Informasi Perundingan Perdagangan Internasional Sektor Jasa Pendidikan
Direktorat Perundingan Perdagangan Jasa
Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan
Tahun 2021
ii
KATA PENGANTAR
Pendidikan merupakan sektor vital dalam pembangunan sumber daya manusia di suatu negara, tidak terkecuali Indonesia. Dengan jumlah populasi yang besar, Indonesia memiliki potensi tinggi dalam meningkatkan perekonomian melalui sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Pada tahun 2035 jumlah penduduk Indonesia mencapai 305,6 juta jiwa, berdasarkan proyeksi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Indonesia juga berpeluang untuk memanfaatkan peluang bonus demografi, di mana proporsi penduduk produktif yang berusia 15 sampai 64 tahun merupakan yang terbesar dibandingkan penduduk usia tidak produktif.
Dapat dipahami bersama bahwa pendidikan adalah kunci dari pembangunan sumber daya manusia. Pendidikan yang baik tidak terlepas dari pelayanan sektor jasa pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, pemerintah mengemban peran penting dalam memastikan kualitas dari pendidikan yang diberikan kepada masyarakat, baik dari tingkat pendidikan dasar hingga tinggi, termasuk pendidikan yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta.
Seiring dengan perkembangan zaman, penyediaan jasa pendidikan tidak hanya dilakukan oleh penyedia jasa domestik, tetapi juga penyedia jasa asing. Hal ini dimungkinkan dengan adanya perundingan perjanjian internasional yang mencakup perdagangan jasa antar negara. Penyediaan jasa pendidikan dilakukan melalui 4 (empat) moda penyediaan, yaitu penyediaan lintas batas, konsumsi luar negeri, keberadaan komersial, dan perpindahan sementara orang perseorangan.
Sejauh ini Indonesia telah memberikan komitmen sektor jasa pendidikan di berbagai perjanjian perdagangan internasional. Potensi yang dimiliki Indonesia dari segi populasi, kemajuan teknologi, dan keberadaan diaspora dapat mendukung perundingan perdagangan sektor jasa pendidikan di kancah internasional. Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi sektor pendidikan di level domestik menyebabkan adanya pembatasan tertentu dalam pemberian komitmen sektor jasa pendidikan dalam perjanjian internasional.
Tulisan ini diharapkan mampu memberikan informasi dan meningkatkan kualitas jasa pendidikan di Indonesia.
Jakarta, Tahun 2021 Direktorat Perundingan Perdagangan Jasa Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI...
ii iii
DAFTAR TABEL... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Profil Ekonomi Sektor Jasa Indonesia ... 2
1.3 Profil Perdagangan Sektor Jasa Pendidikan Indonesia ... 3
BAB II SEKTOR JASA DALAM RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL FASE KETIGA (2015-2019)... 11 2.1 Sektor Jasa dalam RPJMN... 11
2.2 Sektor Jasa Pendidikan dalam RPJMN... 12
BAB III KOMITMEN UNILATERAL DAN KOMITMEN PERDAGANGAN INTERNASIONAL SERTA OFFER SEKTOR JASA PENDIDIKAN ... 18 3.1 Peraturan Domestik Mengenai Jasa Pendidikan Tinggi... 18
3.1.1 Daftar Prioritas Investasi... 18
3.1.2 Peraturan Sektoral Jasa Pendidikan Tinggi ... 18
3.2 Komitmen dan Offer Sektor Jasa Pendidikan... 20
3.2.1 Offer Jasa Pendidikan Tinggi di WTO... 20 3.2.2 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) Package 9...
22
3.2.3 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA)...
24
3.2.4 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di Agreement Establishing the ASEAN–Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA)...
27
3.2.5 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA)...
28
iv
BAB IV POTENSI PERUNDINGAN DI SEKTOR JASA PARIWISATA... 31
BAB V ISU PERUNDINGAN DI SEKTOR JASA PARIWISATA ... 32
BAB IV PENUTUP ... 33
REFERENSI... 34
v DAFTAR TABEL & GRAFIK
Tabel 1.1 Tabel Partisipasi Pendidikan Indonesia & Jumlah Lembaga Pendidikan Indonesia...
3
Tabel 1.2 Tabel Partisipasi Pendidikan Negara ASEAN... 3
Tabel 1.3 Tabel Peringkat Dunia Universitas Negara ASEAN... 4
Tabel 1.4 Klasifikasi Sektor Jasa Pendidikan Menurut W/120... 6
Tabel 1.5 Indonesia’s imports of higher education services, 2005 and 2008: Jumlah Pelajar dan rata-rata Pengeluaran-per pelajar... 7 Tabel 1.6 Total pengeluaran tahunan per negara atau total tahunan nilai impor Indonesia (2005 dan 2008)... 8 Tabel 2.1 Pemetaan Posisi Daya Saing Sektor Jasa... 11
Tabel 2.2 Rencana Pengembangan Sektor Jasa Pendidikan... 12
Tabel 3.1 Matriks Perbandingan Ketentuan DNI Bidang Pendidikan Tinggi... 18
Tabel 3.2 Peraturan Domestik terkait Sektor Pendidikan... 18
Tabel 3.3 Conditional Initial Offer Jasa Pendidikan Tinggi di WTO... 20
Tabel 3.4 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di AFAS Paket 8... 23
Tabel 3.5 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di AKFTA... 25
Tabel 3.6 Komitmen Jasa Pendidikan Indonesia di AANZFTA... 27
Tabel 3.7 Komitmen Jasa Pendidikan Indonesia di IJEPA... 29
Grafik 1.1 Neraca Jasa Travel... 9
Grafik 2.1 Gambaran MekanismePemenuhan Target RPJMN 2015 – 2019... 15
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan rangkaian upaya untuk mewujudkan manusia seutuhnya dalam masyarakat Indonesia yang mencakup pembangunan manusia, baik sebagai individu/perseorangan maupun sebagai makhluk sosial yang merupakan sumber daya pembangunan. Dalam hal ini Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kekuatan dalam hal jumlah sumber daya manusia berpotensi menemui tantangan di dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 28,6 persen dari tahun 2010 yang sebesar 237,6 juta jiwa.
Dengan peningkatan tersebut diproyeksikan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 tersebut menyebabkan Indonesia menjadi negara kelima dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Posisi tersebut turun dari posisi saat ini dimana Indonesia merupakan negara ke-4 dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.
Meski begitu, dikatakan bahwa Indonesia akan memasuki “bonus demografi”
yaitu kondisi dimana proporsi penduduk produktif yang berusia 15 sampai 64 tahun merupakan proporsi yang terbesar dibandingkan penduduk usia tidak produktif. Pada kondisi ini terdapat peluang yang dapat dinikmati oleh suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk tersebut. Namun di sisi lain kelompok usia produktif ini akan menjadi beban negara apabila tidak berkualitas.
Dikaitkan dengan hal tersebut, sektor jasa pendidikan menjadi salah satu kunci bagfi usaha pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dipahami bersama bahwa pembangunan sumber daya manusia dimulai dari titik paling dasar yaitu pendidikan. Negara yang kuat tercermin dari nilai sumber daya manusianya yang ditopang oleh kualitas pendidikan yang baik, yang dapat dimiliki jika pemerintah sebagai pihak yang berkewajiban untuk menyediakan pendidikan dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Seiring dengan perkembangan jaman, penyediaan jasa pendidikan tidak hanya dikelola oleh pemerintah tapi demi peningkatan kualitas dan peningkatan daya saing sektor ini, penyelenggaraannya juga dilakukan oleh pihak swasta. Hal ini terlihat dari banyaknya lembaga pendidikan swasta mulai dari tingkat pra sekolah, dasar, menengah dan tinggi dengan menyediakan fasilitas, sarana dan tenaga pendidik yang berkualitas baik. Bahkan pihak swasta telah mampu menyediakan fasilitas dan sarana yang lebih memadai walaupun dengan biaya yang relatif lebih mahal.
1.2 Profil Ekonomi Sektor Jasa Indonesia
Sektor jasa telah membantu perekonomian Indonesia selama masa pemulihan ekonomi pasca krisis keuangan Asia. Saat ini, sektor jasa memiliki peran yang lebih besar daripada sektor pertanian dan manufaktur, baik dari peran penyediaan lapangan kerja maupun output-nya. Dalam satu dekade terakhir, kontribusi sektor jasa terhadap PDB meningkat dari 44 persen menjadi lebih dari 50 persen, sementara
2
penyerapan tenaga kerja meningkat dengan besaran serupa, yaitu hampir 50 persen.
Sektor jasa yang berperan penting untuk recovery ekonomi Indonesia dari krisis keuangan Asia yaitu jasa telekomunikasi, komputer dan jasa infrastruktur begitu pula dengan jasa transportasi, distribusi, dan logistik (Manning & Aswicahyono, n.d).
Pembangunan sektor jasa yang menyeluruh dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendukung salah satu visi dan misi RPJMN 2020-2024, yakni mewujudkan bangsa yang berdaya saing.
Dari sisi ekspor, ekspor jasa Indonesia terus mengalami peningkatan dari 22,22 miliar US$ pada tahun 2015 menjadi 31,64 miliar US$ pada tahun 2019. Sungguhpun demikian, impor jasa Indonesia juga terus mengalami peningkatan pada periode yang sama, yaitu dari 30,91 miliar US$ menjadi 39,28 miliar US$ pada tahun 2019.
Tabel 1.1. Nilai Ekspor Jasa Indonesia tahun 2015 – 2019 (WITS, 2021)
Tabel 1.2. Nilai Impor Jasa Indonesia tahun 2015 – 2019 (WITS, 2021)
Terkait dengan peran jasa dalam suatu rantai produksi, bersama dengan jasa kesehatan, jasa pendidikan merupakan sektor jasa yang berperan terutama dalam pembangunan kualitas para penyedia jasa sebelum melakukan proses produksi.
Dalam hal ini ketersediaan peningkatan kualitas jasa pendidikan menjadi suatu hal yang “kritikal” terutama dalam menunjang terciptanya hasil produksi yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera konsumen, misalnya masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan berpotensi memiliki kemampuan meneliti dan mengembangkan (research and development) suatu produk barang yang kemudian akan menghasilkan produk akhir yang berkualitas dan berdaya saing untuk didistribusikan pada konsumen baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam konsep perdagangan internasional bidang jasa, penyediaan jasa termasuk jasa pendidikan dilakukan melalui 4 (empat) moda penyediaan yaitu penyediaan lintas batas, konsumsi luar negeri, keberadaan komersial, dan perpindahan sementara orang perseorangan. Dikaitkan dengan perundingan perdagangan internasional bidang jasa, Indonesia memberikan komitmen pada keempat moda penyediaan jasa tersebut. Namun jika dikaitkan dengan kondisi
3
domestik, pengaturan atau bahkan arah pembangunan sektor jasa pendidikan belum merefleksikan keberadaan 4 (empat) moda penyediaan jasa. Untuk itu dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui penyediaan pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing internasional perlu adanya kesejalanan posisi antara arah pembangunan nasional bidang pendidikan dengan komitmen sektor jasa pendidikan Indonesia di dalam perundingan internasional.
1.3 Profil Perdagangan Sektor Jasa Pendidikan Indonesia
Pada struktur GDP Indonesia, sektor jasa pendidikan merupakan salah satu lapangan usaha yang diperhitungkan dalam pembentukan di GDP. Berdasarkan data BPS dari tahun 2016-2020 tercatat jasa Pendidikan sempat mengalami pertumbuhan positif dalam kontribusi terhadap GDP walaupun memiliki kontribusi yang relatif tidak besar di mana tahun 2016, jasa pendidikan berkontribusi sebesar 0.12% dan terus bertumbuh sampai mencapai puncaknya pada tahun 2019 dengan catatan kontribusi sebesar 0,19%. Namun demikian perlu juga dicatat bahwa kontribusi jasa pendidikan terhadap GDP Indonesia merosot tajam pada pada tahun 2020 menjadi 0.08%.
Meskipun begitu sayangnya data perdagangan jasa pendidikan belum dapat diketahui secara rinci, karena berdasarkan pengklasifikasian sektor jasa pada Manual Balance of Payment (MBOP), jasa pendidikan dimasukkan pada jasa travel, yang sampai saat ini baru dihitung secara agregat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, secara umum angka partisipasi kasar untuk pendidikan dasar, menengah, dan tinggi Indonesia mengalami kenaikan. Hal ini juga sejalan dengan semakin banyaknya jumlah penduduk Indonesia yang masuk ke perguruan tinggi, seiiring dengan perkembangan jumlah perguruan tinggi yang ada, negeri maupun swasta.
Tabel 1.1 Tabel Partisipasi Pendidikan Indonesia & Jumlah Lembaga Pendidikan Indonesia
Angka Partisipasi Kasar Indonesia Tingkat
Pendidikan 2018 2019 2020
SD/MI 108,61 107,46 106,32 SMP/MTS 91,52 90,57 92,06 SM/SMK/MA 80,68 83,98 84,53PT 30,19 30,28 30,85
4 Lembaga Pendidikan di Indonesia*
Tingkat Pendidikan 2013/2014 2014/2015 2015/2016
TK 74.982 79.368 85.499
SD atau sederajat 171.950 172.625 172.073
SMP atau sederajat 51.771 52.989 53.957
SMA atau sederajat 31.755 32.194 33.191
PTN 151 176 55**
PTS 3.806 3.742 644**
*) Data lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Kementerian Agama
**) Perguruan Tinggi di bawah Kementerian Agama, data Perguruan Tinggi di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi belum tersedia.
Sumber: Badan Pusat Statistik (2020)
Sementara itu, dibandingkan dengan negara anggota ASEAN lainnya angka partisipasi pendidikan Indonesia pada tingkat pendidikan dasar dan menengah relatif sama. Hanya Thailand, Malaysia dan Filipina yang masih berada di atas Indonesia dalam angka partisipasi untuk tingkat pendidikan tinggi. Hal ini patut menjadi perhatian mengingat secara umum dipahami bahwa tingkat partisipasi masyarakat yang semakin tinggi pada level pendidikan tinggi dapat mempengaruhi tingkat intelektualitas dan kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan.
Ditambah lagi dengan fakta bahwa tingkat pendidikan tenaga kerja di Indonesia yang relatif lebih rendah menyebabkan tingkat produktivitas tenaga kerja juga lebih rendah.
Tabel 1.2 Tabel Partisipasi Pendidikan Negara ASEAN
Sumber: ILO
5
Dalam kegiatan ekonomi, tenaga kerja memiliki peran penting dalam proses produksi suatu barang. Sumber daya manusia yang berperan sebagai tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting bagi setiap negara. Tanpa adanya tenaga kerja, faktor produksi alam dan faktor produksi modal tidak dapat digunakan secara optimal. Pada dasarnya ketenagakerjaan dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga), yaitu tenaga kerja terdidik (skilled labour), tenaga kerja terlatih (trained labour), tenaga kerja tidak terlatih (unskilled labour).
Tenaga kerja terdidik (skilled labour) adalah tenaga kerja yang pernah memperoleh pendidikan formal dalam bidang tertentu tetapi mereka belum pernah dilatih dalam bidang tersebut. Yang dimaksud tenaga kerja terlatih (trained labour) adalah tenaga kerja yang telah bekerja dan pernah mengikuti latihan sesuai dengan bidangnya, misalnya seorang yang telah menamatkan studinya dalam bidang akuntansi, maka mereka dapat digolongkan sebagai tenaga kerja terlatih. Tenaga kerja terlatih ini dapat disamakan dengan tenaga kerja yang sudah berpengalaman.
Sedangkan yang dimaksud tenaga kerja tidak terlatih (unskilled labour) adalah tenaga kerja di luar tenaga kerja terdidik dan juga tenaga kerja terlatih. Tenaga kerja tidak terlatih ini merupakan bagian terbesar dari seluruh tenaga kerja yang ada.
Kelompok tenaga kerja ini umumnya hanya mengenyam pendidikan formal pada tataran tingkat bawah dan tidak mempunyai keahlian yang memadai karena memang belum ada pengalaman kerja, sehingga pekerjaan yang dikerjakannyapun umumnya tidak memerlukan keahlian secara spesifik.
Selain itu dalam kaitannya dengan kualitas perguruan tinggi di antara negara ASEAN, diketahui bahwa peringkat perguruan tinggi Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Tabel 1.3 Tabel Peringkat Dunia UniversitasNegara ASEAN
Sumber: Quacquarelli Symonds (QS) company (2015)
6
Globalisasi pendidikan tinggi yang semakin meningkat walau pun bertujuan untuk memperbaiki mutu dan akses ke pendidikan tinggi pasti merupakan gangguan terhadap kedaulatan Indonesia dalam mengatur salah sattu tujuan kemerdekaannya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemandirian bangsa ini dalam perumusan kebijakan nasional untuk mengatur bidang pendidikan harus dikorbankan agar penyedia jasa pendidikan tinggi dari luar negeri dapat masuk ke tanah air Indonesia.
Salah satu manifestasi globalisasi pendidikan tinggi adalah berkembangnya pasar pendidikan tinggi tanpa batas (borderless higher education market).
Keterbasasan dana yang dialami oleh negara-negara berkembang, peningkatan permintaan akan pendidikan tinggi bermutu, serta kemajuan teknologi informasi adalah tiga faktor yang mendorong pertumbuhan pasar pendidikan tinggi. Perguruan tinggi di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, Inggris dan Australia yang agresif memanfaat trend perdagangan global dengan meningkatkan penyediaan layanan pendidikan tinggi yang dilandasi pertimbangan for-profit dengan menerima sebanyak mungkin mahasiswa luar negeri yang membayar penuh biaya pendidikannya, mendirikan kampus-kampus cabang di negara lain maupun melalui kesepakatan twinning dengan perguruan tinggi lokal, dan menyediakan pendidikan jarak jauh atau e-learning.
Perkembangan-perkembangan ini perlu diantisipasi dengan sebaik-baiknya agar masyarakat negara berkembang dapat menarik manfaatnya dari penyediaan jasa pendidikan secara global tanpa harus mengorbankan kepentingan-kepentingan nasional untuk mempreservasi budaya bangsa serta menicptakan kemandirian dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang juga amat diperlukan oleh setiap bangsa.
Klasifikasi produk jasa sektor pendidikan tercantum pada MTN.GNS/W/120 tanggal 10 Juli 1991 tentang Daftar Klasifikasi Sektor Jasa. Klasifikasi ini dikenal juga sebagai klasifikasi sektor jasa W120. Klasifikasi ini menjadi dasar pengklasifikasian komitmen perdagangan internasional di bidang jasa yang banyak digunakan oleh negara anggota WTO sebagai referensi.
Negara anggota WTO mempunyai fleksibilitas untuk memodifikasi sektor- sektor jasa yang ada atau menambah klasifikasi sektor jasa ini agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara anggota yang tercermin pada schedule of commitment tiap negara tersebut.
7
Tabel 1.4 Klasifikasi Sektor Jasa Pendidikan Menurut W/120 Summary of the classification of Education Services according to W/120a
5 Educational Services
5.A Primary education services (921)
- which comprises Preschool Education Services (CPC 92110) and Other Primary Education Services (CPC 92190). These categories do not include child-care services (considered as social services in CPC 93321) and services related to literary programmes for adults, which are part of the sub-category Adult Education Services (CPC 92400).
5.B Secondary education services (922)
- which comprises General Secondary Education Services (CPC 92210), Higher Secondary Education Services (CPC 92220), Technical and Vocational Secondary Education Services (CPC 92230), and Technical and Vocational Secondary Education Services for handicapped students (CPC 92240).
5.C Higher education services (923)
- which comprises Post-Secondary Technical and Vocational Education Services (CPC 92310) and Other Higher Education Services (CPC 92390). The former refers to sub-degree technical and vocational education, while the latter refers to education leading to a university degree or equivalent.
5.D Adult education services (924)
- which comprises education for adults outside the regular education system.
5.E Other education services (929)
- which comprises education services at the first and second levels in specific subject matters not elsewhere classified, and all other education services that are not definable by level. Excluding education services regarding recreation matters, for example, those provided by sport and game schools, which fall under sporting and other recreation services (CPC 964).
*aW/120 refers to the Services Sectoral Classification List as contained in MTN.GNS/W/120. CPC codes contained therein correspond to the UN Provisional Central Product Classification.
Sumber: W/120 dan UN-CPC
Dalam perundingan jasa di forum mulatilateral (WTO), Sektor pendidikan merupakan salah satu sektor yang diatur di GATS yang paling sedikit dipertimbangkan untuk dikomitmenkan liberalisasinya oleh negara anggota WTO pada perundingan putaran Uruguay. Sampai saat ini hanya 42 negara anggota WTO yang telah memberikan komitmennya pada paling tidak satu sub-sektor jasa pendidikan. Negara anggota WTO pada umumnya memilih untuk memberikan lebih banyak hambatan pada moda 3 dan 4 (commercial presence dan presence of natural persons) dibandingkan pada moda 1 dan 2 (cross-border supply dan consumption abroad).
Terlebih lagi, negara anggota telah menetapkan lebih banyak hambatan pada perdagangan sektor pendidikan dasar dan menengah (yang dianggap sebagai tingkat pendidikan yang paling mendasar di banyak negara anggota OECD) dibandingkan dengan pendidikan tinggi dan dewasa serta pelatihan.
Terkait dengan komitmen yang dibuat, sektor jasa pendidikan merupakan salah satu sektor yang memiliki tingkat komitmen yang paling rendah di GATS. Terdapat hambatan perdagangan pada keempat moda penyedia jasa. Dengan meningkatnya ketersediaan atas program studi internasional, isu akreditasi, jaminan kualitas dan
8
sistem pengakuan, telah kembali menekankan pentingnya sektor jasa pendidikan terhadap penyedia dan pengguna.
Indonesia merupakan net importir sektor jasa pendidikan. Lebih dari 35.000 siswa Indonesia belajar di luar negeri pada tahun 2008. Di lain pihak, hanya sekitar 5.500 siswa asing yang belajar di Indonesia setiap tahunnya. Indonesia secara dominan mengimpor jasa pendidikan tinggi melalui Moda 2, kebanyakan berasal dari Australia Amerika Serikat, Jepang dan beberapa negara Eropa. (Brief on education services, AIPEG 2013).
Tabel 1.5 Indonesia’s imports of higher education services, 2005 and 2008: Jumlah Pelajar dan rata-rata Pengeluaran-per pelajar
Pada tahun 2008, nilai impor Indonesia atas jasa pendidikan tinggi untuk 25.044 siswa Indonesia yang belajar di 10 negara OECD mencapai 495 juta Dollar AS. Pada tahun 2008 pula terdapat 10,197 siswa Indonesia yang belajar di negara lainnya dengan nilai import yang tidak tersedia. (Brief on education services, AIPEG 2013)
9
Tabel 1.6 Total pengeluaran tahunan per negara atau total tahunan nilai impor Indonesia (2005 dan 2008)
Sementara itu berdasarkan statistik jasa pada neraca pembayaran Indonesia, pada kuarter ketiga tahun 2011 neraca jasa secara konsisten merupakan penyumbang defisit pada transaksi berjalan yaitu sebesar -2,8 Million USD, dengan nilai ekspor jasa 5,4Million USD dan nilai impor -8.2 Million USD. Dimana hampir semua sektor jasa mencatat nilai defisit kecuali untuk jasa perjalanan (travel), jasa komunikasi dan jasa pemerintah.(Bank Indonesia, 2011)
Dalam hal perhitungan statistik perdagangan jasa menggunakan klasifikasi yang berbeda dengan apa yang digunakan pada perundingan perdagangan jasa (W/120 dan CPC), untuk perhitungannya menggunakan klasifikasi Balance of Payment Manual 5(BPM 5) yang dikeluarkan oleh IMF tahun 1993., dimana sektor jasa pendidikan terdapat pada jasa perjalanan (travel) yaitu other services bersama dengan travel untuk tujuan lainnya termasuk kesehatan. Hal ini menunjukan data yang ada merupakan data perdagangan melalui mode 2 dengan nilai yang kesatuan yang belum dipilah berdasarkan tujuan. Namun pada BPM 6 dimana terdapat pengembangan klasifikasi yang disebut Extended Balance of Payment (EBOPS), dimana pada travel services yaitu di bawah personal services akan terdapat heading education related sebagai sub heading tersendiri.
Dilihat dari data statistik perdagangan jasa per-komponen yang pada kuarter pertama tahun 2014, jasa travel merupakan salah satu sektor jasa yang memiliki nilai surplus dan merupakan penyumbang surplus terbesar. Pada kuarter pertama tahun 2014 surplus neraca jasa travel meningkat dari USD 359 juta menjadi USD 760 juta.
Peningkatan surplus jasa travel tersebut dipengaruhi oleh penurunan pembayaran jasa travel (22,1% qtq) yang melampui penurunan penerimanaan jasa perjalanan (3,4% qtq). (Laporan NPI triwulan I-2014, Bank Indonesia).
10
Grafik 1.1 Neraca Jasa Travel
Untuk jasa perjalanan walaupun menunjukan hasil yang surplus namun hal ini tidak dapat mencerminkan secara utuh nilai keseimbangan ekspor dan impor pada jasa pendidikan, hal ini dikarenakan transaksi yang termasuk dalam komponen ini adalah mencakup semua transaksi penerimaan (exports) dan pembayaran (imports) jasa perjalanan mencakup seluruh pengeluaran (barang dan jasa) dari wisatawan (traveler) di negara yang dikunjunginya selama kurang dari satu tahun. Mencakup wisatawan yang melakukan perjalanan ke LN untuk tujuan bisnis dan personal (termasuk berobat). Serta termasuk didalamnya adalah penumpang transit. Jenis pengeluaran traveler berupa akomodasi, makanan dan minuman, hiburan, transportasi domestik, hadiah, cindera mata, dll dengan batasan satu tahun tidak berlaku bagi wisatawan yang bertujuan belajar dan berobat ke LN (konsep resident/non resident).(Bank Indonesia, 2011)
Berdasarkan data ILO, pada tahun 2010 jasa pendidikan berkontribusi sebesar 10% terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Sementara itu data BKPM menunjukan FDI jasa pendidikan dari keseluruhan presentasi sektor jasa adalah termasuk di dalam kategori other services dengan presentase sebesar 8%.
Dari perspektif penggunaan jasa sebagai konsumsi final, jasa pendidikan bersama dengan jasa kesehatan dan jasa sosial lainnya merupakan jasa yang sebesar 92.86% dikonsumsi sebagai produk final oleh konsumen. (Integrated services policy report, AIPEG 2014)
Sebagai jasa yang terkandung di dalam suatu produk sebagai intermediate inputs dan total inputs (intermediate inputs ditambah primary inputs seperti tenaga kerja dan modal yang dipekerjakan secara langsung oleh suatu perusahaan), jasa pendidikan bersama jasa kesehatan memiliki share sebesar 74.18% dan 31.68%.
(BPS 2009)
Dari penghitungan inter-sectoral linkages, yaitu backward linkage dan forward linkage, total output multiplier jasa pendidikan dan kesehatan adalah 1,72, hal ini mengindikasikan penambahan total output semua sektor per unit menambah permintaan final sektor jasa pendidikan dan kesehatan (backward linkage).
Sementara itu total input multiplier jasa pendidikan dan kesehatan adalah 1,10 yang mengindikasikan penambahan nilai total output semua sektor per unit harga meningkatkan primary inputs jasa pendidikan dan kesehatan.
11 BAB II
SEKTOR JASA DALAM RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
2020-2024
2.1 Sektor Jasa dalam RPJMN 2020 - 2024
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 merupakan tahapan terakhir dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 sehingga menjadi sangat penting. RPJMN 2020-2024 akan mempengaruhi pencapaian target pembangunan dalam RPJPN, dimana pendapatan perkapita Indonesia akan mencapai tingkat kesejahteraan setara dengan negaranegara berpenghasilan menengah atas (upper-middle income country/MIC) yang memiliki kondisi infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, layanan publik, serta kesejahteraan rakyat yang lebih baik.
Sesuai dengan RPJPN 2005-2025, sasaran pembangunan jangka menengah 2020-2024 adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.
Selepas krisis ekonomi 1998, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya pada kisaran 5,3 persen per tahun. Bahkan dalam empat tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stagnan pada kisaran 5 persen. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut, sulit bagi Indonesia untuk dapat naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi atau mengejar ketertinggalan pendapatan per kapita negara peers. Stagnannya pertumbuhan ekonomi disebabkan utamanya oleh tingkat produktivitas yang rendah seiring tidak berjalannya transformasi struktural.
Adapun faktor-faktor yang menjadi penghambat adalah: (1) regulasi yang tumpeng tindih dan birokrasi yang menghambat; (2) sistem perpajakan dan besarnya penerimaan pajak belum cukup memadai; (3) kualitas infrastruktur yang masih rendah terutama konektivitas dan energi; (4) rendahnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja; dan (5) intermediasi sektor keuangan yang rendah dan pasar keuangan yang dangkal.
Peraturan Presiden No.18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 disebutkan bahwa salah satu kunci untuk dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam lima tahun ke depan adalah transformasi struktural. Dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas tersebut, perbaikan transformasi struktural untuk peningkatan kesejahteraan utamanya didorong oleh revitalisasi industri pengolahan dengan tetap mendorong perkembangan sektor lain melalui transformasi pertanian, hilirisasi pertambangan, pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, dan transformasi sektor jasa. Lebih lanjut sektor jasa ini dalam lima tahun ke depan diarahkan untuk dapat meningkatkan ketahanan ekonomi nasional. Hasilnya diharapkan dapat
12
mendorong pertumbuhan yang berkualitas yang ditunjukkan dengan keberlanjutan daya dukung sumber daya ekonomi yang dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan secara adil dan merata.
Saat ini dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0. Revolusi tersebut memberikan tantangan dan peluang bagi perkembangan perekonomian ke depan. Di satu sisi, digitalisasi, otomatisasi, dan penggunaan kecerdasan buatan dalam aktivitas ekonomi akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam produksi modern, serta memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi konsumen. Teknologi digital juga membantu proses pembangunan di berbagai bidang di antaranya Pendidikan melalui distance learning, pemerintahan melalui e-government, inklusi keuangan melalui fin- tech, dan pengembangan UMKM seiring berkembangnya e-commerce. Di sisi lain, perkembangan revolusi industri 4.0 berpotensi menyebabkan hilangnya pekerjaan di dunia. Studi dari Mckinsey memperkirakan 60 persen jabatan pekerjaan di dunia akan tergantikan oleh otomatisasi. Di Indonesia diperkirakan 51,8 persen potensi pekerjaan yang akan hilang. Di samping itu, tumbuhnya berbagai aktivitas bisnis dan jual beli berbasis online belum dibarengi dengan upaya pengoptimalan penerimaan negara serta pengawasan kepatuhan pajak atas transaksi-transaksi tersebut. Hal ini penting mengingat transaksi digital bersifat lintas negara.
Penerapan kemajuan teknologi, terutama industri 4.0 dalam lima tahun mendatang dilaksanakan secara bertahap di lima subsektor yaitu makanan-minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia termasuk farmasi.
Penerapannya juga diperluas untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan daya saing di sektor pertanian, perikanan dan kemaritiman, kehutanan, energi, pariwisata dan ekonomi kreatif.
2.2 Sektor Pendidikan dalam RPJMN
Berdasarkan pembagian sektor jasa prioritas dalam RPJMN, sektor jasa pendidikan memang tidak termasuk dalam sektor jasa prioritas. Namun, dapat dipahami bersama bahwa sektor jasa pendidikan merupakan salah satu sektor jasa pendukung infrastruktur, terutama berperan penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia yang mempunyai peranan besar dalam kegiatan ekonomi. Di dalam RPJMN 2020 - 2024 disebutkan bahwa sektor pendidikan memiliki peran penting dalam beberapa tujuan nasional seperti penguatan perlindungan sosial, peningkatan pelayanan Kesehatan, peningkatan pemerataan layanan pendidikan, peningkatan kualitas anak, peermpuan dan pemuda, pengentasan kemiskinan, serta peningkatan produktivitas dan daya saing.
Di samping itu, sumber daya manusia yang berkualitas dapat dilihat dari meningkatnya akses pendidikan yang berkualitas pada semua jenjang pendidikan dengan memberikan perhatian lebih pada penduduk miskin dan daerah 3T;
meningkatnya kompetensi siswa Indonesia dalam Bidang Matematika, Sains dan Literasi; meningkatnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan, terutama kepada para ibu, anak, remaja dan lansia; meningkatnya pelayanan gizi masyarakat yang berkualitas, meningkatnya efektivitas pencegahan dan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan, serta berkembangnya jaminan kesehatan.
13
Kajian atas kondisi sektor jasa pendidikan dalam lima tahun terakhir dilakukan dalam rangka penyusunan roadmap untuk mengetahui daya saing sektor jasa yang dikategorikan menjadi: (a) sektor jasa prioritas pembangunan yang potensi dan prioritas ekspor; (b) sektor jasa prioritas pembangunan yang belum berpotensi ekspor;
(c) sektor jasa prioritas liberalisasi guna memenuhi kebutuhan jasa domestik dalam rangka pembangunan yang belum mampu dipasok oleh penyedia jasa domestik, dan;
(d) sektor jasa sensitif yang secara alami harus diproteksi. Kategorisasi sektor jasa tersebut dilakukan berdasarkan analisis statistic jasa, analisis data input-output, analisis global value chain, serta melalui temuan yang didapat dari pelaksanaan pertemuan para ahli.
Tabel 2.1 Pemetaan Posisi Daya Saing Sektor Jasa
Posisi Daya Saing Sektor
Sektor jasa prioritas pembangunan yang potensi dan prioritas ekspor
Jasa konstruksi, jasa pariwisata, jasa transportasi, jasa komunikasi
Sektor jasa prioritas pembangunan yang belum berpotensi ekspor
Jasa distribusi, jasa bisnis
Sektor jasa prioritas liberalisasi guna memenuhi kebutuhan jasa domestik dalam rangka pembangunan yang belum mampu dipasok oleh penyedia jasa domestik
Jasa komunikasi, jasa lingkungan
Sektor jasa sensitif yang secara alami harus diproteksi
Jasa pendidikan, sektor jasa rekreasi, olah raga dan budaya
Merujuk pada hasil kajian IO dan analisis GVC, sektor jasa yang tidak termasuk dalam sektor jasa prioritas adalah jasa pendidikan, jasa kesehatan, jasa rekreasi, olah raga dan budaya, serta jasa lingkungan.
Adapun telah berhasil disusun arah kebijakan sektor jasa pendidikan dalam suatu rencana aksi pengembangan sektor jasa pendidikan.
Tabel 2.2 Rencana Pengembangan Sektor Jasa Pendidikan
Arah Kebijakan
Nawacita Kondisi Terkini Sasaran Rencana Aksi
Peningkatan kualitas dan kuantitas ekspor
Kurangnya produktivitas riset Perguruan
Tinggi di
Indonesia
Peningkatan jumlah publikasi internasional pada lembaga publikasi yang crediblel terkait
riset dan
pengemba-ngan
Mengurangi beban mengajar dosen dan menambah jumlah penelitian dengan merevisi peraturan mentri no 49 tahun 2014 (kemenristek sedang
14 Arah Kebijakan
Nawacita Kondisi Terkini Sasaran Rencana Aksi dalam tahap evaluasi peraturan menteri)
Perencanaan program anggaran dan evaluasi Peningkatan jumlah publikasi Internasional Belum adanya
peraturan standar akreditasi
tingkat ASEAN di Indonesia
Peningkatan jumlah program studi di
kampus-kampus di Indonesia yang
terakreditasi secara internasional
Melakukan kajian program studi yang potensial untuk memiiki akreditasi internasional
Revisi Peraturan Menteri No 87 Tahun
2014 Tentang
Akreditasi Program Studi Perguruan Tinggi terkait penambahan pasal yang mengatur akreditasi AUN
Pengesahan Revisi Peraturan Menteri No 87 Tahun 2014
Pelaksanaan akreditasi AUN
Kurangnya Kualitas
perguruan tinggi di luar jawa
Pemerataan kualitas
perguruan tinggi dengan system sister university
Melakukan revisi Peraturan Menteri No 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi terkait penambahan pasal yang mengatur system sister university di Indonesia
Pengesahan Revisi Peraturan Menteri No 49 tahun 2014
Pelaksanaan sister university di Indonesia Masih sedikitnya
institusi dan
Pemerataan kualitas
Pemerataan kualitas perguruan tinggi
15 Arah Kebijakan
Nawacita Kondisi Terkini Sasaran Rencana Aksi program studi
yang
berakreditasi unggul
perguruan tinggi antar daerah melalui
percepatan akreditasi
institusi dan program studi
dengan peningkatan efektivitas proses akreditasi institusi perguruan tinggi
Pemerataan kualitas perguruan tinggi dengan peningkatan efektivitas proses akreditasi program studi perguruan tinggi
Efisiensi dan Produktifitas
Ekonomi
Kualitas Sumber Daya Manusia dalam jasa pendidikan yang masih rendah
Meningkatnya kualitas, dan kuantitas dosen
Peningkatan kualitas dosen melalui program S3 (sesuai dengan renstra kemenristekdikti 2015-2019)
5.2 Peningkatan kualitas dosen melalui program sertifikasi (sesuai dengan renstra kemenristekdikti 2015- 2019)
Peningkatan koordinasi dan sinergi di antara Kementrian/Lembaga
Kurangnya sinergitas pemerintah pusat dan daerah
Peningkatan kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah dalam rangka
kesesuaian antara program studi/kejuruan universitas daerah dengan potensi daerah
Melakukan kajian mengenai penyusunan peraturan tentang pembentukan dan pengembangan
program studi maupun jurusan di universitas daerah berdasarkan potensi daerah masing- masing
Melakukan penyusunan dan
pengesahanPeraturan Menteri tentang pembentukan dan pengembangan
program studi maupun jurusan di universitas daerah berdasarkan
16 Arah Kebijakan
Nawacita Kondisi Terkini Sasaran Rencana Aksi potensi daerah masing- masing
Menyelenggarakan sosialisasi dan implementasi
Melaksanakan monitoring dan evaluasi Peningkatan kualitas
dan kuantitas ekspor
Kurangnya pengembangan prodi-prodi yang inovatif sesuai dengan
kebutuhan pembangunan dan industri
Pengembangan jurusan-jurusan inovatif sesuai dengan
kebutuhan pembangunan, industri dan dunia kerja
Melakukan kajian potensi program studi/kejuruan, dan desain
pengembanganjurusan- jurusan inovatif sesuai dengan kebutuhan pembangunan, industri dan dunia kerja
Menyelenggarakan sosialisasi hasil kajian potensi program studi/kejuruan, dan desain pengembangan jurusan-jurusan inovatif sesuai dengan kebutuhan
pembangunan, industri dan dunia kerja
Menerapkan hasil kajian
Sektor jasa pendidikan memliki peran krusial dalam penciptaan karakter, kemampuan berpikir dan keterampilan sumber daya manusia. Oleh karenanya, penting untuk mengetahui bagaimana peran pembangunan sektor jasa pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kedua hal ini dapat dikatakan memiliki kaitan yang kompleks, terutama mempertimbangkan keanekagaraman masyarakat Indonesia dalam hal ekonomi, kebiasaan, budaya, cara pandang politik dan lain-lain, serta kapabilitas Pemerintah dan lembaga penyedia jasa pendidikan dalam menyediakan jasa yang tepat dan relevan bagi masyarakat Indonesia.
Dari gambar di atas dapat dipahami bahwa target pertumbuhan ekonomi, termasuk yang berkenaan dengan peningkatan tenaga kerja dan pembukaan lapangan usaha serta peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pemberian sertifikasi.
Begitu pula kaitannya dengan fase pada “Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”, di mana pilar I dari MEA berbicara mengenai arus bebas barang, arus bebas jasa,
17
investasi, modal, tenaga kerja terampil, sektor prioritas terintegrasi, makanan, pertanian dan kehutanan. Sementara kunci untuk mendapatkan manfaat maksimal dari MEA adalah dengan memastikan sumber daya manusia yang berdaya saing.
Untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam pencapaian target, maka perlu melihat kondisi umum saat ini dalam sektor pendidikan, yaitu metode pembelajaran yang masih satu arah, sistem pendidik belum berorientasi pada pembangunan karakter kebangsaan yang kuat, serta komposisi tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh tamatan SD (30,5%), dan produktivitas tenaga kerja Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan tenaga kerja Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.
Kemudian, langkah ke depan perlu ditentukan berdasarkan kebutuhan internal dan eksternal, di mana dari sisi internal perlu pembaharuan metode pembelajaran dan kurikulum yang sejalan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), perbaikan sistem pendidikan dan pelatihan, peningkatan koordinasi dalam pemberian sertifikasi kompetensi dan upaya untuk memberikan sertifikasi tenaga kerja yang berstandar internasional.
Di samping itu secara eksternal perlu dilakukan optimalisasi pemanfaatan komitmen keterbukaan akses pasar tenaga kerja profesional, baik melalui kerangka ASEAN Framework Agreement Services (AFAS) maupun perjanjian lain yang dimiliki Indonesia.
18 BAB III
KOMITMEN UNILATERAL DAN KOMITMEN PERDAGANGAN INTERNASIONAL SERTA OFFER SEKTOR JASA PENDIDIKAN
3.1 Peraturan Domestik Mengenai Jasa Pendidikan Tinggi 3.1.1 Daftar Prioritas Investasi
Daftar Prioritas Investasi (DPI) merupakan produk hukum yang menciptakan kepastian hukum dan juga merupakan salah satu paket untuk menarik investor dalam rangka penanaman modal di Indonesia. DPI merupakan implementasi dari prinsip transparansi, agar investor dapat dengan mudah mengetahui bidang-bidang usaha yang tertutup ataupun yang terbuka dengan persyaratan yang dapat dimasuki oleh penanam modal asing.
Bidang usaha yang ditetapkan oleh DPI sebagai bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha terbuka dengan persyaratan, disusun berdasarkan Klasifikasi Lapangan Usaha Baku Indonesia (KLBI) yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik.
Adapun pengaturan-pengaturan dalam Perpres 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal adalah sebagai berikut:
1. Batasan kepemilikan modal penanam modal asing dalam perusahaan penanam modal yang menerima penggabungan adalah sebagaimana tercantum dalam surat persetujuan perusahaan tersebut.
2. Apabila perusahaan melakukan perluasan usaha dengan merger, akuisisi atau konsolidasi maka ketentuan yang berlaku adalah ketentuan pada DPI.
3. Pembatasan dalam DPI tidak berlaku bagi penanaman modal yang yang telah disetujui sebelum DPI.
4. Terdapat Rights Issue dengan hak untuk mendahului bagi penanam modal asing.
5. Apabila penambahan modal melebihi batas maksimum yang tercantum dalam surat persetujuan maka dalam jangka waktu 2 tahun, harus dilakukan penyesuaian dengan cara penjualan saham.
Secara khusus bidang usaha sektor Pendidikan tidak terdapat di dalam DPI no.
10 tahun 2021.
3.1.2 Peraturan Sektoral Jasa Pendidikan Tinggi
Peraturan domestik erat kaitannya dengan kesepakatan dalam perjanjian internasional. Dalam hal pembukaan pasar perdagangan jasa pendidikan, hal yang perlu untuk dijadikan pertimbangan/referensi adalah keberadaan peraturan domestik sektor jasa pendidikan. Berikut ini merupakan peraturan di Indonesia yang terkait dengan perdagangan jasa pendidikan.
19
Tabel 3.2 Peraturan Domestik terkait Sektor Pendidikan
Jenis Instrumen Hukum
Nama Singkat Nama Lengkap
Undang-undang UU No. 20/2003 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-undang UU No. 28/2004 Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 28 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan
Undang-undang UU No. 14/2005 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen
Undang-undang UU No. 12/2012 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi
Peraturan Pemerintah PP No. 17/2010 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
Peraturan Pemerintah PP No. 19/2005 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Pemerintah PP No. 63/2008 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Tentang Yayasan
Peraturan Presiden Perpres No.
10/2021
Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 Tentang Bidang Usaha Penanaman Modal
Peraturan Presiden Perpres No.8/2012
Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2007 Tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
Keputusan Menteri Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.
295/1999
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 295/2009
20 Jenis Instrumen
Hukum
Nama Singkat Nama Lengkap
Keputusan Menteri KEPMEN No.
261/U/1999
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 261/U/1999 tentang Penyelenggaraan Kursus
Keputusan Menteri KEPMEN No.
178/U/2001
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 178/U/2001 Tentang Gelar dan Lulusan Perguruan Tinggi
Keputusan Menteri KEPMEN No.
KEP.223/MEN/
2003
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Nomor
KEP.223/MEN/2003 Tentang Jabatan- Jabatan di Lembaga Pendidikan yang Dikecualikan dari Kewajiban Membayar Kompensasi
Keputusan Direktur Jenderal
SKDIRJEN No.
61/DIKTI/KEP/
2000
Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 61/DIKTI/KEP/2000 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Perguruan Tinggi di Indonesia Dengan Perguruan Tinggi/Lembaga Lain di Luar Negeri Keputusan Direktur
Jenderal
SKDIRJEN No.
1840/D/T/2001
Ketentuan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 1840/D/T/2001 Mengenai Penerimaan Mahasiswa Asing di PTN
3.2 Komitmen dan Offer Sektor Jasa Pendidikan Tinggi
Indonesia selama ini telah aktif dalam beberapa fora perundingan perdagangan. Terdapat empat fora dimana Indonesia telah memberikan komitmen dalam sektor jasa pendidikan, yaitu ASEAN Framework Agreement on Services(AFAS), ASEAN-Korea Free Trade Area(AKFTA), ASEAN–Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA), dan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA). Sementara itu, Indonesia baru memberikan offer jasa pendidikan pada conditional initial offer Indonesia di putaran Doha (Doha Development Agenda)- WTO dan initial offer di perundingan bidang jasa dalam kerangka Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
3.2.1 Offer Jasa Pendidikan Tinggi di WTO
Dalam kerangka perundingan jasa di WTO, sektor jasa pendidikan tinggi menjadi salah satu dari offer Indonesia di sektor jasa pendidikan pada Conditional Initial Offer di Putaran Doha. Offer ini merupakan offer baru dimana pada putaran Uruguay, Indonesia sama sekali belum memberikan komitmen untuk Sektor Jasa Pendidikan.
21
Tabel 3.3 Conditional Initial Offer Jasa Pendidikan Tinggi di WTO
No. Sector / subsector Limitations on Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment I. HORIZONTAL
COMMITMENTSALL SECTORS INCLUDED IN THIS SCHEDULE
3) Commercial Presence of the foreign service provider(s) may be in the form of joint venture and/or representative office, unless mentioned otherwise.
Joint venture should meet the following requirements:
(i) should be in the form of Limited Liability
Enterprise (Perseroan Terbatas/PT), (ii) not more than
49% of the capital share of the Limited Liability Enterprise (Perseroan Terbatas/PT), may be
ownedby foreign partner(s)
The Income Tax Law provides that non-resident taxpayers will be subject to
withholding tax of 20% if they derive the following income from Indonesian source:
(a) interest (b) royalties (c) dividend (d) fee from
service performed in Indonesia Land Acquisition
Undang-Undang PokokAgraria (Land Law) No. 5 of 1960 stipulates that no foreigners (juridical and natural persons) are allowed to own land.
However, a joint venture
enterprise could hold the right for land use (Hak Guna Usaha) and building rights (Hak Guna Bangunan), and they may
rent/lease land and property.
Any juridical and natural persons should meet professional
22
No. Sector / subsector Limitations on Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment
4) Subject to
Indonesian Labour and Immigration Laws and
Regulations, only directors, managers and technical
experts/advisors, unless mentioned otherwise, are allowed with a maximum stay of two years subject to one year extension.
Manager and technical experts (intra corporate transfer) are allowed based on an economic needs test.
The entry and temporary stay of business visitor(s) is (are) permitted for a period of 60 days.
qualification requirements.
4) Expatriate Charges Any foreign natural persons supplying services are subject to
charges levied by Governments Labour Laws and Regulations.
Any expatriate employed by a joint-venture enterprise, representatives office, and/or other types of juridical person and/or an individual
services provider must hold a valid working permit issued by the Ministry of Manpowerand Transmigration.
General conditions on education services
Commercial presence of the foreign service provider is permitted only through an education institution which is registered in Indonesia and must meet the following conditions :
1. Mutual recognition arrangement between relevant institutions on credits, programs, and certifications is required.
2. Foreign education institution providing services must establish partnership with local partner.
Foreign language instructors must be native and Indonesian speakers.
3. Foreign education institution must be listed in the Ministry of Education’s List of Accredited Foreign Education and its local partner must be accredited.
4. Foreign education institution in cooperation with local partner may open education institution in the cities of Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, and Medan.
5. Temporary entry for natural persons engaged in education activities in is subject to approval by the Ministry of National Education. Approval is granted on case-by-case basis.
23
No. Sector / subsector Limitations on Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment 2. Higher education
services (CPC 923) Post secondary
technical and vocational education services (Polytechnique Machine and Electrical) (CPC 92310)
1) None 2) None 3) Unbound 4) Unbound
1) None 2) None 3) Unbound 4) Unbound
3.2.2 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) Package 10
Dalam kerangka ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) Paket ke 9, sektor jasa pendidikan tinggi juga menjadi salah satu dari offer Indonesia di sektor jasa pendidikan. Dalam pemenuhan threshold AFAS paket 10, jasa pendidikan merupakan non PIS (Priority Integration Sector), dengan target pemenuhan threshold untuk mode 3 adalah 51%.
Tabel 3.4 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di AFAS Paket 10
No. Sector / subsector Limitations on Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment I. HORIZONTAL
COMMITMENTSALL SECTORS INCLUDED IN THISSCHEDULE
3) Commercial Presence of the foreign service provider(s) may be in the form of joint venture and/or representative office, unless mentioned otherwise.
Joint venture should meet the following requirements:
(i) should be in the form of Limited Liability Enterprise (Perseroan
Terbatas/PT),
3) The Income Tax Law provides that non-resident taxpayers will be subject to
withholding tax of 20% if they derive the following income from
Indonesian source:
(a) interest (b) royalties (c) dividend
(d) fee from service performed in Indonesia
The tax rate can be changed due to tax treaty.
24 No. Sector / subsector Limitations on
Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment (ii) not more than 49%
of the capital share of the Limited Liability Enterprise (Perseroan
Terbatas/PT), may be owned by foreign partner(s).
4) Subject to
Indonesian Labour and Immigration Laws and
Regulations, only directors, managers and technical
experts/advisors, unless mentioned otherwise, are allowed to stay for two years and could be extended for a maximum two times subject to two years extension each time. Manager and technical experts (intra corporate
Land Acquisition Undang-Undang Pokok Agraria (Land Law) No. 5 of 1960 stipulates that no foreigners
(juridical and natural persons) are allowed to own land. However, a joint venture enterprise could hold the right for land use (Hak Guna Usaha) and building rights (Hak Guna Bangunan), and they may rent/lease land and property.
Any juridical and natural persons should meet professional qualification requirements.
4) Expatriate Charges Any foreign natural persons supplying services are subject to charges levied by Governments Labour Laws and Regulations.
Any expatriate employed by a joint- venture enterprise, representatives office, and/or other types of juridical person and/or an individual services provider must hold a valid working
25 No. Sector / subsector Limitations on
Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment transfer) are
allowed based on an economic needs test.
The entry and temporary stay of business visitor(s) is (are) permitted for a period of 60 days and could be extended maximum for 120 days.
permit issued by the Ministry of
Manpower and Transmigration.
2. Higher Education Services (CPC 923) Post-secondary
technical and vocational education services (Polytechnique Machine and Electrical)
(CPC 92310)
1) None 2) None
3) Joint venture with foreign equity participation up to 51%
4) As indicated in the Horizontal Section.
1) None 2) None
3) (a) Subject to Qualification and Licensing
requirement and procedure including registration.
(b)Foreign Education Institutions are required to colaborate with local education in Jakarta, Surabaya, Bandung,
Yogyakarta and Medan
4) Subject to
Qualification and Licensing
requirement and procedure including registration
3.2.3 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di ASEAN-Korea Free Trade Area (AKFTA)
Komitmen Indonesia pada sektor jasa pendidikan tinggi dalam kerangka AKFTA adalah sebagai berikut:
Tabel 3.5 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di AKFTA
26 No. Sector / subsector Limitations on
Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment I. HORIZONTAL
COMMITMENTSALL SECTORS INCLUDED IN THISSCHEDULE
3) Commercial Presence of the foreign service provider(s) may be in the form of joint venture and/or representative office, unless mentioned otherwise.
Joint venture should meet the following requirements:
(i) should be in the form of Limited Liability Enterprise (Perseroan
Terbatas/PT), (ii) not more than 49%
of the capital share of the Limited Liability Enterprise (Perseroan
Terbatas/PT), may be owned by foreign partner(s).
3) The Income Tax Law provides that non-resident taxpayers will be subject to
withholding tax of 20% if they derive the following income from
Indonesian source:
(a) interest (b) royalties (c) dividend (d) fee from service performed in Indonesia The tax rate can be changed due to tax treaty.
Land Acquisition Undang-Undang Pokok Agraria (Land Law) No. 5 of 1960 stipulates that no foreigners
(juridical and natural persons) are allowed to own land. However, a joint venture enterprise could hold the right for land use (Hak Guna Usaha) and building rights (Hak Guna Bangunan), and they may rent/lease land and property.
Any juridical and natural persons should meet professional
27 No. Sector / subsector Limitations on
Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment
4) Subject to
Indonesian Labour and Immigration Laws and
Regulations, only directors, managers and technical
experts/advisors, unless mentioned otherwise, are allowed to stay for two years and could be extended for a maximum two times subject to two years extension each time.
Manager and technical experts (intra corporate transfer) are allowed based on an economic needs test.
The entry and temporary stay of business visitor(s) is (are) permitted for a period of 60 days and could be extended maximum for 120 days.
qualification requirements.
4) Expatriate Charges Any foreign natural persons supplying services are subject to charges levied by
Governments Labour Laws and Regulations.
Any expatriate employed by a joint-venture enterprise, representatives office, and/or other types of juridical person and/or an individual services provider must hold a valid working permit issued by the Ministry of Manpower and Transmigration.
General conditions on education services
Commercial presence of the foreign service provider is permitted only through an education institution which is registered in Indonesia and must meet the following conditions :
1. Mutual recognition arrangement between relevant institutions on credits, programs, and certifications is required.
2. Foreign education institution providing services must establish partnership with local partner.
Foreign language instructors must be native and Indonesian speakers.
3. Foreign education institution must be listed in the Ministry of Education’s List of Accredited Foreign Education and its local partner must be accredited.
4. Foreign education institution in cooperation with local partner may open education institution in the cities of Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, and Medan.
28 No. Sector / subsector Limitations on
Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment 5. Temporary entry for natural persons engaged in education activities in is subject to approval by
the Ministry of National Education. Approval is granted on case-by-case basis.
2 Higher Education Services (CPC 923) Post-secondary
technical and vocational education services (Polytechnique Machine and Electrical)
(CPC 92310)
1) None 2) None
3) As indicated in the Horizontal Section and General Conditions
4) Unbound except as indicated in the Horizontal Section and General Conditions
1) None 2) None 3) Unbound
4) Unbound
3.2.4 Komitmen Jasa Pendidikan Tinggi Indonesia di Agreement Establishing the ASEAN–Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA)
Komitmen Indonesia pada sektor jasa pendidikan tinggi dalam kerangka AANZFTA dapat dikatakan memiliki level komitmen yang sama dengan offer Indonesia di WTO-DDA, baik dari segi cakupan maupun kedalaman komitmen di tiap mode of supply.
Tabel 3.6 Komitmen Jasa Pendidikan Indonesia di AANZFTA
No. Sector / subsector Limitations on Market access
Limitations on National treatment
Additional Commitment I. HORIZONTAL
COMMITMENTS
ALL SECTORS INCLUDED IN THISSCHEDULE
3) Commercial Presence of the foreign service provider(s) may be in the form of joint venture and/or representative office, unless mentioned otherwise.
Joint venture should meet the following
requirements:
a) Should be in the form of Limited Liability
3) Land Acquisition Undang-Undang Pokok Agraria (Land Law) No. 5 of 1960 stipulates that no foreigners (juridical and natural persons) are allowed to own land. However, a joint venture enterprise could hold the right for land use (Hak Guna Usaha) and building rights (Hak Guna