• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Surakarta, 01 Juli 2015 STIKes Kusuma Husada Surakarta Ketua. Dra. Agnes Sri Harti, M.Si.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Surakarta, 01 Juli 2015 STIKes Kusuma Husada Surakarta Ketua. Dra. Agnes Sri Harti, M.Si."

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Dengan mengaucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa maka Jurnal Kesehatan Ku- suma Husada (Jurnal KesMaDaSka) STIKes Kusuma Husada Surakarta yang memuat publikasi ilmiah ilmu-ilmu kesehatan khususnya bidang Keperawatan dan Kebidanan telah selesai dicetak.

Perkembangan ilmu pengetahuan di lingkup kesehatan meliputi keperawatan, kebidanan maupun bidang kesehatan lainnya berupa informasi ilmiah melalui kajian kepustakaan maupun ulasan ilmiah berdasarkan hasil penelitian sangat diperlukan.

Berdasarkan hal tersebut maka STIKes Kusuma Husada Surakarta melalui Jurnal KesMaDaSka memberikan wadah bagi para Dosen ataupun Peneliti sesuai bidang kompetensinya untuk mempub- likasikan artikel ilmiahnya. Penerbitan Jurnal Ilmiah KesMaDaSka ini, diharapkan mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang kesehatan khususnya bidang keperawatan dan kebidanan serta kes- ehatan lainnya serta meningkatkan motivasi bagi para Dosen ataupun Peneliti.

Atas nama civitas akademika STIKes Kusuma Husada Surakarta, saya mengucapkan selamat atas terbitnya Jurnal Ilmiah Kesehatan Kusuma Husada Surakarta. Semoga Jurnal ini bermanfaat bagi kita semua.

Surakarta, 01 Juli 2015 STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ketua

Dra. Agnes Sri Harti, M.Si.

(2)

DAFTAR ISI

Atiek Murharyati, Joko Kismanto 119

STUDI EKSPLORASI PENGALAMAN MAHASISWA KEPERAWATAN MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN SEVEN JUMP DI PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA

Anissa Cindy Nurul Afni, Dyah Ekarini 124

KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii KETERKAITAN KEAKTIFAN MAHASISWA DALAM ORGANISASI DAN KECERDASAN

EMOSIONAL DENGAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA TINGKAT III PRODI D-IV KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA

Sunarto 67 PENGARUH SUDUT POSISI TIDUR TERHADAP KUALITAS TIDUR DAN STATUS

KARDIOVASKULER PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) DI RUANG ICVCU RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Dwi Sulistyowati 74 PENGHAMBATAN PRODUKSI EKSOPROTEASE DAN BIOFILM PADA Pseudomonas

aeruginosa OLEH EKSTRAK Apium graveolens L

Didik Wahyudi, Yusianti Silviani 81 METODE REDUKSI TAHU BERFORMALIN MENGGUNAKAN VARIASI KONSENTRASI AIR GARAM YANG DITAMBAHKAN DENGAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) Tri Harningsih 1), Indah Tri Susilowati 89 PENAMBAHAN BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP KUALITAS VIRGIN COCONUT OIL (VCO) SEBAGAI MINYAK GORENG

Indah Tri Susilowati; Tri Harningsih 96 PERBANDINGAN EFEKTIVITAS LENDIR BEKICOT(Achatina fulica) DENGAN KITOSAN TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA

S.Dwi Sulisetyowati; Meri Oktariani 104 PENGARUH RELAKSASI PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI STAGE 1 DI PUSKESMAS GONDANGREJO KARANGANYAR Alfyana Nadya Rachmawati, Diyah Ekarini 111 PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PENGIKAT TALI PUSAT BAYI BARU LAHIR TERHADAP LAMA PELEPASAN TALI PUSAT

Anis Nurhidayati, Ernawati 115 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRESS KERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RSUD SUKOHARJO

(3)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

iii HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN KERJA DAN KESADARAN INDIVIDU DENGAN PENERAPAN PATIENT SAFETY DI RSUD KABUPATEN SUKOHARJO

Meri Oktariani, Atiek Murharyati 132

PEDOMAN PENULISAN NASKAH 137

-oo0oo-

(4)
(5)

67

KETERKAITAN KEAKTIFAN MAHASISWA DALAM ORGANISASI DAN KECERDASAN EMOSIONAL

DENGAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA TINGKAT III PRODI D-IV KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA

Sunarto

1)

1 Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta [email protected]

ABSTRAK

Keseimbangan dari beberapa komponen yang dimiliki mahasiwa baik IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient), AQ ( Adversity Quotient ), SQ ( Spiritual Quotient ) berperanan sangat penting dalam sesuatu kesuksesan dalam belajar karena hal tersebut berkaitan dengan motivasi setiap individu.

Pembentukan karakter mahasiswa salah satunya melalui berorganisasi. Dalam suatu organisasi diharapkan mahasiswa mampu bersosialisasi, saling membantu, dan bertukar pendapat sebagai poin penting yang dapat memotivasi mahasiswa untuk belajar. Tujuan penelitian untuk mengetahui keterkaitan keaktifan mahasiswa dalam organisasi dan kecerdasan emosional dengan motivasi belajar mahasiswa tingkat III Prodi D-IV Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode corelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 54 mahasiswa Prodi D-IV Keperawatan tingkat III Jurusan Keperawatan Poltekkes Surakarta.

Penentuan responden penelitian berdasarkan simple random sampling. Uji statistik menggunakan uji linier ganda. Hasil penelitian menunjukkan adanya kontribusi dari variabel keaktifan mahasiswa dalam organisasi dengan motivasi belajar sebesar 0,5% dengan tanda parameter positif pada angka 0,500. Hasil t-hitung variabel keaktifan mahasiswa dalam organisasi sebesar 6,387 > nilai t tabel dengan tingkat kepercayaan 95% yaitu 4,303 artinya ada kontribusi positif dan signifikan keaktifan mahasiswa dalam organisasi terhadap motivasi belajar. Perhitungan regresi variabel kecerdasan emosional yaitu 0,500%.

Hasil t-hitung variabel kecerdasan emosional sebesar 6,984 > nilai t tabel dengan tingkat kepercayaan 95% yaitu 4,303 sehingga ada kontribusi positif dan signifikan kecerdasan emosional terhadap motivasi belajar. Simpulan penelitian adalah secara simultan variabel keaktifan mahasiswa dalam organisasi dan kecerdasan emosional berkaitan dengan motivasi belajar pada mahasiswa tingkat III Prodi D-IV Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta.

Kata kunci: keaktifan mahasiswa berorganisasi, kecerdasan emosional, motivasi belajar

ABSTRACT

The balance of several components held good students IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient), AQ (Adversity Quotient), SQ (Spiritual Quotient) very important role in the success in learning something because it is related to the motivation of each individual. Character formation of students one of them through the organization. In an organization, students are expected to be able to socialize, help each other, and exchanged opinions as important points that can motivate students to learn. The aim of research to determine the activity of students in the organization’s relevance and emotional intelligence in students’ motivation at third level Diploma IV Study program of Nursing Health Polytechnic Surakarta. This research is a quantitative research methods corelasional with

(6)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

cross sectional approach. The sample was 54 students Diploma IV Study program of Nursing Health Polytechnic Surakarta. Determination of survey respondents on the terms of simple random sampling.

Statistical test using multiple linear test. The results showed the contribution of variable activeness of students in the organization with motivation to learn by 0.5% with positive parameters in the figures mark of 0.500. T-test results of students in the organization of the activity variables of 6.387> t table value with a confidence level of 95% as 4.303; there are positive and significant contribution in the organization of the activity of student motivation to learn. Calculation of regression variables emotional intelligence that is 0.5%. Results of t-test of emotional intelligence variable 6.984> t table value with a confidence level of 95% which is 4.303 so that there is a significant and positive contribution of emotional intelligence to motivate learning. The conclusions of the study is simultaneously variable student liveliness and emotional intelligence in organizations related to student motivation to learn at third level students Diploma IV Study program of Nursing Health Polytechnic Surakarta

Keywords: liveliness student organization, emotional intelligence, motivation to learn

1. PENDAHULUAN

Mahasiswa adalah sebagian kecil dari ge- nerasi muda Indonesia yang mendapat ke- sempatan untuk mengasah kemampuannya di Perguruan Tinggi. Tentunya sangat diharapkan mendapat manfaat yang sebesar - besarnya dalam pendidikan agar kelak mampu menyumbangkan kemampuannya untuk memperbaiki kualitas hidup bangsa Indonesia yang saat ini belum pulih sepenuhnya dari krisis yang dialami pada akhir abad ke 20 (Salim dan Sukadji, 2006).

Kedewasaan berpikir mahasiswa akan se- makin tumbuh seiring aktifnya berorganisasi di kampus. Pengalaman berorganisasi di kampus akan sedikit banyak membantu mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti (Mau- lawiyah, 2011).

Goleman menyatakan bahwa kecerdasan emosional bertumpu pada keterkaitan an- tara perasan, watak, dan naluri moral. Kecer- dasan emosional merupakan kesanggupan un- tuk mengendalikan dorongan emosi, membaca perasan terdalam orang lain, memelihara keter- kaitan dengan sebaik-baiknya. Kecerdasan emosional berperan besar dalam suatu tindakan termasuk dalam pengambilan keputusan secara rasional (Syahraini, 2007).

Namun dalam kenyataannya keaktifan ma- hasiswa dalam berorganisasi dan kecerdasan emosioanal tidak selau beriringan dengan moti- vasi belajar mahasiswa. Hal ini sering dapat di- amati ketika mahasiswa sedang melakukan pem- belajaran di kelas maupun di klinik, yang bisa

ditandai dengan perilaku kelesuan dan ketidak- berdayaan yaitu penghindaran atau pelarian diri;

pertentangan dan kompensasi (Syaodih dalam Ridwan, 2006).

Tujuan penelitian untuk mengetahui keter- kaitan keaktifan mahasiswa dalam organisasi dan kecerdasan emosional dengan motivasi belajar mahasiswa tingkat III D-IV Keperawatan Poli- teknik Kesehatan Surakarta.

2. PELAKSANAAN

a. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Jurusan Ke- perawatan Politeknik Kesehatan Surakarta pada bulan Juli sampai dengan bulan Oktober 2013.

b. Populasi dan sampel penelitian

Populasi pada penelitian ini yaitu mahasiswa program studi Keperawatan tingkat III D-IV Keperawatan yang mengikuti organisasi di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Korps Suka Rela (KSR) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di Politeknik Kesehatan Surakarta. Sedangkan teknik pengambilan subyek dalam penelitian ini dengan meng- gunakan simple random sampling.

Jumlah sampel 54 orang.

3. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kuan- titatif dengan metode corelasional dengan pendekatan cross sectional.

68

(7)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

Analisis Data

Uji dimulai dengan uji regresi linier sederhana dan dilanjutkan dengan uji linier ganda. Pada uji regresi linier sederhana hanya ada satu variabel independen dihubungkan dengan satu variabel dependen.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran umum responden didapatkan data bahwa mayoritas responden adalah perem- puan yaitu sejumlah 39 orang (72.2%), Sedang- kan responden berjenis kelamin laki-laki adalah 15 orang (27.8%) sebagaimana tercantum dalam tabel 1.

Mayoritas responden berumur 21 tahun yaitu sejumlah 40 orang (74.1%). Responden umur 22 tahun sejumlah 8 orang (14.8%). Sedangkan responden umur 20 tahun sejumlah 6 orang (11.1%) sebagaimana tercantum dalam tabel 2.

Pada tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kecerdasan emosional dalam kategori tinggi sejumlah 44 orang (81,5%). Responden dengan kategori kecerdasan emosional sedang sejumlah 10 orang (18,5%).

Tidak terdapat responden kecerdasan emosional kategori rendah.

Pada tabel 5 menunjukkan bahwa responden dengan motivasi belajar kategori tinggi sejumlah 45 orang (83,3%). Responden dengan kategori sedang dalam motivasi belajar sejumlah 9 orang (16.7%). Tidak terdapat responden dengan kategori rendah

Penelitian ini mengukur keterkaitan kedua variabel bebas (independen) yaitu keaktifan mahasiswa (X ) dan kecerdasan emosional (X ) 1 2

Pada tabel 3 menunjukkan keaktifan mahasiswa dalam organisasi dengan kategori tinggi yaitu sejumlah 46 orang (85,2%). Keaktifan kategori sedang sejumlah 8 orang (14,8%). Tidak terdapat responden dengan keaktifan kategori rendah.

dengan motivasi belajar (Y). Hasil perhitungan regresi menunjukkan adanya kontribusi dari variabel keaktifan mahasiswa dengan motivasi belajar yaitu sebesar 0,5 %. Tanda parameter positif pada angka 0,5 dapat dimaknakan bahwa ada kontribusi positif variabel keaktifan maha- siswa dengan motivasi belajar. Variabel kecer- dasan emosional juga berkontribusi positif den- gan motivasi belajar. Hal ini ditunjukkan dengan perhitungan regresi yaitu 0,500%. Pada tabel 6 menunjukkan hasil analisis regresi.

Keaktifan mahasiswa yang kurang dapat memberikan gambaran yang tersirat akan suatu keadaan seseorang, dalam hal ini adalah motivasi belajar. Proses yang terjadi di dalam organisasi

69

(8)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

mendukung perkembangan kecerdasan emosi seseorang. Dalam organisasi, mahasiswa dapat belajar berkomunikasi dengan orang lain de- ngan baik. Proses inilah yang mendukung terben- tuknya suatu empati dari tiap mahasiswa, sehing- ga empati terhadap apa yang dirasakan orang lain meningkat. Kepekaan terhadap emosi orang lain ini yang mendorong seseorang untuk mengasihi sepenuh hati dan berusaha menolongnya (Craig, 2004).

Hasil perhitungan regresi pada tabel di atas menunjukkan adanya kontribusi dari variabel ke- aktifan mahasiswa dengan motivasi belajar yaitu sebesar 0,5 %. Tanda parameter positif pada ang- ka 0,500 dapat dimaknakan bahwa ada kontribusi positif variabel keaktifan mahasiswa dengan mo- tivasi belajar. Hasil t-hitung variabel keaktifan mahasiswa sebesar 6,387 > nilai t tabel dengan tingkat kepercayaan 95% yaitu 4,303 sehingga dapat diartikan bahwa ada kontribusi positif dan signifikan keaktifan mahasiswa terhadap moti- vasi belajar.

Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rubin, dkk, (2002), partisi- pasi mahasiswa dalam kegiatan organisasi atau ektrakurikuler akan mempunyai kemampuan intrapersonal yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak terlibat dalam kegiatan or- ganisasi. Penelitian lain yang mendukung adalah dilakukan oleh Ali, dkk (2009) menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang positif antara aktif dalam organisasi dengan pencapaian presta- si belajar.

Dengan kecerdasan emosional, individu mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu mem-

baca dan menghadapi perasaan-perasaan orang lain dengan efektif. Individu dengan keterampil- an emosional yang berkembang baik berarti ke- mungkinan besar ia akan berhasil dalam kehidup- an dan memiliki motivasi untuk berprestasi dengan meningkatnya motivasi belajar. Sedang- kan individu yang tidak dapat menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugas- nya dan memiliki pikiran yang jernih. Individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, ja- rang tertular penyakit, lebih terampil dalam me- musatkan perhatian, lebih baik dalam keterkaitan dengan orang lain, lebih cakap dalam memahami orang lain dan untuk kerja akademis di sekolah lebih baik (Gottman, 2001).

Keterampilan dasar emosional tidak dapat dimiliki secara tiba-tiba, tetapi membutuhkan proses dalam mempelajarinya dan lingkungan yang membentuk kecerdasan emosional tersebut besar pengaruhnya. Hal positif akan diperoleh bila anak diajarkan keterampilan dasar kecerdasan emosional, secara emosional akan lebih cerdas, penuh pengertian, mudah menerima perasaan dan lebih banyak pengalaman dalam memecahkan permasalahannya sendiri, sehingga pada saat remaja akan lebih banyak sukses di sekolah dan dalam keterkaitan dengan rekan-rekan sebaya serta akan terlindung dari resiko-resiko seperti obat-obat terlarang, kenakalan, kekerasan serta seks yang tidak aman (Gottman, 2001). Orang yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi akan mampu memotivasi dirinya untuk mencapai tujuan dan sanggup menunda kenik- matan. Di dalam organisasi, mahasiswa belajar untuk mengevaluasi diri agar dapat termotivasi untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan (Craig, 2004).

Pengambilan keputusan yang tepat saat rapat organisasi sangat memerlukan kesadaran diri yang baik. Keputusan yang diambil tidak hanya membutuhkan rasionalitas saja, tetapi membutuhkan suara hati serta kebijaksanaan emosional yang terangkum dari pengalaman- pengalaman masa lampau (Goleman, 2007).

70

(9)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

Hasil t-hitung variabel keaktifan mahasiswa sebesar 6,387 > nilai t tabel dengan tingkat keper- cayaan 95% yaitu 4,303 sehingga dapat diartikan bahwa ada kontribusi positif dan signifikan keak- tifan mahasiswa terhadap motivasi belajar.

Hasil t-hitung variabel kecerdasan emosion- al sebesar 6,984 > nilai t tabel dengan tingkat ke- percayaan 95% yaitu 4,303 sehingga dapat diar- tikan bahwa ada kontribusi positif dan signifikan kecerdasan emosional terhadap motivasi belajar.

Hasil regresi total (variabel keaktifan ma- hasiswa dan kecerdasan emosional) menunjuk- kan nilai R2 sebesar 0,933 artinya sebesar 93,3%

variabel keaktifan mahasiswa dan kecerdasan emosional berkaitan dengan motivasi belajar. Si- sanya sebesar 0,067 atau 6,7% diterangkan oleh variabel lain di luar model yang digunakan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa varia- bel kecerdasan emosional juga berkontribusi positif dengan motivasi belajar. Hal ini ditunjuk- kan dengan perhitungan regresi yaitu 0,500%.

Hasil t-hitung variabel kecerdasan emosional sebesar 6,984 > nilai t tabel dengan tingkat ke- percayaan 95% yaitu 4,303 sehingga dapat diar- tikan bahwa ada kontribusi positif dan signifikan kecerdasan emosional terhadap motivasi belajar.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil peneli- tian Amalia (2004) yang menemukan bahwa ter- dapat keterkaitan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar. Selain itu, hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Anggun (2010) yang menemukan adanya pengaruh kecerdasan emosional terhadap pemahaman akutansi. Ke- aktifan mahasiswa dalam organisasi yang tinggi didukung dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan mempunyai dampak yang positif ter- hadap situasi belajar, khususnya motivasi ini ter- bukti pada penelitian ini.

Pengujian secara simultan dilakukan oleh uji F-statistik. Pengujian ini menunjukkan angka sebesar 357,00 lebih besar dari batas kritis (F ta- bel) yang mensyaratkan batas kritis F tabel sebe- sar 19,00. Jika dibandingkan maka F hitung > F tabel. Hasil penelitian sejalan dengan hasil pene- litian Helmi Barliansyach (2010) bahwa keaktifan berorganisasi dalam Organisasi Kemahasiswaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

prestasi belajar mahasiswa. Dengan demikian se- cara simultan variabel keaktifan mahasiswa dan kecerdasan emosional berkaitan dengan motivasi belajar pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta.

5. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian terhadap 54 responden maka a. Ada keterkaitan antara keaktifan mahasiswa

dengan motivasi belajar pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta

b. Ada keterkaitan antara kecerdasan emosi- onal dengan motivasi belajar pada maha- siswa jurusan Keperawatan Politeknik Ke- sehatan Surakarta

c. Ada keterkaitan antara keaktifan mahasiswa dan kecerdasan emosional dengan moti- vasi belajar pada mahasiswa jurusan Ke- perawatan Politeknik Kesehatan Surakarta.

SARAN

Jurusan Keperawatan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai rujukan untuk memperhati- kan motivasi belajar mahasiswa dengan memper- hatikan keaktifan mahasiswa dalam organisasi dan kecerdasan emosional

6. REFERENSI

Abraham, Charles & Eamon Shanley. 2003. Alih bahasa Leony Sally M. Editor: Robert Pri- hajo & Yasmin Asih. Psikologi Sosial untuk Perawat. Jakarta: EGC

Amy.2010.Organisasi Kemahasiswaan. http://

amy 09320017 .student. umm. ac.id/. Diak- ses tanggal 28 Juli 2013.

Anand.2010. Emotional Intelligence and Its Re- lationship with Leadership Practices. Inter- national Journal of Bussines and Manage- ment Vol.5 No.2.http: // journal. ccsenet.

Org /index. Php / ijbm /article /download / 4359/4190. Diakses tanggal: 28 Juli 2013 Asrori, A. 2009. Keterkaitan Kecerdasan Emosi

dan Interaksi Teman Sebaya dengan Penye- suaian Sosial pada Siswa Kelas VII Pro- gram Akselerasi di SMP Negeri 9 Surakarta.

Skripsi. Fakultas Kedokteran UNS.

71

(10)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

Aziz, Sunyoto, dan Widodo. 2008. Korelasi antara Keaktifan dalam Organisasi Kema- hasiswaan dengan Prestasi Belajar. Jurnal Pendidikan Teknik Mesin Vol. 8 No. 1.http://

journal.unnes.ac.id/index.php/ JPTM article/

view/1168. Diakses tanggal: 28 Juli 2013.

Azwar, S. 2009. Penyusunan Skala Psikologi.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Barliansyach, Helmi. 2010. Pengaruh Keaktifan Berorganisasi dalam Organisasi

Ekstrakurikuler Kemahasiswaan dan Mo- tivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangu- nan Periode 2009/2010. Universitas Negeri Malang. Skripsi

Chamidah, N. 2007. Pengaruh Keaktifan Siswa dalam Organisasi (Ekstrakuri-kuler) Seko- lah dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas II di SMAN I Puloku- lon Purwodadi Grobogan Tahun Ajaran 2006/2007. Skripsi. UNS: FKIP

Cooper dan Sawaf. 2000. Kecerdasan Emosi dalam Kepemimpinan dan Organisasi. Ja- karta: Gramedia Putra.

Craig, J.A. 2004. Bukan Seberapa Cerdas Diri Anda tetapi Bagaimana Anda Cerdas. (Ter- jemahan: Arvin Saputra). Batam: Interak- sara.

Daulay, M.S. 2010. Pedoman Praktis Manaje- men Organisasi Kemahasiswaan. Yogyakar- ta: STMIK AMIKOM.

Dukarno, R. Jati Diri Baru Mahasiswa. http://

ndarusih.blogspot.com. Diakses tanggal 28 Juli 2013.

Gibson, Ivancevich, dan Donnelly. 1995. Organ- isasi jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Goleman. 2007. Kecerdasan Emosional, Men- gapa EI Lebih Penting daripada IQ.

(Terjemahan: T. Hermaya). Jakarta: PT. Grame- dia Pustaka Utama.

Hasibuan, M. 2005. Organisasi dan Motivasi. Ja- karta: Bumi Aksara.

Kumalasari, Meilina Fitri 2010. Perbedaan Prestasi Belajar Mahasiswa D4 Kebidanan Tingkat III, DIV Kebidanan UNS Berdasar-

kan Tingkat Aktivitas dalam Organisasi Ekstrakurikuler. FK UNS. Karya Tulis Il- miah

Marantika, Inun. 2007. Pengaruh Keaktifan Organisasi Ekstrakurikuler dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Maha- siswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Skripsi. Universitas Negeri Malang.

Martin, A.D. 2003. Emotional Quality Manage- ment. Jakarta: Arga.

Maulawiyah.2011. Organisasi Sebagai Wa- dah Aktualisasi Pendidikan Mahasiswa Masa Kini. http://maulawiyah. blogspot.

com/2011/12/organisasi-sebagai-wadah-ak- tualisasi.html. Diakses tanggal: 28 Juli 2013.

Nurdiana, Dewi. 2007. Keterkaitan antara Pen- getahuan dan Motivasi Kader

Posyandu dengan Keaktifan Kader Posyandu di Desa Dukuh Tengah Kecamatan Ketang- gungan Kebupaten Brebes. Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan UMS. Skripsi Nursalam.2003. Konsep Dan Penerapan Met-

odologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Ja- karta: Salemba Medika

Senjana.2012. Pengaruh Partisipasi Maha- siswa dalam Organisasi Kemahasiswa-an terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Ju- rusan Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI.

Skripsi

Sinta, Ari. 2009. Perbedaan Kecerdasan Emo- sional pada Remaja Pengurus OSIS dengan Remaja Anggota OSIS. Fakultas Psikologi USU. Skripsi

Sriati, Aat. 2008. Adversity Quotient (AQ).

Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD. Skrip- si.

Stein, S. J. dan Book, H. E. 2002. Ledakan EQ:

15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses. Bandung: Kaifa.

Sugiono.2010. Metode Penelitian Pendidikan.

Bandung: Alfabeta

Sugiono.2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidi- kan Nasional

Suryabrata. 2005. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi.

72

(11)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Syahraini, Karyono, dan Rohmatun. “Kecerdasan Emosional dan Kecemasan

Pramenopause pada Wanita di RW IV dan XI Kelurahan Gerbang Sari Semarang”. Jurnal Psikologi Proyeksi.Unissula. Vol 2 no 1.

Syaiful, Fuad, dan Rahman. 2010. The USM Emotional Quotient Inventory (USMEQi) Manual.http://www.medic.usm.my/dme/

images/stories/staff/KKMED/ 2010 /manua l%20usmeq-i.pdf. Diakses tanggal: 11 agus- tus 2013.

Thoha, M. 2007. Perilaku Organisasi, Konsep Dasar, dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

-oo0oo-

73

(12)

PENGARUH SUDUT POSISI TIDUR

TERHADAP KUALITAS TIDUR DAN STATUS KARDIOVASKULER PADA PASIEN INFARK

MIOKARD AKUT (IMA) DI RUANG ICVCU RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Dwi Sulistyowati

1)

1Jurusan Keperawatan Program D-IV Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta

ABSTRAK

Pasien IMA umumnya akan mengalami penurunan kualitas tidur dan status kardiovaskuler. Kualitas tidur yang buruk mengakibatkan proses perbaikan kondisi pasien akan semakin lama, sehingga akan memperpanjang masa perawatan di rumah sakit. Salah satu cara untuk mengurangi akibat yang ditimbulkan yaitu pentingnya pengaturan sudut posisi tidur yang paling efektif bagi pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh sudut posisi tidur terhadap kualitas tidur dan status kardiovaskuler pasien IMA di Ruang ICVCU RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimental Design dengan rancangan Static Group Comparison. Subyek penelitian ini adalah pasien IMA yang dirawat pada hari pertama di ruang ICVCU RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian ini menggunakan uji T Independen. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh antara sudut posisi tidur terhadap kualitas tidur pasien IMA dengan nilai p = 0,023. Namun, tidak ada pengaruh antara sudut posisi tidur terhadap 3 parameter status kardiovaskuler. psistole = 0,583, p diastole 0,563, p HR = 0,895 dan nilai p RR = 0,858 (p > 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi pengaturan sudut posisi tidur 30°dapat menghasilkan kualitas tidur yang baik, sehingga bisa dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur pasien.

Kata kunci: IMA, sudut posisi tidur, kualitas tidur, status kardiovaskuler.

ABSTRACT

The patient with AMI usually will experience decrease of sleep quality and cardiovascular status. Bad sleep quality result process in improvement of patient’s condition longer, so that it will extend the period of hospitalization. One way to decrease the impact that is appeared is the importance of the arrangement in the sleep position angle that is the most effective for the patients. The purpose of this research is to know the effect of the sleep position angle to the sleep quality and cardiovascular status in patients with AMI in ICVCU Dr. Moewardi hospital of Surakarta. The kind of this research is a Quasi Experimental Design with Static Group Comparison. The subject of this research are patients with AMI who treated on the first day in ICVCU Dr. Moewardi hospital of Surakarta. This research uses an Independent T test. The research result showed that there was the influence of the sleep posisition angle to the sleep quality of AMI patients with the value of p = 0.023. But, there was no influence of the sleep position angle to three parameters of cardiovascular status. The value of systole p = 0.583, the value of diastole p = 0.563, the value of HR p = 0.895, and the value of RR p = 0.858 (p > 0.05). Based on the analysis result could be concluded that the intervention of the sleep position angle with 30° could produce the good quality sleep, so that it could be considered as one of the intervention to meet the need of patient rest and sleep.

Keyword: AMI, sleep position angle, the sleep quality, status cardiovascular

(13)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

1. PENDAHULUAN

Infark Miokard Akut (IMA) mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang. Penyebab penurunan suplai darah mungkin akibat penyempitan kritis arteri koroner karena aterosklerosis atau penyumbatan total arteri oleh emboli atau thrombus. Penyakit IMA menimbulkan gejala klinis yang dirasakan pasien, beberapa diantaranya dyspnea (sesak nafas), ortopnea, pucat, keringat dingin, pusing, mual muntah dan gejala yang paling sering di- jumpai adalah

nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda seperti ditusuk- tusuk, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen bagian atas, menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri) hingga ke arah rahang dan leher. Munculnya ber- bagai gejala klinis pada pasien IMA tersebut akan menimbulkan masalah keperawatan dan meng- ganggu kebutuhan dasar manusia, salah satu diantaranya adalah kebutuhan istirahat seperti adanya nyeri dada pada aktivitas, dyspnea pada istirahat dan aktivitas, letargi dan gangguan tidur (Smeltzer and Bare, 2001).

Berdasarkan laporan World Health Statistic 2012, tercatat 17,8 juta orang meninggal di dunia akibat penyakit jantung dan diperkirakan angka ini akan meningkat terus hingga 2030 menjadi 23,4 juta kematian di dunia. Penyakit kardio- vaskuler saat ini menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian di Indonesia. Ber- dasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012, prosentase penderita IMA dengan usia di bawah 40 tahun adalah 2-8 % dari seluruh penderita dan sekitar 10 % pada penderita dengan usia di bawah 46 tahun. Sensus kesehatan nasional tahun 2010 menunjukkan bahwa kema- tian karena penyakit kardiovaskular termasuk IMAadalah sebesar 26,4%. Care Fatality Rate (CFR) tertinggi terjadi pada IMA (13,49%) dan kemudian diikuti gagal jantung (13,42%) dan penyakit jantung lainnya (13,37%) (Badan Pene- litian dan Pengembangan Kesehatan, 2013).Di unit perawatan intensif, pasien IMA pada umum- nya akan mengalami gangguan tidur. Penyebab gangguan tidur itu dikarenakan oleh nyeri, sesak

nafas, lingkungan unit perawatan intensif, stress psikologis dan efek dari berbagai obat dan per- awatan yang diberikan pada pasien kritis terse- but. Oleh karena itu aktivitas intervensi keper- awatan yang dilakukan antara lain menempatkan posisi tidur yang nyaman, memonitor status ok- sigen sebelum dan sesudah perubahan posisi, po- sisikan untuk mengurangi dyspnea seperti posisi semi fowler.

Di dalam standar asuhan keperawatan pasien IMA RSUD Dr. Moewardi Surakarta khususnya di Ruang ICVCU, bahwa pengaturan sudut posisi tidur belum spesifik dijelaskan.Inter- vensi keperawatan yang tercantum, ternyata ma- sih banyak terdapat perbedaan pendapat dalam hal memberikan intervensi sudut posisi tidur pada pasien IMA. Dimana ada yang menyatakan bahwa pasien dengan nyeri dan sesak nafas yang penting diberikan posisi tidur dengan duduk mi- ring senyaman pasien, ada mengatakan posisi tidur yang biasa diberikan adalah posisi semi- fowler saja tanpa memperhatikan besaran sudut kemiringan pada tempat tidurnya. Berdasarkan pengamatan selama studi pendahuluan di Ruang ICVCU, sebagian besar pasien IMA banyak di- posisikan dalam keadaan sudut posisi tidur 30°

daripada sudut posisi tidur 45°.Tindakan inter- vensi itu dilakukan tanpa mengetahui efektifitas diantara dua sudut tersebut. Keefektifan antara dua sudut itu seharusnya sangat perlu untuk di- perhatikan, mengingat nyeri dan sesak nafas pada malam hari sangat mempengaruhi kebutuhan isti- rahat dan tidur pasien serta proses penyembuhan.

3. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperi- mental Design dengan rancangan Static Group Comparison. Quasi experiments merupakan penelitian untuk megetahui hubungan antara in- tervensi dan efeknya pada variabel dependen dan independen (Nursalam, 2008). Static Group Comparison adalah penelitian yang bertujuan untuk menentukan pengaruh dari suatu tindakan pada kelompok subjek yang mendapat perlakuan berbeda (Nursalam, 2008).Penelitian ini mem- berikan perlakuan pada setiap kelompok inter- vensi yang selanjutnya dilakukan elevasi terha- dap hasil intervensi.

75

(14)

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

Laki-laki 20 55,6

Kelompok Umur Frekuensi Persentase

18-40 tahun 6 16,7

41-65 tahun 16 44,4

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik responden a. Jenis Kelamin

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis Kelamin.

Perempuan 16 44,4 Total 36 100

Tabel 1 menggambarkan distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 20 responden (55,6%) dan perempuan 16 responden (44,4%).

Berdasarkan hasil penelitian, dari 36 respon- den menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih dominan mengalami IMA dibandingkan wanita. Dibuktikan distribusi frekuensi jumlah responden laki-laki mendominasi dengan jum- lah responden sebanyak 20 responden (55,6%).

Penelitian yang mendukung dari penelitian ini di- lakukan oleh Melanie (2012) dengan hasil bahwa sebagian besar responden adalah laki-laki dengan prosentase 56,7%. Hal ini diperkuat dengan per- nyataan dari Muttaqin (2009) yang menunjukkan bahwa laki-laki memiliki resiko 2-3 kali lebih be- sar mengalami penyakit jantung koroner daripa- da wanita sebelum menopause. Laki-laki banyak menderita penyakit IMA daripada perempuan dikarenakan pengaruh gaya hidup yang tidak sehat seperti minum minuman keras, kebiasaan merokok yang mengakibatkan aterosklerosis di- dominasi oleh laki-laki, sehingga menjadikan nyeri dada yang hebat dan meningkatkan kebu- tuhan oksigen.Dalam penelitian ini wanita tidak terlihat mendominasi, dibuktikan dengan hasil distribusi frekuensi hanya 16 responden (44,4%) saja yang menderita penyakit IMA. Ini sejalan dengan hasil penelitian yang disampaikan oleh Melanie (2012), memang wanita tidak mendo- minasi, hanya 43,3% saja wanita yang menderita penyakit jantung koroner. Hasil ini diperkuat teo- ri Smeltzer dan Bare (2001) bahwa wanita ter- lindungi oleh hormon estrogen yang mencegah kerusakan pembuluh darah yang berkembang

menjadi proses aterosklerosis, yang merupakan penyebab utama dari penyakit IMA. Meskipun begitu, apabila wanita sudah menginjak usia lan- sia dan sudah kehilangan hormon estrogen maka resiko terjadinya aterosklerosis akan menjadi sama resikonya dengan laki-laki. Selain itu, teori ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Meana & Lieberman (2009) yang menyebutkan wanita lebih peduli dibandingkan laki-laki ten- tang efek penyakit, program terapi dan kondisi kesehatannya.

b. Umur

Tabel 2 menggambarkan umur 18-40 tahun sebesar 6 responden (16,7%), 41-65 tahun (44,4%) dan >66 tahun sebanyak 14 responden (38,9%).

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Kelompok Umur

>66 tahun 14 38,9 Total 36 100

Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa responden didominasi oleh kelompok umur de- wasa tua dengan rentang usia 41-65 tahun yang berjumlah 16 responden (44,4%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Merta (2010), yang menunjukkan bahwa sebagian be- sar pasien yang menderita penyakit IMA berumur diatas 50 tahun. Hal tersebut diperkuat dengan teori dari Muttaqin (2009) bahwa penyakit IMA 45% terjadi pada usia 45 tahun keatas dan kurang dari 10% terjadi pada usia <40 tahun. Menurut Morton (2011) penyakit ini lebih banyak terjadi pada usia diatas 50 tahun, dikarenakan pengaruh oleh gaya hidup yang tidak sehat seperti stress, obesitas, merokok dan kurangnya aktivitas fisik.

Selain gaya hidup, IMA juga dapat dipengaruhi oleh hormon seks, pil pengontrol kelahiran dan asupan alkohol berlebihan.

Pengaruh sudut posisi tidur terhadap kuali- tas tidur pada pasien Infark Miokard Akut (IMA).

76

(15)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

Tabel 3. Karakteristik Kualitas Tidur Responden Kualitas Tidur Frekuensi Persentase Baik 24 66,7 Buruk 10 27,8 Sangat Buruk 2 5,6 Total 36 100 Tabel 3 menggambarkansebagian besar respon- den memiliki kualitas tidur baik, dengan jumlah 24 responden (66,7%), 10 responden (27,8%) dengan kualitas tidur buruk dan 2 responden (5,6%) dengan kualitas tidur sangat buruk.

Berdasarkan perhitungan statistik peneli-

tersebut juga didukung oleh teori dari Smeltzer dan Bare (2001) yang menyatakan bahwa posisi kepala yang lebih tinggi sekitar 30° akan men- guntungkan berdasarkan alasan berikut: volume tidal dapat diperbaiki karena tekanan isi perut ter- hadap diafragma berkurang, drainase lobus atas paru lebih baik dan aliran balik vena ke jantung berkurang, sehingga mengurangi kerja jantung.

Pengaruh sudut posisi tidur terhadap status kardiovaskuler (respirasi, nadi dan tekanan darah) pada pasien Infark Miokard Akut (IMA).

Tabel 4.4 Karakteristik Status Kardiovaskuler tian menunjukkan terdapat perbedaan rerata skor

kualitas tidur yang bermakna antara dua inter- vensi posisi tidur baik pada sudut 30° dan 45°.

Status Kardiovaskuler Posisi Tidur 30° 45°

Pasien IMA dengan sudut 30° memiliki kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan sudut posisi tidur 45°. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Melanie (2012) yang menunjuk-

Tekanan Sistolik (mmHg)

Tekanan Diastolik (mmHg)

123,8 121,6

76,2 78,0

kan bahwa sudut posisi tidur 30° menghasilkan kualitas tidur yang baik dibandingkan sudut 45°

dalam penyakit gagal jantung. Penelitian yang dilakukan oleh Julie (2008) juga membuktikan bahwa posisi tidur pasien mempengaruhi cardiac output dengan hasil bahwa posisi kepala dieleva- sikan dengan tempat tidur 30 derajat akan men- jaga maintenance cardiac output sehingga ketida- knyamanan nyeri dada dan sesak nafas berkurang yang akhirnya akan mengoptimalkan kualitas ti- dur pasien. Menurut Tarwoto (2010) hal-hal yang mempengaruhi kualitas tidur seseorang adalah faktor penyakit, kelelahan, stress psikologis, obat, nutrisi dan faktor lingkungan. Faktor pe- nyakit merupakan hal terbesar yang mempenga- ruhi kualitas tidur seseorang. Seperti juga yang dikemukakan oleh Amir (2008) menunjukkan bahwa orang dewasa atau lanjut usia yang su- dah didagnosis depresi, stroke, penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, arthritis atau hipertensi sering melaporkan bahwa kualitas tidurnya bu- ruk dan durasi tidurnya kurang dikarenakan ge- jala yang ditimbulkan seperti nyeri dan sesak nafas. Untuk mengurangi gejala nyeri dan sesak nafas maka salah satu tindakan untuk mengu- ranginya adalah dengan menentukan posisi tidur pasien.Dengan demikian diharapkan berdampak pada perbaikan kualitas tidur suatu pasien. Hal

Nadi (x/menit) 83,7 84,2 Respirasi (x/menit) 19,2 19,3 Tabel 4 menggambarkan pada sudut 30°

menghasilkan rerata nilai sistolik 123,8 mmHg, diastolik 76,2 mmHg, nadi 83,7 x/menit dan respirasi 19,2 x/menit. Sedangkan sudut 45°

menghasilkan rerata nilai sistolik 121,6 mmHg, diastolik 78,0 mmHg, nadi 84,2 x/menit dan respirasi 19,3 x/menit.

Berdasarkan perhitungan statistik pene- litian menunjukkan tidak terdapat perbedaan re- rata jumlah respirasi (RR) yang bermakna antara dua intervensi posisi tidur baik pada sudut 30°

dan 45°. Hasil penelitian Supadi (2008) yang mengungkapkan bahwa posisi semifowler dima- na kepala dan tubuh dinaikkan 30° sampai 45°

membuat oksigen di dalam paru-paru semakin meningkat sehingga memperingan kesukaran bernafas. Selain itu, juga diperkuat oleh peneli- tian Setyawati (2008) bahwa saat terjadi serangan asma biasanya klien merasa sesak dan tidak dapat tidur dengan posisi berbaring, melainkan harus dalam posisi setengah duduk untuk mere- dakan penyempitan jalan napas dan memenuhi O2 darah. Seperti yang dikemukakan oleh teori Smeltzer dan Bare (2001) bahwa pengaturan po-

77

(16)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

sisi tidur dengan meninggikan punggung bahu dan kepala sekitar 30° atau 45° memungkinkan rongga dada dapat berkembang secara luas dan pengembangan paru meningkat. Kondisi ini akan menyebabkan asupan oksigen membaik sehingga proses respirasi kembali normal.

Selain respirasi, dalam penelitian ini menun- jukkan bahwa dalam posisi semifowler dengan sudut 30° dan 45° menghasilkan nadi yang baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan diantara kedua sudut tersebut. Begitu pula dengan hasil penelitian dari Melanie (2012) yang menyebut- kan bahwa tidak ada perbedaan nadi yang ber- makna diantara sudut 30° dan 45° pada pasien gagal jantung. Secara teori sebenarnya posisi tubuh sangat berpengaruh terhadap perubahan denyut nadi, hal ini karena efek gravitasi bumi.

Pada saat duduk maupun berdiri, kerja jantung dalam memompa darah akan lebih keras karena melawan gaya gravitasi sehingga kecepatan de- nyut jantung meningkat. Menurut Sudoyo (2006) pada saat posisi supin dan semifowler gaya gravi- tasi pada peredaran darah lebih rendah karena arah peredaran tersebut horizontal sehingga tidak terlalu melawan gravitasi dan tidak perlu me- mompa besar.

Begitu juga dengan hasil tekanan darah, pada penelitian ini posisi semifowler baik dengan sudut 30° maupun 45° menghasilkan nilai tekan- an darah yang baik, tanpa mempertimbangkan sudut yang dipakai. Penelitian yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Bredore (2004) yang menyebutkan bahwa posisi tidur semifowler menyebabkan tekanan darah sistolik berkurang secara nyata (p<0,005), demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Duward (2005) juga mengatakan bahwa po- sisi tidur 30° sampai 45° ditemukan penurunan tekanan arteri yang progresif, penurunan CVP (p<0,005). Pemberian posisi semifowler akan mengakibatkan peningkatan aliran darah balik ke jantung tidak terjadi secara cepat (Sudoyo, 2006).

Aliran balik yang lambat menjadikan peningka- tan jumlah cairan yang masuk ke paru berkurang, sehingga udara di alveoli mampu mengabsorbsi oksigen atmosfer. Disamping itu, pasien dengan curah jantung yang menurun akan merangsang mekanisme kompensasi (seperti peningkatan va-

sopressin, renin, angiotensin, aldosterone) serta peningkatan aktivitas simpatik (Huddak dan Gal- lo, 2010). Maka dapat disimpulkan bahwa secara statisktik perubahan posisi semifowler dengan berbagai ukuran sudut baik 30° dan 45° tidak berpengaruh besar terhadap perubahan tekanan darah pasien.

Analisa Bivariat

Analisis Pengaruh Sudut Posisi Tidur terhadap Kualitas Tidur.

Hasil uji-t didapatkan nilai th = 2,383, tt = 1,691, dan p = 0,023 maka dapat dikatakan p < 0,05 dan th>tt, uji-t signifikan/bermakna sehingga Ho ditolak, “sudut posisi tidur berpengaruh terhadap kualitas tidur pada pasien Infark Miokard Akut (IMA) di ruang ICVCU RSUD Dr. Moewardi Surakarta”.Dari hasil analisis pengaruh sudut tidur terhadap kualitas tidur diperoleh hasil bahwa responden dengan sudut posisi tidur 30° memiliki skor kualitas tidur yang lebih tinggi dibandingkan dengan skor kualitas tidur responden dengan sudut posisi tidur 45°.

Analisis Pengaruh Sudut Posisi Tidur Terhadap Status Kardiovaskuler

Hasil uji-t didapatkan nilai th sistole = 0,554, th diastole = 0,584, th HR = 0,133, th RR = 0,180 dan tt = 1,691 maka dapat dikatakan th < tt. Serta didapatkan nilai p sistole = 0,583, p diastole = 0,563, p HR = 0,895 dan p RR = 0,858 maka dapat dikatakan p > 0,05. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa uji-t tidak signifikan/

bermakna, sehingga Ho diterima, “sudut posisi tidur tidak berpengaruh terhadap status kardiovaskuler pada pasien Infark Miokard Akut (IMA) di ruang ICVCU RSUD Dr. Moewardi Surakarta.”

5. KESIMPULAN

a. Sudut posisi tidur berpengaruh terhadap kualitas tidur pasien Infark Miokard Akut (IMA) di ruang ICVCU RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

b. Posisi tidur 30° dapat menghasilkan kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan dengan posisi tidur dengan sudut 45°.

78

(17)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

c. Sudut posisi tidur 30° maupun 45° tidak berpengaruh terhadap status kardiovaskuler (tekanan darah, nadi dan respirasi) pasien In- fark Miokard Akut (IMA) di ruang ICVCU RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

SARAN

Hasil penelitian diharapkan mampu menjadikan rujukan dalam menentukan sudut posisi tidur yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien akut miokard infark untuk meningkatkan kualitas tidur adalah dengan posisi semifowler 30°.

REFERENSI

Amir, N. (2008). Gangguan tidur pada lanjut usia diagnosis dan penatalaksanaan. http://

www.critpathcardio.com/pt/re/ cpcardio / abstract.00004268-200312000- 00022.htm, (diunduh tanggal 2 Februari 2015).

Arikunto, S. (2010).Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

(2013). Survei Kesehatan Nasional 2012.

http.//dev3.litbang. depkes.go.id/surkesmas (diakses pada 28 Desember 2014).

Bredore, V. (2004).The relationship between con- getive heart failure, sleep apnea and mortal- ity in older men. http://www. guideline.gov/

summary.aspx?Vied_id, (diunduh tanggal 12 April 2015)

Carpenito, L.J. (2001). Diagnosa Keperawatan:

Aplikasi Praktek Klinik, Edisi 6. Jakarta:

EGC.

Corwin, E.J. (2001). Handbook of pathophysiol- ogy. Alih bahasa: Pendit, B.U. Jakarta: EGC.

Departemen Kesehatan RI. (2011). Pharamatical Care Untuk Pasien Jantung Koroner. Jakar- ta: Depkes RI.

Doengoes, E. (2000). Rencana Asuhan Keper- awatan dan Dokumentasi Keperawatan.

Edisi 3.Jakarta : EGC.

Duward. (2004). The Effects of Semi- Fowler’s Position on Post- Operative Recovery in Re- covery Room for Patients with Laparoscopic Abdominal Surgery. Abstract. College of Nursing, Catholic University of Pusan, Ko- rea

Harkreader, H.H & Thobaben, M. (2007).Funda- mental of nursing: Caring and clinical judg- ment. 3rd ed. St. Louis, Missouri: Saunders Elevier.

Harwoko, P. (2012). Perbedaan Perubahan In- tensitas Nyeri Dada Kaitannya dengan Pem- berian Posisi Fowler dan Posisi Semifowler Pada Pasien Dengan Coronary Heart Dis- ease di Intensive Cardiovascular Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi.

Jurnal Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta.

Hidayat, A.A.A. (2009). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Ja- karta: Salemba Medika.

Hudak, C.M & Gallo, B.M. (2010). Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Edisi 7, Vol. 1.

Jakarta: EGC.

Julie, C.H. (2008). The effect of positioning on cardiac ouput measurement.http://proquest.

umi.com/pqdweb, (diunduh tanggal 19 Janu- ari 2015).

Kasuari.(2002). Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan Pendekatan Patofisiology. Magelang: Pol- tekkes Semarang PSIK.

Kozier, B. (2004). Fundamental of nursing: con- cepts, process and practice. 7thed. New Jer- sey: Prentice-Hall, Inc.

Melanie, R. (2012). “Analisis Pengaruh Sudut Tidur terhadap Kualitas Tidur dan Tanda Vital Pada Pasien Gagal Jantung di Ruang Intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung”.

http://stikesayani.ac.id/publikasi/e-jour- nal/.../201208-008.pdf. (diakses pada tang- gal 18 September 2014)

Meana & Lieberman. (2009).Evaluation of The Effect of Group Counselling on Post Myo- cardial Infarction Patient: Determined by an Analysis of Quality of life.Blackwell Pub- lishing Ltd. Journal of Clinical Nursing.

Merta. (2010). Impact of Anxiety ang Perceived Control on In-Hospital Complications Af- ter Acute Myicardial Infarction. By the American Psychosomatic Society: 0033- 3174/07/6906-0010

79

(18)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

Muttaqin, A. (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematologi. Jakarta: Salemba Medika Norman, W.M., Hayward, L.F., (2005). Sleep

Neurobiology for the Clinician. 27:811-820.

Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Met-

odologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pe- doman Skripsi, Tesis dan Instrumen Peneli- tian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Price, S., & Wilson, L. (2006). Patofisiologi. Ja- karta : EGC

Potter, P.A., & Perry, AG. (2005). Buku Ajar Fun- damental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC.

Rekam Medis RSUD Dr. Moewardi.(2014).

Angka Kejadian Miokard Infark di RSUD Dr. Moewardi.

Safitri, R & Andriyani, A. (2011).Keefektifan Pemberian Posisi Semi Fowler Terhadap Penurunan Sesak Nafas pada Pasien Asma di Ruang Rawat Inap Kelas III RSUD dr.

Moewardi Surakarta.Jurnal Keperawatan dan Kebidanan Volume 4.

Smeltzer, S.C. & B.G. Bare.(2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &

Suddart.Edisi 8.Jakarta: EGC.

Sudoyo, W., A., Setiyohadi, B., Alwi, I., et al.

(2006).Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ja- karta : Fakultas KedokteranUniversitas In- donesia.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta Supadi, E. Nurachmah, dan Mamnuah.(2008).

Hubungan Analisa Posisi Tidur Semi Fowler Dengan Kualitas Tidur Pada Klien Gagal Jantung Di RSU Banyumas Jawa Tengah.

Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Volume IV No 2 Hal 97-108.

Tambayong, J. (2004). Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Tarwoto.(2010). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Me- dika.

-oo0oo-

80

(19)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

PENGHAMBATAN PRODUKSI EKSOPROTEASE DAN BIOFILM PADA Pseudomonas aeruginosa OLEH

EKSTRAK Apium graveolens L

Didik Wahyudi

1)

, Yusianti Silviani

2)

1, 2Akademi Analis Kesehatan Nasional Surakarta [email protected] [email protected]

ABSTRAK

Eksoprotease merupakan enzim yang dihasilkan Pseudomonas aeruginosa, yang produksinya berhu- bungan dengan sistem quorum sensing, yaitu proses yang terjadi pada bakteri dalam mengekpresikan molekul sinyal untuk menjadi patogen. Perilaku bakteri yang diatur sistem quorum sensing antara lain bioluminescen, sekresi virulensi, sporulasi, konjugasi, produksi enzim ekstraseluler, pembentukan bio- film dan produksi pigmen. Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen opportunistik penyebab utama infeksi nosokomial. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak Apium graveolens L dalam menghambat quorum sensing Pseudomonas aeruginosa, berdasarkan besarnya penghambatan enzim eksoprotease dan produksi biofilmnya. Pseudomonas aeruginosa diisolasi dari Rumah Sakit Dr.

Moewardi Surakarta; dikarakterisasi sifat sensitivitas terhadap beberapa antibiotik; ekstraksi Apium grabeolens L menggunakan pelarut etanol; uji kemampuan ekstrak Apium graveolens L dalam peng- hambatan quorum sensing bakteri berdasarkan produksi enzim eksoprotease Pseudomonas aeruginosa dengan metode kemampuan menghidrolisis azocasein yang ada di dalam media dan diukur dengan spektofotometer, dilanjutkan uji pembentukan biofilm pada microtiter plate PVC, dengan metode Opti- cal density. Semua eksperimen dilakukan ulangan tiga kali, analisis data menggunakan satu arah analisis varians (ANOVA) dengan P-nilai 0,05 menggunakan perangkat lunak statistik SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Apium graveolens L mempunyai kemampuan menghambat produksi enz- im eksoprotease Pseudomonas aeruginosa pada konsentrasi 20% b/v, dan mampu menghambat produksi biofilm Pseudomonas aeruginosa pada konsentrasi 15%.

Kata kunci: eksoprotease, biofilm, Pseudomonas aeruginosa, Apium graveolens L.

ABSTRACT

Eksoprotease is an enzyme produced by Pseudomonas aeruginosa, whose production is associated with quorum sensing system, which is a process that occurs in bacteria in the express signaling molecules to become pathogenic. Behavior bacterial quorum sensing system arranged bioluminescen among other things, the secretion of virulence, sporulation, conjugation, the production of extracellular enzymes, biofilm formation and the production of pigments. Pseudomonas aeruginosa is an opportunistic pathogenic major cause of nosocomial infection. The study aims to determine the ability of Apium graveolens L extract in inhibiting Pseudomonas aeruginosa quorum sensing, based on the amount of enzyme inhibition eksoprotease and production biofilmnya. Pseudomonas aeruginosa was isolated from Hospital Dr. Moewardi Surakarta; characterized the nature of sensitivity to multiple antibiotics; Apium grabeolens L extraction using ethanol; test the ability of Apium graveolens extract L in quorum sensing inhibition of bacterial enzyme production by Pseudomonas aeruginosa eksoprotease by hydrolyzing

81

(20)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

ability azocasein method that is in the media and are measured with a spectrophotometer, followed by a test on a microtiter plate biofilm formation of PVC, with Optical density method. All experiments were performed three times replay, analysis of data using one-way analysis of variance (ANOVA) with a P-value of 0.05 using SPSS statistical software. The results showed that the extract of Apium graveolens L has the ability to inhibit the production of enzymes eksoprotease Pseudomonas aeruginosa at a concentration of 20% w / v, and is able to inhibit the production of biofilms of Pseudomonas aeruginosa at a concentration of 15%.

Keywords: eksoprotease, biofilm, Pseudomonas aeruginosa, Apium graveolens

1. PENDAHULUAN

Eksoprotease merupakan enzim yang di- hasilkan oleh Pseudomonas aeruginosa yang berhubungan dengan sistem quorum sensing.

Quorum sensing merupakan suatu proses yang memungkinkan bakteri dapat berkomunikasi de- ngan mensekresikan molekul sinyal yang disebut autoinducer atau molekul sinyal sebagai bahasa.

Proses ini memungkinkan suatu populasi bakteri dapat mengatur ekspresi gen tertentu. Konsentra- si autoinducer di lingkungan sebanding dengan jumlah bakteri yang ada. Dengan mendeteksi autoinducer, suatu bakteri mampu mengetahui keberadaan bakteri lain di lingkungannya (Taga et al., 2001). Pada Pseudomonas aeruginosa au- toinducer tersebut adalah golongan enzim ekso- protease (Rukayadi, 2006).

Sistem quorum sensing mengontrol perilaku bakteri melalui pengubahan ekspresi gen oleh molekul sinyal. Perilaku bakteri yang diatur sistem quorum sensing antara lain: biolumi- nescen, sekresi faktor virulensi, sporulasi, konju- gasi, pembentukan biofilm dan produksi pigmen (Taga et al., 2001).

Pengunaan senyawa antibiotik secara terus menerus dapat meningkatkan frekuensi mutasi, sehingga melahirkan generasi bakteri baru yang resisten (Lewis, 2001), dengan pengetahuan mengenai sistem quorum sensing, dapat dikem- bangkan suatu cara pengendalian bakteri yang tidak terbatas pada pemberantasan bakteri atau antibiosis. Pengendalian infeksi dapat dilakukan dengan mencegah pengumpulan massa bakteri atau dengan merusak sistem komunikasi interse- luler bakteri, bakteri tetap hidup selama perilaku- nya tidak destruktif (Suwanto, 2005).

Pseudomonas aeruginosa merupakan pato- gen oportunistik, yaitu memanfaatkan kerusakan

pada mekanisme pertahanan inang untuk memu- lai suatu infeksi. Angka fatalitas kasus (case fa- tality rate) pasien-pasien tersebut adalah 50%, P. aeruginosa merupakan penyebab sepsis yang umum dijumpai pada pasein di unit perawatan intensif (Mayasari, 2006).

Penyakit infeksi P. aeruginosa dimulai de- ngan penempelan dan kolonisasi bakteri ini pada jaringan inang, dengan menggunakan fili untuk penempelan sel pada permukaan inang, dapat membentuk biofilm untuk mengurangi keefektif- an mekanisme sistem imun inang (Zhang et al, 1998). P. aeruginosa memiliki molekul sinyal utama yaitu komponen homoserin lakton yang berfungsi sebagai agen kemostatik untuk meng- umpulkan sel-sel P. aeruginosa yang berdekatan melalui mekanisme quorum sensing dan mem- bentuk biofilm (Madigan et al., 2006).

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kemampuan penghambatan sistem quorum sensing pada ekstrak beberapa jenis ba- han alam yang lain terhadap beberapa bakteri, antara lain Fuqua et al., (1997) yang meneliti tentang sistem pengaturan ekspresi gen pada mi- kroorganisme melalui sistem quorum sensing.

Rukayadi et al., (2006) meneliti tentang peng- hambatan produksi faktor virulensi P. aerugino- sa oleh tanaman vanili. Magdalena dan Yogiara (2006) yang meneliti tentang kemampuan leng- kuas dalam menghambat produksi biofilm pada Streptococcus mutan penyebab plaq pada gigi.

Wahyudi (2011) menyebutkan bahwa Esktrak Apium graveolens L mampu menghambat sistem quorum sensing Pseudomonas aeruginosa, dan Wahyudi (2014) menyebutkan bahwa Apium gra- veolens mampu menghambat produksi biofilm pada Salmonella typhi.

Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah ekstrak Apium graveolens L mampu mengham-

82

(21)

3

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

bat produksi enzim eksoprotease dan produksi biofilm pada Pseudomonas aeruginosa dan berapakah konsentrasi ekstrak Apium graveo- lens L yang paling efektif dalam menghambat produksi eksoprotease dan produksi biofilm pada Pseudomonas aeruginosa?

2. METODE PENELITIAN a. Alat dan bahan

Alat meliputi rotary evaporator au- toclave, kuvet, shaker, inkubator, laminar air flow, waterbacth, petridish, jarum ohse, bunsen, lemari es, ph meter, spektrofotom- eter, sentrifuge, mikropipet, jangka sorong, timbangan elektrik, elenmeyer, bekerglass, aluminium foil,. tabung biakan kuman, rak tabung reaksi, vortek, kertas saring.

Bahan yang digunakan Apium gra- veolens L, isolat Pseudomonas aeruginosa, medium Luria-Bertani (LB), etanol, akuades steril, crystal violet, glukosa 5%. media Brain Heart Infusion (BHI), MacConkey (MC). Media uji biokimia: Kliger Iron Agar (KIA), Sulfide Indol Motility (SIM), Urea, Citrat, Methyl Red (MR), Voges Proskauer (VP), Phenyl Alanine Deaminase (PAD).

Media Gula-Gula (Glukosa, Laktosa, Mani- tol, Maltosa, Sukrosa); Azocasein (Sigma), trichloroacetic acid (TCA), NaOH 0,5 M, buffer fosfat pH 8. Media Trypticase soy broth–0.6% yeast extract (TSBYE), 5%

glycerol, Trypticase soy agar (TSA), mi- crotiter plate PVC,. NaCl 0,9 % steril. Rea- gen Erlich, Methyl Red (MR), Ferri Klorida (FeCl ) 10 %, Kalium Hidroksida (KOH) 40

%, Barried, Cat Gram A, B, C, dan D. disk Antibiotik Lengkap.

b. Karakterisasi dan Ekstraksi Apium graveo- lens L

Apium graveolen L (Seledri) yang digu- nakan dalam penelitian ini akar, batang, dan daunnya, diambil dari perkebunan di daerah Tawangmanggu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah berumur 3 bulan,

Pembuatan Fraksi Etanol 70% Seledri dibuat dengan cara sebagai berikut: Herbal Tanaman Seledri yang telah dikeringkan pada suhu 50°C selama 5 hari diambil se-

banyak 2 kg. Setelah kering dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi, herbal Seledri dimasukkan ke dalam bejana, ke- mudian ditambahkan dengan 10 liter etanol 70% ditutup dan dibiarkan selama 5 hari.

Diserkai, dan diperas ampasnya. Sari etanol yang diperoleh kemudian dilakukan peme- katan sampai dihasilkan ekstrak etanolik seledri.

c. Isolasi Bakteri Uji dan Persiapan Media Bakteri P. aeruginosa diperoleh dari iso- lasi dari Rumah Sakit Umum Dr.Moewardi Surakarta Isolasi dilakukan dengan metode uji biokimia, uji fermentasi karbohidrat dan uji sensitivitas antibiotik dilakukan dengan metode difusi agar (Bauer, 1966). Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah media Luria-Bertani (LB) dilengkapi dengan 0,5% glukosa dan 2% susu skim (media LB, mengandung 2,5 mg tiamin/liter), semua strain yang diinkubasi pada 37 °C.

d. Pengujian Kuantitatif aktivitas enzim ekso- protease P. aeruginosa

Pengujian ini dilakukan untuk menge- tahui aktivitas enzim eksoprotease P. aeru- ginosa secara kuantitatif pada perlakuan ekstrak Apium graveolens L. Prinsip peng- ujian aktivitas enzim eksoprotease berdasar- kan metode Hanlon dan Hodges (1981) yaitu kemampuan enzim protease untuk menghi- drolisis Azocasein. Residu azocasein yang tidak dapat terhidrolisis oleh enzim eksopro- tease akan diendapkan oleh tricloro acetic acid (TCA). Endapan dipisahkan dengan filtrat, filtrat akan membentuk warna bila direaksikan dengan NaOH. Intensitas warna yang terbentuk diukur dengan spektrofoto- meter pada panjang gelombang 440 nm.

Sepuluh ml suspensi bakteri yang telah diukur pertumbuhannya di sentrifuge dengan kecepatan 10.000 g selama 10 menit, filtrat- nya diambil sebanyak 1 ml. lalu dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah berisi 3 ml larutan buffer fosfat (pH 8). campuran ini kemudian diletakkan di atas penanggas air hingga suhunya mencapai 37oC. Setelah itu ditambahkan 2 ml Azocasein yang se- belumnya telah dipanaskan pada penanggas

83

(22)

Jurnal KesMaDaSka - Juli 2015

air hingga suhunya mencapai 37oC. Selanjut- nya ditambahkan 4 ml trichkloro acetic acid (TCA) 10% sehingga terbentuk endapan kuning yang dipisahkan dengan sentrifuge.

Filtrat sebanyak 5 ml diambil lalu ditambah- kan dengan 5 ml larutan NaOH 0,5 M, ke- mudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 440nm.

Pengukuran aktivitas enzim dilakukan setiap 2 jam selam 24 jam sebanyak 3 kali ulangan satu unit, aktivitas enzim eksoprote- ase didefinisikan sebagai jumlah enzim yang dapat menghasilkan kenaikan pengukuran absorbansi sebesar 0,01 setiap jam pada kon- disi pengukuran. Unit aktivitas enzim ekso- protease yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan dalam U/ml dengan rumus Hanlon dan Hodges (1981) sebagai berikut:

Unit aktivitas / ml sampel (U/ml) = (ab- sorbansi; 0,01) x 2

e. Uji Pembentukan Biofilm dengan Microtiter Plate Polivinil Klorida. (Djordjevic et al, 2002; Rukayadi dan Hwang, 2006)

Pseudomonas aeruginosa pada media LB segar yang mengandung ekstrak Apium graveo- lens pada konsentrasi 0% (sebagai kontrol) 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%, kemudian diinkubasi dalam 10 ml media diperkaya TSBYE, pada suhu 320C semalam. Tes produksi biofilm dilakukan dengan media Luria Bertani. Kultur semalam di TSBYE dipindahkan (0,1 ml) ke 10 ml Luria Bertani dan divortex. Kemudian 100µl dialihkan ke dalam delapan pelat PVC microtiter (Becton Dickinson Labware, Franklin Lakes, NJ), sebel- umnya dibilas dengan 70% etanol dan udara ker- ing.

Plate tersebut dibuat dalam rangkap dua, di- inkubasi, dan ditutup pada 32°C selama 40 jam.

Setiap plate termasuk delapan sumur MWB tanpa P. aeruginosa sebagai kontrol. Kekeruhan sel di- pantau menggunakan pembaca piring microtiter (Bio-Rad, Richmond, Calif), dengan densitas optik 595 nm (OD595), dan dicatat pada interval waktu yang berbeda.

Set plate pertama digunakan untuk pem- bentukan biofilm pengukuran setelah 40 jam pembentukan biofilm. OD rata-rata dari sumur

kontrol itu dikurangkan dari OD dari semua tes sumur. Setelah 40 jam periode inkubasi, media telah dihilangkan dari sumuran, dan sumur mi- crotiter plate dicuci lima kali dengan air suling steril untuk menghilangkan bakteri yang tidak terikat kuat.

Plate dikeringkan udara selama 45 menit dan masing-masing dilakukuan pewarnaan de- ngan 150 µl dari kristal violet 1% larutan dalam air selama 45 menit. Setelah pewarnaan, plate yang dicuci dengan air suling steril lima kali.

Pada kondisi ini, biofilm yang terlihat sebagai cincin ungu yang terbentuk di sisi masing-masing dengan baik. Analisis kuantitatif produksi bio- film dilakukan dengan menambahkan 200 µl dari 95% etanol ke dalam sumur. Seratus microliters dari masing-masing dipindahkan ke microtiter plate baru dan OD ungu kristal yang ada diukur pada 595 nm. Uji biofilm dengan microtiter plate dilakukan tiga kali ulangan.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Isolasi, Karakterisasi dan Uji Sensitivitas Antibiotik.

Karakteristik P. aeruginosa hasil isolasi dari Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta sebagai berikut: pada media TSIA tidak memfermenta- sikan media glukosa, manitol, sakarosa, malt- ose, dan laktosa, hal ini terlihat dari media yang berwarna merah baik pada dasar maupun pada lereng permukaan media agarnya. Bakteri ini menghasilkan hasil negatif pada uji indol, Merah Metil, dan Voges-Proskauer. Bakteri tersebut mampu memproduksi katalase, oksidase, dan amonia dari arginin, dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbonnya. Koloni yang dibentuk halus, bulat dengan warna fluoresensi kehijauan.

Strain P. aeruginosa menghasilkan pigmen yang berfluoresensi antara lain: pioverdin (warna hi- jau), piorubin (warna merah gelap), piomelanin (hitam). Pseudomonas aeruginosa yang berasal dari koloni yang berbeda mempunyai aktivitas biokimia, enzimatik dan kepekaan antimikroba yang berbeda pula. P. aeruginosa yang diguna- kan dalam penelitian ini memiliki sifat-sifat ter- hadap antibiotik (Tabel 1).

Hasil isolasi P. aeruginosa hasil isolasi dari Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta sudah re-

84

Gambar

Tabel  1  menggambarkan  distribusi  frekuensi  responden  berdasarkan  jenis  kelamin  laki-laki  sebanyak 20 responden (55,6%) dan perempuan  16 responden (44,4%)
Tabel 4.4 Karakteristik Status Kardiovaskuler tian menunjukkan terdapat perbedaan rerata skor
Tabel 1 Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik  terhadap P. aeruginosa hasil isolasi dari RSU
Tabel 3. Hasil Optical density pada Uji daya  hambat Biofilm Pseudomonas aeruginosa oleh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tergantung dari penggunaan analisa tugas yang diharapkan, struktur yang dibangun dapat berbeda, sebagai contoh, untuk menghasilkan manual perbaikan mobil digunakan taksonomi

Dan pada tanggal 18 Agustus 2009, perusahaan menjual seluruh kepemilikan hak atas saham PT Citra Kendedes Pratama yang berlokasi di Sidoardjo kepada pihak minoritas Bp. Rudy

Sesuai dengan pendekatan tersebut, penulis akan menganalisis kumpulan cerpen Penembak Misterius dengan asumsi bahwa PM adalah kumpulan cerpen yang mengandung maskulinitas

mole Bi203 yang telah disintering berbagai suhu ditunjukkan pada gambar 27. sampai dengan

Berdasaran hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat scaffolding dalam pembelajaran fisika berbsis PBL efektif terhadap pemahaman konsep

Hasil menunjukkan bahwa dengan penanaman model hidroponik ini pada KRPL lebih bisa dimanfaatkan oleh warga dan membudidayakannya dengan lebih mudah dalam rangka

 prasekolah, sekolah dasar, Sekolah Menengah Pertama, maupun Sekolah Atas adalah suatu masa usia anak yang sangat berbeda dengan usia dewasa. Di dalam periode ini, banyak

Manfaat yang dimiliki jagung sebagai- mana kandungan nutrisinya, menunjukkan bahwa sangat mendukung dalam upaya pen- ganekaragaman pangan yang berbahan baku jagung termasuk