PERLINDUNGAN HUKUM PENGGUNAAN HAK CIPTA LAGU YANG DI COVER MELALUI INSTAGRAM
LEGAL PROTECTION FOR USE OF COPYRIGHTS OF SONG COVERED THROUGH INSTAGRAM
Fani Budi Kartika
Program Studi Hukum Universitas Potensi Utama, Medan Jl. K.L. Yos Sudarso Km. 6.5 No. 3 A Tanjung Mulia Medan
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Maraknya penggunaan media sosial seperti instagram saat ini membuat penggunanya banyak menikmati hiburan melalui instagram tersebut, termasuk kreatifitas postingan video cover version (cover lagu). Di dalam cover lagu di media sosial seperti instagram ini, terdapat kegiatan memodifikasi, memutilasi, merekam, menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mentransformasi, mempertunjukan, dan mengkomunikasikan karya cipta. Seiring perkembangannya muncul masalah yang cenderung menimbulkan kerugian kepada pemilik hak cipta lagu tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normative. Dan rumusan masalahnya bagaimana pengaturan terhadap hak cipta lagu di Indonesia, dan bagaimana perlindungan hukum atas penggunaan cipta lagu yang dicover melalui instagram. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pengaturan hak cipta lagu di Indonesia merujuk pada UUHC tahun 2014 tentang hak cipta. Instagram memiliki sistem yang kuat untuk memberikan proteksi pelanggaran hak cipta, namun pengguna Instagram juga harus bertanggung jawab untuk menggunakan aplikasi dengan benar. Penghapusan hak cipta dilakukan ketika yakin bahwa penggunaan materi digunakan tanpa seizin pemilik hak cipta, agen atau badan hukum. Perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta lagu yang dinyanyikan ulang (cover) untuk kepentingan komersial di media internet atau media sosial bertujuan agar hak-hak dari pencipta lagu dilindungi dan menjamin adanya kepastian hukum. Di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 perbuatan tanpa izin mengumumkan ciptaan lagu melalui internet merupakan pelanggaran hak cipta, apalagi jika pelaku cover mendapatkan keuntungan dari lagu yang memiliki hak cipta tersebut.
Kata kunci: perlindungan hukum, hak cipta, cover lagu ABSTRACT
The widespread use of social media such as Instagram today makes users enjoy a lot of entertainment through Instagram, including the creativity of posting cover version videos (cover songs). In the cover of songs on social media such as Instagram, there are activities to modify, mutilate, record, translate, adapt, arrange, transform, demonstrate, and communicate copyrighted works. Along with its development, problems arise that tend to cause harm to the copyright owner of the song. This study uses a normative juridical method. And the formulation of the problem is how to regulate song copyrights in Indonesia, and how is the legal protection for the use of song copyrights covered through Instagram. The result of this study is that the regulation of song copyright in Indonesia refers to the 2014 UUHC regarding copyright. Instagram has a strong system to provide copyright infringement protection, but Instagram users also have a responsibility to use the app properly. Copyright removal is carried out when it is determined that the use of the material was used without the permission of the copyright owner, agent or legal entity. Legal protection for copyright holders of songs re-sung (cover) for commercial purposes on the internet or social media aims to protect the rights of songwriters and
guarantee legal certainty. In Law No. 28 of 2014 the act without permission to announce song creations via the internet is a copyright violation, especially if the cover actor benefits from the song that has the copyright.
Keywords: legal protection, copyright, cover song
I. PENDAHULUAN
Hak cipta merupakan salah satu bagian terpenting dari ruang lingkup Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Di Indonesia sendiri terkait perlindungan HKI ini masih belum menjadi konsensus nasional yang bersifat solid. Kondisi tersebut dapat dilihat dari hasil survey Political And Economic Risk Consultancy tahun 2010 bahwa Indonesia adalah negara pada peringkat pertama yang melanggar Hak Kekayaan Intelektual di Asia, dan hal kemudian di akui oleh Kementrian Hukum dan HAM bahwa pemahaman masyarakat Indonesia masih sangat terbatas mengenai HKI ini.
Hak Kekayaan Intelektual memiliki beberapa ruang lingkup didalamnya, termasuk dalam penulisan ini yang akan dibahas secara lebih spesifik adalah mengenai Hak Cipta.
Pengaturan mengenai hak cipta diatur dalam peraturan perundang-undangan nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta (selanjutnya disebut UUHC Tahun 2014). Yang mana hak cipta merupakan hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan1. Artinya bahwa perlindungan hukum yang diberikan kepada pemegang cipta karya itu berlaku otomatis saat si pencipta tersebut melahirkan suatu karya cipta nyata.
Hak cipta merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.2 Hak moral merupakan hak yang secara otomatis akan melekat pada diri pencipta dan bersifat abadi, dan hak ekonomi yakni hak yang diperoleh saat pencipta mendapatkan manfaat ekonomi dari hasil karyanya atau hasil ciptaannya. Hak eksklusif adalah hak yang diperuntukkan untuk pencipta, sehingga apabila ada pihak lain yang ingin menggunakan hak eksklisif tersebut, maka harus atas persetujuan pencipta..3 Moral right and economic right mutlak memerlukan perlindungan hukum. Hak moral (moral rights) dan hak ekonomi (economic rights) mutlak
1 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
2 Pasal 4 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
3 Indirani Wauran-Wicaksono, 2017, Pengantar Hak Kekayaan Intelektual, Salatiga : Tisara Grafika.
memerlukan perlindungan hukum.4 Hak moral telah ada terlebih dahulu sebelum hak ekonomi jika dilihat berdasarkan filosofisnya.5
Pengakuan terhadap hak moral adalah bentuk perlindungan terhadap pencipta. Hak moral terdiri atas hak untuk diakui sebagai pencipta dan hak atas keutuhan karyanya.6 Pengalihan hak cipta tidak membuat hak moral berakhir, hak moral tetap melekat pada diri pencipta, karena pencipta memiliki keterikatan dengan karyanya yang harus dilestarikan, tanpa memperhatikan pertimbangan ekonomi.7 Sedangkan hak ekonomi merupakan akibat lanjut dari hak moral pencipta, sebab hak moral merupakan hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan. Konsekuensi dari sifat eksklusif dari hak cipta yaitu setiap orang yang melaksanakan hak ekonomi suatu ciptaan wajib mendapatkan ijin dari pencipta atau pemegang hak cipta.8
Kekayaan intelektual yang merupakan suatu hasil kreatifitas olah pikir manusia bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia.9 Hak Kekayaan Intelektual ini memiliki landasan filosofis yang dimulai sejak diumumkannya ide terhadap penghargaan bagi pencipta atau penemu kreasi intelektual yang memiliki kegunaan atau manfaat kepada masyarakat dalam masa politik Aristoteles di abad ke 4 SM.10 Ada dua anggapan teori yang menyatakan bahwa Hak Kekayaan Intelektual adalah suatu kepemilikan (property), pandangan ini dikemukakan oleh John Locke yang pada masanya sangat berpengaruh di negara penganut sistem hukum common law, kemudian filosofis lain yaitu Hegel yang pada masanya sangat berpengaruh pada negara-negara penganut sistem tradisi hukum civil law.
John locke mengajarkan konsep kepemilikan berkaitan dengan hak asasi manusia dengan pernyataan : “life, liberty, and property”.11 Menurut locke bahwa kedudukan manusia setara dalam status naturalis artinya kewajiban orang satu sama lain adalah sama sebagaimana
4Taufik H. S, 2017, Sistem Hukum Perlindungan Kekayaan Intelektual Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Jurnal Penelitian Hukum De Jure, Volume. 17, No. 2, hlm. 195.
5 Diah Imaningrum Susanti, 2017, Hak Cipta Kajian Filosofis Dan Historis, Malang : Setara Press.
6 Fatimah N.A dan Indirani Wauran, 2021, Pemenuhan Prinsip Fair Use Dalam Cover Lagu Berdasar Hukum Hak Cipta Indonesia (Fair Use Principles in Cover Song Based on Indonesian Copyright Law), Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Volume.
15, Nomor. 1, Maret, hlm : 111-132.
7 Loc.cit
8 Indirani Wauran-WIcaksono, Op Cit, hlm. 58.
9 Kholis Roisah, 2015, Konsep Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Malang : Setara Press, hlm. 2.
10 Anthony D’ Amato and Doris Estelle Long, 1996, International Intellectual Property Anthology, Anderson Publishing, Cincinnati, hlm. 25-26.
11 Jhon locke, 1982, Two Treaties Of Goverment: Chapter V Of Property, Harvard University, 1982
haknya, dan menurut locke ada dua macam hak yaitu liberty right that areas free of duty dan claim right that areas where the rightholder is owned a duty by others.12
Seni dapat digambarkan sebagai bentuk kreatifitas olah pikir manusia, ide maupun gagasan manusia yang melahirkan suatu bentuk unik menggambarkan kecirikhasan secara spesifik dan seni tidak memiliki standar baku apabila dinilai dari segi kualitasnya. Lagu/musik merupakan wujud seni yang memiliki kualitas untuk dapat dinilai dari berbagai aspek dan pandangan.
Berbagai bentuk cara yang dilakukan dalam memanfaatkan hasil karya cipta lagu atau musik. Salah satunya yaitu pemanfaatan dalam menyajikan versi berbeda dari sebuah lagu yang mana lagu tersebut telah dibuat dengan versi yang berbeda sedemikian rupa dan hasil versi perubahan lagu tersebut dipublish ke media sosial. Hal seperti ini sering disebut dengan kegiatan memproduksi cover versions (cover lagu).
Era digitalisasi saat ini banyak menghadirkan platform ataupun aplikasi-aplikasi menarik untuk dapat di akses dan dinikmati oleh masyarakat, termasuk salah satunya adalah aplikasi Instagram yang didirikan oleh perusahaan Burbn, Inc di tahun 2010, yang bergerak dibidang teknologi start up berfokus pada telepon genggam, namun seiring perkembangannya Instagram juga sudah dapat diakses melalui windows.
Maraknya penggunaan media sosial seperti instagram saat ini membuat penggunanya banyak menikmati hiburan melalui instagram tersebut, termasuk kreatifitas postingan video cover lagu. Cover lagu dapat diartikan sebagai the second versions of a song perfomed by either another act than the one that originally recorded it or by anyone except its writter.13 Cover lagu merupakan kegiatan mempertunjukan versi lain dari lagu oleh pihak selain pencipta atau pemegang Hak Cipta. Cover lagu atau cover versions refers to any adaptation made to a sound recording and is distinguished by two ingredients it has: different singers and different orchestra.14 Adaptation means any arrangement or transcription of songs. This is
12 J.W. Harris, 2001, Property And Justice, Oxford University Press, london, Hlm. 188-201.
13 Jon Pareles dan Patricia Romanowski, 2007, The Rolling Stone Encyclopedia of Rock and Roll, Selling Italy by the Sound: Cross-Cultural Interchanges through Cover Records, Popular Music, Page : 441-462.
14 Nawneet Vibhaw and Abishek Venkataraman, 2007, Recording That Different Version-An Indian Raga, Journal of Intellectual Property Rights, No.. 12, September, Page : 480-487.
done by adding accompaniments, new harmonies, and new rhythm including transcribing it for different musical forces.15
Hak cipta lahir ditengah masyarakat seiring dengan munculnya atau lahirnya hak moral dan hak ekonomi. Yang sebelumnya telah di atur dalam pasal 5 UUHC Tahun 2014, dimana menyatakan mengenai adanya pencantuman hak atau tidak adanya pencantuman nama pembuat hasil kreatifitas terhadap pemakaiannya untuk umum dan menggunakan nama samarannya, sampai mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi, pemotongan, modifikasi dan hal-hal lain yang bersifat merugikan kehormatan atau reputasi sang kreator.
Hak ekonomi diatur dalam Pasal 8 UUHC Tahun 2014 Tentang Hak Cipta meliputi penerbitan, penggandaan dalam segala bentuk, adaptasi, aransemen, transformasi, pendistribusian, hingga penyiaran atas ciptaannya. Saat ini berkembang penggunaan cover lagu baik itu dilakukan dimedia sosial seperti Instagram. Dari kegiatan tersebut tercipta versi yang berbeda dari sebuah lagu. Namun seiring perkembangannya muncul masalah yang cenderung menimbulkan kerugian kepada pemilik hak cipta lagu tersebut. Akibat cover lagu yang dilakukan oleh orang lain dan di share melalui aplikasi maupun platform lain, malah menyebabkan orang yang meng-cover lagu tersebut lebih banyak menikmati keuntungan dari hasil cover lagu itu, seperti lebih banyaknya penonton pada video cover lagu dibandingkan video asli pemilik hak cipta, ataupun endorsement-endorsment yang diterima. Tentunya hal ini menimbulkan keresahan sendiri oleh pemilik hak cipta lagu tersebut.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan terhadap hak cipta lagu di Indonesia, dan bagaimana perlindungan hukum atas penggunaan cipta lagu yang dicover melalui instagram.
II. METODE PENELITIAN
Penulisan dalam penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif. Penelitian normatif adalah penelitian yang menitikberatkan pada penelitian berupa perundang-undangan maupun peraturan lainnya yang merupakan hukum positif dan menjadi bahan acuan utama untuk penelitian ini.16 Kemudian peter mahmud memberikan pendapatnya bahwa penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum,
15 Cornish WR, 2001, Intellectual Property 3rd Edition, Universal Law Publishing.
16 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, 2001, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Hlm. 51.
maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.17 Selanjutnya pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan, dan dilakukan pengkajian undang-undang nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta, juga menggunakan bahan- bahan hukum primer, tersier dan sekunder.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Dasar Filosofis Perlindungan Hak Cipta di Indonesia
Landasan filosofis hak kekayaan intelektual muncul pada masa Aristotels abad ke 4 SM, yang dimasa itu dikemukakannya ide penghargaan kepada pencipta atau penemu kerasi intelektual yang berguna bagi masyarakat.18 Ada dua teori secara filosofis terkait anggapan hukum bahwa HKI adalah suatu sistem kepemilikan (property).19 Teori ini dikemukakan oleh John Locke dan Hegel. John locke adalah sosok yang sangat berpengaruh dinegara penganut sistem common law, sedangkan Hegel sangat berpengaruh pandangan ataupun pendapatnya di negara-negara penganut sistem civil law.
Menurut john locke bahwa konsep kepemilikan (property) berkaitan erat dengan hak asasi manusia (HAM) yang memberikan pernyataan “life, liberty, and property”. Bahwa dalam konsep status naturalis (state of nature), suasana aman tentram dan tidak ada hukum positif yang mengatur tentang kepemilikan terhadap sesuatu atau pemberian wewenang seorang tertentu kepada orang lain. Hal ini dianggap sudah menjadi kewajiban moral atas perilaku seseorang terhadap orang lain. Kewajiban yang dibebankan oleh Tuhan dalam hal ini dapat dilihat dari berbagai alasan. Namun status naturalis ini kemudian tidak dapat dipertahankan, karena negara tidak memiliki hakim yang dapat memberikan terjemahan yang mengikat dari hukum alam untuk menyelesaikan pertentangan kepentingan antar individu.
Untuk itu rakyat membentuk status civilis (state of civilized) karena kewenangannya akan menyediakan suatu pengaman bagi hak-hak alamiah yang tidak tersedia dalam status naturalis.20 Mengingat status manusia sama derajatnya menurut konsep status naturalis, artinya kewajiban orang satu sama lain adalah sama sebagaimana haknya.
17 Peter Machmud Marzuki, 2011, Penelitian Hukum, Jakarta : Prenada Media Group, Hlm. 35.
18 Anthony D’ Amato and Doris Estelle, Op. cit
19 Loc.cit
20 Rahmi Jened, 2014. Hukum Hak Cipta (Copyright law), Bandung : Citra Aditya Bakti, Hlm. 2.
Sedangkan G.W. Friedrich Hegel yang menghasikan karya “Philosofi of Right”
mengembangkan konsep tentang “right, ethic, and state” yang menggambarkan eksistensi dari kepribadian. Hegel menyatakan bahwa kekayaan diantara sesuatu kebendaan lainnya adalah sarana dimana seseorang dapat secara objektif mengemukakan kehendak pribadi dan tunggal.21 Konsepsi Hegel menyatakan bahwa hak yang dimiliki manusia terpisah dari paham individualis yang dikemukakan oleh locke dan Hegel menyempurnakan konsep Locke.
Menurut hegel kekayaan itu sebagai identifikasi pribadi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.22 Melalui pasar individu mencoba meletakkan dan melindungi identitas diri melalui pertukaran kekayaan secara sukarela yang mencerminkan kehendak individual.23 Dalam konteks hukum kekayaan meliputi benda dan bagaimana benda itu diperoleh. Hal milik merupakan hak kebendaan yang bersifat sempurna, ini di atur dala ketentuan pasal 570 BW yang mneyatakan bahwa hak kepemilikan adalah hak untuk menikmati manfaat dari suatu benda dengan leluasa dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu seutuhnya, asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang.24 Hal ini menjelaskan bahwa dasar filosofis perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia telah mengadopsi pandangan para filuf-filsuf sebelumnya bahwa adanya perlindungan terhadap Hak moral seseorang atas karya cipta dan perlindungan terhadap hak ekonomi atas karya cipta yang digunakan.
B. Pengaturan Terhadap Hak Cipta Lagu di Indonesia
Lagu atau musik didalam kehidupan bermasyarakat merupakan sarana komunikasi yang dapat digunakan dalam pengungkapan gagasan, maupun mengungkapkan perasaan tertentu.25 Kemudian lagu merupakan hasil karya budata yang lahir dari hasil karya, cipta,dan rasa kehidupan bersama, yang kemudian dianut oleh masyarakat sehingga lagu atau music ini harus mendapat perlindungan hak cipta.26
21 Peter Drahos, 1996, Promoheus On Trade In Intellectual Property, Special Issue, Australian Journal Coporate Law, No.. 16, Page : 16.
22 J.W. Harris, Property and Justice, Oxford University Press, London, 2001, hlm. 36-41.
23 Rahmi Jened, Op.cit.
24 Pasal 570 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
25 Yunial Laili Mutiari, 1996, Perlindungan Hukum Hak Cipta Salam Bidang Musik Rekaman Suara di Indonesia, Thesis, Universitas Indonesia, Hlm. 78
26 Ibid, hlm. 81
Hak cipta lagu atau musik dikenal dengan defenisi sebagai karya musik. Menurut perlindungan HKI secara internasional, lagu dan musik disebut musical work. Karya music (musical work) memiliki beberapa unsur ciptaan yang terdiri dari 4 unsur yakni:
1. Melodi merupakan suatu deretan nada yang dibuat secara khusus, memiliki ciri khas tersendiri dalam penyusunan menurut jarak dan tinggi nada sehingga memperoleh suatu watak tersendiri sehingga menjadi satu kesatuan yang organik.
2. Lirik adalah syair atau kata-kata yang disuarakan mengiringi melodi.
3. Aransemen adalah penataan terhadap melodi.
4. Notasi adalah penulisan melodi dalam bentuk not balok atau not angka.
David Bainbridge menyatakan bahwa adanya perlindungan hak cipta lagu atau karya musik muncul jika sudah berwujud dalam bentuk yang dapat diekspresikan ke media sosial, transkrip lagu, rekaman atau pun media lainnya, sehingga bentuk tersebut dapat dilihat secara kasat mata. Namun menurut konsep sistem civil law wujud karya lagu atau musik melalui media tidak berlaku secara mutlak. Hal ini dijustifikasi oleh Rahmi Jened yang menyatakan bahwa didalam Civil Law System tidak terlalu tegas mensyaratkan adanya fixation, jika karya tersebut dapat dikomunikasikan kembali dalam bentuk apapun (baik dilihat maupun didengar) sudah muncul perlindungan hak cipta.27
Maka pengaturan hak cipta lagu di Indonesia didasarkan pada pengaturan terhadap hak moral dan hak ekonomi. Hak moral termuat dalam Pasal 5 UUHC tahun 2014 yang meliputi hak untuk tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan nama creator pada salinan sehubungan dengan pemakaian ciptaannya untuk umum, menggunakan nama samarannya, sampai mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi, pemotongan, modifikasi, dan hal- hal lain yang bersifat merugikan kehormatan atau reputasi sang kreator. Sedangkan hak ekonomi diatur dalam Pasal 8 UUHC Tahun 2014 tentang Hak Cipta meliputi penerbitan, penggandaan dalam segala bentuk, adaptasi, aransemen, transformasi, pendistribusian, hingga penyiaran atas ciptaannya.
Pengaturan hak ekonomi tercantum dalam Pasal 8 UUHC tahun 2014 tentang hak cipta, yakni :
1. Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 memiliki hak ekonomi untuk melakukan :
27 Rahmi Jened, Op.cit.
a. Penerbitan Ciptaan;
b. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya;
c. Penerjemahan Ciptaan;
d. Pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian Ciptaan;
e. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya;
f. Pertunjukan Ciptaan;
g. Pengumuman Ciptaan;
h. Komunikasi Ciptaan; dan i. Penyewaan Ciptaan.
2. Setiap orang yang melaksanakan hak ekonomi wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta.
3. Setiap orang yang tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dilarang melakukan Penggandaan dan/atau Penggunaan secara komersial Ciptaan.
Sedangkan pengaturan hak moral termaktub dalam pasal 5 UUHC tahun 2014 yang merumuskan bahwa :
a) Tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian ciptaannya untuk umum;
b) Menggunakan nama aliasnya atau samaran;
c) Mengubah ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;
d) Mengubah judul dan anak judul ciptaan; dan
e) Mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi ciptaan, mutilasi ciptaan, modifikasi ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.
Hak-hak moral sebagaimana disebutkan diatas berlaku juga bagi para pemegang hak terkait. Pemegang hak terkait yang dimaksud adalah para pelaku (aktor, penyanyi, pemusik, penari, atau mereka yang menampilkan, memperagakan, mempertunjukkan, menyanyikan, menyampaikan, mendeklamasikan, atau memainkan suatu karya musik, drama, tari, sastra, folklore, atau karya seni lainnya), produser rekaman suara, dan lembaga penyiaran.28
Berdasarkan hal tersebut bahwa pengaturan hak cipta lagu di Indonesia merujuk pada UUHC tahun 2014 tentang hak cipta. Menurut pasal 58 Undang-Undang Nomor 28 Tahun
28 Otto Hasibuan, 2008, Hak Cipta Di Indonesia Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu, Neighbouring Rights dan Collecting Society, Bandung : PT. Alumni, Hlm. 119.
2014 tentang Hak Cipta bahwa perlindungan terhadap hak cipta lagu atau karya musik berlaku selama pencipta hidup dan 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia. Perlindungan hak cipta dibagi menjadi dua, yaitu perlindungan terhadap hak moral (Pasal 5 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2014) dan perlindungan terhadap hak ekonomi (Pasal 8 UU No. 28 Tahun 2014).
C. Perlindungan Hukum Atas Penggunaan Cipta Lagu Yang Dicover Melalui Instagram Sekarang ini marak terjadi orang-orang yang melakukan cover version lagu milik orang lain dan kemudian merekamnya lalu di unggah ke media social seperti Instagram. Cover version ini dibuat juga beragam cara, ada yang membuatnya secara sederhana, ada pula yang membuat secara professional. Cover version ini diartikan sebagai perbuatan yang menyanyikan Istilah cover version lagu diartikan sebagai bentuk menyanyikan ulang lagu dari artis atau penyanyi terkenal dengan tidak mengubah lirik serta lagu aslinya. Perlindungan hak cipta hanya mencakup kepada “ekspresi” pencipta, dan bukan kepada “ide” atau informasi yang didapat dari suatu ciptaan.29
Era digitalisasi saat ini banyak menghadirkan platform ataupun aplikasi-aplikasi menarik untuk dapat di akses dan dinikmati oleh masyarakat, termasuk salah satunya adalah aplikasi Instagram yang didirikan oleh perusahaan Burbn, Inc di tahun 2010, yang bergerak dibidang teknologi start up berfokus pada telepon genggam, namun seiring perkembangannya Instagram juga sudah dapat diakses melalui windows.
Maraknya penggunaan media sosial seperti instagram saat ini membuat penggunanya banyak menikmati hiburan melalui instagram tersebut, termasuk kreatifitas postingan video cover version (cover lagu). Cover lagu merupakan kegiatan yang menyanyikan ulang lagu/music orang lain dengan versi milik diri sendiri, dan dapat di iringi dengan bantuan alat music seperti gitar, piano, biola dan sebagainya dengan gaya khas kita sendiri tanpa mengubah lirik dan lagu aslinya.30
Kemunculan media internet ini memberikan banyak perubahan cepat yang sangat signifikan pada kehidupan manusia dalam berbagai bidang seperti bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Begitu pula dengan kemajuan bidang teknologi informasi yang cukup banyak
29 Rahmat Derajat Wiguna dan Tatty Aryani Ramli, 2020, Pelanggaran Terhadap Prinsip Deklaratif melalui Syarat Content ID oleh YouTube atas Pengunggahan dalam bentuk Cover (Penyanyian Ulang) yang merugikan Pencipta, Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Islam Bandung, Volume. 6, No. 1, Hlm. 1-4.
30 Tri Indaryani, https://batam.tribunnews.com/ di akses pada Mei 2021.
berperan membawa perubahan pada proses komunikasi, sehingga peranannya pun semakin penting sebagai akibat dari tuntutan global kehidupan modern yang bergerak semakin cepat.31 Selain berbagai inovasi dan kemudahan yang diberikan media internet sebagai pengembangan kreatifitas seseorang dan kemudahan dalam mengakses berbagai hal, media internet juga dapat dijadikan sebagai tempat melakukan tindakan kejahatan dan pelanggaran hak cipta. Bila melakukan pendekatan pada UU Hak Cipta, menyanyikan ulang lagu (cover) yang diumumkan di media internet tanpa adanya izin/lisensi tertulis dari pencipta ataupun pemegang hak terkait termasuk penggunaan yang wajar dan hal yang termasuk dalam pelanggaran hak cipta karya seni musik dapat dilihat dalam Pasal 43 huruf C UU Hak Cipta Tahun 2014.
Instagram merupakan salah satu media internet yang muncul di tahun 2020 dan masih eksis hingga sekarang, bahkan terus melakukan pengembangannya. Instagram memiliki pedoman dalam perlindungan hak cipta saat seseorang akan menggunakan aplikasinya, tidak hanya hak cipta terhadap foto, lagu ataupun music termasuk. Hal ini menjadi kebijakan yang dibuat oleh Instagram sendiri untuk memberikan perlindungan terhadap pencipta. Kebijakan tersebut diumumkan lewat blog resminya, “Sebagai bagian dari perjanjian lisensi kami, ada batasan soal jumlah musik yang direkam yang dapat dimasukkan dalam Live broadcast atau video. Pedoman ini bertujuan untuk melindungi pemegang hak, termasuk artis, penulis lagu, dan mitra dalam komunitas musik,” kata Instagram.32 Guna merencanakan kiriman video dan menghindari masalah, pengguna harus mempertimbangkan beberapa hal seperti tidak ada batasan seperti musik dalam Stories atau pertunjukan musik tradisional. Lalu, semakin panjang track rekaman dalam sebuah video, semakin besar kemungkinan itu terbatas. Oleh karena itu, klip musik yang lebih pendek sangat direkomendasikan. Supaya menghindari masalah, pengguna juga harus selalu meletakkan komponen visual untuk video dan rekaman audio tidak boleh menjadi tujuan utama video. Instagram juga akan menyertakan pemberitahuan video mengenai segala pelanggaran hak cipta. Layanan berbagi foto juga akan memberikan pengguna waktu untuk memperbaiki masalah tanpa mengganggu siaran.
Walaupun Instagram memiliki sistem yang kuat untuk memberikan proteksi pelanggaran hak cipta, namun pengguna Instagram juga harus bertanggung jawab untuk menggunakan
31 O.K. Saidin, 2015, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual Edisi Revisi, Jakarta : Raja Grafindo, Hlm. 631.
32 Dini Listiyani, https://www.inews.id/techno/ di akses pada Mei 2021.
aplikasi dengan benar. Penghapusan hak cipta dilakukan ketika yakin bahwa penggunaan materi digunakan tanpa seizin pemilik hak cipta, agen atau badan hukum. Penyalahgunaan proses tersebut dapat menyebabkan penangguhan akun atau konsekuensi hukum. Perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta lagu yang dinyanyikan ulang (cover) untuk kepentingan komersial di media internet atau media sosial bertujuan agar hak-hak dari pencipta lagu dilindungi dan menjamin adanya kepastian hukum. Di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 perbuatan tanpa izin mengumumkan ciptaan lagu melalui internet merupakan pelanggaran hak cipta, apalagi jika pelaku cover mendapatkan keuntungan dari lagu yang memiliki hak cipta tersebut.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Ketentuan dalam pasal 40 UUHC tahun 2014 menyatakan secara tegas bahwa lagu merupakan bidang yang mendapatkan perlindungan hak cipta. Dan ketentuan lain dalam pasal 89 ayat 2 bahwa adanya kewenangan dari Lembaga manajemen kolektif yang akan menarik royalty melalui perjanjian pemberian kuasa karya cipta lagu yang digunakan secara komersial.
Berdasarkan ketentuan ini memperjelas bahwa keberadaan hak ekonomi ini akan memberikan manfaat ataupun keuntungan secara ekonomi kepada pencipta atas hasil karya ciptanya.
Hak cipta juga mempunyai hak moral yakni hak yang tidak dapat dihapus/dihilangkan tanpa alasan apapun dan melekat dalam diri Pencipta meskipun Hak Cipta atau hak terkait telah dialihkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa hak ekonomi suatu hak cipta dapat beralih atau dialihkan kepada orang ataupun pihak lain, sedangkan hak moralnya tidak dapat dipisahkan dari diri si pencipta. Sehingga perlindungan hukum bagi pencipta atas ciptaanya telah didapatkan semenjak ciptaan tersebut selesai diwujudkan dalam bentuk nyata. Berdasarkan Pasal 40 ayat (1) UUHC, terdapat 19 (sembilan belas) jenis ciptaan yang dilindungi, salah satunya termasuk lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks. bahwa pengaturan hak cipta lagu di Indonesia merujuk pada UUHC tahun 2014 tentang hak cipta. Perlindungan hak cipta terhadap karya lagu/musik berlaku selama hidup pencipta dan 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia diatur dalam Pasal 58 UU No. 28 Tahun 2014. Perlindungan hak cipta dibagi menjadi dua, yaitu perlindungan terhadap hak moral (Pasal 5 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2014) dan perlindungan terhadap hak ekonomi (Pasal 8 UU No. 28 Tahun 2014).
Perlindungan hak cipta ini pun berlaku bagi karya cipta lagu yang di cover dan di unggah melalui Instagram. Menurut ketentuan dalam pasal 40 UUHC tahun 2014 menyatakan secara tegas bahwa lagu merupakan bidang yang mendapatkan perlindungan hak cipta. Cover lagu merupakan kegiatan yang menyanyikan ulang lagu/music orang lain dengan versi milik diri sendiri, dan dapat di iringi dengan bantuan alat music seperti gitar, piano, biola dan sebagainya dengan gaya khas kita sendiri tanpa mengubah lirik dan lagu aslinya. Dan kehadiran media internet yang saat ini semakin cepat serta canggih, membuat banyak orang tertarik untuk berinovasi terhadap daya kreatifitasnya, termasuk melakukan cover lagu yang kemudian dapat di unggah ke media internet seperti Instagram.
Instagram memiliki sistem yang kuat untuk memberikan proteksi pelanggaran hak cipta, namun pengguna Instagram juga harus bertanggung jawab untuk menggunakan aplikasi dengan benar. Penghapusan hak cipta dilakukan ketika yakin bahwa penggunaan materi digunakan tanpa seizin pemilik hak cipta, agen atau badan hukum. Penyalahgunaan proses tersebut dapat menyebabkan penangguhan akun atau konsekuensi hukum. Perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta lagu yang dinyanyikan ulang (cover) untuk kepentingan komersial di media internet atau media sosial bertujuan agar hak-hak dari pencipta lagu dilindungi dan menjamin adanya kepastian hukum. Di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 perbuatan tanpa izin mengumumkan ciptaan lagu melalui internet merupakan pelanggaran hak cipta, apalagi jika pelaku cover mendapatkan keuntungan dari lagu yang memiliki hak cipta tersebut, itu artinya bahwa perlindungan terhadap pencipta atas karya cipta lagunya yang telah di cover ulang kemudian diunggah melalui Instagram oleh pihak lain, telah mendapatkan perlindungan hukum menurut ketentuan undang-undang nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta.
B. Saran
Seharusnya adanya perubahan terhadap undang-undang hak cipta yang ada di Indonesia saat ini, agar ketentuan hukum hak cipta ini mampu mengikuti perkembangan globalisasi yang ada, khususnya terhadap dunia digital saat ini. Adanya penegakan hukum yang di atur secara khusus atas perbuatan meng-cover lagu melalui media internet seperti Instagram ataupun yang lain saat ini. Guna semakin jelas ketentuan yang mecakup perlindungan terhadap pencipta, pemegang hak cipta dan karya cipta itu sendiri. Hingga
ketentuan terhadap penyelesaian sengketa. Dan pemerintah perlu melakukan peningkatan sosialisasi-sosialisasi terhadap hak cipta, agar semua masyarakat dapat benar-benar memahaminya. Apalagi anak muda yang saat ini sudah biasa bersinggungan dengan dunia digital. Tujuannya agar dapat sangat menghargai hasil karya cipta yang lahir dari kekayaan intelektual manusia dan dapat mengurangi pelanggaran hak cipta di Indonesia.
V. DAFTAR PUSTAKA
[1] Anthony D’ Amato and Doris Estelle Long. 1996. International Intellectual Property Anthology, Cincinnati: Anderson Publishing.
[2] Cornish WR. 2001. Intellectual Property 3rd edition. Universal Law Publishing.
[3] Diah Imaningrum Susanti. 2017. Hak Cipta Kajian Filosofis Dan Historis, Malang : Setara Press.
[4] Dini Listiyani, https://www.inews.id/techno/ di akses pada Mei 2021.
[5] Fatimah Nurul Aini, Indirani Wauran. 2021. Pemenuhan Prinsip Fair Use Dalam Cover Lagu Berdasar Hukum Hak Cipta Indonesia (Fair Use Principles in Cover Song Based on Indonesian Copyright Law), Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Maret, Volume. 15, No. 1.
[6] Indirani Wauran-Wicaksono. 2017. Pengantar Hak Kekayaan Intelektual, Salatiga:
Tisara Grafika.
[7] Jhon locke. 1982. Two Treaties Of Goverment: Chapter V Of Property, Harvard University.
[8] Jon Pareles dan Patricia Romanowski. 2007. The Rolling Stone Encyclopedia of Rock and Roll, Selling Italy by the Sound: Cross-Cultural Interchanges through Cover Records, Popular Music 26, No. 3.
[9] J.W. Harris. 2001. Property And Justice, London: Oxford University Press.
[10] Kholis Roisah. 2015. Konsep Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Malang: Setara Press.
[11] Nawneet Vibhaw and Abishek Venkataraman. 2007. Recording That Different Version-An Indian Raga, Journal of Intellectual Property Rights 12, September.
[12] O.K. Saidin. 2015. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual Edisi Revisi, Jakarta : Raja Grafindo.
[13] Otto Hasibuan. 2008. Hak Cipta Di Indonesia Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu, Neighbouring Rights, dan Collecting Society, Bandung : PT. Alumni.
[14] Peter Drahos. 1996. Ppromoheus On Trade In Intellectual Property, Special Issue, Australian Journal Coporate Law, No. 16.
[15] Peter Mahmud Marzuki. 2011. Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group.
[16] Rahmat D.W dan Tatty A.R. 2020. Pelanggaran terhadap Prinsip Deklaratif melalui Syarat Content ID oleh YouTube atas Pengunggahan dalam bentuk Cover (Penyanyian Ulang) yang merugikan Pencipta, Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Islam Bandung, Volume. 6, No. 1.
[17] Rahmi Jened. 2014. Hukum Hak Cipta (Copyright law), Bandung : PT.Citra Aditya Bakti.
[18] Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji. 2001. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
[19] Taufik H. Simatupang. 2017. Sistem Hukum Perlindungan Kekayaan Intelektual Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Jurnal Penelitian Hukum De Jure, Volume. 17 No. 2.
[20] Tri Indaryani, https://batam.tribunnews.com/ di akses pada Mei 2021.
[21] Yunial Laili Mutiari. 1996. Perlindungan Hukum Hak Cipta Salam Bidang Musik Rekaman Suara di Indonesia, Thesis Universitas Indonesia.
[22] Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
[23] Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta.