• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Menurut pendapat Susanto (2015 : 243) menggemukakan bahwa kemampuan berbahasa bagi manusia sangat di perlukan. Sebagai alat sosial, sebagai alat interaksi, sebagai alat berkomunikasi antar manusia lain, dengan menggunakan bahasa lisan atau menggunakan bahasa tulis. Membaca hendaknya mempunyai tujuan, karena membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai tujuan. Menurut Kurnia (2012: 8) berbahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat di artikan bahwa bahasa sangat penting bagi manusia khususnya untuk siswa sekolah dasar yang baru mengenal bahasa tulis maupun lisan. Karna dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan, mengembangkan kemampuan dalam berbahasa, kemampuan membaca, sikap, minat, dan kebiasaan membaca yang baik dan benar. Bukan hanya itu saja, bentuk bahasa yang teridiri dari menyimak, berbicara, membaca dan menulis merupakan salah satu hal yang paling penting di ketahui dalam hal membaca permulaan.

Membaca merupakan suatu keterampilan berbahasa yang sangat penting perannya dalam kehidupan. Pendidikan berbahasa dalam membaca memiliki peran untuk mengembangkan potensi siswa. Keterampilan – keterampilan dalam berbahasa tidak lepas dari keterampilan membaca dan mendengarkan (Reseftif) dan keterampilan berbicara dan menulis ( Produktif) menurut Mulyati (2015 : 2) mengatakan bahwa berbahasa di artikan sebagai alat untuk berinteraksi atau alat komunikasi untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau perasaan.

Membaca, mempunyai peranan penting dalam berbahasa, karna dapat menciptakan generasi yang cerdas, kreatif dan kritis. Dalam hal ini berbahasa tidak lepas dari kata membaca. Membaca merupakan bagian terpadu dari

(2)

kemampuan berbahasa. Menurut mulyani (2015 : 3) dengan membaca seseorang mendapatkan fungsi dari bebahasa, seperti sebagai alat pengetahuan, alat eksperesi jiwa, alat komunikasi, alat beradaptasi, dan sebagai alat kontrol sosial dan informasi.

Membaca di artikan sebagai pengolaan kata bacaan secara kritis dan kreatif. Dengan tujuan dapat memperoleh pemahaman secara menyeluruh tentang suatu bacaan sehingga dapat memunculkan minat baca dalam diri siswa itu sendiri. Menurut Anjani (2019:75) mengatakan bahwa minat membaca merupakan kecenderungan jiwa yang di miliki seseorang secara mendalam yang ditandai dengan perasaan senang serta berkeinginan kuat untuk membaca tanpa adanya paksaan dari orang lain. Adapun pendapat yang di sampikan oleh Tarigan (2015:3) mengatakan bahwa keterampilan hanya dapat diperoleh dan di kuasai dengan adanya pratek dan juga latihan. Sehingga dalam tahapan membaca bagi siswa kelas awal merupakan tahap proses belajar membaca untuk menguasai taknik – teknik awal baca/tulis dan merangkap hasil bacaan dengan hasil yang maksimal. Dan sebab itu guru perlu memahami dan merancang pembelajaran membaca dengan baik, sehingga mampu menumbuhkan sikap kebiasaan siswa dalam membaca sebagai suatu hal yang menyenangkan. Tidak adanya pemahaman dalam tujuan membaca di sebabkan dengan adanya anak – anak kurang dalam memahami membaca permulaan biasanya di sebabkan oleh : (1) guru kurang memperhatikan siswa saat mengajar, (2) penyampaian materi membaca di sampaikan secara singkat dengan mengunakan buku guru dan buku siswa, (3) banyaknya siswa yang sukan dalam bertanya pada materi yang di sampaikan oleh guru. sehingga siswa kurang memahami materi dalam membaca permulaan.

Dalam kegiatan membaca, guru perlu menyusun tujuan dasar membaca permulaan dan menyediakan tujuan khusus yang disesuaikan untuk membantu tujuan membaca siswa agar tercapai dengan maksimal. Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan pada hari kamis tanggal 28 oktober 2021 dengan guru kelas 1 SDN Merjosari 1, beliau mengatakan dari 28 siswa, hanya 10 orang bisa membaca dengan lancar, 10 bisa membaca, tetapi belum bisa membaca kata

(3)

dalam bentuk kalimat sederhana , dan 8 orang belum bisa membaca sama sekali.

presentase yang muncul dari hasil analisis yang dilakukan hanya 55% saja.

Dengan demikian agar proses belajar dapat terlaksana dengan baik dan tujuan pembelajaran tercapai, maka guru perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan metode atau model pembelajaran yang variatif, menarik perhatian siswa dan fokus pada materi yang di ajarkan. Siswa yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran akan memahami pembelajaran dan hasil belajar membaca siswa dapat tercapai dengan maksimal.

Berdasarkan hasil data di atas, peneliti memperoleh hasil observasi wawancara awal dengan guru dan siswa kelas 1 SDN Merjosari 1, dan juga mendapatkan hasil refleksi awal pelaksanaan belajar mengajar di sekolah SDN Merjosari 1. Pada hasil observasi tersebut dapat diperoleh temuan – temuan bahwa ada beberapa permasalahan yang terjadi yang mengakibatkan siswa berkesulitan memahami kemampuan dalam bacaan, antara lain sebagai berikut : 1) Model pembelajaran yang di gunakan tidak variatif dan juga tidak menarik, hal tersebut disebebkan karena model pembelajaran yang di pilih oleh guru terlalu klasik, tidak obtimal dan monoton. Dan pada saat pelaksanaan belajar mengajar membaca permulaan, guru hanya sekedar mengasi dan menguasai bacaan secara mandiri. 2) Proses belajar mengajar hanya berpusat pada guru, yang artinya siswa tidak ikut terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan tidak di berikan kesempatan untuk aktif dalam proses belajar mengajar. 3) Hasil pembelajaran dan kemampuan baca tulis dalam membaca pemahaman belum optimal.

Ada tiga istilah yang digunakan untuk memberikan komponen dasar dari proses membaca yang ingin di terapkan pada siswa kelas 1 SD Negri Merjosari , yaitu Recording, Decoding, dan Meaning. Recoding merujuk pada kata – kata dan kalimat, kemudian mengasosiasikannya dengan bunyi – bunyiannya sesuai dengan sistem tulisan yang di gunakan. Sedangkan decoding (penyediaan) merujuk pada proses penerjemahan rangkaian garis ke dalam kata – kata.

Penekanan membaca pada tahap recording dan decoding merupakan proses perseptual yaitu pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi – bunyi bahasa yang sering disebut dengan istilah membaca permulaan sedangkan

(4)

meaning lebih di tekankan dikelas tinggi sekolah dasar. Ke tiga proses ini biasanya berlangsung pada kelas – kelas awal, yaitu kelas I, II, dan III. Dalam proses ketiga komponen ini akan di buat rancangan pembelajaran (RPP) dengan materi pembelajaran tema 4 sub tema 3 pembelajaran 1, pada mata pelajaran bahasa indoensia dengan KD 3.9 “ Merinci kosakata dan ungkapan perkenalan diri, keluarga dan orang – orang di tempat tinggal secara lisan dan tulis”.

Dari beberapa permasalahan yang muncul peneliti mengkaji satu metode pembelajaran yang bisa di gunakan agar siswa dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran adalah metode pembelajaran TPS (Think Pair Share) yang merupakan tehnik sederhana dengan keuntungan besar. Menurut M Sunita (2014 : 62) mengatakan Think Pair Share (TPS) merupakan model pembelajaran dimana siswa di latih untuk berpikir secara mendiri tentang permasalahan yang di berikan oleh guru kemudian di diskusikan dengan pasangan. Sedangkan menurut Shoimin (2014 : 208) mengatakan Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu inforamasi dan juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan ide untuk diskusikan sebelum di sampaikan di depan kelas. Model TPS juga merupakan salah satu pembelajaran model kooperatif yang merupakan pembelajaran yang menekankan pembelajaran secara bersama – sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu team.

Berdasarkan latar belakang permasalah di atas. Untuk mengatasi masalah yang peneliti hadapi adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) untuk peningkatan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas 1 pada judul “Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) pada kelas 1 Sekolah Dasar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan beberapa paparan permasalahan dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

(5)

1. Bagaimana penerapan/pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap kemampuan peningkatkan membaca permulaan pada siswa kelas 1 SDN Merjosari 1 tahun ajaran 2021/2022 ? 2. Bagaimana peningkatan kemampuan membaca permulaan untuk merangkai kata sederhana siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas 1 SDN Merjosari 1 tahun ajaran 2021/2022 ?

C. Tujuan Penelitain

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diterapkan tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui peranan aktifitas belajar siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan melaui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada kelas 1 SDN Merjosari 1 tahun ajaran 2021/2022.

2. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca permulaan dan merangkai kata sederhana siswa melalui peranan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas 1 SDN Merjosari 1 ajaran 2021/2022.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Adanya pengetahuan baru tentang model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) ini dalam peningkatan kemampuan membaca permulaan bagi siswa kelas 1 SDN Merjosari 1 Kec.

Dau, Kab. Malang.

b. Timbulnya pembelajar yang mengutamakan proses untuk mencapai hasil belajar yang maksimal bagi siswa kelas 1 SDN 1 Merjosari.

2. Manfaat Praktis

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, manfaat dari penelitian ini adalah : a. Bagi siswa

(6)

Melalui penelitian ini siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui Aktif membaca dan keterampilan penguasaan kosa kata dalam proses pembelajaran.

b. Bagi Guru

Melalui penelitian ini, di harapkan guru mendapatkan strategi pembelajaran yang tepat, bervariasi dan dapat mengenal lebih dalam tentang model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada pembelajaran bahasa indonesia ( permulaan membaca ) pada siswa kelas 1

c. Bagi Sekolah

Melalui penelitian ini sekolah dapat memperoleh informasi baru sebagai masukan dalam menentukan kebijakan terkait dengan proses pembelajaran. dapat di jadikan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan presentasi belajar siswa di sekolah.

E. Defenisi Istilah

1. Kemampaun Membaca

Kemampuan membaca adalah salah satu keterampilan kompleks yang melibatkan keterampilan bersifat pengalaman, pengalaman dalam unsur – unsur linguistik, dan keterampilan mengenal huruf - huruf Tarigan (2015 : 7) membaca juga merupakan aktifitas rangsangan atau dikenal dnegan aktifitas kognitif yang berupa tanda – tanda dan huruf baca lainnya yang di terima oleh indera reseptor visua ( mata ) untuk kemudian di lanjudkan ke otak dan selanjudnya diberikan tafsiran atau makna (Suryani, 2016 : 64)

2. Membaca Permulaan

Merupakan bacaan yang di ajarkan secara terprogram pada anak prasekolah. Program ini berikan/ di kemukakan dalam bentuk perhatian – perhatian utuh, yang bermakna dalam diri pribadi anak yang diberikan

(7)

dari hasil – hasil kegiatan melalui permainan/kegiatan menarik sebagai prantara pembelajaran (ahmad susanto,2012 : 83)

3. Kemampuan Membaca Permulaan

Bialystok (2012 : 14) berpendapat bawah kemampuan membaca permulaan di sebut sebagai kemampuan membaca lugas atau kemampuan membaca pada tingkat awal. Dalam kegiatan tingkat ini belum masuk pada pemahaman secara kompleks. Materi yang di berikan masih dalam bentuk kata sederhana yang terdiri dari suku kata dan belum pada tahap membaca kalimat panjang. Pada tahap kemampuan membaca ini merupakan tahap yang mengubah seseorang yang tidak mampu menjadi mampu

4. Pembelajaran Kooperatif

Solihatin, Edan Raharjo (2011 : 56) pada dasarnya kooperatif learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja sangat di pengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.

5. Think Pair Share (TPS)

adalah pembelajaran yang memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Menurut M Sunita (2014 : 62 ) Think Pair Share (TPS) merupakan model pembelajaran „dimana peserta didik berpikir secara mandiri tentang permasalahan yang di berikan oleh guru kemudian diskusi dengan pasangan dan membagikan hasil diskusi tersebut kepada teman di kelas.

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa pandangan di atas memberikan informasi bahwa kemampuan bahasa anak, khususnya membaca permulaan, jika distimulasi sejak anak usia dini dengan mengintegrasikan antara

Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Metode Analisis Glass Bagi Siswa Berkesulitan Membaca (Reading Difficulties) (Studi Kasus Pada Siswa Kelas III SDN

Secara operasional, kemampuan membaca permulaan yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengenal huruf, melafalkan dan memahami kata sederhana yang memiliki unsur

1) Siswa tidak terbiasa mengapresiasi puisi, akibat dari kebiasaan membaca yang kurang, dampaknya, pembendaharaan yang diserap siswa kurang terasah, sehingga

Dengan membaca novel Anak Kolong Punya Derita dapat memberi pengertian pada kita bahwa sesungguhnya memahami sebuah kehidupan masyarakat lewat sebuah karya sastra, akan

Dengan pengembangan bahan ajar buku sub-sub tema bentuk muka bumi dan aktivitas penduduk Indonesia, diharapkan siswa lebih tertarik dalam membaca buku ajar serta dengan mudah

Tipe kesalahan tersebut diantaranya ialah (1) kesalahan membaca soal, dengan persentase yang rendah menunjukkan siswa kurang teliti dalam menanggapi informasi yang

Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih ini, tidak jarang membuat para pengguna khuhusnya kalangan anak muda menjadi malas untuk membaca khususnya