• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelas VII Buddha BG Isi. Database Dadang JSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kelas VII Buddha BG Isi. Database Dadang JSN"

Copied!
200
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Karsan
    • Sulan
  • Pengajar:
    • Wiryanto
    • Partono Nyana Suryanadi
    • Saring Santosa
    • Puji Sulani
  • Sekolah: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  • Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
  • Topik: Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas VII
  • Tipe: buku guru
  • Tahun: 2016
  • Kota: Jakarta

I. Penjelasan Umum

Bagian ini memberikan gambaran tentang Kurikulum 2013 dan bagaimana pendidikan agama Buddha berperan dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum 2013 dirancang untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Dalam konteks agama Buddha, pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan teori tetapi juga pada pengamalan ajaran dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan (pariyatti), pelaksanaan (patipatti), dan penembusan (pativedha).

1.1. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 memiliki dua dimensi, yaitu rencana dan pengaturan tujuan serta cara pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Kurikulum ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga keterampilan dan sikap yang baik. Dalam pendidikan agama Buddha, kurikulum ini diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual yang mendalam.

1.2. Kompetensi Inti (KI)

Kompetensi Inti adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik pada setiap tingkat pendidikan. Dalam konteks pendidikan agama Buddha, KI mencakup sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa peserta didik tidak hanya menguasai teori tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

1.3. Kompetensi Dasar (KD)

Kompetensi Dasar dirumuskan untuk mencapai Kompetensi Inti dan berfokus pada pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. KD dalam pendidikan agama Buddha mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan penghayatan ajaran Buddha serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti etika pergaulan dan nilai-nilai moral.

1.4. Kaitan antara KI, KD dan Pembelajaran

Kaitan antara KI, KD, dan pembelajaran sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Desain pembelajaran yang baik harus memperhatikan hubungan antara tujuan nasional pendidikan, standar kompetensi, dan indikator pencapaian. Dengan demikian, pembelajaran dapat dilakukan secara efektif dan efisien, menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki karakter yang baik.

1.5. Struktur KI dan KD Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Struktur KI dan KD dalam pendidikan agama Buddha mencakup pengembangan karakter dan pengetahuan yang saling terkait. KI dan KD dirancang untuk membentuk sikap spiritual dan sosial serta pengetahuan yang mendalam tentang ajaran Buddha, sehingga peserta didik dapat mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

II. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari mata pelajaran lain. Fokus utama dari mata pelajaran ini adalah pembentukan karakter dan budi pekerti peserta didik melalui pengamalan ajaran Buddha. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk individu yang berakhlak mulia dan menghormati penganut agama lain.

2.1. Hakikat Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan membentuk sikap yang sesuai dengan ajaran Buddha. Mata pelajaran ini diharapkan dapat membantu peserta didik memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat berkontribusi positif kepada masyarakat.

2.2. Fungsi dan Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Fungsi utama dari pendidikan agama ini adalah sebagai perekat bangsa, membina perilaku yang sesuai dengan ajaran Buddha, dan mencegah dampak negatif dari arus globalisasi. Tujuannya adalah untuk mengembangkan keyakinan kepada Triratna dan memfasilitasi peserta didik dalam memahami serta mengamalkan nilai-nilai agama Buddha.

2.3. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Ruang lingkup pendidikan agama Buddha mencakup aspek keyakinan, moralitas, meditasi, dan kebijaksanaan. Materi pembelajaran dirancang untuk mengembangkan potensi spiritual peserta didik, serta membangun hubungan yang harmonis antara individu dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan.

III. Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas SMP Kelas VII

Pembelajaran dalam mata pelajaran ini menggunakan pendekatan saintifik yang berfokus pada pengalaman belajar yang logis. Pendekatan ini mencakup lima langkah: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran dan mendorong mereka untuk aktif mencari informasi.

3.1. Persyaratan Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif, proses pembelajaran harus memenuhi beberapa prinsip, seperti penggunaan pendekatan ilmiah, pembelajaran berbasis kompetensi, dan pembelajaran yang menyenangkan. Guru harus memfasilitasi peserta didik untuk belajar dari berbagai sumber dan menerapkan nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari.

3.2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran harus dilakukan secara interaktif dan inspiratif, memberikan ruang bagi kreativitas dan kemandirian peserta didik. Kegiatan pembelajaran harus dirancang agar peserta didik terlibat aktif, mulai dari pengamatan hingga komunikasi hasil belajar. Ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis.

IV. Penilaian Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Penilaian dalam pendidikan agama Buddha bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian dilakukan secara berkesinambungan dan menggunakan berbagai teknik, seperti penilaian formatif dan sumatif, untuk memastikan bahwa peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan.

4.1. Konsep Penilaian dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Penilaian dalam pendidikan agama Buddha harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Penilaian ini tidak hanya untuk mengukur hasil belajar, tetapi juga untuk memperbaiki proses pembelajaran. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk menggunakan acuan kriteria dalam melakukan penilaian.

4.2. Karakteristik Penilaian Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti

Penilaian dalam pembelajaran ini harus bersifat otentik, berkesinambungan, dan menggunakan bentuk serta teknik yang bervariasi. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar peserta didik, serta untuk memantau proses dan kemajuan mereka.

Referensi Dokumen

  • Fundamental of Buddhism ( Santina Peter Della )
  • Dhamma Sari ( Sumedha Widyadharma )
  • Menjadi Pelita Hati ( Thich Nhat Hanh, Ven. K. Sri Dhammananda, Ven. & Thubten Chodron Ven. )
  • Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya II ( Tim Penerjemah )
  • Pandangan Sosial Agama Buddha ( Wowor, C. )

Gambar

Tabel 4. Contoh Jurnal Perkembangan Sikap Spiritual (KI-1)
Tabel 6. Contoh Instrumen Penilaian Diri Peserta Didik
Tabel 7. Contoh Instrumen Penilaian Antarteman
Tabel 8. Contoh: Format instrumen penilaian praktik sembahyang
+7

Referensi

Dokumen terkait

• Kemampuan yang telah dianugerahkan Tuhan itu perlu dilatih dan dikembangkan, agar lebih bermanfaat. Tidak dapat langsung terampil tanpa berlatih. Guru meminta peserta didik

Buddha menekankan pentingnya pergaulan yang baik, beliau bersabda, “Aku tidak melihat ada satu faktor lain yang sangat menolong seperti bersahabat dengan orang baik (kalyanamitta

membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan

Bagian akhir (konstruksi) adalah berisi panduan, tugas, dan latihan menyusun teks secara mandiri. Guru sebagai fasilitator. Tugas dan latihan bersifat autentik dan menarik. Tugas

Pembelajaran gerak spesiik aktivitas jalan cepat sebagai alat pada pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, perlu dilakukan secara bertahap dan prosedural.

[r]

agama lain; (b) Jujur, merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya seba- gai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan

1) Jujur: Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan tindakan, dan perkerjaan, baik terhadap diri dan