• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perilaku diskriminasi antar sesama seringkali menghasilkan pembatasan hak-hak asasi yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan. Terutama perilaku diskriminasi akan suatu ras dan etnis yang ada di masyarakat. Secara langsung maupun tidak langsung, efek perlakuan diskriminasi yang timbul mempengaruhi kondisi suatu individu. Pengaruh-pengaruh yang didapat oleh korban diskriminasi bisa muncul melalui berbagai aspek. Mulai dari segi ekonomi, hubungan antar individu, tempat tinggal, pendidikan, dan hak-hak individu lainnya, perlakuan diskriminasi ras dan etnis, memberikan dampak buruk kepada pihak yang bersangkutan (Solidaritas Nusa dan Bangsa, 1999, p.19).

Beberapa fenomena diskriminasi dapat kita lihat pada negara besar seperti Amerika Serikat. Suatu fenomena yang tertangkap pemberitaan adalah adanya pembatasan akses sekolah untuk anak beretnis Afrika-Amerika. Tidak sedikit siswa-siswi yang beretnis Afrika-Amerika dikeluarkan dari sekolah umum karena melanggar peraturan sepele. Hal ini terjadi pada seluruh sekolah umum yang telah mengumpulkan data persen siswa kepada Kantor Departemen Pendidikan dan Hak Sipil. Berbeda dengan presentase siswa-siswi kulit putih yang dapat dikatakan

“lebih ditoleransi” di saat melanggar peraturan. Hal ini secara langsung dapat menurunkan prestasi akademik maupun non-akademik siswa-siswi yang beretnis Afrika-Amerika. Menurut data hak sipil AS yang disusun oleh Departemen Pendidikan, terdapat 5 persen siswa kulit putih yang dikeluarkan dari sekolah.

Sedangkan untuk siswa beretnis Afrika-Amerika sebanyak 16 persen setiap tahunnya. Pada bulan Maret 2015 lalu, salah satu sekolah umum di Washington, siswa-siswi kelompok etnis Afrika-Amerika mengalami penurunan prestasi (akademik dan non akademik). Salah satu faktor timbulnya diskriminasi di lingkungan pendidikan ini adalah kurangnya akses akan guru yang profesional (Subekti, March 24, 2014).

(2)

Selain itu, di AS terdapat berbagai pihak yang secara sengaja maupun tidak sengaja, memandang rendah warga beretnis Afrika-Amerika. Melalui survei yang dilakukan oleh National Public Radio (NPR) Amerika Oktober 2017. Terlihat bahwa peristiwa diskriminasi terhadap kaum Afrika-Amerika masih banyak terjadi khususnya pada lingkungan institusional. Kaum kulit hitam Amerika mengalami diskriminasi yang berdasar pada stereotip lama yaitu sebagai tindak kriminal.

Beberapa diantaranya ditangkap polisi saat hendak mendaftar pekerjaan. Mereka juga mendapatkan upah yang tidak setimpal dengan kaum lainnya (Demby, October 25, 2017).

Contoh lainnya terdapat penyetopan mobil warga etnis Afrika-Amerika yang didramatisir. Polisi-polisi menghadang banyak mobil milik warga Afrika- Amerika di saat melintasi jalan raya tanpa alasan yang jelas. Lalu pengemudi diperintahkan untuk keluar dan dicurigai seperti pelaku kriminal. Dilansir oleh National Geographic, Vereen warga Conneticut, AS beretnis Afrika-Amerika diminta untuk menepikan kendaraannya oleh polisi tanpa alasan yang jelas. Ia juga diperintahkan untuk membungkuk di atas kap bagasi sambil digeledah saku-saku pakaiannya. Menurut data yang tercatat, jumlah pengendara beretnis Afrika- Amerika lebih banyak diminta untuk meminggirkan kendaraannya ketimbang pengendara kulit putih. Tiap tahunnya, sekitar 20 juta penyetopan dan penggeledahan yang dilakukan polisi Amerika Serikat dilakukan pada pengendara beretnis Afrika-Amerika (Hutomo, February 20, 2019). Tak lupa dengan insiden penembakan warga beretnis Afrika-Amerika oleh polisi berkulit putih yang memenuhi kliping tanggalan FBI Amerika pada tahun 2017, yang menuai banyak protes dari warga Amerika Serikat. Salah satu tragedi penembakan di Texas yang menimbulkan kontroversi adalah insiden Jordan Edwards yang menjadi korban letusan pistol polisi berkulit putih Roy Oliver. Insiden tersebut dinyatakan sebagai tindakan diskriminasi oleh pihak hukum. Hal yang sama juga terjadi pada Michael Brown yang ditembak selama 12 kali hingga meninggal di trotoar karena mencoba memberontak dan melawan polisi (BBC, August 30, 2018).

Fenomena diskriminasi etnis Afrika-Amerika lainnya dapat dilihat melalui brand terkenal di dunia fashion, Versace. Pada pengaturan sistem keamanan toko Versace di San Fransisco Bay Area, diduga menggagaskan ide dan upaya tindakan

(3)

diskriminasi, karena menciptakan kode-kode untuk warga yang beretnis Afrika- Amerika saat memasuki butiknya. Kejadian ini diungkap pada bulan Desember 2016 yang lalu. Dengan kode ‘D410’ para pegawai diharapkan dalam perhatian yang penuh pada kondisi butik. Dilansir oleh wolipop.detik.com, Versace harus berurusan hukum terkait gugatan tindak diskriminasi melalui kode ‘D410’ ini.

Diduga terdapat pengaturan dimana manajer dan pegawai harus mengatakan kode

‘D410’ secara biasa saja, namun harus segera mengeluarkan warga beretnis Afrika- Amerika dari butik. Donatella Versace juga menerima tuduhan diskriminasi terhadap pegawainya yang beretnis Afrika-Amerika. Ia memecat pegawainya dengan alasan karena pegawai tersebut memiliki kulit hitam dan karena itu, ia dianggap tidak hidup dalam kemewahan (Ngantung, Dec 28, 2016).

Tidak hanya di Amerika Serikat, perlakuan diskriminasi etnis antar sesama juga masih dilanggengkan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah terdapat diskriminasi terhadap seorang warga yang tidak bisa lulus wawancara PNS, hanya karena ia beretnis Tionghoa (Magdalene, 2018). Selain itu, terjadi pembatasan tempat tinggal di kota Yogyakarta dimana terdapat larangan terhadap warga keturunan untuk memiliki tanah. Fenomena ini didasari Surat Instruksi kepala daerah D.I. Yogyakarta 1975 , yang berisi larangan untuk warga non-pribumi memiliki tanah (Baskoro & Sunaryo, 2011), dan sebagainya.

Salah satu faktor perlakuan diskriminasi yang terjadi adalah adanya pelanggengan budaya lama dan kurang adanya upaya keterbukaan diri/kelompok terhadap kebenaran-kebenaran yang baru. Perilaku diskriminasi warga beretnis Afrika-Amerika di AS, didasari pada akar sejarah perbudakan orang-orang Afrika- Amerika. Warga kulit hitam dari Afrika dibawa secara paksa dan diperdagangkan sebagai budak di Amerika mulai tahun 1619 di Virginia (Sowell, 1989). Namun, praktik perbudakan akan warga beretnis Afrika-Amerika yang terjadi di AS seketika menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan hak-hak para individu itu sendiri. Khususnya berbagai peristiwa seperti pencambukan, pemaksaan, pemberian hukuman berat yang dilakukan pada jaman itu. Perbudakan ras kulit hitam di Amerika terjadi mulai tahun 1619 di Virginia. Orang-orang Afrika dibawa oleh penjajah Inggris dengan kapal Belanda dan mulai diperlakukan serta didagangkan sebagai budak. Para warga beretnis Afrika-Amerika juga mulai

(4)

mengalami perlakuan tak ber-peri kemanusiaan, karena tersebarnya brosur dari US Department of The Interior National Park Service. Brosur tersebut menyatakan bahwa tenaga kerja murah dapat didapatkan dari perdagangan budak orang Afrika- Amerika. Didukung dengan pernyataan para pemuka agama dan ilmuwan-ilmuan bahwa perbudakan orang Afrika-Amerika adalah kehendak Tuhan dan hasil penemuan ilmuan menyatakan bahwa warga etnis Afrika-Amerika adalah manusia yang dianggap gagal dalam berevolusi. Hal tersebut membuat warga negara Amerika Serikat memandang warga beretnis Afrika-Amerika sesuai dengan kepercayaan oknum-oknum tersebut (Lincoln, 1967).

Berdasarkan beberapa fenomena diskriminasi di atas, muncul berbagai respon dan kritik melalui media massa, khususnya video musik. Beberapa penyanyi papan atas mulai membuka suara untuk fenomena-fenomena diskriminasi yang terjadi di AS melalui berbagai video musik yang dibuatnya. Pada era modern seperti saat ini, video musik dapat memberi pengaruh besar pada masyarakat. Sebagai suatu produk media massa, video musik juga dapat menjadi suatu kontrol sosial yang ekstensif dan efektif (Rivers, Jensen, & Peterson, 2004). Video musik yang diluncurkan dapat menjadi sarana kritik sosial dan bisa mencangkup masyarakat secara lebih luas. Penyanyi Childish Gambino pada video musik This is America.

Karyanya yang berjudul This is America merupakan kritik terhadap diskriminasi yang dilakukan pada warga beretnis Afrika-Amerika dan kekerasan senjata yang terjadi di Amerika yang berujung viral karena trending di social media. Dilansir oleh time.com, Childish Gambino merilis video musik single-take nya pada acara Saturday Night Live yang berakhir trending dan menuai banyak pujian. Lirik lagu dan video klip berdurasi 4 menit ini, penuh dengan metafora tentang etnis Afrika- Amerika dan kekerasan senjata di Amerika Serikat (Gajanan, May 7, 2018). “This is America” ditujukan untuk membuat para warga dunia, khususnya Amerika untuk menaruh perhatian lebih dan berupaya mendorong warga untuk bersama-sama merespon kesenjangan ini (Henry, 2019).

Selain Childish Gambino terdapat penyanyi Logic, dengan video musiknya yang berjudul “1-800-273-8255” (nomor layanan pencegahan bunuh diri). Video musik tersebut dinilai sebagai suatu bentuk kritik terhadap diskriminasi yang terjadi pada kaum minoritas; salah satunya warga kulit hitam di lingkungan sosial

(5)

(Armstrong, November 16, 2017). Pada video musik Logic “1-800-273-8255”

diperlihatkan bagaimana seorang siswa beretnis Afrika-Amerika kesulitan menjalani kehidupan sosial pada kesehariannya. Siswa itu digambarkan tidak memiliki teman, tidak mendapatkan didikan yang baik oleh keluarganya, tidak diterima di grup baseball karena ia beretnis Afrika-Amerika. Ia juga diperlihatkan selalu dikucilkan dan diperkusi oleh warga sekolah (Logic, August 17, 2017). Pada video musik tersebut diperlihatkan bagaimana efek dari perilaku diskriminasi yang bisa berakibat fatal. Dimana diskriminasi dapat membuat suatu individu ingin bunuh diri karena tertekan. Lagu “1-800-273-8255” dinilai bisa menjadi penyadaran warga AS untuk memulai perbaikan sosial (Becker, January 25, 2015).

Salah satu contoh lainnya adalah penyanyi hip hop Kendrick Lamar membuat lagu kritik akan diskriminasi berjudul Alright. Di dalam lirik dan video musik tersebut merupakan suatu upaya kritik terhadap insiden kriminalisasi warga beretnis Afrika-Amerika; seperti penembakan dan penggeledahan paksa yang terjadi di Amerika Serikat. Lirik dan nada dari lagu tersebut dapat menggugah semangat optimis warga beretnis Afrika-Amerika di Amerika. Namun terdapat beberapa pesan yang merupakan suatu bentuk protes dari Kendrick sendiri. Dilansir oleh genius.com, lirik yang optimis di dalam lagu “Alright” seperti “Nigga, We gon’be alright” yang berarti, “Kita akan baik-baik saja” dinyatakan setelah penjelasan dari beberapa cuplikan peristiwa diskriminasi yang dialami warga beretnis Afrika-Amerika di Amerika. Lirik “We gon’ be alright” juga mulai digunakan sebagai semboyan disaat kampanye untuk menegakkan hak warga beretnis Afrika-Amerika, pada musim panas tahun 2015 hingga sekarang yang berjudul “Black Lives Matter” campaign (Wakefield, 2019).

Kritik terhadap fenomena diskriminasi pada etnis Afrika-Amerika yang juga menarik perhatian peneliti untuk diamati lebih jauh adalah video musik oleh Beyonce dan JAY-Z yang berjudul “Apeshit” (dirilis 16 Juni 2018). Pada video klip ini, grup duo musisi sekaligus pasangan suami istri; “The Carters” ingin menyampaikan kritiknya terhadap diskriminasi warga beretnis Afrika-Amerika melalui suguhan visual pada Museum Louvre. Dimulai dari sajian lukisan Mona Lisa yang disertai personel The Carters berdiri di depannya, dilanjutkan oleh beberapa sajian lukisan lainnya seperti Great Spinx of Tanis, The Oath of Horatii,

(6)

The Winged Victory of Samothrace, dan sebagainya. Video musik Apeshit dapat dikatakan sebagai suatu bentuk “tur” di dalam Museum Louvre. Berbagai lukisan dipilih untuk divisualisasikan dalam video, disertai dengan bermacam-macam tarian, gerakan, penampilan yang dibentuk oleh The Carters. Macam-macam rangkaian barisan, tarian, hingga busana disertakan dalam video Apeshit oleh The Carters dapat dilihat sebagai suatu pembanding akan etnis Afrika-Amerika terhadap berbagai lukisan yang menyertakan orang berkulit putih didalamnya. Dilansir oleh rollingstone.com, kedua pasangan ini sedang merebut panggung seni barat yang biasanya membatasi ruang untuk karya dan seniman kulit non-putih (Leight, June 17, 2018).

Di dalam video musik Apeshit, The Carters menunjukkan suatu tindakan untuk mengkritik diskriminasi etnis Afrika-Amerika melalui berbagai simbol- simbol yang mereka ciptakan. Pada video musik Apeshit yang berdurasi selama 6 menit ini, sajian visual diawali dengan memperlihatkan detail-detail lukisan yang ada di museum tersebut. Dapat dilihat melalui level representasi John Fiske (2004) salah satu cuplikan pada awal video, dimana terdapat beberapa frame yang diambil dengan extreme close up pada dahi, pipi, tangan, dan lengan lukisan orang berkulit putih. Hal tersebut kemudian menjadi pengantar untuk berbagai sajian visual yang difokuskan pada lukisan-lukisan lain yang terdapat sosok orang berkulit putih di dalamnya. Terdapat berbagai lukisan tokoh orang kulit putih yang kemudian disandingkan dengan penari latar dan pemeran figuran berkulit hitam, hingga The Carters sendiri. Berbagai karya lukisan seperti Mona Lisa, The Coronation of The Emperor Napoleon I and The Crowning of The Empress Josephine in Notre-dame Cathedral, hingga patung Venus de Milo disajikan seperti ‘pembanding’ dengan The Carters, penari latar, dan pemeran figuran.

Gambar 1.1. Beyonce dan JAY-Z berdiri di depan lukisan Mona Lisa.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=kbMqWXnpXcA

(7)

Dengan adanya sajian visual frame-to-frame yang membedakan satu dengan yang lainnya, terlihat suatu upaya dari The Carters untuk menggambarkan nilai dan image dari etnis Afrika-Amerika itu sendiri. Dilansir oleh majalah Rolling Stone, diawali dengan shot dalam galeri yang penuh akan lukisan Perancis neo-klasik seniman dan subjek kulit putih. Kemudian seketika ditonjolkan wajah orang-orang berkulit hitam (Leight, June 17, 2018). Sajian visual lainnya juga dapat dinilai sebagai salah satu upaya untuk menyajikan image etnis Afrika-Amerika adalah terdapatnya barisan perempuan Afrika-Amerika termasuk Beyonce sendiri dengan melakukan tarian bergandengan tangan. Visualisasi tersebut dilakukan dengan adanya perbandingan dengan lukisan The Coronation of The Emperor Napoleon I and The Crowning of The Empress Josephine in Notre-dame Cathedral.

Diperlihatkan gerakan-gerakan tarian yang dapat digambarkan sebagai suatu unsur nilai yang ingin disampaikan. Beyonce yang diposisikan di tengah barisan sedang berpegangan tangan dengan para penari latar di samping kiri dan kanannya. Juga terdapat perbedaan pada pakaian-pakaian yang dikenakan oleh penari latar dan Beyonce sendiri. Di kala para penari latar menggunakan skin tone-themed outfit, dibanding Beyonce yang menggunakan pakaian bermotif beserta perhiasan sebagai pelengkap yang juga dapat mengantar peneliti pada suatu nilai pesan yang ingin disampaikan mengenai Afrika-Amerika.

Gambar 1.2. Beyonce dan perempuan-perempuan etnis Afrika-Amerika berbaris dan bergandengan tangan

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=kbMqWXnpXcA

Melalui hal tersebut, terdapat gambaran bahwa Beyonce dan JAY-Z ingin mengkritik diskriminasi akan keberadaan warga beretnis Afrika-Amerika, khususnya yang terjadi pada era modern ini. Namun tak luput dari itu, terdapat juga

(8)

penanaman konsep akan bagaimana etnis Afrika-Amerika itu sendiri. Selama ini terdapat keterbatasan akses dan pandangan rendah di masyarakat AS terhadap warga beretnis Afrika-Amerika. Perspektif lama tersebut kemudian dibalik dalam video musik Apeshit ini. The Carters seolah-olah ingin memperlihatkan kekuatan yang dimiliki oleh warga beretnis Afrika-Amerika serupa dengan cerita dibalik lukisan The Coronation of The Emperor Napoleon I and The Crowning of The Empress Josephine in Notre-dame Cathedral. Fokus etnis Afrika-Amerika digambarkan pada perspektif yang dimiliki Beyonce dan JAY-Z sendiri.

Apeshit dinilai mengandung konsep Afro-centric yang merupakan suatu bentuk upaya memperlihatkan keunggulan etnis Afrika-Amerika. The Carters sendiri juga menyatakan keberhasilannya sebagai suatu kaum Afrika-Amerika melalui salah satu lirik lagu Apeshit yaitu ‘I can’t believe we made it’. Dimana menyatakan “Sulit dipercaya kita sampai dan berhasil di tempat ini”. Disertai dengan sajian visual orang-orang etnis Afrika-Amerika sedang membentuk barisan yang juga dapat menjadi pendukung terbentuknya pesan-pesan yang sebenarnya ingin disampaikan The Carters (Whiteboard Journal, June 22, 2018).

Melalui hal tersebut, The Carters menuai banyak pujian dari berbagai pihak.

Beberapa diantaranya mengakui keberadaan etnis Afrika-Amerika sebagai suatu karya seni (Aurelia, June 22, 2018). Berbagai seniman juga memuji gerakan Afro- centric yang diciptakan The Carters sebagai suatu bentuk kritik akan ruang seni yang awalnya dibatasi untuk orang kulit putih saja. Dilansir oleh newyorker.com, tidak diragukan lagi The Carters membawa masyarakat pada pandangan akan kaum etnis Afrika-Amerika yang baru. Yaitu pandangan orang Afrika-Amerika sebagai kaum berkelas dan berada, bukan sekadar kaum minoritas bahkan budak (Felix, June 19, 2018).

Menurut peneliti, video musik yang berupa kritik terhadap suatu fenomena diskriminasi seperti Apeshit penting untuk diteliti, apalagi bila sudah dapat meraup perhatian masyarakat luas. Video musik sudah menjadi suatu bentuk komunikasi massa, karena dapat menjangkau masyarakat luas dalam waktu yang cepat (Cheeber, 2009). Sedangkan melalui berbagai fenomena diskriminasi, akan timbul konflik terhadap sesama dan bahkan menghilangkan hak-hak asasi yang dimiliki

(9)

setiap individu. Namun tiap manusia tentu memiliki suatu hak yang melekat pada dirinya. Hak yang dimaksud adalah hak asasi manusia terkhusus hak untuk hidup, hak untuk lepas dari perbudakan dan penyiksaan, hak untuk memiliki kebebasan berekspresi dan berpendapat, serta hak untuk tidak mendapatkan diskriminasi dalam bentuk apapun (Undang-Undang Dasar, 1945). Dengan adanya video musik, kesadaran masyarakat terhadap berbagai permasalahan sosial termasuk pelanggaran hak asasi manusia pun menjadi lebih luas. Kehadiran video musik sendiri telah menjadi suatu media yang diakui sebagai ‘pendidikan diluar sekolah’ yang dapat mencetak mental baik melalui irama dan ciptaan visualnya. Karena secara sederhana, video musik sebagai media massa dapat berpengaruh lebih luas pada masyarakat, khususnya pada era modern ini. Apabila suatu video musik mencapai titik trending, semakin besar pula pengaruh yang tersebar (Fiske, 2004).

Pembentukan stereotip akan segala keunggulan kulit putih membuat masyarakat semakin terbelenggu dengan standar dan konstruksi ras, gender, hingga kehidupan sosial secara menyeluruh. Di Indonesia pun, warna kulit putih dilambangkan sebagai suatu norma penting dalam kecantikan. Nyatanya, stereotip ini diwariskan melalui era kolonialisme Barat ke Indonesia. Sehingga secara tidak sadar, stereotip tersebut melekat pula pada masyarakat Indonesia, bahkan sampai mempengaruhi warga-warga pada letak geografis yang berbeda (Saraswati, 2017).

Respon warga Indonesia terhadap turis berkulit putih dengan turis kulit hitam pun berbeda. Meskipun pada dasarnya, warga Indonesia tidak mengetahui betul bagaimana sifat, perilaku, dan kebiasaan kedua turis tersebut pada kesehariannya secara langsung. Sajian visual dan informasi yang tertanam melalui produk media akan suatu etnis, dapat mempengaruhi cara pandang dari warga Indonesia terhadap etnis itu sendiri. Dilansir oleh vice.com, seorang lelaki beretnis Afrika-Amerika bernama Ryan Haughton tinggal di Indonesia untuk bekerja. Ia mengalami beberapa diskriminasi dari warga Indonesia sendiri. Mulai dari diajak foto dan ditertawakan sampai diludahi di jalan, ia pernah merasakannya. Ryan merasa tak semua kulit hitam di negara Indonesia diperlakukan sama (Haughton, March 5, 2019).

Hal ini membuat peneliti merasa penelitian akan etnis Afrika-Amerika;

dalam hal ini kaum kulit minoritas penting untuk diteliti. Peninggalan jajahan masih

(10)

tersisa, terutama pada produk-produk media yang semakin bisa membelenggu khalayak akan suatu stereotip. Kulit putih sebagai kelompok dominan dapat mempengaruhi cara pikir kaum minoritas untuk melakukan hal-hal yang dianggap

‘benar’. Seperti halnya, segala yang dilakukan oleh manusia disertai oleh faktor pembentuk dan kebanyakan masyarakat adalah hasil dari bentukan itu (Martin, 2001).

Berbagai pengaruh dapat dilihat melalui produk media massa. Entah pengaruh tersebut berkonotasi positif maupun negatif, suatu karya pada media massa selalu memiliki suatu ideologi yang mempengaruhi dibaliknya (Irawanto, 2017). Salah satu contoh penggambaran etnis Afrika-Amerika yang peneliti ambil sebagai penelitian terdahulu adalah milik Lentera Paramuswari. Pada penelitiannya yang menganalisa representasi etnis African American pada film Ghostbusters (2016) dari Universitas Kristen Petra, ditemukan bahwa etnis Afrika-Amerika digambarkan memiliki keadaan sosial yang lebih rendah jika dibandingkan dengan orang kulit putih di AS. Hal ini dapat dilihat melalui penggambaran status ekonomi dan kecerdasan orang kulit hitam yang lebih rendah dari orang kulit putih. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa etnis Afrika-Amerika masih diperlihatkan seperti stereotip yang dibangun pada masyarakat. Orang etnis Afrika-Amerika secara keseluruhan dinilai memiliki sikap yang kasar, pecundang, dan ceroboh (Paramuswari, 2017, p.95). Perbedaannya dengan penelitian ini adalah bahwa penelitian ini berfokus pada etnis Afrika-Amerika yang digambarkan sebagai sosok yang besar dan kuat di dunia musik, terkhususnya video musik.

Terdapat suatu penelitian terhadap etnis Afrika-Amerika pada masa perbudakan yaitu representasi Afro-Amerika pada film Django Unchained oleh Gabriel Evelin Fabrina dari Universitas Kristen Petra. Pada penelitian Django Unchained ditemukan adanya perlawanan terhadap stereotip akan etnis Afrika- Amerika yang ada di masyarakat dan film-film Hollywood lainnya. Pada film ini ditemukan bahwa etnis Afrika-Amerika memiliki sifat yang cenderung dapat mengambil keputusan, memiliki kecerdasan lebih dibandingkan orang kulit putih.

Etnis Afrika-Amerika juga digambarkan sebagai sosok pahlawan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu Django Unchained adalah pada penggunaan metode penelitian. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode

(11)

semiotika John Fiske. Sedangkan pada penelitian Django Unchained, penelitinya menggunakan metode analisis naratif karya Christopher Vogler, Hero’s Journey.

Selain itu, hasil penelitian Django Unchained menemukan fokus penggambaran pada masa perbudakan. Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti hendak berfokus pada penggambaran yang dilakukan pada seni neo-klasik yang ada (Fabrina, 2013, p.95).

Salah satu penelitian terdahulu lainnya yang dapat menunjang proses analisis peneliti adalah representasi whiteness pada film 12 Years a Slave oleh Arfianto Adi Nugroho dari Universitas Diponegoro Semarang. Pada penelitian ini ditemukan bahwa ras kulit putih dipandang lebih unggul dan dominan daripada etnis Afrika-Amerika. Hal ini dapat dilihat pada stereotip materialis dan kejam yang dimiliki oleh kaum kulit putih di film ini. Diperlihatkan pula peran kulit putih yang heroik, dimana menjadi sosok atau pihak yang dapat menyelamatkan etnis Afrika- Amerika. Pada film 12 Years a Slave juga ditemukan bahwa penggambaran sejarah perbudakan semakin menunjukkan superioritas ras kulit putih. Film ini lebih mengarah pada gagasan rasisme bahwa kulit putih memang terpandang lebih unggul dan berkuasa (Nugroho, 2015, p.8). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Arfianto adalah penelitian ini berfokus pada bagaimana representasi Afrika-Amerika yang digambarkan pada masa sekarang, meskipun juga dilandasi latar belakang perbudakan bukan pada whiteness dan wujud-wujud rasisme yang ada pada sejarah perbudakan itu sendiri.

Penelitian terhadap ras kulit hitam lainnya dilakukan oleh Rizkita Puspa Andari (2019) yang berjudul representasi kulit hitam dalam film Dear White People dari Universitas Widya Mandala Surabaya. Melalui hasil penelitian dari Rizkita, diperlihatkan bahwa peran kaum kulit hitam di masyarakat masih dipandang sebelah mata. Dear White People memperlihatkan betul bahwa untuk mendobrak stereotip yang telah ditanamkan sejak lama sangatlah sulit. Rizkita menemukan bahwa meskipun berada pada lingkungan yang sama dengan kaum kulit putih, bukan berarti kulit hitam bisa terbebas dari stereotip tersebut (Andari, 2019, p.87).

Perbedaan penelitian ini dengan miliki Rizkita adalah teks Dear White People mengangkat penggambaran kulit hitam terkhususnya pada golongan kulit hitam

(12)

homoseksual di AS. Pembahasan yang diangkat dalam Apeshit berfokus penuh pada kulit hitam Afrika Amerika secara keseluruhan.

Grup duo The Carters yang terdiri dari dua penyanyi musisi besar di dunia Beyonce dan JAY-Z. Dimana Beyonce yang sudah termasuk dalam Forbes list 10 wanita kulit hitam yang paling berpengaruh di dunia. Sedangkan suaminya, Shawn Carters atau yang biasa dikenal JAY-Z, adalah seorang musisi yang sering berkontribusi pada kampanye guna menegakkan hak-hak etnis Afrika-Amerika.

Pada kesehariannya, kedua pasangan ini juga sering mendonasikan pendapatannya sebagai musisi kepada organisasi yang menaungi warga Afrika-Amerika. The Carters beberapa kali juga mengadakan program sekolah untuk anak-anak beretnis Afrika-Amerika (Nsehe, June 2, 2014).

Pada album perdana duo musisi sekaligus pasangan suami istri; The Carters, yang berjudul “Everything is Love” ini menarik perhatian netizen hingga pemerhati seni diseluruh dunia. Berawal dari rangkaian konsep trilogi yang menganut kisah perjalanan Beyonce dan JAY-Z sebagai pasangan suami istri. Beyonce mengeluarkan album Lemonade (2016) sebagai karya utama yang menyatakan bahwa kondisi mereka sebagai sepasang suami istri sedang dalam situasi yang buruk. Namun di luar hal tersebut, terdapat beberapa lagu yang mengandung unsur Black Pride seperti Formation yang pada akhirnya menimbulkan berbagai perbincangan di masyarakat. Bahkan perbincangan tersebut juga sampai pada kursi pemerintahan Amerika Serikat. Lalu di tahun selanjutnya, JAY-Z mengeluarkan album 4:44 sebagai album versi kedua yang merespon keadaan mereka sebagai pasangan suami istri dan “apology record”. Album “Everything is Love” (2018) menjadi bagian ketiga dari cuplikan permasalahan yang sedang dihadapi Beyonce dan JAY-Z. Di luar itu pula, The Carters memutuskan bahwa album “Everything is Love” bertujuan untuk menjunjung nilai-nilai Black Pride atau Afro-centris. Salah satu lagu dari album tersebut yang dikenal dan hangat diperbincangkan di masyarakat adalah Apeshit (Parham, June 19, 2018).

Video musik Apeshit juga meraih beberapa penghargaan Grammy seperti Best Urban Cotemporary Album. Dilanjut seperti Song of the Year dan Best Collaboration pada BET Hip Hop Awards 2018, Best Cinematography pada MTV

(13)

Music Awards 2018. Hingga meraih Best International Group pada Brit Awards 2019. The Carters adalah satu-satunya grup duo yang mendapat lebih dari 3 penghargaan pada tahun pertama merilis sebuah album. Berbeda dengan beberapa musisi couple terkenal lainnya seperti Rihanna dan Drake, atau Gwen Stefani dan Tony Kanal, dan sebagainya. The Carters mengangkat berbagai permasalahan yang dialami kaum etnis Afrika-Amerika pada karya-karyanya di luar bahasan kisah cinta (The Brit Awards, 2019).

Hal lain yang membuat video musik Apeshit menarik untuk diteliti adalah sosok Beyonce dan JAY-Z yang sudah tidak asing lagi di mata publik ini, bergabung menjadi satu kesatuan dalam membuat video musik yang mengkritik fenomena diskriminasi ras melalui dunia seni. Berbeda penyanyi seperti Childish Gambino, Logic, dan Kendrick Lamar yang berfokus pada insiden-insiden yang telah diberitakan di AS. Video klip Apeshit memicu peneliti untuk melihat penggambaran etnis Afrika-Amerika yang dibentuk untuk merespon perlakuan diskriminasi, melalui simbol-simbol yang diperlihatkan pada museum Louvre.

Melalui fenomena tersebut, etnis Afrika-Amerika dapat digambarkan berbeda- beda, dengan tujuan yang berbeda pula. Hal tersebut membuat peneliti ingin mengungkap penggambaran yang dibentuk. Untuk mendukung kedalaman penelitian, peneliti menggunakan metode semiotika John Fiske.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disusun di atas, dapat dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut:

“Bagaimanakah representasi Afrika-Amerika dalam video musik Apeshit dari The Carters?”

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui “Representasi Afrika- Amerika dalam video musik Apeshit dari The Carters”

(14)

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini bertujuan untuk menambah kajian pembelajaran ilmu komunikasi, terutama pada analisis teks semiotika John Fiske pada suatu media massa khususnya video musik. Dengan ini peneliti juga ingin mengungkap kondisi kedudukan ras yang digambarkan pada video musik ini. Sehingga pada akhirnya dapat memberi pengetahuan lebih mengenai ras dan etnisitas khususnya Afrika- Amerika.

1.4.2. Manfaat Praktis

 Peneliti membuka pandangan masyarakat mengenai representasi Afrika- Amerika yang ada pada video musik.

 Peneliti berupaya untuk mengevaluasi pada penggunaan stereotip pada suatu proses pembuatan karya seperti video musik

 Berupaya untuk mengajak khalayak untuk tidak langsung me-label salah suatu ras dengan hal-hal yang belum dipastikan kebenarannya.

1.5. Batasan Penelitian

Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif yang berfokus pada bagaimana representasi ras kulit hitam yang ada. Metode yang digunakan untuk peneliti adalah analisis tekstual semiotika, dengan kode-kode televisi John Fiske.

Fokus penelitian dan proses analisis ada pada subjek video musik Apeshit oleh The Carters dan objek representasi Afrika-Amerika.

1.6. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi adalah sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Pada bab ini, terisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, dan sistematika penulisan pada penelitian ini. Segala isi bab 1 adalah upaya menjelaskan secara singkat segala hal mengenai penelitian ini. Menceritakan fenomena yang sedang terjadi,

(15)

hubungannya dengan masyarakat kita, hingga tujuan utama peneliti perlu meneliti fenomena serta subjek dan objek tersebut.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini berisi teori-teori yang dibutuhkan untuk menunjang penelitian ini. Diantaranya berupa teori komunikasi massa, video musik sebagai bentuk komunikasi massa, Afrika-Amerika, Afrika-Amerika dalam musik, representasi, semiotika, dan kode-kode televisi John Fiske. Selain itu terdapat poin nisbah antar konsep dan kerangka pemikiran yang akan menjadi pedoman peneliti.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi tentang metodologi penelitian yang digunakan pada penelitian ini. Diantaranya terdapat penjelasan mengenai definisi konseptual, jenis penelitian, metode penelitian, subyek dan obyek penelitian, unit analisis, jenis sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis dan intrepetasi data.

BAB 1V. ANALISIS DATA

Bab ini berisi tentang penjelasan temuan pada video musik Apeshit sebagai teks yang diteliti oleh peneliti. Berbagai temuan akan dijelaskan secara persub-bab. Pada bab ini juga terdapat profil biografi dari The Carters sendiri.

BAB V. KESIMPULAN

Pada bab yang terakhir ini, akan dibagi menjadi dua sub bab yaitu kesimpulan dari temuan data dan interpretasi yang telah dilakukan peneliti. Peneliti juga akan memberikan saran terkait penelitian ini.

Gambar

Gambar 1.1. Beyonce dan JAY-Z berdiri di depan lukisan Mona Lisa.
Gambar 1.2. Beyonce dan perempuan-perempuan etnis Afrika-Amerika  berbaris dan bergandengan tangan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mode “ on/off ” nilai masukan dijadikan acuan untuk mengaktifkan pendinginan pada plan yang dihasilkan oleh termoelektrik.. Suhu didalam plan dideteksi menggunakan

Suatu teknik pengumpulan data dalam suatu penelitian ada banyak macamnya tergantung pada masalah yang dipilih serta metode penelitian yang digunakan.. yang telah ditegaskan

2 Sholihin, Ahmad Ifham.2010. Buku Pintar Ekonomi Syariah.. Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek. Sejalan

Dengan demikian, kepuasan memang menjadi variabel yang sangat penting untuk mengukur pemasaran pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan hasil akhir dari pelayanan yang

Oleh karena itu, pengendalian biaya perlu dilakukan agar biaya digunakan sesuai dengan yang direncanakan dan pengeluaran biaya tersebut benar-benar dilakukan untuk

Rumusan kerjasama antara prodi, dan bagian kemahasiswaan Kaprodi, Staf Administrasi, Dana Sosialisasi dan pembinaan karya mahasiswa Meningkatnya kualitas karya

Berdasarkan pengolahan hasil dan pembahasan, secara umum disimpulkan bahwa penggunaan strategi inquiring minds what to know pada mata kuliah Sejarah Indonesia Masa

Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia terutama rekan- rekan Jurusan PJKR angkatan 2014 yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada