• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL KONSOLIDASI PENGIRIMAN PRODUK AGRO-PERISHABLE BERBASIS TEMPERATUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL KONSOLIDASI PENGIRIMAN PRODUK AGRO-PERISHABLE BERBASIS TEMPERATUR"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL KONSOLIDASI PENGIRIMAN PRODUK AGRO-PERISHABLE BERBASIS TEMPERATUR Dewi Tressia Roito Saragih, Ahmad Rusdiansyah

Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111

Email: [email protected] ; [email protected] Abstrak

Koordinasi diantara seluruh pelaku rantai pasok suatu perusahaan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam mengefisienkan persediaan di sepanjang aliran rantai pasok. Common Replenishment Epochs (CRE) merupakan salah satu cara untuk mempermudah koordinasi diantara para pelaku rantai pasok. Dengan tujuan menarik hati pembeli untuk mau menerapkan CRE, vendor menawarkan diskon. Permasalahannya adalah bagaimana menentukan kebijakan pemberian tingkat diskon yang tepat sehingga pembeli tertarik untuk mengikuti jadwal replenishment yang diberikan vendor dan vendor tetap memperoleh keuntungan optimal. Asumsi utama pada strategi CRE ini adalah bahwa CRE hanya dapat diaplikasikan ketika pesanan-pesanan diantara pembeli dikirim secara bersamaan (konsolidasi). Dalam penelitian ini, dibahas mengenai model kebijakan CRE dimana vendor produk agro-perishable menawarkan diskon bagi pembeli yang bersedia melakukan pemesanan ulang pada periode waktu yang telah ditentukan dan bersedia jika pengiriman produk yang dipesan dilakukan menggunakan kendaraan berpendingin yang sama dengan kendaraan untuk mengirimkan produk pesanan pembeli lain. Variabel keputusan dari model ini adalah tingkat diskon yang memungkinkan untuk ditawarkan oleh vendor dengan mempertimbangkan kenaikan biaya yang dialami pembeli dan penurunan biaya yang diperoleh vendor, temperatur yang seharusnya diterapkan pada cold storage kendaraan, serta periode replenishment yang seharusnya diterapkan vendor kepada pembeli sehingga dapat meminimalkan total biaya sistem, dimana. Fungsi tujuan dalam penelitian ini mempertimbangkan faktor penurunan kualitas (deteriorasi) dan faktor penggunaan energi pada kendaraan berpendingin. Setelah mengembangkan model untuk menyelesaikan permasalahan, dilakukan studi numerik untuk mengevaluasi keuntungan yang diperoleh melalui strategi CRE ini. Melalui studi literatur, dapat dilakukan penarikan keputusan mengenai pesanan-pesanan yang seharusnya dikonsolidasikan, tipe kendaraan yang seharusnya dipergunakan, dan rute yang seharusnya dilalui sehingga total biaya sistem dapat diminimalkan.

Kata Kunci: Biaya energi, Common Replenishment Epochs (CRE), konsolidasi pengiriman, produk agro-perishable, penurunan kualitas.

Abstract

Coordination among all players in the supply chain of a company is very needed in streamlining the flow of inventory throughout the supply chain. Common Replenishment Epochs (CRE) is one way to make coordination among supply chain actors become easier. With the aim of attracting a buyer to implement CRE, vendors offering discounts. The problem is how to determine the appropriate discount rate policy so that buyers interested to follow the replenishment schedule given by vendor and vendor still get the optimal benefit. The main assumption in this CRE strategy is that the CRE can be applied only when orders among buyers sent simultaneously (consolidation). This study will discuss the CRE policy model in which vendors of agro-perishable product offer discounts to buyers who are willing to replenish their products at the specified time period and willing if the delivery of the product ordered is done using the same refrigerated vehicle that is used to deliver others orders. Decision variables of this model is the discount rate offered by a vendor by considering the increasing cost in buyer and the decreasing cost in vendors, the temperature that should be applied on cold storage vehicles, as well as the interval replenishment that should be applied to the buyer so that the total the cost of the system is minimized. The objective function of this research is to consider the factor of quality degradation in products and energy consumption in refrigerated vehicles. After developing a model to solve the problem, a numerical study conducted to evaluate the benefits obtained through the CRE strategy. Through the study of literature, a decision can be made regarding the orders that should be consolidated, the type of vehicle that should be used, and the route that should be passed so that the total cost of the system can be minimized.

Keywords: Agro-perishable products, Common Replenishment Epochs (CRE), cost of energy, deterioration quality, shipment consolidation.

1. Pendahuluan

Dengan peningkatan perhatian pada manajemen rantai pasok, perusahaan semakin

menyadari bahwa persediaan di sepanjang rantai pasok dapat diatur dengan lebih efisien melalui kerjasama dan koordinasi yang lebih baik. Integrasi

(2)

rantai pasok yang sepenuhnya mengatur keseluruhan sistem merupakan sesuatu yang sangat ideal yang diharapkan, namun mungkin sangat sulit diwujudkan karena beberapa alasan (Viswanathan dan Piplani, 2000). Alasan yang pertama adalah karena pelaku-pelaku yang terlibat dalam suatu rantai pasok (vendor, retailer, dan distributor) mungkin memiliki perjanjian dengan pihak lain dan lebih memilih untuk memaksimalkan keuntungan sendiri dari pada memaksimalkan keuntungan rantai pasok secara keseluruhan. Bahkan jika seluruh rantai pasok dimiliki oleh satu perusahaan, pengoptimisasian keseluruhan persediaan di sepanjang rantai pasok mungkin masih sulit dilakukan karena dorongan-dorongan struktur yang ada dalam organisasi tersebut. Oleh karena itulah, menentukan mekanisme untuk meningkatkan koordinasi diantara entitas-entitas rantai pasok sangat penting untuk dilakukan dengan cara tidak hanya meningkatkan koordinasi pada entitas-entitas yang telah bersedia untuk berinisiatif tetapi juga pada seluruh rantai pasok.

Salah satu mekanisme untuk mengkoordinaksikan persediaan adalah melalui penerapan Common Replenishment Epochs (CRE). Pada mekanisme ini, manufacturer atau vendor yang mendistribusikan sebuah produk ke beberapa pengecer dan pedagang grosir mungkin menetapkan waktu pemesanan ulang produk pada waktu-waktu tertentu, seperti setiap Senin, setiap awal bulan, dan sejenisnya. Dengan menetapkan strategi tersebut, vendor sedang menerapkan mekanisme koordinasi yang mampu untuk menggabungkan beberapa pemesanan ulang dan biaya pengiriman. Jika praktik ini telah terjadi sebelumnya, maka pembeli mungkin akan menerima mekanisme ini tanpa adanya keberatan. Namun, jika pembeli telah terbiasa untuk melakukan pemesanan pada waktu-waktu tertentu dan pembeli telah merasa nyaman dengan kebiasaan ini maka pembeli akan merasa enggan untuk menerima pengiriman hanya pada waktu waktu yang ditentukan vendor. Tetapi masih terdapat juga pembeli yang memiliki fleksibilitas mengenai waktu pengiriman atau waktu pemesanan ulang sehingga untuk menarik minat pembeli yang demikian perlu dilakukan pemberian upah tambahan, seperti diskon.

Dari sisi pembeli, pemberian diskon adalah suatu kesempatan yang perlu untuk dipertimbangkan karena dapat meningkatkan keuntungan. Sementara dari sisi vendor pemberian diskon berarti mengurangi keuntungan yang diperoleh. Jika pemberian diskon oleh vendor mengurangi keuntungan yang diperoleh pembeli, tentu saja mengakibatkan keengganan pembeli untuk menyetujui penawaran vendor. Namun, jika pemberian diskon terlalu besar maka penerapan CRE tidak akan membawa keuntungan kepada vendor. Dalam situasi demikian, CRE akan menjadi program gagal yang menyebabkan vendor mengalami kerugian. Oleh karena itulah, sangat penting untuk mengetahui batas-batas pemberian

diskon yang dapat menguntungkan kedua belah pihak. Dengan mengetahui batas-batas tersebut, penerapan kebijakan CRE akan berhasil dilakukan.

CRE, pertama sekali diusulkan oleh oleh Viswanathan dan Piplani (2000). Namun, penerapan operasional dari koordinasi belum dilakukan. Selanjutnya, Nurwidiana dan Rusdiansyah (2008) mengisi gap ini dengan mengembangkan model CRESC (CRE with Shipment Consolidation). Karena objeknya produk non-perishable, penurunan kualitas dan penggunaan energi tidak dipertimbangkan. Sehingga dalam penelitian ini akan dipelajari tentang bagaimana memodelkan konsolidasi pengiriman produk-produk agro-perishable berbasis suhu yang mempertimbangkan biaya penurunan kualitas dan biaya penggunaan energi pada kendaraan berpendingin.

Penelitian ini akan mengembangkan model dan algoritma pelaksanaan CRE pada penjualan produk-produk argo-perishable dari seorang vendor (dalam hal ini distributor utama) kepada banyak buyer (dalam hal ini retailer) melalui konsolidasi pengiriman dengan batasan interval replenishment mengikuti kebijakan Power of Two (PoT) dan dengan mempertimbangkan biaya penggunaan energi pendinginan pada kendaraan dengan cold storage dan biaya penurunan kualitas pada saat retailer menyimpan produk.

Konsolidasi dilakukan dengan sistem Full Truck Load (FTL) multi vehicle. Oleh karena itu, dalam penentuan kebijakan konsolidasi akan dilakukan pemilihan rute perjalanan, jenis kendaraan yang akan dipergunakan dan urutan pengiriman yang optimal untuk meminimalkan biaya transportasi. Konsolidasi akan terwujud jika pengiriman pesanan buyer dapat digabungkan dengan pesanan buyer yang lain. Bisa tidaknya konsolidasi dilakukan akan menjadi acuan penerapan kebijakan CRE.

Penelitian ini juga akan mengembangkan model penentuan nilai diskon yang optimal dengan menetapkan nilai saving minimal (S). Nilai saving merupakan persentase penghematan biaya persediaan yang dijanjikan vendor kepada buyer jika bersedia mengikuti kebijakan CRE. Dengan model yang dikembangkan diharapkan dapat menjamin nilai diskon yang ditawarkan vendor kepada buyer akan menguntungkan keduanya.

2. Model Penelitian

Pada penelitian ini, akan dipergunakan model untuk menghitung biaya yang harus ditanggung buyer karena menyimpan produk agro-perishable pada rentang waktu tertentu, dimana biaya penurunan kualitas ini didasarkan pada model yang dipergunakan pada penelitian Wang dan Li (2012) dan Zanoni dan Zavanella (2012). Model biaya penurunan kualitas yang harus ditanggung buyer adalah:

(3)

𝐷𝐶 =12𝐷𝑖(1 − 𝑞0𝑒− 𝑘𝐴tie − 𝑅𝑔𝑎𝑠 𝑇𝑏𝐸𝐴 𝑚

𝑖=1 )𝐵𝑦 (1)

,dimana 𝐷𝐶 menyatakan biaya deteriorasi, 𝐷𝑖 adalah

permintaan tahunan dari buyer i, 𝑞0 adalah kualitas

awal produk saat diterima buyer, 𝑘𝐴 adalah konstanta

penurunan kualitas, 𝑡𝑖 adalah waktu pernyimpanan

produk, 𝐸𝐴 adalah energi aktivasi reaksi 𝐽/𝑘𝑔 yang

mengontrol loss kualitas, 𝑅𝑔𝑎𝑠 adalah konstanta gas ideal 𝐽/𝑘𝑔𝐾 , dan 𝑇𝑏 adalah temperatur absolut

dalam 𝐾 yang dibandingkan terhadap temperatur referensi 𝑇𝑟𝑒𝑓.

Selain biaya penurunan kualitas, dibutuhkan model biaya penggunaan energi pada kendaraan berpendingin, dimana biaya ini diambil dari penelitian Hsu, dkk. (2004). Model biaya penurunan kualitas yang harus ditanggung oleh vendor akibat menggunakan kendaraan berpendingin saat mendistribusikan produknya adalah :

𝐸 𝑥𝑝=1 𝛼𝑠𝛽 + 1 𝑇𝑎− 𝑇𝑏 𝑙𝑓𝑝− 𝑙𝑠𝑝 (2)

Setelah memperoleh model (1) dan (2), maka pengembangan model replenishment tanpa adanya koordinasi dan dengan adanya koordinasi berupa CRE dapat dilakukan. Tahapan dalam pengembangan model dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Tahap Pengembangan Model dan Algoritma

Fungsi tujuan dari sistem yang dibangun adalah meminimumkan total biaya sistem yang berasal dari penjumlahan total biaya yang harus ditanggung vendor untuk mengirimkan seluruh pesanan buyer dan total biaya buyer untuk menyimpan produk. Dari pelaksanaan tahap pengembangan model, diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Biaya inventory buyer sebelum dan setelah adanya koordinasi adalah hasil penjumlahan antara biaya pemesanan, biaya simpan, dan biaya akibat degradasi kualitas. Secara matematika diformulasikan sebagai : 𝑔𝑖𝑈 = 𝐾𝑖𝐷𝑄𝑖 𝑖+ 𝑕𝑖 𝑄𝑖 2 + 1 2𝐷𝑖𝑦𝑞𝑖𝑦 ′ 𝐵 𝑖𝑦 𝑤 𝑦=1 (3) 𝑔𝑖𝐶= 𝐾𝑖 𝑛𝑖𝑇0+ 𝐻𝑖𝑦𝑛𝑖𝑇0+ 𝑤 𝑦=1 𝑤𝑦=112𝐷𝑖𝑦𝑞𝑖𝑦′ 𝐵𝑖𝑦 (4)

,dimana persamaan (3) dan (4) secara berturut-turut merupakan biaya buyer sebelum menerapkan CRE dan biaya buyer setelah menerapkan CRE.

2. Biaya replenishment vendor sebelum dan setelah adanya koordinasi adalah hasil penjumlahan antara biaya set up, biaya pemrosesan pesanan buyer, biaya transportasi, dan biaya penggunaan energi. Secara matematika diformulasikan sebagai : 𝑔0i𝑈 = 𝐴𝑠+𝐴𝑖+𝐶𝑖+ 𝐸𝑖𝑝 𝑡𝑖𝑈 𝑚 𝑖=1 (5) 𝑔0𝑖𝐶 = 𝐴𝑠 𝑇0 𝑚′ + 𝐴𝑖+𝐶𝑖𝑟𝑝𝑛𝑖+𝐸𝑖𝑟𝑝𝑛𝑖 𝑛𝑖𝑇0 (6)

(4.38)

,dengan 𝐸𝑖𝑝 = 𝐸 𝛼𝑠𝛽𝑝+ 1 𝑇𝑎− 𝑇𝑏 𝑙𝑓𝑝− 𝑙𝑠𝑝 (7)

,dimana persamaan (5) dan (6) secara berturut-turut merupakan biaya vendor sebelum menerapkan CRE dan biaya vendor setelah menerapkan CRE.

3. Agar diskon menguntungkan kedua pihak, diskon yang dapat ditawarkan oleh vendor kepada buyer harus memenuhi batasan berikut :

1 𝐷𝑖 𝑔𝑖 𝐶− 1 − 𝑆 𝑔 𝑖𝑈 ≤ 𝑍𝑖 <𝐷1 𝑖 𝑔0 𝑈− 𝑔 0𝑖𝐶 (8)

Untuk menjamin terpenuhinya persyaratan tersebut, maka nilai S akan ditetapkan dengan algoritma sebagai berikut :

1. Untuk masing-masing buyer, cari nilai S yang memenuhi persamaan batas bawah Z.

𝑆 = 1 + 𝑔0𝑖𝑈−𝑔0𝑖𝐶−𝑔𝑖𝐶

𝑔𝑖𝑈 (4.49)

2. Substitusi nilai S dari masing-masing buyer ke dalam persamaan batas bawah Z dan hitung nilai total diskon untuk semua buyer ( 𝑚 𝐷𝑖𝑍𝑖

𝑖=1 ) yang

dihasilkan oleh nilai S tersebut.

3. Hitung total penghematan yang dihasilkan vendor.

4. Pilih nilai S yang memberikan total diskon lebih kecil dari penghematan vendor (memenuhi persamaan batas atas Z).

5. Tetapkan nilai S terkecil pada langkah 4 sebagai saving yang dijanjikan kepada buyer (𝑆∗). 4. Hitung diskon untuk tiap-tiap buyer dengan

mensubstitusi nilai 𝑆∗ pada langkah 5 ke persamaan batas bawah Z.

3. Percobaan Numerik

Percobaan numerik ini merupakan modifikasi dari kasus yang dipergunakan dalam penelitian Viswanathan dan Piplani (2000) dan Nurwidiana dan Rusdiansyah (2008). Jika supply chain pada kasus Viswanathan dan Piplani terdiri dari satu vendor, 10 buyer, dan 1 jenis produk, maka supply chain pada kasus ini terdiri dari satu vendor, 10 buyer, dan 4 jenis produk, dimana keempat jenis TAHAP I

Mengembangkan model replenishment tanpa adanya koordinasi

TAHAP I-1

Mengembangkan model biaya inventory buyer

TAHAP I-2

Mengembangkan model penentuan kuantitas optimal replenishment (Q*)

TAHAP I-3

Mengembangkan model penentuan interval replenishment (ti)

TAHAP I-4

Mengembangkan model biaya pengiriman vendor

TAHAP II

Menentukan model CRE dengan konsolidasi pengiriman

TAHAP II-1

Mengembangkan model interval replenishment (Ti) untuk tiap interval replenishment dasar (To)

TAHAP II-2

Mengembangkan model konsolidasi pengiriman

TAHAP II-3

Mengembangkan model perhitungan biaya buyer dan vendor setelah penerapan kebijakan CRE

TAHAP II-4

Mengembangkan model penentuan diskon

TAHAP II-5

Mengembangkan model perhitungan biaya buyer dan vendor setelah diskon ditetapkan

TAHAP II-6

Pemilihan Interval Replenishment dasar (To) yang optimal

(4)

produk ini mewakili kelompok suhu yang disarankan oleh USDA (2008).

Tabel 1. Lokasi dari Vendor dan Buyer

Lokasi Biaya Per

Pesan / Ki (Rupiah) Permintaan Tahunan / Di (Rupiah) X Y Vendor 0 0 - - Buyer 1 12 24 70,000 60,000,000 Buyer 2 -20 19 75,000 75,000,000 Buyer 3 -13 25 180,000 100,000,000 Buyer 4 -22 12 50,000 120,000,000 Buyer 5 0 30 200,000 135,000,000 Buyer 6 -19 22 190,000 150,000,000 Buyer 7 12 27 195,000 160,000,000 Buyer 8 -22 18 135,000 170,000,000 Buyer 9 17 30 245,000 185,000,000 Buyer 10 16 25 197,000 200,000,000

Dari matriks ini dapat diketahui jarak vendor dengan buyer dan jarak antar buyer. Komposisi dari produk yang dibeli buyer tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi Pembelian Produk Oleh Buyer

P Q R S Buyer 1 0% 40% 60% 0% Buyer 2 0% 70% 0% 30% Buyer 3 0% 30% 15% 55% Buyer 4 80% 0% 0% 20% Buyer 5 25% 25% 25% 25% Buyer 6 10% 15% 0% 75% Buyer 7 55% 5% 30% 10% Buyer 8 0% 0% 80% 20% Buyer 9 45% 20% 10% 25% Buyer 10 5% 50% 0% 45% Ka 0.96 0.998 0.83 0.83 Densitas (kg/liter) 1.02 0.46 1.02 1.01 Harga/kg (Rupiah) 40,000 35,000 15,000 20,000

Parameter biaya replenishment vendor yang dipergunakan pada percobaan ini adalah biaya set up 𝐴𝑠 = Rp 500,000 (lima ratus ribu rupiah) dan biaya

pemrosesan pesanan pada buyer i 𝐴𝑖 = Rp 250,000.

Selain itu, interval replenishment dasar 𝑇0 adalah 1

minggu, 2 minggu, dan 4 minggu (1 bulan). Untuk perhitungan biaya kendaraan dengan cold storage, dipergunakan parameter biaya penggunaan energi per kilokalori 𝐸 sebesar Rp 0.928, sementara temperatur atau suhu lingkungan adalah sebesar 293 K. Kemudian pada percobaan ini diasumsikan kecepatan seluruh truk sama, yaitu 30 kilometer per jam, kecepatan unloading produk pada seluruh buyer adalah 2 menit per 10 kilogram atau 0.00333 jam per kilogram produk, dan frekuensi pembukaan pintu cold storage 𝛽𝑝 sama dengan jumlah buyer yang

dilayani oleh kendaraan tertentu. Tabel 3 menampilkan jenis, kapasitas, dan biaya penggunaan masing-masing kendaraan (truk) yang dimiliki oleh vendor.

Tabel 3. Data Kendaraan (Truk)

Kendaraan Tipe p Kode Kapasitas Maksimum Cp (Rupiah / km) Wp (kg) Vp (liter) Truk 1 A 500 750 5,000 Truk 2 B 750 1,050 7,500 Truk 3 C 1,000 1,250 10,000 Truk 4 D 1,300 1,500 12,500 Truk 5 E 2,000 2,500 15,000 Truk 6 F 2,500 3,000 17,500 Truk 7 G 3,500 3,750 20,000 Truk 8 H 5,000 5,500 22,500

Selain data pada Tabel 1, parameter biaya replenishment lain pada buyer adalah biaya simpan ditetapkan sebesar 30% dari rata-rata harga produk per kilogram. Untuk perhitungan biaya akibat penurunan kualitas, maka diasumsikan bahwa ketika produk sampai di buyer, kualitas produk 𝑄0 tersebut adalah 85%.

Dengan menggunakan algoritma CRESC (CRE with Consolidation Shipment), percobaan ini diselesaikan dengan menggunakan 4 skenario, dengan masing-masing skenario menggunakan 3 jenis T0, yaitu T0 = 1, 2 dan 4 minggu :

1. Replenishment dengan PoT, suhu 273.15 K 2. Replenishment dengan PoT, suhu 276.90 K 3. Replenishment dengan PoT, suhu 279.10 K 4. Replenishment dengan PoT, suhu 291.15 K

Dari perhitungan dengan menggunakan model yang telah dibangun, diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Biaya sistem sebelum adanya koordinasi

Gambar 2. Biaya Sistem Skenario 1 sampai 4

Gambar 3. Proporsi Biaya Vendor dan Biaya Buyer Pada Biaya Sistem untuk Skenario 1 sampai 4 180.00 180.50 181.00 181.50 182.00 182.50 183.00 183.50 184.00 184.50 185.00 - 1 2 3 4 5 B iaya S is te m (Ju ta R u p iah ) Skenario ad

Biaya Sistem Tanpa Koordinasi

-20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 180.00 200.00 1 2 3 4 B ia y a S ist e m (R a tu s R ib u R u p ia h ) Skenario

Proporsi Biaya Vendor dan Buyer Pada Biaya Sistem

Bia ya Buyer Bia ya Vendor

(5)

2. Biaya sistem setelah adanya koordinasi melalui CRESC

Gambar 4. Biaya Sistem Keempat Skenario dengan Masing-Masing T0

Gambar 5. Perbandingan Biaya Buyer dan Vendor terhadap Biaya Sistem Pada Masing-Masing T0 Pada

Skenario 1

Gambar 6. Perbandingan Biaya Buyer dan Vendor terhadap Biaya Sistem Pada Masing-Masing T0 Pada

Skenario 2

Gambar 7. Perbandingan Biaya Buyer dan Vendor terhadap Biaya Sistem Pada Masing-Masing T0 Pada

Skenario 3

Gambar 8. Perbandingan Biaya Buyer dan Vendor terhadap Biaya Sistem Pada Masing-Masing T0 Pada

Skenario 4

Tabel 4. Biaya Setelah Adanya Diskon

Melalui CRESC, penghematan yang dapat diperoleh pada skenario 1-4 adalah sebagai berikut:

Gambar 9. Grafik Persentase Penghematan Total Biaya Sistem Setelah Menerapkan CRESC

Gambar 10. Grafik Persentase Penghematan Total Biaya Buyer Setelah Menerapkan CRESC

-20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 180.00 - 1 2 3 4 5 B iaya S is it em (Ju ta R u p iah )

Interval Replenishment Dasar (To)

Biaya Sistem Skenario

Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 -20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 180.00 200.00 Tanpa CRE T0 = 1 T0 = 2 T0 = 4 B iaya ( Ju ta R u p iah )

Perbandingan Biaya Pada Berbagai T0Pada Skenario 1, Suhu 273.15 K Biaya Buyer Biaya Vendor -20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 180.00 200.00 Tanpa CRE T0 = 1 T0 = 2 T0 = 4 B iaya ( Ju ta R u p iah )

Perbandingan Biaya Pada Berbagai T0Pada Skenario 2, Suhu 276.90 K Biaya Buyer Biaya Vendor -20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 180.00 200.00 Tanpa CRE T0 = 1 T0 = 2 T0 = 4 B iaya ( Ju ta R u p iah )

Perbandingan Biaya Pada Berbagai T0Pada Skenario 3, Suhu 279.10 K Biaya Buyer Biaya Vendor -20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 180.00 200.00 Tanpa CRE T0 = 1 T0 = 2 T0 = 4 B iaya ( Ju ta R u p iah )

Perbandingan Biaya Pada Berbagai T0Pada Skenario 4, Suhu 291.15 K Biaya Buyer Biaya Vendor Skenario To (Minggu)Nilai S* Total Diskon (Rupiah) Total Biaya Buyer (Rupiah) Total Biaya Vendor (Rupiah)

Total Biaya Sistem (Rupiah) 1 0.12 5,383,217.58 42,514,394.49 126,274,389.25 168,788,783.74 2 0.17 7,881,901.26 40,015,710.82 116,701,454.52 156,717,165.34 4 0.29 13,178,502.72 34,719,109.36 115,498,055.98 150,217,165.34 1 0.20 9,318,351.11 38,582,328.58 128,483,562.36 167,065,890.94 2 0.14 6,638,802.56 41,261,877.13 113,732,395.41 154,994,272.54 4 0.26 11,935,441.87 35,965,237.82 112,529,034.72 148,494,272.54 1 0.26 11,626,957.14 36,275,572.46 129,461,014.05 165,736,586.52 2 0.13 6,032,195.45 41,870,334.15 111,794,633.97 153,664,968.12 4 0.25 11,328,857.58 36,573,672.02 110,591,296.09 147,164,968.12 1 0.12 5,661,221.38 42,252,095.45 114,357,285.47 156,609,380.92 2 0.36 16,254,811.69 31,658,505.14 112,879,257.38 144,537,762.52 4 0.48 21,551,606.85 26,361,709.98 111,676,052.54 138,037,762.52 279.10 276.9 273.15 291.15 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% - 1 2 3 4 5 P er se n tas e P en gh em at an

Interval Replenishment Dasar (dalam Minggu)

Penghematan Sistem Setelah Penerapan CRESC Skena rio 1 Skena rio 2 Skena rio 3 Skena rio 4 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00% 40.00% 45.00% 50.00% - 1 2 3 4 5 P er se n tas e P en gh em at an

Interval Replenishment Dasar (dalam Minggu)

Penghematan Buyer Setelah Penerapan CRESC

Skena rio 1 Skena rio 2 Skena rio 3 Skena rio 4

(6)

Gambar 11. Grafik Persentase Penghematan Total Biaya Vendor Sistem Setelah Menerapkan CRESC

Dari hasil perhitungan, diketahui bahwa persentase penghematan sistem yang paling tinggi dapat diperoleh pada skenario keempat dengan interval replenishment dasar setiap 4 minggu. Kemudian, jika buyer bersedia mengikuti kebijakan CRESC, buyer akan memperoleh diskon yang menjamin penghematan sebesar 44.76% pada biaya yang dikeluarkan buyer tersebut. Kemudian, dengan adanya koordinasi berupa konsolidasi pengiriman melalu CRESC, vendor akan memperoleh penghematan sebesar 15.89% pada biaya yang dikeluarkan vendor, dan akan terdapat penghematan sebesar 23.52% pada biaya keseluruhan sistem. 4. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Penelitian ini telah mengembangkan model CRE yang diusulkan oleh Viswanathan dan Piplani (2000) serta model CRESC yang diusulkan oleh Nurwidiana dan Rusdiansyah (2008) untuk produk-produk agro-perishable dengan mempertimbangkan pengaruh suhu terhadap biaya energi dan terhadap biaya penurunan kualitas.

2. Menggunakan model yang telah dikembangkan, dapat dicari biaya sistem yang optimal dengan menentukan beberapa hal, yaitu suhu pada kendaraan berpendingin dan pada warehouse buyer, interval replenishment dasar, nilai saving minimal yang dijanjikan kepada buyer, jenis kendaraan yang dibutuhkan untuk melakukan konsolidasi pengiriman, dan pesanan buyer yag akan dikonsolidasikan.

3. Melalui implementasi model pada percobaan numerik, diperoleh hasil bahwa temperatur cold storage kendaraan, siklus replenishment dan nilai saving minimal yang membuat total biaya sistem bernilai optimal adalah pada temperatur 286.15 K, 𝑇0= 4 minggu, dan dengan 𝑆∗ sebesar

23.52%.

4. Melalui perubahan nilai biaya energi per kilokalori pada parameter biaya penggunaan energi, diketahui bahwa semakin besar biaya

energi per kilokalori, maka biaya total sistem pun semakin tinggi yang disebabkan oleh peningkatan biaya penggunaan energi pada sisi vendor. Kemudian, melalui perubahan persentase kualitas awal produk pada parameter biaya deteriorasi, diketahui bahwa semakin besar persentase kualitas awal produk, maka biaya sistem akan semakin menurun yang disebabkan oleh penurunan biaya deteriorasi yang harus ditanggung buyer.

Daftar Pustaka

Chang, W.J. dan Tsai, C.H. (2002). A two echelon inventory model for single vendor multi buyer system through common replenishment epochs, International Journal of Computer, The Internet and Management 10 : 48-61

Hsu, dkk. (2004). Vehicle routing problem with time-windows for perishable food delivery, Journal Food Engineering, Vo. 80, hal.465-475

Labuza, T.P. (1984). Application of chemical-kinetics to deterioration of foods, Journal of Chemical Education, Vol. 61, No. 4, hal.348-358

Labuza, T.P. (1982). Shelf-life dating of foods, Westport, C.T., USA, Food & Nutrition Press.

Nurwidiana, Rusdiansyah, A. (2008). Modeling and solving common replenishment epochs considering shipment consolidation, International Journal of Logistics and Transport, Vol. 3, No.2, hal.115-133 Pujawan, I Nyoman. (2010). Supply Chain

Management. Penerbit Guna Widya, Surabaya.

Roundy, R. (1985). 98% effective integer ratio lot sizing for one-warehouse multi-retailer system, Mangement Science 31:11

USDA. (2008). Protecting perishable foods during transport by truck, Agriculture, U.S.D.O (Ed.) Transportation and Marketing Programs Ed. United States.

Viswanathan, S., Piplani, R. (2000), Coordinating supply chain inventories through common replenishment epochs, European Journal of Operational Research, Vol. 129, No.2, hal.227-286

Wang, X., Li, D. (2012). A dynamic product quality evaluation based pricing model for perishable food supply chains, Omega, Vol.40, No.6, hal.906-917

Zanoni, S., Zavanella, L. (2012). Chilled or frozen? Decision strategies for sustainable food supply chains, International Journal of Production Economics, Vol. 140, No.2, hal.731-736 0.00% 2.00% 4.00% 6.00% 8.00% 10.00% 12.00% 14.00% 16.00% 18.00% 20.00% - 1 2 3 4 5 P er se n tas e P en gh em at an

Interval Replenishment Dasar (dalam Minggu)

Penghematan Vendor Setelah Penerapan CRESC

Skena rio 1 Skena rio 2 Skena rio 3 Skena rio 4

(7)

Gambar

Gambar  1  Tahap  Pengembangan  Model  dan  Algoritma
Tabel 1. Lokasi dari Vendor dan Buyer
Gambar  11.  Grafik  Persentase  Penghematan  Total  Biaya Vendor Sistem Setelah Menerapkan CRESC

Referensi

Dokumen terkait

Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang nmemberikan kejelasan terhadap bahan hukum primer, antara lain ;.. a) Buku-buku literature yang membahas tentang perlindungan

Siemens Indonesia” adalah untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Industri dari Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas

Ruangan yang tidak direkomendasikan karena belum menjadi kebutuhan bagi mahasiswa untuk dibangun dalam student center tergolong ruang organisasi mahasiswa, administrasi,

Berdasarkan hasil yang terdapat pada tabel 8 diketahui bahwa dengan pendekatan pengungkapan nilai (values clarification approach), sikap.. siswa terhadap lingkungan dengan

Sikap orang tua, keluarga, teman sebaya, teman sekolah, dan masyarakat pada umumnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan.. konsep diri anak tunadaksa. Dengan demikian

Sebagai akibatnya NU terus dilanda konflik faksi selama beberapa tahun berikutnya. Faksi Idham merasa tidak puas dan kelompok ini menarik kelompok- kelompok lain yang

Konsep penciptaan lukisan dalam Tugas Akhir Karya Seni yaitu untuk memvisualisaikan kehidupan scooterist yang diwujudkan dalam lukisan berupa Vespa yang dideformasi dan