• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN Jurnal Akuntanika, Vol. 5, No. 1, Januari - Juni 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ISSN Jurnal Akuntanika, Vol. 5, No. 1, Januari - Juni 2019"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2407 - 1072 Jurnal Akuntanika, Vol. 5 , No. 1, Januari - Juni 2019

112

PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA

AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP) PADA PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN DI RUMAH LELE “RULE” DESA MANAH RESMI KECAMATAN MUARA BELITI

KABUPATEN MUSI RAWAS

Dewi Anggraini1, Andra Agtu Alfrian2

Jurusan Akuntansi SekolahTinggi Ilmu Ekonomi Musi Rawas Email : [email protected]

Abstract

The problem found in RULE is that the financial statements presented in “RULE” are still simple, they only cover income and expenses, the researches are interested in applying SAK ETAP in the preparation of financial statements in RULE. This study aims to find out the application of financial accounting standards without public accountability (SAK ETAP) in the preparation of financial statements in “RULE” in 2017. Research time is calculated from January 2018 to September 2018 at the Rumah Lele “RULE”. Researchers use this type of qualitative research.

Data sources obtained are internal data and primary data are also secondary and use interviews and document analysis methods in collection techniques. The preparation of the financial statements in “RULE” only provide sales and purchase data by RULE. To complete the financial report data in “RULE”, the researcher conducted a written interview and the reseacher presented the preparation of financial statements for industrial/manufacturing companies, especially in

“RULE” includes report on cost of goods manufactured, report on general ledger, ledger, trial balance, adjusting journal entry, cost of goods sold, balance sheets up to financial statements based on SAK ETAP, namely Balance Sheet, Income Statements, Cash Flow Statement, Statemen of Changes in Equity, and Notes to Financial Statements. The researcher recommends that the financial accounting be applied to RULE by referring to SAK ETAP so that the financial statements become more accurate and complete and for the following year it is expected to have implemented SAK ETAP in its financial statements.

Keywords : Financial Statements SAK ETAP 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara berkembang, lebih menitikberatkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik. Di era globalisasi, berbagai jenis usaha tersebut dituntut untuk lebih maju dan dapat bertahan dalam menjalankan jenis usahanya (Aditya & Nur:

2014:1). Salah satunya adalah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang mempunyai peranan yang sangat esensial bagi kondisi perekonomian negara Indonesia. Dengan adanya UKM (Usaha Kecil dan Menengah) peluang kerja semakin bertambah sehingga dapat mengurangi angka pengangguran (Aditya & Nur: 2014:1). Yang dimaksud dengan usaha mikro, kecil, dan menengah

(UMKM) adalah usaha produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha di semua sektor ekonomi (Tambunan: 2017:1).

Laporan Keuangan adalah tolok ukur dalam menilai kesehatan perusahaan. IAI (2009:2) menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu.

Laporan keuangan harus dapat di interpretasikan oleh para pihak yang memiliki

(2)

113

kepentingan (interested party) dengan

persepsi yang sama. Untuk itu perlu adanya suatu standar akuntansi yang mengatur penyajian laporan keuangan suatu perusahaan.

Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dikeluarkan pada tanggal 17 Juli 2009 oleh Ikatan Akuntan Indonesia. SAK ETAP diperuntukkan bagi entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal.

UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) atau UKM termasuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan. SAK ETAP memberikan kemudahan bagi UMKM atau

UKM dibandingkan SAK Umum yang memiliki ketentuan pelaporan yang lebih kompleks.

Rumah Lele “RULE” merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri, Rumah Lele “RULE” tergolong Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam bentuk Perusahaan Perorangan (Po) di Desa Manahresmi, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas. Berdiri pada tanggal 19 Februari 2013 dengan struktur organisasi kelompok pengolahan ikan lele. Produk dari Rumah Lele “RULE” yaitu abon lele, stik tulang lele, lele kering, lele asap, peyek teri, dan lele presto dengan menggunakan bahan

baku yaitu ikan lele.

Tabel 1

Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE”

Periode Tahun 2017

Pendapatan Pengeluaran

No. Keterangan Jumlah (Rp) No. Keterangan Jumlah (Rp)

1 Abon Lele 60.660.000 1 Ikan Lele 20.860.000

2 Stik Tulang Lele 22.532.000 2 Bahan Resep 8.223.000

3 Lele Asap 20.153.000 3 Minyak Sayur 5.066.000

4 Lele Kering 14.844.000 4 Gas 2.620.000

5 Peyek Teri 11.900.000 5 Plastik 4.123.000

6 Lele Presto 32.461.000 6 Stiker 1.468.000

7 Tenaga Kerja 31.500.000 8 Transportasi 10.675.000

9 Listrik 1.855.000

Jumlah 162.550.000 Jumlah 86.390.000

Jumlah pendapatan bersih tahun 2017 = Rp.76.160.000 Sumber : Laporan Keuangan RULE

(3)

ISSN 2407 - 1072 Jurnal Akuntanika, Vol. 5 , No. 1, Januari - Juni 2019

114

Berdasarkan tabel tersebut, dapat

diketahui bahwa Rumah Lele “RULE dalam penyusunan laporan keuangannya masih dalam bentuk sederhana yaitu hanya mengenai pendapatan dan pengeluaran perusahaan dan belum sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Oleh karena itu, dengan adanya standar akuntansi, peneliti ingin mengajukan penerapan laporan keuangan pada Rumah Lele “RULE” dengan menggunakan standar akuntansi yang berlaku (SAK-ETAP) untuk mempermudah dalam menyajikan laporan keuangan.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, maka permasalahan yang hendak diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntabilitas publik (sak etap) pada penyusunan laporan keuangan di Rumah Lele

“RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada Penyusunan Laporan Keuangan di Rumah Lele “RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas.

2. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian SAK ETAP

Menurut (IAI, 2016:1) Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik.

Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang:

a. Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan

b. menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal.

Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.

2.2 Prinsip-Prinsip Dasar SAK ETAP Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2016:8) persyaratan untuk pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban, penghasilan dan beban dalam SAK ETAP didasarkan pada prinsip pervasif (pengakuan dan pengukuran berpengaruh luas) dari Kerangka Dasar Penyajian dan Pengukuran Laporan Keuangan. Menurut IAI (2016:29) jika SAK ETAP tidak secara spesifik mengatur suatu transaksi, peristiwa atau kondisi lainnya, maka manajemen harus menggunakan pertimbangannya (judgement) untuk mengembangkan dan menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang menghasilkan informasi yang:

a. Relevan bagi pemakai untuk kebutuhan pengambilan keputusan ekonomi, dan b. Andal yaitu dalam laporan keuangan

yang;

(a) Menyajikan dengan jujur posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas dari suatu entitas.

(b) Mencerminkan substansi ekonomi dari transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya, serta tidak hanya mencerminkan bentuk hukumnya.

(c) Netral yaitu bebas dari bias.

(d) Mencerminkan kehati-hatian.

(e) Bersifat lengkap dalam suatu hal yang material.

2.3 Fungsi dan Tujuan SAK ETAP a. Fungsi SAK ETAP

Menurut (Norkamsiah dkk. 2016: 155) SAK ETAP penting diperhatikan bagi pihak UKM agar pengelolaan bisnis lebih efektif, efisien, dan akurat. Dengan diterapkannya SAK ETAP oleh UKM, maka UKM tentu akan memiliki data (keuangan) akurat yang amat berguna bagi pelaku UKM dalam upaya lebih meningkatkan produktivitas, efektifitas, dan efisiensi.

b. Tujuan SAK ETAP

Menurut (Aditya & Nur: 2014:1) tujuan dari SAK ETAP adalah untuk memberikan kemudahan bagi entitas skala kecil dan menengah. SAK yang berbasis IFRS (SAK Umum) ditujukan bagi entitas yang mempunyai tanggung jawab publik signifikan dan entitas yang banyak melakukan kegiatan lintas

(4)

115

negara. SAK umum tersebut rumit untuk

dipahami serta diterapkan bagi sebagian besar entitas usaha skala kecil dan menengah di Indonesia. Beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk suatu entitas dibandingkan dengan SAK Umum dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks.

2.4 Indikator SAK ETAP

Adapun indikator SAK ETAP yaitu pengakuan unsur-unsur laporan keuangan, pengukuran unsur-unsur laporan keuangan, prinsip pengakuan dan pengukuran berpengaruh luas (pervasif), dasar akrual, pengakuan dalam laporan keuangan, dan saling hapus (IAI, 2016: 7).

2.5 Keterkaitan SAK ETAP terhadap Laporan Keuangan

Beberapa komponen dari laporan keuangan SAK ETAP yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal atau ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan saling berkaitan satu sama lain. Hal tersebut memang demikian adanya, karena pada dasarnya laporan keuangan akan relevan jika semua komponen tersebut dibuat dengan semestinya dan tidak terjadi kesalahan.

2.6 Pengertian Laporan Keuangan

(Aditya & Nur. 2014: 3) menguraikan menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam SAK ETAP (2009), laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan, dan laporan keuangan yang lengkap meliputi:

a. Neraca

Neraca merupakan bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada akhir periode tersebut.

Neraca minimal mencakup pos-pos berikut: kas dan setara kas; piutang usaha dan piutang lainnya; persediaan; properti investasi; aset tetap; aset tidak berwujud;

utang usaha dan utang lainnya; aset dan kewajiban pajak; kewajiban diestimasi;

ekuitas.

b. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi menyajikan hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas.

Laba sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar untuk pengukuran lain, seperti tingkat pengembalian investasi atau laba per saham. Unsur-unsur laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan pengukuran laba adalah penghasilan dan beban. Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagai berikut:

pendapatan; beban keuangan; bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas; beban pajak; laba atau rugi neto.

c. Laporan Perubahan Ekuitas

Dalam laporan ini menunjukkan seluruh perubahan dalam ekuitas untuk suatu periode, termasuk di dalamnya pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode tersebut, pengaruh kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui dalam periode tersebut dan perubahan ekuitas selain perubahan yang timbul dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik termasuk jumlah investasi, penghitungan dividen, dan distribusi lain ke pemilik ekuitas selama satu periode.

d. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas entitas, yang menunjukkan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktiviras operasi, investasi, dan pendanaan.

e. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya. Catatan atas laporan keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan informasi pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

(5)

ISSN 2407 - 1072 Jurnal Akuntanika, Vol. 5 , No. 1, Januari - Juni 2019

116

Berdasarkan beberapa sumber

tersebut, dapat diketahui bahwa laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang berbentuk catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut yang digunakan sebagai media untuk berkomunikasi tentang informasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan kepada pemakainya sebagai salah satu bahan dalam pengambilan keputusan. Selain itu laporan keuangan juga berfungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban pihak manajemen.

2.7 Tahapan Laporan Keuangan

Adapun tahapan Laporan Keuangan menurut Akifa P. Nayla (2018) dalam situs (http://keuanganlsm.com/proses-menyusun- laporan-keuangan/) yaitu dalam menyusun laporan keuangan, setidaknya ada empat proses yang harus dilalui, yaitu aktivitas pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan laporan. Dalam ilmu akuntansi, keempat proses tersebut merujuk pada sebuah siklus yang disebut “siklus akuntansi”.

2.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laporan Keuangan

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia, dikutip dari buku Analisis Laporan Keuangan (Jumingan, 2014:5), laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban kepada pihak ekstern (luar perusahaan) harus disusun sedemikian rupa sehingga:

a. Memenuhi kebutuhan untuk:

1) Memberikan informasi keuangan secara kuantitatif mengenai perusahaan tertentu, guna memenuhi keperluan para pemakai dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi.

2) Menyajikan informasi yang dapat dipercaya mengenai posisi keuangan dan perubahan kekayaan bersih perusahaan.

3) Menyajikan informasi keuangan yang dapat membantu para pemakai dalam menaksir kemampuan memperoleh laba ari perusahaan.

4) Menyajikan informasi lain yang diperlukan mengenai perubahan dalam harta dan kewajiban, serta

mengungkapkan informasi lain yang sesuai dengan keperluan para pemakai.

b. Mencapai mutu sebagai berikut:

1) Relevan

2) Jelas dan dapat dimengerti 3) Dapat diuji kebenarannya

4) Mencerminkan keadaan perusahaan menurut waktunya secara tepat

5) Dapat dibandingkan 6) Lengkap

7) Netral

2.9 Keterkaitan Laporan Keuangan terhadap SAK ETAP

Laporan keuangan sangat penting diterapkan dalam dunia usaha agar pencatatan keuangan berjalan dengan baik, kegiatan usaha yang pencatatan laporan keuangannya baik usahanya juga akan berkembang. Laporan keuangan mempunyai aturan sendiri-sendiri sesuai besarnya kegiatan usaha yang dijalankan.

Lalu dengan munculnya beberapa standar akuntansi keuangan yang berlaku, salah satunya yaitu SAK ETAP yang diperuntukkan untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik. SAK ETAP inilah yang mengatur tentang laporan keuangan dari entitas tersebut dengan beberapa komponen yaitu Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan.

3. METODOLOGIPENELITIAN 3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada penyusunan laporan keuangan di Rumah Lele

“RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas.

3.2 Rancangan Penelitian

Masalah yang terdapat pada Rumah Lele “RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas adalah belum diterapkannya penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP.

Penyusunan keuangan yang dibuat masih dalam bentuk sederhana yaitu hanya mengenai pendapatan dan pengeluaran perusahaan. Dalam penelitian ini, peneliti

(6)

117

hanya membahas masalah penerapan SAK

ETAP pada penyusunan laporan keuangan di Rumah Lele “RULE”. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan SAK ETAP pada penyusunan laporan keuangan di Rumah Lele

“RULE” pada periode tahun 2017.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif.

Sumber data yang diperoleh yaitu data internal dan data primer juga sekunder serta menggunakan metode wawancara dan analisis dokumen atau teknik dokumentasi dalam teknik pengumpulan data.

3.3 Jenis Penelitian Metode

Peneliti menggunakan penelitian kualitatif untuk memberikan keterangan atau penjelasan mengenai penerapan SAK ETAP pada penyusunan laporan keuangan di Rumah Lele “RULE”.

3.4 Data dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan sumber data internal yang berasal dari bagian dalam perusahaan dan menggunakan data primer dan data sekunder yang didapat dari catatan berupa profil perusahaan maupun laporan keuangan periode tahun 2017 di Rumah Lele

“RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas.

3.5 Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

(Wiratna Sujarweni, 2015: 93) menguraikan berikut ini adalah beberapa teknik dan prosedur pengumpulan data penelitian yang biasa digunakan yang diadaptasi dari buku Asmani (2011) sebagai berikut:

a. Tes

b. Wawancara c. Observasi

d. Kuesioner atau Angket (Questionairre) e. Survey (survei)

f. Analisis Dokumen

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara dan analisis dokumen atau bisa disebut juga teknik dokumentasi yang bersumber dari dokumen-dokumen berupa catatan atau laporan keuangan periode tahun 2017 di Rumah Lele “RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas.

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Data Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE” Desa Manahresmi

Berdasarkan hasil penelitian, laporan keuangan yang dibuat pada Rumah Lele

“RULE” Desa Manahresmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas masih sederhana, hanya terdapat laporan pendapatan dan pengeluaran seperti yang terlampir di latar belakang masalah. Dengan demikian, perlu dibuatnya penyusunan laporan keuangan yang akurat yaitu laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Untuk melengkapi data pada penelitian ini, peneliti melakukan wawancara tertulis. Adapun pertanyaan yang diajukan yaitu tentang profil perusahaan dan juga tentang laporan keuangan dari Rumah Lele “RULE” selama tahun 2017.

Berikut ini adalah rekapitulasi dari total data pendapatan dan pengeluaran RULE selama tahun 2017:

(7)

ISSN 2407 - 1072 Jurnal Akuntanika, Vol. 5 , No. 1, Januari - Juni 2019

118

Tabel 2

Rumah Lele “RULE”

Jumlah Pendapatan dan Pengeluaran untuk Periode Tahun 2017

(dalam rupiah)

No. Keterangan Pendapatan Pengeluaran

1. Januari 2017 12.793.000 6.974.500

2. Februari 2017 10.279.000 6.036.000

3. Maret 2017 13.095.000 6.770.000

4. April 2017 14.194.000 7.325.000

5. Mei 2017 12.953.000 7.309.000

6. Juni 2017 12.922.000 7.202.500

7. Juli 2017 13.843.000 7.322.000

8. Agustus 2017 14.341.000 7.509.000

9. September 2017 13.490.000 7.729.000

10. Oktober 2017 16.417.000 8.328.000

11. November 2017 13.601.000 7.352.000

12. Desember 2017 14.622.000 6.533.000

Jumlah 162.550.000 86.390.000

Sumber : Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE” 2017

(8)

119

Jumlah pendapatan setiap bulannya

diperoleh dari penjualan Abon Lele Stik Tulang Lele, Lele Asap, Lele Kering, Peyek Teri, dan Lele Presto. Adapun jumlah pengeluaran diperoleh dari pembelian Ikan Lele, Bahan Resep, Minyak Sayur, Gas, Plastik, Stiker, Tenaga Kerja, Transportasi sebesar 880.000, dan Listrik.

Dalam laporan keuangan yang tersaji di Rumah Lele “RULE” tersebut, masih terdapat kekurangan yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Maka untuk melengkapi data pada laporan keuangan, peneliti melakukan wawancara tertulis. Adapun hasil wawancara tertulis adalah sebagai berikut:

1. Q = Berapa total nilai kas di perusahaan dan kas di bank?

A = Kas perusahaan sebesar Rp.20.250.000 dan kas di bank sebesar Rp.42.410.000.

2. Q = Berapa modal pemilik untuk kegiatan usaha di “RULE”?

A = Rp.115.000.000.

3. Q = Berapa total nilai dari peralatan, gedung, dan tanah di “RULE”?

A = Peralatan sebesar Rp.10.000.000, gedung sebesar Rp.75.000.000, dan tanah sebesar Rp.30.000.000.

4. Q = Berapa jumlah piutang dan utang usaha di “RULE”?

A = Untuk piutang Rp.6.500.000, sedangkan utang tidak ada.

5. Q = Berapa nilai dari persediaan bahan baku awal dan akhir tahun 2017?

A = Persediaan bahan baku awal Rp.1.500.000, dan persediaan bahan baku akhir Rp.1.200.000.

6. Q = Berapa nilai dari persediaan barang dalam proses awal dan akhir tahun?

A = Persediaan barang dalam proses awal Rp.3.000.000 dan persediaan barang dalam proses akhir Rp.2.000.000.

7. Q = Berapa nilai persediaan barang jadi awal dan akhir tahun 2017?

A = Persediaan barang jadi awal Rp.2.500.000 dan persediaan barang jadi akhir Rp.2.000.000.

8. Q = Apakah ada investor dari pihak luar pada kegiatan usaha “RULE”?

A = Tidak ada.

9. Q = Berapa jumlah tenaga kerja di

“RULE”?

A = 12 orang.

4.1.2 Tahapan Penyusunana Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dan dipadukan oleh laporan keuangan yang tersaji di Rumah Lele “RULE”, peneliti membuat tahapan penyusunan laporan keuangan Rumah Lele “RULE” sebagai berikut:

(9)

ISSN 2407 - 1072 Jurnal Akuntanika, Vol. 5 , No. 1, Januari - Juni 2019

120

Tabel 3

Rumah Lele “RULE”

Saldo Akhir Bulan November 2017 (dalam rupiah)

Keterangan Debit Kredit

Kas 54.571.000 -

Piutang 6.500.000 -

Persediaan bahan baku 1.500.000 -

Persediaan barang dalam proses 3.000.000 -

Persediaan barang jadi 2.500.000 -

Tanah 30.000.000 -

Peralatan 10.000.000 -

Akumulasi penyusutan peralatan - -

Bangunan 75.000.000 -

Akumulasi penyusutan bangunan - -

Modal - 115.000.000

Penjualan - 147.928.000

Pembelian 24.390.000 -

Biaya bahan penolong 7.849.000 -

Biaya tenaga kerja langsung 28.900.000 -

Beban listrik 1.645.000 -

Beban gas 2.375.000 -

Beban plastik dan stiker 5.123.000 -

Beban transportasi 9.575.000

Beban penyusutan peralatan - -

Beban penyusutan bangunan - -

Total 262.928.000 262.928.000

Sumber: Data Diolah Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE” 2017 dan Wawancara Tabel tersebut menyajikan seluruh

saldo yang diperoleh dari laporan keuangan dan wawancara tertulis di Rumah Lele

“RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas terhitung dari Januari 2017 hingga November 2017.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik

Dalam menyusun laporan keuangan terdapat standar dalam penyusunannya. Dasar atau standar ini digunakan agar seluruh laporan keuangan perusahaan berada dalam satu acuan dan dapat dimengerti. Untuk standar akuntansi keuangan pada penyusunan laporan keuangan di Rumah Lele “RULE”, peneliti menggunakan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik atau yang disebut SAK ETAP. Dalam SAK ETAP disebutkan bahwa laporan keuangan terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan.

4.2.2 Laporan Keuangan Rumah Lele

“RULE”

Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menyajikan posisi keuangan suatu perusahaan Dalam teori, laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Sedangkan laporan keuangan yang sudah tersaji di Rumah Lele

“RULE” masih sederhana seperti yang terlampir di latar belakang masalah dan belum memenuhi syarat untuk standar akuntansi entitas tanpa akuntabilitas publik (SAK ETAP).

Berikut ini adalah laporan keuangan Rumah Lele “RULE” menurut SAK ETAP yang telah diolah dari data laporan keuangan di Rumah Lele “RULE” dan dilengkapi dengan wawancara tertulis:

1. Laporan Laba Rugi

Laporan Laba Rugi melaporkan pendapatan dan beban selama periode tertentu. Unsur-unsur laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan pengukuran laba adalah penghasilan dan beban.

(10)

121

Tabel 4

Rumah Lele “RULE”

Laporan Laba Rugi Per 31 Desember 2017

(dalam rupiah)

Penjualan 162.550.000 -

Potongan penjualan - -

Penjualan bersih 162.550.000

Beban pokok penjualan:

Biaya bahan baku:

Persediaan bahan baku (awal) 1.500.000 - -

Pembelian 25.926.000 - -

Biaya angkut pembelian - - -

Potongan pembelian - - -

Retur pembelian - - -

Bahan baku yg siap diproduksi - 27.426.000

Persediaan bahan baku (akhir) - (1.200.000)

Biaya bahan baku - 26.226.000

Biaya tenaga kerja langsung - 31.500.000

Biaya overhead pabrik:

Biaya bahan penolong 8.223.000 - -

Biaya tenaga kerja tdk langsung - - -

Beban gas 2.620.000 - -

Beban plastik dan stiker 5.591.000 - -

Beban penyusutan peralatan 1.000.000 - -

Beban penyusutan bangunan 3.750.000 - -

Beban listrik 1.855.000 - -

Jumlah biaya overhead pabrik 23.039.000 -

Biaya produksi 80.765.000 -

Persediaan barang dalam proses (awal)

3.000.000 -

Persediaan barang dalam proses total

83.765.000 -

Persediaan barang dalam proses (akhir)

(2.000.000) -

Harga pokok produksi 81.765.000 -

Persediaan barang jadi (awal) 2.500.000 -

Persediaan barang jadi siap dijual 84.265.000 -

Persediaan barang jadi (akhir) (2.000.000) -

Beban pokok penjualan 82.265.000

Laba kotor 80.285.000

Beban operasi:

Beban transportasi 10.675.000

Total beban operasi 10.675.000

Laba bersih 69.610.000

Sumber : Data Diolah Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE” 2017

(11)

ISSN 2407 - 1072 Jurnal Akuntanika, Vol. 5 , No. 1, Januari - Juni 2019

122

Pada tabel laporan laba rugi tersebut,

penjualan sebesar Rp.162.550.000 diperoleh dari hasil penjualan abon lele, stik tulang lele, lele asap, lele kering, peyek teri, dan lele presto. Kemudian ada persediaan bahan baku awal sebesar Rp.1.500.000, pembelian sebesar Rp.25.926.000, persediaan bahan baku akhir sebesar Rp.1.200.000, biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp.31.500.000. Untuk biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong sebesar Rp.8.223.000, beban gas Rp2.620.000, beban plastik dan stiker Rp.5.591.000, beban penyusutan peralatan Rp.1.000.000, beban penyusutan bangunan Rp.3.750.000, dan beban listrik Rp.1.855.000 dengan jumlah Rp.23.039.000. Persediaan barang dalam proses awal sebesar Rp.3.000.000 dan persediaan barang dalam

proses akhir Rp.2.000.000 kemudian diperoleh harga pokok produksi sebesar Rp.81.765.000 . Persediaan barang jadi awal Rp.2.500.000 dan persediaan barang jadi akhir Rp.2.000.000 kemudian diperoleh beban pokok penjualan Rp.82.265.000 dan laba kotor Rp.80.285.000. Untuk beban operasi terdiri dari beban transportasi dengan jumlah Rp.10.675.000 dan diperoleh laba bersih Rp.62.610.000.

2. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan perubahan ekuitas yaitu pemilik melaporkan perubahan-perubahan yang terjadi pada ekuitas/modal pemilik selama periode waktu tertentu. Periode waktu yang sama dengan periode waktu yang dilaporkan dalam laporan laba rugi.

Tabel 5 Rumah Lele “RULE”

Laporan Perubahan Ekuitas Per 31 Desember 2017

(dalam rupiah)

Keterangan Jumlah

Modal 115.000.000

Laba 69.610.000

Prive -

Saldo, 31 Des 2017 184.610.000

Sumber: Data Diolah Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE” 2017

Pada tabel laporan perubahan ekuitas tersebut, diperoleh modal sebesar Rp.115.000.000, untuk dividen tidak ada.

Kemudian laba tahun berjalan sebesar Rp.69.610.000 dan terakhir saldo akhir tahun 2017 dengan total Rp.184.610.000.

3. Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas memberikan informasi mengenai penerimaan kas dan pembayaran-pembayaran kas selama satu periode. Laporan arus kas melaporkan:

1. Pengaruh kas dari operasi selama satu periode

2. Transaksi-transaksi pendanaannya 3. Kenaikan atau penurunan bersih kas

sepanjang periode

4. Jumlah kas akhir periode

(12)

123

Tabel 6

Rumah Lele “RULE”

Laporan Arus Kas Per 31 Desember 2017

(dalam rupiah) Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Penerimaan Kas:

Penerimaan Kas dari Penjualan - 149.050.000

Pengeluaran Kas:

Pembelian 25.926.000 -

Biaya Bahan Penolong 8.223.000 -

Biaya Tenaga Kerja Langsung 31.500.000 -

Biaya Listrik 1.855.000 -

Biaya Gas 2.620.000 -

Biaya Plastik dan Stiker 5.591.000 -

Biaya Transportasi 10.675.000 -

Jumlah Pengeluaran Kas (86.390.000)

Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi 62.660.000

Arus Kas dari Aktivitas Investasi Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Kas dan Setara Kas 62.660.000

Sumber : Data Diolah Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE” 2017 Pada tabel laporan arus kas tersebut,

komponen arus kas dari aktivitas operasi terdiri dari penerimaan kas dari penjualan sebesar Rp.149.050.000. Untuk pengeluaran kas terdiri dari pembelian, biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja langsung, biaya listrik, biaya gas, plastik dan stiker, dan biaya transportasi dengan jumlah Rp.86.390.000 lalu diperoleh arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp.62.660.000. Untuk komponen arus kas dari aktivitas investasi dan arus kas dari aktivitas pendanaan tidak ada berdasarkan kegiatan usaha di Rumah Lele

“RULE” karena memang tidak ada aktivitas

tersebut, maka diperoleh hasil kas dan setara kas dengan total Rp.62.660.000.

4. Neraca

Neraca menampilkan aset, kewajiban, dan ekuitas suatu entitas pada suatu tanggal tertentu akhir periode pelaporan. Neraca dapat dikatakan seimbang apabila harta perusahaan atau aset jumlahnya sama dengan jumlah utang ditambah modal (harta = utang + modal).

(13)

ISSN 2407 - 1072 Jurnal Akuntanika, Vol. 5 , No. 1, Januari - Juni 2019

124

Tabel 7

Rumah Lele “RULE”

NERACA Per 31 Desember 2017

(dalam rupiah) Aktiva Lancar:

Kas 20.250.000 -

Bank 42.410.000 -

Piutang usaha 6.500.000 -

Cadangan kerugian piutang - -

Persediaan bahan baku 1.200.000 -

Persediaan barang dalam proses 2.000.000 -

Persediaan barang jadi 2.000.000 -

Jumlah aktiva lancar 74.360.000

Aktiva Tetap:

Tanah 30.000.000 -

Peralatan 10.000.000 - -

Akumulasi penyusutan peralatan (1.000.000) - -

9.000.000 -

Bangunan 75.000.000 - -

Akumulasi penyusutan bangunan (3.750.000) - -

71.250.000 -

Jumlah aktiva tetap 110.250.000

Jumlah Aktiva 184.610.000

Kewajiban:

Kewajiban jangka pendek Utang usaha

Jumlah kewajiban jangka pendek Kewajiban jangka panjang Utang bank

Utang obligasi

Jumlah kewajiban jangka panjang Jumlah Kewajiban

Ekuitas:

Modal 115.000.000 -

Laba 69.610.000 -

Jumlah Ekuitas 184.610.000

Jumlah Kewajiban dan Ekuitas 184.610.000

Sumber : Data Diolah Laporan Keuangan Rumah Lele “RULE” 2017 Pada tabel neraca tersebut, untuk

komponen aktiva lancar terdiri dari kas Rp.20.250.000, kas bank Rp.42.410.000, piutang usaha Rp.6.500.000, persediaan bahan baku Rp.1.200.000, persediaan barang dalam proses Rp.2.000.000, persediaan barang jadi Rp.2.000.000 dengan jumlah aktiva lancar sebesar Rp.74.630.000.

Untuk komponen aktiva tetap terdiri dari tanah sebesar Rp.30.000.000, peralatan Rp.10.000.000, akumulasi penyusutan peralatan Rp.1.000.000, bangunan Rp.75.000.000, akumulasi penyusutan bangunan Rp.3.750.000 dengan jumlah aktiva tetap sebesar Rp110.250.000 dan jumlah aktiva dengan total Rp.184.610.000.

(14)

125

Untuk komponen kewajiban tidak ada

karena pada kegiatan usaha di Rumah Lele

“RULE” tidak terdapat hutang/kewajiban, pada komponen ekuitas terdiri dari modal sebesar Rp.115.000.000 dan laba sebesar Rp.69.610.000 dengan jumlah ekuitas sebesar Rp.184.610.000.

5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan berisi informasi sebagai tambahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan informasi pos- pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Gambaran Umum (1) Pendirian

Rumah Lele “RULE” berdiri pada tanggal 19 Februari 2013 yang bertempat di Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas dengan jenis usaha industri makanan dengan produk abon lele, lele asap, lele presto, stik tulang lele, dan lainnya.

2. Perizinan

Rumah Lele “RULE” secara sah

berbadan hukum

NOMOR:07.02/62/BPM-PTP/III/2015 yang disahkan pada tanggal 13 Maret 2015 oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Perizinan Kabupaten Musi Rawas.

a. Kebijakan Akuntansi

(1) Dasar Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan keuangan disusun berdasarkan SAK ETAP dan menggunakan acrual basic karena memberikan gambaran yang lebih akrual atas kondisi laporan keuangan. Mata uang yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan ini adalah rupiah.

(2) Kas dan Setara Kas

Kas terdiri dari kas kecil dan kas di bank yang tidak dibatasi penggunaannya. Kas kecil digunakan untuk keperluan sehari-hari dalam kegiatan operasional. Sedangkan kas dibank adalah kas yang telah

disetorkan kepada rekening pemilik.

(3) Aset Tetap

Nilai aset tetap diakui sebesar harga perolehan yang dikurangi dengan nilai akumulasi penyusutan.

(4) Akumulasi Penyusutan Aset Tetap

Akumulasi penyusutan peralatan diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan yang nilainya disesuaikan dengan metode yang digunakan oleh Rumah Lele “RULE”.

(5) Laba Rugi

Laba Rumah Lele “RULE” tahun ini adalah Rp.69.610.000 yang telah dikurangi beban-beban yang terdiri dari beban pokok penjualan dan beban operasi.

(6) Ekuitas

Ekuitas adalah modal yang dimiliki oleh Rumah Lele

“RULE”. Adapun modal yang dimiliki Rumah Lele “RULE”

terdiri dari modal pribadi pemilik yaitu sebesar Rp.115.000.000,-

5. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada laporan keuangan Rumah Lele “RULE”, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam teori, laporan keuangan menurut SAK ETAP terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

Sedangkan penyusunan laporan keuangan di Rumah Lele “RULE” masih dibuat secara sederhana dan belum mengacu terhadap SAK ETAP. Laporan Keuangan di Rumah Lele

“RULE” hanya menyajikan data penjualan dan pembelian dari Rumah Lele “RULE”.

Tentu data yang didapat dari laporan keuangan Rumah Lele “RULE” sangatlah belum lengkap sehingga peneliti melakukan wawancara untuk melengkapi data keuangan tersebut dan peneliti menyajikan penyusunan laporan keuangan untuk perusahaan industri/manufaktur khususnya di Rumah Lele

“RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas meliputi

(15)

ISSN 2407 - 1072 Jurnal Akuntanika, Vol. 5 , No. 1, Januari - Juni 2019

126

jurnal umum, buku besar, necara saldo, jurnal

penyesuaian laporan harga pokok produksi, laporan beban pokok penjualan, neraca lajur sampai dengan laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP yaitu Neraca, Laporan Laba, Rugi, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas/Modal, dan Catatan Atas Laporan Keuangan.

5.2 Saran

Peneliti merekomendasikan hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh Rumah Lele

“RULE” Desa Manah Resmi Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas dalam penyusunan laporan keuangannya yaitu:

1. Akuntansi keuangan sebaiknya diterapkan pada Rumah Lele “RULE”

dengan mengacu terhadap Standar Akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) sehingga laporan keuangan menjadi lebih akurat dan lengkap.

2. Untuk tahun berikutnya, sebaiknya Rumah Lele “RULE” sudah menerapkan laporan keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP dan jika mengalami kendala, peneliti merekomendasikan Rumah Lele

“RULE” untuk mempekerjakan pegawai yang berkompeten dalam menyusun laporan keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Ade Astalia Pratiwi Dkk. 2014. Analisis Penerapan SAK ETAP pada Penyajian Laporan Keuangan PT Nichindo Manado Suisan. Jurnal EMBA. Volume (2:254-265).

Aditya dan Nur. 2014. GAP Analysis Penerapan SAK ETAP pada Penyusunan Laporan Keuangan UKM di Kabupaten Kudus. Diponegoro Journal of Accounting. Volume (3:1- 12).

Afif, M and Mulyani, Sri. 2016. The Importance of Accounting, Quality of Financial Statement, and Implementation of “Financial Accounting Standards for Entities Without Public Accountability (SAK ETAP)” on SME Fostered by PT Telkom Tbk. International Conference

of Integrated Microfinance Management. Volume (0001-0007).

Effendi, Rizal. 2015. Prinsip-prinsip Akuntansi Berbasis SAK ETAP.

Cetakan Ketiga. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Hery. 2017. Teori Akuntansi. Jakarta: PT Gramedia.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2016 Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Cetakan Kelima.

Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia.

Jumingan. 2014. Analisis Laporan Keuangan.

Cetakan Kelima. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Mahmudah, Nurul dan Hertika, 2017.

Penerapan Akuntansi dan Kesesuaiannya dengan SAK ETAP pada UMKM Kota Tegal. Jurnal Akuntansi, Ekonomi, dan Manajemen Bisnis. Volume (5:259-266).

Norkamsiah Dkk. 2016. Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada Penyusunan Laporan Keuangan. Jurnal Ekonomi dan Keuangan. Volume (13:151-163).

Satori, Djam’an dan Komariah, Aan. 2014.

Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: Alfabeta.

Sujarweni, V. Wiratna. 2015. Metodologi Penelitian Bisnis dan Ekonomi.

Cetakan Pertama. Yogyakarta:

Pustakabaru Press.

Sujarweni, V. Wiratna. 2017. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta:

Pustaka Baru Press.

Tambunan, Tulus T.H. 2017. Usaha Mikro Kecil Dan Menengah. Bogor: Ghalia Indonesia.

Widyastuti, Pristiana. 2017. Pencatatan Laporan Keuangan Berbasis Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bidang Jasa. Journal for Business and Entrepreneur. Volume (1:2501-6682).

Admin KeuLSM, 2014. Proses Penyusunan Laporan Keuangan (online), (http://keuanganlsm.com/proses-

menyusun-laporan-keuangan/, diakses 01 Maret 2018).

(16)

127

Ikatan Akuntan Indonesia, 2016. SAK ETAP

(online),

(http://iaiglobal.or.id/v03/standar- akuntansi-keuangan/etap/, diakses 10 Maret 2018).

Sandy Makruf, 2017. Fungsi Laporan Keuangan Secara Umum bagi

Perusahaan (online),

(http://www.akuntansilengkap.com/aku ntansi/fungsi-laporan-keuangan-secara- umum-bagi-perusahaan/, diakses 12 Maret 2018).

Referensi

Dokumen terkait

Daripada andaian-andaian yang telah dibuat dalam Teori Kegunaan dan Kepuasan dapat disimpulkan bahawa teori ini amat sesuai untuk melihat kesan media sosial ke atas

 Selain jenis tanaman diatas, apabila jenis tanama yang saat dipanen meninggalkan bagian-bagin tanaman yang mudah mengering dan membusuk misal, padi, kacang hijau

Dari pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa lembaga sosial mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan masyarakat, dimana lembaga sosial tersebut, baik lembaga agama,

Dari tabel 9 dapat dilihat aktivitas guru pada pertemuan pertama sampai dengan keempat mengalami peningkatan dengan rata-rata (96%) amat baik, dari penjelasan

yang didapatkan oleh WUS dari petugas kesehatan maupaun sumber infomasi lainnya. Dari permasalahan yang muncul, diketahui dari sebagian besar responden yang

Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan melalui, pengamatan serta analisis data aktifitas guru, aktifitas siswa dan hasil belajar siswa pada penerapan model

Dan buku siswa ini baik karena dilihat dari aktivitas siswa yang menunjukkan kategori aktif, hasil belajar siswa yang menunjukkan kategori baik, dan sikap siswa yang

Analisis kebutuhan merupakan tahapan selanjutnya dari identifikasi kondisi eksisting. Analisis kebutuhan mengaitkan kondisi eksisting dengan target kebutuhan yang