Haruskah Pekerja Anak Dilarang
Oleh : Gatot Sasongko1 Salahkah Pekerja Anak?
Tidak pernah terlupakan pada saat awal ikut penelitian dibawah bimbingan Prof. John JOI Ihalauw, S.E, Ph.D. untuk melakukan penelitian ulang tentang Kambing Domba sekitar tahun 1980an. Itulah awal pengetahuan untuk melakukan penelitian baik untuk mencari data, menulis laporan dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengelola kegiatan penelitian. Proses panjang yang telah saya lalui untuk melakukan penelitian, baik bekerja sama dengan Pemerintah Kota Salatiga, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun dengan Departemen Keuangan Republik Indonesia yang memberikan kepercayaan untuk melakukan kajian tentang efektivitas subsidi pupuk dalam rangka meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan petani.
Tulisan yang saya sajikan menggambarkan sisi lain dari pekerja anak. Selama ini pekerja anak selalu dilihat dari sisi negatif. Dalam penelitian yang saya lakukan pada industri kayu di Kabupaten Boyolali menyajikan fakta yang berbeda, anak yang bekerja membantu orang tua dilakukan sambil bermain, sehingga tidak terasa sebagai beban, disamping mereka tetap bersekolah. Dengan bekerja, proses magang dan alih usaha dari orang tua kepada generasi penerus dapat dipersiapkan sejak mereka masih kanak- kanak. Pekerja anak tidak mesti salah.
Indonesia sebagai negara berkembang ketinggalan dibidang sumber daya manusia.
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Pemerintah kemudian menetapkan program wajib belajar 9 tahun. Niat baik Pemerintah ini tidak dengan mulus dapat terlaksana.
Membebaskan masyarakat untuk tidak membayar bagi yang akan menyekolahkan anaknya di tingkat Pendidikan Dasar (SD dan SMP), tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Kalau sebagian orang tua tidak menyekolahkan anaknya, bukan hanya karena tidak ada biaya sekolah. Ada sebagian masyarakat yang tidak menyekolahkan anaknya dengan harapan anaknya bekerja untuk dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Keberadaan pekerja anak erat kaitanya dengan upaya memenuhi kebutuhan keluarga atau berhubungan dengan kecilnya pendapatan rumah tangga. Hasil kajian Elizabeth, et al.
(1999) memperlihatkan bahwa setelah krisis ekononomi di Indonesia terjadi penurunan angka partisipasi bersekolah pada kelompok usia 13-19 tahun, sementara angka drop–out meningkat setahun setelah krisis. Kesimpulan ini sejalan dengan hasil kajian Manning (2000) menunjukan adanya perubahan yang signifikan dalam pasar tenaga kerja setelah adanya krisis tahun 1997.
Jumlah pekerja anak yang bekerja di sektor pertanian berlipat ganda, terjadi informalisasi pekerja anak dan menurunnya upah riil. Demikian juga di perkotaan, jumlah pekerja anak
1 Gatot Sasongko, lulus Sarjana Ekonomi dari FEB-UKSW tahun 1980. Menyelesaikan Magister Sains dari Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada tahun 1990. Menjadi staf pengajar pada FEB-UKSW sejak tahun 1981 sampai sekarang. Pernah mengajar mata kuliah Ekonomi Mikro dan Ekonomi Sumber Daya Manusia di Program Pascasarjana Magister Studi Pembangunan dan mata kuliah Ekonomi Manajerial dan Ekonomi Mikro di Magister Manajemen UKSW. Jabatan yang pernah dipegang adalah sebagai Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan tahun 1984 – 1988; Pembantu Dekan III tahun 1990 – 1994; Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan tahun 1994 – 1998; serta Pembantu Dekan I antara tahun 2000 – 2004. Saat ini menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Ekonomi FEB-UKSW.
meningkat tajam. Semua ini mencerminkan adanya gelombang pekerja anak yang memasuki sektor informal.
Hasil Penelitian Badan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah (2003) menunjukan bahwa dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah terdapat jumlah pekerja anak 119.648 atau sebesar 3,63%. Melihat angka jumlah pekerja anak yang cukup besar diatas, adalah wajar kalau Pemerintah bertekad untuk mengurangi keberadaan pekerja anak. Tekad ini mendapatkan dukungan International Labour Organization melalui program internasional tentang penghapusan pekerja anak (The International Programme on the Elimination of Child Labour – IPEC). Upaya menghilangkan pekerja anak dilakukan secara bersamaan dengan upaya menghapus kemiskinan. Upaya menghilangkan pekerja anak dalam kerangka menghapus kemiskinan dimulai sejak tahun 1992 (ILO, 2004, Buku 8).
Bukti keseriusan Pemerintah Indonesia dinyatakan dengan meratifikasi konvensi ILO tentang pekerja anak. Pemerintah Indonesia harus tunduk dengan berbagai ketentuan yang telah diratifikasi tersebut. Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No. 20 tahun 1999, Undang-Undang No. 1 tahun 2000 dan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 juga mengatur keberadaan pekerja anak.
Hasil studi ILO (2006) menggambarkan tidak semua orang tua setuju anaknya bekerja.
Dari survei terhadap 1.212 responden diketemukan 56% orang tua menyatakan sebaiknya anak bekerja pada usia minimal 17 tahun. Hal ini berarti 44% tidak menghendaki anak usia <17 tahun bekerja. Keberadaan pekerja anak menjadi masalah karena semestinya mereka berada di bangku sekolah. Orang tua harus memutuskan mengirim anaknya ke pasar tenaga kerja atau tetap bersekolah atau keduanya. Dengan bekerja seolah-olah kepentingan anak dikorbankan.
Akankah kesempatan bersekolah anak dikorbankan?
Analisis Priyambada dengan data Indonesia tahun 1998 dan 1999, satu tahun setelah krisis, menunjukan bahwa bekerja tidak selalu menghilangkan kesempatan anak untuk bersekolah (Priyambada, et al, 2005).
Menghilangkan atau mengurangi jumlah pekerja anak bukan pekerjaan yang mudah.
Kajian Priyambada, et al. (2005) menunjukan 30% dari jumlah anak yang bersekolah juga bekerja, sementara kajian Usman dan Nachrowi (2004) menyajikan data bahwa 57,8% pekerja anak masih bersekolah. Ini menunjukan antara bersekolah dan bekerja bukan merupakan trade-off. Pertanyaan yang harus dijawab, haruskah pekerja anak dilarang?
Menggugat Teori Penawaran Tenaga Kerja
Bentuk umum kurva penawaran tenaga kerja dikenal sebagai backward bending supply curve yang menggambarkan semakin tinggi upah mula-mula penawaran jam kerja akan bertambah, tetapi setelah titik tertentu dengan semakin tinggi upah jam kerja pekerja justru akan dikurangi. Teori ini menempatkan tenaga kerja sebagai pengambil keputusan dan sebagai pihak yang mempunyai posisi tawar lebih kuat, sementara perusahaan berada pada posisi
lemah sehingga untuk mendorong tenaga kerja lembur harus menawarkan upah yang lebih tinggi.
Gambaran posisi tawar tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi tawar perusahaan banyak ditemui dinegara yang keberadaan tenaga kerjanya langka atau negara yang kekurangan tenaga kerja. Dengan kelangkaan tenaga kerja, perusahaan dan pemerintah mengembangkan otomatisasi untuk menggantikan peran dan kedudukan tenaga kerja dengan mesin. Sementara kalau tetap akan menggunakan tenaga kerja, perusahaan harus membayar relatif mahal. Untuk mendorong agar tenaga kerja bersedia menambah jam kerja, perusahaan harus membayar dengan upah yang lebih tinggi.
Apakah hal ini relevan dengan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia? Rasanya tidak.
Dengan tingkat upah yang sebagian baru sama dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL), bahkan di Jawa Tengah masih ada delapan Kabupaten yang upahnya masih lebih kecil dari KHL (Suara Merdeka, 31 Oktober 2011), maka tenaga kerja akan dengan senang hati bekerja lembur dengan tidak harus dibayar dengan upah yang lebih tinggi. Indonesia, negara yang dikenal sebagai negara labor surplus (jumlah tenaga kerjanya berlebih), posisi tawar tenaga kerja lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan. Masih tingginya tingkat pengangguran dan relatif terbatasnya kesempatan kerja, menggambarkan pasar tenaga kerja di Indonesia cenderung mirip dengan Monopsony (pasar dengan satu pembeli) atau Oligopsony (pasar dengan hanya beberapa pembeli). Ribuan bahkan jutaan tenaga kerja atau pencari kerja harus berhadapan hanya dengan beberapa perusahaan atau pihak yang membutuhkan tenaga kerja.
Bagaimana dengan penawaran tenaga kerja pekerja anak. Hasil penelitian Gatot Sasongko (2008) menggambarkan bentuk kurva penawaran tenaga kerja pekerja anak mirip dengan pekerja dewasa. Dinyatakan mirip karena juga mempunyai bentuk membalik ke belakang (backward bending supply curve). Terdapat perbedaan karena kurva penawaran tenaga kerja pekerja anak membalik lebih cepat, yaitu setelah anak bekerja 6,4 jam per minggu.
Hal ini dapat di mengerti karena untuk pekerja anak ada empat pilihan lokasi waktu, yaitu: (1) bersekolah, (2) bekerja, (3) bersenang-senang/ bermain; dan (4) beristirahat, sementara untuk pekerja dewasa hanya tiga karena tidak ada lagi pilihan bersekolah.
Bekerja Sambil Bermain
Klasifikasi pilihan alokasi waktu anak memberikan makna adanya perbedaan yang nyata antara bekerja dan bermain. Konsep bekerja yang diadopsi dari konsep bekerja pekerja dewasa tidak sepenuhnya benar untuk pekerja anak. Wawancara dengan Rakhmad berikan gambaran bahwa bagi Rakhmad bekerja membantu ayahnya dianggap juga sebagai bermain.
“Kula ngewangi Pake kalih kanca- kanca. Mepe bahan bebel (papan, usuk, reng), nyepengi usuk, reng), nyepengi usuk menawi Pake pas nggraji. Kanca – kanca malah remen yen diajak ngewangi Pake. Yen Pake pun saget nggarap piyambak, kulo kalih kanca- kanca dolanan malih”.
Terjemahan bebas:
Saya membantu Bapak dengan teman – teman. Membantu menjemur kayu (papan, usuk, dan reng), memegangi kayu kalau Bapak sedang mengergaji. Teman–teman justru merasa senang kalau saya membantu Bapak. Kalau Bapak tidak lagi membutuhkan bantuan, kami kembali bermain bersama dengan teman – teman.
Itulah gambaran salah satu anak pengraji kayu di Kabupaten Boyolali. Mereka bekerja di sela-sela bermain dengan teman–temannya. Tidak ada aturan jam kerja yeng ketat, tidak ada seragam yang mencerminkan aturan kerja ketat. Bagi orang tua, minta anaknya membantu bekerja juga tetap memperhatikan kebutuhan bermain anaknya. Hal ini sejalan dengan kajian ILO (2006) yang menunjukan 50% orang tua setuju anaknya bekerja asal pekerjaannya tidak berbahaya bahkan 60% responden menyatakan bahwa anak usia sekolah bekerja merupakan praktik umum di daerahnya.
Pewaris Ketrampilan dan Pengenalan Relasi
Pak Sarijo (orang tua Rakhmad) secara ekonomi cukup mapan. Rumahnya tidak lagi dari papan atau gedhek (bambu), melainkan sudah di tembok walaupun belum semua di plester.
Perabotan rumahnya cukup lengkap. Di ruang tamu terlihat pesawat televisi 14 inch. Hal ini menggambarkan bahwa dari pekerjaan menjadi pengrajin mebel selama ini cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dapat dimengerti kalau Pak Sarijo berharap anaknya yaitu Rakhmad bersedia melanjutkan usaha yang telah dirintisnya. Pedagang setiap 2 minggu mengambil hasil produksi Pak Sarijo, sementara untuk bahan baku kayu Pak Sarijo tidak mengalami kesulitan. Pak Sarijo melibatkan Rakhmad untuk ikut mengenal pekerjaannya sejak Rakhmad kelas 5 Sekolah Dasar.
Awalnya hanya disuruh melihat, kemudian diminta membantu pekerjaan yang mudah (menjemur kayu, memegang kayu, dan sebagainya). Saat ini Rakhmad sudah kelas 3 Sekolah Menengah Pertama dan sudah bisa membantu membuat hiasan mebel dengan menggunakan mesin untuk membuat hiasan (“proflie”).
“Kula riyin sekolah namun dugi kelas 2 SMP. Kula kepengen anak kula saget sekolah ngantos tutug Sekolah Menengah Atas. Neg pinter mangke rak saget neruske usaha niki langkung sae.
Kula ngajari kaleh praktek ndamel pesenan. Dados mboten namun teori, ning langsung praktek”
Ning nggih niku sing penting larene saget ngertos lan mboten ninggalke sekolah lan ngaji”.
Terjemahan bebas:
Saya dulu hanya sekolah sampai kelas 2 SMP. Saya menginginkan anak saya sekolah sampai lulus SMA kalau pandai akan dapat meneruskan usaha yang telah saya rintis ini dengan lebih baik.
Agar anak saya dapat menjadi tukang mebel, saya memberi pelajaran langsung praktek tidak hanya teori. Dengan langsung praktek anaknya dapat mudah mengerti tetapi yang penting anaknya tidak boleh meninggalkan sekolah dan belajar agama.
Bagi Pak Sarijo tidak ada paksaan untuk anaknya membantu bekerja. Dengan pertimbangan utama adalah bersekolah dan belajar agama, Pak Sarijo tidak mematok berapa jam anaknya harus membantu. Tentang jumlah jam kerja yang layak untuk anak 15 tahun, 27%
agama, Pak Sarijo tidak mematok berapa jam anaknya harus membantu. Tentang jumlah jam kerja yang layak untuk anak usia 15 tahun, 27% menyatakan 4 jam, 25% menyatakan 3 jam per hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah jam kerja yang layak untuk pekerja anak antar kabupaten bervariasi (ILO, 2006).
Dengan mengenal pekerjaan orang tua sejak awal, Rakhmad diharapkan mewarisi keterampilan orang tua nya dan dapat mengenali relasi orang tua nya baik pedagang mebel maupun penyedia bahan baku dalam hal ini pemilik kayu.
Alternatif Lapangan Kerja di Pedesaan
Agro industri dalam wujud pengolahan hasil pertanian, dalam hal ini kayu, menjadi alternatif lapangan kerja di pedesaan. Kalau hanya mengandalkan usaha tani, dengan keterbatasan lahan pertanian tentu juga akan semakin terbatas sektor usaha tani mampu menyediakan lapangan kerja. Rakhmad dan juga pemuda lain perlu didorong untuk menciptakan lapangan kerja di pedesaan. Mereka tidak lagi tergantung sektor usaha tani, tetapi juga tidak harus meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di kota.
Pada umumnya pemuda mempunyai impian bersekolah dan kemudian bekerja di kota.
Kalau hal ini terjadi, yang tinggal adalah orang yang tidak lagi produktif dan berpendidikan rendah. Pengenalan anak akan keberhasilan usaha orang tua seperti halnya Rakhmad, diharapkan dapat menahan laju urbanisasi pemuda. Lebih lanjut, dengan adanya kegiatan usaha di pedesaan, multiplier pendapatan juga akan terjadi di pedesaan dan pada gilirannya kesejahteraan masyarakat pedesaan akan meningkat.
Catatan Penutup
Beberapa studi yang memperhadapkan antara bersekolah dan bekerja bagi anak sekolah tidak lagi harus diperdebatkan. Priyambada (2005), Gatot Sasongko (2008) menyimpulkan tidak
ada trade-off antara bekerja dan bersekolah bagi pekerja anak. Pekerja anak yang masih bersekolah, tidak mengurangi waktu untuk belajar. Yang dikurangi adalah waktu bermain (Gatot Sasongko, 2008).
Dari uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa konsep bekerja bagi pekerja anak ternyata berbaur dengan konsep bermain. Anak yang membantu bekerja orang tuanya dilakukan tidak pada waktu khusus, tetapi dilakukan disela-sela bermain. Mereka menganggap bekerja membantu orang tuanya bukan merupakan beban, tetapi dilakukan sambil bermain, bahkan pada saat mereka membantu orang tua bekerja mereka juga mengajak temanya.
Menganggap pekerja anak dengan apriori hanya dari sisi negatif, kiranya perlu melihat juga sisi positifnya. Aplikasi teori dari negara maju dengan kondisi kekurangan tenaga kerja, perlu disesuaikan dengan Indonesia yang merupakan labor surplus. Pengenalan anak terhadap dunia kerja orang tua yang ternyata tidak mengganggu jam sekolah dan waktu bermain menjadi pertimbangan untuk melihat sisi positif keberadaan pekerjaan anak. Sistem magang (apprentice system) justru berjalan dengan baik pada keluarga yang dalam bekerja melibatkan anaknya.
Anak sejak dini telah mengenal seluk beluk pekerjaan orang tuanya, baik dari sisi keterampilan maupun manajemen.