1
ISSN 2339-2932 | FISIP UM Mataram Vol. 9 No. 1 Maret 2021, Hal. 01-12
Model Inkremental : Evaluasi Program Peningkatan Kesempatan Kerja di Provinsi Riau
Eko Handriana1, Rosmitab2, Merry Chindy Khanc3
a Administrasi Publik Universitas Islam Riau Jl. Kaharuddin Nasution No. 113 Pekanbaru
b Administrasi Bisnis Universitas Islam Riau Jl. Kaharuddin Nasution No. 113 Pekanbaru
c Administrasi Publik Universitas Islam Riau Jl. Kaharuddin Nasution No. 113 Pekanbaru
1[email protected], 2[email protected], 3 [email protected],
INFO ARTIKEL ABSTRAK
Riwayat Artikel:
Diterima: 25-02-2021 Disetujui: 23-03-2021 Dipublikasikan:29-03- 2021
Abstrak: Model kebijakan inkremental merupakan model kebijakan yang bersandar kepada kebijakan sebelumnya dengan sedikit modifikasi. Program peningkatan kesempatan kerja adalah bentuk program hasil dari model inkremental yang tidak dimodifikasi. Tingkat pengangguran terbuka dan Rendahnya lapangan pekerjaan secure menjadi pokok perhatian dalam persoalan ketenagakerjaan dan target dari agenda tujuan pembangunan berkelanjutan Provinsi Riau. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi program peningkatan kesempatan kerja melalui evaluasi kebijakan sistematis melalui metode penelitian kualitatif dengan teknik analisa reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukan bahwa tidak ada inovasi kegiatan program peningkatan kesempatan kerja, ketidaktepatan pelaksanaan program dalam mencapai target yang telah di integrasi dengan rencana aksi daerah agenda tujuan pembangunan berkelanjutan Provinsi Riau, model inkremental program peningkatan kesempatan kerja berorientasi kepada peningkatan skill individu banyak dilakukan di wilayah perkotaan sementara itu wilayah perdesaan adalah wilayah yang paling membutuhkan kemudian penerima program peningkatan kesempatan kerja mayoritas pengangguran terbuka dari kalangan pengangguran terdidik sementara yang dibutuhkan adalah lapangan pekerjaan ataupun kesempatan menjadi wirausaha baru.
Abstract: The incremental policy model is a policy model that relies on previous policies with minor modifications. The job opportunity improvement program is a form of program resulting from the incremental model that is not modified. The open unemployment rate and low secure employment are the main concerns in employment issues and the target of the Riau Province sustainable development goal agenda. This study aims to evaluate the job opportunity improvement program through systematic policy evaluation through qualitative research methods with data reduction analysis techniques, data presentation and drawing conclusions. The results show that there is no innovation in job opportunities improvement program activities, the inaccuracy of program implementation in achieving targets that have been integrated with the regional action plan agenda for the sustainable development goals of Riau Province, the incremental model of the program to increase job opportunities is oriented towards increasing individual skills, which is mostly carried out in urban areas.
Meanwhile, rural areas are the areas most in need, then recipients of the program to increase job opportunities, the majority of the open unemployed are among the educated unemployed, while what is needed is employment or opportunities to become new entrepreneurs.
Kata Kunci:
1. Inkremental 2. Evaluasi 3. Program
4. Kesempatan Kerja
Keywords:
1. Incremental 2. Evaluation 3. Program
4. Employment Opportunity
—————————— ——————————
PENDAHULUAN
Dinamika ketenagakerjaan menjadi permasalahan penting dalam agenda tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals) di Provinsi Riau pada pilar ekonomi. Berdasarkan data resmi statistik keadaan ketenagakerjaan Riau No.24/05/14/Th.XXIII, 5 Mei 2020 kondisi angkatan kerja meningkat sebanyak 31,24 ribu orang, tingkat partisipasi angakatan kerja mengalami penurunan 1,18% ,
tingkat pengangguran terbuka menurun 0,50%. Sementara itu jumlah lapangan pekerjaan mengalami peningkatan yang cukup besar berada pada sektor perdagangan eceran dan besar, perawatan mobil, reparasi dan perawatan sepeda motor 1,11% Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 0,73 %, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 0,46%. Kemudian jumlah lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan terbesar adalah Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 1,40%Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,58% Jasa Pendidikan 0,44%. Sebanyak 1,62 juta orang 51,44% yang bekerja pada kegiatan informal meningkat sebesar 0,52%. Dari 3,16 juta orang yang bekerja, 65,12%
merupakan pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam per minggu termasuk sementara tidak bekerja) dan pekerja tidak penuh sebesar 34,88%.
Hasil penelitian (Putra and Saskara, 2013) menunjukan kesempatan kerja merupakan dampak positif dari bantuan kredit usaha rakyat sehingga memberikan kesempatan kerja usaha mikro kecil dan menengah. Artinya dengan adanya modal, masyarakat dibentuk untuk bersikap mandiri dengan membuka usaha dan mampu menciptakan lapangan kerja, akan tetapi dengan ini juga beresiko kegagalan jika masyakat yang telah diberikan modal tetapi tanpa dibekali pengetahuan kewirausahaan. Sejalan dengan hasil penelitian (Hidayat, 2017) Dampak program pelatihan life skills yang diberikan oleh pemerintah daerah memberikan peningkatan perolehan kesempatan kerja dan pendapatan warga belajar untuk membuka usaha sendiri. Kemampuan tanpa modal juga menjadi satu titik kelemahan yang bagi masyarakat untuk berwirausaha. Selanjutnya menurut (Muliadi and Amri, 2019) lapangan kerja juga ditentukan oleh Keberadaan infrastruktur jalan dan belanja modal artinya perlu adanya investasi dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, sejalan dengan itu menurut (Danawati, Bendesa and Suyana Utama, 2016) pengeluaran pemerintah dan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesempatan kerja. Dan hasil penelitian (Saparuddin, 2011) kesempatan kerja dipengaruhi oleh pendapatan Domestik Regional Bruto, investasi, dan industri kecil dan menengah.
Lebih spesifik kebawah hasil penelitian (Wispandono et al., 2014) bahwa penyelesaian permasalahan pengangguran dapat diselesaikan oleh karang taruna melalui posisi strategis dengan membentuk pengusaha muda yang tangguh. Dan hasil penelitian (Handrian, et al., 2020) Program peningkatan kesempatan kerja dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di provinsi Riau tidak efektif dikarenakan tidak adanya prinsip inklusif dan partisipatif serta kerjasama pemerintah daerah dengan sektor swasta. Model inkrementalis sebagai bentuk kritik kepada model rasional. Pembuat kebijakan atau program tidak melakukan proses sebagaimana tahapan yang dilakukan oleh pendekatan rasional, karena model inkremental tidak memiliki cukup intelektual, waktu, maupun biaya. Model kebijakan inkremental gambaran pembuatan kebijakan atau program sebagai proses politik ditandai dengan adanya tawar menawar demi kepentingan (Lindblom, 1959). Mengembangkan kebijakan melalui proses membandingkan keberhasilan secara terbatas dimasa lalu. Berkaitan dengan kekhawatiran adanya dampak yang tidak diharapkan akibat dari kebijakan atau program yang pernah dibuat dahulunya, adanya hasil kebijakan atau
program sebelumnya yang mesti dipertahankan serta guna menghindari konflik (Nugroho, 2009). Model Inkrementalis dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 1.
Model Kebijakan Inkrementalis
Sumber : (Handoyo, 2012)
Program peningkatan kesempatan kerja pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau merupakan program lanjutan yang turun temurun sejak dahulu, kegiatan pada program peningkatan kesempatan kerja tidak mengalami banyak inovasi. Model inkrementalis memandang kebijakan publik atau program sebagai variasi atau kelanjutan dari kebijakan dan program sebelumnya. Model inkremental disebut juga sebagai model pragmatis ataupun praktis. Model inkremental diterapkan disaat pengambil kebijakan dihadapkan kepada keterbatasan ketersediaan informasi, kecukupan dana, dan waktu, dalam melakukan evaluasi kebijakan atau program secara komprehensif.
Fokus penelitian ini adalah mengevaluasi program peningkatan kesempatan kerja model inkremental untuk menjawab persoalan lapangan pekerjaan di Provinsi Riau serta melihat integrasi program dengan target agenda tujuan pembangunan berkelanjutan provinsi Riau.
Evaluasi memberikan kontribusi pada klarifikasi dan kritik pada nilai sebagai dasar pemilihan tujuan, target dan sasaran. Nilai program dijelaskan dengan mendefinisikan serta mengoperasikan tujuan target dan sasaran. Nilai dikritik pertanyaan secara sistematis kepantasan tujuan, target dan sasaran dalam kaitan dengan masalah yang akan diselesaikan oleh program. Kepantasan tujuan, sasaran dan target, analis dapat menguji dengan alternatif sumber nilai maupun landasan mereka dalam berbagai bentuk rasionalitas.
Dalam menghasilkan informasi kinerja kebijakan, analis menggunakan tipe kriteria yang berbeda untuk mengevaluasi hasil kebijakan sebagai berikut :
1. Efektivitas 2. Efisiensi 3. Kecukupan 4. Perataan 5. Responsivitas 6. Ketepatan
METODE PENELITIAN
Artikel ini dibuat berdasarkan hasil penelitian dengan metode kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif dengan menggambarkan keadaan sesungguhnya (Sugiyono, 2009). Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini antara lain Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Riau, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi Provinsi Riau, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau dan Para pengangguran Terbuka. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi, triangulasi dan dokumentasi, guna mendapatkan data primer dan sekunder. Selanjutnya data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan model analisis miles and huberman dengan tahapan analisis sebelum dilapangan dan analisis setelah dilapangan melalui teknik reduction data, data display dan penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kebijakan Inkremental
Program peningkatan kesempatan kerja dengan model inkrementalis ini menjadikan kebijakan dimasa lalu sebagai sandaran sehingga memiliki kelemahan tidak mengikuti perkembangan yang terjadi pada saat ini, sementara itu keberhasilan program ini pun sampai saat ini belum memperlihatkan hasil yang efektif. Kebutuhan masyarakat saat ini pada sektor ketenagakerjaan adalah terciptanya lapangan pekerjaan yang layak dan secure.
Program peningkatan kesempatan kerja pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan kebijakan inkremental sehingga tidak memiliki banyak inovasi pada setiap tahunnya, program tersebut terdiri dari kegiatan dimasa lalu antara lain :
1. Pelatihan
2. Job Fair (Bursa Kerja) 3. Penyuluhan
4. Pemagangan
Model inkremental pada program peningkatan kesempatan kerja memadai untuk meningkatkan kompetensi para pencari kerja, tetapi kelemahannya adalah model ini cenderung tidak mengikuti perkembangan yang terjadi, sehingga kebijakan masa lalu yang menjadi sandaran dalam membuat kebijakan tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan sekarang. Model ini juga acapkali dijadikan sebagai tempat bersembunyi bagi pembuat kebijakan yang puas diri dengan keberhasilan kebijakan masa lalu.
Kebijakan inkremental sendiri pada dasarnya dibuat dengan beberapa alasan antara lain :
1. keterbatasan waktu, informasi dan biaya guna meneliti kebijakan yang sedang berjalan dan semua alternatif lainnya, alasan ini tidak bisa menjadi landasan minimnya inovasi kebijakan, Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi harus melakukan terobosan guna pencapaian tujuan program serta pencapaian agenda tujuan pembangunan berkelanjutan di provinsi Riau khususnya tujuan kedelapan.
2. Menerima keabsahan dari kebijakan program akibat dari adanya ketidaktentuan dan ketidakpastian akibat-akibat yang ditimbulkan dari kebijakan yang baru.
3. Kemungkinan adanya terdapat investasi dalam program yang telah lalu.
4. Secara politis, inkrementalisme adalah cara yang bijaksana. Penting untuk menurunkan ketegangan konflik, melindungi sistem politik dan memelihara kestabilan.
Persoalan ketenagakerjaan menjadi fokus tujuan kedelapan termasuk kedalam pilar ekonomi dimana telah ditentukan target yang akan dicapai adalah tingkat pengangguran terbuka. Tingkat Pengangguran Terbuka Bila mengacu pada Rencana Aksi Daerah (RAD) SDGs Provinsi Riau yang menargetkan sebesar 6,68% di tahun 2018 dan 6,60% di tahun 2019, maka tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Riau berarti lebih rendah dari target maksimal yang ditetapkan.
Sumber : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau :2020 Setengah pengangguran merupakan tenaga kerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu). Indikator ini digunakan untuk mengetahui proksi tenaga kerja yang belum memiliki produktivitas optimal. Tingkat setengah pengangguran di Provinsi Riau untuk tahun 2018 tercatat ada 6,20%, sedikit menurun dari tahun 2017 sebesar 6,22%. Tingkat setengah pengangguran di pedesaan mengalami peningkatan dari 4,20% di tahun 2017 menjadi 4,41% pada tahun 2018. Hal yang sama terjadi pada tingkat setengah pengangguran perempuan yang juga mengalami kenaikan dari 7,54% pada tahun 2017 menjadi 7,82% di tahun 2018.
Kebijakan inkremental pada program kesempatan kerja pada setiap kegiatannya berorientasi peningkatan kompetensi individu menjadi fokus program bukan penciptaan dan peningkatan lapangan kerja. Merujuk kepada program peningkatan kesempatan kerja yang tidak ada inovasi meskipun telah
9.25 4.2 5.57 7.54 6.22
8.87 4.41 5.37 7.82 6.2
P E R K O T A A N P E R D E S A A N L A K I - L A K I P E R E M P U A N R I A U
G R A FI K . 1 : T I N G K A T PE N G A N G G U R A N T E R B U K A
2017 2018
terintegrasi dengan rencana aksi daerah tujuan pembangunan berkelanjutan provinsi Riau, maka perlu adanya evaluasi guna pencapaian target sustainable development goals di provinsi Riau.
Sementara program peningkatan kesempatan kerja semestinya mampu menjawab persoalan dan kebutuhan lapangan kerja dimasa kini dan kedepan. Provinsi Riau telah mengintegrasikan seluruh program pada Organisasi Perangkat Daerah dengan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals). Melalui integrasi ini pemerintah daerah harus lebih inovatif merumuskan kegiatan
dengan mengevaluasi kegiatan yang dinilai tidak efektif dengan membuat program baru yang lebih dibutuhkan saat ini.
Evaluasi Program
Evaluasi program peningkatan kesempatan kerja menggunakan evaluasi sistematis, dimana melihat secara objektif pada progam yang dijalankan, serta dapat mengukur dampaknya terhadap masyarakat dan sejauh mana pencapaiannya dengan agenda tujuan pembangunan berkelanjutan. Secara spesifik evaluasi kebijakan berkaitan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan (Dunn, 2003).
Hasil kebijakan yang memberikan output dan outcome. Menurut Weis dalam (Anggara, 2014) analisis evaluasi bertujuan pada pengukuran output dan outcome dari sebuah program atau kebijakan dengan perbandingan pengukuran atas efisiensi, kejujuran pelaksanaan, dan lain-lain yang berkaitan dengan standar-standar pelaksanaan.
Evaluasi memiliki beberapa fungsi utama dalam analisis kebijakan publik, pertama memberikan informasi valid berkenaan dengan kinerja kebijakan, sehingga dapat mengungkapkan seberapa jauh pencapaian tujuan tersebut. Evaluasi kebijakan memiliki peran penting dalam memberikan feedback terkait apa yang terjadi dalam program. Fungsi utama evaluasi pertama memberikan informasi valid terkait kinerja kebijakan, kedua memberi kontribusi klarifikasi dan kritikan pada nilai yang m.enjadi dasar pemilihan tujuan dan target, ketiga memberikan sumbangan kepada aplikasi metode analisis kebijakan lain termasuk kepada hal perumusan masalah dan rekomendasi (Dunn, 2003)
James Anderson sebagaimana dalam (Winarno, 2007) telah membagi tipe evaluasi kedalam beberapa tipe, yaitu (1) evaluasi kebijakan dipahami sebagai kegiatan fungsional, (2) tipe evaluasi yang memfokuskan diri pada bekerjanya kebijakan atau programprogram tertentu, (3) tipe evaluasi kebijakan sistematis. Salah satu evaluasi kebijakan yang baik adalah evaluasi sistematis. Evaluasi sistematis melihat program yang dijalankan secara objektif sehingga dapat mengukur dampaknya terhadap masyarakat serta sejauh mana pencapaian tujuan program. Evaluasi sistematis ini terfokus melihat dampak program peningkatan kesempatan kerja sejauh mana program peningkatan kesempatan kerja menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat.
1. Efektivitas
Pencapaian target tujuan pembangunan berkelanjutan Provinsi Riau pada pilar ekonomi dilihat dari data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau penciptaan lapangan kerja secure masih rendah terlihat dari peningkatan proporsi lapangan kerja informal dari 36,04
di tahun 2015 menjadi 41,09 pada tahun 2018. Kemudian Jumlah tenaga kerja formal di Provinsi Riau menurun di tahun 2018 tenaga kerja formal di daerah perkotaan dari sebesar 52,37 % di tahun 2017 menjadi 51,61 % di tahun 2018. Selanjutnya Tenaga kerja informal di sektor pertanian meningkat 10 % dari 65,61% ditahun 2015 menjadi 75,87% di tahun 2018.
Ketidakefektifan juga terlihat dari rendahnya tenaga kerja formal, Persentase tenaga kerja formal merupakan gambaran kemampuan suatu perekonomian untuk menyediakan kesempatan kerja berkualitas, yaitu memiliki hubungan kerja yang pasti, kondisi kerja terlindungi (secure), dan tingkat kesejahteraan lebih baik.
Sumber : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau : 2020 Terjadi penurunan persentase tenaga kerja formal pada dasarnya ini harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam menentukan kegiatan dalam program peningkatana kesempatan kerja dan perluasan kerja. Lapangan kerja formal adalah lapangan yang semestinya menjadi perhatian bagi pemerintah daerah guna pencapaian tujuan berkelanjutan. Dengan status tenaga kerja formal, tenaga kerja memiliki status kerja yang terlindungi, melihat potensi wilayah provinsi Riau dengan pertumbuhan ekonomi meningkat 2,4% semestinya mampu menciptakan lapangan kerja formal bagi masyarakat Riau
Daerah perdesaan merupakan Kawasan penyerapan tenaga kerja yang mayoritas berada pada sektor informal pertanian diperoleh data sebagai berikut :
Sumber : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau : 2020 Berdasarkan Diagram di atas, Diketahui terjadinya peningkatan penyerapan tenaga kerja informal sektor pertanian, tenaga kerja sektor informal masih mendominasi, sementara itu sektor industri
52.37 47.63 69.63 30.37 47.351.61 48.39 70.42 29.58 45.3
P E R K O T A A N P E R D E S A A N L A K I - L A K I P E R E M P U A N R I A U
G r a f i k . 2 : P e r s e n t a s e T e n a g a K e r j a F o r m a l D i P r o v i n s i R i a u 2017 2018
65.61 76.41 73.66 75.87
R I A U
G r a f i k . 3 : P e r s e n t a s e T e n a g a K e r j a I n f o r m a l S e k t o r P e r t a n i a n D i P r o v i n s i R i a u
2015 2016 2017 2018
pengolahan dan pertanian merupakan dua sumber pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau, dengan laju pertumuhan pada dua sektor tersebut tidak mampu dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dalam menangkap dan menciptakan peluang kerja bagi masyarakat Riau. Ketidakefektifan program terlihat dari data tenaga kerja yang bekerja pada lapangan pekerjaan yang secure, guna memperoleh lapangan kerja formal diperlukan kompetensi padahal Dinas Tenaga Kerja Provinsi Riau telah melakukan kegiatan pelatihan pada setiap tahunnya, namun tidak memberikan peningkatan pada sektor tenaga kerja formal dan masih tinggi pada penyerapan tenaga kerja informal. Artinya selain peningkatan skill individu calon tenaga kerja, yang dibutuhkan oleh masyarakat Riau saat ini juga adalah peluang kerja.
2. Efisiensi
Berdasarkan Data data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau Pagu anggaran kegiatan pada program peningkatan kesempatan yang telah disepakati dan tertuang dalam matrik rencana aksi daerah tujuan pembangunan berkelanjutan provinsi Riau cukup besar, adapun total pagu anggaran dari tahun 2017 sampai dengan 2019 kegiatan pembentukan kader teknologi padat karya sebesar Rp Rp. 8.740.800.000,- Pembentukan Wirausaha baru Rp. 3.868.800.000,- Pameran Bursa Kerja Rp. 1.100.000.000,- dan penyusunan informasi bursa tenaga kerja Rp. 390.000.000,-.
Dari sekian anggaran yang telah dianggarkan, terdapat 1 kegiatan yang tidak dilaksanakan, yaitu pembentukan wirausaha baru, padahal kegiatan tersebut yang memiliki peluang bagus dalam penanggulangan permasalahan pengangguran terbuka saat ini, selain itu juga berpeluang dalam menciptakan lapangan usaha baru. Inefisiensi terlihat dari program peningkatan kesempatan kerja yang hanya memberikan peningkatan skill calon tenaga kerja, kegiatan berbentuk pelatihan cenderung inefisiensi, tingkat keberhasilan dari kegiatan pelatihan diketahui dari data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau, 61,9% yang belum mendapatkan pekerjaan pasca mengikuti program pelatihan, selain itu anggaran yang dihabiskan begitu besar tidak berbanding lurus dengan jumlah pencari kerja, kemudian, permasalahan pengangguran terbuka juga bukan hanya persoalan peningkatan kompetensi, melainkan kebutuhan lapangan pekerjaan.
Melihat semakin sempitnya lapangan pekerjaan pada saat ini, anggaran program peningkatan kesempatan kerja terlalu besar pada kegiatan peningkatan kompetensi, sebaiknya anggaran pada program ini lebih di fokuskan kepada pembentukan wirausaha baru guna menunjang pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan hadirnya wirausaha baru akan menjamin keberlanjutan pada sektor ketenagakerjaan yang juga akan membuka peluang lapangan pekerjaan yang baru.
3. Kecukupan
Masih sedikit angkatan kerja Provinsi Riau yang bekerja di lapangan kerja yang terlindungi.
Sebagai salah satu program dalam agenda tujuan pembangunan berkelanjutan, pencapaian hasil program peningkatan kesempatan kerja belum cukup untuk menjawab permasalahan ketenagakerjaan di provinsi Riau. Program peningkatan kesempatan kerja yang berfokus kepada peningkatan kompetensi belum dirasa
cukup untuk memenuhi kebutuhan para pencari kerja di Provinsi Riau dapat dilihat pada data berikut jumlah pencari kerja
Tabel. 1
Jumlah Pencari Kerja Terdaftar Kabupaten/Kota Di Provinsi Riau
No Kabupaten/Kota Laki-Laki Perempuan
1 Kampar 2188 961
2 Indragiri Hulu 659 503
3 Bengkalis 873 609
4 Indragiri Hilir 695 359
5 Pelalawan 596 235
6 Rokan Hulu 807 282
7 Rokan Hilir 1567 578
8 Siak 742 429
9 Kuantan Singingi 429 378
10 Meranti 295 150
11 Pekanbaru 4080 3069
12 Dumai 3279 2247
Jumlah 16210 9800
Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau : 2020
Proporsi lapangan kerja informal dari 36,04% di tahun 2015 dan ditahun 2018 menjadi 41,09%
kemudian Pekerja sektor informal di sektor pertanian menurun sekitar 10 % dari 65,61% ditahun 2015 menjadi 75,87 ditahun 2018. Sedangkan jumlah lapangan kerja yang mengalami penurunan adalah Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 1,40%. Banyaknya jumlah pencari kerja menjadikan program peningkatan kesempatan kerja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, pada tahun 2017 kegiatan pembentukan kader padat karya hanya menargetkan jumlah peserta sebanyak 180 orang dan tahun 2018 sebanyak 800 Orang, kegiatan pembentukan wirausaha baru tahun 2017 sebanyak 100 orang dan tahun 2018 240 orang, kegiatan pameran bursa kerja tahun 2017 sebanyak 60 informasi dan tahun 2018 menurun menjadi 20 informasi. Dari seluruh kegiatan tersebut tidak semua mencapai target, realisasi dilapangan pada setiap kegiatan rata-rata dibawah target.
4. Perataan
Distribusi kegiatan pada program peningkatan kesempatan kerja belum terlaksana secara komprehensif, pada setiap pelaksanaan kegiatannya terfokus di Pekanbaru sebagai Ibu Kota Provinsi.
Sementara itu tingkat pengangguran, lapangan pekerjaan yang tidak secure serta pengetahuan dan skill yang rendah masih banyak berada didaerah. Selain peningkatan kapasitas, masyarakat pada dasarnya membutuhkan perataan lapangan pekerjaan hingga menyentuh kepelosok desa.
5. Responsivitas
Masyarakat pada saat ini membutuhkan lapangan pekerjaan yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, sementara itu kegiatan pada program peningkatan kesempatan kerja hanya memberikan informasi serta peningkatan skill individu. Dapat dilihat pada tabel berikut jumlah lowongan kerja di Provinsi Riau sebagai berikut :
Tabel. 2
Jumlah Lowongan Kerja Yang Terdaftar Di Kabupaten/Kota Provinsi Riau Tahun 2019
No Kabupaten/Kota Jumlah Lowongan
Jumlah Laki-Laki Perempuan
1 Kampar 0 0 0
2 Indragiri Hulu 171 141 312
3 Bengkalis 0 0 0
4 Indragiri Hilir 0 0 0
5 Pelalawan 0 0 0
6 Rokan Hulu 0 0 0
7 Rokan Hilir 20 10 30
8 Siak 0 0 0
9 Kuantan Singingi 0 0 0
10 Meranti 42 0 42
11 Pekanbaru 2982 2461 5443
12 Dumai 208 116 324
Jumlah 3423 2728 6151
Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau : 2020
Persoalan pengangguran terbuka hari ini, yang menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat adalah lapangan pekerjaan, melihat kepada kegiatan pada program peningkatan kesempatan kerja yang berfokus pada peningkatan kompetensi calon tenaga kerja belum begitu menarik bagi perhatian masyarkat.
Terlihat juga dari data Badan Pusat Statistik Provinsi Riau dilihat dari tingkat pendidikan pada Februari 2020, tingkat pengangguran terbuka untuk Sekolah Menengah Umum (SMA Umum) telihat lebih tinggi diantara tingkat pendidikan lain yaitu sebesar 6,89%, tingkat pengangguran terbuka tertinggi berikutnya terdapat pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMA Kejuruan) sebesar 5,85% dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 5,61% Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja yang tidak terserap terutama pada tingkat pendidikan SMA Umum, SMA Kejuruan dan SMP. Mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja, dapat dilihat dari TPT SD ke bawah paling kecil di antara semua tingkat pendidikan yaitu sebesar 3,02%. Dibandingkan kondisi setahun yang lalu, terjadi penurunan tingkat pengangguran terbuka kecuali pada tingkat pendidikan SD ke bawah dan SMP.
6. Ketepatan
Target yang ditetapkan dalam pencapaian rencana aksi daerah tujuan pembangunan berkelanjutan Provinsi Riau tidak tepat dengan program peningkatan kesempatan kerja, kegiatan yang yang dirancang semuanya lebih kepada peningkatan skill individu sementara tuntutan pada target tujuan pembangunan berkelanjutan adalah penciptaan lapangan pekerjaan guna menurunkan tingkat pengangguran terbuka secara berkelanjutan untuk jangka panjang. Ketepatan program pada dasarnya buka seberapa banyak kegiatan yang dilakukan dan seberapa besar anggaran kegiatan melainkan bagaimana filosopi dan
keberlanjutan kegiatan tersebut untuk jangka panjang. Kegiatan pada program peningkatan kesempatan kerja, melihat dari sisi tujuan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan yang bersifat pelatihan dan penyuluhan menjadi tidak tepat dengan melihat kondisi tingkat pendidikan pengangguran terbuka yang ada di provinsi Riau, selain itu juga kegiatan pelatihan yang mayoritas diadakan di pusat kota serta peserta yang juga berasal dari orang yang berpendidikan menjadi semakin tidak tepat sasaran. Pada dasarnya kegiatan seperti pelatihan semestinya dilaksanakan untuk masyarakat pinggiran dan dengan tingkat pendidikan yang rendah. Output dari kegiatan program peningkatan kesempatan kerja juga semestinya memberikan garansi kepada peserta pelatihan bahwa sertifikat sebagai bukti kompetensi dapat diakui dan diterima oleh perusahaan tempat para pencari kerja akan melamar kerja.
PENUTUP Kesimpulan
Program peningkatan kesempatan kerja yang dibuat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau secara inkremental tanpa adanya inovasi tidak mampu menjawab permasalahan ketenagakerjaan saat ini serta integrasi dengan target tujuan pembangunan berkelanjutan Provinsi Riau tidak memberikan dampak yang besar terhadap permasalahan pengangguran terbuka. Kriteria evaluasi memperlihatkan ketidakefektifan program dalam pencapaian target tujuan pembangunan berkelanjutan, inefisiensi anggaran, ketidakcukupan, tidak meratanya pelaksanaan program, responsivitas yang rendah, dan ketidaktepatan program. Penurunan tingkat pengangguran selain dipengaruhi tingkat kompetensi guna memperoleh pekerjaan juga dipengaruhi oleh tingkat lapangan pekerjaan. Tujuan, sasaran dan target dari program peningkatan kesempatan kerja tersebut lebih dominan pada peningkatan kompetensi individual dan informatif tidak dominan memberikan peluang untuk mendapatkan pekerjaan dan penciptaan lapangan pekerjaan yang secure dan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan.
SARAN
Untuk mengatasi permasalahan ketenagakerjaan di Provinsi Riau, disarankan perumusan program berkaitan peningkatan kesempatan kerja dilakukan secara rasional komprehensif, melalui penelitian dan menilai alternatif kebijakan yang ada. Kemudian disarankan adanya kolaborasi dan kerjasama pemerintah daerah dengan sektor swasta dalam peningkatan lapangan kerja, bantuan usaha dan penempatan tenaga kerja bagi tenaga kerja lokal.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Anggara, S., 2014. Kebijakan Publik. Bandung: Pustaka Setia.
Dunn, W., 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Handoyo, E., 2012. Kebijakan Publik. Semarang: Widya Karya.
Lindblom, C., 1959. The Science of Muddling Through. Public. s.l.:s.n.
Nugroho, R., 2009. Public Policy. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
Winarno, B., 2007. Kebijakan Publik : Teori dan Proses. Yogyakarta: Med Press.
Jurnal
Danawati, S., Bendesa, I. K. and Suyana Utama, M. (2016) ‘Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Dan Investasi Terhadap Kesempatan Kerja, Pertumbuhan Ekonomi Serta Ketimpangan Pendapatan Kabupaten/Kota Di Provinsi Bali’, EDanawati, S., Bendesa, I. K., & Suyana Utama, M. (2016).
Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Dan Investasi Terhadap Kesempatan Kerja, Pertumbuhan Ekonomi Serta Ketimpangan Pendapatan Kabupaten/Kota Di Provinsi Bali. E-Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Universitas Ud, 5(7), pp. 2123–2160.
Handrian, E., Rosmita, R. & Khan, M. C., 2020. Efektivitas Program Peningkatan Kesempatan Kerja Dalam Pencapaian Sustainable Development Goals Di Provinsi Riau. Dinamika : Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara, 7(Administrasi Publik), pp. 439-453.
Hidayat, D. (2017) ‘Dampak pelatihan keterampilan hidup (life skills) montir otomotif terhadap kesempatan kerja dan pendapatan warga belajar’, Jurnal Visi Pembinaan Pendidik Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PPTK-PAUDNI), 11(2), pp.
81–98.
Muliadi, M. and Amri, K. (2019) ‘Infrastruktur Jalan, Belanja Modal dan Kesempatan Kerja: Bukti Data Panel Kabupaten Kota di Aceh’, J-MAS (Jurnal Manajemen dan Sains), 4(2), p. 334. doi:
10.33087/jmas.v4i2.115.
Putra, I. and Saskara, I. (2013) ‘Efektivitas Dan Dampak Program Bantuan Kredit Usaha Rakyat (Kur) Terhadap Pendapatan Dan Kesempatan Kerja Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Di Kota Denpasar’, E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, 2(10), pp. 457–468.
Saparuddin, M. (2011) ‘Dampak Industri Kecil dan Menengah pada Kesempatan Kerja dan Pendapatan per Kapita’, Trikonomika, 10(2), pp. 85–94.
Wispandono, R. M. M. et al. (2014) ‘Penanggulangan Pengangguran Melalui Pemberdayaan Karang Taruna di Kabupaten Sampang (Kajian dari Analisis Sumber Daya Manusia)’, Pamator, 8(1), pp.
35–46.