Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
Benny Susetyo
11 Dilahirkan di Malang, 10 Oktober 1968. Beraktivitas di Konferensi Waligereja Indonesia Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan., Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB), dan Pendiri Setara Institute.
Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
Pengantar
P
luralitas di Indonesia adalah berkah tak ternilai harganya. Se- bagai rahmat Tuhan Maha Kuasa, manusia sering salah menerjemahkan rahmat tersebut sehingga kerap men- jadi bencana. Bukanlah Tuhan yang me- nganugerahkan bencana, melainkan manusia dengan cara pandang sempit (miopik) yang sering menyelewengkan rahmat tersebut menjadi bencana.Agama dan keberagamaan meru- pakan tolok ukur dan pintu ger- bang (avant garde) menilai bagaima- na pandangan pluralitas ditegakkan, bagaimana individu dan ke lompok tertentu me mandang individu dan kelompok lainnya. Semangat kebe- ragama an yang cenderung memuja fundamentalis me menjadi akar masalah yang serius dan menjadikan pluralitas berpeluang menjadi bencana daripada sebagai potensi kebaikan.
Keberagamaan yang demikian akan menjebak sense umat hanya kepada saudara-saudara seagama (in group feeling) dan menomorduakan saudara dari agama lain. Lahir sikap tidak obyektif dalam me- mandang apa yang ada di luar agamanya.
Lahirlah primordialisme sempit yang akan mengakibatkan berbagai konflik sosial politik dengan implikasi perang dan ke- kerasan antaragama dengan mengatas- namakan agama.
Tentu perlu disadari bahwa agama yang ditafsiri ke dalam primordialitas akan selalu menegasikan aspek pluralitas, dan selanjutnya ini menghilangkan morali- tas manusia yang paling asasi. Tentu pula perlu disadari bahwa fungsi agama adalah me nolak segala macam sikap kebencian, balas dendam, kepicikan, pembunuhan, pe maksaan, perampokan, kerusuhan.
Fungsi agama adalah mengembangkan sikap ke baikan, belas kasihan, solidaritas, per saudaraan universal tanpa membeda- kan asal usul suku dan budaya, ras maupun gender. Agama tanpa fungsi semacam itu hanya akan melahirkan suatu pemujaan (cult) belaka.
Agama diturunkan ke bumi ini untuk menciptakan kedamaian dan ketenteram an. Tidak pernah ada cita- cita agama manapun yang ingin mem- buat onar, membuat ketakutan, suasa- na mencekam, pembunuhan, sadisme dan perusakan. Sebelum adanya agama, masyarakat dibayangkan seba- gai kelompok yang tak beraturan, suka berkon flik, saling membunuh, saling menjelekkan dan seterusnya. Kemudian agama datang untuk membawa cahaya kedamaian bagi manusia di bumi ini.
Agama, dengan demikian harus kita sepakati terlebih dahulu, hadir untuk menciptakan ketenteram an, untuk saling menghormati dan memahami satu sama lain. Ada banyak agama dan kepercayaan di bumi ini. Logisnya, antaragama dan kepercayaan semestinya tumbuh sikap saling menghormati itu.
Namun sayangnya, dari masa lalu hingga kini, suatu agama kerap meman- dang dirinya sebagai satu kebenaran tung- gal dalam memotret agama lain, demikian pula dengan agama yang lain. Antaragama jarang menemukan titik temu atas realitas
perbedaan yang sudah semestinya niscaya ini. Lalu terjadilah konflik yang ber darah- darah, pembunuh an korban tak berdosa atas nama agama. Sebagai pemeluk aga- ma yang benar- benar memanifestasikan imannya untuk ke damaian di dunia, kita benar-benar dibuat sedih. Jika konflik atas nama agama dibenarkan, maka hilang- lah nurani dan hakikat agama itu sendiri.
Agama tak lagi menjadi payung perdamai- an karena sudah me ngalami politisasi dan fanatisme.
Atas dasar itulah organisasi ke- agamaan memiliki peran sangat pen- ting dalam rangka membangun dialog antaragama dan komunikasi antariman.
Aktivitas itu menjadi sesuatu yang amat berharga dalam rangka menyelesaikan konflik. Untuk membangun pergaulan agama-agama yang lebih manusiawi dan untuk meredam potensi-potensi kekerasan umat beragama yang bisa muncul dari klaim-klaim kebenaran sepihak itu, tampaknya jalan untuk mengatasinya adalah dengan mem- perluas pandangan inklusif (terbuka) dari visi religiusitas kaum beragama.
Organi sasi keagamaan memiliki tugas yang tidak ringan.
Fakta Pelanggaran Kebebasan Beragama/Berkeyakinan
Pelanggaran kebebasan beragama/
berkeyakinan yang terjadi di Indonesia diakibatkan banyak faktor. Namun semua itu kerapkali dimulai dari adanya jami- nan setengah hati atas hak untuk bebas beragama/berkeyakinan itu sendiri.
Setidaknya dalam laporan peman- tauan yang dilakukan SETARA Institute selama 3 tahun berturut-turut dapat dike- tahui ada nya pelanggaran kebebasan beragama/ berkeyakinan yang cukup se- rius. Dalam la poran itu disebutkan bahwa kondisi demografi agama dan sosiologi masyarakat Indonesia mutakhir meng- gambarkan kecenderungan mence- maskan bagi kokohnya keberagaman Indonesia. Hal tersebut berpotensi adanya pengabaian jaminan kebebasan.
Dalam pemantauan yang dilakukan di 12 provinsi, pada 2009 SETARA
Institute mencatat adanya 200 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/
berkeyakinan yang mengandung 291 jenis tindakan. Terdapat 10 wilayah dengan tingkat pelanggaran tertinggi yaitu, Jawa Barat (57 pe ristiwa), Jakarta (38 peristiwa), Jawa Timur (23 pe ristiwa), Banten (10 peristiwa), Nusa Tenggara Barat (9 peristiwa), Suma tera Selatan, Jawa Tengah, dan Bali masing-masing (8 peristiwa), dan berikutnya Sulawesi Se- latan dan Nusa Tenggara Timur masing- masing (7 peristiwa).
Dari 291 tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan, ter- dapat 139 pelanggaran yang melibatkan negara sebagai aktornya, baik melalui 101 tindak an aktif negara (by commis- sion), maupun 38 tindakan pembiaran yang dilakukan oleh negara (by omission).
Adapun tin dakan pembiaran berupa 23 pembiaran aparat negara atas terjadinya kekerasan dan tindakan kri minal warga negara dan 15 pembiaran karena aparat negara tidak memproses secara hukum atas warga negara yang melakukan tindak pidana.
Institusi negara yang paling banyak melakukan pelanggaran adalah kepolisian (48 tindakan), Departemen Agama (14 tin dakan), Walikota (8 tindakan), Bupati 6 (tindakan), dan pengadilan (6 tindak- an). Selebihnya adalah institusi- institusi de ngan jumlah tindakan di bawah 6 tindakan.
Pelanggaran kebebasan beragama/
berkeyakinan di tahun 2009 paling banyak masih menimpa Jemaat Ahmadiyah (33 tindakan pelanggaran), individu (16 tindakan), dan Jemaat Gereja (12 tindakan). Pelanggaran yang berhubungan dengan Ahmadiyah antara lain meliputi upaya pembakaran masjid, intoleransi, dan pembatasan akses untuk melakukan ibadah. Sementara individu yang menjadi korban umumnya adalah korban penyesatan. Sedangkan Jemaat Gereja mengalami pelanggaran dalam bentuk pelarangan pendirian rumah ibadah, pembubaran ibadah dan aktivitas keagamaan, dan intoleransi.
Pelanggaran kebebasan beragama yang dilakukan oleh negara dan aparaturnya
termasuk yang paling mengkhawtirkan.
Sebagaimana disingggung di atas, hal tersebut terjadi hampir pasti disebabkan karena jaminan kebebasan yang setengah hati tadi. Tidaknya hanya itu, praktik penerapan aturan di lapangan kerap pula bersebarangan dengan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung bersama.
Kekerasan dalam Beragama
Problem kehidupan beragama di In donesia masih cukup banyak dan setiap saat muncul problem yang berbeda-beda.
Untuk menjalankan kehidupan beragama secara bersama-sama antarpemeluk de- ngan semangat toleransi tinggi masih menghadapi tantangan yang tidak kecil.
Walaupun wacana pluralisme dan to leransi antar agama ini sudah sering di kemukakan dalam berbagai wacana pu- blik, namun praktiknya tidaklah semudah yang dipikirkan dan dibicarakan. Walau- pun sudah terdapat kesadaran bahwa bangsa ini di bangun bukan atas dasar agama, melainkan oleh kekuatan ber- sama, namun pandangan atas ‘agamaku’,
’keyakinanku’ justru sering menjadi dasar dari berbagai perilaku sehari-hari yang bermuatan kekerasan.
Sekalipun kita menyadari penting- nya slogan Bhinneka Tunggal Ika, namun praktik di lapangan tak seindah dan semu- dah pe ngucapan slogan itu. Masih banyak persoalan keagamaan di Indonesia yang menghantui dan menghambat terwu- judnya solidaritas, soliditas dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Kasus yang yang terjadi pada 2009 justru meningkat bila dibandingkan pada 2007. Serangkaian perusakan, kekerasan, dan pe nangkapan terhadap kelompok- kelompok yang dianggap “sesat” dan kelompok agama lain terjadi dan diper- tontonkan kepada publik. Sepanjang Januari- November 2007, terdapat 135 pe ristiwa pelanggaran kebebasan be- ragama dan keyakinan. Dari 135 peristiwa yang terjadi, tercatat 185 tindak pelang- garan dalam 12 kategori.
Mengamati fakta realitas legal diskriminatif dan impunitas praktik
persekusi masyarakat atas kebebasan be- ragama/berkeyakinan maka negara harus bersikap dengan melakukan tindakan politik yang tepat dan terarah. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan secara serius untuk melakukan pencabutan seluruh Peraturan Perundang-undangan yang diskriminatif, baik di tingkat nasional maupun di daerah. Juga amandemen UUD Negara RI 1945, khususnya terkait dengan pembatasan yang tercantum di dalam Pasal 28 J (2). Kemudian penyusunan RUU Anti Intoleransi, bukan RUU Kerukunan Umat Beragama, sebagaimana tercantum dalam Prolegnas 2009-2014. Lalu yang penting lagi adalah integrasi kurikulum toleransi dan pluralisme dalam Sistem Pendidikan Nasional diikuti dengan penyediaan sumber daya manusia yang memadai.
Bentuk Kegagalan Negara
Penyerahan otoritas negara kepada organisasi keagamaan korporatis nega- ra dalam menilai sebuah ajaran agama dan kepercayaan, merupakan bentuk ketidakmampuan negara untuk berdiri
di atas hukum dan bersikap netral atas setiap agama dan keyakinan. Aparat hukum bertindak di atas dan berdasar- kan pada fatwa agama tertentu dan penghakiman massa. Padahal institusi penegak hukum adalah institusi negara yang seharusnya bekerja dan bertindak berdasarkan konstitusi dan undang- undang.
Dapat dilihat di sini negara telah gagal mempromosikan, me lindungi, dan memenuhi hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Negara, bahkan telah bertindak sebagai pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM) akibat tindakannya yang melarang aliran keagamaan dan keyakinan dan membiarkan warga/ organisasi ke agamaan melakukan persekusi massal atas kelompok-kelompok ke- agamaan dan keyakinan.
Di sini kita melihat banyak kontradiksi-kontradiksi. Dalam konsti-Dalam konsti- tusi yang lebih tinggi, kebebasan umat beragama dan melakukan ibadah di- jamin, tapi dalam pe raturan di bawah-
nya ter dapat kecenderungan meng- hambat umat untuk beribadah. Ne gara gagal memberikan perlindungan dan kesempatan yang adil bagi semua pe- meluk agama untuk ber ibadah sesuai keyakinannya masing-masing. Jika demi-Jika demi- kian, lalu Pancasila untuk apa? Apa untuk gagah-gagahan saja? Untuk apa para founding father me rumuskan falsafah bangsa yang demikian berharga dan ter- hormat itu jika dalam perilaku sehari-hari kita tidak bisa mempraktikkannya dengan sepenuh hati?
Membuka Ruang Dialog
Walaupun kehidupan sosial politik kita sudah mengalami kebebasan, nyatanya itu belum berimplikasi pada kebebasan asasi warga untuk beribadat. Beribadat, seperti kata Romo Magnis, adalah hak war- ga paling asasi, dan hanya rezim komunis yang melarangnya. Rezim seperti apakah kita ini ketika membiarkan kekerasan da- lam beragama tanpa adanya ruang dialog untuk membicarakan ulang secara lebih manusiawi?
Pemerintah berkewajiban untuk menjaga, melestarikan dan meningkat- kan kesadaran dan kedewasaan umat terutama dalam pandangannya ter- hadap umat dan keyakinan beragama yang dianggap ”lain”. Pemerintah ber- kewajiban untuk memberikan pencerah- an dan pendewasaan pemikiran umat akan toleransi dan pluralisme. Itulah yang dimaui Pancasila. Dengan be- gitu kebijakan yang ber peluang un- tuk menumbuhsuburkan antipati ter- hadap saudara sebangsanya yang lain perlu didudukkan ulang untuk dibahas dan diganti dengan kebijakan yang lebih adil dan mencerahkan. Buat apa mempertahankan sesuatu yang diang- gap tidak adil? Peme rintah harus men- dengar dan benar-benar men dengar tuntutan se perti ini.
Tampak bangsa ini sangat meng- agungkan formalisme keagamaan dan persatuan yang dihayati secara “fasis”.
Inilah yang membuat bangsa ini gagal melompat menjadi bangsa yang me- nekankan ra sionalitas karena kekerasan
melekat menjadi kultur dalam diri kita sebagai bangsa.
Sikap agama terhadap masalah kemanusiaan, akan menjadi tolok ukur profetis agama di tengah masyarakat.
Kehilangan fungsi profetis ini otomatis agama kehilangan fungsinya di tengah masyarakat. Bahkan TH Sumartana almarhum (1996) mengatakan bahwa dalam diskursus kita tentang pertemuan antaragama, kita terpanggil bukan hanya untuk membuat agenda sosial politik dan lainnya, tetapi setaraf dengan itu, kita harus mengedepankan sebuah agenda teologi sebagai kesatuan integral.
Dengan demikian, tugas teologi dalam agama mestinya diarahkan untuk mengusir rasa takut terhadap agama lain.
Sehingga agenda yang sangat mendesak adalah me ngalahkan ketakutan ber sama antaragama itu, dan memunculkan kebersamaan agama-agama dalam men- jaga dan mempertahan kan martabat manusia dari ancaman ter utama yang datang dari diri sendiri.
Agama sebagai Kekuatan Pembebas
Agama sebagai realitas sosial se- jak ratusan tahun lalu telah membuk- tikan bahwa dalam dirinya memiliki kekuat an perubah yang sangat dah- syat. Bahkan jauh sebelum Weber mem- perkenalkan tesis protestant ethic-nya, kekuatan agama sudah berulang kali membuktikan mampu melakukan perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat. Sebagai basis keyakinan dalam masyarakat, agama mampu mendorong pemeluknya untuk me- mandang realitas dunia sebagai obyek yang senantiasa disikapi, menurut visi teologis agama itu sendiri.
Itulah sebabnya, perubahan sosial yang didorong oleh semangat agama terkadang tidak sejalan dengan nilai ke- sucian agama itu sendiri. Sebab untuk menjadi daya do rong perubahan sosial, teks suci agama melewati berbagai insti- tusi (dan personi fikasi) yang kerap tidak netral dan obyektif dalam memandang
realitas. Satu hal lagi, karena agama kerap di posisikan secara formal-simbolistik bukan substansial; hanya diperjuangkan nilai-nilainya secara parsial tidak univer- sal. Sehingga tidak heran jika atas nama agama, manusia bisa berbunuh- bunuhan satu sama lain membela kesucian yang absurd. Apalagi jika ada pihak-pihak di luar agama yang turut memperkeruh suasana dengan memanfaatkan kesem- patan dalam kesempitan, maka otoma- tis tanpa disadari posisi agama sebagai kekuatan pembebas makin lama makin pudar, surut, susut, kering dan tidak terasa lagi.
Dialog antaragama yang telah lama digagas di Indonesia, sampai kini, akhirnya terseret hanya untuk meredam potensi konflik antaragama.
Dialog antaragama sebagai wilayah perbin cangan netral hanya mengu- rusi masalah-masalah, baik yang di- timbulkan oleh tafsir konvensional atas teks agama maupun oleh kekua- tan luar yang memanfaatkan potensi konflik antaragama itu sen diri. Tak bisa
dipungkiri bahwa selama ini agama yang menyebarkan ajaran per damaian, kasih sayang dan kesejahteraan tidak termanifestasikan akibat agama hanya melayani pembelaan-pembelaan ter- hadap simbol-simbol saja. Dan, dialog antaragama yang memiliki peluang untuk menciptakan perdamaian, kasih sayang dan kesejahtera an, visinya ha- nya menyentuh pada aras perdamaian dan kasih sayang. Visi menyejahterakan pemeluk agama yang sebenarnya juga perlu diemban oleh komunitas dialog antaragama relatif belum tersentuh.
Di masa Orba, meminjam ungkapan Gus Dur, agama hanya dijadikan alat legiti- masi untuk mengabsahkan proyek-proyek pembangunan yang tidak diorientasikan untuk rakyat. Kolaborasi para elit agama dan birokrat menghasilkan kebijakan- kebijakan yang hanya berorientasi untuk menggolkan kebijakan pembangunan yang berbasis semata-mata pada pertum- buhan ekonomi. Setelah melegitimasinya, jasa agama sendiri hanya dibalas de ngan pembangunan “sarana fisik” agama itu
sendiri. Upaya untuk memberikan ke- sempatan luas dan terbuka bagi pemeluk agama untuk meningkatkan kemampuan ekonominya, secara tak disadari, tidak ba nyak diberikan.
Arti penting agama adalah se- bagai kekuatan pembebas. Selama ini wacana kita masih terkonsentrasi pada bagaimana agar agama tidak menjadi kekuatan konflik yang merusak. He- mat penulis, kita harus mengembang- kan wacana ini lebih jauh, yakni mem- buat agama melalui forum- forum lintas agama mengembangkan rumusan dan pola menyejahterakan masyarakat pemeluknya.
Mengapa ini penting, sebab per- soalan Indonesia, di samping potensi kerusuh an atas nama agama, juga di- picu oleh kemelaratan dan kemiskinan yang membelenggu semenjak Indone- sia berdiri hingga kini. Jika kita sepa- kat dengan konsep bahwa kerusuhan massa lebih ba nyak di sebabkan oleh ketidakberdayaan ekonomi masyarakat, maka mau tidak mau forum dialog
antar umat beragama kini semestinya memperluas jangkauan kerjanya, yakni me ngalihkan konsentrasinya pada per- soalan masyarakat luas.
Selama ini para agamawan merasa tugas mengentaskan kemiskinan hanya terbebankan pada negara. Ternyata, di sam ping tidak menyelesaikan tugasnya dengan baik karena sering terjadi KKN, negara juga kerap terlibat dalam praktik- praktik politik temporal yang tidak jelas pemihakannya pada rakyat banyak. Ka rena itu, dengan tetap membiarkan ne gara melaksanakan tugasnya, agama hen- daknya tidak hanya menjalankan fungsi kontrol saja, melainkan juga sebagai pelak- sana dari pemberdayaan itu sendiri. Inilah yang penulis maksud dengan perluasan wilayah jangkauan gerakan keagamaan.
Dan ini akan dilakukan dengan cara ko- munikasi antarumat beragama dan men- cari rumusan yang tepat untuk member- dayakan para pemeluknya yang dilanda kemiskinan.
Gerakan pemberdayaan ekonomi melalui dialog antarumat beragama se-
lama ini memang sudah dilakukan. Tapi biasanya gerakan ini terbatas karena ru- musan dan pola pemberdayaan yang tidak jelas. Akhirnya biasanya mereka me- lebur dalam gerakan-gerakan LSM de ngan orientasi yang sama. Yang kita butuhkan,
dengan berpedoman pada kekuatan agama sebagai pembebas, adalah elit-elit agama bersatu dalam sebuah komunitas dialog antaragama untuk merumuskan visi yang sama memberdayakan ekonomi masyarakatnya.