• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 4.1 Fungsi Ekologis RTH Publik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 4.1 Fungsi Ekologis RTH Publik"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

73 BAB IV

ANALISIS

A. Peran Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Karanganyar

Analisis ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar mampu memberikan peran terhadap masyarakat dan aktivitasnya di kota tersebut. Peran ruang terbuka hijau publik dibedakan menjadi 2, yaitu fungsi utama dan fungsi tambahan.

Fungsi utama yaitu fungsi ekologis, seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.1 Fungsi Ekologis RTH Publik

Sedangkan fungsi tambahan meliputi fungsi sosial budaya, ekonomi dan estetika. (Penjelasan masing-masing fungsi dapat dilihat pada bab II halaman 26). Masing-masing lokasi ruang terbuka hijau publik di Kota memiliki peran yang berbeda-beda. Dan untuk mengetahui peran ruang terbuka hijau publik di kota tersebut berdasar hasil pengamatan dan hasil interview dapat dilihat pada tabel berikut :

(2)

74 Tabel 4.1

Peran RTH Publik di Kota Karanganyar

No Jenis RTH Publik Kelurahan Fungsi utama

(ekologis) Fungsi tambahan

Sosial & budaya Ekonomi Estetika 1 Taman Kota :

Taman Pancasila

Taman Depan KPU Kab.Karanganyar

Karanganyar Cangakan

V V

V -

V -

V V 2 Hutan Kota :

Hutan kota utara DPRD

Hutan Kota di kompleks perkantoran

Hutan kota panahan

Bejen Cangakan Cangakan

V V V

- - -

V V V

V - V 3 Lapangan olahraga :

Stadion 45

Lapangan utara DPRD

Alun-alun

Kab.Karanganyar

Lapangan panahan

Lapangan sepakbola lainnya

Karanganyar Bejen

Cangakan Cangakan

Di masing-masing kelurahan

V V V V V

V V V V V

- - - - -

V V V - -

4 Jalur hijau Sepanjang jalan

Lawu & jalan penghubung antar kecamatan

V - - V

5 Sempadan :

Sungai Sepanjang sungai V - - -

(3)

75

Waduk Lalung & Delingan V - - -

6 Pemakaman :

TPU

TPBU :

- Taman Memorial - Taman Makam

Pahlawan

Semua kelurahan Delingan

Bejen

V V -

- V V

- - -

- - - Sumber : Analisis Peneliti 2010

(4)

76 Dengan melihat tabel peran diatas, dapat diketahui bahwa peran ruang terbuka hijau publik masih kurang. Hal tersebut dapat dilihat dari masih cukup banyaknya jenis ruang terbuka hijau publik yang belum mampu memenuhi peran yang semestinya.

1. Taman Kota

Pada keberadaan taman kota, Taman Pancasila sudah mampu memberikan peran yang cukup baik bagi masyarakat di kota itu, akan tetapi jika dilihat dari segi kualitas lingkungan, taman ini mengalami penurunan kualitas yang diakibatkan aktivitas masyarakat yang berlebihan. Pada saat sore hingga malam hari, taman ini sangat ramai pengunjung dikarenakan banyaknya pedagang yang berjualan di lokasi tersebut. Dan akibat pengunjung dan pedagang yang berlebih tersebut menyebabkan tanah di taman tersebut gundul bahkan tidak ada sama sekali rumput, hanya ada beberapa tanaman yang cukup besar seperti pohon beringin di taman tersebut.

Sama halnya dengan taman kota di depan KPU Kabupaten Karanganyar, taman ini bahkan lebih jarang dikunjungi oleh pengunjung akibat tidak adanya faktor yang dapat menarik perhatian pengunjung untuk mengunjungi taman tersebut. Kondisinya juga cukup memprihatinkan karena sarana serta prasarana pendukung di taman itu sudah rusak dimakan usia dan bahkan sampai saat ini belum ada upaya perbaikan yang cukup menonjol dari pihak pengelola.

2. Hutan Kota

Hutan kota di Kota Karanganyar memiliki peran yang sangat erat dengan fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis, hutan kota memberikan banyak manfaat terkait dengan perbaikan serta peningkatan lingkungan seperti misalnya sebagai daerah resapan air, sebagai paru-paru kota dan sebagainya. Sedangkan fungsi ekonomis dari ketiga hutan kota yang terdapat di Karanganyar dimaksudkan bahwa hasil hutan tersebut dapat memberi nilai ekonomis bagi masyarakat, misalnya kayu yang bisa dijual sebagai bahan bakar.

(5)

77 3. Lapangan Olahraga

Selain berperan secara ekologis, lapangan olahraga juga berperan secara sosial budaya dan estetika. Ini dikarenakan lapangan olahraga dapat menjadi sebagai lokasi media untuk pembelajaran dan sebagai media untuk menyalurkan kreativitasnya di bidang olahraga. Seperti halnya di Kota Karanganyar, stadion 45 merupakan stadion yang paling besar di kota tersebut yang digunakan untuk memfasilitasi masyarakat di kota tersebut yang gemar bermain bola dan ingin berlatih bola.

4. Jalur Hijau dan Sempadan

Pada jalur hijau, ruang terbuka publik di Kota Karanganyar berperan secara fisiologis dan estetika. Ini dikarenakan jalur hijau hanya dapat dinikmati manfaatnya pada saat tertentu, yaitu saat melintas jalan.

Fungsi yang paling terasa yaitu adanya perbedaan suhu saat melintas di suatu lokasi yang terdapat pepohonan dan pada saat melintas di lokasi yang sama sekali tidak terdapat pepohonan, ini terkait sekali dengan kenyamanan masyarakat di suatu kota.

Jalur hijau di Kota Karanganyar yang paling utama yaitu di Jalan Lawu serta jalan yang menghubungkan antar kecamatan kondisinya sudah cukup baik, akan tetapi masih diperlukan upaya pelebaran atau penambahan karena frekwensi kendaraan bermotor juga akan semakin bertambah.

Dan pada sempadan sungai dan waduk, ruang terbuka hijau publik berfungsi secara ekologis yaitu sebagai pelindung dari kemungkinan terjadinya bencana longsor atau meluapnya air sungai/waduk. Belum cukup banyak peran yang bisa diberikan terhadap masyarakat.

5. Pemakaman

Sedangkan pada pemakaman, fungsi ekologis terdapat pada jenis pemakaman umum dan Taman Memorial yang terdapat di Kelurahan Delingan, sedangkan fungsi sosial dan budaya terdapat pada Taman Memorial dan Taman Makam Pahlawan saja.

(6)

78 B. Uji Efektifitas

Uji efektifitas ruang terbuka hijau publik dapat diketahui dari 2 segi, yaitu segi fisik dan non fisik.

1. Analisis Fisik Ruang Terbuka Hijau Publik

Berkaitan dengan hal-hal yang bersifat fisik atau dapat dilihat melalui pandangan mata. Adapun segi fisik meliputi :

a. Persentase Hijau

Persentase hijau merupakan salah satu faktor yang dapat dijadikan sebagai uji efektifitas ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar. Semakin hijau suatu ruang terbuka hijau publik, maka kemungkinan untuk memberikan peran untuk masyarakat juga semakin besar. Persentase hijau disini dibagi menjadi 2, yaitu persentase hijau ditiap kelurahan secara keseluruhan terhadap luas wilayah dan persentase hijau dari masing-masing lokasi ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar. Persentase hijau ditiap kelurahan dan persentase hijau dari masing-masing lokasi ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar dapat dilihat sebagai berikut:

(7)

79 Tabel 4.2

Proporsi Luas Ruang Terbuka Hijau Publik tiap Kelurahan

No Kelurahan

Luas RTH publik (Ha)

Jumlah (Ha) Luas Wilayah

(Ha)

Persentase terhadap luas wilayah Taman kota Hutan kota Lapangan Jalur hijau/ (%)

Sempadan

Sungai Pemakaman

1 Bejen 0 0,5 2,916 5,119646 2,99 11,525646 385,403 2,99

2 Jungke 0 0 0,858 1,0959 3,90 5,8539 187,700 3,12

3 Karanganyar 0,6854 0 0,900 0,360426 3,00 4,945826 52,152 9,48

4 Lalung 0 0 1,716 6,617439 2,32 10,653439 403,188 2,64

5 Popongan 0 0 0,858 2,995056 4,96 8,813056 348,157 2,53

6 Tegalgede 0 0 1,716 5,014398 2,63 9,360398 385,634 2,43

7 Cangakan 0,65 1,21 0,480 1,63756 2,00 5,77756 148,669 3,88

8 Delingan 0 0 0,858 12,393852 3,13 16,381852 801,206 2,04

9 Gedong 0 0 0,858 7,600638 2,2615 10,720138 573,714 1,87

10 Bolong 0 0 1,716 4,90422 0,61 7,23022 322,397 2,24

11 Gayamdompo 0 0 0,858 3,111672 2,30 6,2696772 369,351 1,70

12 Jantiharjo 0 0 1,716 4,446162 2,30 8,462162 325,000 2,60

Total 1,3354 1,71 15,45 55,296969 32,3115 106,103869 4302,571 2,47

Sumber : Analisis Peneliti 2010

(8)

80 Dari hasil analisis diatas menunjukkan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar masih belum mencukupi sesuai dengan persentase yang ditetapkan dalam UU no.26 tahun 2007 yaitu sebesar 20 % dari luas wilayah. Ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar hanya memiliki persentase 2,47 % dari luas kota tersebut.

Ini dikarenakan baru di lokasi pusat kota saja yang memiliki kelengkapan jenis ruang terbuka hijau, sedangkan di daerah pedesaan tidak memiliki taman kota serta hutan kota. Wilayah pinggiran kota mayoritas penggunaan lahannya adalah perkebunan dan sawah. Seperti misalnya di Kelurahan Delingan dan Kelurahan Gedong, mayoritas tanahnya adalah tanah perkebunan milik perseorangan dan perusahaan tertentu, misalnya perkebunan tebu. Sedangkan di kelurahan Bolong, Gayamdompo, Popongan sebagian besar wilayahnya berupa areal persawahan.

Walaupun persentase ruang terbuka hijau publik kurang dari 20 %, bukan berarti bahwa ruang terbuka hijau secara keseluruhan di Kota Karanganyar kurang, karena kekurangan persentase ruang terbuka hijau publik dapat dilengkapi oleh ruang terbuka hijau privat yang mendominasi Kota Karanganyar.

(9)

81 Tabel 4.3

Persentase Hijau Masing-masing Lokasi RTH Publik di Kota Karanganyar

No Kelurahan Jenis RTH Publik Persentase Hijau (%)*

1 Bejen • Hutan Kota Utara Lapangan DPRD

• Buk Malang s/d Bejen

• Blumen Tengah Traffic Bejen s/d Jembatan Siwaluh

• Terminal Bejen

• Lapangan DPRD

• Lapangan depan Perum Ringinasri

• Lapangan di Wonorejo

• Pemakaman

60 % 40-50%

50%

60-70% 30%

30-40% 50%

40%

2 Jungke • Lapangan Bibis

• Segitiga Jungke

• Blumen Bak Lingkungan Pegadaian Kra

• Blumen Bak Lingkungan Gedung Wanita

• Blumen Bak Lingkungan Bappeda

• Pemakaman

40-50% 60%

60% 40%

40%

40 % 3 Karanganyar • Stadion 45

• Taman Pancasila

• MCK (Taman Pancasila)

• Pot Bunga Perempatan Pegadaian s/d Buk Siwaloh

• Pemakaman

70%

20-30%

20%

30-40%

40%

4 Lalung • Lapangan Sepakbola

• Pemakaman

50-60%

40-50%

5 Popongan • Lapangan Harjosari

• Pemakaman

60%

40%

6 Tegalgede • Lapangan Sepakbola

• Terminal Bejen

• Pemakaman

60%

30% 50%

(10)

82 Sumber : Analisis Peneliti 2010

Ket = *) Angka persentase diperoleh dari perbandingan luas area hijau dengan luas lokasi ruang terbuka hijau publik.

7 Cangakan • Lapangan Sepakbola

• Lapangan Panahan

• Hutan Kota Panahan

• Hutan Kota di kompleks perkantoran

• Taman Kota Depan KPU Kab. Karanganyar

• Alun-alun Kab. Karanganyar

• Pemakaman

50% 40%

70% 60%

40%

40-50% 70%

8 Delingan • Lapangan Sepakbola

• Pemakaman penduduk

• Taman Memorial PMS

40%

50% 70%

9 Gedong • Lapangan Sepakbola

• Pemakaman

50-60%

40-50%

10 Bolong • Lapangan Sepakbola

• Pemakaman

40-50%

50%

11 Gayamdompo • Lapangan Sepakbola

• Pemakaman

40-50% 50%

12 Jantiharjo • Lapangan Sepakbola

• Pemakaman

50-60%

50%

(11)

83 Berdasar tabel persentase hijau diatas, dapat dilihat bahwa kondisi ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar memiliki persentase hijau yang berkisar antara 20-70 %. Persentase hijau ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar didominasi angka dibawah 50%, sehingga ini menunjukkan bahwa kondisi ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar masih kurang dan masih memerlukan suatu upaya peningkatan kualitas lingkungan. Terlebih pada Taman Pancasila, persentase hijau di lokasi tersebut sangat minim. Kondisi tanahnya tandus akibat aktivitas penduduk di kota tersebut. Taman ini sangat kritis dan memerlukan upaya perbaikan dan atau peningkatan kualitas lingkungan yaitu penghijauan. Dan pada beberapa lokasi yang memiliki persentase hijau diatas 50 % diharapkan agar dapat tetap mempertahankan persentase hijau tersebut.

b. Ukuran

Ruang terbuka yang ada harus sesuai dengan keputusan serta standar penyediaan sarana yang ada. Didalam analisis ini standar yang digunakan ialah SNI no 03-1733-2004. Didalam SNI tersebut sudah mengatur mengenai luasan masing-masing jenis ruang terbuka hijau publik yang seharusnya ada pada suatu kota.

Selain luasan, ukuran disini juga dimaksudkan untuk ukuran pedestrian ways sebagai salah satu sarana pendukung pada taman kota.

1) Taman Kota

Taman kota merupakan komponen yang cukup penting dalam mendukung suatu perkotaan. Dengan keberadaan taman kota, diharapkan mampu memberikan manfaat nilai keindahan maupun sosial bagi masyarakat disekitar maupun masyarakat di kota tersebut.

Taman kota yang terdapat di Kota Karanganyar saat ini berjumlah 2 (dua) buah. Untuk mengetahui apakah jumlah tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di

(12)

84 Kota Karanganyar, maka dapat dihitung dengan menggunakan standar yang sudah ada, yaitu dengan jumlah penduduk berjumlah 76.508 jiwa, dibutuhkan 2 buah taman yang melayani lingkup kota dengan 7 buah taman di pusat kegiatan lingkungan dengan luas taman minimal 26.750 m2 atau sekitar 2,675 Ha, sedangkan luas taman kota yang sudah ada saat ini ialah seluas 33.521 m2 atau sekitar 3,352 Ha sehingga taman kota tidak harus dilakukan upaya penambahan luasan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menambah lahan hijau di Kota Karanganyar seperti taman di pusat lingkungan maupun taman skala kecamatan atau kota dimasa yang akan datang.

2) Hutan Kota

Untuk hutan kota, belum ada ketetapan mengenai berapa luas minimal yang dianjurkan. Semakin banyak jumlah hutan kota di suatu wilayah, akan semakin baik, dikarenakan perkembangan kota yang semakin lama semakin bertambah padat penduduk juga aktivitasnya.

Selain itu juga untuk membantu menambah persentase ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar.

3) Lapangan Olahraga

Lapangan olahraga merupakan fasilitas yang penting untuk memfasilitasi kegiatan masyarakat. Lapangan hijau yang terdapat di Kota Karanganyar meliputi lapangan sepakbola dan lapangan panahan yang terdapat di Kelurahan Cangakan. Jika dihitung dengan menggunakan standar yang ada dalam SNI seperti yang telah disebutkan sebelumnya (dalam Bab I halaman 10), maka Kota Karanganyar perlu ada minimal 3 buah lapangan olahraga dengan luas minimal 27.000 m2 atau sekitar 27 Ha.

Sedangkan jumlah lapangan olahraga yang sudah ada saat ini adalah 18 lapangan sepakbola dan 1 buah lapangan

(13)

85 panahan dengan luas 13,534 Ha. Ini menunjukkan bahwa lapangan olahraga di kota tersebut masih memerlukan upaya penambahan luasan atau pembuatan lapangan baru.

4) Jalur Hijau dan Sempadan Sungai

Jalur sempadan sungai, berdasar peraturan disarankan agar menyisakan minimal 5 meter dari kanan dan kiri sungai sebagai daerah hijau untuk mengurangi dampak terjadinya banjir atau longsor. Akan tetapi, di Kota Karanganyar sempadan sungai hanya sekitar 2-3 meter saja. Kondisi ini dapat membahayakan rumah penduduk yang sebagian berada di pinggir sungai. Jumlah luas jalur hijau dan sempadan di Kota Karanganyar sebesar 55,296969 Ha.

5) Pemakaman

Berdasar standar yang telah disebutkan sebelumnya, maka dapat dihitung bahwa jumlah makam yang dibutuhkan hanya 1 (satu) buah makam. Sedangkan jumlah pemakaman yang sudah ada di Kota Karanganyar saat ini 97 buah dengan luas 32,1015 Ha. Jumlah makam yang sudah ada di Kota Karanganyar saat ini, sudah mencukupi kebutuhan untuk masyarakatnya bahkan untuk masyarakat dari luar kota sekalipun.

c. Kelengkapan Sarana Elemen Pendukung 1) Taman Kota

Fasilitas yang terdapat di taman kota pada umumnya sudah cukup lengkap, akan tetapi kondisi dari fasilitas pendukung tersebut memerlukan beberapa upaya perbaikan. Seperti misalnya kondisi jalan didalam taman kota itu sendiri, kondisinya dapat dikatakan kurang layak untuk memfasilitasi pengunjung saat mengunjungi taman tersebut, sempit hanya sekitar 1 meter dan rusak. Belum ada

(14)

86 area parkir serta ikon tersendiri yang dapat ditonjolkan agar mampu memberikan kesan menarik bagi pengunjung.

2) Hutan Kota

Fasilitas pendukung seperti kondisi jalan, jaringan listrik dan drainase dapat dikatakan sudah cukup baik, akan tetapi untuk tempat pembuangan sampah sementara dan persediaan air bersih belum mencukupi. Hutan kota yang ada di Kota Karanganyar hampir semuanya tidak memiliki tempat penampungan sampah sementara, sehingga pihak DKP harus setiap kali membawa mobil kontainer yang mengangkut sampah untuk membersihkan hutan kota tersebut. Bahkan untuk air bersih juga, sehingga diperlukan truk yang mengangkut air untuk menyiram tanaman- tanaman tersebut, sehingga terkadang pihak DKP perlu mengerahkan cukup banyak tenaga pekerja untuk merawat hutan-hutan kota tersebut.

3) Lapangan Olahraga

Lapangan olahraga di Kota Karanganyar sebagian sudah memiliki kelengkapan sarana pendukung, terlebih pada lapangan sepakbola seperti stadion 45 dan alun-alun Kabupaten Karanganyar. Akan tetapi pada lapangan sepakbola lain, sarana pendukung masih kurang, seperti misalnya MCK dan tempat pembuangan sampah.

Sedangkan pada lapangan panahan, sarana pendukung juga masih kurang, dikarenakan tidak adanya area parkir dan MCK.

4) Jalur Hijau dan Sempadan Sungai

Sarana elemen pendukung untuk jalur hijau dan sampadan sungai berbeda dengan jenis ruang terbuka hijau publik yang lain. Sarana pendukung yang dibutuhkan hanyalah lampu jalan dan drainase. Jaringan listrik diperlukan untuk menerangi jalan, sedangkan drainase

(15)

87 untuk irigasi areal persawahan di Kota Karanganyar, seperti misalnya di sepanjang sungai di kota tersebut dan di kedua waduk. Di waduk sendiri perlu dibuat suatu tempat yang bisa digunakan untuk duduk, dikarenakan pada kedua waduk di Kota Karanganyar sering dikunjungi pada waktu siang hingga sore hari.

5) Pemakaman

Fasilitas pendukung pada pemakaman di Kota Karanganyar yang sudah ada saat ini perlu upaya perbaikan jalan menuju lokasi TPU/TPBU, terlebih pada jalan lingkup lingkungan atau dusun, banyak jalan yang aspalnya sudah rusak, dan malah ada sebagian yang jalannya belum diaspal.

Ini dapat menjadikan kendala bagi aksesibilitas menuju lokasi makam. Selain itu juga tiap lokasi makam, hendaknya ada MCK untuk pengunjung saat berziarah ke makam.

Kondisi drainase pada sebagian pemakaman juga masih cukup kurang layak, karena masih berupa tanah yang dangkal, sehingga tidak mampu menampung air hujan dalam jumlah yang banyak.

d. Desain

Desain yang dimaksud disini khususnya desain untuk taman kota. Sebuah desain taman kota harus terencana dengan baik agar tidak menimbulkan kondisi yang semrawut. Desain suatu taman kota yang baik akan dapat memfasilitasi kebutuhan sarana pendukung dan aktivitas pengunjung yang ada didalamnya. Taman kota yang baik akan mempertimbangkan lokasi untuk tempat duduk, area parkir, area hijau untuk tanaman, lokasi bermain anak serta pedagang kaki lima.

(16)

88 Gambar 4.2

Gambar Sketsa Desain Taman Pancasila

Taman kota yang terdapat di Kota Karanganyar sendiri sebenarnya belum memenuhi desain yang baik tersebut. Seperti misalnya di Taman Pancasila, area parkir pengunjung berada di sebagian badan jalan yang dapat mengganggu akses transportasi. Selain itu juga pada taman tersebut kondisinya semrawut dikarenakan banyaknya PKL yang berjualan tidak pada tempat yang seharusnya. Hal ini dikarenakan belum adanya perencanaan yang baik hingga menyebabkan area hijau yang seharusnya dipertahankan menjadi rusak akibat aktivitas yang berlebihan.

Begitu juga dengan taman didepan KPU Kabupaten Karanganyar yang terdapat di Kelurahan Cangakan, area parkir sama sekali tidak ada, sehingga pengunjung yang membawa kendaraan bermotor memarkirkan kendaraannya masuk ke area taman dan dapat merusak rumput-rumputan didalam taman.

e. Kondisi fisik 1) Taman Kota

Dari segi keindahan dan lingkungan, taman kota yang ada di Kota Karanganyar saat ini dapat dikatakan cukup kritis dikarenakan kondisi tanaman yang seadanya dan U

dr Solo Rumdin Bupati

Sarana kesehatan Sarana perdagangan

Area parkir yg memotong badan jalan Lokasi berdagang PKL Area taman

Ke Tawangmangu

(17)

89 masih terbatas, dapat menimbulkan kesan kurang memberi keteduhan. Bahkan di taman Pancasila kondisinya juga terlihat semrawut pada saat sore hari dikarenakan banyaknya PKL dan parkir kendaraan bermotor yang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas disekitar taman tersebut.

2) Hutan Kota

Kondisi hutan kota yang ada di Kota Karanganyar sekarang ini kondisinya sudah cukup baik. Beberapa jenis tanaman yang ditanam di hutan kota seperti sengon dan jati cukup tumbuh subur dikarenakan jenis tanaman tersebut tidak memerlukan perawatan khusus. Dibawah tanaman tersebut juga ditumbuhi rumput-rumput hijau yang cukup subur.

3) Lapangan Olahraga

Kondisi lapangan sepakbola di Kota Karanganyar, sebagian besar memerlukan perbaikan dan peningkatan, karena seperti yang sudah disebutkan dalam data, bahwa seperti lapangan utara DPRD dan Stadion 45 memiliki kondisi yang kurang. Kurang yang dimaksud meliputi kondisi tanaman (rumput) yang mengalami kegundulan, juga kurang dalam arti fasilitas pendukungnya yang kurang lengkap. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, sebagian besar lapangan di Kota Karanganyar mengalami permasalahan yang hampir sama, yaitu rumput yang gundul, tanah becek saat hujan, sampah berserakan di lapangan, serta tidak adanya fasilitas MCK disekitar lapangan.

4) Jalur Hijau dan Sempadan Sungai

Jalur hijau yang ada di Kota Karanganyar berupa titik- titik pohon yang terdapat disepanjang jalan di Kota Karanganyar. Disepanjang Jalan Lawu, kondisi tanaman sudah cukup baik, akan tetapi pemilihan jenis tanaman kurang tepat dikarenakan akar dari tanaman tersebut

(18)

90 sedikit merusak jalan, sehingga menyebabkan aspal yang membengkak. Seharusnya jenis tanaman yang dipilih ialah jenis tanaman yang memiliki perakaran serabut, atau akar tunggang asalkan ditanam pada kedalaman yang cukup dalam agar tidak merusak aspal dijalan tersebut.

5) Pemakaman

Kondisi fisik pemakaman yang terdapat di Kota Karanganyar berbeda-beda. Pada TPBU, kondisi fisiknya terawat dan rapi, sedangkan pada TPU, sebagian besar kondisinya kurang terawat dikarenakan tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Seperti misalnya pada Taman Memorial di Kelurahan Delingan, kondisi makam tersebut sangat terawat dengan baik dikarenakan ada organisasi Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) yang mengelola, sehingga sudah ada yang bertugas untuk menjaga serta membersihkan makam di pemakaman tersebut. Berbeda dengan TPU pada umumnya yang hanya dikelola oleh satu juru kunci, sehingga kondisinya tidak semaksimal Taman Memorial yang disetiap makamnya ditumbuhi oleh rumput- rumput hijau yang rapi dan terawat.

2. Analisis Non Fisik Ruang Terbuka Hijau Publik

Analisis non fisik sangat terkait dengan penilaian serta tanggapan masyarakat yang menjadi pengunjung maupun yang tinggal disekitar lokasi ruang terbuka hijau publik. Analisis fisik ini meliputi 3 aspek, yaitu kenyamanan, keamanan dan keselamatan serta kemudahan.

a. Kenyamanan ( comfort )

Tingkat kenyamanan pengunjung dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :

(19)

91 1) Suhu

Besarnya suhu udara di suatu lokasi ruang terbuka hijau publik akan mempengaruhi kenyamanan pengunjung ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar. Suhu udara di Kota Karanganyar berkisar antara 25° C – 28 ° C. Berikut perkiraan suhu udara di masing-masing kelurahan di Kecamatan Karanganyar :

Tabel 4.4

Suhu Udara di Kota Karanganyar

No Kelurahan Suhu (°C) Keterangan

1 Bejen 25-26 Disepanjang Jalan Lawu

memiliki suhu tertinggi dikarenakan penuh dengan bangunan, sedang di daerah pinggiran memiliki suhu yang relatif masih cukup sejuk.

2 Jungke 26-27 Dikarenakan lokasi kelurahan ini terdapat di pusat kota dan mayoritas area terbangun, seperti pertokoan, perkantoran, rumah dan lain-lain.

3 Karanganyar 27-28 Penuhnya area terbangun menyebabkan kelurahan ini memiliki suhu udara yang paling tinggi dibanding kelurahan lain.

4 Lalung 26-27 Mayoritas masih berupa sawah dan perkebunan.

5 Popongan 25-26 Mayoritas masih berupa sawah dan perkebunan.

6 Tegalgede 25-26 Mayoritas masih berupa sawah dan perkebunan.

7 Cangakan 26-27 Dikarenakan lokasi kelurahan ini terdapat di pusat kota dan mayoritas area terbangun, seperti pertokoan, perkantoran, rumah dan lain-lain.

8 Delingan 25-26 Karena didominasi ruang yang belum terbangun seperti perkebunan dan ladang menjadikan kelurahan ini sejuk.

9 Gedong 25-26 Karena didominasi ruang yang belum terbangun seperti perkebunan dan ladang menjadikan kelurahan ini sejuk.

10 Bolong 25-26 Mayoritas masih berupa sawah dan perkebunan.

11 Gayamdompo 25-26 Mayoritas masih berupa sawah dan perkebunan.

(20)

92 12 Jantiharjo 25-26 Mayoritas masih berupa sawah

dan perkebunan.

Sumber : Analisis Peneliti 2010

Dari hasil diatas, dapat diketahui bahwa kelurahan yang memiliki suhu udara yang paling tinggi di Kota Karanganyar adalah Kelurahan Karanganyar. Ini dikarenakan kelurahan tersebut yang sudah penuh dengan area terbangun seperti pertokoan, sekolah dan sebagainya. Sedangkan lokasi yang memiliki suhu yang paling sejuk di Kota Karanganyar adalah kelurahan Bejen, Popongan, Tegalgede, Delingan, Gedong, Bolong, Gayamdompo dan Jantiharjo yaitu memiliki suhu sekitar 25-26 dikarenakan kelurahan-kelurahan tersebut sebagian besar berupa area yang belum terbangun seperti sawah dan kebun.

2) Suasana

Berkaitan dengan situasi atau kondisi yang ada di lokasi ruang terbuka hijau publik. Suasana yang damai dan menenangkan akan membuat pengunjung merasa lebih nyaman berada di lokasi tersebut, akan tetapi jika suasananya ramai, akan dapat membuat pengunjung merasa kurang nyaman berlama-lama berada di lokasi tersebut.

Seperti misalnya pada kedua taman di Kota Karanganyar, lokasinya berada di tengah kota, dekat dengan jalan utama yaitu Jalan Lawu, sehingga dapat menyebabkan suasana yang tidak tenang. Akan tetapi pada jenis ruang terbuka hijau publik yang lainnya, dikarenakan lokasinya yang tidak berada didekat jalan utama di kota tersebut, maka dirasakan lebih dapat memberi kenyamanan bagi pengunjung.

(21)

93 3) Kebiasaan

Faktor ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat yang ada disekitar lokasi ruang terbuka hijau publik yang ada di Kota Karanganyar. Seperti misalnya di Taman Pancasila, terkadang ada orang mabuk. Kebiasaan ini akan dapat berpengaruh terhadap kenyamanan pengunjung dikarenakan perilaku negatif tersebut. Sedang kebiasaan lain adalah pada malam hari, disekitar Alun-Alun Kabupaten Karanganyar digunakan untuk area nongkrong serta pacaran anak muda.

Dari pengamatan di lapangan terhadap ketiga faktor tersebut, maka akan dapat diketahui kenyamanan dari seberapa lama mereka mengunjungi lokasi tersebut. Dari hasil yang diperoleh saat melakukan observasi lapangan, pengunjung mengunjungi masing-masing lokasi ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar sebagai berikut:

- Taman kota : 30 menit-1 jam - Hutan kota : 10-30 menit - Lapangan olahraga : 1-2 jam

- Jalur hijau dan sempadan : sekitar 5-10 menit - Pemakaman : 10-30 menit

Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa lapangan olahraga adalah yang paling lama dikunjungi oleh pengunjung. Sedangkan taman kota hanya berkisar antara 30 menit-1 jam menunjukkan bahwa taman kota yang ada saat ini kurang nyaman bagi pengunjung. Taman kota yang baik akan dapat menciptakan kesan yang damai, santai dan tenang bagi pengunjungnya, sehingga dapat menjadikan kebahagiaan tersendiri bagi pengunjungnya.

Akan tetapi yang ada di Kota Karanganyar sekarang ini peran ruang terbuka hijau publik belum dapat menjadi ruang

(22)

94 terbuka hijau publik yang memiliki multi fungsi seperti yang semestinya dikarenakan kondisinya yang masih kurang terawat.

b. Keamanan dan keselamatan ( safety and security )

Keamanan dan keselamatan terkait dengan tinggi rendahnya angka kriminalitas dan keselamatan pengunjung serta masyarakat yang berada disekitar lokasi ruang terbuka hijau publik tersebut. Dan dari hasil yang diperoleh saat melakukan observasi, terdapat 80 % masyarakat dan pengunjung menyatakan bahwa mereka merasa cukup aman saat mengunjungi lokasi tersebut. Sedangkan 20 % menyatakan bahwa mereka merasa bahwa tingkat keamanan dan keselamatan belum begitu optimal dikarenakan terkadang terjadi kecelakaan lalu lintas didekat Taman Pancasila.

c. Kemudahan ( accessibility )

Aksesibilitas menjadi salah satu aspek yang sangat penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan maupun merencanakan pembuatan suatu perencanaan apapun dikarenakan menyangkut dengan pelayanan serta kemudahan akses transportasi untuk mengunjungi suatu obyek. Begitu juga dengan ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar, tingkat aksesibilitas dipengaruhi oleh moda transportasi dan kondisi sarana yaitu jalan menuju lokasi.

1) Moda Transportasi

Moda transportasi yang ada di Kota Karanganyar meliputi angkutan pribadi dan angkutan umum. Angkutan pribadi meliputi sepeda motor dan mobil, sedangkan angkutan umum meliputi mini bus serta angkutan umum warna kuning yang melintas di jalan utama di kota tersebut, yaitu Jalan Lawu. Sedangkan mini bus menghubungkan antar kecamatan. Akan tetapi mayoritas penduduk di kota

(23)

95 tersebut memilih untuk menggunakan transportasi pribadi yaitu kendaraan bermotor dikarenakan merasa lebih praktis dan hemat dikarenakan pada daerah pinggiran kota moda transportasi masih terbatas.

Seperti misalnya pada Taman Pancasila, lokasi taman ini hanya bisa dikunjungi oleh pemakai kendaraan bermotor dan angkutan umum berwarna kuning saja, dikarenakan lokasinya yang berada di tengah kota, dan pada jalan searah sehingga hanya bisa dijangkau dengan kedua jenis kendaraan itu saja dari arah Surakarta. Sedangkan dari arah Tawangmangu taman ini bisa dijangkau dengan bus umum tetapi dari sebelah selatan taman.

Sedangkan pada taman didepan KPU, lokasi ini bisa dijangkau dengan berbagai kendaraan dikarenakan lokasinya tidak berada tepat ditengah kota dan tidak pada jalan searah, sehingga bisa dijangkau dengan berbagai kendaraan umum dan kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor.

2) Kondisi Jalan

Kondisi jalan di Kota karanganyar sebagian besar sudah baik yaitu berupa aspal dan perkerasan. Akan tetapi masih cukup banyak juga kondisi jalan yang rusak dan masih berupa jalan tanah di daerah pinggiran kota. Kondisi tersebut sebenarnya kurang layak, dikarenakan dapat mengganggu kelancaran aksesibilitas menuju lokasi ruang terbuka hijau publik di kota tersebut.

Dari analisis yang telah dijabarkan sebelumnya, diketahui bahwa peran ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar masih kurang, dikarenakan masih banyak lokasi serta kondisi ruang terbuka hijau publik yang kurang optimal dalam memberikan perannya terhadap masyarakat disekitar lokasi maupun pengunjungnya dikarenakan belum

(24)

96 dapat memenuhi ketiga syarat nilai utama yang seharusnya ada pada ruang publik, yaitu sebagai ruang yang responsive, ruang yang demokratis dan ruang yang mempunyai arti atau makna. (Penjelasan masing-masing nilai terdapat pada bab II halaman 24).

C. Analisis Aktivitas Masyarakat

Aktivitas masyarakat sebagai subyek dan obyek perlu diperhatikan dalam merencanakan. Aktivitas masyarakat dibagi menjadi 2, yaitu aktivitas yang bersifat positif dan negatif. Aktivitas positif meliputi kerja bakti, penanaman pohon dan sebagainya. Sedangkan aktivitas negatif ialah aktivitas yang dapat merusak lingkungan, seperti misalnya merusak menebang pohon, membuang sampah disembarang tempat dan sebagainya.

Masyarakat di Kota Karanganyar sendiri sebenarnya berada ditengah-tengah kedua jenis aktivitas tersebut. Ini dibuktikan dengan masih banyaknya sampah yang berserakan di taman kota, sungai serta lapangan olahraga. Selain itu juga pada kerusakan yang terjadi pada Taman Pancasila, disebabkan oleh kegiatan yang berlebihan, yaitu PKL serta acara-acara yang lain menyebabkan rumput hijau terinjak dan akhirnya mati.

Walaupun demikian, masih ada sebagian masyarakat juga yang peduli akan arti pentingnya lingkungan, yaitu dengan mengadakan acara kerja bakti walau hanya disekitar lokasi tempat tinggal mereka serta adanya program penanaman pohon yang dilakukan pada peringatan hari-hari tertentu, seperti misalnya pada Hari Sejuta Pohon, Hari Lingkungan Hidup dan lain-lain.

D. Kendala Dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Publik

Dalam mengelola ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar, pihak DKP sebagai pengelola mengalami beberapa kendala, diantaranya :

(25)

97 - Keterbatasan dana, yang sangat berpengaruh terhadap penyediaan

sarana dan prasarana pendukung di lokasi ruang terbuka hijau publik tersebut.

- Baru berdirinya DKP menyebabkan masih minimnya tenaga ahli maupun tenaga pekerja.

- Belum memiliki pedoman atau payung hukum yang jelas mengenai pengelolaan ruang terbuka hijau publik.

- Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga serta meningkatkan ruang terbuka hijau publik.

Dan untuk mengetahui strategi untuk pemecahan permasalahan tersebut, maka akan dipergunakan analisis SWOT untuk mengetahui strategi apa yang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Strategi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

(26)

98 Tabel 4.5

Analisis SWOT

Keterbatasan dana

Internal

Eksternal

Kekuatan (S)

Adanya ide-ide yang kreatif dari pihak DKP untuk meningkatkan kualitas RTH publik

Adanya tempat pembibitan tanaman untuk mengurangi biaya pengeluaran

Masih tersedianya lahan yang cukup luas untuk menciptakan ruang-ruang hijau yang baru

Kelemahan (W)

Keterbatasan dana

Keterbatasan moda transportasi dan tenaga pekerja DKP

Peluang (O)

Mampu memberikan peran yang efektif hingga menarik pengunjung dari kecamatan atau kota lain maupun investor

Adanya kerjasama dengan IPB terkait dengan pengadaan tanaman

Strategi SO

Mengemas kembali tampilan RTH publik agar bisa menjadi lebih menarik

Strategi WO

Bekerjasama dengan pihak swasta untuk meningkatkan kualitas RTH publik yang ada sekarang

Ancaman (T)

Belum mampu menyeimbangi RTH publik yang ada di kota lain menyebabkan masyarakat lebih memilih bepergian keluar kota

Strategi ST

Mengembangkan RTH publik yang sudah ada dan menciptakan ruang-ruang hijau baru agar dapat memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan ruang untuk bersosialisasi

Strategi WT

Perlu adanya ketetapan atau kebijakan dari Pemkab setempat untuk menetapkan kebijakan terkait pengelolaan RTH publik

Sumber : Analisis

(27)

99 Baru berdirinya DKP

Internal

Eksternal

Kekuatan (S)

Adanya kewenangan dan tupoksi DKP untuk mengelola RTH publik

Adanya tenaga pekerja

Kelemahan (W)

Baru 2th berdirinya DKP menyebabkan masih kurangnya tenaga pekerja dan tenaga ahli di bidang tertentu, ex:pertamanan

Masih minimnya data yang dimiliki DKP

Masih terbatasnya moda transportasi pengangkut Peluang (O)

Terciptanya RTH publik yang efektif dan berdaya guna bagi masyarakat banyak

Strategi SO

Menambah ruang-ruang hijau baru agar mampu mencapai 20 % dari luas wilayah sesuai peraturan perundangan yang berlaku

Meningkatkan peran dan fasilitas penunjang untuk mendukung kegiatan yang ada di RTH publik tersebut

Strategi WO

Perlunya peningkatan jumlah tenaga ahli serta tenaga pekerja

Adanya penambahan anggaran dari Pemkab untuk pengadaan alat-alat serta transportasi penunjang

Ancaman (T)

Kualitas RTH publik di Kota Karanganyar belum mampu bersaing dengan kota lain, sehingga masyarakat lebih memilih keluar kota

Strategi ST

Perlu adanya penambahan tenaga ahli yang sudah berpengalaman dikarenakan DKP Karanganyar masih baru, sehingga masih memerlukan banyak masukan

Strategi WT

Perlu diadakannya studi banding untuk menambah pengetahuan dan bertukar pikiran terkait pengelolaan RTH publik di kota lain yang sudah lebih berpengalaman

Sumber : Analisis

(28)

100 Belum adanya payung hukum yang jelas tentang pengelolaan dari Pemkab

Internal

Eksternal

Kekuatan (S)

Adanya tenaga pekerja di DKP

Adanya ide-ide yang kreatif DKP untuk mengembangkan RTH publik

Kelemahan (W)

Belum adanya kebijakan dari Pemkab terkait pengelolaan RTH publik

Keterbatasan dana Peluang (O)

Bekerjasama dengan pihak investor untuk mengembangkan RTH publik

Strategi SO

Pembuatan ruang-ruang hijau publik yang baru

Meningkatkan kualitas sarana dan prasaran yang sudah ada sekarang

Strategi WO

Perlunya kerjasama dengan pihak swasta untuk meningkatkan sarana dan prasarana

Perlu adanya ketetapan hukum/kebijakan dari pihak Bupati terkait pengadaan serta pengelolaan RTH publik

Ancaman (T)

Terjadinya peningkatan perubahan penggunaan lahan

Strategi ST

Membatasi perubahan penggunaan lahan agar tidak dilakukan secara besar-besaran dan merusak ekosistem alam

Strategi WT

Segera membuat Perda atau kebijakan dari Bupati yang mengatur keberadaan dan status lahan RTH publik di Kota Karanganyar

Sumber : Analisis

(29)

101 Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga serta meningkatkan ruang terbuka hijau publik

Internal

Eksternal

Kekuatan (S)

Adanya jumlah penduduk yang banyak di Kota Karanganyar

Kelemahan (W)

Tingkat pendidikan penduduk yang mayoritas berpendidikan tamat SD dan SMP

Keterbatasan lahan Peluang (O)

Berpotensi menjadi tenaga kerja yang bisa dikirim hingga keluar kota

Strategi SO

Penyediaan lapangan kerja yang bisa menampung tenaga kerja agar tidak terjadi urbanisasi secara berlebihan

Strategi WO

Mengadakan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat agar lebih mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya peran serta mereka terhadap pengelolaan RTH publik

Ancaman (T)

Masuknya investor akan berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan dan tenaga kerja di Kota Karanganyar

Strategi ST

Penyediaan lapangan kerja yang cukup untuk mengurangi arus urbanisasi

Strategi WT

Perlunya dibuat kebijakan untuk mengatur penggunaan lahan di Kota Karanganyar, khususnya mengenai keberadaan RTH publik

Sumber : Analisis

(30)

102 E. Strategi Untuk Meningkatkan Peran dan Fungsi Ruang Terbuka

Hijau Publik

Dari hasil analisis SWOT diatas, maka strategi yang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan yang menjadi kendala dalam pengelolaan dan meningkatkan peran ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar diantaranya :

• Bekerjasama dengan pihak swasta untuk mengembangkan ruang terbuka hijau publik bersama.

• Perlu adanya Perda atau kebijakan dari pimpinan terkait pengelolaan serta status kepemilikan lahan yang jelas atas ruang terbuka hijau publik yang ada, terlebih pada hutan kota.

• Revitalisasi atau bahkan menciptakan ruang-ruang hijau publik baru dan merata sebagai ruang untuk bersosialisasi masyarakat agar tidak terjadi perbedaan aktivitas kegiatan yang mencolok antar kelurahan.

• Perlunya peningkatan jumlah tenaga ahli serta tenaga pekerja.

• Memberikan penyuluhan atau pelatihan untuk masyarakat akan pentingnya peran serta mereka dalam meningkatkan dan menjaga ruang terbuka hijau publik

Dan dari rumusan strategi yang telah didapatkan, maka dapat dirumuskan suatu langkah atau program apa yang dapat digunakan sebagai salah satu upaya pemecahan masalah yang ada. Beberapa program yang dapat dijadikan sebagai upaya peningkatan kualitas ruang terbuka hijau publik untuk kedepannya ialah :

• Adanya kerjasama antara instansi terkait dan masyarakat untuk menjaga serta merawat keberadaan ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar.

• Bekerjasama dengan pihak swasta dalam hal pengelolaan serta pengadaan RTH publik jika anggaran dari Pemkab dirasa kurang.

• Perbaikan serta peningkatan kualitas ruang terbuka hijau publik agar dapat berfungsi dengan lebih optimal.

• Menambah fasilitas penunjang di lokasi ruang terbuka hijau publik kalau belum tersedia.

(31)

103

• Membuat ruang-ruang hijau publik baru sebagai upaya meningkatkan kualitas lingkungan.

• Mengadakan suatu penyuluhan akan arti pentingnya menjaga ruang terbuka hijau publik.

F. Potensi Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Publik

Ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar memiliki potensi yang cukup bagus jika dikembangkan, seperti misalnya taman kota, hutan kota dan taman memorial. Ketiganya bisa menjadi lokasi yang bisa menarik pengunjung apabila direvitalisasi dan dikembangkan perannya.

Tidak hanya dapat menarik pengunjung dari luar kecamatan saja, akan tetapi juga dapat menarik pengunjung dari kota atau kabupaten lain apabila lebih dikembangkan. Untuk pembuatan ruang terbuka hijau publik baru, dapat dibuat di Kelurahan Lalung, Delingan dan Cangakan.

Lokasi pembuatan ruang terbuka hijau publik baru dipilih disekitar waduk Delingan dan waduk Lalung, lahan kosong serta semak belukar.

Pada kedua waduk dibuat hutan kota, sedangkan pada semak belukar dan lahan kosong bisa direncanakan untuk dibuat taman kota atau hutan kota, karena kedua jenis ruang terbuka hijau publik tersebut belum mencukupi kebutuhan. Dan program perbaikan sarana dan prasarana penunjang dialokasikan pada daerah di pinggiran kota serta pada lokais yang nelum memiliki kelengkapan sarana penunjang tersebut. Potensi RTH publik tersebut dapat dilihat pada peta berikut :

(32)

104 PETA POTENSI

Gambar

Gambar 4.1 Fungsi Ekologis RTH Publik
Gambar Sketsa Desain Taman Pancasila

Referensi

Dokumen terkait

Nama Kegiatan : Lanjutan I nventarisasi, I dentifikasi, Status Lahan untuk Ruang Terbuka.. Hijau dalam Rangka Pencapaian Ruang Terbuka Hijau

Penyediaan Hutan Kota dan Taman Kota sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik Menurut Preferensi Masyarakat di Kawasan Pusat Kota Tangerang.. Analisa Lanskap Jalur

(2) Hasil Evaluasi Ruang Terbuka Hijau Taman Kota dan jalur hijau jalan dilakukan penataan ulang tanaman yang terdapat di masing-masing lokasi penelitan dengan

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada aspek bentuk yang meliputi elemen pembentuk ruang terbuka yang terdiri dari taman, jalur hijau kota,

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada aspek bentuk yang meliputi elemen pembentuk ruang terbuka yang terdiri dari taman, jalur hijau kota,

Skripsi yang berjudul Evaluasi Ruang Terbuka Hijau(RTH) Taman Kota Dan Jalur Hijau Jalan Di Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur disusun sebagai salah

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada aspek bentuk yang meliputi elemen pembentuk ruang terbuka yang terdiri dari taman, jalur hijau kota,

RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI INFRASTRUKTUR HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK KOTA STUDI KASUS : ALUN-ALUN WONOSOBO Adinda Septi Hendriania aProgram Studi Arsitektur Universitas Sains