Kata Pengantar
Pendidikan memiliki peran penting dalam proses pembangunan suatu bangsa dan negara.
Perubahan zaman akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus disejajarkan dengan penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, pendidikan yang berhasil dan berkualitas merupakan salah satu syarat mutlak untuk mewujudkan pembangunan nasional.
Periode 2012 sampai dengan 2020 merupakan periode terpenting dilihat dari usia produktif masyarakat Indonesia. Usia produktif manusia Indonesia dalam periode ini mencapai 50% populasi penduduk. Momen ini merupakan kesempatan emas untuk mendidik anak bangsa agar menjadi manusia yang berkualitas. Untuk itulah, perlu diidentifikasi mengenai kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang salah satunya didasarkan atas hasil studi literasi internasional yang dilakukan oleh IEA melalui Program PIRLS 2011. Hasil studi ini dianalisis berdasarkan konteks keindonesiaan dalam peta internasional. Berdasarkan temuan terpetakan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia, baik di tataran internasional maupun nasional, masih rendah. Berbagai factor penyebabanya cukup banyak.
Beberapa di antaranya adalah faktor internal siswa seperti kebiasaan, minat, motivasi, dan budaya baca yang masih rendah; system pembelajaran membaca di sekolah belum memadai; isu literasi belum dijadikan dasar pengembangan kurikulum dan buku teks pelajaran serta buku pendidikan; ketersediaan sarana dan prasarana berupa buku di perpustakaan yang belum memadai; dan sistem penilaian yang masih lemah.
Laporan hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam kebijakan perbaikan pendidikan Indonesia di masa depan. Alhamdulillah penulis panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang dengan limpahan berkah laporan penelitian analisis hasil belajar peserta didik berdasarkan literasi membaca hasil studi internasional PIRLS 2011 dapat diselesaikan. Untuk itu, penulis ucapkan terima kasih kepada Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud atas kepercayaan dan fasilitasi yang diberikan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan.
Jakarta, 5 Desember 2012
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Permasalahan ... 3
1.3. Tujuan Peelitian ... 4
1.4. Hasil yang Diharapkan ... 4
1.5. Ruang Lingkup ... 4
1.6. Manfaat Hasil Studi ... 4
BAB II MODEL PRESTASI DALAM READING LITERACY ... 5
2.1. Literasi Membaca ... 5
2.2. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi dalamLiterasi membaca ... 6
2.3. Pendekatan Modelling untuk Prestasi dalam LIterasi Membaca ... 7
BAB III METODE PENELITIAN ... 10
3.1. Sampel Penelitian ... 10
3.2. Variabel Penelitian ... 10
3.3. Instrumen Pengumpulan Data ... 11
3.4. Teknik Analisis Data ... 19
BAB IV HASIL ANALISIS DESKRIPTIF KUESIONER PIRLS 2011 ... 20
4.1. Pengantar ... 20
4.2. Gambaran Variabel Level Siswa ... 22
4.3. Gambaran Variabel Level Sekolah ... 39
BAB V HASIL ANALISIS HUBUNGAN ANTAR VARIABEL PIRLS 2011... 49
5.1. Pengantar ... 49
5.2. Hasil Analisis SEM Variabel Siswa ... 50
5.3. Hasil Analisis SEM Variabel Sekolah ... 54
5.4. Hasil Analisis Multilevel: Random Intercept&Random Slope sebagai Outcome Variable ... 57
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 62
6.1. Kesimpulan ... 62
6.2. Rekomendasi ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 67
Daftar Tabel
Tabel 3.1 Variabel Level Siswa ... 11
Tabel 3.2 Variabel Level Sekolah ... 17
Tabel 4.1 Ukuran Sampel ... 20
Tabel 4.2 Representasi Sosek Siswa ... 23
Tabel 4.3 Waktu yang Dihabiskan untuk Membaca di Luar Sekolah ... 24
Tabel 5.1 Koefisien Regresi Hubungan antar Variabel dari Analisis SEM Siswa ... 51
Tabel 5.2 Koefisien Regresi Hubungan antar Variabel dari Analisis SEM Sekolah ... 55
Tabel 5.3 Koefisien Regresi Random Intercept ... 59
Tabel 5.4 Koefisien Regresi Random Slope ... 60
Daftar Gambar
Gambar 2.1 Model Struktur Hubungan Variabel yang Mempengaruhi
Prestasi Literasi Membaca ... 8
Gambar 4.1 Perbandingan Prestasi per Komponen Prestasi Lterasi Membaca ... 20
Gambar 4.2 Keikutsertaan Guru dalam Seminar/Workshop 2 tahun terakhir ... 21
Gambar 4.3 Histogram Kepedulian Orangtua ... 22Error! Bookmark not defined. Gambar 4.4. Tingkat Pendidikan Orangtua ... 22
Gambar 4.5. Jenis Kelamin Siswa... 23
Gambar 4.6. Jumlah Buku di Rumah ... 24
Gambar 4.7. Level Pendidikan Anak yang Diharapkan Orangtua ... 25
Gambar 4.8. Penggunaan Komputer ... 25
Gambar 4.9. Lamanya Mengerjakan PR ... 27
Gambar 4.10. Waktu untuk Membaca di Luar Sekolah ... 28
Gambar 4.11. Frekwensi Pinjam Buku di Perpustakaan Sekolah ... 29
Gambar 4.12. Aktivitas Prasekolah ... 31
Gambar 4.13. TK atau Tidak TK ... 32
Gambar 4.14. Usia Pertama Masuk Sekolah ... 32
Gambar 4.15. Kemampuan Prabaca ... 33
Gambar 4.16. Boxplot Prestasi Membaca ... 34
Gambar 4.17. Boxplot Prestasi dalam Literary Purpose ... 35
Gambar 4.18. Boxplot Prestasi dalam Informational Purpose ... 36
Gambar 4.19. Boxplot Prestasi dalam Strategi Interpretation Process... 37
Gambar 4.20. Boxplot Prestasi dalam Strategi Straightforward Process ... 38
Gambar 4.21. Jenis Kelamin Guru ... 39
Gambar 4.22. Pengalaman Guru Mengajar Bahasa ... 39
Gambar 4.23. Tingkat Pendidikan Guru Bahasa ... 40
Gambar 4.24. Jurusan Pendidikan Guru Bahasa ... 40
Gambar 4.25. Keberadaan Lab Komputer ... 41
Gambar 4.26. Keberadaan Perpustakaan Sekolah ... 41
Gambar 4.27. Keberadaan Perpustakaan Kelas ... 41
Gambar 4.28. Persentase Jumlah Siswa Kaya ... 42
Gambar 4.29. Frekwensi Pemberian PR Membaca ... 48
Bab I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) adalah sebuah studi komparatif internasional yang diselenggarakan oleh the International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) yang berkantor pusat di Amsterdam (sebelumnya di Den Hag), Belanda. PIRLS adalah survey berskala besar tentang kemampuan membaca anak usia 9 tahun atau kelas 4 yang dilaksanakan dengan menerapkan metodologi penelitian yang canggih dan melibatkan banyak pusat riset terkemuka di berbagai negara. Pentingnya keikutsertaan Indonesia dalam survey ini adalah karena kemampuan membaca merupakan suatu hal yang amat penting dalam masyarakat terpelajar (Burns, 1996), sekaligus menjadi dasar bagi penguasaan keterampilan akademik siswa pada semua bidang.
Sebagai anggota IEA Indonesia ikut berpartisipasi pada PIRLS 2011 dan laporan terakhir yang dirilis adalah pada tahun 2012 menunjukkan bahwa posisi Indonesia dalam kemampuan baca saat ini masih rendah dan berada di kelompok bawah jika diukur dari nilai rata-rata internasional. Hasil tersebut tidak berbeda dari prestasi tahun-tahun sebelumnya. Pada PIRLS 2006, dibandingkan dengan negara lain, kemampuan baca siswa SD Indonesia termasuk dalam kategori rendah, berada pada posisi 36 dari 40 negara peserta PIRLS (IES NCES, 2007). Studi PISA tahun 2006 menunjukkan kemampuan baca siswa Indonesia berada pada urutan 49 dari 57 negara peserta studi dengan rata-rata skor 393, serta berada pada peringkat 95 dari 175 negara di seluruh dunia berdasarkan laporan PBB (OECD PISA, 2007). Kemudian tahun 2009 hasil riset Programme for International Student Assessment menempatkan posisi kemampuan baca siswa Indonesia ke 57 dari 65 negara, dengan rata-rata skor kemampuan 402, artinya bahwa kemampuan siswa Indonesia masih di bawah skor rata-rata yaitu 500 (OECD PISA, 2009).
Kemampuan membaca adalah kemampuan memahami isi teks bacaan atau wacana yang mencakup pemahaman literal, pemahaman inferensial, dan pemahaman kritis. Kemampuan ini dipengaruhi oleh faktor internal siswa yaitu faktor kognisi (metakognisi, efikasi, dan motivasi membaca) (Zuhdi, 2007), dan juga faktor eksternal yang berupa lingkungan (pengalaman guru dalam mengajar dan stimulasi dari ibu). Interaksi sosial juga kuat pengaruhnya (40%) terhadap kemampuan membaca siswa (Aaron, 2008), dan keberhasilan belajar membaca tidak hanya ditentukan faktor yang terlibat dalam proses belajar siswa, namun juga dari keluarga (Aaron, 2008), seperti lingkungan literasi di rumah, serta keterlibatan orangtua dalam kegiatan belajar siswa (Carlson, 2010). Orang tua dan guru memainkan peran penting dalam memotivasi dan memajukan perkembangan kemampuan anak dalam membaca (Baker, 2002; Wigfield, dkk, 2004) yang pada akhirnya meningkatkan prestasi dalam reading literacy. Temasuk faktor lingkungan sosial di sini adalah lingkungan literasi di rumah dan di sekolah, keterlibatan orangtua, dan dukungan guru terhadap siswa dalam kegiatan pengajaran. Untuk itulah dalam survey PIRLS, selain memberikan tes prestasi dalam reading literacy, juga mengambil data terkait prestasi membaca baik dari siswa, orangtua, guru dan kepala sekolah.
Menurut mantan Presiden IEA Prof. T. Plomp (1999), sekurangnya ada lima fungsi/ manfaat dari keikutsertaan dalam studi yang diselenggarakan oleh IEA yaitu:
(1) description/ mirror functions, (2) benchmarking,
(3) monitoring of quality of education,
(4) understanding observed differences, dan (5) cross-national research.
Jika keikutsertaan dapat difungsikan sebagaimana di atas, berbagai kebijakan dapat disesuaikan dan dikembangkan, bahkan reformasi pendidikan, agar dicapai kualitas yang lebih tinggi. Sayangnya hal ini justru lebih banyak terjadi di negara maju yang menjadi peserta studi seperti ini. Sebagai contoh, setiap hasil studi TIMSS diumumkan, di Amerika Serikat selalu terjadi perubahan-perubahan kebijakan pendidikan yang cukup mendasar baik di tingkat nasional maupun negara bagian. Hasil studi TIMSS selalu menjadi topik pembicaraan publik dan diikuti dengan berbagai analisis data yang mendalam.
Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata analisis data TIMSS dan PIRLS masih amat sedikit dan itupun umumnya dalam bentuk laporan yang bersifat deskriptif nyaris tanpa interpretasi. Akibatnya, pengaruh dari keikutsertaan Indonesia di TIMSS dan PIRLS terhadap perubahan kebijakan pendidikan nasional maupun lokal boleh dikata belum terasa. Ringkasnya, keikutsertaan Indonesia dalam studi internasional seperti TIMSS dan PIRLS belum menghasilkan kelima fungsi seperti yang dikemukakan oleh Prof. Tjeerd Plomp di atas. Padahal, dalam mengkritik tulisan A. Beaton (1999) dan T. Plomp (1999) tentang studi internasional seperti TIMSS, Umar (1999) justru menekankan perlunya perbaikan teknik analisis data yang dilakukan serta keterkaitannya dengan penyusunan kebijakan pendidikan di negara peserta. Oleh sebab itulah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pemahaman yang lebih detail dan akurat tentang bagaimana variabel-variabel yang terkait dengan siswa, guru, sekolah, dan lingkungan, yang mungkin memiliki dampak terhadap pencapaian/ prestasi belajar di bidang literasi membaca, baik yang bersifat dampak langsung maupun tidak langsung.
Dengan kata lain, identifikasi terhadap variabel yang mempengaruhi prestasi literasi membaca serta gambaran tentang bagaimana variabel-variabel tersebut saling berkaitan, amatlah diperlukan.
Ada beberapa variabel yang terdapat pada data PIRLS yang menarik untuk dilihat pengaruhnya terhadap prestasi. Variabel-variabel tersebut berkaitan dengan siswa, guru, sekolah dan orang tua.
Misalnya yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan guru, tingkat pendidikan guru, lama mengajar/ pengalaman mengajar, sikap terhadap profesi guru, interaksi antar guru, serta banyak hal yang berkenaan dengan metode/teknik yang digunakan guru dalam mengajar. Fokus penelitian ini lebih kepada pola hubungan antar-variabel yang mempengaruhi prestasi siswa, baik prediktor yang berasal dari variabel level siswa maupun level sekolah. Data yang ada dikaitkan dengan beberapa variabel psikologi siswa yang secara teoretis biasanya diyakini berpengaruh kepada tinggi-rendahnya (variasi) prestasi belajar.
Walaupun kuesioner pada PIRLS telah mencantumkan variabel yang terkait dengan aspek/konstruk psikologis seperti sikap dan keyakinan diri, tetapi secara teoritis aspek/ konstruk yang dibuat tersebut tidaklah sepenuhnya sesuai dengan definisi yang sering digunakan di bidang ilmu psikologi. Artinya, apa yang dideklarasikan sebagai konstruk psikologi yang hendak diukur oleh item/
pertanyaan yang bersangkutan ternyata kurang mewakili konstruk yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini dilakukan pengelompokan ulang item-item yang terkait agar dapat ditentukan konstruk psikologis yang sesuai dengan item yang digunakan dalam angket siswa tersebut.
1.2. Permasalahan
Masyarakat cenderung mengabaikan adanya fenomena rendahnya kemampuan membaca di kalangan siswa, sehingga siswa yang mempunyai kesulitan membaca semakin tertinggal. Rentetan dampak dari tidak diperhatikannya kemampuan membaca adalah siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada tingkat berikutnya (Kumara, 2010), juga mengalami problem akademik (Vaughn dkk, 2003). Anak yang rendah kemampuan membaca juga cenderung putus sekolah, ketika bekerja cenderung memiliki pendapatan lebih rendah, dan cenderung menjadi pengangguran (Reuda, 2011).
Dalam konteks inilah, kemampuan membaca dan memahami bacaan menjadi penting. Hasil survei PIRLS menunjukkan prestasi siswa Indonesia dalam bidang reading literacy masih berada di bawah rata-rata skor internasional. Hal ini harus dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan
pendidikan terkait pelajaran tentang membaca dan pemahaman bacaan. Yang dimaksud dalam hal ini adalah peningkatan secara statistik dan dilakukan melalui perbaikan sistem. Untuk dapat menemukan jawaban mengapa dalam survei seperti PIRLS prestasi siswa Indonesia dalam bidang reading literacy tergolong rendah, perlu dilakukan analisis mengenai hubungan antar berbagai variabel yang terkait langsung ataupun tidak langsung dengan tinggi-rendahnya prestasi reading literacy. Mengingat bahwa studi PIRLS adalah sebuah survey dan bukan sebuah studi eksperimental, maka inferensi mengenai dampak suatu variabel terhadap ”outcome” seperti prestasi belajar, sebaiknya dilakukan melalui suatu analisis statistika yang dapat menguji model teoretis tentang struktur hubungan antar berbagai variabel
”predictor” dalam mempengaruhi variabel ”outcome”. Dalam penelitian ini, variabel yang diteorikan sebagai ”outcome” adalah prestasi dalam bidang reading literacy, sedangkan berbagai variabel yang diteorikan/ diposisikan sebagai variabel penyebab adalah berbagai variabel yang datanya diperoleh melalui kuesioner siswa, orangtua, guru, dan sekolah. Berdasarkan hasil kuesioner tersebut, variabel dalam penelitian ini akan dikelompokkan kedalam dua level yaitu level siswa dan level sekolah.
Variabel level siswa diperoleh dari kuesioner siswa dan kuesioner orangtua siswa, sedangkan variabel level sekolah didapatkan dari kuesioner guru dan kuesioner sekolah.
Dalam penelitian ini, selain diuraikan hasil deskripsi data kuesioner juga akan diuraikan permasalahan penelitian tentang struktur hubungan antar-variabel. Adapun pertanyaan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel individual (siswa) apa saja yang sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa Indonesia di bidang reading literacy?
2. Variabel sekolah apa saja yang berpengaruh signifikan terhadap variabel sekolah yang terkait langsung pada prestasi siswa Indonesia di bidang reading literacy?
3. Variabel level sekolah apa saja yang berpengaruh signifikan terhadap rata-rata prestasi tingkat sekolah dalam reading literacy?
4. Apakah pengaruh variabel siswa (seperti motivasi, sikap, efikasi) terhadap prestasi siswa bergantung pada berbagai variabel di tingkat sekolah seperti good teaching practice guru, siswa aktif belajar, dsb.?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah seperti berikut.
1. Untuk menemukan suatu model teoretis tentang hubungan antar-variabel yang dapat digunakan untuk menjelaskan serta memprediksikan bervariasinya prestasi literasi membaca baik pada level siswa maupun pada level sekolah. Model teoretis ini akan dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan kebijakan/ strategi intervensi di bidang peningkatan mutu pendidikan di tingkat makro.
2. Untuk menemukan variabel yang merupakan determinan dari bervariasinya prestasi literasi membaca baik pada level siswa maupun pada level sekolah yang dapat dijadikan pertimbangan bagi guru, kepala sekolah, murid, dan orang tua dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa.
1.4. Hasil yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan penelitian ini adalah seperti berikut.
1. Terciptanya model teoretis tentang hubungan antar-variabel yang dapat digunakan untuk menjelaskan serta memprediksikan bervariasinya prestasi literasi membaca baik pada level siswa maupun pada level sekolah. Model teoretis ini akan dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan kebijakan/strategi intervensi di bidang peningkatan mutu pendidikan di tingkat makro.
pada level siswa maupun pada level sekolah yang dapat dijadikan pertimbangan bagi guru, kepala sekolah, murid, dan orang tua dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa.
1.5. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah difokuskan pada deskripsi data kuesioner yang dikaitkan dengan permasalahan penelitian tentang struktur hubungan antar-variabel, yaitu (1) variabel individual siswa yang sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa Indonesia di bidang reading literacy, (2) variabel sekolah yang berpengaruh signifikan terhadap variabel sekolah yang terkait langsung pada prestasi siswa Indonesia di bidang reading literacy, (3) variabel level sekolah yang berpengaruh signifikan terhadap rata-rata prestasi tingkat sekolah dalam reading literacy, dan (4) pengaruh variabel siswa (seperti motivasi, sikap, efikasi) terhadap prestasi siswa bergantung pada berbagai variabel di tingkat sekolah seperti good teaching practice guru, siswa aktif belajar, dsb.
1.6. Manfaat Hasil Studi
Hasil studi diharapkan dapat menjadi masukan bagi pembuat keputusan dalam konteks penyempurnaan kurikulum, penetapan standar buku ajar, penetapan standar isi, standar proses pembelajaran, serta penetapan standar konten kurikulum pendidikan guru. Selain itu, hasil studi dapat menjadi masukan bagi Puspendik dalam penetapan ujian nasional dan standar alat penilaian ujian nasional yang sepadan dengan kompetensi-kompetensi yang diakses secara internasional, yang diperkirakan paling efektif berdampak pada arah pembelajaran di tingkat sekolah dan menjadi rujukan praktis bagi guru dan pengawas sebagai pelaksana kurikulum di lapangan. Manfaat studi ini juga menjadi bagian terpenting bagi para guru untuk mengembangkan literasi siswa melalui pembelajaran membaca yang mengarah pada pencapaian kompetensi, terbangunnya kebiasaan, minat, motivasi, dan budaya buku siswa.
Bab II
Model Prestasi Dalam Reading Literacy
Bab ini akan menguraikan landasan teoritis tentang prestasi dalam reading literacy, yang dikelompokkan menjadi 3 subbab. Subbab pertama menjelaskan tentang Prestasi dalam Reading Literacy, subbab kedua menjelaskan tentang faktor-yang mempengaruhi prestasi dalam reading literacy, dan subbab ketiga membahas tentang pendekatan modelling dalam menjelaskan prestasi dalam reading literacy
2.1. Literasi Membaca
Kemampuan membaca sangat diperlukan siswa dalam mendukung kesuksesan akademik. Senada dengan hal itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa k
emampuan membaca merupakan indeks penting dari kemampuan belajar dan secara positif berkorelasi dengan prestasi akademik anak- anak SD
(Moores, 2006)..
Sejak tahun 1991, IEA menggabungkan istilah membaca dan literasi untuk mengungkapkan pengertian ‘kemampuan membaca’ dalam arti yang sangat luas.Kemampuan membaca mencakup kemampuan untuk melakukan analisis terhadap isi bacaan dan menggunakannya sebagai alat untuk mencapai tujuan individu dan tujuan masyarakat pada umumnya. Definisi ini dipertahankan dalam studi PIRLS kendati dengan beberapa perubahan. Pada PIRLS 2001, literasi membaca didefinisikan sebagai “kemampuan untuk memahami dan menggunakan bahasa tulis yang diperlukan oleh masyarakat dan/atau yang bernilai bagi individu (the ability to understand and use those written language forms required by society and/or valued by the individual).” Definisi ini mencakup kemampuan membaca untuk berbagai jenjang usia, termasuk untuk anak yang baru belajar membaca.
Adapun dalam PIRLS 2006 dan 2011, literasi membaca didefinisikan sebagai the ability to understand and use those written language forms required by society and/or valued by the individual. Young readers can construct meaning from a variety of texts. They read to learn, to participate in communities of readers in school and everyday life, and for enjoyment. Bagi PIRLS, literasi membaca digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan bahasa tulis yang diperlukan oleh masyarakat dan/atau yang berharga individu. Pembaca dapat membangun makna dari berbagai teks. Mereka membaca untuk belajar, untuk mengambil bagian dalam masyarakat pembaca di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari, dan untuk kesenangan.
Definisi ini didasarkan atas berbagai pertimbangan teoretis yang menganggap literasi membaca sebagai proses interaktif dan konstruktif. Pembaca secara aktif membangun makna, menerapkan strategi membaca yang efektif, serta melakukan refleksi selama proses membacanya (Zimmerman, 2001). Pada umumnya, pembaca mempunyai sikap yang positif dalam kegiatan membacanya dan menganggapnya sebagai kegiatan rekreasi. Pembaca dapat belajar dari sejumlah besar jenis teks, memperoleh pengetahuan yang luas tentang dunia, dan mengetahui lebih jauh tentang diri mereka sendiri. Mereka dapat menikmati dan memperoleh informasi dari berbagai bentuk teks yang digunakan dalam masyarakat modern (Greaney & Neuman, 1990; OECD, 1999;
Wagner, 1991). Berbagai jenis dan bentuk teks ini meliputi buku, majalah, berbagai jenis dokumen, dan surat kabar, termasuk jenis teks elektronik, seperti halaman-halaman internet, email, dan teks sebagai bagian dari video, film, tayangan televisi, iklan, dan label harga.
2.2. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi dalam Literasi Membaca
Variabel-variabel yang mempengaruhi kemampuan membaca anak adalah faktor di luar individu dan faktor dari dalam individu. Dari luar individu ialah lingkungan literasi di rumah dan di sekolah, serta keterlibatan keluarga (ibu) dalam belajar anak. Faktor dari dalam individu adalah kemampuan metakognisi dan motivasi membaca. Faktor dari luar dan dalam individu itu secara bersama-sama mempengaruhi kemampuan membaca anak (Aaron, 2008).
belajar, terdapat hasil penelitian yang kesimpulannya berbeda-beda. Larry Sutter (2000), misalnya, mengutip hasil penelitian James Coleman yang terkenal di tahun 1960an di mana kesimpulannya mengatakan bahwa ... “student performance was determined more by family background than by school characteristics”. Namun demikian, dalam studinya yang membandingkan prestasi matematika dan IPA secara internasional dengan menggunakan data TIMSS, Sutter (2000) menyimpulkan bahwa perbedaan prestasi belajar antar negara lebih banyak ditentukan oleh variabel-variabel kurikuler dan pengajaran.
Ia juga mengutip kesimpulan penelitian Gustafsson dan Undheim (1996) yang mengatakan bahwa .. “ that results of international-level studies might be accounted for by differences in curriculum rather than intellectual differences among students”. Sebaliknya Heyneman (1997) menemukan yang sebaliknya yaitu student personal variable yang lebih menentukan, terutama sekali motivasi/ spirit belajar. Berikut adalah kutipan tulisannya (Heyneman, 1997):
“What differentiates American children from other children in the world – and the explanation of poor performance among minorities and the poor – is the American public policy toward children. “In general, children in the United States are provided with too much opportunity and too few obligations; too much choice and too few responsibilities.” In addition, “U.S. school children are influenced by a common assumption that curriculum has to be entertaining”,…… “It isn’t poverty which drives scores of U.S. students down,” I said,
“or race, or even minority status, but rather impoverish spirit”. …..
….” It is the general lack of a desire to learn and this, in turn, is affected by public policy.
…...” (page 29).
Selanjutnya, penelitian mengenai pengaruh variabel psikologi, yang secara konsisten ditemukan pengaruhnya terhadap prestasi belajar antara lain adalah “self efficacy” (Ramdass and Zimmerman, 2008). Selain self efficacy, variabel lain yang mempengaruhi kemampuan baca adalah motivasi.
Motivasi rendah dalam hal membaca dapat digunakan sebagai indikasi karakteristik anak dengan kemampuan membaca rendah dan sulit baca (Sideridis, 2006). Anak-anak SD yang mempunyai motivasi rendah dalam hal membaca, cenderung mengalami kesulitan dalam penguasaan akademik, penyelesaian tugas ketika ia duduk di kelas 3 (Guthrie & Wigfield, 2000; Sideridis, 2006). Jadi anak yang motivasinya tinggi dalam hal membaca tentu mempunyai keyakinan tinggi mengenai kemampuannya dalam membaca (Schutte & John, 2007). Motivasi ini akan mengarahkan perilaku individu ketika ia mengalami kesulitan dalam penyelesaian tugasnya. Motivasi membaca anak-anak secara langsung dan tidak langsung berpengaruh pada pemahaman bacaan (Schraw dalam Law, 2008).
Motivasi dapat dipengaruhi oleh komitmen anak-anak untuk membaca, serta terlibat aktif dalam kegiatan membaca, seperti memilih buku sendiri, (Wigfield dan Guthrie, 2004).
Selain itu, variabel yang umumnya tak berpengaruh terhadap prestasi adalah sikap terhadap mata pelajaran. Reiss (2009) menemukan ada enam “personality needs” yang erat kaitannya dengan “low achievement in school” yaitu “high need for acceptance”, “low need for cognition”, “lack of ambition”, “low need for order”, “low need for honor”, dan “high need for vengeance”.
Selain prediktor dari siswa, guru dan orangtua juga punya peran dalam menghasilkan prestasi dalam bidang reading literacy. Penguasaan guru terhadap materi pelajaran misalnya, ditemukan lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa daripada penguasaan metode mengajar (Van Luiy, 2006).
Wigfield & Guthrie (2004) menemukan bahwa orang tua dan guru memainkan peran penting dalam memotivasi dan memajukan perkembangan membaca anak, yang pada akhirnya meningkatkan kemampuan membaca anak. Bentuk keterlibatan orangtua tersebut antara lain mendampingi anak dalam mengerjakan tugas sekolah, menasehati anak dalam hal belajar, hadir dalam rapat sekolah tempat anak menuntut ilmu, berkomunikasi dengan guru tentang kemajuan belajar anak, menyediakan buku-buku pelajaran sekolah (Morrow & Young, 1997).
Peran literasi di rumah dalam kemampuan baca juga sangat penting. Misalnya, pengalaman anak membaca di rumah melalui kepedulian orangtua dapat mendorong kemampuan anak dalam membaca.
Hal lain yang termasuk dalam literasi di rumah antara lain berupa penyediaan buku-buku cerita, menemani ke perpustakaan. Orangtua yang memiliki intensitas tinggi dalam membaca dan suka
membeli majalah atau buku, cenderung memiliki anak dengan kemampuan membaca yang baik (Alderson & Bachaman, 2000). Lingkungan literasi di rumah dan di sekolah serta perilaku orangtua membantu anak dalam belajar berkorelasi positif dengan minat baca anak, juga sikap anggota keluarga yang lebih tua terhadap buku dan membaca memiliki dampak yang nyata pada kemampuan membaca anak-anak (Haris & Sipay, 1986).
2.3. Pendekatan Modeling Untuk Prestasi dalam Literasi Membaca
Berdasarkan pada ketersediaan data, ditentukan variabel-variabel yang secara teoritis akan mempengaruhi prestasi. Pada penelitian ini, akan dianalisis variabel sekolah yang mempengaruhi variabel siswa. Hal-hal seperti ini hanya bisa dilakukan kalau kita melakukan analisis multilevel, yaitu analisis secara simultan terhadap variabel sekolah dan variabel siswa, dimana juga dapat diketahui interaksi antar-variabel pada level yang berbeda, serta dapat dilihat pengaruhnya pada variabel di tingkat siswa. Adapun model dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperti terlihat pada gambar 2.1 berikut.
LEVEL SISWA
LEVEL SEKOLAH
Gambar 2.1. Model Struktur Hubungan Variabel yang Mempengaruhi Prestasi Literasi Membaca
Model di atas merupakan model teoretis yang memetakan pola hubungan antar-variabel yang diteliti. Pada model within (level siswa), prestasi reading literacy (Ach) dipengaruhi secara langsung oleh tiga variabel yaitu motivasi siswa untuk membaca (Motiv), efikasi siswa (eff) dan sikap siswa terhadap membaca (attbc). Variabel-variabel yang lain juga memiliki pengaruh terhadap prestasi membaca, tetapi tidak secara langsung, yaitu melalui efikasi dan sikap terhadap membaca. Efikasi siswa dipengaruhi oleh motivasi siswa dalam membaca, sikap terhadap membaca (Attbc). Sikap terhadap membaca dipengaruhi sikap siswa terhadap guru (SSguru), kepedulian orang tua (Otpeduli), kemampuan prabaca siswa (Prabc), dan frekwensi pemberian PR (HW). Sikap siswa terhadap guru dan sikap siswa terhadap sekolah dipengaruhi oleh kepedulian orang tua dan persepsi siswa tentang keamanan dari kekerasan yang dilakukan siswa lain.
Selanjutnya pada level sekolah (between), variabel level sekolah yang dianalisis ada 10, yang berasal dari kuesioner guru dan kepala sekolah. Kesepuluh variabel tersebut adalah: siswa aktif belajar (SAB), good teaching practice (GTP), pengelolaan kelas (Kelola), strategi guru dalam mengatasi siswa yang kesulitan membaca (Remed), interaksi antar gur (Interg), dan sikap terhadap profesi guru (Attprof). Adapun yang menjadi outcome variable adalah prestasi sekolah serta 3 random slope (S1, S2, dan S3). S1 adalah variabel moderator pada pengaruh motivasi siswa terhadap prestasi, S2 adalah variabel moderator pada pengaruh sikap terhadap prestai, sedangkan S3 adalah variabel moderator pada pengaruh efikasi terhadap prestasi siswa dalam reading literacy.
Variabel level sekolah tersebut diteorikan sebagai berikut: variabel sekolah yang berupa Kelola, Remed, Interg, dan Attprof berpengaruh langsung terhadap SAB, GTP, S1, S2, S3, dan variabel rata- rata prestasi sekolah (Ach). Begitu pula pada variabel GTP dan SAB yang juga diteorikan berpengaruh langsung terhadap S1, S2, S3, dan Ach dalam reading literacy.
Bab III
Metode Penelitian
3.1. Sampel Penelitian
Penelitian ini didasarkan pada data PIRLS tahun 2011. Berdasarkan data PIRLS tersebut, subjek penelitian adalah siswa kelas 4 SD. Adapun jumlah siswa yang menjadi sampel penelitian ini adalah 4791 orang. Sedangkan untuk sampel guru terdapat 163 orang dan sampel sekolah sebanyak 158 sekolah. Selain itu, penelitian ini juga melibatkan orangtua sebanyak 4791 orang. Teknik dan prosedur penentuan sampel dan pengambilan data dapat dilihat pada laporan teknis PIRLS 2011, di mana teknik random sampling yang dilakukan amat kompleks, serta bersifat multi level, clustering, dan stratified.
Hal tersebut dilakukan mengingat amat heterogennya negara peserta PIRLS baik dari segi jumlah penduduk, murid, dan sekolah, maupun variasi aspek lainnya seperti kurikulum dan sebagainya. Semua hal ini telah diperhitungkan sehingga perbandingan secara internasional dapat dilakukan secara obyektif.
3.2. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, sumber variasi bagi prestasi siswa Indonesia dalam bidang reading literacy dikelompokkan menjadi dua, yaitu variabel penelitian pada level individual yang dalam hal ini adalah siswa, dan variabel penelitian pada level sekolah. Setelah dilakukan pemeriksaan tentang kelayakan variabel pada kuesioner siswa dan orangtua, didapatkan 28 variabel pada level siswa. Variabel tersebut adalah (1) Tingkat pendidikan ayah -Faed (2) Tingkat pendidikan ibu -Moed (3) Jenis kelamin siswa - Gender (4) Tingkat sosial ekonomi siswa -Sosekst (5) Jumlah buku di rumah -Bookhm (6) Level pendidikan yang diharapkan orangtua -Aspir (7) Penggunaan computer di rumah, sekolah dan tempat lain -Uscom (8) Kepedulian orangtua terhadap prestasi membaca -Otpduli (9) Sikap terhadap sekolah -Schatt (10) Keamanan siswa di sekolah -Unbully (11) lamanya mengerjakan PR -HW (12) Waktu yang dihabiskan siswa untuk membaca di luar sekolah -Spenred (13) Motivasi siswa membaca -Motiv (14) Frekwensi pinjam buku di perpustakaan -Pjmbk (15) Sikap terhadap guru -SSGuru (16) Sikap terhadap membaca -Attbc (17) Efikasi siswa dalam membaca -Eff (18) Persepsi tentang pentingnya membaca -Imp (19) Aktivitas prasekolah yang dilakukan siswa -Prasek (20) Siswa mengikuti pendidikan TK atau tidak -TK (21) Usia pertama kali masuk sekolah - usentry (22) Kemampuan prabaca -Prabc (23) Sikap orangtua tentang membaca -Readatot (24) Prestasi siswa Indonesia dalam reading literacy - Ach (25) Prestasi siswa dalam literary purpose -Litprpos (26) Prestasi siswa dalam Informational purpose -Infprpos (27) Prestasi siswa dalam Strategi Interpretation process - Intrpret (28) Prestasi siswa dalam strategi straightforward process -Straigfr .
Setelah dilakukan pemeriksaan tentang kelayakan variabel pada kuesioner guru dan sekolah, variabel pada level sekolah yang dianalisis ada 18, yaitu (1) Pengalaman guru –Exp (2) Tingkat pendidikan guru -Pend (3) Bidang/jurusan - Major (4) Sarana computer -Srkom (5) Sarana perpustakaan - Srlib (6) Tingkat social ekonomi sekolah -Soseksc (7) Interaksi antar guru - Interg (8) Sikap terhadap profesi -Attprof (9) Interaksi guru dengan orangtua - Intrgot (10) Penggunaan computer oleh guru -Uscomgr (11) hambatan guru -Hamgur (12) Good Teaching Practice - GTP (13) Siswa Aktif Belajar - SAB (14) Pengelolaan kelas - Kelola (15) Kepemimpian kepala sekolah - Leader (16) Strategi penanganan guru pada anak yang kesulitan membaca -Remed (17) Evaluasi PR pada pelajaran pembaca - EvalHW (18) Frekwensi pemberian PR – FrekHw.
3.3. Instrumen Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data PIRLS 2011 terdiri dari dua bentuk umum, pertama adalah tes kemampuan (prestasi dalam literasi membaca) dan yang kedua adalah kuesioner. Ada 4 kuesioner yang diberikan pada siswa, orangtua, guru, dan kepala sekolah. Kuesioner siswa berisi pertanyaan atau
orangtua, kuesioner guru berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh guru, dan kuesioner sekolah berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh kepala sekolah. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat masing-masing alat pengumpulan data yang digunakan.
a. Tes prestasi membaca
Tes prestasi ini untuk mengukur prestasi reading literacy. Dalam hal ini, prestasi reading literacy meliputi 2 purpose prestasi membaca, yaitu literary purpose dan informational purpose. Pada prestasi membaca untuk informational purpose, terdiri dari 2 macam strategi pemahaman bacaan, yaitu strategi interpreting process dan strategi straightforward process.
b. Kuesioner
Kuesioner diberikan pada siswa, orangtua, guru dan kepala sekolah untuk mendapatkan data variabel yang terkait dengan prestasi belajar, baik itu tentang siswa dan keluarganya maupun tentang guru dan sekolah. Data dari kuesioner siswa dan orangtua menggambarkan kondisi siswa yang terkait dengan prestasi, sedangkan data dari kuesioner guru dan sekolah menggambarkan kondisi sekolah yang terkait dengan prestasi siswa. Dari data yang didapatkan, ditentukan beberapa konstruk yang secara teoritis terkait dengan prestasi siswa. Berikut ini uraian konstruk yang didapatkan dari data kuesioner, yang selanjutnya dijadikan variabel pada level siswa dan level sekolah.
1) Kuesioner Siswa dan Orangtua
Setelah dilakukan reviu dan pemeriksaan kelayakan variabel dalam data kuesioner yang diisi oleh siswa dan orangtua, ditentukan 28 variabel yang terkait dengan prestasi siswa. Berikut ini daftar nama variabel dan contoh item dalam kuesioner:
Tabel 3.1. Variabel Level Siswa
No Variabel Label Contoh Item
1 Faed Tingkat Pendidikan Ayah
Sebutkan jenjang pendidikan terakhir yang diselesaikan oleh Anda ?
(sebagai ayah atau ayah tiri atau pengasuh laki-laki dan ibu atau ibu tiri atau pengasuh wanita)? (Ayah / ibu)
Pilihan jawaban:
a. tdk/putus sekolah. f. lulus D3-D4.
b. Lulus SD. g. lulus S1.
c. lulus SLTP. h. lulus S2-S3.
d. lulus SLTA i. tidak relevan.
e. lulus D1-D2.
2 Moed Tingkat Pendidikan Ibu
3 Gendrst Jenis kelamin siswa Apakah kamu laki-laki atau perempuan ? (Pr/ Lk) 4 Sosekst Status sosial ekonomi
siswa
Kepemilikan komputer, TV, ruang belajar sendiri, kamar sendiri, dll.
5 Bookhm Jumlah buku di rumah Berapakah jumlah buku yang ada di rumahmu ? 6 Aspir Tingkat pendidikan
siswa yang diharapkan orangtua
Seberapa jauh harapan Anda terhadap pendidikan anak Anda? (menyelesaikan SLTP, SLTA, D1-D2, D3-D4, S1, S2-S3)
7 uscom Penggunaan komputer Seberapa sering kamu menggunakan komputer di tempat-tempat di bawah ini?
(di rumah, di sekolah, lainnya)
No Variabel Label Contoh Item
8 Otpduli Kepedulian orangtua Seberapa sering hal-hal berikut terjadi di rumahmu?
(a). Orangtua saya menanyakan apa yang saya pelajari di sekolah
(b). saya membicarakan tugas sekolah dengan orangtua saya
(c). Orangtua memastikan bahwa saya menyediakan waktu untuk membuat PR (d). Orangtua saya memeriksa apakah saya
mengerjakan pekerjaan rumah
9 Schatt Sikap terhadap sekolah Bagaimana pendapatmu tentang sekolahmu?
Seberapa setuju kamu dengan pernyataan- pernyataan di bawah ini:
Saya senang berada di sekolah.
Saya merasa aman berada di sekolah.
Saya senang menjadi bagian dari sekolah ini.
10 Unbully Keamanan sekolah Selama tahun ini, seberapa sering hal-hal di bawah ini terjadi terhadap dirimu di sekolah?
(setidaknya sekali seminggu/ sekali atau dua kali sebulan/ beberapa kali setahun/ tidak pernah) a. Saya sering diganggu dan diolok-olok.
b. Ketika bermain atau berkegiatan saya ditinggal oleh siswa-siswa lain.
c. seseorang menyebarkan kabar bohong mengenai saya.
d. barang-barang saya pernah dicuri.
e. saya dipukul atau disakiti oleh siswa lain (misalnya, didorong, dipukul, ditendang).
f. saya dipaksa mengerjakan hal-hal yang tidak ingin saya kerjakan oleh siswa-siswa lain.
11 HW Waktu yang
dihabiskan untuk mengerjakan PR
Berapa rata-rata waktu dalam sehari yang dihabiskan anak anda untuk mengerjakan pekerjaan rumah?
Anak saya tidak memiliki pekerjaan rumah / 15 menit atau kurang/ 16-30 menit/ 31-60 menit/ lebih dari 60 menit.
12 Spenread Waktu yang dihabiskan untuk membaca
Berapa banyak waktu yang kamu habiskan untuk membaca diluar jam sekolah pada hari sekolah?
(<30 menit, 30 mnt-1jam, 1-2 jam, > 2 jam) 13 Mtv1 Motivasi siswa
membaca
Seberapa sering kamu melakukan aktivitas di bawah ini diluar sekolah?
Saya membaca untuk kesenangan. Saya membaca untuk mencari tahu hal-hal yang ingin saya pelajari.
(tiap hari,hampir setiap hari/ 1atau 2kali
seminggu/1 atau 2 kali sebulan/ tidak pernah atau hampir tidak pernah.
14 Frekpbk Frekwensi pinjam buku
Seberapa sering kamu meminjam buku dari perpustakaan sekolah atau perpustakaan di dekat rumahmu?
(1 kali dalam seminggu/1 atau 2 kali dalam sebulan / beberapa kali dalam setahun/ tidak pernah atau hampir tidak pernah)
15 SSGuru Sikap terhadap guru Bagaimana pendapatmu tentang pelajaran membaca di sekolah. Seberapa jauh kamu setuju dengan pernyataan tentang pelajaran membaca?
(sgt stj/kr stj/agak tdk stj/ sgt tdk stj).
a. saya menyukai apa yang saya baca di sekolah.
b. guru saya memberi bacaan yang menarik.
d. saya memikirkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pelajaran.
e. guru saya mudah dipahami.
f. saya tertarik dengan apa yang guru saya katakan.
g. guru saya memberikan hal yang menarik untuk dilakukan.
16 AttBc Sikap terhadap membaca
Apa pendapatmu tentang pelajaran membaca?
Nyatakan seberapa jauh kamu setuju dengan setiap pernyataan di bawah ini.
(sgt stj/ kr stj/ agak tdk stj/ sgt tdk stj).
b. Saya suka mendiskusikan apa yang saya baca dengan orang lain.
c. saya merasa senang jika seseorang memberi saya hadiah buku.
e. saya ingin memiliki waktu lebih untuk membaca.
f. saya menikmati kegiatan membaca.
17 Eff Efikasi siswa Seberapa baik kamu dalam membaca? Nyatakan seberapa jauh kamu setuju dengan setiap pernyataan di bawah ini
( sgt setuju/ krg stj/ agak tdk stj/ sgt tdk stj).
a. Saya biasanya baik dalam membaca b. Membaca adalah hal yang mudah bagi saya c. dibandingkan dengan teman-teman sekelas,
bagi saya membaca merupakan hal yang sulit.
d. jika sebuah buku menarik, saya tetap membacanya walaupun sulit dibaca.
e. saya sulit membaca cerita yang banyak kata- kata yang sulit.
f. guru saya mengatakan bahwa saya adalah pembaca yang baik.
g. membaca adalah pelajaran yang sulit bagi saya jika dibandingkan dengan pelajaran lain.
No Variabel Label Contoh Item 18 Imp Persepsi tentang
pentingnya membaca
Apakah kamu membaca dengan alasan-alasan berikut? Nyatakan seberapa jauh kamu setuju dengan setiap pernyataan di bawah ini.
(sgt stj/ kr stj/ agak tdk stj/ sgt tdk stj)
b. Menjadi pembaca yang baik adalah hal yang penting
c. orang tua saya suka bila saya membaca d. saya banyak belajar dari membaca
e. saya perlu membaca dengan baik untuk masa depan saya.
19 Prasek Aktivitas prasekolah Sebelum anak anda mulai masuk sekolah dasar, seberapa sering anda atau orang lain di rumah anda terlibat aktivitas berikut ini dengan si anak?
(Sering/ kadang-kadang/tidak pernah atau hampir tidak pernah).
a. Membaca buku b. Mendongeng c. bernyanyi
d. bermain dengan permainan alfabet (misalnya, balok-balok dengan huruf atau alfabet) e. membicarakan hal-hal yang telah anda
lakukan
f. membicarakan hal yang telah anda baca g. bermain permainan kata-kata
h. menulis huruf atau kata-kata
i. membaca tanda-tanda atau label petunjuk dengan suara keras
j. menyebutkan hitungan angka dengan irama atau bernyanyi lagu tentang berhitung l. menghitung benda-benda yang berbeda m. bermain permainan yang melibatkan bentuk
(sebagai contoh, mengelompokkan balok dengan bentuk berbeda, puzzle) DROP:
n. bermain menyusun balok atau permainan konstruksi yang lain
k. bermain permainan angka (misalnya, balok- balok dengan angka)
o. bermain papan permainan (seperti ular tangga, ludo, monopoli, catur) atau bermain kartu.
20 TK TK atau tidak Apakah anak anda bersekolah di taman kanak- kanak?
Ya/ tidak (jika ya, 3 thn atau lbh/ antara 2-3thn/ 2 thn/ antara 1dan 2 thn/ 1 thn atau kurang)
21 usentry Usia pertama masuk SD
Berapakah usia anak anda ketika ia masuk sekolah dasar?
(5 thn atau lbh muda/ 6 thn/ 7 thn/ 8 thn atau lbh)
22 Prabc Kemampuan prabaca saat masuk SD
Ketika masuk sekolah dasar bagaimana kemampuan anak anda dalam hal-hal berikut?
(sgt baik/ ckp baik/ tdk terlalu baik/ tdk baik sama sekali).
a. Mengenali sebagian besar huruf dalam alfabet b. Membaca beberapa kata
c. membaca kalimat
d. Menulis huruf dalam kalimat e. menulis beberapa kata.
23 ReadatOT Sikap orangtua
terhadap membaca Bagaimana pendapat anda tentang pernyataan- pernyataan berikut ini mengenai membaca.
(sgt stj/ agak stj/ agak tdk stj/ sgt tdk stj) a. Saya membaca jika perlu saja
b. Saya suka membicarakan hal yang saya baca dengan orang lain
c. saya suka menghabiskan waktu luang dengan membaca
d. saya membaca hanya ketika saya membutuhkan informasi
e. membaca adalah kegiatan yang penting di rumah saya
f. saya ingin memiliki waktu lebih banyak untuk membaca
g. saya menikmati membaca.
24 Ach Prestasi dalam reading literacy
Skor Plausible Value (PV) 25 Litprpos Prestasi dalam reading
literacy untuk literary purpose
Skor Plausible Value (PV)
26 Infprpos Prestasi dalam reading literacy untuk
informational purpose
Skor Plausible Value (PV)
27 Intrpret Prestasi dalam reading literacy untuk strategi interpretation process
Skor Plausible Value (PV)
28 straigfr Prestasi dalam reading literacy untuk strategi straighforward process
Skor Plausible Value (PV)
2) Kuesioner Guru dan Kepala Sekolah
Berdasarkan kuesioner yang diisi oleh guru dan kepala sekolah, ditentukan 18 variabel yang terkait dengan prestasi siswa. Berikut ini daftar nama variabel dan contoh item dalam kuesioner:
Tabel 3.2. Variabel Level Sekolah
No Variabel Label Contoh Item
1 Exp Pengalaman guru Terhitung sampai akhir tahun ajaran ini, berapa lama anda telah mengajar?
2 Pend Tingkat pendidikan guru Apakah tingkat pendidikan tertinggi yang telah anda selesaikan?
(tidak selesai tingkat SLTA/ selesai SLTA/ selesai D1-D2/ selesai D3-D4/ selesai S1/ Selesai S2 atau S3)
3 Major Bidang/jurusan
pendidikan guru Setelah menyelesaikan SLTA, apakah bidang utama yang anda pelajari? (ya/ tdk)
a. Kependidikan-pendidikan dasar b. Kependidikan-pendidikan menengah c. matematika
d. Sains
e. Bahasa indonesia f. Lain-lain.
4 Srkom Sarana komputer Apakah siswa kelas 4 SD di kelas PIRLS memiliki komputer untuk digunakan selama pelajaran membaca? (ya/tdk)
5 Srlib Sarana perpustakaan Apakah anda memiliki perpustakaan atau tempat membaca di dalam kelas? (ya/ tdk)
6 Soseksc Tingkat sosial ekonomi
sekolah Kira-kira berepa persentase iswa di sekolah Anda dengan latar belakang berikut ini (Berasal dari keluarga mampu secara ekonomis 0-10%, 11- 25%, 26-50%, lebih dari 50%).
7 Interg Interaksi antar guru Seberapa sering guru melakukan interaksi dgn guru lain.
8 Attprof Sikap terhadap profesi Saya merasa nyaman dengan profesi saya sebagai guru. Saya puas sebagai guru di sekolah ini. Saya melakukan tugas penting sebagai guru. Saya berencana menjadi guru selama mungkin. Saya frustasi menjadi guru (R). Yg DROP (Saya merasa lebih antusias di awal saya sebagai guru dibandingkan sekarang)
9 Intrgot Interaksi guru dengan
orangtua Untuk siswa-siswa tertentu di kelasmu, seberapa sering anda melakukan hal-hal berikut ini?
(paling tdk sekali seminggu/ sekali atau dua kali sebulan/ 4-6kali setahun/ 1-3 kali setahun/ tidak pernah)
a. Bertemu atau berbicara secara pribadi dengan orang tua siswa untuk mendiskusikan
kemajuan belajar siswa
b. memberikan laporan kemajuan siswa kepada orang tua.
10 Uscomgr Penggunaan komputer oleh guru
Mencari informasi, membaca cerita,
mengembangkan strategi membaca, menulis cerita/tlisan lainnya
11 Hamgur Hambatan guru Siswa krg memiliki pengetahuan, kurang gizi, kebth khusus, suka mengganggu, kurang berminat.
12 GTP Good Teaching Practices
Menyimpulkan apa yang harus dipelajari siswa dari pelajaran, mengaitkan pelajaran dg kehidupan sehari-hari, mengajukan pertanyaan utk
memancing pemikiran siswa, mendorong semua siswa untuk meningkatkan prestasi, memuji usaha siswa, memabawa bahan pelajaran menarik utk dibawa ke kelas
13 SAB Siswa Aktif Belajar Mencari info dlm bacaan, ide ide utama, ,menulis sesuatu atau merespon apa yg telah siswa baca, dll 14 kelola Pengelolaan kelas Mengajarkan membaca sbg kegiatan seluruh
kelas, membuat kelompok yg punya kemampuan sama, mengajar membaca secara individual, cbsa tujuan ditentukan sendiri. Yg DROP (membuat kelompok dg kemampuan beragam, cbsa tujuan ditentukan guru)
15 Leader Kepemimpinan Mempromosikan visi atau tujuan sekolah, mengembangkan kurikulum sekolah, Memonitor apakah guru menerapkan tujuan pendidikan sekolah ketika mengajar, dll
16 Remed Strategi guru untuk siswa yang kesulitan membaca
Menyarankan ke ahlinya, menunggu perkembangan seiring kematangan siswa, menghabiskan byk waktu utk mengajarkan membaca scr individual, meminta ortu utk membantu siswa tersebut membaca.
17 EvalHW Evaluasi PR Memeriksa tugas & feedback, mendiskusikan PR di kelas, memantu penyelesaian PR.
18 FrekHw Frekwensi pemberian PR
Seberapa sering anda memberikan tugas membaca sebagai pekerjaan rumah (untuk pelajaran apapun)?
(saya tidak memberikan tugas membaca sebagai pekerjaan rumah/ kurang dari sekali seminggu/ 1 atau 2 kali seminggu/ 3 atau 4 kali seminggu/
setiap hari)
3.4. Teknik Analisis Data
Ada beberapa langkah dalam analisis data pada penelitian ini, dimulai dari langkah yang bersifat eksploratif dan merupakan pendahuluan sebelum analisis data yang sesungguhnya dilakukan, yaitu:
1. Melakukan analisis statistik deskriptif terhadap seluruh variabel yang tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran variabel terkait dengan prestasi siswa Indonesia dalam reading literacy dari kuesioner siswa, orangtua, guru dan sekolah.
2. Pada variabel yang diukur melalui beberapa indikator (multi items) dilakukan uji validitas konstruk untuk mengetahui apakah seluruh itemnya memang mengukur apa yang didefinisikan, sekaligus juga untuk mengetahui item mana yang mampu menghasilkan informasi tentang atribut yang diukur. Selanjutnya item yang valid tersebut dilakukan Analisis
Faktor Konfirmatorik (CFA) sehingga didapat factor score yang merupakan sebuah nilai dari gabungan item yang mengukur konstruk tersebut.
3. Mengidentifikasi dan menetapkan variabel mana (dari dalam masing-masing kelompok variabel di atas) yang diperkirakan akan efektif jika disertakan dalam analisis multilevel dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian ini. Hal ini dilakukan dengan analisis SEM pada level siswa dan path analysis pada level sekolah- untuk menyeleksi variabel yang memang secara empirik berkaitan erat dengan prestasi siswa. Dalam hal ini, yang dijadikan “outcome variables” pada level siswa adalah prestasi reading literacy secara keseluruhan (ACH), sedangkan pada level sekolah, yang dijadikan outcome variabel adalah SAB dan GTP.
4. Mengkonstruksi sebuah model teoretis dengan menggunakan variabel yang terpilih. Dalam hal ini, arah hubungan kausal serta struktur hubungan (langsung atau tak langsung) ditentukan berdasarkan teori dan hasil penelitian serta logis tidaknya struktur hubungan yang akan disusun. Dalam hal ini, yang dijadikan “outcome variables” adalah prestasi dalam reading literacy secara keseluruhan serta komponen prestasi berdasarkan literary purpose, informational purpose, serta berdasarkan interpreting process, dan straightforward process.
Hasilnya adalah model dasar pada Gambar-1.
Langkah analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 17 dan Excel 2007. Sedangkan hubungan antar-variabel dikerjakan perangkat lunak yang powerful, komprehensif dan terintegrasi yaitu MPLUS versi 7 (Muthen, 2012).
Bab IV
Hasil Analisis Deskriptif Data Pirls 2011
Hasil penelitian ini dikelompokkan manjadi 2 bagian, pertama berupa hasil analisis statistika deskriptif, dan kedua, berupa hasil analisis hubungan antar-variabel. Pada bab empat ini memberikan uraian hasil analisis deskripstif variabel, yang dijelaskan ke dalam 3 subbab. Subbab pertama menjelaskan paparan data secara umum, dilanjutkan subbab kedua yang memaparkan gambaran data variabel level siswa, dan diakhiri pada subbab ketiga yang menguraikan gambaran data variabel level sekolah. Berikut ini uraian ketiga subbab tersebut.
4.1. Pengantar
Pada bagian ini akan dipaparkan deskripsi data variabel-variabel yang terpilih terkait dengan prestasi siswa Indonesia dalam bidang reading literacy. Ukuran sampel yang diteliti dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini:
Tabel 4.1. Ukuran Sampel
Siswa 4791
Guru 163
Orangtua 4791
Sekolah 158
Dari data diperoleh informasi bahwa meskipun populasi penelitian adalah siswa SD kelas 4, namun bila dilihat dari aspek usia, siswa SD kelas 4 di Indonesia bervariasi dalam hal usia, yakni dari 7 tahun hingga 14 tahun.
Pada tahun 2011, rata-rata prestasi siswa Indonesia dalam reading literacy adalah 437,22. Skor ini menunjukkan bahwa prestasi siswa Indonesia dalam reading literacy berada di bawah rata-rata prestasi reading literacy internasional (mean= 500, SD=100). Bila dilihat dari masing-masing komponen dalam tes reading literacy, grafik pada gambar 4.1 berikut ini menampilkan prestasi per komponen berdasarkan jenis kelamin siswa.
Gambar 4.1. Perbandingan prestasi per komponen reading literacy
Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa prestasi siswa perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa laki-laki baik pada prestasi secara keseluruhan, maupun pada masing-masing komponen. Hal ini senada dengan hasil penelitian lain yang terkait jenis kelamin. Anak perempuan lebih didorong untuk mampu dalam interaksi verbal sehingga kemampuan bahasa dan membacanya lebih terasah daripada
Perempuan; Overall
Reading Ach.; 441.6Perempuan; Literary Purpose; 432.2
Perempuan;
Informational Purpose; 453.14
Perempuan;
Interpreting Process; 436.58
Perempuan;
Straighforward Process; 445.29 Laki‐laki; Overall
Reading Ach.; 423.4
Laki‐laki; Literary Purpose; 413.56
Laki‐laki;
Informational Purpose; 435.01
Laki‐laki;
Interpreting Process; 420.88
Laki‐laki;
Straighforward Process; 424.93Perempuan
Laki‐laki
laki-laki, sedang laki-laki lebih terasah kemampuannya dalam bidang matematika yang kurang membutuhkan kemampuan bahasa (Lyon, 1995; Miller, 1993; Santrock, 2004; Sauve, 2007). Secara kultural, orangtua juga lebih protektif pada anak perempuan daripada laki-laki. Anak perempuan memiliki waktu lebih banyak untuk bergaul dengan orangtuanya, sehingga anak perempuan memiliki pengalaman interaksi verbal yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki (Rofiuddin, 2006).
Dari aspek jenis kelamin guru Bahasa Indonesia, persentase guru perempuan lebih banyak (69%) dibandingkan guru laki-laki (31%). Terkait dengan kompetensi guru Bahasa Indonesia, selain pendidikan formal (yangmana lulusan S1 menempati urutan pertama terbanyak, diikuti jumlah guru yang menyelesaikan D1-D2, SLTA, dan D3-D4), peningkatan kapasitas guru dengan mengikuti seminar atau workshop masih perlu ditingkatkan. Berikut ini data keikutsertaan guru dalam seminar/workshop dalam 2 tahun terakhir:
Gambar 4.2. Keikutsertaan seminar/workshop dalam 2 tahun terakhir
Dari gambar 4.2 di atas, terlihat bahwa 51% guru dalam 2 tahun terakhir tidak pernah mengikuti seminar/workshop. Sedangkan hanya 6% guru yang mengikuti seminar/workshop lebih dari 35 jam dalam 2 tahun terakhir.
Dari variabel orangtua, kepedulian dan dukungan orangtua pada pelajaran juga penting. Dari histogram di bawah ini tampak bahwa masih banyak juga orangtua yang perlu meningkatkan kepedulian dan dukungan pada pelajaran Bahasa Indonesia.
Gambar 4.3. Historam kepedulian orangtua 51%
17%
17%
9% 6%
Tidak pernah Kurang dari 6 jam 6‐15 jam
16‐35 jam Lebih dari 35 jam
penelitian ini akan dikelompokkan 2, yaitu deskripsi variabel siswa dan deskripsi variabel sekolah.
Berikut ini uraiannya:
4.2. Gambaran Data Variabel Level Siswa
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, terdapat 28 variabel pada level siswa. Berikut ini gambaran analisis deskriptif masing-masing variabel
1) Tingkat pendidikan ayah -Faed 2) Tingkat pendidikan ibu -Moed
Pada variabel tingkat pendidikan ayah maupun ibu, tampilan grafiknya akan disatukan.
Gambaran tingkat pendidikan orangtua (ayah dan ibu) dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4. Tingkat Pendidikan Orangtua (dalam %)
Dari gambar 4.4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua siswa (48,1% ayah dan 53,6% ibu) memiliki tingkat pendidikan SD-SLTP. Sedangkan persentase terkecil tingkat pendidikan ayah (2,2%) dan ibu (1,1%) memiliki pendidikan S2-S3.
3) Jenis kelamin siswa - Gender
Gambar 4.5. Jenis kelamin siswa
Bila dilihat dari jenis kelamin siswa, persentase antara laki-laki (50%) dan perempuan (50%) relatif seimbang.
Ayah; Tidak/putus sekolah; 8
Ayah; SD‐ SLTP;
48.1
Ayah; SLTA; 29.8
Ayah; Diploma; 3.6
Ayah; S1; 8.2
Ayah; S2‐S3; 2.2 Ibu; Tidak/putus
sekolah; 8.5
Ibu; SD‐ SLTP; 53.6
Ibu; SLTA; 24.4
Ibu; Diploma; 5.2 Ibu; S1; 6.9
Ibu; S2‐S3; 1.1 Ayah Ibu
Perempuan;
2418; (50%) Laki‐laki;
2373;
(50%)
4) Tingkat sosial ekonomi siswa -Sosekst
Faktor sarana prasarana siswa di rumah juga dapat dipakai sebagai prediktor kemampuan dalam membaca. Berikut ini data kepemilikan beberapa barang di rumah yang juga dapat mengindikasikan tingkat sosial ekonomi siswa.
Tabel 4.2. Representasi Sosek Siswa
Kepemilikan Ya Tidak
Komputer 26,9 73,1
Meja Belajar 74.2 25.8
Buku Pribadi 77.2 22,8
Kamar Sendiri 63,5 36,5
Sambungan Internet 18 82
Kulkas 52,4. 47,6
Televisi, VCD/DVD 86.3 13.7
Telepon/HP 81,6 18,4
AC 26,8 73,2
Sepeda/motor/mobil 67.1 32.9
Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa komputer dan akses internet belum banyak dimiliki oleh siswa Indonesia. Ini terlihat dari persentase siswa yang memiliki komputer dan akses internet di bawah 30%.
Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan komputer dan internet untuk pelajaran bahasa Indonesia di sekolah masih perlu ditingkatkan. Artinya, sarana komputer dan dan akses internet di sekolah perlu ditingkatkan terutama pada lingkungan sekitar sekolah yang tidak memiliki akses terhadap komputer dan internet.
5) Jumlah buku di rumah -Bookhm
Gambar 4.6. Jumlah Buku di Rumah (dalam %)
Berdasarkan gambar di atas, tampak bahwa sebanyak 41,6% siswa memiliki jumlah buku di rumah antara 0-10 buku. Kemudian diikuti sebanyak 40,3% siswa memiliki jumlah buku 11-25 di rumah. Selanjutnya, sebanyak 13%, siswa memiliki jumlah buku 26-100 dan sebanyak 3% siswa
Series1; 0 sd.
10; 41.6 Series1; 11 sd.
25; 40.3
Series1; 26 sd.
100; 13
Series1; 101 sd.
200; 3 Series1; > 200;
2.1 0 sd. 10 11 sd. 25 26 sd. 100 101 sd. 200
> 200
rumah.
Terkait dengan prestasi membaca, selain siswa mendapat tugas untuk membaca di sekolah, siswa juga membaca di luar jam sekolah. Namun sayangnya, 54% siswa menghabiskan waktu yang sangat sedikit untuk membaca di luar jam sekolah. Hal ini terkait dengan minat baca yang masih perlu ditingkatkan di kalangan siswa Indonesia. Persentase rincinya dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini:
Tabel 4.3. Waktu yang dihabiskan siswa untuk membaca di luar jam sekolah
Kurang dari 30 m 54%
30 m – 1 jam 29%
1 – 2 jam 9.7%
Lebih dari 2 jam 5.4%
6) Level pendidikan yang diharapkan orangtua -Aspir
Gambar 4.7. Level Pendidikan Anak yang Diharapkan Orangtua (dalam %)
Berdasarkan pada gambar 4.7 di atas, tampak bahwa level pendidikan anak yang diharapkan orang tua yang paling tinggi persentasenya adalah pada level pendidikan S2/S3 (32,8%). Selanjutnya level pendidikan S1 (31,1%), SLTA (19,2%), SLTP (7,6%), D1-D2 (6,2%). Sedangkan yang paling rendah pada level pendidikan D3-D4 (3,1%). Data ini menggambarkan tingginya aspirasi orangtua terhadap pendidikan anaknya.
7) Penggunaan komputer di rumah, sekolah dan tempat lain -Uscom
Gambar 4.8. Penggunaan Komputer (dalam %)
Dari gambar 4.8 di atas, tampak bahwa persentase tertinggi penggunaan komputer setiap hari adalah di rumah (22%) diikuti pada penggunaan computer tiap hari di sekolah (12,4%), dan berbeda tipis dengan penggunaan computer di tempat selain rumah dan sekolah (12,2%). Sedangkan persentase tertinggi siswa yang tidak pernah menggunakan komputer adalah di sekolah (63,5%). Persentase ini lebih besar dibandingkan di rumah (57,8%), dan lainnya (51,6%).
8) Kepedulian orangtua terhadap prestasi membaca –Otpduli Series1; SLTP; 7.6
Series1; SLTA; 19.2 Series1; D1‐D2; 6.2
Series1; D3‐D4; 3.1
Series1; S1; 31.1 Series1; S2/S3;
32.8
tiap hari;
lainnya; 12.2 tiap hari; di sekolah; 12.4
tiap hari; di rumah; 22
1‐2 kali/minggu;
lainnya; 22.1 1‐2 kali/minggu; di
sekolah; 19.9 1‐2 kali/minggu; di
rumah; 15.7
1‐2 kali/bulan;
lainnya; 14 1‐2 kali/bulan;
di sekolah; 4.2 1‐2 kali/bulan;
di rumah; 4.4
tidak pernah;
lainnya; 51.6 tidak pernah; di
sekolah; 63.5 tidak pernah; di
rumah; 57.8
tiap hari 1‐2 kali/minggu 1‐2 kali/bulan tidak pernah
Kepedulian Orangtua Tidak pernah
Sekali atau 2 kali sebulan
Sekali atau 2 kali seminggu
hari atau hampir setiap hari Orangtua saya menanyakan apa yang saya
pelajari di sekolah.
7.3 4.5 19.1 69.1
Saya membicarakan tugas sekolah dengan orangtua saya.
10.3 5.4 27.4 57
Orangtua memastikan bahwa saya menyediakan waktu untuk membuat PR.
6.2 4.6 20 69.1
Orangtua saya memeriksa apakah saya mengerjakan pekerjaan rumah.
10.8 4.8 18.1 66.3
Data variabel kepedulian orangtua terhadap prestasi membaca menunjukkan bahwa setiap hari atau hampir setiap hari menunjukkan yang paling banyak yaitu Orangtua saya menanyakan apa yang saya pelajari di sekolah (69,1), Saya membicarakan tugas sekolah dengan orangtua saya (57), Orangtua memastikan bahwa saya menyediakan waktu untuk membuat PR (69,1), Orangtua saya memeriksa apakah saya mengerjakan pekerjaan rumah (66,3). Hal ini menunjukkan orangtua setidaknya mengawasi kegiatan akademik anaknya.
9) Sikap terhadap sekolah -Schatt
Sikap terhadap sekolah
Sangat tidak setuju
Sedikit tidak
setuju Sedikit
setuju Sangat setuju
Saya senang berada di sekolah. 0.5 0.5 5.3 93.7
Saya merasa aman berada di sekolah. 1.4 2.6 20.4 75.5
Saya senang menjadi bagian dari sekolah ini. 1 1.8 7 90.1
Berdasarkan tabel di atas, 93,7% siswa menunjukkan sikap senang berada di sekolah. 75,5%
siswa merasa aman berada di sekolah. Sedangkan 90,1% siswa senang menjadi bagian dari sekolah ini.
Hal ini menunjukkan adanya sikap yang positif terhadap sekolah.
10) Keamanan siswa di sekolah -Unbully
Keamanan siswa di sekolah Tidak
pernah Beberapa kali setahun
Sekali atau 2 kali
sebulan
Setidaknya sekali seminggu Saya sering diganggu dan diolok-olok. 30.2 9.2 17.4 43.1 Ketika bermain atau berkegiatan saya
ditinggal oleh siswa-siswa lain. 58.9 5.9 13.2 22
Seseorang menyebarkan kabar bohong mengenai saya.
55.8 9.7 13.8 20.7
Barang-barang saya pernah dicuri. 53.5 13.2 13.5 19.8
Saya dipukul atau disakiti oleh siswa lain
(misalnya, didorong, dipukul, ditendang). 34.7 13.1 17.9 34.3 Saya dipaksa mengerjakan hal-hal yang
tidak ingin saya kerjakan oleh siswa-siswa lain.
72.5 6.7 8.4 12.4
Hasil tabel di atas menunjukkan sebanyak 72,5% siswa tidak pernah dipaksa mengerjakan hal- hal yang tidak ingin dikerjakan oleh siswa-siswa lain. Siswa tidak pernah ditinggal oleh siswa-siswa lain ketika bermain atau berkegiatan (58,9%). Seseorang tidak pernah menyebarkan kabar bohong mengenai saya (55,8%). Barang-barang siswa tidak pernah dicuri (53,5%). Siswa sering diganggu dan diolok-olok sekali seminggu (43,1%).
11) Lamanya mengerjakan PR -HW
Gambar 4.9. Lamanya Mengerjakan PR (dalam %)
Gambar 4.9 menunjukkan bahwa lamanya siswa mengerjakan PR yang paling banyak adalah pada rentang waktu 16-30 menit (37,01%), diikuti 15 menit atau kurang (22,69%), 31-60 menit (20,95%), lebih dari 60 menit (13,51%), dan persentase terkecil adalah pada siswa tidak ada PR (5,84%).
12) Waktu yang dihabiskan siswa untuk membaca di luar sekolah -Spenred Series1; Anak tidak
ada PR; 5.84
Series1; 15 menit atau kurang; 22.69
Series1; 16 ‐ 30 menit; 37.01
Series1; 31 ‐ 60
menit; 20.95 Series1; lebih dari 60 menit; 13.51
Gambar 4. 10. Waktu untuk Membaca di Luar Sekolah (dalam %)
Berdasarkan gambar 4.10 di atas, dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengah siswa (55,1%) menghabiskan waktu untuk membaca di luar sekolah selama kurang dari 30 menit. Kemudian diikuti pada kelompok siswa yang menghabiskan waktu membaca selama 30 menit- 1 jam (29,5%), 1-2 jam (9,8%), dan persentase yang paling rendah (5,7%) adalah siswa yang menghabiskan waktu membaca di luar jam sekolah selama lebih dari dua jam.
13) Motivasi siswa membaca -Motiv
Motivasi siswa membaca Tidak pernah atau hampir tidak pernah
Sekali atau 2 kali sebulan
Sekali atau 2 kali seminggu
Setiap hari atau hampir setiap hari
Saya membaca untuk kesenangan. 6.6 6.1 32.8 54.5
Saya membaca untuk mencari tahu hal- hal yang ingin saya pelajari.
3.5 5.2 21 70.3
Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar siswa membaca tiap hari untuk mencari tahu hal-hal yang ingin dipelajari (70,3%), sedangkan pada penrnyataan ‘Siswa membaca tiap hari untuk kesenangan, yang menjawab setiap hari sebanyak 54,5%.
Series1; < 30 menit; 55.1;
55%
Series1; 30 mnt
‐ 1 jam; 29.5;
29%
Series1; 1‐2 jam; 9.8; 10%
jam; 5.7; 6%
< 30 menit 30 mnt ‐ 1 jam 1‐2 jam
> 2 jam
14) Frekwensi pinjam buku di perpustakaan -Pjmbk
Gambar 4.11. Frekwensi Pinjam Buku di Perpustakaan Sekolah (dalam %)
Dari gambar 4.11 di atas menunjukkan bahwa persentase tertinggi siswa meminjam buku di perpustakaan sekolah adalah pada frekwensi sekali seminggu (48,5%), kemudian disusul pada frekwensi tidak pernah meminjam (26,3%), 1-2 kali per bulan (16%), dan yang paling rendah adalah frekwensi meminjam beberapa kali dalam setahun (9,2%).
15) Sikap terhadap guru -SSGuru
Sikap terhadap guru
Sangat tidak setuju
Agak tidak
setuju Kurang
setuju Sangat setuju Saya menyukai apa yang saya baca di sekolah. 0.8 1.5 7.8 89.9
Guru saya memberi bacaan yang menarik. 1 1.3 7.7 90
Saya memikirkan hal-hal yang tidak berkaitan
dengan pelajaran. 40.4 10.1 30 19.5
Guru saya mudah dipahami. 5 2.9 11.4 80.7
Saya tertarik dengan apa yang guru saya
katakan. 1.9 2.5 12.4 83.2
Guru saya memberikan hal yang menarik untuk dilakukan.
2.9 2.2 11.4 83.5
Hasil dari tabel di atas menunjukkan bahwa secara garis besar sebagian siswa bersikap positif terhadap gurunya yaitu guru memberi bacaan yang menarik (90%), kemudian siswa menyukai bacaan di sekolah (89,9%), guru memberikan hal yang menarik untuk dilakukan (83,5%), siswa tertarik dengan apa yang dikatakan guru (83,2%), guru mudah dipahami (80,7%), dan yang paling rendah siswa memikirkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pelajaran (40,4%). Pada pernyataan terakhir, karena merupakan pernyataan yang unfavorable, dalam pensekorannya dibalik.
16) Sikap terhadap membaca -Attbc
Series1; sekali seminggu; 48.5;
49%
Series1; 1‐2 kali per bulan; 16; 16%
Series1;
beberapa kali setahun; 9.2;
9%
Series1; tidak pernah; 26.3; 26%
sekali seminggu 1‐2 kali per bulan beberapa kali setahun tidak pernah