1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sejahtera yang tidak hanya bebas dari penyakit dan kecacatan tetapi mencakup kesehatan fisik, mental dan sosial (Triyono &
Herdiyanto, 2018). Sehingga keadaan sehat memungkinkan seseorang hidup produktif baik secara sosial dan ekonomis (Wardhani & Paramita, 2016). Untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, upaya yang dilakukan yaitu dengan datang ke sarana kesehatan, adanya pembangunan sarana kesehatan berguna untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera sehingga dapat meningkatkan produktifitas masyarakat tersebut, pelayanan kesehatan yang baik akan menciptakan masyarakat yang sehat disegala kawasan perkotaan maupun pedesaan (Nahar, 2017). Upaya kesehatan juga diwujudkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, meningkatkan angka kesadaran pentingnya kesehatan, keinginan, dan kemauan setiap orang untuk hidup sehat (Eliana & Sumiati, 2017). Salah satu sarana kesehatan penunjang yang dimaksud yaitu Rumah Sakit.
Rumah sakit adalah institusi pelayanan medis yang menyediakan pelayanan kesehatan pribadi secara lengkap, termasuk layanan bagian rawat inap, rawat jalan, dan rawat darurat (Permenkes, 2016). Di dalam rumah sakit terdapat pelayanan kefarmasian yang merupakan pelayanan secara langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berhubungan dengan sediaan farmasi, dengan memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Terdapat pengaturan standar pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit yaitu pedoman untuk tenaga kesehatan dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian, menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian dan melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety) (Permenkes, 2016). Salah satu komponen dasar yang mendukung pelayanan di rumah sakit adalah dalam hal pengobatan.
2 Pengertian obat menurut (Permenkes, 2016) tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, adalah zat atau campuran zat, termasuk produk biologi yang digunakan menyelidiki keadaan fisiologi dan patologi untuk penentuan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, rehabilitasi, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi pada manusia. Peran obat dinilai sebagai unsur yang penting dalam upaya kesehatan. Efektifitas obat terhadap manusia tergantung pada biosis dan kepekaan organ tubuh, tetapi secara umum dosis obat dikelompokkan yaitu dosis bayi,anak-anak,dewasa dan orangtua (Kasibu, 2017). Untuk mendapatkan efektifitas obat, diperlukan sistem pengelolaan obat.
Pengelolaan obat mencakup perencanaan, pengadaan obat, penyimpanan, distribusi, pemusnahan obat, pencatatan dan pelaporan obat, serta evaluasi (Adelheid, 2018). Pengelolaan obat dilakukan oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS). Instalasi farmasi rumah sakit merupakan bagian yang bertanggung jawab atas pengelolaan obat dan melayani seluruh masyarakat dalam memenuhi kesediaan obat-obatan untuk kebutuhan pasien (Rusly, 2016). Salah satu faktor yang mendukung jaminan kualitas obat yaitu penyimpanan obat yang tepat dan sesuai dengan standar yang telah ditentukan sebelumnya. Maka dari itu pengetahuan tenaga kesehatan mengenai penyimpanan obat juga perlu diperhatikan, pengetahuan penting dimiliki oleh seorang professional untuk mencegah adanya kejadian yang tidak diharapakan (Simamora, 2019). Pengetahuan yaitu hasil dari seseorang setelah melakukan penginderaan diantaranya seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan rasa, terhadap suatu objek kemudian didapatkan informasi dalam diri seseorang tersebut, pengetahuan yang didapat akan berbeda dengan yang lain sesuai dengan prespepsi penginderaan masing-masing (Masturoh & T. Anggita, 2018). Dengan dimilikinya pengetahuan oleh tenaga kesehatan terhadap faktor-faktor penting dalam penyimpanan guna menjaga kualiatas obat sehingga dapat menginterprestasikan pengetahuan yang dimilikinya sesuai dengan strandar penyimpanan yang telah ditentukan.
Penyimpanan obat sangat penting demi menjaga keadaan seluruh obat dan dijaga sesuai kondisi lingkungan juga keamanan seperti cahaya, suhu, ventilasi, serta penggolongan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan/bahan medis habis pakai (Rusly, 2016). Sistem penyimpanan obat merupakan kegiatan melindungi obat-
3 obatan agar aman (tidak hilang), bebas dari kerusakan fisik dan kimiawi serta menjaga mutu yang agar selalu terjamin, jika dalam penyimpanan tidak sesuai akan mengakibatkan obat cepat rusak dan juga kadaluwarsa, sehingga sistem penyimpanan memegang peran penting dalam menjaga mutu serta kualitas obat (Munawaroh, 2020). Penyimpanan obat baik di gudang farmasi, depot farmasi, apotek, di ruang rawat inap maupun di ruang penyimpanan lainnya harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Penggunaan dan penyimpanan yang tepat merupakan salah satu faktor keberhasilan terapi, sehingga perlu diperhatikan penyimpanannya.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam hal penyimpanan obat, antara lain memperhatikan bentuk sediaan, obat narkotika dan psikotropika disimpan pada lemari khusus, disusun secara alfabetis, sediaan farmasi yang penampilan dan penamaan memiliki kemiripan Look Alike Sound Alike (LASA) tidak ditempatkan di tempat yang berdekatan serta system pengelolaan obat di Gudang Instalasi Farmasi memakai prinsip First Expire First Out (FEFO) dan Firts In First Out (FIFO) (Asyikin, 2018). Metode FIFO merupakan obat yang baru masuk diletakkan di paling belakang dan mendahulukan obat-obatan yang sudah lebih lama disimpan sedangkan pada metode FEFO yaitu dengan menempatkan obat yang expired datenya lebih lama di belakang obat yang memiliki expired date lebih pendek, serta faktor penting yang juga perlu diperhatikan yaitu faktor lingkungan seperti suhu,kelembaban dan cahaya (Pondaag et al, 2020).
Sediaan dibagi menjadi sediaan steril dan sediaan non steril, sediaan steril diantaranya yaitu injeksi, infus dan juga tetes mata. Sediaan steril injeksi merupakan sediaan yang terbebas dari kontaminasi pirogenik, endotoksin, partikulat, juga sediaan yang stabil secara fisika dan kima, mikrobiologi, isotonis dan juga isohidris (Dewantisari & Musfiroh, 2020). Menurut Farmakope Indonesia Edisi VI (2020) sediaan injeksi berupa obat dalam air yang diberikan secara intravena kemudian dikemas pada wadah 100 ml atau kurang, biasanya menggunakan wadah berupa vial ataupun ampul. Ampul adalah wadah gelas bening yang dengan bagian leher menyempit dan untuk menggunakannya dengan mematahkan leher, kemasan ini berisi dosis tunggal bentuk cair. Furosemide merupakan obat diuretik yang diindikasikan untuk pengobatan edema yang
4 disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, dan penyakit ginjal, termasuk sindrom nefrotik pada orang dewasa maupun anak-anak. Furosemide juga digunakan pada pengobatan hipertensi dengan penggunaan tunggal maupun kombinasi dengan obat diuretik yang lain (Rahayu et al, 2020). Adapun penelitian yang dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2017 didapatkan hasil prevalensi penggunaan furosemide didapatkan memiliki jumlah paling banyak digunakan dalam pengobatan pasien Penyakit ginjal kronik (PGK) sebesar 73,3 % dibandingkan dengan kombinasi keduanya 20% dan spronolakton 6,7%. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa penggunaan obat furosemide menjadi pilihan utama pada pengobatan penyakit ginjal kronik (PGK) di RSUP Dr. M. Djamil Padang (Lestari, 2018).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Hurria & Sakri, 2018) diketahui bahwa pengelolaan penyimpanan obat di Puskesmas Tompobulu berdasarkan penerimaan, pengaturan, pengeluaran, dan stok opname, pencatatan serta pelaporan obat didapatkan presentase rata-rata di atas 50% yang berarti sesuai dengan standar pengelolaan obat yang telah diatur. Adapun penelitian yang dilakukan (Octavia, 2019) didapatkan bahwa sistem penyimpanan obat di Instalasi Farmasi RSI Nashrul Ummah Lamongan memiliki kesesuaian dokumen SPO sebesar 100% yang berarti sangat baik, kesesuaian sarana dan prasarana ruang penyimpanan obat dan BMHP sebesar 77,8% yang berarti baik, dan kesesuaian pengaturan penyimpanan sebesar 79,2% yang berarti baik, sehingga penyimpanan sesuai pada standar penyimpanan yang diterapkan. Selain itu juga terdapat penelitian tentang sistem penyimpanan di Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Kotamadya Pekanbaru (Husnawati et al, 2016) diketahui persentase yang diperoleh yaitu 80% pada parameter persyaratan gudang obat sesuai Depkes RI 2008 dan Depkes RI 2010 dan didapatkan persentase 100%
pada persyaratan penyimpanan obat juga pada parameter persyaratan pencatatan stock obat yang berarti masuk dalam kategori sangat baik.
Rumah sakit RSU Karsa Husada merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah Kota Batu yang memberikan pelayanan kesehatan rawat inap,dan juga bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan obat, peneliti merasa tertarik untuk melakukan riset penelitian di RSU Karsa Husada mengenai tingkat pengetahuan tenaga kesehatan terhadap kemampuaannya dalam menyimpan obat terutama pada
5 kemasan ampul injeksi furosemide di rumah sakit yang dikelolah pemerintah dengan indeks kepuasan masyarakat (IKM) sebesar 75,68% pada survei tahun 2019. Selain itu di RSU Karsa Husada Batu memiliki suhu relatif lebih rendah yaitu dengan suhu udara rata-rata mencapai 12-19 °C karena wilayah Kota Batu terletak di kaki dan lereng pegunungan dan berada pada ketinggian rata-rata 700-1.700 m di atas permukaan laut (Mutia, 2019). Sedangkan suhu pada penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide yaitu 15°-30 °C yang berarti suhu di RSU Karsa Husada Batu dibawah rata-rata suhu pada penyimpanan ampul injeksi furosemide sehingga akan berpengaruh terhadap stabilitas saat penyimpanan.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini yang sesuai, yaitu:
1. Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan tenaga kesehatan dan praktik penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide di RSU Karsa Husada Batu?
2. Bagaimana penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide di RSU Karsa Husada Batu?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Menggambarkan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan dan praktik penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide di RSU Karsa Husada Batu.
2. Mengetahui bagaimana penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide di RSU Karsa Husada Batu.
1.4 Hipotesis
H0 : 1. Tingkat pengetahuan tenaga kesehatan di RSU Karsa Husada Batu cukup.
2. Praktik penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide di RSU Karsa Husada Batu salah.
H1 : 1. Tingkat pengetahuan tenaga kesehatan di RSU Karsa Husada Batu tinggi dan rendah.
2. Praktik penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide di RSU Karsa Husada Batu benar.
6 1.5 Manfaat Dilakukan Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Bagi peneliti memiliki manfaat mampu memberikan informasi tentang pengetahuan dan ilmu, serta pengalaman dalam proses penelitian. Sehingga diharapkan kedepannya dan nantinya penelitian ini dapat dijadikan sumber acuan bagi peneliti selanjutnya atau peneliti lainnya dan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh dalam penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide di RSU Karsa Husada Batu.
1.4.2 Bagi Rumah Sakit
Manfaat penelitian ini bagi rumah sakit adalah kedepannya dapat memperbaiki proses pelayanan informasi penyimpanan kemasan ampul injeksi furosemide di rumah sakit, menambah wawasan baru serta mengedukasi tentang cara penyimpanan sediaan farmasi bagi pasien.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Manfaat dalam penelitian ini kedepannya dapat memberikan wawasan, manfaat dan dapat dijadikan referensi untuk mahasiswa yang melakukan penelitian selanjutnya serta bagi mahasiswa institusi pendidikan lainnya.
7 1.6 Kebaruan Penelitian
Tabel 1.1 Kebaruan Penelitian
Nama Judul Tujuan Lokasi Rancangan Indikasi Pengumpulan data
Sulistyo Watiningsih (2017)
Evaluasi Penyimpanan Obat Di Gudang Instalasi Farmasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penyimpanan obat di gudang instalasi farmasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping
Yogyakarta.
Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Gamping Yogyakarta
Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional secara
deskriptif.
-Penyimpanan obat
- Persentase obat kadaluarsa
Wawancara dan data kuantitatif diperoleh melalui penelusuran dari Sistem Informasi Manajemen, laporan tahunan penggunaan obat
Devi Ristian Octavia (2019)
Evaluasi Penyimpanan Obat Di Instalasi Farmasi Rsi Nashrul Ummah
Lamongan Berdasarkan Standart Nasional Akreditasi Rs
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kesesuaian sistem penyimpanan obat berdasarkan Standar Akreditasi Nasional Rumah Sakit (SNARS).
RSI Nashrul Ummah Lamongan
Penelitian observasional yang bersifat deskriptif
-Kesesuaian penyimpanan obat di Instalasi Farmasi
Pengisian lembar check list dengan pengamatan dan wawancara bebas terpimpin
Nova Lestari (2018)
Evaluasi Penggunaan Obat Diuretik Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Di Instalasi Rawat Inap Penyakit Dalam Rsup Dr. M.
Djamil Padang
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik demografi pasien, mengkaji pasien stadium PGK berdasarkan
Rsup Dr. M.
Djamil Padang
Penelitian deskriptif analitik
- Penggunaan obat diuretik - Prevalensi Obat Furosemid
Pengambilan data secara retrospektif
8 perhitungan GFR,
pola penggunaan obat, ketepatan penggunaan obat diuretik pada pasien PGK di instalasi Rawat Inap Penyakit Dalam RSUP Dr. M.
Djamil Padang tahun 2017
Mohammad Khoirurrizza, Chreisye K.F Mandagi, Febi K. Kolibu (2019)
Analisis Proses Penyimpanan Obat Di Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado
Tujuan penelitian ini secara umum untuk mengetahui proses penyimpanan obat di Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado
Puskesmas Teling Atas Kecamatan Wanea Kota Manado
Metode penelitian yang
menggunakan penelitian kualitatif.
-Penyimpanan obat injeksi
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara
mendalam, observasi langsung dan
pemeriksaan dokumen dibantu dengan alat perekam suara.