• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menuju Solusi Dua-Negara Israel-Palestina ala PBB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Menuju Solusi Dua-Negara Israel-Palestina ala PBB"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Menuju Solusi Dua-Negara Israel-Palestina ala PBB

Penny Kurnia Putri

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana Email: [email protected]

ABSTRACT

Israel-Palestine dispute settlement has been carried out for decades without clear results. United Nations became one of considerable facilitator international organization who placed the issue at the first point. As long as both conflicting countries have not agreed on peace agreement, the UN is considered a failure to create world peace. Beyond that condition, President of Palestine, Mahmoud Abbas, who had fought for Palestinian independence through diplomatic action finally

saw opportunity how to win political support from UN member states. Humanitarian issue become his (Abbas) agenda to improve Palestine political status from ‘entity’ to a ‘non member

observer state’, which means sovereignty of Palestine has been recognized internationally.

However, peace agreement between Israel-Palestine seems like another way to go. A Roadmap towards a two-state political solution should initiated by whoever has competencies and

abilities.

Keywords: Israel-Palestine, Two-state solution, Benjamin Netanyahu, Mahmoud Abbas, United Nation, Resolution 67

Keputusan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 29 November 2012 silam tentang pengakuan kedaulatan negara Palestina, dinilai sebagai kemajuan organisasi internasional ini dalam membawa perdamaian dunia. Sejak berdirinya pada pasca perang dunia kedua, PBB memikul tiga agenda besar penyelesaian konflik dunia internasional, diantaranya;

konflik Indonesia-Belanda, konflik Israel-Palestina, dan konflik Kashmir. Hingga hari ini, belum ada kejelasan tentang kasus Kashmir. Beruntung bagi Indonesia, tak lama setelah Agresi Militer Belanda II 1949 dan diadakannya Konferensi Meja Bundar (KMB), PBB secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 dengan menetapkan statusnya menjadi negara yang merdeka. Berbeda dengan Palestina yang harus menunggu selama 65 tahun hanya untuk sebuah pengakuan kedaulatan. Status barunya sebagai negara berdaulat tahun 2012 tersebut menaikkan posisi Palestina dari badan pengamat menjadi negara pengamat non-anggota di PBB, dan satu langkah lagi menuju status negara merdeka.

(2)

Berdirinya PBB dilatarbelakangi oleh cita-cita mewujudkan keamanan dan perdamaian dunia. Sehingga perannya adalah menciptakan keamanan dan perdamaian dengan memfasilitasinya melalui berbagai perundingan maupun perjanjian antara pihak yang berkonflik.

Ataupun jika mendesak, PBB dapat melakukan intervensi atas nama kemanusiaan. Perlu diingat, PBB berdiri atas inisiasi lima negara besar pemegang hak veto, yaitu AS, Inggris, Perancis, Cina, dan Rusia. Sejarah panjang telah menempatkan kelima negara tersebut untuk duduk bersama di kursi kepemimpinan dunia. Meski kita tahu mana yang lebih dominan diantara semuanya. Dalam perjalanannya telah banyak kasus diselesaikan lewat campur tangan PBB, pun tak sedikit pula yang menjadi semakin berlarut-larut. Adanya kepentingan politik pemegang kuasa seringkali menjadi penghambat terwujudnya keamanan dan perdamaian itu sendiri. Selanjutnya, tulisan ini akan berfokus pada pembahasan peran PBB dalam menciptakan keamanan dan perdamaian bagi Israel-Palestina.

Kalimat pertama yang dilontarkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sesaat setelah diumumkannya keputusan PBB atas pengakuan kedaulatan Palestina pada 29 November 2012 silam adalah “Selama saya berkuasa, tak akan kubiarkan Negara Palestina berdiri sampai kapan pun.” Pernyataan yang langsung diliput oleh beberapa media massa ini sontak membuat dunia internasional menyayangkan ucapan sang Perdana Menteri. Cerita selanjutnya sudah bisa ditebak, ketegangan pun terjadi terutama bagi negara-negara Eropa Barat yang dulu berada di sekeliling Israel kini berbalik arah memihak Palestina.

Palestina mendapatkan kedaulatan tersebut berdasarkan voting yang dilakukan pada 193 negara anggota yang menghasilkan 138 suara dukungan, sembilan negara menyatakan tidak setuju – termasuk diantaranya AS, Kanada, dan Israel – dan sisanya sebanyak 41 negara abstain.

Keberpihakan negara-negara di Benua Biru-lah yang memungkinkan ini semua terjadi. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, patut berbangga hati karena usahanya memperjuangkan status Palestina melalui jalur diplomatik selama ini telah membuahkan hasil. Pemilihan tanggal tersebut boleh jadi bukan suatu kebetulan, karena tepat 65 tahun yang lalu, Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 181 dengan memecah tanah Arab menjadi dua bagian, namun tidak terwujud dan hanya menjadi akta kelahiran bagi negara Israel. Pada tahun 2012 ini, PBB baru

(3)

menyelesaikan keputusan yang tertunda tersebut dengan mengeluarkan akta kelahiran negara Palestina.1

Upaya perdamaian dengan solusi politik “dua negara” sebenarnya sudah menjadi agenda utama PBB sejak dikeluarkannya Resolusi 181 tentang pembagian wilayah untuk bangsa Arab dan Yahudi. Namun karena bangsa Arab merasa diperlakukan tidak adil melalui resolusi tersebut, akhirnya memicu kerusuhan dan berakhir dengan pencaplokan wilayah Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Jerusalem Timur. Saat ini perjuangan pemerintah Palestina selain memperoleh kemerdekaan, juga menuntut pengembalian wilayah-wilayah yang telah dianeksasi oleh Israel.

Tetapi nampaknya Israel enggan, bahkan tidak menggubris tuntutan tersebut dan makin memperluas wilayah aneksasinya.

Beredar banyak versi terkait penyelesaian konflik Israel-Palestina yang terkesan semu ini.

Salah satunya adalah karena keterlibatan AS yang menyebabkan konflik berlarut-larut tanpa kepastian. Adanya kepentingan AS untuk menyebarkan demokrasi di wilayah Timur Tengah dan liberalisasi ekonomi. Kerja sama ini mencapai puncaknya dibawah administrasi Netanyahu yang neokonservatif. Privatisasi dan liberalisasi ekonomi merupakan beberapa agenda yang diusung Partai Likud dan sangat menguntungkan perekonomian AS. Keberadaan Israel ini juga turut memberi andil terhadap lancarnya serangan Bush Jr. kepada Irak utuk menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein tahun 2003.

Kenyataan bahwa Israel merupakan sekutu AS, sekaligus AS sebagai salah satu pemegang hak veto di PBB, sebelumnya membuat perundingan kedua negara berjalan alot.

Perjanjian damai yang pernah disepakati pun berakhir dengan pelanggaran, dari Camp David hingga Oslo Agreement. Karena meski namanya Perjanjian Oslo, tetapi kesepakatan antara PLO (Palestinian Liberty Organization) dan Israel di tahun 1993 ini ditandatangani Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin di Washington DC dengan disaksikan Presiden AS, Bill Clinton. Tampak bahwa peran AS sangat besar disini.

Puncak kegagalan perjanjian terjadi di masa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berkuasa. Tanpa mengindahkan apa yang telah disepakati dalam Perjanjian Oslo, ia tetap menduduki wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza yang seharusnya sudah menjadi wewenang pemerintah Palestina. Menyulut gerakan Intifada II tahun 2001 dan mengantarkannya pada

1 Pernyataan Abbas seperti dimuat BBC. Liputan 6 online, “29 November, Tanggal Keramat Israel Direbut Palestina”. (daring) www.liputan6.com,

(4)

serangan balasan Israel melalui Operation Cast Lead, yang membumi-hanguskan Jalur Gaza dengan ratusan korban sipil di tahun 2008-2009.

Perjalanan panjang proses perdamaian bagi Israel-Palestina kembali mendapat perhatian dunia internasional sejak saat itu. Itikad baik pemerintah Palestina untuk memperjuangkannya secara diplomatik lewat PLO sejak 1993 mulai berbuah manis. Meski masih diwarnai dengan ancaman dari kaum ekstrimis Hamas, namun pemerintah Palestina mampu meyakinkan masyarakat dunia bahwa Hamas – yang dijadikan alasan bagi Israel tetap menyerang Palestina – dapat dikendalikan. Sebaliknya, lambat laun negara pendukung Israel semakin berkurang dan mulai memihak Palestina.

Sebagai sebuah organisasi internasional, langkah PBB memberikan kedaulatan kepada Palestina sudah berada di jalur yang benar. Karena tawar-menawar lewat berbagai perjanjian tak kunjung mencapai titik terang. Pelanggaran dan penindasan tetap terjadi di setiap celah. Lagipula tindakan ini sesuai idealisme PBB untuk menciptakan keamanan dan perdamaian dunia, bahwa segala bentuk penindasan tak lagi dibenarkan di muka bumi dan sebuah bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri, Pertanyaan yang mungkin hinggap di benak kita adalah kenapa baru sekarang terlaksana. Kenapa harus menunggu puluhan tahun hanya untuk satu kata

“kedaulatan”.

Menjawab pertanyaan diatas, diperlukan analisis berlapis untuk menghadirkan relevansi sebab-akibatnya secara transparan. Pertama, keputusan PBB muncul bukan karena suatu kebetulan. Ada dukungan dari mayoritas negara anggota yang menghendakinya. Keberpihakan negara anggota ini merupakan dampak dari pergeseran norma. Bila di tahun 1990an, perang Israel-Palestina mendapat dukungan atas nama membasmi terorisme Hamas, sekarang norma perang dan penjajahan telah bergeser menjadi norma perdamaian dan hak asasi manusia.

Kenyataan banyaknya korban sipil akibat perang, sedikit banyak mempengaruhi alasan keberpihakan mereka. Kedua, perjuangan status Palestina sejak 1947 selalu terbentur dengan kepentingan AS sebagai sekutu Israel. Upaya perdamaian selalu berakhir kebuntuan karena faktor geopolitik pendudukan Gaza dan Tepi Barat.

Sampai sekarang pun, AS masih berada di belakang Israel dan termasuk salah satu negara yang tidak setuju akan kedaulatan Palestina. Namun bukan berarti AS tidak menginginkan perdamaian antara keduanya, hanya saja pemerintah AS, Barack Obama pada waktu itu, ingin pemerintah Israel sedikit melunakkan kebijakan politiknya atas Palestina. Karena bagaimanapun

(5)

juga, keputusan PBB tersebut merupakan kekalahan diplomatik memalukan bagi AS dan Israel.

Agar tidak terpuruk lebih jauh lagi, Gedung Putih bahkan berkali-kali memperingatkan Israel untuk tidak menjalankan program E-1nya2. Sebab, selain akan memotong wilayah Tepi Barat dan Jerusalem Timur, pendudukan itu juga akan mempermalukan AS sebagai sekutunya. Lebih serius, E-1 akan menutup jalan solusi antar dua negara.

Selanjutnya adalah peran dari pemerintah Palestina yang berhasil menggandeng international law untuk berada dipihaknya sehingga melatarbelakangi munculnya deklarasi kebangkitan Palestina yang diajukan ke Mahkamah Internasional (International Criminal Court/

ICC) pada Januari 2009. Deklarasi ini berupaya memberi wewenang Mahkamah untuk memulai investigasi kriminal dalam wilayah hukumnya terhadap apa yang terjadi pada teritori Palestina sejak 2002. Yang menarik adalah bahwa melalui deklarasi inilah yang telah menghalangi keabsahan status Palestina selama beberapa dekade. Karena pada 1947, panitia kecil Majelis Umum PBB secara bersama-sama, melakukan voting untuk tidak meminta nasihat kepada ICC.

Yang mendasari pertimbangannya adalah sbb; ‘Baik PBB maupun negara anggotanya, mampu melakukan dan merekomendasikan penyelenggaraan proposal apapun perihal konstitusi (undang-undang) dan masa depan pemerintahan Palestina. Khususnya, segala rencana pembagian wilayah yang menjadi pertentangan, termasuk pengambilalihan tanpa izin terhadap penduduk Palestina’.

Nampaknya dampak dari ‘Operation Cast Lead’ yang dilakukan Israel, disusul adanya laporan dari Tim Pencari Fakta PBB (UN Fact-Finding Mission/FFM) pada konflik di Gaza, dan deklarasi yang ditujukan pada ICC, patut menjadi pertimbangan dan tak dapat dipungkiri hal tersebut meningkatkan tuntutan ‘legalisasi’ secara diplomatik, budaya, politik, serta aspek militer dari konflik. Dengan kata lain, tekanan dunia internasional dan adanya fakta terjadinya kejahatan perang, mau tidak mau memaksa PBB untuk mengakui kedaulatan Palestina di tahun 2012.

Cepat atau lambat, keputusan tersebut memang harus dibuat. Tantangan setelahnya adalah mewujudkan keamanan dan perdamaian sebagaimana tujuan utama PBB. Status baru Palestina diketahui tidak dapat menyenangkan semua pihak, Israel terang-terangan menolak keputusan tersebut. Kerangka legal kedaulatan tidak berdampak apapun karena tidak mengubah kenyataan di lapangan. Penyerangan masih saja terjadi, pendudukan wilayah terus berlangsung,

2 Program E-1 adalah program pemerintah Israel untuk terus memperluas kantong-kantong pemukiman Yahudi.

Rencananya akan dibangun 3000 pemukiman baru di sekitar wilayah pendudukan Jalur Gaza dan Tepi Barat.

(6)

dan pembangunan pemukiman semakin meluas. Kebijakan politik garis keras ini datang dari Perdana Menteri Israel yang sudah menjabat selama empat periode, Benjamin Netanyahu.

Menurutnya, keputusan PBB dinilai justru akan merusak perjanjian perdamaian dua negara yang selama ini sudah berjalan.

Kesediaan berdamai bagi Benjamin Netanyahu adalah suatu kelemahan. Sebab menerima kedaulatan Palestina mensyaratkan Israel untuk meninggalkan wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat. Sedangkan menurutnya, tidak ada tawar-menawar menyangkut wilayah tersebut. Dalam pandangan Bibi, prinsip yang seharusnya berlaku adalah peace for peace, yakni perdamaian ditukar dengan perdamaian. Bahwa solusi terbaik dalam hubungan Israel-Palestina adalah meletakkan tumpuan kepada maksimalisasi nilai politik kekuasaan, yakni kekuatan.

PBB melakukan langkah besar dengan mengakui kedaulatan Palestina. Hal tersebut patut dihargai mengingat penindasan yang sudah dialami rakyat Palestina selama puluhan tahun. Yang patut disoroti sekarang adalah hasil dari keputusan itu. Apabila ternyata – dan sayangnya itu benar – kedaulatan Palestina tidak membawa perdamaian yang seharusnya, maka harus ada langkah-langkah selanjutnya terkait penyelesaian konflik. Sejauh ini PBB memberi waktu bagi Israel untuk menarik pasukan militernya di Jalur Gaza dan Tepi Barat hingga tahun 2017.

Kemungkinan jika upaya ini gagal, maka tindakan mengerahkan pasukan militer PBB harus dilaksanakan untuk memaksa Israel meninggalkan wilayah aneksasinya.

Langkah lain yang bisa dilakukan PBB adalah memberikan kemerdekaan kepada Palestina di tahun-tahun mendatang. Kemudian menindaklanjuti hasil dari ‘Goldstone Report’, sebuah laporan mengenai Operation Cast Lead. Resolusi Majelis Umum PBB yang menguasakan laporan ini terhadap FFM mencatatnya sebagai bentuk kepedulian ICC terhadap status Palestina. Resolusi ini menegaskan bahwa kedua otoritas pemerintahan (Israel dan Palestina) akan diinvestigasi dan diusut terkait tuduhan dan tanggung jawab atas kejahatan perang terhadap kemanusiaan seperti yang tertera dalam dokumentasi laporan.

Berdasarkan pembahasan diatas, berlarut-larutnya proses perdamaian antara Israel- Palestina lebih banyak disebabkan oleh keterlibatan AS di belakang Israel. Hak vetonya di PBB yang menjadi penghalang Palestina untuk merdeka. Berbeda dengan penyelesaian konflik etnis Serbia-Bosnia yang hanya membutuhkan waktu tiga tahun. Pada kasus Serbia-Bosnia, posisi PBB murni sebagai pihak ketiga karena tidak adanya keterlibatan langsung dengan pihak yang berkonflik. Sehingga dengan mudah, PBB khususnya AS turun tangan langsung disertai

(7)

ancaman militer memaksa kedua negara melakukan perundingan perdamaian. Namun bukan berarti Palestina tidak mempunyai peluang untuk merdeka. Organisasi seperti PBB berjalan digerakkan oleh negara-negara anggotanya, norma internasional yang berlaku menjadi sangat berpengaruh pada proses pengambilan keputusan.

Melihat situasi politik yang sudah banyak berubah dibandingkan dua puluh tahun lalu, ditambah dengan menjamurnya gerakan civil society, perjuangan Palestina memperoleh kemerdekaan dikatakan tinggal selangkah lagi. Dengan PBB mengakui kedaulatan Palestina sudah membuktikan bahwa bahkan AS sendirian tidak bisa mencegahnya. Status sebagai organisasi perdamaian, menjadikan PBB memikul tanggung jawab besar akan terciptanya situasi dunia yang kondusif. Tidak bisa dipungkiri, PBB telah banyak menyelesaikan kasus internasional meski ada juga yang masih terbengkalai. Kemajuan proses kasus Palestina akan mengurangi “pekerjaan rumah” PBB. Penulis berpendapat bahwa jalur diplomatik tetap menjadi langkah terbaik untuk mempertahankan eksistensi diri di tengah pertarungan politik dunia internasional.

Referensi :

• Why Statehood Now: A Reflection on the ICC’s Impact on Palestine’s Engagement with International Law.

Author(s) & Review by: Michael G. Kearney

Source: C. Meloni and G. Tognoni (eds.), Is There a Court for Gaza?

Published by: T.M.C. ASSER PRESS, The Hague, The Netherlands, and the authors/editors 2012

Stable URL: http://www.jstor.org

• Liputan6 online, “29 November, ‘Tanggal keramat’ Israel Direbut Palestina” (daring), 30 November 2012, http://m.liputan6.com, diakses 29 mei 2015.

Referensi

Dokumen terkait