Ainin dan Asrori (2008: 37) mengatakan kata leksikal merupakan bentuk ajektif yang diturunkan dari nomina leksikon. Leksikon merupakan bentuk jamak.adapun satuannya adalah leksem. Leksikon daapat disamakan dengan kosakata, perbendaharaan kata, atau mufradat (bahasa Arab). Adapun leksem dapat disamakan dengan kata atau kalimah (bahasa Arab).
Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna dasar yang terdapat pada setiap kata atau leksikal, atau kalimah. Maksudnya, makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan acuan atau referennya. Soedjito (1986) menjelaskan bahwa makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah konstruksi.
Contoh:
سٔأر
“ra‟sun” (kepala) „bagian tubuh/anggota badan paling atas atau paling depan‟ماعظ
“ta‟āmun” (makanan) „segala sesuatu yang dapat dan boleh dimakan, misalnasi dan roti'.
ةسارم
“kurrāsatun” (kertas) „lembaran-lembaran kertas jilid dimanfaatkan olehmurid atau mahasiswa untuk mencatat pelajaran.
Dapat dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan acuannya meskipun kata tersebut digunakan dalam kalimat. Hal itu dapat dijelaskan dengan kalimat berikut.
1 ) لىع ةحافث تعقس سٔأر
لدو .
“Saqaṭat tufāḥatun „ala ra‟si waladi”
Buah apel jatuh di atas kepala seorang anak.
2 ) اذى ماعظ ئماص نيكمو ذًلذ .
“hażā ṭa‟āmun lażīżin walakinnī șāimun ” Makanan ini sangat enak tetapi saya puasa.
3 ) في ادارفلما ةخلا ةساركما
.
“uktub al-mufrādatu fī al-kirrāsati”.
Tulislah kosakata di kertas
Kata-kata yang bergaris bawah pada ketiga kalimat di atas mengacu pada acuannya. Kata
ضأز
(ra‟si ) mengacu pada bagian tubuh yang paling atas, kataماعط
(ṭa‟āmun) mengacu pada makanan tertentu yang tersedia atau yangdimaksudkan oleh pembicara, dan kata
حظاسكلا
(al-kirrāsati) mengacu pada buku tulis, bukan kitab. ( Soedjito 1986, dalam Ainin dan Asrori 2008:37-38).Soedjito (1986) selanjutnya mengatakan makna leksikal adalah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata lain dalam suatu konstruksi. Hal ini berarti bahwa makna leksikal itu sudah jelas meskipun tidak berada dalam konteks kalimat. Adapun makna yang bukan leksikal baru akan jelas ketika berada dalam konteks kalimat. Kata
عطق (
qaṭa‟a) dan derivatnya misalnya bermakna leksikal memisahkan sesuatu menjadi dua. Tetapi pada pepatah berikut, kataعطق
(qaṭa‟a) atau derivatnya jelas tidak bermakna memisahkan sesuatu menjadi dua. Maknaعطق
(qaṭa‟a) derivatnya sebagaimana dikandung di dalam pepatah berikut baru jelas di dalam konstruksi kalimat itu.4 ) كععق وععقث لم نٕا فَ لمكا تقوما .
"al-waqtu kā al-saifi illam taqṭa‟hu qaṭa‟aka”
Waktu seperti pedang jika kamu tidak memanfaatkannnya kamu akan tertebas. ( Soedjito 1986, dalam Ainin dan Asrori 2008: 38).
Berbalikan dengan makna leksikal yang tidak memerlukan kehadiran konteks, makna grametikal justru mewajibkan kehadiran konteks. Makna yang terkandung dalam kata tugas (huru:f) tidak bisa ditentukan sebelum dibentuk dalam suatu konstruksi kalimat, sebab kata tugas tidak memiliki makna leksikal.
Makna yang terkandung dalam kata tugas adalah makna grametikal yang memerlukan kehadiran konteks. Hal ini juga dikemukakan oleh Al-Jarim dan Amin (1987) bahwa kata tugas (huru:f) maknanya tidak tanpak sempurna kecuali
berda dalam lingkungan kata lainnya. Hal ini dapat dilihat padacontoh-contoh
Muhammad lebih besar dari abangnya.
7
Seorang murid datang bersama temannya.
8 و ) سرخ يفم نالوٕلاا نٕا صرعما .
“wal „așri innalinsāna lafī khusri”
Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian
Kata
يه (
min) pada kedua kalimat di atas mempunyai makna grametikal yang berbeda. Pada (5) bermakna menunjukkan tempat asal, sedangkan pada (6) bermakna pemarkah perbandingan. Kataّ (
wa) pada kalimat (7) dan (8) juga mempunyai makna grametikal yang berbeda. Pada (7), kataّ (
wa) bermakna atauberfungsi kordinatif dan pada (8) bermakna sumpah. dalam (Al-Jarim dan Amin 1987, dalam Aini dan Asrori 2008: 38-39).
Ainin dan Asrori (2008: 39) mengatakan makna grametikal hadir sebagai akibat proses grametika, misalnya afikasi, perubahan internal, penggabungan (idhafi). Kata
نلعه (
muslimun) misalnya bermakna „seorang penganut agama Islam‟. Makna tersebut berubah menjadi dua orang penganut agama Islam setelah mengalami proses afikasi mendapat akhiranىأ -
(an) dan setelah mendapat akhiran- ىّ
(ūn) berubah maknanya menjadi sejumlah orang penganut Islam.نلعه
(muslimun) „seorang penganut Islam‟نلعه ا
ى
(muslimāni) „dua orang penganut Islam‟ىْولعه
(muslimūna)„sejumlah orang penganut Islam‟Perubahan internal dari
رَةرَررَ
(kataba) keرَةتِركُ
(kutiba) menghadirkan makna pasif (majhul). Adapun proses afikasi dan perubahan internal yang terjadi padaرَ رَ رَ
(dakhala) keرَ تِ ْ رَأ (
adkhila) menghadirkan makna transif.Makna grametikal juga hadir sebagai hasil dari penggabungan (idhafi), misalnya:
َقفلا بار (
kitābu al-fiqhi)
„penggabungan menyatakan jenis bidang‟ذارظلاا بار (
kitābu al-ustāżi)„penggabungan menyatakan pemilik‟
دٗدج بار
(
kitābu jadīdin) „penggabungan menyatakan ajektifal‟حّٗدٗ حعاظ
(sā‟atun yadwiyatun) „penggabungan menyatakan jenis‟ح٘ثُذ حعاظ
(sā‟atunhabiyyatun) „penggabungan menyatakan bahan‟ح٘طئاج حعاظ
(sā‟atun jāiṭiyyatun) „penggabungan menyatakan jenis‟.Salah satu klasifikasi arti dalam semantik terkait dengan level analisis dalam semantik, yaitu arti leksikal (lexical meaning) dan arti gramatikal (grammatical meaning). Para ahli membedakan pengertian arti leksikal secara beragam misalnya, mendefinisikan arti leksikal sebagai arti dari bentuk leksikal.
(Crytal 2008:299). Adapun secara lebih rinci, kita dapat melihat pendapat Crause (2006: 95) tentang arti leksikal yaitu:
……. The meaning of full lexical items such as nouns, verbs, and adjectives, which is typically richer and more complex than the meaning carried by grammatical elements such as affixes, prepositions, conjunctios, and so on.
„……..arti dari bentuk leksikal penuh, seperti nomina, verba, dan adjektiva. Arti bentuk leksikal penuh secara tipikal lebih karya dan kompleks dari pada arti yang dikandungi elemen gramatikal‟
Sebagaimana pertimbangan tambahan, dikutipkan juga di bawah ini defenisi arti leksikal menurut Bussman (1996: 678):
Lexical meaning is that aspect of meaning which is codified in a lexicon or a dictionary, can be semantically analyzed, and, together with the gramatical elements of meaning (such as mood, tense, comprasion (degree)) yields the whole meaning of a linguistic expression. Normalliy lexical meaning consists of an open class of elements………..
„Arti leksikal adalah aspek arti yang dikodifikasikan dalam leksikon atau di dalam kamus, aspek arti yang dapat dianalisis, dan aspek arti yang bersama arti dari elemen gramatikal (seperti modal, kala, dan perbandingan), membentuk arti suatu ungkapan linguistis secara keseluruhan. Secara normal, arti leksikal biasanya dimiliki oleh bentuk yang termasuk dalam kelas terbuka,……….‟.
Berdasarkan tiga definisi tersebut, kita dapat memberikan beberapa batasan arti leksikal : (1) arti leksikal adalah arti dari kata penuh (full word), kata
berisi (content word), atau kata yang termasuk dalam kelas kata terbuka (open class); (2) arti lesikal lebih kaya dan lebih kompleks dari pada arti gramatikal (grammatical element), arti leksikal membentuk arti suatu ungkapan linguistik secara keseluruhan. (Subuki, 2011:46).
Arti gramatikal biasa dianggap sebagai kebalikan dari arti leksikal. Seperti juga arti leksikal, arti gramatikal juga didefinisikan secara beragam misalnya, mendefinisikan arti gramatikal sebagai arti dari struktural gramatikal (Crystal 2008: 299). Adapun Bussman (1996: 678), mendefinisikannya sebagai makna yang terdapat pada elemen gramatikal atau kelas kata tertutup. Batasan yang lebih langkap diutarakan oleh Cruse (2006), ia mengemukakan bahwa istilah gramatikal tidak digunakan untuk menyebut satu macam fenomena arti saja. Dia mengemukakan bahwa istilah tersebut biasanya digunakan untuk: (1) arti yang terdapat dalam katagori gramatikal (grammatical catagories) yang merupakan satuan analisis dalam morfologi, yaitu terutama nomina, verba, dan adjektiva; (2) arti yang dikandungi oleh elemen gramatikal , misalnya afiks, preposisi, dan konjungsi; (3) arti dari konstruksi gramatikal, misalnya frasa, klausa, dan kalimat;
(4) arti dari fungsi sintaksis, misalnya subyek, predikat, dan objek; (5) arti dari peran tematis; misalnya aktor, agen, pengalaman, dan pemeruntungan.
Agar perbedaan ini menjadi jelas, kita dapat mempertimbangkan contoh di bawah ini.
a. Ibu membeli sate Madura
b. Ibu membelikan ayah sate Madura
Dalam contoh tersebut, arti yang melekat pada leksem IBU, BELI, SATE, MADURA, AYAH, dan AYAM adalah arti leksikal. Adapun adapun arti yang
melekat dalam verba membeli dan membelikan adalah arti gramatikal: yang pertama bervalansi dua dan yang kedua bervalansikan satu. Begitu pula arti yang melekat pada kompositum sate Madura dan sate ayam: yang pertama berarati asal daerah dan yang kedua berarti bahan. Bahkan, dimensi peran simantis atau peran semantic yang memiliki setiap argumen dalam kedua kalimat tersebut juga kita dapat sebut sebagai arti gramatikal, misalnya ibu berperan sebagai actor/ agen dan ayah berperan sebagai pemeruntung. (Cruse 2006 dalam Subuki 2011: 47).
Djajasudarma (2009: 16) mengemukakan makna leksikal adalah makna unsur -unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa dan lain-lainnya. Makna leksikal ini dimiliki unsur- unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks.
Misalnya, kata culture dalam bahasa inggris budaya di dalam kamus Shadily dan Echols disebutkan sebagai nomina dan artinya : kesopanan, kebudayaan : (1) pemeliharaan biakan (biologi) (2) Di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya adalah nomina dan maknanya: 1. Pikiran: akal budi; 2. kebudayaan; 3.
Yang mengenai kebudayaan; yang sudah berkembang (beradap dan maju). Semua makna (baik bentuk dasar maupun bentuk turunan) yang ada dalam kamus disebut makna leksikal.
Djajasudarma (2009:16) selanjutnya menjelaskan bahwa kata diatas memiliki makna dan dapat dibaca pada kamus. Makna demikian disebut pula makna kamus, selain makna leksikal (dictionary meaning). Adapula yang mengatakan bahwa makna leksikal dalah makna kata-kata pada waktu berdiri sendiri, baik dalam bentuk tuturan maupun dalam bentuk dasar.
Djajasudarma (2009: 16) berpendapat makna grametikal adalah makna makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul
sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat. Di dalam semantik makna gramatikal dibedakan dari makna leksiakal. Sejalan dengan makna (bahasa inggris sense (pengertian); (makna) dibedakan dari (bahasa inggris meaning (arti). Makna merupakan pertautan yang ada antara satuan bahasa, dapat dihubungkan dengan makna gramatikal, sedangkan arti adalah pengertian satuan kata sebagai unsur yang dihubungkan.
Djajasudarma (2009: 16-17) mengutarakan bahwa makna leksikal dapat berubah kedalam makna gramatikal secara operasional. Sebagai contoh dapat di pahami makna leksikal kata belenggu adalah (1) alat pengikat kaki atau tangan;
borgol; atau (2) sesuatu yang mengikat (sehingga tidak bebas lagi). Sebagaimana makna gramatikal dapat diperhatikan ekspresi berikut:
1) Polisi memasang belenggu pada kaki dan tangan pencuri yang baru tertangkap itu.
2) Mereka terlepas dari belenggu penjajahan.
Perubahan makna leksikal kearah makna gramatikal dapat diperhatikan ekspresi berikutnya:
1) Hei, mana matamu!
Mata - alat; cara melihat - mencari; mengerjakan.
Mata (makna leksikal) adalah alat pada tubuh manusia, berfungsi untuk melihat. Bandingkan dengan :
2) Anak itu ingin telur mata sapi.
Djajasudarma (2009: 17) menjelaskan Makna pada (1) Mata sebagai gramatikal yang masih berhubungan erat dengan makna leksikal ”berfungsi untuk melihat” sedangkan makna pada (2) Mata benar-benar sebagai makna gramatikal, yakni “goreng telur” (mungkin rupanya mirip mata sapi- mata milik sapi?).
Bandingkan dengan makna leksikal dari makna gramatikal tersebut. Dari contoh berikut adakah makna yang sejalan (berasosiasi) dengan makna leksikal mata, perhatikan:
1. mata pisau 2. mata uang 3. mata keranjang 4. mata duitan 5. mata air.
Chaer (2009: 60) mengemukakan bahwa makna leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosa kata, perbendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalh leksem, yaitu satuan bentuk bahasa bermakna. Kalau leksikon di samakan kosa kata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat dipersamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem atau bersifat kata. Lalu, karena itu dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indra,
atau makna yang sesungguh-sungguhnya nyata dalam kehidupan kita.
Umpamanya kata tikus makna leksikalnya adalh sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam kalimat tikus itu mati di terkam kucing, atau dalam kalimat panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus. Kata tikus pada kedua kalimat itu jelas merujuk pada binatang tikus, bukan kepada yang lain. Tetapi dalam kalimat yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam bukanlah dalam makna leksikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada manusia, yang perbuatannya mirip dengan perbuatan tikus.
Chaer (2009: 60-61) memberi contoh lain, kepala dalam kalimat kepalanya hancur kena pecahan granat adalah dalam makna leksikal, tetapi dalam kalimat Raporya ditahan kepala sekolah karena ia belum membayar uang SPP adalah bukan bermakna leksikal. Kata memetik dalam kalimat Ibu memetik sekuntum mawar adalah bermakna leksikal, sedangkan dalam kalimat Kita dapat memetik manfaat dari cerita itu adalah bukan bermakna leksikal.
Kalau disimak contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa makna leksikal dari suatu kata adalah gambaran yang nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan kata itu. Makna leksikal suatu kata sudah jelas bagi seorang bahasawan tanpa kehadiran kata itu dalam suatu konteks kalimat. Berbeda dengan makna yang bukan makna leksikal, yang baru jelas apabila berada dalam konteks kalimat atau satuan sintaksis lain. Tanpa konteks kalimat dan konteks situasi jika kita mendengar kata bangsat maka yang terbayang di benak kita adalah jenis binatang pengisap darah yang disebut juga kutu busuk atau kepinding. Jika kita
mendengar kata memotong maka yang terbayang dalam benak kita adalah pekerjaan untuk memisahkan atau menceraikan yang dilakukan dengan benda tajam. Tetapi kata bangsat yang berarti penjahat dan kata memotong yang berarti mengurangi baru akan terbayang benak kita apabila kata-kata tersebut dipakai didalam kalimat. Misalnya dalam kalimat Dasar bangsat uangku disikatnya juga dan kaliamat Kalau mau memotong gajiku sebaiknya bulan depan saja. (Chaer 2009: 60-61).
Bagaimana dengan kepala pada frase kepala kantor dan kepala paku? Di sini kata kepala itu tidak bermakna leksikal, sebab tidak merujuk pada referen yang sebenarnya. Di sini kata kepala digunakan secara metaforis, yakni mempersamakan atau memperbandingkan salah satu cirri makna kata kepala dengan yang ada pada kata kantor dan kata paku. Dalam perkembangan selanjutnya makna kata kepala pada frase kepala kantor dan kepala paku dianggap berpolisemi dengan makna kata kepala yang sesuai denngan referennya.
Apakah semua kata dalam bahasa Indonesia bermakna leksikal? Tentu saja tidak. Kata-kata yang dalam gramatika disebut kata penuh (full word) seperti kata meja, tidur, dan cantik memang memiliki makna leksikal, tetapi yang disebut kata tugas (function word) seperti kata dan, dalam, dan karena tidak memiliki makna leksikal. Dalam gramatika kata-kata tersebut dianggap hanya memiliki tugas gramatikal. (Chaer 2009: 61).
Dalam beberapa buku pelajaran bahasa sering dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna seperti yang terdapat dalam kamus. Pernyataan ini tidak seratus persen benar. Mengapa? Kalau kamusya adalah kamus kecil atau sebuah
kamus dasar maka pernyataan itu benar. Kalau kamusnya bukan kamus dasar melainkan kamus umum atau besar maka pernyataan itu tidak benar sebab dalam kamus-kamus itu didaftarkan juga makna-makna idiom dan kiasan.
Makna leksikal biasanya dipertentangkan atau dioposisikan dengan makna gramatikal. Kalau makna leksikal itu berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afikasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Proses apikasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik melahirkan makna
„dapat‟, dan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatikal „tidak sengaja‟. (Chaer 2009: 61-62).
Dalam buku-buku tata bahasa biasanya kita dapati perincian makna-makna awalan ter- atau juga imbuhan lain. Sebetulnya awalan ter-, atau juga imbuhan-imbuhan lain, tidak mempunyai makana. Sebuah imbuhan-imbuhan, seperti awalan ter- di atas, baru memiliki makna atau kemungkinan makna apabila sudah berproses dengan kata lain. Seperti ontoh kata terangkat di atas yang memiliki kemungkinan makna (1) „dapat‟, atau (2) „tidak sengaja‟. Sedangkan kepastian maknanya baru diperoleh setelah berada dalam konteks kalimat atau satuan sintaksis lain, seperti makna „dapat‟ di dalam kalimat Batu sebesar itu terangkat juga oleh adik; dan makna „tidak sengaja‟ dalam kalimat „Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas‟.
Oleh karena makna sebuah kata, baik kata dasar maupun kata jadian, sering sangat tergantung pada konteks kalimat atau konteks situasi maka makna
gramatikal ini sering juga disebut makna kontekstual atau makna situasional.
Selain itu bisa juga disebut makna struktural karena proses dan satuan-satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur ketatabahasaan. (Chaer 2009:62).
Makna gramatikal itu bermacam-macam. Setiap bahasa mempunyai sarana atau alat gramatikal tertentu untuk menyatakan makna-makna, atau nuansa-nuansa makna gramatikal itu. Untuk menyatakan makna‟ jamak‟ bahasa Indonesia menggunakan proses reduplikasi seperti kata buku yang bermakna „sebuah buku‟
menjadi buku-buku yang bermakna „banyak buku‟ bahasa Inggris untuk menyatakan „jamak‟ menggunakan penambahan morfem {s} atau menggunakan bentuk khusus. Misalnya book „sebuah buku‟ menjadi books yang bermakna
„banyak buku‟; kata woman yang bermakna „seorang wanita‟ menjadi womens yang bermakna „banyak wanita‟.
Penyimpangan makna dan bentuk-bentuk gramatikal yang sama lazim juga terjadi dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, bentuk-bentuk kesedihan, ketakutan, kegembi-raan dan kesenangan memiliki makna gramatikal yang sama, yaitu hal yang disebut kata dasarnya. Tetapi bentuk atau kata kemaluan yang berbentuk gramatikalnya sama dengan deretan kata di atas, memiliki makna yang lain. Sebagai orang Indonesia Anda tentu tahu artinya.
Contoh lain, kata menyedihkan, menakutkan, dan mengalahkan memiliki makna gramatikal yang sama yaitu‟membuat jadi yang disebut kata dasarnya‟. Tetapi kata memenagkan dan mengalahkan yang dibentuk dari kelas kata dan imbuhan yang sama dengan ketiga kata di atas, tidak memiliki makna seperti ketiga kata tersebut; sebab bukan bermakna „membuat jadi menang‟ dan „membuat jadi
galak‟, melainkan bermakna „memperoleh kemenangan‟ dan „menggiatkan‟.
(Chaer 2009: 62-63).
Proses komposisi atau proses penggabungan dalam bahasa Indonesia juga banyak melahirkan makna gramatikal. Kita lihat saja makna gramatikal komposisi sate ayam tidak sama dengan komposisi sate Madura. Yang pertama menyatakan
„asal bahan‟ dan yang kedua menyatakan „asal tempat‟. Begitu juga komposisi orang tua asuh. Yang pertama bermakna „anak yang diasuh‟ sedagkan yang kedua bermakna „orang tua yang mengasuh‟.
Makna gramatikal acapkali jug dapat diketahui tanpa mengenal makna leksikal unsur-unsurnya. Misalnya klausa malalat dilili-lili lolo-lolo ini, yang tidak kita ketahui makna leksikal unsur-unsurya, apa itu malalat, apa itu dilili-lili, dan apa pula lolo-lolo itu; namun, kita tahu bahwa kontrusksi klausa itu member makna gramatikal: malalat mengandung makna „tujuan, pasien‟ dilili-lili mengandung makna „pasif‟, dan lolo-lolo mengandung makna „pelaku perbuatan‟.
(Chaer 2009: 63).