• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh tipe kepribadian ekstrovert (extraversion) dan employee engagement pada pro social voice behavior

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh tipe kepribadian ekstrovert (extraversion) dan employee engagement pada pro social voice behavior"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT

(EXTRAVERSION)

DAN

EMPLOYEE ENGAGEMENT

PADA

PRO-SOCIAL VOICE BEHAVIOUR

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh: Natalia Elisa Pramudita

NIM: 1291141568

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iii

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29:11

Its not the load that breaks you down,it’s the way you carry it.

Never let people

s negative thoughts about you hinder you from

accomplishing what God put in your heart.

Dare to dream and dare to live it!

An arrow can only be shot by pulling it backward. When life is

dragging you back with difficulties, it means it

s going to launch you

inti something great. So just focus, and keep aiming.

Belajar yang smart dalam menghadapi masalahmu,

apapun situasi dan kondisinya. Dari masalah itu kita

(5)

iv

Dedicated for Jesus my Savior,

mylittle brother, my Dad

(6)
(7)

vi

PENGARUHTIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT

(EXTRAVERSION)

DAN

EMPLOYEE ENGAGEMENT

PADA

PRO-SOCIAL VOICE BEHAVIOUR

Natalia Elisa Pramudita

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh tipe kepribadian ekstrovert (extraversion)dan

employee engagementpada pro-socialvoice behaviour. Dalam penelitian ini, diajukan 2 hipotesis. Hipotesis pertama, yaitu,tipe kepribadian ekstrovert (extraversion) memilikipengaruh yang positif siginifikan dengan voice behaviour. Kedua,employee engagement memiliki pengaruh positif signifikan dengan voice behaviour. Subjek dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 136 karyawan yang berprofesi sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta di Pekanbaru, Riau. Skala yang digunakan dalam penelitian ini merupakan skala yang telah diadaptasi dari Van Dyne et.al (2003) untuk pro-social voice behaviour, Saks (2006) untuk employee engagement, danEPQR-Short form

yang diadaptasidari Eysenck, Eysenck dan Barrett (1985) untuk extraversion. Reliabilitas skala dalam penelitian ini adalah skala voice behaviour sebesar α = 0.841, reliabilitas skala engagement

adalah sebesar α = 0.870 dan skala extraversionsebesar α = 0.758. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan bantuan program IBM statistik 22.Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh hipotesis dalam penelitian ini diterima. Diketahui nilai

standardized coefficients (β) sebesar 0.612 dengan taraf siginifikansi sebesar p = 0.000 untuk pengaaruh tipe kepribadian ekstrovert (extraversion)terhadappro-social voice behaviour, serta nilai

standardized coefficients (β) 0. 468 dengan taraf signifikasi sebesar p = 0.000 untuk pengaruh antara employee engagementterhadap pro-socialvoice behaviour.

(8)

vii

THE INFLUENCEOFEXTRAVERSIONANDEMPLOYEE ENGAGEMENTTOWARD EMPLOYEE PRO-SOCIAL VOICE

BEHAVIOUR

Natalia Elisa Pramudita

ABSTRACT

This research aimed to find the influenceofextraversion andemployee engagement, towardpro-social voice behaviour. This research has two hypotheses. First,extraversion has a significant positive relationship to voice behaviour. Second,employee engagement has a significant positive relationship to voice behaviour.. The amount of subjects for this research is 136 nurses who work in a public hospital in Pekanbaru, Riau. The measurement tools that is used for this research is the scale that has been adapted from Van Dyne et al (2003) for voice behaviour, Saks (2006) for employee engagement and EPQR-Short form from Eysenck, Eysenck and Barrett (1985) for extraversion.The measurement reliability in this research is α = 0.841 for voice behaviour, α =

0.870for employee engagement and α = 0.758 for extraversion. Hypotheses trial is done using simple regression analysis with IBM statistic version 22. The analysis result shows that all hypotheses in this research are accepted.It is known that the value of standardized coefficients (β) is 0.612 with signification p = 0.000 for the influencebetween extraversionand pro-social voice behaviour, and 0.468 with signification p = 0.000 for the influence of between employee engagement and voice behaviour.

(9)
(10)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria atas segala berkat, perlindungan dan kekuatan yang selalu menyertai dan membimbing saya hingga proses penulisan skripsi dapat berjalan dengan lancar hingga terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi.

Saya menyadari bahwa kelancaran dan kesuksesan menyusun skripsi ini tidak terlepas dari peran banyak pihak yang telah membantu seta mendukung dalam menghadapi berbagai halang rintang dan kesulitan. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan rasa terimakasih saya yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Priyo Widiyanto, M.Si.,selaku Dekan Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Eddy Suhartanto, M.Si., selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma

3. Suster Th. Dewi I. Gallang, F.CJ., selaku Dosen Pembimbing Akademik saya yang selalu memberi masukan, semangat untuk menyelesaikan studi S1 saya selama di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Beliau juga senantiasa mendengarkan keluh kesah serta menerima kekurangan diri saya apa adanya, dan selalu memberikan arahan-arahan positif yang dapat mengembalikan kepercayaan diri saya dalam menyelesaikan skripsi.

(11)

x

kasih juga saya haturkan kepada bapak Minto karena telah berbesar hati mau memberikan kelonggaran waktu untuk saya dalam mengerjakan skripsi ketika saya masih dalam suasana duka cita. Beliau tidak enggan mendidik saya untuk senantiasa belajar dari setiap hal yang saya hadapi dan untuk tidak berhenti mencapai studi setinggi-tingginya.

5. Segenap Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik, memberikan banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman selama saya menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.

6. Seluruh Staff dan Karyawan Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma yang telah selalu dengan sabar dan ramah dalam melayani serta memberikan informasi selama saya berkuliah di Fakultas Psikologi.

7. Kepada Mama, Caecillia Siti Indrawati, yang saat ini telah beristirahat dengan tenang di sisi Allah Bapa Yang Maha Kuasa. Terima kasih karena dari awal mama yang selalu memotivasiku dan memberikan keyakinan padaku bahwa aku sanggup mengerjakan skripsi dengan segala tuntutan yang datang dari sekitarku. Cinta kasih mama yang kurasakan hingga saat ini lah yang menguatkanku untuk melanjutkan skripsiku kembali walau berat tiada kehadiranmu. Sesuai dengan permintaan terakhirmu, kuselesaikan skripsi ini secepat yang aku bisa. Semoga mama dapat tersenyum bahagia di Surga ya, ma.

(12)

xi

memberikan motivasi dan kesunggahan dalam diri saya untuk segara menyelesaikan skripsi ini. Maaf jika selama mengerjakan skripsi ini, saya tidak dapat meluangkan banyak waktu untuk bersama dengan kalian.

9. Kepada tante Maria Bellani dan Om Didiek Bawono yang selalu

memberikan semangat setiap harinya dalam proses mengerjakan skripsi. Terima kasih untuk segala doa, perhatian dan kekuatan yang tante berikan kepada saya sehingga saya dapat tekun mengerjakan skripsi ini dengan lancar. Kiranya kebaikan kalian dibalas dengan sesuatu yang berarti oleh Tuhan Yesus Kristus.

10. Kepada Ibu Jeany dan Ibu Donna selaku Wakil Direktur dan Kepala Diklat Rumah Sakit yang telah banyak membantu dalam proses pengambilan data dan pengumpulan data penelitian. Terimakasih juga kesempatan dan kepercayaan kepada saya dan teman-teman kelompok penelitian untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit tempat ibu bekerja.

(13)

xii

dan berdinamika bersama kembali ketika sudah sukses di jalan kita masing-masing.

12. Kepada Yosephine Anna Anggi Artanti, Dewi Utari, Joshua Tobingdan Robertus Bawono. Terimakasih untuk kesabaran, semangat, kehadiran kalian untuk saya. Kalian adalah orang-orang yang paling memahami saya, dan tahu bagaimana harus memperlakukan saya di berbagai situasi. Terimakasih telah mengajarkan segala sesuatu yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya, terimakasih karena kalian telah menjadi teman, sahabat, kakak dan orang yang selalu dapat saya andalkan dalam keadaan apapun. Kiranya Tuhan senantiasa memberikan berkat yang berlimpah disetiap langkah kehidupan kalian.

13. Kepada Anggie, Ocha, Ruth, Dagna, Digna, Gaby, Dabita, dan Wita yang senantiasa hadir di kondisi apapun dalam kehidupan saya, terlebih memberikan semangat yang tiada hentinya untuk saya menyelesaikan skripsi ini. Keberadaan kalian sungguh memberikan inspirasi bagi saya, dan juga memberikan dorongan agar tidak pantang menyerah serta menggapai segala impian saya.

(14)

xiii

15. Kepada Nona, Itha, Wilda, Monik, Dira, Bincik dan Cicik Desi yang merupakan teman-teman sekelas saya dari semester I hingga semester akhir dan menjadi sahabat yang paling saya kasihi. Terimakasih untuk kebersamaan dan kasih sayang kalian yang sangat tulus kepadaku. Maaf karena saya jarang bisa hadir di kesulitan-kesulitan yang kalian hadapi, serta belum bisa menjadi teman yang baik untuk kalian. Doaku selalu untuk kalian yang saat ini sedang berjuang untuk meraih kesuksesan. Kiranya persahabatan kita tetap terjalin walaupun waktu dan jarak memisahkan kita nanti.

16. Teman–teman Psikologi Kelas C dan seluruh teman-teman di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma angkatan 2012.Terimakasih untuk dinamika persahabatan kita selama kurang lebih 4.5 tahun. Seluruh pengalaman yang saya dapatkan bersama kalian tidak akan pernah saya lupakan. Mulai dari bagaimana kita berdinamika di kelas, juga canda tawa yang mewarnai kebersamaan kita selama di kampus. Saya mendoakan agar teman-teman selalu bahagia dan sukses di masa yang akan datang.

17. Teman, sahabat dan saudara saya lainnya, terima kasih telah memberikan dukungan dan semangat yang telah kalian berikan kepada saya selama mengerjakan skripsi hingga selesai.

18. Semua pihak yang telah membantu dan berperan dalam penulisan skripsi ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Penulis

(15)

xiv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………...i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING……….ii

HALAMAN PENGESAHAN………...iii

HALAMAN MOTTO………...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN………v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………..vi

ABSTRAK……….vii

ABSTRACT………viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH………..ix

KATA PENGANTAR………...x

DAFTAR ISI………...xv

DAFTAR TABEL……….xx

DAFTAR GAMBAR………xxii

DAFTAR LAMPIRAN………...xxiii

BAB I: PENDAHULUAN……….………...1

A. Latar Belakang……….1

B. Rumusan Masalah………11

C. Tujuan Penelitian……….11

D. Manfaat Penelitian………...10

1. Manfaat Teoritis………..12

(16)

xv

BAB II: LANDASAN TEORI……….……….13

A. Voice Behaviour………. 13

1. Definisi Voice Behaviour……….. 13

2. Jenis-jenisVoice Behaviour………... 17

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Voice Behaviour………… 20

B. Tipe Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)………...25

1. Definisi Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)…………...25

2. Aspek Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)………...29

3. Dampak Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)……..……… 31

C. Employee Engagement………... 32

1. Definisi Employee Engagement………..…………... 32

2. Aspek Employee Engagement………..……… 3. Dampak Employee Engagement……….. 36 39 D. Dinamika Tipe Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)dan Keterlibatan Karyawan (Employee Engagement)terhadapVoice Behaviour……….41

E. Kerangka Penelitian………...45

F. Hipotesis Penelitian………..45

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN……….………46

A. Jenis Penelitian……….46

B. Variabel Penelitian………...47

C. Definisi Operasional……….47

(17)

xvi

2. Tipe Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)……….... 3. Employee Engagement………

47 48

D. Subjek Penelitian………..49

E. Metode dan Alat Pengupulan Data……….50

1. Metode Pengumpulan Data……….50

2. Alat Pengumpulan Data………...51

a. Skala Pro-Social Voice Behaviour……….. 51

b. Skala Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)……….. 52

c. Skala Employee Engagement……….…………52

F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur………53

1. Validitas Alat Ukur………..53

2. Kesahihan Item Skala……….54

3. Reliabilitas Alat Ukur………..56

a. Skala Pro-Social Voice Behaviour……….. 57

b. Skala Employee Engagement……….57

c. Skala Tipe Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)…………58

G. Metode Analisis Data………..……….58

1. Uji Asumsi………...58

a. Uji Normalitas………59

b. Uji Homoskedastisitas………..……… 57

c. Uji Linearitas………..59

2. Uji Hipotesis………60

(18)

xvii

A. Pelaksanaan Penelitian……….61

B. Deskripsi Penelitian……….62

1. Deskripsi Subjek Penelitian……….62

2. Deskripsi Data Penelitian………67

C. Analisis Data Penelitian………...68

1. Uji Asumsi………...68

a. Uji Normalitas………68

b. Uji Homoskedastisitas………….………... 69

c. Uji Linearitas………...70

2. Uji Hipotesis………71

D. Pembahasan………..74

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN…….………..79

A. Kesimpulan………..79

B. Keterbatasan Penelitian………79

C. Saran……….81

1. Bagi Organisasi atau Perusahaan………...80

2. Bagi Peneliti Selanjutnya………83

DAFTAR PUSTAKA………84

LAMPIRAN………..91

(19)

xviii

Lampiran 3: Hasil Uji T………108

Lampiran 4: Hasil Uji Normalitas Residu………110

Lampiran 5: Hasil Uji Homoskedastisitas………112

(20)

xix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Karakteristik Kepribadian Ekstrovert………... 45

Tabel 3.1 Pemberian Skor pada Skala Voice Behaviour, EmployeeEngagement dan Extraversion….………... 50 Tabel 3.2 Distribusi Item Skala Voice Behaviour Sebelum Uji Coba………52

Tabel 3.3 Distribusi Item Skala Extraversion Sebelum Uji Coba…….. 52

Tabel 3.4 Distribusi Item Skala Employee Engagement Sebelum Uji Coba………53

Tabel 3.5 Koefisien Reliabilitas Pro-Social Voice………... 57

Tabel 3.6 Koefisien Reliabilitas Extraversion……… 58

Tabel 3.7 Koefisien Reliabilitas Employee Engagement………58

Tabel 4.1 Deskripsi data subjek berdasarkan jenis kelamin……...……. 63

Tabel 4.2 Deskripsi data subjek berdasarkan usia………... 63

Tabel 4.3 Deskripsi data subjek berdasarkan lama bekerja di rumah sakit……….64

Tabel 4.4 Deskripsi data subjek berdasarkan skor ide, informasi, kritikan, saran dan gagasan yang dimiliki……….…... 66

Tabel 4.5 Deskripsi Statistik Data Penelitian………... 67

Tabel 4.6 Uji Normalitas Nilai Residu………... 69

(21)

xx

Tabel 4.8 Uji Linearitas………... 71 Tabel 4.9 Uji Hipotesis 2 Regresi antara Extraversion dengan Voice

behaviour……….. 72

(22)

xxi

DAFTAR GAMBAR

(23)

xxii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Voice Behaviour, Employee Engagement dan Tipe

(24)

1 BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

“I decided it is better to scream. Silence is the real crime against

humanity”, sebuah kutipan Nadezhda Mandelstam dari bukunya yang berjudul Hope Against Hope yang diterbitkan pada tahun 1970. Berteriak adalah hal yang lebih baik, karena diam adalah kejahatan yang nyata terhadap kemanusiaan.

Speak up system adalah sebuah prosedur yang berlaku untuk seluruh karyawan, manajemen, direktur, komisaris dan pihak-pihak yang terkait yang bekerja dalam perusahaan maupun anak perusahaannya. Sebuah perusahaan bernama PT. BUMI Resource Tbk. membuat sistem ini sebagai sebuah sarana komunikasi yang digunakan untuk melaporan segala bentuk informasi termasuk pelanggaran dalam pedoman (code of conduct) yang mungkin dapat terjadi dalam perusahaan tersebut (www.bumiresources.com, diakses pada 23 November 2016).

Berita lain dari sebuah Rumah Sakit di Flo Rida, Amerika Serikat, mengabarkan bahwa perawat bernama Samantha memiliki pasien SICU

(25)

prosesnya saat pasien masih duduk tegak di kursi. Samantha mengetahui hal tersebut bukan merupakan prosedur yang tepat, namun Samantha merasa tidak memiliki kekuatan atau wewenang untuk berbicara. Akhirnya beberapa jam kemudian, pasien tersebut meninggal karena komplikasi yang timbul sebagai akibat dari penanganan darurat yang tidak benar (http://www.nursetogether.com, diakses pada 29 April 2017).

Hal tersebut bukan sebuah masalah baru. Pada tahun 2005, sebuah penelitian dilakukan terhadap lebih dari 1.700 petugas kesehatan, termasuk 1.143 perawat Rumah Sakit di perkotaan dan di pedesaan Amerika Serikat. Hasil menunjukkan bahwa perawat mengetahui rekan kerjanya tidak kompeten, melakukan kesalahan atau menempuh jalan pintas yang berbahaya bagi pasien. Kenyataannya adalah hanya 1 dari 10 yang mengungkapkan atau berbicara mengenai permasalahan tersebut (Maxfield, D., Grenny, J., McMillan, R., Patterson, K. & Switzler, A., 2005). Padahal kenyataannya, dibutuhkan orang-orang yang responsif terhadap tantangan dari lingkungan, tidak takut untuk berbagi informasi serta pengetahuan untuk menjalankan kehidupan organisasi dan menggerakkan roda organisasi (Okuyama, Wagner & Bijnen, 2014).

(26)

implikasi yang sangat serius bagi karyawan lain maupun performansi dan keberlangsungan jalannya organisasi. Pada kenyataannya, seorang karyawan cenderung memilih untuk diam (silence) dan tidak mengungkapkan isu-isu yang sedang terjadi pada perusahaannya, daripada mengungkapkannya (Morisson, See & Caitlin, 2014).

Beberapa penelitian terkini menunjukkan hasil yang mendukung pernyataan mengenai karyawan yang tidak voice. Milliken dan rekan-rekannya pada tahun 2003 melakukan wawancara terhadap 40 karyawan professional di Amerika Serikat dan menemukan sebanyak 85% dari mereka secara sadar telah gagal untuk speak up atau gagal mengutarakan informasi yang penting dan krusial yang seharusnya menjadi perhatian bagi perusahaan (dalam Morrison et al., 2014). Pada tahun 2010, penelitian yang dilakukan di departemen kesehatan dan operasi di sebuah Rumah Sakit di Amerika Serikat (Souba, Way, Lucey, Sedmak & Notestine dalam Morrison

et al., 2014) menunjukkan 69% orang setuju bahwa mereka memilih untuk tidak mengungkapkan informasi ketika menemukan sebuah permasalahan di tempat kerja.

(27)

lebih tinggi dalam organisasi, maka mereka dapat dikatakan telah terlibat dan melakukan perilaku voice di tempat kerja (Morisson, 2014). Voice

didefinisikan sebagai perilaku informal dan kebebasan berkomunikasi dari karyawan mengenai ide, saran, informasi mengenai permasalahan, atau pendapat tentang isu yang ada di tempat kerja kepada orang lain yang memungkinkan untuk mengambil tindakan tertentu dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan atau membawa perubahan.

Morrison (2014) mengemukakan bahwa perusahaan atau organisasi akan berjalan dengan lebih baik ketika karyawan mengutarakan ide, informasi dan gagasan yang mereka miliki. Informasi mengenai permasalahan yang sedang terjadi memungkinkan untuk segera diselesaikan ketika karyawan melakukan voice behaviour, dan ide baru dari karyawan akan menolong perusahaan untuk berinovasi serta beragam pendapat dari bawahan dapat mengarahkan pemimpin untuk mengambil keputusan yang lebih bijak. Selain itu, ketika seorang karyawan secara efektif melakukan

voice behaviour akan mengurangi kadar stres serta meningkatkan ketahanan kerja.

(28)

diwujudkan untuk mengurangi stress pada karyawan (McGrath, 2013). Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi voice behaviour dapat membantu meningkatkan speak-up pada karyawan dan komunikasi dalam organisasi (Okuyama, Cordula & Bart, 2014).

Hasil dalam meta analisis yang dilakukan oleh Morrison (2014) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab dan mempengaruhi voice behaviour pada karyawan, antara lain karakteristik individu (individual dispositions), persepsi dan sikap terhadap pekerjaan dan organisasi (job and organizational attitudes and perception), emosi, kepercayaan dan konsep berpikir individu (emotion, beliefs and schemas), perilaku pemimpin dan supervisor (supervisor and leader behaviour), dan faktor kontekstual yang lain. Selain itu, disebutkan bahwa motivasi pokok yang mendasari voice behaviour adalah sifat prososial (Grant & Ashford 2008, Van Dyne et al. 2003).

(29)

mengalami perasaan negatif, seperti kecemasan, rasa tidak aman, tekanan psikologis), extraversion (kuantitas dan intensitas interaksi interpersonal, tingkat aktivitas individu), openness to experience (proaktif mencari tahu dan mengapresiasi pengalaman baru), agreeableness (kualitas interaksi antarpribadi individu sepanjang kontinum, mulai dari ‘passionate’ hingga ‘antagonism’), dan consciencetiousness (tingkat ketekunan, perilaku

organisasi, motivasi yang mengarah ke tujuan).

Studi empiris menyebutkan bahwa FFM of personality dapat memprediksi perilaku organisasi dan salah satunya adalah voice behaviour

(Crant, JM. Kim TY. & Wang J., 2011). Avery (2003) menunjukkan bahwa FFM dan core-self evaluations (CSE) secara signifikan menyumbang variansi dari voice behaviour, dimana extraversion dan self-efficacy secara signifikan memprediksi value dari voice. Ditunjukkan bahwa individu yang memberikan high value terhadap voice behaviour akan menunjukkan peningkatan perilaku voice. Lepine dan van Dyne (2001) mengeksplorasi peran perbedaan individu, dan mengidentifikasi bahwa empat dari lima dimensi FFM berhubungan dengan voice behaviour pada karyawan. Salah satu dimensinya adalah extraversion, dimana extraversion secara positif berhubungan dengan voice behaviour dan berarti, seseorang yang ekstrovert

memiliki tingkat perilaku voice yang cukup tinggi.

(30)

ekstrovert untuk “keep their mouth shut”, yang berarti individu ekstrovert

senang untuk bersuara. Individu yang esktrovert sering merasa aman

(secure) dan berperilaku asertif pada lingkungan kerja. DeRaad dan Perugini (2002) menjelaskan bahwa seseorang yang ekstrovert memiliki jiwa sosial, mudah bergaul, dan memiliki ketertarikan pada relasi dengan orang lain maupun peristiwa di lingkungan sekitarnya. Karyawan juga cenderung memiliki kepedulian yang baik kepada karyawan lain maupun perusahaan (Wikantri, 2014). Hal tersebut membuat tingkat Organizational Citizenship Behaviour (OCB) dari karyawan tergolong tinggi.

Disebutkan bahwa extraversion memiliki hubungan dengan OCB (Organizational Citizenship Behavior), dimana voice behaviour merupakan salah satu bentuk OCB yang dikategorikan sebagai perilaku extra-role (Van Dyne & LePine, 1998). Dalam literature tersebut dijelaskan bahwa voice behavior dapat dikategorikan sebagai salah satu tipe OCB yang bersifat konstruktif, dimana OCB merupakan perilaku kooperatif karyawan yang menguntungkan serta membawa dampak positif bagi organisasi dan tidak diatur dalam job description. (Van Dyne, Cummings & McLean Parks, 1995; Organ, 1997; Van Dyne et al. 2000). Seorang dengan extraversion

(31)

ditemukan hasil bahwa extraversion memiliki hubungan secara langsung dengan voice behavior.

Namun demikian, terdapat beberapa penelitian lainnya mengenai

extraversion dan OCB yang menunjukkan hasil yang kontradiktif dengan pernyataan tersebut. Azimzadeh dan Bai (2015) yang melakukan penelitian pada 75 karyawan perusahaan olahraga di Timur Tengah menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara extraversion dengan OCB. Penelitian di Dubai yang dilakukan terhadap 164 karyawan di beberapa perusahaan jasa menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara extraversion

dan OCB (Elanain, 2007). Dari uraian tersebut, diketahui bahwa terdapat perbedaan teori yang dan hasil penelitian yang menjelaskan tentang bagaiman hubungan antara extraversion dan voice behavior. Maka dari itu perlu diteliti lebih dalam lagi mengenai hubungan antara kedua variable tersebut, terutama di Indonesia.

(32)

Disebutkan juga faktor lain penyebab terjadinya voice behaviour

adalah persepsi dan sikap terhadap pekerjaan serta organisasi (job and organizational attitudes and perception). Seseorang memiliki persepsi bahwa informasi yang ia miliki penting bagi organisasi atau perusahaan akan melakukan voice (Nikolau et al. 2007; Deter & Burris, 2007; Morisson, 2014). Literatur lain menyebutkan employee engagement sebagai suatu variabel dasar yang mempengaruhi sikap yang berhubungan dengan pekerjaan (Christian, Garza & Slaughter 2011). Dari penjelasan tersebut maka bahwa employee engagement dapat dapat dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong terjadinya voice behaviour pada karyawan.

Dalam penelitiannya, LePine & Van Dyne (2001) mengungkapkan bahwa voice behaviour merupakan salah satu bentuk dari extra role behaviour yang disebutkan dapat menunjukkan letak permasalahan serta memberikan saran atau jalan keluar yang konstruktif ke arah yang lebih baik. Extra rolebehaviour merupakan perwujudan dari adanya engagement

pada karyawan (Anitha, 2014). Disebutkan bahwa karyawan yang engage

(33)

Selain itu, Schaufeli et al. (2002) menjelaskan bahwa karyawan yang melakukan voice behaviour adalah mereka yang mengutarakan ide, informasi maupun saran yang penting bagi organisasi, dan perilaku tersebut menunjukkan bahwa mereka engage terhadap organisasi. Akan tetapi mekanisme mengenai bagaimana hubungan antara engagement dengan

voice behaviour masih belum jelas, hanya disebutkan bahwa adanya

engagement dapat mewujudkan extra role behaviour pada karyawan, dan salah satu bentuk extra role adalah voice behaviour. Karyawan yang engage

adalah seseorang yang akan senantiasa berupaya agar tujuan organisasi dapat sepenuhnya terlaksanadan karyawan yang melakukan voice juga memiliki tujuan meningkatkan atau membawa perubahan pada organisasi atau perusahaan. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara engagement dengan voice behaviour.

Menurut Mone, Eisinger, Guggenheim, Price dan Stine (2011),

engagement merupakan suatu perasaan yang dimiliki oleh karyawan yang berasal dari inisiatif pribadi mereka yang berupa kemampuan beradaptasi, usaha dan ketekunan yang diarahkan pada tujuan organisasi. Kahn (dalam Luthans & Peterson, 2002) menjelaskan bahwa employee engagement

(34)

dengan pekerjaan mereka cenderung berperilaku dengan cara yang positif dan kooperatif, untuk kepentingan perusahaan dan diri mereka sendiri (Salanova & Schaufeli dalam Ress et al., 2013).

Engagement dalam penelitian ini dipilih sebagai dalam konteks organisasi. Karyawan yang memiliki rasa organizational engagement lebih memiliki orientasi terhadap perusahaan atau organisasi dan mengacu pada tujuan organisasi tersebut (Guest, 2014). Sikap dan persepsi seorang karyawan terhadap organisasi tempatnya bekerja menjadi salah satu faktor yang mendukung terciptanya voice behaviour. Selain itu, tipe kepribadian

ekstrovert juga disebut sebagai faktor pendukung terjadinya voice behaviour

yang dilihat dari sudut pandang watak individu. (Morrison, 2014). Dari penjelasan ini maka tipe kepribadian extraversion juga dipilih sebagai variable yang mempengaruhi voice behaviour.

II. Rumusan Masalah

1. Apakah tipe Kepribadian ekstrovert(Extraversion) memiliki pengaruh

voice behaviour?

2. Apakah employee Engagement memiliki pengaruh Pro-Social Voice Behaviour?

III. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tipe Kepribadian

(35)

ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterlibatan karyawan

(employee engagement) terhadap Pro-Social VoiceBehaviour.

IV. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pengetahuan di bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) mengenai tipe Kepribadian (Extraversion), keterlibatan karyawan

(employee engagement) dan Pro-Social VoiceBehaviour

2. Manfaat praktis a. Bagi perusahaan

(36)

13

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Voice Behaviour

1. Definisi Voice Behaviour

Voice memiliki sejarah yang cukup panjang dan beragam dalam

perkembangan ilmu organisasi (Morrison, 2014). Van Dyne, Ang dan

Botero (2003) menjelaskan bahwa karyawan seringkali memiliki ide,

informasi dan pendapat yang bertujuan untuk meningkatkan dan

mengoptimalkan pekerjaannya sendiri maupun organisasi. Premeaux

dan Bedeian (2003) juga mengatakan bahwa ketika karyawan

menyatakan pendapat mengenai permasalahan yang terjadi dalam

lingkungan pekerjaan seperti saran kepada orang lain (teman kerja) dan

organisasi, melakukan pendekatan komunikatif dalam melihat

permasalahan yang terjadi dan menyuarakan informasi yang

berhubungan dengan pekerjaan, maka karyawan tersebut dapat

dikatakan telah melakukan voice behaviour (dalam Nikolau, Maria &

Dimitris, 2007)

Sejak tahun 1980an, penelitian-penelitian yang membahas

pengertian voice dan hal-hal yang berhubungan dengan hal tersebut

terus berkembang. Spencer (1986) pada waktu itu mendefinisikan voice

sebagai ungkapan ketidakpuasan yang tujuan untuk mengubah situasi

(37)

permasalahan tersebut. Hirschman (1976) dalam Wang, Huang, Chu &

Xiaohui Wang (2010) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ketika

karyawan merasa tidak puas dalam pekerjaannya, maka mereka akan

menunjukan perilaku bersuara (voice) atau keluar dari organisasi (exit)

sebagai respon dari ketidapuasan tersebut.

Rusbult, Farrell, Rogers dan Mainous (1988) mengembangkan

konsep voice dan menyatakannya dalam 4 tipologi respon. Pertama,

Voice sebagai suatu keadaan dimana seseorang secara aktif mencoba

untuk membangun dan memperbaiki kondisi dengan cara

mendiskusikan permasalahan bersama supervisi atau rekan kerja. Kedua

voice sebagai suatu tindakan mengambil keputusan untuk

menyelesaikan permasalahan. Ketiga, voice sebagai usaha mencari

bantuan dari agen luar, dan yang keempat voice merupakan

whistle-blowing.

Pada akhir 1990-an, para peneliti yang mengkaji perilaku

organisasi mulai menemukan bahwa voice tidaklah hanya sebuah

respon dari adanya ketidakpuasan kerja pada karyawan. Voice disebut

sebagai usaha membenahi sistem kerja dalam sebuah perusahaan

dengan menunjukkan kesalahan yang terjadi dalam perusahaan dan

menyampaikan solusi untuk situasi tersebut (Pardo, Delval & Fuentes,

dalam Morrison et al., 2015).

Peneliti mengungkapkan bahwa voice merupakan sebuah bentuk

(38)

(1998) memperkenalkan extrarole behaviour sebagai perilaku yang

bersifat positif dan sukarela dilakukan yang memberikan keuntungan

bagi organisasi. Extrarole behaviour merupakan perilaku yang tidak

terdapat dalam job desk dan merupakan suatu inisiatif pribadi dari

individu. Baik secara empiris maupun konseptual, voice ditunjukkan

sebagai suatu bentuk perilaku kooperatif dan extrarole behaviour,

seperti membantu orang lain.

Dalam penelitiannya, Lepine dan Van Dyne (1998) juga

menyebutkan bahwa extrarole behaviour memiliki 3 ciri utama, yaitu

perilaku diluar deskripsi pekerjaan yang diatur organisasi, tidak diatur

oleh sistem reward yang formal, dan tidak memiliki konsekuensi

hukuman apabila tidak dilakukan. Extra-role behavior juga memiliki 4

tipologi yaitu prohibitive, promotive, affiliative dan challenging. Voice

dikategorikan sebagai perilaku extrarole karena voice mememnuhi 2

tipologi dari extrarole behavior yaitu challenging dan promotive.

Promotive merupakan tindakan individu yang bersifat proaktif untuk

mendorong terjadinya sesuatu, sedangkan challenging merupakan

tindakan yang mengarah ke tantangan menyampaikan ide terhadap

permasalahan.

Morrison (2014) mendefinisikan employeevoice behaviour sebagai

komunikasi informal dimana karyawan memiliki kebebasan dalam

mengkomunikasikan ide, saran, perhatian, informasi atau pendapat

(39)

memiliki wewenang, yang ditujukan untuk mengambil keputusan demi

membawa perusahaan kepada perubahan yang lebih baik. Dalam

literaturnya, disebutkan juga bahwa voice behaviour memiliki

kemiripan dengan beberapa konsep dengan issue selling dan whistle

blowing

Issue selling merupakan upaya yang dilakukan karyawan untuk

mendapatkan posisi kepimimpinan organisasi, dengan cara

memperhatikan masalah yang sedang terjadi dan dirasa sangat penting

(Miceli & Near dalam Morrison, 2014). Dalam praktiknya, issue selling

membutuhkan voice behaviour untuk membentuk koalisi, mencari

sekutu dan mempersiapkan presentasi mengenai suatu permasalahan

atau isu tertentu. Penelitian mengenai issue selling memberikan

wawasan yang berguna untuk mengetahui proses bagaimana seorang

karyawan memutuskan apakah akan berbicara tentang masalah yang

mereka anggap penting (Morrison, 2014).

Whistle blowing diartikan sebagai sebuah perilaku yang mengarah

pada pengungkapan perilaku yang illegal, tidak bermoral, atau tidak

berkenan yang dilakukan oleh seseorang kepada organisasi (Morrison,

2014). Penelitian yang dilakukan terhadap istilah whistle blowing pada

umumnya menjelaskan hal tersebut sebagai suatu ekspresi yang

mengungkapkan ketidaksepakatan atau pertentangan pendapat terhadap

perusahaan, yang dapat kita lihat sebagai voice behaviour.

(40)

langsung dalam proses memahami voice behaviour sebagai respon

terhadap atasan.

Berdasarkan penjabaran dan pengembangan definisi yang telah

dijelaskan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa voice behaviour

adalah perilaku menyuarakan ide, informasi, gagasan atau saran

mengenai permasalahan yang ada dalam lingkungan kerja yang tidak

terdapat dalam job desk perusahaan dan diungkapkan kepada orang lain

yang memiliki wewenang untuk mengambil keputusan tertentu terkait

informasi tersebut dengan tujuan membawa organisasi atau perusahaan

ke arah yang lebih baik.

2. Jenis-jenis Voice Behaviour

Van Dyne, Ang dan Botero (2003) menjelaskan bahwa keputusan

karyawan untuk melakukan voice di tempat kerja didasari oleh motivasi

yang berbeda-beda. Motivasi tersebut antara lain adalah disengaged,

protective dan other-oriented. Disengaged adalah motivasi yang

didasari oleh perasaan tidak mampu untuk membuat suatu perubahan

yang berarti dalam perusahaan atau organisasinya (Pinder & Harlos,

2001; Whiteside & Barclay, 2013). Motivasi yang didasari oleh

perasaan takut dan adanya pemikiran terhadap resiko pribadi yang akan

dihadapi adalah protective, atau biasa disebut dengan Self Protective

Behaviour (Van Dyne et al. 2003; Milliken, Morrison & Hewlin, 2003;

(41)

adanya perasaan kooperatif dan altruistik pada karyawan disebut

sebagai other-oriented (Van Dyne et al. 2003; Organ, 1998)

Dari ketiga motivasi tersebut, Van Dyne et al. (2003)

mengklasifikasikan voice behaviour menjadi 3 jenis, yaitu prosocial

voice, defensive voice dan acquiescent voice.

a. Acquiescent Voice

Acquiescent voice merupakan perilaku verbal yang

ditunjukkan dengan mengekspresikan ide, informasi dan pendapat

yang didasari oleh penarikan diri (resignation). Acquiescent Voice

termasuk dalam disengaged behaviour, yang diartikan sebagai

suatu tindakan yang tidak terlibat secara langsung yang disebabkan

oleh perasaan tidak mampu seseorang dalam melakukan perubahan

(Van Dyne et al, 2003; Pinder & Harlos, 2001; Whiteside &

Barclay, 2013; Milliken et al. 2003). Hal ini membuat perilaku

acquiescent voice lebih bersifat persetujuan dan dukungan terhadap

ide kelompok. Ciri dari perilaku ini adalah bersifat pasif serta

rendahnya efikasi diri terhadap perubahan.

b. Defensive Voice

Defensive voice merupakan suatu perilaku verbal dengan

mengekspresikan ide, informasi dan pendapat terkait pekerjaan

yang didasari oleh rasa takut dan adanya kecenderungan untuk

(42)

Milliken et al. 2003; Milliken & Morrison, 2000). Self-protected

behaviour sebagai perilaku yang ditandai dengan senang

mengambil keputusan yang aman-aman saja dan tidak suka

mengambil tanggung jawab yang ditanggung sendiri (Schlenker &

Weigold, dalam Van Dyne et al. 2003). Individu yang melakukan

defensive voice biasanya cenderung mengambil sedikit tanggung

jawab, namun tetap bersikap proaktif. Selain itu, rasa takut yang

mendasari membuat individu cenderung mengalihkan perhatian

dari permasalahan yang terjadi dan menyalahkan orang lain.

c. Pro-Social Voice

Pro Social Voice merupakan suatu perilaku verbal dengan

mengekspresikan ide, informasi, dan pendapat yang didasari oleh

adanya motif bekerja sama atau rasa kooperatif dari diri individu

terhadap lingkungan kerja (Organ, 1998; Van Dyne et al. 2003;

LePine & Van Dyne 1998). Individu yang melakukan pro social

voice berfokus untuk memberi keuntungan organisasi dengan cara

megutarakan permasalahan, solusi dan menyuarakan ide yang

bersifat konstruktif demi mencapai perubahan dan kemajuan

organisasi. Dengan kata lain, perilaku ini dilakukan karena inisiatif

pribadi, proactive behaviour dan other-oriented. Pengutaraan

(43)

akan tetapi mereka berorientasi pada kepentingan bersama (Van

Dyne et al. 2003).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Voice Behaviour

Morrison (2014) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi dan memperkuat voice behaviour disebut sebagai

motivator. Motivator berperan dalam memunculkan keinginan

seseorang untuk membuat perubahan dalam organisasi atau

meningkatkan ekspektasi subyektif seseorang sehingga melakukan

voice behaviour (Van Dyne et al. 2003; Morrison, 2014). Disebutkan

bahwa hal yang memotivasi voice behaviour antara lain adalah:

a. Kecenderungan sifat (individual dispotitions)

Individu yang memiliki kecenderungan sifat atau kepribadian

yang ekstrovert (extraversion), kepribadian yang proaktif

(proactive personality) dan memiliki orientasi terhadap tugas (duty

orientation) akan lebih mudah untuk melakukan voice behaviour

(Crant et al. 2010, LePine & Van Dyne 2001, Tangirala et al.

2013). Kepribadian yang penuh kesadaaran (conscientiousness),

asertif (assertiveness) dan memiliki orientasi terhadap pelanggan

(customer orientation) juga dapat memotivasi terjadinya voice

(44)

b. Sikap dan persepsi terhadap pekerjaan dan organisasi (job and

organizational attitudes and perceptions)

Mencakup bagaimana proses karyawan melakukan

identifikasi terhadap organisasi (organizational identification),

identifikasi terhadap kinerja kelompok (work-group identification),

perasaan mengenai kewajiban untuk berubah (felt obligation for

change), kepuasan kerja (job satisfaction), keleluasaan peran (role

breadth), kontrol atau pengaruh (control or influence) dan

dukungan organisasi (organizational support) (Morrison, 2014).

Selain itu, dilihat dari tujuannya, seseorang akan melakukan

voice ketika ia memiliki informasi yang dianggap penting bagi

organisasi atau perusahaan (Nikolau et al. 2007; Deter & Burris,

2007; Morisson, 2014). Oleh karena itu, persepsi individu terhadap

pekerjaan dan organisasi juga menjadi faktor yang dapat

mempengaruhi voice behaviour (Morisson, 2014) dimana salah

satunya ialah engagement (LePine & Van Dyne, 1998).

Engagement merupakan keterlibatan penuh terhadap organisasi,

mengekspresikan dan mempekerjakan diri secara fisik, kognitif dan

emosi selama bekerja dalam organisasi atau sebuah perusahaan

(Rana et al. 2014; Khan, 1990). Individu yang engage tentunya

akan cenderung melakukan voice di tempat kerja.

Karyawan yang engage merasa mampu mengerjakan

(45)

(Rana et al. 2014) yang menunjukkan bahwa karyawan dapat

melakukan identifikasi terhadap organisasi (organizational

identification) (Morrison, 2014). Khan (1990) menyebutkan istilah

personal engagement sebagai pemanfaatan diri setiap anggota

dalam organisasi, terhadap peran mereka yang berupa keterlibatan

secara penuh terhadap organisasi, mengekspresikan dan

mempekerjakan diri secara fisik, kognitif dan emosi selama mereka

bekerja. Hal tersebut merupakan bentuk dari keleluasan peran (role

breadth) karyawan dalam organisasi atau perusahaan. Gebauer dan

Lowman (dalam Mone et. al., 2011) menyebutkan bahwa karyawan

yang engage akan menawarkan kerangka kerja untuk membangun

keterlibatan yang didasari oleh karyawan yang "mengetahui,

menumbuhkan, menginspirasi, melibatkan, dan menguntungkan"

para pemimpin senior, manajer, sumber daya manusia profesional,

dan karyawan sendiri itu sendiri. Artinya karyawan tersebut

mampu melakukan identifikasi terhadap kelompok serta

melakukan kontrol dan memberikan pengaruh di perusahan.

Anitha (2014) menyebutkan bahwa karyawan yang engage

merupakan karyawan yang cenderung terlibat dalam organisasi dan

siap untuk melakukan kinerja extra role. Dalam artian yang sama,

karyawan yang engage berarti secara kualitas akan unggul

dikarenakan mereka menunjukkan minat tinggi dalam pekerjaan

(46)

Xanthopoulou 2009; Alfes, Truss, Soane, Rees & Gatenby 2010;

Kaya, Lepine & Crawford 2010). Engagement merupakan perasaan

yang dimiliki oleh karyawan yang berasal dari inisiatif pribadi

berupa kemampuan beradaptasi, usaha dan ketekunan yang

diarahkan pada tujuan organisasi (Mone et. al, 2011).

Disamping itu, dalam literaturnya LePine dan Van Dyne

(2001) menyebutkan bahwa voice behaviour merupakan salah satu

bentuk dari extra role behaviour yang disebutkan dapat

menunjukkan letak permasalahan serta memberikan saran atau

jalan keluar yang konstruktif ke arah yang lebih baik. Maka dapat

dikatakan ketika seorang karyawan memiliki engagement yang

tinggi pada organisasi, maka karyawan akan memiliki

kecenderungan untuk melakukan voice behaviour. Hal ini

menunjukan bahwa engagement merupakan salah satu faktor yang

dapat memunculkan adanya voice behaviour.

c. Emosi, kepercayaan dan skema (emotions, beliefs, and schemas)

Hal ini mencakup emosi, kepercayaan dan skema yang

terdapat dalam diri individu terhadap kemarahan (angry) yangg

dialaminya dan keamanan psikologisnya (psychological safety).

Penelitian yang dilakukan oleh Edwards, Ashkanasy dan Gardner

(2009) menunjukkan bahwa emosi marah (anger) mempengaruhi

(47)

emosi marah atau frustrasi dapat memunculkan voice, terlepas dari

adanya pertimbangan secara hati-hati mengenai manfaat dan risiko

yang akan muncul. Dalam artian lain, seorang karyawan yang

sangat marah mungkin akan melakukan voice bahkan terdapat

pilihan rasional untuk akan tetap diam. Emosi marah juga

dikatakan dapat meningkatkan whistle-blowing (Edwards,

Ashkanasy, & Gardner, 2009; Harvey, Artinko & Douglas, 2009).

d. Perilaku supervisi dan pemimpin (supervisor and leader

behaviour)

Pemimpin merupakan target dari voice behaviour yang

memiliki wewenang untuk mengambil tindakan. Oleh karena itu,

perilaku pemimpin dan supervisor akan mempengaruhi kesediaan

karyawan untuk melakukan voice behaviour (Liden & Masyln,

1998; Detert & Burris, 2007; Morrison, 2014). Hal ini mencakup

bagaimana pengaruh pemimpin (leader influence), keterbukaan

pemimpin (openness) dan adanya konsultasi (consultation) yang

dilakukan oleh pemimpin kepada karyawannya. Selain itu, adanya

positive leader–member exchange, kepemimpinan transformasional

(transformational leadership) dan kepemimpinan etis (ethical

leadership) juga mendorong adanya voice behaviour pada

(48)

e. Faktor kontekstual lainnya

Bagaimana iklim voice dalam kelompok (group voice

climate), iklim yang peduli (caring climate) (Ashford et al. 1998,

Frazier & Fainshmidt 2012, Morrison et al. 2011, Wang & Hsieh

2013) dan mekanisme dari adanya (formal voice mechanisms)

dalam lingkungan kerja(Glauser 1984, Morrison & Milliken 2000,

Pinder & Harlos 2001).

B. Tipe Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)

1. Definisi kepribadian Ekstrovert (Extraversion)

Kepribadian dapat diartikan sebagai sebuah cara yang disukai

individu atau kekhasan seseorang dalam berperilaku, berpikir dan

merasa (Saville, Holdsworth, Nyfield, Cramp, & Mabey, 1984). Kepribadian juga didefinisikan sebagai pola sifat dan karakteristik

tertentu yang relatif permanen dan memberikan, baik konsistensi

maupun individualitas pada perilaku seseorang (Feist & Feist, 2008).

Para peneliti telah mengkonseptualisasikan kepribadian kedalam

berbagai macam sifat dan abstraksi di berbagai tingkat (McAdams,

1995), dan masing-masing tingkat mengembangkan pemahaman

mengenai perbedaan perilaku dan pengalaman manusia (John &

Srivastava, 1999).

Selama 15 tahun terakhir, revitalisasi pengetahuan mengenai

(49)

Grabner-Kräuter, 2006), setelah beberapa dekade ini ditemukan adanya

perbedaan-perbedaan teori dan temuan yang samar-samar. Timbulnya

revitalisasi ini difasilitasi oleh munculnya konsensus yang menjelaskan

bahwa kepribadian dapat dikaji melalui 5 domain yaitu, extraversion,

neuroticism, openness to experience, agreeableness dan

conscientiousness, yang biasa disebut dengan Five-Factor Model of

personality (FFM).

Selama dua dekade terakhir ini, FFM telah mendominasi area

psikologi kepribadian (Vakola, Tsaousis & Nikolaou, 2004). FFM telah

memberikan kerangka pengukuran serta bertanggung jawab atas

bangkitnya ketertarikan psikologi kepribadian di bidang psikologi

organisasi dan pekerjaan. Hal ini disebutkan oleh Mount, Barrick dan

Stewart (1998) yang menyatakan bahwa kepribadian memiliki pengaruh

terhadap performansi kerja karyawan. Salah satu penelitian mendukung

fakta ini adalah ditemukannya hubungan positif antara extraversion

dengan performansi kerja karyawan yang bekerja di pekerjaan yang

melibatkan interaksi sosial (Tett, Jackson & Rothstein, 1991).

Penelitian juga menunjukkan bahwa extraversion, memiliki hubungan

yang positif dengan networking, dimana individu secara aktif mencari

perhatian sosial dan watak ini mencondongkan individu untuk terlibat

dalam interaksi di tempat kerja (Wolff & Kim, 2012).

Dalam merumuskan extraversion, Eysenck (dalam Burger, 2011)

(50)

diatur secara hirarki. Dijelaskan bahwa extraversion adalah kombinasi

sifat impulsif, aktif, bersemangat dan bergairah, yang dibentuk dari

kebiasaan-kebiasaan individu dalam merespon (habitual respon) suatu

hal. Kebiasaan individu dalam merespon suatu hal dapat dilihat dari

tingkat respon spesifik (specific respone level) yang terdiri atas

perilaku-perilaku spesifik (specific behaviour). Seseorang yang

ekstrovert cenderung ramah dan impulsif. Selain itu, ia cenderung

memiliki tingkat interaksi sosial yang tinggi dan sering mengambil

bagian dalam kegiatan kelompok.

Menurut Goldberg (dalam John & Srivastava, 1999) extraversion

merupakan suatu intensitas interaksi intrapersonal dalam tingkat

aktivitas seseorang. Individu dengan kepribadian ekstrovert akan

menunjukkan tingkat kesenangan dalam menjalin relasi dan beraktivitas.

Selain itu, seseorang yang ekstravert akan cenderung ramah dan terbuka

serta menghabiskan banyak waktu untuk mempertahankan dan

menikmati hubungan. Feist & Feist (2008) menyebutkan karakteristik

dengan skor tinggi dan skor rendah dari tipe kepribadian ekstrovert:

Tabel 2.1

Karakteristik Kepribadian Extrovert

Tipe Kepribadian Ekstrovert (Extraversion)

Skor Tinggi Skor Rendah

 Penuh perhatian

 Mudah bergabung

 Aktif berbicara

 Mudah mengekspresikan emosi  Bersemangat  Cuek  Penyendiri  Pendiam  Serius  Pasif

 Tidak mudah

(51)

Extraversion adalah kepribadian yang memiliki ciri adanya

kemampuan bersosialisasi dan keaktifan. Suliman, AbdelRahman dan

Abdalla (2010) mengemukakan bahwa extraversion berfokus pada

seorang individu yang ramah, asertif dan berinteraksi secara positif

dengan orang lain. Individu yang ekstrovert adalah individu yang mudah

bersosialisasi, aktif, suka mengobrol, person-oriented, optimis, suka

bersenang-senang, penyayang dan humoris (Nikolaou et al., 2007).

Barrick dan Mount (1991) menyebutkan bahwa extraversion berkaitan

dengan tingkat kekuatan, potensi dan perasaan positif seseorang dan

bagaimana mereka dapat berinteraksi dengan orang lain secara

kooperatif. Keberadaan individu dengan kepribadian ekstrovert di suatu

organisasi akan menghasilkan interaksi yang positif dan kooperatif

dengan rekan kerjanya dalam rangka mencapai tujuan kerja (LePine &

Van Dyne, 2001).

LePine dan Van Dyne (2001) mengemukakan adanya hubungan

positif antara extraversion dan perilaku kooperatif (cooperative

behaviour). Wolff dan Kim (2012) juga melaporkan bahwa extraversion

berhubungan dengan kemampuan untuk membangun jaringan

(networking). Extraversion memiliki kaitan dengan proactive

personality, karena individu dengan kepribadian proactive akan lebih

pasti dan terbuka dalam melatih perilaku yang baru (Liguori, McLarty &

(52)

menunjukkan bahwa extraversion merupakan tipe kepribadian yang

paling mempengaruhi kepuasan kerja (job satisfaction).

Ketika seorang individu menyesuaikan diri dalam lingkungan

sosial melalui extraversion (Buss, 1991), ia akan memperoleh kesuksesan

yang senantiasa berkembang dan hidupnya dapat terpelihara dengan baik.

Individu yang ekstrovert akan menunjukan performansi yang lebih baik

di tempat kerja (Judge, Heller & Mount, 2002), yang dikarenakan

seseorang yang ekstrovert memiliki banyak kesempatan untuk melatih

gairahnya. Dalam literaturnya, Avery (2003) menjelaskan bahwa

extraversion dan self-efficacy secara signifikan memprediksi value dari

voice, dimana individu yang memberikan high value terhadap voice

behaviour akan juga menunjukkan peningkatan perilaku voice.

Berdasarkan penjabaran dari pengembangan konsep dan definisi

tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa extraversion merupakan salah

satu tipe kepribadian seseorang yang bercirikan mudah bersosialisasi,

aktif, memiliki sikap yang kooperatif terhadap sesama serta memiliki

kemampuan untuk menjalin relasi.

2. Aspek dari tipe kepribadian Ekstrovert

Individu yang tergolong ekstrovert cenderung tampak lebih

bersemangat, mudah bergaul, terkesan impulsif dalam menampilkan

tingkah laku. Individu yang tergolong ekstrovert merupakan seseorang

(53)

terhadap rasa sakit, dan lebih mudah terlibat dalam suatu relasi (Burger,

2008). Menurut Pervin, Cervone dan John (2005), individu yang

memiliki skor extraversion yang tinggi akan mudah bergaul, aktif,

banyak bicara, person-oriented, optimis, menyenangkan, penuh kasih

sayang dan bersahabat.

Dalam penelitiannya, Costa dan McRae (1995) menyebutkan

beberapa sifat yang lebih spesifik dari dimensi kepribadian Ekstrovert.

Sifat-sifat tersebut antara lain adalah kehangatan (warmth), suka

berkumpul (gregariousness), asertif (assertiveness), aktivitas (activity),

mencari kesenangan (excitement seeking) dan emosi positif (positive

emotions). Pada awal 1975, Eysenck menerbitkan sebuah self-assement

yang merumuskan aspek-aspek dari extraversion sebelum menjadi

sebuah skala pengukuran Eysenck yaitu Eysenck Personality Profiler

(EPP) (Eysenck & Wilson, 1991). Terdapat 7 (tujuh) aspek dari

kepribadian ekstrovert, yaitu Activity, Sociability, Assertiveness,

Expressiveness, Ambition, Dogmatism, Agressiveness.

Pada tahun 1992, Eysenck, Barrett, Wilson dan Jackson

mengurangi jumlah aspek untuk dari extraversion dan membuat short-form dari EPP. Aspek-aspek tersebut adalah

a. Activity

Seseorang yang memiliki tingkat aktivitas yang tinggi

biasanya aktif, enerjik, menyukai semua aktivitas fisik, suka

(54)

aktifitas lainnya dan mengejar berbagai macam kepentingan serta

minat yang berbeda-beda.

a. Expressiveness

Seseorang yang ekspresif mudah mengekspresikan

perasaannya dengan baik dan jujur. Individu juga cenderung

memperlihatkan emosi kearah keluar dan terbuka dengan baik bila

sedang merasa sedih, marah, takut, jatuh cinta ataupun benci.

b. Sociability

Individu suka mencari teman, mudah menjumpai

orang-orang dan menyukai kegiatan sosial seperti pesta-pesta. Menurut

Eysenck dan Eysenck (1969) aspek sociability pada individu

dengan kepribadian ekstrovert ditunjukkan dengan sikap

penyesuaian diri dengan orang lain yang baik. Individu merasa

nyaman dan suka berinteraksi dengan orang lain sehingga

memilliki banyak teman, ramah dan pemberani.

3. Dampak Kepribadian Ekstrovert

Menurut Myers (1992) seseorang yang ekstrovert cenderung

memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi. Penelitian lain juga

menunjukkan hasil bahwa seseorang yang cenderung ekstrovert dan

berperilaku secara terbuka dapat memberikan peningkatan pengaruh

positif bagi sekitarnya (Pavot, Diener & Fujita, 1990). Individu yang

(55)

(Costa, 1992; Piedmont & Weinstein, 1994). Hal ini didasari dari

kesukaan seorang yang ekstrovert untuk bekerja sama dengan orang lain

yang akan membawa keuntungan dalam pekerjaannya. Di dalam

lingkungan kerjanya, individu yang ekstrovert senang untuk menghias

kantor, membiarkan pintu ruang kerjanya terbuka, memberikan kursi

tambahan didekat tempatnya bekerja dan lebih cenderung meletakkan

piring permen di mejanya. Ini adalah usaha untuk mengundang serta

mendorong interaksi dengan rekan kerja mereka.

C. Employee Engagement

1. Definisi Employee Engagement

Gagasan mengenai employee engagement telah menarik minat dan

perhatian dunia bisnis dan perusahaan konsultasi sejak tahun 1990an,

dan baru-baru ini mulai menarik perhatian di bidang akademik. Analisis

literatur mengidentifikasi adannya tahapan-tahapan evolusi dalam

mengkonseptualisasikan employee engagement, dan dibagi menjadi

serangkaian gelombang (Welch, 2011). Serangkaian gelombang

tersebut dibagi menjadi 4 (empat) bagian, yaitu Pre-Wave (sebelum

tahun 1990), Wave 1 (tahun 1990-1999), Wave 2 (tahun 2000-2005)dan

Wave 3 (tahun 2006-2010).

Pada era Pre-Wave, para peneliti belum menggunakan istilah

employee engagement, namun engagement ditandai dengan pengakuan

(56)

dan organisasi mereka. Katz dan Kahn (dalam Welch, 2011)

mendiskusikan bahwa perilaku karyawan (employee behaviours)

diperlukan untuk mencapai efektivitas perusahaan, termasuk terlibat

dalam perilaku inovatif dan kooperatif, melebihi perannya dalam

mencapai tujuan organisasi.

Tahun 1990-an yang dikategorikan sebagai Wave 1, dimulai

dengan karya akademis mengenai keterlibatan personal (personal

engagement). Personal engagement didefinisikan sebagai usaha

memanfaatkan diri setiap anggota organisasi terhadap peran mereka,

yang berupa keterlibatan mereka secara penuh terhadap organisasi,

mengekspresikan dan mempekerjakan diri secara fisik, kognitif dan

emosi selama mereka bekerja dalam organisasi atau perusahaan tersebut

(Khan, 1990).

Memasuki periode Wave 2 (tahun 2000-2005), para peneliti mulai

banyak mendefinisikan employee engagement dan merumuskan skala

yang dapat mengukur tinggi-rendahnya engagament karyawan.

Gelombang ini, juga ditandai dengan meningkatnya minat dari

badan-badan profesional dalam mendefinisikan employee engagement (Welch,

2011). Diawali oleh Rothbard (2001) yang mendefinisikan employee

engagement sebagai kehadiran psikologis yang melibatkan dua

komponen penting, yaitu attention dan absorption. Attention merupakan

keterlibatan kognitif dan jumlah waktu yang dihabiskan anggota

(57)

Sedangkan absorption merupakan perasaan tertarik dan terpikat

terhadap peran dan pekerjaannya, dan mengarah kepada intensitas

anggota karyawan untuk berfokus terhadap pekerjaan tersebut.

Selain itu, Maslach, Schaufeli dan Leiter (2001) memunculkan

istilah job engagement yang merupakan sebuah aspek psikologis yang

dipicu oleh beberapa hal yaitu, energi (energy), pengaruh (involvement)

dan kemampuan (efficacy) dan merupakan kebalikan dari tiga dimensi

burnout yaitu exhaustion, cynicism, dan inefficacy. Penelitian

menunjukkan bahwa employee engagement terdiri kombinasi antara

variabel kognitif dan emosional yang mempengaruhi seseorang di

tempat kerja (Harter, Schmidt & Hayes, 2002).

Schaufeli dan Bakker (2004) mendefinisikan engagement sebagai

keadaan pikiran positif dan memenuhi yang berkaitan dengan

pekerjaan, yang ditandai dengan semangat (vigour), dedikasi

(dedication), dan penyerapan (absorption). Definisi ini menjadi cukup

berpengaruh terhadap perkembangan konsep engagement karena

dipandang memiliki kemiripan konsep dan fokus yang sama seperti

yang dikemukan oleh Kahn; kognitif dengan penyerapan, emosi dengan

dedikasi serta fisik dengan semangat berkegiatan (Welch, 2011).

Pada periode Wave 3 (tahun 2006-2010), diawali dengan catatan

Saks (2006) mengenai konsep engagement yang muncul pada literatur

burnout, menganggap engagement sebagai perilaku yang berkebalikan

(58)

engagement melihat bagaimana karyawan terlibat dalam pekerjaan

maupun organisasi mereka dan merasa mampu mengerjakan

tugas-tugas mereka dengan baik (Rana, Ardichvili & Tkachenko, 2014).

Selanjutnya Truss, Soane, Edwards, Wisdom, Croll dan Burnett (2006)

mengoperasionalisasikan employee engagement, yaitu keadaan

psikologis yang “semangat untuk bekerja”. Mereka juga

mengidentifikasi tiga dimensi employee engagement yang serupa

dengan Kahn (1990) yaitu, keterlibatan emosional (emotional

engagement), keterlibatan kognitif (cognitive engagement) dan

keterlibatan fisik (physical engagement).

Macey and Schneider (2008) mendefinisikan employee

engagement sebagai sebuah keadaan kompleks yang meliputi sifat,

keadaan dan konstruk perilaku serta pekerjaan dan kondisi organisasi

yang mungkin memfasilitasi keadaan dan perilaku keterlibatan.

Menutup rangkaian perkembangan pada wave 3, Albrecht (dalam

Welch, 2011) memberikan sumbangan definsisi employee engagement

yaitu sebuah keadaan psikologis kerja yang positif dari karyawan

berupa keinginan tulus untuk berkontribusi terhadap keberhasilan

organisasi.

Berdasarkan penjabaran dari pengembangan konsep dan definisi

tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa employee engagement

merupakan sebuah keadaan dimana karyawan terlibat secara fisik,

(59)

bagaimana karyawan menjalankan perannya dan menyelesaikan

pekerjaannya dengan baik, demi mencapai tujuan organisasi.

Singkatnya, employee engagement merupakan perasaan tentang sejauh

mana individu berada dan terlibat dalam perusahaan atau organisasi

tempat mereka bekerja.

Employee engagement dapat diklasifikasikan kedalam dua jenis,

yaitu work engagement dan organizational engagement (Guest, 2014;

Saks, 2006). Work engagement merupakan perasaan positif secara

penuh terhap sebuah pekerjaan. Hal ini ditandai dengan adnya

keinginan dan kesediaan karyawan untuk melakukan usaha yang lebih

terhadap suatu pekerjaan tertentu, hingga ia lupa waktu karena terlalu

asik dengan pekerjaannya. (Schaufeli et al. 2002; Guest, 2014; Saks,

2006). Saks (2006) memperluas konsep engagement sehingga dapat

mencakup job engagement dan organization engagement. Karyawan

yang memiliki rasa organizational engagement lebih memiliki orientasi

terhadap sebuah perusahaan atau organisasi dan mengacu pada tujuan

dari organisasi itu sendiri (Guest, 2014).

2. Aspek Employee Engagement

Dalam berbagai literatur dijelaskan bahwa employee engagement

merupakan variabel dasar yang mempengaruhi sikap dan perilaku yang

berhubungan dengan pekerjaan (Kristen, Garza & Slaughter, 2011).

(60)

organisasi, mengekspresikan dan mempekerjakan diri secara fisik,

kognitif dan emosi selama bekerja dalam organisasi atau sebuah

perusahaan (Rana et al. 2014; Khan, 1990).

Engagement juga merupakan perasaan positif, fulfilling dan konsep

yang berhubungan dengan pemikiran serta keterlibatan dalam

organisasi atau pekerjaan yang ditandai oleh tiga aspek dari

engagament yaitu; semangat (vigour), dedikasi (dedication), dan

penyerapan (absorption) (Schaufeli, Bakker & Salanova, 2004).

a. Aspek Semangat (vigour)

Aspek vigour dilihat dari tingginya tingkat energi dan

ketahanan mental seorang karyawan saat bekerja. Karyawan

memiliki kemauan untuk berinvestasi dan ketekunan, meskipun

mereka berada dalam atau menghadapi kesulitan (Schaufeli et al.

2002). Aspek ini memiliki keserupaan dengan behavioural

engagement (Kahn, 1990) yang merupakan manifestasi dari

cognitive engagament dan emotional engagement. Dijelaskan

bahwa aspek ini dapat meningkatkan usaha karyawan dalam

mencapai tujuan organisasi (Macey & Schneider, 2008; Shuck &

Gambar

Tabel 4.10 Uji Hipotesis 1 Regresi antara Employee Engagement
Gambar 2.1.  Model Penelitian…………………………………………45
Tabel 2.1
Gambar 2.1.
+7

Referensi

Dokumen terkait