Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 1 of 61
GAMBARAN TUGAS TATA LETAK PABRIK DAN PEMINDAHAN BAHAN
1.1 PENDAHULUAN
Salah satu penghematan keuangan yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan meninumkan pemindahan material (OMH) d a n m a k s i m um k a n p e m ak a i a n tempat yang tersedia Kadang-kadang 0rang tidak memperhatikan hal ini. Karena kelihatannya tidak begitu berpengaruh terhadap jalannya perusahaan. Pengaruh tata letak pabrik akan terasa sekali pada perusahaan yang kapasitas produksinya besar (Mass Production), karena jarak angkut 1 meter saja dapat mengakibatkan pengeluaran yang cukup berarti.
Agar diperoleh suatu tata letak pabrik yang baik, maka diperlukan langkah-langkah penyusunan yang dihitung berdasarkan tujuan yang hendak dicapai pemilik modal dan pengelolah (misalnya kapasitas produksinya) dan jenis produk yang akan diproduksi. Oleh karena itu diperlukan data-data yang dapat menunjang penyusunan tata letak pabrik tersebut.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka program studi Teknik Sekolah Tinggi Teknik Ibnu Sina Batam mengadakan tugas Prencanaan Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan, sebagai aplikasi dari teori (mata kuliah) Perencanaan Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Adapun langkah-langkah perhitungan yang harus dilakukan agar diperoleh Tata Letak Pabrik yang diinginkan, yaitu dibagi 8 tugas. Tugas-tugas tersebut sebagai berikut:
1. Tugas I (1 minggu), terdiri dari:
a. Operation Process Chart (OPC)/Peta Proses Operasi b. Assebly Chart / Peta Perakitan
2. Tugas II (1 minggu), terdiri dari:
a. Routing Sheet (Lembar Rute)
b. Multi Product Process Chart (MPPC) / Peta Proses Produk Mesin 3. Tugas III (1 minggu) terdiri dari:
a. Luas Lantai Bahan Baku dan Bahan Pembantu (Receving) terdiri dari:
- Model Tumpukan
- Model Rak (Bahan Pembantu) b. Luas Lantai Produk Jadi (Shipping) c. Luas Lantai Mesin
d. Luas Lantai Maintenance 4. Tugas IV (1 minggu) terdiri dari:
a. Pemilihan Badan Hukum b. Penyusunan Organisasi c. Luas Lantai Kantor
d. Activity Relationship Chart (ARC) e. Worksheet for ARC
f. Activity Block Diagram (ARD Kantor)
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 2 of 61 5. Tugas V (1 minggu), terdiri dari:
a. Ongkos Pemindahan Material (OMH) b. From to Chart (F to C)
c. In Flow – Out Flow d. Tabel Skala Prioritas
e. Area Relationship Diagram (ARD) 6. Tugas VI (1 minggu), terdiri dari:
a. Revisi Ongkos Pemindahan Material (OMH) b. Revisi From to Chart (F to C)
c. Revisi In Flow – Out Flow d. Revisi Tabel Skala Prioritas
e. Revisi Area Relationship Diagram (ARD) 7. Tugas VII (1 minggu), terdiri dari:
a. Area Alocation Diagram 8. Tugas VIII (2 minggu), terdiri dari:
a. Template (Two Dimensional Iconic Model) b. Perhitungan Investasi dan Harga Jual 9. Persentase Tugas (1 minggu)
1.2 TUJUAN INSTRUKSIONAL 1. Tujuan Instruksional Umum
Tujuan Instrusional Umum dari tugas Tata Letak Pabrik ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui:
a. Pendekatan umum penyusunan Tata Letak Pabrik b. Langkah-langkah Penyusunan Tatat Letak Pabrik
c. Total Luas dan Tata Letak Pabrik yang sesuai dengan hasil Perhitungan
2. Tujuan Instruksional Khusus
a. Penggunaan Peta Proses Operasi (OPC), Assembly Chart, Routing Sheet, Multi Product Process Chart (MPPC).
b. Perhitungan Luas Lantai sesuai kebutuhan yang telah dihitung pada routing sheet c. Cara penentuan Luas Lantai, berdasarkan aturan-aturan penumpukan dan
pemakaian
d. Keuntungan dan kerugian badan hokum dan struktur organisasi, job description masing-masing personil serta menentukan luas lantai perkantoran.
e. Cara Perhitungan ongkos pemindahan material atau OMH dan From to chart serta penggunaannya
f. Menentukan Activity Relationship Diagram (ARD) yang disusun berdasarkan table
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 3 of 61 skala prioritas (TSP), dimana TSP tersebut disusun berdasarkan perhitungan In Flow-Out Flow
g. Penggunaan OMH, From to Chart dan ARD serta merevisinya serta memperluas hasil analisa tersebut bagi penyusunan Tata Letak Pabrik
h. Cara menganalisa hubungan aktivitas antar bagian dalam perusahaan, s erta kegunaan hasil analisa tersebut bagi penyusunan Tata Letak Pabrik
i. Berdasarkan ARC dan ARD, dapat diketahui cara penyusunan Tata Letak Pabrik Kasar dengan ukuran sebenarnya.
j. Tahap-tahap pengerjaan Tata Letak Pabrik, sehingga dapat diperoleh suat u Template
k. Rencana Investasi dari tata Letak Pabrik dan Harga Jual dari Produk yang dihasilkan.
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 4 of 61
TUGAS I
2.1 PETA PROSES OPERASI (OPC)
Peta proses operasi adalah merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urut-urutan operasi dan pemeriksaan. Sejak awal sampai menjadi produk jadi utuh maupun s ebagai komponen, dan juga memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk analisa lebih lanjut seperti waktu yang dihabiskan, material yang digunakan, dan tempat atau alat atau mesin yang dipakai.
2.1.1 Manfaat Peta Proses Operasi (OPC)
- Biasanya mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya.
- Bisa diperkirakan kebutuhan akan bahan baku (dengan perhitungan efesiensi ditiap operasi / pemeriksaan)
- Sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik
- Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yg sedang dipakai.
- Sebagai alat untuk latihan kerja
2.1.2 Informasi Yang Diperlukan Untuk Menyusun OPC
Informasi yang diperlukan untuk menyusun OPC diantaranya melalui tahapan- tahapan sebagai berikut:
- Menyusun skala dari beberapa kerja yang akan dibuat atau gambar teknis yang dibuat desainer.
- Menguraikannya menjadi elemen-elemen perpasangan.
- Analisis tahapan-tahapan/langkah-langkah pengerjaan - Bahan baku yang digunakan berikut dimensinya - Peralatan/mesin yang digunakan
- Waktu penyelesaian masing-masing aktivitas - Persentase scrap yang terbuang
- Analisis ulang - Ringlasan aktivitas
2.1.3 Simbol-simbol Aktivitas dalam Pembuatan OPC
Seperti telah diuraikan sebelumnya, symbol-simbol aktivitas yang digunakan dalam OPC meliputi:
OPERASI
Suatu kegiatan operasi terjadi apabila benda kerja mengalami perubahan sifat baik
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 5 of 61 fisik maupun kimiawi, mengambil informasi maupun memberikan informasi pd su/
keadaan juga termasuk operasi.
PEMERIKSAAN
Suatu kegiatan pemeriksaan terjadi apabila benda kerja atau peralatan mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas Lambang ini digunakan jika kita melakukan pemeriksaan terhadap suatu obyek atau membandingkan obyek tertentu dgn suatu standar.
TRANSPORTASI
Suatu kegiatan transportasi terjadi apabila benda kerja, pekerjaan atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yg bukan merupakan bagian dari suatu operasi.
MENUNGGU
Proses menunggu terjadi apabila benda kerja, pekerja atau perlengkapan tdk mengalami kegiatan apa-apa selain menunggu (biasanya sebentar)
PENYIMPANAN
Proses penyimpanan terjadi apabila benda kerja disimpan untuk jangka waktu yg cukup lama. Jika benda kerja tersebut akan diambil kembali, biasanya memerlukan su/ prosedur perizinan tertentu.
Lambang ini digunakan untuk menyatakan suatu obyek yg mengalami penyimpanan permanen, yaitu ditahan atau dilindungi terhadap pengeluaran tanpa izin tertentu. Prosedur perizinan dan lamanya waktu adalah dua hal yg membedakan antara kegiatan menunggu dan penyimpanan.
AKTIVITAS GABUNGAN
Kegiatan ini terjadi apabila antara aktivitas operasi dan pemeriksaan dilakukan bersamaan atau dilakukan pd su/ tempat kerja.
2.1.4 Prinsip-Prinsip Pembuatan OPC
- Pertama-tama pd baris paling atas dinyakan kepala “Peta Proses Operasi” y ang
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 6 of 61 diikuti oleh identifikasi lain seperti; nama obyek, nama pembuat peta, t anggal dipetakan, cara lama atau cara sekarang, nomor peta dan nomor gambar.
- Material yang akan diproses diletakkan diatas garis horisontal, yang menunjukkan bahwa material tersebut masuk kedalam proses.
- Lambang-lambang ditempatkan dlm arah vertikal yang menunjukkan terjadinya perubahan proses.
- Penomoran terhadap suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan sesuai dgn urutan operasi yg dibutuhkan untuk pembuatan produk tersebut atau sesuai dgn proses yang terjadi.
- Penomoran terhadap kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri dan prinsipnya sama dgn penomoran untuk kegiatan operasi.
Secara skematis, prinsip pembuatan OPC ini dapat digambarkan seperti pada halaman berikut:
PRINSIP PEMBUATAN PETA PROSES OPERASI
Keterangan:
A- C : Nomor komponen
E : Waktu untuk menyelesaikan aktivitas yang bersangkutan F : % scrap yang terbuang
G : Jenis Pengerjaan yang dilakukan H : Mesin/peralatan yang digunakan
O-N : Operation Number = nomor urut aktivitas pemeriksaan I – N : Inspection Number = nomor urut aktivitas pemeriksaan X : Jumlah komponen/assembling
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 7 of 61 2. 2 ASSEMBLY CHART
Assembly Chart atau peta rakitan adalah gambaran grafis dari urutan-urutan aliran komponen dan rakitan bagian kedalam rakitan suatu produk.
1. Komponen-komponen yang membentuk produk dapat diketahui dengan mudah 2. Bagaimana mengetahui komponen itu bergabung bersama
3. Komponen yang menjadi suatu rakitan bagian
4. Keterkaitan antara kompoen dengan rakitan tahapan 5. Gambaran menyelurih dari proses rakitan
6. Suatu gambaran awal dari pola aliran bahan
Sebagai dasar Assembly Chart lihat Peta Proses Operasi (OPC) contoh OPC dan Assembling Chart
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 8 of 61
TUGAS II
3.1 Routing Sheet
Langkah selanjutnya dalam merencanakan tata letak pabrik fasilitas dan pemindahan bahan adalah pembuatan lembar rute (routing sheet)
3.1.1 Informasi yang terkandung dalam Routing Sheet ini berisi informasi tentang:
- Nomor, nama dan jumlah part - Nomor dan urutan-urutan aktivitas - Nama dan diskripsi aktivitas
- Mesin dan peralatan yang digunakan - Waktu dan jumlah produksi
3.1.2 Kegunaan Routing Sheet
Adapun kegunaan Routing sheet ini diantaranya adalah:
- Untuk menghitung jumlah mesin yang dibutuhkan
- Untuk menghitung jumlah part yang harus dipersiapkan dalam usaha memperoleh sejumlah produk jadi yang diinginkan
3.1.3 Data Yang Diperlukan Routing Sheet
Dasar perhitungan untuk mengisi routing sheet memerlukan data berikut ini;
- Nama mesin/peralatan - Kapasitas mesin/peralatan - % secrap
Contoh tabel perhitungan routing sheet dapat dilihat pada halaman berikut:
ROUTING SHEET
KAPASITAS PRODUKSI : ………/JAM EFESIENSI : ………/JAM
NO.
OPERASI DESKRIPSI
NAMA/
MESIN/
PERALATAN
KAPASITAS MESIN TEORITIS
KAPASITAS MESIN AKTUAL
% SEKRAP
JUMLAH YANG DIHARAPKAN
JUMLAH YANG DISIAPKAN
JUMLAH MESIN TEORITIS
JUMLAH MESIN AKTUAL
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 9 of 61 3.1.4 Cara Pengisian Routing Sheet
- Untuk mengisi kolom (1) sampai (4) dan (6) gunakan data yang ada dalam OPC yang telah dibuat.
- Untuk mengisi kolom (5) yaitu kolom (4) x efesiensi pabrik (pembuatan ke atas).
- Untuk mengisi kolom (7) terlebih dahulu isikan jumlah produk akhir yang diinginkan pada setiap nomor aktivitas (output setiap aktivitas)
- Kolom (8) diisi dengan jumlah produk yang harus disiapkan pada awal aktivitas (=input) dengan memperhitungkan % secrap yang terbuang pada kativitas operasi yang bersangkutan
Karena bahan yang diproses akan mengalami pengurangan material, maka perlu diperhitungkan scrap yang terbuang selama proses berlangsung. (missal scrap berupa geram pada proses pembubutan), bahan yang terbuang sebagai sisa dari proses pemotongan.
Efesiensi mesin yang perlu diperhitungkan dalam penyediaan bahan baku karena harga efesiensi mesin= 1 (n-1) hanya akan ditemui pada kondisi ideal (kondisi teoritis) dimana semua komponen secara mekanis berkerja sempurna
𝑱𝒂𝒅𝒊 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒎 (𝟖) =𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝟏 − (% 𝒔𝒄𝒓𝒂𝒑)
𝑲𝒐𝒍𝒐𝒎 (𝟗) =𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒔𝒊𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒔𝒊𝒕𝒂𝒔 𝒎𝒆𝒔𝒊𝒏 𝒂𝒄𝒕𝒖𝒂𝒍
Kolom (10) = Pembulatan dari kolom (9)
3.2 Multi Product Process Chart
Setelah kita memahami permasalahan OPC dan Routing sheet, maka langkah selanjutnya adalah mengiasian table MPPC dimana pengisian ini terlebih dahulu harus mengetahui OPC dan Routing sheet-nya. Sedangkan MPPC perdefenisi adalah suatu diagram yang menunjukkan urut-urutan proses untuk masing-masing komponen yang akan diproduksi
Tujuan membuat MPPC yaitu untuk menghitung jumlah mesin atau peralatan yang diperlukan dengan jalan menggabungkan jumlah mesin dari masing-masing komponen tersebut dihitung dari routing sheet agar mesin atau peralatan yang sama dapat digabungkan. Adapun penggabungan mesin atau peralatan yang sama bertujuan untuk menghemat mesin/peralatan.
Buku Penuntun Praktek Perencanaan Tata Letak Fasilitas STT Ibnu Sina Batam – Program Studi Teknik Industri 10 of 61 3.2.1 Cara Pengisian MPPC
- Kolom (1) : Nama mesin/peralatan yang digunakan (lihat OPC) Tabel - Kolom (2)-(3) : Komponen yang termasuk Dept. Fabrikasi.
- Kolom (4) : Jumlah Mesin Teoritis (Fabrikasi).
Hasil penjumlahan dari sejumlah mesin teoritis (lihat routing sheet)
- Kolom (5) : Jumlah Mesin Actual Pembulatan dari kolom (4) - Kolom (6)-(7) : Komponen yang termasuk Dept. Assembling.
- Kolom (8) : Jumlah Mesin Teoritis (Assmbling)
Hasil penjumlahan dari sejumlah mesin teoritis (lihat routing sheet)
- Kolom (9) : Pembulatan kolom (8)
- Kolom (10) : Penjumlahan kolom (5) dan (9).
Contoh tabel perhitungan MPPC dilihat pada halaman berikut: