MAKNA KATA RABB DALAM SURAH AL-ISRA’
KAJIAN SEMANTIK GRAMATIKAL
TESIS
Oleh
ABDUL KHOLIQ 127009035
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
MAKNA KATA RABB DALAM SURAH AL-ISRA’
KAJIAN SEMANTIK GRAMATIKAL
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Linguistik pada Program Pascasarjana
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Oleh:
ABDUL KHOLIQ 127009035
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
Judul Tesis : MAKNA KATA RABB DALAM SURAH AL-ISRA’
KAJIAN SEMANTIK GRAMATIKAL Nama Mahasiswa : ABDUL KHOLIQ
Nomor Pokok : 127009035 Program Studi : Linguistik Konsentrasi : Linguistik
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Dr. Nurlela, M.Hum.) (Dr. Mahriyuni, M.Hum.)
Ketua Anggota
Ketua Program Studi Dekan
(Prof.T. Silvana Sinar, M.A.,Ph.D.) (Dr. Syahron Lubis, M.A.)
Tanggal Lulus : 11 Februari 2015
Telah diuji pada
Tanggal: 11 Februari 2015
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Nurlela, M.Hum. (...)
Anggota : 1. Dr. Mahriyuni, M.Hum. (...)
2. Dra. Pujiati, M.Soc. Sc., Ph.D. (...)
3. Dr. Khairina Nasution, M.S. (...)
4. Rahmadsyah Rangkuti, M.A., Ph.D. (...)
PERNYATAAN
Judul Tesis
MAKNA KATA RABB DALAM SURAH AL-ISRA’
KAJIAN SEMANTIK GRAMATIKAL
Dengan ini Penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara adalah benar hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang dilakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, Februari 2015 Penulis,
Abdul Kholiq
MAKNA KATA RABB DALAM SURAH AL-ISRA’
KAJIAN SEMANTIK GRAMATIKAL
ABSTRAK
Penelitian ini menganalisis makna kata rabb dan bentuk gramatikalnya yang terdapat dalam surah al-Isra‟. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna kata rabb yang selalu dikaitkan dengan makna Tuhan atau sifat yang disandarkan pada Tuhan. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Semua kata rabb yang terdapat di dalam surah al- Isra‟ sebagai sumber data penelitian ini, dijadikan data penelitian. Teori yang digunakan adalah teori semantik leksikal dan gramatikal. Hasil penelitian sebagai berikut. Kata rabb selalu diberi makna Tuhan atau sifat yang disandarkan pada Tuhan. Secara makna gramatikal hal ini benar, karena Tuhan yang dimaksud disini adalah Allah Yang Mahaberkuasa, Yang Mahamengatur, Yang Mahapencipta, Yang Mahamengendalikan, Yang Mahamengajarkan, Yang Mahamemberi, Yang Mahamemberitahu, Yang Mahaberilmu, Yang Maha Berkehendak, dan Yang Maha Memelihara. Sedangkan pada kata rabbaya (
رَٖبَّترَز),
bermakna mendidik karena kata rabbaya (
رَٖبَّترَز)
disandarkan pada selain Tuhan yakni kedua orang tua.Kata kunci: rabb, al-Isra‟ dan semantik gramatikal.
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Selama melakukan penelitian dan penulisan tesis ini, Penulis banyak memperoleh bantuan moril dan material dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesmpatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:
1. Ibu Dr. Nurlela, M.Hum., selaku Ketua Komisi Pembimbing yang tidak kenal lelah dalam membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan tesis ini, sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga niat baik Ibu dibalas oleh Allah SWT serta mendapatkan ridha-Nya.
2. Ibu Dr. Mahriyuni, M.Hum., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang juga telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam meneyelesaikan penulisan tesis ini. Semoga niat baik Ibu dibalas oleh Allah SWT serta mendapatkan ridha-Nya.
3. Ibu Dra. Pujiati, M.S.oc., Sc, Ph.D., selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan pada penulis dalam penulisan tesis ini. Semoga niat baik Ibu dibalas oleh Allah SWT serta mendapatkan ridha-Nya.
4. Ibu Dr. Khairina Nasution, M.S., selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan pada penulis dalam penulisan tesis ini. Semoga niat baik Ibu dibalas oleh Allah SWT serta mendapatkan ridha-Nya.
5. Bapak Rahmadsyah Rangkuti, M.A., Ph.D., selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.
6. Ibu Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D, selaku Ketua Program Studi.
7. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya.
8. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc, (CTM), Sp.A (K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
9. Kedua orang tua yang terkasih dan tercinta yang telah memberikan kasih sayang, nasehat, dukungan, dan doa sehingga ananda dapat menelesaikan studi Strata Dua.
10. Mertua yang terkasih dan tercinta yang telah memberikan, nasehat, dukungan, dan do,a sehingga penulis dapat menelesaikan studi Strata Dua.
11. Istri tercinta yang tidak kenal lelah mendampingi dan memberi motivasi pada penulis untuk menyelesaikan studi.
Penulis menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Allah memberi ridhonya pada kita semua.
Medan, Februari 2015 Penulis,
Abdul Kholiq
RIWAYAT HIDUP
Nama : AbduL Kholiq
NIM : 127009035
Fakultas / Prog.Studi : Ilmu Budaya / Program Magister Lingustik Tempat / Tgl. Lahir : Padang / 27 Juli 1984
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Dusun II Jl. Terusan Desa Bandar Setia Kec. Percut Sei Tuan
Orang Tua
Ayah : Harli lubis
Pekerjaan : Petani
Ibu : Yuherlis
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat Orang Tua : Dusun II Jl. Terusan Desa Bandar Setia Kec. Percut Sei Tuan
Jenjang Pendidikan
Tahun 1991 s/d 1997 : SD Negeri 07 Kelabu Tahun 1997 s/d 2000 : MTs Darussalam Gontor Tahun 2004 s/d 2007 : SMA Amir Hamzah Medan
Tahun 2007 s/d 2011 : S1 Bahasa Arab Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Medan
Tahun 2012 s/d 2015 : S2 Linguistik Universitas Sumatera Utara Medan
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...i
KATA PENGANTAR ...ii
RIWAYAT HIDUP ...iv
DAFTAR ISI ...v
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ...1
1.2 Rumusan Masalah...6
1.3 Tujuan Penelitian ...6
1.4 Manfaat Penelitian ...6
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2.1 Kajian Pustaka ...7
2.2.1 Pengertian Makna Gramatikal ...7
2.1.2 Macam-Macam Makna Gramatikal ...8
2.1.2.1 Makna Gramatikal Afikasi ...8
2.1.2.2 Makna Gramatikal Reduplikasi ...10
2.1.2.3 Makna Gramatikal Komposisi ...12
2.1.3 Teori Makna Leksikal dan Makna Gramatikal ...14
2.14 Makna Kata Rabb Secara Bahasa ...28
2.2 Kerangka Teori ...30
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Data dan Sumber Data ...36
3.2 Pengumpulan Data ...36
3.3 Teknik Analisis Data ...47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ...40
4.1.1 Makna Kata Rabb dalam dalam Surah al-Isra‟ ...40
4.1.2 Makna Gramatikal Kata Rabb dalam Surat al-Isra‟ ...51
4.2 Pembahasan ... 99
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 106
5.2 Saran ... 107
DAFTAR PUSTAKA ... 108
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Al-Quran yang secara harfiah berarti "bacaan sempurna" merupakan suatu nama pilihan Allah yang sangat tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi al-Quran al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu (Shihab 1966: 3).
Al-Quran dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan tidak dapat menulis dengan aksaranya, bahkan dihafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Penelitian yang dilakukan terhadap Al- Quran, bukan hanya sejarahnya saja, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi masa, musim, dan saat turunnya, sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya. Al-Quran dipelajari oleh kaum muslimin bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat dan tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kecenderungan mereka, namun semua mengandung kebenaran. Al-Quran layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Al-Quran diatur tatacara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, dimana tempat yang
terlarang, atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya.
Al-Quran yang agung ini terdiri dari 114 surah termasuk didalamnya adalah surah al-Isra‟. Surah al-Isra‟ terdiri dari 111 ayat dan turun di kota Madinah, surah al-Isra‟ juga dinamai surah Bani Isra‟il (Keturunan Israil). (Depag RI 2005: 282).
Kata isra‟ mempunyai arti sebagai berikut : isra‟ ( ءاسظٳ ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata asrā yusrī (ٓسعٗ -ٓسظا) yang secara etimologis berarti berjalan pada malam hari atau membawa berjalan pada waktu malam. Kata asrā adalah mazid bi harf kata kerja yang sudah diberi tambahan satu huruf, yaitu alif, dengan demikian, kata asrā berasal dari kata sarā –yasrī- saryan- sirāyatan (ۃٗاسظّ-اٗسظ -ٓسعٗ –ٓسظ). (Ghafar 2010: 26).
Menurut Ibnu manzur, di dalam buku lisanu al-„Arab, kata asrā dan sarā mempunyai arti yang sama, yaitu perjalanan pada malam hari, penambahan alif pada kata asrā adalah menurut bahasa penduduk hijaz, dan sebagai buktinya al- Quran menggunakan kedua kata tersebut dengan arti yang sama. Misalnya, didalam QS. Al-Isra„ ayat 1 digunakan kata asrā dan QS. Al-Fajr ayat 4 menggunakan kata sarā –yasrī. (Ibnu mansur 1419: 26).
Menurut Abu Ishaq, makna kata asrā dan sarā adalah perjalanan yang dilakukan pada malam hari. Hanya saja, pada QS. Al-Isra„ ayat 1 Allah SWT memperkuat atau ta‟kid kata asrā dengan al-lail (malam). (Ghafar 2010: 26).
Dari beberapa pendapat diatas kata Isra‟ dapat diartikan sebagai perjalanan malam atau diperjalankan dimalam hari, Dalam surah al-Isra‟
dikisahkan Rasulullah SAW dengan izin Allah SWT dan atas dasar “keinginan dan kehendak” Allah SWT sendiri telah mampu menaklukkan sesuatu yang boleh jadi karena kehendak Allah SWT pula tidak akan pernah sekalipun akan mampu ditaklukkan seorang manusia manapun selain beliau. Rasulullah SAW telah diperjalankan untuk menempuh jarak yang luar biasa jauhnya dan sampai detik ini tidak diketahui oleh ilmuwan manapun mengenai jarak yang sebenarnya.
Peristiwa Isra‟ mi‟raj diperingati setiap tahun oleh umat islam di Indonesia dan merupakan hari libur Nasional, sebagai bentuk penghormatan pemerintah kepada umat Islam yang ada di indonesia. Dalam peristiwa Isra‟
mi‟raj ini perintah solat lima waktu sehari semalam diterima oleh Nabi langsung dari Allah SWT dan selanjutnya disampaikan kepada umatnya. Surah al-Isra‟
dipilih sebagai objek penelitian dilatar belakangi oleh penamaannya dan peristiwa besar yang diceritakan didalamnya serta setiap kata rabb yang termuat dalam surah ini selalu diartikan Tuhan atau sifat yang disandarkan pada Tuhan
Ibnu Faris berpendapat, kata rabb menunjukkan beberapa arti pokok, yang pertama: memperbaiki dan mengurus sesuatu. Maka ar-Rabb berarti yang menguasai, menciptakan dan memiliki, juga berarti Yangmemperbaiki/mengurus sesuatu ( Zarkazy 500 H:313).Ibnul katsir berkata, “Kata ar-Rabb secara bahasa diartikan pemilik, penguasa, pengatur, pembina, pengurus dan pemberi nikmat.
Kata ini tidak boleh digunakan dengan tanpa digandengkan (dengan kata yang lain) kecuali untuk Allah Ta‟ala (semata), dan kalau digunakan untuk selain Allah maka (harus) digandengkan (dengan kata lain), misalnya: rabbu kadza (pemilik sesuatu ini). (Abdullah 2004: 45).
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari memaparkan, “(Kata) ar-Rabb dalam bahasa Arab memiliki beberapa (pemakaian) arti, penguasa yang ditaati di kalangan orang-orang Arab disebut rabb, orang yang memperbaiki sesuatu dinamakan rabb, (demikian) juga orang yang memiliki sesuatu dinamakan rabb.
Terkadang kata ini juga digunakan untuk beberapa arti selain arti di atas, akan tetapi semuanya kembali pada tiga arti tersebut. Maka rabb kita (Allah Ta‟ala) yang maha agung pujian-Nya adalah penguasa yang tidak ada satupun yang menyamai dan menandingi kekuasaan-Nya, dan Dialah yang memperbaiki (mengatur semua) urusan makhluk-Nya dengan berbagai nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, serta Dialah pemilik (alam semesta beserta isinya) yang memiliki (kekuasan mutlak dalam) menciptakan dan memerintahkan (mengatur). (Ath-Thabari 340 H:89).
Ar-Rabb adalah al-Murabbii (yang maha memelihara dan mengurus) seluruh makhluk-Nya dengan mengatur urusan dan (melimpahkan) berbagai macam nikmat (kepada mereka). Maka ar-Rabb adalah Yang Maha Pencipta sekaligus Penguasa dan Pengatur alam semesta beserta isinya. (Al-Utsaimin:
1997:43).
Kata rabb dalam surah al-Isra‟ bermakna Tuhan atau sifat yang disandarkan pada Tuhan. Salah satu contoh firman Allah dalam surat al-Isra‟ ayat 79 yang berbunyi :
َكَثَعْحًَ نَأ َسََع َ َّلَّ ً َلَِف َنَ ِوِت ْدَّجَ َتََف ِلََّْونا َنِمَو َكبُّتَر
ًادوُمْحَّم ًاماَقَم -
٧٩ -
Wamina al-laili fatahajjad bihi nāfilatin al-laka‟asā an yab‟aśaka rabbuka maqā mān maḥmūdān. (79).
Artinya:
Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu Mengangkatmu ke tempat yang terpuji.
Pada ayat diatas kata rabb diartikan Tuhan, kata rabb juga diartikan sifat yang sandarkan pada Tuhan. Hal ini dapat dilihat dalam surah al-Isra„ ayat 102 yang berbunyi:
ءلاُؤـَى َلَزىَأ اَم َتْمِوَع ْدَقَم َلاَق ِ ْرَااَو ِااَواَم َّلما بُّ َر َّلا ا ّ
َكبُّي ُظَ َا ِّنّ
ّ اَو َرِئٓب َصَت
ًاروُحْثَم ُنوَعْرِف َيَ
- ١٠٢ -
“Qāla laqad „alimta mā anzala ha`ulā`i illā rabbu al-samāwāti wa al-arḍi bașā`ira wainnī laaẓunnuka yā fir„aunu maśbūran”
Artinya:
Dia (Musa) menjawab, “Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang Memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir„aun.” (Depag RI 2005: 209).
Masalah ini perlu dikaji melalui penelitian literatur berbahasa Arab dengan pendekatan semantik gramatikal, karena perbedaan arti yang digunakan pada kata Rabb akan sangat berpengaruh kepada implikasi dan implementasinya.
Untuk memudahkan kaum muslimin yang ada di Indonesia mulai tahun 1984 negara Indonesia secara resmi telah memiliki Mushaf al-Quran Standar sebagai acuan bagi pentashihan dan penerbitan Mushaf al-Quran di Indonesia.
Mushaf al-Quran ini terdiri dari tiga jenis berdasarkan segmen penggunanya: (1) Mushaf Standar Usmani untuk orang awam, (2) Mushaf Standar Bahriyah untuk para penghafal al-Quran, dan (3) Mushaf Standar Braille untuk para tunanetra.
Praktis sejak saat itu sampai sekarang, semua jenis cetakan dan penulisan al- Quran yang beredar di Indonesia secara legal harus mengacu pada salah satu dari tiga jenis Mushaf Al-Quran Standar tersebut. ( Madzkur 2014: 2).
Depertemen Agama Republik Indonesia juga menerbitkan al-Quran dan terjemahannya dan telah beredar diseantero Nusantara dengan tujuan agar supaya al-Quran dengan mudah dipahami oleh orang Islam di Indonesia hal ini dikarenakan menggunakan bahasa yang bukan bahasa Indonesia yaitu bahasa Arab.
Peneliti memilih al-Quran dan terjemahan Depertemen Agama RI yang diterbitkan oleh CV Penerbit J- Art bandung, Tahun 2005 sebagai sumber data dalam penelitian ini dikarenakan al-Quran terjemahan Depertemen Agama RI mudah didapat dan mudah memahaminya, serta telah ditashihkan oleh yayasan penterjemah/ pentafsir al-Quran lajnah pentashih mushaf al-Quran Depertemen Agama Republik Indonesia telah tersebar dibaca oleh seantero umat muslim di Indonesia.
Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas, penelitian ini akan meneliti makna kata rabb dalam Surah al-Isra‟(Kajian Semantik Gramatikal).
Penelitian ingin menguji (mengkaji) makna kata Rabb dalam surah al- Isra‟yang selalu dikaitkan dengan arti Tuhan atau sifat yang disandarkan pada Tuhan serta mengkaji makna gramatikal kata Rabb dalam surah al-Isra‟.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa makna kata Rabb dalam surah al- Isra‟?
2. Bagaimanakah makna gramatikal kata Rabb dalam surat al-Isra‟?
1.3 Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan masalah penelitian, tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Mendeskripsi makna kata Rabb dalam surah al- Isra‟.
2. Mendeskripsi makna gramatikal kata Rabb dalam surat al-Isra‟.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah keilmuan terutama dalam menganalisis makna kata rabb dalam surah al-Isra‟.
2. Secara praktis dapat digunakan sebagai masukan bagi peneliti yang akan meneliti makna kata rabb pada surah yang lain dalam al-Quran dengan menggunakan metode yang sama.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Pengertian Makna Gramatikal
Pateda (2001:103) mengatakan makna gramatikal (grammatical meaning), atau makna fungsional (fungsional meaning), atau makna struktural (structural meaning), atau makna internal (internal meaning) adalah makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya kata dalam kalimat.
Kata mata mengandung makna leksikal alat atau indra yang terdapat di kepala yang berfungsi untuk melihat. Namun setelah kata mata ditempatkan dalam kalimat, misalnya. “Hei, mana matamu?” kata mata tidak mengacu lagi pada makna alat untuk melihat, tetapi menunjuk pada cara bekerja, cara mengerjakan yang hasilnya kotor, tidak baik. Belum lagi kata mata digabungkan dengan kata lain yang menghasilkan urutan kata: air mata, mata air, mata duitan, mata keranjang, mata pisau, telur mata sapi, yang semuanya mengandung makna yang sudah lain dengan makna kata mata. Dengan contoh ini terlihat bahwa maksud kata mata bergeser. (Pateda 2001: 104).
Dalam Bahasa Indonesia terdapat kata dua. Kalau kata dua ditempatkan dalam kalimat, misalnya: Dua? Dua! Masih dua. Baru dua. Masih dua. Dua kali.
Dua lagi. Dua-dua! Kata, urutan kata dua memperlihatkan makna yang berbeda- beda. Makna inilah yang disebut makna gramatikal. Makna gramatikal dipelajari secara luas dalam semantik gramatikal. (Pateda 2001: 104).
Kridaksana (2001) mengatakan makna gramatikal sebagai hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam satuan-satuan yang lebih besar, misalnya hubungan antara kata lain dalam prase atau klausa. (Kridaksana 2001, dalam Sakholid 2006 :142).
Chaer (2009 : 277) mengatakan tahap kedua untuk bisa memahami makna suatu ujaran adalah memahami makna gramatikal, yakni makna yang “ muncul”
sebagai hasil suatu proses gramatikal. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal adanya beberapa proses gramatikal. Yang utama adalah proses afikasi, proses reduflikasi, proses komposisi, proses pemfrasean, dan proses pengalimatan.
Tampaknya makna-makna gramatikal yang dihasilkan dalam proses gramatikal ini berkaitan erat dengan fitur makna yang dimiliki setiap butir leksikal dasar.
2.1.2 Macam- Macam Makna Gramatikal 2.1.2.1 Makna Gramatikal Afikasi
Afikasi adalah proses penumbuhan afiks pada bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia afikasi merupakan salah satu proses penting dalam bentukan kata dan penyampaian makna. Jenis afiks dan makna gramatikal yang dihasilkan cukup banyak dan beragam. Satu hal yang jelas makna afiks yang dihasilkan mempunyai kaitan dengan fitur semantik bentuk dasarnya. Umpamanya dalam prefiksasi dengan prefix ber- pada bentuk dasar nomina yang berfitur makna [+pakaian] atau [+perhiasan] akan melahirkan makna gramatikal „menggunakan‟ atau „memakai‟.
Misalnya pada kata berdasi, bersepatu, berbedak, berpita, dan bercawat. Pada bentuk dasar yang berfitur semantik [+kendaraan] akan melahirkan maka
„mengendarai‟, „naik‟ atau „menumpang‟. Misalnya pada kata bersepeda, berkuda, berkereta, dan berbemo. (Chaer 2009: 279).
Chaer (2009: 280) selanjutnya menjelaskan Kalau sebuah bentuk dasar memiliki fitur makna yang “menonjol” lebih dari satu, maka makna gramatikal yang muncul pun bisa lebih dari satu. Umpamanya kata patung memiliki fitur makna yang menonjol (a) [+hasil (pekerjaan)] dan (b) [+sifat diam (tak berbicara, tak bergerak)], maka bila dibubuhi prefiks me- menjadi kata mematung akan memunculkan makna gramatikal (a) „membuat patung‟ dan (b) „diam seperti patung‟. Padahal kita menyambal hanya bermakna gramatikal „membuat sambal‟
dan kata membatu hanya berkmakna gramatikal „(keras) seperti batu‟. Mengapa?
Karena kata sambal hanya memiliki satu fitur makna yang menonjol yaitu [+hasil (pekerjaan)], dan kata batu hanya memiliki satu fitur makna yang menonjol yaitu [+„ (keras) seperti batu‟].
Untuk mengetahui makna gramatikal makna yang diacu oleh kata mematung tampaknya tidak cukup hanya pada tingkat morfologi, melainkan kita harus melihat pada tingkatan gramatikal yang lebih tinggi yaitu tingkatan sintaksis seperti kalimat (1) yang memberikan makna gramatikal membuat patung; dan kalimat (2) yang memberikan makna gramatikal “(diam) seperti patung‟.
(1) Usaha mematung banyak dilakukan penduduk desa itu.
(2) Dia duduk saja mematung dalam seminar itu.
Dalam praktek berbahasa orang lebih umum menggunakan konstruksi, seperti naik sepeda daripada bersepeda, begitu juga konstruksi minum kopi dari pada mengopi, dan menghisap rokok daripada merokok. Hal ini tentunya ada
kaitan dengan masalah bahwa bahasa Indonesia secara psikologis bukan bahasa pertama bagi sebagian besar orang Indonesia. Bahsa pertama mereka, atau bahasa ibu mereka adalah bahsa daerah masing-masing, meskipun mereka tentunya dalam kadar yang berbeda memiliki kompetensi akan bahasa Indonesia.
Kesalahan penggunaan afiks, seperti sufiks –i dan sufiks –kan bukanlah hal yang tidak lazim. Banyak kita dapati kesalahan penggunaan afiks-afiks dalam tulisan, baik dari mereka yang hanya berpendidikan menengah maupun pada mereka yang berpendidikan tinggi. (Chaer 2009: 280).
2.1.2.2 Makna Gramatikal Reduplikasi
Reduplikasi juga merupakan satu proses gramatikal dalam pembentukan kata. Secara umum gramatikal yang dimunculkannya adalah menyatakan
„pluralis‟ atau „intensitas‟. Umpamanya kata rumah direduplikasikan menjadi rumah-rumah bermakna gramatikal „banyak rumah‟ dan kata besar direduplikasikan menjadi besar-besar memiliki makna gramatikal „banyak yang besar‟. Sedangkan kata memukul yang direduplikasikan menjadi memukul- memukul memberi makna gramatikal „berkali-kali memukul‟. (Chaer 2009: 281).
Chaer (2009: 281) selanjutnya menjelaskan namun, makna gramatikal reduplikasi ini tampaknya tidak bisa ditafsirkan pada tingkat morfologi saja, melainkan baru bisa ditafsirkan pada tingkatan gramatikal yang lebih tinggi yaitu pada tingkatan sintaksis. Cobalah anda perhatikan makna kata lebar-lebar pada kalimat-kalimat berikut.
(3) Bukalah pintu itu lebar-lebar!
(4) Daunnya sudah lebar-lebar, tetapi belum dipetik.
(5) Kumpulkan kertas yang lebar-lebar itu di sini.
Kata lebar-lebar pada kalimat (3) bermakna „selebar mungkin‟, pada kalimat (4) bermakna „banyak yang lebar‟, dan pada kalimat (5) bermakna „hanya yang lebar saja‟.
Konsep bahwa reduplikasi memberikan makna “pluralis‟ atau „intensitas‟
secara psikologis telah tertanam dalam nurani kebanyakan orang Indonesia sehingga pengulangan kata seperti dalam kalimat-kalimat berikut sering kita jumpai.
(6) Para bapak-bapak diharap menunggu dengan tenang.
(7) Sekarang banyak mobil-mobil bagus di kota kita.
(8) Saudara-saudara selain kami mengucapkan terima kasih atas kesabaran saudara-saudara menunggu.
Kata bapak-bapak pada kalimat (6), kata mobil-mobil paada kalimat (7) dan kata saudara-saudara pada kalimat (8) menurut para tata bahasawan normartif adalah tidak tepat penggunaannya.
Konsep bahwa reduplikasi memberikan makna jamak, sebaliknya, menyebabkan banyak orang mengatakan pengulangan kata mereka-mereka dan kata kita-kita pada kalimat-kalimat berikut adalah salah.
(9) Yang tidak datang ternyata mereka-mereka juga.
(10) Sebetulnya yang diundang banyak, tetapi yang datang hanyalah kita- kita saja.
Dengan alasan karena kata mereka dan kata kita sudah bermakna jamak, sehingga pada kedua kalimat tersebut tidak perlu direduplikasikan. (Chaer 2009:281 )
Benarkah kata mereka-mereka pada kalimat (9) dan kata kita-kita pada kalimat (10) menyatakan jamak? Sebenarnya tidak. Reduplikasi pada kata mereka-mereka dan kata kita-kita pada kedua kalimat di atas bukan menyatakan jamak, melainkan menyatakan „penegasan‟. Bandingkan dengan kata saya-saya pada kalimat berikut.
(11) Pak guru memang tidak adil; banyak anak ang terlambat, tetapi dimarahi saya-saya aja.
Jelas, kata saya-saya pada kalimat (11) tidak bermakna jamak (sayanya tetap seorang), melainkan bermakna menegaskan. (Chaer 2009: 281-282).
2.1.2.3 Makna Gramatikal Komposisi
Butir leksikal dalam setiap bahasa, termasuk bahsa Indonesia, adalah terbatas, padahal konsep-konsep yang berkembang dalam kehidupan manusia selalu bertambah. Oleh karena itu, selain dengan proses afikasi dan proses reduflikasi, banyak juga dilakukan proses komposisi untuk menampung konsep- konsep yang baru muncul itu, atau yang belum ada kosakatanya. Umpamanya, dulu kata kereta digunakan untuk menampung konsep „kendaraan beroda yang ditarik oleh kuda‟. Kemudian dengan hadirannya kereta yang berjalan di atas rel dan ditarik oleh oleh lokomotif bertenaga uap, muncullah gabungan kata kereta api atau kereta rel; dan yang ditarik oleh kuda disebut kereta kuda. Lalu, dengan hadirnya tenaga listrik yang digunakan untuk menjalankan kereta muncullah kata kereta listrik. (Chaer 2009: 282).
Chaer (2009: 282) menjelaskan Contoh lain dari kata sate yang bermakna leksikal „daging yang dipanggang dan diberi bumbu‟, ada kita dapati gabungan kata sate kambing, sate ayam, sate madura, sate padang, sate lontong, sate kecap, dan sate kakak. Yang pertama dan kedua member makna „bahan‟; sate kambing adalah sate yang bahannya kambing, dan sate ayam adalah sate yang bahannya daging ayam. Yang ketiga dan keempat memeberi makna gramatikal „asal‟: sate madura adalah sate yang berasal dari Madura, dan sate padang adalah sate yang berasal dari Padang. Yang kelima, sate lontong memberi makna gramatikal
„campuran‟, sate yang dihidangkan dengan lontong. Sedangkan yang keenam, sate kecap, memberi makna gramatikal ‟bumbunya‟, sate yang berbumbu kecap. Lalu yang terakhir sate kakak memiliki makna gramatikal „milik, kepunyaan‟, sate kepunyaan kakak.
Dari makna gramatikal yang kita lihat dari contoh komposisi dengan kata sate itu, tampak bahwa makna gramatikal yang muncul dari gabungan kata itu, sangat berkaitan dengan fitur semantik yang dimiliki oleh butir leksikal yang digabungkan dengan kata sate itu. Kata atau butir leksikal kambing dan ayam sama-sama memiliki fitur semantik [+ hewan], [+daging], [+bahan (makanan)];
maka, fitur [+bahan (makanan] ini melahirkan makna gramatikal sate kambing atau sate ayam „bahan‟. Kata atau leksem madura dan padang memiliki fitur semantik [+wilayah] [+tempat] ; maka fitur [+tempat] ini memberi makna leksikal sate madura dan sate padang „asal tempat‟. Kata lontong memiliki fitur semantik [+makan (campuran)]; maka fitur ini melahirkan makna gramatikal sate lontong
„campuran‟. Kata atau leksem kecap memiliki fitur makan [+bumbu masak]; sate kecap „bumbu‟. Akhirnya, kata kakak memiliki fitur [+manusia] dan [+pemilik];
maka fitur [+pemilik]; ini memberi makna leksikal sate kakak „milik‟. Ada satu contoh klasik dari C.A. Mess (1956) yaitu bentuk lukisan yusuf yang dikatakannya memiliki tiga makna yaitu: (a) lukisan milik Yusuf, (b) lukisan karya yusuf, dan (c) lukisan wajah yusuf. Ketiga makna ini bisa terjadi karena kata yusuf memiliki fitur makna [+ manusia], [+pemilik], [+pembuat], dan [+objek]. (Chaer 2009:283).
Penutur (asli) suatu bahasa tidak perlu secara khusus mempelajari dulu fitur-fitur semantik kosakata yang ada di dalam bahasanya untuk dapat membuat gabungan kata, sebab fitur-fitur semantik itu sudah turut ternuranikan sewaktu dia dalam proses pemerolehan bahasanya.
2.1.3 Teori Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Ainin dan Asrori (2008: 37) mengatakan kata leksikal merupakan bentuk ajektif yang diturunkan dari nomina leksikon. Leksikon merupakan bentuk jamak.adapun satuannya adalah leksem. Leksikon daapat disamakan dengan kosakata, perbendaharaan kata, atau mufradat (bahasa Arab). Adapun leksem dapat disamakan dengan kata atau kalimah (bahasa Arab).
Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna dasar yang terdapat pada setiap kata atau leksikal, atau kalimah. Maksudnya, makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan acuan atau referennya. Soedjito (1986) menjelaskan bahwa makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah konstruksi.
Contoh:
سٔأر
“ra‟sun” (kepala) „bagian tubuh/anggota badan paling atas atau paling depan‟ماعظ
“ta‟āmun” (makanan) „segala sesuatu yang dapat dan boleh dimakan, misalnasi dan roti'.
ةسارم
“kurrāsatun” (kertas) „lembaran-lembaran kertas jilid dimanfaatkan olehmurid atau mahasiswa untuk mencatat pelajaran.
Dapat dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan acuannya meskipun kata tersebut digunakan dalam kalimat. Hal itu dapat dijelaskan dengan kalimat berikut.
1 ) لىع ةحافث تعقس سٔأر
لدو .
“Saqaṭat tufāḥatun „ala ra‟si waladi”
Buah apel jatuh di atas kepala seorang anak.
2 ) اذى ماعظ ئماص نيكمو ذًلذ .
“hażā ṭa‟āmun lażīżin walakinnī șāimun ” Makanan ini sangat enak tetapi saya puasa.
3 ) في ادارفلما ةخلا ةساركما
.
“uktub al-mufrādatu fī al-kirrāsati”.
Tulislah kosakata di kertas
Kata-kata yang bergaris bawah pada ketiga kalimat di atas mengacu pada acuannya. Kata
ضأز
(ra‟si ) mengacu pada bagian tubuh yang paling atas, kataماعط
(ṭa‟āmun) mengacu pada makanan tertentu yang tersedia atau yangdimaksudkan oleh pembicara, dan kata
حظاسكلا
(al-kirrāsati) mengacu pada buku tulis, bukan kitab. ( Soedjito 1986, dalam Ainin dan Asrori 2008:37-38).Soedjito (1986) selanjutnya mengatakan makna leksikal adalah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata lain dalam suatu konstruksi. Hal ini berarti bahwa makna leksikal itu sudah jelas meskipun tidak berada dalam konteks kalimat. Adapun makna yang bukan leksikal baru akan jelas ketika berada dalam konteks kalimat. Kata
عطق (
qaṭa‟a) dan derivatnya misalnya bermakna leksikal memisahkan sesuatu menjadi dua. Tetapi pada pepatah berikut, kataعطق
(qaṭa‟a) atau derivatnya jelas tidak bermakna memisahkan sesuatu menjadi dua. Maknaعطق
(qaṭa‟a) derivatnya sebagaimana dikandung di dalam pepatah berikut baru jelas di dalam konstruksi kalimat itu.4 ) كععق وععقث لم نٕا فَ لمكا تقوما .
"al-waqtu kā al-saifi illam taqṭa‟hu qaṭa‟aka”
Waktu seperti pedang jika kamu tidak memanfaatkannnya kamu akan tertebas. ( Soedjito 1986, dalam Ainin dan Asrori 2008: 38).
Berbalikan dengan makna leksikal yang tidak memerlukan kehadiran konteks, makna grametikal justru mewajibkan kehadiran konteks. Makna yang terkandung dalam kata tugas (huru:f) tidak bisa ditentukan sebelum dibentuk dalam suatu konstruksi kalimat, sebab kata tugas tidak memiliki makna leksikal.
Makna yang terkandung dalam kata tugas adalah makna grametikal yang memerlukan kehadiran konteks. Hal ini juga dikemukakan oleh Al-Jarim dan Amin (1987) bahwa kata tugas (huru:f) maknanya tidak tanpak sempurna kecuali
berda dalam lingkungan kata lainnya. Hal ini dapat dilihat padacontoh-contoh berikut:
5 ) بئأ داع نم
ةكم .
“„āda abī min makkati”
Ayah kembali dari mekkah.
6 ) برلٔأ دمحم نم
برلٔاا وِخٔأ .
“Muhammadun akbaru min akhīhi al-akbari”
Muhammad lebih besar dari abangnya.
7 ) ذَموخما ءاج و
ودحاص .
“jāa at-tilmiidzu wa shāhibihi”
Seorang murid datang bersama temannya.
8 و ) سرخ يفم نالوٕلاا نٕا صرعما .
“wal „așri innalinsāna lafī khusri”
Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian
Kata
يه (
min) pada kedua kalimat di atas mempunyai makna grametikal yang berbeda. Pada (5) bermakna menunjukkan tempat asal, sedangkan pada (6) bermakna pemarkah perbandingan. Kataّ (
wa) pada kalimat (7) dan (8) juga mempunyai makna grametikal yang berbeda. Pada (7), kataّ (
wa) bermakna atauberfungsi kordinatif dan pada (8) bermakna sumpah. dalam (Al-Jarim dan Amin 1987, dalam Aini dan Asrori 2008: 38-39).
Ainin dan Asrori (2008: 39) mengatakan makna grametikal hadir sebagai akibat proses grametika, misalnya afikasi, perubahan internal, penggabungan (idhafi). Kata
نلعه (
muslimun) misalnya bermakna „seorang penganut agama Islam‟. Makna tersebut berubah menjadi dua orang penganut agama Islam setelah mengalami proses afikasi mendapat akhiranىأ -
(an) dan setelah mendapat akhiran- ىّ
(ūn) berubah maknanya menjadi sejumlah orang penganut Islam.نلعه
(muslimun) „seorang penganut Islam‟نلعه ا
ى
(muslimāni) „dua orang penganut Islam‟ىْولعه
(muslimūna)„sejumlah orang penganut Islam‟Perubahan internal dari
رَةرَررَ
(kataba) keرَةتِركُ
(kutiba) menghadirkan makna pasif (majhul). Adapun proses afikasi dan perubahan internal yang terjadi padaرَ رَ رَ
(dakhala) keرَ تِ ْ رَأ (
adkhila) menghadirkan makna transif.Makna grametikal juga hadir sebagai hasil dari penggabungan (idhafi), misalnya:
َقفلا بار (
kitābu al-fiqhi)
„penggabungan menyatakan jenis bidang‟ذارظلاا بار (
kitābu al-ustāżi)„penggabungan menyatakan pemilik‟
دٗدج بار
(
kitābu jadīdin) „penggabungan menyatakan ajektifal‟حّٗدٗ حعاظ
(sā‟atun yadwiyatun) „penggabungan menyatakan jenis‟ح٘ثُذ حعاظ
(sā‟atunhabiyyatun) „penggabungan menyatakan bahan‟ح٘طئاج حعاظ
(sā‟atun jāiṭiyyatun) „penggabungan menyatakan jenis‟.Salah satu klasifikasi arti dalam semantik terkait dengan level analisis dalam semantik, yaitu arti leksikal (lexical meaning) dan arti gramatikal (grammatical meaning). Para ahli membedakan pengertian arti leksikal secara beragam misalnya, mendefinisikan arti leksikal sebagai arti dari bentuk leksikal.
(Crytal 2008:299). Adapun secara lebih rinci, kita dapat melihat pendapat Crause (2006: 95) tentang arti leksikal yaitu:
……. The meaning of full lexical items such as nouns, verbs, and adjectives, which is typically richer and more complex than the meaning carried by grammatical elements such as affixes, prepositions, conjunctios, and so on.
„……..arti dari bentuk leksikal penuh, seperti nomina, verba, dan adjektiva. Arti bentuk leksikal penuh secara tipikal lebih karya dan kompleks dari pada arti yang dikandungi elemen gramatikal‟
Sebagaimana pertimbangan tambahan, dikutipkan juga di bawah ini defenisi arti leksikal menurut Bussman (1996: 678):
Lexical meaning is that aspect of meaning which is codified in a lexicon or a dictionary, can be semantically analyzed, and, together with the gramatical elements of meaning (such as mood, tense, comprasion (degree)) yields the whole meaning of a linguistic expression. Normalliy lexical meaning consists of an open class of elements………..
„Arti leksikal adalah aspek arti yang dikodifikasikan dalam leksikon atau di dalam kamus, aspek arti yang dapat dianalisis, dan aspek arti yang bersama arti dari elemen gramatikal (seperti modal, kala, dan perbandingan), membentuk arti suatu ungkapan linguistis secara keseluruhan. Secara normal, arti leksikal biasanya dimiliki oleh bentuk yang termasuk dalam kelas terbuka,……….‟.
Berdasarkan tiga definisi tersebut, kita dapat memberikan beberapa batasan arti leksikal : (1) arti leksikal adalah arti dari kata penuh (full word), kata
berisi (content word), atau kata yang termasuk dalam kelas kata terbuka (open class); (2) arti lesikal lebih kaya dan lebih kompleks dari pada arti gramatikal (grammatical element), arti leksikal membentuk arti suatu ungkapan linguistik secara keseluruhan. (Subuki, 2011:46).
Arti gramatikal biasa dianggap sebagai kebalikan dari arti leksikal. Seperti juga arti leksikal, arti gramatikal juga didefinisikan secara beragam misalnya, mendefinisikan arti gramatikal sebagai arti dari struktural gramatikal (Crystal 2008: 299). Adapun Bussman (1996: 678), mendefinisikannya sebagai makna yang terdapat pada elemen gramatikal atau kelas kata tertutup. Batasan yang lebih langkap diutarakan oleh Cruse (2006), ia mengemukakan bahwa istilah gramatikal tidak digunakan untuk menyebut satu macam fenomena arti saja. Dia mengemukakan bahwa istilah tersebut biasanya digunakan untuk: (1) arti yang terdapat dalam katagori gramatikal (grammatical catagories) yang merupakan satuan analisis dalam morfologi, yaitu terutama nomina, verba, dan adjektiva; (2) arti yang dikandungi oleh elemen gramatikal , misalnya afiks, preposisi, dan konjungsi; (3) arti dari konstruksi gramatikal, misalnya frasa, klausa, dan kalimat;
(4) arti dari fungsi sintaksis, misalnya subyek, predikat, dan objek; (5) arti dari peran tematis; misalnya aktor, agen, pengalaman, dan pemeruntungan.
Agar perbedaan ini menjadi jelas, kita dapat mempertimbangkan contoh di bawah ini.
a. Ibu membeli sate Madura
b. Ibu membelikan ayah sate Madura
Dalam contoh tersebut, arti yang melekat pada leksem IBU, BELI, SATE, MADURA, AYAH, dan AYAM adalah arti leksikal. Adapun adapun arti yang
melekat dalam verba membeli dan membelikan adalah arti gramatikal: yang pertama bervalansi dua dan yang kedua bervalansikan satu. Begitu pula arti yang melekat pada kompositum sate Madura dan sate ayam: yang pertama berarati asal daerah dan yang kedua berarti bahan. Bahkan, dimensi peran simantis atau peran semantic yang memiliki setiap argumen dalam kedua kalimat tersebut juga kita dapat sebut sebagai arti gramatikal, misalnya ibu berperan sebagai actor/ agen dan ayah berperan sebagai pemeruntung. (Cruse 2006 dalam Subuki 2011: 47).
Djajasudarma (2009: 16) mengemukakan makna leksikal adalah makna unsur -unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa dan lain-lainnya. Makna leksikal ini dimiliki unsur- unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks.
Misalnya, kata culture dalam bahasa inggris budaya di dalam kamus Shadily dan Echols disebutkan sebagai nomina dan artinya : kesopanan, kebudayaan : (1) pemeliharaan biakan (biologi) (2) Di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya adalah nomina dan maknanya: 1. Pikiran: akal budi; 2. kebudayaan; 3.
Yang mengenai kebudayaan; yang sudah berkembang (beradap dan maju). Semua makna (baik bentuk dasar maupun bentuk turunan) yang ada dalam kamus disebut makna leksikal.
Djajasudarma (2009:16) selanjutnya menjelaskan bahwa kata diatas memiliki makna dan dapat dibaca pada kamus. Makna demikian disebut pula makna kamus, selain makna leksikal (dictionary meaning). Adapula yang mengatakan bahwa makna leksikal dalah makna kata-kata pada waktu berdiri sendiri, baik dalam bentuk tuturan maupun dalam bentuk dasar.
Djajasudarma (2009: 16) berpendapat makna grametikal adalah makna makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul
sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat. Di dalam semantik makna gramatikal dibedakan dari makna leksiakal. Sejalan dengan makna (bahasa inggris sense (pengertian); (makna) dibedakan dari (bahasa inggris meaning (arti). Makna merupakan pertautan yang ada antara satuan bahasa, dapat dihubungkan dengan makna gramatikal, sedangkan arti adalah pengertian satuan kata sebagai unsur yang dihubungkan.
Djajasudarma (2009: 16-17) mengutarakan bahwa makna leksikal dapat berubah kedalam makna gramatikal secara operasional. Sebagai contoh dapat di pahami makna leksikal kata belenggu adalah (1) alat pengikat kaki atau tangan;
borgol; atau (2) sesuatu yang mengikat (sehingga tidak bebas lagi). Sebagaimana makna gramatikal dapat diperhatikan ekspresi berikut:
1) Polisi memasang belenggu pada kaki dan tangan pencuri yang baru tertangkap itu.
2) Mereka terlepas dari belenggu penjajahan.
Perubahan makna leksikal kearah makna gramatikal dapat diperhatikan ekspresi berikutnya:
1) Hei, mana matamu!
Mata - alat; cara melihat - mencari; mengerjakan.
Mata (makna leksikal) adalah alat pada tubuh manusia, berfungsi untuk melihat. Bandingkan dengan :
2) Anak itu ingin telur mata sapi.
Djajasudarma (2009: 17) menjelaskan Makna pada (1) Mata sebagai gramatikal yang masih berhubungan erat dengan makna leksikal ”berfungsi untuk melihat” sedangkan makna pada (2) Mata benar-benar sebagai makna gramatikal, yakni “goreng telur” (mungkin rupanya mirip mata sapi- mata milik sapi?).
Bandingkan dengan makna leksikal dari makna gramatikal tersebut. Dari contoh berikut adakah makna yang sejalan (berasosiasi) dengan makna leksikal mata, perhatikan:
1. mata pisau 2. mata uang 3. mata keranjang 4. mata duitan 5. mata air.
Chaer (2009: 60) mengemukakan bahwa makna leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosa kata, perbendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalh leksem, yaitu satuan bentuk bahasa bermakna. Kalau leksikon di samakan kosa kata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat dipersamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem atau bersifat kata. Lalu, karena itu dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indra,
atau makna yang sesungguh-sungguhnya nyata dalam kehidupan kita.
Umpamanya kata tikus makna leksikalnya adalh sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam kalimat tikus itu mati di terkam kucing, atau dalam kalimat panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus. Kata tikus pada kedua kalimat itu jelas merujuk pada binatang tikus, bukan kepada yang lain. Tetapi dalam kalimat yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada manusia, yang perbuatannya mirip dengan perbuatan tikus.
Chaer (2009: 60-61) memberi contoh lain, kepala dalam kalimat kepalanya hancur kena pecahan granat adalah dalam makna leksikal, tetapi dalam kalimat Raporya ditahan kepala sekolah karena ia belum membayar uang SPP adalah bukan bermakna leksikal. Kata memetik dalam kalimat Ibu memetik sekuntum mawar adalah bermakna leksikal, sedangkan dalam kalimat Kita dapat memetik manfaat dari cerita itu adalah bukan bermakna leksikal.
Kalau disimak contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa makna leksikal dari suatu kata adalah gambaran yang nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan kata itu. Makna leksikal suatu kata sudah jelas bagi seorang bahasawan tanpa kehadiran kata itu dalam suatu konteks kalimat. Berbeda dengan makna yang bukan makna leksikal, yang baru jelas apabila berada dalam konteks kalimat atau satuan sintaksis lain. Tanpa konteks kalimat dan konteks situasi jika kita mendengar kata bangsat maka yang terbayang di benak kita adalah jenis binatang pengisap darah yang disebut juga kutu busuk atau kepinding. Jika kita
mendengar kata memotong maka yang terbayang dalam benak kita adalah pekerjaan untuk memisahkan atau menceraikan yang dilakukan dengan benda tajam. Tetapi kata bangsat yang berarti penjahat dan kata memotong yang berarti mengurangi baru akan terbayang benak kita apabila kata-kata tersebut dipakai didalam kalimat. Misalnya dalam kalimat Dasar bangsat uangku disikatnya juga dan kaliamat Kalau mau memotong gajiku sebaiknya bulan depan saja. (Chaer 2009: 60-61).
Bagaimana dengan kepala pada frase kepala kantor dan kepala paku? Di sini kata kepala itu tidak bermakna leksikal, sebab tidak merujuk pada referen yang sebenarnya. Di sini kata kepala digunakan secara metaforis, yakni mempersamakan atau memperbandingkan salah satu cirri makna kata kepala dengan yang ada pada kata kantor dan kata paku. Dalam perkembangan selanjutnya makna kata kepala pada frase kepala kantor dan kepala paku dianggap berpolisemi dengan makna kata kepala yang sesuai denngan referennya.
Apakah semua kata dalam bahasa Indonesia bermakna leksikal? Tentu saja tidak. Kata-kata yang dalam gramatika disebut kata penuh (full word) seperti kata meja, tidur, dan cantik memang memiliki makna leksikal, tetapi yang disebut kata tugas (function word) seperti kata dan, dalam, dan karena tidak memiliki makna leksikal. Dalam gramatika kata-kata tersebut dianggap hanya memiliki tugas gramatikal. (Chaer 2009: 61).
Dalam beberapa buku pelajaran bahasa sering dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna seperti yang terdapat dalam kamus. Pernyataan ini tidak seratus persen benar. Mengapa? Kalau kamusya adalah kamus kecil atau sebuah
kamus dasar maka pernyataan itu benar. Kalau kamusnya bukan kamus dasar melainkan kamus umum atau besar maka pernyataan itu tidak benar sebab dalam kamus-kamus itu didaftarkan juga makna-makna idiom dan kiasan.
Makna leksikal biasanya dipertentangkan atau dioposisikan dengan makna gramatikal. Kalau makna leksikal itu berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afikasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Proses apikasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik melahirkan makna
„dapat‟, dan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatikal „tidak sengaja‟. (Chaer 2009: 61-62).
Dalam buku-buku tata bahasa biasanya kita dapati perincian makna-makna awalan ter- atau juga imbuhan lain. Sebetulnya awalan ter-, atau juga imbuhan- imbuhan lain, tidak mempunyai makana. Sebuah imbuhan, seperti awalan ter- di atas, baru memiliki makna atau kemungkinan makna apabila sudah berproses dengan kata lain. Seperti ontoh kata terangkat di atas yang memiliki kemungkinan makna (1) „dapat‟, atau (2) „tidak sengaja‟. Sedangkan kepastian maknanya baru diperoleh setelah berada dalam konteks kalimat atau satuan sintaksis lain, seperti makna „dapat‟ di dalam kalimat Batu sebesar itu terangkat juga oleh adik; dan makna „tidak sengaja‟ dalam kalimat „Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas‟.
Oleh karena makna sebuah kata, baik kata dasar maupun kata jadian, sering sangat tergantung pada konteks kalimat atau konteks situasi maka makna
gramatikal ini sering juga disebut makna kontekstual atau makna situasional.
Selain itu bisa juga disebut makna struktural karena proses dan satuan-satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur ketatabahasaan. (Chaer 2009:62).
Makna gramatikal itu bermacam-macam. Setiap bahasa mempunyai sarana atau alat gramatikal tertentu untuk menyatakan makna-makna, atau nuansa-nuansa makna gramatikal itu. Untuk menyatakan makna‟ jamak‟ bahasa Indonesia menggunakan proses reduplikasi seperti kata buku yang bermakna „sebuah buku‟
menjadi buku-buku yang bermakna „banyak buku‟ bahasa Inggris untuk menyatakan „jamak‟ menggunakan penambahan morfem {s} atau menggunakan bentuk khusus. Misalnya book „sebuah buku‟ menjadi books yang bermakna
„banyak buku‟; kata woman yang bermakna „seorang wanita‟ menjadi womens yang bermakna „banyak wanita‟.
Penyimpangan makna dan bentuk-bentuk gramatikal yang sama lazim juga terjadi dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, bentuk-bentuk kesedihan, ketakutan, kegembi-raan dan kesenangan memiliki makna gramatikal yang sama, yaitu hal yang disebut kata dasarnya. Tetapi bentuk atau kata kemaluan yang berbentuk gramatikalnya sama dengan deretan kata di atas, memiliki makna yang lain. Sebagai orang Indonesia Anda tentu tahu artinya.
Contoh lain, kata menyedihkan, menakutkan, dan mengalahkan memiliki makna gramatikal yang sama yaitu‟membuat jadi yang disebut kata dasarnya‟. Tetapi kata memenagkan dan mengalahkan yang dibentuk dari kelas kata dan imbuhan yang sama dengan ketiga kata di atas, tidak memiliki makna seperti ketiga kata tersebut; sebab bukan bermakna „membuat jadi menang‟ dan „membuat jadi
galak‟, melainkan bermakna „memperoleh kemenangan‟ dan „menggiatkan‟.
(Chaer 2009: 62-63).
Proses komposisi atau proses penggabungan dalam bahasa Indonesia juga banyak melahirkan makna gramatikal. Kita lihat saja makna gramatikal komposisi sate ayam tidak sama dengan komposisi sate Madura. Yang pertama menyatakan
„asal bahan‟ dan yang kedua menyatakan „asal tempat‟. Begitu juga komposisi orang tua asuh. Yang pertama bermakna „anak yang diasuh‟ sedagkan yang kedua bermakna „orang tua yang mengasuh‟.
Makna gramatikal acapkali jug dapat diketahui tanpa mengenal makna leksikal unsur-unsurnya. Misalnya klausa malalat dilili-lili lolo-lolo ini, yang tidak kita ketahui makna leksikal unsur-unsurya, apa itu malalat, apa itu dilili-lili, dan apa pula lolo-lolo itu; namun, kita tahu bahwa kontrusksi klausa itu member makna gramatikal: malalat mengandung makna „tujuan, pasien‟ dilili-lili mengandung makna „pasif‟, dan lolo-lolo mengandung makna „pelaku perbuatan‟.
(Chaer 2009: 63).
2.1.4 Makna Kata Rabb Secara Bahasa
Ibnul katsir berkata “
بُّببَّسلا
” (al-rabba) adalah pemilik, penguasa dan pengendali. Menurut bahasa, kata Rabb ditujukan kepada tuan dan kepada yang berbuat untuk perbaikan. Semuanya itu benar bagi Allah Ta‟ala. Kata ar-Rabb tidak digunakan untuk selain dari Allah kecuali jika disambung dengan kata lain setelahnya, misalnyaتِزابَّدلا بُّببَّز
(rabbu al-dāri) (pemilik rumah). Sedangkan kataar-Rabb (secara mutlak), hanya boleh digunakan untuk Allah. (Abdullah 1994:45)
Kata Rabb menunjukkan beberapa arti pokok, yang pertama: memperbaiki dan mengurus sesuatu. Maka ar-Rabb berarti yang menguasai, menciptakan dan memiliki, juga berarti Yangmemperbaiki/mengurus sesuatu ( Zarkazy 500 H:313).
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari memaparkan, (Kata) ar-Rabb dalam bahasa Arab memiliki beberapa (pemakaian) arti, penguasa yang ditaati di kalangan orang-orang Arab disebut rabb, orang yang memperbaiki sesuatu dinamakan rabb, (demikian) juga orang yang memiliki sesuatu dinamakan rabb. Terkadang kata ini juga digunakan untuk beberapa arti selain arti di atas, akan tetapi semuanya kembali pada tiga arti tersebut. Maka Rabb kita (Allah Ta‟ala) yang maha agung pujian-Nya adalah penguasa yang tidak ada satupun yang menyamai dan menandingi kekuasaan-Nya, dan Dialah yang memperbaiki (mengatur semua) urusan makhluk-Nya dengan berbagai nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, serta Dialah pemilik (alam semesta beserta isinya) yang memiliki (kekuasan mutlak dalam) menciptakan dan memerintahkan (mengatur). (Ath- Thabari 340 H:89).
Ar-Rabb adalah al-Murabbii (yang maha memelihara dan mengurus) seluruh makhluk-Nya dengan mengatur urusan dan (melimpahkan) berbagai macam nikmat (kepada mereka). Makna kata ar-Rabb adalah Yang Maha Pencipta sekaligus Penguasa dan Pengatur alam semesta beserta isinya. ( Al- Utsaimin: 1997:43).
Makna ar-Rabb adalah yang memiliki sifat rububiyah terhadap seluruh makhluk-Nya dalam hal menciptakan, menguasai, berbuat sekehendak-Nya dan
mengatur mereka. Nama Allah yang mulia ini termasuk nama-nama Allah Ta‟ala yang mengandung beberapa arti dan bukan hanya satu arti. Bahkan nama ini jika disebutkan sendirian tanpa nama Allah Ta‟ala lainnya, kandungannya mencakup semua nama Allah yang maha indah dan sifat-Nya yang maha sempurna (Al Badr 2001: 79).
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Sesungguhnya ar-Rabb adalah (zat) yang maha kuasa, yang mengadakan, pencipta, pembentuk rupa, yang maha hidup lagi berdiri sendiri dan menegakkan urusan makhluk-Nya, maha mengetahui, mendengar, melihat, luas kebaikan-Nya, pemberi nikmat, pemurah, maha memberi dan menghalangi, yang memberi manfaat dan celaka, yang mendahulukan dan mengakhirkan, yang memberi petunjuk dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya (sesuai dengan hikmah-Nya yang agung), yang menganugerahkan kebahagiaan dan menyengsarakan siapa yang dikehendaki- Nya, yang memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, dan semua makna rububiyah lainnya yang berhak dimiliki-Nya dari (kandungan) nama-nama-Nya yang maha indah (Ibnu qayyim t.Th:475).
2.5 Kerangka Teori
Berbagai pandangan tentang makna gramatikal yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti menggunakan teori makna gramatikal yang dikemukakan oleh:
a. Ainin dan Asrori (2008) mengatakan makna gramatikal hadir sebagai akibat proses grametika, misalnya afikasi, perubahan internal, penggabungan (idhafi). Kata
نلعه (
muslimun) misalnya bermakna „seorangpenganut agama Islam‟. Makna tersebut berubah menjadi dua orang penganut agama Islam setelah mengalami proses afikasi mendapat akhiran
ىأ
-
(an) dan setelah mendapat akhiran- ىّ
(ūn) berubah maknanya menjadi sejumlah orang penganut Islam.نلعه
(muslimun) „seorang penganut Islam‟نلعه ا
ى
(muslim + an) „dua orang penganut Islam‟ىْولعه
(muslim + ūn)„sejumlah orang penganut Islam‟Perubahan internal dari
رَةرَررَ
(kataba) keرَةتِركُ
(kutiba) menghadirkan makna pasif (majhul). Adapun proses afikasi dan perubahan internal yang terjadi padaرَ رَ رَ
(dakhala) keرَ تِ ْ رَأ (
adkhila) menghadirkan makna transif.Makna grametikal juga hadir sebagai hasil dari penggabungan (idhafi), misalnya:َقفلا بار (
kitābu al-fiqhi)
„penggabungan menyatakan jenis bidang‟ذارظلاا بار (
kitābu al-ustāżi)„penggabungan menyatakan pemilik‟دٗدج بار
(
kitābu jadīdin) „penggabungan menyatakan ajektifal‟حّٗدٗ حعاظ
(sā‟atun yadwiyatun) „penggabungan menyatakan jenis‟ح٘ثُذ حعاظ
(sā‟atunhabiyyatun)„penggabungan menyatakan bahan‟ح٘طئاج حعاظ
(sā‟atun jāiṭiyyatun) „penggabungan menyatakan jenis‟.b. Djajasudarma (2009) mengemukakan makna leksikal adalah makna unsur -unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa dan lain-lainnya. Makna leksikal ini dimiliki unsur- unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari
konteks. Misalnya, kata culture dalam bahasa inggris budaya di dalam kamus Shadily dan Echols disebutkan sebagai nomina dan artinya : kesopanan, kebudayaan : (1) pemeliharaan biakan (biologi) (2) Di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya adalah nomina dan maknanya: 1.
Pikiran: akal budi; 2. kebudayaan; 3. Yang mengenai kebudayaan; yang sudah berkembang (beradap dan maju). Semua makna (baik bentuk dasar maupun bentuk turunan) yang ada dalam kamus disebut makna leksikal.
Djajasudarma (2009) selanjutnya menjelaskan bahwa kata diatas memiliki makna dan dapat dibaca pada kamus. Makna demikian disebut pula makna kamus, selain makna leksikal (dictionary meaning). Adapula yang mengatakan bahwa makna leksikal dalah makna kata-kata pada waktu berdiri sendiri, baik dalam bentuk tuturan maupun dalam bentuk dasar.
Djajasudarma (2009) berpendapat makna grametikal adalah makna makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat. Di dalam semantik makna gramatikal dibedakan dari makna leksiakal. Sejalan dengan makna (bahasa inggris sense (pengertian); (makna) dibedakan dari (bahasa inggris meaning (arti). Makna merupakan pertautan yang ada antara satuan bahasa, dapat dihubungkan dengan makna gramatikal, sedangkan arti adalah pengertian satuan kata sebagai unsur yang dihubungkan. Djajasudarma (2009) mengutarakan bahwa makna leksikal dapat berubah kedalam makna gramatikal secara operasional. Sebagai contoh dapat di pahami makna leksikal kata belenggu adalah (1) alat pengikat kaki atau tangan; borgol; atau (2) sesuatu yang mengikat
(sehingga tidak bebas lagi). Sebagaimana makna gramatikal dapat diperhatikan ekspresi berikut:
1). Polisi memasang belenggu pada kaki dan tangan pencuri yang baru tertangkap itu. 2). Mereka terlepas dari belenggu penjajahan. Perubahan makna leksikal kearah makna gramatikal dapat diperhatikan ekspresi berikutnya: 3). Hei, mana matamu!
Mata
- alat; cara melihat - mencari; mengerjakan.
Mata (makna leksikal) adalah alat pada tubuh manusia, berfungsi untuk melihat. Bandingkan dengan :
4). Anak itu ingin telur mata sapi.
Djajasudarma (2009) menjelaskan Makna pada (1) Mata sebagai gramatikal yang masih berhubungan erat dengan makna leksikal ”berfungsi untuk melihat” sedangkan makna pada (2) Mata benar-benar sebagai makna gramatikal, yakni “goreng telur” (mungkin rupanya mirip mata sapi- mata milik sapi?). Bandingkan dengan makna leksikal dari makna gramatikal tersebut. Dari contoh berikut adakah makna yang sejalan (berasosiasi) dengan makna leksikal mata, perhatikan:
5). mata pisau 6). mata uang 7). mata keranjang 8). mata duitan
9). mata air.
c. (Cruse 2006 dalam Subuki 2011), mengemukakan bahwa istilah gramatikal tidak digunakan untuk menyebut satu macam fenomena arti saja. Dia mengemukakan bahwa istilah tersebut biasanya digunakan untuk: (1) arti yang terdapat dalam katagori gramatikal (grammatical catagories) yang merupakan satuan analisis dalam morfologi, yaitu terutama nomina, verba, dan adjektiva; (2) arti yang dikandungi oleh elemen gramatikal , misalnya afiks, preposisi, dan konjungsi; (3) arti dari konstruksi gramatikal, misalnya frasa, klausa, dan kalimat; (4) arti dari fungsi sintaksis, misalnya subyek, predikat, dan objek; (5) arti dari peran tematis; misalnya aktor, agen, pengalaman, dan pemeruntungan. Agar perbedaan ini menjadi jelas, kita dapat mempertimbangkan contoh di bawah ini.
a. Ibu membeli sate Madura
b. Ibu membelikan ayah sate Madura
Dalam contoh tersebut, arti yang melekat pada leksem IBU, BELI, SATE, MADURA, AYAH, dan AYAM adalah arti leksikal. Adapun adapun arti yang melekat dalam verba membeli dan membelikan adalah arti gramatikal: yang pertama bervalansi dua dan yang kedua bervalansikan satu. Begitu pula arti yang melekat pada kompositum sate Madura dan sate ayam: yang pertama berarati asal daerah dan yang kedua berarti bahan. Bahkan, dimensi peran simantis atau peran semantik yang memiliki setiap argumen dalam kedua kalimat tersebut juga kita dapat sebut sebagai
arti gramatikal, misalnya ibu berperan sebagai actor/ agen dan ayah berperan sebagai pemeruntung.
Ketiga teori di atas dipandang sejalan untuk menjawab masalah penelitian ini, khususnya Makna kata Rabb dalam Surat Al-Isra‟ (Kajian Semantik Gramatikal).
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Data dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan menjelaskan makna kata rabb dalam al-Quran Surah al-Isra‟. Penelitian ini adalah library research (penelitian kepustakaan), yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan). (Hasan 2002: 11).
Sumber data dalam penelitian ini adalah al-Quran dan Terjemahan Depertemen Agama RI yang diterbitkan oleh CV Penerbit J- Art Bandung, tahun 2005. Peneliti memilih sumber data tersebut dikaranakan mudah didapat dan mudah memahaminya serta telah di tashihkan oleh yayasan penterjemah/ pentafsir al-Quran lajnah pentashih mushaf al-Quran Depertemen Agama Republik Indonesia, telah tersebar serta dibaca oleh seantero umat muslim di Indonesia.
Data dalam penelitian ini adalah 32 kata rabb dalam surah al-Isra‟ yang terdapat dalam sumber data..
3.2 Pengumpulan Data
Menurut (Hasan 2002:11) studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada sebuah penelitian, namun melalui dokumen. Dokumen yang digunakan dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, catatan khusus dalam pekerjaan sosial dan dokumen lainnya. Jadi semua dokumentasi diposisikan setara tergantung ketersambungan dengan topik utama penelitian ini.