2.1. Pengaruh Lingkungan Sekitar Terhadap Tapak dan Pengaruh Baogunan yang Dirancang Terhadap Lingkungan
Bangunan berlokasikan di Trawas, yang merupakan dataran tinggi, yang masih merupakan salah satu kecamatan daripada kabupaten Mojokerto, dipilih berdasarkan beberapa pendekatan dan pertimbangan antara lain:
• suasana pegunungan atau dataran tinggi memiliki udara yang masih bersih.
• pertimbangan keadaan lingkungan yang mempengaruhi psikolog penderita dalam menangani perawatan dan pengobatan.
• lokasi Trawas yang dianggap dekat dengan Ibukota Jawa Timur, Surabaya, sebagai kota terbesar.
• dan sebagainya.
2.1.1. Penentuan Lahan
Lokasi proyek
Gambar 2.1. Peta Lokasi Proyek
13
Beberapa hal yang perlu diketahui dalam pemilihan lahan tersebut, antara lain:
• merupakan lahan kosong atau lahan cadangan
• berada di sepanjang jalan utama yang mudah dicapai
• memiliki beberapa jaringan fasilitas (listrik, air bersih, telepon, dan lainnya)
• memiliki sumber daya alam yang baik (view, tapak, dan sebagainya)
• berada di daerah pinggiran kota namun tidak terlalu jauh dengan pusat kota Trawas
Dalam jangkauan RUTRK/RDTRK kota Trawas memiliki Rencana Fasilitas Kesehatan, yang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan:
• Kebijaksanaan Departemen Kesehatan.
• Perkembangan dan Distribusi Penduduk
• Fasilitas Kesehatan
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas dan penyesuaian terhadap karakteristik pengembangan kota di masa mendatang, maka untuk sektor kesehatan di kota IKK Trawas direncanakan pengembangannya sebagai berikut;
Untuk fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Pos Pelayanan Terpadu, Rumah Sakit Bersalin, Apotik, dan sebagainya, lokasi didistribusikan sesuai dengan perkembangan kepadatan penduduk dan hirarki pusat pelayanan lingkungan perumahan.
Pemilihan lahan selain memperhatikan kriteria-kriteria pemilihan site (pencapaian, sarana dan prasarana infrastruktur, kemacetan, dan lainnya), juga memperhatikan pula peraturan-peraturan yang berlaku di dalam lingkup site dalam hal ini RUTRK atau RDTRK yang menjelaskan pembagian-pembagian lahan, pola tata gima lahan dan sebagainya.
Rumah sakit merupakan bangunan yang bersifat unit sosio-ekonomi, merupakan salah satu daripada fasilitas sosial, dimana pemilihan didasarkan juga pada rencana pengembangan kota. Pemilihan lahan pada pemukiman berdasarkan atas pemikiran kebisingan lahan yang tidak terlalu tinggi, sehingga kriteria tentang ketenangan dapat terpenuhi.
Di dalam perancangan pemiUhan lokasi disesuaikan dengan zoning yang telah ditentukan sebagai zona perumahan dan pusat kegiatan sosial dan kesehatan.
I w ’W ffFW . ^
Gambar 2.2. Peta Analisis Fisik Kota
Gambar 2.3. Rencana Penggunaan Lahan
Gambar 2.4. Peta Fungsi Blok Analisis
2.1.2. Koefisien Dasar Bangunan atau Building Coverage Ratio (KDB / BCR) Mated yang diatur dalam rencana penetapan kepadatan bangunan meliputi perbandingan luas lahan yang tertutup bangunan dan atau bangunan-bangunan dalam tiap-tiap petakdinyatakan dalam bilangan persen (%).
Penetapan kepadatan bangunan dalam satu unit lingkungan didasarkan pada kriteria:
• Karakteristik kegiatan utama di masing-masing unit lingkungan.
• Nilai dan harga tanah.
• Rencana pengaturan unit lingkungan, khususnya untuk unit lingkungan perumahan (perumahan kepadatan tinggi, sedang, dan rendah).
• Lokasi persil yang bersangkutan (sesuai dengan kelas fungsi jalan yang ada di depannya).
Rumah Sakit Kanker dan Rehabilitasinya adalah merupakan bangunan yang memiliki kepadatan campuran tinggi dan rendah, sehingga menurut ketetapannya kepadatan bangunannya adalah sebesar 50%. Untuk rumah sakit sendiri KDB maksimumnya adalah 30%, untuk bangunan umum (sekolah, perkantoran, sarana peribadatan) KDB maksimumnya adalah 50%, sedangkan untuk kawasan jalur hijau (konservasi) KDB yang ditetapkan antara 0-20%, dimana 20% tersebut berupa bangunan-bangunan pelengkap. Kesimpulannya bangunan yang direncanakan memiliki KDB antara 30-50%, dimana tata hijau dan lahan terbuka juga termasuk di dalamnya.
Di dalam perancangan, KDB yang dicapai adalah berkisar 40-50%, dimana fungsi daripada lahan terbuka dirancang agar terjadi sebuah sirkulasi udara, mengingat rumah sakit sangat memerlukan adanya suatu pergantian penghawaan.
2.1.3. Pengaturan Ketinggian Bangunan (KLB)
Kriteria pengembangan dan pengendalian bangunan dalam hal ketinggian di seluruh bagian kota Trawas akan tergantung beberapa faktor, antara lain:
• Karakteristik fisik dari lingkungan yang bersangkutan dalam hal ini mencakup
masalah kemiringan tanah, struktur geologi, dan hidrologi.
• Tingkat penggunaan ruang dan jenis penggunaannya.
• Harga dan nilai tanah
• Aspek urban desain, kesan ritmik, kesan monumental, sinar matahari, serta kesesuaian dengan lingkungan sekitamya.
Beberapa ketentuan yang hams diperhatikan dalam menentukan rencana ketinggian bangunandan tinggi bangunan adalah:
• Jarak vertikal dari lantai dasar ke lantai di atasnya tidak boleh lebih dari lima meter.
• Mezzanine yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh.
• Ruangan tertutup pada lantai dasar yang luasnya lebih dari 50% luas atas tersebut, dianggap sebagai satu lantai penuh.
• Penetapan KLB maksimal adalah dua kali sisa luas persil (luas persil dikurangi KDB)
Berdasarkan ketentuan di atas, dimana KDB adalah 30-50% atau 40%, maka KLB maksimum yang ditetapkan adalah 1,2.
Di dalam perancangan ketinggian satu lantai dengan lantai di atasnya adalah 4 meter. Ketinggian bangunan maksimal adalah 5 lantai yang terjadi atas pertimbangan sebuah sirkulasi untuk sebuah bangunan rumah sakit yang efisien, sehingga pencapaian antar unit tidak mengalami masalah yang berarti.
Pemanfaatan teknologi transportasi vertikal digunakan dalam mewujudkan sebuah sirkulasi yang efisien.
2.1.4. Rencana Intensitas Penggunaan Tanah
Intensitas tanah memegang peranan penting dalam kegiatan pengendalian peruntukan tanah perkotaan melalui fatwa perencanaan dan peninjauan bangunan, karenanya dapat diambil pedoman mengenai tingkat kepadatan penduduk serta tingkat kepadatan bangunan menurut fungsi peruntukan yang terukur berdasarkan angka ABLD, ABLB (BCR, FAR), angka ruang terbuka, sempadan muka, samping, dan belakang, serta ketinggian bangunan.
Berdasarkan jenis peruntukkarmya maka rumah sakit kanker dan rehabilitasinya merupakan bangunan umum lainnya. Sehingga persyaratan lingkungan bangunaimya adalah;
* ABLD maksimum = 50 %
• ABLE maksimum = 85 %
* GSB muka minimum = 8 m
• GSB samping minimum = 3 m
* GSB belakang minimum = 3 m
• Ketinggian bangunan / jumlah lantai maksimum = 2 lantai.
Di dalam perancangan penyesuaian terhadap GSB terhadap garis batas site dapat tercapai dan memberikan jarak yang lebih dalam lagi agar pencapaian lahan terbuka dapat lebih baik lagi.
2.2. Pencapaian Tapak
Berdasarkan fungsinya sebagai rumah sakit dan pendekatan secara fungsional, maka pencapaian tapak dirancang berdasarkan hasil analisa tapak, dimana akses daripada jalan raya utama dijadikan patokan yang penting untuk pencapaian site. Sebagai bangunan rumah sakit pencapaian yang penting adalah pencapaian untuk Unit Gawat Darurat, sehingga perlu adanya perancangan khusus agar ada sebuah pencapaian tanpa hambatan. Perancangan pencapaian tapak untuk UGD dilakukan dengan memberikan akses khusus pada daerah yang dekat atau bersebelahan dengan akses masuk, sehingga akses khusus tersebut terlihat secara jelas harus ke mana untuk menuju UGD. Bantuan tanda dapat digunakan untuk
mendukung pencapaian.
servis
Entrance utama Gambar 2.5. Denah Pencapaian Tapak
i , I : ■ I I * . ' TlV I N ^ a
Pintu M asuk Utama Sirkulasi pejalan kaki
UGD
Sirkulasi U G D
Umum
Gambar 2.6. Pencapaian Pintu Masuk
Perancangan pencapaian tapali juga memperhatilcan pejalan kaki dengan memberikan sebuah sirkulasi khusus yang tidak terlalu mengganggu sirkulasi mobil. Pemakaian tangga, trotoar, zebra cross juga digunakan untuk pengaplikasiannya. Selain itu akses tersebut juga dapat digunakan pengunjung yang membawa mobil atau sepeda motor untuk mencapai pintu masuk.
Entrance samping dirancang hanya untuk memenuhi kebutuhan bagi unit
rawat jalan untuk bagian radiotherapy. Letaknya berada pada area yang tidak terlihat secara langsung dari akses utama, sehingga daya tarik untuk memasuki bangunan lebih terasa pada entrance utama.
Akses masuk untuk servis terbagi menjadi dua bagian. Satu untuk servis secara medis, makanan, minuman, dan yang lainnya servis untuk ME, bengkel, dan sebagainya.
Jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran dapat dicapai melalui area servis. Selanjutnya pencapaian ke gedung-gedung dapat dilakukan dengan memanfaatkan radius selang mobil pemadam yang dapat mencapai sisi bangunan yang paling jauh.
2.3. Sistem Sirkulasi Dalam Tapak
Sistem sirkulasi yang terjadi di dalam tapak adalah sistem sikulasi yang menuju ke bagian-bagian yang dituju, dengan sifat menyebar setelah memasuki hall. Penyebaran sirkulasi diatur berdasarkan zoning yang disesuaikan dengan fungsi-fungsi tiap ruang.
Sirkulasi pejalan kaki, dimana terdapat jalan-jalan setapak yang diberi perkerasan yang dapat dilalui sekitar 3 orang secara bersamaan. Pemanfaatan sirkulasi tersebut adalah sebagai akses menuju satu ruangan ke ruangan lain, dan peletakkannya disesuaikan juga dengan kountur. Adapun pemakaian tangga dan terjadinya split level banyak digunakan.
tangga
Gambar 2.7. Denah Sirkulasi Tapak
Daerah Putar
Gambar 2.8. Sirkulasi Tapak Gambar 2.9. Sirkulasi kendaraan dan servis
Sirkulasi mobil dan sepeda motor dirancang hanya untuk mencapai daerah-daerah entrance, sehingga berada di depan. Sirkulasi tersebut dirancang agar keseluruhan kendaraan dapat berputar kembali ke jalan tersebut. Sehingga tidak teijadi sirkulasi silang. Yang terpenting di dalam rumah sakit adalah adanya sirkulasi baik yang dapat memutar untuk menuju UGD dan menurunkan orang pada entrance utama, sehingga kendaraan dapat menjemput kembali pada entrance atau UGD.
Sirkulasi servis berada pada sisi-sisi luar tapak agar bangunan utama tidak melihat secara langsung dimana sirkulasi tersebut dapat dilalui dua buah mobil sebab merupakan sirkulasi untuk masuk dan keluar. Pada akhir jalan servis terdapat suatu jalan yang melingkar sehingga sirkulasi dapat terjadi dengan baik.
Parkiran antara mobil dan sepeda motor dibedakan dengan memberikan areal khusus untuk sepeda motor. Pada parkiran mobil terdapat dua areal parkir yang saling berhubungan, yakni menuju ke bangunan utama dan menuju ke entrance samping. Servis Area juga terdapat parkiran untuk keperluan servis sendiri.
Gambar 2.11. Sirkulasi Servis
Gambar 2.12. Sirkulasi Kendaraan Roda Dua
2.4. Laasekap
Perancangan lansekap dilakukan dengan pemikiran fungsi dan sebagai view secara sains. Selain pemanfaatannya, penataan lansekap disesuaikan dengan
bentukan massa dalam pandangan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian yang dilihat baik secara tampak maupun secara site plan.
Penataan vegetasi pada perancangan dipakai sebagai alat pembayangan terhadap sinar matahari, terutama matahari bagian barat, ataupun dapat sebagai penangkap atau penghambat angin. Selain itu pula vegetasi dapat juga digunakan sebagai salah satu pengarah sirkulasi menuju ke salah satu tujuan. Vegetasi juga ditata secara teratur pada daerah parkir yang menciptakan suasana pegunungan yang rindang dan pemandangan yang masih hijau.
Arah sinar matahari
Gambar 2.13. Penataan Vegetasi
Penataan titik-titik lampu lebih dirancang untuk pemenuhan daerah-daerah yang negatif pada waktu malam hari. Keserasian dengan peneahayaan bangunan juga diperhatikan dan disesuaikan. Penerangan diberikan terutama pada daerah
sirkulasi baik untuk pejalan kaki maupun kendaraan.
Keserasian pemakaian material untuk perkerasan diperhatikan dan disesuaikan dengan rumput dan vegetasi pada sekitar tapak. Suhu pegunungan yang baik akan memberikan pertumbuhan yang baik dan segar untuk vegetasinya sehingga wama dipilihkan secara baik.
Fungsi lain lansekap adalah sebagai salah satu tempat untuk beristirahat yang lebih ditujukan pada pasien, dengan memanfaatkan pula view pegunungan yang masih baik.