III. METODE PELAKSANAAN 3.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan di Mitra Anggrek Indonesia, terletak di desa Junrejo, Kota Batu. Pelaksanaan penelitian selama 4 bulan, dari bulan Maret hingga Juni 2020. Lokasi penelitian berada dikoordinat -7.906490,112.559533
3.2. Alat dan Bahan 3.2.1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari: cangkul, gunting ranting, pot besar, gelas ukur, pipet mikro, label, alat tulis, blender, palu, gergaji, pemotong kawat, dan kamera dokumentasi.
3.2.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari: batang tanaman Bidani, zat pengatur tumbuh Indole Acetic Acid (IAA), bawang putih, aquades, baktosin dan tanah berpasir (tanah kateL.)
3.3. Metode Pelaksanaan
Penelitian ini menggunakan percobaan Faktorial yang disusun menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial yang diulang sebanyak tiga kali:
Faktor I adalah konsentrasi ekstrak bawang putih (B) yang terdiri dari 4 taraf yaitu:
Kontrol (0 %), 20 %, 30 %, dan 40 %.
Faktor II adalah konsentrasi Indole Acetic Acid (IAA) (P) yang terdiri dari 4 taraf yaitu:
Kontrol (0 ppm), 20 ppm, 30 ppm, dan 40 ppm.
20
Hasil rancangan tersebut terdapat 16 kombinasi perlakuan yaitu:
Faktor 2. Konsentrasi IAA (P)
Konsentrasi 0ppm 20ppm 30ppm 40ppm
0% B0P0 B0P20 B0P30 B0P40
Faktor 1 20% B20P0 B20P20 B20P30 B20P40
E.bawang putih (B)
30% B30P0 B30P20 B30P30 B30P40 40% B40P0 B40P20 B40P30 B40P40 Tabel 1. Kombinasi perlakuan. Keterangan: B0: Kontrol. B20: Ekstrak Bawang Putih 20%.
B30: Ekstrak Bawang Putih 30%. B40: Ekstrak Bawang Putih 40%. P0: Kontrol.
P20: IAA 20 ppm. P30: IAA 30 ppm. P40: IAA 40 ppm.
3.2.1. Denah Percobaan
Keterangan: Denah percobaan. B0P0: Kontrol. B0P20: Perlakuan IAA 20ppm. B0P30:
Perlakuan IAA 30ppm. B0P40: Perlakuan IAA 40ppm. B20P0: Perlakuan ekstrak bawang putih 20%. B20P20: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 20% dan IAA 20ppm. B20P30: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 20%
dan IAA 30ppm. B20P40: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 20% dan IAA 40ppm. B30P0: Perlakuan ekstrak bawang putih 30%. B30P20: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 30% dan IAA 20ppm. B30P30: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 30% dan IAA 30ppm. B30P40: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 30% dan IAA 40ppm. B40P0: Perlakuan bawang putih 40%. B40P20: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 40%
dan IAA 20ppm. B40P30: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 40% dan IAA 30ppm. B40P40: Perlakuan kombinasi ekstrak bawang putih 40% dan IAA 40ppm.
Gambar 5. Peletakan Sampel Secara Acak.
Keterangan: ▲. Tanaman cadangan.
● . Tanaman sampel. 3.1. Pelaksanaan Penelitian 3.4.1. Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan tanah katel yaitu tanah yang strukturnya berpasir.
Setelah itu tanah dimasukan ke dalam polybag yang sudah disediakan.
Gambar 6. Persiapan media tanam (A.) Memasukan tanah ke dalam polybag. (B.) Media yang sudah siap di tanami.
8
6
2
4
dengan panjang 25 cm. Pemotongan pangkal dilakukan degan kemiringan 45 derajat untuk memperluas daerah perakaran.
Gambar 7. Pengadaan bahan stek Batang Bidani. (A). Batang ukuran besar berdiameter 1,8.
(B). Batang ukuran sedang berdiameter 1,2 cm. (C). Batang ukuran kecil berukuran 0,6 cm.
3.4.3. Langkah Kerja Pembuatan Ekstrak Bawang Putih
Umbi bawang putih ditimbang masing – masing 1 kg, selanjutnya bawang putih yang sudah ditimbang dihaluskan menggunakan blender, kemudian disaring dengan menggunakan kain saring (filtrat yang didapat dianggap sebagai ekstrak yang berkonsentrasi 100%), setelah proses penyaringan selesai, dilakukan pengenceran dengan menggunakan pelarut aquades untuk konsentrasi 20%, 30%, 40%, dan sebagai kontrol menggunakan aquades.
1. Aplikasi 0 %= 100 ml aquades
2. Aplikasi 20 %= 20 ml ekstrak bawang putih + 80 ml aquades 3. Aplikasi 30 %= 30 ml ekstrak bawang putih + 70 ml aquades 4. Aplikasi 40 %= 40 ml ekstrak bawang putih + 60 ml aquades
Gambar 7. Langkah kerja pembuatan ekstrak bawang putih(A). Menyiapkan alat dan bahan setelah itu di haluskan. (B). Hasil setelah dihasulkan. (C). Ekstrak Bawang Putih yang sudah bisa digunakan. (D). Melarutkan ekstrak Bawang Putih dengan aquades.
3.4.4. Langkah Kerja Pembuatan Indole Acetic Acid (IAA)
Larutan IAA diperoleh dari labolatorium kultur jaringan Universitas Muhammadiyah Malang. Serbuk IAA sebanyak 0,10 g ditimbang kemudian dimasukan kedalam gelas ukur ukuran 100 ml. Serbuk IAA ditetesi alkohol dengan konsentrasi 96% hingga terdispersi (2-3 teteas), kemudian IAA diencerkan dengan aquades hingga menjadi 10 ml, larutan IAA baku 1000 ppm. Dari larutan baku dibuat 1liter larutan sebagai berikut:
1. Aplikasi 0 ppm = 100 ml aquades
2. Aplikasi 20 ppm = 0,020 ml IAA + 999,98ml aquades 3. Aplikasi 30 ppm = 0,030 ml IAA + 999,97 ml aquades 4. Aplikasi 40 ppm = 0,040 ml IAA + 999,96 ml aquades
Gambar 8. Proses Pengenceran IAA
3.4.5. Perendaman Stek Batang dengan Esktrak Bawang Putih dan IAA
Perendaman stek pangkal stek sepanjang 2 cm direndam dengan larutan yang sudah disediakan yaitu ekstrak bawang putih dengan konsentrasi 0 %, 20 %, 30 %, dan 40 % pangkal stek direndam selama 1 jam dan pada saat bersamaan IAA dengan konsentrasi 0 ppm, 20 ppm, 30 ppm dan 40 ppm pangkal stek direndam selama satu jam dengan wadah berbeda. Secara kombinasi pangkal stek direndam ekstrak bawang putih selama 1 jam, lalu di rendam IAA selama 1 jam sehingga total perendaman selama 2 jam.
Gambar 9. Proses perendaman batang stek(A). Perendaman esktak bawang putih. (B).
Perendaman IAA.
3.4.6. Penanaman Stek
Stek yang telah di rendam dengan larutan Indole Acetid Acid (IAA) dan ekstrak bawang putih kemudian ditanam dalam polybag yang telah diisi media tanam dengan
1/3 bagian stek dimasukkan ke dalam tanah. Stek yang sudah ditanam kemudian disungkup dengan plastik transparan (Irwanto. 2001).
Gambar 10. Proses Penanaman Stek Tanaman Bidani 3.4.7. Penyungkupan Stek Bidani
Budidaya tanaman dengan menggunakan metode sungkup plastik atau lebih dikenal dengan terowongan plastik. Cara menggunakan sungkup yaitu dengan meletakan ditempat yang sudah disediakan, setelah itu memasukan tanaman dengan membuat jarak satu antarai tanaman lainya agar pertumbuhannya tidak terganggu.
Manfaat dari sungkup itu sendiri yaitu membantu merangsang pertumbuhan tunas dan akar, menghindari hama, penyakit, dan virus yang mengganggu tanaman. Sungkup yang digunakan terbuat dari kayu dan bambu dengan panjang sungkup 3 m, lebar 1 m, tinggi atap 65 cm, lengkungan dengan panjang 2 m dan plastik yang dibutuhkan 3x2 m.
3.5. Pengamatan
Parameter pengamatan terhadap stek tanaman Bidani dilakukan secara periodik 14 hari setelah tanam (HST) sampai stek Bidani berumur 84 HST. Parameter yang di amati sebagai berikut:
14 hari sekali.
3.5.2. Jumlah Tunas
Pengamatan jumlah tunas yang dihitung sejak pengamatan ke 1 yaitu 14 hari setelah tanam stek Bidani.
3.5.3. Panjang Tunas
Panjang tunas (cm) yang dihitung dari pangkal tunas sampai bagian ujung tunas menggunakan penggaris atau meteran, pengamatan dilakukan 14 hari sekali.
3.5.4. Panjang Ruas Tunas
Pengamatan panjang ruas tunas (cm) diperoleh dengan cara menghitung ruas pada setiap 14 hari sekali setelah muncul tunas atau setelah tanam.
3.5.5. Diameter Tunas
Pengamatan diameter tunas diperoleh dengan cara menghitung diameter tunas tunas dengan menggunakan jangka sorong pada setiap 14 hari sekali.
3.5.6. Jumlah Akar
Jumlah akar ditentukan dengan menggunakan pintbot dengan tidak melukai atau merusak tanaman. Pengamatan ini sangat dibutuhkan karena untuk mengetahui jumlah akar pada stek tanaman Bidani. Parameter pengamatan dilakukan pada akhir pengamatan tanaman.
3.5.7. Panjang Akar
Penambahan panjang (cm) akar merupakan respon akar terhadap ketersediaan nutrisi dan air. Pengamatan panjang akar bertujuan untuk memberikan informasi kemampuan akar pada suatu tanaman dalam menyerap nutrisi dan air. Parameter pengamatan dilakukan pada akhir pengamatan tanaman.
3.5.8. Cabang Akar
Pengamatan cabang akar dilakukan dengan cara menghitung jumlah cabang akar yang muncul pada setiap stek. Parameter pengamatan dilakukan pada akhir pengamatan tanaman.
3.5.9. Luas Daun
Daun diukur dengan menggunakan penggaris dipilih daun yang paling lebar dan diukur panjangnya pada saat pengamatan.
3.5.10. Jumlah Cabang Tunas
Pengamatan jumlah cabang yang ada di tunas dilakukan apabila cabang yang ada ditunas sudah muncul. Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah cabang tunas yang tumbuh.
3.6. Analisis Data
Data yang diperoleh ditata dengan Microsoft Excel kemudian dianalisis dengan uji F dan uji BN menggunakan program SAS versi 9.