesaikan skripsi.

15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu, memberikan semangat, dukungan dan doa selama ini.

Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat terutama dalam kemajuan ilmu pengetahuan.

Medan, Oktober 2020

Khenny Honesty Sagala

viii

(11)

Daftar Isi

Halaman

Halaman Persetujuan i

Halaman Penetapan Tim Penguji ii

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii

Abstrak iv

Abstract v

Kata Pengantar vi

Daftar Isi ix

Daftar Tabel xi

Daftar Gambar xii

Daftar Lampiran xiii

Daftar Istilah xiv

Riwayat Hidup xv

Pendahuluan 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 6

Tujuan Penelitian 6

Tujuan umum 6

Tujuan khusus 6

Manfaat Penelitian 7

Tinjauan Pustaka 8

Penyakit Akibat Kerja 8

Penyakit Kulit Akibat Kerja 8

Dermatitis Kontak 10

Dermatitis Kontak Iritan (DKI) 11

Definisi DKI 11

Etiologi DKI 12

Patogenesis DKI 13

Gejala klinis DKI 13

Faktor yang Menyebabkan DKI 15

Kelembaban dan Suhu 17

Karakteristik bahan kimia 18

Lama kontak 18

Masa kerja 19

Usia 19

Jenis kelamin 20

Riwayat penyakit kulit 20

Personal hygiene 21

Penggunaan alat pelindung diri (APD) 21

Laundry 22

ix

(12)

Deterjen 24

Jenis-jenis deterjen 24

Sodium Lauryl Sulfate 25

Sifat SLS 25

Kerangka Teori 27

Kerangka Berpikir 28

Metode Penelitian 29

Jenis Penelitian 29

Lokasi dan Waktu Penelitian 29

Subjek Penelitian 29

Definisi Konsep 30

Metode Pengumpulan Data 31

Metode Analisis Data 32

Hasil Penelitian dan Pembahasan 33

Deskripsi Lokasi Penelitian 33

Sejarah singkat kelurahan 33

Letak geografis dan luas wilayah kelurahan 33

Gambaran laundry 35

Deskripsi Hasil Penelitian 36

Deskripsi karakteristik subjek penelitian 37

Deskripsi terjadinya Dermtitis Kontak Iritan (DKI) 38

Pembahasan 43

Lokasi penelitian 43

Kejadian Dermatitis Kontak Iritan (DKI) 43

Kandungan sodium lauryl sulfate 51

Usia dan jenis kelamin 57

Riwayat penyakit kulit pekerja 60

Perilaku personal hygiene pekerja 61

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) 62

Keterbatasan Penelitian 63

Kesimpulan dan Saran 64

Kesimpulan 64

Saran 65

Daftar Pustaka 66 Lampiran 72

x

(13)

Daftar Tabel

No 1

Judul

Perbedaan Dermatitis Kontak Iritan dan Dermatitis

Halaman 15 Kontak Alergi

2 Faktor Eksogen dan Endogen Dermatitis Kontak Iritan 17

3 Sifat Fisik dan Kimia Sodium Lauryl Sulfate 25

4 Distribusi Penduduk Kelurahan Padang Bulan Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2019

34

5 Distribusi Penduduk Kelurahan Padang Bulan Berdasarkan Usia Tahun 2019

35

6 Karakterisik Pekerja Laundry Kiloan Kelurahan Padang Bulan Tahun 2020

37

7 Pekerja Laundry Kiloan Kelurahan Padang Bulan yang Melaksanakan Perilaku K3 dalam Proses Kerja Tahun 2020

39

xi

(14)

1 Salah satu contoh APD sarung tangan berbahan 22 karet sintesis

2 Kerangka teori 28

3 Kerangka berpikir 28

4 Peta Kelurahan Padang Bulan 34

5 Kondisi telapak tangan subjek penelitian yang dinyatakan dokter mengalami skuama, likenifikasi, dan erosi

50

xii

(15)

Daftar Lampiran

No 1

Judul

Formulir Persetujuan Responden

Halaman 72

2 Pedoman Wawancara Penelitian 73

3 Surat Ijin Penelitian 76

4 Surat Selesai Penelitian 77

5 Dokumentasi Kegiatan 78

xiii

(16)

AES Alcohol Ester Sulfate AOS Alfa Olein Sulfonat AS Alcohol Sulfate APD Alat Pelindung Diri

APLI Asosiasi Profesi Laundry Indonesia DKA Dermatitis Kontak Alergi

DKI Dermatitis Kontak Iritan

ILO International Labour Organization LAS Linier Alkil Sulfonat

MES Metil Ester Sulfonat PAK Penyakit Akibat Kerja PKAK Penyakit Kulit Akibat Kerja SLES Sodium Lauryl Ether Sulfate SLS Sodium Lauryl Sulfate

SOP Standart Operating Procedure

THOR The Health and Occupation Reporting

xiv

(17)

Riwayat Hidup

Penulis bernama Khenny Honesty Sagala berumur 22 tahun, dilahirkan di Medan pada tanggal 01 Mei 1998. Penulis beragama Kristen Advent, anak pertama kandung dari empat bersaudara dari Bapak J. Sagala dan Ibu S. Br Ginting.

Pendidikan formal dimulai di TK Kasih Ibu tahun 2003. Pendidikan sekolah dasar di SD Perguruan Advent XV Ciracas tahun 2004 – 2010, sekolah menengah pertama di SMP Negeri 102 Jakarta tahun 2010 – 2013, sekolah menengah atas di SMA Negeri 14 Jakarta tahun 2013 – 2016, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Medan, Oktober 2020

Khenny Honesty Sagala

xv

(18)

Dalam mencapai tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan diperlukan terjadi peningkatan kualitas pekerja secara penuh dan didasari oleh adanya perlindungan hukum. Karena tenaga kerja merupakan pelaku tujuan pembangunan nasional yang memiliki peranan dan kedudukan yang sangat penting.

Oleh sebab itu, pengusaha harus memperhatikan beberapa hal yang penting agar terjadinya peningkatan kualitas tenaga kerja salah satunya adalah produktivitas tenaga kerja itu sendiri. Faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja itu sendiri salah satunya ialah faktor kesehatan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang “Kesehatan” dalam pasal 164-166 menjelaskan bahwa baik pihak pemerintah, pengelola tempat kerja maupun pengusaha wajib melakukan upaya peningkatan kesehatan pekerja dengan tujuan melindungi pekerja itu sendiri agar pekerja memiliki hidup yang sehat dan terhindar dari ganggguan kesehatan juga pengaruh buruk yang disebakan oleh pekerjaan. Pernyataan tersebut juga didukung oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang “Ketenagakerjaan” dalam pasal 86 menjelaskan bahwa setiap pekerja/buruh berhak menerima perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dengan tujuan melindungi kesehatan pekerja/buruh sehingga terwujudlah produktivitas kerja yang optimal, maka diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.

Dalam ruang lingkup pekerjaan, diketahui adanya tiga istilah di dalam satu kelompok penyakit diantarnya ialah penyakit akibat hubungan kerja, penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja, dan penyakit akibat kerja.

1

(19)

2

Sebagaimana diketahui dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres RI) Nomor 7 Tahun 2019 tentang “Penyakit Akibat Kerja” yang menjelaskan bahwa penyakit akibat kerja adalah penyakit yang timbul oleh karena pekerjaan dan/atau lingkungan kerja. Penyakit akibat kerja (PAK) adalah suatu penyakit yang terjadi oleh karena kesengajaan (artifisial) atau biasa disebut dengan man made disease.

Ada beberapa definisi tentang penyakit akibat kerja itu sendiri, diantaranya “An occupational disorder can be described definitely as one this is caused, or made worse, through publicity at work” atau “An occupational disorder is a health problem caused by exposure to a workplace hazard”. Kedua definisi ini menjelaskan bahwa penyakit akibat kerja merupakan masalah pada kesehatan pekerja yang diakibatkan oleh karena adanya pajanan berbahaya di tempat kerja.

Salah satu penyakit akibat kerja yang tak jarang dialami pekerja merupakan penyakit kulit akibat kerja (PKAK). Penyakit kulit akibat kerja merupakan keadaan dimana kulit mengalami kelainan yang diketahui diperberat akibat pekerjaannya atau penyakit kulit yang sering terjadi oleh karena pekerjaan yang dilakukan.

PKAK adalah jenis penyakit akibat kerja terbanyak kedua sesudah penyakit muskulo-skeletal, yaitu berjumlah lebih kurang 22% berdasarkan semua penyakit akibat kerja. Negara Swedia diketahui memiliki penyakit kulit akibat kerja mencakup kurang lebih 50% dan di Indonesia persentase dermatitis akibat kerja menduduki porsi terbanyak yaitu sekitar 50-60%, sehingga dermatitis akibat kerja ini perlu mendapatkan perhatian yang khusus. Penyakit kulit akibat kerja kelainannya pada umumnya terdapat pada tangan, jari, dan lengan yang sangat

(20)

mengganggu penderita sebagai akibatnya berpengaruh negatif terhadap produktivitasnya (Laila & Sugiharto, 2017; Suma’mur, 2012).

Insiden dermatitis akibat kerja dapat terjadi pada kelompok pekerjaan manager, pejabat, direksi, sekretaris, dan administrasi dengan tingkatan terendah yaitu 1 kasus per 100.000 pekerja pertahun dan pada kelompok perdagangan serta layanan jasa memiliki insiden 10 kali lebih tinggi. Pada kelompok pekerja yang sering berkontakan dengan bahan kimia memliki insiden lebih dari 30 kasus baru per 100.000 pekerja. Prevalensi dermatitis di Indonesia sangat bervariasi. Namun, diketahui bahwa 90% penyakit kulit akibat kerja di Indonesia adalah dermatitis kontak, baik dermatitis kontak iritan (DKI) maupun dermatitis kontak alergik (DKA). Prevalensi DKI akibat kerja adalah sebanyak 80% sedangkan dermatitis kontak alergi sebanyak 20% (Laila & Sugiharto, 2017; Sarfiah et al, 2016; Nopa &

Nababan, 2018).

Pertumbuhan perekonomian di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 5,02% di tahun 2019. Akan tetapi angka ini lebih rendah 0,15% dari angka pertumbuhan perekonomian di Indonesia tahun 2018. Peningkatan pertumbuhan perkonomian di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya pertumbuhan konsumsi masyarkat dan pertumbuhan konsumsi pemerintah. Hal tersebut terjadi karena dunia perindustrian di Indonesia berkembang dengan pesat, baik industri sektor formal maupun sektor informal. Pada Februari 2019, tercatat bahwa penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas sebanyak 74 juta jiwa bekerja di sektor informal (BPS, 2020; 2019). Salah satu sektor informal yang mengalami hal serupa dengan peningkatan pertumbuhan perekonomian di Indonesia adalah bisnis

(21)

4

laundry. Menurut Warsono, Ketua Umum Asosiasi Profesi Laundry Indonesia (APLI), perkembangan bisnis laundry ini meningkat hampir 20% per tahun (Dhetira, 2016).

Karakteristik pada kaum millenial cenderung memilih untuk bekerja pada pekerjaan yang jam kerjanya fleksibel seperti sektor informal inilah yang dapat mempengaruhi tingginya angka penduduk Indonesia yang bekerja di sektor informal dibandingkan di sektor formal. Selain itu, meningkatnya pekerja di sektor informal disebabkan oleh karena sektor informal tengah berperanan penting dalam menadahi angkatan kerja. Golongan angkatan kerja muda yang belum mempunyai pengalaman bekerja atau angkatan kerja yang pertama kali masuk dunia kerja dapat dikatakan bekerja di sektor informal merupakan alternatif terakhir untuk mendapatkan pekerjaan. Pembangunan yang tidak merata juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan sektor informal (Jayani, 2019). Dalam dunia industri baik sektor formal maupun sektor informal tidak akan pernah lepas dari risiko terkena penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Berdasarkan data International Labour Organization (ILO) tahun 2015, diketahui bahwa setiap 15 detiknya terdapat satu orang pekerja meninggal karena kecelakaan kerja ataupun penyakit akibat kerja.

Diperkirakan bahwa 2,3 juta pekerja meninggal dunia setiap tahunnya dampak dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menderita penyakit akibat kerja per tahunnya (Safety Sign, 2015).

Pekerja informal seperti pekerja laundry sering mengalami penyakit kulit akibat kerja, karena pada umumnya pekerja informal kurang memperhatikan personal hygiene dan alat perlindungan diri (APD) pada saat melakukan

(22)

pekerjaannya. Pada penelitian Laila dan Sugiharto (2017) dikatakan bahwa 82,6%

dari 28 responden dengan personal hygiene buruk mengalami keluhan dermatosis.

Pada penelitian Fielrantika dan Dhera (2017) dikatakan bahwa 76,2% dari pekerja yang tidak menggunakan alat pelindung diri secara lengkap didapati bahwa 66,7%

mengeluh adanya gejala dermatitis kontak. Proses pengerjaan laundry yang beresiko mengalami dermatitis kontak iritan akibat kerja adalah pada proses pencucian. Menurut penelitian Afifah (2012) faktor yang mempengaruhi terjadinya dermatitis kontak pada karyawan binatu adalah bahan-bahan kimia yang kontak langsung dengan pekerja, yaitu deterjen, softener, pelicin, dan pewangi pakaian.

Pekerjaan dalam laundry yang diketahui berkontakan langsung dengan bahan- bahan kimia tersebut ialah pekerja dibagian pemilahan, pencucian, penyetrikaan, dan pengemasan. Salah satu bahan iritan yang digunakan dalam pengerjaan laundry adalah deterjen. Salah satu bahan baku yang ada didalam deterjen adalah sodium lauryl sulfate (SLS).

Berdasarkan survei pendahuluan penelitian, didapati bahwa Kelurahan Padang Bulan merupakan daerah yang cukup banyak memiliki usaha laundry, yaitu sebanyak 24 usaha laundry. Tempat usaha laundry tersebut terdiri dari dua usaha laundry coin (self service), satu usaha laundry satuan, dan 21 usaha laundry kiloan.

Diantara laundry tersebut 25% diantaranya tempat proses pencuciannya tidak bersamaan dengan tempat tahap penerimaan cucian atau tidak berada di Kelurahan Padang Bulan. Dalam penggunaan deterjen sendiri, sebagian besar pengusaha laundry di Kelurahan Padang Bulan meenggunakan deterjen jenis liquid dimana deterjen yang mereka gunakan lebih banyak adalah deterjen hasil racikan.

(23)

6

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, diperoleh rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana paparan sodium lauryl sulfate (SLS) dan terjadinya dermatitis kontak iritan pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

Tujuan Penelitian

Tujuan umum. Mengetahui gambaran paparan sodium lauryl sulfate (SLS) dan terjadinya dermatitis kontak iritan pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

Tujuan khusus. Tujuan khusus dari penelitian ini antara lain:

1. Untuk mengetahui frekuensi kasus dermatitis kontak iritan pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

2. Untuk mengetahui kandungan sodium lauryl sulfate (SLS) dalam deterjen yang digunakan pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

3. Untuk mengetahui persentase usia dan jenis kelamin pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

4. Untuk mengetahui penggunaan alat pelindung diri (APD) pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

5. Untuk mengetahui riwayat penyakit kulit sebelumnya pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

6. Untuk mengetahui penerapan personal hygiene pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

(24)

Manfaat Penelitian

1. Untuk memberikan atau menambahkan pengetahuan pekerja laundry agar lebih memahami akan penyebab dan gejala dermatitis kontak iritan dan dapat mencegahnya secara dini.

2. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan peneliti dalam menerapkan ilmu keselamatan dan kesehatan kerja yang didapat.

3. Dapat menjadi bahan referensi atau bahan pendukung bagi peneliti lain

dengan penelitian sejenis.

(25)

Tinjauan Pustaka

Penyakit Akibat Kerja

Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2019 tentang “Penyakit Akibat Kerja” dalam pasal 1 mengatakan bahwa penyakit akibat kerja merupakan jenis penyakit yang timbul oleh karena pekerjaan dan/atau lingkungan kerja.

Penyakit akibat kerja juga diartikan sebagai penyakit artifisial atau man disease.

Terdapat beberapa definisi tentang penyakit akibat kerja sendiri, seperti ”An occupational disease may be defined simply as one that is caused, or made worse, by exposure at work” dan “An occupational disease is a health problem caused by exposure to workplace hazard”. Berdasarkan daftar lampiran dalam Perpres No.7 Tahun 2019 pada bagian penyakit berdasarkan sistem target organ penyakit kulit diketahui bahwa dermatitis kontak iritan termasuk ke dalam klasifikasi jenis penyakit tersebut.

Penyakit Kulit Akibat Kerja

Penyakit kulit akibat kerja (PKAK) ialah kelainan pada kulit yang diakibatkan dan atau diperburuk oleh paparan faktor risiko selama aktivitas kerja.

Tubuh manusia dilindungi oleh lapisan lipofilik (suka-minyak/lemak) yang sangat tipis namun kuat dan berfungsi sebagai pertahanan dari suhu, kelembaban, radiasi, gesekan, bahan kimia, dan agen biologis. Namun, pertahanan tersebut pun dapat terganggu oleh karena adanya agen eksogenik yang dapat menyebabkan reaksi toksik pada kulit individu. Agen eksogenik tersebut dapat berasal dari faktor non- pekerjaan seperti makanan, obat-obatan, kosmetik, deterjen, dan radiasi ultraviolet serta faktor predisposisi lainnya seperti respon imun individu (Song & Ryou, 2014).

8

(26)

Penyakit kulit akibat kerja merupakan hal yang sangat lazim terjadi di dunia, khususnya di negara berkembang. Penyakit kulit akibat kerja terjadi oleh karena adanya hubungan yang bersifat multifaktoral terhadap pekerjaan dan tempat kerja.

Negara Swedia diketahui memiliki kurang lebih 50% pekerja mengalami penyakit kulit akibat kerja dari keseluruhan penyakit yang diderita. Dan diperkirakan 20% – 25% dari kejadian penyakit kulit akibat kerja tersebut telah mengakibatkan hilangnya hari kerja berkisaran antara 10-20 hari (Laila & Sugiharto, 2017).

Menurut survei cedera dan penyakit kerja Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat ditemukan bahwa insiden penyakit akibat kerja pada tahun 2012 adalah 20,2 pekerja per 10.000 dimana 3,2 dari 20,2 kasus mewakili penyakit kulit.

Di Inggris, menurut statistik yang dilaporkan oleh dokter umum milik The Health and Occupation Reporting (THOR) Network didapati bahwa penyakit kulit akibat kerja memiliki prevalensi 122 orang per 100.000 selama tahun 2010 – 2012 (Song

& Ryou, 2014). Diketahui bahwa sekitar 90% dari kejadian penyakit kulit akibat kerja dibeberapa negara adalah penyakit dermatitis kontak, baik itu DKI atau pun DKA. Dalam dunia pekerjaan, kasus dermatitis kontak yang sering ditemui adalah dermatitis kontak iritan daripada dermatitis alergik dengan rasio 4 : 1. Di lingkungan pekerjaan sering ditemui kasus dermatitis kontak ini dikarenakan pekerja sering terpapar oleh bahan iritan yang sebahagian besar ialah bahan kimia baik dalam bentuk padat, cair, atau pun gas. Selain bahan iritan tersebut, terdapat juga faktor-faktor lainnya yang mendukung pekerja untuk mengalami penyakit kulit

ini (Nerdenaesti, 2020).

(27)

10

Dermatitis Kontak

Menurut Brasch et al, istilah dermatitis biasanya digunakan sebagai kata sinonim dari “eksim”. Reaksi eksematik adalah respon intoleransi inflamasi yang ditandai dengan eritema, lepuh.eksudasi, papula, dan pengelupasan yang berturut- turut dan secara berdampingan. Respon-respon ini disebabkan oleh racun yang memiliki efek eksternal, tidak menular, imunologis, kimia atau fisik. Hal seperti ini biasa ditemukan pada kasus dermatitis kontak (Brasch et al, 2014). Dermatitis kontak adalah dermatitis eksema yang diakibatkan oleh adanya paparan zat lingkungan. Zat-zat tersebut bertindak sebagai penghasil iritan atau alergen dan dapat menyebabkan peradangan eksema akut, subakut atau kronis (Habif, T., 2016).

Menurut Harahap, dermatitis kontak merupakan peradangan pada kulit yang disebabkan adanya interaksi antara kulit yang berkontakan langsung atau terpajan dengan bahan kimia (Harahap, 2000). Dermatitis kontak dibagi menjadi dua jenis, yaitu dermatitis kontak iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergi (DKA). Pada dasarnya dua jenis dermatitis kontak ini sedikit sulit dibedakan. Namun dari sudut pandang etiologi, perbedaan dibuat antara jenis alergi – umumnya tipe tertunda (tipe IV) dan tipe jarang langsung (tipe I) – dan bentuk dermatitis kontak iritan (non alergi). Gejala klinis saja seringkali tidak memungkinkan klasifikasi dermatitis sebagai kontak alergi atau iritasi infeksi kulit. Presentasi akut, subakut, dan kronis dapat dibedakan berdasarkan morfologi, perkembangan dari waktu ke waktu, dan waktu pemaparan terhadap toksin (Brasch et al, 2014).

(28)

Dermatitis Kontak Iritan (DKI)

Definisi DKI. Dermatitis kontak iritan ialah salah satu penyakit dalam kelompok penyakit dermatitis kontak. Dermatitis kontak iritan (DKI) adalah respons inflamasi kulit terhadap berbagai ransangan eksternal. Hal tersebut terjadi sebagai hasil dari kekebalaan bawaan tubuh yang aktif untuk cidera langsung pada kulit tanpa ada kesensitifan sebelumya. Dermatitis kontak iritan adalah reaksi kompleks yang dipengaruhi oleh keberadaan faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.

Yang termasuk ke dalam faktor intrinsik adalah kecenderungan genetik, seperti usia, jenis kelamin, wilayah tubuh, dan diatesisatopik. Sedangkan yang dimaksud faktor ekstrinsik adalah sifat yang melekat dari iritan, volume paparan, konsentrasi, durasi, pengulangan, dan adanya faktor lingkungan serta mekanik (Lee et al, 2013).

Menurut Harahap, dermatitis kontak iritan merupakan salah satu jenis penyakit dermatitis yang disebabkan oleh adanya interaksi antara kulit yang berkontakan dengan bahan iritan. Bahan iritan yang dimaksud adalah bahan yang apabila berkontakan atau diolesi pada kulit pada saat tertentu dan untuk waktu dengan jangka tertentu mengakibatkan terjadinya kerusakan sel. Bahan iritan tersebut dapat merusak kulit dengan cara menghabiskan lapisan tanduk secara bertahap sehingga kemampuan kulit untuk menahan air hilang (Harahap, 2000).

Bahan-bahan iritan yang dapat menimbulkan terjadinya penyakit dermatitis kontak iritan antara lain: 1) Asam kuat (hidroklorida, hidroflorida, asam nitrat, asam sulfat); 2) Basa kuat (kalsium hidroksida, natrium hidroksida, kalium hidroksida);

3) Detergen; 4) Resin epoksi; 5) Etilen oksida; 6) Fiberglass; 7) Minyak (lubrikan);

(29)

12

8) Pelarut-pelarut organik; 9) Agen oksidator; 10) Placticizier; 11) Serpihan kayu (Nofiyanti et al, 2017).

Dermatitis kontak iritan diketahui dapat dialami oleh semua orang baik dari golongan umur, ras, dan jenis kelamin. Pada orang dewasa, dermatitis kontak iritan sering terjadi di daerah telapak tangan dan di daerah punggung tangan. Namun, tidak menutup kemungkinan jikalau dermatitis kontak iritan juga dapat terjadi di daerah wajah. Biasanya hal ini terjadi oleh karena kulit dibagian wajah terkena bahan yang menguap (amonia). Penderita dermatitis kontak iritan ini sendiri diperkirakan berada dalam jumlah yang cukup banyak, terutama pada penderita yang berhubungan dengan pekerjaan (dermatitis kontak iritan akibat kerja). Namun, angka yang tepat untuk mengetahui jumlah penderita dermatitis kontak iritan ini sulit untuk diketahui (Harahap, 2000; Menaldi, 2018).

Etiologi DKI. Penyebab terjadinya penyakit dermatitis kontak iritan adalah pajanan yang berasal dari bahan iritan, seperti minyak pelumas, bahan pelarut, asam alkali, detergen, dan serbuk kayu. Kelainan kulit ini terjadi karena adanya pengaruh yang berasal dari kosentrasi bahan, ukuran molekul, daya larut, vehikulum, lama kontak, kekerapan, oklusi, trauma fisis, suhu ruangan, dan kelembaban ruangan.

Namun, tidak hanya hal tersebut yang dapat mengakibatkan terjadinya dermatitis kontak, terdapat juga faktor lainnya yang memengaruhi dermatitis kontak dan datang dari manusia itu sendiri, seperti usia (anak yang berusiia < 8 tahun dan usia lanjut mudah teriritasi), ras (kulit putih lebih mudah teriritasi), jenis kelamin (penderita dermatitis kontak lebih banyak ditemukan pada perempuan), dan riwayat

penyakit kulit sebelumnya (Menaldi, 2018).

(30)

Patogenesis DKI. Proses patogenesis dermatitis kontak iritan bersifat multifaktoral atau dipengaruhi oleh beberapa faktor. Proses kelainan kulit terjadi pertama kali akibat adanya kerusakan sel akibat paparan fisis atau pun kimiawi.

Membran lemak (lipid membrane) rusak apabila lapisan tanduk kulit terpapar bahan iritan, yang kemudian sebahagian bahan iritan tersebut dapat menembus membran sel dan merusak lisosom, mitokondria atau komponen inti (Menaldi, 2018).

Selanjutnya adalah terjadi proses pada Cytokine Cascade. Pada proses ini terjadi kerusakaan sawar kulit yang diakibatkan oleh karena adanya penetrasi bahan kimia menyebabkan pelepasan sitokin proinflamasi. Apabila produk sitokin proinflamasi banyak yang dilepas dapat menyebabkan meningkatnya jumlah sel inflamasi termasuk neutrofil yang keluar dan mediator inflamasi yang menyebabkan infiltrasi keepidermis dan pada akhirnya timbul gejala. Rentan kejadian tersebut menyebabkan timbulnya gejala peradangan klasik di tempat terjadinya kontak, berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Pada bahan iritan dengan kategori lemah akan mengakibatkan terjadiny kerusakan kulit dimulai dengan kerusakaan stratum korneum hingga menyebabkan kulit kehilangan fungsi sawarnya. Hal tersebut akan mempermudah terjadinya kerusakaan sel dilapisan kulit yang lebih dalam (Menaldi, 2018; Nerdenaesti, 2020).

Gejala klinis DKI. Penderita dermatitis kontak iritan akan memberi tanda gejala dengan kondisi kulit yang kusam, merah, bersisik, terdapat lesi kering, kulit terasa gatal seperti tersengat. Dan pada penderita dermatitis kontak iritan ini, ruam pada kulit biasanya berbatas tegas pada area yang berkontakan dengan bahan iritan (Bains et al, 2018). Gejala dari timbulnya kelainan kulit ini pun beragam tergantung

(31)

14

kepada sifat bahan iritan. Iritan kuat memberi gejala akut, sedangkan iritan lemah memberi gejala kronis. Berdasarkan penyebab dan pengaruh berbagai faktor, DKI dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya (Menaldi, 2018):

1. Dermatitis Kontak Iritan Akut.

Seseorang yang terpapar bahan iritan kuat seperti asam kuat (asam sulfat dan asam hidroklorid) dan basa kuat (natrium dan kalium hidroksida) dapat menimbulkan penyakit dermatitis kontak iritan akut. Gejala yang dirasakan pada penderita dermatitis jenis ini adalah kulit terasa pedih, panas, rasa terbakar, kelainan yang terlihat berupa eritema, edema, bula mungkin juga nekrosis, dan tepi kelainan berbatas tegas dan pada umumnya asimetris.

2. Dermatitis Kontak Iritan Lambat Akut.

Gambaran klinis dan gejala pada dermatitis jenis ini sama dengan jenis dermatitis kontak iritan akut, namun hal tersebut akan terlihat setelah 8 sampai 24 jam setelah berkontak.

3. Dermatitis Kontak Iritan Kronik.

Dermatitis jenis ini merupakan jenis dermatitis kontak iritan yang sangat sering dijumpai. Penyebab pada jenis dermatitis ini adalah iritan lemah, seperti deterjen, sabun, pelarut, tanah, bahkan juga air. Pada dermatitis jenis ini, gambaran klinis terlihat bergantung pada jarak waktu paparan. Apabila waktu iritasi pertama dan berikutnya lebih cepat dari waktu yang diperlukan untuk melakukan perbaikan fungsi kulit, maka akan terjadi kelainan kulit.

Gejala klasik pada penderita berupa kulit kering, disertai eritema, skuama yang lambat laun kulit akan menjadi tebal. Apabila kulit berkontakan

(32)

dengan bahan iritan secara terus-menerus pada akhirnya kulit mengalami retak-retak seperti luka irisan. Penderita dermatitis kontak iritan menunjukkan gambaran klinis, etiologi, dan yang lainnya dengan penderita dermatitis kontak alergi.

Tabel 1

Perbedaan Dermatitis Kontak Iritan dan Dermatitis Kontak Alergi

Dermatitis Kontak Iritan Dermatitis Kontak Alergi Etiologi Non imunologik (tanpa

mengalamai proses

Imunologik (mengalami proses sensitisasi dengan sensitisasi dengan alergen) alergen) serta bahan kimia

dengan berat molekul rendah

Gambaran 1. Iritan kuat akan 1. Gatal

memberikan gejala akut. 2. Akut: eritematosa Klinis 2. Iritan lemah akan

memberikan gejala

berbatas jelas dan edema,papulovesikel,

kronis. vesikel – bula

3. Pedih, panas, rasa terbakar

4. Eritema, edema, bula, nekrosis.

5. Kumulatif: kulit kering, skuama, eritema,

hiperkeratosis,likenifikasi, fisura

Kata Kunci 1. Anamnesis: bahan iritan, terjadi pada semua orang.

2. Lesi batas tegas: tanpa 3. proses imunologik.

4. Keluhan: nyeri dan gatal (Tan & Darmawan, 2016)

Faktor yang Menyebabkan DKI

3. Kronik: kering, skuama, papul, likenifikasi, fisura

1. Proses imunologik:

terjadi pada semua orang yang sensitif.

2. Batas umumnya tidak jelas.

3. Keluhan: dominan gatal

International Clasification Disesase menjelaskan bahwa kelompok utama penyebab terjadinya dermatitis kontak iritan adalah sabun/deterjen, oli dan

(33)

16

pelumas, solvent, hasil minyak bumi, alkali, garam logam, semen, logam, slag/

terak, dan wool. Pada penelitian penelitian sebelumnya mengenai dermatitis kontak iritan, diketahui bahwa berkontakan dengan bahan kimia memiliki hubungan yang bermakna atas terjadinya dermatitis kontak iritan. Hal tersebut dapat diketahui karena adanya pekerja yang berkontakan dengan bahan iritan yaitu asam sulfat dengan waktu yang cukup lama yang menjadi resiko untuk terjadinya peradangan kulit hingga menjadi dermatitis kontak iritan (Indrawan, Suwondo, & Lestantyo, 2014).

Kerusakaan kulit yang dirasakan penderita akan berbeda-beda. Kerusakan yang dialami tersebut akan bergantung pada jenis bahan iritan, yaitu bahan iritan kuat dan bahan iritan lemah. Bahan iritan kuat akan mengakibatkan terjadinya peradangan kulit pada pajanan yang pertama dan pada hampir semua orang merasakannya, sedangkan pada bahan iritan lemah akan mengakibatkan terjadinya kelainan kulit apabila sering terjadinya paparan secara berulang dan terus-menerus.

Dimulai dari terjadinya kerusakan pada stratum korneum yang mengakibatkan hilangnya fungsi sawar hingga dapat mempermudah kerusakan sel dibawahnya (Menaldi, 2018).

Faktor risiko lain yang dapat meningkatkan resiko seseorang untuk menderita penyakit dermatitis kontak iritan adalah riwayat penyakit kulit yang dimiliki. Dalam Lurati (2015), diketahui bahwa seseorang yang mempunyai riwayat penyakit kulit s akan berisiko lebih tinggi untuk mengalami dermatitis kontak iritan.

Hal tersebut terjadi oleh karena terjadi gangguan terhadap penghalang dermatitis yang ada di kulit, hilangnya air transepidermal dan permeabilitas alergen dan iritan.

(34)

Pekerja yang memiliki riwayat penyakit kulit respons fisiologisnya akan lebih tinggi terhadap bahan iritan oleh karena hilagnya fungsi filaggrin yang bermutasi sehingga meningkatkan lepasnya interleukin-1. Filaggrin ialah bagian stratum korneum yang memberi efek pelembap alami yang bertanggung jawab untuk hidrasi dan diferensiasi epidermis. Terjadinya penurunan tingkat filaggrin meingkatkan risiko cedera yang lebih tinggi dari agen berbahaya. Beberapa agen berbahaya seperti deterjen, pelarut, natrium lauril sulfat, dan aseton.

Faktor lainnya yang mampu menyebabkan maupun meningkatkan terjadinya dermatitis kontak iritan selain paparan bahan kimia adalah:

Tabel 2

Faktor Eksogen dan Endongen Dermatitis Kontak Iritan

Faktor Eksogen Faktor Endogen Faktor Lingkungan (kelembaban dan

suhu) Usia

Karakteristik bahan kimia Jenis kelamin Lama kontak Ras

Masa kerja Riwayat penyakit kulit Faktor meknis (gesekan, tekanan) Personal hygiene

Penggunaan APD (Lee et al, 2013; Lurati, 2015)

Kelembaban dan suhu. Suhu dan kelembaban pada tempat kerja merupakan salah satu komponen yang berpotensi menimbulkan bahaya pada tempat kerja. Ketika suhu dan atau kelembaban tempat kerja tidak sesuai dengan nilai ambang batas, keadaan ini dapat memperlambat proses kerja dan secara signifikan dapat mempengaruhi produktivitas dan efisiensi pekerja (ILO, 2013). Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405 Tahun 2002 tentang “Nilai Ambang Batas

(35)

18

Kesehatan Lingkungan Kerja” diketahui bahwa suhu udara yang dianjurkan di tempat kerja berada pada rentang suhu 18˚C - 28˚C dan kelembaban yang dianjurkan pada rentang 40% - 60%. Kondisi suhu dan kelembaban yang tidak sesuai dengan nilai ambang batas dapat menyebabkan keretakan pada kulit dan dapat menjadi tempat bagi masuknya iritan dan alergen.

Karakteristik bahan kimia. Pada saat menggunakan bahan kimia ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu karakteristik bahan kimia itu sendiri yang meliputi pH bahan kimia, jumlah molekul dan konsentrasai bahan kimia, berat molekul, dan kelarutan dari bahan kimia. Suatu bahan kimia yang memiliki pH >12 atau kurang dari tiga mampu menimbulkan gejala iritasi dalam jangka pendek, sedangkan untuk pH lebih sekit dari tujuh atau sedikit lebih kurang dari tujuh memerlukan paparan ulang untuk mampu menimbulkan gejala. Bahan kimia yang memiliki konsentrasi zat dengan tingkat kepekatan yang tinggi mampu merusak lapisan kulit. Berat molekul suatu bahan kimia kurang dari 1000 Dalton ditemukan sering menimbulkan terjadinya dermatitis kontak (biasanya alergik). Bahan kimia yang bersifat lipofilik lebih mudah menembus stratum korneum kulit untuk masuk mencapai sel epidermis (Dinanti, 2015).

Lama kontak. Lama kontak merupkan jangka waktu yang dimiliki pekerja untuk berkontakan dengan bahan iritan atau bahan kimia dalam hitungan jam/hari.

Setiap pekerja memiliki waktu yang berbeda-beda pada saat berkontakan dengan bahan kimia sesuai dengan proses kerjanya. Dalam tulisan Chafidz (2017), dikatakan bahwa lama kontak terhadap bahan iritan dapat menyebabkan terjadinya dermatitis kontak. Hal tersebut dapat terjadi karena bahan iritan tersebut dapat

(36)

merusak sel kulit lapisan luar dan keadaan tersebut dapat semakin memburuk apabila pekerja terlalu lama berkontakan dengan bahan iritan/bahan kimia (Chafidz, 2017).

Masa kerja. Masa kerja adalah lamanya seorang pekerja bekerja disebuah instansi, kantor, dan yang lainnya terhitung dari hari pertama pekerja tersebut bekerja. Masa kerja diketahui dapat mempengaruhi seseorang untuk mengalami dermatitis kontak akibat kerja. Seorang pekerja yang sudah lama bekerja di suatu tempat kerja dapat meningkatkan pekerja tersebut untuk terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerjanya (Heviana, 2018). Menurut Indrawat et al (2014), diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengn terjadinya dermatitis kontak iritan. Masa kerja seseorang berpengaruh terhadap pengalaman seseorang terhadap pekerjaan dan lingkungan pekerjaannya.

Pekerja yang memiliki pengalaman yang baik terhadap pekerjaan dan lingkungan pekerjaannya akan lebih berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya sehingga kemungkinan terpajan bahan kimia lebih sedikit (Indrawan, Suwando, dan Lestantyo, 2014).

Usia. Insiden penyakit kulit akibat kerja sering ditemukan pada usia 15 – 24 tahun. Insiden tersebut terjadi karena pada rentan umur tersebut seorang pekerja dikatakan masih memiliki pengalaman yang kurang baik terhadap pekerjaan dan lingkungan kerjanya serta kurang memahami tentang kegunaan alat pelindung diri (Heviana, 2018). Menurut Nerdenaesti dari hasil penelitiannya diketahui bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian DKI. Kisaran usia dalam penelitian tersebut merupakan kisaran usia pekerja muda dengan tenaga yang

(37)

20

prima yang banyak ditempatkan pada posisi yang banyak menggunakan bahan kimia sehingga lebih rentan untuk terkena DKI (Nerdenaesti, 2020). Pekerja yang tergolong pada usia tua mungkin terjadi peningkatan reaksi terhadap bahan iritan namun bentuk kelainan kulitnya berkurang. Bentuk kelainan kulitnya dapat berkurang karena seseorang pada usia > 30 tahun, hormon-hormon penting seperti testosteron, growth hormone, dan estrogen hasil produksinya mulai menurun.

Menurunnya hormon penting tersebut mempengaruhi timbulnya penuaan pada kulit (Afifah, 2012).

Jenis kelamin. Seorang berjenis kelamin wanita diketahui lebih berisiko untuk mengalami penyakit kulit akibat kerja dibandingkan jenis kelamin laki-laki.

Hal tersebut terjadi karena kulit pada wanita diketahui memproduksi lebih sedikit minyak yang berfungsi untuk melindungi dan menjaga kelembaban kulit seseorang.

Selain itu, kulit pada wanita didapati lebih tipis dibandingkan kulit laki-laki sehingga wanita lebih mudah untuk mengalami penyakit dermatitis (Heviana, 2018).

Riwayat penyakit kulit. Pekerja dengan riwayat penyakit kulit sebelumnya atau sedang menderita akan lebih berisiko untuk mengalami DKI karena penghalang pada kulit epidermis telah terganggu. Pekerja yang memiliki riwayat penyakit kulit akan mengalami hilangnya air pada transepidermal dan permeabilitas alergen dan iritan meningkat (Lurati, 2015). Di Indonesia, pada umumnya seorang pekerja bekerja lebih dari satu tempat kerja mengakibatkan kemungkinan pekerja tersebut telah mengalami penyakit kulit pada pekerjaan sebelumnya meningkat dan pada akhirnya terbawa ke tempat kerja yang baru (Heviana, 2018).

(38)

Personal hygiene. Personal hygiene merupakan perilaku atau pun tindakan

seseorang untuk memelihara serta meningkatkan kebersihan dan kesehatan pribadi untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Personal hygiene yang baik dapat mengurangi tingkat risiko terkena dermatitis atau penyakit lainnya, sebaliknya personal hygiene yang buruk dapat meningkatkan risiko terkena dermatitis atau penyakit lainnya (Laila, 2017). Salah satu aspek yang dapat dilihat yang berkaitan dengan personal hygiene adalah kebiasaan mencuci tangan. Kebiasaan mencuci tangan dengan benar dapat mengurangi potensi terkena dermatitis akibat bahan kimia yang menempel setelah bekerja (Heviana,2018).

Penggunaan alat pelindung diri (APD). Paparan bahan iritan dalam pekerjaan dapat dibatasi dengan menggunakan alat pelindung diri (APD). Chafidz dan Dwiyanti (2017) menjelaskan bahwa penggunaan APD sarung tangan sangat berpengaruh terhadapnya besar risiko kelompok kerja untuk mengalami kelainan kulit. Pekerja yang terkadang menggunakan APD sarung tangan beresiko menderita dermatitis kontak 8,556 kali lebih besar dibandingkan pekerja yang selalu menggunakan APD. Sarung tangan yang digunakan seseorang harus sesuai dengan jenis bahan iritan yang ditangani dan jenis pekerjaan yang dilakukan. Sarung tangan yang digunakan haruslah menutupi sepertiga lengan bawah agar efektif (Chafidz &

Dwiyanti, 2017; Nardenaesti, 2020). Sarung tangan yang baik digunakan agar tangan terlindungi dari kelembaban air dan zat kimia adalah sarung tangan yang terbuat dari bahan karet alami (sintetik) (Soemowidagdo, 2016).

(39)

22

Gambar 1. Salah satu contoh APD sarung tangan berbahan karet sintesis

Laundry

Usaha laundry adalah salah satu jenis usaha informal yang pada saat ini berkembang sangat pesat di masyarakat. Secara umum usaha laundry tidak memiliki jam kerja yang pasti. Sama halnya dengan jam kerja, jam istirahat pada unit laundry juga tidak pasti. Jam istirahat ditentukan oleh pekerja itu sendiri.

Dalam melakukan pekerjaannya, pekerja dan pengusaha laundry dituntut untuk menjalankan tahapan kerja menurut standart operating procedure (SOP). Berikut adalah tahapan-tahapan laundry (“Academia”) :

1. Proses penerimaan pakaian

Dalam proses ini, pakaian yang diterima dari pelanggan ditimbang, dihitung jumlah pakaiannya, dan dibuatkan nota penerimaan order. Beberapa laundry menghitung jumlah pakaiannya berdasarkan kategori pakaian dan beberapa memilih untuk menghitung jumlah pakaian secara keseluruhan tanpa melihat kategori pakaiannya. Setelah itu, pakaian-pakaian tersebut akan diberi label sesuai dengan nama di nota penerimaan order.

2. Proses pencucian

Dalam proses ini, proses pengerjaan dibagi menjadi 3 bagian :

(40)

a. Tahap pre-wash, bagian ini dilakukan dimesin cuci atau pun di luar mesin cuci dengan dilakukan tahap perendaman kain sebelum kepada pencucian utama, seperti tahap pemutihan pakaian, emulsifikasi atau pengekstrakan noda lemak, dan mematikan bakteri atau kuman dengan menggunakan disenfectant.

b. Tahap pencucian utama, pada proses ini digunakan deterjen yang dapat ditambahkan additive chemicals untuk membantu mempercepat proses penghilangan noda pada pakaian.

c. Tahap pembilasan. Proses pembilasan dilakukan tergantung pada jenis mesin cuci yang digunakan. Pada saat proses pembilasan, penting juga untuk memperhatikan jenis deterjen yang digunakan. Semakin banyak deterjen yang mengandung banyak busa dipakai maka akan semakin lama proses pembilasan berlangsung. Pada proses ini penting juga untuk menetralkan pH cucian agar itdak menimbulkan iritasi kulit.

3. Proses pengeringan

Dalam proses ini, pakaian pelanggan akan dikeringkan menggunakan mesin pengering maupun menggunakan bantuan sinar matahari. Setelah kering, pakaian tersebut akan disetrika dan dikemas.

4. Proses penyetrikaan dan pengemasan

Dalam tahap ini, pakaian akan disetrika (suhu setrika harus selalu dikontrol) lalu pakaian diperiksa jumlahnya apakah sesuai dengan yang teretera dalam nota penerimaan. Setelah dipastikan jumlahnya sesuai, selanjutnya pakaian dimasukkan ke dalam plastik bening dan diberi kode yang sesuai dengan nota.

(41)

24

Deterjen

Deterjen merupakan salah satu bahan pencuci yang digunakan oleh indusri maupun rumah tangga. Deterjen adalah bahan pencuci pakaian yang efektif karena di dalamnya terkandung satu bahkan lebih surfaktan. Surfaktan dalam deterjen ini berfungsi untuk menurunkan permukaan sehingga air mampu untuk membilas dan membasahi seluruh permukaan benda yang dicuci (Komarawidjaja, 2004). Dahulu bahan baku deterjen di Indonesia mengandung senyawa Alkil Benzene Sulfonat (ABS), karena senyawa ini bersifat sangat stabil. Kestabilannya tersebut ada karena senyawa tersebut mengandung rantai cabang sehingga sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme. Hal tersebut membuat ABS ini tidak dipakai lagi dalam pembuatan deterjen dan digantikan oleh senyawa Linier Alkil Sulfonat (LAS), adapun contohnya ialah Sodium Lauryl Sulfate (SLS) (Arfianto, 2005).

Jenis-jenis deterjen. Berdasarkan jenis surfaktan, secara sederhana deterjen dibagi menjadi dua jenis, yaitu deterjen anionik dan deterjen kationik (Arfianto, 2005).

a. Deterjen Anionik

Merupakan deterjen yang surfaktannya mengandung gugus anion (bermuatan negatif) pada bagian ujung rantai yang larut dalam air. Deterjen jenis ini merupakan deterjen yang memiliki sifat absorbsi paling baik terhadap air dibandingkan golongan lain, sehingga dapat menembus bahan-bahan tekstil,

wol, kapas, dan sutera dengan baik.

(42)

b. Deterjen Kationik

Merupakan deterjen yang surfaktannya mengandung gugus kation (bermuatan positif) pada ujung rantai yang larut pada air.

Sodium Lauryl Sulfate (SLS)

Sodium lauryl sulfate atau EMAL 10G merupakan surfaktan jenis anionik primer yang berasal dari tumbuhan dan menjadi deterjen pembusa. Pada umumnya zat ini dapat ditemui pada produk pencuci dan pembersih, pengilap, penyegar udara, bahan kimia konstruksi, kosmetik, bahan bakar, pupuk, artikel tekstil, pelapis dan tinta, pengolahan air, pengendali hama, dan produk perlindungan tanaman. Zat ini merupakan surfaktan anionik yang memiliki daya pembusa sangat baik, meskipun dengan konsentrasi yang rendah dengan sifat detergensi yang sangat baik (Sudjawardi, Y, 2020). Sodium lauryl sulfate merupakan kristal berwarna putih susu, sedikit berbau lemak, mempunyai rumus molekul CH3(CH2)10CH2OSO3Na dan berat molekul 208,38 (Arifianto, 2005).

Sifat SLS. Bahan SLS ini banyak digunakan sebagai zat pencuci karena harganya yang murah dan SLS relatif tidak bereaksi dengan bahan organik.

Tabel 3

Sifat Fisik dan Kimia Sodium Lauryl Sulfate

Karakteristik Sifat Sodium Lauryl Sulfate Keadaan fisik Padat

Penampilan Putih pucat

pH 8.5 – 10 (1% larutan) Titik leleh/rentang 206˚C / 402.8˚F

Titik didih Tidak ada informasi yang tersedia Titik nyala > 150˚C / > 302˚F

Batas temperatur terendah 250˚C / 482˚F (Thermofisher Scientific, 2018)

(43)

26

SLS dapat menimbulkan Nitrosamine, yaitu kondisi yang berpotensi menyebabkan karsinogenik karena tubuh menyerap nitrat dalam jumlah yang sangat banyak daripada jumlah nitrat normal yang dibutuhkan. Pemaparan pada kulit manusia selama 24 jam dengan SLS dapat merusak protein pada kulit dan menyebabkan kerusakan integritas sawar pada kulit yang berfungsi sebagai pertahanan kulit terhadap lingkungan sehingga mempermudah penetrsi senyawa yang bersifat karsinogenik sehingga dapat menimbulkan penyakit dermatitis kontak iritan (Arifianto, 2005). Bondi et al (2015) juga menjelaskan bahwa test patch manusia mengkonfirmasi bahwa konsentrasi SLS > 2% dianggap dapat mengiritasi kulit normal. Berdasarkan data toksisitas SLS yang dilakukan pada tikus menunjukan bahwa SLS berbahaya jika melalui mulut (LD50 1288 mg/kg) dan berbahaya jika melalui pernafasan (LC50 >3900 mg/m3 selama 1 jam), dan pada kelinci menjukkan bahwa SLS berbahaya pada kulit (LD50 >2000 mg/kg)

(Thermofisher Scientific, 2018).

(44)

Kerangka Teori

Berdasarkan uraian tinjauan pustaka, maka dapat disusunlah kerangka teori mengenai paparan sodium lauryl sulfate (SLS) dan terjadinya dermatitis kontak iritan pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan yaitu :

Pekerja laundry terpapar sodium

lauryl sulfate (SLS) Deterjen

Bahan kimia menembus ke dalam

lapisan tanduk kulit

Lipid membrne keratinosit rusak

Lisosom, mitokondria atau komponen inti

rusak

Kerusakan sawar kulit

Infiltrasi ke epidermis

Gejala : - Eritema - Edema - Panas - Nyeri

Faktor Pendukung:

1. Faktor Eksogen:

a. Faktor lingkungan b. Karakteristik

bahan kimia c. Lama kontak d. Masa kerja e. Faktor mekanis 2. Faktor Endogen:

a. Usia

b. Jenis kelamin c. Ras

d. Riwayat penyakit kulit

e. Personal hygiene f. Penggunaan APD Dermatitis Kontak

Iritan (DKI)

(45)

28

Keterangan:

: Menyebabkan Gambar 2. Kerangka teori

Sumber : Menaldi (2018), Nerdenaeasti (2020), Lee at al (2013), dan Lurati (2015).

Kerangka Berpikir Pekerja laundry

kiloan pada proses pencucian

Kandungan SLS dalam deterjen

Dermatitis Kontak Iritan

Aspek K3:

1. Karakteristik (usia, jenis kelamin, lama kontak, masa kerja)

2. Riwayat penyakit kulit sebelumya

3. Personal hygiene 4. Penggunaan APD

Gambar 3. Kerangka berpikir

(46)

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap suatu fenomena dimasyrakat. Dalam penelitian ini, metode penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan distribusi paparan sodium lauryl sulfate dan terjadinya dermatitis kontak pada pekerja laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2020.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada pekerja laundry kiloan di Kelurahan Padang Bulan. Kelurahan Padang Bulan dipilih dengan pertimbangan bahwa Kelurahan Padang Bulan merupakan salah satu daerah yang dekat dengan Universitas Sumatera utara dan banyak ditemui usaha laundry. Berdasarkan survei pendahuluan yang telah dilakukan, peneliti menemui sebanyak 24 usaha laundry di Kelurahan Padang Bulan. Waktu penelitian ini dilakukan selama pelaksanaan pembuatan skripsi yang dimulai pada bulan Maret 2020 sampai dengan selesai.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja laundry kiloan pada proses pencucian di Kelurahan Padang Bulan yang bersedia menjadi bagian dari penelitian ini. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah sepuluh orang.

29

(47)

30

Definisi Konsep

Definisi konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Pekerja laundry kiloan adalah seorang pekerja yang bekerja di bidang jasa pencucian pakaian kotor sampai dengan kering yang dimana penentuan tarif kepada produsen berdasarkan jumlah kilogram baju yang diberikan. Yang menjadi subjek penelitian adalah pekerja laundry kiloan pada proses pencucian.

2. Sodium Lauryl Sulfate (SLS) adalah surfaktan anionik primer dengan daya pembusa yang sangat baik yang terdapat dalam deterjen. Pada penelitian ini, kandungan SLS dilihat dari wadah atau bungkus deterjen.

3. Karakteristik pekerja dalam penelitian ini adalah usia dan jenis kelamin.

Usia adalah lama hidup responden dari lahir hingga saat penelitian dan jenis kelamin adalah karakteristik biologis yang dilihat dari penampakan luar.

4. Penggunaan alat pelindung diri (APD) adalah penggunaan alat pelindung diri berupa sarung tangan oleh pekerja pada saat melakukan pekerjaannya.

Pada penelitian ini, pekerja diobservasi selama melakukan pencucian untuk melihat apakah pekerja menggunakan APD secara lengkap atau tidak.

5. Riwayat penyakit kulit sebelumnya adalah adanya riwayat pernah mengalami penyakit kulit seperti dermatitis.

6. Personal hygiene adalah suatu tindakan seseorang untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.

7. Dermatitis kontak iritan (DKI) adalah respon inflamasi kulit terhadap rangsangan eksternal baik fisik maupun kimia yang merusak membran kulit

(48)

dan dapat menyebabkan efek langsung. Pada penelitian ini, pekerja akan diperiksa oleh dokter Sp.KK untuk menentukan apakah pekerja menderita dermatitis kontak iritan atau tidak.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini akan menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan triangulasi. Pengambilan data penelitian dilaksanakan setelah mendapat ijin dari pihak terkait. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu:

1. Wawancara (interview)

Jenis wawancara yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur (structured interview). Wawancara ini dilakukan dengan cara tatap muka kepada seluruh responden dengan tidak mengintimidasi ke arah keinginan peneliti dan tidak mendorong informan dengan memberikan jawaban khusus dengan cara memberikan persetujuan atau tidak setuju terhadap jawaban responden. Pada saat melakukan interview, peneliti akan dipandu dengan menggunakan pedoman wawancara dan alat bantu berupa perekam suara.

2. Observasi

Obervasi yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi partisipatif pasif atau passive participation. Dalam observasi partisipatif pasif ini, peneliti akan mendatangi tempat pekerja laundry kiloan pada proses pencucian melakukan pekerjaannya, melakukan pengamatan terhadap tahapan pekerjaannya, namun tidak ikut terlibat dalam kegiatan

(49)

32

tersebut. Dan responden akan diobservasi oleh dokter Sp.KK untuk menentukan apakah responden terkena dermatitis kontak iritan atau tidak.

3. Dokumentasi

Dokumentasi berguna untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, dan dokumenter lainnya. Dalam penelitian ini, metode ini digunakan untuk mengumpulkan data seperti, foto-foto proses kerja, hasil pemeriksaan responden, dan sebagainya.

4. Triangulasi

Triangulasi merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Dengan teknik ini, peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Dengan menggunakan teknik triangulasi, maka data yang diperoleh akan lebih konsisten, tuntas, dan pasti.

Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis domain. Analisis domain adalah analisis yang dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh dari objek penelitian. Metode analisis domain digunakan dalam penelitian bertujuan untuk eksplorasi, artinya hasil penelitian ini hanya ditargetkan untuk memperolah gambaran seutuhnya dari obyek yang diteliti, tanpa harus diperincikan secara detail unsur-unsur yang ada dalam

keutuhan obyek penelitian tersebut.

(50)

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Deskripsi Lokasi Penelitian

Sejarah singkat kelurahan. Kelurahan Padang Bulan adalah salah satu dari enam kelurahan yang berada di Kecamatan Medan Baru. Kelurahan Padang Bulan disahkan pada Tahun 1970 dengan luas wilayah 221 km². Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, selanjutnya berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara tentang pemekaran Kelurahan di wilayah kota Medan, salah satunya terdapat Kelurahan Padang Bulan di Kecamatan Medan Baru. Kantor Kelurahan Padang Bulan berlokasi di Jalan Jamin Ginting Nomor 540, Medan.

Letak geografis dan luas wilayah kelurahan. Kelurahan Padang Bulan secara geografis berbatasan dengan :

Utara : Kelurahan Merdeka Selatan : Kelurahan Titi Rantai Timur : Kelurahan Polonia

Barat : Kelurahan Padang Bulan Selayang I

33

(51)

34

Gambar 4. Peta Kelurahan Padang Bulan

Kelurahan Padang Bulan memiliki luas wilayah ± 168 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 6.821 jiwa. Dalam wilayah Kelurahan Padang Bulan terdapat 12 lingkungan dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.133 KK.

Tabel 4

Distribusi Penduduk Kelurahan Padang Bulan Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2019

Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Laki – laki 3.334 jiwa

Wanita 3.487 jiwa Total 6.821 jiwa Sumber: Kelurahan Padang Bulan, 2019.

(52)

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa Kelurahan Padang Bulan mayoritas berjenis kelamin wanita dengan jumlah penduduk sebanyak 3.487 jiwa dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 3.334 jiwa.

Tabel 5

Distribusi Penduduk Kelurahan Padang Bulan Berdasarkan Usia Tahun 2019 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia (Tahun)

Total 0-9 10-19 20-29 30-39 40-49 50-59 60-70 >71

459 857 916 910 1.029 1.139 833 680 6.821 Sumber: Kelurahan Padang Bulan, 2019.

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa penduduk Kelurahan Padang Bulan paling banyak berada direntan usia 50 – 59 tahun dan paling sedikit berada direntan usia 0 – 9 tahun.

Gambaran laundry. Berdasarkan data primer yang didapat, dalam wilayah Kelurahan Padang Bulan terdapat 25 usaha laundry, diantaranya terdapat 21 usaha laundry kiloan, tiga usaha laundry koin atau self-laundry, dan satu usaha laundry satuan. Dari 21 usaha laundry kiloan di Kelurahan Padang Bulan sebanyak 11 usaha laundry kiloan melakukan kegiatan mencuci ditempat usaha, sementara pekerja lainnya hanya sebagai loket penerimaan pakaian kotor dari pelanggaan dan pengambilan pakaian yang sudah bersih.

Usaha laundry di Kelurahan Padang Bulan memiliki pekerja berjumlah satu hingga lima pekerja. Usaha laundry yang hanya mempekerjakan satu pekerja biasanya pekerja tersebut akan melakukan keseluruhan dari proses pekerjaan di laundry. Namun, tidak sedikit juga pengusaha laundry yang mempekerjakan

(53)

36

pekerja pada tahap pengerjaan yang berbeda setiap individunya. Kegiatan dalam usaha laundry kiloan ini terdiri dari empat proses pekerjaan:

1. Proses pertama : Proses penerimaan 2. Proses kedua : Proses pencucian 3. Proses ketiga : Proses pengeringan

4. Proses keempat : Proses penyetrikaan dan pengemasan

Dalam proses pencucian, pekerja laundry kiloan di Kelurahan Padang Bulan menggunakan mesin cuci pada saat melakukan pekerjaannya. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk beberapa jenis pakaian seperti pakaian putih bernoda, pakaian yang berbulu, pekerja akan melakukan pencucian menggunakan tangan secara langsung. Pekerja yang dapat terpapar dengan bahan iritan sodium lauryl sulfate adalah pekerja pada proses kedua.

Deskripsi Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2020 di laundry kiloan Kelurahan Padang Bulan. Penelitian dilakukan melalui wawancara, observsi, pemeriksaan klinis, dan studi dokumentasi dengan subjek penelitian dan dokter spesialis kulit dan kelamin yang telah bersedia menjadi bagian dari penelitian ini. Hasil dari penelitian kemudian dianalisis oleh peneliti dengan metode deskriptif, dimana artinya peneliti akan menggambarkan, menguraikan, serta menginterpretasikan seluruh data yang telah diperoleh sehingga dapat menjadi sebuah gambaran yang umum dan menyeluruh. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada pekerja laundry kiloan pada proses pencucian Kelurahan Padang

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian dengan uji F menunjukkan bahwa secara simultan inovasi produk dan citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian di Pizza

Sebagai lawan istilah hukum administrasi khusus (hukum admi- nistrasi luar biasa), dikenal pula istilah hukum administrasi umum. Dengan peran pemerintahan yang begitu

Perbedaan jurnal tersesebut dengan Skripsi Peneliti yaitu: Skripsi Peneliti berbeda dengan jurnal tersebut yakni Isi Pokok yang di teliti oleh Peneliti Lebih Menunjukan

Tanaman obat yang digunakan untuk penyembuhan luka dapat membantu mekanisme perbaikan dengan cara yang alami, salah satu tanaman obat tersebut adalah lidah buaya (Aloe

Disamping keempat strategi di atas, harga dari besaran-besaran statistik dari vektor baseline maupun koordinat titik (seperti standard deviasi, faktor variansi, dll.nya) yang

Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami karakteristik perusahaan industri sekaligus mengerti tentang sistem akuntansi biaya berdasarkan proses dan perhitungannya yang pada

Bab Keempat pada sub bab ini penulis akan menjawab tentang rumusan masalah, yaitu akan menguraikan tentang Analisis Mekanisme Jual Beli Mavro dalam Komunitas MMM

Sedangkan untuk analisis komponen struktur rangka batang didapati beberapa komponen struktur baik batang tarik maupun tekan dan sambungan yang tidak memenuhi kapasitas