Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Kinerja Komite Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di SD Negeri Purwosari 1 Kecamatan Sayung Demak T2 942014061 BAB II

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Pendidikan

2.1.1. Konsep Manajemen Pendidikan

Konsep manajemen tentu kita harus tahu terlebih dahulu apa itu manajemen. Banyak teori yang menjelaskan tentang manajemen yang dinyatakan oleh para pakar dengan teori yang berbeda-beda tetapi pada hakekatnya mempunyai tujan yang sama.

Kata Manajemen berasal dari bahasa Inggris to manage (kata kerja), management ( kata kerja), dan

manager untuk orang yang melakukan. Bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi manajemen (pengelolaan).

Manajemen menurut Husaini Usman (2014: 6) juga menyatakan bahwa manajemen adalah serangkaian kegiatan yang diarahkan langsung untuk penggunaan sumber daya organisasi secara efektif dan efesien dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Meskipun banyak definisi manajemen yang telah diungkapkan para ahli sesuai pandangan dan pendekatannya masing-masing, seperti Barnard (1938), Terry (1960), Gray ( 1982) dan lain-lain , namun tidak satupun yang memuaskan. Walaupun demikian, esensi manajemen dapat dipan-dang, baik sebagai proses ( fungsi) yang meliputi POLC.

(2)

madarasah, kepemimpinan kepala sekolah/ madarasah, pegawai/evaluasi, dan sistem informasikan sekolah/ madrasah.

Robin and Coulter (2009), menyatakan bahwa “management is universally needed in all organizations”. Manajemen diperlukan semua organisasi dan bersifat universal. Manajemen bisa diterapkan pada: 1. semua organisasi, kecil maupun besar, 2. Semua tipe organisasi, financial dan non financial, 3. Semua tingkatan organisasi, 4. Semua area organisasi (manufaktur, pemasaran, SDM, dan lain-lain).

Fungsi manajemen menurut perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian. Robin and Coulter (2009), perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian. Kegiatan manajer secara deskriptif sebagai berikut: 1. Personal Activities, 2. Interactional Activities, 3. Administrative Activities, 4. Technical Activities.

Manajemen adalah koordinasi dan pengawasan terhadap pekerjaan orang lain, sehingga tujuan pekerjaan betul-betul tercapai efektif dan efisien. (Stephen P Robbins, May Coulter, 2009). Manajemen dapat didefinisikan sebagai “proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan, dan pengontrolan untuk optimasi penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien”. Manajemen adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan dengan bekerja bersama melalui orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya.

(3)

berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal (http: //www.pengertianku.net-/2015/04 tgl 15-2-2016)

Dari penjelasan definisi tentang manajemen para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengawasi dalam mengelola sumber daya yang berupa manusia, uang, material, cara, waktu dan informasi untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien.

Telah disebutkan bahwa manajemen bisa dilakukan dimana saja (organisasi) baik dalam lingkup kecil maupun lingkup besar. Tidak ketinggalan juga di lembaga pendidikan (sekolah) juga butuh yang namanya manajemen. Manajemen yang dilaksanakan dalam dunia pendidikan disebut manajemen pendidikan.

2.1.2. Manajemen Hubungan Sekolah dengan

Masyarakat

(4)

Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara sekolah dengan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam meningkat-kan mutu pendidikan di sekolah.

Disamping itu (Mulyasa, 2009: 163) menyebutkan bahwa dalam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah, disarankan perlunya memberdayakan masyakarat dan lingkungan sekolah secara optimal. Selain mengadakan hubungan dengan masyakarakat, sekolah juga dituntut untuk membina hubungan dengan pemerintah setempat, misalnya pemuka-pemuka masyarakat, organisasi sosial, seperti lembaga sosial desa dan sejenisnya, serta meminta masukan kepada masyarakat atau pihak-pihak yang membutuhkannya tentang program, kemajuan, dan rencana-rencana untuk perbaikan sekolah.

(5)

yang jelas tentang sekolah yang bersangkutan (Mulyasa, 2009: 50-51).

Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 BAB IV pasal 1 disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Maka dari itu sekolah merupakan lembaga sosial yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat lingkungannya, sebaliknya masyarakatpun tidak dapat dipisahkan dari sekolah. Dikatakan demikian, karena keduanya memiliki kepentingan.

Dari beberapa pendapat tersebut sesungguhnya saling mendukung. Jadi kerjasama antara sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya adalah suatu sarana yang cukup mempunyai peranan yang menentukan dalam rangka usaha mengadakan pembinaan, pertumbuhan, dan pengembangan siswa di sekolah. Dengan adanya hubungan kerja sama antara sekolah dengan masyarakat, dapat dicapai perpaduan antara sarana sekolah dengan masyarakat. Hubungan yang harmonis antara keduanya dalam pengembangan program bersama bagi pembinaan peserta didik, dapat mengurangi dan mencegah kemungkinan anak berbuat nakal karena program yang padat dan menarik tidak memberi kesempatan atau kemungkinan kepada peserta didik untuk berkhayal atau berbuat yang kurang baik.

2.2. Teori Evaluasi

2.2.1. Konsep Evaluasi

Kata Evaluasi berasal dari kata berbahasa inggris yaitu “evaluation” yang diterjemahkan memberi penilaian

(6)

Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English

Evaluasi adalah to find out, decide the amount or value

yang artinya suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah. Selain arti berdasarkan terjemahan, kata-kata yang terkandung dalam definisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi harus dilakukan secara hati-hati, bertanggung jawab, menggunakan strategi dan dapat dipertanggungjawabkan (Suharsimi, 2007: 1).

Definisi evaluasi berbeda-beda sesuai dengan pendapat dari masing-masing pakar evaluasi. Evaluasi merupakan suatu istilah baru dalam kajian keilmuan yang telah berkembang menjadi disiplin ilmu sendiri. Ilmu kajian tentang evaluasi ini juga telah banyak memberikan manfaat dan kontribusi dalam memberikan informasi data, khususnya mengenai pelaksana program tersebut yang dijadikan suatu keputusan. Menurut pandangan Anderson (dalam Suharsimi, 2004: 1) Evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan. Sedangkan menurut Stufflebeam (dalam Suharsimi, 2004: 1), mengungkapkan bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif keputusan.

2.2.2. Model Evaluasi CIPP

Model evaluasi CIPP ini merupakan salah satu dari beberapa teknik evaluasi suatu program yang ada. Model CIPP ini dikembangkan oleh Stufflebeam dan kawan-kawan (1967) di Ohio State University. Model ini berlandaskan pada keempat dimensi yaitu dimensi

(7)

product. CIPP merupakan sebuah singkatan dari huruf awal empat buah kata, yaitu:

Context evaluation : evaluasi terhadap konteks Input evaluation : evaluasi terhadap masukan Process evaluation : evaluasi terhadap proses Product : evaluasi terhadap hasil Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP tersebut merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program kegiatan. Dengan kata lain, model CIPP adalah model evaluasi yang memandang program yang dievaluasi sebagai sebuah sistem.

Maksud dan tujuan Stufflebeam pada model evaluasi CIPP ini adalah bermaksud dengan sejumlah kriteria tertentu, untuk akhirnya sampai pada deskripsi

dan judgment mengenai kekuatan dan kelemahan program yang dievaluasi, dan tujuan evalusinya adalah sebagai:

a. Penetapan dan penyediaan informasi yang bermanfaat untuk menilai keputusan alternatif; b. Membantu audience untuk menilai dan

mengembangkan manfaat program pendidikan atau obyek;

c. Membantu pengembangan kebijakan dan program.

Secara garis besar evaluasi model CIPP mencakup empat macam keputusan: Perencanaan keputusan yang mempengaruhi pemilihan tujuan umum dan tujuan khusus.

a. Keputusan pembentukan atau structuring b. Keputusan implementasi

(8)

Tabel 2.1 Model Evaluasi CIPP

Aspek evaluasi Tipe Keputusan Jenis Pertanyaan

Context

Sumber: The CIPP approach to evaluation (Robinsan, 2002)

Empat aspek Model Evaluasi CIPP (contex, input, process, and output) membantu pengambilan keputusan untuk menjawab empat pertanyaan dasar antara lain;

1) Apa yang harus dilakukan (What should we do?); mengumpulkan dan menganalisa needs assessment data untuk menentukan tujuan, prioritas dan sasaran

2) Bagaimana kita melaksanakannya (How should we do it?); sumber daya dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan dan mungkin meliputi identifikasi program eksternal dan material dalam mengumpulkan informasi

3) Apakah dikerjakan sesuai rencana (Are we doing it as planned?); Ini menyediakan pengambil keputusan informasi tentang seberapa baik program diterap-kan. Dengan secara terus-menerus monitorring

program, pengambilan keputusan mempelajari

(9)

4) Apakah berhasil (Did it work?); Dengan mengukur outcome dan membandingkannya pada hasil yang diharapkan, pengambil-keputusan menjadi lebih

mampu memutuskan jika program harus

dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan sama sekali.

Penggunaan pendekatan evaluasi model CIPP ini banyak digunakan dalam rangka menjamin akuntabilitas publik dari suatu program pendidikan. Stufflebeam CIPP model dalam dua kepentingan, yakni pembuatan keputusan (orientasi formatif) dan akuntabilitas (orientasi sumatif), sebagai berikut:

Tabel 2.2 Tabel Pemanfaatan Evaluasi CIPP

Orientasi Formatif Orientasi Sumatif Konteks Pedoman untuk

memilih tujuan dan Produk Pedoman untuk

(10)

instalasi program keputusan keputusan

Sumber : The CIPP approach to evaluation (Robinson, 2002)

2.2.3. Langkah Evaluasi Model CIPP

Model CIPP ini menekankan pada peran sumatif. Oleh karena itu, dalam evaluasi hasil model CIPP memberikan posisi penting bagi peran sumatif. Informasi yang dihasilkan evaluasi hasil CIPP digunakan untuk menentukan apakah suatu program harus diganti , revisi atau dihentikan Penggunaan model CIPP (Contexs, Input, Process, Product) yaitu :

Tahap I

Evaluasi pada aspek 1 dan 2 (contexs dan input)

dilakukan dengan melihat pada wawancara narasumber dan teori-teori yang berhubungan dengan peran dan fungsi komite sekolah secara ideal. Peran dan fungsi komite sekolah dengan feedback yang diperoleh setelah di evaluasi.

Tahap II

Evaluasi proses dilakukan dengan mengobservasi proses sesuai kriteria-kriteria tertentu, termasuk didalamnya komite sekolah melakukan kegiatan atau melaksanakan program pendidikan yang diharapkan dalam Kemendiknas Nomor: 044/U/2002.

Tahap III

(11)

instrumennya ditetapkan berdasarkan domain yang menjadi tujuan proses tertentu.

2.3. Mutu Pendidikan

Mutu dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang memuaskan dan melampaui keinginan dan kebutuhan pelanggan. Definisi ini disebut juga dengan istilah, mutu sesuai dengan persepsi (quality in perception). Mutu ini bisa disebut sebagai mutu yang hanya ada di mata orang yang melihatnya. Ini merupakan definisi yang sangat penting. Sebab, ada satu resiko yang seringkali kita abaikan dari definisi ini, yakni kenyataan bahwa para pelanggan adalah pihak yang membuat keputusan terhadap mutu. Dan mereka melakukan penilaian tersebut dengan merujuk pada produk terbaik yang bisa bertahan dalam persaingan (Sallis, 2010: 56).

Sedangkan Crosby (dalam Hadis, 2010: 85) menyebutkan bahwa mutu ialah conformance to requirement (sesuai dengan kebutuhan). Suatu produk memiliki mutu apabila sesuai dengan standar yang telah ditentukan, standar mutu tersebut meliputi bahan baku, proses produksi, dan produk jadi. Sejalan dengan hal tersebut Deming (dalam Hadis, 2010: 85) mengemukakan bahwa mutu ialah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen.

(12)

dengan baik, sehingga kadar mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input (Widiyarti, 2010: 4)

Dari keempat pendapat diatas dapat dikatakan bahwa Sallis menekankan pada kepuasan pelanggan dan dapat melampaui keinginan dan kebutuhan pelanggan, sedangkan Crosby dan Deming hanya kalau hasilnya sudah sesuai dengan kebutuhan saja. Sedangkan dalam kontek pendidikan, pengertian mutu mancakup input, proses dan output pendidikan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan adalah hasil pendidikan atau melampaui keinginan dan kebutuhan pelanggan yang mencakup input, proses dan output pendidikan.

Mutu merupakan hal yang penting dalam dunia pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan dibidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara kaffah (menyeluruh) (Mulyasa, 2009: 31). Sehingga pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan “Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan” pada tanggal 2 Mei 2002; dan lebih fokus lagi, setelah diamanatkan dalam Undang-Undang Sisdiknas (2003) Bahwa Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui peningkatan kualitas pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan.

(13)

2.4. Kinerja Organisasi

2.4.1. Definisi Kinerja Organisasi

Definisi kinerja organisasi yang dikemukakan oleh Bastian dalam Hessel Nogi (2005: 175) sebagai gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan tugas dalam suatu organisasi, dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi tersebut.

Kinerja berasal dari kata job performance atau

actual performance yang berarti prestasu kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh oleh seorang atau sekelompok orang dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Istilah kinerja merupakan terjemahan dari

performance yang disering diartikan oleh para cendekiawan sebagai “penampilan”, “unjuk kerja”, atau “prestasi” (Yeremias T. Keban, 2004: 191). Performance

atau kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses (Nurlaila, 2010: 71). Menurut pendekatan perilaku dalam manajemen, kinerja adalah kuantitas atau kualitas sesuatu yang dihasilkan atau jasa yang diberikan oleh seseorang yang melakukan pekerjaan (Luthans, 2005: 165).

(14)

kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati bersama (Rivai dan Basri, 2005: 50). Sedangkan Mathis dan jackson (2006: 65) menyatakan bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai. Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan kelompok kerja diperusahaan tersebut. Kinerja merupakan hasil kerja dari tingkah laku (Amstrong, 1999: 15). Pengertian kinerja ini mengaitkan antara basil kerja dengan tingkah laku. Sebagai tingkah laku, kinerja merupakan aktivitas manusia yang diarahkan pada pelaksanaan tugas organisasi, sejumlah orang harus memainkan peranan sebagai pemimpin sedangkan yang lainnya harus memainkan peranan sebagai pengikut. Hubungan antara individu dan kelompok dalam organisasi merupakan hasil dari interaksi yang kompleks dan agresi kinerja sejumlah individu dalam organisasi. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah suatu hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai dalam periode tertentu oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggungjawab dan wewenang yang diberikan.

(15)

dengan tugas-tugas pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mencapai sasaran suatu jabatan atau tugas.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, bahwa kinerja organisasi merupakan suatu ketercapaian atau hasil kerja sekelompok orang dalam kegaitan atau aktifitas atau program yang telah direncanakan sesuai tugas-tugas pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mencapai sasaran sautu jabatan atau tugas dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.

2.4.2. Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Kinerja merupakan suatu capaian atau hasil kerja dalam kegiatan atau aktivitas atau program yang telah direncanakan sebelumnya guna mencapai tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan oleh suatu organisasi dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu yang dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Dalam Yeremias T. Keban (2004: 203) untuk melakukan kajian secara lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas penilaian kinerja di Indonesia, maka perlu melihat beberapa faktor penting sebagai berikut:

a. Kejelasan tuntutan hukum atau peraturan

perundangan untuk melakukan penilaian secara benar dan tepat. Dalam kenyataannya, orang menilai secara subyektif dan penuh dengan bias tetapi tidak ada suatu aturan hukum yang mengatur atau mengendaikan perbuatan tersebut.

(16)

manusia tersebut. Dengan demikian manajemen sumber daya manusia juga merupakan kunci utama keberhasilan sistem penilaian kinerja.

c. Kesesuaian antara paradigma yang dianut oleh manajemen suatu organisasi dengan tujuan penilaian kinerja. Apabila paradigma yang dianut masih berorientasi pada manajemen klasik, maka penilaian selalu bias kepada pengukuran tabiat atau karakter

pihak yang dinilai, sehingga prestasi yang

seharusnya menjadi fokus utama kurang

diperhatikan.

d. Komitmen para pemimpin atau manajer organisasi publik terhadap pentingnya penilaian suatu kinerja. Bila mereka selalu memberikan komitmen yang tinggi terhadap efektivitas penilaian kinerja, maka para penilai yang ada dibawah otoritasnya akan selalu berusaha melakukan penilaian secara tepat dan benar.

Menurut Soesilo dalam Nesel Nogi (2005: 180), Kinerja suatu organisasi dipengaruhi adanya faktor-faktor berikut:

a. Struktur organisasi sebagai hubungan internal yang berkaitan dengan fungsi yang menjalankan aktivitas organisasi.

b. Kebijakan pengelolaan, berupa visi dan misi organisasi.

c. Sumber daya manusia, yang berhubungan dengan kualitas karyawan untuk bekerja dan berkarya secara optimal.

d. Sistem informasi manajemen, yang berhubungan dengan pengelolaan data base untuk digunakan dalam mempertinggi kinerja organisasi.

e. Sarana dan prasarana yang dimiliki, yang

(17)

penyelenggaraan organisasi pada setiap aktivitas organisasi.

Selanjutnya Yuwono dkk. Dalam Hesel Nogi (2005: 180) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang dominan mempengaruhi kinerja suatu organisasi meliputi upaya manajemen dalam menerjemahkan dan menyelaraskan tujuan organisasi, budaya organisasi, kualitas sumber daya manusia yang dimiliki organisasi dan kepemimpinan yang efektif. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi baik publik maupun swasta.

Secara detail Ruky dan Hesel Nogi (2005: 180) mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap tingkat pencapaian kinerja organisasi sebagai berikut:

a. Teknologi yang meliputi peralatan kerja dan metode kerja yang digunakan untuk menghasilkan produk dan jasa yang dihasilkan oleh organisasi, semakin berkualitas teknologi yang digunakan, maka akan semakin tinggi kinerja organisasi tersebut

b. Kualitas input atau material yang digunakan oleh organisasi.

c. Kualitas lingkungan fisik yang meliputi keselamatan kerja, penataan ruangan, dan kebersihan

d. Budayakan organisasi sebagi pola tingkah laku dan pola kerja yang ada dalam organisasi yang bersangkutan.

e. Kepemimpinan sebagai upaya untuk mengendalikan anggota organisasi agar bekerja sesuai dengan standar dan tujuan organisasil

(18)

Ini berarti menurut Atmosoeprapto, dalam Hesel Nogi (2005:180) mengemukakan bahwa kinerja organisasi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, secara lebih lanjut kedua faktor tersebut diuraikan sebagai berikut:

a. Faktor eksternal, yang terdiri dari:

1) Faktor politik, yaitu hal yang berhubungan dengan keseimbangan kekuasaan Negara yang berpengaruh pada kemanan dan ketertiban, yang akan mempengaruhi ketenangan organisasi untuk berkarya secara maksimal.

2) Faktor ekonomi, yaitu tingkat perkembangan

ekonomi yang berpengaruh pada tingkat

pendapatan masyarakat sebagai daya beli utnk menggerakkan sektor-sektor lainnya sebagai suatu sistem ekonomi yang lebih besar.

3) Faktor sosial, yaitu orientasi nilai yang berkembang di masyarakat, yang mempengaruhi pandangan mereka terhadap etos kerja yang dibutuhkan bagi peningkatan kinerja organisasi.

b. Faktor internal, yang terdiri dari:

1) Tujuan organisasi, yaitu apa yang ingin dicapai dan apa yang ingin diproduksi oleh suatu organisasi.

2) Struktur organisasi, sebagai hasil design antara fungsi yang akan dijalankan oleh unit organisasi dengan struktur formal yang ada.

3) Sumber daya manusia, yaitu kualitas dan pengelolaan anggota organisasi sebagai penggerak jalannya organisasi secara keseluruhan.

(19)

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kinerja dalam suatu organisasi. Namun secara garis besarnya, faktor yang sangat dominan mempengaruhi kinerja orgnasasi adalah faktor internal (faktor yang datang dari dalam organisasi) dan faktor eksternal (faktor yang datang dari luar organisasi). Setiap organisasi akan mempunyai tingkat kinerja yang berbeda-beda karena pada hakekatnya setiap organisasi memiliki ciri atau karakteristik masing-masing sehingga permasalahan yang dihadapi juga cenderung berbeda tergantung pada faktor internal dan eksternal organisasi.

2.4.3. Penilaian Kinerja

Menurut Larry D. Stout dalam Hessel Nogi (2005: 174) mengemukakan bahwa pengukuran atau penilaian kinerja organisasi merupakan proses mencatat dan mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian misi (mission accomplishment) Melalui hasil yang ditampilkan berupa produk jasa ataupun suatu proses.

Berbeda dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Bastian (2001: 330) dalam Hessel (2005: 173) bahwa pengukuran dan pemanfaatan penilaian kinerja akan mendorong pencapaian tujuan organisasi dan akan memberikan umpan balik untuk upaya perbaikan secara terus menerus. Secara rinci, Bastian mengemukakan peranan penilaian pengukuran kinerja organisasi sebagai berikut:

a. Memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan untuk pencapaian prestasi,

(20)

c. Memonitor dan mengevaluasi kinerja dengan perbandingan antara skema kerja dan pelaksanaannya,

d. Memberikan penghargaan maupun hukuman yang objektif atas prestasi pelaksanaan yang telah diukur, sesuai dengan sistem pengukuran yang telah disepakati,

e. Menjadikannya sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki kinerja organisasi,

f. Mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi,

g. Membantu proses kegiatan organisasi,

h. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif,

i. Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan, j. Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.

Begitu pentingnya penilaian kinerja bagi keberlangsungan organisasi dalam pencapaian tujuan maka perlu adanya indikator-indikator pengukuran kinerja yang dipakai secara tepat dalam organisasi tertentu.

(21)

kesulitan untuk merumuskan misi yang jelas. Akibatnya, ukuran kinerja organisasi publik di mata para stakeholder

juga berbeda-beda.

2.5. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari “School-based manajement”. Istilah ini

pertama kali muncul di Amerika Serikat pada saat masyarakat mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat (Mulyasa, 2009: 24). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyakarat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi.

Dari segi bahasa, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari kata manajemen, Berbasis dan Sekolah. Manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektik dan efisien untuk mencapai sasaran. Berbasis berasal dari kata dasar basis yang artinya dasar atau asas. Sekolah adalah tempat untuk belajar mengajar. Berdasarkan hal tersebut, maka MBS dapat diartikan sebagai pengguna sumberdaya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran (Nurkolis, 2003: 1).

(22)

Tujuan utama MBS adalah meningkatkan efisiensi, mutu dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasan pengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua, kelenturan pengelolah sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuhkembangkan suasana yang kondusif. Pemerataan pendidikan ini tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat, terutama masyarakat yang mampu dan peduli, terhadap pendidikan, sedangkan masyarakat yang kurang mampu akan menjadi tanggunjawab pemerintah (Mulyasa, 2009: 13).

Dengan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), maka sekolah dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya, karena bisa lebih mengetahui peta kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang mungkin dihadapi. Disamping itu sekolah lebih mengetahui kebutuhannya, khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

(23)

moral guru, menajemen sekolah, rancang ulang sekolah, dan perubahan perencanaan (Fattah, 2000: 17)

Dari keempat pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Nurkolis memandang istilah MBS dari segi leksikalnya yaitu sebagai pengguna sumberdaya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri, sedangkan Mulyasa mengutamakan partisipasi masyarakat, Permadi dan Fattah membahas tentang pemberian otonomi atau kemandirian kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka MBS dapat diartikan Pengelolaan pendidikan yang memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada sekolah untuk pengambilan keputusan yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah termasuk partisipasi masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan serta keunggulan masyarakat dan bangsa.

2.6. Komite Sekolah

2.6.1. Komite Sekolah

Komite Sekolah yang berkedudukan disetiap satuan pendidikan, merupakan badan mandiri yang tidak memiliki hubungan hierarkis dengan lembaga pemerintahan. Komite Sekolah dapat terdiri dari satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan dalam pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang dikelola oleh suatu penyelenggaraan pendidikan, atau karena pertimbangan lain, tanpa intervensi dengan lembaga pemerintahan (Masaong dan Ansar, 2007: 165)

(24)

setempat, dan kalangan swasta. Asas legalitas Komite Sekolah yang bermuat dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya dalam pasal 56 (3) sebagai berikut : Komite Sekolah/ Madrasah, sebagai lembaga mandiri, dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan”.

Dari ketiga pendapat tersebut dapat kita simpulkan bahwa pendapat Masaong, Ansar dan Hasbullah menekankan pada kedudukan Komite Sekolah, sedangkan menurut UU nomor 20 Tahun 2003 menekankan pada tujuan pembentukkan Komite Sekolah, yaitu peningkatan mutu pelayanan.

Jadi Komite Sekolah adalah suatu lembaga mandiri yang berkedudukan disetiap satuan pendidikan, serta merupakan badan mandiri yang tidak memiliki hubungan hierarki dengan lembaga pemerintahan yang berada ditengah-tengah antara orang tua murid, murid, guru, masyarakat setempat, dan kalangan masyarakat setempat, dan kalangan swasta yang dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbaganm arahan dan dukungan tenaga, sarana prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.

(25)

pendidikan, (7) organisasi profesi tenaga kependidikan seperti PGRI, (8) perwakilan siswa, dan atau alumni (Haryanto, 2008: 96).

Sedangkan tujuan Komite Sekolah adalah: (1) Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan; (2) Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan di satuan pendidikan; (3) Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu disatuan pendidikan (Haryanto, 2008: 81).

2.6.2. Peran Komite Sekolah

Tugas dan fungsi Dewan Sekolah/ Komite Sekolah antara lain: (1) menetapkan AD dan ART Komite Sekolah, memberi masukan terhadap muatan RAPBS dan Rencana Strategik Pengembangan serta Standar Pelayanan Sekolah; (2) menentukan dan membantu kesejahteraan personal, mengkaji pertanggung jawaban dan implementasinya; (3) mengkaji kinerja sekolah dan melakukan internal auditing (school self assessment), merekomendasikan, menerima Kepala Sekolah dan Guru. Tugas, Dewan Sekolah/Komite Sekolah membantu menetapkan visi, misi dan standar pelayanan, menjaga jaminan mutu sekolah (quality assurance), memelihara, mengembangkan potensi, menggali sumber dana, mengevaluasi, merenovasi, mengidentifikasi, dan mengelola kontribusi masyarakat terhadap sekolah (Satori, 2001: 71).

(26)

dan Komite Sekolah menyebutkan bahwa Komite Sekolah mengemban peran sebagai : (1) Pemberi pertimbangan (advisary agency); (2) Pendukung (supporting agency); dan (4) Penghubung (mediator agency). Disamping itu (Haryanto, 2008: 81) menyebutkan bahwa Komite Sekolah mengemban empat peran sebagai berikut: (1) pemberi pertimbangan, (2) pendukung, (3) pengawas, dan (4) Mediator. Keempat peran Komite Sekolah tersebut bukan peran yang berdiri sendiri, melainkan peran yang saling terkait antara peran yang satu dengan peran lainya.

2.6.3. Kinerja Komite Sekolah

Kinerja berasal dari bahasa inggris yaitu “performance”. Dalam Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, diartikan pertunjukan, perbuatan, daya guna, prestasi, pelaksanaan, penyelenggaraan, pagelaran (Adi Gunawan, 2002: 279). Para pakar banyak memberikan definisi tentang kinerja, diantaranya adalah: (Husain Umar, 2004: 76) mengatakan bahwa pengertian kinerja adalah keseluruhan kemampuan individu untuk kerja secara optimal dan berbagai sasaran yang telah diciptakan dengan pengorbanan rasio kecil dibandingkan dengan hasil yang dicapai. Sedangkan Smith yang dikutip oleh (Mulyasa, 2003: 136) menyatakan bahwa kinerja adalah merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses. Jadi kinerja merupakan pencapaian atas apa yang sudah direncanakan, baik oleh pribadi maupun oleh organisasi.

(27)

merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses organisasi.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Kinerja adalah Hasil kerja atau prestasi kerja seseorang atau organisasi yang dapat dicapai secara optimal dengan pengorbanan rasio kecil dibandingkan dengan hasil yang dicapai.

Yang dimaksud dengan kinerja dalam penelitian ini adalah tingkat ketercapaian prestasi kerja dari Komite Sekolah, sesuai dengan peran dan fungsinya, yaitu sebagai badan pertimbangan, pendukung, pengontrol dan penghubung di SD Negeri Purwosari 1 Sayung Demak, yang dapat diuraikan sebagai berikut:

2.6.3.1 Kinerja Komite Sekolah dalam

Perannya Sebagai Badan Pemberi

Pertimbangan (advisory agency)

Komite Sekolah memiliki peran sebagai advisory agency, badan yang memberi pertimbangan kepada sekolah atau yayasan. Idealnya sekolah dan yayasan pendidikan harus meminta pertimbangan kepada Komite Sekolah dalam merumuskan kebijakan, program dan kegiatan sekolah, termasuk juga dalam merumuskan visi, misi dan tujuan sekolah yang bersifat given, di sekolah swasta dengan ciri khas tertentu (Haryanto, 2008: 81).

(28)

tua siswa masyarakat); memberikan pertimbangan perubahan RAPBS; ikut mengesahkan RAPBS bersama kepala sekolah; memberikan masukan terhadap proses pembelajaran kepada para guru; identifikasi potensi sumber daya pendidikan dalam masyarakat; memberikan pertimbagan tentang sarana dan memberikan pertimbangan tentang anggaran yang dapat dimanfaatkan di sekolah.

2.6.3.2. Kinerja Komite Sekolah dalam

Perannya Sebagai Pemberi Dukungan

(supporting agency)

Komite Sekolah sebagai supporting agency, yaitu badan yang memberikan dukungan kerja berupa dana, tenaga, dan pikiran. Jika dahulu peran BP3 lebih sebagai pendukung dana, maka penekanan peran Komite Sekolah seharusnya buka aspek dana saja tetapi juga aspek lainnya, terutama berupa gagasan dalam rangka penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan (Haryanto, 2008: 82).

(29)

pendidikan di sekolah; mengevaluasi pelaksanaan dukungan anggaran di sekolah.

2.6.3.3. Kinerja Komite Sekolah dalam

Perannya Sebagai Badan Pengontrol

(controlling agency)

Komite Sekolah memiliki peran sebagai controlling agency, badan yang melaksanakan pengawasan sosial kepada sekolah. Pengawasan ini tidak sebagai pengawasan institusional sebagaimana yang dilakukan lembaga maupun badan pengawasan, seperti inspektorat, atau badan pemeriksa keuangan, maupun badan pengawasan fungsional lainya. Pengawasan sosial yang dilakukan lebih memiliki implikasi sosial, dan lebih dilaksanakan secara preventif, seperti ketika sekolah menyusun RAPBS, atau ketika sekolah manyusun laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat (Haryanto, 2008: 82).

Sedangkan menurut Tim Pengembangan Komite Sekolah Ditjen Dikdasmen (Depdiknas: 2004), komponen dan indikator kinerja Komite Sekolah terkait pada perannya sebagai badan pengontrol (controlling agency) adalah: mengontrol proses perencanaan keputusan di sekolah; mengontrol proses perencanaan pendidikan di sekolah; pengawasan terhadap kualitas program sekolah; memantau organisasi sekolah; memantau penjadwalan program sekolah; memantau alokasi anggarn untuk pelaksanaan program sekolah; memantau partisipasi

(30)

2.6.3.4. Kinerja Komite Sekolah dalam

Perannya Sebagai Badan Penghubung

(mediator agency)

Komite Sekolah memiliki peran sebagai mediator agency antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat. Keberadaan Komite Sekolah di lembaga pendidikan akan menjadi tali pengikat ukhuwah antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat. Dengan demikian diharapkan akan menjadi kunci dalam upaya peningkatan mutu pendidikan (Haryanto, 2008: 83).

Menurut Tim Pengembangan Komite Sekolah Ditjen Dikdasmen (Depdiknas: 2004), komponen indikator kinerja Komite Sekolah terkait pada peran sebagai badan penghubung (mediator agency) adalah: menjadi penghuhung antara Komite Sekolah dengan masyarakat, Komite Sekolah dengan sekolah, dan Komite Sekolah dengan Dewan Pendidikan; mengidentifikasi aspirasi masyarakat untuk perencanaan pendidikan; membuat usulan kebijakan dan program pendidikan kepada sekolah; mensosialisasikan kebijakan dan program sekolah kepada masyarakat; memfasilitasi berbagai masukan kebijakan program terhadap sekolah; menampung pengaduan dan keluhan terhadap kebijakan dan program sekolah; mengkomunikasikan pengaduan dan keluhan masyarakat terhadap sekolah; mengidentifikasi kondisi sumber daya di sekolah; mengidentifikasi sumber-sumber daya masyarakat; memobilisasi bantuan masyarakat untuk pendidikan di sekolah; mengkoordinasikan bantuan masyarakat.

(31)

kerja sama dengan masyarakat, baik perorangan maupun organisasi, dunia usaha dan dunia industri, pemerintah, dan DPRD berkenan dengan penyelengga-raan pendidikan yang bermutu Dikdasmen (Depdiknas: 2004).

(32)

Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 Tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah juga menyebutkan bahwa Komite Sekolah juga menyebutkan bahwa Komite Sekolah wajib memiliki AD dan ART, yang sekurang-kurangnya memuat (1) nama dan tempat kedudukan; (2) dasar, tujuan dan kegiatan; (3) Keanggotaan dan kepengurusan; (4) hak dan kewajiban anggota dan pengurus; (5) keuangan; (6) mekanisme dan rapat-rapat; dan (7) perubahan AD dan ART, serta pembubaran organisasi.

2.6.4. Indikator Kinerja

MC. Donald dan Lawton dalam Ratminto dan Atik Septi Winarsih (2005: 174) mengemukakan indikator kinerja antara lain: mengemukakan indikator kinerja antara lain: output oriented measures throughtput, efficiency, effectiveness, Selanjutnya indikator tersebut dijelaskan sebagai berikut:

a. Efficiency atau efisiensi adalah suatu keadaan yang menunjukkan tercapainya perbandingan terbaik

antara masukan dan keluaran dalam

penyelenggaraan publik.

(33)

Adapun indikator kinerja Komite Sekolah yang diakses dari Tim Pengembang Komite Sekolah Ditjen Dikdasmen (Depdiknas: 2004) dapat dilihat pada tabel dibawah ini!

Tabel 2.4.

Indikator Kinerja Komite Sekolah dalam Perannya Sebagai Badan Pertimbangan (Advisory Agency)

Peran

a.Identifikasi sumber daya pendidikan dalam

(34)

Sumber daya pendidikan

a. SDM

b.S/P

c. Anggaran

sumber daya pendidikan dalam masyarakat. b.Memberikan

pertimbangan tentang tenaga kependidikan yang dapat

diberbantukan di sekolah.

c.Memberikan

pertimbangan tentang sarana dan prasarana yang dapat

diperbantukan di sekolah.

d.Memberikan

(35)

Tabel 2.5.

Indikator Kinerja Komite Sekolah dalam Perannya Sebagai Badan Pendukung (Supporting Agency)

(36)

b.Memobilisasi dukungan terhadap anggaran pendidikan di sekolah. c.Mengkoordinasikan

dukungan terhadap anggaran pendidikan di sekolah.

d.Mengevaluasi

(37)

Tabel 2.6.

Indikator Kinerja Komite Sekolah dalam Perannya Sebagai Badan Pengontrol (Controlling Agency)

Peran

d. Memantau sumber daya

pelaksana program sekolah. e. Memantau partisipasi stake

holder pendidikan dalam pelaksanaan program sekolah.

(38)

output pendidikan

akhir.

b. Memantau angka

partisipasi sekolah

c. Memantau angka

mengulang sekolah

(39)

Tabel 2.7.

Indikator Kinerja Komite Sekolah dalam Perannya Sebagai Badan Penghubung (Mediator Agency)

Peran

(40)

3. Pengelolaan sumber daya pendidikan

a.Mengidentifikasi kondisi sumber daya di sekolah. b.Mengidentifikasi

sumber-sumber daya masyarakat. c.Memobilisasi bantuan

masyarakat untuk pendidikan di sekolah. d.Mengkoordinasikan

bantuan masyarakat.

2.7. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang berhubungan dengan Kinerja Komite Sekolah, yang dilaksanakan oleh peneliti diantaranya adalah yang dilakukan oleh Mulyati (2009) yang dalam penelitiannya meneliti peran komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDN Ngegong Kota Madiun menyimpulkan bahwa peran Komite Sekolah di sekolah tersebut berjalan baik sehingga berdampak pada mutu sekolah, manajemen sekolah dan hasil belajar siswa.

(41)

kegiatan komite sekolah. Komite sebagai mediasi antara sekolah dengan pemerintah, elemen masyarakat, wali murid serta dunia industri. Keempat: komite sekolah sebagai pengontrol (controlling agency) dalam transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan disatuan pendidikan.

Penelitian Ali Mursidi (2013) dalam bentuk jurnal dengan judul Pengelolaan komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di SD Islam Al Azhar 29 Semarang. Hasilnya adalah pengelolaan komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan sudah cukup baik. Dilaksanakan dengan pengoptimalkan empat peran komite sekolah, yakni: advisory agency, supporting agency, controlling agency, dan mediator agency.

Penelitian lain dilakukan Agus Budi Santoso dan Sumani pada tahun 2014 dalam bentuk jurnal yang berjudul Peranan Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar di Kota Madiun. Hasil dari penelitiannya adalah Komite sekolah telah melakukan kerjasama dengan sekolah dalam meningkatkan sarana dan prasarana sekolah guna meningkatkan mutu pendidikan. Sejalan dengan penelitian Murjini (2015) yang berjudul evaluasi pendidikan dalam peningkatan mutu pendidikan (studi di SD Negeri Sukomarto Jumo Temanggung. Hasil penelitiannya ditemukan kinerja komite sekolah sebagai badan pertimbangan, badan pendukung, badan pengontrol, dan badan pendukung belum seluruhnya berhasil dibuktikan kinerja Komite Sekolah sebagai penghubung antara Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan belum maksimal.

(42)

pendukung dan penghubung. Namun hal pengontrol kebijakan dan program sekolah, Komite Sekolah belum sepenuhnya melaksanakannya, karena Komite Sekolah sebagai organisasi organisasi yang bersifat sosial dan masing-masing anggota Komite mempunyai kesibukan dalam profesi masing-masing sehingga belum mampu melaksanakan kontrol secara langsung di sekolah.

Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh A.T. Alabi (2012) dengan penelitiannya yang berjudul Utilization of Commitee System and Secondary School Principals’ Administrative Effectiveness in Ilorin Metropolis, Nigeria. Pemanfaatan Sistem Komite dan Keefektifan Administrasi Kepala Sekolah Menengah (SMP, SMA) di Kota Ilorin, Nigeria, yang menyimpulkan bahwa: Administrasi yang efektif merupakan prasyarat bagi keberhasilan administrasi sekolah menengah. maksud dari hal tersebut adalah bahwa, perkembangan dari hubungan yang harmonis di sekolah menengah oleh kepala sekolah melalui pemanfaatan sistem komite membantu dalam meningkatkan hasil pendidikan dan meningkatkan hasil pendidikan secara optimal. Semakin banyaknya kebutuhan akan melibatkan lebih banyak staf di sekolah menengah administrasi telah membuat argumen untuk penggunaan komite lebih masuk akal.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Joyce Nyandoro (2013) dengan penelitiannya yang berjudul “Effective Of School Development Commitee In Financial

Management In Chimanimami West Circuit Primary Schools

(43)

barat dioperasikan tanpa undang-undang pasal 87 tahun 1992. Kegagalan kedua untuk mematuhi Undang-Undang pasal 87 tahun 1992 yang telah mendapatkan persetujuan mengalami penurunan pemahaman isinya oleh sebagian komite pengembangan sekolah. Kegagalan ketiga oleh masyarakat untuk membentuk komite pengembangan sekolah yang efektif yang bisa menggalang dana dari berbagai sumber.

Sejalan dengan penelitian Ravik Karasidik dkk berjudul Parrent Involvement on School Committees as Sosial Capital to Improve Student Achivement yang dimuat dalam jurnal International Excellens in Higher Education 4

(2013: 1-6). Penelitian ini mengupas bagaimana partisipasi orang tau melalui komite sekolah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan kualitatif: sebagai besar partisipasi orang tua hanya dalam bentuk pemenuhan aspek material, seperti uang sekolah dan buku; sebagian besar orang tua memiliki pemahaman yang salah bahwa sekolah hanya harus tanggungjawab sepenuhnya terhadap pendidikan anak; orang tua yang sibuk cenderung tidak peduli terhadap perkembangan proses belajar anak-anaknya.

(44)
(45)

Peneliti lainnya berpendapat Zulkoflo Matondang (2011) tentang komite sekolah dalam meningkatkan kualitas manajemen sekolah di Kota Tebing Tinggi Sumatera Utara dalam melaksanakan peran dan fungsinya. Berdasarkan penelitian diperoleh pemberdayaan komite sekolah masih rendah. Pengurus komite banyak yang belum paham peran dan fungsinya dalam mendukung program sekolah, dan masih sedikit yang memiliki AD/ART.

Sedangkan Slamet Lesatari (2006: 71) dalam jurnalnya juga mengatakan keberhasilan dalam pemberdayaan komite sekolah dinilai berhasil jika telah tercapai beberapa indikator yaitu: 1) Proses pembentu-kan komite sekolah dilakukan secara demokrasi, transparan dan akuntabel, 2) tidak ada lagi komite sekolah stempel dan eksekutor, 3) bila ada permasalahan antara Sekolah dan Komite Sekolah dapat diselesaikan secara mandiri oleh tim fasilitator, 4) Secara berharap diharapkan agar Komite Sekolah segera dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara optimal.

(46)

namun dalam pelaksanaannya belum efektif, 2) strategi komite sekolah dalam peningkatan mutu penididkan melalui kegiatan diantaranya: rapat rutin dengan warga sekolah pada setiap akhir semester, bersama-sama sekolah membuat rumusan visi dan misi sekolah, menyusun RKAS/ RAPBS sertan mengembangkan potensi kearah lebih baik, 3) kendala yang dihadapi komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kurangnya komunikasi antara sekolah dengan komite sekolah, sehingga menyebabkan program komite sekolah menjadi kurang efektif.

Dari beberapa penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja komite sekolah di berbagai tempat berbeda-beda. Ada komite sekolah yang kinerjanya sudah sesuai dengan peran dan fungsinya, sementara ditempat lain belum bisa dilaksanakan.

(47)

2.8. Kerangka Pikir Penelitian

Untuk penyederhanaan Alur kerangka pikir dalam penelitian evaluasi kontek, input, proses dan produk (CIPP).

Maka peneliti mendeskripsikan penelitiannya dengan menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product), akan dilihat dari kinerja komite sekolah secara ideal, menurut Kemendiknas 044/U/2002 tentang peranan & fungsi komite secara ideal dan komprehenshif, dengan model evaluasi CIPP (context, input, process,

product) nanti bisa dianalisis dari kontek, input, proses, dan produk tekait kinerja komite sekolah.

(48)

Gambar 2.8 Kerangka berfikir

Konteks Input Proses Produk

EVALUASI KINERJA KOMITE SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SD NEGERI PURWOSARI 1 KECAMATAN

SAYUNG DEMAK

(Model Evaluasi CIPP menurut Stufllebeam)

Pemberi Pertimbangan

Pendukung Pengontrol Mediator

PERAN KOMITE SEKOLAH (Sesuai Kemendiknas

044/U/2002)

Mutu Pendidikan

Figur

Tabel 2.1 Model Evaluasi CIPP

Tabel 2.1

Model Evaluasi CIPP p.8
Tabel 2.2 Tabel Pemanfaatan Evaluasi CIPP

Tabel 2.2

Tabel Pemanfaatan Evaluasi CIPP p.9
Tabel 2.4.

Tabel 2.4.

p.33
Tabel 2.5.

Tabel 2.5.

p.35
Tabel 2.6.

Tabel 2.6.

p.37
Tabel 2.7.

Tabel 2.7.

p.39
Gambar 2.8 Kerangka berfikir

Gambar 2.8

Kerangka berfikir p.48

Referensi

Memperbarui...