1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tata kelola perusahaan akan menjadi baik ketika perusahaan dapat menjalankan kegiatan operasi tanpa mengabaikan kepentingan stakeholders.
Stakeholders adalah orang yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan, yang mempunyai legitimasi, kemampuan dan kepentingan tertentu sesuai dengan landasan yang dipakainya (Rudito dan Famiola 2013). Cara mengakomodasi kepentingan stakeholders adalah melalui sistem yang dibuat, kemudian diimplementasikan, dan dibuktikan melalui pengungkapan perusahaan.
Wujud nyata hubungan perusahaan dengan lingkungan masyarakatnya dalam kaitan etika bisnis yang dilaksanakannya salah satunya adalah pada bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) (Rudito dan Famiola 2013). Pasal 74 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas berbunyi tanggung jawab sosial dan lingkungan itu merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
Dalam CSR, perusahaan tidak diharapkan pada tanggung jawab yang hanya berpijak pada single bottom line, tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom line (Untung 2008). Triple bottom line adalah sebuah organisasi menciptakan laporan tahunan yang mencakup keuangan, lingkungan dan gambaran sosial, memberikan keseimbangan, berat dan kepentingan pada masing-masing aspek (Rudito dan Famiola 2013). Munculnya Sustainability reporting mencerminkan perkembangan di bidang standar pengungkapan sosial dengan pedoman sustainability reporting yang diluncurkan pertama oleh GRI tahun 1999 (Kolk 2010, dalam Hanh dan Kuhnen 2013). Sustainability reporting menyampaikan pengungkapan tentang dampak organisasi, baik itu dampak positif atau negatif terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi. Pengungkapan memungkinkan informasi yang terkandung dalam sustainability reporting dapat diakses, sehingga memberikan tambahan informasi kepada stakeholders untuk mengambil keputusan (GRI 2013).
2 Dengan sustainability reporting perusahaan swasta, misalnya, bertujuan untuk meningkatkan transparansi, meningkatkan nilai merek, reputasi dan legitimasi, memungkinkan benchmarking terhadap pesaing, sinyal daya saing, memotivasi karyawan, dan mendukung informasi perusahaan dan proses kontrol (Herzig dan Schaltegger, 2006 dalam Hanh dan Kuhnen 2013). Perusahaan yang ingin operasionalnya berkelanjutan, harus menyeimbangkan antara keuntungan yang diperoleh dengan tanggung jawab terhadap kepentingan sosial dan lingkungannya. Harapan-harapan ini semakin meningkat sejalan dengan kebutuhan untuk mencapai ekonomi yang benar-benar berkelanjutan dipahami oleh perusahaan dan stakeholders (GRI 2013). Dari perspektif ekonomi, perusahaan hanya melakukan tindakan yang mengurangi biaya atau meningkatkan manfaat; yaitu, hanya melakukan pengungkapan yang mengurangi biaya atau meningkatkan pendapatan. Karena karakteristik spesifik perusahaan, perusahaan harus berurusan dengan, baik itu stakeholders yang kuat atau kurang kuat dan dengan demikian perusahaan menghadapi tingkat biaya politik dan sosial yang berbeda. Dengan sukarela mengungkapkan kinerja sosial mereka, perusahaan mencoba mengurangi biaya-biaya tersebut (Gamerschlag, Moller, dan Verbeeten 2010).
Pengungkapan sosial merupakan pengungkapan informasi tentang aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan lingkungan sosial perusahaan (Devina 2004). Hanya ada beberapa perusahaan manufaktur yang melakukan pengungkapan sosial secara terpisah dalam sustainability report antara lain Semen Indonesia Tbk d.h Semen Gresik Tbk, Holcim Indonesia Tbk d.h Semen Cibinong Tbk, dan Indocement Tunggal Prakasa Tbk, dan Astra International Tbk, rata-rata perusahaan manufaktur di Indonesia hanya mengungkapkan dalam Laporan Tahunan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perusahaan dalam melakukan praktik pengungkapan sosial, penelitian ini mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan sosial, antara lain kinerja lingkungan, ukuran perusahaan, sektor-afiliasi, kepemilikan saham asing, dan visibilitas. Karakteristik perusahaan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Hanh dan Kuhnen (2013) yang melakukan tinjauan literatur dari 178 artikel tahun 1999-2011 dari jurnal yang terkait dengan bisnis, manajemen, dan akuntansi, yang meliputi 2.474
3 jurnal di 50 disiplin ilmu termasuk bisnis (113 jurnal), keuangan dan akuntansi (85 jurnal) dan manajemen (172 jurnal). Penelitian Hanh dan kuhnen (2013) juga menggunakan database ScienceDirect yang mencakup lebih dari 2.500 jurnal, termasuk 123 terkait dengan bisnis, manajemen dan akuntansi. Isu tentang pengungkapan tanggung jawab sosial berkembang dengan cepat. Dengan demikian persoalan penelitian ini adalah apakah karakteristik perusahaan yang meliputi kinerja lingkungan, ukuran perusahaan, sektor-afiliasi, kepemilikan saham asing, dan visibilitas berpengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris tentang praktik pengungkapan sosial, menjadi bahan perbandingan, referensi penelitian selanjutnya, dan membantu dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengungkapan sosial.
TELAAH PUSTAKA Signaling Theory
Signaling theory mengemukakan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan dan non- keuangan. Pengungkapan sosial yang tepat dan sesuai harapan stakeholder digunakan sebagai sinyal good news yang diberikan oleh pihak manajemen kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek yang bagus di masa depan dan memastikan terciptanya sustainabilty development (Putri 2013). Signaling theory menyatakan bahwa dalam situasi asimetri distribusi informasi, perusahaan ingin mengurangi asimetri informasi ini dengan menyampaikan informasi tentang kegiatan yang berhubungan dengan keberlanjutannya untuk memastikan legitimasi (Hanh dan Kuhnen 2013).
Agency Theory
Teori keagenan didefinisikan sebagai hubungan antara agen (manajemen perusahaan) dengan principal (pemilik perusahaan/pemegang saham). Konflik keagenan atau perbedaan kepentingan antara agen dan principal dapat dikurangi
4 dengan menerapkan corporate governance sebagai mekanisme yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Corporate governance merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan dan pengungkapan informasi yang lengkap antar stakeholders (Putri 2013). Berdasarkan teori keagenan perusahaan yang menghadapi biaya kontrak dan biaya pengawasan yang rendah cenderung akan melaporkan laba lebih rendah, mengeluarkan biaya yang dapat meningkatkan reputasi perusahaan di mata masyarakat (Anggraini 2006).
Corporate Social Responsibility (CSR)
CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan (Untung 2008). Dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal ditegaskan bahwa, setiap penanam modal berkewajiban menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (Untung 2008). Untuk membangun kepercayaan dan keyakinan stakeholders, CSR menjadi landasan penting bagi sebuah bisnis dan dapat menjadi awal penting bagi peningkatan daya saing. Ada empat jenis CSR yaitu CSR terkait rantai nilai panjang, CSR terkait pengembangan pasar, CSR untuk peningkatan gaya hidup dan untuk menjamin pasar serta lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan, dan kegiatan amal perusahaan (Urip 2014).
Implementasi CSR membutuhkan pelaporan yang berguna dalam menginformasikan serta mengomunikasikan dan bentuk pertanggungjawaban kepada stakeholders. Pelaporan CSR berperan besar bagi perusahaan untuk memublikasikan praktikal-praktikal CSR mereka kepada stakeholders secara taktis, komprehensif, dan berkelanjutan (Kartini 2009). Tata kelola perusahaan yang baik mengharuskan pelaporan kegiatan CSR patuh pada prinsip akuntansi bisnis yang berlaku, selain juga harus diawasi secara objektif dan transparan untuk umum (Urip 2014).
5 Sustainability Reporting
Pengembangan dan fokus pelaporan terkait sustainbility mengalami beberapa pergeseran. Pada 1970-an, pelaporan keuangan tradisonal di negara- negara Barat dilengkapi dengan laporan sosial. Pada 1980-an, fokus bergeser ke arah isu lingkungan seperti emisi dan limbah, sering mengganti pelaporan sosial sebelumnya. Pada akhir tahun 1990-an, penelitian dan praktek semakin mempertimbangkan dimensi lingkungan sosial dalam laporan yang diterbitkan bersama laporan keuangan (Hanh dan Kuhnen 2013).
Kecenderungan tersebut dapat langsung dihubungkan dengan pengembangan voluntary standard-setting oleh Global Reporting Initiative (GRI) (Hanh dan Kuhnen 2013). GRI menerbitkan kerangka kerja sustainability reporting yang saat ini telah digunakan oleh lebih dari 1.500 perusahaan di 60 negara, dan secara de-facto telah menjadi standar dunia untuk pelaporan. GRI Guidelines mengajukan prinsip dan indikator untuk mengukur kinerja ekonomi, lingkungan, dan sosial perusahaan, juga standar isi sustainability report perusahaan (Urip 2014). Berbagai perusahaan yang bergerak pada sektor ekstraktif, sektor genetik, sektor manufaktur, dan jasa telah mengumumkan laporan tata kelola perusahaan dan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ditimbulkannya dalam sustainability report. Unilever, Procter and Gamble, Shell, dan UPS menyusun sustainability report menggunakan kerangka yang dikembangkan GRI (Kartini 2009).
Sustainability reporting adalah sebuah laporan yang diterbitkan oleh perusahaan atau organisasi tentang dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan. Sustainability reporting menyampaikan pengungkapan tentang dampak organisasi – baik itu positif atau negatif – terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi (GRI 2013). Sustainability reporting dianggap memenuhi peranan perusahaan terhadap CSR, suatu konsep yang dianggap dapat mewujudkan tanggungjawab ekonomi, hukum, etis, dan kedermawanan terhadap stakeholders dan masyarakat pada umumnya (LKDI 2000). Sustainability reporting merupakan terminologi yang luas mengenai pengungkapan kinerja ekonomi, lingkungan, dan sosial (misalnya Triple Bottom
6 Line dan CSR). Sustainability dan CSR secara bertahap menyatu sehingga sustainability reporting dan CSR reporting dianggap sebagai konsep yang konsisten (Hanh dan Kuhnen 2013). GRI merupakan salah satu dari lembaga yang serius menangani permasalahan yang berhubungan dengan sustainability.
Sustainability reporting merupakan praktik pengukuran, pengungkapan, dan pertanggungjawaban kepada stakeholder internal dan eksternal perusahaan terkait dengan kinerja pencapaian tujuan keberlangsungan perusahaan (Yuliana, Purnomosidhi, dan Sukoharsono, 2008).
Pengungkapan Sosial
Kata pengungkapan secara umum memiliki arti tidak menutupi atau tidak menyembunyikan. Secara konseptual, pengungkapan merupakan bagian integral dari pelaporan keuangan. Secara teknis, pengungkapan merupakan langkah akhir dalam proses akuntansi berupa penyajian dalam bentuk seperangkat statemen keuangan. Tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan melayani kebutuhan berbagai pihak yang kepentingan berbeda (Suwardjono, 2005 dalam Putri 2013).
Pengungkapan sosial merupakan pengungkapan informasi tentang aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan lingkungan sosial perusahaan (Devina 2004). Pengungkapan sosial dapat dilakukan melalui berbagai media antara lain; website perusahaan, media massa, laporan tahunan, dan sustainability report. Anggraini (2006) menyatakan perusahaan dituntut untuk memberikan informasi yang transparan, menjadi organisasi yang akuntabel serta memiliki tata kelola perusahaan yang baik sehingga perusahaan dituntut untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya. Masyarakat membutuhkan informasi mengenai sejauh mana perusahaan sudah melaksanakan aktivitas sosialnya sehingga hak masyarakat untuk hidup aman dan tentram, kesejahteraan karyawan, dan keamanan mengkonsumsi makanan dapat terpenuhi.
Mengacu pada Surat Keputusan BAPEPAM No. Kep-38/Pm/1996, informasi yang dimuat dalam Laporan Tahunan ada dua jenis, yang pertama adalah Laporan Tahunan dengan pengungkapan wajib, dan yang kedua adalah Laporan Tahunan dengan pengungkapan sukarela (Yularto dan Chariri 2003).
7 Pengungkapan wajib merupakan pengungkapan yang diwajibkan oleh peraturan pemerintah, sedangkan pengungkapan sukarela merupakan pengungkapan yang melebihi dari yang diwajibkan (Meek et. al., 1995 dalam Susbiyani 2001).
Pengungkapan sosial merupakan pengungkapan secara sukarela, manajemen perusahaan bebas memilih informasi akuntansi dan informasi lainnya yang akan diberikan yang dipandang relevan untuk pembuatan keputusan oleh para pemakai laporan tahunannya. Pertimbangan manajemen untuk mengungkapkan secara sukarela dipengaruhi oleh faktor biaya dan manfaat. Manajemen akan mengungkapkan informasi secara sukarela apabila manfaat yang diperoleh dari pengungkapan tersebut lebih besar dari biayanya (Susbiyani 2001). Hasil studi literatur yang dilakukan oleh Finch (2005) dalam Anggraeni (2006) menunjukkan bahwa motivasi perusahaan melakukan pengungkapan sosial lebih banyak dipengaruhi oleh usaha untuk mengkomunikasikan kinerja manajemen dalam mencapai manfaat bagi perusahaan dalam jangka panjang kepada stakeholders.
Dalam penelitian ini tingkat pengungkapan sosial perusahaan diukur dari laporan tahunan berdasarkan indek gabungan, yaitu modifikasi indek dalam penelitian Hackston dan Milne (1996), indek dalam penelitian Sembiring (2006), dan pedoman yang dikeluarkan oleh GRI (2013).
Penelitian Terdahulu
Hackston dan Milne (1996) meneliti pengaruh karakteristik perusahaan terhadap pengungkapan lingkungan dan sosial pada perusahaan-perusahaan di New Zealand. Penelitian ini menemukan hasil bahwa ukuran perusahaan dan industri berhubungan dengan pengungkapan sedangkan profitabilitas tidak.
Hooghiemstra (2000) dalam Hahn dan kuhnen (2013) berpendapat bahwa penelitian tentang sustainability reporting ditandai dengan temuan yang beragam dan tidak konsisten karena kurangnya titik acuan teori yang komprehensif.
Penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan sosial masih terbatas dalam kuantitas. Oleh karenanya, penelitian ini menggunakan penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
8 pengungkapan perusahaan. Perusahaan melakukan pengungkapan informasi sosial dengan tujuan untuk membangun citra pada perusahaan dan mendapatkan perhatian dari masyarakat. Perusahaan memerlukan biaya dalam rangka untuk memberikan informasi sosial, sehingga laba yang dilaporkan dalam tahun berjalan menjadi lebih rendah. Ketika perusahaan menghadapi biaya kontrak dan biaya pengawasan yang rendah dan visibilitas politis yang tinggi akan cenderung untuk mengungkapkan informasi sosial. Jadi pengungkapan informasi sosial berhubungan positif dengan kinerja sosial, kinerja ekonomi dan visibilitas politis dan berhubungan negatif dengan biaya kontrak dan pengawasan (Belkaoui dan Karpik, 1989 dalam Anggraini 2006).
Hasibuan (2001) meneliti pengaruh karakteristik perusahaan (besaran perusahaan, rasio kepemilikan publik, profile perusahaan, basis perusahaan, dan jenis industri) terhadap pengungkapan sosial pada annual reports. Sampel yang digunakan sebanyak 76 perusahaan yang menyampaikan annual reports tahun 2000. Analisis menggunakan regresi berganda dengan program SPSS, dan menemukan hasil bahwa besaran perusahaan dan profile perusahaan mempengaruhi kuantitas pengungkapan sosial perusahaan, sedangkan kepemilikan publik, basis perusahaan dan jenis industri tidak berpengaruh dengan pengungkapan sosial perusahaan.
Hadi (2001) meneliti pengaruh ukuran perusahaan, rasio likuiditas, basis perusahaan, solvabilitas, proporsi kepemilikan saham oleh publik terhadap luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan. Analisis dilakukan atas 92 perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun 1999, menggunakan analisis regresi berganda. Temuan menunjukkan hasil bahwa hanya ukuran dan basis perusahaan yang berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela.
Anggraini (2006) meneliti prosentase kepemilikan manajemen, tingkat leverage, biaya politis, profitabilitas, dan tipe industri terhadap kebijakan perusahaan dalam mengungkapkan informasi sosial. Penelitian dilakukan dengan menganalisis perusahaan yang listing di BEJ pada tahun 2000-2004, menggunakan analisis regresi berganda. Dan menemukan hasil prosentase kepemilikan manajemen dan tipe industri berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan dalam mengungkapkan informasi sosial. Selain itu tipe industri juga
9 berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan dalam mengungkapkan informasi sosial. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan tidak berhasil membuktikan pengaruh ukuran perusahaan, leverage dan profitabilitas terhadap kebijakan pengungkapan informasi sosial oleh perusahaan.
Sembiring (2006) meneliti pengaruh karakteristik perusahaan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial, karakter perusahaan terdiri atas ukuran perusahaan, profile, ukuran dewan komisaris, profitabilitas, dan leverage. Dan menemukan hasil ukuran perusahaan, profile, dan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Sedangkan profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Rustiarini (2010) meneliti pengaruh kepemilikan manajerial, institusional, dan asing terhadap pengungkapan CSR. Penelitian menggunakan Corporate Social Responsibility Index (CSRI) untuk mengukur pengungkapan CSR, berdasarkan indikator dari peraturan Bapepam. Sampel penelitian adalah 56 perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008, dan menemukan hasil kepemilikan manajerial dan institusional tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR, tapi kepemilikan asing berpengaruh terhadap pengungkapan CSR.
Gamerschlag, et. al., (2010) meneliti pengaruh visibilitas perusahaan, struktur pemegang saham, dan hubungan stakeholders di AS terhadap pengungkapan CSR perusahaan Jerman. Dan pengaruh profitabilitas terhadap pengungkapan lingkungan, kategori tertentu dalam pengungkapan CSR.
Penelitian ini menganalisis 130 perusahaan Jerman, dengan membangun indeks CSR berdasarkan GRI dan menggunakan analisis isi. Menemukan hasil yang menunjukkan bahwa, pengungkapan perusahaan Jerman dipengaruhi oleh visibilitas, struktur pemegang saham, dan hubungan dengan stakeholders mereka di AS. Selain itu profitabilitas yang lebih tinggi dikaitkan dengan lebih pengungkapan lingkungan. Akhirnya, ukuran dan keanggotaan industri mempengaruhi jumlah pengungkapan CSR.
Kamil dan Herusetya (2012) meneliti pengaruh profitabilitas, likuiditas, solvabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap luas pengungkapan CSR. Penelitian
10 ini menggunakan analisis regresi berganda dan menemukan hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh sedangkan profitablitas, likuiditas, dan solvabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Nur dan Priantinah (2012) meneliti pengaruh profitabilitas, ukuran perusahaan, kepemilikan saham publik, dewan komisaris, leverage, dan pengungkapan media terhadap pengungkapan CSR.
Penelitian ini menganalisis 177 perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2008- 2010, menggunakan analisis regresi berganda. Menemukan hasil bahwa profitabilitas, kepemilikan saham publik dan pengungkapan media tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Sedangkan ukuran perusahaan, dewan komisaris, leverage berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Dan profitabiltas, ukuran perusahaan, kepemilikan saham publik, dewan komisaris, leverage dan pengungkapan media (media exposure) secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap pengungkapan CSR.
Maulida (2013) meneliti pengaruh afiliasi asing dan pemerintah terhadap pelaporan CSR. Dan menemukan hasil bahwa kontrak atau proyek dari pemerintah memiliki pengaruh terhadap pengungkapan CSR sedangkan kepemilikan saham asing dan afiliasi asing tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Hahn dan Kuhnen (2013) meneliti pengaruh faktor internal (ukuran perusahaan dan kinerja keuangan, kinerja sosial dan lingkungan, dan struktur kepemilikan) dan faktor eksternal (visibilitas perusahaan, dan sektor afiliasi, negara asal, dan persyaratan resmi) terhadap sustainability reporting.
Melakukan tinjauan literatur dari 178 artikel tahun 1999-2011 dari jurnal yang terkait dengan bisnis, manajemen, dan akuntansi. Mengidentifikasi ketidakkonsistenan, kesenjangan, dan kesempatan untuk penelitian masa depan.
Dan menemukan hasil hanya beberapa faktor (terutama ukuran, visibilitas, dan sektor-afiliasi perusahaan) menerima perhatian yang cukup dan berkaitan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Sosial
Setiap perusahaan mempunyai kebijakan yang berbeda-beda mengenai pengungkapan sosial sesuai dengan karakteristik perusahaan (Hasibuan 2001).
11 Karakteristik perusahaan manufaktur adalah mengolah bahan baku menjadi barang jadi dan menjual barang tersebut. Dalam mengolah bahan baku perusahaan akan menimbulkan dampak yang berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya dan saat menjual produknya perusahaan juga berinteraksi langsung dengan masyarakat. Semakin besar suatu perusahaan akan menimbulkan dampak yang lebih dan mendapatkan perhatian yang lebih dari masyarakat (Hanh dan Kuhnen 2013). Penelitian ini menguji faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengungkapan sosial perusahaan, untuk mengetahui sejauh mana perusahaan menunjukkan tanggung jawabnya terhadap kepentingan sosialnya (Anggraini 2006). Dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan sosial diproksikan ke dalam kinerja lingkungan, ukuran perusahaan, sektor- afiliasi, kepemilikan saham asing, dan visibilitas, yang dianggap sebagai variabel penentu dalam pengungkapan sosial.
Kinerja Lingkungan
Perusahaan dengan kinerja lingkungan yang baik perlu mengungkapkan informasi kuantitas dan mutu lingkungan yang lebih dibandingkan dengan perusahaan dengan kinerja lingkungan yang lebih buruk (Wijaya 2012). Di satu sisi perusahaan mungkin ingin sinyal kinerja yang baik, atau perusahaan dengan kinerja yang lemah mungkin menghadapi tekanan stakeholders yang lebih besar (Hanh dan Kuhnen 2013). Perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan yang baik akan cenderung mengungkapkan performance mereka, karena percaya hal tersebut menggambarkan good news bagi pelaku pasar, dan terbukti memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap masyarakat maupun tenaga kerjanya (Rakhiemah dan Agustia 2009). Penelitian yang dilakukan Rakhiemah dan Agustia (2009) menemukan hasil bahwa kinerja lingkungan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial, sedangkan penelitian yang dilakukan Hanh dan Kuhnen (2013) menemukan hasil bahwa kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap pengungkan sosial. Berdasarkan argumen tersebut hipotesis yang akan diuji adalah:
12 H1: Kinerja lingkungan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
Ukuran Perusahaan
Perusahaan yang besar cenderung mempunyai biaya politis yang besar dibandingkan perusahaan kecil. Perusahaan besar cenderung akan memberikan informasi laba sekarang lebih rendah dibandingkan perusahaan kecil, sehingga perusahaan besar cenderung akan mengeluarkan biaya untuk pengungkapan informasi sosial yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil. Ukuran perusahaan dapat diproksikan dari nilai kapitalisasi pasar, total asset, dan log penjualan (Anggraini 2006). Berkaitan dengan teori agensi bahwa perusahaan besar memiliki biaya keagenan lebih besar dari perusahaan kecil. Sebagai emiten yang banyak disoroti perusahaan besar akan lebih dalam melakukan pengungkapan untuk mengurangi biaya politis sebagai wujud tanggung jawab sosial. Secara teoritis, perusahaan besar tidak lepas dari tekanan, dan memiliki pemegang saham yang memperhatikan program sosial yang dibuat perusahaan sehingga pengungkapan sosial perusahaan semakin luas (Cowen et. al., 1987 dalam Sembiring 2006). Ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan, dengan asumsi bahwa perusahaan besar menimbulkan dampak yang lebih besar, menjadi lebih terlihat, sehingga perusahaan besar menghadapi pengawasan dan tekanan yang lebih besar oleh stakeholders (Hanh dan Kuhnen 2013). Penelitian yang dilakukan Hackston dan Milne (1996), Hasibuan (2001), Hadi (2001), Anggraini (2006), Sembiring (2006), Gamerschlag et. al., (2012), dan Hanh dan Kuhnen (2013), menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Lalu, hipotesis yang diuji adalah:
H2: Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
Sektor-Afiliasi Perusahaan
Afiliasi adalah bentuk kerjasama antara dua lembaga yang masing-masing berdiri sendiri. Perusahaan dari industri dengan dampak sosial yang tinggi
13 mungkin melakukan pengungkapan sosial untuk menanggapi tekanan dari pihak- sektor tertentu, pengungkapan sosial mungkin didorong oleh kecenderungan mimesis dalam sektor-sektor, yang akan menjelaskan kehadiran kegiatan pelaporan meskipun tidak adanya ancaman legitimasi atau tekanan dari stakeholders (Hanh dan Kuhnen 2013). Penelitian yang dilakukan Gamerschlag, et. al., (2010) dan Hanh dan Kuhnen (2013) menemukan bahwa sektor-afiliasi perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan. Berikut hipotesis yang akan diuji:
H3: Sektor-afiliasi perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
Kepemilikan Saham Asing
Kepemilikan asing merupakan pihak yang dianggap concern terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, negara-negara di Eropa sangat memperhatikan isu sosial misalnya hak asasi manusia, pendidikan, tenaga kerja.
Hal ini menjadikan perusahaan multinasional mulai mengubah perilaku mereka dalam beroperasi demi menjaga legitimasi dan reputasi perusahaan (Fauzi, 2006 dalam Rustiarini 2010). Perusahaan yang kepemilikan sahamnya sebagian besar oleh asing lebih sering menghadapi masalah asimetri informasi dikarenakan hambatan geografis dan bahasa. Sehingga perusahaan tersebut terdorong untuk mengungkapkan informasi secara sukarela dan luas (Xiao et. al., 2004 dalam Tamba 2011). Beberapa penelitian menemukan hasil yang berbeda-beda, penelitian yang dilakukan Putra (2011) dan Tamba (2011) menemukan bahwa kepemilikan saham asing berpengaruh positif terhadap pengungkapan sosial, penelitian yang dilakukan Putri (2013) menemukan bahwa kepemilikan saham asing berpengaruh negatif terhadap pengungkapan sosial, sedangkan penelitian yang dilakukan Hanh dan Kuhnen (2013) menemukan bahwa kepemilikan asing tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Dengan demikian hipotesis uji sebagai berikut:
H4: Kepemilikan saham asing berpengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
14 Visibilitas Perusahaan
Beberapa perusahaan lebih dilihat oleh publik daripada yang lain, tingkat visibilitas tergantung pada kuantitas liputan pers (bisnis). Perusahaan yang terus- menerus dalam sorotan media sangat rentan terhadap tindakan politik karena mereka menarik perhatian lebih dari stakeholders. Perusahaan yang terlihat lebih berpotensi dikenakan biaya politik atau sosial yang lebih tinggi akibat dari perusahaan memiliki posisi dalam masyarakat (Gamerschlag et. al., 2010). Proksi visibilitas menggunakan eksposur media, posisi rantai pasokan, dan aspek terkait merek. Ketika melihat eksposur media (misalnya diukur dengan menggunakan jumlah artikel berita terkait dengan perusahaan), perusahaan meningkatkan kedalaman pengungkapan dalam rangka untuk mengurangi risiko reputasi pers yang buruk. Ada hubungan positif antara pengungkapan sosial dengan visibilitas politis, dimana perusahaan besar yang cenderung diawasi akan lebih banyak mengungkapkan informasi sosial dibandingkan perusahaan kecil (Belkaoui 1989 dalam Anggraini 2006). Penelitian yang dilakukan Gamerschlag, et. al., (2010) dan Hanh dan Kuhnen (2013) menemukan hasil bahwa visibilitas perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Hipotesis uji untuk pokok visibilitas perusahaan sebagai berikut:
H5: Visibilitas berpengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
METODE PENELITIAN Data
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan sampel penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling. Kriteria pemilihan sampel adalah sebagai berikut.
15 1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dan PROPER tahun 2013-
2015.
2. Perusahaan manufaktur yang mempublikasikan data laporan tahunan yang lengkap (pengungkapan sosial dan laporan keuangan) per 31 Desember tahun 2013-2015.
3. Data harus lengkap, memiliki informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Penelitian ini menggunakan enam variabel dan tiap variabel diukur dengan menggunakan indikator tertentu. Definisi dari variabel dependen dan independen dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut:
Kinerja Lingkungan
Kinerja lingkungan perusahaan adalah kinerja perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang baik. Kinerja lingkungan diukur berdasarkan pada Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER), dilihat dari hasil penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang diterbitkan oleh menteri lingkungan hidup dan kehutanan. Dalam PROPER terdapat sistem penelitian kinerja yang ditunjukkan oleh warna sesuai dengan peringkat kinerja. Peringkat kinerja PROPER dibagi menjadi lima peringkat warna sebagai berikut.
1. Emas : Sangat sangat baik skor = 5 2. Hijau : Sangat baik skor = 4 3. Biru : Baik skor = 3 4. Merah : Buruk skor = 2 5. Hitam : Sangat buruk skor = 1
16 Tabel 3.1
Kriteria Peringkat PROPER
No. Peringkat Keterangan
1. Emas Konsisten menunjukkan keunggulan, serta melaksanakan bisnis yang beretika dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.
2. Hijau Melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan (beyond compliance), serta melaksanakan tanggung jawab sosial dengan baik.
3. Biru Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan perundangundangan yang berlaku.
4. Merah Melakukan upaya pengelolaan lingkungan tetapi belum sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan.
5. Hitam Dengan sengaja melakukan perbuatan atau melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan, serta melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau tidak melaksanakan sanksi administrasi.
Sumber: Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) 2015
Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan tingkat identifikasi besar atau kecilnya suatu perusahaan. Ukuran perusahaan dapat didasarkan pada jumlah aktiva, jumlah tenaga kerja, volume penjualan, dan kapitalisasi pasar (Adiaksa, 2007 dalam Tamba 2011). Dalam penelitian ini, ukuran perusahaan diukur menggunakan total aset. Dalam penelitian ini variabel ukuran perusahaan disajikan dalam bentuk logaritma, karena nilai dan sebarannya yang besar dibandingkan variabel yang lain.
Sektor-Afiliasi Perusahaan
Perusahaan afiliasi merupakan perusahaan yang secara efektif dikendalikan oleh perusahaan lain, atau tergabung dengan perusahaan atau beberapa perusahaan lain karena kepentingan atau pemilik atau pengurus yang sama. Sektor-afiliasi perusahaan diukur dengan pengkodean, yaitu 1 untuk
17 perusahaan yang mempunyai sektor afiliasi, dan 0 untuk perusahaan yang tidak mempunyai sektor afiliasi.
Kepemilikan Saham Asing
Kepemilikan asing merupakan proposisi saham biasa perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian-bagiannya yang berstatus luar negeri (Etha, 2010 dalam Tamba 2011). Kepemilikan asing diukur dari jumlah saham yang dimiliki oleh pihak asing dengan jumlah saham yang diterbitkan. Apabila suatu perusahaan terdapat lebih dari satu pemilikan asing yang memiliki saham perusahaan, maka kepemilikan saham diukur dengan menghitung total seluruh saham yang dimiliki oleh pihak asing. Kepemilikan tersebut minimal sebesar 5% yang dilihat dari laporan tahunan perusahaan tahun 2013, 2014, dan 2015.
Visibilitas
Visibilitas merupakan pandangan pihak luar perusahaan terhadap perusahaan, perusahaan yang lebih banyak diawasi akan lebih banyak mengungkapkan informasi sosial dibandingkan perusahaan yang kurang diawasi.
Proksi visibilitas menggunakan eksposur media, posisi rantai pasokan, dan aspek terkait merek. Dalam penelitian ini visibilitas perusahaan diukur dari jumlah artikel berita yang berhubungan dengan praktik sosial terkait dengan perusahaan.
Artikel berita dibatasi hanya dari website media Kompas, Republika, dan Bisnis Indonesia. Periode pengambilan artikel berita adalah tahun sebelum laporan tahunan, sehingga untuk melihat visibilitas tahun 2013 dilihat dari artikel berita tahun 2012, visibilitas tahun 2014 dilihat dari artikel berita tahun 2013, dan visibilitas tahun 2015 dilihat dari artikel berita tahun 2014.
Pengungkapan Sosial
Pengungkapan sosial adalah data kuantitatif yang diungkapkan perusahaan berkaitan dengan aktivitas sosial yang dilakukan perusahaan yang dinyatakan
18 dalam indek Pengungkapan Sosial Perusahaan (PSP). Definisi operasional praktek pengungkapan sosial yang diterapkan dalam penelitian ini adalah jumlah item pengungkapan sosial yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan.
Variabel PSP diukur dengan metode content analysis yaitu suatu metode pengkodifikasian teks dari ciri-ciri yang sama untuk ditulis dalam berbagai kategori tergantung pada kriteria yang ditentukan dengan cara checklist (Guthrie et. al., 2003 dalam Fahrizqi, 2010).
Checklist dilakukan dengan melihat indek pengungkapan gabungan.
Penggunaan GRI G4 (2013) untuk melengkapi indek Hackston dan Milne (1996) dan Sembiring (2006). GRI saat mengeluarkan standar terbaru, standar yang sebelumnya tidak digunakan lagi dan G4 merupakan standar terbaru yang dikeluarkan oleh GRI pada periode penelitian ini. Indek gabungan adalah modifikasi indek berdasarkan Hackston dan Milne (1996) ada 90 item pengungkapan, menurut Sembiring (2006) 78 item pengungkapan sosial, berdasarkan pedoman GRI G4 (2013) ada 79 item. Selanjutnya dilakukan penyesuaian dengan cara menambahkan item dari Sembiring (2006) dan pedoman GRI (2013) yang tidak ada pada Hackston dan Milne (1996). Dari penyesuaian tersebut diperoleh 109 item gabungan dalam 10 kategori, yaitu lingkungan, energi, kesehatan dan keselamatan kerja, lain-lain tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat, umum, kinerja ekonomi, HAM, dan masyarakat/sosial, dan menghapus 13 item pengungkapan yang tidak diungkapkan oleh perusahaan manufaktur di Indonesia, sehingga secara total tersisa 96 item pengungkapan.
Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS. Analisis regresi linier berganda dimaksudkan untuk menguji sejauh mana dan bagaimana arah variabel- variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Pengujian regresi berganda dapat dilakukan setelah model dari penelitian ini memenuhi syarat–
syarat lolos dari asumsi klasik. Syarat-syarat tersebut harus terdistribusi secara normal, tidak mengandung multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas (Nur dan Priantinah 2012).
19 Uji Determinasi
Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berada di antara 0 dan 1. Nilai koefisien yang kecil berarti kemampuan variabel- variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2005 dalam Widyatmoko 2011).
Uji Simultan (Uji F)
Menurut Ghozali (2005) dalam Widyatmoko (2011) uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel bebas dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen.
Uji Hipotesis (Uji t)
Uji hipotesis dilakukan dengan cara uji signifikan variabel independen terhadap variabel dependen. Hipotesis diuji dengan pengujian terhadap validitas model regresi berganda menggunakan statistik uji-t.
HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Objek Penelitian
Perusahaan yang menjadi objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2013 sampai 2015. Sektor manufaktur dipilih karena sektor ini memiliki jumlah perusahaan yang listing paling banyak dibandingkan dengan sektor usaha lain. Penelitian ini berfokus pada sektor manufaktur dikarenakan untuk menghindari adanya industrial effect yaitu risiko industri yang berbeda antara suatu sektor industri yang satu dengan yang lain. Periode tahun 2013-2015 dipilih karena laporan tahunan periode tersebut merupakan data terbaru yang dapat diperoleh di BEI.
Dalam penelitian ini objek penelitian dipilih dengan metode purposive sampling dengan menggunakan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Objek penelitian dipilih bagi perusahaan yang mengeluarkan laporan tahunan dalam
20 daftar yang terdapat pada website BEI. Berdasarkan metode purposive sampling diperoleh sampel sebanyak 156.
Tabel 4.1
Proses Seleksi Objek Penelitian
Kriteria 2013 2014 2015
Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dan PROPER per 31 Desember 2015.
56 56 56
Jumlah perusahaan yang tidak terdapat laporan tahunan per 31 Desember 2013, 2014, dan 2015.
(2) (2) (2)
Data tidak lengkap. (2) (2) (2)
Total objek penelitian 52 52 52
Sumber: Data BEI yang diolah.
Analisis Deskriptif Statistik
Penelitian ini menggunakan indek pengungkapan sosial yang secara keseluruhan terdiri dari 96 item. Dalam penelitian ini terdapat 5 variabel sebagai predictor. Berikut deskripsi dari masing-masing variabel penelitian.
Tabel 4.2
Deskripsi Variabel Penelitian
N Minimum Maximum Mean
PSP
1351
,10 ,70 ,3070
KL 2,00 4,00 2,9167
SIZE 11,56 13,99 12,6222
SA ,00 1,00 ,4889
KSA ,00 ,99 ,3684
VISIL ,00 42,00 9,6741
Sumber : Data sekunder yang diolah (setelah mengeluarkan outlier)
Tabel 4.2 menggambarkan deskripsi variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Minimum adalah nilai terkecil dari suatu rangkaian pengamatan, maksimum adalah nilai terbesar dari suatu rangkaian pengamatan,
1 N olah data adalah N setelah dikurangi outlier sebanyak 21 (7perusahaan×3tahun).
21 mean (rata-rata) adalah hasil penjumlahan nilai seluruh data dibagi dengan banyaknya data, sementara standar deviasi adalah akar dari jumlah kuadrat dari selisih nilai data dengan rata-rata dibagi dengan banyaknya data.
Variabel kinerja lingkungan yang diukur dengan peringkat PROPER menunjukkan rata-rata sebesar 2,9167. Nilai minimum sebesar 2 yaitu peringkat merah dan nilai maksimum sebesar 4 yaitu peringkat hijau. Peringkat yang semakin tinggi menunjukkan kinerja lingkungan perusahaan yang lebih baik, sehingga dimungkinkan akan menambah pengungkapan yang dapat diberikan perusahaan. Variabel kinerja lingkungan disajikan dalam bentuk skor nilai yang diperoleh dari peringkat kinerja PROPER pada Tabel 3.1.
Variabel ukuran perusahaan yang diukur dengan total aset menunjukkan rata-rata sebesar Rp 12.622,2 juta. Nilai minimum sebesar Rp 11.560 juta dan nilai maksimum sebesar Rp 13.990 juta. Aset yang semakin besar menunjukkan lebih banyaknya sumber-sumber aset yang dimiliki perusahaan, sehingga dimungkinkan akan menambah sumber-sumber pengungkapan yang dapat diberikan perusahaan. Karena data total aset dari sampel perusahaan memiliki variasi yang sangat besar (standar deviasi yang besar), maka data ukuran perusahaan disajikan dalam bentuk transformasi logaritma natural dari total aset.
Variabel sektor-afiliasi perusahaan yang diukur dengan variabel dummy yaitu apakah suatu perusahaan memiliki sektor-afiliasi menunjukkan rata-rata sebesar 0,4889 atau 49% memiliki sektor-afiliasi. Variabel sektor-afiliasi menggunakan variabel dummy sehingga nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1.
Variabel kepemilikan saham asing yang diukur dengan presentase kepemilikan saham asing perusahaan menunjukkan rata-rata sebesar ,3684 atau 37%. Nilai minimum 0,00 sebesar dan nilai maksimum sebesar 0,99. Semakin besar kepemilikan saham asing perusahaan memungkinkan besarnya pengungkapan yang dilakukan perusahaan.
Variabel visibilitas perusahaan yang diukur dari jumlah artikel berita perusahaan terkait menunjukkan nilai rata-rata sebesar 9,6741. Nilai minimum sebesar 0,00 dan nilai maksimum sebesar 42,00. Jumlah artikel berita yang semakin besar menunjukkan visibilitas perusahaan yang semakin tinggi, sehingga
22 dimungkinkan akan menambah dorongan perusahaan dalam melakukan pengungkapan.
Indeks pengungkapan sosial (PSP) yang diukur dengan 96 item pengungkapan diperoleh rata-rata sebesar 0,3070 atau 30,7%. Hal ini berarti bahwa dalam satu periode dalam laporan tahunan, perusahaan telah mengungkapkan sebesar 30,7% atau sekitar 30 hingga 31 item dalam laporan tahunan mengenai pengungkapan sosial yang dilakukan perusahaan. Indek pengungkapan terkecil adalah sebesar 0,10 atau 10% dan indeks pengungkapan terbesar adalah sebesar 0,70 atau 70%.
Uji Asumsi Klasik
Berikut hasil uji asumsi klasik dalam penelitian ini.
Uji Normalitas
Tabel 4.3 Uji Normalitas
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
Sumber : Data yang diolah (setelah mengeluarkan outlier)
Hasil uji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov–Smirnov menunjukkan signifikansi di atas 0,05. Sehingga model regresi sudah memiliki distribusi normal.
Uji Heteroskedasitas
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan uji Glejser.
23 Tabel 4.4
Uji Heterokedastisitas-Uji Glejser
Model Sig.
(Constant) ,837
KL ,562
SIZE ,600
SA ,249
KSA ,355
VISIL ,505
Sumber : Data yang diolah (setelah mengeluarkan outlier)
Hasil uji heteroskedastisitas pada model dengan uji Glejser menunjukkan nilai signifikansi lebih dari 0,05, sehingga tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.
Uji Multikolinearitas
Tabel 4.5 Uji Multikolinearitas
Model Tolerance VIF
KL ,966 1,035
SIZE ,825 1,211
SA ,968 1,033
KSA ,985 1,015
VISIL ,825 1,212
Sumber : Data yang diolah (setelah mengeluarkan outlier)
Hasil pengujian tolerance menunjukan nilai tolerance kurang dari 0,10 dan hasil pengujian VIF menunjukan nilai VIF lebih dari 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikorelasi antara variabel dalam model regresi.
Uji Autokorelasi
Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi kita harus melihat nilai uji D- W. Dari hasil pengujian diperoleh sebagai berikut :
24 Tabel 4.6
Hasil uji autokorelasi
D-W Du 4 ─ du Keterangan
1,875 1,802 2,198 Bebas autokorelasi
Sumber : Data yang diolah (setelah mengeluarkan outlier)
Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa model regresi tersebut bebas dari masalah autokorelasi, dibuktikan dari nilai D-W 1,875 berada diantara nilai du sebesar 1,802 dan (4 ─ du).
Uji Regresi Berganda
Tabel 4.7 Uji t
Model T Sig. Hipotesis
KL 1,266 ,208 Ditolak
SIZE 2,021 ,045 Diterima
SA 2,028 ,045 Diterima
KSA -1,704 ,091 Diterima
VISIL 5,980 ,000 Diterima
Sumber : Data yang diolah
25 Uji Hipotesis pertama
Pengujian hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah untuk menguji apakah kinerja lingkungan perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Hasil penelitian menunjukkan nilai t sebesar 1,266 lebih kecil dari t tabel 1,978 dan tingkat signifikan sebesar 0,208 lebih besar dari 0,05, sehingga hasil pengujian hipotesis kelima, Ha ditolak pada tingkat signifikansi 5%. Dapat disimpulkan bahwa kinerja lingkungan perusahaan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial.
Uji Hipotesis kedua
Pengujian hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah untuk menguji apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Hasil penelitian menunjukkan nilai t sebesar 2,021 lebih besar dari t tabel 1,978 dan tingkat signifikan sebesar 0,045 lebih kecil dari 0,05, sehingga hasil pengujian hipotesis kedua, Ha diterima pada tingkat signifikansi 5%. Dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial.
Uji Hipotesis ketiga
Pengujian hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah untuk menguji apakah sektor-afiliasi perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial.
Hasil penelitian menunjukkan nilai t sebesar 2,028 lebih besar dari t tabel 1,978 dan tingkat signifikan sebesar 0,045 lebih kecil dari 0,05, sehingga hasil pengujian hipotesis ketiga, Ha diterima pada tingkat signifikansi 5%. Dapat disimpulkan bahwa sektor-afiliasi perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial.
Uji Hipotesis keempat
Pengujian hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah untuk menguji apakah kepemilikan saham asing perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Hasil penelitian menunjukkan nilai t sebesar -1,704 lebih kecil dari t tabel 1,656 dan tingkat signifikan sebesar 0,091 lebih kecil dari 0,10, sehingga hasil pengujian hipotesis keempat, Ha diterima pada tingkat signifikansi 10%. Dapat
26 disimpulkan bahwa kepemilikan saham asing perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial.
Uji Hipotesis kelima
Pengujian hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah untuk menguji apakah visibilitas perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Hasil penelitian menunjukkan nilai t sebesar 5,980 lebih besar dari t tabel 1,978 dan tingkat signifikan sebesar 0,0001 lebih kecil dari 0,05, sehingga hasil pengujian hipotesis kelima, Ha diterima pada tingkat signifikansi 5%. Dapat disimpulkan bahwa visibilitas perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial.
Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
Tabel 4.8 Uji F
Model F Sig.
Regression 15,707 ,000b
Sumber : Data yang diolah
Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai F = 15,707 dengan probabilitas sebesar 0,000 < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama indek pengungkapan sosial dapat dijelaskan oleh variabel kinerja lingkungan, ukuran, sektor-afiliasi, kepemilikan saham asing, dan visibilitas.
Uji Koefisien Determinasi (R2)
Tabel 4.9
Uji Koefisien Determinasi
Model R R Square Adjusted R Square
1 ,615 ,378 ,354
Sumber : Data yang diolah
27 Pada Tabel 4.9 menunjukkan nilai adjusted R2 sebesar 0,354 atau 35,4%
yang berarti bahwa variasi indek pengungkapan sosial dapat dijelaskan oleh kinerja lingkungan, ukuran, sektor-afiliasi perusahaan, kepemilikan saham asing dan visibilitas sebesar 35,4%, dan 64,6% indek pengungkapan sosial dapat dijelaskan oleh variabel lain.
Nilai R = 0,615 menunjukkan koefisien korelasi sebesar 61,5%, dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja lingkungan, ukuran, sektor-afiliasi, kepemilikan saham asing, dan visibilitas dengan pengungkapan sosial memiliki posisi yang kuat.
Pembahasan
Dalam Corporate Social Responsibily (CSR), perusahaan tidak diharapkan pada tanggung jawab yang hanya berpijak pada single bottom line, tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom line (Untung 2008). Triple bottom line adalah sebuah organisasi menciptakan laporan tahunan yang mencakup finansial, lingkungan dan gambaran sosial, memberikan keseimbangan, berat dan kepentingan pada masing-masing aspek (Rudito dan Famiola 2013).
Gambaran tentang pengungkapan sosial perusahaan manufaktur di Indonesia dapat dilihat dari Tabel 4.2 mengenai rata-rata, nilai minimum, dan nilai maksimum pengungkapan sosial perusahaan. Rata-rata perusahaan manufaktur di Indonesia melakukan pengungkapan sosial dalam laporan tahunannya sebesar 0,3070 atau 30,7% pada periode tahun 2013-2015.
Penelitian ini menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan sosial yaitu kinerja lingkungan, ukuran perusahaan, sektor-afiliasi perusahaan, kepemilikan saham asing, dan visibilitas perusahaan. Berikut penjelasan dari setiap variabel.
1. Pengaruh kinerja lingkungan terhadap pengungkapan sosial
Perusahaan dengan kinerja lingkungan yang baik akan mengungkapkan informasi kuantitas dan mutu lingkungan yang lebih dibandingkan dengan perusahaan dengan kinerja lingkungan yang lebih buruk. Di satu sisi perusahaan mungkin ingin sinyal kinerja yang baik.
28 Namun hasil penelitian menunjukkan nilai t sebesar 1,266 dengan tingkat signifikan sebesar 0,208 lebih besar dari 0,05 sehingga kinerja lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan sosial. Dapat disimpulkan bahwa peringkat kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan Maulida (2011), Karina (2013), dan Hanh dan Kuhnen (2013) yang menemukan hasil bahwa kinerja lingkungan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Namun, hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan Rakhiemah dan Agustia (2009) yang menemukan hasil bahwa kinerja lingkungan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Kierja Lingkungan yang dinilai melalui peringkat PROPER, program yang diadakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup yang bertujuan untuk memacu perusahaan di Indonesia untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Namun keikutsertaan dan peringkat perusahaan dalam program ini tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan sosial, ini disebabkan bahwa kesadaran perusahaan publik di Indonesia saat ini hanya memenuhi persyaratan minimal yang ditentukan pemerintah (Susanto, 2003 dalam Rakhiemah dan Agustia, 2009).
2. Pengaruh ukuran perusahaan terhadap pengungkapan sosial.
Perusahaan yang besar cenderung mempunyai biaya politis yang besar dibandingkan perusahaan kecil. Perusahaan besar cenderung akan memberikan informasi laba sekarang lebih rendah dibandingkan perusahaan kecil, sehingga perusahaan besar cenderung akan mengeluarkan biaya untuk pengungkapan informasi sosial yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil. Berkaitan dengan teori agensi bahwa perusahaan besar memiliki biaya keagenan lebih besar dari perusahaan kecil. Sebagai emiten yang banyak disoroti perusahaan besar akan lebih dalam melakukan pengungkapan untuk mengurangi biaya politis sebagai wujud tanggung jawab sosial.
29 Hasil pegujian dalam penelitian ini, dapat dilihat dalam Tabel 4.7 mengenai hasil analisis regresi linier berganda, ukuran perusahaan yang dinyatakan dengan total aset yang dimiliki perusahaan menunjukkan pengaruh positif yang signifikan dengan nilai t sebesar 2,021 dan tingkat signifikan sebesar 0,045 terhadap pengungkapan sosial, sehingga hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan. Dapat disimpulkan bahwa semakin besar suatu perusahaan maka perusahaan akan lebih banyak melakukan pengungkapan sosial.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni Hackston dan Milne (1996), Hasibuan (2001), Anggraeni (2006), Sembiring (2006), dan Hanh dan Kuhnen (2013) yang berhasil membuktikan pengaruh ukuran perusahaan terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
3. Pengaruh sektor-afiliasi perusahaan terhadap pengungkapan sosial.
Perusahaan dari industri dengan dampak sosial yang tinggi mungkin melakukan pengungkapan sosial untuk menanggapi tekanan dari pihak-sektor tertentu, pengungkapan sosial mungkin didorong oleh kecenderungan mimesis dalam sektor-sektor, yang akan menjelaskan kehadiran kegiatan pelaporan meskipun tidak adanya ancaman legitimasi atau tekanan dari stakeholders.
Hasil pegujian dalam penelitian ini, dapat dilihat dalam Tabel 4.7 mengenai hasil analisis regresi linier berganda, sektor-afiliasi perusahaan menggunakan variabel dummy, menunjukkan pengaruh positif yang signifikan dengan nilai t sebesar 2,028 dan tingkat signifikan sebesar 0,045 terhadap pengungkapan sosial, sehingga hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan. Dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki sektor-afiliasi akan lebih banyak melakukan pengungkapan sosial dibanding dengan perusahaan yang tidak memiliki sektor-afiliasi.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Gamerschlag et. al., (2010) dan Hanh dan Kuhnen (2013) yang berhasil membuktikan pengaruh sektor-afiliasi terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
30 4. Pengaruh kepemilikan saham asing terhadap pengungkapan sosial.
Kepemilikan asing merupakan pihak yang dianggap concern terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, hal ini menjadikan perusahaan multinasional mulai mengubah perilaku mereka dalam beroperasi demi menjaga legitimasi dan reputasi perusahaan.
Perusahaan yang kepemilikan sahamnya sebagian besar oleh asing lebih sering menghadapi masalah asimetri informasi dikarenakan hambatan geografis dan bahasa. Sehingga perusahaan tersebut terdorong untuk mengungkapkan informasi secara sukarela dan luas.
Hasil pengujian dalam penelitian ini, menunjukkan pengaruh negatif signifikan dengan nilai t sebesar -1,704 dan tingkat signifikan sebesar 0,091 terhadap pengungkapan sosial, sehingga hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan. Pengaruh kepemilikan saham asing terhadap pengungkapan sosial memiliki arah yang negatif, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar kepemilikan saham asing maka perusahaan akan melakukan pengungkapan sosial lebih kecil.
Hasil pengujian menunjukkan nilai standar deviasi variabel kepemilikan saham asing perusahaan adalah sebesar 0,32038 dengan nilai minimum sebesar 0,00 dan nilai maximum sebesar 0,99. Dapat disimpulkan bahwa nilai standar deviasi lebih cenderung ke nilai minimum, dan nilai rata-rata kepemilikan saham asing perusahaan sebesar 0,3684 atau 37%. Presentase kepemilikan sebesar 37% tidak cukup kuat untuk mempengaruhi kebijakan dalam suatu perusahaan, sehingga kepemilikan saham asing berpengaruh negatif terhadap pengungkapan sosial. Contoh perusahaan yang memiliki proposisi kepemilikan saham asing lebih dari 80% dan memiliki tingkat pengungkapan sosial yang tinggi antara lain adalah Unilever Indonesia Tbk, Astra International Tbk, dan Holcim Indonesia Tbk d.h Semen Cibinong Tbk.
Machmud dan Djakman (2008) dalam Putri (2013) menjelaskan alasan mengapa adanya kepemilikan asing dalam perusahaan di Indonesia tidak meningkatkan indek GRI sebagai ukuran pengungkapan sosial adalah adanya kemungkinan jika kepemilikan asing ini dikonsolidasikan
31 dengan perusahaan induk di negara asal maka presentase kepemilikan tersebut sangat kecil, sehingga mereka menjadi kurang memperhatikan pengungkapan sosial sebagai suatu hal yang penting untuk diungkapkan kepada publik. Beberapa perusahaan yang memiliki proporsi kepemilikan saham asing lebih dari 80% namun memiliki tingkat pengungkapan sosial kurang dari 30% antara lain adalah Akasha Wira International Tbk d.h Ades Waters Indonesia Tbk, Multi Bintang Indonesia Tbk, Toba Pulp Lestari Tbk. Arah hubungan negatif antara kepemilikan asing terhadap pengungkapan sosial, kemungkinan kepemilikan asing pada perusahaan di Indonesia secara umum belum mempedulikan masalah lingkungan dan sosial sebagai isu penting untuk diungkapkan secara luas dalam sebuah laporan tahunan.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Putri (2013) yang menemukan hasil bahwa kepemilikan saham asing berpengaruh negatif terhadap pengungkapan sosial, dan penelitian yang dilakukan oleh Hanh dan Kuhnen (2013) yang menemukan hasil bahwa kepemilikan saham asing tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
5. Pengaruh visibilitas perusahaan terhadap pengungkapan sosial.
Beberapa perusahaan lebih dilihat oleh publik daripada yang lain, perusahaan yang terus-menerus dalam sorotan media sangat rentan terhadap tindakan politik karena mereka menarik perhatian lebih dari stakeholders. Perusahaan meningkatkan kedalaman pengungkapan dalam rangka untuk mengurangi risiko reputasi pers yang buruk. Ada hubungan positif antara pengungkapan sosial dengan visibilitas politis, perusahaan besar yang cenderung diawasi akan lebih banyak mengungkapkan informasi sosial dibandingkan perusahaan kecil.
Hasil pengujian dalam penelitian ini, visibilitas perusahaan yang diukur dari jumlah artikel berita terkait perusahaan menunjukkan pengaruh positif signifikan dengan nilai t sebesar 5,980 dan tigkat signifikan sebesar 0,000 terhadap pengungkapan sosial, sehingga hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan. Dapat disimpulkan bahwa semakin
32 besar visibilitas perusahaan maka perusahaan akan melakukan pengungkapan sosial lebih banyak.
Hasil dalam penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Gamerschlag et. al., (2010) dan Hanh dan Kuhnen (2013) yang berhasil membuktikan pengaruh visibilitas perusahaan terhadap pengungkapan sosial.
PENUTUP Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan untuk menguji dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan sosial perusahaan, yang meliputi kinerja lingkungan, ukuran perusahaan, sektor-afiliasi perusahaan, kepemilikan saham asing, dan visibilitas perusahaan. Penelitian ini menggunakan indek pengungkapan sosial untuk menentukan perusahaan melakukan pengungkapan sosial atau tidak. Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebesar 52 perusahaan selama tiga tahun 2013, 2014, dan 2014, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini sebesar 156.
Berikut kesimpulan penelitian ini, dari hasil analisis data, pengujian hipotesis, dan pembahasan.
1. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 5% hasil uji F menunjukkan bahwa variabel kinerja lingkungan, ukuran perusahaan, sektor-afiliasi perusahaan, kepemilikan saham asing, dan visibilitas perusahaan secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sosial perusahaan.
2. Secara parsial variabel kineja lingkungan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sosial pada tingkat signifikansi sebesar 5%. Hasil penelitian ini menolak hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial. Sehingga peringkat kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan sosial yang dilakukan perusahaan.
3. Secara parsial ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan sosial dengan tingkat signifikansi sebesar 5%. Hasil
33 penelitian ini menerima hipotesis kedua yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial, sehingga perusahaan besar akan melakukan pengungkapan sosial yang lebih banyak dibandingkan perusahaan kecil. Hasil penelitian ini mendukung teori agensi yang menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki biaya keagenan yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil, sehingga perusahaan besar melakukan pengungkapan yang lebih banyak sebagai upaya mengurangi biaya tersebut.
4. Secara parsial sektor-afiliasi perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan sosial pada tingkat signifikansi sebesar 5%. Hasil penelitian ini menerima hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa sektor- afiliasi perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan sosial, dengan demikian perusahaan yang memiliki sektor-afiliasi akan melakukan pengungkapan sosial yang lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki sektor-afiliasi.
5. Secara parsial kepemilikan saham asing berpengaruh negatif terhadap pengungkapan sosial pada tingkat signifikansi sebesar 10%. Hasil penelitian ini menerima hipotesis keempat yang menyatakan bahwa kepemilikan saham asing berpengaruh terhadap pengungkapan sosial, dengan demikian semakin besar kepemilikan saham asing maka perusahaan akan melakukan pengungkapan sosial yang lebih kecil.
6. Secara parsial visibilitas perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan sosial pada tingkat signifikansi sebesar 5%. Hasil penelitian ini menerima hipotesis kelima yang menyatakan bahwa visibilitas perusahaan berpengaruh terhadap pengungkan sosial, dengan demikian semakin besar visibilitas perusahaan maka perusahaan akan melakukan pengungkapan sosial yang lebih banyak.
7. Hasil regresi menunjukkan koefisien determinasi yang telah disesuaikan (adjusted R2) sebesar 0,354. Nilai adjusted R2 cukup rendah, menunjukkan bahwa masih terdapat variabel-variabel lain yang berpengaruh terhadap pengungkapan sosial yang tidak tercakup dalam model penelitian ini.
34 Keterbatasan Penelitian
Penelian ini memiliki keterbatasan yang dapat menjadi arah bagi penelitian yang akan datang. Data visibilitas dalam penelitian ini dibatasi hanya dari media Kompas, Republika, dan Bisnis Indonesia. Tiga media berita tersebut tidak dapat menggeneralisasi data visibilitas. Sehingga, dimungkinkan terdapat artikel berita yang tidak diekspos di media tersebut tetapi diekspos dimedia lain.
Selain itu penelitian ini hanya mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengungkapan sosial perusahaan. Penelitian ini tidak menguji pengaruh pengungkapan sosial terhadap kinerja pasar untuk mengetahui bagaimana reaksi pasar terhadap besarnya pengungkapan sosial perusahaan.
Saran
Berdasarkan keterbatasan penelitian maka saran bagi penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut. Penelitian selanjutnya dapat melengkapi data visibilitas dari media berita lain, tidak hanya dari Kompas, Republika, dan Bisnis Indonesia sehingga dapat menambah kelengkapan data visibilitas. Selain itu penelitian selanjutnya dapat menguji pengaruh pengungkapan sosial terhadap kinerja pasar, agar dapat mengetahui bagaimana reaksi pasar terhadap besarnya pengungkapan sosial perusahaan.