6. KONSEP DAN SKEMATIK DESAIN 6.1 Konsep Desain
Desain perancangan bandara Iskandar Pangkalanbun ini mengambil konsep DEPARTURE (DEsign Pangkalanbun AiRport culTURE) yang tertera dari konsepnya bahwa desain bandara selanjutnya akan lebih eco-friendly dan mencerminkan budaya khas Kalimantan.
Selain itu desainer percaya bahwa semua orang yang datang ke bandara memiliki tujuan akhir di suatu tempat sehingga orang memiliki suatu tujuan, yang berawal dari berangkat (Departure). Jadi berangkat / Departure adalah titik mula perjalanan seseorang yang tentunya memiliki cerita dan pengalamannya masing- masing, sehingga desainer ingin setiap perjalanan seseorang memiliki kesan yang tidak terlupakan dan dapat dibagikan bagi orang lain. Maka dari itu desainer berusaha memberikan konsep tersebut ke dalam bandara Iskandar Pangkalanbun ini, agar memiliki citra baru yang berkesan bagi pengguna nya.
Gambar 6. 1 Peta Konsep
6.1.1. Tema Perancangan
Karena bertema pada perancangan yang eco-friendly dan berbasis pada budaya Kalimantan, maka sebagian besar bandara akan menggunakan pencahayaan alami dari luar ruangan yang dimaksimalkan dengan bukaan yang tinggi dan mengcover hampir keseluruhan Bandar udara Iskandar ini. Selain pencahayaan yang banyak dari luar, bagian dalam ruangan ini akan dipenuhi dengan vegetasi alami dari tumbuhan indoor yang membuat penghawaan di dalam ruangan menjadi lebih segar dan penumpang yang jenuh dapat terbantu dengan melihat banyak tanaman hijau di dalam ruangan dan disetiap sudut pandang pengguna. Penggunaan ornament dan bentukan yang terinspirasi dari ukiran khas Kalimantan juga akan menjadi ornamen dalam ruang interior bandara ini nantinya. Berbasis akan kebudayaan Kalimantan untuk berisolasi membuat desainer membuat ruang sosialisasi yang banyak dan tersebar dalam masing- masing konsep ruangan.
6.1.2 Bentuk
Bentuk yang diambil didominasi dengan bentuk geometris, yaitu persegi, segitiga, dan lingkaran, serta dikombinasi dengan bentukan organik dari ukiran khas Kalimantan.
6.1.3 Warna
Warna-warna yang digunakan dalam perancangan ini diambil dari filosofi warna kebudayaan Kalimantan yang dimana kombinasi warna yang digunakan adalah merah, hijau, kuning, hitam dan putih. Warna ini kemudian dikombinasikan menjadi satu dalam setiap ruangan, sehingga membuat kesan Kalimantan yang ingin dihadirkan muncul dalam desain ruangannya.
6.1.4 Material
Material utama yang banyak digunakan adalah kayu, dengan finishing HPL, cat dan wallpaper. Kayu, selain menimbulkan kesan hangat dan nyaman, juga alur dan seratnya yang alami membuat kesan natural dan eco-friendly dalam ruangan menjadi lebih terasa.
6.1.5 Aplikasi dalam ruangan
Berdasarkan karakter serta konsep diatas, maka aplikasi desain dalam
a. Material : Bahan yang menimbulkan kesan natural b. Bentukan : Bersudut dan curvy di beberapa bagian
c. Suara : Ramai, karena ruang sosialisasi yang mendominasi d. Tekstur : Halus
e. Elemen Interior :
Lantai : Mengkilap (keramik) dan kasat (parket, karpet)
Plafon : Permainan lampu dan leveling pada ceiling
Dinding : Dominasi penggunaan kaca dan vegetasi tumbuhan
Kolom : Kuat dan dapat menahan benturan
Furnitur: Beberapa desain costumize dan standart bandara 6.1.6. PencahayaanDalam peracangan ini, bangunan memiliki banyak bukaan sehingga memiliki keuntungan untuk memperoleh pencahayaan matahari langsung. Untuk bagian yang sedikit mendapatkan cahaya, ditambahkan pencahayaan buatan dari lampu LED dengan sistem Downlight, yang penggunaanya disesuaikan dengan fungsi ruangan yang ada.
6.1.7 Penghawaan
Penghawaan buatan dalam ruangan, karena ruangan yang tertutupi full dengan kaca dan tembok membuat ruangan harus diisi dengan penghawaan buatan dari AC sentral yang di distribusi melalui lubang ac pada ceiling.
6.1.8 Sirkulasi
Sistem sirkulasi yang menyebar, tetapi dilengkapi dengan sistem sign yang jelas, sehingga pengguna tidak kesusahan mencari tempat yang dituju.
6.1.9 Green Impact
Desain interior yang memperhatikan pencahayaan dan penghawaan dalam ruangan dengan pemanfaatan energi seefisien mungkin, dengan memanfaatkan sistem pencahayaan alami yang mendominasi. Selain itu pemberian tumbuhan di dalam ruang memberikan efek sejuk dan segar, sehingga penggunaan AC dapat lebih diminimalkan. Untuk bagian arrival gate yang hanya digunakan sesekali dan durasi penggunaan cepat, penghawaan dan pencahayaannya dapat diminimilkan pada jam kosong/tidak terpakai.
6.1.10 Universal design
Perancangan universal desain yang juga dapat diiakses oleh pengguna yang disabilitas. Sehingga disetiap leveling lantai, diberikan juga ramp yang berfungsi bagi pengguna disabilitas untuk dapat merasakan ruang interior. Untuk toilet disediakan pula untuk pengguna kursi roda. Dan sirkulasi yang diberikan juga lebar, sehingga pengguna kursi roda dapat lebih leluasa dalam ruang interior.
6.2. Sketsa Konsep 6.2.1 Layout
Gambar 6. 2 Alternatif Layout pilihan
Pada rencana layout ini, sudah mulai terlihat penataan ruangan dan sirkulasi di dalam ruang. Belum adanya ruang untuk pengguna smoking room dan ruangan excecutive lounge yang terlalu kecil, yang kemudian dipindahkan menjadi lebih besar dengan view menghadap langsung ke landasan terbang andara Iskandar Pangkalanbun, menambah kesan private yang nyaman dan dapat dinikmati oleh penumpang yang telah membayar lebih. Selain itu area untuk
adanya fasilitas ini, kegiatan menunggu di bandara, tidak menjadi hal yang membosankan, tetapi malah menjadi sesuatu yang paling dinanti oleh para calon penumpang. Selain itu, adanya juga fasilitas peencarian data gratis lewat akses internet yang ada pada rancangan ini, membuat fasilitas di dalam ruang tunggu benar-benar dinamis dan menyenangkan, sekaligus menjadi sarana bagi para calon penumpang untuk dapat berinteraksi dan bersosialisasi.
Gambar 6. 3 Sketsa konsep perspektif ruang
Tidak banyak yang berubah pada konsep awal ini dengan pengaplikasian desain nantinya. Sehingga bebrapa inspirasi yang didapat dari sketsa desain ini nantinya akan disempurnakan lagi dalam gambar desain yang fix. Ada beberapa bentukan desain yang berubah, dan nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan harmonisasi desain.
Konsep budaya dari sketsa desain sudah jelas terlihat. Beberapa unsut ukiran dan bentukan dari benda kebudayaan juga sudah terlihat dalam proses sketsa ini. Karena sebenarnya unsur budaya dalam Bandar udara menjadi satu elemen penting yang selain merupakan nilai tambah dalam desain, juga dapat membuat image tentang budaya Kalimantan Tengah itu sendiri melekat pada pengalaman ruang pengunjung dan penumpang.
Gambar 6. 4 Skematik desain Main Entrance
Alternatif desain main entrance ini terinspirasi dari penggunaan tumbuhan yang dikolaborasi dengan pengaplikasian budaya di dalam ruang. Bagaimana modernisasi yang dikolaborasi dengan unsur budaya menjadi sebuah harmonisasi ruang yang menyatu. Ditambahkan pula teknologi LED Touch yang dapat digunakan oleh pengunjung yang datang, agar dapat mencari informasi seputar tentang KalimantanTengah, maupun daerah lainnya yang ingin dituju. Hal ini tidak lain adalah untuk memberikan gambaran kepada para calon penumpang dan para pengunjung lainnya tentang tempat yang mereka datangi, sekaligus menjadi salah satu fasilitas baru dalam bandara yang belum pernah diterapkan di bandara Iskandar, Pangkalanbun.
Gambar 6. 5 Skematik desain
Gambar 6. 6 Skematik desain waiting room dan excecutive lounge
Pengaplikasian budaya seperti halnya pada skematik desain dengan bentukan yang mirip pohon diatas, yang di Kalimantan disebut sebagai Batang Garing merupakan kolaborasi yang ingin disampaikan oleh desainer sebagai
bentuk budaya yang harus mengikuti kemajuan zaman. Batang Garing tersebut nantinya akan diletakkan di tengah-tengah ruang tunggu, dan merupakan tempat akses internet gratis yang dapat dirasakan oleh para penumpang, sebagai tujuan bahwa zaman sekarang orang tidak bisa lepas dari teknologi dan internet, dan membuat keberadaan pohon ini di tengah ruang tunggu menjadi salah satu sumber penunjang kebutuhan para pengunjung di era modern ini. Bagaimana bagian ini menjadi salah satu vocal point yang nantinya akan memberikan kesan tersendiri bagi para penumpang yang datang ke bandara ini.