manajemen perkotaan dan
tata guna lahan:
pengantar ke
pengantar ke
Definisi dan Terminologi
Manajemen Perkotaan merupkan istilah yang
diterjemahkan dari
Urban Management
yangmerupakan salah satu program dari
UNHCS (United Center for Human
UNHCS (United Center for Human
Settlements), sebuah orgnisasi PBB yang
mengkaji masalah perkotaan dan
permukiman
Mnaj. Perkotaan adalah suatu upaya
mobilisasi sumber daya perkotaan
melalui tahapan perencanaan,
pelaksanaan, pemeliharaan,
pengendalian, secara efisien dan efektif
pengendalian, secara efisien dan efektif
guna mewujudkan visi, misi, dan tujuan
dari suatu kawasan perkotaan dengan
tetap mempertahankan linkungan
Kebijakan Manaj. Perkotaan
mencakup:
Tata ruang
Pemanfaatan lahan
Program investasi
Program investasi
Pembiayaan pembangunan
Lingkungan hidup
Kelembagaan
Prinsip dasar Manaj. Perkotaan:
Peran serta setiap warga negara
Penegakan hukum
Transparansi dan keterbukaan informasi
Transparansi dan keterbukaan informasi
Ketanggapan (peka) keadilan bagi setiap
orang
Efektifitas dan efisiensi
Memiliki visi
Pendekatan dalam Manaj.Perkotaan
Lea dan Courtney:
Pendekatan
problem-oriented teknokratis
,
fokus pada peningkatan kinerja
lembaga-lembaga yang ada dalam memecahkan
masalah perkotaan
M Syafier, kemudian oleh Devas dan
Rakodi:
Pendekatan
improving hand
yaitu
kombinasiantara kekuatan pasar bebas
dan kontrol negara.
Dalam improving hand pemerintah
memainkan peran yang proaktif
terutama bila kecenderungan pasar
akan menyebabkan kerugian pada
Remy Proud’homme
Koordinasi internal: koordinasi yang
dijalin antara sektor pemerintah dan
sektor swasta guna memacu
pertumbuhan kota.
Mis. Public-private partnership,
Mis. Public-private partnership,
mekanisme informal kemasyarakatan
(semangat gotong royong, RT/RW, dll),
kolaborasi politisi dan kaum profesi,
Koordinasi vertikal, yaitu koordinasi
antar tingkat pemerintahmis. Antara
pemerintah pusat dan pemerintah
daerah. Instrumen yang lazim
Koordinasi horizontal, mengacu pada
koordinasi antar lembaga umum dan
lembaga khusus. Lembaga umum
menjalankan fungsi-fungsi
pemerintahan yang bersifat politis
seperti koordinasi, keamanan,
Gagasan yang mempengaruhi
perkembangan pendekatan Manaj
Perkotaan tersebut:
Concern terhadap pembangunan lokal
dan nasional.
Dulu kota dianggap parasit bagi
Dulu kota dianggap parasit bagi
perkembangan ekonomi, sampah bagi lahan
pertanian, surga bagi pengangguran, beban
bagi sara prasarana akibat membludaknya
Sektor informal. Awalnya dianggap ilegal, berbahaya bagi bisnis “legal”, tidak baik bagi kesehatan, dsb. Sekarang sektor informal diyakini memberi
sumbangan besar bagi ekonomi kota dan
melarangnya adalah ibarat “killing the goose that laying the golden eggs”.
Dominansi permukiman
Akses kepada ketersediaan lahan sebagai issu utama
Pembangunan dan perkembangan infra struktur Concern terhadap kaum miskin dan komunitas
-
growth rate of
urban population
di negara maju hanya sekitar
Permasalahan dalam Manajemen
Perkotaan dan Tata Guna Lahan
di negara maju hanya sekitar 1%
• - di negara berkembang 3,7 %
• - banyak negara terutama di Afrika memiliki tingkat pertumbuhan
proportion of population living in urban areas
• - di negara berkembang 34 % tinggal di kota
• - di negara maju (Belgia, UK, Hongkong, Singapura) 90% tinggal di kota
• - di Nepal dan Afrika (Uganda, Rwanda, Burundi) hanya sekitar 10% yang tinggal di kota
Implikasi dari “exploding cities” tersebut
adalah kekurangan pada infra struktur
dan pelayanan publik (urban service)
seperti:
1.
Urban poverty
2. persediaan air bersih
3
.
sistem sanitasi
3
.
sistem sanitasi
4.
perumahan
Poverty
When UNDP first came to
Indonesia
, it was
one of the world's poorest countries. In the
early 1970s, some 70 million Indonesians, or
60% of the population, lived in absolute
poverty. In line with national priorities, UNDP
focused on helping to improve the agriculture,
forestry and fisheries sectors. This was
Following the oil boom of the late 1970s and early 1980s, UNDP supported the Government's programme of promoting non-oil exports by assisting the development of small- and
medium-scale industries.. The country began to achieve average annual growth of almost 7%, a performance rivaling that of its Asian neighbours.
By 1996, the poverty rate had fallen to 11.8% of the total
population. However, Indonesia was hit particularly hard by the Asian economic crisis in 1997. The crisis had significant social Asian economic crisis in 1997. The crisis had significant social costs, including rising unemployment, rapid escalation of food prices, and deterioration in public services. Poverty rose from 11.8% in 1996 to 23.5% in 1998/9.
The economic crisis was accompanied by severe drought that caused food shortages in many provinces, and by widespread forest fires in parts of Kalimantan and Sumatra that destroyed nearly ten million hectares of forest and devastated local
Why do cities continue to grow? Population growth
1. urbanisasi atau in-migration 2. natural growth
sebagai contoh di Philipina in-m ratenya 1,8% per tahun tetapi total pg nya mencapai 3,9%. Indonesia 2,7% tetapi total pg nya mencapai 3,9%. Indonesia 2,7% dan 5%, Kenya 4,6% dan 8,5%, Korsel 2,9% dan 5,3%. Data ini menunjukkan bahwa natural growth
disamping in-migration menjadi faktor yang sangat menentukan pertumbuhan kota. Tanpa in-migration
pun, kota kan terus tumbuh akibat natural growth
- Afrika Selatan 1970-1985: a strict policy of
controlling the movement of the black population (racial superiority).
- Jakarta,Indonesia, 1970 an: residence permits
- Kamboja (Regim Khmer): 1970 –1980 jumlah populasi menurun dari 800 000 menjadi 650 000 dengan politik rustication (not to mention genocide).
Can urban growth be controlled?
dengan politik rustication (not to mention genocide).
- China: strict control over family size, emphasis on development on rural areas thru investment in
agriculture, control where epeople live (housing and food supplly), rustication of student, intelectuals and other politically suspect groups.
-
Improvement standard of living of the
rural population: investasi isang pertnian,
peningkatan daya jual, rural land reform,
akses kepada fasilitas pendidikan dan
kesehatan, peningktan sara transportasi di
pedesaan, dll
Atau:
-
Mengontrol lokasi industri, pinjam untuk
investor yang hendak membangun desa,
subsisi employments, mengembangkan
pusat-pusat pertumbuhan, land
re-adjustment, dll
1. Kesadaran terhadap pertumbuhan populasi, bahwa kota tidak mungkin dibatasi secara ketat melainkan diakomodasi dan direncanakan.
2. Kesadaran bahwa kota terbentuk terutama karena keputusan yang diambil oleh orang per orang dan organisasi dan bukan hanya oleh pemerintah. Dan bahwa sektor swasta memainkan peran yang
Urban Planning & Management:
the new realism
bahwa sektor swasta memainkan peran yang signifikan dalam pembangunan kota.
3. Kesadaran terhadap perlunya pemerintah
membatasi diri dalam mekanisme pasar karena campur tangan yang tidak relevan sering kali memperburuk keadaan.
5. Kesadaran terhadap kehadiran “people” atau masyarakat terutama kemampuan kalangan miskin dalam penyediaan rumah.
6. Kesadaran bahwa proses perencanaan bukanlah proses linear dan kaku tetapi luwes,
fleksibel, dan realistis dan memungkinkan monitoring dan feedback.
7. Kesadaran terhadap keterbatasan kapasitas 7. Kesadaran terhadap keterbatasan kapasitas institusi dalam mengimplementasikan rencana dan program dalam hal kemampuan teknis, kapasitas managemen, konflik korupsi, kelemahan birokrasi, dsb.
8. Kesadaran terhadap kehidupan politik dan